0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan53 halaman

Chapter 2

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka hipertensi, meliputi definisi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, dan pathway hipertensi. Hipertensi dijelaskan sebagai peningkatan tekanan darah di atas normal yang dapat disebabkan faktor genetik, jenis kelamin, usia, gaya hidup, dan penyakit lain. Hipertensi diklasifikasi menjadi primer dan sekunder, serta dibedakan berdasarkan tingkat tekanan

Diunggah oleh

Dimas Rizki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan53 halaman

Chapter 2

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka hipertensi, meliputi definisi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, dan pathway hipertensi. Hipertensi dijelaskan sebagai peningkatan tekanan darah di atas normal yang dapat disebabkan faktor genetik, jenis kelamin, usia, gaya hidup, dan penyakit lain. Hipertensi diklasifikasi menjadi primer dan sekunder, serta dibedakan berdasarkan tingkat tekanan

Diunggah oleh

Dimas Rizki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Hipertensi


2.1.1 Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami

peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan

peningkatan angka mordibitas dan angka mortalitas (Adib, 2009).

Hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri,

secara umum hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala,

dimana tekanan darah yang abnormal tingggi didalam arteri

menyebabkan meningkatnya resiko tekanan stroke, aneurisma, gagal

jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal (Faqih, 2007).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada

pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang

dibawa oleh darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang

membutuhkannya (Sustrani, 2006).

Hipertensi adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami

peningkatan tekanan darah diatas normal atau peningkatan abnormal

secara terus menerus lebih satu periode dengan tekanan sistolik diatas

140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg (Aspiani, 2014).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan

abnormal tekanan darah dalam pembuluh darah arteri yang

mengangkut darah dari jantung dan memompa ke seluruh jaringan dan

organ-organ tubuh secara terus-menerus lebih dari satu periode

(Vitahealth, 2010).

6
7

2.1.2 Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua

golongan menurut Aspirani, 2014 :

a. Hipertensi Primer atau Hipertensi Essensial

Hipertensi primer atau hipertensi essensial disebut juga

hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya.

Faktor yang mempengaruhi yaitu :

1. Genetik

Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan

hipertensi, beresiko tinggi untuk mendapatkan

penyakit ini. Faktor genetik ini tidak dapat

dikendalikan, jika memiliki riwayat keluarga yang

memiliki tekanan darah tinggi.

2. Jenis Kelamin dan Usia

Laki-laki berusia 30-50 tahun dan wanita menopause

beresiko tinggi untuk mengalami hipertensi. Jika usia

bertambah maka tekanan darah meningkat faktor ini

tidak dapat dikendalikan serta jenis kelamin laki-laki

lebih tinggi dari pada perempuan.

3. Diet

Konsumsi diet tinggi garam secara langsung

berhubungan dengan berkembangnya hipertensi.

Faktor ini dapat dikendalikan oleh penderita dengan

mengurangi konsumsinya, jika garam yang

dikonsumsi berlebihan, ginjal yang bertugas untuk


8

mengolah garam akan menahan cairan lebih banyak

dari pada yang seharusnya didalam tubuh. Banyaknya

cairan yang bertahan menyebabkan peningkatan pada

volume darah. Beban ekstra yang dibawa oleh

pembuluh darah inilah yang menyebabkan pembuluh

darah bekerja ekstra yakni adanya peningkatan tekanan

darah didalam dinding pembuluh darah dan

menyebabkan tekanan darah meningkat.

4. Berat Badan

Faktor ini dapat dikendalikan dimana bisa menjaga

berat badan dalam keadaan normal atau ideal. Obesitas

(>25% diatas BB ideal) dikaitkan dengan

berkembangnya peningkatan tekanan darah atau

hipertensi.

5. Gaya Hidup

Faktor ini dapat dikendalikan dengan pasien hidup

dengan pola hidup sehat dengan menghindari faktor

pemicu hipertensi yaitu merokok, dengan merokok

berkaitan dengan jumlah rokok yang dihisap dalam

waktu sehari dan dapat menghabiskan berapa putung

rokok dan lama merokok berpengaruh dengan tekanan

darah pasien. Konsumsi alkohol yang sering, atau

berlebihan dan terus menerus dapat meningkatkan

tekanan darah pasien sebaiknya jika memiliki tekanan


9

darah tinggi pasien diminta untuk menghindari alkohol

agar tekanan darah pasien dalam batas stabil dan

pelihara gaya hidup sehat penting agar terhindar dari

komplikasi yang bisa terjadi.

b. Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder terjadi akibat penyebab yang

jelas, salah satu contoh hipertensi sekunder adalah

hipertensi vaskuler rena, yang terjadi akibat stenosis arteri

renalis. Kelainan ini dapat bersifat kongenital atau akibat

arterosklerosis stenosis arteri renalis menurunkan aliran

darah ke ginjal sehingga terjadi pengaktifan baroreseptor

ginjal, perangsangan pelepasan renin, dan pembentukan

angiotensin II. Angiotensin II secara langsung

meningkatkan tekanan darah dan secara tidak langsung

sintesis andosteron dan reabsorbsi natrium. Apabila dapat

dilakukan perbaikan pada pada stenosis, atau apabila

ginjal yang terkena diangkat, tekanan darah akan Kembali

normal (Aspiani, 2014).

2.1.3 Klasifikasi
Menurut (WHO, 2018) batas normal tekanan darah adalah

tekanan darah sistolik kurang dari 120 mmHg dan tekanan darah

diastolik kurang dari 80 mmHg. Seseorang yang dikatakan hipertensi

bila tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah

diastolik lebih dari 90 mmHg. Klasifikasi tekanan darah pada orang

dewasa sebagai patokan dan diagnosis hipertensi sebagai berikut :


10

Tabel 2.1 1 Klasifikasi tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi


Tekanan Darah Tekanan Darah
Kategori
Sistolik Diastolik
Normal < 120 mmHg < 80 mmHg
Prehipertensi 120 – 129 mmHg < 80 mmHg
Hipertensi stage I 130 – 139 mmHg 80 – 89 mmHg
Hipertensi stage II ≥ 140 mmHg ≥ 90 mmHg
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebab yaitu hipertensi

primer dan hipertensi sekunder (Aspiani, 2014). Hipertensi primer

adalah peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui

penyebabnya. Dari 90% kasus hipertensi merupakan hipertensi

primer. Beberapa faktor yang diduga berkaitan dengan

berkembangnya hipertensi primer adalah genetik, jenis kelamin,

usia, diet, berat badan, gaya hidup. Hipertensi sekunder adalah

peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang

sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid. Dari 10%

kasus hipertensi merupakan hipertensi sekunder. Faktor pencetus

munculnya hipertensi sekunder antara lain penggunaan kontrasepsi

oral, kehamilan, peningkatan volume intravascular, luka bakar dan

stress (Aspiani, 2014).

2.1.4 Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi

pembuluh darah terletak di pusat vasomotor pada medulla di otak. Dari

pusat vasomotor ini bermula saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke

korda spinalis dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan

dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke

ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan


11

asetilkolin, yang merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh

darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin, mengakibatkan

konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan

ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap

rangsangan vasokontriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitif

terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa

hal tersebut bisa terjadi (Smelttzer, 2014).

Pada saat bersamaan dimana sistem simpatis merangsang

pembuluh darah sebagai respon rangsangan emosi. Kelenjar adrenal

juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktifitas vasokontriksi.

Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan

vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan streoid lainnya,

yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah.

Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal,

mengakibatkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan

angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, saat

vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi

aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini juga menyebabkan retensi

natrium dan air di tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume

intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mengakibatkan

keadaan hipertensi (Smelttzer, 2014).


12

2.1.5 Pathway
Umur Jenis Kelamin Gaya Hidup Obesitas

Elastisitas ,
arteriosklerosiss

Hipertensi

Kerusakan vaskuler pembuluh darah

Perubahan struktur

vasokonstruksi

Gangguan sirkulasi

Otak Ginjal Pembuluh darah Retina

Vasokonstrik
si pembuluh Spasme
Retensi Suplai darah ginjal sistemik koroner arteriole
pembul O₂ otak
uh
darah vasokon Iskemi Diplopia
Blood flow
otak striksi miocard
Sinkop

Respon RAA afterloa Nyeri Resti


d dada Injuri
Gangguan
Perfusi Respo
Jaringan n
Nyeri Gan aldost fatique
Cerebral Penu
kepal ggu eron runa
a an
n
pola
Retensi Na curah Intolerans
tidur
jantu i aktifitas
ng
13

2.1.6 Manifestasi Klinis


Menurut pernyataan dari Nanda Nic-Noc, 2016 manifestasi klinis

hipertensi yaitu :

1. Sakit kepala, pusing.

2. Lemas, kelelahan.

3. Sesak nafas.

4. Gelisah.

5. Mual.

6. Muntah.

7. Epitaksis (mimisan).

8. Penurunan kesadaran.

2.1.7 Pemeriksaan Penunjang


1. Urinalisis untuk darah dan protein, elektrolit dan kreatinin darah

Dapat menunjukkan penyakit ginjal baik sebagai penyebab atau

disebabkan oleh hipertensi.

2. Glukosa darah

Untuk menyingkirkan diabetes atau intoleransi glukosa.

3. Kolesterol, HDL, dan kolesterol total serum

Membantu memperkirakan resiko kardiovaskuler di masa depan.

4. EKG

Untuk menetapkan adanya hipertrofi ventrikel kiri.

5. Hemoglobin/hematokrit

Bukan diagnostik tetapi mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap

volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor-faktor

resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.


14

6. BUN/kreatinin

Memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.

7. Glukosa hiperglikemia (diabetes melitus adalah pencetus

hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin

(meningkatkan hipertensi).

8. Kalium serum

Hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosterone utama

(penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

9. Kalsium serum

Peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan hipertensi.

10. Kolesterol dan Trigliserida serum

Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/adanya

pembentukan plak atero matosa (efek kardiovaskuler).

11. Pemeriksaan tiroid

Hipertirodisme dapat menimbulkan vasokontriksi dan hipertensi

12. Kadar aldosterone urin/serum

Untuk mengkaji aldosteronisme primer (penyebab).

13. Urinalisa

Darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan/atau

adanya diabetes.

14. Asam urat

Hiperurinisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor resiko

terjadinya hipertensi.

15. Foto dada


15

Dapat menunjukkan abstraksi klasifikasi pada area katup, deposit

dan pada atau takik aorta, pembesaran jantung.

16. CT-Scan

Mengkaji tumor serebral, ensefalopati, atau feokromositama

(Doenges, 2000 ; John, 2003 ; Sodoyo, 2006).

2.1.8 Penatalaksanaan
1. Terapi Tanpa Obat

a. Mengendalikan berat badan

Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badan

dianjurkan untuk menurunkan berat badannya sampai batas

normal.

b. Pembatasan asupan garam (sodium/Na)

Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram

natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai

dengan asupan kalsium, magnesium, dan kalium yang cukup).

c. Berhenti merokok

Penting untuk mengurangi efek jangka Panjang hipertensi

karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah

keberbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung.

d. Mengurangi atau berhenti minum minuman beralkohol

e. Mengubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan

atau kadar kolesterol tinggi.

f. Olahraga aerobic yang tidak terlalu berat

Penderita hipertensi esensial tidak perlu membatasi

aktifitasnya selama tekanan darahnya terkendali.


16

g. Teknik-teknik mengurangi stress

Teknik relaksasi dapat mengurangi denyut jantung dan TPR

dengan cara menghambat respon stress saraf simpatis.

h. Manfaatkan pikiran

Kita memiliki kemampuan mengontrol tubuh, jauh lebih besar

dari yang kita duga. Dengan berlatih organ-organ tubuh yang

selama ini bekerja secara otomatis seperti ; suhu badan, detak

jantung, dan tekanan darah dapat kita atur gerakkannya.

i. Terapi komplementer

Terapi komplementer dapat berupa foot massage (Muttaqin,

2009).

2. Terapi Dengan Obat

a. Penghambat saraf simpatis

Golongan ini bekerja dengan menghambat aktifitas saraf

simpatis sehingga mencegah naiknya tekanan darah,

contohnya Metildopa 250 mg (medopa, dopamet), klonidin

0,075 & 0,15 mg (catapres) dan reserprin 0,1 & 0,25 mg

(serpasil, resapin).

b. Beta bloker

Bekerja dengan menurunkan daya pompa jantung sehingga

pada gilirannya menurunkan tekanan darah. Contohnya

propranolol 10 mg (Inderal, farmadral), atenolol 50 mg, 100

mg (Tenormin, farnormin) atau bisoprolol 2,5 mg & 5 mg

(concor).
17

c. Vasodilator

Bekerja langsung pada pembuluh darah dengan merelaksasi

otot pembuluh darah.

d. Angiotensin Converting Enzym (ACE) Inhibitor

Bekerja dengan menghambat pembetukan zat Angiotensin II

(zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah).

Contohnya Captopril 12,5 mg, 25 mg, 50 mg (capoten,

captensin, tensikap), enalapril 5 mg & 10 mg (tenase).

e. Calsium Antagonis

Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan

cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas).

Contohnya nifedipine 5 mg & 10 mg (Adalat, codalat,

farmalat, nifedin), diltiazem 30 mg, 60 mg, 90 mg (herbesser,

farmabes).

f. Antagonis Reseptor Angiotensin II.

g. Cara kerjanya dengan menghalangi penempelan zat

angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan

ringannya daya pompa jantung. Contohnya valsartan (diovan).

h. Diuretic

Obat ini bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh

(lewat urin) sehingga volume cairan tubuh berkurang,

sehingga mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih

ringan. Contohnya Hidroklorotiazid (HCT) (Muttaqin, 2009).


18

2.1.9 Komplikasi
a. Penyakit Jantung

Komplikasi berupa infark miokard, angina pectoris, dan gagal

jantung.

b. Ginjal

Terjadinya gagal ginjal dikarenakan kerusakan progresif akibat

tekanan tinggi pada kapiler-kapiler ginjal glomerulus. Rusaknya

membran glomerulus, protein akan keluar melalui urin, sehingga

tekanan osmotik koloid plasma berkurang dan menyebabkan

edema.

c. Otak

Komplikasi berupa stroke dan serangan iskemik. Stroke dapat

terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang

memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan menebal, sehingga

aliran darah ke daerah yang diperdarahi berkurang.

d. Mata

Komplikasi berupa berupa perdarahan retina, gangguan

penglihatan, hingga kebutaan.

e. Kerusakan pada pembuluh darah arteri

Jika hipertensi tidak terkontrol, dapat terjadi kerusakan dan

penyempitan arteria tau sering disebut dengan ateroklorosis dan

arterosklerosis (pengerasan pembuluh darah).


19

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
a. Identitas Klien

1) Identitas Klien Meliputi :

Nama, umur, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, alamat,

pekerjaan, suku/bangsa, agama, status perkawinan, tanggal

masuk rumah sakit (MRS), nomor register, dan diagnose

medik.

2) Identitas Penanggung Jawab

Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, serta status

hubungan dengan pasien.

b. Keluhan Utama

Keluhan yang dapat muncul antara lain : nyeri kepala,

gelisah, palpitasi, pusing, leher kaku, penglihatan kabur,

nyeri dada, mudah lelah, dan impotensi.

c. Riwayat Kesehatan Sekarang

Pengkajian yang mendukung keluhan utama dengan

memberikan pertanyaan tentang kronologi keluhan utama.

Keluhan lain yang menyerta biasanya : sakit kepala,

pusing, penglihatan buram, mual, detak jantung tak

teratur,nyeri dada.

d. Riwayat Kesehatan Dahulu

Kaji adanya riwayat penyakit hiperetensi, penyakit

jantung, penyakit ginjal, stroke. Penting untuk mengkaji


20

mengenai riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan

adanya riwayat alergi terhadap jenis obat,

e. Riwayat Kesehatan Keluarga

Kaji didalam keluarga adanya riwayat penyakit hipertensi,

penyakit metabolic, penyakit menular seperti TBC, HIV,

infeksi saluran kemih, dan penyakit menurun seperti

diabetes mellitus, asma, dan lain-lain.

f. Aktifitas/Istirahat

1) Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup

monoton.

2) Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan

irama jantung, takipnea.

g. Sirkulasi

1) Gejala :

a) Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit

jantung koroner/katup dan penyakit

serebrovaskuler.

b) Episode palpitasi

2) Tanda :

a) Peningkatan tekanan darah

b) Nadi denyutan jelas dari karotis, ugularis,

radialis, takikardia.

c) Murmur stenosis vulvular.

d) Distensi vena jugularis.


21

e) Kulit pucat, sianosis, suhu dingin

(vasokontriksi perifer).

f) Pengisian kapiler mungkin lambat/tertunda.

h. Integritas Ego

1) Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas,

faktor stress multiple (hubungan, keuangan, yang

berkaitan dengan pekerjaan).

2) Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penyempitan

perhatian, tangisan meledak, otot muka tegang,

menghela nafas, peningkatan pola bicara.

i. Eliminasi

Gejala : gangguan ginjal saat ini (seperti obstruksi) atau

riwayat penyakit ginjal pada masa yang lalu.

j. Makanan/Cairan

1) Gejala :

a) Makanan yang disukai yang mencakup makanan

tinggi garam, lemak serta kolesterol.

b) Mual, muntah dan perubahan berat badan saat ini

(meningkat/turun).

c) Riwayat penggunaan diuretic

2) Tanda :

a) Berat badan normal atau obesitas.

b) Adanya edema.

c) Glikosuria.
22

d) Neurosensori

3) Gejala :

a) Keluhan pening/pusing, berdenyut, sakit kepala,

suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang

secara spontan setelah beberapa jam).

b) Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan

kabur, epitaksis)

4) Tanda :

a) Status mental, perubahan keterjagaan orientasi,

pola/isi bicara, efek, proses piker.

b) Penurunan kekuatan genggaman tangan.

k. Nyeri/ketidaknyamanan

Gejala : angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan

jantung), sakit kepala.

l. Pernafasan

1) Gejala :

a) Dispnea yang berkaitan dari aktifitas/kerja,

takipnea, ortopnea.

b) Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum.

c) Riwayat merokok.

2) Tanda :

a) Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori

pernafasan.

b) Bunyi nafas tambahan (crakles/mengi).


23

c) Sianosis.

m. Keamanan

Gejala : gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi

postural.

n. Pembelajaran/Penyuluhan

Gejala :

1) Faktor resiko keluarga hipertensi, aterosklerosis,

penyakit jantung, diabetes mellitus.

2) Faktor lain, seperti orang Afrika-Amerika, Asia

Tenggara, penggunaan pil KB atau hormone lain,

penggunaan alcohol/obat.

o. Rencana pemulangan

Bantuan dengan pemantauan diri tekanan

darah/perubahan dalam terapi obat.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan

afterload.

b. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler

serebral dan iskemia.

c. Hipervolemia

d. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan

e. Ketidakefektifan koping.

f. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral.

g. Resiko cidera

h. Defisiensi pengetahuan
24

i. Ansietas.

2.2.3 Intervensi Keperawatan

Tabel 2.2 1 Intervensi Keperawatan


DIAGNOSA
LUARAN INTERVENSI
KEPERAWATAN

Nyeri akut Tingkat Nyeri Manajemen nyeri


berhubungan dengan berkurang (L.08066) (I.08238)
agen pencedera Kriteria Hasil : 1. Identifikasi
fisiologis (mis. 1. Nyeri lokasi,
Iskemia) berkurang. karakteristik
2. Menunjukkan nyeri, durasi,
ekspresi frekuensi,
wajah tenang. intensitas
3. Dapat nyeri.
beristirahat 2. Identifikasi
dengan skala nyeri.
nyaman. 3. Identifikasi
faktor yang
memperberat
dan
memperingan
nyeri.
4. Berikan terapi
non
farmakologis
untuk
mengurangi
rasa nyeri (mis
: akupuntur,
terapi musik,
25

hipnotis,
biofeedback,
teknik
imajinasi
terbimbing,
kompres
hangat/dingin).
5. Kontrol
lingkungan
yang
memperberat
rasa nyeri (mis
: suhu ruangan,
pencahayaan,
kebisingan).
6. Anjurkan
memonitoring
nyeri secara
mandiri.
7. Ajarkan
Teknik non
farmakologis
untuk
mengurangi
nyeri.
8. Kolaborasi
pemberian
analgetik, jika
perlu
Perfusi perifer tidak Perfusi perifer Pemantauan TTV
efektif berhubungan meningkat (L.02011) (I.02060)
Kriteria Hasil :
26

dengan peningkatan 1. Nadi perifer 1. Monitor


tekanan darah teraba kuat. tekanan darah.
2. Akral teraba 2. Monitor nadi
hangat. (frekuensi,
3. Warna kulit kekuatan,
tidak pucat. irama).
3. Monitor
pernafasan
(frekuensi,
kedalaman).
4. Monitor suhu
tubuh.
5. Monitor
oksimetri nadi.
6. Identifikasi
penyebab
perubahan
tanda-tanda
vital.
7. Atur interval
pemantauan
sesuai kondisi
pasien.
8. Jelaskan tujuan
dan prosedur
pemantauan.
Hipervolemia Keseimbangan Manajemen
berhubungan dengan cairan meningkat Hipervolemia
gangguan mekanisme (L.03020). (I.03114).
regulasi. Kriteria hasil : 1. Periksa tanda
1. Terbebas dari dan gejala
edema. hipervolemia
27

2. Keluaran urin (mis : ortopnes,


meningkat. dipsnea,
3. Mampu edema,
mengontrol JVP/CVP
asupan meningkat,
cairan. suara nafas
tambahan
2. monitor intake
dan output
cairan.
3. Monitor efek
samping
diuretik (mis :
hipotensi
ortortostatik,
hipervolemia,
hipokalemia,
hyponatremia).
4. Batasi asupan
cairan dan
garam.
5. Anjurkan
mealpor
keluaran urin <
0,5 ml/kg/jam
dalam 6 jam
6. Anjurkan cara
membatasi
cairan.
7. Kolaborasi
pemberian
diuretik.
28

Intoleransi aktifitas Intoleransi aktifitas Manajemen Energi


berhubungan dengan meningkat (I.050178).
kelemahan (L.05047). 1. Monitor
Kriteria hasil : kelelahan fisik
1. Mampu dan emosional.
melakukan 2. Monitor pola
aktifitas dan jam tidur.
sehari-hari, 3. Sediakan
2. Mampu lingkungan
berpindah yang nyaman
tanpa dan rendah
bantuan. stimulus (mis :
3. Keluhan cahaya, suara,
lemah kunjungan.
berkurang. 4. Berikan
aktifitas
distraksi yang
menenangkan.
5. Anjurkan tirah
baring.
6. Anjurkan
melakukan
aktifitas secara
bertahap.
7. Kolaborasi
dengan ahli
gizi tentang
cara
meningkatkan
asupan
makanan,
29

Defisit pengetahuan Tingkat pengetahuan Edukasi Kesehatan


berhubungan dengan meningkat (I.12383).
kurang minat dalam (L.12111). 1. Identifikasi
belajar. Kriteria hasil : kesiapan dan
1. Melakukan kemampuan
sesuai menerima
anjuran. informasi.
2. Mampu 2. Identifikasi
menjelaskan faktor-faktor
Kembali yang dapat
materi yang meningkatkan
disampaikan. dan
3. Mengajukan menurunkan
pertanyaan. motivasi
perilaku hidup
bersih dan
sehat.
3. Sediakan
materi dan
media
pendidikan
kesehatan.
4. Jadwalkan
pendidikan
kesehatan
sesuai
kesepakatan.
5. Berikan
kesempatan
bertanya.
6. Jelaskan faktor
resiko yang
30

dapat
mempengaruhi
Kesehatan.
7. Ajarkan
perilaku hidup
bersih dan
sehat.
8. Ajarkan
strategi yang
dapat
digunakan
untuk
meningkatkan
perilaku hidup
bersih dan
sehat.
Ansietas berhubungan Tingkat ansietas Reduksi ansietas
dengan kurang menurun (L.09093) (I.09314).
terpapar informasi. Kriteria hasil : 1. Identifikasi
1. Memahami saat tingkat
penyakitnya. ansietas
2. Tampak berubah (mis :
tenang. kondisi, waktu,
3. Dapat stressor).
istirahat 2. Gunakan
dengan pendekatan
nyaman. yang tenang
dan nyaman.
3. Informasikan
secara factual
mengenai
diagnosis,
31

pengobatan,
dan prognosis.
Resiko penurunan Curah jantung Perawatan jantung
curah jantung meningkat (L.02008) (I.02075).
berhubungan dengan Kriteria hasil : 1. Identifikasi
perubahan afterload. 1. TTV dalam tanda/gejala
rentang primer
normal. penurunan
2. Nadi teraba curah jantung
kuat. (mis : dispnea,
3. Tidak kelelahan,
mengeluh edema,
Lelah. ortopnea,
paroxysmal
nocturnal
dyspnea,
peningkatan
CVP).
2. Identifikasi
tanda/gejala
sekunder
penurunan
curah jantung
(mis :
peningkatan
berat badan,
hepatomegaly,
distensi vena
jugularis,
palpitasi,
ronkhi basah,
32

oliguria, batuk,
kulit pucat).
3. Monitor
tekanan darah.
4. Monitor intake
dan output.
5. Monitor
keluhan nyeri
dada.
6. Berikan diet
jantung yang
sesuai.
7. Berikan terapi
relaksasi untuk
mengurangi
stress jika
perlu.
8. Anjurkan
beraktifitas
fisik sesuai
toleransi.
9. Anjurkan
beraktifitas
fisik secara
bertahap.
10. Kolaborasi
pemberian
antiaritmia,
jika perlu
Resiko jatuh Tingkat jatuh Pencegahan jatuh
berhubungan dengan menurun (L.14138). (I.14540).
gangguan penglihatan. Kriteria hasil :
33

1. Resiko jatuh 1. Identifikasi


dari tempat faktor resiko
tidur (mis. Usia > 65
menurun. tahun,
2. resiko jatuh penurunan
saat berjalan tingkat
menurun. kesadaran,
3. Resiko jatuh deficit kognitif,
saat berdiri hipotensi
menurun. ortostatik,
gangguan
keseimbangan,
gangguan
penglihatan,
neuropati).
2. Identifikasi
resiko jatuh
setidaknya
sekali setiap
shift.
3. Identifikasi
faktor
lingkungan
yang
meningkatkan
resiko jatuh
(mis. Morse
scale, humpty
dumpty).
4. Pasang
handrail tempat
tidur.
34

5. Anjurkan
memanggil
perawat jika
membutuhkan
bantuan untuk
berpindah.

2.3 Foot Massage


2.3.1 Definisi
Foot massage merupakan salah satu terapi komplementer yang

aman dan mudah diberikan dan mempunyai efek meningkatkan

sirkulasi, mengeluarkan sisa metabolisme, meningkatkan rentang

gerak sendi, mengurangi rasa sakit, merelaksasikan otot dan

memberikan rasa nyaman pada pasien (Alfianti, 2017).

Foot massage adalah manipulasi jaringan lunak pada kaki

secara umum dan tidak terpusat pada titik-titik tertentu pada telapak

kaki yang berhubungan dengan bagian lain pada tubuh (Abduliansyah,

2018).

2.3.2 Manfaat
Terapi pijat merupakan Teknik integrasi sensori yang

mempengaruhi aktivitas sistem saraf otonom. Apabila seseorang

mempersepsikan sentuhan sebagai stimulus rileks maka akan muncul

respon relaksasi (Perry & Potter, 2005 dalam Safitri, 2012). Terapi pijat

secara luas diakui sebagai tindakan yang memberikan manfaat sebagai

berikut :

a. Relaksasi
35

Menimbulkan relaksasi yang dalam sehingga

meringankan kelelahan jasmani dan rohani dikarenakan

sistem saraf simpatis mengalami penurunan aktifitas

yang akhirnya mengakibatkan turunnya tekanan darah

(Kaplan, 2006).

b. Mengurangi Nyeri

Memperbaiki sirkulasi darah pada otot sehingga

mengurangi nyeri dan inflamasi dikarenakan terapi pijat

meningkatkan sirkulasi baik darah maupun getah bening

(Price, 1997).

c. Memperbaiki Organ Tubuh

Memperbaiki secara langsung maupun tidak langsung

fungsi setiap organ internal berdasarkan filosofi aliran

energi meridian terapi pijat maupun memperbaiki aliran

peredaran energi (meridian) didalam tubuh menjadi

positif sehingga memperbaiki energi tubuh yang sudah

lemah (Thie, 2007 ; Dalimartha, 2008).

d. Memperbaiki Postur Tubuh

Mendorong kepada postur tubuh yang benar dan

membantu memperbaiki mobilitas. Otot yang tegang

menyebabkan nyeri dan bergesernya tulang belakang

keluar dari posisi normal, sehingga postur tubuh

mengalami perubahan, terapi pijat berfungsi untuk


36

menstimulus saraf otonom yang dapat mengendurkan

ketegangan otot (Perry & Potter, 2005).

e. Latihan Pasif

Sebagai bentuk dari suatu latihan pasif yang Sebagian

akan mengimbangi kurangnya latihan yang aktif karena

terapi pijat meningkatkan sirkulasi darah yang mampu

membantu tubuh meningkatkan energi pada titik vital

yang telah melemah (Price, 1997).

2.3.3 Faktor-Faktor Pertimbangan Dalam Terapi Pijat


Adapun faktor – faktor yang perlu dipertimbangkan adalah

tekanan, kecepatan, irama, durasi, dan frekuensi yaitu :

a. Tekanan

Ketika menggunakan keseluruhan tangan untuk mengerut

suatu daerah yang luas tekanan harus selalu dipusatkan di

bagian telapak tangan. Jari – jari tangan harus di lemaskan

sepenuhnya karena tekanan jari tangan pada saat ini tidak

menghasilkan relaksasi yang diperlukan. Tekanan telapak

tangan hanya boleh diberikan ketika melakukan gerakan

mengurut ke arah.

b. Kecepatan

Sampai saraf tertentu kecepatan gerakan pijat bergantung

pada edek yang ingin dicapai. Umumnya, pijat dilakukan

untuk menghasilkan relaksasi pada orang yang dipijat dan

frekuensi gerakan kurang lebih 15 kali dalam satu menit.

c. Irama
37

Gerakan yang tersentak-sentak tidak akan menghasilkan

relaksasi sehingga kita harus berhati – hati untuk

mempertahankan irama yang tidak terputus – putus.

d. Durasi

Durasi atau lamanya suatu terapi pijat bergantung pada

luasnya tubuh yang akan dipijat. Rangkaian terapi pijat yang

dianjurkan berlangsung antara 5 sampai 15 menit dengan

mempertimbangkan luas daerah yang dipijat.

e. Frekuensi

Umumnya diyakini bahwa terapi pijat paling efektif jika

dilakukan setiap hari, beberapa peneliti mengemukakan

bahwa terapi pihat akan lebih bermanfaat bila dilakukan

lebih sering dengan durasi yang lebih singkat. Menurut

Breakey (1982) yang dikutip oleh Price (1997), terapi pijat

selama 10 menit harus sudah menghasilkan relaksasi.

2.3.4 Pengobatan Menggunakan Terapi Pijat


Manusia merupakan makhluk hidup yang mampu berdiri dan

berjalan dengan kedua kaki. Pada kedua kaki, berat badan tubuh akan

bertumpu, oleh karena itu Tuhan Yang Maha Esa mendesain kaki

manusia dengan struktur yang luar biasa, terdiri dari puluhan tulang,

otot, persendian dan saraf - saraf yang masing – masing berhubungan

satu sama lain. Kondisi kaki yang kurang baik akan mempengaruhi

organ tubuh lain karena pada kaki terdapat refleks yang berhubungan

dengan organ tubuh. Area refleks pada kaki membentuk peta yang mirip

dengan anatomi tubuh, misalnya pada bagian jari dan tumit kaki,
38

masing-masing merefleksikan kepala dan punggung bagian bawah

(Wahyuni Shanti, 2014).

Adapun bagian area refleks sebagai berikut :

a. Telapak Kaki Kanan

Telapak kaki kanan merefleksikan area yang berhubungan

dengan tubuh sebelah kanan, seperti organ hati.

b. Telapak Kaki Kiri dan Kaki Kiri Atas

Telapak kaki kiri dan kaki kiri atas merefleksi area yang

berhubungan dengan tubuh sebelah kiri, seperti jantung,

lambung dan pankreas.

c. Kaki Dalam

Tulang punggung direfleksikan sepanjang telapak kaki

bagian dalam. Sementara itu, ibu jari berhubungan dengan

leher, telapak kaki bagian atas (di bawah ruas – ruas jari)

merefleksikan area diantara belikat kiri dan kanan, area

bawah tumit merefleksikan tulang ekor.

d. Kaki Kanan Atas

Terdapat area yang berhubungan dengan tubuh sebelah

kanan. Pada kaki kanan terdapat garis tengah yang

membelah telapak kaki menjadi dua bagian, yang dikenal

sebagai garis pinggang. Punggung atas dan organ –

organnya dipetakan pada bagian atas garis ini, sedangkan

punggung bawah dan organ dalamnya dipetakan pada garis


39

bawah bagian itu. Area refleks kelenjar limfa dan

selangkangan terdapat di sekeliling pergelangan kaki.

e. Kaki Luar

Kaki luar merefleksikan bahu serta area yang berkaitan

dengan lengan dan siku yang terdapat di sisinya. Selain itu,

area refleks organ reproduksi, saraf siatika, dan pinggul

direfleksikan oleh pergelangan telapak kaki yang

melingkar.

2.3.5 SOP FOOT MASSAGE

Tabel 2.3 1 SOP Foot Massage


NO Sub Judul Penjelasan
1. Definisi Foot Massage adalah sentuhan yang

dilakukan pada kaki dengan sadar

dan digunakan untuk meningkatkan

Kesehatan.

2. Tujuan 1. Menimbulkan relaksasi yang

dalam.

2. Memperbaiki sirkulasi darah

pada otot sehingga

mengurangi nyeri dan

inflamasi.

3. Memperbaiki secara

langsung maupun tidak

langsung fungsi setiap organ

internal.
40

4. Membantu memperbaiki

mobilitas.

5. Menurunkan tekanan darah.

3. Indikasi Klien dengan hipertensi.

4. Kontraindikasi Klien yang menderita luka bakar

hebat dan fraktur.

5. Persiapan Pasien 1. Menyediakan alat.

2. Memperkenalkan diri.

3. Mengukur tekanan darah

penderita hipertensi sebelum

dilakukan foot massage dan

dicatat di lembar observasi.

6. Persiapan Alat 1. Sypymomanometer.

2. Stetoskop.

3. Minyak kelapa/minyak

zitun/lotion/minyak kayu

putih.

4. Lembar observasi tekanan

darah.

5. Handuk.

6. Karpet busa.

7. Cara Kerja 1. Dengan menggunakan

bagian tumit telapak tangan

peneliti, peneliti menggosok


41

dan memijat telapak kaki

pasien secara perlahan dari

arah dalam ke arah sisi luar

kaki pada bagian terluas kaki

kanan selama 15 detik.

2. Dengan menggunakan tumit

telapak tangan peneliti di

bagian yang sempit dari kaki

kanan, peneliti menggosok

dan memijat secara perlahan

bagian telapak kaki pasien

dari arah dalam ke sisi luar

kaki selama 15 detik.

3. Pegang semua jari – jari kaki

oleh tangan kanan dan

tangan kiri menopang tumit

pasien, kemudian peneliti

memutar pergelangan kaki

tiga kali searah jarum jam

dan tiga kali kea rah

berlawanan arah jarum jam

selama 15 detik.

4. Tahan kaki di posisi yang

menunjukkan ujung jari kaki


42

mengarah keluar

(menghadap peneliti),

gerakan maju dan mundur

tiga kali selama 15 detik.

Untuk mengetahui

fleksibilitas.

5. Tahan kaki di area yang

lebih luas bagian atas

dengan menggunakan

seluruh jari (ibu jari di

telapak kaki dan empat jari

di punggung kaki) dari

kedua belah bagian

kemudian kaki digerakkan

ke sisi depan dan ke

belakang tiga kali selama 15

detik,

6. Tangan kiri menopang kaki

kemudian tangan kanan

memutar dan memijat

masing – masing jari kaki

sebanyak tiga kali di kedua

arah, untuk memeriksa

ketegangan (15 detik).


43

7. Pegang kaki kanan dengan

kuat dengan menggunakan

tangan kanan pada bagian

punggung kaki sampai ke

bawah jari – jari kaki dan

tangan kiri yang menopang

tumit, genggam bagian

punggung kaki berikan

pijatan lembut selama 15

detik.

8. Posisi tangan bergantian,

tangan kanan menopang

tumit dan tangan kiri

menggenggam punggung

kaki sampai bawah jari kaki

kemudian di pijat dengan

lembut selama 15 detik.

9. Pegang kaki dengan lembut

tapi kuat dengan tangan

kanan seseorang di bagian

punggung kaki hingga ke

bawah jari - jari kaki dan

gunakan tangan kiri untuk

menopang di tumit dan


44

pergelangan kaki dan

berikan tekanan lembut

selama 15 detik.

8. Evaluasi 1. Tanyakan pada klien

bagaimana perasaannya.

2. Kaji tekanan darah klien.

9. Hal – Hal Yang 1. Kondisi klien yang terlalu

Diperhatikan lapar, terlalu kenyang.

2. Kondisi ruangan yang

nyaman. Suhu tidak terlalu

panas, tidak terlalu dingin,

pencahayaan yang cukup

tidak remang – remang.

3. Posisi klien dalam keadaan

berbaring yang mana bagian

pinggang sampai telapak

kaki ditutup oleh handuk dan

posisi pemijat dibelakang

klien.

10. Faktor – Faktor 1. Tekanan

Pertimbangan dalam Ketika menggunakan

Terapi Foot Massage. keseluruhan tangan untuk

mengerut suatu daerah yang

luas tekanan harus selalu


45

dipusatkan dibagian telapak

tangan.

2. Kecepatan

Untuk menghasilkan

relaksasi pada orang yang

dipijat dan frekuensi

gerakan kurang lebih 15 kaki

dalam semenit.

3. Irama

Irama untuk melakukan

Foot Massage

mempertahankan irama

yang tidak terputus – putus

atau harus teratur.

4. Durasi

Rangkaian terapi pijat yang

dianjutkan berlangsung

selama 5 sampai 15 menit

dengan mempertimbangkan

luas daerah yang dipijat.

5. Frekuensi

Terapi pijat paling efektif

jika dilakukan setiap hari

selama 15 menit.
46

2.3.6 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Tabel 2.4 1 Penelitian Terdahulu


No. Nama Peneliti Judul Tahun Metode Hasil

1. Sri Hartutik, Pengaruh Terapi Pijat 2017 Jenis penelitian ini Pada kelompok control sebelum

Kanthi Suratih Refleksi Kaki Terhadap adalah Quasy dilakukan perlakuan, sebagian

Tekanan Darah Pada Eksperiment besar dengan hipertensi derajat I

Penderita Hipertensi dengan desain dan setelah dilakukan perlakuan

Primer. penelitian yang Sebagian besar dengan hipertensi

digunakan adalah derajat I rata – rata sebelum

pre – postestcontrol sebesar 153,6 / 94,5 mmHg turun

one group design. menjadi 152 / 92,3 mmHg.

Pada kelompok perlakuan

sebelum dilakukan perlakuan,

sebagian besar dengan hipertensi


47

derajat I dan setelah dilakukan

perlakuan sebagian besar dengan

hipertensi tingkat ringan (derajat

I) dan setelah diberikan

perlakuan terapi pijat refleksi

kaki sebagian besar turun

menjadi pre hipertensi. Rata –

rata sebelum rata – rata 154,5 /

94,1 mmHg menurun menjadi

128,6 / 80 mmHg.

Ada perbedaan signifikan

tekanan darah sebelum dan

sesudah perlakuan pada

kelompok terapi pijat refleksi


48

kaki. Tidak ada perbedaan

signifikan tekanan darah sebelum

dan sesudah perlakuan pada

kelompok kontrol. Ada pengaruh

signifikan pemberian terapi pijat

refleksi kaki terhadap tekanan

darah pada penderita hipertensi

primer.

2. Agus Arianto, Pengaruh Terapi Pijat 2018 Desain penelitian Pada penelitian ini untuk menguji

Swito Prastiwi, Refleksi Telapak Kaki ini menggunakan terapi pijat refleksi telapak kaki

Ani Sutriningsih Terhadap Perubahan Quasi terhadap perubahan tekanan

Tekanan Darah Pada Experimental darah sistolik dengan uji pired t-

Penderita Hipertensi dengan pendekatan test didapatkan hasil dari sesi

nonrandomized pagi dan sore masing – masing


49

pretest and posttest memiliki nilai p value = (0,000 <

with control group 0,050) yang artinya terapi pijat

design. refleksi telapak kaki berpengaruh

terhadap perubahan tekanan

darah sistolik pada penderita

hipertensi.

3. Rahmita Nuril Efektifitas Pijat Refleksi 2017 Penelitian ini Berdasarkan uji Repeated

Amalia Kaki Terhadap merupakan Measures Annova dapat

Penurunan Tekanan penelitian Quasi disimpulkan bahwa tekanan

Darah Lansia Hipertensi Eksperimen. darah sistolik dan diastolik lansia

di PSTW Budi Luhur Penelitian ini dengan masalah hipertensi di

Yogyakarta dimulai dengan PSTW Yogyakarta Unit Budi

melakukan pretest Luhur yang mendapatkan

intervensi pijat refleksi


50

pengukuran mengalami penurunan sejak hari

tekanan darah ke 1 intervensi sampai dengan

hari ke 8. Hal ini membuktikan

bahwa efek penerapan terapi pijat

refleksi dapat menurunkan

tekanan darah lansia dengan

masalah hipertensi.

4. Dinny Noor Pengaruh Foot Massage 2020 Jenis penelitian ini Hasil penelitian ini menunjukkan

Andiani Terhadap Nilai Tekanan menggunakan one ada pengaruh yang signifikan

Darah Pada Penderita group pretest – foot massage terhadap penurunan

Hipertensi di RSUD posttest dengan nilai tekanan darah pada

Kesehatan Kerja jumlah populasi 29 penderita hipertensi di RSUD

Provinsi Jawa Barat orang, Kesehatan Kerja Provinsi Jawa

menggunakan Barat dengan hasil p value =


51

purposive sampling 0,000. Berdasarkan hasil

dengan jumlah penelitian foot massage dapat

sampel 29 orang. dijadikan intervensi dalam

Teknik pemberian terapi komplementer

pengumpulan data pada penderita hipertensi.

dilakukan pre test

intervensi dan post

test.

5. Ardiansyah, Titih Metode Massage 2019 Pencarian di Hasil penelitian ini adalah ada

Huriah Terhadap Tekanan database dengan pengaruh efek signifikan

Darah Pada Penderita menggunakan pemberian dari beberapa jenis

Hipertensi : A Literatur metode yang metode massage. Metode

Riview digunakan dalam massage adalah salah satu terapi

penulisan literatur pijat yang paling efektif untuk


52

riview ini adalah menurunkan atau menstabilkan

dengan mencari tekanan darah khususnya pada

literatur – literatur penderita hipertensi.

internasional yang

dilakukan dengan

menggunakan

database Science

Direct, Proquest,

Google Scholar.

6. Dedi Wahyudin Penerapan Evidence 2021 Jenis penelitian ini Hasil penelitian ini menunjukkan

Based Nursing : adalah Quasi pada kelompok intervensi ada

Pengaruh Foot Massage Eksperimen pre dan penurunan rata – rata tekanan

Terhadap Penurunan post with control darah sistol yaitu dari 174,5

Tekanan Darah Pada group dengan mmHg menjadi 149,5 mmHg dan
53

Lansia Dengan jumlah sampel (n) = pada rata – rata tekanan darah

Hipertensi Di Kota 40 yaitu 20 diastol turun dari 98 mmHg

Sukabumi responden menjadi 91 mmHg. Hasil statistik

kelompok uji T tidak berpasangan

intervensi dan 20 (Independent sampel t-test)

responden didapatkan nilai p = 0,000 (p,

kelompok kontrol. 0,05) artinya ada perbedaan

pengaruh foot massage terhadap

tekanan darah sistol dan diastol

lansia hipertensi yang diberikan

intervensi foot massage dan yang

tidak diberikan intervensi di

Kelurahan Kramat Kota

Surabaya.
54

7. Irmawan Andri, Efektifitas Pijat Refleksi 2012 Jenis penelitian ini Hasil dari penelitian ini adalah

Nugroho, Asrin, Kaki dan Hipnoterapi adalah pijat refleksi kaki dapat

Sarwono Terhadap Penurunan eksperimental semu menurunkan tekanan darah dari

Tekanan Darah Pada (Quasy 60 responden didapatkan nilai

Pasien Hipertensi experimental) dan penurunan tekanan darah sistol

rancangan sebesar 23,5 mmHg dan diastol

penelitian yang sebesar 8,42 mmHg. Terdapat

digunakan adalah perbedaan keefektifan pengaruh

two group pre test – pijat refleksi kaki dan hipnoterapi

post test design. terhadap penurunan tekanan

darah, hal ini terbukti dengan

didapatkannya nilai signifikansi

(p) < 0,05. Pijat refleksi kaki

lebih efektif dalam menurunkan


55

tekanan darah pada pasien

hipertensi, hal ini dibuktikan

dengan mean rank pijat refleksi

lebih tinggi yaitu 40,00 pada

sistol dan 35,50 pada diastol,

sementara nilai mean rank pada

hipnoterapi adalah 21,00 pada

sistol dan 25,50 pada diastol.

8. Desi Marisna, Pengaruh Terapi Pijat 2017 Penelitian ini Hasil penelitian ini terlihat

Ichsan Budiharto, Refleksi Kaki Terhadap merupakan bahwa ada pengaruh diberikan

Sukarni Perubahan Tekanan penelitian intervensi pijat refleksi kaki

Darah Pada Penderita kuantitatif dengan terhadap perubahan tekanan

Hipertensi Wilayah desain penelitian darah pada penderita hipertensi

Quasy Eksperiment di wilayah kerja puskesmas


56

Kerja Puskesmas yang menggunakan kampung dalam kecamatan

Kampung Dalam pendekatan pretest Pontianak Timur. Terjadi

and posttest with penurunan tekanan darah

out control. sebelum dan setelah diberikan

intervensi pada sistol sebesar

11,7 mmHg dan diastol sebesar

4,4 mmHg.

9. Chanif, Khoiriyah Penurunan Tekanan 2016 Desain yang Hasil penelitian ini adalah

Darah Pada Pasien digunakan dalam dengan menggunakan uji pair t-

Hipertensi Berbasis penelitian ini test didapatkan p value 0,00 hal

Terapi Pijat Refleksi adalah quasi ini berarti bahwa terjadi

Kaki experimental perbedaan yang signifikan

design pada tekanan dari sebelum dan setelah

kelompok
57

perlakuan dan perlakuan terapi pijat refleksi

kelompok kontrol. kaki selama 30 menit.

10. Armen Patria, Pengaruh Masase Kaki 2019 Metode dalam Hasil penelitian ini didapatkan

Richta Puspita Terhadap Penurunan penelitian ini tekanan darah pada responden

Haryani Tekanan Darah Pada menggunakan sebelum diberikan terapi masase

Kelompok Dewasa design quasy kaki pada kelompok dewasa yang

Yang Mengalami eksperimen dengan mengalami hipertensi rata – rata

Hipertensi rancangan one tekanan darah sistolik 146,17

group pre post test mmHg diastolik 87,33 mmHg.

yaitu rancangan Diketahui tekanan darah pada

yang dilaksanakan responden setelah diberikan

dalam satu terapi masase kaki pada

kelompok. kelompok dewasa yang

mengalami rata – rata tekanan


58

darah sistolik 136,33 mmHg

diastolik 80 mmHg. Ada

pengaruh masase kaki terhadap

penurunan tekanan darah pada

kelompok dewasa yang

mengalami hipertensi di wilayah

kerja Puskesmas Gisting tahun

2018 dengan p value 0,000 untuk

sistolik dan p value 0,001 untuk

diastolik.

Anda mungkin juga menyukai