BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS
Pada bab ini dipaparkan (1) deskripsi teori, (2) alur berpikir, dan (3)
penelitian terdahulu. Secara berturut-turut keempat hal tersebut dijabarkan sebagai
berikut.
A. Deskripsi Teori
1. Bahan Ajar
a. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan perangkat penunjang dalam kegiatan
pembelajaran. Bahan ajar memuat materi pelajaran yang digunakan oleh
pembelajar kepada pemelajar di suatu kelas berdasarkan kurikulum yang
telah dirancang. Sejalan dengan pendapat Widodo & Jasmadi (dalam
Yuberti, 2008: 185) bahwa bahan ajar merupakan “Seperangkat sarana
atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode,
batasan-batasan, dan cara mengevaluasi.” yang didesain secara sistematis
dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu
mencapai kompetensi atau subkompetensi dengan segala kompleksitasnya.
Sementara itu, Depdiknas (2008: 4) mendefinisikan bahan ajar atau
materi pembelajaran (instructional materials) sebagai pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari pembelajar dalam rangka
mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci,
jenis-jenis materi pembelajaran terdiri atas pengetahuan (fakta, konsep,
15
16
prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai. Majid (dalam
Prasetiyo, 2015: 28) mendefinisikan bahan ajar sebagai segala bentuk
“...bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar”. Bahan ajar yang dimaksud bisa
berupa bahan tertulis dan tidak tertulis.
Dari beberapa uraian pengertian bahan ajar di atas, peneliti dapat
menyimpulkan bahwa bahan ajar merupakan seperangkat pembelajaran
berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara
mengevaluasi yang dirancang dan ditulis dengan kaidah instruksional,
yakni mengacu pada kurikulum. Hal ini karena bahan ajar akan digunakan
oleh pembelajar untuk membantu dan menunjang proses pembelajaran
dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan dalam
versi tertulis maupun tidak tertulis.
Adapun menurut peneliti, bahan ajar akan lahir dari sebuah rencana
pembelajaran yang dibuat oleh pembelajar. Pada prinsipnya, semua buku
dapat dijadikan sebagai bahan belajar bagi pemelajar, hanya saja yang
membedakan bahan ajar dari buku lainya adalah cara penyusunannya.
Bahan ajar disusun berdasarkan kebutuhan pemelajar tentang muatan yang
belum dikuasai oleh pemelajar dengan baik. Pengembangannya pun
berdasarkan konsep desain pembelajaran yang berlandaskan pada
kurikulum untuk mencapai tujuan pembelajaran.
17
Adapun bahan ajar BIPA merupakan materi yang memuat aspek
keterampilan bahasa Indonesia dan tata bahasa. Bahan ajar BIPA dapat
digunakan oleh pembelajar BIPA maupun mahasiswa asing sebagai sarana
untuk mencapai indikator dari standar kompetensi BIPA berdasarkan
kurikulum yang telah ditetapkan. Pembelajar BIPA dalam menulis bahan
ajar BIPA membutuhkan banyak sumber seperti buku referensi yang bisa
didapatkan dari buku maupun buku elektronik, surat kabar, majalah, dan
juga hasil diskusi seminar yang diikuti.
b. Karateristik Bahan Ajar
Bahan ajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran memiliki
beberapa karakteristik. Widodo (dalam Yuberti, 2014: 187–188)
menjelaskan karakteristik bahan ajar sebagai berikut.
1) Self instructional yaitu bahan ajar dapat membuat pemelajar belajar sendiri
dengan bahan ajar yang dikembangkan. Bahan ajar dalam hal ini harus
memuat tujuan yang dirumuskan dengan jelas. Sebab bahan ajar akan
memudahkan pemelajar belajar secara tuntas dalam unit-unit atau kegiatan
yang lebih spesifik.
2) Self contained yaitu seluruh materi pelajaran dari satu unit kompetensi
atau subkompetensi yang dipelajari ada di dalam satu bahan ajar secara
utuh.
3) Stand alone (berdiri sendiri) yaitu bahan ajar yang dikembangkan tidak
tergantung pada bahan ajar lain atau tidak harus digunakan bersama-sama
dengan bahan ajar lain.
18
4) Adaptive yaitu bahan ajar hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi
terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.
5) User friendly yaitu setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil
bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk
kemudahan pemakaian dalam merespons dan mengakses sesuai dengan
keinginan.
Berdasarkan karakteristik bahan ajar yang didefinisikan oleh
Widodo, bahan ajar mempunyai manfaat yang penting baik bagi
pembelajar maupun pemelajar. Adapun karakteristik bahan ajar dalam
penelitian ini akan disusun sesuai dengan lima karakteristik bahan ajar
menurut Widodo. Hal tersebut dimaksudkan agar bahan ajar dalam
penelitian ini dapat digunakan secara efektif oleh pemelajar maupun
pembelajar BIPA.
c. Fungsi Bahan Ajar
Suatu bahan ajar yang disusun dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran memliki fungsi bagi pembelajar maupun pemelajar. Bagi
pembelajar, bahan ajar berfungsi untuk mengarahkan semua aktivitas
pembelajaran yang substansi kompetensinya diajarkan kepada pemelajar.
Sedangkan fungsi bahan ajar bagi pemelajar adalah sebagai pedoman
selama proses pembelajaran yang sebagai substansi kompetensi yang harus
dipelajari.
Selaras dengan Yuberti (2014: 195) bahwa bahan ajar telah dibuat
dengan kaidah yang tepat, sehingga pembelajar akan dengan mudah
19
mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran. Sebab dalam
bahan ajar terdapat beberapa kompetensi yang harus diajarkan/dilatihkan
kepada pemelajar. Selain itu, dari segi pemelajar, dengan adanya bahan
ajar, mereka akan lebih tahu kompetensi apa saja yang harus dikuasai
selama program pembelajaran sedang berlangsung.
Adapun menurut Prastowo (2011: 25–26) membagi fungsi bahan
ajar ke dalam tiga macam dengan penjelasan sebagai berikut.
1) Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran klasikal, berguna sebagai satu-
satunya sumber informasi serta pengawas dan pengendalian proses
pembelajaran dan sebagai bahan pendukung proses pembelajaran yang
diselenggarakan.
2) Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran individual, bahan ajar berguna
sebagai media utama dalam proses pembelajaran, sebagai alat yang
digunakan untuk menyusun dan mengawasi proses peserta didik dalam
memperoleh informasi, dan sebagai penunjang media pembelajaran
individual lainnya.
3) Fungsi bahan ajar dalam pembelajaran kelompok, bahan ajar dalam hal ini
sebagai bahan yang terintegrasi dengan proses belajar kelompok, dengan
cara memberikan informasi tentang latar belakang materi, informasi
tentang peran orang-orang yang terlibat dalam belajar kelompok, serta
petunjuk tentang proses pembelajaran kelompok sendiri. Selain itu sebagai
bahan pendukung bahan ajar utama, apabila dirancang sedemikian rupa
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
20
Dari berbagai fungsi dari bahan ajar di atas, bahan ajar dalam
penelitian ini disusun berdasarkan fungsi bahan ajar yang dikemukakan
oleh Prastowo. Dengan demikian, bahan ajar BIPA nantinya memiliki
fungsi yang kompleks, utamanya adalah terwujudnya fungsi bahan ajar
bagi pembelajar dan mahasiswa asing.
d. Kaidah Penyusunan Bahan Ajar
Menyusun bahan ajar tentunya tidak dapat dilakukan dengan
sembarangan. Terdapat berbagai aspek yang harus diperhatikan dalam
menyusun bahan ajar. Menurut Depdiknas ada empat aspek yang perlu
diperhatikan dalam menulis buku yaitu aspek isi atau materi, aspek
penyajian materi, aspek bahasa dan keterbacaan, dan aspek grafika.
1) Aspek isi atau materi harus spesifik, jelas, akurat, dan mutakhir dari
segi penerbitan. Informasi yang harus disajikan tidak mengandung
makna bias. Perincian materi harus mempertimbangkan keseimbangan
dalam penyebaran materi, baik yang berkenaan dengan pengembangan
makna dan pemahaman pemecahan masalah, pengembangan proses,
latihan dan praktik, dan tes keterampilan maupun pemahaman.
2) Aspek penyajian materi berkenaan dengan penyajian tujuan
pembelajaran, keteraturan urutan dalam penguraian, kemenarikan
minat dan perhatian siswa, kemudahan dipahami, keaktifan siswa,
hubungan bahan, maupun latihan dan soal.
3) Aspek bahasa dan keterbacaan. Aspek bahasa merupakan sarana
penyampaian dan penyajian bahan seperti kosakata, kalimat, paragraf,
21
dan wacana. Aspek keterbacaan berkaitan dengan tingkat kemudahan
bahasa (kosakata, kalimat, paragraf, dan wacana).
4) Aspek grafika berkaitan dengan fisik buku, seperti ukuran buku,
kertas, cetakan, ukuran huruf, warna, ilustrasi, dan lain-lain. Pada
umumnya penulis buku tidak terlibat secara langsung dalam
mewujudkan grafika buku, namun bekerja sama dengan penerbit.
e. Jenis-Jenis Bahan Ajar
Bahan ajar pada dasarnya memiliki beragam jenis, baik dalam
bentuk cetak atau noncetak. Bahan yang sering dijumpai peneliti adalah
bahan ajar cetak yang berupa buku, modul, Lembar Kerja Siswa (LKS),
dan buku saku. Menurut Yuberti (2014: 191), bahan ajar diklasifikasikan
menjadi dua jenis, yakni cetak atau noncetak. Adapun penjelasannya
adalah sebagai berikut.
1) Bahan ajar cetak
Bahan ajar cetak dapat ditampilkan dalam bebagai bentuk. Bahan
ajar cetak yang sering dijumpai antara lain berupa handout, buku, modul,
brosur, dan lembar kerja siswa.
2) Bahan ajar noncetak
Sedangkan bahan ajar noncetak meliputi bahan ajar dengar (audio)
seperti kaset, radio, peringan hitam, dan compact disc audio. Bahan ajar
pandang dengar (audio visual) seperti video compact disc dan film. Bahan
ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti “...CAI
(Computer Assisted Instruction), Compact Disk (CD) multimedia
22
pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning
materials)” (Yuberti, 2014: 193).
Buku yang secara umum ditemui di pasaran mempunyai beberapa
ukuran, antara lain A4, A5, dan B5. Ukuran buku yang akan dijadikan
bahan ajar dalam penelitian ini adalah A5 yang disebut dengan buku saku.
Adapun bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah bahan
ajar cetak dalam jenis buku saku yang ukurannya kurang lebih mirip
dengan buku Iqra’ yang pernah dicetak oleh As’ad Humam dan Iqra
Hanacaraka karya Suhadi.
2. Buku Saku
a. Pengertian Buku Saku
Buku saku merupakan salah satu jenis bahan ajar cetak dengan
ukuran kecil sehingga bisa masuk dalam saku. Hal ini sejalan dengan
pendapat Ranintya dan Erwin (2015) bahwa buku saku adalah buku
berukuran kecil yang berisi tulisan dan gambar berupa penjelasan yang
dapat mengarahkan atau memberikan petunjuk mengenai pengetahuan,
mudah dibawa kemana-mana. Pernyataan tersebut selaras dengan Setyono,
dkk (2013) yang mengatakan bahwa buku saku dapat diartikan sebagai
buku yang ukurannya kecil, ringan, mudah dibawa ke mana-mana, dan
bisa dibaca kapan saja.
Sementara itu, menurut Hizair (2013: 108) buku saku merupakan
sebuah buku berukuran kecil yang dapat disimpan dalam saku dan mudah
dibawa ke mana-mana. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa buku
23
saku merupakan bahan ajar cetak yang berisi tulisan dan gambar berupa
penjelasan yang dapat mengarahkan atau memberikan petunjuk mengenai
pengetahuan, dengan ukuran kecil yang dapat dibawa ke mana saja.
b. Karakteristik Buku Saku
Setiap ragam bahan ajar memiliki karakteristik yang
membedakannya dengan bahan ajar lainnya. Begitu pula dengan buku saku
yang memiliki karakteristik tertentu. Adapun karakteristik buku saku
menurut Prastowo (2013: 110) diadaptasi dari karakteristik modul, yakni
sebagai berikut.
1) Merupakan unit pengajaran terkecil dan lengkap.
2) Memuat rangkaian kegiatan belajar yang terencana dan sistematis.
3) Memuat tujuan belajar yang dirumuskan secara eksplisit dan spesifik.
4) Memungkinkan siwa belajar mandiri karena modul memuat bahan yang
bersifat self-intructional.
5) Realisasi dari pengajaran individual.
Selain karakteristik buku saku, menurut Prastowo (2013: 112)
buku saku memiliki 7 unsur, yakni judul, petunjuk belajar, kompetensi
yang akan dicapai, informasi pendukung, latihan-latihan, petunjuk kerja,
dan evaluasi.
Adapun rancangan buku saku menurut Sankarto dan Endang
(2008) memiliki beberapa karakteristik yaitu: (1) jumlah halaman tidak
dibatasi, minimal 24 halaman, (2) disusun mengikuti kaidah penulisan
ilmiah popular, (3) penyajian informasi sesuai dengan kepentingan, (4)
24
pustaka yang dirujuk tidak dicantumkan dalam teks, tetapi dicantumkan
pada akhir tulisan, (5) dicantumkan nama penyusun.
c. Format Penyusunan Buku Saku
Buku saku disusun sesuai dengan karakteristik buku saku sehingga
membedakannya dengan bahan ajar lainnya. Dalam penyusunan buku saku
terdapat beberapa format penyusunan. Menurut Prastowo (2013: 133–163),
format penyusunan buku saku memperhatikan kebutuhan peserta didik
akan keteraturan strukturnya. Format buku saku meliputi: (a) kover/judul,
(b) kata pengantar, (c) daftar isi, (d) kompetensi dasar, (e) petunjuk
penggunaan buku, (f) materi pokok, (g) refleksi diri, (h) latihan atau tugas,
(i) daftar pustaka, dan (j) glosarium.
3. BIPA
a. Pengertian BIPA
Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing yang disingkat BIPA
merupakan suatu program yang diperuntukkan bagi penutur asing yang
ingin cakap dalam berbahasa Indonesia. Program BIPA sendiri diinisiasi
oleh Badan Bahasa.
BIPA di samping sebagai media untuk menyebarluaskan
bahasa Indonesia, juga merupakan media untuk menyampaikan
berbagai informasi tentang Indonesia, termasuk memperkenalkan
masyarakat dan budaya Indonesia. Dengan demikian, orang asing
yang mempelajari bahasa Indonesia akan semakin memahami
masyarakat dan budaya Indonesia secara lebih komprehensif
(Adryansah, 2012).
Dengan demikian, BIPA senantiasa terus dikembangkan, utamanya
di tingkat perguruan tinggi. Salah satu bukti dikembangkannya BIPA
adalah adanya Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6244
25
Tahun 2019 tentang Standar Nasional Pelatihan Pengajaran BIPA
Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, yang mana
UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung turut berpartisipasi. Oleh
karena itu, BIPA tidak cukup sebagai program pemerolehan bahasa kedua,
namun juga mempunyai ranah yang kompleks, salah satunya dapat
digunakan sebagai penelitian.
b. Pembelajaran BIPA
Pembelajaran BIPA berbeda dengan pembelajaran bahasa
Indonesia sebagai bahasa pertama (B1). Pembelajaran BIPA dipastikan
sebagai program pemerolehan bahasa kedua (B2) yang lebih kompleks dan
rumit. Hal ini karena mahasiswa asing berasal dari berbagai negara dengan
B1 yang berbeda-beda. Adapun yang dimaksud mahasiswa asing menurut
Liliana (2019: 17) adalah pemelajar yang berkebangsaan asing (non-
Indonesia) dan berbahasa ibu bukan bahasa Indonesia.
Mahasiswa asing dalam belajar bahasa Indonesia, menurut Suyitno
(2005: 10) adalah sebuah aktivitas sistemis, sistematis, dan terencana.
Sistemis dalam hal ini karena di dalamnya memuat seperangkat aspek dan
serangkaian kegiatan yang saling terencana. Lalu, sistematis dalam
program BIPA karena pelaksanaan pembelajaran bersifat prosedural.
Disebut terencana karena pembelajaran BIPA sudah tergambar dengan
jelas, memiliki tujuan, target, dan sasaran yang harus dicapai.
Agar aktivitas pembelajaran BIPA yang sistemis, sistematis, dan
terencana dapat terlaksana, maka pembelajaran BIPA harus
26
memperhatikan dua aspek. Kedua aspek tersebuadalah aspek intruksional
dan aspek kondisional. Aspek intruksional sendiri mencakup: (1) tujuan
pembelajaran, (2) materi pembelajaran, (4) media belajar, (5) pengelolaan
kelas, (6) evaluasi, (7) siswa/pemelajar, dan (8) pengajar/pembelajar.
Sedangkan aspek kondisional mencakup: (1) pengondisian kesiapan akan
kebutuhan pemelajar, (2) pengupayaan pemajanan dan kewacanaan dalam
situasi kebahasaan yang sesungguhnya, (3) pengondisian suasana
pembelajaran, dan (4) pengupayaan pelatihan mandiri (Suyitno, 2005: 11–
16). Adapun penjelasan mengenai aspek instruksional adalah sebagai
berikut.
1) Tujuan pembelajaran, mahasiswa asing dalam belajar bahasa Indonesia
secara global bertujuan untuk wisata, bekerja, dan menempuh pendidikan.
Pada penelitian ini diketahui bahwa tujuan pembelajaran BIPA
dilaksanakan di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dalam rangka
memfasilitasi mahasiswa asing yang mempunyai tujuan cakap dalam
berbahasa Indonesia sebab alasan menempuh pendidikan. Mahasiswa
asing dengan tujuan ini membutuhkan materi berupa keterampilan
berbahasa, tata bahasa, maupun sastra Indonesia. Selain itu juga tidak
menutup kemungkinan kalau mahasiswa asing tertarik pada studi ilmu
bahasa dan budaya Indonesia.
2) Materi pembelajaran, tujuan mahasiswa asing tersebut tentu membutuhkan
pendekakatan dan bahan ajar dengan materi tertentu. Namun, satu buku
ajar untuk satu tingkat yang digunakan oleh seorang pembelajar belum
27
tentu dapat digunakan oleh pembelajar lain. Liliana (2019: 19̶20)
menjelaskan bahwa pembelajar BIPA harus memperhatikan karakteristik
pemelajar yang menjadi tanggung jawabnya. Pembelajar BIPA dengan
penguasaan B1 biasanya memiliki struktur bahasa yang berbeda dengan
bahasa Indonesia sebagi B2. Interferensi atau masuknya unsur-unsur B1
ketika mahasiswa asing belajar B2 pun kerap terjadi. Misal, pemelajar
Korea Selatan sulit membedakan lambang bunyi [p] dengan [b] dalam
bahasa tulis, sebab kedua huruf tersebut ditulis sama dalam bahasa Korea
Selatan.
3) Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan oleh pembelajar
BIPA dalam menyampaikan materi BIPA. Metode pembelajaran memiliki
banyak variasi. Hal ini karena perbedaan tujuan mahasiswa asing, latar B1,
usia, dan kualifikasi pendidikan. Setiap metode pembelajaran memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga pembelajar BIPA
harus pandai-pandai memvariasikan metode pembelajaran dengan
mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin
dicapai.
4) Media belajar merupakan suatu alat yang digunakan oleh pembelajar
dalam menyampaikan materi kepada mahasiswa asing. Media belajar
dalam kegiatan pembelajaran BIPA penting untuk digunakan pembelajar
BIPA, salah satunya untuk mencegah verbalisme.
5) Pengelolaan kelas merupakan komponen penting dalam keberhasilan
BIPA. Sebab kemungkinan aan terjadi dalam satu kelas teerdapat
28
mahasiswa asing yang berasal dari berbagai negara atau heterogen.
Sedangkan untuk kasus mahasiswa asing di UIN Sayyid Ali Rahmatullah
Tulungagung, sifatnya homogen, yakni berasal dari satu negara. Meskipun
demikian, pengelolaan kelas juga harus diperhatikan utamanya dalam
mengkualifikasi tingkat pemahaman bahasa pada pembelajar.
6) Evaluasi penting dilakukan untuk mengetahui kemajuan belajar dan
kompetensi pemelajar. Sehingga, pembelajar BIPA harus menguasai
kompetensi dalam menyusun perangkat evaluasi yang baik dan tepat. Isal
evaluasi dalam aspek keterampilan menyimak, bahwa evaluasinya
bukanlah menguji teori tentang menyimak, tetapi menguji kemampuan
pemelajar dalam menyimak.
7) Pemelajar merupakan aspek yang harus menjadi pusat perhatian dalam
pembelajaran BIPA. Sehingga keberagaman latar belakang mahasiswa
asing harus menjadi perhatian pembelajar.
8) Pengajar/pembelajar harus memiliki kompetensi berbahasa Indonesia,
menguasai bahasa sebagai ilmu, dan kompetensi sebagai pembelajar.
Sedangkan aspek kondisional dalam pembelajaran BIPA berikut
penjelasannya.
1) Pengondisian kesiapan akan kebutuhan pemelajar harus dilakukan di awal
kegiatan. Hal ini karena kompetensi dan latar belakang pemelajar yang
berbeda-beda mengharuskan penyelenggara BIPA melakukan seleksi
penempatan pemelajar pada kelas yang tepat.
29
2) Pengupayaan pemajanan dan kewacanaan dalam situasi kebahasaan yang
sesungguhnya. Dalam hal ini jika pembelajaran BIPA berlangsung di
Indonesia, diupayakan agar pemelajar memiliki teman penutur asli di luar
kelas. Pembelajaran bisa melibatkan lingkungan masyarakat agarn
pemelajar dapat melangsungkan dialog real dari penutur asli selain
pembelajar BIPA.
3) Pengondisian suasana pembelajaran sebisa mungkin dilaksanakan secara
rileks dan menyenangkan pemelajar. Hal ini agar pemelajar dapat dengan
mudah menerima pelajaran yang diberikan oleh pembelajar.
4) Pengupayaan pelatihan mandiri. Bahwa keberhasilan mahasiswa asing
dalam memperoleh bahasa kedua, tidak cukup dengan kegiatan
pembelajaran terbimbing oleh pembelajar. Melainkan mahasiswa asing
diharapkan belajar bahasa Indonesia secara mandiri baik di kelas ataupun
di luar kelas.
Berdasarkan aspek intruksional dan aspek kondisional, maka
pembelajaran BIPA di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dengan
bantuan buku saku, diharapkan terlaksana sesuai dengan memenuhi
keseluruhan aspek tersebut. Dengan demikian, pembelajaran BIPA dapat
mencapai keberhasilan mahasiswa asing dalam memperoleh bahasa kedua
dan mahir dalam penggunaan bahasa baik lisan maupun tulisan.
c. Kurikulum Pembelajaran BIPA
Suatu program pendidikan memerlukan kurikulum yang mengatur
berlangsungnya suatu pembelajaran. Kurikulum adalah seperangkat
30
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta
cara penyampaian dan penilaiannya sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk menghasilkan lulusan dengan capaian
pembelajaran khusus.
Dalam program BIPA, kurikulum merupakan komponen penting
dalam menyelenggarakan suatu program pendidikan. Program BIPA di
Indonesia sendiri banyak yang mengadopsi kurikulum Common European
Framework of Reference (CEFR). Kurikulum CEFR yang disusun Council
of Europe merupakan bagian utama dari proyek “Pembelajaran Bahasa
untuk Kewarganegaraan Eropa. Liliana (2019: 53) menyebutkan
keunggulan dari CEFR di antaranya adalah (1) CEFR dapat digunakan
sebagai alat untuk mengukur tingkat profiensi pemelajar bahasa asing, (2)
CEFR dapat digunakan untuk mengembangkan sistem pembelajaran
bahasa asing menjadi lebih transparan dalam tataran internasional, dan (3)
CEFR dapat digunakan untuk pembelajaran bahasa asing di masyarakat
kawasan Asia Tenggara yang notabenenya sebagai masyarakat
multilingual.
Pada dasarnya, pembelajaran BIPA dibagi dalam tiga tingkatan,
yaitu tingkat pemula, tingkat menengah, dan tingkat lanjut. Sementara itu,
tingkatan pemelajar bahasa asing menurut CEFR yang kini mulai menjadi
acuan dalam kurikulum BIPA juga dibagi menjadi tiga, yaitu meliputi: (1)
pengguna dasar: pemula A1 dan pemula A2, (2) pengguna menengah:
menengah B1 dan menengah B2, dan (3) pengguna mahir: lanjutan C1 dan
31
mahir C2. Di semester pertama dan kedua, bahasa Indonesia diajarkan di
tingkat dasar setara dengan tingkat A1 dan A2 CEFR; di semester ketiga
dan keempat, bahasa Indonesia diajarkan di tingkat menengah setara
dengan tingkat B1 dan B2 CEFR; di semester kelima dan keenam, bahasa
Indonesia diajarkan di tingkat lanjut 1 setara dengan level C1 CEFR; dan
di semester tujuh dan kedelapan, bahasa Indonesia diajarkan di tingkat
melanjut 2 setara dengan tingkat C2 CEFR.
Adapun pada penelitian ini, bahan ajar buku saku BIPA
berdasarkan pemelajar level C1. Pmelajar level C1 dipilih berdasarkan
kompentensi C1 yang sepadan dengan kompetensi materi perkuliahan.
Kompetensi level C1 menurut Liliana (2019: 38) adalah sebagai berikut.
1) Mampu menghasilkan teks tentang topik yang sulit dengan bahasa yang
jelas, terstruktur, terperinci, yang memperlihatkan pola organisasi,
penggunaan penghubung, dan perangkat kohesif yang baik.
2) Mampu memahami berbagai tulisan yang lebih panjang, menantang,
berjangkauan luas, dan mengenali makna implisit.
3) mampu mengekspresikan dirinya dengan lancar dan spontan tanpa terlihat
dengan jelas mencari kata-kata.
4) Mampu menggunakan bahasa dengan fleksibel dan efektif untuk tujuan
sosial. akademik, dan profesional.
5) mampu mengahsilkan tulisan yang jelas, terstruktur dengan baik, dan
detail tentang subjek yang kompleks, menunjukkan penggunaan teratur
terhadap pola-pola organiisasional, penghubung dan alat kohesi.
32
Dengan demikian, penyusunan bahan ajar berupa buku saku pada
penelitian ini akan mengacu standar kompetensi BIPA level C1. Muatan
materi akan disusun berdasarkan kompetensi dasar BIPA level C1.
4. Budaya Lokal
a. Pengertian Budaya Lokal
Suatu daerah pasti memiliki budaya atau adat istiadat yang sifatnya
turun temurun dan telah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara
berulang-ulang oleh masyarakat setempat. Budaya yang berkembang di
suatu daerah inilah yang disebut sebagai budaya lokal. Selaras dengan
konsepsi Koentjaraningrat (2008: 146) bahwa budaya atau culture sebagai
“Segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan
mengubah alam.” Ungkapan tersebut selaras dengan pendapat Endraswara
(2016: 43), bahwa budaya adalah “Suatu cara hidup yang berkembang dan
dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari
generasi ke generasi.” Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit,
termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni.
Soekmono (dalam Suwarna, 2016: 1) menyebutkan bahwa
kebudayaan adalah segala ciptaan manusia yang sesungguhnya hanyalah
hasil usahanya untuk mengubah dan memberi bentuk serta susunan baru
kepada pemberian alam, sesuai dengan kebutuhan jasmani dan rohani.
Selain itu, Selo Sumardjan (1979: 19) mengemukakan kebudayaan sebagai
keseluruhan hasil cipta, rasa, dan karya masayarakat yang dipengaruhi
33
oleh karsa. Cipta diartikan sebagai proses menggunakan daya pikir. Rasa
sebagai kemampuan untuk menggunakan pancaindera dan hati. Sedangkan
karya adalah keterampilan tangan, kaki bahkan seluruh tubuh manusia.
Dalam hal ini karsa ibarat pemimpin yang menentukan kapan, bagaimana,
dan untuk apa ketiga unsur kebudayaan tersebut digerakkan.
Kebudayaan berdasarkan definisi dari keempat tokoh tersebut
dapat peneliti simpulkan bahwa kebudayaan adalah segala daya upaya
serta tindakan manusia yang berasal dari cara mengolah cipta, rasa, dan
karya masyarakat. Budaya kemudian yang digunakan sebagai cara hidup
yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok yang
disesuaikan dengan kebutuhan jasmani dan rohani.
b. Unsur-Unsur Kebudayaan Lokal
Kebudayaan lokal memiliki ranah yang luas sehingga terbagi atas
beberapa unsur. Menurut Koentjaraningrat (2009: 81), jenis-jenis
kebudayaan dikategorikan menjadi tujuh komponen yang meliputi: (1)
sistem perlambangan vokal atau bahasa; (2) sistem pengetahuan; (3)
organisasi sosial; (4) sistem peralatan hidup dan teknologi; (5) sistem mata
pencarian hidup; (6) sistem religi; dan (7) kesenian. Dengan demikian,
unsur-unsur budaya Tulungagung dijabarkan sebagai berikut.
1) Sistem perlambangan vokal atau bahasa
Unsur budaya berupa sistem perlambangan bahasa dalam bahan ajar
meliputi pengungkapan canda, penyebutan gelar, pertanyaan-
34
pertanyaan pribadi, ungkapan-ungkapan khusus, dan komunikasi
dalam keluarga.
2) Sistem pengetahuan
Unsur budaya berupa sistem pengetahuan dalam bahan ajar BIPA
dapat meliputi pengetahuan tentang asal mula Tulungagung. Selain itu,
dapat berupa pengetahuan tentang layanan umum di Tulungagung,
wisata, dan makanan khas Tulungagung.
3) Organisasi sosial
Unsur budaya berupa sistem organisasi sosial yang dapat dimuat dalam
bahan ajar meliputi sistem kekerabatan, organisasi desa, dan
komunitas.
4) Sistem peralatan hidup dan teknologi
Unsur budaya sistem peralatan hidup dan teknologi masyarakat
Tulungagung meliputi aspek peralatan dapat berupa peralatan rumah
tangga, peralatan sekolah, dan transportasi. Sedangkan aspek teknologi
dapat berupa teknologi pertanian dan teknologi komunikasi khas
Tulungagung.
5) Sistem mata pencarian hidup
Unsur budaya sistem mata pencarian hidup penduduk Tulungagung
dalam bahan ajar BIPA dapat meliputi pedagang, petani, nelayan,
pengrajin, penarik becak, tukang ojek, tukang pijat, dan tenaga
pengajar.
6) Sistem religi
35
Unsur budaya berupa sistem religi dalam bahan ajar BIPA dapat
meliputi tempat beribadah (masjid, musala, gereja, klenteng, pura);
tempat belajar agama (pesantren, madrasah); tokoh agama (kiai,
pendeta); perlengkapan keagamaan (jilbab, kopyah, sajadah, sarung);
kegiatan keagamaan (yasinan, pengajian), dan sistem kepercayaan
tentang ritual.
7) Kesenian
Unsur budaya kesenian Indonesia meliputi seni tari (reog kendang,
jaranan, dan remo); seni rupa (patung reco penthung, batik, Candi
Gayatri); dan seni drama (ketoprak Siswo Budoyo).
Berdasarkan tujuh komponen budaya di atas, unsur budaya lokal
perlu dimasukkan dalam bahan ajar. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa
asing tidak mengalami keterkejutan budaya. Budaya Tulungagung dipilih
karena mahasiswa asing yang sedang menempuh pendidikan di UIN
Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Di samping itu, manfaat dari segi
budaya Tulungagung adalah membantu dalam revitalisasi budaya
Tulungagung. Dengan begitu, kontribusi penelitian ini dapat
menghidupkan kembali budaya Tulungagung yang saat ini memang harus
dilestarikan.
B. Kerangka Berpikir
Pengembangan bahan ajar BIPA bermuatan budaya lokal
Tulungagung dikembangkan berdasarkan kerangka berpikir yang
sistematis. Kerangka berpikir disajikan dalam bagan sebagai berikut.
36
Analisis
kebutuhan
Penutur Asing
Perancangan
Revisi produk
Pengembangan buku saku
Bahan Ajar BIPA
Bermuatan Budaya
Lokal bagi
Mahasiswa Asing
di UIN Sayyid Ali
Rahmatullah
Tulungagung
Mengukur
Penyusunan
kelayakan buku
sistem penilian
saku
Bagan 2.1 Alur Berpikir
C. Penelitian Terdahulu
Tabel 1.1 Perbandingan Penelitian Terdahulu
No Judul Penulis Hasil Persamaan Perbedaan
Penelitian
Penelitian
1. Pengembangan Andika Eko Bahan ajar Pengemba- Pengemba-
Bahan Ajar Prasetiyo BIPA ngan bahan ngan bahan
BIPA Bermuatan ajar BIPA ajar BIPA
Bermuatan Budaya Jawa bermuatan bermuatan
Budaya Jawa bagi budaya. budaya lokal
bagi Mahasiswa Tulungagung
Mahasiswa asing Tingkat .
asing Tingkat Pemula.
Pemula”
(skripsi, 2015)
2. Telaah Unsur- Nurqolila Klasifikasi Analisis Memasukkan
Unsur Budaya unsur-unsur unsur-unsur unsur-unsur
37
Indonesia budaya dalam budaya. budaya lokal
dalam Buku bahan ajar Tulungagung
Teks BIPA BIPA. ke dalam
Living bahan ajar.
Indonesian”
(skripsi, 2010)
3. Revitalisasi Yanuar Revitalisasi Peran budaya Mengembang
Peran Budaya Bagas peran budaya lokal dalam -kan buku
Lokal dalam Arwansyah, lokal dalam pembelajaran saku sebagai
Materi Sarwiji pembelajaran BIPA. bahan ajar
Pembelajaran Suwandi, BIPA BIPA
Bahasa dan Sahid bermuatan
Indonesia bagi Teguh budaya lokal.
Penutur Asing Widodo
(artikel jurnal,
2017)
4. Pengembangan Imam Format materi Pengemba- Pengemba-
Bahan Ajar Suyitno dalam ngan bahan ngan bahan
Bahasa Pengemba- ajar BIPA ajar BIPA
Indonesia ngan bahan berdasarkan berupa buku
untuk ajar BIPA. hasil analisis saku.
Mahasiswa kebutuhan
asing (BIPA) belajar
berdasarkan
Hasil Analisis
Kebutuhan
Belajar (artikel
jurnal, 2007)
5. Menghadirkan Rooselina Materi Materi BIPA Materi
Teks-Teks Ayu pembelajaran berupa teks dikembang-
Autentik dalam Setyaning- BIPA berupa autentik. kan berupa
rum teks autentik. teks autentik
Kelas BIPA
berkenaan
Daring (artikel
dengan
jurnal, 2021)
budaya,