0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
115 tayangan14 halaman

Laporan Pendahuluan Keperawatan KB

Dokumen tersebut memberikan informasi tentang laporan pendahuluan keperawatan maternitas pada kasus program keluarga berencana. Dokumen tersebut menjelaskan konsep teori dan asuhan keperawatan yang perlu diberikan kepada pasien yang menjalani vasektomi sebagai metode kontrasepsi."

Diunggah oleh

Tri Novela Richa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
115 tayangan14 halaman

Laporan Pendahuluan Keperawatan KB

Dokumen tersebut memberikan informasi tentang laporan pendahuluan keperawatan maternitas pada kasus program keluarga berencana. Dokumen tersebut menjelaskan konsep teori dan asuhan keperawatan yang perlu diberikan kepada pasien yang menjalani vasektomi sebagai metode kontrasepsi."

Diunggah oleh

Tri Novela Richa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN MATERNITAS
PADA KASUS PROGRAM KELUARGA BERENCANA (KB)

DISUSUN OLEH:
TRI NOVELA RICHA
NIM. 231133104

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI PROFESI NERS
TAHUN 2023/2024
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN MATERNITAS
PADA KASUS PROGRAM KELUARGA BERENCANA (KB)

Telah Mendapatkan Persetujuan dari Pembimbing Akademik (Clinical Teacher)


dan Pembimbing Lahan (Clinical Instructure)
Telah disetujui pada:
Hari :
Tanggal : Desember 2023

Pontianak, Desember 2023


Mahasiswa

Tri Novela Richa

Mengetahui,

Clinical Teacher Clinical Instructure


BAB I
KONSEP TEORI

A. Pengertian
Keluarga Berencana (KB) adalah upaya mengatur kelahiran anak,
jarak, dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi,
perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan
keluarga yang berkualitas. Pengaturan kehamilan dilakukan dengan
menggunakan cara, alat, dan obat kontrasepsi (Kemenkes RI, 2017).
Program keluarga berencana adalah tindakan yang membantu
pasangan suami istri untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur jarak interval kehamilan,
merencanakan waktu kelahiran yang tepat dalam kaitanya dengan umur istri,
serta menentukan jumlah anak dalam keluarga.

B. Tujuan KB
Tujuan menggunakan kontrasepsi adalah untuk menjarangkan
kelahiran, mengendalikan jumlah anak, dan untuk kesehatan reproduksi
wanita. Serta mencapai keluarga yang sejahtera. Kebijakan Keluarga
Berencana (KB) bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk
melalui usaha penurunan tingkat kelahiran. Kebijakan KB ini bersama-sama
dengan usaha pembangunan yang lain selanjutnya akan meningkatkan
kesejahteraan keluarga. (Imbarwati, 2019).

C. Metode Kontrasepsi Mantap


1. Pengertian Vasektomi
Vasektomi adalah pemotongan sebagian (0,5cm-1cm) pada vasa
deferensia atau tindakan operasi ringan dengan cara mengikat dan
memotong vas deferen sehingga sperma tidak dapat lewat dan air mani
tidak mengandung spermatozoa, sehingga tidak terjadi pembuahan, operasi
berlangsung kurang lebih 15 menit dan pasien tak perlu dirawat. Sperma
yang sudah dibentuk tidak akan dikeluarkan oleh tubuh, tetapi diserap dan
dihancurkan oleh tubuh (Mulyani dan Rinawati, 2013).
Vasektomi adalah prosedur kontrasepsi pada pria yang dilakukan
dengan cara memutus penyaluran sperma ke air mani. Dengan demikian,
air mani tidak akan mengandung sperma, sehingga kehamilan dapat
dicegah Prosedur vasektomi dilakukan melalui operasi bedah minor
dengan pemberian anestesi lokal pada area testis dan skrotum. Dalam
prosedur ini, saluran yang dilalui sperma dari testis akan dipotong dan
diikat guna mencegah sperma mencapai air mani yang dikeluarkan saat
ejakulasi ketika berhubungan seksual.
Di beberapa negara, prosedur ini dianggap sebagai pilihan
pengendalian kelahiran yang aman dan efektif untuk pria. Khususnya pria
yang yakin bahwa mereka tidak ingin memiliki anak. Hal ini dikarenakan:
a. Vasektomi hampir 100 persen efektif dalam mencegah kehamilan.
b. Vasektomi adalah operasi rawat jalan dengan risiko komplikasi atau
efek samping yang rendah.
c. Melakukan vasektomi berarti seseorang tidak perlu mengambil
langkah-langkah pengendalian kelahiran sebelum berhubungan seks,
seperti memakai kondom.
2. Indikasi
Vasektomi dapat dilakukan kepada pasien yang tidak berkeinginan
memiliki anak lagi. Metode kontrasepsi ini realtif membutuhkan waktu
perawatan di rumah sakit lebih singkat.
Meski demikian, sebaiknya keputusan untuk melakukan vasektomi
merupakan kesepakatan bersama dengan pasangan. Hal tersebut
dikarenakan operasi membuka kembali saluran sperma tidak selalu
berhasil dilakukan.
3. Kontraindikasi
Vasektomi dapat dilakukan pada pria usia berapa saja. Meski
demikian, dokter biasanya tidak menganjurkan metode ini untuk pria
berusia di bawah 30 tahun dan belum memiliki anak. Pertimbangan khusus
juga perlu diberikan pada pria dengan kondisi medis tertentu, seperti:
d. sedang mengonsumsi obat antikoagulan dan antiplatelet, seperti
warfarin atau aspirin
e. Menderita infeksi kulit akut akibat kecelakaan atau memiliki luka
parut pada skrotum
f. Memiliki kelainan anatomi pada organ reproduksi,
seperti varikokel atau hidrokel yang besar
g. Menderita kelainan darah atau perdarahan yang berlebihan
h. Memiliki alergi atau sensitif terhadap anastesi lokal atau antibiotik
i. Pernah menjalani operasi pada alat kelamin
j. Mengalami infeksi saluran kemih atau infeksi kelamin yang berulang
4. Prosedur
a. Vasektomi Konvensional
Dokter pertama-tama akan membius skrotum dengan anestesi lokal.
Kemudian, dokter akan membuat dua luka kecil di kulit di setiap sisi
skrotum untuk mencapai vas deferens. Vas deferens sendiri
merupakan tabung yang membawa sperma keluar dari testis. Setiap
tabung akan dipotong dan sebagian kecil dibuang. Ujung-ujung
tabung tersebut kemudian ditutup. Baik dengan cara diikat atau
disegel menggunakan metode panas. Selanjutnya, dokter akan
menjahit potongan, biasanya menggunakan jahitan larut yang hilang
dengan sendirinya dalam waktu sekitar seminggu
b. Vasektomi Tanpa Pisau Bedah
Dokter pertama-tama membius skrotum dengan anestesi lokal.
Kemudian membuat lubang tusukan kecil di kulit skrotum untuk
mencapai tabung. Melalui jenis prosedur vasektomi tanpa pisau
bedah, dokter tidak perlu memotong kulit, tabung kemudian ditutup
dengan cara yang sama seperti vasektomi konvensional, baik dengan
diikat atau disegel. Namun, ada sedikit pendarahan dan tidak ada
jahitan dengan prosedur ini. Alhasil, prosedur vasektomi tanpa pisau
bedah dianggap kurang menyakitkan dan memiliki risiko komplikasi
lebih rendah daripada prosedur konvensional.
5. Komplikasi
Meski jarang terjadi, vasektomi dapat menimbulkan beberapa komplikasi,
seperti:
a. Perdarahan atau pembekuan darah (hematoma) di skrotum
b. Kista abnormal di epididimis (spermatokel)
c. Infeksi pada lokasi operasi yang disertai dengan demam atau
kemerahan
d. Rasa nyeri pada testis yang berlangsung lama
e. Granuloma sperma, yaitu benjolan keras atau infeksi pada skrotum
karena kebocoran sperma
f. Hidrokel, berupa kantong berisi cairan
BAB II
WEB OF CAUTION (WOC)
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Biodata
2. Pemahaman klien/pengetahuan klien
3. Pengalaman menggunakan metode kendali kelahiran
4. Informasi kesehatan umum :
a. Struktur keluarga
b. Sosial ekonomi
c. Kondisi Psikologis
d. Riwayat kebersihan diri dan lingkungan
5. Riwayat kesehatan sekarang
Apakah pasien ada mengalami penyakit infeksi alat genital (sifilis, GO),
kanker alat genetalia, penyakit radang panggul, kanker genetalia
6. Riwayat kesehatan dahulu
Apakah pasien ada mengalami penyakit seperti hipertensi, diabetes, TBC,
HIV, Hepatitis dan lain-lain
7. Riwayat kesehatan keluarga
Klien sudah memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi
8. Pola kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
Apakah klien mengalami peningkatan atau penurunan berat badan,
gangguan nafsu makan atau pencernaan
b. Eliminasi
BAB : frekuensi, warna, konsistensi, keluhan/gangguan dan lain-lain
BAK : frekuensi, warna, konsistensi, keluhan/gangguan
c. Pola istirahat
Kebiasaan tidur siang berapa jam, tidur malam berapa jam,ada
keluhan/gangguan atau tidak
d. Pola aktivitas
Pola aktivitas yang terlalu berat, terutama bertumpu pada lengan kiri
lebih baik dibatasi.
e. Personal hygiene
Kebiasaan mandi berapa kali, berapa kali ganti baju dan celana dalam,
berapa kali dan kapan gosok gigi, setelah BAB/BAK. cuci
tangan/tidak
f. Pola seksual
Frekuensi hubungan seksual sebelum dan selama menjadi peserta KB
ada keluhan/gangguan baik dari istri/suami
g. Pola kebiasaan lain
merokok atau minum alkohol atau memakai obat-obatan psikotropika,
suka minum jamu atau tidak. mempunyai binatang peliharaan/tidak.
h. Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda vital: TD, Pols, BB, Umur
Kulit: pigmentasi, lesi, oedem
Kepala dan leher: kelenjar tiroid normal
Rectal, vulva, vagina, servik uterus, ovarium

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. D.0111. Defisit Pengetahuan
2. D.0129. Gangguan Integritas kulit/ Jaringan
3. D.0077. Nyeri Akut
C. INTERVENSI
No Diagnosa Tujuan dan Krteria Intervensi
Keperawatan Hasil
1. D.0111. Tingkat Pengetahuan Edukasi Prosedur Tindakan
Defisit (L.12111) (I.12442)
Pengetahuan
Setelah dilakukan Observasi
intervensi diharapkan 1. Identifikasi kesiapan dan
tingkat pengetahuan kemampuan menerima
membaik dengan informasi
kriteria hasil : Terapeutik
1. Sediakan materi dan media
1. Perilaku sesuai pendidikan kesehatan
anjuran meningkat 2. Jadwalkan pendidikan
2. Verbalisasi minat kesehatan sesuai kesepakatan
dalam belajar Edukasi
meningkat 1. Jelaskan tujuan dan manfaat
1. Kemampuan tindakan yang akan dilakukan
menjelaskan 2. Jelaskan perlunya tindakan
pengetahuan tentang dilakukan
suatu topik 3. Jelaskan keuntungan dan
meningkat kerugian jika tindakan
dilakukan
4. Jelaskan langkah-langkah
tindakan yang akan dilakukan
5. Jelaskan persiapan pasien
sebelum tindakan dilakukan
6. Informasikan durasi tindakan
dilakukan
1. Anjurkan bertanya jika ada
sesuatu yang tidak dimengerti
sebelum tindakan dilakukan
2. Nausea Setelah dilakukan Manajemen Mual (I.03117)
(D. 0076) tindakan keperawatan, Obsevasi
Maka diharapkan 1. Identifikasi pengalaman mual
Tingkat Nausea 2. Identifikasi isyarat non verbal
menurun (L. 08065) 3. Identifikasi dampak mual
dengan Kriteria Hasil : terhadap kualitas hidup
1. Nafsu makan 4. Monitor mual
meningkat 5. Monitor asupan nutrisi dan
2. Keluhan mual kalori
menurun
3. Perasaan ingin Terapeutik
muntah menuru 6. Kendalikan factor lingkungan
4. Pucat membaik penyebab mual
7. Berikan makanan dalam
jumlah kecil dan menarik
8. Berikan makanan dingin,
cairan bening, tidak berbau
dan tidak berwarna

Edukasi
9. Anjurkan istirahat dan tidur
[Link] sering
membersihkan mulut, kecuali
jika merangsang mual
[Link] makanan tinggi
karbohidrat dan rendah lemak
[Link] teknin non
farmakologis untuk mengatasi
mual

Kolaborasi
[Link] antiemetik
3. Gangguan rasa Setelah dilakukan Perawatan Kehamilan (I. 15562)
nyaman (D. tindakan keperawatan, Observasi
0074) Maka diharapkan Status 1. Identifikasi factor risiko
Kenyamanan meningkat kehamilan
(L. 08064) dengan 2. Identifikasi riwayat merokok,
Kriteria Hasil : imunisasi, masa kehamilan,
1. Keluhan tidak penggunaan kontrasepsi
nyaman menurun 3. Monitor tanda-tanda vital
2. Gelisah menurun 4. Timbang berat badan
3. Mual menurun 5. Ukur tinggi fundus
4. Iritabilitas menurun 6. Periksa pergerakan janin
7. Periksa denyut jantung janin

Terapeutik
8. Lakukan skrining depresi
pada kehamilan
9. Lakukan perawatan gigi dan
mulut
10. Motivasi makan porsi kecil
tapi sering
11. Atur waktu istirahat diantara
waktu aktivitas
12. Batasi masukan cairan
sebelum tidur

Edukasi
13. Anjurkan tidak membiarkan
perut kosong atau teralu
penuh
14. Anjurkan mengkonsumsi
karbohidrat kering dan
minuman hangat saat bangun
tidur
15. Ajarkan menghindari
makanan yang banyak
mengandung lemak,gas,
bumbu yang merangsang
mual
16. Anjurkan menghindari
aktivitas yang berlebihan
17. Anjurkan melakukan
pemeriksaan secara teratur

Kolaborasi
18. Kolaborasi pemeriksaan USG
untuk menentukan usia
kehamilan
D. Aplikasi Pemikiran Kritis dalam Asuhan Keperawatan Pasien
Dalam melakukan Tindakan asuhan keperawatan yang dapat
mengancam pasien terlebih dahulu di kerjakan atau diprioritaskan dalam
penanganan asuhan keperawatan. Dalam naskah publikasi yang berjudul
“Efektifitas Pemberian Wedang Jahe Terhadap Frekuensi Mual Dan Muntah
Pada Ibu Hamil Trimester I” menjelaskan hiperemesis gravidarum merupakan
keluhan normal yang sering dialami ibu hamil trimester pertama, dan dapat
menjadi hyperemesis gravidarum sehingga meningkatkan resiko terjadinya
gangguan kehamilan. Penangnan emesis gravidarum dibagi menjadi
farmakologi dan nonfarmakologi. Penanganan secara farmakologi terdiri dari
pemberian vitamin yang (vitamin B kompleks, muntah) dan pengobatan
sedative ringan. Penangan emesis gravidarum misalnya dengan cara
memberikan jahe. Jahe merupakan tanaman herbal yang sudah ada sejak lama
dikenal untuk mencegah mual muntah. Jenis jahe yang digunakan yaitu jahe
merah dengan pemberian satu gelas pada pagi dan satu gelas pada sore hari.
Penurunan frekuensi mual muntah terjadi pada hari ke 3 dan hari ke 4 dengan
rata-rata penurunan sebesar 2,20. Sedangkan untuk penurunan sebelum
dilakukan sapai hari ke4 menunjukan penurunan signifikan dengan rata-rata
sebesar 4,80. Dapat disimpulkan pemberian wedang jahe dapat menurunkan
frekuensi mual dan muntah pada ibu hamil trimester I yang mengalami
emesis gravidarum.
DAFTAR PUSTAKA

Handayani, S. 2020. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta:


Pustaka Rihama.

Imbarwati, 2016. Beberapa Faktor yang Berkaitan dengan Penggunaan KB IUD


Pada Peserta KB Non IUD Di Kecamatan Pedurungan Kota
Semarang.

Kusumaningrum, R. 2019. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis


Kontrasepsi yang Digunakan Pasangan Usia Subur [Skripsi].
Semarang: UNDIP

Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2017), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
(SDKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(SIKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Anda mungkin juga menyukai