Pengaruh ROA, ROE, NPF Terhadap Capital Buffer
Pengaruh ROA, ROE, NPF Terhadap Capital Buffer
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat-
Syarat Guna Mendapatkan Gelar Sarjana Ekonmi (S.E)
Dalam Ilmu Ekonomi Dan Bisnis Islam
Oleh:
Dwilita Suleha
1751020150
Program Studi: Perbankan Syariah
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat-
Syarat Guna Mendapatkan Gelar Sarjana Ekonmi (S.E)
Dalam Ilmu Ekonomi Dan Bisnis Islam
Oleh:
Dwilita Suleha
1751020150
Program Studi: Perbankan Syariah
ii
ABSTRAK
iii
ABSTRACT
iv
KEMENTRIAN AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
Alamat: Jl. Letkol H. Endro Suratmin Sukarame 1 Telp. (0721)703289 Bandar Lampung 35131
SURAT PERNYATAAN
Dwilita Suleha
1751020150
v
vii
MOTTO
viii
PERSEMBAHAN
ix
RIWAYAT HIDUP
x
KATA PENGANTAR
xi
4. Femei Purnamasari, [Link] dan Dimas Pratomo, M.E. selaku
pembimbing yang telah mengarahkan penulis hingga
penulisan skripsi ini selesai, semoga barokah ilmu dan
pengetahuan yang diberikan selama ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen serta Karyawan pada Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Intan Lampung yang
telah memberikan motivasi serta memberikan ilmu yang
bermanfaat kepada penulis hingga dapat menyelesaikan
studi.
6. Kepada seluruh staf akademik dan pegawai perpustakaan
yang memberikan pelayanan yang baik dalam mendapatkan
informasi.
7. Sumber referensi data, dan lain-lain.
8. Rekan-rekan seperjuangan mahasiswa Perbankan Syariah
Angkatan 2017 khususnya kelas C yang telah bersamaan
mengukir sejarah, kenangan, dan pengalaman hingga saat ini
serta motivasi selama penulisan skripsi ini.
9. Seluruh sahabat dan semua pihak yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan,
motivasi, inspirasi, dan membantu dalam proses penulisan
skripsi ini.
Semoga Allah SWT selalu memberikan Rahmat dan
Karunia-Nya kepada Bapak, Ibu, Teman, dan Saudara
semuanya dengan amal ibadah masing-masing. Penulis
menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, akan
tetapi diharapkan dapat memberikan manfaat keilmuan yang
berarti dalam bidang khazanah Ekonomi Islam bagi penulis
khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Untuk itu
kiranya pada pembaca dapat memberikan masukan, saran,
dan kritik guna melengkapi tulisan ini.
Bandar Lampung, 28 Juni 2021
Dwilita Suleha
1751020150
xii
DAFTAR ISI
xiii
I. Sistematika Penulisan.................................................... 20
BAB II LANDASAN TEORI ............................................ 21
A. Bank Umum Syariah ..................................................... 21
1. Pengertian Bank Umum Syariah ............................ 21
2. Landasan Hukum ................................................... 21
3. Tujuan Bank Umum Syariah.................................. 24
4. Kegiatan bank umum syariah ................................ 25
5. Tinjauan tentang Modal dalam Bank Syariah ........ 27
6. Perhitungan kebutuhan modal minimum Bank
Syariah ................................................................... 29
7. Fungsi Modal Bank Umum Syariah ...................... 30
8. Sumber Permodalan Bank Syariah ....................... 31
9. Regulasi perbankan tentang modal ....................... 32
B. Rasio Keuangan ............................................................ 35
1. Pengertian rasio keuangan ..................................... 35
2. Tujuan dan manfaat rasio keuangan ....................... 36
3. Jenis-Jenis Rasio Keuangan ................................... 36
C. Tinjauan tentang Capital Buffer .................................... 37
1. Pengertian Capital Buffer...................................... 37
2. Pengukuran Capital Buffer.................................... 41
3. Rasio yang mempengaruhi Capital Buffer ............. 41
4. Teori yang berkaitan dengan Capital Buffer .......... 42
a. Pecking Order Theory ....................................... 42
b. Characther Order Theory ................................. 43
c. Too big too fail consensus ................................. 44
xiv
D. Pengajuan Hipotesis ....................................................... 45
BAB III METODE PENELITIAN ................................... 50
A. Waktu dan Tempat Penelitian ....................................... 50
B. Pendekatan Jenis Penelitian .......................................... 50
C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengumpulan Data ....... 50
D. Definisi Operasional Variabel ....................................... 55
E. Instrumen Penelitian...................................................... 60
F. Uji Prasarat Analisis ...................................................... 61
1. Pengertian Analisis Data .......................................... 61
2. Prasyarat Analisis Data ............................................ 62
a. Uji Asumsi Klasik ............................................. 62
b. Uji Autokorelasi ............................................... 63
c. Uji Heteroskedastisitas ..................................... 64
d. Uji Multikolinearitas ........................................ 64
G. Uji Hipotesis.................................................................. 65
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
xvii
DAFTAR GAMBAR
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Lampiran 1 Data Prosedur pemilihan sampel
Lampiran 2 Data Sampel BUS di Indonesia
Lampiran 3 Data Rasio Keuangan BUS di Indonesia
Lampiran 4 Analisis Statistik Deskriptif
Lampiran 5 Hasil Uji Normalitas(Kolmogorov-Smirnov) .
Lampiran 6 Hasil Uji Multikolinearitas
Lampiran 7 Hasil Uji Heteroskedastisitas (Uji Glejser)
Lampiran 8 Hasil Uji Autokorelasi (Durbin Watson)
Lampiran 9 Hasil Perhitungan (Koefisien Determinasi R2)
Lampiran 10 Hasil Uji Signifikansi (Uji T)
Lampiran 11 Hasil Uji Signifikansi (Uji F)
Lampiran 12 Hasil Uji Uji Regresi Moderating (MRA)
xix
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Penegasan Judul
Judul skripsi ini adalah ―Analisis Pengaruh Retun On Asset
(ROA), Return On Equity (ROE), Net Performing Financing
(NPF) Terhadap Capital Buffer dengan Capital Adequacy Ratio
(CAR) Sebagai Variabel Moderating Pada Bank Umum Syariah di
Indonesia Periode 2015-2019. Untuk mengetahui lebih dalam dan
agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang skripsi ini mengenai
maksud dantujuan serta ruang lingkup, maka penulis secara singkat
akan menguraikan beberapa istilah dari judul skripai ini. Istilah-
istilah tersebut antara lain:
1. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa
(karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui
keadaan yang sebenarnya (sebab - musabab, duduk perkaranya,
dan sebagainya).1
2. Pengaruh merupakan daya yang ada atau timbul dari sesuatu
(orang atau benda) yang ikut membentuk watak kepercayaan
dan perbuatan seseorang. Berdasarkan penjelasan diatas yang
dimaksud oleh penulis mengenai sesuatu yang dapat
memberikan dampak positif ataupun negatif terhadap suatu
objek penelitian yang terdapat dalam penelitian ini.2
3. Retun On Asset (ROA) merupakan rasio profitabilitas yang
digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan seluruh asset
perusahaan.3 Dengan kata lain, ROA adalah indikator unit usaha
untuk memperoleh laba atas sejumlah asset yang dimiliki pleh
unit usaha tersebut. Rasio ini digunakan untuk mengukur
kemampuan manjemen dalam memperoleh keuntungan secara
keseluruhan.
1
Hamzah Ahmad dan Nanda Santoso, Kamus Pintar Besar Bahasa Indonesia
(Surabaya: Fajar Mulya, 1996).
2
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat
Bahasa, keempat (Jakarta: PT. Gramedia Utama, 2011).
3
Lawrence Gitman and Chad Zutter, ―Introduction to Managerial Finance,‖ in
Principles of Managerial Finance, 2015.
2
4. Return On Equity (ROE) merupakan rasio yang digunakan
untuk mengukur kemampuan manejemen bank dalam
memperoleh laba dengan menggunakan modal inti yang
dimiliki oleh bank tersebut. Rasio ROE banyak diamati oleh
pemegang saham (baik pemegang saham pendiri maupun
pemegang saham baru) serta para investor di pasar modal yang
ingin membeli saham bank yang bersangkutan.4
5. Net Performing Financing (NPF) adalah rasio yang digunakan
untuk mengukur resiko kegagalan dari pembiayaan, dimana
NPF adalah rasio antara pembiayaan bermasalah (yang masuk
dalam kriteria pembiayaan kurang lancar, diragukan, dan
macet). Dengan total pembiayaan yang disalurkan.5
6. Capital Buffer merupakan selisih lebih dari Capital Adequacy
Ratio (CAR) dengan CAR minimum yang telah ditetapkan
yaitu sebesar 8%. Fungsi capital buffer dalam industri
perbankan adalah untuk mengantisipasi kerugian di masa yang
akan datang.6
7. Capital Adequacy Ratio (CAR) Menurut Dendawijaya, capital
adequacy ratio adalah rasio kinerja bank untuk mengukur
kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva
yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit
yang diberikan. Semakin tinggi resiko rasio CAR maka semakin
baik kondisi suatu bank dan jika nilai CAR tinggi berarti bank
tersebut mampu membiayai kegiatan operasinya. Tingginya
CAR mengindikasikan bahwa bank tersebut mampu membiayai
kegiatan operasionalnya dan memberikan kondisi yang cukup
besar bagi profitabilitas.7
4
Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan (Bogor: Ghalia Indonesia,
2005).
5
Siti Mutamimah and Nur Zaidah Chasanah, ―ANALISIS EKSTERNAL
DAN INTERNAL DALAM MENENTUKAN NON PERFORMING FINANCING
BANK UMUM SYARIAH DI INDONESIA,‖ Jurnal Bisnis Dan Ekonomi (JBE) 19,
no. 1 (2012).
6
Mudarajad Kuncoro dan Suhardjono, Manajemen Perbankan (Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta, 2002
7
Kuncoro, Manajemen Perbankan, Teori Dan Aplikasi (Jakarta: PT. Indeks
Kelompok Gramedia, 2002).
3
8. Variabel Moderating menurut Sugiyono, variabel moderasi
merupakan variabel yang memperkuat atau memperlemah
hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen. Variabel moderasi merupakan tipe variabel yang
mempunyai pengaruh terhadap sifat atau arah hubungan antar
variabel. Sifat atau arah hubungan antara variabel-variabel
independen dengan variabel-variabel dependen kemungkinan
positif atau negatif dalam hal ini tergantung pada variabel
moderasi. Oleh karena itu, variabel moderasi dinamakan pula
dengan variabel contigency.8
9. Bank Umum Syariah adalah bank syariah yang dalam
kegiatannya memberikan jasa melalui lalu lintas pembayaran
berdasarkan prinsip syariah. Bank syariah juga merefleksikan
fungsinya sebagai pengelola dan zakat, dan dana-dana amal
lainnya termasuk dana qard hasan. Sementara itu, pada aspek
pengenalan (recognition), pengukuran (measurement), dan
pencatatan (recording) setiap transaksi pada sistem akuntansi
bank syariah terdapat kesamaan dengan proses-proses yang
terjadi pada sistem perbankan konvensional.9
B. Latar Belakang Masalah
Perbankan sebagai financial intermediary atau perantara
keuangan dari dua pihak yaitu pihak yang kelebihan dan
kekurangan dana, mempunyai peranan serta posisi yang penting
sebagai penunjang serta motor penggerak bagi perekonomian,
meskipun dalam sistem perekonomian saat ini, perbankan bukan
merupakan satu-satunya sumber permodalan utama yang ada bagi
investasi nasional maupun masyarakat, tetapi sumber permodalan
perbankan peranannya masih relatif sangat besar dan dibutuhkan
bila dibandingkan dengan pasar modal maupun sumber-sumber
permodalan lainnya.
Salah satu indikator bahwa bank dapat dikatakan sehat dinilai
dari kecukupan modal yang dimiliki bank tersebut. Bank perlu
8
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif Dan R&D (Bandung:
Alfabeta, 2011).
9
M. Nur Rianto Al-Arif, Lembaga Keuangan Syariah Suatu Kajian Teoristis
Praktis (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2012).
4
menyediakan kecukupan modal untuk menjaga tingkat
kepercayaan nasabah terhadap aktivitas perbankan. Oleh karena itu
bank sentral sebagai regulator yang memiliki kewenangan terhadap
pengawasan industri perbankan mengeluarkan aturan perbankan
mengenai permodalan. Bank Indonesia dalam melaksanakan
prinsip kehati-hatian menetapkan kewajiban penyediaan modal
minimum yang harus dimiliki oleh bank. Hal tersebut bertujuan
untuk memperkuat sistem perbankan dan sebagai penyangga
terhadap potensi kerugian.10
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.3 / 1 / PBI / 2001
tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum,
setiap bank wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% dari
Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) dan memiliki rasio
kecukupan modal (CAR). Jika ketentuan ini tidak dipatuhi, maka
Bank Indonesia akan menempatkan bank tersebut di bawah
pengawasan khusus Bank Indonesia. Pada krisis terakhir,
perbankan Indonesia mengalami penurunan modal yang tajam
karena ukuran dan kualitas asetnya.
Dalam hal ini bank dengan sendirinya akan menolak untuk
melakukan ekspansi kredit dan pembiayaan, karena semakin
banyak saluran kredit dan pembiayaan maka bank menambah
modal.11 Artinya semakin besar nilai rasio kecukupan modal maka
semakin banyak bank yang dapat memberikan kredit dan
pembiayaan. Menurut Meydianawati, rasio kecukupan modal yang
lebih tinggi mencerminkan kestabilan jumlah modal dan risiko
yang dimiliki bank, sehingga memungkinkan bank untuk lebih
banyak memberikan kredit dan pembiayaan kepada masyarakat.
Dengan kata lain, hubungan antara rasio kecukupan modal dengan
kredit dan pembiayaan adalah satu arah.
Capital buffer merupakan selisih lebih dari Capital Adequacy
Ratio (CAR) atau rasio kecukupan minimum yang telah ditetapkan
10
J. Feed dan Thomas E. Copeland Weston, Manajemen Keuangan
(Jakarta: Binarupa Aksara, 2010).
11
dkk Agung, Juda, Credit Crunch Di Indonesia Setelah Krisis: Fakta
Penyebab Dan Implikasi Kebijakan (Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan
Moneter Bank Indonesia, 2001).
5
(8%). Fungsi capital buffer dalam industri perbankan adalah untuk
menganisipasi peningkatan kerugian di masa depan. Rasio ini
menunjukkan sejauh mana aset bank (kredit, investasi, surat
berharga, dan klaim bank lain) yang mengandung risiko juga
dibiayai dari dana modalnya sendiri. Selain itu, bank memperoleh
dana dari sumber selain bank, seperti dana dari masyarakat,
pinjaman, dan lain-lain. Semakin besar Capital Adequacy Ratio
(CAR) maka keuntungan bank juga semakin besar, semakin tinggi
CAR maka semakin baik kondisi bank. Dengan kata lain, semakin
kecil risiko suatu bank maka semakin besar keuntungan yang
diperoleh bank, yang artinya CAR berpengaruh positif dengan
ROA, semakin kecil CAR maka semakin kecil pula ROA yang
diperoleh bank tersebut, begitu pula sebaliknya semakin besar
CAR maka semakin besar pula ROA yang diperoleh bank
tersebut.12
Besar kecilnya CAR yang dimiliki oleh sebuah bank maka
dapat dipengaruhi oleh kinerja aspek keuangan lainnya yaitu aspek
likuiditas, aspek kualitas aktiva, aspek sensitivitas terhadap pasar,
dan aspek profitabilitas. Menurut Dendawijaya, ―Rasio yang
memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang
mengandung risiko (kredit dan pembiayaan, penyertaan, surat
berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal
sendiri bank disamping memperoleh dana dari sumber di luar bank
seperti dana dari masyarakat, pinjaman, dan lain-lain.
Menurut Jumingan, CAR dipengaruhi oleh banyak faktor
seperti rentabilitas dan likuiditas. Rasio profitabilitas merupakan
aspek untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan
keuntungan. Penilaiannya dapat dilakukan dengan menggunakan
Return On Asset (ROA). Apabila menggunakan rasio ROA maka
hubungannya dengan CAR adalah positif, karena dengan
meningkatnya ROA maka laba bank meningkat, sehingga modal
bank meningkat, dan akhirnya CAR juga meningkat.
12
Mudarajad Kuncoro dan Suhardjono, Manajemen Perbankan (Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta, 2002).
6
ROA merupakan rasio perbankan yang menilai aspek
profitabilitas yang dijadikan variabel independen yang
mempengaruhi CAR karena menurut Brigham dan Gapenski pada
penelitian Krisna perusahaan yang tingkat pengembalian
investasinya tinggi akan menggunakan hutang kecil agar tingkat
biaya modal yang mengandung risiko relatif kecil dari modal
sendiri bank relatif tinggi sehingga dapat meningkatkan CAR.
Disamping itu sesuai dengan theory packing order bahwa
keuntungan bank diutamakan untuk menambah modal bank, karena
itu semakin tinggi ROA semakin tinggi pula CAR. Sedangkan
Return on Equity (ROE) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bersih
berdasarkan modal sendiri. Adanya pertumbuhan ROE
menunjukkan prospek perusahaan yang semakin baik karena
adanya potensi peningkatan keuntungan yang diperoleh bank.
Semakin tinggi ROE menunjukkan semakin tinggi laba yang
diperoleh bank, sehingga semakin besar capital buffer yang
disediakan oleh bank untuk menjadi bantalan apabila di kemudian
hari bank mengalami kesulitan atau terjadi guncangan yang tidak
terduga. Hal ini juga sesuai dengan peraturan Basel III yang
merupakan standar global terbaru untuk pengaturan capital
adequacy dan likuiditas perbankan. Angka yang tinggi untuk
rasio ROE menunjukkan tingkat profitabilitas yang tinggi. Semakin
tinggi rasio ROE maka semakin baik pengembalian yang diperoleh
oleh bank.13
Sedangkan rasio NPF (Non Performing Financing)
menunjukkan kinerja sebuah bank dalam mengumpulkan kembali
pembiayaan yang telah disalurkan oleh bank sampai lunas, rasio
NPF sendiri merupakan rasio persentase jumlah pembiayaan
bermasalah terhadap total pembiayaan yang telah disalurkan,
semakin tinggi besaran rasio NPF yang ada pada bank maka akan
menyebabkan pengurangan terhadap kredit yang akan disalurkan
sehingga dapat menurunkan pendapatan pembiayaan bank dan
CAR akan ikut menurun. Semakin besar nilai NPF menunjukkkan
13
Gitman and Zutter, ―Introduction to Managerial Finance.‖
7
kinerja bank yang semakin buruk.14 Karena sangat pentingnya rasio
NPF bagi bank, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku Badan yang
mengatur dan mengawasi jasa keuangan termasuk perbankan di
Indonesia akan memanggil bank syariah yang memiliki rasio NPF
yang tinggi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga rasio agar tak
menyentuh angka diatas 5%. Adapun penetapan standar rasio NPF
yakni sebesar kurang dari 5%.
Countercyclical Capital Buffer (CCB) ditujukan untuk
mencegah timbulnya sistemik yang berasal dari pertumbuhan
kredit dan pembiayaan yang berlebihan dan kemampuan untuk
menyerap kerugian yang ditimbulkan.15 Pertumbuhan kredit dan
pembiayaan yang berlebihan tentu akan berdampak pada perilaku
prosiklikalitas antara pertumbuhan kredit dan pertumbuhan
ekonomi. CCB juga merupakan tambahan modal yang disyaratkan
untuk mengatasi krisis di masa yang akan datang. Artinya, tidak
semua permodalan bank digunakan secara keseluruhan untuk
operasional bank itu sendiri sehingga memerlukan rasio kecukupan
minimum CAR sebesar 8% yang wajib ada dalam bentuk
likuiditas. Bank Umum Syariah di Indonesia memiliki CAR lebih
dari 8% yang artinya Bank Umum Syariah memiliki kelebihan
untuk dapat menyalurkan modalnya kepada masyarakat dalam
bentuk pembiayaan atau yang lainnya sehingga dapat memperoleh
keuntungan yang dapat meningkatkan laba perusahaan. Kebijakan
CCB merupakan alat makroprudensial yang diusulkan oleh BCBS
dan salah satu langkah yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam
menanggulangi risiko sistemik dan krisis di masa mendatang agar
sutau saat ketika terjadinya penarikan uang dalam jumlah besar
yang dilakukan oleh nasabah dapat dibantu oleh modal penyangga
tersebut sehingga krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997-
1998 di Indonesia tidak terulang kembali. Kebijakan CCB tersebut
diharapkan mampu menekan pertumbuhan kredit pada periode
ekspansi ekonomi melalui transmisi kenaikan biaya kredit akibat
14
Muhammad, Manajemen Bank Syariah (Yogyakarta: UPP AMPYKPN,
2002).
15
Bambang dkk Pramono, ―Dampak Kebijakan Countercyclical Capital Buffer
Terhadap Pertumbuhan Kredit Di Indonesia,‖ 2015.
8
adanya kebutuhan bank untuk meningkatkan cadangan modalnya.
Indikator keberhasilan kebijakan CCB dapat dilihat dari
keberhasilan penekanan pertumbuhan kredit yang berlebihan dan
mampu mengurangi prosiklikalitas perbankan.
Adanya capital buffer ini, dapat menjadi pelindung yang dapat
menyerap berbagai risiko kerugian yang mungkin muncul dari
pertumbuhan kredit dan pembiayaan yang berlebihan maupun pada
saat periode krisis berlangsung, jika financial distress cost dari
modal yang rendah, serta biaya akses modal baru yang tinggi. Bank
dapat menahan dan menjadikan capital buffer sebagai asuransi
untuk menghindari biaya disiplin pasar (market dicipline) maupun
biaya intervensi pengawasan (supervisory intervention) jika
mereka memutuskan untuk menurunkan modal di bawah
persyaratan rasio kecukupan modal (CAR). Adanya kebijakan
capital buffer dapat memperlihatkan serta menekan laju
pertumbuhan kredit pada periode ekspansi ekonomi melalui
transmisi apabila adanya kenaikan dari biaya kredit (loanable fund)
menjadikan kebutuhan bank untuk meningkatkan cadangan
permodalannya serta sebagai antisipasi dari resiko kerugian yang
akan timbul pada saat terjadi periode krisis yang akan berdampak
langsung terhadap fungsi intermediasi perbankan. Kondisi
perbankan di Indonesia juga dipengaruhi adanya standarisasi
perbankan secara internasional yang dibuat oleh Basel Commitee
on Banking Supervision (BCBS). Basel III mewajibkan bank untuk
menambah modal sebagai bantalan resiko semua aset yang
dimiliki. Perbankan global harus mampu mengalokasikan dana
pihak ketiga (DPK) yang dimiliki sebesar 4,5%. Selain itu mereka
juga diwajibkan untuk membentuk modal penyangga (capital
buffer) sebesar 2,5% dari dana DPK yang tujuannya agar
perbankan dapat mempengaruhi opersional bisnis secara
keseluruhan. Total modal berkualitas yang harus dihimpun menjadi
7%.16 Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kebijakan CCB
dapat menahan atau mengurangi pembiayaan yang disalurkan oleh
bank, terutama pembiayaan yang bersifat tidak produktif. Hal
16
Syamsul dkk Hadi, Kudeta Putih Reformasi Dan Pelembagaan Kepentingan
Asing Dalam Ekonomi Indonesia (Handbook, 2012).
9
tersebut sesuai dengan meningkatkannya rasio capital buffer yang
terus meningkat dari tahun ke tahun diiringi dengan pertumbuhan
pembiayaan yang meningkat pula. Artinya bank akan tetap
mendapatkan keuntungan dari pembiayaan yang disalurkan dengan
menahan modalnya melalui jumlah ketetapan rasio CAR.
Seperti yang terjadi pada PT. Bnak Muamalat Indonesia Tbk
yang dilansir dari [Link]. PT. Bank Muamalat Indonesia
Tbk yang saat ini masih membutuhkan suntikan dana untuk tetap
menyelamatkan bank tersebut dari kebangkrutan. Permasalahan
yang dialami PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk sejak tahun 2015
timbul karena kesalahan dalam menjalankan strategi bisnis
perusahaan. Bank muamalat dinilai terlalu fokus pada pendanaan
korporasi, kurangnya prinsip kehati-hatian pada bank tersebut yang
mengakibatkan banyaknya pembiayaan bermasalah (net
performing financing/NPF) pada bank syariah pertama di
Indonesia meningkat tajam mencapai diatas 5%, lebih tinggi dari
batas maksimal ketentuan regulator. Ketika bank melebihi batas
tersebut, bias jadi Bank tersebut terancam mengalami kebagkrutan
(kolaps).
Kinerja pembiayaan juga bergantung pada faktor
makroekonomi umum seperti inflasi dan fluktuasi nilai tukar. Di
sisi lain, faktor pertumbuhan ekonomi biasanya mempengaruhi
kebijakan alokasi kredit dan pembiayaan bank pada sektor tertentu
sehingga mempengaruhi konsentrasi risiko kredit dan pembiayaan
yang diberikan oleh industri tertentu. Secara keseluruhan,
pertumbuhan ekonomi dan kondisi perbankan Indonesia secara
keseluruhan semakin membaik. Lembaga keuangan, khususnya
bank, harus terus berperan sebagai perantara untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi. Namun, kebijakan moneter dan kondisi
perbankan yang berhati-hati tersebut belum diiringi dengan
pertumbuhan kredit dan pembiayaan yang diberikan oleh
perbankan.
Inflasi yang tinggi akan mendorong perkembangan ekonomi.
Kenaikan biaya yang terus menerus telah menyebabkan kegiatan
produksi yang sangat tidak menguntungkan. Oleh karena itu,
pemilik modal umumnya cenderung menggunakan dananya untuk
10
tujuan spekulatif. Investasi produktif akan menurun, dan laju
inflasi kegiatan ekonomi akan menurun. Akibatnya akan semakin
banyak pengangguran. Untuk itu adanya capital buffer ini, dapat
menjadi pelindung yang dapat menyerap berbagai risiko kerugian
yang mungkin muncul dari pertumbuhan kredit dan pembiayaan
yang berlebihan maupun pada saat periode krisis berlangsung.
Menurut Tajur Khalwaty, inflasi dapat dikendalikan oleh
kebijakan suku bunga.17 Ketika jumlah mata uang yang beredar di
masyarakat meningkat, bank umum akan menaikkan suku bunga
simpanan untuk mendorong investor meningkatkan investasi
(modalnya) ke bank dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi
daripada modal yang ditanamkan pada sektor produksi dengan
tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Risiko agar inflasi bisa
dikendalikan. Kenaikan jumlah uang beredar menyebabkan jumlah
DPK yang dihimpun mengalami peningkatan. Jumlah uang beredar
adalah nilai keseluruhan uang yang berada di masyarakat. Jumlah
uang yang beredar dalam arti sempit adalah jumlah uang yang
beredar yang terdiri atas uang kartal dan uang giral. Pada saat
tingkat inflasi turun, suku bunga Bank Indonesia akan ikut turun.
Turunnya tingkat suku bunga Bank Indonesia akan menurunkan
suku bunga kredit dan suku bunga deposito, turunnya suku bunga
kredit berdampak pada peningkatan jumlah uang beredar di
masyarakat karena meningkatkan minat masyarakat untuk
meminjam dana sehingga akan menggerakkan aktivitas
perekonomian negara.
17
Tajul Khalwaty, Inflasi Dan Solusinya (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2000).
11
Tabel 1.1
Besaran Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Di Indonesia
Keteranga 2015 2016 2017 2018 2019
n
Inflasi
3,35 3,02 3,61 3,13 2,7
% 2
Pertumbuha
n Ekonomi 5,2 5,5 5,07 5,17 5,02
%
JUB 1.055.44 1.237.64 1.390.80 1.457.15 1.565.
(M1) 0 3 7 0 358
Miliar
Rupiah
Sumber: BPS, Diolah Pusat Data Dan Sistem Informasi, Kementrian
Perdagangan
Pada tabel 1 di atas dapat terlihat besaran inflasi di Indonesia
mengalami kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun dan
mengalami penurunan yang signifikan pada tahun 2019 sebesar
0,41% yaitu sebesar 2,72% dimana diimbangi dengan penuruan
pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada tahun yang sama yaitu
pada tahun 2019 sebesar 0,15% yakni sebesar 5,02% yang artinya
tingkat inflasi yang terjadi di Indonesia memiliki pengaruh dengan
pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi juga
mengalami kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun dan
mengalami penurunan paling rendah di tahun 2019 yaitu sebesar
5,02% disertai dengan penurunan inflasi yang terjadi pada tahun
2019 sebesar 0,41% yakni sebesar 2,72%, hal ini menunjukkan
bahwa turunnya laju inflasi membawa dampak positif terhadap
pertumbuhan ekonomi karena jika pertumbuhan ekonomi menurun
maka peningkatan produksi dapat memberikan dampak negatif
lain seperti meningkatnya pengangguran karena lapangan
pekerjaan yang tersedia sedikit. Sedangkan jumlah uang yang
beredar mengalami kenaikan dari tahun ketahun. Ketika jumlah
uang yang beredar di masyarakat meningkat, bank umum akan
12
menaikkan suku bunga simpanan untuk mendorong investor
meningkatkan investasi (modalnya) ke bank dengan tingkat
pengembalian yang lebih tinggi daripada modal yang ditanamkan
pada sektor produksi dengan tingkat produktivitas yang lebih
tinggi. Dengan hal tersebut dimaksudkan agar inflasi dapat
dikendalikan. Berdasarkan hal tersebut, kebijakan Countercyclical
Capital Buffer efektif untuk diterapkan di Indonesia karena tidak
memiliki efek negatif terhadap pertumbuhan ekonomi maupun
pertumbuhan pembiayaan di Indonesia. Sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Drehman dan Gambacorta menunjukkan
bahwa penambahan buffer CCB dapat mengurangi pertumbuhan
kredit pada saat credit booms dan mengurangi kontraksi kredit
pada saat CCB buffer dilepaskan khususnya di Spanyol.18
Dari fenomena research gap dan adanya temuan dari penelitian
terdahulu, adapun beda penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya diantaranya adalah: CAR sebagai variabel moderating
untuk melihat besarnya nilai Capital Buffer yang diperoleh Bank
Umum Syariah selama periode penelitian; tahun penelitian yang
digunakan periode tahun 2015-2019; serta teknik analisis yang
digunakan adalah MRA (Moderating Regrression Analysis).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk
meneliti ke dalam bentuk penelitian skripsi yang berjudul
“Analisis Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On Equity
(ROE), Net Performing Financing (NPF) Terhadap Capital
Buffer dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) Sebagai Variabel
Moderating Pada Bank Umum Syariah di Indonesia 2015-
2019” untuk meneliti bagaimana pengaruh Return On Asset
(ROA), Return On Equity (ROE), Net Performing Financing
(NPF) Terhadap Capital Buffer dengan Capital Adequacy Ratio
(CAR) Sebagai Variabel Moderating Pada Perbankan di Indonesia
mampu mempengaruhi Capital Buffer di Indonesia.
18
Mathias Drehmann and Leonardo Gambacorta, ―The Effects of
Countercyclical Capital Buffers on Bank Lending,‖ Applied Economics Letters 19, no.
7 (2012), [Link]
13
C. Identifikasi dan Batasan Masalah
Berdasarkan pemaparan yang ada di latar belakang, terdapat
beberapa point yang akan menjadi topik pembahasan oleh penulis
sesuai dengan permasalahan yang ada. Adapun identifikasi dalam
penelitian skripsi ini sebagai berikut:
1. Laporan Tahunan Bank Indonesia
2. Laporan Keuangan Bank Umum Syariah Indonesia Pada Periode
2015-2019.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka Rumusan
Masalah yang akan menjadi pembahasan dalam penelitian ini yaitu:
1. Apakah Retun On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net
Performing Financing (NPF) berpengaruh terhadap Capital
Buffer pada Bank Umum Syarah di Indonesia secara Parsial?
2. Apakah Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Net
Performing Financing (NPF) berpengaruh terhadap terhadap
Capital Buffer pada Bank Umum Syariah di Indonesia secara
Simultan?
3. Bagaimana Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On
Equity (ROE), Net Performing Financing (NPF) melalui
Capital Adequacy Ratio (CAR) Sebagai Variabel Moderating
terhadap Capital Buffer pada Bank Umum Syariah di
Indonesia?
E. Tujuan Penelitian
Pada umumnya suatu penelitian bertujuan untuk menemukan,
menuji, dan mengembangkan suatu pengetahuan. Berdasarkan
uraian rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk menganalisis Apakah Retun On Asset (ROA), Return
On Equity (ROE), Net Performing Financing (NPF)
berpengaruh terhadap Capital Buffer pada Bank Umum
Syariah di Indonesia secara Parsial
2. Untuk Mengetahui Apakah Return On Asset (ROA), Return On
Equity (ROE), Net Performing Financing (NPF) berpengaruh
terhadap terhadap Capital Buffer pada Bank Umum Syariah di
Indonesia secara Simultan
14
3. Untuk Mengetahui Bagaimana Pengaruh Return On Asset
(ROA), Return On Equity (ROE), Net Performing Financing
(NPF) melalui Capital Adequacy Ratio (CAR) Sebagai
Variabel Moderating terhadap Capital Buffer pada Bank
Umum Syariah di Indonesia
F. Manfaat Penelitian
Hal terpenting dalam sebuah penelitian adalah manfaat yang
dapat dirasakan atau diterapkan setelah terungkapnya hasil dari
penelitian tersebut. Dari penelitian ini diharapkan mampu
memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangsih untuk
memperkaya khazanah ilmu pengetahuan
b.
Menambah data atau menjadi referensi bagi kalangan
akademis dan non akademis
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan
Lampung, diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai
tambahan referensi bacaan bagi mahasiswa.
b. Untuk Pemerintah, penelitian ini diharapkan mampu menjadi
acuan dalam penerapan kebijakan makroprudensial berkaitan
dengan penanganan risiko terhadap modal pada ekonomi riil
Indonesia baik jangka pendek, menengah maupun jangka
panjang.
c. Bagi lembaga perbankan diharapkan mampu memberi
intruksi seberapa efektif penerapan kebijakan
makroprudensial (capital buffer) terhadap ekonomi riil
Indonesia.
d. Bagi pelaku industri, penelitian ini dapat meminimalisir
risiko yang ditanggung pada saat terjadi krisis ekonomi dan
pengambilan keputusan pengambilan kredit.
e. Bagi akademisi, penelitian ini menambah wawasan keilmuan
mengenai instrumen terbaru makroprudensial berkaitan
dengan penanganan risiko modal terhadap stabilitas
makroekonomi Indonesia.
15
f. Bagi peneliti, penelitian ini menambah wawasan keilmuan
dalam bidang makroprudensial, moneter, dan stabilitas
makroekonomi Indonesia. Selain itu, karya tulis ilmiah ini
memberikan konsep pemikiran peneliti dapat bermanfaat
bagi ilmu pengetahuan khususnya bidang ekonomi.
G. Tinjauan Pustaka
Tinjauan Pustaka ini bermaksud untuk mengetahui apakah ada
penelitian atau kajian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian
ini. Ada beberapa penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan
penelitian ini.
14
Tabel 1.2
Penelitian Sebelumnya
Judul
No. Peneliti Penerbit Metode Hasil Penelitian
Penelitian
1. Agustinus Determinant’s University Multiple Berdasarkan analisis pada aset perbankan, mengindikasikan bahwa
Prasetyan toko, of Capital Library of Liniear untuk bank kecil, capital buffer diperngaruhi secara positif oleh
Wahyoe Buffer Banking Mnich, Regression biaya ekuitas (cost of equity), non interest income, control of
Soedamono in Indonesia Germany coruption, dan government intervention meningkat. Sedangkan,
(2010) capaital buffer akan dikurangi jika the size of assets, ex- post credit
risk, financing from the financial markets, credit growth, economic
growth, dan the rule of the law meningkat.
2. Vebian Indriati, Analisis Jurnal Ilmu Analisis Secara simultan variabel DPK, SBK, dan NPL berpengaruh
Idah Zuhroh, Penyaluan Ekonomi Data Panel terhadap penyaluran kredit modal kerja. Sedangkan secara parsial,
dan Dwi Kredit Modal JIE (3), Regresi variabel DPK berpengaruh positif dan signifikan, SBK berpengaruh
Susilowati Kerja padaBank 529-540, negatif dan signifikan dan NPL berengaruh negatif dan tidak
Umum di 2018 signifikan terhadap penyaluran kredit modal kerja pada bank umum
Indonesia di Indonesia.
15
3. Nanda Arum Analisis Diponegoro Return on Equity (ROE) memiliki pengaruh positif dan tidak
Fauzia Faktor- Journal of signifikan terhadap capital buffer. Non Performing Loan (NPL)
Faktor Yang Manageme dan pertumbuhan GDP berpengaruh negatif terhadap capital
Mempenga nt buffer namun tidak signifikan. Loan Over Total Asset (LOTA)
ruhi Capital 5 (2), 354- berpengaruh negatif dan signifikan terhadap capital buffer dan lag
Buffer (Studi of capital buffer BUFFt-1. memiliki pengaruh positif dan
Kasus pada 365,2016 signifikan terhadap capital buffer. Hasil estimasi regresi
Bank Umum menunjukan seluruh variabel memiliki kemampuan prediksi
Konvensio model sebesar 51,7% sedangkan sisanya 48,3% dipengaruhi oleh
nal yang faktor lain di luar model.
terdaftar di
BEI tahun
2011-
2014)
4. Dedy Mainata, Pengaruh Al-Tijary 3 Analisis Variabel CAR terbukti memiliki pengaruh yang signifikan
Addien Fahma CAR (1), 19-28, Regresi terhadap ROA dikarenakan semakin tinggi CAR maka semakin
Ardiani Terhadap Sederhana kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko dari
2017
ROA setiap kredit/aktiva produktif yang berisiko.
Pada BUS
16
5. Hanum Faktor- faktor At-Tuzi This Secara simultan CAR, NPF, FDR, BOPO, dan SIZE berpengaruh
Yuniastika Ristia Yang :Islamic Research Is terhadap profitabilitas (ROA) pada perbankan syariah Indonesia
Mempengar Economic a quantitativ tahun2012-2016. Sedangkan secara parsial tidak ada pengaruh
uhi Profitabilita Journal e study signifikan CAR terhadap ROA pada perbankan syariah Indonesia,
s Bank 18(2),81- ada pengaruh signifikan NPF terhadap ROA pada perbankan
Umum 93,2018 syariah Indonesia, tidak ada pengaruh signifikan FDR terhadap
Syariah ROA pada perbankan syariah Indonesia, ada pengaruh signifikan
di Indonesia BOPO terhdap ROA pada perbankan syariah Indonesia, ada
pengaruh signifikan SIZE terhadap ROA pada perbankan syariah
Indonesia.
6. BM. Tabak, [Link] Capital FGLS Bank Capital Buffer dan GAP berpengaruh negatif pada pinjaman.
Noronha, danBuffers, (Feasible SELIC berpengaruh positif pada pinjaman ROE, NPL, dan SIZE
[Link] Lending Generalizize berpengaruh positif terhadap Capital Buffer.
Growth, and d Least
Economic Square)
Cyclce:
Emperical
Evidence for
Brazil/2011
17
7. Bambang Dampak Generalized Kebijakan CCB berpengaruh negatif dan dapat menekan kredit, BI
Pramono, Januarkebijakan Methods of Rate dan CAR terbukti berpengaruh negatif pada kredit, dan
Hafidz, JustinaCountercyclical Moments terbukti adanya sifat prosiklikalitas antara PDB dan Kredit.
Adamanti, Capital Buffer (GMM)
Maulana Harristerhadap
Muhajjir, pertumbuhan
Muhammad kredit di
Sahirul Alim Indonesia
8. Kemar Whyte Investigating Generalized ROE dan SIZE berpengaruh negatif dan Prov berpengaruh positif
the Interactions Methods of terhadap Capital Buffer. Size, RR, dan Capital Buffer berpengaruh
between Moments negatif terhadap kredit. Output GAP, Liq berpengaruh positif
Capital (GMM), terhadap kredit.
Buffers, Credit Vector
and Output Autoregressi
Growth: ve (VAR)
Evidence from dan Granger
the Jamaican Causality
Banking Sector Analysis
9. Drehmann danThe Effects of Generalized Countercyclical Capital Buffer terbukti dapat mengurangi
Gambacorta Countercyclica Methods of pertumbuhan kredit. Suku bunga dan RISK berpengaruh negatif
l Capital Buffer Moments pada kredit bank dan variabel lainnya berpengaruh positif
on Bank (GMM) terhadap kredit bank
Lending
18
10. Pravin Burra,Implementing Hodrick- Kesenjangan kredit terhadap PDB adalah indikator krisis sistemik
Pieter Juriaan deThe Prescott (HP perbankan dan berpengaruh terhadap Capital Buffer. Sektor
Jongh, HelgardCountercyclica Filter) swasta domestik, jumlah kendaraan baru, indeks harga rumah,
Raubenheimer, l Capital Buffer berpengaruh positif pada pertumbuhan kredit dan kredit terhadap
Gary van Vuuren,in South PDB terbukti berkorelasi negatif dengan pertumbuhan PDB.
Henco Wiiid Africa:Practica
l
Considerations
19
Return On Asset H1
(X1)
Return On Equity H2
Capital Buffer (Y)
(X2)
H3
Net Performing
Financing
H5 H6 H7
Capital
Adequacy Ratio
Keterangan:
(M)
Parsial
Simultan
20
BAB II
LANDASAN TEORI
19
M. Nur Rianto Al-Arif, Lembaga Keuangan Syariah Suatu Kajian
Teoristis Praktis.
20
M. Nur Rianto Al-Arif.
23
21
(Kebijakan Pengembangan Perbankan Syariah, Kajian Pengembangan
Perbankan Syariah, 2011, h.5)
22
Heri Sudarsono, Bank & Lembaga Keuangan Syariah, 2nd ed.
(Yogyakarta: Ekonisia, 2008).
25
23
OtoritasJasaKeuangan,“KegiatanBankSyariah”diakses
[Link]
[Link] 10 Oktober 2020.
26
prinsip Syariah.
d. Menyalurkan pembiayaan dengan akad murabahah, salam,
isthisna, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan
prinsip Syariah
e. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan dari akad qard, atau
akad yang lain yang sesuai dengan prinsip Syariah.
f. Menyalurkan pembiayaan barang yang bergerak atau tidak
kepada nasabah dengan dasar akad ijarah, atau dengan
sewa/beli dalam bentuk ijarah mutahiya bitamlik.
g. Melakukan pengambil alihan hutang berdasarkan akad
hawalah.
h. Melakukan usaha kartu kredit/debit berdasarkan prinsip
Syariah.
i. Membeli, menjual, dan menjamin atas resiko sendiri surat
berharga pihak ketiga, yang diterbitkan atas transaksi nyata
berdasarkan prinsip Syariah.
j. Membeli surat berharga berdasarkan prinsip Syariah yang
diterbitkan oleh bank Indonesia atau Pemerintah.
k. Menerima pembayaran dari tagihan surat berharga serta
melakukan perhitungan dengan pihak ketiga, berdasarkan
prinsip Syariah.
l. Melakukan penitipan untuk keperluan pihak lain,
berdasarkan akad yang sesuai dengan Syariah.
m. Menyediakan tempat penyimpanan barang dan surat
berharga atas prinsip Syariah.
n. Memberikan fasilitas L/C atau bank garansi berdasarkan
prinsip Syariah.
5. Tinjauan tentang Modal dalam Bank Syariah
a. Pengertian tentang Modal dalam Bank Syariah
Modal merupakan suatu bagian yang sangat penting
dalam membuatsebuah perusahaan. Dengan memiliki modal
yang cukup sebuah perusahaan dapat menjalankan kegiatan
bisnisnya dengan baik. Modal merupakan kekayaan bersih
27
24
Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah (Jakarta: Azkia
Publisher, 2009).
25
Muhammad, Manajemen Bank Syariah.
28
28
Donald G. Simonson Hempel, George H and Alan B Coleman, Bank
Management Text and Cases, ed. John Wilry and Sons, 1986.
29
Gonca Atici and Guner Gursoy, ―The Determinants of Capital Buffer in the
Turkish Banking System,‖ International Business Research 6, no. 1 (2012),
[Link]
31
30
Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah.
32
31
Basel Commite on Banking Supervision, History Of The Basel Commite
And It’s Membership (Swiss: Basel Commitee Banking Supervision, 2006).
32
Charles Freeland, The Work The Basel Commitee (Swiss, 1994).
33
(Manajemen Lembaga Keuangan, 2010)
33
34
Basel Committee on Banking Supervision, ―Basel Committee on Banking
Supervision Basel III: International Framework for Liquidity Risk Measurement,
Standards and Monitoring.‖
35
(Ardanto, 2006)
34
36
[Link]
diakses pada 25 September 2020 pukul 09.36 wib
37
J Brigham, F dan Houston, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, 8th,
35
42
Arthur J. Keown, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan.
43
Kasmir, Manajemen Perbankan (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2003).
37
44
Oscar Carvallo, Adnan Kasman, and Sine Kontbay-Busun, ―The Latin
American Bank Capital Buffers and Business Cycle: Are They pro-Cyclical?,‖
Journal of International Financial Markets, Institutions and Money 36 (2015),
[Link]
45
Bank Indonesia, ―Peraturan Bank Indonesia (PBI),‖ Pub. L. No.
17/22/PBI/2015 (2015).
46
Ibid h. 3
38
47
(Countercyclical Capital Buffer Proposal, 2010)
39
48
Frederic S Miskhin, Ekonomi Uang, Perbankan, Dan Pasar Keuangan, 8th
ed. (Jakarta: Salemba Empat, 2008).
40
49
Fikri M.R, ―Determinants of Comercial Bank’s Capital Buffer in
Indonesia.‖
41
Di mana:
BUFF : Capital Buffer
CAR Ratio : Rasio Kecukupan Modal Bank
Syariah
MRR : Syarat Minimum CAR yang sudah
ditetapkan
3. Rasio yang mempengaruhi Capital Buffer
a. Bank Financing (Pembiayaan)
Secara luas financing (pembiayaan) adalah pendanaan
yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah
direncanakan, baik dilakukan sendiri atau suatu lembaga.
Sedangkan, dalam artian sempit pembiayaan diartikan
sebagai pendanaan yang dilakukan oleh lembaga
pembiayaan, seperti bank Syariah kepada nasabahnya. 50
Menurut UU No. 10 Tahun 1998, Pasal 1 Nomor 12:
Pembiayaan berdasarkan prinsip Syariah adalah
penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan
itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan atara bank
dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai
untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah
jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.
b. Bank Size (Ukuran Bank)
Bank Size (Ukuran Bank) adalah suatu skala usaha
yang dimiliki oleh suatu perusahaan, yang dilihat dari
jumlah aktiva atau aset perusahaan.51 Dari definisi
tersebut dapat disimpulkan bahwa ukuran bank atau bank
size adalah skala ukuran perusahaan yang dinilai dari
jumlah aset atau aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
4. Teori yang berkaitan dengan Capital buffer
Teori yang berkaitan dengan Capital buffer yang
digunakan dalam penelitian ini sebagai acuan adalah
50
Fikri M.R. Diponegoro Journal of Management Vol. 1 (2012) h. 4
51
Karim, A. W. (2006). Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
42
52
Saiful and Yohana, ―Implementasi Teori Struktur Modal Di Perusahaan
Publik Indonesia,‖ Jurnal Fairness 4, no. 1 (2014): 63–78.
53
Stwr C Myers, ―Stwr C. Myers,‖ 1983.
43
54
Tarek Ghazouani, ―The Capital Structure Through the Trade-Off Theory:
Evidence from Tunisian Firm,‖ International Journal of Economics and Financial
Issues 3, no. 3 (2013): 625–36.
55
Weston, Manajemen Keuangan.
56
Alan J. Marcus, ―Deregulation and Bank Financial Policy,‖ Journal of
Banking and Finance 8, no. 4 (1984), [Link]
1.
57
Cambridge Dictionaries Online, ―Too Big ToFail‖, diakses melalui
[Link] tanggal
02 September 2020 pukul 19.55 wib
44
58
Frederic S. Mishkin, ―How Big a Problem Is Too Big to Fail? A Review
of Gary Stern and Ron Feldman’s Too Big to Fail: The Hazards of Bank Bailouts,‖
Journal of Economic Literature, 2006, [Link]
59
Anwar Hadi, Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005).
45
60
(Pengaruh non performing loan (NPL), Likuiditas dan Rentabilitas
Terhadap Rasio Kecukupan Modal, 2014, pp. 1140-1154)
48
DAFTAR PUSTAKA
The Return on Equity (ROE) has a negative and significant impact on the capital buffer in Islamic banks in Indonesia. This relationship is influenced by the Capital Adequacy Ratio (CAR). The CAR acts as a moderating factor that strengthens the negative relationship between ROE and the capital buffer. When CAR is considered, it amplifies the impact of ROE on the capital buffer, intensifying the reduction in the buffer when ROE increases .
Non-Performing Financing (NPF) negatively impacts the capital buffer in Islamic banks. The Capital Adequacy Ratio (CAR) serves to moderate this relationship by strengthening the negative influence. When NPF rises, the bank's capital buffer diminishes, and CAR's presence intensifies this reduction, indicating that high CAR can exacerbate the detrimental effect of NPF on capital buffers .
Countercyclical capital buffers (CCB) function to stabilize the banking system by adjusting the capital requirements based on economic conditions. During economic expansion, CCBs are increased to prevent excessive credit growth, thus avoiding systemic risks. Conversely, during economic contraction, CCBs are relaxed to encourage lending and stimulate economic activity. This flexibility helps mitigate the procyclical behavior of banks and stabilize the financial system across differing economic phases .
The capital buffer serves as an insurance mechanism against financial instability by absorbing unexpected losses and protecting banks during economic disruptions. In Indonesia, it acts as a financial safety net that sustains banks' operations even when asset values drop or economic conditions deteriorate. This insurance effect minimizes the risk of insolvency and enhances public confidence in the banking system's stability and resilience .
A decrease in Non-Performing Financing (NPF) would positively influence the capital buffer and enhance the overall stability of Islamic banks in Indonesia. Lower NPF ratios indicate fewer defaults and problematic loans, leading to improved financial health and less need to allocate capital for loss coverage. This reduction increases the available capital buffer, contributing to the bank's ability to withstand future financial shocks and fostering greater lending capacity and institutional stability .
Maintaining a capital buffer is crucial for the banking system as it acts as a safeguard against potential financial losses. In Indonesia, capital buffers provide the necessary cushion to absorb unexpected asset losses, maintain customer trust, and stabilize the financial system during economic fluctuations. They are essential for ensuring banks' ability to withstand financial shocks and continue operating efficiently .
Islamic banks in Indonesia manage risk through the capital adequacy framework by maintaining a Capital Adequacy Ratio (CAR) that meets or exceeds regulatory requirements. This mechanism ensures they have sufficient capital to absorb potential losses. They strategically deploy capital buffers and utilize tools like the Countercyclical Capital Buffer (CCB) to mitigate risks associated with credit growth and economic fluctuations. These strategies collectively enhance their resilience .
The Return on Asset (ROA) has a positive and significant impact on the capital buffer in Indonesian Islamic banks. However, when considering CAR as a moderating variable, it weakens the relationship between ROA and the capital buffer. This indicates that while ROA independently boosts the capital buffer, the inclusion of CAR diminishes this effect .
Islamic banks in Indonesia ensure compliance with minimum capital requirements by maintaining a Capital Adequacy Ratio (CAR) that aligns with the benchmarks set by the central bank. The central bank enforces regulations such as the minimum CAR, conducting regular audits and monitoring banks' financial health to ensure conformity. It provides guidelines and adjustments like the Countercyclical Capital Buffer (CCB) to address economic variations, thus playing a crucial role in the ongoing regulatory oversight and stability of the banking sector .
A high Capital Adequacy Ratio (CAR) can have mixed implications for the growth and lending capabilities of Islamic banks in Indonesia. While it enhances financial stability by providing a buffer against risks, it might also limit the banks' ability to expand their lending activities since a significant portion of their capital is reserved to meet regulatory requirements rather than being deployed for productive ventures. This trade-off can sometimes result in reduced profitability and slower growth due to constrained lending .