Journal on Education
Volume 05, No. 04, Mei-Agustus 2023, pp. 16379-16385
E-ISSN: 2654-5497, P-ISSN: 2655-1365
Website: [Link]
Peran Guru dalam Membentuk Karakter Religius Siswa
Rahmah
Politeknik Negeri Banjarmasin, Jl. Brig Jend. Hasan Basri, Pangeran, Kec. Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin,
Kalimantan Selatan
rahmahrumna@[Link]
Abstract
Teachers have an important role in education, especially in cultivating the religious character of students. This is
because teachers often deal directly with students in the learning process. In addition, teachers can also encourage
children to discover, explore and reconstruct their knowledge as much as possible so that later in society they can
live independently and be able to work. Religious character is a person's character, character, morals, or attitude
and behavior which is formed from the internalization of various policies based on religious teachings. This study
aims to describe the teacher's role in shaping the religious character of students. This research was conducted
using a qualitative descriptive method, using written data obtained from searching documents, journals and books.
From the results of the study it was found that the teacher has an important role in shaping the religious character
of students. The teacher's role is to educate, teach, guide, direct, train, assess and evaluate students. In forming the
religious character of students, teachers need to create habits through special activities that are mandatory for
students to participate in, including (1) requiring students to pray before starting and ending learning. (2) Schedule
various extracurricular special religious activities.
Keywords: Religious Character, Role of Teachers, Students
Abstrak
Guru memiliki peranan penting dalam pendidikan, terutama dalam menumbuhkan karakter religius siswa. Hal ini
dikarenakan guru sering berhubungan langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, guru juga
dapat mendorong anak-anak untuk menemukan, mengekplorasi dan merekontruksi pengetahuannya semaksimal
mungkin supaya kelak dikehidupan masyarakat dapat hidup mandiri dan mampu berkarya. Karakter Religius
merupakan watak, tabiat, akhlak, atau sikap dan prilaku seseorang yang terbentuk dari internalisasi berbagai
kebijakan yang berlandaskan ajaran-ajaran agama. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan peran guru
dalam membentuk karakter religius siswa. Penelitian ini dilakukan dengan metode Deskriptif kualitatif, dengan
menggunakan data tertulis yang didapatkan dari penelusuran dokumen, jurnal, dan buku. Dari Hasil penelitian
didapatkan bahwa guru mempunyai peran yang penting dalam membentuk karakter religius siswa. Guru berperan
untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi Siswa. Dalam
membentuk karakter religius siswa, guru perlu menciptakan pembiasaan-pembiasaan melalui kegiatan khusus
yang wajib untuk diikuti siswa, diantaranya (1) mengharuskan siswa untuk berdoa sebelum memulai dan meakhiri
pembelajaran. (2) Menjadwalkan berbagai ekstrakurikuler khusus kegiatan keagamaan.
Kata Kunci: Karakter Religius, Peran Guru, Siswa
Copyright (c) 2023 Rahmah
Corresponding author: Rahmah
Email Address: rahmahrumna@[Link] (Jl. Brig Jend. Hasan Basri, Pangeran, Kec. Banjarmasin Utara,
Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan)
Received 9 April 2023, Accepted 19 April 2023, Published 21 April 2023
PENDAHULUAN
Dalam UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Dalam pengertian yang sederhana dan
umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-
potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam
16380 Journal on Education, Volume 05, No. 04, Mei-Agustus 2023, hal. 16379-16385
masyarakat dan kebudayaan. Pendidikan diwujudkan dengan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya dan masyarakat..(Rahman et al., 2022)
Untuk mewujudkan hal tersebut, maka peran guru sangat diperlukan. Secara etimologi guru
adalah diguguh dan ditiru. Digugu artinya dipercaya dan ditiru artinya diikuti. Artinya seorang guru itu
harus dipercaya setiap kata-kata, ucapan dan prilakunya agar menjadi panutan dan teladan mulia yang
diikuti. Dunia guru adalah salah satu sisi dari dunia kependidikan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Meskipun dengan cara pandang akar ilmu, guru menempati posisi keempat, setelah pelajar objek yang
dipelajari dan tujuan yang ingin dicapai dengan proses belajar itu sendiri, tetapi tanpa adanya seorang
guru rasanya sulit seorang manusia pun yang bisa seperti itu. (Jasa Ungguh Muliawan, 2015)
Guru memiliki peranan penting dalam pendidikan, terutama dalam menanamkan nilai-nilai
karakter religius. Hal ini dikarenakan guru sering berhubungan langsung dengan siswa dalam proses
pembelajaran. Selain itu, guru juga dapat mendorong anak-anak untuk menemukan, mengekplorasi dan
merekontruksi pengetahuannya semaksimal mungkin supaya kelak dikehidupan masyarakat dapat
hidup mandiri dan mampu berkarya.
Menurut Siswanto (2013) pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen, pengetahuan, kesadaran dan kemauan, dan tindakan
untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik kepada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri sesama,
lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia yang insan kamil.
Dalam membentuk karakter peserta didik kita perlu adanya pembiasaan sebagai sebuah
kewajiban kepada hal-hal yang berkaitan dengan pembentukan karakter. Dalam hal ini yang diinginkan
adalah tertanamnya karakter yang mulia, yaitu karakter religius, tanpa mengesampingkan aspek
pengetahuan, sikap dan motivasi serta prilaku yang sesuai dengan norma yang ada di masyarakat serta
agama. Hal ini sangat jelas dalam ajaran Islam sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.
Menurut Abdul Majid karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau
budipekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain.(Abdul Majid dan Dian Andayani, 2013)
Kata religius berasal dari kata religi (religion) yang artinya kepercayaan atau keyakinan pada sesuatu
kekuatan kodrati di atas kemampuan manusia. Kemudian religius dapat diartikan sebagai keshalihan
atau pengabdian yang besar terhadap agama. Keshalihan tersebut dibuktikan dengan melaksanakan
segala perintah agama dan menjauhi apa yang dilarang oleh agama. Tanpa keduanya seseorang tidak
pantas menyandang perilaku predikat religius.(Kemdiknas, 2010)
Dalam Undang-Undang tentang sistem pendidikan Nasional Nomor 20, tahun2003, pasal 3
disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini tentu
menuntut sekolah untuk melakukan terobosan baru yang berkualitas untuk mengembangkan minat,
bakat dan potensi siswa secara maksimal. Salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah adalah
Peran Guru dalam Membentuk Karakter Religius Siswa, Rahmah
16381
melakukan pembinaan siswa untuk menginternalisasikan nilai karakter religius melalui kegiatan
keagamaan.
Berdasarkan pernyataan, dirasa perlu telaah berkenaan dengan Peran Guru dalam menanamkan
nilai religius siswa melalui kegiatan keagamaan. Beberapa telaah pustaka yang hampir sama dapat
dengan hal tersebut, yaitu: penelitian oleh Wahyu Sri Wilujeng dengan judul penelitian “Implementasi
Pendidikan Karakter melalui Kegiatan Keagamaan di SD Ummu Aiman Lawang”, pada tahun 2016.
Penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) proses pelaksanaan kgiatan keagamaan disekolah dilaksanakan
dengan menggunakan metode pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus dan terstruktur. (2)
faktor penghambat dari pelaksanaan kegiatan keagamaan ini adalah kurangnya disiplin bagi sebagian
siswa yang tidak menerapkan pembiasaan tersebut dirumah, (3) nilai karakter ditanamkan di sekolah
meliputi nilai disiplin, jujur, tanggung jawab, sopan dan santun, ikhlas dan juga karakter toleransi.
Selain itu, Intan Sofiyah pada tahun 2009 dengan penelitian “Metode Pembentukan Karakter
Siswa di MI Ma’arif 01 Gentasari Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2013/2014”,
menyimpulkan bahwa upaya yang dilakukan oleh guru serta kepala sekolah dalam pembentukan
karakter siswa dilakukan dengan metode pembiasaan, penanaman disiplin dan keteladanan yaitu
kegiatan ekstrakurikuler.
METODE
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu data kualitatif. Penelitian yang menggunakan data kualitatif dikenal dengan penelitian
kualitatif, yang mana data kualitatif adalah data yang bukan berbentuk angka atau bilangan, sehingga
hanya berbentuk pernyataan atau kalimat, (Suliyanto, 2018). Dalam penelitian ini, pengumpulan data
dilakukan melalui penelusuran dokumen, jurnal, dan buku.
HASIL DAN DISKUSI
Untuk menumbuhkan karakter religius siswa perlu dilakukan pembiasaan-pembiasaan.
Diantaranya (1) mengharuskan siswa untuk berdoa sebelum memulai dan meakhiri pembelajaran. (2)
Adanya berbagai ekstrakurikuler di sekolah khusus kegiatan keagamaan.
Kegiatan Keagamaan
Definisi Kegiatan Keagamaan Rutin
Kegiatan mempunyai arti kesibukan atau aktivitas. Secara lebih luas kegiatan atau aktivitas
dapat diartikan sebagai perbuatan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-
hari yang berupa ucapan, perbuatan ataupun kreatifitas di tengah lingkungannya.( Poerwodarminto,
1997)
Keagamaan adalah kegiatan-kegiatan agama yang dilakukan secara rutin terus menerus
sehingga menjadi budaya positif di lingkungan, baik di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat.
16382 Journal on Education, Volume 05, No. 04, Mei-Agustus 2023, hal. 16379-16385
Sedangkan kegiatan keagamaan adalah sifat-sifat yang terdapat dalam agama atau segala sesuatu
mengenai agama (Poerwodarminto, 1997).
Kegiatan keagamaan ini ialah upaya pengayaan, pengembangan bakat, minat dan kepribadian
peserta didik dalam aspek pengalaman, keimanan, akhlak, ibadah, seni, dan kebudayaan yang dilakukan
di luar jam akademik.
Bentuk-bentuk Kegiatan Keagamaan
Dalam kehidupan, banyak sekali kegiatan-kegiatan keagamaan yang kerap dilakukan,
diantaranya adalah:
1. Kegiatan membaca surah Yasin, Waqiah, Tabarak dan Asmaul Husna
Al-Quran sendiri bagi umat Islam merupakan firman Allah SWT. Yang diturunkan-Nya
melalui perantara malaikat jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Quran ini juga merupakan
ajaran Islam yang baik universal, dalam bidang akidah, ibadah, syariah, akhlak, ataupun muamalah.
Di dalam Al-Quran surah yang sering dibaca oleh banyak orang yaitu surah Yasin, Surah Al-
Waqi’ah dan Surah Al-Mulk.
2. Kegiatan Tilawah Al-Quran
Al-Quran merupakan kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah SWT yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan perantara melalui malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami,
dan diamalkan sebagai petunjuk dan pedoman hidup.
Tilawah Al-Quran merupakan sarana dan jalan untuk mengamalkan isi Al-Quran. Membaca
Al-Quran merupakan kegiatan keagamaan ruton yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh
siswa. Membaca Al-Quran sebuah pekerjaan amal shaleh yang berlipat ganda, sebagaimana firman
Allah SWT pada surah Al-Fathir ayat 29-30: yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu
membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami
anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terangterangan, mereka itu mengharapkan
perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka
dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Mensyukuri.
Kegiatan Tahfiz
Tahfidz Al-Quran terdiri dari dua kata yaitu tahfidz dan Al-Quran. Hifdh merupakan bentuk
mashdar dari kata hafidho-yahfadhu yang berarti menghafal. Sedangkan penggabungan dengan kata
Al-Quran merupakan bentuk idhofah yang berarti menghafalkannya. Dalam tataan praktisnya, yaitu
membaca dengan lisan sehingga menimbulkan ingatan dalam pikiran dan meresap masuk dalam hati
untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.( Zaki Zamani dan Muhammad Syukron Maksum,2009).
Dari pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa hafalan merupakan aktivitas yang dilakukan secara
sadar dan sungguh-sungguh serta dengan kehendaknhati untuk memasukkan materi hafalan ke dalam
ingatan, sehingga penghafal dapat mengucapkan di luar kepala atau tanpa melihat kembali catatan yang
dihafalkan.
Peran Guru dalam Membentuk Karakter Religius Siswa, Rahmah
16383
Tahfidz yang berarti menghafal merupakan asal kata dari kata dasar hafal yang dari bahasa arab
hafidzho-yahfadzu-hifzhan, yaitu memelihara, menjaga, menghafal (Mahmud Yunus, 1999). hafal
merupakan lawan dari kata lupa, selalu ingat dan sedikit lupa. Hafal yaitu menampakkan dan
membacanya di luar kepala tanpa melihat. Tahfidz adalah proses menghafal sesuatu ke dalam ingatan
sehingga dapat diucapkan di luar kepala dengan metode tertentu. Sedangkan orang yang menghafal Al-
Quran disebut hafidz AlQuran.
Kegiatan Seni/Kebudayaan Islam
Kegiatan yang diselenggarakan untuk melestarikan tradisi, budaya dan kesenian keagamaan
yang ada dalam masyarakat Islam. Misalnya menyelenggarakan pelatihan-pelatihan tertentu untuk
mengembangkan potensi, minat dan bakat peserta didik seperti Qosidah, Habsy dan lain sebagainya.
KESIMPULAN
Guru mempunyai peran yang penting dalam membentuk karakter religius siswa. Guru berperan
untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi Siswa.
Dalam membentuk karakter religius siswa, guru perlu menciptakan pembiasaan-pembiasaan melalui
kegiatan khusus yang wajib untuk diikuti siswa, diantaranya (1) mengharuskan siswa untuk berdoa
sebelum memulai dan meakhiri pembelajaran. (2) Menjadwalkan berbagai ekstrakurikuler khusus
kegiatan keagamaan, seperti Kegiatan membaca surah Yasin, Waqiah, Tabarak dan Asmaul Husna,
Kegiatan Tilawah Al-Quran, Kegiatan Tahfiz, Kegiatan seni/kebudayaan Islam
REFERENSI
Arikunto, Dasar-dasar Research, Bandung: Tarsono, 1995.
Anggito, Albi dan Joha Setiawan, Metode Penelitain Kualitatif, Sukabumi: Jejak, 2018.
Al’araj Haidar Ahmad, Mukjizat Surah-Surah Al-Quran (Jakarta: Pustaka Zahra, 2005.
Al-Hafidzm Amdjat, Mujahadah Al-Asmau Husna dan Nadzom Asmaun Nabi Muhammad Saw,
Yayasan Majelis Khidmah Al-Asma’ Al Husna, Semarang.
Buchori Muchtar, Spektrum Problematika Pendidikan Di Indonesia, Yogjakarta: Tiara Wacana, 1994.
Depdikbud, Pembinaan Minat Baca, Materi Sajian, Jakarta: Dirjen Dikdasmen Depdikbud RI, 1997.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,
1988
Fitriana, Muh dan Luthfiyah, Metodologi Penelitian dalam Penelitian Kualitatif, Tindakan Kelas &
Studi Kasus, Sukabumi: Jejak, 2017.
Fathurrohman Muhammad, Sulistyorini, Belajar dan Pembelajaran, Yogyakarta: Teras, 2012.
Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 2002.
Hawi Akmal, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.
Imran Ali, Belajar dan Pembelajaran Cece Wijaya, A. Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru
Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994.
16384 Journal on Education, Volume 05, No. 04, Mei-Agustus 2023, hal. 16379-16385
Iskandar, Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: Gaung Persada, 2009.
Jasa Ungguh Muliawan, Ilmu Pendidikan Islam PT Jasa Grafindo Persada, 2015.
Kemdiknas, Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Pedoman
Sekolah, Jakarta: Balitbang, 2010.
Kurniawan Syamsul, Pendidikan Karakter Konsep & Implementasinya Secara Terpadu Dilingkungan
Keluarga,Sekolah,Perguruan Tinggi & Masyarakat, Yogyakarta: Ar – ruzz Media, 2014.
Mahfud S., Pengantar Psikologi Pendidikan, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 2001.
Majid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: PT Rosda Karya,
2013.
Majid, Abdul. Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung:PT Remaja Rosdakarya,
2010.
Mujtahid, Pengembangan Profesi Guru, Malang: UIN – maliki press, 2011.
Majid, Abdul dan Dian, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 2011
Munandar Utami, Kreativitas dan Keberbakatan, Strategi Mewujudkan Potensi Kretaif dan Bakat,
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.
Nashir Haidar, Pendidikan Karakter Berbasis Agama dan Budaya, Yogyakarta: Multi Presindo, 2013.
Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1984.
Poerwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1997.
Pratikno Ahmad Sudi, “Pendidikan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Membaca Surat Yasin
Secara Klasikal”, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Karakter, 17 Desember, 2016.
Rahman, A., Munandar, S. A., Fitriani, A., Karlina, Y., & Yumriani. (2022). Pengertian Pendidikan,
Ilmu Pendidikan dan Unsur-Unsur Pendidikan. Al Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam,
2(1), 1–8.
Senjaya Wina, Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2008.
Singgih D.G. dan Ny. SDG, Psikologi Perawatan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.
Singer Kurt, Membina Hasrat Belajar di Sekolah, (Terj. Bergman Sitorus), Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2003.
Siswanto, Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-nilai Religius. Jurnal Tadris. No 1Volume 8 tahun 2013.
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta : Rineka Cipta, 2013.
Suprihatiningrum Jamil, Guru Profesional Pedoman Kinerja, Kualifikasi Dan Kompetensi Guru,
Yogyakarta: Ar – ruzz Media, 2014.
Tampubolon, Mengembangkan Minat Membaca Pada Anak, Bandung: Angkasa, 2003.
Thoifuri, Menjadi Guru Inisiator, Semarang: RaSAIL Media Group, 2007.
Tampubolon, Mengembangkan Minat Membaca Pada Anak, Bandung: Angkasa, 2003.
Yunus Mahmud, Kamus Arab Indonesia, Hidakarya Agung: Jakarta, 1990.
Peran Guru dalam Membentuk Karakter Religius Siswa, Rahmah
16385
Zamani, Zaki dan Muhammad Syukron Maksum, Menghafal al-Quran itu Gampang, Yogyakarta:
Mutiara Media, 2009.