0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan5 halaman

Metode Perhitungan Debit Limpasan Permukaan

Paragraf tersebut membahas dua metode untuk menghitung debit limpasan permukaan, yaitu metode Rasional dan metode SCS. Metode Rasional menggunakan rumus yang melibatkan intensitas hujan, luas daerah tangkapan, dan koefisien pengaliran. Metode SCS mempertimbangkan karakteristik tanah dan penggunaan lahan dengan menggunakan kurva bilangan aliran dan retensi maksimum tanah. Kedua metode digunakan untuk perencana

Diunggah oleh

Nendi Subakti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan5 halaman

Metode Perhitungan Debit Limpasan Permukaan

Paragraf tersebut membahas dua metode untuk menghitung debit limpasan permukaan, yaitu metode Rasional dan metode SCS. Metode Rasional menggunakan rumus yang melibatkan intensitas hujan, luas daerah tangkapan, dan koefisien pengaliran. Metode SCS mempertimbangkan karakteristik tanah dan penggunaan lahan dengan menggunakan kurva bilangan aliran dan retensi maksimum tanah. Kedua metode digunakan untuk perencana

Diunggah oleh

Nendi Subakti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.3.9.

Debit Limpasan Permukaan Metode Rasional

Debit limpasan permukaan adalah jumlah air hujan yang mengalir di

permukaan tanah atau bangunan air dan memasuki sistem drainase tertentu. Untuk

merencanakan kemampuan dan ketahanan suatu bangunan hidraulik digunakan

debit puncak limpasan permukaan. Perhitungan debit rencana sistem drainase

dihitung berdasarkan hubungan antara hujan dan aliran. Menurut Soemarto (1986)

bahwa metode Rasional sering dipakai untuk debit debit puncak limpasan

permukaan di daerah perkotaan karena wilayahnya tidak begitu luas dimana

kehilangan air hujan relatif kecil, artinya hampir semua curah hujan menjadi

limpasan permukaan. Selain itu pula kecilnya waktu konsentrasi di daerah

perkotaan maka debit keseimbangan dapat tercapai. Bentuk umum dari persamaan

Rasional adalah:

ܳ = 0,2778 × ‫ܣ ×ܫ × ܥ‬ (2.27)

Keterangan:

Q = Debit puncak rencana (m3/detik)

C = Koefisien pengaliran (run off)

I = Intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam)

A = Luas daerah tangkapan air (km2)

2.3.10. Debit Limpasan Permukaan Metode SCS

Salah satu metode lainnya untuk menghitung besarnya debit limpasan

permukaan adalah metode SCS (Soil Conservation Service) sebagai fungsi dari

hujan kumulatif, jenis tanah penutup, tata guna lahan dan kelengasan tanah

sebelumnya. Metode SCS menggunakan karakteristik DAS seperti tanah, vegetasi,


dan tata guna lahan dengan bilangan kurva air larian (runoff curve number) yang

menunjukkan potensi air larian untuk curah hujan tertentu. Oleh karena itu metode

SCS dikenal sebagai Metode Curve Number.

Metode SCS-CN menyajikan limpasan sebagai fungsi total curah hujan

harian (P) dan potensi maksimal tanah untuk menahan (retention) air (S), dihitung

dengan persamaan sebagai berikut (Mosquera, et. al., 2021):

(௉ି଴,ଶ.ௌ)మ
ܳ= ; P > 0,2.S (2.28a)
௉ା଴,଼.ௌ

ܳ=0 ; P < 0,25.S (2.28b)

Keterangan:

Q = Debit limpasan permukaan (m3/detik)

P = Curah hujan (mm)

S = Retensi air potensial maksimum

Penetapan nilai S dilakukan dengan melalui nilai run off Curve Number (CN)

dengan persamaan berikut:


ଵ଴଴
ܵ = 25,4 + ( ஼ே − 10) (2.29)

CN diperoleh dari tabel menurut jenis tanah, penggunaan lahan, dan

kondisi hidrologi. Untuk memilih kelompok tanah hidrologi dengan mengamati

jenis tanah yang terkait pada kelompok tanah hidrologi seperti yang disajikan

pada Tabel 2.9.

Tabel 2.9 Nilai Koefisien Pengaliran


Kelompok Laju Infiltrasi Minimum
Deskripsi Jenis Tanah
Hidrologi Tanah (mm/jam)
Pasir, pasir berlempung dan lempung
A 8 – 12
berpasir
B Lempung berdebu, dan Lempung 4–8
C Lempung pasir berliat 1–4
Lempung berliat, lempung debu
D berliat, Liat berpasir, Liat berdebu, 0-1
dan Liat
Sumber: Chow, et. al. (1994) dalam Mosquera, et. al. (2021).

Setelah kelompok tanah hidrologi untuk setiap jenis tanah ditemukan, CN

ditentukan berdasarkan penggunaan lahan yang berbeda pada catchment area.

Untuk mendapatkan CN rata-rata dibobotkan berdasarkan diperoleh dengan cara

overlay menggunakan software ArcGis antara peta penggunaan lahan dengan peta

kelompok hidrologi tanah.

2.4. Hidrolika Saluran

Dalam sistem drainase, saluran memegang peranan penting dalam

membawa dan menyalurkan air hujan maupun air limbah yang akan dibuang ke

saluran drainase primer (sungai). Bentuk saluran drainase berupa saluran terbuka

yang dapat berbentuk persegi panjang, trapesium, setengah lingkaran atau

gabungan (komposit). Menurut (Suripin, 2004) bahwa aliran dalam saluran

terbuka maupun tertutup yang mempunyai permukaan bebas (terkontaminasi

terhadap atmosfer) tetap disebut aliran saluran terbuka. Jadi dapat dikatakan

saluran terbuka karena alirannya bukan merupakan aliran tekanan, sehingga rumus

aliran seragam tetap berlaku. Pentingnya pengetahuan tentang hidrolika dalam

perancangan saluran drainase sebagai dasar untuk merencanakan saluran yang

sesuai dengan karakteristik aliran dan keekonomisan bangunan air.


2.4.1. Kapasitas Dimensi Saluran

Menurut Saidah et. al. (2021) untuk merencanakan dimensi penampang

pada saluran drainase digunakan pendekatan rumus-rumus aliran seragam. Aliran

seragam ini mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

a. Dalamnya aliran, luas penampang lintang aliran, kecepatan aliran serta debit

selalu tetap pada setiap penampang lintang.

b. Garis energi dalam sistem aliran seragam senantiasa konstan di sepanjang

saluran.

Apabila aliran air dalam saluran drainase bukan merupakan aliran tekanan

berlaku rumus aliran seragam walaupun bentuk penampang saluran drainase

terbuka ataupun tetutup karena kondisi daerahnya. Rumus kecepatan rata-rata

pada perhitungan dimensi penampang saluran terbuka digunakan rumus Manning,

yang banyak digunakan dan mudah pemakaiannya (Triatmodjo, 1993).



ܸ = ௡ ܴଶ/ଷ ‫ܫ‬ଵ/ଶ (2.30)

Keterangan :

V = kecepatan aliran air di saluran (m/detik)

R = jari-jari hidrolis (m)

I = kemiringan saluran

n = koefisien kekerangan dinding saluran (koefisien Manning)

Tabel 2.10 Harga Koefisien Manning


Bahan Koefisien Manning (n)
Besi tuang dilapis 0,014
Kaca 0,010
Saluran Beton 0,013
Bata dilapis mortar 0,015
Pasangan batu disemen 0,025
Bahan Koefisien Manning (n)
Saluran tanah bersih 0,022
Saluran tanah 0,030
Saluran dengan dasar batu dan tebing rumput 0,040
Saluran pada galian batu padas 0,040
Sumber: Triatmodjo, 1993

Selanjutnya rumus hubungan antara debit dengan luas penampang saluran

dan kecepatan aliran adalah:

ܳ = ܸ ×‫ܣ‬ (2.31)

Keterangan:

Q = Debit saluran drainase maksimum (m3/detik)

V = Kecepatan aliran di sakuran(m/detik)

A = Luas penampang basah saluran (m2)

Debit aliran pada saluran yang sama dengan debit akibat hujan, maka

harus dialirkan pada saluran dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan dan kondisi

daerahnya. Adapun bentuk penampang basah saluran drainase yang sering

digunakan adalah bentuk persegi panjang, trapesium dan lingkaran sebagaimana

disajikan pada Gambar 2.5 dengan masing-masing persamaannya sebagai berikut:

a) Bentuk persegi panjang

‫ݕ ×ܾ = ܣ‬ (2.32)

஺ ௕×௬
ܴ = ௉ = ௕ାଶ௬ (2.33)

b) Bentuk trapesium

‫ ܾ( = ܣ‬+ ‫ݕ )ݕݔ‬ (2.34)

஺ (௕ା௫௬) ௬
ܴ=௉= (2.35)
௕ାଶ௬√௫మାଵ

Anda mungkin juga menyukai