100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
330 tayangan145 halaman

Pelatihan Keselamatan Dasar 2025

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Dokumen tersebut memberikan panduan umum tentang pelatihan keselamatan dasar (BST) sebelum mengikuti pelatihan tersebut. 2) Dokumen tersebut juga menjelaskan contoh tindakan yang tidak aman dan kondisi yang tidak aman. 3) Dokumen tersebut memberikan gambaran singkat tentang materi presentasi BST yang mencakup perkembangan K3, peraturan, standar K3, SMK3, kesel

Diunggah oleh

hse.erection3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
330 tayangan145 halaman

Pelatihan Keselamatan Dasar 2025

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Dokumen tersebut memberikan panduan umum tentang pelatihan keselamatan dasar (BST) sebelum mengikuti pelatihan tersebut. 2) Dokumen tersebut juga menjelaskan contoh tindakan yang tidak aman dan kondisi yang tidak aman. 3) Dokumen tersebut memberikan gambaran singkat tentang materi presentasi BST yang mencakup perkembangan K3, peraturan, standar K3, SMK3, kesel

Diunggah oleh

hse.erection3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BASIC SAFETY TRAINING

Apa yang harus anda ikuti sebelum


Mengikuti BST

Matikan hp anda Please Tiolet


Smoke
Only in
Designated
Areas

Clinic/ Pintu Darurat


First Aid

2
Contoh Unsafe Action
Contoh Unsafe Condition
BASIC SAFTY TRAINING
PANDUAN UMUM HSE

Materi Presentasi:
• Perkembangan HSE
• Peraturan Perundangan
• Standar HSE
• SMHSE
• Keselamatan Operasi
• Komunikasi Bahaya
• Renungan
PERKEMBANGAN HSE
PERKEMBANGAN HSE

Era Tradisional (1750 SM)


Kode Hammurabi: Undang-undang keselamatan kerja awal

Era Revolusi Industri (1750-1850)


Perubahan sistem kerja, Penggunaan tenaga mesin, Pengenalan
metode baru pengolahan bahan baku, Pengorganisasian
pekerjaan, Muncul penyakit yang berhubungan dengan paparan
Hammurabi , Raja ke enam
kerajaan Babilonia
Era Industrialisasi
Perkembangan K3 mengikuti penggunaan teknologi (APD dan
Peralatan Pengaman)

Era Manajemen
H.W Heinrich: Teori Domino
Frank Bird dan Germain: Teori Loss Causation Model
ISO, SMHSE, OHSAS 18001

Mesin Uap James Watt. Mesin Uap telah memicu


Revolusi Industri di Inggris Raya dan di Dunia
PERKEMBANGAN HSE

Technology & Standards


►Engineering
►Equipment
►Safety
►Compliance
RATE OF INCIDENT

HSE Management Systems


►Certification
►Competence
►Risk Assessment
Improved Culture
►Behaviours
►Leadership
►Accountability
►Attitudes
►Safety as a profit centre

TIME
(Improving Supervision , Shell International Exploration and Production/ SIEP BV, 2008)
PERATURAN PERUNDANGAN
DASAR HUKUM

1. UU No 1 Tahun 1970: Keselamatan Kerja


2. UU No 13 Tahun 2003: Ketenaga Kerjaan
3. UU No 22 Tahun 2001: Minyak dan Gas Bumi
4. UU No 32 Tahun 2009: Perlidungan dan Pengelolaan LH
5. MPR (Mijn Politie Reglement) No 341 Tahun 1930
6. PP No 19 Tahun 1973: Pengaturan Dan Pengawasan Keselamatan Kerja Di Bidang
Pertambangan
DASAR HUKUM
UU RI No. 1 TAHUN 1970

Bab I : Tentang Istilah-Istilah


Pasal 1:
1. Tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak
atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja,
dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya, termasuk semua
ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian atau
yang berhubungan dengan tempat kerja.

2. Pengurus ialah orang yang memimpin langsung tempat kerja.

3. Pengusaha ialah :
a. Orang atau badan hukum yang menjalankan usaha milik sendiri yang
mempergunakan tempat kerja;
b. Orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan usaha
bukan miliknya yang mempergunakan tempat kerja;
c. Orang atau badan hukum yang di Indonesia mewakili orang atau badan
hukum termaksud (a) dan (b), jika yang diwakili berkedudukan di luar
Indonesia.
DASAR HUKUM

4. Direktur ialah pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk
melaksanakan undang-undang ini.
5. Pegawai Pengawas ialah pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen
Tenaga Kerja.
6. Ahli Keselamatan Kerja ialah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar
Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk
mengawasi ditaatinya undang-undang ini.

BAB II : RUANG LINGKUP

Pasal 2 :
1. Keselamatan kerja dalam segala tempat kerja baik didarat, didalam tanah,
dipermukaan air, didalam air maupun diudara, yang berada didalam wilayah
kekuasaan hukum Republik Indonesia.
DASAR HUKUM

4. Direktur ialah pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk
melaksanakan undang-undang ini.
5. Pegawai Pengawas ialah pegawai teknis berkeahlian khusus dari Departemen
Tenaga Kerja.
6. Ahli Keselamatan Kerja ialah tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar
Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk
mengawasi ditaatinya undang-undang ini.

BAB II : RUANG LINGKUP

Pasal 2 :
1. Keselamatan kerja dalam segala tempat kerja baik didarat, didalam tanah,
dipermukaan air, didalam air maupun diudara, yang berada didalam wilayah
kekuasaan hukum Republik Indonesia.
DASAR HUKUM
BAB II : RUANG LINGKUP
1. Berlaku dalam tempat kerja dimana :
1. dibuat, dicoba, dipakai, diolah atau dipergunakan dengan alat apapun atau
dengan bahan atau barang apapun yang dapat membahayakan atau
menimbulkan : kecelakaan, kebakaran atau peledakan.
2. Dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan,
pembongkaran, bongkar muat, penyelaman, dalam ketinggian, diatas
permukaan tanah atau perairan, dibawah tekanan udara, suhu yang tinggi
atau rendah, dalam tangki, penbuangan atau pemusnahan sampah atau
limbah, kelistrikan, gas, minyak atau air.
3. Dilakukan usaha pertanian, perkebunan, pertambangan, pendidikan,
penyelidikan atau penelitian, rekreasi.

2. Dapat ditunjuk sebagai tempat kerja, ruangan-ruangan atau lapangan-lapangan


lainnya yang dapat membahayakan keselamatan atau kesehatan yang bekerja dan
atau yang berada diruangan atau lapangan itu dan dapat dirubah perincian dalam
ayat (2).
DASAR HUKUM

BAB III: SYARAT-SYARAT KESELAMATAN KERJA


Pasal 3:
1. Syarat-syarat keselamatan kerja untuk :
o Mencegah, mengurangi, mengendalikan, mengamankan, memberi
pertolongan dari kemungkinan terjadinya kecelakaan, kebakaran,
peledakan, suhu, kelembaban, timbulnya penyakit, peracunan, infeksi,
terkena listrik yang berbahaya.
2. Ketentuan tersebut ayat (1) dapat dirubah sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta perkembangan baru dikemudian hari.

Pasal 4 :
1. Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja
dalam perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan,
pemasangan, pemakaian, pengguinaan, pem,eliharaan dan penyimpanman
bahan, barang dan produk teknik dan aparat produksi yang mengandung dan
dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
DASAR HUKUM

2. Syarat-syarat tersebut memuat prinsip teknis ilmiah yang terumus secara


teratur, jelas dan praktis yang mencakup bidang konstruksi, bahanpengolahan
dan pembuatan, perlengkapan alat-alat pelindung, pengujian dan
pengesahan, pengepakan, pemberian tanda pengenal atas bahan, produk
teknis dan aparat produksi guna menjamin keselamatan barang, keselamatan
tenaga kerja dan keselamatan umum.

BAB IV PENGAWASAN

Pasal 8
• Pengurus wajib memeriksakan kesehatan, kondisi mental dan kemampuan
fisik dari tenaga kerja yang akan diterima maupun yangkan dipindahkan .
• Pengurus wajib memeriksakan secara berkala kepada Dokter yang ditunjuk.
• Norma pengujian kesehatan diatur dalam peraturan perundangan.
DASAR HUKUM

Bab V Pembinaan
Pasal 9
1. Pengurus wajib menunjukkan dan menjelaskan :
a. Kondisi dan bahaya yang timbul ditempat kerja.
b. Alat pengaman dan alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerja.
c. APD bagi tenaga kerja.
d. Cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan pekerjaan.

Bab VI. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Pasal 10
1. Menaker berwenang membentuk P2K3, guna mengembangkan kerjasama saling
pengertian dan partisipasi efektif dari pengusaha atau pengurus dan tenaga kerja
untuk melaksanakan tugas dan kewajiban bersama dibidang K3.
2. Susunan P2K3 ditetapkan oleh Menaker.
DASAR HUKUM
Bab VII Kecelakaan
Pasal 11
1. Pengurus wajib melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi ditempat kerja
yang dipimpinnya pada pejabat yang ditunjuk Menaker.
2. Tata cara pelaporan dan pemeriksaan oleh pegawai termaksud ayat (1)
diatur dengan peraturan perundangan.

Pasal 12
Kewajiban dan hak tenaga kerja untuk :
a. Memberikan keterangan yang benar.
b. Memakai APD.
c. Memenuhi dan mentaati syarat K3.
d. Meminta pengurus melaksanakan syarat K3.
e. Menyatakan keberatan kerja, dimana syarat K3 dan APD diragukan.
DASAR HUKUM

Bab IX Kewajiban Bila Memasuki Tempat Kerja


Pasal 13
Siapapun wajib mentaati semua petunjuk K3 dan memakai APD yang diwajibkan.

Bab X Kewajiban Pengurus


Pasal 14
Pengurus wajib :
a. Menempatkan/ menempelkan semua syarat K3, pada tempat yang mudah
dilihat dan terbaca.
b. Memasang gambar K3 pada tempat yang mudah dilihat dan terbaca.
c. Menyediakan secara cuma-cuma semua APD bagi setiap orang yang memasuki
tempat kerja disertai petunjuk yang diperlukan.
DASAR HUKUM

UU RI No. 13 TAHUN 2003

BAB X, Pasal 86

1. Setiap pekerja/ buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas :


• keselamatan dan kesehatan kerja;
• moral dan kesusilaan; dan
• perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai
agama;

2. Untuk melindungi keselamatan pekerja/ buruh guna mewujudkan produktivitas kerja


yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja.
STANDAR HSE
STANDAR HSE

MANUAL Menyatakan filosofi/ kebijakaan


perusahaan terhadap mutu
MUTU

Menyatakan bagaimana
STANDAR PROSEDUR menerapakan kebijakan sistem
manajemen mutu
& DOKUMEN PENDUKUNG

Menyatakan langkah-
INSTRUKSI KERJA, langkah/ instruksi untuk
produk,mesin atau
DOKUMEN TEKNIS, GAMBAR DLL. pekerjaan tertentu

Merupakan bukti
FORM, CHECKLIST dari penerapan
sistem
Klausul 4.2 Persyaratan dokumentasi SNI ISO 9001-2008
SISTEM MANAJEMEN HSE
SISTEM MANAJEMEN HSE
SISTEM MANAJEMEN HSE
KOMUNIKASI BAHAYA
KOMUNIKASI BAHAYA

PERSYARATAN PROGRAM KOMUNIKASI BAHAYA*


1. Program Tertulis/ Written Hazard Communication Program
2. Lembar Data Keselamatan Bahan/ Material Safety Data Sheets
(MSDS) (Kepmenaker 187/1999: Pengendalian Bahan Kimia di
Tempat Kerja)
3. Label Kemasan: Permen LH No. 3/ 2008, NFPA 704, DOT ERG
4. Inventori Bahan Kimia
5. Training
6. Penyimpanan Catatan/ Recordkeeping
* Standar OSHA 29 CFR 1910.1200
LABEL KEMASAN KOMUNIKASI BAHAYA

DOT
ERG
NFPA
704

Permen LH
3/ 2008
KOMUNIKASI BAHAYA
MANAJEMEN RISIKO
IDENTIFIKASI BAHAYA
PENGENDALIAN RISIKO

RISK ASSESSMENT/ PENILAIAN ELIMINASI


RISIKO
SUBTITUSI

REKAYASA TEKNIK

ADMINISTRASI

APD/ PPE
MONITORING & REVIEW
RENUNGAN
INSIDEN DI KUALA DALAM
INSIDEN DI JAMBI
Pengaturan panjang boom crane tidak
sesuai dengan kapasitas angkat
FATALITY DI TANJUNG, 1 orang karyawan meninggal, akibat desain kaki tanki tidak standard
BLOWOUT DI MERBAU
INSIDEN DI LAHENDONG
FATALITY DI RU IV CILACAP,
Meninggal akibat menghirup gas
berbahaya di Confined Space
ROTARY MACHINE
CONSTRUCTION
Job Safety Analysis (JSA)
JOB SAFETY ANALYSIS (JSA)

DEFINISI
JSA (Job Safety Analysis) merupakan analisa keselamatan kerja pada
suatu kegiatan yang berupa rekomendasi kerja aman berdasar potensi
bahaya yang mungkiin timbul pada setiap urutan langkah pekerjaan

PENYUSUN
JSA disusun oleh penanggung jawab atau pelaksana pekerjaan
namun jika memerlukan bantuan dapat meminta bantuan dari
pekerja lainnya, supervisor atau ahli keselamatan yang tergabung
dalam Tim Penyusun JSA
4. Job Safety Analysis (JSA)

 Tujuan :
Memastikan Bahwa:
 Setiap pekerjaan memiliki JSA.
 Setiap pekerja bekerja mengacu kepada JSA yang diperlukan.
 Manfaat :
 Menjelaskan peran dari masing-masing pelaksana kegiatan.
 Memberikan prosedur pelaksanaan JSA.
 Memberikan sarana pendukung yang dibutuhkan sehingga pekerjaan
dapat dilakukan dengan selamat.

 Ruang Lingkup : Seluruh kegiatan di Kawasan IMIP


4. Job Safety Analysis (JSA)
 Persyaratan kompetensi :
 Memahami proses pelaksanaan JSA
 Mengetahui semua jenis pekerjaan yang berlaku difasilitasnya
 Memahami cara pembuatan JSA
 Memahami konsekuensi dari ketidakpatuhan terhadap JSA
 Memahami lingkup pekerjaan dan dan mampu mengarahkan pekerja yang
berwenang
 Memahami konsep keselamatan operasi yang diperlukan untuk
menghilangkan bahaya

 Perlengkapan :
 Formulir JSA
 Dokumentasi
 JSA harus didokumentasikan secara rapi untuk dipakai dalam
pembuatan JSA yang baru pada pekerjaan serupa.
 JSA harus update dan dibuat di lapangan.
 Laporan penyelidikan kecelakaan yang terkait JSA
 Pelanggaran terhadap JSA (near miss)
 Tindakan disiplin yang berhubungan dengan JSA
 Hasil inspeksi yang terkait dengan JSA
 Catatan Pelatihan
JOB SAFETY ANALYSIS (JSA)
MANFAAT

Mengurutkan prosedur kerja untuk dilaksanakan secara aman

Mendefinisikan bahaya-bahaya yang terkait dengan suatu pekerjaan

Identifikasi potensi bahaya suatu pekerjaan

Menyediakan petunjuk kerja yang konsisten untuk keperluan orientasi,


training dan re-training pekerja baru, pindahan dan pekerja lama

Mengkaji prosedur kerja setelah terjadinya suatu kecelakaan.

Memberikan ‘pre-job instruction on irregular jobs’


LANGKAH JSA
uRAikan langkah kerja secara berurutan
(Break jobs . Tasks down into steps)

iDENtifikasi Potensi Bahaya


(Identifying Loss exposures)

BERikan tingkat / level pada resiko bahaya


(Risk levelling)

rekomenDASIkan pengendalian Kerja Aman


(Write and Develop Controls / Safe Procedures)

usulan jargon :
FORMULIR JSA
FORMULIR JSA Tanggal dibuatnya JSA dan No JSA
sesuai penomoran Departemen terkait
Nama Pekerjaan
Alat Pelindung Diri (APD/ PPE) yang
harus digunakan
Urutan langkah dasar pekerjaan terkait
dgn menggunakan kata kerja aktif
sebagai awal kalimat diikuti dengan
obyek tindakan, mis. mengangkat pipa,
memanjat menara

Potensi bahaya yang mungkin timbul di


setiap langkah dasar pekerjaan

Nama Pekerjaan Bagian/Fungsi diisi


dengan bagian/fungsi pelaksana
pekerjaan
Pengawas diisi dengan nama
pengawas pelaksana pekerjaan

Lokasi pekerjaan dilaksanakan


Tingkat risiko pekerjaan sesuai
matriks risiko
Rekomendasi meminimalisasi potensi
bahaya
Nama dan jabatan/perusahaan yang
bertanggung jawab atas setiap
langkah pekerjaan
MANAJEMEN RESIKO
IDENTIFIKASI BAHAYA

PENGENDALIAN RESIKO
RISK ASSESSMENT / PENILAIAN RESIKO
KEMUNGKINAN KEJADIAN
(PROBABILITY)
ELIMINASI
Tingkat Keparahan

KONSEKUENSI TERHADAP OBYEK


A E
B C D
Terendah Tertinggi
(Severity)

Pernah Terjadi Terjadi


Tidak
terjadi di beberapa kali beberapa kali
Manusia Alat Lingkungan Citra
pernah
terdengar
di industri
Terdengar
di industri
hulu migas
sebuah
Industri
per tahun di
sebuah
per tahun di
tempat kerja di
SUBTITUSI
migas di industri migas salah satu
hulu migas
Indonesia di Indonesia perusahaan
0 Tidak ada
dampak
kesehatan/kecela
Tidak ada
kerusakan
Tidak ada
dampak
Tidak ada
pengaruh
R R R R R REKAYASA TEKNIK
kaan
1 Dampak
kesehatan/
kecelakaan sngat
kecil
Kerusakan
sangat kecil
Dampak
sangat kecil
Pengaruh
kecil
R R R R R
ADMNISTRASI
2 Dampak
Kerusakan Dampak Pengaruh
kesehatan/ R R R S S
kecil kecil terbatas
3
kecelakaan kecil
Dampak
Kerusakan Dampak Pengaruh
APD / PPE
kesehatan/
yang yang yang cukup R R S S T
kecelakaan
terbatas terbatas banyak
utama
4 Kerusakan Dampak Pengaruh
Fatalitas tunggal R S S T T
Utama Utama nasional

Kerusakan Dampak Pengaruh


5 Fatalitas ganda S S T T T
yang luas Besar internasional

MONITORING & REVIEW


atas perhatiannya

Think Safety,
do Safely
• Perlindungan Kepala
• Perlindungan Muka dan Mata
• Perlindungan Telinga
• Perlindungan Tangan dan Lengan
• Perlindungan Kaki
• Perlindungan Pernapasan
• Pelindungan Badan
• Perlindungan Bekerja di
Ketinggian
PERLINDUNGAN KEPALA
Fungsi Helmet adalah untuk
melindungi kepala dari dampak benda
yang terbang / jatuh dan sengatan
listrik (tipe tertentu).
Standar ANSI Z89.1-1981

• Helmet berbentuk seperti kubah


dengan konstruksi cetakan dan
tanpa sambungan
• Memiliki suspensi
Tanggal Produksi (sept. 2004) • Memiliki browpad
• Memiliki tali (Chin Strap)
PEMELIHARAAN
• Lakukan pemeriksaan setiap hari. Helmet tidak boleh
terpapar suhu ekstrim dan tidak boleh dibanting.
Helmet yang retak, getas, kadaluarsa, penyok
• Anda dapat membersihkannya dengan merendamnya tidak boleh digunakan lagi
dalam larutan sabun yang ringan dan air hangat (60˚)
sekitar 5 – 10 menit. Bilas dengan air bersih, lap, dan
biarkan mengering.
• Simpan helm pada tempat yang kering dan terlindung
dari sinar matahari
Perlindungan Muka dan Mata
Jenis Keterangan

Safety glasses umumnya lebih kuat dan lebih tahan terhadap benturan dan
panas daripada kaca mata biasa. Standar ANSI/ ISEA Z87.1-2010

Goggles menutupi daerah mata dan memberikan perlindungan lebih pada


situasi dimana terjadi kemungkinan akan semburan cairan, asap, uap,
serbuk, dan debu

Face shields memberikan perlindungan menyeluruh terhadap muka (full


face protection), digunakan pada pekerjaan dimana dimungkinkan
terjadinya pemaparan terhadap logam cair, percikan bahan kimia atau
partikel-partikel yang berterbangan.
NOTE: selalu memakai safety glasses atau goggles ketika memakai face
shield. Pemakaian face shield saja TIDAK dianggap cukup untuk melindungi
mata.
Welding helmet memberikan perlindungan terhadap mata dan muka.
Welding helmet menggunakan lensa absorptive khusus yang
menyaring/menyerap kekuatan cahaya dan energi radiasi.
NOTE: safety glasses atau goggles harus dipakai ketika memakai welding
helmet.
Perlindungan Muka dan Mata
Potensi Bahaya Kegiatan
debu, serbuk, asap dan uap menggerinda, memahat,
kabut menghaluskan, memalu/memartil
Benda dan Partikel Terbang menggerinda, memahat,
menghaluskan, memalu/memartil
Gas Beracun, Uap dan Cair Bekerja dengan bahan kimia
Bahaya Panas dan Radiasi pengelasan

PEMELIHARAAN
• Jaga lensa alat pelindung mata agar tetap bersih
• Gunakan sabun lembut dan air hangat (600 C), atau penyeka khusus untuk membersihkan
alat pelindung mata
• Simpan di tempat yang bersih, sejuk dan kering, terhindar dari embun
Perlindungan Telinga
Tipe Alat Pelindung Pendengaran Kehilangan pendengaran adalah
1. Foam dan PVC Earplugs proses yang berlangsung secara
2. Earmuffs
berangsur-angsur, dan
3. Canal Caps
merupakan yang paling lambat
disadari dibandingkan dengan
tipe cedera ditempat kerja yang
lain.

PEMELIHARAAN
Standar ANSI/ ASA S12.6-2008 •Simpan ditempat yang bersih, sejuk dan
kering.
•Jangan gunakan earplugs foam yang
Kapan harus menggunakan kotor, sobek, rapuh atau keras,
Alat Pelindung Pendengaran ? •Jika earplugs PVC anda kotor, bersihkan
dengan larutan sabun yang lembut
ketika terpapar oleh kebisingan dengan air kemudian keringkan.
pada level 85 desibel atau lebih •Periksa selalu earmuffs anda terhadap
selama 8 jam. retakan disekitar foam cups. Jika
earmuffs rusak, minta untuk diperbaiki
Perlindungan Tangan dan Lengan
PEMAKAIAN
Potensi Bahaya Kegiatan
• Pilihlah sarung tangan yang tepat.
Luka trauma Bekerja dengan benda tajam ,
• Lepaskan cincin, jam tangan, atau kalung.
berputar, dsb
• Cuci tangan anda sebelum dan sesudah
Luka terpapar Bekerja dengan bahan kimia
memakainya
Cedera akibat Mengerjakan hal yang sama • Periksa sarung tangan sebelum
gerakan berulang berulang kali
digunakan. Cari apakah ada lubang dan
retakan yang bisa terbuka.
• Setelah bekerja dengan bahan kimia,
letakkan tangan anda di bawah air yang
mengalir dan cuci bersih semua bahan
kimia dan kotoran sebelum melepaskan
sarung tangan tersebut.
• Hindari meminjam sarung tangan.
Perlindungan Tangan dan Lengan

PEMELIHARAAN
• Jangan dipakai jika telah kadaluwarsanya
• Ganti sarung tangan yang telah aus atau sobek.
• Cuci sarung tangan katun jika diperlukan.
• Simpan sarung tangan pada tempat yang tepat, bersih, sejuk, kering dan berventilasi udara.
• Jangan memakai sarung tangan disekitar peralatan yang berputar – mesin bor, mesin bubut dll.
Perlindungan Kaki
Potensi Bahaya Kegiatan
Cedera karena Benturan bekerja disekitar benda-benda tajam dan berat
Cedera karena Tumpahan dan Bekerja dengan bahan kimia, asam
Percikan
Cedera karena Himpitan/Tekanan bekerja disekitar benda-benda berat
Sengatan Listrik Bekerja dengan arus listrik
Dingin, Panas yang Ekstrim Bekerja di lingkungan panas /dingin ekstrim
Tergelincir Bekerja dengan minyak,sabun, bahan kimia

PEMAKAIAN
• Pilih dan gunakan sepatu safety yang sesuai dengan pekerjaan
yang akan dilakukan
• Sepatu safety harus memenuhi standard ASTM F2413.
• Dilarang memakai sepatu safety dari kulit atau dari kain jika
bekerja di sekitar bahan kimia, acid atau caustic.
• Pilih dan pakailah sepatu safety yang sesuai dan pas dengan kaki.
• Periksalah sepatu safety sebelum digunakan.
Perlindungan Kaki

PEMELIHARAAN
• Ganti jika sepatu safety sudah rusak atau koyak.
• Setelah bekerja dengan bahan kimia, bersihkan dengan air untuk menghilangkan bahan kimia atau debu yang
menempel di sepatu safety.
• Dilarang saling meminjamkan sepatu safety. Sepatu safety adalah Personal Protective Equipment.
• Simpan sepatu safety di tempat yang kering, sejuk dan berventilasi.
Perlindungan Pernapasan
Potensi Sumber
Bahaya Air Purifying respirator :
Respirator dimana udara yang
Debu pengoperasian grinding
dan sanding anda gunakan untuk bernapas
dimurnikan dengan
Uap Material-material yang menggunakan catridge atau
mudah menguap canister.
Mist dan operasi pelapisan dan
Spray penyemprotan
Supplied Air Respirator :
Smoke Kegiatan pembakaran respirator di mana anda
yang tidak sempurna terhubung dengan udara
yang dimampatkan ke dalam
Fumes operasi pengelasan dan
silinder / tabung.
(uap) penyolderan

Perlindungan pernapasan memenuhi ANSI Z88.2


Perlindungan Pernapasan
MEMILIH RESPIRATOR YANG TEPAT PENGGUNAAN SCBA
Dengan mempertimbangkan : SCBA akan digunakan selama kondisi-kondisi
1. Berapa lama anda akan terpapar berikut:
terhadap kontaminan? • Bekerja dengan kondisi yang
2. Apakah sensitifitas individual anda berpotensial kekurangan oksigen
terhadap kontaminan? • Memasuki confined space sebelum
3. Apakah persyaratan individual atmosfir dinyatakan aman untuk
anda? dimasuki tanpa SCBA/SABA
4. Apakah anda memakai kacamata? • Potensial pemaparan terhadap atmosfir
• Apakah anda memiliki janggut IDLH
atau rambut di wajah lainnya? • Ketika melakukan pekerjaan apa saja di
• Apakah anda memakai gigi mana konsentrasi ambient dari H2S di
palsu? atas 10 ppm atau secara beralasan
• Apakah anda harus memakai diharapkan melebihi 10 ppm selama
perlengkapan perlindungan jalannya pekerjaan itu
lainnya?
Perlindungan Pernapasan
PEMERIKSAAN SETELAH PENGGUNAAN

Setelah menggunakan respirator, anda harus membersihkan dan memeriksanya. Yakinkan untuk
mencari:
- retakan atau serpihan pada faceplate
- retakan atau lubang pada breathing tube atau airlines
- sabuk yang karatan atau berjerumbai
- fitting yang karatan atau rusak
- gesper yang bengkok atau keropos atau
- seated valve yang tidak layak
jika anda menemukan sesuatu yang salah dengan respirator anda, segeralah perbaiki atau ganti
respirator tersebut.

MENYIMPAN RESPIRATOR

Untuk menyimpan respirator, tempatkan respirator di dalam tas plastik yang bisa dilem/ditutup.
Pastikan untuk menyimpannya di suatu tempat yang tepat, tetapi jauh dari:
- debu;
- sinar matahari;
- panas;
- dingin yang ekstrim
- kelembaban; dan
- bahan-bahan kimia yang merusak
Perlindungan Badan
Potensi Bahaya Kegiatan
Tumpahan dan Percikan Bekerja dengan bahan kimia, asam
Dingin, Panas yang Ekstrim Bekerja di lingkungan panas /dingin ekstrim
Radiasi ultraviolet Bekerja di luar ruangan
Nyala api Bekerja dengan bahan mudah terbakar

Jenis Pelindung Badan


 Pakaian Pelindung terhadap Bahan Kimia
 Pakaian Tahan Api
 Jas hujan (Rain coat)
 Pelindung dada/ Apron
 Pelampung Keselamatan/ Life jacket/ personal flotation device
Harus memenuhi standard ANSI/ ASA S12.6-2008 dan/ atau EN 352: 2002
Perlindungan Bekerja di Ketinggian
Safety harness tidak mencegah seseorang
terjatuh tetapi menahan korban bergantung di
atas ketika jatuh sehingga tidak sampai
menyentuh permukaan tanah

Gunakan safety body harness jika


bekerja pada ketinggian lebih dari
1.8 meter
PEMAKAIAN
• Tali / sabuk safety body harness harus
diperiksa sebelum digunakan.
• Jangan digunakan apabila ditemukan
kerusakan
• Kaitkan hook / tali penyandang pada
benda / tiang yang kokoh dan mampu
menahan berat badan anda ketika jatuh.

Standar ANSI/ AIHA Z88.6: 2006, CSA Z259.10-06 dan/ atau ISO 16972: 2010
Perlindungan Bekerja di Ketinggian
PEMELIHARAAN
• Jauhkan safety body harness dari
benda-benda tajam, zat pencemar
atau material abrasif
• Safety body harness harus diuji coba
secara terinci setiap tiga bulan

PERSYARATAN
• Tali penolong minimum 2 cm, terbuat dari tali manila atau setara, dengan minimum
kekuatan menahan beban 2250 kg.
• Tali pengaman dan tali penyandang harus berukuran minimum 1 cm, terbuat dari
nilon atau yang setara, dengan maksimum panjang tidak lebih dari 1.8 meter ketika
jatuh.
• Tali harus memiliki kekuatan minimum menahan beban 2250 kg.
BASIC SAFETY TRAINING

LOCK OUT TAG OUT (LOTO)


LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS

RUANG LINGKUP
Proses Lock Out Tag Out (LOTO)
merupakan persyaratan minimum yang
harus diterapkan pada seluruh fasilitas
Perusahaan, apabila petugas dan/atau
Mitra Kerja melakukan pekerjaan pada
tempat dimana pelepasan energi
berbahaya sangat mungkin terjadi.
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS

PENGERTIAN DAN BATASAN


1. Field Operation (FO) adalah Penanggung Jawab Operasi
yang bertanggung jawab tentang operasi di suatu
daerah. FO akan mengajukan memo kepada Fungsi
Manajemen Asset untuk dilakukan penyusunan tata
cara LOTO untuk dijadikan acuan kegiatan operasi dan
pencegahan terjadinya kecelakaan.
2. Authorized Worker (AW) atau Petugas yang Berwenang
adalah Petugas yang mengunci / memblok / memasang
label pada mesin / peralatan untuk melakukan
perbaikan/modifikasi pada peralatan tersebut
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS

PENGERTIAN DAN BATASAN


3. Facilities Operation Worker (FOW) adalah Asset Holder
/ Operator yang bertanggung jawab atas keberadaan
dan jalannya operasi suatu fasilitas.
4. Berenergi adalah sesuatu yang berhubungan dengan
sumber energi atau mengandung energi sisa atau
tersimpan.
5. Alat pengisolasi energi adalah alat mekanis yang secara
fisik dapat mencegah perpindahan atau pelepasan
energi.
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS
PENGERTIAN DAN BATASAN
6. Sumber energi adalah setiap
sumber energi listrik, mekanik
hidrolik, pneumatik, kimia panas
dan lain-lain.
7. Alat pengunci adalah suatu alat
yang dapat mengunci (gembok,
anak kunci, kunci kombinasi dll)
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS

PENGERTIAN DAN BATASAN


8. Penguncian (Lock Out) adalah pemasangan gembok
pada alat pengisolasi energi dengan ketentuan:
a) Alat Pengunci harus tidak dapat dibuka oleh
sembarang orang
b) Gembok dan anak kuncinya harus dimiliki masing-
masing orang dan tidak berfungsi sebagai kunci
master
c) Pemasang harus memegang anak kuncinya
d) Pemilik asset perlu memastikan ketersediaan serta
kemudahan mendapatkan kunci
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS
PENGERTIAN DAN BATASAN
9. Pemasangan Label (Tag Out) adalah memasang label pada
alat pengisolasian energi dengan ketentuan bahwa label
harus dibuat berwarna standard untuk menunjukkan siapa
yang harus memasang. Pemasang label harus
menandatangani label tersebut.
Klasifikasi warna label :
a. Biru : Mekanik
b. Merah Muda : Instrumen dan Listrik
c. Kuning : Asset Holder / Operator
d. Putih : Untuk pekerjaan confined space
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS

• Pemasang label harus


menandatangani label
tersebut

• Peralatan yang diperlukan


untuk Sistem Lock Out Tag
Out (LOTO) adalah :
– Gembok
– Multiple Lock Outs
– Rantai
– Label
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS

• Peralatan LOTO harus tersedia di


seluruh fasilitas penting dan
tersimpan dengan rapi sehingga
memudahkan pengguna saat
akan digunakan
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS

PROSEDUR LOTO
1. Membuat PTW dan JSA
2. Pelaksana Pekerjaan menginformasikan
pekerjaan/kegiatan yang akan dilakukan yang
membutuhkan proses LOTO kepada Asset Holder /
Operator setempat.
3. Asset Holder / Operator dan Pelaksana Pekerjaan
melakukan pemeriksaan mesin dan peralatan.
4. Apabila mesin dan peralatan sedang dalam kondisi
bekerja, matikan mesin dan lakukan isolasi energi dan
buang energi yang tersisa.
5. Apabila mesin dan peralatan tidak bekerja, lakukan
isolasi energi dan buang energi yang tersisa.
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS

PROSEDUR LOTO
6. Asset Holder / Operator memasang kunci dan label
kuning dan memberitahu Pelaksana Pekerjaan.
7. Pelaksana Pekerjaan
 menerima pemberitahuan dari Asset Holder,
selanjutnya memasang kunci dan label warna
merah muda / biru sesuai dengan klasifikasi
pekerjaan yang dilaksanakan.
 menyelesaikan pekerjaan
 membuka kunci dan dan label serta memberitahu
Asset Holder / Operator bahwa pekerjaan telah
selesai
CONTOH APLIKASI LOTO
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS
PROSEDUR PELEPASAN LOTO
1. Inspeksi Area Kerja
2. Meyakinkan bahwa peralatan yang akan dioperasikan
sudah bebas dari pekerja yang sebelumnya bekerja di
area tersebut
3. Melepas peralatan LOTO
4. Menghubungkan kembali peralatan yang akan
dioperasikan dengan sumber energinya
5. Meyakinkan bahwa seluruh pekerja yang terlibat sudah
lengkap dan alat sudah siap dioperasikan
LOCK OUT TAG OUT (LOTO) AWARENESS

EVALUASI LOTO
Evaluasi pelaksanaan LOTO diperlukan
untuk mengukur sejauh mana
efektifitas pelaksanaannya
berdasarkan Program Kerja yang telah
disusun.
Hal ini dilakukan sebagai salah satu
upaya melaksanakan perbaikan yang
berkelanjutan.
Penerapan proses Lock Out Tag Out
yang baik dan efektif akan mencegah
terjadinya Kecelakaan Kerja.
EVALUASI LOTO
BAHAYA LISTRIK
ISTILAH DAN PENGERTIAN
1. Arus Listrik : muatan listrik yang bergerak dalam satu
rangkaian tertutup.
Satuan : Ampere

2. Tegangan Listrik: perbedaan potensial (tegangan) listrik


antara dua titik dalam satu rangkaian listrik
Satuan : Volt

3. Tahanan Listrik: perbandingan antara tegangan listrik dari


suatu komponen elektronik (misalnya resistor) dengan
arus listrik yang melewatinya
Satuan : Ohm
BAHAYA LISTRIK

ISTILAH DAN PENGERTIAN


4. Daya Listrik : banyaknya energi tiap satuan waktu dimana
pekerjaan sedang berlangsung atau kerja yang dilakukan
persatuan waktu.
Satuan : Watt
BAHAYA LISTRIK
IDENTIFIKASI BAHAYA LISTRIK
Sentuhan Langsung:
Adalah bahaya sentuhan langsung
pada bagian konduktif yang
bertegangan

Sentuhan Tidak Langsung:


Adalah bahaya sentuhan pada
bagian konduktif yang secara normal
tidak bertegangan, namun menjadi
bertegangan karena terjadi
kegagalan isolasi.
BAHAYA LISTRIK

IDENTIFIKASI BAHAYA LISTRIK


Kebakaran:
Adalah bahaya yang diakibatkan
karena timbulnya panas yang
berlebihan akibat:
- Pembebanan lebih
- Sambungan tidak sempurna
- Perlengkapan tidak standard
- Isolasi rusak
- Listrik statik
- Pembatas arus tidak memadai
- Sambaran petir
BAHAYA TERHADAP MANUSIA
EFEK SENGATAN LISTRIK
besar arus yang
akibat yang timbul
melewati tubuh
1 mA, atau kurang Tidak ada akibat, tidak terasa
AMAN

1 – 8 mA Sengatan terasa tetapi tidak sakit dan


tidak mengganggu kesadaran
8 – 15 mA Sengatan terasa sakit, tetapi masih bisa
melepaskan diri, kesadaran tidak hilang
15 – 20 mA Sengatan sakit kesadaran bisa hilang dan
BERBAHAYA

tidak bisa melepaskan diri


20 – 50 mA Kesakitan, susah bernafas, terjadi
konstraksi pada otot & kesadaran hilang
100 – 200 mA Kondisi mematikan langsung dan susah
ditolong
200 mA atau lebih Terbakar dan jantung berhenti berdetak
BAHAYA LISTRIK

BAHAYA TERHADAP MANUSIA

Penyebab injuries pada manusia


akibat Listrik ditentukan oleh:
• Besarnya arus listrik
• Waktu dan lamanya tubuh
menerima arus listrik
• Panas sebagai secondary
effect
• Voltase (tegangan) yang tinggi
BAHAYA TERHADAP MANUSIA

Akibat electrical shock :


• kontraksi otot-otot dada yang dapat berpengaruh pada
sistem pernapasan
• mempengaruhi ritme normal jantung akibat perbedaan
frekuensi, kontraksi otot jantung, terganggunya sirkulasi
darah
• pada kasus kontak dengan arus yang besar jantung dapat
langsung berhenti
• luka bakar akibat kontak dengan voltase rendah pada
kendaraan (arus DC)
• terjatuh akibat hilangnya keseimbangan tubuh
BAHAYA LISTRIK

PENYEBAB TERJADINYA BAHAYA LISTRIK


• Instalasi/peralatan
tidak aman
• Lingkungan kerja tidak
aman
• Tindakan tidak aman
BAHAYA LISTRIK

TINDAKAN PREVENTIF
1. Sistem Proteksi untuk menghindari kecelakaan akibat
listrik:
• Proteksi sentuhan langsung
• Poteksi sentuhan tidak langsung
• Proteksi efek thermal
• Proteksi arus lebih
• Proteksi tegangan lebih
• Proteksi perlengkapan dan instalasi listrik
• Pemasangan warning sign, rambu-rambu
BAHAYA LISTRIK
TINDAKAN PREVENTIF
2. Fire Protection System : 4. PPE yang tepat
sprinkle, APAR dll

3. Good Housekeeping

5. Sistem Peringatan : LOTO, Hazard tape,


dll
BAHAYA LISTRIK
KESELAMATAN BEKERJA DENGAN LISTRIK
1. Memasuki Ruang Kerja Listrik
2. Bekerja Pada Keadaan Tidak Bertegangan
3. Bekerja Pada Keadaan Bertegangan
4. Bekerja di Dekat Instalasi yang Bertegangan
BAHAYA LISTRIK
KLASIFIKASI DAERAH BERBAHAYA
Berdasarkan Kelas, Divisi, Group
BAHAYA LISTRIK
BAHAYA LISTRIK STATIS
Listrik statis adalah listrik yang tidak mengalir atau
listrik yang muatan-muatan listriknya berada
dalam keadaan diam.
• Sisir plastik yang digosok ke rambut
• Generator Van de Graaf
• Cat Semprot
• Mesin Foto Copy
• Muatan listrik di awan

Bahaya listrik statis:


• Petir
• Percikan api
• Tersengat listrik statis

Pengendalian Bahaya Listrik Statis:


• Pemasangan Grounding / Earthing , minimal tahanan 5 ohm (PUIL 200)
• Pemasangan Penangkal Petir, minimal tahanan 1 ohm (NFPA 780)
BAHAYA LISTRIK

PENANGKAL PETIR

Bagian-bagian sistem Penangkal Petir:


• Penerima (Air Terminal)
• Hantaran Penurunan (Down Conductor)
• Hantaran Pembumian (Grounding)
BAHAYA LISTRIK

PERAWATAN INSTALASI LISTRIK


Perawatan Instalasi Listrik
• Visual inspection
• Pemeriksaan isolasi
• Pengukuran temperature
alat saat beroperasi
• Melakukan testing dan
pengukuran
• Terjadwal
• Dokumentasi
IDENTIFIKASI BAHAYA
Mengakibatkan kerugian berupa
Bahaya atau ”Hazard” adalah
cedera manusia, kerusakan aset
suatu situasi atau keadaan yang
/ peralatan, atau kerusakan /
dapat menyebabkan terjadinya
penurunan daya lingkungan
kejadian yang tidak diharapkan
hidup.
IDENTIFIKASI BAHAYA

TERJADI PERUBAHAN
SAAT PELAKSANAAN
PEKERJAAN 1. ANALISA
KEMUNGKINAN
KEJADIAN DAN
AKIBAT

5. KOMUNIKASI
2. PENENTUAN
& PELAKSANAAN
TINGKAT RISIKO
PEKERJAAN

4. UPAYA 3. UPAYA
PENCEGAHAN MITIGASI
KECELAKAAN RISIKO
PENGENDALIAN BAHAYA
ELIMINASI • Modifikasi terhadap alat, proses ataupun
material untuk menghilangkan bahaya secara
(DIHILANGKAN) keseluruhan

SUBSTITUSI • Menggantikan material, bahan atau proses


dengan jenis lainnya yang lebih rendah tingkat
(PENGGANTIAN) bahayanya.
PENGENDALIAN • Melakukan pengendalian bahaya dengan
ENGINEERING melakukan kontrol atau modifikasi keteknikan.

PENGENDALIAN • Mengurangi risiko dengan prosedur dan


mencatatkan secara administrasi lamanya
ADMINISTRASI terpapar bahaya.

• Merupakan upaya terakhir dalam penciptaan


ALAT lingkungan kerja yang aman.
PELINDUNG DIRI • APD yang digunakan memenuhi standard dan
sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan.
PENILAIAN RISIKO

RISIKO adalah

RISIKO = SEVERITY X PROBABILITY

TINGKAT RISIKO :
RENDAH, MENENGAH, TINGGI
MATRIKS PENILAIAN RISIKO
KEMUNGKINAN KEJADIAN
(PROBABILITY)
KONSKWENSI TERHADAP OBYEK
A B C D E
Terendah Tertinggi

Manusia Aset Lingkungan Citra Tidak pernah Pernah Pernah terjadi Terjadi Terjadi
terdengar di terdengar di di sebuah beberapa kali beberapa kali
Industri Migas Industri Migas Industri Migas per tahun di per tahun di
& Panas Bumi & Panas Bumi & Panas Bumi sebuah salah satu
di Indonesia Industri Migas kegiatan/opera
& Panas Bumi si perusahaan
di Indonesia

0 Tanpa cedera Tanpa kerusakan Tanpa dampak Tanpa dampak R R R R R

1 Cedera ringan Kerusakan Dampak ringan Dampak ringan R R R R R


Sangat kecil

2 Cedera sedang Kerusakan Dampak Dampak sedang R R R M M


kecil sedang

3 Cedera berat Kerusakan Dampak besar Dampak besar R R M M T


sedang (Skala Daerah) (Skala Daerah)

4 Fatality Kerusakan Dampak besar Dampak besar R M M T T


besar (Skala (Skala Nasional)
Nasional)

5 Fatality Ganda Kerusakan Dampak Dampak besar M M T T T


parah luar biasa (Skala
(Skala Internasional)
Internasional)

R = RENDAH M = MENENGAH T = TINGGI


DEFINISI SEVERITY & PROBABILITY
KEPARAHAN (SEVERITY) KEMUNGKINAN (PROBABILITY)
Grade Manusia Alat Lingkungan Citra Grade Definisi
0 Tanpa Tanpa Tanpa Dampak Tanpa Dampak A Tidak pernah terdengar di Industri
Cedera Kerusakan Migas & Panas Bumi
1 Cedera Kerusakan Dampak Ringan Dampak Ringan B Pernah terdengar di Industri Migas &
Ringan Sangat Kecil Panas Bumi
2 Cedera Kerusakan Dampak Sedang Dampak Sedang C Pernah terjadi di sebuah Industri Migas
Sedang Kecil & Panas Bumi di Indonesia
3 Cedera Kerusakan Dampak Besar Dampak Besar D Terjadi beberapa kali per tahun di
Berat Sedang (Skala Daerah) (Skala Daerah) sebuah Industri Migas & Panas Bumi di
Indonesia
4 Fatality Kerusakan Dampak Sangat Besar Dampak Sangat Besar
Besar (Skala Nasional) (Skala Nasional) Terjadi beberapa kali per tahun di salah
E
5 Fatality Kerusakan Dampak Luar Biasa Dampak Luar Biasa satu perusahaan
Ganda Parah (Skala Internasional) (Skala Internasional)

Jika tingkat keparahan (severity) terhadap obyek berbeda, maka diambil Grade yang
tertinggi. Misal, suatu pekerjaan keparahannya terhadap manusia (1), alat (2), terhadap
lingkungan (4), terhadap citra (3), maka tingkat severity pekerjaan tersebut adalah 4.
KOMPETENSI PEKERJA
• Memiliki kompetensi sesuai
penugasannya.
• Untuk jabatan tertentu, diperlukan
sertifikasi khusus dari instansi yang
berwenang.
• Misalnya: juru las harus memiliki
Sertifikat Juru Las dari Ditjen Migas,
operator forklift harus memiliki
Sertifikat Operator Pesawat Angkat
Angkut dari Ditjen Migas, pekerja KESEHATAN FISIK & MENTAL
yang bekerja di lokasi offshore harus
• Pekerja harus dipastikan dalam keadaan
memiliki Sertifikat Sea Survival
fit (sehat secara fisik dan mental serta
siap bekerja).
• Pekerja yang merasa tidak sehat harus
menginformasikan kepada petugas
medis setempat.
• Apabila tidak direkomendasikan, maka
pekerja tersebut disarankan untuk
beristirahat atau berobat lebih lanjut.
ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
APD merupakan pengendalian risiko pada tahap paling akhir setelah
Eliminasi, Substitusi, Pengendalian Engineering dan Pengendalian
Administrasi. Penggunaan APD harus sesuai dengan jenis pekerjaan yang
akan dilakukan.
ORIENTASI KERJA
• Setiap pekerja baru/pindah kerja harus mendapatkan orientasi.
• Tujuan Orientasi : memperkenalkan pekerja dengan lingkungan
kerjanya.
• Orientasi meliputi : lokasi kerja dan lingkungan sekitarnya, peralatan
yang akan digunakan, proses kerja serta aspek HSE.
• Orientasi aspek HSE mencakup jenis-jenis bahaya di tempat kerja,
peraturan dan ketentuan aspek HSE yang berlaku, tindakan dalam
kondisi darurat, pelaporan ketidaksesuaian, insiden dan PEKA.

PERAWATAN PERALATAN KERJA


• Perawatan Peralatan Kerja dilakukan secara berkala,
untuk menjamin kehandalan peralatan saat
digunakan.
• Jadwal perawatan peralatan dapat ditentukan
berdasarkan buku petunjuk pengoperasian
peralatan atau prosedur pengoperasian.
TANGGAP DARURAT

• Keadaan darurat adalah kejadian atau insiden


KEADAAN yang tidak direncanakan dan tidak
dikehendaki yang berakibat merugikan
DARURAT perusahaan atau mengganggu kelancaran
operasi.

TANGGAP • Upaya penanggulangan keadaan darurat untuk


mencegah terjadinya peningkatan ke kondisi
DARURAT krisis.

• Eskalasi dari keadaan darurat sehingga dapat


KRISIS menyebabkan kegagalan operasi, kerugian/
kerusakan yang lebih besar.
KEBERHASILAN RENCANA KEADAAN DARURAT
PERENCANAAN RESPONS KEADAAN DARURAT & PROSEDUR
• Rencana tertulis dan prosedur-prosedur tindakan untuk setiap
kejadian darurat dan tindakan-tindakan yang harus diambil ketika
terjadi keadaan darurat.

EMERGENCY TEAM (ORGANISASI)


• Kelompok pekerja yang sudah ditentukan tugas dan tanggung
jawabnya, serta penetapan oleh Pimpinan Tertinggi setempat.

FASILITAS KEADAAN DARURAT


• Fasilitas penanggulangan keadaan darurat harus dipastikan untuk
siap digunakan setiap saat.

LATIHAN/DRILL
• Latihan penanggulangan keadaan darurat harus dilakukan secara
berkala, untuk meningkatkan kesiagaan dan keterampilan organisasi.

Setiap pekerja harus mengetahui peranannya dalam Kegiatan Tanggap


Darurat di lokasi kerjanya.
BASIC SAFETY TRAINING

HOUSEKEEPING
HOUSEKEEPING
Secara harfiah berarti Penerapan housekeeping yang baik dapat
keteraturan, mendukung terciptanya lingkungan kerja
yang aman, sehat dan nyaman.
kebersihan,
keselamatan Housekeeping dapat meningkatkan
dan ketertiban efisiensi kerja serta mengurangi
kondisi bahaya (unsafe condition)
yang berpotensi menyebabkan terjadinya
kecelakaan kerja ataupun pencemaran
lingkungan.

Housekeeping menjadi tanggung


jawab semua pekerja yang berada di
lokasi kerja.
AREA KERJA
• Tumpahan air, minyak, bahan
kimia di lokasi kerja harus
segera dibersihkan.
• Penempatan peralatan dan
material dengan seksama.
• Area kerja bebas dari
perkakas, baut, papan, paku,
kabel menjulur atau benda-
benda lain.
• Akses ke peralatan pemadam
kebakaran dan keadaan
darurat serta akses evakuasi
harus bebas dari halangan.
PERANGKAT / PERKAKAS TANGAN

• Menggunakan rak untuk


menyimpan perkakas tangan.
• Perkakas yang tidak digunakan
disimpan terpisah.
• Benda-benda tajam disimpan
secara benar dan tersusun rapi
pada tempatnya.
• Tidak meninggalkan perkakas
bertenaga listrik tetap pada
posisi ‘on’ ketika diputuskan
dari sumber listrik.
PENYIMPANAN MATERIAL
Material dan barang-barang yang disimpan dan
ditumpuk harus dipastikan aman dan tidak akan
jatuh menimpa daerah di bawahnya.

Pipa-pipa yang disimpan harus diberi penahan atau


ganjalan (stoppper).

Tidak menyimpan bahan-bahan yang dapat saling


bereaksi satu sama lain dalam area yang sama.

Membuang karton kosong, pembungkus dan limbah


mudah terbakar lainnya sesegera mungkin.

Tidak menumpuk material yang dapat menghalangi


pandangan di koridor, lintasan, dsb.
Memastikan bahwa silinder gas bertekanan dan
tabung tidak dapat jatuh, atau dirantai/ikat dengan
sabuk.
Menyimpan barang-barang yang lebih berat pada rak
yang lebih rendah.
SUMBER TENAGA & PERALATAN LISTRIK

Memastikan kabel, jaringan listrik,


pipa dan selang tidak dibiarkan
melintasi koridor atau area kerja.
Memeriksa isolasi, switch dan fuse box
untuk mendeteksi kemungkinan
bahaya.
Memastikan bahwa rambu-rambu Tersedianya alat pemadam kebakaran
peringatan jelas dan mudah dilihat. listrik (Tipe C) dan sistem alarm
berfungsi serta dapat terjangkau di
Tidak diperbolehkan meninggalkan area yang berisi pasokan tenaga listrik
perkakas bertenaga listrik tanpa berbahaya.
pengawasan.
Memastikan lampu penerangan
memadai untuk tugas yang dilakukan.
Memastikan kabel listrik ke lampu &
AC tidak menciptakan bahaya.
Menjauhkan lampu dan kabel dari
barang-barang mudah terbakar.
AREA PERKANTORAN
Tangga, lintasan, koridor, dan pintu
darurat senantiasa bebas dari semua
halangan.
Meletakkan kabel telepon, peralatan
listrik ringan, dan mesin kantor di
tempat yang aman
Tidak melewatkan kabel listrik dibawah
karpet
Menutup semua filing cabinet dan laci
meja segera setelah selesai digunakan
Pintu darurat dibuat terbuka ke satu
arah dan tidak terkunci
Mewaspadai kerusakan lantai dan
keramik atau karpet yang longgar
Penataan dan penyimpanan dokumen
di meja kerja
Menggunakan alat listrik yang standar.
TATA LETAK RUANGAN & VENTILASI
LOKASI KERJA • Sistem ventilasi di lokasi kerja harus
• Menempatkan peralatan sesuai memadai
jarak aman & best practice • Pengaturan ventilasi ini dapat
standar desain. memanfaatkan udara bebas namun
• Tidak meletakkan peralatan juga dapat menggunakan kipas
bertekanan tinggi & mudah angin atau air conditioner (AC).
meledak berdekatan dengan • Ventilasi harus cukup untuk menjaga
perkantoran atau gudang. suhu ruangan antara 22oC hingga
• Peralatan yang memiliki sumber 26oC.
api yang menyala terus menerus
harus dibuat terpisah dengan
peralatan lainnya. PENCAHAYAAN
• Permukaan yang panas harus Pencahayaan harus cukup untuk pekerja
ditutupi oleh insulasi proteksi di semua lokasi kerja, untuk memastikan
untuk keamanan para pekerja. pekerja dapat bekerja dengan aman dan
• Disain instalasi listrik harus nyaman serta tidak berakibat pada
memenuhi klasifikasi area menurunnya kemampuan penglihatan
berbahayanya. pekerja
KEBERSIHAN DAN SANITASI
Semua pekerja harus memastikan bahwa
sampah, limbah dan material sisa pekerjaan
sudah dibersihkan dari lokasi kerja.
Telah disediakan tempat sampah yang memadai
di berbagai tempat di seluruh lapangan untuk
pengumpulan sampah dan limbah.

Tempat sampah dibedakan sesuai jenis sampah,


yaitu organik, anorganik dan B3, untuk
memudahkan pengolahan berikutnya.

Pembuangan sampah dilakukan dengan rutin


untuk mencegah berkumpulnya lalat, tikus dan
binatang lainnya di sekitar tempat sampah.
Sanitasi di lingkungan kerja dilakukan dengan
menjaga kebersihan dapur dan toilet serta
memastikan tempat sampah dalam keadaan
tertutup dan sampah dikelola secara berkala
PRINSIP 5 R
RINGKAS
• Melakukan pemilahan untuk menentukan barang yang
diperlukan atau yang tidak diperlukan.
• Menyingkirkan barang yg tidak/jarang diperlukan dg
memberi label tertentu

RAPI Melakukan pengaturan lingkungan kerja dan peralatan yang


dibutuhkan secara rapi sehingga mereka siap diakses.

RESIK Menghilangkan semua kotoran, debu, minyak, serpihan pada


lantai, dan sampah serta menjaga tempat kerja selalu bersih

RAWAT
Menciptakan standar memelihara RINGKAS, RAPI dan
RESIK serta mempertahankannya sebagai suatu kebiasaan

RAJIN
Melakukan segala sesuatu dengan benar sesuai ketentuan
serta membudayakan 5R sebagai sarana untuk menciptakan
kondisi tempat kerja yang lebih baik.
ERGONOMI
ERGONOMI
TABLE OF CONTENT
• DEFINISI
• KLASIFIKASI JENIS BAHAYA
• PERATURAN PERUNDANGAN
Cervical
• MANFAAT PENERAPAN
Thoracic
• MUSCULOSKELETAL
DISSORDERS (MSDs)
• FAKTOR RESIKO MSDs
Lumbar
• PENERAPAN PRAKTIS DALAM
PEKERJAAN SEHARI-HARI
DEFINISI
Ergon berarti kerja
ERGONOMI
Bahasa Yunani
Nomos berarti hukum atau aturan

“Suatu cabang ilmu yang mempelajari perancangan pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan oleh
manusia, sistem orang dan mesin, peralatan yang dipakai manusia agar dapat dijalankan dengan
cara yang paling efektif termasuk alat-alat peragaan untuk memberi informasi kepada manusia.”
(Sutalaksana, 1979)

”Penerapan ilmu-ilmu biologi manusia bersama sama dengan ilmu-ilmu teknik dan teknologi untuk
mencapai penyesuaian satu sama lain secara optimal terhadap pekerjaannya, yang manfaat dari
padanya diukur dengan efisiensi dan Kesejahteraan kerja.”
(International Labour Organization)

“Disiplin ilmiah terkait dengan pemahaman (menyangkut) interaksi antar manusia dan unsur lain dari
suatu sistem, dan profesi yang menerapkan teori, prinsip, metoda dan data untuk mendisain dalam
rangka mengoptimalkan kesejahteraan/ kesehatan manusia dan keseluruhan capaian system.”
(International Ergonomics Association)
Klasifikasi Jenis Bahaya

Physical Hazard

Biological Hazard

Chemical Hazard

Ergonomical Hazard
PERATURAN PERUNDANGAN

UU No 1 Th 1970 tentang Keselamatan


Kerja (pasal 3 ayat 1)

Permenakertrans No 03 Th 1982
tentang Pelayanan Kesehatan Kerja

UU No 13 tahun 2003 : tentang


Ketenagakerjaan
MANFAAT PENERAPAN

Tercapainya efisiensi kerja

Terciptanya sistem kerja yang aman


PRODUKTIVITAS
MENINGKAT Minimisasi risiko kesehatan karena
cara Kerja yang salah

Terciptanya kenyamanan kerja


MUSCULOSKELETAL DISSORDERS (MSDs)

MUSCULOSKELETAL DISSORDERS (MSDs)

bentuk nyeri, cidera, atau kelaianan pada sistem otot-rangka,


meliputi jaringan syaraf, tendon, ligamen, otot, atau sendi.
pada bagian tubuh seperti leher, pergelangan tangan, bahu,
dan punggung. ([Link], 2008)

GEJALA MSDs • Kelelahan (fatigue)


Washington Industrial • Gejala kronis
Safety And Health Act, • Kelelahan pada sistem syaraf
WISHA 1973
MUSCULOSKELETAL DISSORDERS (MSDs)
ERGONOMIC POSTURE
AWKWARD POSTURE
FAKTOR RESIKO MSDs

HIGH HAND FORCE

4,5 kg (10 lbs) selama lebih


dari 2 jam sehari

pinch grip seberat 900


gram (2 lbs) selama lebih
dari 2 jam perhari
FAKTOR RESIKO MSDs

HAND ARM VIBRATION REPETITIVE

MODERATE
HIGH LEVEL OF
LEVEL OF
VIBRATION
VIBRATION

2 jam/ hari 30 menit/ hari

4 (empat) jam sehari


FAKTOR RESIKO MSDs
REPEATED IMPACTS HEAVY, FREQUENT, OR AWKWARD
LIFTING

Beban maksimal untuk dijinjing


Laki-laki dewasa: 40 kg
Wanita dewasa : 15 – 20 kg
tangan atau lutut sebagai
Laki-laki (16-18th) : 15 – 20 kg
pemukul lebih dari 10 kali tiap
Wanita (16-18th) : 12 – 15 kg
jam, lebih dari 2 jam perhari
PENERAPAN PRAKTIS ERGONOMI
PENYIMPANAN DAN PENANGANAN BAHAN
MATERIAL

1. Berikan tanda dan bersihkan jalur


transportasi dan jalur darurat dari benda
menghalangi
2. Gang dan koridor cukup lebar untuk
memungkinkan arus transportasi dua arah
3. Pastikan lantai jalur transportasi rata, tidak
licin dan bersih dari penghalang (lubang,
undakan)
4. Sediakan landaian jalur transportasi atau
tangga dan bukan penurunan yang
mendadak
5. Gunakan kereta dorong, gerobak dan alat
bantu beroda lainnya untuk mengangkut /
membawa bahan / material
PENERAPAN PRAKTIS ERGONOMI
PENYIMPANAN DAN PENANGANAN BAHAN
MATERIAL

8. Gunakan rak bertingkat untuk


meringankan beban pekerja
9. Gunakan peralatan mekanis untuk
mengangkat dan mengangkut benda
berat
[Link] pembagian beban secara merata
[Link] pegangan tangan, gagang untuk
semua jenis kemasan
[Link] / kurangi beda ketinggian bila
akan memindahkan barang (secara
manual)
[Link] barang berat pada posisi mendatar
dengan cara mendorong / menarik (bukan
mengangkat / menurunkan)
PENERAPAN PRAKTIS ERGONOMI
PENYIMPANAN DAN PENANGANAN BAHAN MATERIAL

[Link] bentuk bekerja dengan


gerakan membungkuk / memutar
tubuh
[Link] saat mengangkat, posisi beban
rapat dengan tubuh
[Link] / menurunkan barang
secara perlahan (tanpa gerakan yang
mengejutkan / membungkuk dengan
tajam)
[Link] pekerjaan fisik berat dengan
pekerjaan ringan
[Link] tempat sampah
PENERAPAN PRAKTIS ERGONOMI

ALAT PERKAKAS DAN TANGAN

1. Gunakan perkakas bermotor yang


aman dan dilengkapi dengan perangkat
pelindung (penjepit/guard)
2. Gunakan perkakas gantung untuk
pekerjaan yang berulang di tempat
yang sama
3. Sediakan penyangga lengan bila
menggunakan perkakas yang
memerlukan ketelitian tinggi
4. Gunakan Perkakas yang tidak banyak
mengeluarkan tenaga (ringan, nyaman
digunakan)
PENERAPAN PRAKTIS ERGONOMI
ALAT PERKAKAS DAN TANGAN

6. Sediakan perkakas tangan yang mempunyai


pegangan dengan permukaan yang kasar
dan terisolasi untuk mencegah tergelincir
dan tersengat
7. Batasi vibrasi dan kebisingan pada perkakas
tangan (dengan APD)
8. Latihlah pekerja sebelum menggunkan
perkakas tangan yang digerakan oleh motor
(listrik, pneumatic, mesin)
9. Sediakan ruang keseimbangan yang cukup
pada saat bekerja dengan motor penggerak
(power tool)
PENERAPAN PRAKTIS ERGONOMI
FAKTOR KEAMANAN PADA MESIN
PRODUKSI

1. Pasang fasilitas pengaman untuk


mencegah mesin diaktifkan tidak sengaja
2. Tempatkan dan beri label pada alat
kontrol agar mudah dibedakan
3. Pastikan alat kontrol mudah dijangkau
4. Gunakan kebiasaan yang lazim untuk
mengendalikan gerakan-gerakan mesin
5. Batasi penggunaan jumlah pedal kaki dan
tempatkan agar mudah untuk
dioperasikan
6. Gunakan rambu-rambu peringatan yang
mudah dimengerti / dibaca
PENERAPAN PRAKTIS ERGONOMI
PENYEMPURNAAN RANCANGAN MEJA KERJA
• Tinggi meja kerja
setinggi siku
- Untuk sikap berdiri :
 Yang membutuhkan ketelitian tinggi, tinggi meja
adalah 10 – 20 cm lebih tinggi dari tinggi siku.
 Yang membutuhkan penekanan dengan tangan,
tinggi meja adalah 10 –20 cm lebih rendah dari
tinggi siku.
- Untuk sikap duduk : tinggi meja adalah 68 – 78 cm dari
permukaan daun meja sampai ke lantai.
• Tebal daun meja
yang cukup memberi kebebasan bergerak pada kaki.
• Permukaan meja
rata dan tidak menyikukan
• Lebar meja
tidak melebihi jarak jangkauan tangan (+ 80 cm)
• Luas pandangan
diukur dari tinggi mata adalah 0-300 vertikal bawah dan
0-500 horisontal ke kanan dan ke kiri
PENERAPAN PRAKTIS ERGONOMI

PENYEMPURNAAN RANCANGAN MEJA KERJA

A. Posisi monitor berjarak kurang lebih


18” -24” dan segaris dengan mata
B. Pastikan cahaya 300 lux
C. Lengan bawah tegak lurus dari tulang
belakang kita
D. Posisi paha tegak lurus dengan tulang
belakang
E. Gunakan kursi kantor yang dapat diatur
tinggi rendahnya
F. Gunakan bantalan tangan untuk
meletakkan tangan saat tidak bekerja
G. Letakkan kaki pada penopang

Common questions

Didukung oleh AI

Pengendalian bahaya mengacu pada berbagai metode yang bertujuan untuk mencegah atau mengurangi risiko yang dapat membahayakan pekerja atau lingkungan kerja. Metode yang digunakan meliputi: eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administrasi, dan penggunaan alat pelindung diri (APD). Eliminasi dan substitusi bertujuan menghilangkan bahaya atau menggantinya dengan alternatif yang lebih rendah risikonya. Teknik rekayasa melakukan modifikasi terhadap peralatan atau proses kerja untuk meminimalkan potensi bahaya. Pengendalian administrasi mencatat dan mengatur ekspos selama bekerja untuk keamanan yang berkelanjutan. APD adalah langkah terakhir ketika risiko tidak bisa sepenuhnya dihilangkan .

Komunikasi bahaya dalam sistem manajemen HSE mencakup program tertulis yang disusun untuk menyampaikan informasi mengenai sumber bahaya kepada pekerja. Komponen utama dari program ini meliputi: program tertulis komunikasi bahaya yang terstruktur, Lembar Data Keselamatan Bahan (MSDS) untuk penanganan bahan kimia, label kemasan sesuai standar seperti NFPA 704, inventori bahan kimia, pelatihan pekerja tentang penanganan bahan berbahaya, dan pengelolaan catatan terkait. Semua elemen tersebut memastikan pekerja memiliki pengetahuan untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan merespon terhadap bahaya .

Pengawas dalam pelaksanaan UU Keselamatan Kerja di Indonesia adalah pegawai teknis dengan keahlian khusus dari Departemen Tenaga Kerja, bertanggung jawab memastikan kepatuhan terhadap regulasi keselamatan kerja. Sedangkan ahli keselamatan kerja, yang juga memiliki keahlian khusus, ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja dari luar departemen untuk pengawasan eksternal. Pengawasan diterapkan melalui inspeksi rutin, audit, dan verifikasi terhadap implementasi praktik K3 di tempat kerja, serta memberikan rekomendasi perbaikan untuk mempertahankan standar keselamatan .

P2K3 berperan penting dalam sistem HSE dengan fungsi utama mengembangkan kerjasama saling pengertian antara pengusaha atau pengurus dengan tenaga kerja dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban bidang K3. Pembuatan P2K3 berada di bawah kewenangan Menteri Tenaga Kerja, yang juga menetapkan susunannya untuk memastikan partisipasi efektif dalam penerapan HSE .

Keadaan darurat dalam manajemen risiko HSE merujuk pada insiden yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan, yang berpotensi merugikan perusahaan atau mengganggu kelancaran operasional. Rencana tanggap darurat dibuat untuk menangani insiden sejak awal untuk menghindari eskalasi menjadi krisis yang lebih besar dan sistemik. Perencanaan ini termasuk identifikasi jenis-jenis kejadian darurat, menetapkan prosedur respon, latihan rutin untuk kesiapan, dan evaluasi berkala agar proses tetap relevan dan efektif .

Risk assessment adalah analisis untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai risiko terkait, dan menentukan langkah pencegahan. Tingkat risiko ditentukan dengan matriks penilaian risiko yang mengalikan keparahan (severity) dengan kemungkinan kejadian (probability). Severity menunjukan dampak potensial suatu kejadian, diukur dari cedera hingga fatalitas ganda dan kerusakan aset hingga lingkungan internasional. Probability mengukur frekuensi kemungkinan kejadian tersebut, dari tidak pernah terjadi hingga sering terjadi tiap tahun. Penilaian memberikan kategori risiko—rendah (R), menengah (M), atau tinggi (T)—untuk memprioritaskan tindakan pencegahan .

Di Indonesia, terdapat beberapa undang-undang yang mengatur keselamatan kerja, yang paling mendasar adalah UU No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Drilling lebih lanjut, pasal 2 dari UU ini menetapkan bahwa keselamatan kerja berlaku di segala tempat kerja, baik di darat, dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara yang berada dalam wilayah hukum Indonesia. Undang-undang ini juga meliputi pengaturan syarat keselamatan dalam perencanaan, pemakaian dan pengawasan teknik produksi yang dapat menimbulkan bahaya .

Perkembangan HSE dimulai dari era tradisional (1750 SM) dengan Kode Hammurabi yang merupakan undang-undang keselamatan kerja awal. Berlanjut ke era Revolusi Industri (1750-1850), dimana terjadi perubahan sistem kerja dengan penggunaan mesin dan metode baru pengolahan bahan baku, yang memunculkan penyakit akibat paparan lingkungan kerja. Era Industrialisasi menandai perkembangan K3 dengan pemanfaatan teknologi, penggunaan APD, dan peralatan pengaman. Era manajemen modern diperkenalkan oleh tokoh seperti H.W Heinrich dengan Teori Domino, serta Frank Bird dan Germain dengan model Loss Causation. ISO, SMHSE, dan OHSAS 18001 juga dikembangkan pada masa ini untuk standarisasi HSE .

Sistem manajemen mutu HSE mencakup beberapa komponen utama yang saling mendukung untuk mengoptimalkan keselamatan kerja. Komponen ini termasuk filosofi dan kebijakan mutu perusahaan, instruksi kerja, dokumen teknis, formulir, dan checklist untuk memastikan prosedur keselamatan diikuti secara konsisten. Sistem ini juga merujuk pada standar seperti SNI ISO 9001-2008 yang menetapkan persyaratan dokumentasi dan pembuktian penerapan sistem yang efektif melalui rekaman, pemantauan, dan tinjauan berkala. Semua elemen ini bertujuan untuk menjaga kualitas dan konsistensi penerapan K3 di tempat kerja .

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dianggap sebagai tahap terakhir dalam pengendalian bahaya karena pendekatan ini diterapkan ketika semua metode pengendalian lain seperti eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, dan pengendalian administrasi tidak dapat sepenuhnya menghilangkan risiko. APD harus memenuhi standar keamanan tertentu dan sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan untuk memberikan perlindungan yang optimal. Misalnya, helm pelindung harus sesuai dengan standar ANSI Z89.1-1981 untuk melindungi kepala dari benda jatuh atau listrik, dan kacamata pelindung harus memenuhi standar ANSI/ ISEA Z87.1-2010 untuk melindungi mata dari partikel atau radiasi .

Anda mungkin juga menyukai