PKPA
PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
PERMENKES NO 3 TAHUN 2020
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan perseorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan
dan gawat darurat.
Klasifikasi Rumah Sakit
Klasifikasi klasifikasi Keterangan
Rumah Sakit
Segi RS milik pemerintah pusat
kepemilikan Rs milik pemerintah daerah
Rs pemerintah swasta
Rs umum adalah Rumah sakit yang Kelas A : Rs yang memiliki TT
memberikan pelayanan kesehatan pada paling sedikit 250 TT
semua bidang dan jenis penyakit Kelas B : paling sedikit 200 TT
Kelas C : paling sedikit 100 TT
Segi Kelas D : paling sedikit 50 TT
pelayanan Rs khusus adalah rs yang memberikan
pelayanan utama pada satu bidang/satu Kelas A : Rs yang memiliki TT
jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin paling sedikit 100 TT
ilmu, golongan, jenis penyakit dan Kelas B : paling sedikit 75 TT
kekhususan lainnya. Kelas C : paling sedikit 25 TT
Namun rs khusus bisa memberikan Kelas D : tidak ada
pelayanan diluar kekhususannya paling
banyak 40 % dari jumlah tempat tidur
Rs statis adalah Rs yang didirikan disuatu
lokasi dan bersifat permanen untuk jangka
waktu yang lama dalam menyelenggarakan
pelayanan kesehatan secara paripurna
Rs bergerak adalah rs yang bersifat
sementara dalam jangka waktu tertentu
dan dapat dipindahkan dari satu lokasi ke
lokasi lainnya.
Berbentuk bus, gerbong kereta api,kapal
Segi bentuk laut dll
dan jenis Rs lapangan adalah rs yang didirikan
pelayanan dilokasi tertentu bersifat sementara selama
kondisi darurat bencana/selama
pelaksanaan kegiatan tertentu. Berbentuk
tenda/bangunan permanen yang
difungsikan sementara sebagai rs.
Dalam menyelenggarakan pelayanan rawat inap rumah sakit harus memiliki:
Kelas 3 : Jumlah TT paling sedikit 30 % dari seluruh TT untuk Rs milik pemerintah pusat
dan pemerintah daerah dan 20 % dari RS swasta
Diatas kelas 1 : jumlah TT paling banyak 30 % dari seluruh TT untuk Rs pemerintah pusat,
daerah dan swasta
Ruang intensif : paling sedikit 8 % dari seluruh TT untuk Rs pemerintah pusat, daerah dan
swasta. (untuk rs umum 5 % pelayanan ICU, 3 % intensif lainnya)
PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT
Regulasi :
1. PERMENKES NO 72 TAHUN 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah
Sakit
2. PERMENKES NO 51 TAHUN 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian
Pengertian :
Instalasi Farmasi Adalah Pelaksana fungsional yang menyelenggarakan seluruh kegiatan
pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit.
SDM terdiri dari apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan
sumpah jabatan Apoteker.
Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalani
Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi dan Ahli Madya Farmasi.
Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggungjawab kepada
pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien yang
meliputi :
1. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
Yang meliputi :
a. Pemilihan
b. Perencanaan kebutuhan
c. Pengadaan
d. Penerimaan
e. Penyimpanan
f. Pendistribusian
g. Pemusnahan dan penarikan
h. Pengendalian
i. Administrasi
2. Pelayanan farmasi klinik , yang meliputi:
a. Pengkajian dan pelayanan resep
b. Penelusuran riwayat penggunaan obat
c. Rekonsiliasi obat
d. Pelayanan informasi obat (PIO)
e. Konseling
f. Visite
g. Pemantauan terapi obat (PTO)
h. Monitoring efek samping obat (MESO)
i. Evaluasi penggunaan obat(EPO)
j. Dispensing sediaan steril
k. Pemantauan kadar obat dalam darah (PKOD)
Ruang Lingkup pekerjaan kefarmasian
Kegiatan manajerial pengelolaan sediaan farmasi,alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai
Pemilihan Pemilihan adalah a. Pemilihan sediaan (membuat formularium RS)
suatu kegiatan yang oleh komite farmasi dan terapi
digunakan untuk Era JKN menggunakan E-purchasing dan
menetapkan jenis TKDN
sediaan farmasi, alat Mengutamakan penggunaan obat generic
kesehatan dan Memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk
bahan medis habis ratio) yang paling menguntungkan
pakai sesuai dengan penderita
kebutuhan. mutu terjamin
praktis dalam menyimpanan dan
pengangkutan
memiliki ijin edar dari BPOM (obat)
memiliki ijin edar dari dirjen Yanfar (alkes)
b. Pemilihan distributor
Akte pendirian perusahaan dan pengesahan
dari kementrian hukum dan hak asasi
manusia
SIUP
NPWP
Izin PBF
Perjanjian kerjasama antara distributor
dengan principle
Nama dan surat izin kerja apoteker
penanggungjawab
Alamat dan denah kantor
Surat garansi keaslian produk yang
didistribusikan
Perencanaan Perencanaan adalah a. Metode konsumsi, didasari dengan data
suatu proses untuk komsumsi dari periode sebelumnya.
menentukan jumlah A = (B+C+D)-E
dan periode a = rencana kebutuhan
pengadaan sediaan b = stok pemakaian rata-rata x12 bulan
farmasi, alkes dan c = buffer stock (10 – 20%)
BMHP yang d= lead time stock
disesuaikan dengan e = sisa obat
hasil kegiatan dan b. Metode morbiditas,didasari metode
pemilihan perhitungan kebutuhan
c. Metode kombinasi konsumsi dan morbiditas