1
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN DENGAN POST NIFAS NORMAL
OLEH :
KOMANG DESMITHA INDAH PRADNYA MAHADEWI
(A 16- B / 223213427)
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM
SARJANA STIKES WIRA MEDIKA BALI
DENPASA
R 2023
2
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan pada Pasien Post Nifas Normal guna
melengkapi tugas PLKK di Ruang Dara RSUD Wangaya Denpasar
Laporan ini disusun dan
disahkan pada : Hari/Tanggal :
Tempat :
Mengetahui, Mahasiswa,
Clinical Instruction (CI)
( Bdn. Ni Wayan Suriati, SST.) ( Komang Desmitha Indah Pradnya Mahadewi)
NIP. 19651206 198802 2 005 NIM. 223213427
Clinical Teacher (CT),
( Ns. Niken Ayu Merna Eka Sari, [Link]., [Link]. )
NIDN : 0829038601
3
1.1 Konsep Post Nifas Normal
1. Definisi
Masa nifas atau post partum atau disebut juga masa puerperium
merupakan waktu yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ
reproduksinya seperti saatsebelum hamil atau disebut involusi terhitung dari
selesai persalinan hingga dalamjangka waktu kurang lebih 6 Minggu atau 42
hari (Maritalia, 2017). Periode post partum adalah periode yang berhubungan
dengan perubahan fisik dan emosional yang intens mengarah pada gangguan
kecemasan dan suasana hati.
Trias masa nifas, meliputi :
1) Laktasi
Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi Karena
mengandung kebutuhan energi dan zat yang dibutuhkan selama 6 bulan pertama
kehidupan bayi. Proses laktasi ini timbul setelah ari-ari atau plasenta lepas.
Plasenta mengandung hormone penghambat prolactin (hormone plasenta) yang
menghambat pembentukan ASI. Setelah plasenta lepas, hormone plasenta
tersebut tidak ada lagi, sehingga susu pun keluar.
Setelah 24 jam pertam pasca terjadi sekresi lateral, payudara tidak jarang
mengalami distensi, menjadi padat dan nodular. Temuan ini mungkin disertai
oleh peningkatan suhu sementara yang menyebabkan demam. Air susu yang
lebih matang akan muncul antara hari 2- ke-5. Pada saat ini, payudara akan
membesar (penuh, keras, panas dan nyeri) yang dapat menimbulkan kesulitan
dalam menyusui. Menyusui dengan interval waktu yang sering akan dapat
mencegah pembengkakan payudara atau membantu meredakannya.
4
2) Involusi
Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus ke dalam keadaan
sebelum hamil. Waktu yang diperlukan 6-8 minggu. Adapun beberapa
perubahan pada uterus sebagai berikut :
a) Setelah plasenta lahir : TFU sepusat, berat uteri 900 gram diameter
bekas melekat plasenta12,5 cm dan serviks lembek.
b) Pada akhir minggu ke-1 : TFU pertengahan pusat symphisis, berat uteri
450 gram, diameter bekas melekat plasenta 7,5 cm dan serviks apat dilalui
2 jari.
c) Pada akhir minggu ke-2 : TFU tidak teraba, berat uteri 200 gram,
diameter bekas melekat plasenta 5,0 dan serviks dapat dimasuki 1 jari.
d) Sesudah akhir 6 minggu: TFU sebesar hamil 2 minggu, berat uteri 60
gram dan diameter bekas melekat plasenta 2,5 cm
e) Sesudah akhir 8 minggu: TFU normal dan berat uteri 30 gram.
3) Lokhea
Lokhea adalah darah dan cairan yang keluar dari vagina selama masa
nifas (3 atau 4 minggu postpartum). Lokhea mengalami perubahan karena
proses involusi. Perubahan lokhea yang terjadi sebagai berikut :
(a) Lokhea rubra
Lokhea ini merupakan cairan bercampur darah, sisa-sisa penebalan
dinding rahim, lemak bayi, lanugo, mekonium, dan dan sisa-sisa penanaman
plasenta (selaput plasenta).Lokia rubra berwarna merah dan keluar dari hari
pertama sampai hari ke-3 atau ke-4 pada masa postpartum.
(b) Lokhea Sanguinolenta
Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan [Link]
5
cairan ini berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 postpartum.
(c) Lokhea Serosa
Lokhea ini mengandung cairan darah dengan jumlah darah yang lebih
sedikit atua lebih banyak mengandung lekosit, serta robekan/laserasi
[Link] serosa berwarna kecoklatan atau kekuning-kuningan dan keluar
dari hari ke-7 sampai ke-14 berikutnya.
(d) Lokhea alba (putih)
Lokhea alba terdiri dari lekosit, lendir, sel desidua, sel epitel, selaput
lendir serviks dan jaringan-jaringan yang lepas dalam proses penyembuhan.
Lokia alba berwarna lebih pucat, dan keluar selama 2 minggu sampai 6 minggu
postpartum.
2. Tahap-Tahap Post Partum
Menurut (Wahyuningsih, 2019) masa post partum dibagi dalam tiga
tahap sebagai berikut :
1. Immediate Post Partum (setelah plasenta lahir 24 jam)
Masa segera setelah plasenta lahir sampai 24 jam, adapun masalah
yang sering terjadi misalnya atonia uteri oleh karena itu perlu
melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lochea,
tekanan darah ibu dansuhu.
2. Early Post Partum (24 jam – 1 minggu)
Pada fase ini memastikan involusi uteri dalam keadaan normal,
tidak adaperdarahan, lochea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu
cukup mendapatkan makanan dan cairan serta ibu dapat menyusui
dengan baik.
6
3. Late Post Partum (1 minggu – 6 minggu) Waktu yang diperlukan
untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau
waktu persalinan mempunyai komplikasi, waktu untuk sehat
sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.
3. Perubahan Fisiologi dan Psikologis pada Ibu Post Partum
Menurut Kumalasari (2015), terdapat beberapa perubahan fisiologis dan
psikologis yang terjadi pada post partum spontan antara lain:
1. Perubahan Fisiologis
a. Perubahan sistem Reproduksi
1) Involusi uterus,
Vagina,dan perineum Involusi uterus atau pengerutan uterus
merupakan suatu proses uterus kembali ke kondisi sebelum
hamildengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera
setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus.
2) Vagina
Vagina akan mengecil dan timbul ragae (lipatan-lipatan atau
kerutan) kembali ke ukuran normal kurang lebih 6- 8 minggu
setelahbayi lahir
3) Perineum Luka
Pada episiotomi terasa nyeri, pada tahap early edema dan luka
kebiruan.
7
4) Lochea
Lochea merupakan darah yang dibuang dari rahim berbentuk
cairansekret. Lochea memiliki bau yang khas. Bau ini tidak
seperti bau menstruasi. Lochea dibagi menjadi 4 berdasarkan
jumlah dan warnanya antara lain: lochea rubra berwarna merah
dan hitam sisa darah yang keluar mulai hari pertama sampai
hari ketiga, lochea sangiolenta berwarna putih bercampur
merah mulai hari ketigasampai hari ketujuh, lochea serosa
berwarna kekuningan dari hari ketujuh sampai hari ke empat
belas, lochea alba berwarna putih setelah hari ke empat belas.
5) Endometrium dan serviks
Hari pertama tebal endometrium 2,5 mm, setelah tiga hari
permukaan mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan
jaringan parut. Perubahan serviks dimulai dari kala I dengan
perubahan serviks secara progresif dan diakhiri dengan
pembukaan serviks lengkap.
b. Perubahan Sistem Pencernaan
Kurangnya makanan berserat selama persalinan dapat
menyebabkan ibu post partum mengalami konstipasi. Faktor
lainnya yang menyebabkan adalah karena rasa takut ibu ketika
buang air besar, jika terdapat luka pada perineum
c. Perubahan Sistem Perkemihan
Saluran kencing biasanya akan kembali normal dalam waktu 2
sampai 8 minggu paska melahirkan. Pelvis ginjal dan ureter yang
8
meregang danberdilatasi selama proses kehamilan akan kembali
normal pada mingguke empat.
d. Perubahan Tanda-Tanda Vital
1) Nadi dan Pernafasan Pada proses persalinan denyut nadi akan
mengalami peningkatan dapat terjadi bradikardi (50 – 70 kali
per menit) maupun takikardi. Kebutuhan pernafasan pada ibu
partus akan meningkat karena proses mengejan atau meneran.
2) Tekanan Darah
Tekanan darah yang mengalami peningkatan lebih dari 30
mmHg pada systole dan 15 mmHg pada dyastole perlu
dicurigai terjadinyapre-eklampsi pada ibu post partum. Selama
beberapa jam paska persalinan, ibu dapat terjadi hipotensi
orthostik (penurunan 20 mmHg) yang ditandai dengan pusing
setelah berdiri.
3) Suhu Tubuh
Paska melahirkan dapat mengalami kenaikan suhu sekitar 0,5
derajat celcius dari keadaan normal (36 0C – 37,50C) namun
tidak lebih dari 380C. Jika suhu tubuh tidak kembali normal
atau meningkat setelah 12 jam post partum perlu dicurigai
adanyainfeksi.
e. Perubahan Sistem Endokrin
Selama periode post partum, terjadi perubahan hormon yang
besar, salahsatunya hormon estrogene dan progesterone akan
diproduksi. Perubahankadar estrogene dan progesterone yaitu
terjadi fluktuasi
9
hormonal dalamtubuh. Kadar hormone kortisol (hormone pemicu
stres) pada tubuh ibu naik hingga mendekati kadar orang yang
mengalami depresi.
f. Perubahan Berat Badan
Peningkatan berat badan pada ibu hamil dapat mencapai 10-15 kg.
Sebagian besar ibu akan kembali ke ukuran badan 13 semula
setelah 7-8 minggu paska persalinan, tetapi ada pula beberapa ibu
yang memerlukan waktu lebih lama.
2. Perubahan Psikologis
a. Perubahan Taking In
Merupakan periode terjadi setelah 1 sampai 2 hari dari persalinan,
masaterjadi interaksi dan kontak yang lama antara ayah, ibu dan
bayi.
b. Periode Taking Hold
Merupakan berlangsung pada hari ke 3 sampai hari ke 4 post
partum, ibu berusaha bertanggung jawab terhadap bayinya dengan
berusaha untuk menguasai perawatan bayi.
c. Periode Letting Go
Merupakan terjadi setelah ibu pulang ke rumah, pada masa ibu
hamil mengambil tanggung jawab terhadap bayi.
4. Patofisiologi Post Partum
Masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna maupun
eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil
dan terjadinya perubahan fisikologis serta perubahan psikologis. Perubahan
10
fisikologis ini terdapat involusi uterus yaitu proses kembalinya uterus ke
keadaan sebelum hamil setelah melahirkan, proses ini dimulai segera setelah
plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Perubahan-perubahan
alat genetalia ini dalam keseluruhannya disebut “involusi”. Involusi terjadi
perubahan-perubahan penting yakni mengkonsentrasi dan timbulnya laktasi
yang terakhir karena pengaruh hormon laktogen dari kelenjar hipofisis
terhadap kelenjar-kelenjar mamae. Otot- otot uterus berkontraksi segera post
partum, pembuluh-pembuluh darah yang ada antara nyaman otot-otot uterus
akan terjepit. Proses ini akan menghentikan pendarahan setelah plasenta lahir.
Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks adalah segera post partum
bentuk serviks agak menganga seperti corong, bentuk ini disebabkan oleh
korpus uteri terbentuk semacam cincin. Perubahan-perubahan yang terdapat
pada endometrium ialah timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis
ditempat implantasi plasenta pada hari pertama endometrium yang kira- kira
setebal 2-5 mm itu mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan
desidua dan selaput janin regenerasi endometrium terjadi dari sisa sisa sel desi
dua basalis yang memakai waktu 2 sampai 3 minggu. Ligamen-ligamen dan
diafragma pelvis serta fasia yang merenggang sewaktu kehamilan dan perlu
setelah janin lahir berangsur-angsur kembali seperti semula (Aspiani, 2017).
5. Kebutuhan Ibu Nifas
Kebutuhan masa nifas menurut KBBI (2013) yaitu pemenuhan
kebutuhan dari masa sejak melahirkan sampai dengan pulihnya alat-alat dan
anggota badan. Ada beberapa kebutuhan dasar ibu nifas, menurut Nugroho
dkk (2014; hal 134-144)dan Marmi (2017)
11
1. Nutrisi
Nutrisi adalah zat yang diperlukan oleh tubuh untuk keperluan
metabolismenya. Kebutuhan gizi pada masa nifas terutama bila
menyusui akan meningkat 25%, karena berguna untuk proses
penyembuhan karenasehabis melahirkan dan untuk memproduksi air
susu yang cukup untuk menyehatkan bayi semua itu akan meningkat
tiga kali dari kebutuhan biasa (Walyani dan Purwoastuti, 2015; hal
103). Ibu nifas memerlukan nutrisi dan cairan untuk pemulihan
kondisi kesehatan setelah melahirkan, cadangan tenaga serta untuk
memenuhi kebutuhan akan giziyang menurut Nugroho dkk (2014;
hal 134) adalah sebagai berikut:
a. Kalori
Kebutuhan kalori pada masa menyusui sekitar 400-500 kalori
Wanita dewasa memerlukan 1800 kalori per hari. Ibu nifas
disarankan untuk tidak mengurangi kalori, karena akan
mengganggu proses metabolisme tubuh dan menyebabkan ASI
rusak (Nugroho dkk, 2014;hal 134).
Energi dibutuhkan sebesar 700 kkal/hari (6 bulan pertama
menyusui). Enam bulan kedua dibutuhkan sekitar rata-rata 500
kkal/hari dan padatahun ke dua dianjurkan tambahan sebanyak
400 kkal/hari. Karbohidrat kompleks adalah salah satu sumber
vitamin B dan mineral terbaik untuk pertumbuhan bayi. Selama
menyusi harus mengonsumsi makanan yang banyak
mengandung karbohidratkompleks. Sumber makanan yang
mengandung kalori
12
lebih dari dua kali kalori protein (9 kalori) atau karbohidrat (4
kalori). Pilih makananyang mengandung kalori tinggi. Resiko
kelebihan kalori jika terjadi kegemukan makameningkatkan
kematian (Marmi, 2017; hal 135- 136).
b. Protein
Tanpa protein sebagai zat pembangun yang cukup, maka ibu
nifas akan mengalami keterlambatan penyembuhan bahkan
berpotensi infeksi bila daya tahan tubuh kurang akibat pantang
makanan bergizi. Protein juga diperlukan untuk pembentukan
ASI (Walyani dan Purwoastuti, 2015; hal 107).
Kebutuhan protein yang dibutuhkan adalah 3 porsi per hari. Satu
protein setara dengan 3 gelas susu, dua butir telur, lima putih
telur, 120 gram keju, 1 ¾ gelas yogurt, 120-140 gram
ikan/daging/unggas, 200-240 gram tahu atau 5-6 sendok selai
kacang (Nugroho dkk, 2014;hal 135). Sumber protein
diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang
rusak dan mati. Sumber protein dapat diperoleh dari protein
hewani (ikan, udang, kerang, kepiting, daging ayam, hati, telur,
susu dan keju) dan protein nabati (kacang tanah, kacang merah,
kacang hijau, kedelai, tahu dan tempe) (Walyani dan
Purwoastuti, 2015; hal 104).
c. Kalsium dan Vitamin D
Kalsium dan vitamin D berguna untuk pembentukan tulang dan
[Link] kalsium dan Vitamin D didapat dari minuman
13
susu rendah kalori atau berjemur dipagi hari. Konsumsi kalsium
pada masamenyusui meningkat menjadi 5 porsi per hari
(Nugroho dkk, 2014; hal 135-136).
d. Magnesium
Magnesium dibutuhkan sel tubuh untuk membantu gerak otot,
fungsi syaraf dan memperkuat tulang. Kebutuhan magnesium
didapat pada gandum dan kacang-kacangan (Nugroho dkk,
2014; hal 136).
e. Karbohidrat
Ibu selama masa menyusui, kebutuhan karbohidrat kompleks
diperlukan enam porsi per hari. Satu porsi setara dengan ½
cangkir nasi, ¼ cangkir jagung pipil, satu porsi sereal atau oat,
satu iris roti dari bijian utuh, 2-6 biskuit kering atau crackers, ½
cangkir kacang- kacangan, 2/3 cangkir kacang koro, atau 40
gram mie/pasta dari bijianutuh (Nugroho dkk, 2014; 136),
Zat gizi sebagai sumber karbohidrat terdiri dari beras, sagu,
jagung, tepung terigu, dan ubi (Walyani dan Purwoastuti, 2015;
hal 104).
f. Lemak
Lemak 25-35% dibutuhkan dari total makanan. Lemak
menghasilkankira-kira setengah kalori yang diproduksi oleh air
susu ibu (Marmi, 2017; hal 136). Rata-rata kebutuhan lemak
dewasa adalah 4 ½ porsi lemak (14 gram per porsi) perharinya.
Satu porsi lemak sama dengan 80 gram keju, 4 sendok makan
14
krim, secangkir es krim, ½ buah alpukat, 2 sendok makan selai
kacang, 120-140 gram daging tanpa lemak, 9 kentang goreng, 2
iris cake, 1 sendok makan mayones atau mentega, atau 2 sendok
makan saus salad (Nugroho dkk, 2014; hal 136-137). Zat lemak
dapat diperoleh dari hewani (lemak, mentega, keju) dan nabati
(kelapa sawit, minyak sayur, minyak kelapa dan margarine)
(Walyani dan Purwoastuti, 2015; hal 104).
g. Vitamin dan mineral
Kegunaan vitamin dan mineral adalah untuk melancarkan
metabolisme tubuh (Marmi, 2017; hal 137). Vitamin A berguna
bagi kesehatan kulit, kelenjar serta mata. Vitamin A terdapat
dalam telur,hati dan keju. Jumlah yang dibutuhkan adalah 1300
mcg (Nugroho dkk, 2014; hal 137).
Vitamin B6 membantu penyerapan protein dan meningkatkan
fungsi syaraf. Asupan vitamin B6 sebanyak 2mg per hari.
Vitamin B6 dapatditemui di daging, hati, padi-padian, kacang
polong dan kentang(Nugroho dkk, 2014; hal 137).
Pemberian vitamin A dalam bentuk suplementasi dapat
meningkatkankualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh dan
meningkatkan kelangsungan hidup anak. Mengkomsumsi
vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A dalam bentuk
suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan
daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan hidup anak
(Suherni, 2010; hal 101) Vitamin E berfungsi sebagai
15
antioksidan, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.
Terdapat dalam makanan berserat, kacang- kacangan, minyak
nabati dan gandum (Nugroho dkk, 2014; hal 137).Zinc berfungsi
untuk kekebalan tubuh, penyembuhan luka atau petumbuhan.
Kebutuhan zinc didapat dalam daging, telur dan gandum. Enzim
dalam pencernaan dan metabolisme memerlukanseng.
Kebutuhan seng setiap hari sekitar 12 mg. Sumber yang terdapat
dalam seafood, hati dan daging (Nugroho dkk, 2014; 138).
2. Cairan
Fungsi cairan bagi ibu nifas sebagai pelarut zat gizi dalam proses
metabolisme tubuh. Minum cairan yang cukup dapat mencegah ibu
nifas mengalami dehidrasi (Marmi, 2017; hal 137). Cairan yang
dibutuhkan ibunifas adalah dianjurkan minum sedikitnya 3 liter
setiap hari (Nugroho dkk, 2014; hal 137)
3. Kebersihan Diri
Kebersihan diri berguna untuk mengurangi infeksi dan
meningkatkan perasaan nyaman. Kebersihan diri meliputi
kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur maupun lingkungan
(Nugroho, 2014; hal 140). Pada ibu pada masa postpartum sangat
rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat
penting untuk mencegah terjadinya infeksi. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan pada ibu nifas dalam personal hygiene adalah sebagai
berikut:
a. Perawatan Perineum
Apabila setelah buang air besar atau buang air kecil perineum
16
dibersihkan secara rutin. Caranya dibersihkan dengan sabun yang
lembut minimal sekali sehari. Biasanya ibu merasa takut pada
kemungkinan jahitannya akan lepas dan merasa sakit sehingga
perineum tidak dibersihakan atau dicuci (Ambarwati dan
Wulandari, 2010; hal 106-107).
Untuk cara mengganti pembalut yaitu bagian dalam jangan sampai
terkontaminasi oleh tangan. Pembalut yang sudah kotor harus
diganti paling sedikit 4 kali sehari. Ibu harus memahami tentang
jumlah, warna,dan bau lochea sehingga apabila ada kelainan dapat
diketahui secara dini. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan
sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah
kelaminnya. Apabila ibumempunyai luka episiotomi atau laserasi,
saranakan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka
(Ambarwati dan Wulandari, 2010;hal 106-107).
b. Perawatan payudara
Bagi ibu postpartum, melakukan perawatan payudara itu penting
yaitu dengan menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama
pada bagian putting susu dengan menggunakan bra yang
menyongkong payudara. Oleskan kolostrum atau ASI yang keluar
pada sekitar puting sususebelum dan setelah menyusukan. Apabila
payudara terasa nyeri dapat diberikan parasetamol 1 tablet setiap 4
– 6 jam (Ambarwati dan Wulandari, 2010; hal 107).
4. Istirahat dan tidur
Ibu nifas dianjurkan untuk: istirahat cukup untuk mengurangi
17
kelelahan, tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur, kembali ke
kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan, mengatur kegiatan
rumahnya sehinggadapat menyediakan waktu untuk istirahat pada
siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam. Kurang istirahat pada ibu
nifas dapat berakibat: mengurangi jumlah ASI, memperlambat
involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan perdarahan, depresi
(Nugroho, 2014; hal 141).
5. Eliminasi: BAB dan BAK.
Buang air kecil (BAK) dalam enam jam ibu nifas harus sudah BAK
spontan, kebanyakan ibu nifas berkemih spontan dalam waktu 8
jam, urine dalam jumlah yang banyak akan di produksi dalam waktu
12- 36 jam setelah melahirkan, ureter yang berdiltasi akan kembali
normal dalamwaktu 6 minggu. Selama 48 jam pertama nifas
(puerperium), terjadi kenaikan dueresis sebagai berikut: pengurasan
volume darah ibu, autolisisserabut otot uterus. Buang air besar
(BAB) biasanya tertunda selama 2-3hari karena edema persalinan,
diet cairan, obat- obatan Analgetik, dan perenium yang sangat sakit,
bila lebih 3 hari belum BAB bisa diberikan obat laksantia, ambulasi
secara dini dan teratur akan membantu dalam regulasi BAB, asupan
cairan yang adekaut dan diet tinggi serat sangat dianjurkan (Walyani
dan Purwoastuti, 2015; hal 113)
6. Perencanaan Keluarga Berencana
Rencana KB setelah ibu melahirkan sangat penting, karena secara
tidak langsung KB dapat membantu ibu untuk dapat merawat
anaknya
18
denganbaik serta mengistirahatkan alat kandungannya. Ibu dan
Suami dapat memilih alat kontrasepsi KB apa saja yang ingin
digunakan (Walyani danPurwoastuti, 2015; hal 128)
6. Komplikasi
Menurut (Walyani, 2017) terdapat komplikasi dan penyakit yang terjadi
pada ibu masa nifas, sebagai berikut:
1. Infeksi Nifas
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-
alat genetelia dalam masa nifas. Masuknya kumankuman dapat terjadi
dalam kehamilan, waktu persalinan, dan nifas. Demam nifas adalah
demam dalammasa nifas oleh sebab apa pun. Morbiditas puerpuralis
adalah kenaikan suhubadan sampai 38⁰C atau lebih selama 2 hari dari
dalam 10 hari [Link] pada hari pertama. Suhu diukur 4
kali secara oral.
2. Infeksi saluran kemih
Pada masa nifas dini, sensitivitas kandung kemih terhadap tegangan
air kemih di dalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan
atau analgesia epidural atau spinal. Sensasi peregangan kandung
kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman yang
ditimbulkan oleh episiotomi yang lebar, laserasi periuretra, atau
hematoma dinding vagina. Setelah melahirkan, terutama saat infus
oksitosis dihentikan, terjadi diuresisyang disertai peningkatan
produksi urin dan distensi kandung kemih. Over distensi yang disertai
katerisasi untuk mengeluarkan air kemih sering menyebabkan infeksi
saluran kemih.
19
3. Metritis
Metritis adalah inspeksi uterus setelah persalinan yang merupakan
salah satu penyebab terbesar kematian ibu. Bila pengobatan terlambat
atau kurangadekuat dapat menjadi abses pelvic yang menahun,
peritonitis, syok septik, trombosis yang dalam, emboli pulmonal,
infeksi felvik yang menahandispareunia, penyumbatan tuba dan
infertilitas.
4. Bendungan payudara
Bendungan payudara adalah peningkatan aliran vena dan limfe pada
payudara dalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi. Bendungan
terjadi akibat bendungan berlebihan pada limfatik dan vena sebelum
laktasi. Payudara bengkak disebabkan karena menyusui yang tidak
kontinu, sehingga sisa ASI terkumpul pada daerah ductus. Hal ini
dapat terjadi padahari ke tiga setelah melahirkan. Penggunaan bra
yang keras serta keadaan puting susu yang tidak bersih dapat
menyebabkan sumbatan pada ductus.
5. Infeksi Payudara
Mastitis termasuk salah satu infeksi payudara. Mastitis adalah
peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang
disebabkan olehkuman terutama Sraphylococcus Aureus melalui luka
pada puting susu ataumelalui peredaran darah.
6. Abses Payudara
Abses payudara merupakan komplikasi akibat peradangan payudara/
mastitis yang sering timbul pada minggu ke dua postpartum (setelah
melahirkan), karena adanya pembengkakan payudara akibat tidak
menyusuidan lecet pada puting susu.
7. Abses pelvis
Penyakit ini merupakan komplikasi yang umum terjadi pada penyakit-
penyakit meluar seksual (sexually transmitted disease/ STD),
utamanya yang disebabkan oleh chlamydia dan gonorrhea.
8. Peritonitis
Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum yang merupakan
pembungkus visera dalam rongga perut. Peritoneum adalah selaput
tipis danjernih yang membungkus organ perut dan dinding perut
sebelah dalam.
9. Infeksi Luka Perineum dan Luka Abdominal
Luka perineum adalah luka perineum karena adanya robekan jalan
lahir baikkarena rupture maupun karena episiotomy pada waktu
melahirkan janin. Rupture perineum adalah robekan yang terjadi pada
perineum sewaktu persalinan.
10. Perdarahan Pervagina
Perdarahan pervagina atau perdarahan postpartum adalah kehilangan
darah sebanyak 500 cc atau lebih dari traktus genetalia setelah
melahirkan. Hemoragi postpartum primer mencakup semua kejadian
perdarahan dalam24 jam setelah kelahiran.
7. Program Kunjungan Masa Nifas
Paling sedikit 4 kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan
untuk:
1. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
2. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-
kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayi.
3. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi
pada masa nifas.
4. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan
mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya (Walyani,
2017).
Tabel 1. Program Masa Nifas (Walyani, 2017)
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6- 8 jam a. Mencegah terjadinya perdarahan pada
setelah masa nifas.
persalinan b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain
perdarahan dan memberikan rujukan bila
perdarahan berlanjut.
c. Memberikan konseling kepada ibu atau
salah satu anggota keluarga mengenai
bagaimana mencegah perdarahan masa
nifas karena atonia uteri.
d. Pemberian ASI pada masa awal menjadi
ibu.
e. Mengajarkan ibu untuk mempererat
hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara
mencegah hipotermi.
2 6 hari setelah a. Memastikan involusi uteri berjalan normal,
Persalinan uterus berkontraksi, fundus di bawah
umbilicus tidak ada perdarahan abnormal,
dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya tanda- tanda demam,
infeksi, atau kelainan pasca melahirkan.
c. Memastikan ibu mendapat cukup cairan,
makanan, dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak ada tanda- tanda penyulit.
e. Memberikan konseling kepada ibu
mengenai asuhan pada bayi, cara merawat
tali pusat, dan menjaga bayi agar tetap
hangat.
2
3 2 minggu setelah a. Memastikan involusi uteri berjalan normal,
persalinan uterus berkontraksi, fundus di bawah
umbilicus tidak ada perdarahan abnormal,
dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya tanda- tanda demam,
infeksi atau kelainan pasca melahirkan.
c. Memastikan ibu mendapat cukup makanan,
cairan, dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak ada tanda- tanda penyulit.
e. Memberikan konseling kepada ibu
mengenai asuhan pada bayi, cara merawat
tali pusat, dan menjaga bayi agar tetap
hangat.
4 6 minggu setelah a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-
persalinan penyulit yang dialami atau bayinya.
b. Memberikan konseling untuk KB secara
dini.
Tindakan pengawasan yang dilakukan pada masa nifas, meliputi :
1. Memantau keadaan klien pada masa nifas
2. Mengawasi perkembangan yang terjadi pada klien
3. Mengawasi tanda bahaya yang dialami klien
8. Diagnosa Keperawatan
1. Menyusui Tidak Efektif
2. Resiko Hipovolemia
3. Gangguan Pola Tidur
4. Ketidaknyamanan Pasca Partum
5. Nyeri Akut
6. Defisit Pengetahuan
7. Resiko Gangguan Perlekatan
8. Resiko Infeksi
2
9. Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan ibu masa nifas adalah sebagai berikut:
1. Pengkajian
Pengkajian menurut (Margaretha, 2017) antara lain:
1. Identitas Pasien
Biodata pasien terdiri dari nama, umur, agama, pendidikan,
suku/bangsa, pekerjaan dan alamat.
2. Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan terdiri dari tempat pemeriksaan kehamilan,
frekuensi, imunisasi, keluhan selama kehamilan, pendidikan
kesehatan yang diperoleh.
3. Riwayat Persalinan
Riwayat persalinan terdiri dari tempat persalinan, penolong
persalinan, jalannya persalinan.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Vital Sign
Dalam vital sign yang perlu di cek yaitu: suhu, nadi, pernapasan,
danjuga tekanan darah. Suhu tubuh diukur setiap 4 sampai 8 jam
selama beberapa hari pascapartum karena demam biasanya
merupakan gejala awal infeksi. Suhu tubuh 38⁰C mungkin
disebabkan oleh dehidrasi pada 24 jam pertama setelah
persalinan atau karena awitan laktasi dalam 2 sampai 4 hari.
Demam yang menetap atau berulang diatas 24jam pertama dapat
menandakan adanya infeksi. Bradikardi merupakan perubahan
fisiologis
2
normal selama 6 sampai 10 hari pascapartum dengan frekuensi
nadi 40 sampai 70 kali/ menit. Frekuensi diatas 100 kali/ menit
dapat menunjukan adanyya infeksi, hemoragi, nyeri, atau
kecemasan, nadi yang cepat dan dangkal yang dihubungkan
dengan hipotensi, menunjukan hemoragi, syok atau emboli.
Tekanan darah umumnya dalam batasan normal selama
kehamilan. Wanita pasca partum dapat mengalami hipotensi
ortostatik karena dieresis dan diaphoresis, yang menyebabkan
pergeseran volume cairan kardiovasukuler, hipotensi menetap
atau berat dapat merupakan tanda syok atau emboli.
Peningkatan tekanan darah menunjukan hipertensi akibat
kehamilan, yang dapat muncul pertama kali pada masa
pascapartum. Kejang eklamsia dilaporkan terjadi sampai lebih
dari 10 hari pascapartum.
b. Kepala dan Wajah
Inspeksi kebersihan dan kerontokan rambut (normal rambut
bersih, tidak terdapat lesi pada kulit kepala dan rambut tidak
rontok), cloasmagravidarum, keadaan sclera (normalnya sclera
berwarna putih), konjungtiva (normalnya konjungtiva berwarna
merah muda, kalau pucat berarti anemis), kebersihan gigi dan
mulut (normalnya mulut dan gigi bersih, tidak berbau, bibir
merah), caries. Palpasi palpebra, odem pada mata dan wajah;
palpasi pembesaran getah bening (normalnya tidak ada
pembengkakan), JVP, kelenjar tiroid.
2
c. Dada
1) Inspeksi irama nafas, dengarkan bunyi nafas dan bunyi
jantung, hitung frekuensi.
2) Payudara: pengkajian payudara pada ibu postpartum
meliputi inspeksi ukuran, bentuk, warna, dan kesimetrisan
dan palpasi konsisten dan apakah ada nyeri tekan guna
menentukan status laktasi. Normalnya puting susu menonjol,
areola berwarna kecoklatan, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
bekas luka, payudarasimetris dan tidak ada benjolan atau
masa pada saat di palpasi.
d. Abdomen
Menginspeksi adanya striae atau tidak, adanya luka/insisi,
adanya linea atau tidak. Involusi uteri: kemajuan involusi yaitu
proses uteruskembali ke ukuran dan kondisinya sebelum
kehamilan, di ukur dengan mengkaji tinggi dan konsistensi
fundus uterus, masase dan peremasan fundus dan karakter serta
jumlah lokia 4 sampai 8 jam. TFU pada hari pertama setinggi
pusat, pada hari kedua 1 jari dibawahpusat, pada hari ketiga 2
jari dibawah pusat, pada hari keempat 2 jaridiatas simpisis, pada
hari ketujuh 1 jari diatas simpisis, pada hari kesepuluh setinggi
simpisis. Konsistensi fundus harus keras dengan bentuk bundar
mulus. Fundus yang lembek atau kendor menunjukan atonia
atau subinvolusi. Kandung kemih harus kosong agar pengukuran
fundus akurat, kandung kemih yang penuh menggeser uterus
dan
2
meningkatkan tinggi fundus.
e. Vulva dan vagina
Melihat apakah vulva bersih atau tidak, adanya tandatanda
infeksi. Lochea: karakter dan jumlah lochea secara tidak
langsung menggambarkan kemajuan penyembuhan normal,
jumlah lochea perlahan-lahan berkurang dengan perubahan
warna yang khas yang menunjukan penurunan komponen darah
dalam aliran lochea. Jumlahlokia sangat sedikit noda darah
berkurang 2,5-5 cm= 10 ml, sedang noda darah berukuran ≤
10cm= 10,25 ml.
f. Perineum
Pengkajian daerah perineum dan perineal dengan sering untuk
mengidentifikasi karakteristik normal atau deviasi dari normal
seperti hematoma, memar, edema, kemerahan, dan nyeri tekan.
Jika ada jahitan luka, kaji keutuhan, hematoma, perdarahan dan
tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak dan nyeri tekan).
Daerah anus dikaji apakah ada hemoroid dan fisura. Wanita
dengan persalinan spontan per vagina tanpa laserasi sering
mengalami nyeri perineum yang lebihringan. Hemoroid tampak
seperti tonjolan buah anggur pada anus danmerupakan sumber
yang paling sering menimbulkan nyeri perineal. Hemoroid
disebabkan oleh tekanan otot-otot dasar panggul oleh bagian
terendah janin selama kehamilan akhir dan persalinan akibat
mengejan selama fase ekspulsi.
g. Payudara dan tungkai
2
Pengkajian payudara meliputi bentuk, ukuran, warna, dan
kesimetrisan serta palpasi konsistensi dan deteksi apakah ada
nyeri tekan guna persiapan menyusui. Hari pertama dan kedua
pasca melahirkan akan ditemukan sekresi kolostrum yang
banyak. Pengkajian pada tungkai dimaksudkan untuk
mengetahui adatidaknya tromboflebitis. Payudara dan tungkai
dikaji tiap satu jam sampai dengan 8 jam setelah persalinan,
kemudian dikaji tiap empat jam sampai dengan 24 jam setelah
persalinan
h. Eliminasi
Pengkajian eliminasi meliputi pengkajian bising usus, inspeksi
dan palpasi adanya distensi abdomen. Ibu postpartum
dianjurkan untuk berkemih sesegera mungkin untuk
menghindari distensi kandungkemih. Eliminasi dikaji setiap 9
jam, kaji juga defekasi setiap harinya.
5. Pengkajian psikososial
Pengkajian psikososial ini difokuskan pada interaksi dan
adaptasi ibu, bayi baru lahir dan keluarga. Perawat melihat status
emosianal dan respon ibu terhadap pengalaman kelahiran, interaksi
dengan bayi baru lahir, menyusui bayi baru lahir, penyesuaian
terhadap peran baru, hubungan baru dalam keluarga, dan
peningkatan pemahaman dalamperawatan diri
2
10. Intervensi Keperawatan
Tabel Intervensi Keperawatan (Sumber : SDKI,SIKI,SLKI, 2016)
NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Menyusui Tidak Efektif Status Menyusui (L.03029) Edukasi Menyusui (I.12393)
(D. 0029)
Diharapkan status menyusui membaik, Observasi:
dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi kesiapan dan kemapuan menerima
1. Perlekatan bayi pada payudara ibu informasi
membaik 2. Identifikasi tujuan atau keinginan menyusui
2. Kemampuan ibu memposisikan bayi
dengan benar membaik Terapeutik:
3. Berat badan bayi membaik 1. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
4. Tetesan/panacaran ASI membaik 2. Dukung ibu untuk meningkatkan kepercayaan
5. Suplai ASI adekuat diri dalam menyusui
6. Putting tidak lecet setelah 2 minggu 3. Libatkan sistem pendukung
membaik
7. Kepercayaan ibu membaik Edukasi:
1. Berikan konseling menyusui
2. Ajarkan empat posisi menyusui dan
perlekatan dengan benar
3. Ajarkan perawatan payudara post partum
2
2. Resiko Hipovolemia Status Cairan (L.03028) Pemantauan cairan (I.03121)
(D.0023)
Diharapkan status cairan membaik, dengan Observasi:
kriteria hasil: 1. Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
1. Kekuatan nadi meningkat 2. Monitor frekuensi napas
2. Tugor kulit meningkat 3. Monitor tekanan darah
3. Frekuensi nadi membaik 4. Monitor berat badan
4. Tekanan darah membaik 5. Monitor waktu pengisian kapiler
5. Tekanan nadi membaik 6. Monitor elastisitas atau tugor kulit
6. Membran mukosa membaik 7. Monitor jumlah, warna dan berat jenis urine
7. Kadar HB membaik 8. Monitor kadar albumin dan protein total
8. Kadar HT membaik 9. Monitor hasil pemeriksaan serum (mis. osmolaritas
9. Intake cairan membaik serum, hematokrit, natrium, kalium, BUN)
10. Suhu tubuh membaik 10. Monitor intake dan output cairan
11. Indentifikasi tanda-tanda hipovolemia (mis. frekuensi
nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah
menurun, tekanan nadi menyempit, tugor kulit
menurun, membran mukosa lering, volume urin
menurun, hematokrit meningkat, haus, lemah,
konsentrasi urine meningkat, volume urine menurun
dalam waktu singkat)
Terapeutik:
1. Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan
kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi:
1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
2
3. Gangguan Pola Tidur Pola Tidur (L.05045) Edukasi aktivitas/istirahat (I.12362)
(D.0055)
Diharapkan kualitas tidur membaik, dengan Observasi:
kriteria hasil: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima
1. Kesulitan sulit tidur membaik informasi
2. Keluhan sering terjaga membaik
3. Keluhan tidak puas tidur membaik Terapeutik:
4. Keluhan istirahat tidak cukup membaik 1. Sediakan materi dan media pengaturan aktivitas dan
istirahat
2. Jadwalkan pemberian pendidikan kesehatan sesuai
kesepakatan
3. Berikan kesempatan kepada pasien dan keluarga
untuk bertanya
Edukasi:
1. Jelaskan pentingnya melakukan aktivitas
fisik/olahraga secara rutin
2. Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok,
aktivitas bermain atau aktivitas lainnya
3. Anjurkan menyusun jadwal aktivitas dan istirahat
4. Ajarkan cara mengidentifikasi kebutuhan istirahat
(mis. kelelahan, sesak nafas saat aktivitas)
5. Ajarkan cara mengidentifikasi target dan jenis
aktivitas sesuai kemampuan
3
4. Ketidaknyamanan pasca partum Status kenyamanan pasca partum (L.07061) Manajemen nyeri (I.08238)
(D. 0029)
Observasi:
Diharapkan perasaan nyaman setelah 1. Identifikasi lokasi, karakterisik, durasi, frekuensi,
melahirkan meningkat, dengan kriteria hasil: kualitas, intensitas nyeri
1. Meringis meningkat 2. Identifikasi skala nyeri
2. Kontraksi uterus meningkat 3. Identifikasi respon neyeri non verbal
3. Tekanan darah menurun 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan
4. Frekuensi nadi menurun memperingan nyeri
5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
8. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang
sudah diberikan
9. Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik:
1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri
2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
3. Fasilitasi istirahat dan tidur
4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredahkan nyeri
Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
2. Kelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat
5. Anjarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri
Kolaborasi:
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
3
5. Nyeri Akut Tingkat nyeri Manajemen nyeri (I.08238)
Diharapkan nyeri menurun, dengan kriteria Observasi:
hasil: 1. Identifikasi lokasi, karakterisik, durasi, frekuensi,
1. Keluhan nyeri menurun kualitas, intensitas nyeri
2. Meringis menurun 2. Identifikasi skala nyeri
3. Gelisah menurun 3. Identifikasi respon neyeri non verbal
4. Kesulitan tidur menurun 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan
5. Perasaan depresi menurun memperingan nyeri
5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
8. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang
sudah diberikan
9. Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik:
1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri
2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
3. Fasilitasi istirahat dan tidur
4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredahkan nyeri
Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
2. Kelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
3
4. Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat
5. Anjarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri
Kolaborasi:
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
6. Defisit Pengetahuan Tingkat Pengetahuan (L.12111) Edukasi kesehatan (I.12383)
Diharapkan kecukupan informasi kognitif Observasi :
membaik, dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima
1. Perilaku sesuai anjuran meningkat informasi
2. Kemampun menjelaskan 2. Indentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan
pengetahuan tentang suatu topik dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan
meningkat sehat
3. Perilaku sesuai dengan
kemampuan meningkat Terapeutik :
4. Perilaku membaik 1. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
2. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
3. Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi :
1. Jelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi
kesehatan
2. Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
3. Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku hidup bersih dan
sehat
7. Resiko gangguan perlekatan Perlekatan (L.13122) Promosi perlekatan (I. 10342)
Diharapkan interaksi antara ibu dan anak Observasi :
meningkat, dengan kriteria hasil: 1. Monitor kegiatan menyusul
1. Mempraktikkan perilaku sehat selama 2. Identifikasi kemampuan bayi menghisap dan
hamil meningkat menelan ASI
2. Menyiapkan perlengkapan bayi 3. Identifikasi payudara ibu (mis. bengkak, puting
sebelum kelahiran meningkat lecet, mastitis, nyeri pada payudara)
3. Verbalisasi perasaan positif terhadap 4. Monitor perlekatan saat menyusui (mis. aerola bagian
bayi meningkat bawah lebih kecil dari pada aerola baian atas, mulut
3
4. Mencium bayi meningkat bayi terbuka lebar, bibir bayi terputar keluar dan
5. Tersenyum kepada bayi meningkat dagu bayi menempel pada payudara ibu)
6. Melakukan kontak mata dengan bayi
meningkat Terapeutik :
7. Berbicara dengan baik meningkat 1. Hindari memegang kepala bayi
8. Bermain dengan bayi meningkat 2. Diskusikan dengan ibu masalah selama proses
9. Berespon dengan isyarat bayi menyusui
meningkat
10. Kekhawatiran menjalankan peran orang Edukasi :
tua menurun 1. Ajarkan ibu menopang seluruh tubuh bayi
11. Konflik hubungan orang tua dengan 2. Anjurkan ibu melepas pakaian bagian atas agar bayi
bayi/anak menurun dapat menyentuh payudara ibu
3. Anjurkan bayi yang mendekati kearah payudara ibu
dari bagian bawah
4. Anjurkan ibu memegang payudara menggunakan
jarinya seperti huruf “C” pada posisi jam 12-6 atau
3- 9 saat mengarahkan ke mulut bayi
5. Anjurkan ibu untuk menyusui menunggu mulut bayi
terbuka lebar sehingga aerola bagian bawah dapat
masuk sempurna
6. Anjurkan ibu mengenali tanda bayi siap menyusu
7. Resiko infeksi Tingkat Infeksi (L.14137) Pencegahan infeksi (I.14539)
Diharapkan tingkat infeksi menurun, Observasi :
dengan kriteria hasil: Monitor tanda dam gejala infeksi lokal dam sistemik
1. Kebersihan tangan meningkat
2. Kebersihan badan meningkat Terapeutik :
3. Demam menurun 1. Batasi jumlah pengunjung
4. Kemeraha menurun 2. Berikan perawatan kulit pada aera edema
5. Nyeri menurun 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
6. Bengkak menurun pasien dan lingkungan pasien
7. Kadar sel darah putih membaik 4. Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko
8. Kadar sel darah merah membaik tinggi
Edukasi :
1. Jelaskan tanda dan gejala infeksi
3
2. Ajarkan cara mencuci tangan denggan benar
3. Ajarkan etika batuk
4. Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka
operasi
5. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
6. Anjurkan meningkatkan asupan
cairan Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu
11. Implementasi Keperawatan
Implementasi Keperawatan Rencana keperawatan tindakan yang diberikan
kepada pasien sesuai rencana keperawatan yang sudah ditetapkan atau bila
memungkinkan tergantung pada situasi dan kondisi klien (Putri, 2021)
12. Evaluasi Keperawatan
Dilaksanakan suatu penilaian terhadap asuhan keperawatan yang telah
diberikan dengan berpegang teguh terhadap target yang diharapakan, pada
evaluasiditentukan apakah perencanaan sudah mencapai target atau masih belum
hingga masalah teratasi sebagian atau timbul masalah baru (Putri, 2021)
PATHWAY (dalam Jurnal Wayan, 2017)
Gambar 2.5 Web Of Caution Post Partum
DAFTAR PUSTAKA
Diani, A. 2020. Pentingnya Perawatan Selama Masa Nifas. Diakses dari
[Link], tanggal 23 Desember 2023.
[Link]. 2017. Masa Nifas. Diakses dari
[Link]
[Link], diakses tanggal 22 Desember 2023.
Djami, M.E.U. 2018. Konsep dasar nifas, laktasi, dan menyusui. diakses dari
[Link], diakses tanggal 22 Desember 2023.
Handayani, R.P. 2016. Asuhan Kebidanan Berkesinambungan pada Ny.T Umur
28 Tahun dengan Partus Lama di Puskesmas Wilayah Kota Yogyakarta.
Diakses dari [Link]
diakses tanggal 22 Desember 2023.
Herlina. 2018. Hubungan Teknik Vulva Hygiene Dengan Penyembuhan Luka
Perinium Pada Ibu Post Partum. Jurnal kebidanan. Vol 4 (No 1). 5-10.
Indriyani, R dan Salat, S.Y.S. 2019. Pengaruh Stres Post Partum Terhadap
Pembengkakan Payudara Pada Ibu Menyusui Di Desa Matanair. Jurnal
ilmu kesehatan. Vol 4 (No 1). 33-37.
Juliaan, F dan Anggareni, M. 2015. Penggunaan Kontrasepsi Pada Wanita
Pasca Melahirkan Dan Pasca Keguguran, SDKI 2012. Jurnal kesehatan
reproduksi. Vol 6 (No 2). 108-116.
Karjatin, A. 2016. Keperawatan Maternitas. Jakarta Selatan.
Letak, T. 2017. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Diakses
dari [Link], diakses tanggal 21 Desember 2023.
Lidya. 2019. Analisis Pelaksanaan Pencegahan Komplikasi Nifas di Wilayah
Kerja Puskesmas Paal V Kota Jambi Tahun 2018. Scientia Journal. Vol 8
(No 1). 197- 204.