0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan7 halaman

Strategi Keperawatan Risiko Bunuh Diri

Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan risiko bunuh diri meliputi (1) pengkajian kondisi klien dengan diagnosa risiko bunuh diri, (2) tujuan mengontrol diri, (3) tindakan komunikasi terapeutik seperti orientasi, kerja, dan terminasi, serta (4) evaluasi dan kontrak pertemuan berikutnya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan7 halaman

Strategi Keperawatan Risiko Bunuh Diri

Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan risiko bunuh diri meliputi (1) pengkajian kondisi klien dengan diagnosa risiko bunuh diri, (2) tujuan mengontrol diri, (3) tindakan komunikasi terapeutik seperti orientasi, kerja, dan terminasi, serta (4) evaluasi dan kontrak pertemuan berikutnya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

RISIKO BUNUH DIRI


Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa
Dosen Pengampu Mata Kuliah : Ridwan Kustiawan, Ners, [Link]. [Link].J

Disusun oleh :

Aisya Alya Rahmadhani


P20620522001
2A Ners

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN DAN PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES TASIKMALAYA
2023/2024
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

NAMA MAHASISWA : Aisya Alya Rahmadhani


NAMA PASIEN/RUANGAN : Ny. Y
NO MEDREK : P206205
HARI / TANGGAL : Rabu, 24 April 2024
HARI KE/PERTEMUAN KE. : Hari ke-3/ Pertemuan ke-3
FASE :3

I. PROSES KEPERAWATAN
1. KONDISI KLIEN
( gambaran kondisi klien pada saat terakhir bertemu)
DS :
1) Mengungkapkan keinginan untuk mati
2) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
3) Menghayal untuk bunuh diri
4) Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekerasan sejak kecil

DO :
1) Impulsive
2) Menunjukan perilaku mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh)
3) Ada bekas percobaan untuk bunuh diri

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Risiko Bunuh Diri

3. TUJUAN KEPERAWATAN
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6x pertemuan klien bisa mengontrol diri
dengan kriteria hasil:
- Verbalisasi keinginan bunuh diri menurun
- Verbalisasi isyarat bunuh diri menurun
- Verbalisasi ancaman bunuh diri menurun
- Verbalisasi rencana bunuh diri menurun

4. TINDAKAN KEPERAWATAN
1) Mengidentifikasi pola koping yang biasa diterapkan pasien
2) Menilai pola koping yang biasa dilakukan
3) Mengidentifikasi pola koping yang konstruktif
4) Mendorong pasien memilih pola koping yang konstruktif
5) Menganjurkan pasien menerapkan pola koping konstruktif dalam kegiatan harian

II. STRATEGI KOMUNIKASI TERAPEUTIK


(Penjabaran dari semua tindakan keperawatan, buat semua dalam bentu kalimat langsung)
1. ORIENTASI
 Salam terapeutik
“Assalamu’aikum , selamat pagi!”
 Memperkenal diri
“Masih ingat dengan saya kak?”
”Iya betul, saya Aisya Alya Rahmadhani perawat yang bertugas pagi hari ini sampai
pukul 14.00 nanti”
 Membuka pembicaraan dengan topic umum
“ Bagaimana kabarnya hari ini”
“Kalau semalam tidurnya gimana ?”
“Sekarang sudah sarapan belum?”
 Evaluasi
- Evaluasi
“Kak bagaimana perasaannya saat ini?”
- Validasi kemampuan dan hasil kemampuan yang dilakukan
“Bagaimana dengan jadwal latihannya kak?” “Apakah kakak melakukan latihan
yang telah kita lakukan sebelumnya?”
“Oke bagus ya kak”
“Bagaimana perasaan kakak setelah melakukan latihan itu”
 Validasi kontrak (topik, waktu, tempat) dan tujuan
“ Baik kak, seperti kontrak sebelumnya, hari ini kita akan bercakap-cakap,
kita ngobrol-ngobrol mengenai kondisi yang kakak alami dan nanti kita akan
melakukan latihan yang kakak perlukan, nanti juga kita sambil berdiskusi. Nanti kita
latih tahap kedua atau tahap selanjutnya kegiatan mencapai masa depan. Tujuannya
supaya kakak merasa aman, tenang dan nyaman terhadap diri kakak dan agar tidak
ada melukai diri kakak sendiri.
”Untuk waktunya kira - kira membutuhkan waktu 15 menit apakah kakak
bersedia? ”Untuk tempatnya mau di mana? Oh iya baik kalau begitu”.

2. KERJA
 Pengkajian : Predisposisi, Presipitasi, Instrumen tanda gejala
"Baik kita mulai saja ya”.
“Seperti yang sudah kakak sampaikan dipertemuan-pertemuan sebelumnya
ya bahwa kakak itu sejak kecil sudah menjadi korban perilaku kekerasan ya” Kakak
suka terkena pukulan, suka dimarahin ya”.
“Mungkin apakah ada hal lain kak, pengalaman atau sesuatu yang tidak
mengenakan yang pernah kakak alami?” “Tidak ada? Oke saat kakak dibangku
SMA?, SMP?”
“Sekarang coba kakak ceritakan apa yang kakak rasakan saat ini?”
“Oh jadi kakak merasa semua orang menjauhi kakak, dan kakak sangat takut
dengan persepsi atau pandangan orang terhadap diri kakak sehingga kakak lebih
memilih untuk menghindari bersosialisasi dan menganggap diri kakak tidak lagi
berharga untuk semua orang hingga kakak ingin melukai diri kakak?”
“Dalam situasi apa kakak merasa ingin melukai diri kakak?”
“Baik, intinya ketika kakak sedang mempunyai masalah ya kak”
“Baik Kak,, Saya ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan, terkait
dengan masalah yang kakak alami. Nanti ketika saya bertanya, cukup menjawab
’Ya’ atau ’Tidak’ saja ya ”.
[Instrumen Tanda dan Gejala]
 Merumuskan diagnosa keperawatan
” Baik, dari beberapa pertanyaan yang saja ajukan, dan saya amati juga ada
beberapa tanda gejala yang kakak alami, yaitu ada 7 tanda gejala risiko bunuh diri.
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya ya kak jadi risiko bunuh diri itu adalah
berisiko melakukan upaya menyakiti diri sendiri untuk mengakhiri kehidupan.
 Menjelaskan perencanaan yang akan dilakukan
” Untuk mengontrol kondisi kakak. Kita akan melakukan terapi/ latihan yang
bertujuan supaya kakak merasa aman, tenang dan nyaman terhadap diri kakak dan
juga bisa mengontrol diri supaya kakak tidak lagi merasa ingin melukai diri kakak
ya. Untuk terapi atau latihannya ada banyak cara tetapi yang akan kita lakukan
sekarang, yaitu kita akan latihan tahap kedua kegiatan mencapai masa depan ya
kak”.
”Bagaimana sudah siap?”.
 Melakukan Implementasi (SP)
“Nah kak pada pertemuan sebelumnya kan kita sudah melakukan/kita sudah
latihan kegiatan berpikir positif ya kak, tentang diri kakak, keluarga, dan lingkungan
disekitar kakak, dan juga melakukan kegiatan yang sudah kakak pilih sebelumnya”.
“Bagaimana kak apakah kakak sudah melakukannya?” “Oke bagus sekali ya,
boleh saya lihat jadwal kegiatannya kak?” “Wah iya bagus banget kak , kakak rajin
ya, kakak melakukannua sesuai jadwal/rutin” “Nah nanti tetap dilanjut terus ya kak”
“Nah sekarang kita akan latihan tahap kedua kegiatan untuk mencapai masa
depan ya kak”
“Di pertemuan sebelumnya kakak sudah bilang ya mengenai harapan-
harapan kakak, nah sekarang harapan selanjutnya apa yang ingin bisa kakak
capai?”
“Oke kakak ingin lulus kuliah tepat waktu ya kak agar bisa membahagiakan
kedua orang tua” “Nah kakak tau ga cara untuk mencapai itu bagaimana?”
“baik betul sekali ya, maka dari itu agar kakak bisa mencapai harapan yang
kakak inginkan kakak betul ya harus banyak berinteraksi dan bersosialisasi dengan
orang-orang disini ya kak, dan kakak jangan merasa sendiri dan jangan merasa
bahwa diri kakak tidak berharga. Kakak harus bisa melawan rasa kawatir kakak
terhadap orang lain”
“Nah untuk kegiatannya kakak mau apa kak?”
“Oke membaca buku ya kak, jadi mulai sekarang kakak juga mau rutin buat
sempetin baca buku ya”.
“Nah kakak biasanya kalau pagi, siang, sore kegaiatannya apa aja?” Oke
nanti kakak bisa sempatkan untuk membaca buku disela-sela kegaiatan kakak ya
kak”.
 Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien
”Alhamdulillah untuk latihannya sudah selesai”.
”Saya akan masukkan ke dalam jadwal kegiatan harian ya”.
“Saya harap kakak bisa melakukan kembali apa yang sudah kita latih dan
menuliskannya pada jadwal kegiatan”.

3. TERMINASI
 Evaluasi Subjektif
“Sekarang bagaimana perasaan kakak setelah melakukan latihan tadi?”
 Evaluasi Objektif
“Sekarang coba kakak mungkin bisa ulangi jelaskan latihan yang telah kita lakukan
tadi”.
 Evaluasi isi materi yang sudah dibicarakan pada pertemuan ini
“Baik, kalau boleh coba kakak jelaskan kembali, atau coba simpulkan apa yang
kakak pahami setelah tadi kita ngobrol-ngobrol dan melakukan latihan”.
 Tindak lanjut
” Nah.. tadi kita sudah melakukan latihan ya, kalau nanti kakak
melakukannya dengan sendiri bisa masukan ke jadwal kegiatan ya”
”Kakak mau melakukannya berapa kali?” ”Kira kira mah di jam berapa?”
“Baik kalau gitu nanti kakak masukan ke dalam buku kegiatan ini ya, nanti
kakak bisa menuliskan ”M” jika melakukan dan “T” jika tidak melakukannya.
apakah kakak sudah paham?”
 Kontrak untuk pertemuan yang akan datang (topic, waktu, tempat)
“Baik, karena kegiatan hari ini telah selesai, lusa saya akan kesini lagi untuk
mengevaluasi tanda dan gejala yang kakak alami apakah sudah berkurang atau
belum.” “Dan juga nanti saya akan mengevaluasi latihan-latihan yang sudah kita
lakukan sebelumnya, dan nanti kita juga diskusi lagi ya mengenai kegiatan untuk
mencapai harapan selanjutnya yang ingin kakak capai”.
“Untuk waktu dan tempatnya mungkin mau pada jam berapa dan dimana?”
“Baik ibu kalau begitu saya akan kembali pada lusa pagi hari, sekarang saya pamit
terlebih dahulu ya. Selamat beristirahat.”
“Saya pamit dulu, Assalamualaikum.”

Anda mungkin juga menyukai