0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan30 halaman

Integral dan Persamaan Diferensial

Integral dapat diartikan sebagai luas daerah di bawah kurva suatu fungsi. Integral terdiri dari integral tertentu dan tak tentu, di mana integral tak tentu adalah anti-turunan dari fungsi tersebut. Teorema dasar kalkulus menyatakan bahwa integral dan turunan adalah operasi terbalik. Integral tertentu didefinisikan sebagai limit dari penjumlahan Riemann yang mendekati luas daerah yang dibatasi oleh kurva dan sumbu x.

Diunggah oleh

reelsrandom422
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan30 halaman

Integral dan Persamaan Diferensial

Integral dapat diartikan sebagai luas daerah di bawah kurva suatu fungsi. Integral terdiri dari integral tertentu dan tak tentu, di mana integral tak tentu adalah anti-turunan dari fungsi tersebut. Teorema dasar kalkulus menyatakan bahwa integral dan turunan adalah operasi terbalik. Integral tertentu didefinisikan sebagai limit dari penjumlahan Riemann yang mendekati luas daerah yang dibatasi oleh kurva dan sumbu x.

Diunggah oleh

reelsrandom422
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

INTEGRAL

Artikel utama untuk bagian ini adalah:

Integral dapat dianggap sebagai perhitungan luas daerah di bawah kurva ƒ(x),
antara dua titik a dan b.

Integral merupakan suatu objek matematika yang dapat diinterpretasikan sebagai


luas wilayah ataupun generalisasi suatu wilayah. Proses menemukan integral
suatu fungsi disebut sebagai pengintegralan ataupun integrasi. Integral dibagi
menjadi dua, yaitu: integral tertentu dan integral tak tentu. Notasi matematika

yang digunakan untuk menyatakan integral adalah , seperti huruf S yang


memanjang (S singkatan dari "Sum" yang berarti penjumlahan).

Rumus integrasi dasar

Umum

Bilangan natural

Logaritma
Trigonometri

INTEGRAL TAK TENTU

Anti-turunan

• Definisi: Kita menyebut F sebagai suatu anti-turunan dari f dalam


sebuah interval jika F’(x) = f(x) untuk semua x dalam interval.

• Contoh:

• Ambil F1(x) = x2 , maka F’(x)=2x. Jadi x2 adalah suatu antiturunan dari


2x.

• Selanjutnya ambil F2(x) = x2 +5 , maka F’(x)=2x. Jadi x2+5 juga juga


suatu antiturunan dari 2x. Dari contoh, dapat disimpulkan bahwa
antiturunan dari suatu fungsi adalah tidak tunggal.

• Secara umum, antiturunan dari f(x)=2x dapat ditulis dengan

• F(x)=x2 +c
Notasi Antiturunan

∫f(x) dx
Jadi:
∫x dx=½x2 +c
∫x2 dx=⅓x3 +c

Sifat-sifat integral tak tentu


Jika f dan g memiliki antiturunan dan k konstan, maka
1. ∫kf(x) dx = k∫f(x) dx

2. ∫[f(x)+g(x)] dx = ∫f(x) dx+∫g(x) dx

3. ∫[f(x)-g(x)] dx = ∫f(x) dx-∫g(x) dx

Karena memenuhi ketiga sifat di atas, maka integral tak tentu merupakan
operator linier.

Pengenalan Persamaan Diferensial

Yang lalu kita telah mengintegralkan fungsi f untuk memperoleh fungsi baru F
dan ditulis dengan:
∫f(x)dx=F(x)+c.
Menurut definisi hal di atas benar asalkan F’(x)=f(x) atau dF(x)=f(x)dx ,
sehingga:
∫dF(x) = F(x)+c.
Jadi, kita dapat mengintegralkan differensial suatu fungsi untuk memperoleh
fungsi itu sendiri ditambah konstan. Pemahaman ini akan membantu kita dalam
menyelesaikan suatu persamaan differensial.
DEFINISI PERSAMAAN DIFFERENSIAL
Sebuah persamaan yang melibatkan turunan (atau diferensial) dari fungsi yang
tak diketahui serta fungsi itu sendiri disebut persamaan diferensial

Contoh

1. Selesaikan persamaan diferensial dan tentukan solusi di mana y = 3


ketika x = 1.
dy 2x

dx y 1
( y  1) dy  ( 2 x ) dx

 ( y  1) dy   ( 2 x ) dx
y2
 y  C1  x 2  C 2
2
y 2  2 y  2 x 2  C3
( y  1) 2  ( 2 x 2  C3 )  1  2 x 2  C
y 1   2 x 2  C  y  1  2x2  C

Contoh (Lanjutan)

• Jika x = 1 dan y = 3, selesaikan C.

y  1  2x2  C
3  1  2(1) 2  C  C  2
y  1  2x2  2

Contoh penerapan PD

MASALAH BENDA JATUH

Dekat permukaan bumi, percepatan benda jatuh karena gravitasi adalah


32 kaki/dt2(diasumsikan bahwa tahanan udara diabaikan). Jika suatu
benda dilempar ke atas dari suatu ketinggian 1000 kaki dengan kecepatan
awal 50 kaki/dt, tentukan kecepatan dan tinggi benda 4 detik kemudian.

1000ft

Penyelesaian
Diasumsikan bahwa tinggi s diukur secara positif ke atas. Mula-mula v=ds/dt
bernilai positif (s naik), tetapi a=dv/dt negatif (ke bawah). Jadi:
dv/dt=-32 dengan v=50 dan s=1000 pada saat t=0.
dv/dt=-32 Û dv = -32dt Û ∫dv = -32 ∫ dt Û v = -32t+c.
Dari syarat awal v=50 utk t=0, diperoleh c=50, sehingga
v(t)=-32t+50. Selanjutnya, v=ds/dt Û ∫ ds = ∫ vdt
Û s(t) = ∫(-32t+50)dt = -16t2+ 50t+C.
Dari syarat awal s=1000 utk t=0, diperoleh C=1000, shg
s(t) = -16t2+ 50t+1000. Karena itu pada t=4 diperoleh:
v(4)=-32(4)+50 = -78 kaki/dt (turun) dan
s(4) = -16(4)2+ 50(4)+1000 = 944 kaki.

Definisi :

Teorema dasar

Artikel utama untuk bagian ini adalah:

Teorema dasar kalkulus menyatakan bahwa turunan dan integral adalah dua
operasi yang saling berlawanan. Lebih tepatnya, teorema ini menghubungkan
nilai dari anti derivatif dengan integral tertentu. Karena lebih mudah menghitung
sebuah anti derivatif daripada menerapkan definisi integral tertentu, teorema
dasar kalkulus memberikan cara yang praktis dalam menghitung integral
tertentu.

Teorema dasar kalkulus menyatakan:

Jika sebuah fungsi f adalah kontinu pada interval [a,b] dan jika F adalah fungsi
yang mana turunannya adalah f pada interval (a,b), maka

Lebih lanjut, untuk setiap x di interval (a,b),

Sebagai contohnya apabila kita hendak menghitung nilai integral ,


daripada menggunakan definisi integral tertentu sebagai limit dari penjumlahan
Riemann (lihat bagian atas), kita dapat menggunakan teorema dasar kalkulus
dalam menghitung nilai integral tersebut. Anti derivatif dari fungsi
adalah . Oleh sebab itu, sesuai dengan teorema dasar

kalkulus, nilai dari integral tertentu adalah:

Apabila kita hendak mencari luas daerah A dibawah kurva y=x pada interval
[0,b], b>0, maka kita akan dapatkan:

Fungsi F dikatakan anti turunan dari fungsi f pada selang I jika F’(x) = f(x)

untuk semua x di I. Notasi : F(x) = f(x) dx
Integral tak tentu adalah Anti/Invers/Kebalikan turunan.
1
∫ x 2 dx = 3 x3 +c ∫ 4 x 3 dx=x 4+c
Contoh :

Integral tak tentu adalah operator linear, yaitu bersifat :


1. ∫ kf ( x )dx = k ∫ f ( x )dx
2. ∫ [ f ( x )+g( x )]dx = ∫ f ( x )dx + ∫ g (x )dx
Rumus-rumus Dasar Integral Tak Tentu
1
∫ x n dx= n+1 x n+1+c ∫ sin xdx=−cos x +c
1. , n≠-1 2.
1
∫ cos xdx=sin x+ c ∫ x dx=ln|x|+c
3. 4.
ax
∫ e x dx=e x +c ∫ a dx=ln a +c
x

5. 6.
dx dx
∫ =sin −1
x+c ∫ 1+x 2 =tgn−1 x+c
7. √ 1−x 2
8.
dx
∫ =sec−1
x +c
∫ 2
9. x √ x −1
2
10.
sec xdx=tgnx+c

11. ∫ cos ec 2
xdx=ctgx+c 12. ∫ sec xtgnxdx=sec x +c

13. ∫ cos ecxctgxdx=cos ecx +c


Contoh :
1
∫ (2 x 3+5 cos x )dx= 2 x 4 +5 sin x +c

INTEGRAL TENTU

Definisi :

Diberikan suatu fungsi ƒ bervariabel real x dan interval antara [a, b] pada garis
real, integral tertentu:

secara informal didefinisikan sebagai luas wilayah pada bidang xy yang dibatasi
oleh kurva grafik ƒ, sumbu-x, dan garis vertikal x = a dan x = b.

Pada notasi integral di atas: a adalah batas bawah dan b adalah batas atas yang
menentukan domain pengintegralan, ƒ adalah integran yang akan dievaluasi
terhadap x pada interval [a,b], dan dx adalah variabel pengintegralan.

Seiring dengan semakin banyaknya subinterval dan semakin sempitnya lebar


subinterval yang diambil, luas keseluruhan batangan akan semakin mendekati
luas daerah di bawah kurva.
Terdapat berbagai jenis pendefinisian formal integral tertentu, namun yang
paling umumnya digunakan adalah definisi integral Riemann. Integral Rieman
didefinisikan sebagai limit dari penjumlahan Riemann. Misalkanlah kita hendak
mencari luas daerah yang dibatasi oleh fungsi ƒ pada interval tertutup [a,b].
Dalam mencari luas daerah tersebut, interval [a,b] dapat kita bagi menjadi
banyak subinterval yang lebarnya tidak perlu sama, dan kita memilih sejumlah n-
1 titik {x1, x2, x3,..., xn - 1} antara a dengan b sehingga memenuhi hubungan:

Himpunan tersebut kita sebut sebagai


partisi [a,b], yang membagi [a,b] menjadi sejumlah n subinterval
. Lebar subinterval pertama [x0,x1] kita
nyatakan sebagai Δx1, demikian pula lebar subinterval ke-i kita nyatakan sebagai
Δxi = xi - xi - 1. Pada tiap-tiap subinterval inilah kita pilih suatu titik sembarang
dan pada subinterval ke-i tersebut kita memilih titik sembarang t i. Maka pada
tiap-tiap subinterval akan terdapat batangan persegi panjang yang lebarnya
sebesar Δx dan tingginya berawal dari sumbu x sampai menyentuh titik (ti, ƒ(ti))
pada kurva. Apabila kita menghitung luas tiap-tiap batangan tersebut dengan
mengalikan ƒ(ti)· Δxi dan menjumlahkan keseluruhan luas daerah batangan
tersebut, kita akan dapatkan:

Penjumlahan Sp disebut sebagai penjumlahan Riemann untuk ƒ pada interval


[a,b]. Perhatikan bahwa semakin kecil subinterval partisi yang kita ambil, hasil
penjumlahan Riemann ini akan semakin mendekati nilai luas daerah yang kita
inginkan. Apabila kita mengambil limit dari norma partisi mendekati nol,
maka kita akan mendapatkan luas daerah tersebut.

Secara cermat, definisi integral tertentu sebagai limit dari penjumlahan Riemann
adalah:

Diberikan ƒ(x) sebagai fungsi yang terdefinisikan pada interval tertutup [a,b].
Kita katakan bahwa bilangan I adalah integral tertentu ƒ di sepanjang [a,b] dan

bahwa I adalah limit dari penjumlahan Riemann apabila kondisi


berikut dipenuhi: Untuk setiap bilangan ε > 0 apapun terdapat sebuah bilangan δ
> 0 yang berkorespondensi dengannya sedemikian rupanya untuk setiap partisi
di sepanjang [a,b] dengan dan pilihan ti
apapun pada [xk - 1, ti], kita dapatkan
Secara matematis dapat kita tuliskan:

Apabila tiap-tiap partisi mempunyai sejumlah n subinterval yang sama, maka


lebar Δx = (b-a)/n, sehingga persamaan di atas dapat pula kita tulis sebagai:

Limit ini selalu diambil ketika norma partisi mendekati nol dan jumlah
subinterval yang ada mendekati tak terhingga banyaknya.

Contoh

Sebagai contohnya, apabila kita hendak menghitung integral tertentu ,


yakni mencari luas daerah A dibawah kurva y=x pada interval [0,b], b>0, maka

perhitungan integral tertentu sebagai limit dari penjumlahan

Riemannnya adalah

Pemilihan partisi ataupun titik ti secara sembarang akan menghasilkan nilai yang
sama sepanjang norma partisi tersebut mendekati nol. Apabila kita memilih
partisi P membagi-bagi interval [0,b] menjadi n subinterval yang berlebar sama
Δx = (b - 0)/n = b/n dan titik t'i yang dipilih adalah titik akhir kiri setiap
subinterval, partisi yang kita dapatkan adalah:

dan , sehingga:
Seiring dengan n mendekati tak terhingga dan norma partisi mendekati 0,
maka didapatkan:

Misal f fungsi yang didefinisikan pada [a,b], f dikatakan terintegralkan pada


n b
lim ∑ f ( x i ) Δx i ∫ f ( x)dx
[a,b] jika |P|→0 i=1 ada, selanjutnya a disebut Integral
Tentu (Integral Riemann) f dari a ke b, dan didefinisikan
b n
∫ f ( x)dx lim ∑ f ( x i ) Δx i
a = |P|→0 i=1 .
b
∫ f ( x)dx
a menyatakan luas daerah yang tercakup diantara kurva y = f(x) dan
b
∫ f ( x)dx
sumbu x dalam selang [a,b], jika a bertanda negatif maka menyatakan
luas daerah yang berada dibawah sumbu x.

Definisi :
a
∫ f ( x)dx
a =0
b a
∫ f ( x)dx ∫ f ( x)dx
a = - b , a>b

PENGGUNAAN INTEGRAL TERTENTU

1. Luas Daerah Bidang Rata

a. Daerah Antara Kurva dan Sumbu Koordinat.


Perhatikan gambar daerah rata dibawah ini
Daerah R dibatasi oleh grafik-grafik y = f(x), x =
a, x = b dan y = 0, luasnya A(R) ditentukan oleh :
b
∫ f ( x)dx
A(R) = a
Jika gambar terletak dibawah sumbu X maka
integral diatas bernilai negatif,
karena luas daerah tidak mungkin bilangan negatif maka nilai integral
tersebut dimutlakkan.
Perhatikan pula gambar daerah rata berikut ini :
Daerah R dibatasi oleh grafik-grafik x = f(y), y = c, y = d dan x = 0, luasnya
d
∫ f ( y ) dy
A(R) ditentukan oleh : A(R) = c

Jika gambar terletak disebelah kiri sumbu Y maka integral diatas bernilai
negatif, karena luas daerah tidak mungkin bilangan negatif maka nilai
integral tersebut dimutlakkan.

Contoh :

Tentukan luas daerah yang dibatasi oleh


fungsi :

Untuk menghitung luas daerah rata ikuti pola berfikir sebagai berikut :
1. Gambar daerah yang bersangkutan
2. Potong daerah menjadi jalur-jalur dan beri nomor pada satu jalur tertentu
3. Hampiri luas jalur tertentu tersebut dengan luas persegi panjang
4. Jumlahkan luas jalur-jalur pada daerah tersebut
5. Ambil limit dari jumlah diatas dengan lebar jalur menuju 0, maka
diperoleh integral tertentu.

b. Daerah antara 2 Kurva


Perhatikan kurva-kurva y = f(x) dan y = g(x) dengan g(x)  f(x) pada selang
[a,b], sebagai gambar berikut :

ΔA≈(f (x)−g(x))Δx
b
∫ ( f ( x )−g( x )) dx
A= a
Kita gunakan cara : potong, aproksimasikan, dan integralkan.

Teorema Dasar Kalkulus

Teorema Dasar Kalkulus memberikan kemudahan untuk menghitung Integral


Tentu, berikut teorema tersebut :

Misal f kontinu pada [a,b] dan F sebarang anti turunan f, maka


b
∫ f ( x)dx
a = F(b) – F(a)
b
Selanjutnya ditulis F(b) – F(a) =
[ F ( x )]a

Contoh :

1. Perlihatkan bahwa jika r  Q dan r  -1, maka


b
br +1 ar+1
∫ x r dx= −
r +1 r+1
a
Jawab :

x r+1
Karena F(x) = r +1 suatu anti turunan dari f(x) = xr, maka menurut TDK,
b
b r+1 a r+1
∫ x dx=F (b )−F( a)= r +1 − r+1
r

Integral tentu sebagai operator linear, yaitu bersifat :


Misal f dan g terintegralkan pada [a,b] dan k suatu konstanta, maka kf dan
f + g terintegralkan, dengan
b b
∫ kf ( x)dx=  f ( x)dx
1. a ka
b b b
 [ f ( x)  g (x)]dx  f ( x)dx ∫ g(x )dx
2. a =a + a

Contoh :

2
∫ (4 x−6 x 2 )dx
Hitung −1

Jawab :

[] []
2 2
2 2 2
x2 x3
∫ (4 x−6 x 2 )dx=4 ∫ x dx−6 ∫ x 2 dx −6
−1 −1 −1 = 4
2 −1 3 −1

= 4
( 4 1
) ( )
8 1
− −6 +
2 2 3 3 =  12

Sifat-Sifat Integral Tentu

1. Sifat Penambahan Selang

Teorema :

Jika f terintegralkan pada suatu selang yang mengandung tiga titik a, b dan c,
maka

c b c
∫ f ( x)dx ∫ f ( x)dx ∫ f ( x)dx
a = a + b bagaimanapun urutan a, b dan c.

Contoh :
2 1 2 2 3 2
∫ x dx =∫ x dx+∫ x dx
2 2 2
∫ x dx =∫ x dx+∫ x 2 dx
2 2

1. 0 0 1 2. 0 0 3
2 −1 2
∫ x 2 dx =∫ x 2 dx +∫ x 2 dx
3. 0 0 −1

2. Sifat Simetri

Teorema :
a a
∫ f ( x )dx ∫ f ( x)dx
Jika f fungsi genap [f(-x) = f(x)] , maka−a =2 0 dan
a
∫ f ( x )dx
Jika f fungsi ganjil [f(-x) = - f(x)], maka −a = 0.
Contoh :
π π π

1. −π 0
() 0
()
∫ cos x4 dx=2∫ cos 4x dx= 8 ∫ cos 4x . 14 dx= 4 √2 ()
5
x5
∫ 2
dx
2. −5 x +4 =0

INTEGRAL TAK TENTU FUNGSI TRIGONOMETRI

Aturan Integral Tak-tentu fungsi Trigonometri

Untuk merancang aturan integral tak-tentu dari fungsi-fungsi trigonometri, perlu


diingat kembali turunan fungsi-fungsi trigonometri sebagaimana diperlihatkan
dalam tabel berikut.

No F(x) F’(x) = f(x)

1 sin x cos x
2 cos x -sin x
3 tan x sec2x
4 cot x -cosec2x
5 sec x tan x. sec x
6 cosec x -cot x . cosec x

Dengan menggunakan aturan integral tak-tentu ∫ f ( x ) dx = F ( x ) + C yang


mempunyai sifat bahwa F’(x) = f(x) dan turunan fungsi-fungsi trigonometri
dalam tabel di atas, maka integral tak-tentu dari fungsi-fungsi trigonometri dapat
dirumuskan sebagai berikut.

∫ cos x dx = sin x + C
∫ sin x dx = −cos x +C
∫ sec2 x dx = tan x + C
∫ cos ec2 x dx = −cot x + C
∫ tan [Link] x dx = sec x + C
∫ cot x .cosec x dx = −cosec x + C
Contoh:

Tentukan integral tak-tentu ∫ ( x 2 + sin x ) dx


Penyelesaian:

∫ ( x 2 + sin x ) dx = ∫ x 2 dx + ∫ sin x dx
1 3
= x −cos x + C
3
Dalam menghitung atau menentukan integral-integral tak-tentu dari fungsi-
fungsi trigonometri, seringkali bagian fungsi integrannya perlu diubah terlebih
dahulu sehingga diperoleh bentuk integran yang dengan segera dapat
diselesaikan.

Contoh:
Tentukan integral tak-tentu dari ∫ ( sin x − cos x ) dx
2

Penyelesaian:
perhatikan
( sin x − cos x )2 = sin 2 x − 2sin x .cos x + cos 2 x
2 2
= sin x + cos x − 2 sin x. cos x
= ( 1 − sin 2 x )
Sehingga:
∫ ( sin x − cos x )2 dx = ∫ (1 − sin 2 x ) dx
= ∫ 1 dx − ∫ sin 2 x dx
1
(
= x − − cos 2 x + C
2 )
1
= x + cos 2 x + C
2

Integral Trigonometri dengan Pangkat ganjil, Pangkat genap dan


Kombinasi Pangkat ganjil dan genap

Bila kita mengkombinasikan metode substitusi dengan pemakaian kesamaan


trigonometri yang tepat, maka kita dapat mengintegralkan banyak bentuk
trigonometri. Kita tinjau jenis-jenis integral yang sering muncul
1) ∫ sin n x dx dan ∫ cosn x dx
2) ∫ sinm x .cosn x dx
Untuk penyelesaian kasus si atas kita mengunakan bantuan kesamaan
trigonometri. Beberapa kesamaan trigonometri yang berguna, yang diperlukan
dalam penyelesaian kasus seperti di atas adalah sebagai berikut.

Kesamaan Pythagoras
sin x 2 x + cos 2 x = 1
1 + tan2 x = sec 2 x
1 + cot 2 x = csc 2 x
Kesamaan setengah-sudut
2 1 − cos 2 x
sin x x =
2
1 + cos 2 x
cos 2 x =
2

Jenis 1, ∫ sin x dx dan ∫ cosn x


n
dx pertama, tinjaulah kasus apabila n bilangan bulat

positif dan ganjil. Setelah kita mengeluarkan faktor sin x atau cos x, gunakan
sin x 2 x + cos 2 x = 1
Contoh 1

n Ganjil ; Carilah ∫ sin 5 x dx

penyelesaian:

∫ sin 5 x dx = ∫ sin 4 x . sin x dx


= ∫ ( 1 − cos 2 x ) .sin x dx
2

= ∫ ( 1 − 2 cos x + cos x ) sin x dx


2 4

= − ∫ ( 1 − 2cos 2 x + cos 4 x ) (−sin x dx )


2 3 1 5
= −cos x + cos x − cos x + C
3 5
Contoh 2

n Genap; Carilah ∫ sin x dx dan ∫ cos4 x dx


2

Penyelesaian:
1 − cos 2 x
∫ sin 2 x dx = ∫2 dx
1 1
2

= dx − ∫ ( cos 2 x ) ( 2 dx )
4
1 1
= x − sin 2 x + C
2 4

∫( ) dx
2
1 + cos 2 x
∫ cos4 x dx = 2
1
=
4
∫ ( 1 + 2 cos 2 x + cos2 2 x ) dx
1 1 1
= ∫ dx + ∫ ( cos 2 x ) ( 2 ) dx + ∫ ( 1 + cos 4 x ) dx
4 4 8
3 1 1
= ∫ dx + ∫ ( cos 2 x ) ( 2 dx ) + ∫ ( cos 4 x ) ( 4 dx )
8 4 32
3 1 1
= x + sin 2 x + sin 4 x + C
8 4 32
Jenis 2, ∫ sin m [Link] x dx , jika salah satu m atau n bilangan bulat positif ganjil

sedangkan sedangkan eksponen yang satunya bilangan sebarang, kita faktorkan


2 2
sin x atau cos x dan menggunakan kesamaan sin x x + cos x = 1
Contoh 3

m atau n Ganjil; Carilah ∫ sin 3 [Link]−4 x dx


Penyelesaian:

∫ sin 3 x . cos−4 x dx = ∫ ( 1 − cos2 x )( cos−4 x ) ( sin x ) dx


= − ∫ ( cos−4 x − cos−2 x ) (−sin x dx )

=− [ cos−3 x
−3

cos−1 x
−1
+C ]
1
= sec 3 x − sec x + C
3
Jika m dan n keduanya merupakan bilangan bulat positif genap, maka kita
menggunakan kesamaan setengah sudu untuk memperkecil derajat integran.
Contoh 4 memberika suatu bentuk ilustrasi.

Contoh 4;
m dan n keduanya Genap; Carilah ∫ sin 2 x .cos4 x dx
Penyelesaian:
∫ (12 )( )
2
− cos 2 x 1 + cos 2 x
∫ sin 2 x . cos 4 x dx =
2
dx
1
=
8
∫ (1 + cos 2 x − cos 2 2 x − cos3 2 x ) dx

= ∫ [ 1 + cos 2 x −
1
2 ]
( 1 + cos 4 x ) − ( 1 − sin 2 2 x ) cos 2 x dx

=
1
8
∫ 1
2

1
2 [
cos 4 x + sin2 2 x . cos 2 x dx ]
=
1
8 [
∫ 12 dx − 18 ∫ cos 4 x ( 4 dx ) + 12 ∫ sin2 2 x . ( 2cos 2 x dx ) ]
=
1 1
8 2 [ 1
x − sin 4 x +
8
1
6
sin 3 2 x + C ]
Integral tak-tentu trigonometri mungkin mengjhasilkan jawaban yang kelihatan

berbeda. Seperti penyelesaian ∫ sin x .cos x dx


Dengan metode pertama,

∫ sin x .cos x
dx = − ∫ cos x (−sin x ) dx
1
= − cos 2 x + C
2

Dengan metode kedua,

∫ sin x .cos x dx = ∫ sin x ( cos x ) dx


1 2
= sin x + C
2

Tetapi kedua jawaban tersebut dapat berbeda, terutama pada konstantanya.

Perhatikan bahwa

1 2
sin x + C
2
1
¿ ( 1 − cos2 x ) + C
2
1
¿ − cos 2 x +
2
1
2(+ C )
Sekarang sesuaikan jawaban tersebut dengan jawaban ketiga.

1
∫ sin x .cos x dx =
2
∫ sin 2 x dx
1
=− cos 2 x + C
4
TEKNIK-TEKNIK PENGINTEGRALAN

1. Teknik Subtitusi

a. Subtitusi Dalam Integral Tak Tentu

Teorema :

Misal g fungsi yang terdiferensialkan dan F suatu anti turunan dari f, jika
u = g(x) maka ∫ f(g(x))g’(x) dx = ∫ f(u) du = F(u) + c = F(g(x)) + c
Contoh :

∫ sin√√x x dx
Hitunglah .
1 −1/ 2
x
Jawab : Misalkan u = √ x 1/2
= x sehingga du = 2 dx maka

=2
( =2
)
∫ sin√√x x dx ∫ sin √ x 12 x−1/2 dx ∫ sin udu
= 2cosu + c =
2cos√x +c
b. Subtitusi Dalam Integral Tentu.

Teorema :

Misal g mempunyai turunan kontinu pada [a,b] dan f kontinu pada daerah nilai
b g( b )

∫ f ( g( x))g'( x )dx= ∫ f (u)du


g, maka a g( a )

Contoh :

1
x+1
∫ 2
dx
Hitung 0 ( x +2 x +6 )

Jawab :
Misal u = x2+2x+6 sehingga du = 2x+2 dx = 2(x+1)dx perhatikan u = 6 jika x =
0 dan u = jika x = 1, jadi
1 1
2( x +1)
∫ 2 x+1 dx 1

2 0 ( x 2 +2 x+6 )
dx
0 ( x +2 x +6 ) =
9

=
1 du 1

26 u 2
9 1
= [ ln u ] 6 = (ln 9−ln 6 ) 1 ln 3
2 =2 2 ()
Substitusi

Contoh soal:

Cari nilai dari:

2. Pengintegralan Bentuk-Bentuk Trigonometri

∫ ∫
a. sin n x dx, cos n x dx
Jika n bilangan bulat positif ganjil, maka keluarkan faktor sin x atau cos x dan
kemudian gunakan kesamaan sin 2 x + cos 2 x = 1.
Jika n bilangan bulat positif genap, maka gunakan rumus setengah sudut
1−cos2 x 1+cos 2 x
sin 2 x = 2 , cos 2 x = 2
Contoh :
∫ cos 4
∫( 1+cos2 x 2
2
dx ) 1

4 (1 + 2 cos 2x + cos 2 2x) dx
1. x dx = =

1 1 1
∫ ∫ ∫
= 4 dx + 4 cos 2x (2) dx + 8 (1 + cos 4x) dx

3 1 1
= 8 x + 4 sin 2x + 32 sin 4x + c

b. ∫ sin m
x cos n x dx
Jika m atau n bilangan bulat positif ganjil dan eksponen lain sembarang,
maka keluarkan faktor sin x atau cos x yang berpangkat ganjil tersebut
kemudian gunakan kesamaan sin 2 x + cos 2 x = 1. Jika m dan n bilangan
bulat positif genap, maka gunakan rumus setengah sudut.

Contoh :

Tentukan : 1. ∫ sin 3
x cos –4 x dx ∫
2. sin 2 x cos 4 x dx

c. ∫ tg n ∫
x dx, cotg n x dx.
Keluarkan faktor tg 2 x = sec 2 x – 1 dalam kasus tg atau faktor cotg 2 x =
cosec 2 x – 1 dalam kasus cotg.

Contoh :
∫ cotg 4
x dx = ∫ cotg 2
x (cosec 2 x – 1) dx = ∫ cotg 2
x cosec 2 x dx – ∫
1
cotg 2 x dx = - ∫ cotg 2
x d(cotg x) - ∫ (cosec 2
x – 1) dx = - 3 cotg 3x +
cotg x + x + c

d. ∫ tg m ∫
x sec n x dx, cotg m x cosec n x dx
Jika n genap dan m sembarang, maka keluarkan faktor sec 2 x atau
cosec 2 x.
Jika m ganjil dan n sembarang, keluarkan faktor tg [Link] x.

Contoh :
Tentukan : 1. ∫ tg –3/2
x sec 4 x dx 2. ∫ tg 3
x sec –1/2 x dx
e. ∫ sin mx cos nx dx, ∫ sin mx sin nx dx, ∫ cos mx cos nx dx.
Gunakan kesamaan :
sin mx cos nx = ½[sin (m+n)x + sin (m – n)x]
sin mx sin nx = -½[cos (m+n)x - cos (m – n)x]
cos mx cos nx = ½[cos (m+n)x + cos (m – n)x]

Contoh :
∫ sin 2x cos 3x dx = 1/2∫ sin 5x + sin (-x) dx
= 1/10 ∫ sin 5x d(5x) – ½ ∫ sin x dx = - 1/10 cos 5x + ½ cos x + c.

Substitusi trigonometri

Bentuk Gunakan

Contoh soal:

Cari nilai dari:


Cari nilai dari: dengan menggunakan substitusi

Masukkan nilai tersebut:

Nilai sin A adalah

3. Pengintegralan Parsial
Pengintegralan parsial (sebagian) dapat dilakukan jika pengintegralan
dengan teknik subtitusi tidak memberikan hasil, dan dengan catatan bagian
sisa pengintegralan lebih sederhana dari integral mula-mula.
∫ udv =uv−∫ vdu
Contoh :

1. ∫ xe x dx
Misalkan u = x, dv = ex dx maka du = dx , v = ex
∫ xe x dx =
xe x −∫ e x dx = xex –ex + c

Integrasi parsial

Integral parsial menggunakan rumus sebagai berikut:

Contoh soal:

Cari nilai dari:

Gunakan rumus di atas

Integrasi pecahan parsial

Contoh soal:

Cari nilai dari:


Akan diperoleh dua persamaan yaitu dan
Dengan menyelesaikan kedua persamaan akan diperoleh hasil

3. Integral Fungsi Akar (Subtitusi yang Merasionalkan).

n
a. Fungsi Integran yang memuat bentuk √ ax +b
n
Penyelesaian dengan menggunakan subtitusi : u = √ ax +b

Contoh : Hitung ∫ x 3
√ x −4 dx
Jawab : Misalkan u = ∫ x 3
√ x −4 dx maka u3 = x – 4 dan 3u2 du = dx
Shg ∫ x 3√ x −4 dx =
3 4
3
∫ ( u + 4 )u . 3 u du= 7 ( x−4 ) 7 +( x −4 ) 3 +c
3 2

√ 2 2
b. Integran yang memuat bentuk a −x , a +x , x −a√ 2 2
√ 2 2

Gunakan berturut-turut subtitusi : x = a sin t, x = a tg t dan x = a sec t.

Contoh :

∫ √ 4−x 2
dx
1. Tentukan x2
Jawab :
Misalkan x = 2 sin t maka dx = 2 cos t dt dan √ 4−x 2 = 2 cos t , shg
∫ √ 4−x 2 2 cost
x
dx
2 ∫ 4 sin2 t (2 cost )dt=∫ ctg 2 tdt
= = - ctg t – t + c
√ 4−x 2 −sin−1
= x ()x
2
+c

5. Integral Fungsi Rasional

Fungsi Rasional merupakan fungsi hasil bagi dua fungsi Polinom yang
ditulis :
P( x )
F ( x )=
Q( x ) , P(x) dan Q(x) fungsi –fungsi Polinom dengan Q(x) ≠ 0

Fungsi Rasional dibedakan atas :

a. Fungsi Rasional Sejati yaitu fungsi rasional dimana derajat fungsi polinom
pada pembilang lebih kecil dari pada derajat fungsi polinom pada
penyebut.

b. Fungsi Rasional Tak Sejati yaitu fungsi rasional dimana derajat fungsi
polinom pada pembilang lebih besar dari atau sama dengan derajat fungsi
polinom pada penyebut.

Fungsi Rasional Tak Sejati dapat ditulis sebagai penjumlahan fungsi polinom
dengan Fungsi Rasional Sejati dengan jalan membagi fungsi pembilang
dengan fungsi penyebut.

Permasalahan mengintegralkan fungsi rasional terletak pada bagaimana


mengintegralkan fungsi rasional sejati. Suatu fakta, bahwa fungsi rasional
sejati dapat ditulis sebagai jumlah dari fungsi rasional sejati yang lebih
sederhana
Contoh :
5 x−1 2 3
= +
x −1 x−1 x +1
2

a. Penjabaran Fungsi Rasional atas Faktor Linear yang Berbeda

Contoh :
5 x+3
∫ x 3−2 x 2−3 x dx
Tentukan
Jawab :

5 x +3 5 x +3 A B C
= = + +
x3 −2 x 2−3 x x( x +1 )(x −3) x x +1 x−3
maka 5x + 3 = A(x+1)(x-3) + Bx(x-3) + Cx(x+1)
dengan menyamakan koefisien pada kedua polinom diruas kiri dan ruas
−1 3
kanan maka diperoleh : A = -1 , B = 2 , dan C = 2 sehingga

−1 3
5 x+3
∫ x 3−2 x 2−3 x dx ∫ −dx +∫ 2 dx+∫ 2 dx
= x x +1 x−3
1 3
|x|− ln|x+1|+ ln|x−3|+c
= - ln 2 2

b. Penjabaran Fungsi Rasional atas Faktor Linear yang Berulang

Contoh :
x
∫ ( x−3 )2 dx
Tentukan

Jawab :
x A B
= +
( x−3 )2 x−3 (x −3)2 maka x = A(x-3) + B
dengan menyamakan koefisien pada kedua polinom diruas kiri dan ruas
kanan
diperoleh : A = 1 dan B = 3 sehingga
x 1 3 3
∫ ( x−3 )2 dx =∫ x−3 dx+∫ ( x−3 )2 dx=ln|x−3|− x−3 +c
k
Yang perlu diperhatikan untuk tiap faktor (ax +b ) dalam penyebut, maka
ada sebanyak k suku penjabarannya, yaitu :
A1 A2 Ak
+ +.. .+
ax +b ( ax +b )2 ( ax +b )k
c. Penjabaran Fungsi Rasional atas Faktor Kuadrat yang Berbeda

Contoh :
6 x 2−3 x+1
∫ ( 4 x+1)( x 2+1) dx
Tentukan
Jawab :

6 x 2 −3 x+1 A Bx+C
= +
(4 x+1 )( x 2 +1) 4 x +1 x 2 +1
Selanjutnya tentukan A, B dan C seperti cara diatas dan kemudian hitung
integral setiap sukunya.

Anda mungkin juga menyukai