0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan24 halaman

Faktor Risiko Sindrom Syok Dengue Anak

Penelitian ini menemukan bahwa jenis kelamin laki-laki, muntah, nyeri perut, kadar hematokrit >=46% dan kadar trombosit <=50.000 adalah faktor risiko signifikan terjadinya Sindrom Syok Dengue berdasarkan analisis statistik."

Diunggah oleh

byanca lauwardi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan24 halaman

Faktor Risiko Sindrom Syok Dengue Anak

Penelitian ini menemukan bahwa jenis kelamin laki-laki, muntah, nyeri perut, kadar hematokrit >=46% dan kadar trombosit <=50.000 adalah faktor risiko signifikan terjadinya Sindrom Syok Dengue berdasarkan analisis statistik."

Diunggah oleh

byanca lauwardi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Journal

Reading
Analisis Faktor Risiko Sindrom Syok
Dengue pada Anak di Rumah Sakit Ibu
Anak Bunda Aliyah Jakarta

Johanes Edwin1, Michelle Olivia Budiarta2, Klemens Edward3


Departemen Kesehatan Anaka RSIA Bunda Aliyah, Jakarta Timur

Byanca Lauwardi
112022150
dr. Pembimbing: dr. Roosnawati Mochtar, Sp.A
Table of contents

01 Latar Belakang
Presentasi klinis terburuk dari
04 Hasil
Uji Chi Square berhubungan
dengan kejadian SSD dan
DBD adalah Sindrom Syok
regresi logistik Bermakna.
Dengue (SSD)

02 Tujuan Penelitian 05 Pembahasan


Uji Chi Square berhubungan
Mengidentifikasi faktor dan regresi logistik Bermakna
risiko SSD pada anak

03 Metode Penelitian
Data rekam medik
06 Kesimpulan
Jenis kelamin laki-laki, muntah,
Uji : Chi Square,Odds Ratio nyeri perut, Ht >= 46% dan plt
& Regresi Logistik <=50.000 adalah faktor risiko
SSD bermakna
Latar
Belakang
Demam berdarah dengue (DBD)
merupakan penyakit yang disebabkan
oleh virus dan ditularkan melalui nyamuk,
Sindrom Syok Dengue (SSD) merupakan
bentuk yang paling parah, tingkat
kematian dari SSD dilaporkan 50x lebih
tinggi dibandingkan dengan pasien DBD
tanpa syok.

20-23% pasien DBD mengalami Syok.


Berdasarkan fakta ini, penting untuk
mendeteksi dan menangani pasien anak
dengan faktor risiko tinggi SSD.
Latar Belakang
Penelitian mengenai faktor risiko SSD
berupa jenis kelamin , usia, status gizi,nyeri
perut, muntah, kadar hematokrit dan kadar
trombosit masih beragam hasilnya maka
dilakukan kembali penelitian tersebut
sebagai faktor risiko SSD
Tujuan
Penelitian
● Mengidentifikasi Faktor risiko SSD
berupa jenis kelamin , usia, status
gizi, nyeri perut, muntah, kadar
hematokrit dan kadar trombosit pada
anak agar dapat mengetahui ,
mencegah dan mengobati pasien
dengan SSD.
Metode Penelitian Kasus Kontrol

PENGAMBILAN Kriteria Inklusi &


SAMPEL SAMPEL Ekslusi
Rekam medik dari Anak Perbandingan KI: Anak usia 0-17 tahun
usia 0-17 tahun dengan pengambilan sampel dengan diagnosis DBD dan
diagnosis DBD dam adalah 1:2 SSD
SSD di IGD atau dirawat Dikarenakan jumlah pasien KE: pasien dengan riwayat
di RSIA Bunda Aliyah DBD yang mengalami syok penyakit jematologi dan
Jakarta dari Januari lebih sedikit diagnosis sekunder infeksi
2016-2019 lainnya.
Metode
Analisis Statistik
Faktor risiko dianalisis dengan
Uji Chi Square dan Odds ratio
dengan Interval kepercayaan
95% dengan p<0,05 adalah
bermakna. METODE
Pada faktor risiko yang memiliki
hasil bermakna kemudian
dilakukan analisis regresi
logistik untuk menilai besarnya
pengaruh dari masing-masing
faktor risiko dengan IK 95 %
dengan p<0,05 adalah
bermakna.
Hasil
SSD DBD

Jumlah Sampel 43 Sampel 86 Sampel

Rerata Usia 8,6 tahun 6,7 tahun

Distribusi Jenis Kelamin Laki-laki (67,4%) Distribusi sama

Status Gizi Baik Baik

Kadar Hematokrit 33%-58% (hemokonsentrasi) 28%-46%

Kadar Trombosit 14.000-89.000/mm3 39.000-60.000/mm3


Hasil
● Berdasarkan hasil analisis chi square, didapatkan bahwa jenis kelamin laki-laki (OR=2,7,
IK95% 1,27-5,91), muntah (OR=15,7, IK95% 5,58;44,35), nyeri perut (OR=16,9, IK95% 6,83-
42,16), kadar hematokrit 6% (OR=22,5, IK95% 7,28;69,45), dan kadar trombosit
≤50.000/mm3 (OR= 13,0, IK95% 1,60-10,24) berhubungan dengan kejadian SSD secara
bermakna.

● Faktor-faktor ini kemudian dianalisa dengan uji regresi logistik dan didapatkan bahwa jenis
kelamin laki-laki (OR=5,654, IK95% 1,04;30,51), muntah (OR=10,01, IK95% 1,50;56,05),
nyeri perut (OR= 7,70, IK95% 1,64;36,10), kadar hematokrit 6% (OR=23,484, IK95%
5,37;6,26), dan kadar trombosit ≤50.000/mm3 (OR=19,896, IK95% 7,38-13,26) adalah faktor
risiko SSD yang bermakna. Data analisis chi square tertera pada Tabel 2 dan analisis regresi
logistik tertera pada Tabel 3.

● Dalam penelitian ini, faktor risiko usia dan status gizi tidak memiliki hubungan dengan
kejadian SSD.
Pembahasan 1
PENELITIAN Laki-laki Perempuan ● Penelitian oleh Salsabila dkk dan
Raihan dkk dilakukan di negara
Penelitian ini 5x lebih risiko yang sama dengan penelitian ini
mengalami SSD sheingga memiliki hasil yang sama,
sedangkan penelitian lainnya di
Salsabila dkk risiko mengalami Vietnam dan Thailaind.
SSD lebih tinggi
● Sesuai dengan penelitian
Raihan dkk risiko mengalami Soedarmo dkk, laki-laki >
SSD lebih tinggi perempuan karena pembentukan
immunoglobulin dan antibody pada
Lam dkk risiko mengalami laki-laki kurang efektif. Hal ini
SSD lebih tinggi mengakibatkan anak laki-laki
memilki risiko infeksi yang lebih
Junia dan tidak didapatkan hubungan yang bermakna tinggi ata u mengalami derajat
Tantracheewathorn dengan jenis kelamin keparahan lebih buruk
Pembahasan 2
Usia tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian SSD.

● Pada penelitian ini, kelompok usia dibagi menjadi : < 9 tahun dan usia 9-17 tahun

● Angka kejadian SSD dan DBD pada penelitian ini banyak ditemukan pada anak usia < 9 tahun.

● Penelitian lainnya : anak-anak usia < 9 tahun cenderung mengalami syok. Semakin muda usia
pasien, akan semakin tinggi risiko mengalami kematian.
● negara-negara Asia: angka kejadian syok lebih banyak didapatkan pada populasi anak.
● Amerika: SSD lebih banyak pada orang dewasa

● Risiko terjadinya SSD pada anak meningkat pada usia 4-12 tahun dan risiko terjadinya syok
akan menurun hingga usia remaja, Indonesia merupakan negara endemik infeksi dengue
sehingga banyak kejadian syok pada anak dengan infeksi sekunder.
Pembahasan 3
Status gizi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan SSD

Lovero dkk: Status gizi tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan SSD
Junia dkk: anak dengan status gizi berlebih memiliki risiko 1,98x lebih tinggi untuk
terjadi SSD
Raihan dkk: Anak dengan status gizi kurang sangat jarang terkena dibandingkan
anak dengan status gizi baik

Anak dengan status gizi baik memiliki aktivitas sistem imun yang berkembang
dengan baik dan akan menyebabkan proliferasi virus meningkat. Berkebalikan
dengan apa yang terjadi pada anak dengan status gizi kurang atau buruk dimana
terjadi inhibisi dari proliferasi virus dikarenakan menurunnya suplai energi yang
diperlukan oleh reaksi anabolik.
Pembahasan 4

Muntah meningkatkan risiko terjadinya SSD sebanyak 10x lipat.

● Penelitian lainnya: muntah persisten sebanyak 2x atau lebih dalam satu


hari merupakan faktor prediktor infeksi dengue yang berat.
● Junia dkk dan lovera dkk: muntah tidak memiliki hubungan yang
bermakna dengan kejadian SSD.
Pembahasan 5
Nyeri perut dapat menjadi prediktor yang baik untuk melihat terjadinya SSD.

● Penelitian ini :
● 33 pasien (76,6%) dengan SSD mengalami nyeri perut (2x lipat lebih
banyak)
● 14 pasien (16,3%) dengan DBD mengalami nyeri perut

● Junia dkk,Satari dkk dan Huy dkk: nyeri perut memiliki hubungan sebagai
faktor risiko SSD.

Nyeri perut merupakan tanda terjadinya perdarahan dari saluran cerna atau
hepatomegali, ada penelitian lain yang mengatakan bahwa saat fase presyok
atau syok, suplai darah ke organ visceral berkurang sehingga menyebabkan
hipoksia yang akhirnya akan diikuti oleh nyeri perut.
Pembahasan 6
Peningkatan kadar hematokrit ≥46% merupakan faktor risiko terjadinya SSD
yang bermakna.

● Raihan dkk : kadar hematokrit ≥42% sebagai faktor risiko syok,


● Dewi dkk : kadar hematokrit 46%-50% sebagai faktor risiko syok.

Badan kesehatan dunia WHO menetapkan peningkatan hematokrit sebanyak


20% atau lebih sebagai salah satu kriteria diagnosis DBD. Kadar hematokrit
merupakan bukti adanya hemokonsentrasi akibat kebocoran plasma. Namun,
peningkatan kadar hematokrit juga dapat diartikan sebagai tanda- tanda
dehidrasi atau perdarahan sehingga dapat menimbulkan bias.
Pembahasan 7
Angka platelet ≤50.000/mm3 merupakan faktor risiko untuk terjadinya
SSD

● Pothapregada dkk : angka platelet ≤50.000/mm3 merupakan faktor


yang signifikan terhadap terjadinya SSD.
● Pongpan dkk : angka platelet ≤100.000/mm3 sebagai faktor risiko
terhadap terjadinya SSD.
● penelitian lainnya: angka platelet <20.000/mm3 tidak menjadi faktor
risiko terhadap terjadinya SSD.

Ada beberapa hipotesa tentang mekanisme virus dengue dapat


menyebabkan trombositopenia, yaitu dapat secara langsung atau tidak
langsung menghambat kapasitas proliferasi dari sel hematopoietik di
sumsum tulang.

Faktor Risiko Bermakna Tidak Bermakna

Jenis kelamin laki-laki

Usia

Status gizi

Muntah

Nyeri Perut

Kadar Hematokrit 46%

kadar trombosit
≤50.000/mm3
Keterbatasan penelitian

● Keterbatasan dari penelitian ini adalah data berasal dari rekam medik
sehingga sangat bergantung pada kelengkapan data yang tersimpan
dalam rekam medik masing-masing pasien dan dapat menimbulkan
bias.
Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa jenis kelamin laki-laki, muntah,nyeri
perut, kadar hematokrit 46% dan kadar
trombosit ≤50.000/mm3 adalah faktor
risiko SSD yang bermakna. Faktor risiko
usia dan status gizi tidak memiliki
hubungan bermakna dengan SSD.



References
[Link] MG, Harris E. Dengue. The Lancet 2015;385:453- 65.
2. Cucunawangsih, Lugito NPH. Trends of dengue disease epidemiology. Virol Res Treat 2017;8:1178122X1769583.
3. Indriyani Y, Wahyudi T. Situasi penyakit demam berdarah di Indonesia tahun 2017. Jakarta: Pusat Data dan
Informasi Kementerian Kesehatan RI; 2017.
● 4. Lovera D, Martinez de Cuellar C, Araya S, Amarilla S, Gonzalez N, Aguiar C, dkk. Clinical characteristics and risk
factors of dengue shock syndrome in children. Pediatr Infect Dis J 2016;35:1294-9.
● 5. Lam PK, Hoai Tam DT, Dung NM, Hanh Tien NT, Thanh Kieu NT, Simmons C, dkk. A Prognostic model for
development of profound shock among children presenting with dengue shock syndrome. PLOS ONE
2015;10:e0126134.
● 6. Junia J, Garna H, Setiabudi D. Clinical risk factors for dengue shock syndrome in children. Paediatr Indones
2007;47:7.
● 7. Huy NT, Van Giang T, Thuy DHD, Kikuchi M, Hien TT, Zamora J, dkk. Factors associated with dengue shock
syndrome: a systematic review and meta-analysis. PLoS Negl Trop Dis 2013;7:e2412.
● 8. Salsabila O, Shodikin MA, Rachmawati DA. Analisis faktor risiko terjadinya sindrom syok dengue pada anak di RSD dr. Soebandi
Kabupaten Jember. J Agromedicine Med Sci 2017;3:56-61.
● 9. Raihan, Hadinegoro SRS, Tumbelaka AR. Faktor prognosis terjadinya syok pada demam berdarah dengue. Sari Pediatri
2010;12:47-52.
● 10. Tantracheewathorn T, Tantracheewathorn S. Risk factors of dengue shock syndrome in children. J Med Assoc Thai 90:272- 7.
● 11. Soedarmo S, Garna H, Hadinegoro SRS, Satari H. Buku ajar infeksi & pediatri tropis. 2 ed. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2010.
● [Link] BEE, Koraka P, Osterhaus ADME. Dengue virus pathogenesis: an integrated view. Clin Microbiol Rev 2009;22:564-81.
● 13. Satari HI, Mardani RA, Gunardi H. Faktor prognosis sindrom syok dengue pada anak. Sari Pediatri 2018;20:131-7.
● [Link] NL, Manh DH, Mai NT, Phuc LH, Luong VT, Quan VD, dkk. Criteria of “persistent vomiting” in the WHO 2009 warning
signs for dengue case classification. Dikutip 26 Juli
● 15. Pongpan. Prognostic indicators for dengue infection severity. Dikutip 28 Juli 2019. Didapat dari: [Link]
[Link]/ijcp/article/view/73.
16. World Health Organization, penyunting. Comprehensive guidelines for prevention and control of dengue and dengue
haemorrhagic fever, Rev, and expanded. ed. New Delhi, India: World Health Organization Regional Office for South-East Asia;
2011. 17. DewiR,TumbelakaAR,[Link] hemorrhagic fever and risk factors of shock event. Paediatr
Indones 2016;46:144.
● 18. Widiyati MMT, Laksanawati IS, Prawirohartono EP. Obesity as a risk factor for dengue shock syndrome in children. Paediatr
Indones 2013;53:187.
19. Pothapregada S, Kamalakannan B, Thulasingham M. Risk factors for shock in children with dengue fever. Indian J Crit Care
Med 2015;19:661-4.
● 20. Azeredo EL de, Monteiro RQ, de-Oliveira Pinto LM. Thrombocytopenia in dengue: interrelationship between virus and the
imbalance between coagulation and fibrinolysis and inflammatory mediators. Mediators Inflamm 2015;2015:1-16.
Terima Kasih!

Anda mungkin juga menyukai