0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan73 halaman

Pengaruh ROA, ROE, NPF Terhadap Capital Buffer

Skripsi ini membahas analisis pengaruh return on asset (ROA), return on equity (ROE), dan net performing financing (NPF) terhadap capital buffer dengan mempertimbangkan pengaruh variabel moderasi capital adequacy ratio (CAR) pada bank umum syariah di Indonesia periode 2015-2019.

Diunggah oleh

New York City Fc
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan73 halaman

Pengaruh ROA, ROE, NPF Terhadap Capital Buffer

Skripsi ini membahas analisis pengaruh return on asset (ROA), return on equity (ROE), dan net performing financing (NPF) terhadap capital buffer dengan mempertimbangkan pengaruh variabel moderasi capital adequacy ratio (CAR) pada bank umum syariah di Indonesia periode 2015-2019.

Diunggah oleh

New York City Fc
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS PENGARUH RETURN ON ASSET (ROA),

RETURN ON EQUITY (ROE), NET PERFORMING


FINANCING (NPF) TERHADAP CAPITAL BUFFER
DENGAN CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR) SEBAGAI
VARIABEL MODERATING PADA BANK UMUM
SYARIAH DI INDONESIA PERIODE 2015-2019

SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat-
Syarat Guna Mendapatkan Gelar Sarjana Ekonmi (S.E)
Dalam Ilmu Ekonomi Dan Bisnis Islam

Oleh:

Dwilita Suleha
1751020150
Program Studi: Perbankan Syariah

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
RADEN INTAN LAMPUNG
1442 H/ 2021 M
ANALISIS PENGARUH RETURN ON ASSET (ROA),
RETURN ON EQUITY (ROE), NET PERFORMING
FINANCING (NPF) TERHADAP CAPITAL BUFFER
DENGAN CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR) SEBAGAI
VARIABEL MODERATING PADA BANK UMUM
SYARIAH DI INDONESIA PERIODE 2015-2019

SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat-
Syarat Guna Mendapatkan Gelar Sarjana Ekonmi (S.E)
Dalam Ilmu Ekonomi Dan Bisnis Islam

Oleh:

Dwilita Suleha
1751020150
Program Studi: Perbankan Syariah

Pembimbing I: Femei Purnamasari, [Link]


Pembimbing II: Dimas Pratomo, M.E

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
RADEN INTAN LAMPUNG
1442 H/ 2021 M

ii
ABSTRAK

Perbankan sebagai financial intermediary atau perantara


keuangan dari dua pihak yaitu pihak yang kelebihan dan kekurangan
dana, mempunyai peranan serta posisi yang penting sebagai
penunjang serta motor penggerak bagi perekonomian. Salah satu
indikator bahwa bank dapat dikatakan sehat dinilai dari kecukupan
modal yang dimiliki oleh bank tersebut. Bank perlu menyediakan
kecukupan modal untuk menjaga tingkat kepercayaan nasabah
terhadap aktivitas perbankan yang bertujuan untuk memperkuat sistem
perbankan dan sebagai penyangga terhadap potensi kerugian.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh ROA, ROE, dan
NPF Terhadap Capital Buffer dengan CAR sebagai variabel
Moderating Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2015-
2019.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan
pendekatan deskriptif. Populasi penelitian ini adalah bank-bank
umum syariah yang ada di Indonesia periode 2015-2019. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik
purposive sampling. Jumlah perusahaan yang menjadi sampel dalam
penelitian ini yaitu 6 perusahaan. Data yang diolah adalah data
sekunder yang diperoleh peneliti melalui laporan keuangan tahunan
yang dipublikasikan oleh masing-masing BUS pada website resmi
BUS tersebut. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis
regresi berganda dengan bantuan program SPSS 26.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel
return on asset berpengaruh positif dan signifikan terhadap capital
buffer, sedangkan variabel return on equity dan net performing
financing berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer.
Secara simultan variabel Return on asset, return on equity, net
performing financing berpengaruh positif terhadap capital buffer.
Secara parsial variabel CAR sebagai variabel moderating
memperlemah hubungan antara variabel return on asset terhadap
capital buffer. Sedangkan variabel return on equity dan net
performing financing mampu diperkuat hubungannya terhadap capital
buffer melalui CAR.

Kata Kunci: Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE),


Capital Adequacy Ratio (CAR), Capital Buffer

iii
ABSTRACT

Banking as a financial intermediary or financial intermediary


from two parties, namely parties with excess and shortage of funds,
has an important role and position as a supporter and driving force
for the economy. One indicator that a bank can be said to be healthy
is assessed from the adequacy of capital owned by the bank. Banks
need to provide adequate capital to maintain the level of customer
confidence in banking activities aimed at strengthening the banking
system and as a buffer against potential losses. This study aims to
determine the effect of ROA, ROE, and NPF on the Capital Buffer
with CAR as a moderating variable in Islamic Commercial Banks in
Indonesia for the 2015-2019 period.
This research is a type of quantitative research with a descriptive
approach. The population of this study is Islamic commercial banks in
Indonesia for the 2015-2019 period. The sampling technique used in
this research is purposive sampling technique. The number of
companies that were sampled in this study were 6 companies. The
data processed is secondary data obtained by researchers through the
annual financial reports published by each BUS on the BUS official
website. The data analysis method used is multiple regression analysis
with the help of SPSS 26 program.
The results of this study indicate that partially the return on assets
variable has a positive and significant effect on the capital buffer,
while the return on equity and net performing financing variables
have a negative and significant effect on the capital buffer.
Simultaneously the variables Return on assets, return on equity, net
performing financing have a positive effect on the capital buffer.
Partially, the CAR variable as a moderating variable weakens the
relationship between the return on assets variable and the capital
buffer. Meanwhile, the return on equity and net performing financing
variables were able to strengthen their relationship to the capital
buffer through CAR.

Keywords: Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE),


Capital Adequacy Ratio (CAR), Capital Buffer

iv
KEMENTRIAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
Alamat: Jl. Letkol H. Endro Suratmin Sukarame 1 Telp. (0721)703289 Bandar Lampung 35131

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Dwilita Suleha


NPM : 1751020150
Jurusan/Prodi : Perbankan Syariah
Fakultas : FEBI (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam)

Menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh


Return On Aset (ROA), Return On Equity (ROE), Net
Performing Financing (NPF) terhadap Capital Buffer dengan
Capital Adequacy Ratio Sebagai Variabel Moderating Pada Bank
Umum Syariah di Indonesia Periode 2015-2019” Adalah benar-
benar merupakan hasil karya penyusun sendiri, bukan diaplikasi
ataupun sandaran dari karya orang lain kecuali pada bagian yang telah
dirujuk dan disebut dalam footnote atau daftar pustaka. Apabila dilain
waktu terbukti adanya penyimpangan dalam karya ini, maka tanggung
jawab sepenuhnya ada pada penyusun.
Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dimaklumi.

Bandar Lampung, 29 Mei 2021


Penulis

Dwilita Suleha
1751020150

v
vii
MOTTO

          

           

       

(Q.S. Luqman : 30)

―Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang


hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa
yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui
(dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada
seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

viii
PERSEMBAHAN

Alhamdulillah puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang maha


esa berkat rahmat dan karunia-Nya akhirnya saya dapat
menyelesaikan tugas akhir saya, kemudian karya tulis ini saya
persembahkan untuk :
1. Pertama, untuk kedua orangtua saya ayahanda Mustafa dan ibunda
Lenawati tercinta, terimakasih untuk jasa, pengorbanan yang telah
kalian berikan dan telah mendidik sampai sebesar ini. Semoga saya
bisa membuat kalian menjadi orang tua paling bahagia di dunia ini.
2. Kakak Perempuan Saya Bella Novia Sari dan kedua adik saya Tias
Ayu Mustanam dan M. Raply Fattir Faddilah yang selalu
mendukung dan memberi semangat untuk membahagiakan orang
tua kita.
3. Bapak Ibu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden
Intan Lampung yang selalu membimbing dan mengajarkan saya
banyak ilmu sampai skripsi ini dapat terselesaikan.
4. Sahabat-sahabat yang saya sayangi Hesti Hartati Lestari, Selvira
Yanitia, S.E, Fatchur Rohman, [Link], Utari Mega Puspita, S.E,
Muhammad Gufron, Fahmi Azis, M. Sutomo, Sidik Setiawan, dan
Firnando Prasetyo Adi Wijaya yang selalu memberikan motivasi
dan dukungan kepada penulis dalam situasi sulit sekalipun.
5. Teman-teman yang saya sayangi Qomariyatun Tsaniyah, S.E,
Khusnul Khotimah, S.E, Dewi Listiani, S.E, Fajar Maulana, S.E,
Mizwar Ilham, S.E, Rakhmah Alfisyah S.E, Dan Yusuf Al-Akhiri
S.E dan teman-teman seangkatan PS S1 Tahun 2017 kelas C yang
telah berjuang bersama dari semester awal sampai akhir yang telah
banyak membantu saya dan selalu menemani saya.
6. Untuk seseorang yang selalu membantu saya dan memberi
dukungan dalam menyelesaikan tugas akhir saya.
7. Alamameter tercintaku UIN Raden Intan Lampung yang telah
memberikan pengalaman yang berharga, semoga selalu jaya dan
dapat mencetak generasi-generasi terbaik.

ix
RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir pada tanggal 19 Agustus 1997 di Bandar


Lampung. Putri kedua dari empat bersaudara dari pasangan
Mustafa dan Lenawati. Berikut riwayat pendidikan penulis
1. Pendidikan pertama di SD Negeri 1 Tanjung Agung Kedamaian
Bandar Lampung, lulus pada tahun 2009.
2. Melanjutkan ke SMP ARJUNA Bandar Lampung, lulus pada
tahun 2012.
3. Kemudian, melanjutkan ke SMK Trisakti Bandar Lampung,
lulus pada tahun 2015.
4. Kemudian melanjutkan pendidikan S1 di UIN Raden Intan
Lampung pada tahun 2017 dengan mengambil Jurusan
Perbankan Syariah hingga saat ini.
Selama masa perkuliahan penulis aktif mengikuti bebrapa
organisasi baik intra maupun ekstra kampus. Penulis berperan
sebagai Sekretaris Koordinator bidang pengabdian masyarakat
di HMJ Prodi Perbankan Syariah UIN Raden Intan Lampung
tahun 2019-2020, Kepala Divisi Pengembangan Organisasi dan
Keanggotaan (POA) di GenBI Komisariat UIN Raden Intan
Lampung, dan sebagai BPH Divisi Public Relation di UKM-F
RISEF (Raden Intan Sharia Economic Forum) Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Islam.

x
KATA PENGANTAR

   

Puji dan syukur penulis panjatkat kehadirat Allah SWT yang


telah melimpahkan karunia-Nya berupa ilmu pengetahuan,
kesehatan dan petunjuk, sehingga skripsi dengan judul ―Analisis
Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE),
dan Net Performing Financing (NPF) Terhadap Capital Buffer
dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai variabel
Moderating Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode
2015-2019‖ dapat diselesaikan. Sholawat serta salam
disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan
pengikut- pengikutannya yang setia.
Skripsi ini ditulis sebagai salah satu persyaratan untuk
menyelesaikan studi pada program Strata Satu (S1) Jurusan
Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN
Raden Intan Lampung guna memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi (SE) dalam bidang ilmu Perbankan Syariah. Atas
bantuan semua pihak dalam proses penyelesaian skripsi ini, tak
lupa dihaturkan terima kasih sedalam-dalamnya. Secara rinci
ungkapan terima kasih itu disampaikan kepada :
1. Dr. Ruslan Abdul Ghofur, [Link], selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Intan Lampung
beserta jajarannya.
2. Erike Anggraeni, [Link]., D.B.A. selaku Ketua Jurusan
Perbankan Syariah yang senantiasa sabar salam memberi
arahan serta selalu memberi motivasi dalam penyelesaian
skripsi ini.
3. Muhammad Kurniawan, S.E., [Link] selaku Sekretaris
Jurusan Perbankan Syariah yang senantiasa sabar salam
memberi arahan serta selalu memberi motivasi dalam
penyelesaian skripsi ini.

xi
4. Femei Purnamasari, [Link] dan Dimas Pratomo, M.E. selaku
pembimbing yang telah mengarahkan penulis hingga
penulisan skripsi ini selesai, semoga barokah ilmu dan
pengetahuan yang diberikan selama ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen serta Karyawan pada Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Intan Lampung yang
telah memberikan motivasi serta memberikan ilmu yang
bermanfaat kepada penulis hingga dapat menyelesaikan
studi.
6. Kepada seluruh staf akademik dan pegawai perpustakaan
yang memberikan pelayanan yang baik dalam mendapatkan
informasi.
7. Sumber referensi data, dan lain-lain.
8. Rekan-rekan seperjuangan mahasiswa Perbankan Syariah
Angkatan 2017 khususnya kelas C yang telah bersamaan
mengukir sejarah, kenangan, dan pengalaman hingga saat ini
serta motivasi selama penulisan skripsi ini.
9. Seluruh sahabat dan semua pihak yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan,
motivasi, inspirasi, dan membantu dalam proses penulisan
skripsi ini.
Semoga Allah SWT selalu memberikan Rahmat dan
Karunia-Nya kepada Bapak, Ibu, Teman, dan Saudara
semuanya dengan amal ibadah masing-masing. Penulis
menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, akan
tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat keilmuan yang
berarti dalam bidang khazanah Ekonomi Islam bagi penulis
khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Untuk itu
kiranya pada pembaca dapat memberikan masukan, saran,
dan kritik guna melengkapi tulisan ini.
Bandar Lampung, 28 Juni 2021

Dwilita Suleha
1751020150

xii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................... i


ABSTRAK........................................................................... iii
SURAT PERNYATAAN ................................................... iv
PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................... v
LEMBAR PENGESAHAN ............................................... vi
MOTTO............................................................................... vii
PERSEMBAHAN ............................................................... viii
RIWAYAT HIDUP ............................................................ ix
KATA PENGANTAR ........................................................ x
DAFTAR ISI ....................................................................... xii
DAFTAR TABEL ............................................................... xv
DAFTAR GAMBAR .......................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN1 ................................................. 1
A. Penegasan Judul ............................................................ 1
B. Latar Belakang Masalah ................................................ 3
C. Identifikasi dan Batasan Masalah.................................. 11
D. Rumusan Masalah ......................................................... 11
E. Tujuan Penelitian .......................................................... 12
F. Manfaat Penelitian ........................................................ 12
G. Tinjauan Pustaka ........................................................... 13
H. Kerangka Teori.............................................................. 19

xiii
I. Sistematika Penulisan.................................................... 20
BAB II LANDASAN TEORI ............................................ 21
A. Bank Umum Syariah ..................................................... 21
1. Pengertian Bank Umum Syariah ............................ 21
2. Landasan Hukum ................................................... 21
3. Tujuan Bank Umum Syariah.................................. 24
4. Kegiatan bank umum syariah ................................ 25
5. Tinjauan tentang Modal dalam Bank Syariah ........ 27
6. Perhitungan kebutuhan modal minimum Bank
Syariah ................................................................... 29
7. Fungsi Modal Bank Umum Syariah ...................... 30
8. Sumber Permodalan Bank Syariah ....................... 31
9. Regulasi perbankan tentang modal ....................... 32
B. Rasio Keuangan ............................................................ 35
1. Pengertian rasio keuangan ..................................... 35
2. Tujuan dan manfaat rasio keuangan ....................... 36
3. Jenis-Jenis Rasio Keuangan ................................... 36
C. Tinjauan tentang Capital Buffer .................................... 37
1. Pengertian Capital Buffer...................................... 37
2. Pengukuran Capital Buffer.................................... 41
3. Rasio yang mempengaruhi Capital Buffer ............. 41
4. Teori yang berkaitan dengan Capital Buffer .......... 42
a. Pecking Order Theory ....................................... 42
b. Characther Order Theory ................................. 43
c. Too big too fail consensus ................................. 44

xiv
D. Pengajuan Hipotesis ....................................................... 45
BAB III METODE PENELITIAN ................................... 50
A. Waktu dan Tempat Penelitian ....................................... 50
B. Pendekatan Jenis Penelitian .......................................... 50
C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengumpulan Data ....... 50
D. Definisi Operasional Variabel ....................................... 55
E. Instrumen Penelitian...................................................... 60
F. Uji Prasarat Analisis ...................................................... 61
1. Pengertian Analisis Data .......................................... 61
2. Prasyarat Analisis Data ............................................ 62
a. Uji Asumsi Klasik ............................................. 62
b. Uji Autokorelasi ............................................... 63
c. Uji Heteroskedastisitas ..................................... 64
d. Uji Multikolinearitas ........................................ 64
G. Uji Hipotesis.................................................................. 65

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................ 69


A. Deskripsi Data ............................................................... 69
B. Pembahasan Hasil Penelitian dan Analisis ................... 71
1. Analisis Deskriptif Variabel.................................. 76
2. Uji Asumsi Klasik .................................................. 73
a. Uji Normalitas ................................................. 73
b. Uji Multikolinearitas ....................................... 76
xv
c. Uji Heteroskedastisitas.................................... 77
d. Uji Autokorelasi .............................................. 78
3. Uji Hipotesis .......................................................... 79
4. Pembahasan Penelitian .......................................... 87

BAB V PENUTUP .............................................................. 95


A. Kesimpulan ................................................................... 95
B. Saran .............................................................................. 97
DAFTAR PUSTAKA ......................................................... 99
LAMPIRAN-LAMPIRAN................................................. 104

xvi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 1.1Besaran Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi dan JUB di


Indonesia .............................................................................. 11

Tabel 1.2 Penelitian Sebelumnya ......................................... 16


Tabel 3.1 Prosedur Pemilihan Sampel ................................. 55

Tabel 3.2 Daftar Nama Sampel BUS ................................... 57

Tabel 3.3 Tabel Operasional Variabel Penelitian................. 62

Tabel 3.4 Uji Durbin Watson ............................................... 68

Tabel 4.1 Data Rasio Keuangan BUS .................................. 74

Tabel 4.2 Hasil Uji Analisis Statistik Deskriptif .................. 77

Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas-One Sample Komolgrov


Smirnov ................................................................................ 81

Tabel 4.4 Hasil Uji Multikolinearitas ................................... 82

Tabel 4.5 Hasil Uji Heteroskedastisitas-Uji Glejser ............ 84

Tabel 4.6 Hasil Uji Durbin Watson ...................................... 85

Tabel 4.7 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) .................. 86

Tabel 4.8 Hasil Uji F- Uji Simultan ..................................... 87

Tabel 4.9 Hasil Uji t-Uji Parsial ........................................... 88

Tabel 4.10 Hasil Uji Moderated Regression Analysis (MRA)


.............................................................................................. 91

xvii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka Pikir ................................................ 19


Gambar 4.1 Hasil Uji Normalitas Grafik Histogram ......... 80
Gambar 4.2 Hasil Uji Normalitas- Normal Probablitiy Plot
............................................................................................ 80
Gambar 4.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas- Grafik Scatterplot
............................................................................................ 83

xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Lampiran 1 Data Prosedur pemilihan sampel
Lampiran 2 Data Sampel BUS di Indonesia
Lampiran 3 Data Rasio Keuangan BUS di Indonesia
Lampiran 4 Analisis Statistik Deskriptif
Lampiran 5 Hasil Uji Normalitas(Kolmogorov-Smirnov) .
Lampiran 6 Hasil Uji Multikolinearitas
Lampiran 7 Hasil Uji Heteroskedastisitas (Uji Glejser)
Lampiran 8 Hasil Uji Autokorelasi (Durbin Watson)
Lampiran 9 Hasil Perhitungan (Koefisien Determinasi R2)
Lampiran 10 Hasil Uji Signifikansi (Uji T)
Lampiran 11 Hasil Uji Signifikansi (Uji F)
Lampiran 12 Hasil Uji Uji Regresi Moderating (MRA)

xix
1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Penegasan Judul
Judul skripsi ini adalah ―Analisis Pengaruh Retun On Asset
(ROA), Return On Equity (ROE), Net Performing Financing
(NPF) Terhadap Capital Buffer dengan Capital Adequacy Ratio
(CAR) Sebagai Variabel Moderating Pada Bank Umum Syariah di
Indonesia Periode 2015-2019. Untuk mengetahui lebih dalam dan
agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang skripsi ini mengenai
maksud dantujuan serta ruang lingkup, maka penulis secara singkat
akan menguraikan beberapa istilah dari judul skripai ini. Istilah-
istilah tersebut antara lain:
1. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa
(karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui
keadaan yang sebenarnya (sebab - musabab, duduk perkaranya,
dan sebagainya).1
2. Pengaruh merupakan daya yang ada atau timbul dari sesuatu
(orang atau benda) yang ikut membentuk watak kepercayaan
dan perbuatan seseorang. Berdasarkan penjelasan diatas yang
dimaksud oleh penulis mengenai sesuatu yang dapat
memberikan dampak positif ataupun negatif terhadap suatu
objek penelitian yang terdapat dalam penelitian ini.2
3. Retun On Asset (ROA) merupakan rasio profitabilitas yang
digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan seluruh asset
perusahaan.3 Dengan kata lain, ROA adalah indikator unit usaha
untuk memperoleh laba atas sejumlah asset yang dimiliki pleh
unit usaha tersebut. Rasio ini digunakan untuk mengukur
kemampuan manjemen dalam memperoleh keuntungan secara
keseluruhan.
1
Hamzah Ahmad dan Nanda Santoso, Kamus Pintar Besar Bahasa Indonesia
(Surabaya: Fajar Mulya, 1996).
2
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa, keempat (Jakarta: PT. Gramedia Utama, 2011).
3
Lawrence Gitman and Chad Zutter, ―Introduction to Managerial Finance,‖ in
Principles of Managerial Finance, 2015.
2
4. Return On Equity (ROE) merupakan rasio yang digunakan
untuk mengukur kemampuan manejemen bank dalam
memperoleh laba dengan menggunakan modal inti yang
dimiliki oleh bank tersebut. Rasio ROE banyak diamati oleh
pemegang saham (baik pemegang saham pendiri maupun
pemegang saham baru) serta para investor di pasar modal yang
ingin membeli saham bank yang bersangkutan.4
5. Net Performing Financing (NPF) adalah rasio yang digunakan
untuk mengukur resiko kegagalan dari pembiayaan, dimana
NPF adalah rasio antara pembiayaan bermasalah (yang masuk
dalam kriteria pembiayaan kurang lancar, diragukan, dan
macet). Dengan total pembiayaan yang disalurkan.5
6. Capital Buffer merupakan selisih lebih dari Capital Adequacy
Ratio (CAR) dengan CAR minimum yang telah ditetapkan
yaitu sebesar 8%. Fungsi capital buffer dalam industri
perbankan adalah untuk mengantisipasi kerugian di masa yang
akan datang.6
7. Capital Adequacy Ratio (CAR) Menurut Dendawijaya, capital
adequacy ratio adalah rasio kinerja bank untuk mengukur
kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva
yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit
yang diberikan. Semakin tinggi resiko rasio CAR maka semakin
baik kondisi suatu bank dan jika nilai CAR tinggi berarti bank
tersebut mampu membiayai kegiatan operasinya. Tingginya
CAR mengindikasikan bahwa bank tersebut mampu membiayai
kegiatan operasionalnya dan memberikan kondisi yang cukup
besar bagi profitabilitas.7

4
Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan (Bogor: Ghalia Indonesia,
2005).
5
Siti Mutamimah and Nur Zaidah Chasanah, ―ANALISIS EKSTERNAL
DAN INTERNAL DALAM MENENTUKAN NON PERFORMING FINANCING
BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA,‖ Jurnal Bisnis Dan Ekonomi (JBE) 19,
no. 1 (2012).
6
Mudarajad Kuncoro dan Suhardjono, Manajemen Perbankan (Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta, 2002
7
Kuncoro, Manajemen Perbankan, Teori Dan Aplikasi (Jakarta: PT. Indeks
Kelompok Gramedia, 2002).
3
8. Variabel Moderating menurut Sugiyono, variabel moderasi
merupakan variabel yang memperkuat atau memperlemah
hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen. Variabel moderasi merupakan tipe variabel yang
mempunyai pengaruh terhadap sifat atau arah hubungan antar
variabel. Sifat atau arah hubungan antara variabel-variabel
independen dengan variabel-variabel dependen kemungkinan
positif atau negatif dalam hal ini tergantung pada variabel
moderasi. Oleh karena itu, variabel moderasi dinamakan pula
dengan variabel contigency.8
9. Bank Umum Syariah adalah bank syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa melalui lalu lintas pembayaran
berdasarkan prinsip syariah. Bank syariah juga merefleksikan
fungsinya sebagai pengelola dan zakat, dan dana-dana amal
lainnya termasuk dana qard hasan. Sementara itu, pada aspek
pengenalan (recognition), pengukuran (measurement), dan
pencatatan (recording) setiap transaksi pada sistem akuntansi
bank syariah terdapat kesamaan dengan proses-proses yang
terjadi pada sistem perbankan konvensional.9
B. Latar Belakang Masalah
Perbankan sebagai financial intermediary atau perantara
keuangan dari dua pihak yaitu pihak yang kelebihan dan
kekurangan dana, mempunyai peranan serta posisi yang penting
sebagai penunjang serta motor penggerak bagi perekonomian,
meskipun dalam sistem perekonomian saat ini, perbankan bukan
merupakan satu-satunya sumber permodalan utama yang ada bagi
investasi nasional maupun masyarakat, tetapi sumber permodalan
perbankan peranannya masih relatif sangat besar dan dibutuhkan
bila dibandingkan dengan pasar modal maupun sumber-sumber
permodalan lainnya.
Salah satu indikator bahwa bank dapat dikatakan sehat dinilai
dari kecukupan modal yang dimiliki bank tersebut. Bank perlu

8
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif Dan R&D (Bandung:
Alfabeta, 2011).
9
M. Nur Rianto Al-Arif, Lembaga Keuangan Syariah Suatu Kajian Teoristis
Praktis (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2012).
4
menyediakan kecukupan modal untuk menjaga tingkat
kepercayaan nasabah terhadap aktivitas perbankan. Oleh karena itu
bank sentral sebagai regulator yang memiliki kewenangan terhadap
pengawasan industri perbankan mengeluarkan aturan perbankan
mengenai permodalan. Bank Indonesia dalam melaksanakan
prinsip kehati-hatian menetapkan kewajiban penyediaan modal
minimum yang harus dimiliki oleh bank. Hal tersebut bertujuan
untuk memperkuat sistem perbankan dan sebagai penyangga
terhadap potensi kerugian.10
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.3 / 1 / PBI / 2001
tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum,
setiap bank wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% dari
Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) dan memiliki rasio
kecukupan modal (CAR). Jika ketentuan ini tidak dipatuhi, maka
Bank Indonesia akan menempatkan bank tersebut di bawah
pengawasan khusus Bank Indonesia. Pada krisis terakhir,
perbankan Indonesia mengalami penurunan modal yang tajam
karena ukuran dan kualitas asetnya.
Dalam hal ini bank dengan sendirinya akan menolak untuk
melakukan ekspansi kredit dan pembiayaan, karena semakin
banyak saluran kredit dan pembiayaan maka bank menambah
modal.11 Artinya semakin besar nilai rasio kecukupan modal maka
semakin banyak bank yang dapat memberikan kredit dan
pembiayaan. Menurut Meydianawati, rasio kecukupan modal yang
lebih tinggi mencerminkan kestabilan jumlah modal dan risiko
yang dimiliki bank, sehingga memungkinkan bank untuk lebih
banyak memberikan kredit dan pembiayaan kepada masyarakat.
Dengan kata lain, hubungan antara rasio kecukupan modal dengan
kredit dan pembiayaan adalah satu arah.
Capital buffer merupakan selisih lebih dari Capital Adequacy
Ratio (CAR) atau rasio kecukupan minimum yang telah ditetapkan

10
J. Feed dan Thomas E. Copeland Weston, Manajemen Keuangan
(Jakarta: Binarupa Aksara, 2010).
11
dkk Agung, Juda, Credit Crunch Di Indonesia Setelah Krisis: Fakta
Penyebab Dan Implikasi Kebijakan (Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan
Moneter Bank Indonesia, 2001).
5
(8%). Fungsi capital buffer dalam industri perbankan adalah untuk
menganisipasi peningkatan kerugian di masa depan. Rasio ini
menunjukkan sejauh mana aset bank (kredit, investasi, surat
berharga, dan klaim bank lain) yang mengandung risiko juga
dibiayai dari dana modalnya sendiri. Selain itu, bank memperoleh
dana dari sumber selain bank, seperti dana dari masyarakat,
pinjaman, dan lain-lain. Semakin besar Capital Adequacy Ratio
(CAR) maka keuntungan bank juga semakin besar, semakin tinggi
CAR maka semakin baik kondisi bank. Dengan kata lain, semakin
kecil risiko suatu bank maka semakin besar keuntungan yang
diperoleh bank, yang artinya CAR berpengaruh positif dengan
ROA, semakin kecil CAR maka semakin kecil pula ROA yang
diperoleh bank tersebut, begitu pula sebaliknya semakin besar
CAR maka semakin besar pula ROA yang diperoleh bank
tersebut.12
Besar kecilnya CAR yang dimiliki oleh sebuah bank maka
dapat dipengaruhi oleh kinerja aspek keuangan lainnya yaitu aspek
likuiditas, aspek kualitas aktiva, aspek sensitivitas terhadap pasar,
dan aspek profitabilitas. Menurut Dendawijaya, ―Rasio yang
memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang
mengandung risiko (kredit dan pembiayaan, penyertaan, surat
berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal
sendiri bank disamping memperoleh dana dari sumber di luar bank
seperti dana dari masyarakat, pinjaman, dan lain-lain.
Menurut Jumingan, CAR dipengaruhi oleh banyak faktor
seperti rentabilitas dan likuiditas. Rasio profitabilitas merupakan
aspek untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan
keuntungan. Penilaiannya dapat dilakukan dengan menggunakan
Return On Asset (ROA). Apabila menggunakan rasio ROA maka
hubungannya dengan CAR adalah positif, karena dengan
meningkatnya ROA maka laba bank meningkat, sehingga modal
bank meningkat, dan akhirnya CAR juga meningkat.

12
Mudarajad Kuncoro dan Suhardjono, Manajemen Perbankan (Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta, 2002).
6
ROA merupakan rasio perbankan yang menilai aspek
profitabilitas yang dijadikan variabel independen yang
mempengaruhi CAR karena menurut Brigham dan Gapenski pada
penelitian Krisna perusahaan yang tingkat pengembalian
investasinya tinggi akan menggunakan hutang kecil agar tingkat
biaya modal yang mengandung risiko relatif kecil dari modal
sendiri bank relatif tinggi sehingga dapat meningkatkan CAR.
Disamping itu sesuai dengan theory packing order bahwa
keuntungan bank diutamakan untuk menambah modal bank, karena
itu semakin tinggi ROA semakin tinggi pula CAR. Sedangkan
Return on Equity (ROE) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bersih
berdasarkan modal sendiri. Adanya pertumbuhan ROE
menunjukkan prospek perusahaan yang semakin baik karena
adanya potensi peningkatan keuntungan yang diperoleh bank.
Semakin tinggi ROE menunjukkan semakin tinggi laba yang
diperoleh bank, sehingga semakin besar capital buffer yang
disediakan oleh bank untuk menjadi bantalan apabila di kemudian
hari bank mengalami kesulitan atau terjadi guncangan yang tidak
terduga. Hal ini juga sesuai dengan peraturan Basel III yang
merupakan standar global terbaru untuk pengaturan capital
adequacy dan likuiditas perbankan. Angka yang tinggi untuk
rasio ROE menunjukkan tingkat profitabilitas yang tinggi. Semakin
tinggi rasio ROE maka semakin baik pengembalian yang diperoleh
oleh bank.13
Sedangkan rasio NPF (Non Performing Financing)
menunjukkan kinerja sebuah bank dalam mengumpulkan kembali
pembiayaan yang telah disalurkan oleh bank sampai lunas, rasio
NPF sendiri merupakan rasio persentase jumlah pembiayaan
bermasalah terhadap total pembiayaan yang telah disalurkan,
semakin tinggi besaran rasio NPF yang ada pada bank maka akan
menyebabkan pengurangan terhadap kredit yang akan disalurkan
sehingga dapat menurunkan pendapatan pembiayaan bank dan
CAR akan ikut menurun. Semakin besar nilai NPF menunjukkkan

13
Gitman and Zutter, ―Introduction to Managerial Finance.‖
7
kinerja bank yang semakin buruk.14 Karena sangat pentingnya rasio
NPF bagi bank, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku Badan yang
mengatur dan mengawasi jasa keuangan termasuk perbankan di
Indonesia akan memanggil bank syariah yang memiliki rasio NPF
yang tinggi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga rasio agar tak
menyentuh angka diatas 5%. Adapun penetapan standar rasio NPF
yakni sebesar kurang dari 5%.
Countercyclical Capital Buffer (CCB) ditujukan untuk
mencegah timbulnya sistemik yang berasal dari pertumbuhan
kredit dan pembiayaan yang berlebihan dan kemampuan untuk
menyerap kerugian yang ditimbulkan.15 Pertumbuhan kredit dan
pembiayaan yang berlebihan tentu akan berdampak pada perilaku
prosiklikalitas antara pertumbuhan kredit dan pertumbuhan
ekonomi. CCB juga merupakan tambahan modal yang disyaratkan
untuk mengatasi krisis di masa yang akan datang. Artinya, tidak
semua permodalan bank digunakan secara keseluruhan untuk
operasional bank itu sendiri sehingga memerlukan rasio kecukupan
minimum CAR sebesar 8% yang wajib ada dalam bentuk
likuiditas. Bank Umum Syariah di Indonesia memiliki CAR lebih
dari 8% yang artinya Bank Umum Syariah memiliki kelebihan
untuk dapat menyalurkan modalnya kepada masyarakat dalam
bentuk pembiayaan atau yang lainnya sehingga dapat memperoleh
keuntungan yang dapat meningkatkan laba perusahaan. Kebijakan
CCB merupakan alat makroprudensial yang diusulkan oleh BCBS
dan salah satu langkah yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam
menanggulangi risiko sistemik dan krisis di masa mendatang agar
sutau saat ketika terjadinya penarikan uang dalam jumlah besar
yang dilakukan oleh nasabah dapat dibantu oleh modal penyangga
tersebut sehingga krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997-
1998 di Indonesia tidak terulang kembali. Kebijakan CCB tersebut
diharapkan mampu menekan pertumbuhan kredit pada periode
ekspansi ekonomi melalui transmisi kenaikan biaya kredit akibat

14
Muhammad, Manajemen Bank Syariah (Yogyakarta: UPP AMPYKPN,
2002).
15
Bambang dkk Pramono, ―Dampak Kebijakan Countercyclical Capital Buffer
Terhadap Pertumbuhan Kredit Di Indonesia,‖ 2015.
8
adanya kebutuhan bank untuk meningkatkan cadangan modalnya.
Indikator keberhasilan kebijakan CCB dapat dilihat dari
keberhasilan penekanan pertumbuhan kredit yang berlebihan dan
mampu mengurangi prosiklikalitas perbankan.
Adanya capital buffer ini, dapat menjadi pelindung yang dapat
menyerap berbagai risiko kerugian yang mungkin muncul dari
pertumbuhan kredit dan pembiayaan yang berlebihan maupun pada
saat periode krisis berlangsung, jika financial distress cost dari
modal yang rendah, serta biaya akses modal baru yang tinggi. Bank
dapat menahan dan menjadikan capital buffer sebagai asuransi
untuk menghindari biaya disiplin pasar (market dicipline) maupun
biaya intervensi pengawasan (supervisory intervention) jika
mereka memutuskan untuk menurunkan modal di bawah
persyaratan rasio kecukupan modal (CAR). Adanya kebijakan
capital buffer dapat memperlihatkan serta menekan laju
pertumbuhan kredit pada periode ekspansi ekonomi melalui
transmisi apabila adanya kenaikan dari biaya kredit (loanable fund)
menjadikan kebutuhan bank untuk meningkatkan cadangan
permodalannya serta sebagai antisipasi dari resiko kerugian yang
akan timbul pada saat terjadi periode krisis yang akan berdampak
langsung terhadap fungsi intermediasi perbankan. Kondisi
perbankan di Indonesia juga dipengaruhi adanya standarisasi
perbankan secara internasional yang dibuat oleh Basel Commitee
on Banking Supervision (BCBS). Basel III mewajibkan bank untuk
menambah modal sebagai bantalan resiko semua aset yang
dimiliki. Perbankan global harus mampu mengalokasikan dana
pihak ketiga (DPK) yang dimiliki sebesar 4,5%. Selain itu mereka
juga diwajibkan untuk membentuk modal penyangga (capital
buffer) sebesar 2,5% dari dana DPK yang tujuannya agar
perbankan dapat mempengaruhi opersional bisnis secara
keseluruhan. Total modal berkualitas yang harus dihimpun menjadi
7%.16 Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kebijakan CCB
dapat menahan atau mengurangi pembiayaan yang disalurkan oleh
bank, terutama pembiayaan yang bersifat tidak produktif. Hal

16
Syamsul dkk Hadi, Kudeta Putih Reformasi Dan Pelembagaan Kepentingan
Asing Dalam Ekonomi Indonesia (Handbook, 2012).
9
tersebut sesuai dengan meningkatkannya rasio capital buffer yang
terus meningkat dari tahun ke tahun diiringi dengan pertumbuhan
pembiayaan yang meningkat pula. Artinya bank akan tetap
mendapatkan keuntungan dari pembiayaan yang disalurkan dengan
menahan modalnya melalui jumlah ketetapan rasio CAR.
Seperti yang terjadi pada PT. Bnak Muamalat Indonesia Tbk
yang dilansir dari [Link]. PT. Bank Muamalat Indonesia
Tbk yang saat ini masih membutuhkan suntikan dana untuk tetap
menyelamatkan bank tersebut dari kebangkrutan. Permasalahan
yang dialami PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk sejak tahun 2015
timbul karena kesalahan dalam menjalankan strategi bisnis
perusahaan. Bank muamalat dinilai terlalu fokus pada pendanaan
korporasi, kurangnya prinsip kehati-hatian pada bank tersebut yang
mengakibatkan banyaknya pembiayaan bermasalah (net
performing financing/NPF) pada bank syariah pertama di
Indonesia meningkat tajam mencapai diatas 5%, lebih tinggi dari
batas maksimal ketentuan regulator. Ketika bank melebihi batas
tersebut, bias jadi Bank tersebut terancam mengalami kebagkrutan
(kolaps).
Kinerja pembiayaan juga bergantung pada faktor
makroekonomi umum seperti inflasi dan fluktuasi nilai tukar. Di
sisi lain, faktor pertumbuhan ekonomi biasanya mempengaruhi
kebijakan alokasi kredit dan pembiayaan bank pada sektor tertentu
sehingga mempengaruhi konsentrasi risiko kredit dan pembiayaan
yang diberikan oleh industri tertentu. Secara keseluruhan,
pertumbuhan ekonomi dan kondisi perbankan Indonesia secara
keseluruhan semakin membaik. Lembaga keuangan, khususnya
bank, harus terus berperan sebagai perantara untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi. Namun, kebijakan moneter dan kondisi
perbankan yang berhati-hati tersebut belum diiringi dengan
pertumbuhan kredit dan pembiayaan yang diberikan oleh
perbankan.
Inflasi yang tinggi akan mendorong perkembangan ekonomi.
Kenaikan biaya yang terus menerus telah menyebabkan kegiatan
produksi yang sangat tidak menguntungkan. Oleh karena itu,
pemilik modal umumnya cenderung menggunakan dananya untuk
10
tujuan spekulatif. Investasi produktif akan menurun, dan laju
inflasi kegiatan ekonomi akan menurun. Akibatnya akan semakin
banyak pengangguran. Untuk itu adanya capital buffer ini, dapat
menjadi pelindung yang dapat menyerap berbagai risiko kerugian
yang mungkin muncul dari pertumbuhan kredit dan pembiayaan
yang berlebihan maupun pada saat periode krisis berlangsung.
Menurut Tajur Khalwaty, inflasi dapat dikendalikan oleh
kebijakan suku bunga.17 Ketika jumlah mata uang yang beredar di
masyarakat meningkat, bank umum akan menaikkan suku bunga
simpanan untuk mendorong investor meningkatkan investasi
(modalnya) ke bank dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi
daripada modal yang ditanamkan pada sektor produksi dengan
tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Risiko agar inflasi bisa
dikendalikan. Kenaikan jumlah uang beredar menyebabkan jumlah
DPK yang dihimpun mengalami peningkatan. Jumlah uang beredar
adalah nilai keseluruhan uang yang berada di masyarakat. Jumlah
uang yang beredar dalam arti sempit adalah jumlah uang yang
beredar yang terdiri atas uang kartal dan uang giral. Pada saat
tingkat inflasi turun, suku bunga Bank Indonesia akan ikut turun.
Turunnya tingkat suku bunga Bank Indonesia akan menurunkan
suku bunga kredit dan suku bunga deposito, turunnya suku bunga
kredit berdampak pada peningkatan jumlah uang beredar di
masyarakat karena meningkatkan minat masyarakat untuk
meminjam dana sehingga akan menggerakkan aktivitas
perekonomian negara.

17
Tajul Khalwaty, Inflasi Dan Solusinya (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2000).
11
Tabel 1.1
Besaran Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Di Indonesia
Keteranga 2015 2016 2017 2018 2019
n
Inflasi
3,35 3,02 3,61 3,13 2,7
% 2
Pertumbuha
n Ekonomi 5,2 5,5 5,07 5,17 5,02
%
JUB 1.055.44 1.237.64 1.390.80 1.457.15 1.565.
(M1) 0 3 7 0 358
Miliar
Rupiah
Sumber: BPS, Diolah Pusat Data Dan Sistem Informasi, Kementrian
Perdagangan
Pada tabel 1 di atas dapat terlihat besaran inflasi di Indonesia
mengalami kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun dan
mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2019 sebesar
0,41% yaitu sebesar 2,72% dimana diimbangi dengan penuruan
pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada tahun yang sama yaitu
pada tahun 2019 sebesar 0,15% yakni sebesar 5,02% yang artinya
tingkat inflasi yang terjadi di Indonesia memiliki pengaruh dengan
pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi juga
mengalami kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun dan
mengalami penurunan paling rendah di tahun 2019 yaitu sebesar
5,02% disertai dengan penurunan inflasi yang terjadi pada tahun
2019 sebesar 0,41% yakni sebesar 2,72%, hal ini menunjukkan
bahwa turunnya laju inflasi membawa dampak positif terhadap
pertumbuhan ekonomi karena jika pertumbuhan ekonomi menurun
maka peningkatan produksi dapat memberikan dampak negatif
lain seperti meningkatnya pengangguran karena lapangan
pekerjaan yang tersedia sedikit. Sedangkan jumlah uang yang
beredar mengalami kenaikan dari tahun ketahun. Ketika jumlah
uang yang beredar di masyarakat meningkat, bank umum akan
12
menaikkan suku bunga simpanan untuk mendorong investor
meningkatkan investasi (modalnya) ke bank dengan tingkat
pengembalian yang lebih tinggi daripada modal yang ditanamkan
pada sektor produksi dengan tingkat produktivitas yang lebih
tinggi. Dengan hal tersebut dimaksudkan agar inflasi dapat
dikendalikan. Berdasarkan hal tersebut, kebijakan Countercyclical
Capital Buffer efektif untuk diterapkan di Indonesia karena tidak
memiliki efek negatif terhadap pertumbuhan ekonomi maupun
pertumbuhan pembiayaan di Indonesia. Sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Drehman dan Gambacorta menunjukkan
bahwa penambahan buffer CCB dapat mengurangi pertumbuhan
kredit pada saat credit booms dan mengurangi kontraksi kredit
pada saat CCB buffer dilepaskan khususnya di Spanyol.18
Dari fenomena research gap dan adanya temuan dari penelitian
terdahulu, adapun beda penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya diantaranya adalah: CAR sebagai variabel moderating
untuk melihat besarnya nilai Capital Buffer yang diperoleh Bank
Umum Syariah selama periode penelitian; tahun penelitian yang
digunakan periode tahun 2015-2019; serta teknik analisis yang
digunakan adalah MRA (Moderating Regrression Analysis).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk
meneliti ke dalam bentuk penelitian skripsi yang berjudul
“Analisis Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On Equity
(ROE), Net Performing Financing (NPF) Terhadap Capital
Buffer dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) Sebagai Variabel
Moderating Pada Bank Umum Syariah di Indonesia 2015-
2019” untuk meneliti bagaimana pengaruh Return On Asset
(ROA), Return On Equity (ROE), Net Performing Financing
(NPF) Terhadap Capital Buffer dengan Capital Adequacy Ratio
(CAR) Sebagai Variabel Moderating Pada Perbankan di Indonesia
mampu mempengaruhi Capital Buffer di Indonesia.

18
Mathias Drehmann and Leonardo Gambacorta, ―The Effects of
Countercyclical Capital Buffers on Bank Lending,‖ Applied Economics Letters 19, no.
7 (2012), [Link]
13
C. Identifikasi dan Batasan Masalah
Berdasarkan pemaparan yang ada di latar belakang, terdapat
beberapa point yang akan menjadi topik pembahasan oleh penulis
sesuai dengan permasalahan yang ada. Adapun identifikasi dalam
penelitian skripsi ini sebagai berikut:
1. Laporan Tahunan Bank Indonesia
2. Laporan Keuangan Bank Umum Syariah Indonesia Pada Periode
2015-2019.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka Rumusan
Masalah yang akan menjadi pembahasan dalam penelitian ini yaitu:
1. Apakah Retun On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net
Performing Financing (NPF) berpengaruh terhadap Capital
Buffer pada Bank Umum Syarah di Indonesia secara Parsial?
2. Apakah Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net
Performing Financing (NPF) berpengaruh terhadap terhadap
Capital Buffer pada Bank Umum Syariah di Indonesia secara
Simultan?
3. Bagaimana Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On
Equity (ROE), Net Performing Financing (NPF) melalui
Capital Adequacy Ratio (CAR) Sebagai Variabel Moderating
terhadap Capital Buffer pada Bank Umum Syariah di
Indonesia?
E. Tujuan Penelitian
Pada umumnya suatu penelitian bertujuan untuk menemukan,
menuji, dan mengembangkan suatu pengetahuan. Berdasarkan
uraian rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis Apakah Retun On Asset (ROA), Return
On Equity (ROE), Net Performing Financing (NPF)
berpengaruh terhadap Capital Buffer pada Bank Umum
Syariah di Indonesia secara Parsial
2. Untuk Mengetahui Apakah Return On Asset (ROA), Return On
Equity (ROE), Net Performing Financing (NPF) berpengaruh
terhadap terhadap Capital Buffer pada Bank Umum Syariah di
Indonesia secara Simultan
14
3. Untuk Mengetahui Bagaimana Pengaruh Return On Asset
(ROA), Return On Equity (ROE), Net Performing Financing
(NPF) melalui Capital Adequacy Ratio (CAR) Sebagai
Variabel Moderating terhadap Capital Buffer pada Bank
Umum Syariah di Indonesia
F. Manfaat Penelitian
Hal terpenting dalam sebuah penelitian adalah manfaat yang
dapat dirasakan atau diterapkan setelah terungkapnya hasil dari
penelitian tersebut. Dari penelitian ini diharapkan mampu
memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangsih untuk
memperkaya khazanah ilmu pengetahuan
b.
Menambah data atau menjadi referensi bagi kalangan
akademis dan non akademis
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan
Lampung, diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai
tambahan referensi bacaan bagi mahasiswa.
b. Untuk Pemerintah, penelitian ini diharapkan mampu menjadi
acuan dalam penerapan kebijakan makroprudensial berkaitan
dengan penanganan risiko terhadap modal pada ekonomi riil
Indonesia baik jangka pendek, menengah maupun jangka
panjang.
c. Bagi lembaga perbankan diharapkan mampu memberi
intruksi seberapa efektif penerapan kebijakan
makroprudensial (capital buffer) terhadap ekonomi riil
Indonesia.
d. Bagi pelaku industri, penelitian ini dapat meminimalisir
risiko yang ditanggung pada saat terjadi krisis ekonomi dan
pengambilan keputusan pengambilan kredit.
e. Bagi akademisi, penelitian ini menambah wawasan keilmuan
mengenai instrumen terbaru makroprudensial berkaitan
dengan penanganan risiko modal terhadap stabilitas
makroekonomi Indonesia.
15
f. Bagi peneliti, penelitian ini menambah wawasan keilmuan
dalam bidang makroprudensial, moneter, dan stabilitas
makroekonomi Indonesia. Selain itu, karya tulis ilmiah ini
memberikan konsep pemikiran peneliti dapat bermanfaat
bagi ilmu pengetahuan khususnya bidang ekonomi.
G. Tinjauan Pustaka
Tinjauan Pustaka ini bermaksud untuk mengetahui apakah ada
penelitian atau kajian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian
ini. Ada beberapa penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan
penelitian ini.
14
Tabel 1.2
Penelitian Sebelumnya

Judul
No. Peneliti Penerbit Metode Hasil Penelitian
Penelitian

1. Agustinus Determinant’s University Multiple Berdasarkan analisis pada aset perbankan, mengindikasikan bahwa
Prasetyan toko, of Capital Library of Liniear untuk bank kecil, capital buffer diperngaruhi secara positif oleh
Wahyoe Buffer Banking Mnich, Regression biaya ekuitas (cost of equity), non interest income, control of
Soedamono in Indonesia Germany coruption, dan government intervention meningkat. Sedangkan,
(2010) capaital buffer akan dikurangi jika the size of assets, ex- post credit
risk, financing from the financial markets, credit growth, economic
growth, dan the rule of the law meningkat.

2. Vebian Indriati, Analisis Jurnal Ilmu Analisis Secara simultan variabel DPK, SBK, dan NPL berpengaruh
Idah Zuhroh, Penyaluan Ekonomi Data Panel terhadap penyaluran kredit modal kerja. Sedangkan secara parsial,
dan Dwi Kredit Modal JIE (3), Regresi variabel DPK berpengaruh positif dan signifikan, SBK berpengaruh
Susilowati Kerja padaBank 529-540, negatif dan signifikan dan NPL berengaruh negatif dan tidak
Umum di 2018 signifikan terhadap penyaluran kredit modal kerja pada bank umum
Indonesia di Indonesia.
15

3. Nanda Arum Analisis Diponegoro Return on Equity (ROE) memiliki pengaruh positif dan tidak
Fauzia Faktor- Journal of signifikan terhadap capital buffer. Non Performing Loan (NPL)
Faktor Yang Manageme dan pertumbuhan GDP berpengaruh negatif terhadap capital
Mempenga nt buffer namun tidak signifikan. Loan Over Total Asset (LOTA)
ruhi Capital 5 (2), 354- berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer dan lag
Buffer (Studi of capital buffer BUFFt-1. memiliki pengaruh positif dan
Kasus pada 365,2016 signifikan terhadap capital buffer. Hasil estimasi regresi
Bank Umum menunjukan seluruh variabel memiliki kemampuan prediksi
Konvensio model sebesar 51,7% sedangkan sisanya 48,3% dipengaruhi oleh
nal yang faktor lain di luar model.
terdaftar di
BEI tahun
2011-
2014)
4. Dedy Mainata, Pengaruh Al-Tijary 3 Analisis Variabel CAR terbukti memiliki pengaruh yang signifikan
Addien Fahma CAR (1), 19-28, Regresi terhadap ROA dikarenakan semakin tinggi CAR maka semakin
Ardiani Terhadap Sederhana kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari
2017
ROA setiap kredit/aktiva produktif yang berisiko.
Pada BUS
16

5. Hanum Faktor- faktor At-Tuzi This Secara simultan CAR, NPF, FDR, BOPO, dan SIZE berpengaruh
Yuniastika Ristia Yang :Islamic Research Is terhadap profitabilitas (ROA) pada perbankan syariah Indonesia
Mempengar Economic a quantitativ tahun2012-2016. Sedangkan secara parsial tidak ada pengaruh
uhi Profitabilita Journal e study signifikan CAR terhadap ROA pada perbankan syariah Indonesia,
s Bank 18(2),81- ada pengaruh signifikan NPF terhadap ROA pada perbankan
Umum 93,2018 syariah Indonesia, tidak ada pengaruh signifikan FDR terhadap
Syariah ROA pada perbankan syariah Indonesia, ada pengaruh signifikan
di Indonesia BOPO terhdap ROA pada perbankan syariah Indonesia, ada
pengaruh signifikan SIZE terhadap ROA pada perbankan syariah
Indonesia.
6. BM. Tabak, [Link] Capital FGLS Bank Capital Buffer dan GAP berpengaruh negatif pada pinjaman.
Noronha, danBuffers, (Feasible SELIC berpengaruh positif pada pinjaman ROE, NPL, dan SIZE
[Link] Lending Generalizize berpengaruh positif terhadap Capital Buffer.
Growth, and d Least
Economic Square)
Cyclce:
Emperical
Evidence for
Brazil/2011
17

7. Bambang Dampak Generalized Kebijakan CCB berpengaruh negatif dan dapat menekan kredit, BI
Pramono, Januarkebijakan Methods of Rate dan CAR terbukti berpengaruh negatif pada kredit, dan
Hafidz, JustinaCountercyclical Moments terbukti adanya sifat prosiklikalitas antara PDB dan Kredit.
Adamanti, Capital Buffer (GMM)
Maulana Harristerhadap
Muhajjir, pertumbuhan
Muhammad kredit di
Sahirul Alim Indonesia
8. Kemar Whyte Investigating Generalized ROE dan SIZE berpengaruh negatif dan Prov berpengaruh positif
the Interactions Methods of terhadap Capital Buffer. Size, RR, dan Capital Buffer berpengaruh
between Moments negatif terhadap kredit. Output GAP, Liq berpengaruh positif
Capital (GMM), terhadap kredit.
Buffers, Credit Vector
and Output Autoregressi
Growth: ve (VAR)
Evidence from dan Granger
the Jamaican Causality
Banking Sector Analysis
9. Drehmann danThe Effects of Generalized Countercyclical Capital Buffer terbukti dapat mengurangi
Gambacorta Countercyclica Methods of pertumbuhan kredit. Suku bunga dan RISK berpengaruh negatif
l Capital Buffer Moments pada kredit bank dan variabel lainnya berpengaruh positif
on Bank (GMM) terhadap kredit bank
Lending
18

10. Pravin Burra,Implementing Hodrick- Kesenjangan kredit terhadap PDB adalah indikator krisis sistemik
Pieter Juriaan deThe Prescott (HP perbankan dan berpengaruh terhadap Capital Buffer. Sektor
Jongh, HelgardCountercyclica Filter) swasta domestik, jumlah kendaraan baru, indeks harga rumah,
Raubenheimer, l Capital Buffer berpengaruh positif pada pertumbuhan kredit dan kredit terhadap
Gary van Vuuren,in South PDB terbukti berkorelasi negatif dengan pertumbuhan PDB.
Henco Wiiid Africa:Practica
l
Considerations
19

Berdasarkan penelitian sebelumnya, terdapat perbedaan antara


penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Bank Umum Syariah Indonesia periode
2015-2019. Selain itu, penelitian ini menguji variabel-variabel seperti
CAR, ROA, ROE, dan NPL dalam kaitannya mempengaruhi capital
buffer. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat memperkuat
dan menyempurnakan penelitian terdahulu.
H. Kerangka Fikir
Kerangka teori pada dasarnya adalah garis besar atau rimgkasan
dari berbagai konsep, teori, dan literatur yang digunakan peneliti.
Kerangka teori merupakan ringkasan dalam bentuk skematis dari
hubungan antar variabel baik variabel bebas, variabel terikat atau
variabel lainnya.
Berdasarkan kajian teori dan penelitian terdahulu yang telah
diuraikan maka dapat dibuat skema kerangka berfikir yang
ditunjukan gambar berikut:
Gambar 1.1
Kerangka Pikir
H4

Return On Asset H1
(X1)
Return On Equity H2
Capital Buffer (Y)
(X2)
H3
Net Performing
Financing

H5 H6 H7

Capital
Adequacy Ratio
Keterangan:
(M)
Parsial
Simultan
20

Dari tabel kerangka berfikir diatas, penulis bermanfaat


menjelaskan bahwa penelitian yang berjudul Analisis Pengaruh
Retun On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net Performing
Financing (NPF) Terhadap Capital Buffer dengan Capital
Adequacy Ratio (CAR) Sebagai Variabel Moderating Pada Bank
Umum Syariah di Indonesia Periode 2015-2019. Dimana Capital
Adequacy Ratio (CAR) Sebagai Variabel Moderating yang
memoderasi pengaruh hubungan antara variabel independen
dengan variabel dependen. Berdasarkan kerangka teori diatas,
peneliti ingin melihat pengaruh antara masing-masing variabel
independen terhadap variabel dependen. dan Capital Adequacy
Ratio (CAR) sebagai Variabel Moderating memiliki fungsi untuk
memoderasi hubungan antar variabel independen dengan variabel
dependen untuk melihat apakah setiap variabel independen dapat
berpengaruh secara langsung terhadap variabel dependen atau
perlu dimoderasi oleh variabel moderating sehingga dapat
berpengaruh terhadap variabel dependen.
I. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini dibuat untuk memudahkan
pemahaman dan memberikan gambaran kepada pembaca tentang
penelitian ini. Sistematika penulisan disusun berdasarkan urutan
yang terdiri dari:
1. BAB I Pendahuluan. Bab ini merupakan garis besar dari
keseluruhan pola pikir dan dituangkan dalam konteks yang jelas
dan padat. Atas dasar itu deskripsi skripsi diawali dengan latar
belakang masalah yang terangkum di dalamnya tentang apa
Penegasan Judul, Latar Belakang Masalah, Identifikasi dan
Batasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian,
Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Sitematika Penulisan.
2. BAB II Landasan Teori. Bab ini berisi tinjauan tentang Bank
Umum Syariah (pengertian bank umum syariah, landasan
hukum, tujuan bank umum syariah, kegiatan bank umum
syariah, tinjauan tentang modal dalam bank syariah), Rasio
Keuangan (pengertian dan jenis rasio keuangan), tinjauan
21

tentang Capital Buffer (pengertian, pengukuran, rasio yang


mempengaruhi Capital Buffer, teori yang berkaitan dengan
Capital Buffer, dan Pengajuan Hipotesis yang digunakan serta
kerangka pemikiran guna memperjelas maksud penelitian dan
membantu dalam berfikir secara logis.
3. BAB III Metode Penelitian. Bab ini menjelaskan bagaimana
penelitian ini dilakukan secara operasional. Dalam bab ini
diuraikan mengenai waktu dan tempat penelitian, pendekatan
jenis penelitian, populasi, sampel dan teknik pengumpulan data,
definisi operasional variabel, instrumen penelitian, serta metode
analisis data.
4. BAB IV Hasil dan Pembahasan. Bab ini merupakan inti
penelitian yang dilakukan, berisi tentang hasil penelitian dan
pembahasan yang menjelaskan deskripsi objek penelitian,
analisis data dan interpretasi hasil.
5. BAB V Penutup. Bab ini berisi simpulan dan saran untuk
penelitian selanjutnya berdasarkan hasil pembahasan bab-bab
selanjutnya.
22

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Bank Umum Syariah


1. Pengertian Bank Umum Syariah
Bank Syariah adalah lembaga yang memiliki fungsi sebagai
alat intermediasi yaitu mengerahkan dana dari masyarakat dan
menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat yang
membutuhkan dana kedalam bentuk pembiayaan tanpa prinsip
bunga tetapi kedalam prinsip Syariah.19 Sedangkan menurut UU
No. 21 Tahun 2008, Bank Syariah merupakan bank yang
melakukan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip Syariah dan
menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah.20 Jadi dapat disimpulkan bahwa,
Bank Syariah adalah bank yang melakukan kegiatannya mulai
dari menghimpun dana dari masyarakat, menyalurkan dana
kepada masyarakat berupa pembiayaan dengan sistem bagi hasil
sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah.
Bank Umum Konvensional (BUK) adalah bank yang
melakukan kegiatan usaha secara konvensional yang dalam
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Sedangkan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) adalah
bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip
syariah tetapi tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran.
2. Landasan Hukum
a. Dalil al-qur’an
Dalam al-qur’an tidak ada ketentuan spesifik mengenai
pendirian bank syariah sehingga penilis memberikan
landasan hukum dari prinsip tolong menolong/kerja sama
serta ayat yang berkaitan dengan riba yang dalam

19
M. Nur Rianto Al-Arif, Lembaga Keuangan Syariah Suatu Kajian
Teoristis Praktis.
20
M. Nur Rianto Al-Arif.
23

prakteknya sangat berkaitan erat dengan operasional bank


syariah itu sendiri.
Q.S Al-Maidah 2

         

       

       

       

        

         

     


“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu
melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan
(melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id
(hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula)
mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam;
mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi
apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah
kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu
kaum karena mereka menghalang-halangimu dari
Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas
(kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.
Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat
siksaan-Nya”
24

b. Hukum Positif Indonesia


Pada tahun 1990, terdapat rekomendasi dari MUI untuk
mendirikan bank syariah, tahun 1992 dikeluarkannya
Undang- Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan
yang mengatur bunga dan bagi hasil. Dikeluarkan Undang -
Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang mengatur bank
beroperasi secara ganda (dual system bank), dikeluarkan UU
No. 23 Tahun 1999 yang mengatur kebijakan moneter yang
didasarkan prinsip syariah, kemudian dikeluarkan Peraturan
Bank Indonesia tahun 2001 yang mengatur kelembagaan dan
kegiatan operasional berdasarkan prinsip syariah, dan pada
tahun 2008 dikeluarkan UU No. 21 Tahun 2008 tentang
perbankan syariah.21 Pengaturan (regulasi) perbankan
syariah bertujuan untuk menjamin kepastian hukum bagi
stakeholder dan memberikan keyakinan kepada masyarakat
luas dalam menggunakan produk dan jasa bank syariah.
3. Tujuan Bank Umum Syariah
Perbankan Syariah melakukan kegiatannya berdasarkan
prinsip Syariah dengan meninggalkan riba. Oleh sebab itu,
penghindaran bunga yang dianggap riba merupakan salah satu
bentuk tantangan dalam perbakan Syariah. Karenanya, para
ekonomi muslim mencurahkan perhatian besar guna untuk
menemukan cara mengganti sistem bunga dalam transaksi
perbankan dan membangun model ekonomi yang bebas dan
pengujiannya tehadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu,
mekanisme perbankan yang bebas bunga yaitu perbankan
Syariah didirikan. Dibentuknya perbankan Syariah dengan
tujuan sebagai berikut:22
a. Mengarahkan kegiatan ekonomi untuk bermuamalah secara
islam agar terhindar dari perbuatan riba atau praktik yang
bertentangan dengan syariat islam.

21
(Kebijakan Pengembangan Perbankan Syariah, Kajian Pengembangan
Perbankan Syariah, 2011, h.5)
22
Heri Sudarsono, Bank & Lembaga Keuangan Syariah, 2nd ed.
(Yogyakarta: Ekonisia, 2008).
25

b. Untuk menyelamatkan masyarakat dari bank non-islam yang


menyebabkan masyarkat berada dibawah kekuasaan bank.
c. Mendidik dan membimbing masyarakat untuk berpikir
ekonomis dan berprilaku bisnis guna untuk meningkatkan
kualitas hidup mereka.
d. Menghindari masyarakat dari sifat Al-Iktinaz yaitu menahan
uang (dana) dan membiarkannya menganggur tidak berputar
e. Menjalankan aktivitas pedagangan yang berbasis pada
perolehan keuntungan yang sah dan baik menurut islam.
f. Menghindari bunga bank yang ada didalam bank
konvensional
g. Untuk membantu menanggulangi masalah kemiskinan, yang
merupakan program utama dari negara berkembang.
h. Menjaga stabilitas ekonomi dan moneter pemerintah.
i. Memperlihatkan bahwa konsep islam mampu bersaing
dengan sistem bank-bank lain.
4. Kegiatan Bank Umum Syariah
Bank umum Syariah merupakan bank Syariah yang
kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Kegiatan usaha bank umum Syariah adalah sebagai berikut:23
a. Menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan giro,
tabungan ataupun bentuk lain yang dipersamakan dengan itu
berdasarkan prinsip Wadi’ah, atau akad yang lain yang tidak
bertentangan dengan prinsip Syariah atau Islam.
b. Menghimpun dana masyarakat dalam bentuk investasi
deposito atau tabungan dengan bentuk lain yang
dipersamakan berdasarkan akad mudharabah, atau akad yang
lain sesuai dengan prinsip Syariah.
c. Menyalurkan pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad
mudharabah, musyarakah atau akad lain yang sesuai dengan

23
OtoritasJasaKeuangan,“KegiatanBankSyariah”diakses
[Link]
[Link] 10 Oktober 2020.
26

prinsip Syariah.
d. Menyalurkan pembiayaan dengan akad murabahah, salam,
isthisna, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan
prinsip Syariah
e. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan dari akad qard, atau
akad yang lain yang sesuai dengan prinsip Syariah.
f. Menyalurkan pembiayaan barang yang bergerak atau tidak
kepada nasabah dengan dasar akad ijarah, atau dengan
sewa/beli dalam bentuk ijarah mutahiya bitamlik.
g. Melakukan pengambil alihan hutang berdasarkan akad
hawalah.
h. Melakukan usaha kartu kredit/debit berdasarkan prinsip
Syariah.
i. Membeli, menjual, dan menjamin atas resiko sendiri surat
berharga pihak ketiga, yang diterbitkan atas transaksi nyata
berdasarkan prinsip Syariah.
j. Membeli surat berharga berdasarkan prinsip Syariah yang
diterbitkan oleh bank Indonesia atau Pemerintah.
k. Menerima pembayaran dari tagihan surat berharga serta
melakukan perhitungan dengan pihak ketiga, berdasarkan
prinsip Syariah.
l. Melakukan penitipan untuk keperluan pihak lain,
berdasarkan akad yang sesuai dengan Syariah.
m. Menyediakan tempat penyimpanan barang dan surat
berharga atas prinsip Syariah.
n. Memberikan fasilitas L/C atau bank garansi berdasarkan
prinsip Syariah.
5. Tinjauan tentang Modal dalam Bank Syariah
a. Pengertian tentang Modal dalam Bank Syariah
Modal merupakan suatu bagian yang sangat penting
dalam membuatsebuah perusahaan. Dengan memiliki modal
yang cukup sebuah perusahaan dapat menjalankan kegiatan
bisnisnya dengan baik. Modal merupakan kekayaan bersih
27

yaitu berupa selisih antara nilai buku dari aktiva dikurangi


nilai buku dari kewajiban.24 Modal bank adalah sejumlah
dana yang ditanamkan kedalam suatu perusahaan oleh
pemiliknya guna membentuk suatu usaha dan dalam
perkembangnya modal tersebut dapat berkurang karena
mengalami kerugian atau dapat berkembang karena
mendapatkan keuntungan.25 Modal bank menjadi salah satu
faktor yang penting untuk perkembangan dan kemajuan
bank, terutama dalam upaya untuk menjaga kepercayaan
masyarakat. Semakin baik tingkat dari permodalan bank,
kemungkinan juga semakin tinggi tingkat kepercayaan
masyarakat kepada bank tersebut. Sesuai dengan yang
tercantum dalam Peraturan Otoritas JasaKejuangan Nomor
21/POJK.03/2014 tentang Penyediaan Modal Minimum
Bank Syariah, yaitu:
1) Peningkatan kualitas permodalan bank agar bank dapat
menyerap potensi kerugian baik akibat krisis keuangan
dan ekonomi maupun akibat pertumbuhan pembiayaan
yang berlebihan, bank melakukan perubahan komponen
dan persyaratan instrument modal sesuai dengan
kerangka dalam Basel III dan IFSB.
a) Komponen Modal Inti (Tier 1) terdiri atas:
(1) Modal Inti Utama (Common Equity Tier 1)
merupakan instrumen modal yang berkualitas
tinggi, yaitu berupa saham biasa (common stocks)
dan saldo laba. Yang tidak memilik fitur preferensi
dalam pembayaran dividen/imbal hasil.
(2) Modal Inti Tambahan (Additional Tier 1) ialah
bentuk penyempurnaan dari komponen modal
inovatif yang berupa saham preferen atau
instrumen utang yang sifatnya subordinasi, tidak

24
Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah (Jakarta: Azkia
Publisher, 2009).
25
Muhammad, Manajemen Bank Syariah.
28

ada jangka waktu, pembayaran imbal hasil atau


dividen yang bersifat non kumulatif, dan tidak
mempunyai fitur step up.
b) Komponen Modal Pelengkap (Tier 2) merupakan
instrumen utang yang sifatnya subordinsai yang
memiliki jangka waktu paling kurang dari tahun dan
tidak mempunya fitur step up.
2) Bank wajib menyediakan modal inti paling rendah
sebesar 6% (enam persen) dari ATMR, baik secara
individu maupun secara konsolidasi dengan Perusahaan
Anak. Dan bank wajib menyediakan modal inti utama
paling rendah sebesar 4,5% (empat koma lima persen)
dari ATMR baik secara individu maupun konsolidasi
dengan Perusahaan Anak.
3) Bank wajib membentuk tambahan modal sebagai
penyanggga (buffer) yang sesuai dengan kriteria.
Tambahan modal yang sebagaimana dimaksud adalah
sebagai berikut:
(a) Capital Consevation Buffer ditetapkan sebesar 2,5%
(dua koma lima persen) sesuai dengan ATMR, untuk
bank yang tergolong dalam bentuk Bank Kegiatan
Usaha (BUKU) 3 dan BUKU 4 yang pemenuhannya
secara bertahap.
(b) Countercyclical Buffer ditetapkan dalam kisaran
sebesar 0% (nol persen) sampai dengan 2,5% (dua
koma lima persen) dari ATMR untuk seluruh bank.
(c) Capital Surcharge untuk D-SIB ditetapkan dalam
kisaran sebesar 1% (satu persen) sampai dengan 2,5%
(dua koma lima persen) dari ATMR untuk bank yang
ditetapkan berdampak sistemik.
6. Perhitungan Kebutuhan Modal Minimum Bank Syariah
Untuk bisa memastikan industri perbankan memiliki
kecukupan modal dalam mendukung kegiatan usahanya, bank
sentral selaku regulator bertanggung jawab menentukan jumlah
permodalan yang harus dimiliki oleh setiap perbankan dan
mengeluarkan ketentuan mengenai permodalan minimum
(regulatory capital). Bank yang memiliki kecukupan modal yang
29

baik, menunjukan indikator bahwa bank tersebut sehat. Adapun


rasio yang digunakan dalam menghitung kecukupan modal
minimum bank adalah CAR (Capital Adequacy Ratio)
Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang
memperhitungkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang
mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan
pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank
disamping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar
bank, seperti masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain.26
Besarnya Capital Adequacy Ratio (CAR) diukur dari rasio antara
modal bank terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko
(ATMR). Menurut PBI No. 10/15/PBI/2008 pasal 2 Bank wajib
menyediakan modal minimum sebesar 8% (persen) dari Aktiva
Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Bank dapat mengalami
risiko modal apabila tidak dapat menyediakan kecukupan modal
minimum sebesar 8%. Dengan adanya penetapan Capital
Adequacy Ratio (CAR) pada tingkat tertentu dimaksudkan agar
bank memiliki kemampuan modal yang cukup untuk meredam
kemungkinan timbulnya risiko yang akan terjadi di masa
mendatang.
Secara matematis besarnya Capital Adequacy Ratio (CAR) dapat
dihitung dengan rumus:27

CAR = Modal x 100%


ATMR

7. Fungsi Modal Bank Umum Syariah


Dalam permodalan bank tersebut terdapat beberapa fungsi dari
modal bank. Menurut Brenton C. Leavitt, terdapat empat
fungsi dari modal bank, yaitu:
26
metode penelitian Nursalam, 2016 and A.G Fallis, ―Analisis Pengaruh
Dana Pihak Ketiga, BOPO, CAR Dan LDR Terhadap Kinerja Keuangan Pada Sektor
Perbankan Yang Go Public Di Bursa Efek Indonesia (BEI) (Periode 2005-2008),‖
Journal of Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2013): 1689–99.
27
Dendawijaya, Manajemen Perbankan.
30

1) Untuk melindungi deposan yang tidak diasuransi pada saat


bank likuidasi.
2) Untuk menyerap kerugian yang tidak diharapkan untuk tetap
menjaga kepercayaan dari masyarakat.
3) Untuk bisa memperoleh sarana fisik dan kebutuhan dasar
yang perlukan untuk menawarkan pelayanan bank.
4) Sebagai alat pelaksana praturan pengendalian dari ekpansi
aktiva yang tidak tetap.28
Dapat dilihat dari fungsinya dapat diketahui permodalan
bank adalah hal yang sangat penting. Pada dasarnya bank
konvensional maupun bank Syariah merupakan lembaga yang
berorientasi pada laba. Untuk mendirikan lembaga tersebut,
dibutuhkan dukung oleh permodalan yang baik dan kuat.
Memiliki permodalan yang kuat memungkinkan untuk
terbentuknya kondisi bank yang dapat dipercaya oleh
masyarakat. Sebagai lembaga yang menjadi kepercayaan
masyarakat bank harus memiliki modal yang memadai. Oleh
sebab itu, bank sentral mengharuskan adanya peningkatan
modal yang sesuai dengan pertumbuhan kredit serta resiko
bank lainnya. Modal bank menjadi bentuk perlindungan yang
dapat menyerap kerugian yang akan terjadi di masa mendatang,
yang sesuai dengan pertumbuhan dari kredit dan resiko dari
perbankan. Jadi peraturan yang dibuat untuk menghindari bank
dari resiko yang akan diterimanya di masa mendatang. Dalam
hal ini modal bank tidak hanya sebagai bentuk untuk
meningkatkan kepercayaan kepada masyarakat melainkan
sebagai bentuk bantuan untuk melindungi Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) dari kerugian.29

28
Donald G. Simonson Hempel, George H and Alan B Coleman, Bank
Management Text and Cases, ed. John Wilry and Sons, 1986.
29
Gonca Atici and Guner Gursoy, ―The Determinants of Capital Buffer in the
Turkish Banking System,‖ International Business Research 6, no. 1 (2012),
[Link]
31

8. Sumber Permodalan Bank Syariah


Sumber utama modal bank Syariah ialah modal inti, modal
pelengkap dan modal pelengkap tambahan. Modal pelengkap
dan modal pelengkap tambahan hanya bisa diperhitungkan
setinggi-tinggina ialah 100% dari modal inti. Sedangkan modal
inti dan modal pelengkap, diperhitungkan dengan pengurangan
yang berupa seluruh penyertaan yang dilakukan oleh bank.
Modal inti merupakan modal yang berasal dari pemilik bank,
yang terdiri dari modal yang disetorkan oleh pemilik saham,
cadangan dan laba ditahan. Modal inti berfungsi sebagai
penyangga untuk menyerap kerugian bank dan melindungi
kepentingan dari pemegang rekening titipan (wadi’ah) atau
pinjaman (qard). Khususnya dari aktiva yang didanai dengan
modal sendiri dan dana wadiah atau qardh.30 Dana yang berasal
dari bagi hasil (mudharabah) dapat juga dikategorikan
sebagai modal, yang mana disebut kuasi ekuitas. Namun
rekening bagi hasil (mudharabah) ini hanya bisa menanggung
resiko atas aktiva yang dibiayai oleh dana bagi hasil
(mudharabah) itu sendiri. Selain itu pemilik rekening bagi hasil
(mudharabah) bisa menolak untuk menanggung resiko dari
aktiva yang dibiayainya, apabila resiko itu timbul akibat
kesalahan manajemen, kelalaian atau kecurangan yang dilakukan
oleh manajemen bank selaku mudharib. Oleh karena itu sumber
dana ini tidak berperan penuh dalam fungsi permodalan bank,
tetapi merupakan unsur yang dapat diperhitungkan dalam
mengukur rasio kecukupan modal.
9. Regulasi Perbankan tentang Modal Bank
Dalam menjalankan peraturannya, bank sentral menggunakan
dasar peraturan yang diadopsi dari peraturan The Basel
Committee on Banking Supervision (BCBS). Komite Basel telah
berhasil menghasilkan empat produk terkait dengan pengaturan
dan pengawasan bank secara Internasional dan menyeluruh.

30
Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah.
32

Sebelum menjelaskan mengenai empat produk terkait


pengaturan dan pengawasan modal bank, peneliti akan
menjelaskan sejarah adanya Komite Basel. The Basel Committee
on Banking and Supervision (BCBS) atau yang biasa disebut
dengan komite basel didirikan sebagai Committee and Banking
Regulations and Supervisory Practies oleh gubernur bank sentral
yang merupakan bagian dari anggota Group of Ten (G-10) pada
tahun 1974, setelah terjadi kehancuran mata uang internasional
dan juga pasar bank yang ditandai denga kehancuran dari
Bankhaus Herstatt.31
Tujuan dari komite basel ialah untuk melakukan kerjasama
juga harmonisasi, dalam pengawasan perbankan interasional.
Komite basel juga memiliki tujuan untuk digunakan sebagai
suatu forum diskusi yang bersifat rahasia yang berkaitan dengan
penanganan masalah-masalah khusus, mengkoordinasi
penanganan dan pengawasan perbankan internasional dan untuk
meningkatkan kehati-hatian.32 Dalam melakukan prakteknya,
komite basel melakukan kerjasama yang erat dengan otoritas
perbankan diluar G-10, yaitu China, Cili, Thailand, Republik
Ceko, Hongkong, Rusia dan Meksiko. Selain itu, ada sembilan
negara yang terlibat cukup kuat dalam pembuatan dan
pembahasan rancangan tersebut, yaitu Argentina, Brazil, India,
Hungaria, Indonesia, Malaysia, Polandia, Singapura dan Korea.
Penyusunan prinsip tesebut sudah dikonsultasikan dengan
berbagai pihak lain termasuk International Monetary Fund
(IMF) dan World Bank.33
Dalam perkembangannya komite basel berhasil menghasilkan
empat produk yang relevan dengan harmonisasi pengaturan dan
pengawasan bank secara internasional. Empat produk tersebut
yaitu International Convergence of Capital Measurement and
Capital Standards atau Basel Capital Accord I, Core Principles
for Effectove Banking Supervision, Consultative Documeny
Overview of the New Basel Capital Accord atau Basel Capital

31
Basel Commite on Banking Supervision, History Of The Basel Commite
And It’s Membership (Swiss: Basel Commitee Banking Supervision, 2006).
32
Charles Freeland, The Work The Basel Commitee (Swiss, 1994).
33
(Manajemen Lembaga Keuangan, 2010)
33

Accord II, dan International Regulatory Framework for Banks


atau Basel Capital Accord III.34
1) Basel Capital Accord I
Dalam Basel Capital Accord I ditetapkan yang mana bank
diwajibkan untuk memiliki modal paling sedikit sebanyak 8%
dari ATMR. Basel I ini memiliki fokus mengenai resiko
kredit. Dikeluarkannya Basel I ini bertujuan untuk
memperkuat stabilitas perbankan internasional, membentuk
kerangka yang dapat diaplikasikan secara seragam dan
konsisten, menciptakan kerangka yang adil untuk mengukur
kecukupan modal bank internasional.35
2) Basel Capital Accord II
Pada tahun 2006 BCBS mengeluarkan aturan mengelurkan
aturan mengenai basel II yang bertujuan untuk meningkatkan
keamanan dan kesehatan sistem keuangan. Dalam basel II
BCBS memfokuskan kepada perhitungan modal yang berbasi
risiko, tinjauan oleh pengawas dan displin pasar. Basel II
disusun berdasarkan forward-looking approach yang mana
bisa memungkinkan untuk dilakukannya penyempurnaan dan
penyesuaian seiring dengan perubahan yang akan terjadi di
masa mendatang.
3) Basel Capital Accord III
Pada tahun 2008 BCB kembali mengeluarkan paket
reformasi terkait keuangan global atau biasa disebut dengan
Basel III. Basel ini merupakan pilar sektor keuangan global.
Dalam basel III memiliki tujuan meningkatkan kemampuan
bank dalam meredam kejuatan yang bersumber dari tekanan
keuangan global, meningkatkan manajemen risiko dan tata
kelola perbankan, serta untuk memperkuat transparansi dan
pengungkapan bank.

34
Basel Committee on Banking Supervision, ―Basel Committee on Banking
Supervision Basel III: International Framework for Liquidity Risk Measurement,
Standards and Monitoring.‖
35
(Ardanto, 2006)
34

Dalam basel III diharapkan dapat memperkuat sisi


makroprudensial untuk meningkatkan kesehatan dan daya
tahan individual bank apabila krisis. Dalam makroprudensial
basel III mensyaratkan kualitas dan permodalan yang lebih
tinggi dengan fokus utama yakni pada komponen common
equity dan pentingnya cadangan (buffer) modal yang harus
dimiliki oleh bank dengan mensyaratkan membentuk
conservation buffer. Basell III mencakup aspek
mikroprudensial juga mengembangkan indicator untuk
memantai tingkat procyclicality sistem keuangan dan
mempersyaratkan bank yang bersifat sistemik untuk
menyiapkan buffer disaat ekonomi baik (boom period) yang
berguna untuk menyerap kerugian apabila terjadi krisis
ekonomi (boost period).36
B. Rasio Keuangan
1. Pengertian Rasio Keuangan
Menurut Munawir, rasio menggambarkan suatu hubungan
atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu
jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa
rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran
kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau
posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio
tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang
digunakan sebagai standar.
Dapat disimpulkan bahwa rasio keuangan merupakan alat
analisis perusahaan untuk menilai kinerja suatu perusahaan
berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat pada
pos laporan keuangan.
2. Tujuan dan Manfaat Rasio Keuangan
Rasio keuangan dirancang untuk membantu mengevaluasi
laporan keuangan. Setiap bentuk dari analisis rasio mempunyai
tujuan tertentu atau digunakan untuk menentukan perbedaan
penekanan hubungan.37 Menurut Keown, rasio keuangan

36
[Link]
diakses pada 25 September 2020 pukul 09.36 wib
37
J Brigham, F dan Houston, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, 8th,
35

membantu kita mengidentifikasi beberapa kekuatan dan


kelemahan keuangan perusahaan. Analisis rasio dapat
diklasifikasikan ke dalam enam kelompok yaitu: rasio
likuiditas, rasio rentabilitas atau profitabilitas, rasio solvabilitas,
rasio efisiensi usaha, rasio hutang (leverage) dan rasio nilai
pasar.38 Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok rasio
keuangan bank yang akandigunakan, yaitu rasio rentabilitas dan
rasio solvabilitas. Pemilihan kedua jenis rasio ini didasarkan
pada kerelevanannya dengan peningkatan aset perusahaan,
kerelatifannya dengan Economic Value Added dan
keterkaitannya terhadap penilaian tingkat kesehatan bank.
Selainn itu, rasio – rasio ini juga dijadikan standar pembanding
yang dipublikasikan oleh setiap bank sebagai acuan dalam
menilai kinerja keuangannya.39
3. Jenis-jenis Rasio Keuangan
Mamduh dan Halim, mengelompokkan rasio keuangan
menjadi lima, yaitu rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio
solvabilitas, rasio profitabilitas, dan rasio pasar.40 Sedangkan
Righam dan Daves, 2001 dalam Meythi menggolongkan rasio
keuangan menjadi rasio likuiditas, rasio solvabilitas (leverage
ratio), rasio aktivitas dan rasio profitabilitas. Adapun rasio-rasio
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
a. Rasio Rentabilitas
Menurut Brigham dan Houston, rasio rentabilitas atau
sering juga disebut rasio profitabilitas adalah hasil bersih
dari serangkaian kebijakan dan keputusan.41 Dapat juga
dikatakan bahwa rasio rentabilitas merupakan kemampuan

Buku 2 ed. (Jakarta: Salemba Empat, 2001).


38
dkk Arthur J. Keown, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, ed. Chaerul D.
Djakman, Jilid 1 (Jakarta: Salemba Empat, 2001).
39
Lusi Budiharti, ―Analisis Kinerja Keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk. 2004-2005‖ (IPB, 2006).
40
dan Abdul Halim Hanafi, Mamduh M, Analisis Laporan Keuangan
(Yogyakarta: UPP AMPYKPN, 2005).
41
dan Houston Joel F. Brigham, Eugene F, Manajemen Keuangan, 8th ed.
(Jakarta: Erlangga, 2001).
36

perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode


tertentu. Rasio rentabilitas perusahaan diukur dari
kemampuannya dalam menggunakan aktiva secara
produktif. Dengan demikian, rentabilitas perusahaan dapat
diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh
dalam suatu periode dengan jumlah aktiva atau modal yang
dimiliki perusahaan dalam periode yang sama. Rasio
rentabilitas dapat diukur dengan menggunakan beberapa
rasio. Rasio tersebut antara lain: Net Profit Margin (NPM),
Net Interest Margin (NIM), Return on Asset (ROA) dan
Return on Equity (ROE).
1) Return on Asset (ROA)
Return on Asset (ROA) merupakan rasio yang mengukur
kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih atas
total aset yang dimiliki bank dan mengindikasikan
perusahaan menggunakan seluruh aset yang tersedia
dengan baik. ROA digunakan untuk mengevaluasi
aktivitas keseluruhan perusahaan.
2) Return on Equity (ROE)
Return on Equity (ROE) mengukur kemampuan
manajemen bank dalam mengelola ekuitas yang ada
untuk mendapatkan laba bersih. ROE menunjukkan
efektivitas dan efisiensi pemakaian modal untuk
menghasilkan laba. ROE berhubungan langsung dengan
kekayaan pemegang saham. Semakin tinggi ROE suatu
perusahaan, maka semakin baik perusahaan dalam
mengelola manajemennya.42
b. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas atau sering juga disebut rasio
permodalan merupakan ukuran kemampuan bank mencari
sumber dana untuk membiayai kegiatannya.43 Suatu bank
dikatakan solvabel apabila bank tersebut mempunyai aktiva
yang cukup untuk membayar semua hutangnya. Salah satu

42
Arthur J. Keown, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan.
43
Kasmir, Manajemen Perbankan (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2003).
37

rasio yang digunakan untuk menilai tingkat solvabilitas bank


adalah Capital Adequacy Ratio (CAR).
C. Tinjauan tentang Capital Buffer
1. Pengertian Capital Buffer
Capital buffer adalah suatu modal yang dipegang oleh
suatu bank yang mana jumlah modal berada diatas jumlah
modal minimum yang dipersyaratkan.44 Capital buffer juga
dapat didefinisikan sebagai selisih dari kelebihan rasio
kecukupan modal (CAR), bank menahan capital buffer
diatas modal minimum yang ditetapkan regulator untuk
menyerap kerugian finansial yang disebabkan leh adanya
tingkat pengambilan aset yang tidak diduga. Oleh sebab itu,
dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa capital
buffer adalah selisih antara modal yang ditetapkan oleh
regulator dan modal yang dimiliki oleh bank, dan memiliki
fungsi sebagai penyangga yang berguna apabila terjadi risiko
dimasa mendatang.
Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor
17/22/PBI/2015 countercyclical capital buffer didefinisikan
sebagai tambahan modal yang berfungsi sebagai penyangga
(buffer) untuk mengantisipasi kerugian apabila terjadi
pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan yang
berlebihan sehingga berpotensi mengganggu stabilitas
keuangan.45 Besaran countercyclical capital buffer
sebagaimana ditetapkan pada kisaran sebesar 0% sampai
dengan 2,5% menurut ATMR.46 Pihak Bank Indonesia akan
meningkatkan nominal dan besaran countercyclical buffer
pada saat kondisi ekonomi Indonesia sedang berada di masa

44
Oscar Carvallo, Adnan Kasman, and Sine Kontbay-Busun, ―The Latin
American Bank Capital Buffers and Business Cycle: Are They pro-Cyclical?,‖
Journal of International Financial Markets, Institutions and Money 36 (2015),
[Link]
45
Bank Indonesia, ―Peraturan Bank Indonesia (PBI),‖ Pub. L. No.
17/22/PBI/2015 (2015).
46
Ibid h. 3
38

ekspansi, sebaliknya Bank Indonesia menurunkan besaran


countercyclical buffer saat ekonomi sedang kontraksi.
Countercyclical Capital Buffer ditetapkan oleh Bank
Indonesia sebesar 0% berdasarkan indikasi tidak adanya
pertumbuhan kredit dan pembiayaan yang berlebihan yang
menyebabkan risiko sistemik. Penetapan besaran CCB
tersebut tidak akan mempengaruhi bank dalam
meningkatkan fungsi intermediasinya, sehingga diharapkan
dapat berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan
ekonomi karena semakin naik besaran CCB mengartikan
semakin banyak modal yang harus disetor oleh bank
sehingga perputaran uang atau JUB semakin sedikit yang
menyebabkan lesunya perekonomian di Indonesia.
Countercyclical Capital Buffer dirancang untuk
memastikan bahwa perbankan memiliki capital buffer untuk
melindungi dari potensi kerugian di masa depan terkait
dengan bila terjadi kelebihan agregat pertumbuhan kredit
dan pembiayaan yang dinilai build-up dari seluruh sistem
resiko. Lembaga kredit harus menghemat Countercyclical
Buffer yang bervariasi antara 0-2,5%.47 Capital Buffer dapat
menjadi pelindung yang dapat menyerap berbagai resiko
yang mungkin muncul, jika bank memiliki modal yang
rendah maka akan berdampak pada rendahnya kepercayaan
masyarakat. Oleh karenanya, bank dapat menahan dan
menjadikan Capital Buffer sebagai asuransi untuk
menghindari biaya disiplin pasar maupun biaya intervensi
pengawasan jika mereka memutuskan untuk menurunkan
modal dibawah persyaratan rasio kecukupan modal. Tujuan
implementasi countercyclical capital buffer berdasarkan
BCBS adalah untuk mencegah timbulnya resiko sistemik
yang berasal dari pertumbuhan kredit dan pembiayaan pada
periode ekspansi melalui transmisi kenaikan kredit akibat
adanya kebutuhan bank untuk meningkatkan cadangan
modalnya. Ketika kebijakan CCB dapat mencapai tujuannya
dalam menekan pertumbuhan kredit dan pembiayaan yang
berlebihan, kebijakan CCB dapat dikatakan mampu

47
(Countercyclical Capital Buffer Proposal, 2010)
39

mengurangi perilaku prosiklikalitas perbankan.


Bank menahan modal berdasarkan beberapa alasan,
alasan pertama yaitu modal bertujuan untuk mengantisipasi
kegagalan, bank menahan modal agar dapat mengurasi risiko
di masa mendatang dan dapat menyerap kerugian. Alasan
kedua agar jumlah modal bisa mempengaruhi pengembalian
saham, semakin besar modal ditahan maka semakin kecil
keuntungan yang diterima oleh pemegang saham. Ketiga,
untuk memenuhi modal minimum yang ditetapkan oleh
regulator. Oleh karena itu, memiliki capital buffer yang
cukup berguna sebagai penyangga terhadap kemungkinan
tejadinya risiko yang tidak terduga. Capital buffer yang
cukup membuat bank akan menjadi lebih siap untuk
menghadapi resiko yang akan terjadi.48
Dalam islam juga disarankan untuk mempersiapkan diri
dengan keadaan dimasa mendatang. Hal tersebut dijelaskan
dalam Al-qur’an surah Yusuf.

        

          

          

“Yusuf berkata: supaya kamu bertanam tujuh tahun


(lamanya) sebagaimana bisa; maka apa yang kamu tuai
hendaklah kamu biarkan bulirnya kecuali sedikit untuk
kamu makan. (Qs. Yusuf (47))"
“Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang
amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan,

48
Frederic S Miskhin, Ekonomi Uang, Perbankan, Dan Pasar Keuangan, 8th
ed. (Jakarta: Salemba Empat, 2008).
40

untuk menghadapinya (tahun sulit) kecuali sedikit dari


(bibit gandum) yang kamu simpan. (Qs. Yusuf (48)).

Sebagaimana dalam ayat tersebut menjelaskan tentang


Yusuf memerintahkan masyarakat Mesir untuk bercocok
tanam dengan terus menerus selama tujuh tahun berturut-
turut dengan tekun agar hasil panen tersebut menjadi
berlimpah dan dapat disimpan supaya apabila sedang dalam
keadaan paceklik yang amat sulit, masyarakat dapat
memakan apa yang telah mereka simpan sebelumnya untuk
menghadapi keadaan tersebut. Jadi dari ayat tersebut dapat
disimpulkan bahwa dalam islam mengajarkan untuk
senantiasa melakukan persiapan mana kala terjadi sesuatu
keadaan sulit yang tidak diduga, karena tidak ada yang dapat
mengetahui keadaan dimasa depan kecuali Allah SWT.
Sebagaimana fungsi dari Capital Buffer ialah untuk
mengantisipasi dan menjadi penyangga apabila terjadi
kegagalan dan kerugian perbankan dimasa depan. Dengan
adanya Capital Buffer bank bersiap-siap mencegah
terjadinya keadaan buruk dan mengurangi resiko yang akan
terjadi dimasa mendatang.
2. Pengukuran Capital Buffer
Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia mengenai
rasio kebutuhan modal minimum yaitu sebesar 8% dari
Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 21/POJK.03/2014
tentang Ketentuan Modal Minum Bank Umum Syariah,
menyebabkan perubahan untuk modal minimum ditahun
BUFF = CAR Ratio – Minimum Regulatory Requirement
(8%)
selanjutnya. Secara sederhana dapat dirumuskan
49
perhitungan Capital Buffer sebagai berikut:

49
Fikri M.R, ―Determinants of Comercial Bank’s Capital Buffer in
Indonesia.‖
41

Di mana:
BUFF : Capital Buffer
CAR Ratio : Rasio Kecukupan Modal Bank
Syariah
MRR : Syarat Minimum CAR yang sudah
ditetapkan
3. Rasio yang mempengaruhi Capital Buffer
a. Bank Financing (Pembiayaan)
Secara luas financing (pembiayaan) adalah pendanaan
yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah
direncanakan, baik dilakukan sendiri atau suatu lembaga.
Sedangkan, dalam artian sempit pembiayaan diartikan
sebagai pendanaan yang dilakukan oleh lembaga
pembiayaan, seperti bank Syariah kepada nasabahnya. 50
Menurut UU No. 10 Tahun 1998, Pasal 1 Nomor 12:
Pembiayaan berdasarkan prinsip Syariah adalah
penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan
itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan atara bank
dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai
untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah
jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.
b. Bank Size (Ukuran Bank)
Bank Size (Ukuran Bank) adalah suatu skala usaha
yang dimiliki oleh suatu perusahaan, yang dilihat dari
jumlah aktiva atau aset perusahaan.51 Dari definisi
tersebut dapat disimpulkan bahwa ukuran bank atau bank
size adalah skala ukuran perusahaan yang dinilai dari
jumlah aset atau aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
4. Teori yang berkaitan dengan Capital buffer
Teori yang berkaitan dengan Capital buffer yang
digunakan dalam penelitian ini sebagai acuan adalah

50
Fikri M.R. Diponegoro Journal of Management Vol. 1 (2012) h. 4
51
Karim, A. W. (2006). Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
42

Pecking Order Theory, Chararter Value Theory dan Too


BigTo Fail Consensus, yang mana teori ini terkait dengan
struktur modal, sehingga penelitian ini juga berdasarkan
pada teori struktur modal.
a. Pecking Order Theory (Teori Pecking Order)
Teori Pecking Order pertama kali diusulkan oleh
Donaldson pada tahun 1961 dan dikembangkan oleh
Stewart C. Myers dan Nicolas Majluf pada tahun 1984.
Teori Pecking Order merupakan teori yang menyarankan
keputusan endanaan mengikuti suatu hirarki, dimana
sumber pendanaan dari dalam perusahaan
(internalfinancing) lebih didahulukan daripada sumber
yang berasal dari luar perusahaan (external financig).
Dalam hal dimana perusahaan menggunakan pendanaan
dari luar perusahaan, pinjaman (debt) lebih diutamakan
daripada pendanaan dengan tambahan modal baru
(external equity).52
Myers menyatakan bahwa pada teori Pecking
Order, perusahanakan terlebih dahulu mempergunakan
sumber internal dalam membiayai investasinya,
kemudian apabila tidak mencukupi, perusahaan akan
mempergunakan sumber eksternal yang berupa utang
atau menerbitkan saham (equity options) sebagai
alternatif terakhir.53 Dalam internal lebih disukai
dibandingkan dengan dana eksternal dikarenakan dana
internal memungkinkan perusahaan untuk tidak perlu
membuka diri dari sorotan pemberi modal luar.
Disamping itu, pengaruh asimetrik informasi dan biaya
penerbitan saham cenderung mendorong perilaku

52
Saiful and Yohana, ―Implementasi Teori Struktur Modal Di Perusahaan
Publik Indonesia,‖ Jurnal Fairness 4, no. 1 (2014): 63–78.
53
Stwr C Myers, ―Stwr C. Myers,‖ 1983.
43

Pecking Order.54 Dana eksternal dalam bentuk utang


lebih disukai daripada modal sendiri karena dua alasan
yaitu yang pertama adanya pertimbangan biaya emisi,
biaya emisi obligasi lebih murah daripada biaya emisi
saham baru. Yang kedua yaitu kemungkinan asimetrik
informasi antara pihak manajemen dan pihak pemberi
modal.55
b. Charter Value Theory
Teori charter value yang dibuat oleh Marcus
menjelaskan bahwa bank menahan ekstra modal guna
untuk mengamankan dari penurunan stabilitas dan
menangani resiko kegagalan. Dalam teori ini juga
menjelaskan bahwa bank akan menghadapi kerugian atas
pendapatan dimasa mendatang apabila kebangkrutan
terjadi dan dampak kerugian itu menerpa banyak pihak
termasuk para pemegang saham. Oleh karena itu bank
harus mempertahankan modal yang dimilikinya melebihi
modal minimum yang disyaratkan oleh bank sentral.56
c. Too Big To Fail Consensus
Menurut Cambridge Dictionaries Online, too big too
fail adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan sebuah bank yang sangat penting bagi
perekonomian suatu negara karena itu pemerintah akan
memberikan uang untuk rakyat untuk mencegahnya
gagal (bangkrut).57 Sedangkan menurut Kane dan
Mishkin, menjelaskan bahwa bank - bank besar

54
Tarek Ghazouani, ―The Capital Structure Through the Trade-Off Theory:
Evidence from Tunisian Firm,‖ International Journal of Economics and Financial
Issues 3, no. 3 (2013): 625–36.
55
Weston, Manajemen Keuangan.
56
Alan J. Marcus, ―Deregulation and Bank Financial Policy,‖ Journal of
Banking and Finance 8, no. 4 (1984), [Link]
1.
57
Cambridge Dictionaries Online, ―Too Big ToFail‖, diakses melalui
[Link] tanggal
02 September 2020 pukul 19.55 wib
44

cenderung memilik capital buffer yang lebih rendah


dibandingkan bank-bank yang kecil dikarenakan sifat
terlalu besar untuk gagal (Too Big To Fail).58
Istilah too big to fail ini berkaitan dengan ukuran bank
yang mana capital buffer berkaitan dengan ukuran bank
(bank size). Bank besar Bank besar cenderung lebih
mudah untuk mendapatkan pendanaan dari pasar modal,
dan memiliki keunggulan komparatif untu mengatasi
masalah informasi terkait pemantauan yang
menyebabkan mereka mencapai keseimbangan antara
pengawasan biaya dan biaya ekuitas. Bank akan
mengurangi biaya ekuitas dengan mengurangi cadangan
modalnya. Too Big Too Fail berkaitan dengan ukuran
dari suatu bank yang mana ukuran bank dapat dilihat
dari nilai bank’s share.
D. Pengajuan Hipotesis
Umumnya penelitian yang mengkaji hubungan dua variabel
atau lebih biasanya menggunakan hipotesis penelitian. Dalam
buku-buku penelitian, hipotesis dikemukakan dengan beberapa
pengertian. Hipotesis merupakan dugaan yang mungkin benar
atau mungkin juga salah. Dia akan ditolak jika salah satu palsu
dan akan diterima jika fakta-faktanya membenarkannya.59
Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis
adalah dugaan sementara terhadap fakta-fakta yang telah
berlaku terhadap masalah yang diajukan, namun untuk
membuktikan kebenarannya masih perlu dilakukan pengujian.
Adapun dasar pengambilan keputusan dalam hipotesis
penelitian ini yaitu:
Ho : Tidak ada pengaruh
Ha : Memiliki pengaruh (baik negatif maupun positif)

58
Frederic S. Mishkin, ―How Big a Problem Is Too Big to Fail? A Review
of Gary Stern and Ron Feldman’s Too Big to Fail: The Hazards of Bank Bailouts,‖
Journal of Economic Literature, 2006, [Link]
59
Anwar Hadi, Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005).
45

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir yang


telah dikemukakan diatas, maka dalam penelitian ini diajukan
hipotesis sebagai berikut:
1. Pengaruh Return On Asset (ROA) terhadap Capital Buffer
Berdasarkan penelitian dari Dedy Mainata dan Addien
Fahma Ardiani (2017) menemukan bahwa variabel ROA
memiliki pengaruh signifikan terhadap Capital Buffer. Karena
semakin tinggi capital buffer maka semakin besar kemampuan
bank tersebut untuk menanggung risiko dari setiap
kredit/aktiva produktif yang beresiko. Berdasarkan uraian
tersebut maka hipoteis yang diajukan dalam penelitian ini
adalah:
H1: Ada Hubungan positif signifikan antara ROA dengan
Capital Buffer.
2. Pengaruh Return On Equity (ROE) terhadap Capital Buffer
Berger (1995), Nier dan Baumann (2006), D’Avack dan
Levasseur (2007), dan Flannery dan Rangan (2008)
menemukan hubungan yang positif antara ROE dan CCB.
ROE yang bertumbuh menunjukkan bahwa laba yang
diperoleh bank semakin meningkat. Laba yang meningkat
dapat digunakan untuk meningkatkan Capital buffer. Semakin
tinggi ROE maka semakin besar Capital buffer yang dipupuk
oleh bank karena bank menahan laba yang tinggi tersebut
sebagai buffer bagi bank, sehingga apabila di kemudian hari
terjadi guncangan maka bank tetap kuat dan dapat
menjalankan aktivitas bisnisnya. Hal ini sesuai dengan
peraturan Basel III pula yang merupakan standar global
terbaru untuk pengaturan capital adequacy dan likuiditas
perbankan. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang
diajukan dalam penelitian ini adalah:
H2: Return On Equity (ROE) berpengaruh positif
terhadap Capital Buffer.
46

3. Pengaruh Net Perfoming Financing (NPF) terhadap Capital


Buffer
Berdasarkan penelitian Atici dan Guner (2013), Fikri dan
Erman (2012), Anggitasari (2013), Fauzia dan Idris (2016)
menggunakan rasio non performing loan sebagai proksi risiko
bank. Semakin tinggi nilai NPF, maka likuiditas menurun
karena tidak ada dana yang masuk baik berupa pembayaran
pokok maupun bagi hasil, sehingga menyebabkan semakin
besarnya potensi bank mengalami kerugian dan hilangnya
kepercayaan dari masyarakat karena bank tidak mampu
mengelola dana nasabah. Berdasarkan hasil penelitian
tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
adalah:
H3: Net Perfoming Financing (NPF) berpengaruh positif
terhadap Capital Buffer.
4. Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE),
Net Perfoming Financing (NPF) Secara Simultan terhadap
Capital Buffer
Hanum Yuniastika Ristia (2018) menemukan hubungan
antara CAR, NPF, FDR, BOPO, dan SIZE berpengaruh
terhadap profitabilitas (ROA) pada perbankan syariah di
Indonesia tahun 2012-2016 secara simultan. Berdasarkan
penelitian terdahulu, maka hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini adalah:
H4: Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net
Perfoming Financing (NPF) berpengaruh positif Secara
Simultan terhadap Capital Buffer
5. Pengaruh Return On Asset (ROA) melalui Capital Adequacy
Ratio (CAR) sebagai Variabel Moderating terhadap Capital
Buffer pada Bank Umum Syariah di Indonesia
Semakin besar return on assets menunjukkan kinerja
keuangan yang semakin baik, karena tingkat pengembalian
(return) semakin besar. Permodalan merupakan aspek yang
sangat penting bagi bank. Kecukupan modal diukur dengan
menggunakan rasio CAR. Penting bagi pihak manajemen
47

untuk memperhatikan besarnya CAR yang dimiliki bank agar


bank tidak mengalami kekurangan dana dan juga tidak
kelebihan dana. Modal merupakan sumber utama pembiayaan
kegiatan operasional bank dan juga berperan sebagai
penyangga kemungkinan terjadinya risiko kerugian. Semakin
besar modal yang dimiliki maka semakin kuat bank tersebut
dalam menghadapi resiko-resiko yang tak terduga sehingga
bank dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat.60
Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini adalah:
H5: Return On Asset (ROA) mampu dimoderasi melalui
Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai Variabel
Moderating terhadap Capital Buffer pada Bank Umum
Syariah di Indonesia
6. Pengaruh Return On Equity (ROE) melalui Capital Adequacy
Ratio (CAR) terhadap Capital Buffer pada Bank Umum
Syariah di Indonesia
Besarnya nilai return on equity tidak menjamin adanya
peningkatan terhadap jumlah laba yang ditahan yang akan
menjadi capital buffer. Hal ini dikarenakan return on equity
juga merupakan kelebihan dari remunerasi yang dituntut oleh
pemilik saham yang nantinya digunakan untuk membayar
jumlah deviden.
CAR merupakan rasio perbandingan modal sendiri dengan
aktiva bank yang mengandung resiko. Nilai CAR yang terlalu
tinggi tidak baik untuk bank, karena mengindikasikan bahwa
terlalu banyak modal ditahan yang seharusnya modal tersebut
bisa digunakan untuk operasional dan fungsi bank untuk
meningkatkan laba bagi perusahaan. Namun penurunan nilai
Return On Equity tetapi tingkat capital buffer tetap
mengalami kenaikan. Dengan demikian, return on equity tidak
berpengaruh terhadap capital buffer yang tersedia. Hasil ini
sejalan dengan penelitian Fikri (2012) dan Ichtiani (2017)
yang menyatakan bahwa return on equity tidak berpengaruh

60
(Pengaruh non performing loan (NPL), Likuiditas dan Rentabilitas
Terhadap Rasio Kecukupan Modal, 2014, pp. 1140-1154)
48

terhadap capital buffer. Berdasarkan penelitian tersebut,


hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
H6: Return On Equity (ROE) mampu dimoderasi melalui
Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai Variabel
Moderating terhadap Capital Buffer pada Bank Umum
Syariah di Indonesia
7. Pengaruh Net Performing Financing (NPF) melalui Capital
Adequacy Ratio (CAR) sebagai variabel moderating terhadap
Capital Buffer pada Bank Umum Syariah di Indonesia
Septiarini dan Wayan (2014) dalam penelitiannya tentang
Pengaruh Rasio Kecukupan Modal dan Rasio Penyaluran
Kredit Terhadap Profitabilitas dengan Moderasi Rasio Kredit
Bermasalah Pada BPR di [Link] periode 2010-2012
menunjukkan hasil NPL memoderasi hubungan CAR terhadap
profitabilitas. Imam (2017) dalam penelitiannya pada 7 Bank
Umum Syariah di Indonesia menunjukkan NPF memoderasi
pengaruh CAR terhadap ROA. Berdasarkan hasil penelitian
tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H7: Net Performing Fiancing (NPF) mampu dimoderasi
melalui Capital Adequacy Ratio (CAR) sebagai Variabel
Moderating terhadap Capital Buffer pada Bank Umum
Syariah di Indonesia
98

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Juda, dkk. Credit Crunch Di Indonesia Setelah Krisis: Fakta


Penyebab Dan Implikasi Kebijakan. Direktorat Riset Ekonomi
dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, 2001.
Ahmad Tanzeh. Metodologi Penelitian Praktis. Yogyakarta: Teras,
2011.
Anwar Hadi. Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Arthur J. Keown, dkk. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Edited by
Chaerul D. Djakman. Jilid 1. Jakarta: Salemba Empat, 2001.
Ascarya. Akad Dan Produk Bank Syariah: Konsep Dan Praktek Di
Beberapa Negara. Jakarta: Bank Indonesia, 2006.
Atici, Gonca, and Guner Gursoy. ―The Determinants of Capital Buffer
in the Turkish Banking System.‖ International Business
Research 6, no. 1 (2012). [Link]
Bank Indonesia. Peraturan Bank Indonesia (PBI), Pub. L. No.
17/22/PBI/2015 (2015).
Basel Commite on Banking Supervision. History Of The Basel
Commite And It’s Membership. Swiss: Basel Commitee Banking
Supervision, 2006.
Basel Committee on Banking Supervision. ―Basel Committee on
Banking Supervision Basel III: International Framework for
Liquidity Risk Measurement, Standards and Monitoring.‖ In
Bank for International Settlement, no. Desember (2010).
[Link]
Brigham, Eugene F, dan Houston Joel F. Manajemen Keuangan. 8th
ed. Jakarta: Erlangga, 2001.
Brigham, F dan Houston, J. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. 8th,
Buku 2 ed. Jakarta: Salemba Empat, 2001.
Bungin, B. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan
Publik, Dan Ilmu Sosial Lainnya. Kencana, 2017.
Carvallo, Oscar, Adnan Kasman, and Sine Kontbay-Busun. ―The
Latin American Bank Capital Buffers and Business Cycle: Are
They pro-Cyclical?‖ Journal of International Financial Markets,
Institutions and Money 36 (2015).
[Link]
Charles Freeland. The Work The Basel Commitee. Swiss, 1994.
Dendawijaya, Lukman. Manajemen Perbankan. Bogor: Ghalia
Indonesia, 2005.
99

Drehmann, Mathias, and Leonardo Gambacorta. ―The Effects of


Countercyclical Capital Buffers on Bank Lending.‖ Applied
Economics Letters 19, no. 7 (2012).
[Link]
Fikri M.R. ―Determinants of Comercial Bank’s Capital Buffer in
Indonesia.‖ Diponegoro Journal of Management, 2012.
Ghazouani, Tarek. ―The Capital Structure Through the Trade-Off
Theory: Evidence from Tunisian Firm.‖ International Journal of
Economics and Financial Issues 3, no. 3 (2013): 625–36.
Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis Multivariat Dengan Program SPSS.
Semarang: Badan Penertbit Universitas Diponegoro, 2011.
Gitman, Lawrence, and Chad Zutter. ―Introduction to Managerial
Finance.‖ In Principles of Managerial Finance, 2015.
Hadi, Sutrisno. Analisis Regresi. Edited by Andi Offset. Yogyakarta,
2006.
Hadi, Syamsul dkk. Kudeta Putih Reformasi Dan Pelembagaan
Kepentingan Asing Dalam Ekonomi Indonesia. Handbook, 2012.
Hamzah Ahmad dan Nanda Santoso. Kamus Pintar Besar Bahasa
Indonesia. Surabaya: Fajar Mulya, 1996.
Hanafi, Mamduh M, dan Abdul Halim. Analisis Laporan Keuangan.
Yogyakarta: UPP AMPYKPN, 2005.
Harianto, Syawal. ―Rasio Keuangan Dan Pengaruhnya Terhadap
Profitabilitas Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.‖ ESENSI
7, no. 1 (2017). [Link]
Hasan, M. Iqbal. Pokok-Pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif).
Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Hempel, George H and Alan B Coleman, Donald G. Simonson. Bank
Management Text and Cases. Edited by John Wilry and Sons,
1986.
Heri Sudarsono. Bank & Lembaga Keuangan Syariah. 2nd ed.
Yogyakarta: Ekonisia, 2008.
Hidayat, Syarifudin, Sedarmayanti. Metodologi Penelitian. Bandung:
Mandar Maju, 2002.
———. Metodologi Penelitian. Bandung: Mandar Maju, 2002.
Imam Ghozali. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM
SPSS 21 Update PLS Regresi. Semarang: Badan Penertbit
Universitas Diponegoro, 2013.
Kasmir. Manajemen Perbankan. Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2003.
Khalwaty, Tajul. Inflasi Dan Solusinya. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2000.
100

Kuncoro. Manajemen Perbankan, Teori Dan Aplikasi. Jakarta: PT.


Indeks Kelompok Gramedia, 2002.
Lie, Liana. ―Penggunaan MRA Dengan Spss Untuk Menguji Pengaruh
Variabel Moderating Terhadap Hubungan Antara Variabel
Independen Dan Variabel Dependen.‖ Jurnal Teknologi
Informasi DINAMIK XIV, no. 2 (2009).
Lusi Budiharti. ―Analisis Kinerja Keuangan PT. Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tbk. 2004-2005.‖ IPB, 2006.
M. Nur Rianto Al-Arif. Lembaga Keuangan Syariah Suatu Kajian
Teoristis Praktis. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2012.
Marcus, Alan J. ―Deregulation and Bank Financial Policy.‖ Journal of
Banking and Finance 8, no. 4 (1984).
[Link]
Misbahudin, Iqbal Hasan. Analisis Data Penelitian Dengan Statistik.
Jakarta: Bumi Aksara, 2013.
Mishkin, Frederic S. ―How Big a Problem Is Too Big to Fail? A
Review of Gary Stern and Ron Feldman’s Too Big to Fail: The
Hazards of Bank Bailouts.‖ Journal of Economic Literature,
2006. [Link]
Miskhin, Frederic S. Ekonomi Uang, Perbankan, Dan Pasar
Keuangan. 8th ed. Jakarta: Salemba Empat, 2008.
Mudarajad Kuncoro dan Suhardjono. Manajemen Perbankan.
Yogyakarta: BPFE Yogyakarta, 2002.
Muhammad. Manajemen Bank Syariah. Yogyakarta: UPP
AMPYKPN, 2002.
Muhammad Syafi’i Antonio. Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktik.
Jakarta: Gema Insani Pers, 2001.
Mutamimah, Siti, and Nur Zaidah Chasanah. ―ANALISIS
EKSTERNAL DAN INTERNAL DALAM MENENTUKAN
NON PERFORMING FINANCING BANK UMUM SYARIAH
DI INDONESIA.‖ Jurnal Bisnis Dan Ekonomi (JBE) 19, no. 1
(2012).
Myers, Stwr C. ―Stwr C. Myers,‖ 1983.
Nasional, Departemen Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia
Pusat Bahasa. Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Utama, 2011.
Nursalam, 2016, metode penelitian, and A.G Fallis. ―Analisis
Pengaruh Dana Pihak Ketiga, BOPO, CAR Dan LDR Terhadap
Kinerja Keuangan Pada Sektor Perbankan Yang Go Public Di
Bursa Efek Indonesia (BEI) (Periode 2005-2008).‖ Journal of
Chemical Information and Modeling 53, no. 9 (2013): 1689–99.
101

Pramono, Bambang dkk. ―Dampak Kebijakan Countercyclical Capital


Buffer Terhadap Pertumbuhan Kredit Di Indonesia,‖ 2015.
Saiful, and Yohana. ―Implementasi Teori Struktur Modal Di
Perusahaan Publik Indonesia.‖ Jurnal Fairness 4, no. 1 (2014):
63–78.
Sebayang, Erna Susilawati. ―Analisis Pengaruh Kecukupan Modal,
Efisiensi, Likuiditas, Non Performing Loan, Pembentukan
Penyisihan Aktiva Produktif, Dan Kualitas Aktiva Produktif
Terhadap Return On Asset, Studi Empiris Pada BPR Di Wilayah
Kabupaten Deli Serdang Tahun 2007-2010.‖ Universitas
Sumatera Utara, 2011.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif Dan R&D.
Bandung: Alfabeta, 2011.
Weston, J. Feed dan Thomas E. Copeland. Manajemen Keuangan.
Jakarta: Binarupa Aksara, 2010.
Widiyanto, Joko. SPSS for Windows Untuk Analisis Data Statistik
Dan Penelitian. Surakarta: BP-FKIP UMS, 2010.
Zainul Arifin. Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah. Jakarta: Azkia
Publisher, 2009.

Common questions

Didukung oleh AI

The Return on Equity (ROE) has a negative and significant impact on the capital buffer in Islamic banks in Indonesia. This relationship is influenced by the Capital Adequacy Ratio (CAR). The CAR acts as a moderating factor that strengthens the negative relationship between ROE and the capital buffer. When CAR is considered, it amplifies the impact of ROE on the capital buffer, intensifying the reduction in the buffer when ROE increases .

Non-Performing Financing (NPF) negatively impacts the capital buffer in Islamic banks. The Capital Adequacy Ratio (CAR) serves to moderate this relationship by strengthening the negative influence. When NPF rises, the bank's capital buffer diminishes, and CAR's presence intensifies this reduction, indicating that high CAR can exacerbate the detrimental effect of NPF on capital buffers .

Countercyclical capital buffers (CCB) function to stabilize the banking system by adjusting the capital requirements based on economic conditions. During economic expansion, CCBs are increased to prevent excessive credit growth, thus avoiding systemic risks. Conversely, during economic contraction, CCBs are relaxed to encourage lending and stimulate economic activity. This flexibility helps mitigate the procyclical behavior of banks and stabilize the financial system across differing economic phases .

The capital buffer serves as an insurance mechanism against financial instability by absorbing unexpected losses and protecting banks during economic disruptions. In Indonesia, it acts as a financial safety net that sustains banks' operations even when asset values drop or economic conditions deteriorate. This insurance effect minimizes the risk of insolvency and enhances public confidence in the banking system's stability and resilience .

A decrease in Non-Performing Financing (NPF) would positively influence the capital buffer and enhance the overall stability of Islamic banks in Indonesia. Lower NPF ratios indicate fewer defaults and problematic loans, leading to improved financial health and less need to allocate capital for loss coverage. This reduction increases the available capital buffer, contributing to the bank's ability to withstand future financial shocks and fostering greater lending capacity and institutional stability .

Maintaining a capital buffer is crucial for the banking system as it acts as a safeguard against potential financial losses. In Indonesia, capital buffers provide the necessary cushion to absorb unexpected asset losses, maintain customer trust, and stabilize the financial system during economic fluctuations. They are essential for ensuring banks' ability to withstand financial shocks and continue operating efficiently .

Islamic banks in Indonesia manage risk through the capital adequacy framework by maintaining a Capital Adequacy Ratio (CAR) that meets or exceeds regulatory requirements. This mechanism ensures they have sufficient capital to absorb potential losses. They strategically deploy capital buffers and utilize tools like the Countercyclical Capital Buffer (CCB) to mitigate risks associated with credit growth and economic fluctuations. These strategies collectively enhance their resilience .

The Return on Asset (ROA) has a positive and significant impact on the capital buffer in Indonesian Islamic banks. However, when considering CAR as a moderating variable, it weakens the relationship between ROA and the capital buffer. This indicates that while ROA independently boosts the capital buffer, the inclusion of CAR diminishes this effect .

Islamic banks in Indonesia ensure compliance with minimum capital requirements by maintaining a Capital Adequacy Ratio (CAR) that aligns with the benchmarks set by the central bank. The central bank enforces regulations such as the minimum CAR, conducting regular audits and monitoring banks' financial health to ensure conformity. It provides guidelines and adjustments like the Countercyclical Capital Buffer (CCB) to address economic variations, thus playing a crucial role in the ongoing regulatory oversight and stability of the banking sector .

A high Capital Adequacy Ratio (CAR) can have mixed implications for the growth and lending capabilities of Islamic banks in Indonesia. While it enhances financial stability by providing a buffer against risks, it might also limit the banks' ability to expand their lending activities since a significant portion of their capital is reserved to meet regulatory requirements rather than being deployed for productive ventures. This trade-off can sometimes result in reduced profitability and slower growth due to constrained lending .

Anda mungkin juga menyukai