Analisa Kerusakan Connecting Rod Engine
Analisa Kerusakan Connecting Rod Engine
CONNECTING ROD
10.1 Pendahuluan
Selamat datang pada training lanjutan Applied Failure Analysis. Presentasi ini mencakup
analisa kerusakan connecting rod engine.
10.3 Fungsi
10.4 Beban
Gambar Beban pada con rod
Con rod dipasangkan pada piston dan pada crankshaft. Ini artinya bahwa yang paling
banyak dari aplikasi gaya pada con rod adalah gaya tarik (pada saat langkah isap) dan gaya
tekan-kompresi (langkah kompresi, tenaga dan langkah buang) dalam satu garis lurus
dengan panjangnya.
Con rod juga menerima beban tekuk (bending load) yang sangat berhubungan dengan
inersia disebabkan oleh putaran crankshaft. Ketika pistin berubah arah naik dan turun
karena langkahnya, inersia putaran crankshaft menyebabkan gaya tekuk selama con rod
bergerak dari satu arah ke yang lainnya.
10.6 Manufaktur
Untuk bisa melakukan analisa kegaglan pada con rod, pengetahuan tentang bagaimana
con rod dibuat akan sangat membantu. Walaupun Caterpillar membuat conrod dengan
variasi ukuran yang banyak, con rod dibuat dengan proses yang sama dan material yang
sama. Salah satu contoh yang ditampilkan di sini adalah proses pembuatan con rod untuk
engine seri 3400.
Con rod dibuat melalui proses tempa dari baja campuran untuk kekrasan dan kekuatan
yang tinggi. Ketika bahan baja panas ditekan ke dalam cetakan grain flow ditekan sehingga
menjadikan arah garin flow paralel dengan permukaan rod.
Gambar Proses pembuatan con rod
Ini adalah sebuah potongan bagian bawah dari satu con rod. Perhatikan grain flow yang
paralel terhadap permukaann dari lubang rod, fillets dudukan nut dan kepala baut, dan
lubang crankshaft terhadap pertemuannya dengan Shank.
Demikian juga grain flow (alur butiran) pada bagian atas yang paralel terhadap ahank dari
rod, permukaan shank dan pertemuannya dengan rod eye. Susunan dari grain flow (alur
butiran) ini memberikan keunggulan kekuatan tumpuan rod dan menahan terjadinya
beberapa retakan karena lebih sulit memotong butiran dengan arah grain flow seperti ini.
Hal ini menghasilkan sesuatu kekuatan struktur yang tahan terhadap retak
Kekerasan rods adalah 28 – 32 RC setelah proses tempa. Kemudian mereka di shot peen
untuk mengeliminasi permukaan cacat kecil yang disebabkan proses penempaan (scale
pits, holes, microcracks, dll). Shot peening juga menyebabkan permukaan lebih padat
ditekan pada daerah permukaan rod. Supaya bisa terjadi retak, permukaan dari satu part
harus mengalami beban tarik. Dengan melakukan tekanan pemadatan (shoot pening)
pada permukaan, beban bekerja pada daerah tersebut (beban tarik) akan mampu
dieliminasi sehingga tidak menimbulkan retak. Oleh karena itu, shot peening mengurangi
kemungkinan terjadinya retak.
Beberapa cap kemudian di shot peen lagi, untuk membentuk ulang pemadatan tegangan
pada fillets dudukan nut.
Catatan: tergantung pada design con rods, dari model engine yang berbeda boleh atau
tidak boleh dishot peen lagi pada dudukan nut atau kepala bolt.
Setelah bentuk tirus pada bagian atas dari rod dibubut, bushing rod eye dan crankshaft
bores dibubut untuk mendapatkan ukuran akhir. Pengerjaan ini dikontrol dengan sangat
ketat dengan satu sistem di mana proses pengukuran dan penyetelan peralatan dilakukan
secara otomatis untuk menjamin bore yang akurat. Setelah dibubut, tiap con rod
dibersihkan untuk menghilangkan sisa-sisa material tajam yang masih tersisa.
10.7 Operasi
Pada kondisi normal, suatu con rod akan sedikit menunjukkan keausan apabila ditemukan
karena di sana tidak ada permukaan yang berpotensi mengalami keausan kecuali bushing
pin piston, permukaan thrust dan dibawah permukaan nut rod. Tidak akan terjadi
perubahan warna rod kecuali warna kuning terang pada lubang pin untuk beberapa rod
akibat dipanaskan sebelum pemasangan bushing pin piston.
Setelah digunakan beribu jam, adalah normal ditemukan pada bushing rod eye
mengalami perubahan warna seperti mengkilap dan atau bernoda, terutama sekali dalam
120 derajat area beban. Namun bushing tidak boleh mengalami scratching, scoring,
cracking atau keausan adhesive.
Gambar Kerusakan con rod
Adalah normal juga apabila terlihat beberapa noda pada lubang crankshaft di con rod.
Namun material tidak boleh mengalami scratching, scoring atau fretting korosion pada
permukaan ini
Permukaan thrust dari con rod seharusnya tidak mengalami keausan adhesive dan
keausan abrasive. Sedikit mengkilap adalah normal di mana con rod mungkin sedikit
menyentuh crankshaft.
Permukaan bagian sambungan rod dan cap harus bebas dari kerusakan. Tidak boleh ada
fretting atau perpindahan material pada permukaan ini. Fretting akan mengindikasikan
pergerakan sambungan. Sedikit cahaya mengkilap seperti terlihat di sini adalah normal.
Tanda-tanda machining yang asli pada permukaan bagian sambungan rod dan cap adalah
normal masih kelihatan lama beroperasi.
Dudukan nut dan kepala bolt pada rod dan cap harus terbebas dari kerusakan. Tanda-
tanda machining asli pada dudukan kepala bolt dan tanda-tanda shot peening pada
dudukan nut (3400 series) adalah normal masih kelihatan setelah lama beroperasi.
Model-model lainnya akan mempunyai penampilan yang sedikit berbeda. Ini adalah satu
contoh dari dudukan nut dan kepala bolt yang normal pada engine 3208. Tanda-tanda
pengerjaan mesin terlihat berbeda dan dudukan tidak diproses shot peen.
Sebelum mendiskusikan kerusakan con rod, akan di tinjau ulang “tanda-tanda” dari tiga
jenis patah dan kerusakan yang umum:
- Fatigue
- Ductie
- Kerusakan impact
Kerusakan fatigue adalah disebabkan beban berulang (cyclic) dan stress raiser.
Tampilannya halus, menunjukkan tidak ada perubahan plastis (necking down dan
distorsis) dan mempunyai beach marks, ratched mark, kerusakan akhir ductile dan shear
lip. Kerusakan-kerusakan ini normalnya berhubungan erat dengan penyebab utama (roct
cause).
Gambar Karakteristik patahan ductile
Patah ductile disebabkan oleh overload tiba-tiba. Patah ini cepat berkembang dan
memppunyai shear lips yang besar. Patah ductile secara normal warnanya gelap, kasar
dan seperti kayu dan menunjukkan perubahan plastis. Patah ini hampir selalu cenderung
merupakan hasil bukan merupakan penyebab utama.
Kerusakan impact shear disebabkan oleh satu bagian memukul yang lainnya dengan
tenaga yang tinggi. Patah ini menghasilkan permukaan yang halus dengan perubahan
plastis dan mungkin mempunyai warna temper akibat panas gesekan. Permukaan yang
berdekatan umumnya menunjukkan tanda-tanda adanya kekuatan dengan daya yang
tinggi mengenai mereka (lecet, tertekuk dan kadang-kadang terlokalisasi perubahan
warna karena panas)
Con rod dapat rusak karena kondisi operasi yang tidak normal atau adakalanya
disebabkan masalah material atau pengerjaan con rod itu sendiri. Apapun penyebabnya
maka penting untuk menerapkan delapan langkah Applied Failure Analisys, prosedur
pengamatan visual yang baik dan pemehaman dasar-dasar wear dan fracture. Hal ini akan
membantu analis untuk berpikir dengan fakta dan mengikuti “road sign” untuk
menentukan root cause (penyebab utama kegagalan).
Kebanyakan kegagalan con rod bukan disebabkan masalah material melalui atau
pengerjaan di pabrik. Hal yang sering menyebabkan kegagalan pada con rod yang
bagus adalah kondisi-kondisi yang tidak normal. Kondisi-kondisi tidak normal yang
umum adalah:
1) Gaya dari luar yang menyebabkan con rod bengkok atau patah
2) Kegagalan bearing yang juga mengakibatkan kerusakan pada con rod
3) Kesalahan perakitan misalnya penggunaan komponen-komponen yang rusak
karena kegagalan sebelumnya.
4) Con rod bolt yang kendur atau patah yang mengakibatkan kerusakan con rod.
Jika sebuah con rod bengkok, biasanya hal ini berhubungan dengan gaya dari luar
yang mengenai con rod tersebut baik yang langsung karena komponen lain yang
cukup berat sehingga mengakibatkan bengkok atau ada tahanan terhadap
pergerakan pision. Pada kasus ini akan ada tanda – tanda beban impact pada rod
atau kerusakan pada piston yang akan menerangkan kerusakan itu sendiri.
Komponen ini kelihatan normal kecuali rod yang bengkok. Shank con rod tidak
menunjukkan tanda – tanda lecet atau indikasi lainnya karena adanya gaya luar
yang mengenai con rod tersebut.
Gambar Kerusakan piston
Seluruh permukaan patahan pada bagian bawah piston kasar dan tidak mengkilap
yang mengindikasikan patah brittle/ductile. Patah ini mengindikasikan bahwa
piston rusak sebagai akibat komponen-komponen lain mengalami kerusakan
terlebih dahulu.
Gambar 42.
Ini adalah tampilan dari dekat permukaan patahan shank. Terlihat ada permukaan
yang relatif halus, rata dengan sedikit deformasi plastis. Juga permukaan patahan
yang halus yang mengindikasikan rod sudah patah beberapa waktu sebelum
patahan akhir terjadi.
Bearing bore menunjukkan bahwa bearing sudah berputar tapi hanya terlihat
sedikit perubahan warna (discoloration) pada bagian atas bore yaitu di area 120
derajat yang menerima beban tinggi. Ciri-ciri ini menjelaskan bahwa suplai oli
mencukupi untuk mendinginkan bearing walapun bearing berputar. Bore menjadi
panas hanya pada tahapan akhir kerusakan.
Daerah pertemuan rod dan cap mengalami fretting yang parah seperti terlihat di
sini, tapi laporan mekanik melaporkan nut terikat kencang pada baut rod (rod bolt)
pada saat dilepas. Lubang baut retak ke arah luar rod mengindikasikan baut
terbebani keluar dengan gaya yang besar.
Oleh karena itu si analis harus mencari fakta-fakta tentang bearing-bearing yang
lainnya, kemungkinan kekurangan suplai oli sesaat, profil journal crankshaft buruk,
kotoran dan lain-lain yang ditemukan sebagai penyebab utama dari kerusakan
bearing.
Connecting rod ini juga mengalami kegagalan bearing. Bearing sudah terpukul
menjadi serpihan kecil dan tipis sehingga keluar dari bore dan ditemukan di dalam
oil sump.
Daerah pertemuan antara cap dan rod mengalami fretting yang parah, yang
menandakan pergerakan sambungan.
Baut yang tidak patah menunjukkan ciri-ciri nut kendur. Semua ulir rusak karena
baut bergerak di dalam lubang dan beberapa ulir terakhir pada nut terlepas. Nut
washer face mengalami fretting dan mengkilap karena bergesekan dengan
dudukan nut.
Gambar Kerusakan bolt con rod
Bolt yang lain mengalami patah ductile. Bolt juga menunjukkan ciri-ciri kendur. Nut
washer face mengalami fretting dan mengkilap karena bergesekan dudukan nut.
Bolt ini tertarik putus pada saat rod cap terbuka setelah nut pada bolt connecting
rod yang lain lepas.
Nut dapat dipasangkan kembali pada ulir yang rusak. Ini menunjukkan bahwa nut
kendur sebagian sebelum bolt tertarik putus. Nut ini selanjutnya terbentur dan
berubah bentuk.
Con rod ini dekembalikan ke pabrikan dengan laporan rod bearing No 7 berputar
karena nut connecting rod kendur. Terdapat adhesive wear dan heat discoloration
pada connecting rod dan bearing. Con rod ini mengalami overheat (kelebihan
panas) yang sangat serius. Perhatikan warna pelangi pada shank yang mengarah
dari bore. Daerah yang dekat dengan bore mengalami kenaikan temperatur
sampai sekitar 816⁰C (1500⁰F) yang diindikasikan oleh oksidasi biru-hitam. Jika
penyebab utamanya adalah con rod nut yang kendur maka panas yang tinggi tidak
akan terjadi. Jika nut kendur atau jika ada patah fatigue yang membuka bearing
bore, bearing biasanya hanya merupakan akibat dari impact karena keluar dari
bore. Jika bearing dan con rod mengalami panas yang terlalu tinggi hal ini
merupakan ciri-ciri kurang atau tidak ada suplai oli ke bearing. Kemungkinan
penyebab bisa jadi level oil yang kurang, oil pump rusak, saluran hisap terlepas, by
pass valve stuck open, kotoran menyumbat saluran oli menuju bearing dll. Analis
harus mencari penyebab kekurangan pelumasan dan mengesampingkan rod atau
con rod bolt sebagai penyebab utama kerusakan.
Con rod ini gagal sepanjang bore pada permukaan rod juga dekat dudukan kepala
baut. Permukaan bearing yang aus kelihatan normal kecuali pada permukaan
akibat kegagalan ini. Suplai oli juga bagus dan penyebab utama kegagalan
bukanlah kegagalan bearing.
Gambar Kondisi abnormal con rod
Bearing yang digunakan adalah bearing undersize (1.27 mm). Terdapat tanda-
tanda fretting corrosion di dekat area pertemuan bearing ditambah tanda adanya
kerusakan impact yang disebabkan oleh con rod karena bearing berada di luar
bore. Bagian belakang bearing tidak menunjukkan indikasi kelebihan panas. Dapat
dikatakan bahwa suplai oli adalah normal.
Gambar Permukaan patahan
Selama proses rebuild sangat penting untuk memeriksa permukaan bore rod
bearing seperti cacat, fretting corrosion, pitting dll, dan memperbaikinya sebelum
pemasangan yang mengacu pada bulletin Caterpillar Guidelines For Reusable Parts
and Salvage Operations No. SEBF8075, SEBFS064, and SEBF8063. Di dalam
panduan (GRPTS) ini terdapat spesifikasi untuk pengukuran bore dan referensi
special instruction untuk prosedur dan penggunaan tool.
Con rod ini pada rod cap. Pengamatan lebih dekat pada ciri-ciri yang ada akan
membantu mengarahkan pada penyebab utama.
Gambar Patah bolt con rod
Bolt tertarik putus dan menghasilkan patah ductile dan patahan akhir yang
bergerigi sudah terbentur pada bagian sebelah kanan cap karena efek “hinged”
selama proses patahnya cap. Hal ini jelas mengindikasikan salah satu sisi telah
patah terlebih dahulu.
Sisi yang lain mempunyai permukaan yang rata dan lebih halus lebih mengkilap
pada sisi sebelah dalam bore (terlihat pada bagian bawah gambar), dan lebih kasar
pada bagian atas di mana juga terdapat patah ductile pada akhir patahan (sudut
sebelah atas). Terdapat beberapa beach mark yang samar yang dimulai dari bagian
bawah slide berkembang menuju ke atas (dari dalam bore menuju keluar).
Initiation site patah ini adalah pada bagian bawah slide.
Gambar Pembesaran patahan
Tampilan perbesaran yang lebih tajam memperlihatkan initiation site lebih jelas.
Terdapat area yang lebih mengkilap yang berawal dari titik kecil di sudut bawah
pada gambar. Initiation site ini adalah titik tunggal yang berada pada permukaan
bearing bore. Ini merupakan kerusakan yang sangat disayangkan yang
menyebabkan seluruh kerusakan dan menjadi stress raiser yang memulai retak.
Kapan hal ini terjadi.? Untuk mengetahuinya perlu melihat lokasi permukaan bore
lain untuk memperoleh petunjuk-petunjuk tambahan.
Tampilan perbesaran pada area lainnya pada permukaan dalam rod cap
memperlihatkan beberapa corrosion pit pada permukaan. Con rod ini digunakan
kembali pada saat rebuild. Pitting merupakan stress raiser yang tidak normal dan
sangat mungkin ditemukan pada initiation site yang menyebabkan patahan
fatigue. Tugas analis sekarang adalah mencari dan menentukan penyebab
corrosion pitting.
Ini juga merupakan contoh lain kemungkinan salah pada waktu rebuild. Piston pin
bushing rod ini diganti ketika rebuild. Ketika beroperasi bushing berputar dan
mulai keluar dari bore. Sedikit bagian dari bushing terlepas menjadi serpihan.
Serpihan ini ditemukan di oil sump. Apakah engine beroperasi lebih lama dengan
kondisi ini, sisa bushing yang masih berada di dalam bore dapat mengalami
kelebihan beban (verload) yang bisa memicu kerusakan yang lebih parah.
Walaupun analis tidak bisa menentukan penyebab utama bushing berputar pada
saat ini, salah satu penjelasan mengenai kesalahan rebuild
mengakibatkankegagalan ini:
1) Ketidaklurusan pemasangan piston pin bushing yang tidak benar yang
menyebabkan bushing crack atau mengalami distorsi dan longgar di dalam
bore. Ini bisa saja akibat penggunaan tool yang tidak dapat atau menekan
bushing tanpa memanaskan rod sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan.
2) Bore tidak diukur dengan teliti dan sudah mengalami oversize. Bushing baru
kemudian longgar di dalam bor. Sehingga sangat penting untuk mengukur
ukuran-ukuran yang kritis dan menggunakan petunjuk prosedur salvage
ketika menggunakan ulang con rod.
10.9.4 Bolt longgar atau patah
Bolt yang longgar atau patah juga dapat menyebabkan kerusakan con rod.
Gambar Baut con rod patah
Dalam sekumpulan komponen yang mengalami kegagalan ini, rod patah pada area
dudukan bolt head. Satu baut patah. Baut yang lain bengkok dan keseluruhan ulir
mengalami rusak parah. Rod cap mengalami efek “hinged” pada daerah
permukaan sambungan di bagian bawah yang mengindikasikan cap terbuka
setelah sisi yang di depannya mengalami kegagalan. Tidak ada adhesive wear pada
permukaan bore yang mengindikasikan bearing berputar. Bearing mengalami
keausan namun tidak berputar atau gagal karena kurang pelumasan.
Ini ada pandangan lebih dekat pada sisi rod cap yang mengalami efek “hinged”.
Terdapat benturan pada sudut bagian luar daerah sambungan dan merupakan
daerah yang mengalami patahan ductile (dengan ciri-ciri kasar, woody dan
mengalami deformasi) dan patahan baut ini mengindikasikan bahwa baut
mengalami overload dan tertarik putus dalam satu kali siklus beban.
Gambar Patahan cap con rod.
Ini adalah pandangan alas daerah sambungan serpihan rod cap yang patah. Tidak
ada fretting pada daerah pertemuan rod dan rod cap, tapi terdapat rusak pada
sudut sebelah dalam, yang mengindikasikan terpukul crankshaft setelah bolt
keluar dari lubang baut. Ini adalah sisi con rod yang terbuka terlebih dahulu.
Ini adalah sisi lain dari serpihan cap rod yang sama. Potongan ini mengalami impact
shear damage karena memperlihatkan ciri-ciri tidak ada beach mark, halus,
permukaan licin, penyok dan deformasi plastis karena gaya dengan energi yang
besar terjadi setelah baut lepas dari lubang. Shear damage merupakan akibat
bukan penyebab kerusakan.
Kumpulan con rod yang mengalami kegagalan ini perlu pengamatan lebih dekat.
Pengamatan lebih baik dekat terhadap bearing menunjukkan bearing rusak hanya
oleh kerusakan karena impact rod, rod cap, dan crankshaft setelah cap longgar.
Bearing yang digunakan adalah undersize 1.27 mm yang mengindikasikan telah
dilakukan rebuild pada engine. Jumlah dan kualitas oli bagus dibuktikan dengan
tidak adanya abrasive atau adhesive wear baik pada sisi depan maupun belakang
bearing.
Pertemuan rod dan cap di seberang patahan rod menunjukkan tipikal tampilan
“hinged” ditambah bolt yang patah ductile karena tarikan. Seluruh ciri-ciri ini
menunjukkan bahwa sisi ini terlepas setelah sisi yang lain.
Ini adalah tampilan permukaan patahan dari potongan rod dan bolt untuk area
yang berlawanan dengan sisi “hinged”. Baut dan potongan cap con rod rusak.
1) Permukaan patahan untuk potongan rod menunjukkan ciri-ciri impact shear
damage - tidak ada beach mark, halus dan licin di sisi setelah dalam bore –
mengarah ke area yang lebih kasar, woody, patah ductile yang lebih dekat ke
luar permukaan rod. Seluruh bukti merupakan tanda-tanda shear damage –
dan merupakan akibat.
2) Permukaan patahan pada bolt merupakan tipikal fatigue fracture – halus rata
dan sedikit patah ductile akhir yang dekat sisa patahan akhir. Fatigue fracture
secara umum lebih mengarah pada root cause (penyebab) sehingga
diperlukan pengamatan lebih dekat pada patah ini.
Gambar Patahan baut con rod
Tampilan perbesaran menunjukkan beach mark yang berawal dari sisi sebelah
kanan permukaan patahan dan membentuk radius menuju ke kiri sampai patahan
akhir ductile terjadi.
Dengan pembesaran lebih terlihat ada intiation site ada titik atau coakan kecil
pada permukaan knurl, baut, rod, pada sebelah kanan atas gambar. Titik ini
merupakan stress raiser yang tidak normal yang menjai awal letak fatigue.
Penyebab utama adalah penggunaan rod nya. Con rod adalah akibat dari
kerusakan. Selanjutnya analis bisa mencari siapa yang terakhir menangani dan
memasang baut tersebut.
Gambar 81.
Rod eye ini ditemukan ketika dilakukan normal overhaul dengan SMU tinggi. Con
rod tidak mengalami kegagalan operasi tapi ini merupakan contoh yang baik
untuk forging lap. Forging lap terjadi ketika metal terlipat garis butir ketika masuk
forging die. Warna lipatan ini adalah biru mengarah ke hitam. Warna oksidasi
gelap ini terbentuk sela,a proses forging. Karena tekanan forging yang tinggi,
lipatan ini halus. Loipatan ini merupakan stress raiser yang tidak normal yang
dapat menyebabkan retak fatigue.
Gambar Patahan shank con rod
Con rod ini patah di bagian shank. Patahan mempunyai area yang lebih halus di
tengah patahan dan semakin kasar di sekelilingnya. Terdapat ratchet mark pada
bagian atas. Patah ini merupakan patah melintang yang disebut patahan di
tengah shank. Fakta-fakta yang membantu biasanya selalu di temukan pada area
initiation site.
Initiation site terdapat pada bagian bawah huruf “U” yang dicetakkan pada
shank. Terdapat forging lap kecil yang terbentuk di antara huruf yang dicetak. Hal
ini karena jarak antara huruf yang terlalu dekat. Sehingga shot peening tidak
dapat menjangkau area tersebut. Untuk mengatasi masalah ini jarak antara huruf
yang dicetak dibuat semakin renggang.
Ini merupakan satu potongan rod cap yang terpotong dua. Patahannya kasar,
woody dengan adanya delormasi plastis, merupakan patah ductile dan adalah
akibat
Gambar Patahan cap con rod
Tampilan perbesaran pada initiation site menunjukkan pre crack (mengkilap dan
fretting area pada sebelah kiri atas) dan fatigue fracture terlihat lebih jelas. Pre
crack ini mirip lipatan yang terbentuk selama proses forging.
Con rod juga bisa gagal karena ketidakcocokan perlakuan panas seperti quench
crack. Quench crack terbentuk ketika komponen yang panas didinginkan terlalu
cepat menyebabkan shirnkagr stress tinggi dan tiba-tiba. Quench crack dapat
disebabkan pemanasan komponen terlalu tinggi sebelum komponen tersebut
dicelup (quench), mencelupnya di air atau oli yang terlalu dingin, atau
menggunakan air untuk mencelup komponen yang seharusnya dicelup dengan
oli. Quench crack biasanya terjadi pada area stress raiser normal. Pada con rod
area yang sering crack adalah antara shank dan rod eye, antara rod bore shank
atau di tempat-tempat di mana terdapat perubahan bentuk permukaan
Ini adalah patahan permukaan tengah shank. Tampilannya adalah gelap, kasar
dan woody, merupakan ductile fracture yang disebabkan kelebihan beban dan
merupakan akibat. Ini adalah komponen terakhir yang patah atau final fracture.
Terdapat permukaan patah yang lebih halus mengarah dari atas menuju bawah
yang berawal dari rod eye. Rod sedikit bengkok. Ini merupakan fatigue fracture
yang berawal dari daerah dekat pin bore.
Rod dapat juga gagal sebagai akibat masalah proses pemesinan dan atau masalah
shot peening.
Permukaan patahan pada cap adalah halus, rata, berwarna terang dan terdapat
beach mark yang berawal dari fillet dudukan nut (sebelah kanan atas gambar ini)
dan berakhir dengan patahan akhir ductile yang kecil (sebelah kiri bawah).
Ini menampilkan initiation site yang lebih jelas yaitu pada bagian kanan bawah
permukaan patah pada gambar di atas. Initiation site adalah sudut tajam di mana
permukaan fillet dan sudut luar rod cap join. Sudut tajam ini normalnya halus
dan bersih ditambah area fillet harus di shot peen dengan baik. Jika tidak apabila
con rod beroperasi dengan spesifikasi ini maka stress raiser yang tidak normal
dapat menyebabkan bermulanya patah fatigue.
Con rod ini patah dekat dudukan kepala baut. Diperlukan pengamatan yang lebih
dekat untuk mendapatkan bukti-bukti yang berguna.
Fatigue fracture ini berawal dari sudut kiri bawah pada dudukan kepala baut. Ini
adalah penyebab utama.
Gambar 104.
Tampilan perbesaran pada area patahan ini terlihat lebih jelas. Beach mark
bearwal dari sudut kiri bawah permukaan patahan. Sudut tajam menjadi stress
raiser dan awal fatigue fracture. Solusi untuk permasalahan ini adalah membuat
sudut yang lebih halus dan menghilangkan sudut tajam untuk menurunkan
konsentrasi tegangan.
Gambar Patahan con rod
Ini merupakan kumpulan serpihan dari con rod yang gagal pada bagian bushing.
Perlu pengamatan yang sistematis untuk menemukan petunjuk-petunjuk
kegagalan.
Pengamatan lebih dekat pada rod bearing dan bagian bawah con rod
memberikan fakta-fakta sbb:
1) Bearing tidak menunjukkan tanda-tanda abrasive atau adhesive wear – oli
yang disuplai juga merupakan oli yang bersih.
2) Tidak terdapat tanda-tanda heat discoloration pada con rod. Karena itu
temperaturnya adalah normal.
Analis harus memeriksa sisi ujung con rod lainnya untuk mengidentifikasi
permukaan patahan dan apa jenis beban yang terjadi.
Gambar Identifikasi permukaan patahan
Terdapat heat discoloration dan impact shear damage. Impact shear damage
merupakan akibat.
Ini merupakan serpihan rod eye dan bushing. Bushing terpukul (impact damage)
menjadi serpihan kecil-kecil dan rod eye menjadi potongan-potongan yang
mengalami kerusakan parah.
Potongan bushing yang dilingkari putih ditemukan di dalam oil sump. Potongan
ini tidak terpukul tipis sperti sisa bushing yang lain. Kesimpulannya potongan ini
terlepas terlebih dahulu dari bushing dan jatuh ke dalam oil sump. Sisa bushing
yang tertinggal di dalam bore menerima beban tinggi dan terpukul sehingga
menjadi tipid. Bushing yang longgar bisa terjadi karena:
1) Kesalahan proses machining yang mengakibatkan rod eye sedikit oversize
2) Kesalahan pemasangan bushing ketika proses rebuild
3) Kesalahan pemanasan pada rod eye sebelum bushing dipasang
Salah satu dari kondisi ini dapat menyebabkan bushing crack, mengalami distorsi,
dan menjadi longgar di dalam bore. Catatan ini perlu diperhatikan lebih seksama
dan melihat lebih dekat pada komponen dan mendapatkan fakta-fakta dan
selanjutnya mempertimbangkan fakta-fakta tersebut. Petunjuk kecil seperti
potongan bushing yang ditemukan di dalam oil sump dapat menjadi bagian
puzzle yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah analisa kegagalan
komponen.
10.11 Assembly
Pengamatan lebih dekat pada piston pin bushing memperlihatkan bahwa piston pin
bushing relatif normal kecuali terdapat impact damage dan shear damage pada beberapa
tempat di belakang bushing. Shearing damage pada bagian atas gambar terjadi dalam dua
per tiga lebar bushing dari kanan ke kiri. Hal ini merupakan indikasi rod eye terbuka
terlebih dahulu menyebabkan bergerak dan dikoyak oleh sisi tajam rod yang crack.
Pada tampilan permukaan patahan ini terlihat beach mark yang samar. Permukaan
patahan sangat halus dan rata di dekat rod eye bore dan semakin kasar ke arah luar. Ini
merupakan tanda-tanda fatigue crack berkembang dari daerah yang menerima beban
tinggi yaitu daerah 120 derajat pada bagian bawah rod eye bore. Ini merupakan indikasi
pasti suatu stress raiser (sayangnya bukti tersebut hilang karena kegagalan con rod ini)
pada area ini yang menyebabkan fatigue crack berkembang. Stress raiser mungkin muncul
ketika proses assembly bushing yang ditekan ke dalam bore. Pada area dengan beban
tinggi stress raiser dapat menyebabkan terjadinya crack.
10.12 Praktek
Gambar Praktek
Ini menyimpulkan diskusi mengenai kondisi-kondisi dan proses manufaktur yang tak
normal yang menyebabkan kegagalan con rod. Berikut ini adalah contoh-contoh praktis
yang dikirim dari lapangan untuk memberikan gambaran.
Ini merupakan salah satu con rod engine 3500 series. Tanda-tanda yang diperoleh
adalah:ke empat baut patah, dua baut patah pada head bolt dua lagi patah di tengah
shank, tidak ada heat discoloration dan baut bengkok ke arah luar.
Machining mark masih terlihat di dalam bore. Tidak ada kerusakan bearing dan suplai oli
bagus.
Patah Ductile pada kedua baut menghasilkan shear lip yang besar, dan terdapat tanda-
tanda “hinged” pada sisi cap dengan demikian sisi yang lainnya patah terlebih dahulu.
Bolt head shear (terkoyak). Terdapat tanda biru pada baut dan juga pada cap. Kesimpulan
baut terpukul oleh crankshaft, terputar dan bengkok.
Terdapat cylinder lain yang rusak di dalam engine. Keempat baut patah dan rod cap patah.
Gambar Tanda kerusakan con rod
Semua baut patah ductile. Terdapat patahan yang rata pada permukaan cap yang patah.
Permukaan bearing bore normal kecuali akibat dari kerusakan. Permukaan patahan halus.
Titik kecil pada area balance pad perlu diamati lebih dekat.
Terdapat sebuah titik dibawah permukaan patahan, di mana beach mark mulai
berkembang.
Gambar Tanda kerusakan con rod
Terdapat area segi tiga seperti bersisik di sebelah kiri dan terdapat area yang lebih gelap
pada area tersebut di mana beach mark berkembang dari area ini.
Pandangan lebih dekat memperlihatkan area scaly yang gelap, daerah keropos yang
gelap, beach mark dan ratchet mark.
10.13 Kesimpulan
Gambar Kesimpulan
Con rod harus diproduksi, ditangani dan dipasang dengan cermat untuk menghindari
terjadinya kegagalan pada con rod. Setelah memperoleh fakta-fakta, menentukan event
dan menempatkan event pada urutan kejadian dan sampai pada kemungkinan yang
paling mendekati sebagai penyebab utama, analis perlu menyelesaikan tahapan 6, 7, dan
8 dari delapan langkah Applied Failure Analysis. Tahapan-tahapan ini membantu “get the
payoff” dengan berkomunikasi dengan bagian-bagian yang bertanggung jawab,
melaksanakan perbaikan yang tepat dan melakukan tindak lanjut (follow up) untuk
memastikan konsumen puas.