0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan100 halaman

Pengaruh NPL, LDR, BOPO pada Profitabilitas

Skripsi ini membahas pengaruh Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap profitabilitas bank umum konvensional di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari laporan keuangan perusahaan selama periode 2015-2019 dan uji regresi linear berganda untuk menganalisis pengaruh ketiga variabel bebas terhadap variabel terikat yaitu return on asset. Hasil penelitian menunjukkan b

Diunggah oleh

New York City Fc
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan100 halaman

Pengaruh NPL, LDR, BOPO pada Profitabilitas

Skripsi ini membahas pengaruh Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap profitabilitas bank umum konvensional di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari laporan keuangan perusahaan selama periode 2015-2019 dan uji regresi linear berganda untuk menganalisis pengaruh ketiga variabel bebas terhadap variabel terikat yaitu return on asset. Hasil penelitian menunjukkan b

Diunggah oleh

New York City Fc
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

PENGARUH NON PERFOAMING LOAN (NPL), LOAN TO DEPOSIT

RATIO (LDR), BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN OPERASIONAL

(BOPO) TERHADAP PROFITABILITAS BANK UMUM

KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh


Gelar Sarjana Ekonomi Pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Riau
Pekanbaru

Disusun Oleh:

AYU ANDIRA
175210494

PROGAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM RIAU

PEKANBARU
2021
PENUNJUKAN PEMBIMBING SKRIPSI

Nama : Ayu Andira

NPM : 175210494

Program Studi : Manajemen

Topik : Fintech (Teknologi Keuangan)

Pembimbing : Poppy Camenia Jamil, SE., M.S.M.

Pekanbaru, 05 Maret 2021


Menyetujui,

Abd. Razak Jer, SE., [Link].


NPK. 86 0802 062
ABSTRAK

PENGARUH NON PERFOAMING LOAN (NPL), LOAN TO DEPOSIT

RATIO (LDR), BIAYA OPERASIONAL PENDAPATAN OPERASIONAL

(BOPO) TERHADAP PROFITABILITAS BANK UMUM

KONVENSIONAL YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

OLEH:

AYU ANDIRA
175210494

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Non

Perfoaming Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional

Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap profitabilitas bank umum konvensional.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Hasil

penelitian ini berdasarkan Uji T menunjukkan bahwa Non Perfoaming Loan (NPL)

berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Return On Asset (ROA), Loan to

Deposit Ratio (LDR) berpengaruh negative tidak signifikan terhadap Return On

Asset (ROA), dan Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO)

berpengaruh negative signifikan terhadap Return On Asset (ROA). Sedangkan pada

semua variable independen secara simultan mempengaruhi variable dependen.

Kata kunci: Profitabilitas Bank, NPL, LDR, BOPO

i
ABSTRACT

INFLUENCE NON PERFOAMING LOAN (NPL), LOAN TO DEPOSIT

RATIO (LDR), OPERATING EXPENSES OPERATING INCOME (BOPO)

ON THE PROFITABILITY OF CONVENTIONAL COMMERCIAL

BANKS LISTED ON THE INDONESIAN STOCK EXCHANGE

BY:

AYU ANDIRA
175210494

The purpose of this study was to determine the effect to Non Perfoaming

Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Operating Expenses Operating Income

(BOPO) on the profitability of conventional commercial banks. The method used

in this research is purposive sampling. The results of this study based on the t test

showed that Non Perfoaming Loan (NPL) no significant positive effect on Return

On Asset (ROA), Loan to Deposit Ratio no significant negative effect on Return

On Asset (ROA), Operating Expenses Operating Income (BOPO) significant

negative effect on Return On Asset (ROA). While all independent variables

simultaneously affect the dependent variable.

Keywords: Bank Profitability, NPL, LDR, BOPO

ii
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Segala puji dan rasa syukur atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat

serta karunia-Nya penelitian ini dapat terselesaikan dengan judul “Pengaruh Non

Perfoaming Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional

Pendapatan Operasional (BOPO), Terhadap Profitabilitas Bank Umum

Konvensional Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Shalawat beriring

salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad

SAW yang telah membimbing kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang.

Penulisan skripsi ini melengkapi salah satu syarat dalam memperoleh gelar sarjana

ekonomi (SE) pada Universitas Islam Riau

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak akan berhasil

baik dan berjalan dengan lancar tanpa adanya bimbingan serta dukungan dari

berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang tak

terhingga kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Syafrinaldi, S.H., M.C.L, selaku Rektor Universitas

Islam Riau.

2. Ibu Dr. Eva Sundari, SE., MM selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Islam Riau

3. Bapak Abd. Razak Jef, SE., [Link] selaku Ketua Program Studi Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau

iii
4. Ibu Poppy Camenia Jamil, SE., MM selaku dosen pembimbing yang selalu

bersedia meluangkan waktu dan memberikan bimbingan yang berupa

kritik dan saran kepada penulis selama penulisan skripsi ini.

5. Bapak Dr. Hamdi Agustin, SE., MM dan Ibu Dr. Raja Ria Yusnita, SE.,

ME selaku dosen penguji yang sudah memebrikan kritik dan saran seminar

proposal untuk kelanjutan penulisan skripsi ini.

6. Bapak Nuriman M Nur, SE., MM selaku notulen yang telah bersedia

meluangkan waktunya dalam keberlangsungan seminar.

7. Bapak Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau.

8. Seluruh karyawan dan karyawati Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Islam Riau.

9. Teristimewa kedua orang tua, Bapak Misdi dan Ibu Krisnawati yang selalu

memberikan dukungan berupa motivasi, materi, semangat serta doa yang

tak pernah putus agar penulis dapat segera menyelesaikan skripsi ini

sehingga mendapatkan gelar sarjana. Semoga penulis dapat selalu

membahagiakan kedua orang tua.

10. Adik Ahmad Wali yang juga memberikan dukungan serta semangat dalam

menyelesaikan skripsi.

11. Sahabat-sahabat penulis Annisa Rizki Oktaviani Ritonga, S.E, Destriana

Rahmadianti [Link], Amalia Rahmadiani S.P dan Nuri Dwi Safitri S.E yang

menemani dalam penyelesaian skripsi ini.

12. Teman-teman seperjuangan Manajemen D 17

iv
13. Semua pihak lainnya yang terlibat dalam menyelesaikan skripsi ini yang

tidak dapat penulis tuliskan satu persatu.

14. Terimakasih juga kepada diri sendiri yang telah mampu mengatasi

berbagai masalah dan berjuang hingga terselesaikannya skripsi ini.

Dalam penulisan skripsi ini begitu banyak kekurangan yang harus

diperbaiki, oleh karena itu penulis berhadap agar mendapatkan kritik dan juga saran

yang dapat membangun dari pihak pembaca. Akhir kata, penulis ucapkan semoga

Allah SWT membalas segala kebaikan kepada pihak-pihak terkait yang telah

membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Pekanbaru, Oktober 2021

Penulis

v
DAFTAR ISI

ABSTRAK ……………………………………………………………… i
KATA PENGANTAR …………………………………………………. iii
DAFTAR ISI …………………………………………………………… vi
DAFTAR TABEL ……………………………………………………… ix
DAFTAR GAMBAR …………………………………………………... x

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ………………………………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………… 6
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ……………………………………… 6
1.3.1 Tujuan Penelitian ………………………………………….. 6
1.3.2 Manfaat Penelitian ………………………………………… 7
1.4 Sistematika Penulisan ……………………………………………….. 7

BAB II TELAAH PUSTAKA


2.1 Bank ………………………………………………………………… 10
2.1.1 Pengertian dan Fungsi Bank ………………………………. 10
2.1.2 Jenis Bank …………………………………………………. 13
2.1.3 Tugas Bank …………………………………………………13
2.2 Profitabilitas ………………………………………………………….14
2.2.1 Pengertian Profitabilitas …………………………………….14
2.2.2 Ukuran Rasio Profitabilitas …………………………………15
2.3 Non Perfoaming Loan (NPL) ………………………………………...17
2.4 Loan to Deposit Ratio (LDR)…………………………………………19
2.5 Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) ………………. 21
2.6 Penelitian Terdahulu ………………………………………………… 23
2.7 Kerangka Pikir ………………………………………………………..25
2.8 Hipotesis ……………………………………………………………...26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Objek Penelitian ………………………………………………………27
3.2 Operasional Variabel ………………………………………………….27
3.3 Populasi dan Sampel ………………………………………………….28

vi
3.3.1 Populasi ……………………………………………………...28
3.3.2 Sampel ……………………………………………………….29
3.4 Jenis dan Sumber Data ………………………………………………..29
3.5 Teknik Pengumpulan data …………………………………………….30
3.6 Teknik Analisis Data ………………………………………………….30
3.6.1 Uji Asumsi Klasik …………………………………………...31
[Link] Uji Normalitas ………………………………………....31
[Link] Uji Multikolineritas ……………………………………31
[Link] Uji Heteroskedastisitas ………………………………...31
[Link] Uji Autokorelasi ……………………………………….32
3.6.2 Analisis Regresi Linear Berganda …………………………...32
3.6.3 Pengujian Hipotesis ……………………………………….…33
[Link] Uji T …………………………………………………....33
[Link] Uji F …………………………………………………....34
[Link] Koefisien Determinasi ………………………………....34

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


4.1 Gambaran Umum Perusahaan ………………………………………....36
4.1.1 Bursa Efek Indonesia ………………………………………...36
4.2 Gambaran Perusahaan Sampel ………………………………………...37
4.2.1 Bank Rakyat Indonesia Agroniaga …………………………...37
4.2.2 Bank Harda Internasional Tbk ……………………………….38
4.2.3 Bank Negara Indonesia Tbk ………………………………….39
4.2.4 Bank Rakyat Indonesia ……………………………………….40
4.2.5 Bank Mandiri Tbk ……………………………………………42
4.2.6 Bank MNC Internasional Tbk ……………………………......42
4.2.7 Bank Pembangunan Daerah Banten ……………………….....43
4.2.8 Bank CIMB Niaga Tbk ……………………………………....44
4.2.9 Bank Permata Tbk …………………………………………....45
4.2.10 Bank Victoria Internasional Tbk ……………………………..46
4.2.11 Bank Mayapada Internasional Tbk ……………………….......47
4.2.12 Bank Nationalnobu Tbk ……………………………………....47
4.2.13 Bank OCBC NISP Tbk ……………………………………….48
4.2.14 Bank Ganesha Tbk ……………………………………………49

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


5.1 Hasil Penelitian ………………………………………………………..51
5.1.1 Return On Asset (ROA) ……………………………………51
5.1.2 Non Perfoaming Loan (NPL) ………………………………52
5.1.3 Loan to Deposit Ratio (LDR) ………………………………53
5.1.4 Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) ……...54
5.2 Statistik Deskriptif ……………………………………………………..56

vii
5.3 Hasil Analisis Data …………………………………………………….57
5.3.1 Uji Asumsi Klasik ……………………………………………57
[Link] Uji Normalitas ………………………………………….57
[Link] Uji Multikolineritas …………………………………….59
[Link] Uji Heteroskedastisitas …………………………………59
[Link] Uji Autokorelasi ………………………………………..60
5.3.2 Analisis Regresi Linear Berganda ……………………………61
[Link] Uji T……………………………………………………..62
[Link] Uji F …………………………………………………….64
5.3.3 Koefisien Determinasi ………………………………………..65
5.4 Pengaruh Non Perfoaming Loan Terhadap Profitabilitas ……………..66
5.5 Pengaruh Loan to Deposit Ratio Terhadap Profitabilitas ……………...68
5.6 Pengaruh Biaya Operasional Pendapatan Operasional Terhadap
Profotabilitas …………………………………………………………..69
5.7 Pengaruh Non Perfoaming Loan, Non Perfoaming Loan, Biaya
Operasional Pendapatan Operasional Terhadap Profitabilitas…………71

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan …………………………………………………………….73
6.2 Saran …………………………………………………………………...74

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………..75


LAMPIRAN ………………………………………………………………

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Nilai ROA pada 13 Bank Umum Konvensional


yang Terdaftar di BEI 2011-2020 …………………………..3
Tabel 2.1 Kriteria Penetapan Peringkat ROA …………………………17
Tabel 2.2 Kriteria Penetapan Peringkat NPL ………………………….19
Tabel 2.3 Kriteria Penetapan Peringkat LDR ……………………….....20
Tabel 2.4 Kriteria Penetapan Peringkat BOPO ……………………..…23
Tabel 2.5 Penelitian Terdahulu ………………………………………...23
Tabel 3.1 Operasional Variabel ………………………………………..27
Tabel 5.1 ROA Bank Umum Konvensional Tahun 2011-2020 ……….52
Tabel 5.3 NPL Bank Umum Konvensional Tahun 2011-2020 ………..53
Tabel 5.3 LDR Bank Umum Konvensional Tahun 2011-2020 ………..54
Tabel 5.4 BOPO Bank Umum Konvensional Tahun 2011-2020 ……...55
Tabel 5.5 Statistik Deskriptif …………………………………………..56
Tabel 5.6 Tabel Uji Kolmogorov-Smirnov ……………………………58
Tabel 5.7 Hasil Uji Multikolinieritas ……………………………….....59
Tabel 5.8 Hasil Uji Heteroskedastisitas …………………………….…60
Tabel 5.9 Hasil Uji Autokorelasi ……………………………………...61
Tabel 5.10 Hasil Uji Regresi Linear Berganda dan Uji T………………63
Tabel 5.11 Hasil Perhitungan Uji F …………………………………….65
Tabel 5.12 Koefisien Determinasi ……………………………………...66

ix
DAFTAR GAMBAR

2.1 Kerangka Berfikir ……………………………………………………..26


5.1 Grafik Histogram Uji Normalitas ……………………………………..58

x
1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam suatu sistem perekonomian di dunia, perbankan memiliki peranan

penting dalam rangka mendorong kemajuan ekonomi di suatu negara. Hampir

semua sektor yang berhubungan dengan kegiatan keuangan menggunakan jasa

bank, sehingga perbankan merupakan salah satu industri yang melibatkan risiko,

hal ini karena bank pengelolaan uang masyarakat dan diputar dalam bentuk

berbagai investasi.

Bank adalah lembaga keuangan kepercayaan yang berfungsi sebagai

lembaga intermediasi, membantu kelancaran sistem pembayaran dan tidak kalah

pentingnya adalah sebagai lembaga yang menjadi sarana dalam pelaksanaan

kebijakan pemerintah, yaitu kebijakan moneter. Karena fungsi-fungsinya tersebut,

maka keberadaan bank yang sehat, baik secara individu maupun secara keseluruhan

sebagai suatu sistem, merupakan prasyarat bagi suatu perekonomian yang sehat.

Bank merupakan lembaga keuangan yang usaha pokoknya yaitu

menghimpun dana dan menyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk kredit serta

memberikan jasa-jasa (Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, 2012).

Bank tidak sama dengan institusi keuangan lainnya, termasuk dari semua sektor,

terutama pada kemungkinan ketidakstabilan sistem perbankan yang membawa pada


2

penurunan kredit untuk semua sektor. Dengan adanya intermediasi tersebut maka

bank dapat mendorong peningkatan taraf hidup orang banyak.

Dalam menjalankan usahanya sebagai lembaga keuangan yang menjual

kepercayaan dan jasa, setiap bank berusaha sebanyak mungkin menarik nasabah

ataupun investor, memperbesar dananya dan memperbesar pemberian kredit dan

jasa sehingga peran perbankan sangat strategis, namun kesehatan dan stabilitas

perbankan sangan vital.

Dimana banyak bank yang sehat baik secara individu maupun secara

keseluruhan sebagai suatu system merupakan suatu kebutuhan perekonomian yang

ingin tumbuh dan berkembang dengan baik, tetapi terganggunya fungsi

intermediasi perbankan setelah krisis ekonomi di Indonesia telah mengakibatkan

lambannya kegiatan investasi dan pertumbuhan ekonomi (Veitzal, dkk, 2007 : 108).

Mengingat bank memiliki peran dan pengaruh terhadap suatu Negara,

bukan berarti dalam kegiatan operasionalnya tidak menemui kendala. Salah satu

yang menjadi kendala bank yaitu kinerja bank. Kinerja suatu bank dibutuhkan

untuk melakukan penilaian apakah bank tersebut dalam keadaan sehat atau tidak.

Profitabilitas menjadi indikator yang paling penting dalam mengukur

tingkat kesehatan bank atau kinerja bank. Dalam menjalankan kegiatan bisnisnya

bank akan berusaha menghasilkan profitabilitas yang optimal. Semakin tinggi

profitabilitas yang diterima, maka banak mendapatkan laba yang tinggi. Begitu pula

sebaliknya, jika bank memperoleh profitabilitas yang rendah maka laba yang

diterima bank juga akan rendah.


3

Profitabilitas mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan

laba melalui kegiatan operasional yang dilakukan perusahaan. Tingkat profitabilitas

menjadi tolak ukur kemampuan bank untuk bertahan dalam bisnis yang dijalankan,

dengan bank mendapatkan operasional yang maksimal dengan beban operasional

yang minimal.

Untuk mengetahui pencapaian profitabilitas dan menilai kesehatan bank

salah satu rasio pengukur profit adalah Return On Asset (ROA). ROA

memfokuskan kemampuan perusahaan untuk memperoleh earning dalam kegiatan

operasionalnya dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Semakin besar

ROA suatu bank, maka semakin besar pula tingkat keuangan suatu dan semakin

baik posisi bank salam segi penggunaan asset.

Tabel dibawah ini merupakan perhitungan ROA dalam bentuk persen (%)

pada 14 bank umum konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun

2011-2020.

Tabel 1.1 : Nilai ROA pada 13 Bank Umum Konvensional yang


Terdaftar di BEI 2011-2020
NO NAMA TAHUN
BANK 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 AGRO 1,39 1,63 1,66 1,47 1,55 1,49 1,45 1,54 0,31 0,24
2 BBHI 1,30 1,67 1,01 0,94 (2,82) 0,53 0,69 5,06 1,87 2,04
3 BBNI 2,9 2,9 3,4 3,5 2,6 2,7 2,7 2,8 2,4 0,5
4 BBRI 4,93 5,15 5,03 4,73 4,19 3,84 3,69 3,68 3,50 1,98
5 BMRI 3,37 3,55 3,66 3,57 3,15 1,95 2,72 3,17 3,03 1,64
6 BABP (1,62) 0,09 (0,93) (0,82) 0,1 0,11 (7,47) 0,74 0,27 0,15
7 BEKS (4,75) 0,98 (1,22) (1,59) (5,29) (9,58) (1,43) (1,57) (2,09) (3,80)
8 BNGA 2,85 3,18 2,76 1,44 0,24 1,20 1,70 1,85 1,99 1,06
9 BNLI 1,7 1,7 1,55 1,16 0,2 (4,9) 0,6 0,8 1,3 1,0
10 BVIC 2,65 2,17 1,97 0,80 0,65 0,52 0,64 0,33 (0,09) 1,26
11 MAYA 1,22 2,07 2,53 1,98 2,10 2,03 1,30 0,73 0,78 0,12
12 NOBU 1,16 0,59 0,78 0,43 0,38 0,52 0,48 0,42 0,52 0,57
13 NISP 1,91 1,79 1,81 1,79 1,68 1,85 1,96 2,10 2,22 1,47
14 BGTG 0,78 0,65 0,99 0,21 0,36 1,62 1,59 0,16 0,32 0,10
RATA-RATA 1,41 2,01 1,78 1,4 0,64 0,27 1,39 1,55 1,16 0,59
Sumber: Laporan keuangan masing-masing perbankan (Annual Report)
4

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa perusahaan bank umum

konvensional pada tahun 2011-2020, nilai ROA tertinggi dipengaruhi oleh Bank

Rakyat Indonesia (BRI) sebesar 5,15 pada tahun 2012 dan yang terendah sebesar -

9,58 oleh Bank Pembangunan Banten pada tahun 2016. Selain itu, dapat juga dilihat

rata-rata ROA dari tahun 2011-2020 mengalami fluktuasi, dengan rata-rata ROA

tertinggi 2,01 terjadi pada tahun 2012 dan rata-rata terendah sebesar 0,27 yaitu pada

tahun 2016.

Standar ukur ROA di Indonesia sebesar 1,5%, Diharapkan bank yang tidak

mencapai standar ukur ROA dapat meningkatkan nilai ROA-nya sehingga akan

meningkatkan pula perolehan profitabilitas pada tahun-tahun mendatang. Dan

apabila terjadi penurunan profitabilitas lagi maka perlu diketahui faktor-faktor apa

saja yang menyebabkan fluktuasi (ROA) sehingga dapat segera diatasi guna

meningkatkan profitabilitas selanjutnya.

Selain itu faktor yang mempengaruhi profitabilitas adalah rasio kredit.

Rasio kredit merupakan kegiatan yang timbul sebagai akibat dari kegagalan

nasabah dalam memenuhi kewajibannya sesuai jangka waktu yang telah ditentukan

atau biasa disebut dengan kredit bermasalah. Rasio ini semakin besar bila bank

umum tidak dapat meningkatkan atau memperbaiki kualitas kredit yang disalurkan,

karena pada dasarnya bank menanamkan sejumlah dananya dalam bentuk kredit

dengan harapan bisa meningkatkan profit.

Rasio kredit dapat dilihat dari besarnya rasio Non Performing Loan (NPL).

NPL menilai kemampuan suatu bank dalam menutupi kredit macet yang

dihadapinya jika rasio ini bernilai rendah maka rasio yang ditanggung oleh bank
5

semakin kecil. Begitu pula sebaliknya, jika semakin besar artinya kredit bermasalah

yang dihadapi bank juga besar dan hal ini akan berdampak terhadap keuntungan

bank. Bank Indonesia (BI) melalui Peraturan Bank (PBI) menetapkan bahwa rasio

kredit (NPL) adalah 5% sebagai angka toleransi bagi kesehatan suatu bank

(Ariwindata, 2016).

Peningkatan protabilitas juga dipengaruhi oleh rasio likuiditas. Rasio

likuiditas adalah kemampuan suatu bank apabila gagal untuk memenuhi kewajiban

terhadap para deposannya dengan harta likuid yang dimilikinya. Hal ini terjadi

karena penyaluran dana dalam bentuk kredit lebih besar dari deposit atau simpanan

masyarakat pada suatu bank.

Rasio likuiditas dapat muncul dari kedua sisi neraca suatu bank, yaitu sisi

kewajiban maupun sisi asset. Dari sisi kewajiban, terdapat ketidakpastian pada

jumlah penarikan deposito. Penarikan deposito dengan skala yang besar dapat

membuat perangkap bagi bank. Sedangkan dari sisi asset, risiko likuiditas dapat

muncul karena adanya kemacetan atau keterlambatan pembayaran dari debitur.

Rasio likuiditas pada penelitian ini diukur oleh Loan to Deposit Ratio

(LDR). Semakin tinggi LDR suatu bank bukan seabagai tolak ukur dari

keberhasilan manajemen bank dalam memperoleh profit. Hal ini disebabkan karena

bank mengalami akumulasi dana atau dapat juga bank mengalami kesulitan dalam

menyalurkan dana sehingga tidak mengalami peningkatan profit (ROA) dengan

kata lain LDR yang tinggi bisa menurunkan profitabilitas.

Selain rasio kredit dan likuiditas, rasio operasional juga mempengaruhi

peningkatan profotabilitas. Rasio yang digunakan adalah Biaya Operasional


6

Pendapatan Operasional (BOPO). Rasio BOPO mencerminkan tingkat efisiensi

dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Hal ini sesuai dengan teori yang ada

dimana jika BOPO menurun, maka profitabilitas mengalami kenaikan. Jika BOPO

semakin kecil maka dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan suatu perusahaan

semakin meningkat atau membaik.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka penulis tertarik

untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Non Perfoming Loan

(NPL), Loan To Deposits Ratio (LDR) , Biaya Operasional/Pendapatan

Operasional (BOPO) Terhadap Profitabilitas Bank Umum Konvensional

Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” dengan sampel dan periode yang

berbeda dari penelitian sebelumnya.

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah dari penelitian ini sesuai dengan latar belakang masalah

yang telah diuraikan sebelum nya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini

adalah: “Apakah Non Perfoming Loan (NPL), Loan to Deposits Ratio (LDR), Biaya

Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) Berpengaruh Terhadap Profitabilitas

Pada Bank Umum Konvensional di Indonesia?”


7

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dijelaskan diatas, tujuan dari

dilakukakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Non Perfoaming

Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional Pendapatan

Operasional (BOPO) terhadap profitabilitas bank umum konvensional yang

terdaftar di BEI

1.3.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang

berkepentingan, yaitu:

1. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk dapat

meningkatkan profitabilitas pada bank yang dikelola

2. Bagi Penulis

Untuk menambah pengetahuan yang lebih luas tentang pengaruh penerapan

manajemen risiko terhadap kinerja keuangan perbankan yang terdaftar di

BEI

3. Bagi Masyarakat

Bagi masyarakat untuk memberikan informasi tambahan guna membantu

dalam menilai kondisi keuangan suatu bank.


8

1.4 Sistematika Penulisan

Daftar isi yang direncanakan akan dibagi menjadi enam bab, dimana

masing-masing bab terdiri dari sub bab dan bagian-bagian bab. Adapun garis besar

sistematika penulisannya adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bab pertama merupakan bab pendahuluan sebagai dasar yang

acuan mengapa penelitian ini dilakukan.

Didalam bab ini berisikan latar belakang masalah yang

menjelaskan mengapa penulis mengangkat masalah perbandingan

profitabilitas pada perusahaan perbankan yang ada di Indonesia,

rumusan masalah yang nantinya akan dijabarkan mengenai pokok

pembahasan dalam penelitian ini, serta tujuan dan manfaat

penelitian juga akan dijabarkan pada bab ini.

BAB II : TELAAH PUSTAKA

Pada bab ini akan menjelaskan tentang teori-teori yang berkaitan

dengan bank, profitabilitas, Non Perfoaming Loan (NPL), Loan to

Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional Pendapatan Operasional

(BOPO) serta dilengkapi dengan penelitian terdahulu , hipotesis

dan kerangka pemikiran. Dengan adanya teori dan penelitian

terdahulu, maka disusunlah hipotesis.

BAB III : METODE PENELITIAN

Pada bab ini menjelaskan tentang metode penelitian diantaranya

lokasi dan objek penelitian, definisi operasional variabel, jenis dan


9

sampel penelitian, populasi dan sampel penelitian, jenis dan

sumber data, metode pengumpulan data, serta teknik analisis data.

BAB IV : GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Pada bab ini menjelaskan tentang sejarah dan gambaran umum

lainnya dari perusahaan-perusahaan perbankan yang ada di

Indonesia yang dijadikan sampel dalam penelitian ini.

BAB V : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini berisi tentang analisis pengolahan data, analisis

pengujian hipotesis yang telah dilakukan oleh peneliti dan

selanjutnya pembahasan mengenai hasil pengolahan data.

BAB VI : PENUTUP

Pada bab ini memuat kesimpulan dan saran berdasarkan dengan

penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti.


10

BAB II

TELAAH PUSTAKA

2.1 Bank

2.1.1 Pengertian Bank dan Fungsi Bank

Keberadaan lembaga perantara keuangan (financial intermediary

institution) sangat penting dalam suatu sistem perekonomian modern. Lembaga

perantara keuangan dapat dibedakan menjadi dua yaitu lembaga perantara

kauangan bank dan bukan bank.

Dalam UU No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU No.7 Tahun 1992

tentang perbankan, dijelaskan bahwa bank merupakan Badan Usaha yang

menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan

kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka

meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank juga harus terus menjaga kinerja

dan memelihara kepercayaan masyarakat mengingat tugasnya bahwa bank bekerja

dengan dana masyarakat yang disimpan pada bank atas dasar kepercayaan.

Dari pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa bank selalu berkaitan

dengan masalah keuangan, yaitu: menghimpun dana, menyalurkan dana, dan

memberikan jasa bank laiinnya. Dengan demikian bank sebagai suatu lembaga

berfungsi sebagai perantara keuangan dari dua pihak, yaitu pihak yang berlebihan

dana (surplus unit) dan pihak yang kekurangan dana (deficit unit).
11

Hal ini juga yang menyebabkan lembaga bank disebut sebagai lembaga

kepercayaan, artinya pihak yang kelebihan dana mempercayakan sepenuhnya

kepada bank untuk mengelola dananya termasuk menyalurkan kepada pihak yang

kekurangan atau memerlukan dana berupa kredit. Wujud kepercayaan tersebut

dalam bentuk tidak ikut campurnya pihak surplus ini dalam menentukan pihak

deficit mana yang layak dipercayakan (Kasmir, 2012).

Bank sebagai lembaga intermediasi keuangan, disamping tetap menjaga

kepercayaan masyarakat dengan menjamin tingkat likuiditas juga beroperasi secara

efektif dan efisien untuk mencapai tingkat rentabilitas yang memadai. Kunci dari

keberhasilan manajemen bank adalah bagaimana bank tersebut bisa merebut hati

masyarakat sehingga peranannya sebagai financial intermediary berjalan dengan

baik (Sinungan, 2000).

Menurut Sri, dkk (2000) secara umum fungsi utama bank adalah

menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali pada masyarakat

untuk berbagai tujuan atau sebagai financial intermediary. Secara lebih spesifik

fungsi bank dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Agent Of Trust

Dasar utama kegiatan perbakan adalah kepercayaan (trust)kepada

pelanggannya. Masyarakat akan percaya dan menitipkan dana kepada bank

apabila dilandasi dari kepercayaan. Kemudian dana tersebut akan dikelola oleh

bank dan tidak akan disalahgunakan. Bank tidak akan bangkrut dan setiap saat

masyarakat menarik dananya tersebut bila diambil.


12

Kemudian untuk sebaliknya, bank juga percaya kepada debitur yang tidak

akan menyalahgunakan pinjaman, debitur akan mengelola dana pinjamannya

dengan baik, dan akan membayar pada jatuh tempo.

2. Agent Of Development.

Agent of development adalah kegiatan perekonomian masyarakat di sector

moneter dan sector rill tidak bisa dipisahkan. Dalam hal ini kedua sector

tersebut berinteraksi dan saling mempengaruhi. Sector rill tidak bisa bekerja

dengan baik apabila sector moneter tidak bekerja dengan baik.

Kegiatan bank adalah penghimpunan dana penyaluran dana yang diperlukan

bagi lancarnya kerugian perekonomian di sector rill. Kegiatan ini

memungkinkan masyarakat akan melakukan kegiatas investasi, distribusi,

konsumsi barang dan jasa.

3. Agent Of Service

Selain menghimpun dana menyalurkan dana, bank juga diberikan

penawaran jasa perbankan. Jasa tersebut erat kaitannya dengan kegiatan

perekonomian masyarakat secara umum. Misalnya, yaitu jasa pengiriman uang,

pengecekan saldo, penitipan barang berharga,pemberian jaminan bank, dan

penyelesaiangan tagihan.

Ketiga fungsi bank diatas diharapkan dapat memberikan gambaran yang

menyalurkan dan lengkap mengenai fungsi bank dalam perekonomian, sehingga

bank tidak hanya dapat diartikan sebagai lembaga perantara keuangan (financial

intermediary).
13

2.1.2 Jenis Bank

Jenis atau bentuk bank bermacam – macam, tergantung pada cara

penggolongannya. Menurut Dendawijaya (2000), penggolongan bank dapat

dilakukan berdasarkan hal – hal berikut:

1. Berdasarkan formalitas undang – undang, yaitu bank dibedakan menjadi

dua jenis yakni bank umum dan bank perkreditan rakyat.

2. Berdasarkan kepemilikannya, yaitu bank digolongkan menjadi bank milik

Negara, bank milik daerah, bank swasta nasional, bank asing,dan bank

campuran.

3. Berdasarkan penekanan kegiatan usahanya, yaitu bank digolongkan

menjadi bank retail, bank korporasi, bank komersial, bank pedesaan, dan

bank pembangunan.

4. Berdasarkan pembayaran bunga atau pembagian hasil usaha, yaitu bank

digolongkan menjadi bank konvensional dan bank syariah.

2.1.3 Tugas Bank

Adapun tugas dari bank umum itu adalah:

1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro,

deposit berjangka, srtifikat deposit, tabungan, dan atau bentuk lainnya yang

dipersamakan dengan itu

2. Memberikan kredit

3. Menerbitkan surat pengakuan hutang


14

4. Membeli, menjual atau meminjam atas risiko sendiri maupun untuk

pentingan dan atas perintah nasabahnya

5. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk

kepentingan nasabah

6. Memindahkan dana pada, meminjamkan dana dari, atau meminjamkan dana

kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana tmaupun dengan

wesel unjuk, cek atau sarana lainnya.

7. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan

perhitungan dengan atau antar pihak ketiga

8. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga

Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan

satu kontrak.

2.2 Profitabilitas

2.2.1 Pengertian Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan menghasilkan laba. Pengertian laba bisa

bermacam-macam, tergantung dari kebutuhan dari pengukuran laba tersebut.

Menurut para ahli pengertian profitabilitas antara lain (skripsi sumini, 2012):

Menurut sofyan syafari harahap, 2008: profitabilitas adalah kemampuan

perusahaan menghasilkan laba yang digambarkan oleh return on investment (ROI).

(Eugene f. brigham dan joef f. Houston, 2001) profitabilitas adalah hasil bersih dari

serangkaian kebijakan dan kepuasan. Berdasarkan beberapa pengertian dari


15

beberapa ahli sebelumnya dapat disimpulkan bahwa profitabilitas adalah

kemampuan perusahaan dalam mengasilkan laba bersih.

2.2.2 Ukuran Rasio Profitabilitas

Profitabilitas merupakan tolak ukur menilai kemampuan perushaan dalam

menghasilkan keuntungan. Untuk mengukur rasio profitabilitas digunakan rasio-

rasio sebagai berikut: (Selamet Riyadi, 2006)

1. Net Profit Margin (NPM)

2. Gross Profit Margin (GPM)

3. Operating Profit Margin (OPM)

4. Operating Ratio (OR)

5. Return On Assets (ROA)

6. Return On Equity (ROE)

7. Earning Per Share (EPS)

8. Return On Investment (ROI)

Secara umum, perhitungan profitabilitas dapat dibagi kedalam tiga

kelompok, yaitu:

1. Return On Sales (ROS), yaitu tingkat profitabilitas yang dikaitkan dengan

pendapatan.

2. Return On Asset (ROA), yaitu tingkat profitabilitas yang dikaitkan dengan

penggunaan asset.

3. Return On Equity (ROE), yaitu tingkat profitabilitas yang dikaitkan dengan

modal sendiri.
16

Laba merupakan tujuan dengan alasan sebagai berikut:

1. Dengan laba yang cukup dapat dibagi keuntungan kepada pemegang saham

dan atas persetujuan pemegang saham sebagian dari laba disisihkan sebagai

cadangan.

2. Laba merupakan penilaian keterampilan pimpinan. Pimpinan bank yang

cakap dan tampil umumnya dapat mendatangkan keuntungan yang lebih

besar daripada pimpinan yang kurang cakap.

3. Meningkatkan daya tarik bagi pemilik modal (investor) untuk menanamkan

modalnya dengan membeli saham yang ditetapkan oleh bank. Pada

gilirannya bank akan mempunyai kekuatan modal untuk memperluas

penawaran produk dan jasa nya kepada masyarakat.

Profitabilitas dari bank tidak hanya penting bagi pemiliknya, tetapi juga bagi

golongan-golongan lain didalam masyarakat. Bila bank berhasil mengumpulkan

cadangan dengan memperbesar modal, akan memperoleh kesempatan

meminjamkan dengan lebih luas atau besar karena tingkat kepercayaan atau

kredibilitas meningkat.

Profitabilitas bank dapat dilihat nilai dari Return On Asset (ROA) maupun

dengan dengan rasio Return On Equity (ROE). Semakin tinggi profitabilitas, maka

semakin baik dan efisien perbankan tersebut, karena untuk memperoleh

profitabilitas yang besar diperlukan adanya aktiva produktif yang berkualitas dan

manajemen yang solid.


17

Pada penelitian ini, penilaian profitabilitas yang digunakan adalah rasio

yang digunakan penulis untuk mengukur tingkat profitabilitas bank adalah Return

On Asset (ROA). Hal ini dikarenakan Return On Asset (ROA) dapat mengukur

kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara

keseluruhan.

ROA merupakan salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk

mengukur efektivitas perusahaan didalam menghasilkan keuntungan dengan

memanfaatkan total asset yang dimilikinya. Dengan demikian ROA menunjukkan

kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba dengan seluruh jumlah

modal yang bekerja didalamnya.

Return On Asset adalah rasio profitabilitas yang menunjukkan

perbandingan antara laba (sebelum pajak) dengan total aset bank, rasio ini

menunjukkan tingkat efisiensi pengelolaan asset yang dilakukan oleh bank yang

bersangkutan (Selamet Riyadi, 2006)

Nilai Return On Asset ROA Dapat dihitung dengan menggunakan rumus

sebagai berikut:

𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘


ROA = 𝑋100%
𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡

Tabel 2.1 : Kriteria Penetapan Peringkat ROA

Peringkat Keterangan Kriteria


1 Sangat Sehat ROA > 1,5%
2 Sehat 1,25% < ROA ≤ 1,5%
3 Cukup Sehat 0,5% < R0A ≤ 1,25%
4 Kurang Sehat 0% < ROA ≤ 0,5%
5 Tidak Sehat ROA ≤ 0%
Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP Tahun 2004
18

2.3 Non Performing Loan (NPL)

Rasio kredit disebut sebagai “kredit bermasalah” (NPL) di sector perbankan.

Ini adalah fenomena normal di dunia bisnis karena salah satu kegiatan utama bank

didasarkan pada kredit. Non Performing loan (NPL) adalah ukuran bagaimana

kapasitas administrasi bank dapat diukur dalam pengelolaan pinjaman bermasalah

oleh bank.

Menurut Siamat ( dalam Hamonangan dan Siregar, 2009), “Non performing

loan atau sering disebut kredit bermasalah dapat diartikan sebagai pinjaman yang

mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor keesenjangan dan atau karena

faktor eksternal di luar kemampuan kendali debitur seperti kondisi ekonomi yang

buruk”.

Jika semakin tinggi rasio ini, maka semakin buruk kualitas kredit bank

karena semakin banyak pula jumlah kredit yang bermasalah. Semakin tinggi jumlah

kredit bermasalah juga akan membuat bank enggan memberikan kredit dalam

jumlah besar karena harus membentuk dana penghapusan atas kredit bermasalah

besar. Kredit bermasalah ini dapat diukur dari jumlah kolektibilitasnya dengan

jumah kredit bermasalah (kriterianya kurang lancer, diragukan, macet) terhadap

jumlah kredit yang telah dikeluarkan oleh bank.

Pernyataan diatas menunjukkan bahwa rasio kredit adalah masalah yang

ditimbulkan oleh bank sebagai akibat dari tidak dilunasinya pinjaman yang

diberikan oleh bank. Untuk penilaian bank, Menurut Peraturan Bank Indonesia No.

13/1/PBI/2011 besarnya Rasio Non Performing Loan (NPL) maksimum yang

ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah sebesar 5%.


19

Berikut merupakan formasi dalam menghitung Non Performing Loan

(NPL) berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia NO. 3/30/DPNP tanggal 14

Desember 2001

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ


NPL = 𝑋100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛

Tabel 2.2 : Kriteria Penetapan Peringkat NPL

Peringkat Keterangan Krtiteria


1 Sangat Sehat NPL < 2%
2 Sehat 2% ≤ NPL < 5%
3 Cukup Sehat 5% ≤ NPL < 8%
4 Kurang Sehat 8% ≤ NPL < 12%
5 Tidak Sehat NPL ≥ 12%
Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP Tahun 2004

2.4 Loan To Deposits Ratio (LDR)

Selain rasio kredit, rasio likuditas merupakan salah satu faktor yang

mempengaruhi profitabilitas bank. LDR merupakan rasio yang digunakan untuk

mengukur tingkat likuiditas, dengan cara membandingkan antara kredit yang

disalurkan dengan dana yang dihimpun dari masyarakat sehingga dapat diketahui

kemampuan bank dalam membayar kewajiban jangka pendeknya.

Menurut pedoman perhitungan rasio keuangan Bank Indonesia, kredit yang

dimaksud adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk pada

kredit yang diberikan kepada bank lain). Kemudian untuk dana pihak ketiga terdiri

dari: giro, tabungan, dan deposit. Besarnya jumlah kredit yang disalurkan akan

menentukan tingkat keuntungan bank. Jika bank tidak mampu menyalurkan kredit
20

sementara dana yang menghimpun berjumlah besar maka akan menyebabkan

kerugian pada bank (kasmir, 2008).

LDR menggambarkan kemampuan bank untuk membiayai pembayaran

setoran yang dilakukan oleh deposan dengan pinjaman yang disediakan sebagai

sumber likuiditas. LDR menunjukkan kemampuan bank untuk mengelola dana

(uang tunai) dengan aman. Oleh karena itu, untuk menjaga kondisi likuiditas bank,

manajemen bank harus mampu mengumpulkan uang sebanyak mungkin dan

mendistribusikannya sebanyak mungkin. Ini pasti akan menjadikan bank menjadi

sehat. Jika bank terus mempertahankan kondisi ini, dapat meningkatkan kinerja

keuangannya.

Besarnya Loan to Deposit Ratio menurut peraturan pemerintah maksimum

110% (Kasmir, 2012:319), sedangkan menurut Taswan (2006:161) besarnya LDR

yang dijinkan adalah berkisar 89% hingga 115%. Artinya minimum LDR adalah

89% dan maksimumnya adalah 115%.

Berikut adalah formula perhitungan LDR menurut Surat Edaran Bank

Indonesia No. 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001 yaitu:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛


LDR = 𝑋100%
𝐷𝑎𝑛𝑎 𝑃𝑖ℎ𝑎𝑘 𝐾𝑒𝑡𝑖𝑔𝑎

Tabel 2.3 : Kriteria Penetapan Peringkat Risiko Likuiditas (LDR)

Peringkat Keterangan Kriteria


1 Sangat Sehat LDR ≤ 75%
2 Sehat 75% < LDR ≤ 85%
3 Cukup Sehat 85% < LDR ≤ 100%
4 Kurang Sehat 100% < LDR ≤ 120%
5 Tidak Sehat LDR > 120%
Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP Tahun 2004
21

2.5 Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

Rasio biaya operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan

kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasionalnya. Rasio biaya

operasional pendapatan operasional (BOPO) sering disebut rasio efisiensi

digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan

biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Rasio operasional disebabkan

ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia,

kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional

perusahaan.

Rasio operasional adalah rasio akibat dari kurangnya sistem informasi atau

sistem pengawasan internal yang akan menghasilkan kerugian yang tidak

diharapkan. Rasio ini lebih dekat dengan kesalahan manusiawi (human error),

adanya ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kegagalan

sistem atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank.

Beban operasional bank merupakan semua beban yang dikeluarkan untuk

membiayaan kegiatan usaha bank tersebut. Beban operasional meliputi beban

bunga, beban kerugian komitmen dan kontijensi, beban penghapusan aktiva

produktif dan juga beban lain-lain yang berhubungan dengan kegiatan usaha bank.

Beban bunga merupakan beban yang dibayar oleh bank dan diberikan kepada

deposan ataupun kepada nasabah yang menabung dan besarnya biaya bunga

tersebut ditentukan oleh bank.

Tanpa pendapatan operasional, bank tidak akan berjalan dengan baik.

Pendapatan operasional ini akan digunakan untuk membiayai beberapa biaya


22

operasional, meningkatkan kinerja bank dan juga untuk modal. Bank tidak boleh

selamanya bergantung pada pihak ketiga. Sekalipun banyak permohonan kredit,

bank tetap harus selektif apalagi jika dana yang dimiliki bank tidak seberapa besar.

Pendapatan operasional yang didapatkan oleh bank terdiri dari semua

pendapatan dari kegiatan operasional langsung yang benar-benar sudah diterima.

Pendapatan operasional tersebut bisa berupa hasil bunga, komisi dan provisi,

pendapatan atas transaksi valuta asing dan juga pendapatan lainnya. Pendapatan

hasil bunga yang didapatkan merupakan pendapatan utama yang didapatkan dari

hasil penyaluran dana bank kepada nasabah, pendapatan penanaman modal bank

kepada nasabah.

Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur efisiensi operasi adalah

BOPO yang merupakan rasio antara biaya operasi dibagi pendapatan operasi.

Berdasarkan SEBI No. 6/23/2004, nilai maksimal BOPO adalah 94%. Jika suatu

bank atau perusahaan memiliki nilai BOPO lebih dari ketentuan yang telah

ditentukan maka perusahaan tersebut masuk dalam kategori tidak efisien, karena

semakin tunggi BOPO berarti peningkatan biaya operasionalnya semakin besar

daripada peningkatan pendapatan operasional sehingga laba yang diperoleh turun

dan ROA pun menurun.

Sesuai SEBI No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 rasio BOPO dirumuskan

sebagai berikut:

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 (𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛)𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙


BOPO = 𝑋100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙
23

Tabel 2.4 : Kriteria Penetapan Peringkat Risiko Operasional (BOPO)

Peringkat Keterangan Kriteria


1 Sangat Sehat NPM ≥ 100%
2 Sehat 81% ≤ NPM < 100%
3 Cukup Sehat 66% ≤ NPM < 81%
4 Kurang Sehat 51% ≤ NPM < 66%
5 Tidak Sehat NPM < 51%
Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP Tahun 2004

2.6 Penelitian Terdahulu

Ringkasan dari penelitian terdahulu yang memiliki pengaruh terhadap

profitabilitas perbankan disajikan pada table berikut.

Tabel 2.5 : Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti Judul Penelitian Kesimpulan


1 Jordi Suwandi, Pengaruh CAR, Hasil penelitian ini menunjukkan
Hening Widi NPL, BOPO, dan secara parsial variabel CAR
Oetomo LDR terhadap ROA berpengaruh negatif tidak
(2017) Pada BUSN Devisa signifikan terhadap ROA, NPL,
BOPO, LDR berpengaruh
negatif signifikan terhadap ROA.
Sedangkan secara simultan
semua variabel berpengaruh
terhadap ROA
2 Hamdi Struktur kepemilikan Hasil penelitian ini menunjukkan
Agustin, Sri dan kinerja bank bahwa DEVISA, EKONOMIC
Indrastuti, tidak berpengaruh terhadap
Amris Rusli ROA. DCRISIS dan COST
Tanjung dan berpengaruh negative signifikan
Muhammad terhadap ROA. Sedangkan
Said EQUITY, DEPOSIT, ASSET
(2018). berpengaruh positif signifikan
terhadap ROA.
3 Hamdi Agustin Kinerja Keuangan Hasil dari penelitian ini Pertama,
Syariah Unit pinjaman hanya kepada
Perbankan di karyawan pemerintah daerah di
Indonesia (Studi mana pegawai pemerintah sangat
Banding Bank sulit untuk berhenti. Kedua
Swasta dan Bank karena RDB menyediakan
layanan hanya untuk suatu
24

Pembangunan daerah saja, sehingga memiliki


Daerah) pengetahuan khusus tentang
daerah tersebut. Ketiga, kinerja
RDB yang diawasi oleh
pemerintah daerah Studi ini juga
menunjukkan bahwa DIBU,
DEPOSIT, LDR, CAR dan NPL
memainkan faktor penting dalam
menjelaskan kinerja unit
perbankan syariah di bank-bank
Indonesia.
4 Yeni Siti Pengaruh LDR, Hasil penelitian ini menunjukkan
Halimatus BOPO, dan NPL secara parsial variabel LDR
Sadi’yah, terhadap ROA pada memiliki dampak positif
Muhamad BUSN Devisa signifikan terhadap ROA,
Umar Mai, Terdaftar di BEI sedangkan BOPO dan NPL
Rosma Periode 2014-2018 memiliki dampak negatif
Pakpahan signifikan terhadap ROA.
(2021) Sedangkan secara simultan
semua variabel berpengaruh
terhadap ROA
5 Rahmadika Pengaruh CAR, Hasil penelitian ini menunjukkan
Dwi Junianto, NPL, LDR DAN bahwa secara parsial CAR dan
Budhi Satrio BOPO Terhadao LDR memiliki dampak negative
(2018) Profitabilitas Bank tidak signifikan terhadap ROA,
BUMN di BEI 2013- sedangkan NPL dan BOPO
2017 memiliki dampak negative
signifikan terhadap ROA.
Sedangkan secara simultan
semua variabel berpengaruh
terhadap ROA
6 Rina Haryati, Pengaruh Leverage, Hasil penelitian ini menunjukkan
Endang Tri Size, NPL, BOPO, bahwa secara parsial STDTA dan
Widyarti dan LDR terhadap NPL tidak berpengaruh
(2016) Kinerja Keuangan signifikan terhadap ROA.
Bank (Studi Pada LTDTA dan BOPO berpengaruh
Bank Umum negative signifikan ROA.
Konvensional yang Ukuran dan LDR berpengaruh
Terdaftar di Bursa positif signifikan terhadap ROA.
Efek Indonesia Sedangkan secara simultan
Periode 2010-2014) semua variabel berpengaruh
terhadap ROA
7 Dwi Priyanto Pengaruh Rasio Hasil penelitian ini menunjukkan
Agung CAR, NPL, LDR, bahwa secara parsial variabel
Raharjo, BOPO dan NIM NIM berpengaruh positif
Bambang terhadap Kinerja signifikan terhadap ROA.
25

Setiaji dan Bank Umum di Variabel NPL dan BOPO


Syamsudin Indonesia berpengaruh negatif signifikan
(2014) terhadap ROA. Variabel CAR
dan LDR berpengaruh negative
tidak signifikan terhadap ROA.
Sedangkan secara simultan
semua variabel berpengaruh
terhadap ROA
8 Aminar Sutra Pengaruh CAR, Hasil penelitian ini menunjukkan
Dewi BOPO, NPL, NIM bahwa secara parsial variabel
(2017) dan LDR terhadap CAR dan NIM berpengaruh
ROA Pada negatif tidak signifikan terhadap
Perusahaan di Sektor ROA. Variabel BOPO dan NPL
Perbankan yang berpengaruh negatif signifikan
Terdafat di BEI terhadap ROA. Variabel LDR
Periode 2012-2016 berpengaruh positif signifikan
terhadap ROA. Sedangkan
secara simultan semua variabel
berpengaruh terhadap ROA
9 Husein Fajri Pengaruh CAR, Hasil pengujian secara simultan
Muttaqin BOPO, NPL dan menunjukan bahwa variabel
(2017) LDR Terhadap ROA CAR, BOPO, NPL dan LDR
Pada Bank berpengaruh signifikan terhadap
Konvensional Di ROA pada Bank Konvensional di
Indonesia Indonesia. Hasil pengujian
(Studi Kasus pada secara parsial menunjukan
Bank Konvensional bahwa CAR tidak berpengaruh
yang Terdaftar di secara signifikan, BOPO
BEI) berpengaruh signifikan, NPL
berpengaruh tidak signifikan,
dan LDR berpengaruh signifikan
terhadap ROA Bank
Konvensional di Indonesia.

2.7 Kerangka Pikir

Berdasarkan pada tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu diatas, maka

penelitian ini akan menguji pengaruh Non Perfoaming Loan (NPL), Loan to

Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

Terhadap profitabilitas Bank Umum Konvensional yang terdaftar di Bursa Efek


26

Indonesia. Adapun variabel dependen dalam penelitian ini adalah profitabilitas

bank yang dihitung dengan return on asset (ROA) sedangkan variabel independen

menggunakan Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan

Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO). Sehingga kerangka pemikiran

tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

NPL (X1)

LDR (X2) ROA (Y)

BOPO (X3)

2.8 Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah, kajian teori dan kerangka pemikiran yang

telah dikemukakan diatas, maka hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah :

H0 : NPL, LDR, BOPO tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas

bank.

H1 : NPL, LDR, BOPO berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank.


27

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini adalah perusahaan bank umum konvensional di

Indonesia yang mempunyai laporan keuangan tahunan yang datanya dapat

diperoleh dari website [Link]

3.2 Operasional Variabel Penelitian

Variable dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu variabel

dependen (variabel terikat) dan variabel independen (variabel bebas).

Tabel 3.1 : Operasional Variabel

Variabel Pengukuran Skala


Dependen: Rasio
𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘
ROA ROA = 𝑋100%
𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡
(Y)

ROA digunakan untuk


mengukur tingkat rehabilitas
sebuah bank, yaitu tingkat
keuntungan yang dicapai oleh
sebuah bank dengan
memanfaatkan seluruh dana
yang ada.

Independen: NPL Rasio


𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ
NPL = 𝑋100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛
(X1)
28

NPL merupakan
perbandingan antara kredit
dengan kualitas kurang lancar
diragukan, dan macet dengan
total kredit yang disalurkan
bank.
LDR Rasio
LDR 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛
(X2) = 𝑋100%
𝐷𝑎𝑛𝑎 𝑃𝑖ℎ𝑎𝑘 𝐾𝑒𝑡𝑖𝑔𝑎

LDR merupakan pengukuran


dari sisi likuiditas bank
dimana memperlihatkan
perbandingan antara kredit
dengan dana pihak ketiga
dalam membayar kewajiban
jangka pendeknya
.
BOPO Rasio
BOPO 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 (𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛)𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙
(X3) = 𝑋100%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙
BOPO merupakan
kemampuan manajemen
perusahaan dalam
mengendalikan biaya
operasional terhadap
pendapatan operasional.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi adalah suatu kelompok dari elemen penelitian, di mana elemen

adalah unit terkecil yang merupakan sumber data yang diperlukan. Adapun populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh Bank Umum Konvensional yang terdaftar di

BEI selama periode 2011-2020 yaitu sebanyak 42 perusahaan.


29

3.3.2 Sampel

Sebagian dari populasi yang terpilih sebagai sumber data disebut sampel

penelitian, atau sering disebut sampel. Sampel yang baik haruslah memberikan

gambaran mengenai populasi dari sampel tersebut, maka diperlukan pengambilan

sampel yang perspekrtif sehingga sampel yang diambil dapat mewakili populasi

tersebut. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan metode

purposive sampling yaitu penarikan sampel dengan pertimbangan tertentu.

Karakteristik sampel yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah:

a. Bank Umum Konvensional yang terdaftar di BEI pada periode 2011 sampai

2020.

b. Bank yang menerbitkan laporan keuangan tahunan (annual report) secara

berkala selama periode penelitian

c. Bank yang menerbitkan data-data keuangan tentang variabel penelitian

yang terkait serta secara lengkap

Berdasarkan kriteris-kriteria tersebut, maka diperoleh sebanyak 14

perusahaan yang menjadi sampel.

3.4 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan data kuantitatif berupa data sekunder yang

merupakan data yang diperoleh dalam bentuk sudah angka (diukur dalam skala

numeric). Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder

Bank Umum Konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009 –

2019.
30

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan degan cara dokumentasi, yaitu pengumpulan

data dengan cara mencatat laporan keuangan perusahaan Bank Umum

Konvensional yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan penelitian ini

melalui internet dengan situs metode pengumpulan data.

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksud untuk

memperoleh data yang relevan dan akurat dengan masalah yang dibahas. Metode

pengumpulan data tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tinjauan Pustaka (Library Research)

Metode ini dilakukan dengan mempelajari teori-teori dan konsep-konsep

yang berhubungan dengan masalah yang diteliti penulis pada buku-buku,

makalah, dan jurnal guna memperoleh landasan teoritis yang memadai

untuk melakukan pembahasan.

2. Mengakses web dan situs-situs terkait

Metode ini digunakan untuk mecari data-data atau informasi terkait pada

website maupun situs-situs yang menyediakan informasi sehubungan

dengan pembahasan.

3.6 Teknik Analisis Data

3.6.1 Uji Asumsi Klasik

Data yang digunakan adalah data sekunder, oleh Karena itu untuk

menentukan ketepatan model perlu dilakukan pengujian atas beberapa asumsi

klasik yang digunakan yaitu: Uji Normalitas, Uji Multikolonieritas, Uji


31

Heterokedastisitas dan Autokorelasi yang secara rinci dapat dijelaskan sebagai

berikut:

[Link] Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi

variabel pengganggu dan residual memiliki distribusi normal atau tidak.

Model regresi yang baik memiliki distribusi data normal atau mendekati

normal. Untuk mendeteksi apakah variabel residual berdistribusi normal

atau tidak yaitu dengan analisis grafik.

[Link] Uji Multikolonearitas

Uji Multikolonearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model

regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).

Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara

variabel independen.

[Link] Uji Heteroskedastistas

Uji Heteroskedastistas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan cariance dari residual suatu pengamatan

ke pengamatan yang lain. Metode yang dapat dipakai untuk mendeteksi

gejala heteroskedastistas antara lain : metode grafik, park glejser, rank

spearman dan barlett

[Link] Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model

regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t

dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya).


32

3.6.2 Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah Non Perfoaming Loan

(NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional Pendapatan Operasional

mempengaruhi profitabilitas bank umum konvensional. Dalam penelitian ini,

teknik yang digunakan adalah teknik analisis regresi berganda, karena variabel

bebas dalam penelitian ini lebih dari satu. Teknik analisis regresi berganda

merupakan teknik uji yang digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel

independen terhadap variabel dependen persamaan analisis regresi berganda dapat

dirumuskan sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

Dimana:

Y = ROA pada periode t

a = konstanta Persamaan Regresi

b1, b2, b3 = Koefisien Regresi

X1 = NPL pada periode t

X2 = LDR pada periode t

X3 = BOPO pada periode t

e = Standard Error

3.6.3 Pengujian Hipotesis

Uji hipotesis digunakan untuk melihat pengaruh dari masing-masing

variabel secara individu terhadap variabel tidak bebas. Dengan kriteria pengujian:
33

a) Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak berarti tidak ada

hubungan signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen.

b) Jika t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada

hubungan signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen.

[Link] Uji kesesuaian Model (uji F)

Uji f dilakukan untuk menguji apakah model yang digunakan signifikan

atau tidak, sehingga dapat dipastikan apakah model tersebut digunakan untuk

memprediksi pengaruh variabel secara bersama-sama terhadap variabel dependen.

Pengajuan kesesuaian model ini dilakukan dengan uji F. uji F dapat

dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel, apabila nilai

F hitung lebih besar daripada nilai F tabel maka Ha akan diterima dan Ho akan

ditolak dengan kata lain model layak, demikian pula sebaliknya.

Nilai F hitung dihitung dengan rumus:

𝑅2⁄
(𝑘 − 1)
𝐹 ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 =
(1 − 𝑅2 )
⁄(𝑁 − 𝐾)

𝐸𝑆𝑆
Dimana: 𝑅2 = 𝑇𝑆𝑆

Keterangan:

R𝑅2 = Koefisien Determinasi

ESS = Explained Sum of Squared

1-𝑟 2 = Residual Sum of Squared

N = Jumlah Observasi

K = Jumlah Variabel Bebas


34

[Link] Uji Statistik t

Uji statistic t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel

independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel depen. Pengujian

secara parsial menggunakan uji t (pengujian signifikan secara parsial).

Uji statistic t hitung dirumuskan sebagai berikut:

𝑡 𝑘𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑟𝑒𝑔𝑟𝑒𝑠𝑖
ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔= 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖

Membandingkan hasil t hitung dengan t tabel dengan kriteria sebagai

berikut:

Jika t hitung > t tabel berarti H1 diterima

Jika t hitung < t tabel berarti H0 diterima

3.6.4 Koefisien Determinasi (𝑹𝟐 )

Digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel dependen

dengan variabel independen. Nilai 𝑅2 terletak antara 0 sampai dengan 1 (0 < 𝑅2 <

1). Tujuan mengitung koefisien Determinasi adalah untuk mengetahui variabel

dependen terhadap variabel independen.

Perhitungan nilai koefisien determinasi ini diformulasikan sebagai berikut:

𝐸𝑆𝑆
𝑅2 =
𝑇𝑆𝑆

𝑅2 = Koefisien determinasi majemuk (multiple coefficient of determinant), yaitu

proporsi variabel independen yang dapat dijelaskna oleh variabel dependen secara

bersama-sama.
35

Bila 𝑅2 mendekati 1 (100%), maka hasil perhitungan menunjukkan bahwa

makin baik atau makin tepat garis regresi yang diperoleh. Sebaliknya jika nilai 𝑅2

mendekati 0 maka menunjukkan semakin tidak tepat garis regresi untuk mengukur

data observasi.
36

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan

4.1.1 Bursa Efek Indonesia

Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan

tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan

kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal

mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang

dikeluarkan pemerintah.

Pada 16 Juni 1989 Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh

Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya. 13 Juli 1992

Swastanisasi BEJ. Pada 1995 Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek

Surabaya, bulan Mei 1995 Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan

dengan sistem computer JATS (Jakarta Automated Trading Systems).

10 November 1995 Pemerintah mengeluarkan Undang –Undang No. 8

Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai

Januari 1996. 2007 Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek

Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada 2 maret

2009 Peluncuran Perdana Sistem Perdagangan Baru PT Bursa Efek Indonesia.

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : “Menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia”


37

Misi : “Menciptakan daya saing untuk menarik investor dan emiten, melalui

pemberdayaan Anggota Bursa dan Partisipan, penciptaan nilai tambah, efisiensi

biaya serta penerapan good governance”.

4.2 Profil Perusahaan Sampel

4.2.1 Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk

Didirikan oleh Dana Pensiun Perkebunan (Dapenbun) pada tanggal 27

September 1989, Bank AGRO mempunyai peranan penting dan strategis dalam

perkembangan sektor agribisnis Indonesia. Pada tahun 2003, Bank AGRO menjadi

perusahaan publik berdasarkan persetujuan Bapepam-LK No. S-1565/PM/2003

tertanggal 30 Juni 2003 sehingga namanya berubah menjadi PT Bank Agroniaga

Tbk dan pada tahun yang sama mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Surabaya.

Tahun 2007, saham Bank AGRO dengan kode AGRO sudah mulai tercatat

di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 2006, Bank AGRO meningkatkan statusnya

menjadi Bank Umum Devisa berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bank

Indonesia No. 8/41/[Link]/2006 tertanggal 8 Mei 2006.

Pada tanggal 3 Maret 2011, dengan ditandatanganinya Akta Akuisisi Saham

PT Bank Agroniaga Tbk antara Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan Dapenbun di

Jakarta, Bank BRI secara resmi menjadi Pemegang Saham Pengendali pada PT

Bank Agroniaga Tbk. Tahun 2012 seiring dengan ulang tahun ke-23, Bank AGRO

berganti nama menjadi BRI AGRO (“BRI AGRO”, atau selanjutnya akan disebut

sebagai “Perseroan”).

Visi dan Misi Perusahaan:


38

Visi : “Menjadi Bank dengan layanan terbaik dan fokus di sektor Agribisnis.”

Misi :

 Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik pada segmen Usaha kecil dan

Menengah (UKM) terutama sektor agrobisnis untuk menunjang

peningkatan ekonomi masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian

lingkungan.

 Memenuhi kebutuhan layanan perbankan yang berkualitas didukung oleh

pengguna teknologi informasi yang handal dan sumber daya manusia yang

profesional serta berintegritas tinggi dalam melaksanakan Tata Kelola

Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).

 Memberikan manfaat yang optimal bagi para stakeholder.

4.2.2 Bank Harda Internasional Tbk

Berawal dengan dibentuknya Badan Hukum PT. Bank Arta Griya Tanggal

21 Oktober 1992, kemudian berubah nama pada tanggal 16 Januari 1993 menjadi

PT. Bank Harda Griya yang dikenal dengan sebutan BANK HARDA, dan resmi

beroperasi pada tanggal 10 Oktober 1994 di Jl. Pinangsia III No. 27, Jakarta.

Sejalan dengan perkembangan bisnis Bank Harda, pada tanggal 10 Desember

1996 Badan Hukum Bank Harda Griya berubah menjadi PT. Bank Harda

lnternasional.

Setelah melewati masa krisis ekonomi Asia pada tahun 1998, maka Bank BHI

melakukan konsolidasi dan dengan mengutamakan prinsip kehati-hatian sejak

tahun 2000 dengan berfokus kepada pengembangan pembiayaan UKM.


39

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : Menjadikan Bank BHI sebagai Bank yang dikenal,terpercaya dan berkualitas

dengan dukungan organisasi yang solid,sumber daya manusia yang

kompeten dan memiliki integritas tinggi serta memanfaatkan teknologi

informasi secara optimal.

Misi : Mewujudkan Bank BHI yang sehat dan stabil,mampu berkembang secara

berkesinambungan serta memberi manfaat bagi semua pihak yang

berkepentingan.

4.2.2 Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk

PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk (selanjutnya disebut “BNI” atau

“Bank”) pada awalnya didirikan di Indonesia sebagai Bank sentral dengan nama

“Bank Negara Indonesia” berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-

Undang No. 2 tahun 1946 tanggal 5 Juli 1946. Berdasarkan Peraturan Pemerintah

No. 19 tahun 1992, tanggal 29 April 1992, telah dilakukan penyesuaian bentuk

hukum BNI menjadi Perusahaan Perseroan Terbatas (Persero).

BNI merupakan Bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) pertama yang

menjadi perusahaan publik setelah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta

dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1996. Berdasarkan surat keputusan No. AHU-

AH.01.03-0776526 tanggal 14 April 2015.

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : Menjadi Lembaga Keuangan yang unggul dalam layanan dan kinerja secara

berkelanjutan.
40

Misi :

 Memberikan layanan prima dan solusi digital kepada seluruh Nasabah

selaku Mitra Bisnis pilihan utama.

 Memperkuat layanan internasional untuk mendukung kebutuhan Mitra

Bisnis Global.

 Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi Investor.

 Menciptakan kondisi terbaik bagi Karyawan sebagai tempat kebanggaan

untuk berkarya dan berprestasi.

 Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab kepada lingkungan dan

Masyarakat.

 Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik

bagi industri.

4.2.3 Bank Rakyat Indonesia

BRI telah berdiri di Indonesia pada tahun 1895. BRI berawal dengan nama

De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau “Bank

Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto”. Resminya, lembaga ini

berdiri pada tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari

kelahiran BRI hingga sekarang.

Setelah Indonesia berhasil merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dari

penjajahan Belanda dan Jepang, BRI menjadi bank pertama RI berdasarkan

peraturan pemerintah No.1 tahun 1946 Pasal 1.


41

Setelah terjadinya perjanjian Renville, bank ini yang pada saat itu masih

menggunakan nama Belanda secara resmi berganti nama menjadi Bank Rakyat

Indonesia Serikat. Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengalami perubahan lagi pada

tahun 1990an, dan berubah menjadi PT (Perseroan Terbatas) melalui UU Perbankan

No. 7 Tahun 1992. Pada awal perubahannya menjadi PT, kepemilikan BRI dikuasai

oleh Pemerintah Indonesia 100%. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia menjual

kepemilikannya sebanyak 30% dan nama resmi BRI, PT. Bank Rakyat Indonesia

(Persero) Tbk, masih digunakan hingga sekarang.

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : Menjadi The Most Valuable Banking Group di Asia Tenggara dan Champion

of Financial Inclusion

Misi :

 Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan

pelayanan kepada segmen mikro, kecil, dan menengah untuk menunjang

peningkatan ekonomi masyarakat

 memberikan pelayanan prima dengan memberikan fokus kepada nasabah

melalui sumber daya manusia yang profesional serta memiliki budaya

dengan basis kinerja (performance-driven-culture), teknologi informasi

yang handal dan future ready, dan jaringan kerja konvensional maupun

digital yang produktif. Hal ini dilakukan melalui penerapan prinsip

operational dan risk management excellence.

 memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada para pihak yang

berkepentingan (stakeholders) dengan memberikan perhatian pada prinsip


42

keuangan berkelanjutan dan praktik Good Corporate Governance yang

sangat baik.

4.2.4 Bank Mandiri (Persero) Tbk

Pada 2 Oktober 1998, Bank Mandiri resmi berdiri. Saat itu pemerintah

Republik Indonesia sedang melakukan restrukturisasi perbankan untuk

menanggulangi krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997. Empat bank lain yang

akhirnya bergabung dengan Bank Mandiri pada 31 Juli 1999, di antaranya Bank

Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank

Pembangunan Indonesia. Sebagaimana yang tercatat pada profil Bank Mandiri,

bank BUMN ini melalui beberapa kali transformasi guna menyesuaikan dengan

kebutuhan dasar masyarakat.

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : Menjadi partner finansial pilihan utama Anda

Misi : Menyediakan solusi perbankan digital yang handal dan simple yang menjadi

bagian hidup nasabah

4.2.5 Bank MNC Internasional Tbk

Bank MNC Internasional Tbk (MNC Bank) (sebelumnya bernama Bank

ICB Bumiputera Tbk) (BABP) didirikan di Indonesia dengan nama PT Bank

Bumiputera Indonesia tanggal 31 Juli 1989 dan mulai beroperasi secara komersial

pada tanggal 12 Januari 1990.

Visi dan Misi Perusahaan:


43

Visi : Menjadi Bank masa depan yang berlandaskan teknologi terkini

Misi : Menawarkan layanan keuangan kepada nasabah dengan memberikan

pengalaman perbankan yang memuaskan

4.2.6 Bank Pembangunan Daerah Banten

Pada saat didirikan, Perseroan bernama “PT Executive International Bank”

sebagaimana termaktub dalam Akta Perseroan Terbatas PT Executive International

Bank No.34 tanggal 11 September 1992. Nama Perseroan kemudian diubah

menjadi “PT Bank Eksekutif Internasional” sebagaimana termaktub dalam Akta

Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Executive International

Bank Nomor 65 tanggal 16 Januari 1996.

Nama Perseroan diubah menjadi “PT Bank Pundi Indonesia, Tbk”

sebagaimana termaktub dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang

Saham Luar Biasa Perseroan Terbatas PT Bank Eksekutif Internasional, Tbk Nomor

104 tanggal 30 Juni 2010, Perubahan Anggaran Dasar Perseroan terkait perubahan

nama, yaitu semula PT Bank Pundi Indonesia Tbk menjadi PT Bank Pembangunan

Daerah Banten Tbk, disingkat dengan Bank Banten dimuat dalam akta Nomor 36,

tanggal 14 Juni 2016

Pada 29 Juli 2016 sesuai dengan Keputusan Dewan Komisioner Otoritas

Jasa keuangan Nomor: 12/KDK.03/2016 tentang Penetapan Penggunaan Izin Usaha

Atas Nama PT. Bank Pundi Indonesia, Tbk. Menjadi Izin Usaha Atas Nama PT.

Bank Pembangunan Daerah Banten, Tbk., Perseroan resmi beroperasi dengan

menggunakan nama PT. Bank Pembangunan Daerah Banten, Tbk. Sejalan dengan
44

dilakukannya akuisisi oleh Pemerintah Provinsi Banten melalui PT. Banten Global

Development.

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : Menjadi bank yang terbaik dan mitra terpercaya

Misi :

 Mendukung program pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi dan

kemakmuran masyarakat Banten

 Memberikan layanan perbankan terbaik yang selalu berorientasi kepada

kepuasan nasabah, dan meningkatkan nilai manfaat secara

berkesinambungan bagi semua pemangku kepentingan

4.2.7 Bank CIMB Niaga Tbk

Bank Lippo didirikan pada bulan Maret 1948. Menyusul merger dengan PT

Bank Umum Asia, Bank Lippo mencatatkan sahamnya di Bursa Efek pada

November 1989. Proses merger melibatkan dua institusi perbankan terkemuka di

Indonesia yaitu Bank CIMB Niaga (selanjutnya di sebut Bank Niaga) dan Bank

Lippo, menjadi Bank CIMB Niaga.

Merger ini berawal dari kebijakan BI mengenai kepemilikan tunggal di

Indonesia, dimana pemegang saham mayoritas dari Bank Niaga maupun Bank

Lippo memilih merger sebagai opsi terbaik demi kepentingan seluruh stakeholder.

Merger ini membentuk bank keenam terbesar di Indonesia berdasarkan asset. Bagi

CIMB Group, merger ini akan memperkokoh posisi dan meningkatkan prospek

pertumbuhannya sebagai kelompok bisnis terkemuka di Asia Tenggara.


45

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : Menjadi Bank Universal paling bernilai di Asia Tenggara

Misi : Menjadi Bank terpercaya di Indonesia yang merupakan bagian dari Bank

Universal terkemuka di Asia Tenggara dengan memahami kebutuhan

pelanggan, menyediakan solusi keuangan yang tepat dan menyeluruh serta

membangun hubungan yang berkelanjutan

4.2.8 Bank Permata Tbk

Di tahun 2004, Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk

mengambil alih PermataBank dan memulai proses transformasi secara besar-

besaran didalam organisasi. Setelah melalui proses yang panjang, PermataBank

mencatat sejarah baru di bulan Mei 2020 melalui transaksi akuisisi yang dilakukan

oleh Bangkok Bank Public Company Limited ("Bangkok Bank"). Bangkok Bank

resmi menjadi pemegang saham pengendali PermataBank setelah mengambilalih

89,12% saham PermataBank dari seluruh jumlah saham yang telah ditempatkan dan

disetor oleh Standard Chartered Bank dan Astra Internasional. PT Bank Permata

Tbk memperoleh izin sebagai bank umum berdasarkan Surat Keputusan Menteri

Keuangan No. 1937/[Link] tanggal 19 Februari 1957.

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : Menjadi bank pilihan dengan terus membina kemitraan dan menciptakan nilai

bermakna bagi stakeholder.

Misi :
46

 Berperan aktif sebagai mitra di bidang keuangan dan agen pembangunan

yang efisien bagi nasabah dan masyarakat.

 Memberikan layanan keuangan menyeluruh secara sederhana, cepat, andal

dan inovatif.

 Berkomitmen untuk memberikan pengalaman unggul bagi pemangku

kepentingan dan membangun nilai positif bagi pemegang saham.

4.2.9 Bank Victoria Internasional Tbk

PT Bank Victoria International Tbk (selanjutnya disebut Bank Victoria atau

Bank) pertama kali didirikan dengan nama PT Bank Victoria berdasarkan Akta

Perseroan Terbatas No. 71 tanggal 28 Oktober 1992. Nama Bank Victoria kemudian

berubah menjadi PT Bank Victoria International berdasarkan Akta Pembetulan No.

30 pada tanggal 8 Juni 1993. Bank Victoria secara komersial memulai kegiatan

operasionalnya pada tanggal 5 Oktober 1994 setelah memperoleh izin usaha sebagai

bank umum pada tanggal 10 Agustus 1994.

Pada tahun 1997, Bank Victoria memperluas portofolio layanan dengan

memperdagangkan valuta asing setelah memperoleh izin dari Bank Indonesia.

Tahun 1999, Bank Victoria telah mencatat sahamnya di Bursa Efek Jakarta, sejak

saat itu Bank Victoria aktif melaksanakan berbagai aksi korporasi seperti

Penawaran Umum Terbatas dan menerbitkan Obligasi. Bank Victoria telah

memperoleh izin operasional sebagai Bank Devisa dan telah aktif beroperasi

sebagai Bank Devisa pada tanggal 20 Februari 2017.

Visi dan Misi Perusahaan:


47

Visi : Menjadi Bank pilihan Nasabah yang terpercaya, sehat, efisien dan

mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

Misi : Customers, People, Operations, Risk Management

4.2.10 Bank Mayapada Internasional Tbk

PT. Bank Mayapada International, Tbk dibentuk pada 7 September 1989 di

Jakarta, disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia pada 10 Januari

1990, kemudian mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 16 Maret 1990.

Sejak 23 Maret 1990 Perusahaan resmi menjadi bank umum, yang diikuti perolehan

ijin dari Bank Indonesia sebagai bank devisa pada tahun 1993. Pada tahun 1995

Bank berubah nama menjadi PT. Bank Mayapada Internasional, Tbk, setelah itu

tahun 1997 mengambil inisiatif untuk go public dan hingga sekarang dikenal

dengan nama PT. Bank Mayapada Internasional, Tbk.

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : Menjadi salah satu bank swasta berkualitas di Indonesia dalam nilai aset,

profitabilitas, dan tingkat kesehatan.

Misi : Menjalankan operasional bank yang sehat dan memberikan nilai tambah

maksimal kepada nasabah, karyawan, pemegang saham, dan pemerintah.

4.2.11 Bank Nationalnobu Tbk

PT Bank Nationalnobu Tbk (Nobu Bank) dalah Bank Umum Swasta

Nasional (BUSN) Devisa yang hadir untuk menjawab tantangan dunia perbankan

dewasa ini dalam memenuhi kebutuhan masyarakat luas yang beragam. Perseroan
48

berusaha untuk mampu mengemban kepercayaan nasabah dan masyarakat luas serta

secara aktif berkontribusi pada pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

sehingga mendorong pertumbuhan dan ketahanan perekonomian Nasional.

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : Menjadi bank dengan standar global yang dapat memberikan kontribusi

positif pada perekonomian dan perbankan Indonesia serta menjunjung

tinggi kepercayaan dan kepuasan nasabah.

Misi :

 Menjalankan fungsinya sebagai Bank dalam menghimpun dan menyalurkan

dana dengan memprioritaskan pelayanan kepada Usaha Kecil dan

Menengah (UKM) dalam menunjang pembangunan ekonomi nasional dan

membantu meningkatkan daya saing dan kompetensi dunia UKM dalam era

globalisasi.

 Memberikan pelayanan prima kepada nasabah yang didukung tenaga kerja

profesional dengan melakukan praktek tata kelola perusahaan yang baik

(Good Corporate Governance).

4.2.13 Bank OCBC NISP Tbk

Bank OCBC NISP Tbk (dahulu Bank NISP Tbk) (NISP) didirikan tanggal

04 April 1941 dengan nama NV. Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank

dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1941. Pada awal

pendiriannya, NISP beroperasi sebagai bank tabungan kemudian tanggal 20 Juli


49

1967 NISP memperoleh izin untuk beroperasi sebagai bank umum dari Menteri

Keuangan Republik Indonesia.

Visi dan Misi Perusahaan:

Visi : Menjadi mitra terpercaya untuk meningkatkan kualitas hidup

Misi :

 Memberikan solusi yang inovatif dan relevan melebihi harapan para

pemangku kepentingan.

 Membangun kolaborasi yang saling menguntungkan berlandaskan

kepercayaan dan kehati-hatian.

 Menciptakan lingkungan yang progresif dengan semangat kekeluargaan.

4.2.14 Bank Ganesha Tbk

Bank Ganesha berdiri sejak tahun 1990 dan mulai beroperasi sejak tanggal

30 April 1992. Bank Ganesha mendapat ijin usaha sebagai bank umum dari Menteri

Keuangan Republik Indonesia dalam SK No.393/KMK-013/1992 tanggal 14 April

1992, dan pada tahun 1995 status Bank Ganesha mendapatkan persetujuan menjadi

Bank Devisa.

Dalam memenuhi kebutuhan para nasabah, Bank Ganesha melayani dengan

kompetitif, penghimpunan dana masyarakat dalam bentuk deposito, giro dan

tabungan, serta menyalurkan kredit pada segmen komersial, SME dan Korporasi.

Sebagai bank devisa, Bank Ganesha juga aktif melayani transaksi ekspor dan impor,

transaksi valuta asing dan transaksi jasa perbankan lainnya.

Visi dan Misi Perusahaan:


50

Visi : menjadi bank terbaik dikelasnya dengan menyediakan produk yang handal

dan innovatif melalui pelayanan prima

Misi :

 Best : Berusaha unggul dan menjadi yang terbaik dibidangnya

 Growth : Selalu meningkatkan kompetensi dan perbaikan untuk mencapai

inovasi yang berkesinambungan

 Teamwork : Menghargai perbedaan antara tim dan memacu kinerja melalui

kerjasama tim yang solid

 Goal : Berorientasi pada tujuan bersama dan pencapaian target yang

maksimal
51

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh Non Perfoaming Loan

(NPL), Loan To Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional Pendapatan Operasional

(BOPO) terhadap profitabilitas bank (ROA) pada Bank Umum Konvensional di

Indonesia. Populasi pada penelitian ini terdiri dari seluruh perusahaan Bank Umum

Konvensional yang terdaftar di BEI dari tahun 2011 sampai tahun 2020. Dari

populasi tersebut dan beberapa kriteria yang telah ditentukan, diperolah sebanyak

14 Bank umum konvensional yang menjadi sampel. Pengambilan sampel pada

penelitian ini dilakukan secara purposive sampling dengan tujuan untuk

mendapatkan sampel yang representative sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

Pada bagian ini peneliti akan membahas mengenai data yang peneliti

peroleh yang meliputi Return On Asset (ROA), Non Perfoaming Loan (NPL), Loan

To Deposit Ratio (LDR), dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO).

5.1.1 Return On Asset (ROA)

Variabel dependen pada penelitian ini diukur dengan ROA. ROA

merupakan ukuran kemampuan dari modal yang di investasikan dalam keseluruhan

aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi semua investor. ROA dihitung dengan
52

cara membagi laba setelah pajak dengan total aktiva. Berikut ini nilai ROA Bank

Umum Konvensional tahun 2011 sampai 2020.

Tabel 5.1 : ROA Bank Umum Konvensional Tahun 2011-2020

NO NAMA TAHUN
BANK 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 AGRO 1,39 1,63 1,66 1,47 1,55 1,49 1,45 1,54 0,31 0,24
2 BBHI 1,30 1,67 1,01 0,94 (2,82) 0,53 0,69 5,06 1,87 2,04
3 BBNI 2,9 2,9 3,4 3,5 2,6 2,7 2,7 2,8 2,4 0,5
4 BBRI 4,93 5,15 5,03 4,73 4,19 3,84 3,69 3,68 3,50 1,98
5 BMRI 3,37 3,55 3,66 3,57 3,15 1,95 2,72 3,17 3,03 1,64
6 BABP (1,62) 0,09 (0,93) (0,82) 0,1 0,11 (7,47) 0,74 0,27 0,15
7 BEKS (4,75) 0,98 (1,22) (1,59) (5,29) (9,58) (1,43) (1,57) (2,09) (3,80)
8 BNGA 2,85 3,18 2,76 1,44 0,24 1,20 1,70 1,85 1,99 1,06
9 BNLI 1,7 1,7 1,55 1,16 0,2 (4,9) 0,6 0,8 1,3 1,0
10 BVIC 2,65 2,17 1,97 0,80 0,65 0,52 0,64 0,33 (0,09) 1,26
11 MAYA 1,22 2,07 2,53 1,98 2,10 2,03 1,30 0,73 0,78 0,12
12 NOBU 1,16 0,59 0,78 0,43 0,38 0,52 0,48 0,42 0,52 0,57
13 NISP 1,91 1,79 1,81 1,79 1,68 1,85 1,96 2,10 2,22 1,47
14 BGTG 0,78 0,65 0,99 0,21 0,36 1,62 1,59 0,16 0,32 0,10
RATA-RATA 1,41 2,01 1,78 1,4 0,64 0,27 1,39 1,55 1,16 0,59
Sumber: Laporan keuangan masing-masing perbankan (Annual Report)

Dari tabel diatas, diketahui nilai rata-rata ROA dari tahun 2011 sampai

tahun 2020 cukup berfluktuatif, dengan rata-rata ROA tertinggi 2,01 yang terjadi

pada tahun 2012 dan rata-rata ROA terendah sebesar 0,27% pada tahun 2016. Pada

2016 profit dari perbankan tidak terlalu besar karena bank-bank perlu

menggembungkan biaya pencadangan akibat peningkatan rasio akibat kredit

bermasalah.

5.1.2 Non Perfoaming Loan (NPL)

Non performing loan (NPL) mencerminkan rasio kredit. Semakin tinggi

rasio NPL maka semakin buruk kualitas kredit yang menyebabkan jumlah kredit

bermasalah semakin besar sehingga dalam hal ini semakin besar NPL akan
53

mengakibatkan menurunnya ROA dan jika NPL turun dan semakin kecil ROA akan

semakin meningkat dan kinerja keuangan bank semakin membaik.

Tabel 5.3 NPL Bank Umum Konvensional Tahun 2011-2020

NO NAMA TAHUN
BANK 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 AGRO 3,55 3,68 2,27 2,02 1,9 2,88 2,59 2,86 7,66 4,97
2 BBHI 1,18 3,13 1,62 3,58 7,1 2,83 3,18 4,07 10,16 2,76
3 BBNI 3,6 2,8 2,2 2 2,7 3 2,3 1,9 2,3 4,3
4 BBRI 2,3 1,78 1,55 1,69 2,02 2,03 2,1 2,14 2,62 2,94
5 BMRI 2,18 1,74 1,6 1,66 2,29 3,96 3,45 2,79 2,39 3,29
6 BABP 6,25 5,78 4,88 5,88 2,97 2,77 7,23 5,72 5,78 5,69
7 BEKS 9,12 9,95 6,75 6,94 5,94 5,71 5,37 5,9 5,01 22,27
8 BNGA 2,64 2,29 2,23 3,9 3,74 3,89 3,75 3,11 2,79 3,62
9 BNLI 2,04 1,37 1,02 1,7 2,7 8,8 4,6 4,4 2,8 2,9
10 BVIC 2,38 2,24 0,7 3,52 4,48 3,89 3,05 3,48 6,77 7,58
11 MAYA 2,51 3,02 1,04 1,46 2,52 2,11 5,65 5,54 3,85 4,09
12 NOBU 0 0 0 0 0 0,03 0,005 0,97 2,09 0,21
13 NISP 1,26 0,91 0,73 1,34 1,3 1,88 1,79 1,73 1,72 1,93
14 BGTG 1,05 1,95 1,45 4,16 1,8 0,2 0,8 0,83 1,06 2,86
RATA-RATA 2,86 2,9 2,01 2,84 2,96 3,14 3,27 3,24 4,07 4,95
Sumber: Laporan keuangan masing-masing perbankan (Annual Report)

Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat Non Perfoaming Loan (NPL) dari tahun

2011 sampai tahun 2020 setiap tahunnya berfluktuasi. Nilai NPL tertinggi pada

tahun 4,95 pada tahun 2020 dan nilai NPL terendah pada 2,01 tahun 2013.

5.1.3 Loan Deposit Ratio (LDR)

Variabel kedua yang digunakan dalam penelitian ini adalah Loan To

Deposit Ratio (LDR) yang merupakan variabel independen. Loan To Deposit Ratio

(LDR) merupakan rasio yang digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank dengan

cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga.

Semakin tinggi rasio ini, semakin rendah kemampuan risiko likuiditas bank yang
54

bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah akan

semakin besar. Hasil dari penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.3 LDR Bank Umum Konvensional Tahun 2011-2020

NO NAMA TAHUN
BANK 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 AGRO 65,79 82,48 87,11 88,49 87,15 88,25 88,33 86,75 91,59 84,76
2 BBHI 76,32 79,37 89,99 92,84 94,23 89,04 99,74 94,19 84,3 86,89
3 BBNI 70,4 77,5 85,3 87,8 87,8 90,4 85,6 88,8 91,5 87,3
4 BBRI 76,2 79,85 88,54 81,68 86,88 87,77 88,13 89,57 88,64 83,66
5 BMRI 71,65 77,66 82,97 82,02 87,05 85,86 87,16 95,46 93,93 80,84
6 BABP 84,93 79,48 80,14 80,35 72,29 77,2 78,78 88,64 89,59 77,32
7 BEKS 66,78 83,68 88,46 86,11 80,77 83,85 91,95 82,86 95,59 146,77
8 BNGA 94,41 95,04 94,49 99,46 97,98 98,38 96,24 97,18 97,64 82,91
9 BNLI 83,06 89,52 89,24 89,13 87,8 80,5 87,5 90,1 86,3 78,7
10 BVIC 63,62 67,59 73,39 70,25 70,17 68,38 70,25 73,61 74,46 75,64
11 MAYA 82,1 80,58 85,61 81,25 82,99 91,4 90,08 91,83 93,34 77,8
12 NOBU 81,33 43,46 45,72 53,99 72,53 53,02 51,57 75,35 79,1 76,31
13 NISP 87,04 86,79 92,49 93,59 98,05 89,86 93,42 93,51 94,08 72,03
14 BGTG 65,59 68,92 72,88 62,03 72,98 87,94 85,55 87,81 82,76 64
RATA-RATA 76,37 77,99 82,59 82,07 84,19 83,7 85,3 88,26 88,77 83,92
Sumber: Laporan keuangan masing-masing perbankan (annual report)

Berdasarkan tabel 5.3 terlihat nilai Loan to Deposit Ratio (LDR) setiap

tahunnya berfluktuasi. Dapat dilihat Loan to Deposit Ratio (LDR) yang tertinggi

pada tahun 88,77 pada tahun 2019 dan LDR terendah pada tahun 76,37 pada tahun

2011.

5.1.4 Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

BOPO adalah perbandingan antara Biaya Operasional dengan Pendapatan

Operasional, semakin rendah tingkat BOPO berarti semakin baik kinerja

manajemen bank tersebut, karena lebih efisien dalam menggunakan sumber daya

yang ada di perusahaan ( Selamet riyadi : 2006).


55

Bank Indonesia menetapkan angka terbaik untuk rasio Biaya

Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO) adalah di bawah 90%, karena jika

rasio Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO) melebihi 90% hingga

mendekati angka 100% maka bank tersebut dapat dikategorikan tidak efisien dalam

menjalankan operasionalnya. Tetapi jika rasio ini rendah, misalnya mendekati 75%

ini berarti tingkat kinerja bank bersangkutan menunjukkan tingkat efisiensi yang

tinggi. Hasil dari penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah:

Tabel 5.4 BOPO Bank Umum Konvensional Tahun 2011-2020

NO NAMA TAHUN
BANK 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020
1 AGRO 91,65 86,54 85,88 87,85 88,63 87,59 86,49 82,99 96,64 97,12
2 BBHI 92,7 85,37 90,66 94,35 129,9 96,37 93,84 151,1 116,8 82,23
4 9 4
3 BBNI 72,6 71 67,1 68 75,5 73,6 71 70,2 73,2 93,3
4 BBRI 66,69 59,93 60,58 65,42 67,96 68,93 69,14 68,48 70,1 81,22
5 BMRI 67,22 63,93 62,41 64,98 69,67 80,94 71,17 66,48 67,44 80,03
6 BABP 114,6 99,68 107,7 108,5 98,97 95,61 180,62 93,51 95,21 98,09
3 7 4
7 BEKS 118,6 97,77 99,39 108,3 134,1 195,7 117,66 121,9 129,2 164,9
5 7 2
8 BNGA 76,1 71,7 73,79 87,86 97,38 90,07 83,48 80,97 82,44 89,38
9 BNLI 85,42 83,1 84,99 89,8 98,9 105,8 94,8 92,5 85,7 88,8
10 BVIC 100,2 100,6 112,0
78,36 78,82 81,35 93,25 93,89 94,3 94,53 4 9 9
11 MAYA 83,38 80,19 78,58 84,5 82,65 83,08 87,2 92,61 92,16 98,41
12 NOBU 94,39 95,53 88,3 95,94 95,59 93,33 93,21 94,77 93,18 92,16
13 NISP 79,85 78,93 78,03 79,46 80,14 79,84 77,07 74,43 74,77 81,13
14 BGTG 96,34 94,36 90,82 97,39 97,51 82,36 83,81 97,57 96,69 98,4
RATA-RATA 86,99 81,91 82,11 87,54 93,63 94,82 93,14 91,99 91,02 96,94
Sumber: Laporan keuangan masing-masing perbankan (annual report)

Perusahaan Bank Umum Konvensional di Indonesia mempunyai Biaya

Operasional/Pendapatan Operasional yang berbeda-beda. Nilai BOPO tertinggi

pada tahun 2020 yaitu senilai 96,94 dan BOPO terendah pada tahun 2012 senilai

81,91.
56

5.2 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk menunjukkan jumlah data (N) yang

digunakan dalam penelitian ini serta dapat menunjukkan nilai maksimum, nilai

minimum, nilai rata-rata (mean) serta standar deviasi dari masing-masing variabel.

Pada penelitan ini dilakukan pengujian terhadap temuan-temuan empiris mengenai

pengaruh rasio keuangan yang diproksi dalam rasio Non Performing Loan (NPL),

Loan to Deposit Ratio (LDR), rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional

(BOPO), sebagai variabel Independen terhadap Return On Asset (ROA).

Tabel 5.5 : Statistik Deskriptif

Sumber: Output SPSS 2022

Berdasarkan Tabel diatas, dapat diketahui gambaran dari setiap variabel

pada penelitian ini. Pada variabel Return On Asset (ROA), nilai minimum sebesar

-2.82, nilai maksimum sebesar 5.15, nilai mean sebesar 1.4279, nilai standard

deviasi sebesar 1.46238. Pada variabel Non Performing Loan (NPL), nilai

minimum sebesar 0, nilai maksimum sebesar 10.160, nilai mean sebesar 2.92489,

nilai standard deviasi sebesar 1.938388. Pada variabel Loan to Deposit Ratio

(LDR), nilai minimum sebesar 43.46, nilai maksimum sebesar 99.74, nilai mean
57

sebesar 82.9550, nilai standard deviasi sebesar 10.79133. Pada variabel Biaya

Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), nilai minimum sebesar 59.93, nilai

maksimum sebesar 129.94, nilai mean sebesar 86.8813, nilai standard deviasi

sebesar 13.70708.

5.3 Hasil Analisis Data

Hipotesis dalam penelitian ini akan di uji menggunakan model regresi linear

berganda menggunakan SPSS 2022. Tujuannya adalah untuk memperoleh

gambaran yang menyeluruh mengenai pengaruh antara variabel dependen Return

On Asset (ROA) dan variabel independen yaitu Non Perfoaming Loan (NPL), Loan

to Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO).

Untuk mengetahui persyaratan sebagai hasil regresi yang baik maka terlebih dahulu

akan di ujikan mengenai tidak adanya pelanggaran asumsi klasik.

5.3.1 Uji Asumsi Klasik

[Link] Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji salah satu asumsi dasar analisis

regresi berganda, yaitu variabel-variabel independen dan dependen harus

berdistribusi normal atau mendekati normal (imam gozali, 2001).


58

Gambar 5.1 : Grafik Histogram Uji Normalitas

Sumber: Output SPSS 2022

Tabel 5.6 : Tabel Uji Kolmogorov-Smirnov

Sumber: Output SPSS 2022

Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa nilai signifikansinya lebih

kecil dari 0,05 yaitu, 0,000 < 0,05. Hal ini menandakan bahwa data pada penelitian

ini belum terdistribusi normal. Namun, pada penelitian dengan set data yang besar,

yakni jumlah data yang lebih dari 30, asumsi normalitas menjadi tidak terlalu
59

penting (Gujarati, 2006). Data pada penelitian ini lebih dari 30, yaitu sebanyak 132.

Sehingga asumsi normalitas pada penelitian ini tidak dipermasalahkan.

[Link] Uji Multikolineritas

Uji multikolineritas dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi

ditemukan adanya korelasi antara variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka

di namakan terdapat problem multikolinearitas. Model regresi yang baik seharusnya

tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.

Tabel 5.7 : Hasil Uji Multikolinieritas

Sumber: Output SPSS 2022

Pada tabel di atas, terlihat bahwa nilai VIF masing-masing variabel terlihat

memiliki nilai VIF <10 dan nilai tolerance > 0,1. Hal ini bisa dikatakan bahwa

model variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini tidak terjadi gejala

multikolinieritas dalam model regresi.

[Link] Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan variansi dari residual satu pengamatan ke pangamatan


60

yang lain. Jika variansi dan error bersifat konstan (tetap) atau disebut juga identic,

maka disebut homokedastisitas dan jika kondisi variansi error nya tidak identic

disebut heteroskedastisitas.

Tabel 5.8 : Hasil Uji Heteroskedastisitas

Sumber: Output SPSS 2022

Pada uji glejser, model regresi dinilai tidak mengalami heterokedastisitas

apabila probabilitas signifikansi pada variabel independen > 0,05 dan akan dinilai

mengalami heterokedastisitas apabila probabilitas signifikansi pada variabel

independen < 0,05. Berdasarkan Tabel diatas, dapat diketahui setiap variabel pada

penelitian memiliki nilai signifikansi pada variabel independen > 0,05. Sehingga

dapat disimpulkan data penelitian tidak mengalami heterokedastisitas.

[Link] Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah model regresi linear ada

korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan periode t-1

(sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamkan ada pronlem autokorelasi.


61

Autokorelasi muncul karena observasi lainnya. Model regresi linear klasik

mengasumsikan bahwa autokorelasi tidak terjadi, artinya kovariasi antara e i dengan

ej (Setiawan, 2010)

Tabel 5.9 : Hasil Uji Autokorelasi

Sumber: Output SPSS 2022

Berdasrkan Tabel diatas, nilai Durbin Watson adalah 1.802. Selanjutnya

nilai DW akan dibandingkan dengan nilai pada tabel Durbin Watson (DW). Jumlah

sampel pada penelitian ini sebanyak 132 ( n = 132 ) sampel dan variabel

independennya adalah 3 ( k = 3 ).

Berdasarkan data pada tabel DW, didapatkan nilai dL sebesar 1.6696 dan

dU sebesar 1.7624. Berdasarkan data diatas, dU < dW < 4-dU (1.7624 < 1.802 <

2.2376 ) maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi antar variabel

independen pada penelitian ini, sehingga model regresi layak digunakan.

5.3.2 Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis statistic yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi linier

berganda. Analisis ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel-

variabel bebas (independent) (X) yaitu Non Perfoaming Loan (NPL), Loan to

Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO)


62

terhadap variabel terikat (dependent) yaitu Return On Asset (ROA) (Y). Besarnya

pengaruh variabel independent (NPL, LDR, dan BOPO) dengan variabel dependent

(ROA) secara bersama-sama dapat dihitung melalui persamaan regresi linear

berganda.

Nilai koefisien regresi disini sangat menentukan sebagai dasar analisis,

mengingat penelitian ini bersifat fundamental method. Hal ini berarti jika koefisien

b bernilai positif (+) maka dapat dikatakan terjadi pengaruh searah antara variabel

independen dengan variabel dependen, setiap kenaikan nilai variabel independen

akan mengakibatkan kenaikan variabel dependen. Demikian pula sebaliknya, bila

koefisien nilai b bernilai negative (-), hal ini menunjukkan adanya pengaruh

negative fimana kenaikan nilai variabel independen akan mengakibatkan

penurunan nilai variabel dependen.

[Link] Uji T

Uji t digunakan untuk membuktikan variabel bebas terhadap variabel tidak

bebas secara individu, yaitu pengaruh Non Perfoaming Loan (NPL), Loan to

Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO)

terhadap Profitabilitas (ROA) perbankan secara parsial.

Dasar pengambilan keputusan yang digunakan adalah dengan

membandingkan nilai signifikan atau profitabilitas di bandingkan dengan nilai α

atau nilai t hitung dibandingkan dengan nilai t tabel (Ghozali,2005).

 Taraf nyata (α) yang digunakan adalah 5%

 Distribusi t dengan derajat kebebasan (α ; n-k)


63

 Kriteria pengambilan keputusan:

a. Jika sig < 0,05 maka Ha diterima, berarti variabel independen secara

parsial mempengaruhi variabel dependen

b. Jika sig > 0,05 maka Ha ditolak, berarti variabel independen secara

parsial tidak mempengaruhi variabel dependen

Berdasarkan perhutungan melalaui computer dengan menggunakan

program SPSS diperoleh hasil regresi uji t sebagai berikut:

Tabel 5.10 : Hasil Uji Regresi Linear Berganda dan Uji T

Sumber: Output SPSS 2022

Dari tabel 5.10 dapat diambil model persamaan regresi linear berganda

sebagai berikut:

𝑌 = 10.605 + 0.027𝑋1 − 0.001𝑋2 − 0.106𝑋3 + 𝑒

Dari persamaan regresi di atas maka akan menunjukkan arah hubungan

sebagai berikut:

2. Konstanta bersifat positif sebesar 10.605.

3. Non Perfoaming Loan (NPL) memiliki pengaruh positif sebesar 0.027

artinya apabila terjadi kenaikan Non Perfoaming Loan (NPL) sebesar 1%


64

maka akan menaikkan Return On Asset (ROA) sebesar 0.027%. Begitu pula

sebaliknya jika terjadi penurunan Non Perfoaming Loan (NPL) sebesar 1%

maka akan menurunkan Return On Asset (ROA) sebesar 0.027%. Dengan

asumsi nilai variabel bebas lainnya tetap.

4. Loan to Deposit Ratio (LDR) memiliki nilai negative sebesar 0.001 artinya

apabila terjadi penurunan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 1% maka

akan menaikkan Return On Asset (ROA) sebesar 0.001%. Begitupula

sebaliknya jika terjadi kenaikan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 1%

maka akan menurunkan Return On Asset (ROA) sebesar 0.001%. Dengan

asumsi nilai variabel bebas lainnya tetap.

5. Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO) memiliki nilai negative

sebesar 0.106 apabila terjadi penurunan Biaya Operasional/Pendapatan

Operasional sebesar 1% maka akan menaikkan Return On Asset (ROA)

sebesar 0.106. Begitu pula sebaliknya jika terjadi kenaikan Biaya

Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar 1% maka akan

menurunkan Return On Asset (ROA) sebesar 0.106%. Dengan asumsi nilai

variabel bebas lainnya tetap.

[Link] Uji F

Uji f digunakan untuk menguji signifikan pengaruh seluruh variabel bebas

X1,X2,X3 secara bersama sama atau simultan terhadap variabel tidak bebas Y

(Ghozali, 2004 dalam skripsi Ahmad Buyung)


65

Tabel 5.11 : Hasil Perhitungan Uji F

Sumber: Output SPSS 2022

Berdasarkan Tabel diatas diketahui nilai Fhitung untuk pengaruh Non

Perfoaming Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Biaya

Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO) secara simultan terhadap Return On

Asset (ROA) senilai 682.011 dan nilai Ftabel sebesar 2.68. Hal ini berarti Non

Perfoaming Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Biaya

Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh positif dan signifikan

secara simultan terhadap Return On Asset (ROA) karena nilai Fhitung > Ftabel,

yaitu 682.011 > 2.68.

5.3.3 Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) dimaksudkan untuk mengetahui tingkat

ketepatan paling baik dalam analisa regresi, dimana hal yang ditunjukkan oleh

besarnya koefisien determinasi (R2) antara 0 (nol) dan 1 (satu). Koefisien

determinasi (R2) nol, berarti variabel independen sama sekali tidak berpengaruh

terhadap variabel dependen. Apabila koefisien determinasi mendekati satu, maka

dapat dikatakan bahwa variabel independen berpengaruh terhadap variabel

dependen. Selain itu, koefisien determinasi (R2) dipengaruhi untuk mengetahui


66

presentase perubahan variabel tidak bebas (Y) yang disebabkan oleh variabel bebas

(X).

Tabel 5.12 : Koefisien Determinasi

Sumber: Output SPSS 2022

Pada tabel 5.12 nilai R menunjukkan korelasi ganda antara variabel

indepenen dengan variabel dependen. Dari output di atas menunjukkan bahwa nilai

R sebesar 0.970a menunjukkan korelasi sederhana antara masing-masing variabel

independen dengan variabel dependen memiliki hubungan yang kuat, disebabkan

nilai R atas 0.5 (50%) atau mendekati angka 1. Sedangkan nilai R2 adalah sebesar

0.941, artinya bahwa korelasi ganda natara variabel independen dengan variabel

dependen tersebut memiliki hubungan kuat karena angkanya diatas 0.5 (50%) atau

mendekati angka 1.

Dari tampilan output besarnya adjusted R2 adalah 0.940, hal ini berarti 94%

variasi Return On Asset (ROA) dapat dijelaskan oleh variasi ketiga variabel

independen. Sedangkan sisanya 6% dijelaskan oleh faktor diluar model.


67

5.4 Pengaruh Non Perfoaming Loan (NPL) terhadap Profitabilitas (ROA)

Hipotesis pertama yang diajukan menyatakan bahwa Non Perfoaming Loan

(NPL) berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Return On Asset (ROA). Dari

hasil penelitian diperoleh koefisien regresi sebesar 0.027 dengan nilai signifikasi

0.186, dimana nilai signifikansi lebih besar dari 0.05. Dengan demikian hipotesis

pertama yang menyatakan bahwa Non Perfoaming Loan (NPL) berpengaruh

positif signifikan terhadap Return On Asset (ROA) tidak dapat diterima.

Hasil dari koefisien regresi yang menunjukan hasil positif berarti bahwa

nilai NPL yang meningkat cenderung akan berakibat pada meningkatnya ROA.

Hasil tersebut bertolak belakang dengan teori yang ada yang menyatakan bahwa

NPL berpengaruh negitif terhadap ROA, yaitu dimana semakin tinggi nilai NPL

maka semakin rendah laba yang diterima oleh bank tersebut. Begitu juga sebaliknya

jika NPL menurun maka ROA akan semakin meningkat. NPL mencerminkan risiko

kredit, semakin kecil NPL maka semakin kecil pula risiko yang ditanggung oleh

bank.

Laba perbankan masih dapat meningkat dengan NPL yang tinggi karena

sumber laba selain dari bunga seperti fee based income relative tinggi. Selain itu

NPL bisa saja terjadi bukan karena debitur tidak sanggup membayar akan tetapi

ketatnya peraturan Bank Indonesia dalam hal penggolongan kredit yang

mengakibatkan debitur yang tadinya berada dalam kategori lancar bisa turun

menjadi kurang lancar.

Selain simpan pinjam, bank juga menyediakan layanan jasa perbankan lain

yang menghasilkan pendapatan untuk bank tersebut. Layanan jasa lain yang
68

disediakan bank antara lain membeli, menjual, atau menjamin atas risiko sendiri

maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya, seperti jual beli Surat-

surat wesel, Surat pengakuan utang dan kertas dagang lainnya, Kertas

perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah, Sertifikat Bank Indonesia

(SBI), Obligasi, Surat dagang dan instrumen surat berharga lain yang berjangka

waktu sampai dengan satu (1) tahun.

Bank juga menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat

berharga. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan

suatu kontrak. Selain itu bank melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan

memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, dan juga bertindak

sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus pensiun sesuai dengan ketentuan dalam

peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.

Dari hasil penelitian ini secara umum bisa diketahui bahwa perbankan

konvensional yang ada di Indonesia aktivitas perbankannya tidak hanya dalam

lingkup simpan pinjam tetapi sudah berkembang ke aspek-aspek lainnya selagi

kegiatan yang dilakukan oleh bank lazim dan tidak bertentangan dengan undang-

undang dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Husein Fajrin Muttaqin

(2017). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Non Perfoaming Loan (NPL)

berpengaruh positif terhadap Return On Asset (ROA)


69

5.5 Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Profitabilitas (ROA)

Hipotesis kedua yang diajukan menyatakan bahwa Loan to Deposit Ratio

(LDR) berpengaruh negative tidak signifikan terhadap Return On Asset (ROA).

Hasil penelitian diperoleh koefisien regresi sebesar -0.001 dengan nilai signifikasi

0.750, dimana nilai signifikansi lebih besar dari 0.05. Dengan demikian hipotesis

kedua yang menyatakan bahwa Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh

negative signifikan terhadap Return On Asset (ROA) tidak dapat diterima.

Hasil dari koefisien regresi yang menunjukan hasil negative berarti bahwa

nilai LDR yang meningkat cenderung akan berakibat pada penurunannya ROA.

Hasil tersebut bertolak belakang dengan teori yang ada yang menyatakan bahwa

LDR berpengaruh positif terhadap ROA, yaitu dimana semakin tinggi nilai LDR

maka semakin tinggi laba yang diterima oleh bank tersebut. Begitu juga sebaliknya

jika LDR menurun maka ROA akan semakin menurun.

LDR yang negative disebabkan karena bank yang memelihara alat likuidnya

secara berlebihan akan menimbulkan tekanan pada pendapatan bank berupa

tingginya biaya pemeliharaan kas yang menganggur sehingga bank belum efektif

dalam menyalurkan kreditnya yang berpengaruh negatif terhadap ROA.

Hasil penelitian ini sejalan dengan Randika Dwi Junianto dan Budhi Satrio

(2018). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa variabel Loan to Deposit

Ratio (LDR) berpengaruh negative tidak signifikan terhadap Return On Asset

(ROA)
70

5.6 Pengaruh Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

terhadap Profitabilitas (ROA)

Hipotesis ketiga yang diajukan menyatakan bahwa Biaya Operasional

Pendapatan Operasional berpengaruh negative signifikan terhadap Return On

Asset (ROA). Dari hasil penelitian diperoleh koefisien regresi sebesar –0.106

dengan nilai signifikasi 0.000. Dengan demikian hipotesis ketiga yang menyatakan

bahwa Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh negative

signifikan terhadap Return On Asset (ROA) dapat diterima.

Hasil dari koefisien regresi yang menunjukan hasil negative berarti bahwa

nilai BOPO yang meningkat cenderung akan berakibat pada penurunannya ROA

begitu juga sebaliknya jika BOPO menurun maka ROA akan semakin menurun.

Hasil tersebut mendukung teori yang ada yang menyatakan bahwa LDR

berpengaruh negative terhadap ROA.

BOPO yang negative ini menunjukkan semakin besar BOPO yang diperoleh

maka ROA akan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan semakin buruknya

kinerja manajemen bank dalam mengelola sumber daya yang tersedia. Semakin

banyak biaya yang dikeluarkan tanpa diimbangi dengan adanya pendapatan

operasional maka bank tidak efisien. Oleh karena itu bank harus menjaga biaya

operasional seefisien mungkin sehingga tidak mengganggu upaya bank dalam

memperoleh keuntungan.

Besarnya perbandingan biaya operasional dengan pendapatan operasioanal

disebabkan karena setiap peningkatan biaya operasional tidak dibarengi dengan


71

peningkatan pendapatan operasional sehingga berakibat pada berkurangnya laba

sebelum pajak yang pada akhirnya akan menurunkan ROA.

Bank yang mampu mengelola biaya sampai ketingkat yang paling efisien

akan mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Oleh karena itu pihak

bank harus mampu mengendalikan tingkat perbandingan biaya operasional

terhadap pendapatan operasional agar bank tetap efisien dalam mengelola biaya

operasional sehingga menghasilkan laba yang tinggi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya. Penelitian dari

Jordi Suwandi dan Hening Widi Octomo (2017), Yeni Siti Halimatus Sadi’yah,

Muhammad Umar Mai, dan Rosma Pakpahan (2021), Rahmadika Dwi Junianto dan

Budhi Satrio (2018), Rina Rahyati dan Endang Tri Widyarti (2016), Dwi Priyanto

Agung Raharjo, Bambang Setiaji dan Syamsudin (2014), Aminar Sutra Dewi

(2017), Husein Fajri Muttaqin (2017). Dimana hasil penelitian tersebut

menunjukkan bahwa variable Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)

berpengaruh negative dan signifikan terhadap Return On Asset (ROA).

5.7 Pengaruh Non Perfoaming Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR),

Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) Terhadap

Profitabilitas (ROA)

Berdasarkan hasil penelitian variable independen yaitu Non Perfoaming

Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Biaya Operasional Pendapatan

Operasional (BOPO) berpengaruh signifikan terhadap variable dependen yaitu

Return On Asset (ROA), artinya apabila terjadi perubahan naik turunnya nilai pada
72

NPL, LDR, BOPO maka akan mempengaruhi perubahan naik turunnya nilai pada

ROA.

Non Perfoaming Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Biaya

Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) merupakan variable penting yang

mempengaruhi profit suatu bank. Oleh karena itu diharapkan bank harus

memperhatikan kredit bermasalah dengan menempatkan prinsip kehati-hatian,

ketika kredit bermasalah meningkat maka presentase mengalami kerugian semakin

besar. Selain itu perusahaan juga perlu memperhatikan peningkatan dalam

menyalurkan kredit yang berasal dari dana pihak ketiga yang dapat meningkatkan

laba operasional sehingga dapat memperbaiki LDR untuk meningkatkan

profitabilitas bank. Dan juga bank dapat menekankan biaya operasional yang

dikeluarkan dan meningkatkan pendapatan agar dapat meraih nilai BOPO yang

efisien.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya. Penelitian dari

Jordi Suwandi dan Hening Widi Octomo (2017), Yeni Siti Halimatus Sadi’yah,

Muhammad Umar Mai, dan Rosma Pakpahan (2021), Rahmadika Dwi Junianto dan

Budhi Satrio (2018), Rina Rahyati dan Endang Tri Widyarti (2016), Dwi Priyanto

Agung Raharjo, Bambang Setiaji dan Syamsudin (2014), Aminar Sutra Dewi

(2017), Husein Fajri Muttaqin (2017). Dimana hasil penelitian tersebut

menunjukkan bahwa variable Non Perfoaming Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio

(LDR), dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh

signifikan terhadap Return On Asset (ROA).


73

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian dan analisis yang di kemukakan, maka secara garis besar

dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Berdasarkan Uji T menunjukkan bahwa Non Perfoaming Loan (NPL)

berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Return On Asset (ROA), Loan to

Deposit Ratio (LDR) berpengaruh negative tidak signifikan terhadap Return

On Asset (ROA), dan Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO)

berpengaruh negative signifikan terhadap Return On Asset (ROA).

2. Berdasarkan hasil Uji F maka didapatkan kesimpulan bahwa variable

independen yaitu Non Perfoaming Loan (NPL) dan Loan to Deposit Ratio

(LDR) dan Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO) secara

simultan mempengaruhi variable dependen yaitu Return On Asset (ROA).

3. Diketahui berdasarkan hasil penelitian NPL tidak berpengaruh terhadap ROA

hal ini diakibatkan karena aktivitas perbankan konvensional yang ada di

Indonesia tidak hanya fokus pada simpan pinjam mereka sudah melebarkan

aktivitas bisnisnya. Oleh karena itu diperkirakan bahwa bank tersebut masih

bisa mendapatkan keuntungan walaupun nilai NPL nya cukup tinggi. LDR

yang tidak berpengaruh terhadap ROA disebabkan karena bank yang


74

memelihara alat likuidnya secara berlebihan akan menimbulkan tekanan pada

pendapatan bank berupa tingginya biaya pemeliharaan kas yang menganggur.

6.2 Saran

Adapun saran yang dapat penulis berikan kepada peneliti mendatang

melalui hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manajemen bank sebaiknya memperhatikan pengelolaan kredit yang diberikan

kemudian dapat mengetahui apabila terjadi indikasi adanya kredit bermasalah

sehingga aktivitas bank tidak mempengaruhi profit bank.

2. Dapat mengembangkan penelitian selanjutnya mengenai variable keuangan

lainnya yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap profitabilitas bank (ROA)

selain variable-variabel yang digunakan dalam penelitian ini dan memperluas

sampel perusahaan yang mencakup semua jenis bank dengan menggunakan

metode dan data yang lebih baru.


75

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Hamdi. 2016. Financial Performance Islamic Banking Uunit In

Indonesia: A Comparative Study Private Banks And Regional Development

Banks. Department of Management, Faculty of Economic

Agustin, Hamdi, dkk. 2018. Ownership structure and bank performance. Banks and

Bank Systems, Vol. 13, Issue. 1.

Ali, M., 2006. Manajemen Risiko: Strategi Perbankan dan Dunia Usaha

Menghadapi Tantangan Globalisasi Bisnis. Jakarta: PT. Raja Grafindo

Persada.

Ariwindata, K. T. (2006). Pengaruh Risiko Kredit Terhadap Profitabilitas dengan

Kecukupan Modal sebagai Variabel Mediasi. E-Jurnal Manajemen Unud

Vol. 5. No. 4.

Bank Indonesia. 2011. Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 Tanggal 5

Januari 2012 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Jakarta:

Bank Indonesia.

Dendawijayanto, Lukman. 2009. Manajemen Perbankan (Edisi Kedua). Jakarta:

Ghalia Indonesia.

Dewi, Aminar Sutra. 2017. Pengaruh CAR, BOPO, NPL,NIM, dan LDR Terhadap

ROA Pada Perusahaan Di Sektor Perbankan Yang Terdaftar Di BEI Periode

2012-2016. Jurnal Pundi. Vol, 01 No, 03.


76

Haryati, Rina dan Endang Tri Widiyarti. 2016. Pengaruh Leverage, Size, NPL,

BOPO dan LDR. Terhadap Kinerja Keuangan Bank (Studi Pada Bank Umum

Konvensional yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2014).

Jurnal Of Management. Vol, 3 No, 3.

Irhan, F. 2012. Manajemen Pengambilan Keputusan Teori dan Aplikasi. Alfabeta:

Bandung.

Junianto, Rahmadika Dwi dan Budhi Satrio. 2018. Pengaruh CAR, NPL, LDR dan

BOPO Terhadap Profitabilitas Bank BUMN Di BEI 2013-2017. Jurnal Ilmu

dan Riset Manajemen. Vol, 7 No,11.

Kashmir.2012. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: PT. Raja Grafindo

Indonesia.

Kashmir.2014. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: PT. Raja Grafindo

Indonesia.

Muttaqin, Husein Fajri. 2017. Pengaruh CAR, BOPO, NPL dan LDR Terhadap

ROA Pada Bank Konvensional Di Indonesia (Studi Kasus Pada Bank

Konvensional Yang Terdaftar Di BEI). eJournal Administrasi Bisnis. Vol, 5

No, 4.

Peraturan Bank Indonesia No11/1/PBI/2009 tentang Bank Umum.

Peraturan Bank Indonesia No.11/25/PBI/2009 tentang perubahan atas peraturan

Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 Tentang Penerapan Manajemen Risiko

Bagi Bank Umum.


77

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.42/POJK.03/2015 Tentang Kewajiban

Pemenuhan Rasio Kecukupan Likuiditas (Liquidity Converage Ratio) Bagi

Bank Umum.

Raharjo, Dwi Priyanto Agung, dkk. Pengaruh Rasio, CAR, NPL, LDR, BOPO, dan

NIM. Terhadap Kinerja Bank Umum Di Indonesia. Jurnal Ekonomi

Manajemen Sumber Daya. Vol, 15 No. 12.

Sadi’yah, Yeni Siti Halimatus, dkk. Pengaruh LDR, BOPO, dan NPL, terhadap

ROA pada BUSN Devisa Terdaftar Di BEI Periode 2014-2018. Indonesian

Journal Of Economics And Manajement. Vol, 1 No, 2.

Surat edaran Bank Indonesia No. 13/ 24./DPNP 2011 Perihal penilaian tingkat

kesehatan bank umum.

Surat Edaran Bank Indonesia No. 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001. Perihal

laporan keuangan publikasi triwulan dan bulanan bank umum serta laporan

tertentu yang disampaikan kepada bank Indonesia.

Surat Edaran Bank Indonesia No. 3/8/DPNP Tentang Bank Umum

Suwandi, Jordi dan Hening Widi Oetomo. 2012. Pengaruh CAR, NPL, BOPO, Dan

LDR Terhadap ROA pada BUSN Devisa. Jurnal Ilmu dan Riset Manajemen.

Vol,6 No,7.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan

Atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan.

Yuliani. 2007. Hubungan Efisiensi Operasional dengan Kinerja Profitabilitas pada

Sektor Perbankan yang Go Publik di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Manajemen

& Bisnis Sriwijaya Vol. 5 No 10.


78

[Link]

[Link]

[Link]

Anda mungkin juga menyukai