0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan39 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Post Nifas Normal

1. Masa post partum normal meliputi masa laktasi, involusi organ reproduksi, dan perubahan lokhea selama 6-8 minggu. 2. Terdapat perubahan fisiologis seperti involusi uterus dan vagina, lokhea, serta perubahan sistem reproduksi, pencernaan, perkemihan, dan endokrin. 3. Ibu juga mengalami perubahan psikologis seperti kelelahan fisik dan emosi pasca melahirkan.

Diunggah oleh

x7qsxztzh6
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan39 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Post Nifas Normal

1. Masa post partum normal meliputi masa laktasi, involusi organ reproduksi, dan perubahan lokhea selama 6-8 minggu. 2. Terdapat perubahan fisiologis seperti involusi uterus dan vagina, lokhea, serta perubahan sistem reproduksi, pencernaan, perkemihan, dan endokrin. 3. Ibu juga mengalami perubahan psikologis seperti kelelahan fisik dan emosi pasca melahirkan.

Diunggah oleh

x7qsxztzh6
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA


PASIEN DENGAN POST NIFAS NORMAL

OLEH :

KOMANG DESMITHA INDAH PRADNYA MAHADEWI

(A 16- B / 223213427)

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM


SARJANA STIKES WIRA MEDIKA BALI
DENPASA
R 2023
2

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan pada Pasien Post Nifas Normal guna
melengkapi tugas PLKK di Ruang Dara RSUD Wangaya Denpasar

Laporan ini disusun dan


disahkan pada : Hari/Tanggal :
Tempat :

Mengetahui, Mahasiswa,
Clinical Instruction (CI)

( Bdn. Ni Wayan Suriati, SST.) ( Komang Desmitha Indah Pradnya Mahadewi)


NIP. 19651206 198802 2 005 NIM. 223213427

Clinical Teacher (CT),

( Ns. Niken Ayu Merna Eka Sari, [Link]., [Link]. )


NIDN : 0829038601
3

1.1 Konsep Post Nifas Normal

1. Definisi

Masa nifas atau post partum atau disebut juga masa puerperium

merupakan waktu yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ

reproduksinya seperti saatsebelum hamil atau disebut involusi terhitung dari

selesai persalinan hingga dalamjangka waktu kurang lebih 6 Minggu atau 42

hari (Maritalia, 2017). Periode post partum adalah periode yang berhubungan

dengan perubahan fisik dan emosional yang intens mengarah pada gangguan

kecemasan dan suasana hati.

Trias masa nifas, meliputi :

1) Laktasi

Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi Karena

mengandung kebutuhan energi dan zat yang dibutuhkan selama 6 bulan pertama

kehidupan bayi. Proses laktasi ini timbul setelah ari-ari atau plasenta lepas.

Plasenta mengandung hormone penghambat prolactin (hormone plasenta) yang

menghambat pembentukan ASI. Setelah plasenta lepas, hormone plasenta

tersebut tidak ada lagi, sehingga susu pun keluar.

Setelah 24 jam pertam pasca terjadi sekresi lateral, payudara tidak jarang

mengalami distensi, menjadi padat dan nodular. Temuan ini mungkin disertai

oleh peningkatan suhu sementara yang menyebabkan demam. Air susu yang

lebih matang akan muncul antara hari 2- ke-5. Pada saat ini, payudara akan

membesar (penuh, keras, panas dan nyeri) yang dapat menimbulkan kesulitan

dalam menyusui. Menyusui dengan interval waktu yang sering akan dapat

mencegah pembengkakan payudara atau membantu meredakannya.


4

2) Involusi

Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus ke dalam keadaan

sebelum hamil. Waktu yang diperlukan 6-8 minggu. Adapun beberapa

perubahan pada uterus sebagai berikut :

a) Setelah plasenta lahir : TFU sepusat, berat uteri 900 gram diameter

bekas melekat plasenta12,5 cm dan serviks lembek.

b) Pada akhir minggu ke-1 : TFU pertengahan pusat symphisis, berat uteri

450 gram, diameter bekas melekat plasenta 7,5 cm dan serviks apat dilalui

2 jari.

c) Pada akhir minggu ke-2 : TFU tidak teraba, berat uteri 200 gram,

diameter bekas melekat plasenta 5,0 dan serviks dapat dimasuki 1 jari.

d) Sesudah akhir 6 minggu: TFU sebesar hamil 2 minggu, berat uteri 60

gram dan diameter bekas melekat plasenta 2,5 cm

e) Sesudah akhir 8 minggu: TFU normal dan berat uteri 30 gram.

3) Lokhea

Lokhea adalah darah dan cairan yang keluar dari vagina selama masa

nifas (3 atau 4 minggu postpartum). Lokhea mengalami perubahan karena

proses involusi. Perubahan lokhea yang terjadi sebagai berikut :

(a) Lokhea rubra

Lokhea ini merupakan cairan bercampur darah, sisa-sisa penebalan

dinding rahim, lemak bayi, lanugo, mekonium, dan dan sisa-sisa penanaman

plasenta (selaput plasenta).Lokia rubra berwarna merah dan keluar dari hari

pertama sampai hari ke-3 atau ke-4 pada masa postpartum.

(b) Lokhea Sanguinolenta

Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan [Link]


5

cairan ini berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 postpartum.

(c) Lokhea Serosa

Lokhea ini mengandung cairan darah dengan jumlah darah yang lebih

sedikit atua lebih banyak mengandung lekosit, serta robekan/laserasi

[Link] serosa berwarna kecoklatan atau kekuning-kuningan dan keluar

dari hari ke-7 sampai ke-14 berikutnya.

(d) Lokhea alba (putih)

Lokhea alba terdiri dari lekosit, lendir, sel desidua, sel epitel, selaput

lendir serviks dan jaringan-jaringan yang lepas dalam proses penyembuhan.

Lokia alba berwarna lebih pucat, dan keluar selama 2 minggu sampai 6 minggu

postpartum.

2. Tahap-Tahap Post Partum

Menurut (Wahyuningsih, 2019) masa post partum dibagi dalam tiga

tahap sebagai berikut :

1. Immediate Post Partum (setelah plasenta lahir 24 jam)

Masa segera setelah plasenta lahir sampai 24 jam, adapun masalah

yang sering terjadi misalnya atonia uteri oleh karena itu perlu

melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lochea,

tekanan darah ibu dansuhu.

2. Early Post Partum (24 jam – 1 minggu)

Pada fase ini memastikan involusi uteri dalam keadaan normal,

tidak adaperdarahan, lochea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu

cukup mendapatkan makanan dan cairan serta ibu dapat menyusui

dengan baik.
6

3. Late Post Partum (1 minggu – 6 minggu) Waktu yang diperlukan

untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau

waktu persalinan mempunyai komplikasi, waktu untuk sehat

sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.

3. Perubahan Fisiologi dan Psikologis pada Ibu Post Partum

Menurut Kumalasari (2015), terdapat beberapa perubahan fisiologis dan

psikologis yang terjadi pada post partum spontan antara lain:

1. Perubahan Fisiologis

a. Perubahan sistem Reproduksi

1) Involusi uterus,

Vagina,dan perineum Involusi uterus atau pengerutan uterus

merupakan suatu proses uterus kembali ke kondisi sebelum

hamildengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera

setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus.

2) Vagina

Vagina akan mengecil dan timbul ragae (lipatan-lipatan atau

kerutan) kembali ke ukuran normal kurang lebih 6- 8 minggu

setelahbayi lahir

3) Perineum Luka

Pada episiotomi terasa nyeri, pada tahap early edema dan luka

kebiruan.
7

4) Lochea

Lochea merupakan darah yang dibuang dari rahim berbentuk

cairansekret. Lochea memiliki bau yang khas. Bau ini tidak

seperti bau menstruasi. Lochea dibagi menjadi 4 berdasarkan

jumlah dan warnanya antara lain: lochea rubra berwarna merah

dan hitam sisa darah yang keluar mulai hari pertama sampai

hari ketiga, lochea sangiolenta berwarna putih bercampur

merah mulai hari ketigasampai hari ketujuh, lochea serosa

berwarna kekuningan dari hari ketujuh sampai hari ke empat

belas, lochea alba berwarna putih setelah hari ke empat belas.

5) Endometrium dan serviks

Hari pertama tebal endometrium 2,5 mm, setelah tiga hari

permukaan mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan

jaringan parut. Perubahan serviks dimulai dari kala I dengan

perubahan serviks secara progresif dan diakhiri dengan

pembukaan serviks lengkap.

b. Perubahan Sistem Pencernaan

Kurangnya makanan berserat selama persalinan dapat

menyebabkan ibu post partum mengalami konstipasi. Faktor

lainnya yang menyebabkan adalah karena rasa takut ibu ketika

buang air besar, jika terdapat luka pada perineum

c. Perubahan Sistem Perkemihan

Saluran kencing biasanya akan kembali normal dalam waktu 2

sampai 8 minggu paska melahirkan. Pelvis ginjal dan ureter yang


8

meregang danberdilatasi selama proses kehamilan akan kembali

normal pada mingguke empat.

d. Perubahan Tanda-Tanda Vital

1) Nadi dan Pernafasan Pada proses persalinan denyut nadi akan

mengalami peningkatan dapat terjadi bradikardi (50 – 70 kali

per menit) maupun takikardi. Kebutuhan pernafasan pada ibu

partus akan meningkat karena proses mengejan atau meneran.

2) Tekanan Darah

Tekanan darah yang mengalami peningkatan lebih dari 30

mmHg pada systole dan 15 mmHg pada dyastole perlu

dicurigai terjadinyapre-eklampsi pada ibu post partum. Selama

beberapa jam paska persalinan, ibu dapat terjadi hipotensi

orthostik (penurunan 20 mmHg) yang ditandai dengan pusing

setelah berdiri.

3) Suhu Tubuh

Paska melahirkan dapat mengalami kenaikan suhu sekitar 0,5

derajat celcius dari keadaan normal (36 0C – 37,50C) namun

tidak lebih dari 380C. Jika suhu tubuh tidak kembali normal

atau meningkat setelah 12 jam post partum perlu dicurigai

adanyainfeksi.

e. Perubahan Sistem Endokrin

Selama periode post partum, terjadi perubahan hormon yang

besar, salahsatunya hormon estrogene dan progesterone akan

diproduksi. Perubahankadar estrogene dan progesterone yaitu

terjadi fluktuasi
9

hormonal dalamtubuh. Kadar hormone kortisol (hormone pemicu

stres) pada tubuh ibu naik hingga mendekati kadar orang yang

mengalami depresi.

f. Perubahan Berat Badan

Peningkatan berat badan pada ibu hamil dapat mencapai 10-15 kg.

Sebagian besar ibu akan kembali ke ukuran badan 13 semula

setelah 7-8 minggu paska persalinan, tetapi ada pula beberapa ibu

yang memerlukan waktu lebih lama.

2. Perubahan Psikologis

a. Perubahan Taking In

Merupakan periode terjadi setelah 1 sampai 2 hari dari persalinan,

masaterjadi interaksi dan kontak yang lama antara ayah, ibu dan

bayi.

b. Periode Taking Hold

Merupakan berlangsung pada hari ke 3 sampai hari ke 4 post

partum, ibu berusaha bertanggung jawab terhadap bayinya dengan

berusaha untuk menguasai perawatan bayi.

c. Periode Letting Go

Merupakan terjadi setelah ibu pulang ke rumah, pada masa ibu

hamil mengambil tanggung jawab terhadap bayi.

4. Patofisiologi Post Partum

Masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna maupun

eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil

dan terjadinya perubahan fisikologis serta perubahan psikologis. Perubahan


10

fisikologis ini terdapat involusi uterus yaitu proses kembalinya uterus ke

keadaan sebelum hamil setelah melahirkan, proses ini dimulai segera setelah

plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Perubahan-perubahan

alat genetalia ini dalam keseluruhannya disebut “involusi”. Involusi terjadi

perubahan-perubahan penting yakni mengkonsentrasi dan timbulnya laktasi

yang terakhir karena pengaruh hormon laktogen dari kelenjar hipofisis

terhadap kelenjar-kelenjar mamae. Otot- otot uterus berkontraksi segera post

partum, pembuluh-pembuluh darah yang ada antara nyaman otot-otot uterus

akan terjepit. Proses ini akan menghentikan pendarahan setelah plasenta lahir.

Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks adalah segera post partum

bentuk serviks agak menganga seperti corong, bentuk ini disebabkan oleh

korpus uteri terbentuk semacam cincin. Perubahan-perubahan yang terdapat

pada endometrium ialah timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis

ditempat implantasi plasenta pada hari pertama endometrium yang kira- kira

setebal 2-5 mm itu mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan

desidua dan selaput janin regenerasi endometrium terjadi dari sisa sisa sel desi

dua basalis yang memakai waktu 2 sampai 3 minggu. Ligamen-ligamen dan

diafragma pelvis serta fasia yang merenggang sewaktu kehamilan dan perlu

setelah janin lahir berangsur-angsur kembali seperti semula (Aspiani, 2017).

5. Kebutuhan Ibu Nifas

Kebutuhan masa nifas menurut KBBI (2013) yaitu pemenuhan

kebutuhan dari masa sejak melahirkan sampai dengan pulihnya alat-alat dan

anggota badan. Ada beberapa kebutuhan dasar ibu nifas, menurut Nugroho

dkk (2014; hal 134-144)dan Marmi (2017)


11

1. Nutrisi

Nutrisi adalah zat yang diperlukan oleh tubuh untuk keperluan

metabolismenya. Kebutuhan gizi pada masa nifas terutama bila

menyusui akan meningkat 25%, karena berguna untuk proses

penyembuhan karenasehabis melahirkan dan untuk memproduksi air

susu yang cukup untuk menyehatkan bayi semua itu akan meningkat

tiga kali dari kebutuhan biasa (Walyani dan Purwoastuti, 2015; hal

103). Ibu nifas memerlukan nutrisi dan cairan untuk pemulihan

kondisi kesehatan setelah melahirkan, cadangan tenaga serta untuk

memenuhi kebutuhan akan giziyang menurut Nugroho dkk (2014;

hal 134) adalah sebagai berikut:

a. Kalori

Kebutuhan kalori pada masa menyusui sekitar 400-500 kalori

Wanita dewasa memerlukan 1800 kalori per hari. Ibu nifas

disarankan untuk tidak mengurangi kalori, karena akan

mengganggu proses metabolisme tubuh dan menyebabkan ASI

rusak (Nugroho dkk, 2014;hal 134).

Energi dibutuhkan sebesar 700 kkal/hari (6 bulan pertama

menyusui). Enam bulan kedua dibutuhkan sekitar rata-rata 500

kkal/hari dan padatahun ke dua dianjurkan tambahan sebanyak

400 kkal/hari. Karbohidrat kompleks adalah salah satu sumber

vitamin B dan mineral terbaik untuk pertumbuhan bayi. Selama

menyusi harus mengonsumsi makanan yang banyak

mengandung karbohidratkompleks. Sumber makanan yang

mengandung kalori
12

lebih dari dua kali kalori protein (9 kalori) atau karbohidrat (4

kalori). Pilih makananyang mengandung kalori tinggi. Resiko

kelebihan kalori jika terjadi kegemukan makameningkatkan

kematian (Marmi, 2017; hal 135- 136).

b. Protein

Tanpa protein sebagai zat pembangun yang cukup, maka ibu

nifas akan mengalami keterlambatan penyembuhan bahkan

berpotensi infeksi bila daya tahan tubuh kurang akibat pantang

makanan bergizi. Protein juga diperlukan untuk pembentukan

ASI (Walyani dan Purwoastuti, 2015; hal 107).

Kebutuhan protein yang dibutuhkan adalah 3 porsi per hari. Satu

protein setara dengan 3 gelas susu, dua butir telur, lima putih

telur, 120 gram keju, 1 ¾ gelas yogurt, 120-140 gram

ikan/daging/unggas, 200-240 gram tahu atau 5-6 sendok selai

kacang (Nugroho dkk, 2014;hal 135). Sumber protein

diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang

rusak dan mati. Sumber protein dapat diperoleh dari protein

hewani (ikan, udang, kerang, kepiting, daging ayam, hati, telur,

susu dan keju) dan protein nabati (kacang tanah, kacang merah,

kacang hijau, kedelai, tahu dan tempe) (Walyani dan

Purwoastuti, 2015; hal 104).

c. Kalsium dan Vitamin D

Kalsium dan vitamin D berguna untuk pembentukan tulang dan

[Link] kalsium dan Vitamin D didapat dari minuman


13

susu rendah kalori atau berjemur dipagi hari. Konsumsi kalsium

pada masamenyusui meningkat menjadi 5 porsi per hari

(Nugroho dkk, 2014; hal 135-136).

d. Magnesium

Magnesium dibutuhkan sel tubuh untuk membantu gerak otot,

fungsi syaraf dan memperkuat tulang. Kebutuhan magnesium

didapat pada gandum dan kacang-kacangan (Nugroho dkk,

2014; hal 136).

e. Karbohidrat

Ibu selama masa menyusui, kebutuhan karbohidrat kompleks

diperlukan enam porsi per hari. Satu porsi setara dengan ½

cangkir nasi, ¼ cangkir jagung pipil, satu porsi sereal atau oat,

satu iris roti dari bijian utuh, 2-6 biskuit kering atau crackers, ½

cangkir kacang- kacangan, 2/3 cangkir kacang koro, atau 40

gram mie/pasta dari bijianutuh (Nugroho dkk, 2014; 136),

Zat gizi sebagai sumber karbohidrat terdiri dari beras, sagu,

jagung, tepung terigu, dan ubi (Walyani dan Purwoastuti, 2015;

hal 104).

f. Lemak

Lemak 25-35% dibutuhkan dari total makanan. Lemak

menghasilkankira-kira setengah kalori yang diproduksi oleh air

susu ibu (Marmi, 2017; hal 136). Rata-rata kebutuhan lemak

dewasa adalah 4 ½ porsi lemak (14 gram per porsi) perharinya.

Satu porsi lemak sama dengan 80 gram keju, 4 sendok makan


14

krim, secangkir es krim, ½ buah alpukat, 2 sendok makan selai

kacang, 120-140 gram daging tanpa lemak, 9 kentang goreng, 2

iris cake, 1 sendok makan mayones atau mentega, atau 2 sendok

makan saus salad (Nugroho dkk, 2014; hal 136-137). Zat lemak

dapat diperoleh dari hewani (lemak, mentega, keju) dan nabati

(kelapa sawit, minyak sayur, minyak kelapa dan margarine)

(Walyani dan Purwoastuti, 2015; hal 104).

g. Vitamin dan mineral

Kegunaan vitamin dan mineral adalah untuk melancarkan

metabolisme tubuh (Marmi, 2017; hal 137). Vitamin A berguna

bagi kesehatan kulit, kelenjar serta mata. Vitamin A terdapat

dalam telur,hati dan keju. Jumlah yang dibutuhkan adalah 1300

mcg (Nugroho dkk, 2014; hal 137).

Vitamin B6 membantu penyerapan protein dan meningkatkan

fungsi syaraf. Asupan vitamin B6 sebanyak 2mg per hari.

Vitamin B6 dapatditemui di daging, hati, padi-padian, kacang

polong dan kentang(Nugroho dkk, 2014; hal 137).

Pemberian vitamin A dalam bentuk suplementasi dapat

meningkatkankualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh dan

meningkatkan kelangsungan hidup anak. Mengkomsumsi

vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A dalam bentuk

suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan

daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan hidup anak

(Suherni, 2010; hal 101) Vitamin E berfungsi sebagai


15

antioksidan, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.

Terdapat dalam makanan berserat, kacang- kacangan, minyak

nabati dan gandum (Nugroho dkk, 2014; hal 137).Zinc berfungsi

untuk kekebalan tubuh, penyembuhan luka atau petumbuhan.

Kebutuhan zinc didapat dalam daging, telur dan gandum. Enzim

dalam pencernaan dan metabolisme memerlukanseng.

Kebutuhan seng setiap hari sekitar 12 mg. Sumber yang terdapat

dalam seafood, hati dan daging (Nugroho dkk, 2014; 138).

2. Cairan

Fungsi cairan bagi ibu nifas sebagai pelarut zat gizi dalam proses

metabolisme tubuh. Minum cairan yang cukup dapat mencegah ibu

nifas mengalami dehidrasi (Marmi, 2017; hal 137). Cairan yang

dibutuhkan ibunifas adalah dianjurkan minum sedikitnya 3 liter

setiap hari (Nugroho dkk, 2014; hal 137)

3. Kebersihan Diri

Kebersihan diri berguna untuk mengurangi infeksi dan

meningkatkan perasaan nyaman. Kebersihan diri meliputi

kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur maupun lingkungan

(Nugroho, 2014; hal 140). Pada ibu pada masa postpartum sangat

rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat

penting untuk mencegah terjadinya infeksi. Beberapa hal yang perlu

diperhatikan pada ibu nifas dalam personal hygiene adalah sebagai

berikut:

a. Perawatan Perineum

Apabila setelah buang air besar atau buang air kecil perineum
16

dibersihkan secara rutin. Caranya dibersihkan dengan sabun yang

lembut minimal sekali sehari. Biasanya ibu merasa takut pada

kemungkinan jahitannya akan lepas dan merasa sakit sehingga

perineum tidak dibersihakan atau dicuci (Ambarwati dan

Wulandari, 2010; hal 106-107).

Untuk cara mengganti pembalut yaitu bagian dalam jangan sampai

terkontaminasi oleh tangan. Pembalut yang sudah kotor harus

diganti paling sedikit 4 kali sehari. Ibu harus memahami tentang

jumlah, warna,dan bau lochea sehingga apabila ada kelainan dapat

diketahui secara dini. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan

sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah

kelaminnya. Apabila ibumempunyai luka episiotomi atau laserasi,

saranakan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka

(Ambarwati dan Wulandari, 2010;hal 106-107).

b. Perawatan payudara

Bagi ibu postpartum, melakukan perawatan payudara itu penting

yaitu dengan menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama

pada bagian putting susu dengan menggunakan bra yang

menyongkong payudara. Oleskan kolostrum atau ASI yang keluar

pada sekitar puting sususebelum dan setelah menyusukan. Apabila

payudara terasa nyeri dapat diberikan parasetamol 1 tablet setiap 4

– 6 jam (Ambarwati dan Wulandari, 2010; hal 107).

4. Istirahat dan tidur

Ibu nifas dianjurkan untuk: istirahat cukup untuk mengurangi


17

kelelahan, tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur, kembali ke

kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan, mengatur kegiatan

rumahnya sehinggadapat menyediakan waktu untuk istirahat pada

siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam. Kurang istirahat pada ibu

nifas dapat berakibat: mengurangi jumlah ASI, memperlambat

involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan perdarahan, depresi

(Nugroho, 2014; hal 141).

5. Eliminasi: BAB dan BAK.

Buang air kecil (BAK) dalam enam jam ibu nifas harus sudah BAK

spontan, kebanyakan ibu nifas berkemih spontan dalam waktu 8

jam, urine dalam jumlah yang banyak akan di produksi dalam waktu

12- 36 jam setelah melahirkan, ureter yang berdiltasi akan kembali

normal dalamwaktu 6 minggu. Selama 48 jam pertama nifas

(puerperium), terjadi kenaikan dueresis sebagai berikut: pengurasan

volume darah ibu, autolisisserabut otot uterus. Buang air besar

(BAB) biasanya tertunda selama 2-3hari karena edema persalinan,

diet cairan, obat- obatan Analgetik, dan perenium yang sangat sakit,

bila lebih 3 hari belum BAB bisa diberikan obat laksantia, ambulasi

secara dini dan teratur akan membantu dalam regulasi BAB, asupan

cairan yang adekaut dan diet tinggi serat sangat dianjurkan (Walyani

dan Purwoastuti, 2015; hal 113)

6. Perencanaan Keluarga Berencana

Rencana KB setelah ibu melahirkan sangat penting, karena secara

tidak langsung KB dapat membantu ibu untuk dapat merawat

anaknya
18

denganbaik serta mengistirahatkan alat kandungannya. Ibu dan

Suami dapat memilih alat kontrasepsi KB apa saja yang ingin

digunakan (Walyani danPurwoastuti, 2015; hal 128)

6. Komplikasi

Menurut (Walyani, 2017) terdapat komplikasi dan penyakit yang terjadi

pada ibu masa nifas, sebagai berikut:

1. Infeksi Nifas

Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-

alat genetelia dalam masa nifas. Masuknya kumankuman dapat terjadi

dalam kehamilan, waktu persalinan, dan nifas. Demam nifas adalah

demam dalammasa nifas oleh sebab apa pun. Morbiditas puerpuralis

adalah kenaikan suhubadan sampai 38⁰C atau lebih selama 2 hari dari

dalam 10 hari [Link] pada hari pertama. Suhu diukur 4

kali secara oral.

2. Infeksi saluran kemih

Pada masa nifas dini, sensitivitas kandung kemih terhadap tegangan

air kemih di dalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan

atau analgesia epidural atau spinal. Sensasi peregangan kandung

kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman yang

ditimbulkan oleh episiotomi yang lebar, laserasi periuretra, atau

hematoma dinding vagina. Setelah melahirkan, terutama saat infus

oksitosis dihentikan, terjadi diuresisyang disertai peningkatan

produksi urin dan distensi kandung kemih. Over distensi yang disertai

katerisasi untuk mengeluarkan air kemih sering menyebabkan infeksi

saluran kemih.
19

3. Metritis

Metritis adalah inspeksi uterus setelah persalinan yang merupakan

salah satu penyebab terbesar kematian ibu. Bila pengobatan terlambat

atau kurangadekuat dapat menjadi abses pelvic yang menahun,

peritonitis, syok septik, trombosis yang dalam, emboli pulmonal,

infeksi felvik yang menahandispareunia, penyumbatan tuba dan

infertilitas.

4. Bendungan payudara

Bendungan payudara adalah peningkatan aliran vena dan limfe pada

payudara dalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi. Bendungan

terjadi akibat bendungan berlebihan pada limfatik dan vena sebelum

laktasi. Payudara bengkak disebabkan karena menyusui yang tidak

kontinu, sehingga sisa ASI terkumpul pada daerah ductus. Hal ini

dapat terjadi padahari ke tiga setelah melahirkan. Penggunaan bra

yang keras serta keadaan puting susu yang tidak bersih dapat

menyebabkan sumbatan pada ductus.

5. Infeksi Payudara

Mastitis termasuk salah satu infeksi payudara. Mastitis adalah

peradangan pada payudara yang dapat disertai infeksi atau tidak, yang

disebabkan olehkuman terutama Sraphylococcus Aureus melalui luka

pada puting susu ataumelalui peredaran darah.

6. Abses Payudara

Abses payudara merupakan komplikasi akibat peradangan payudara/

mastitis yang sering timbul pada minggu ke dua postpartum (setelah

melahirkan), karena adanya pembengkakan payudara akibat tidak


menyusuidan lecet pada puting susu.

7. Abses pelvis

Penyakit ini merupakan komplikasi yang umum terjadi pada penyakit-

penyakit meluar seksual (sexually transmitted disease/ STD),

utamanya yang disebabkan oleh chlamydia dan gonorrhea.

8. Peritonitis

Peritonitis adalah peradangan pada peritoneum yang merupakan

pembungkus visera dalam rongga perut. Peritoneum adalah selaput

tipis danjernih yang membungkus organ perut dan dinding perut

sebelah dalam.

9. Infeksi Luka Perineum dan Luka Abdominal

Luka perineum adalah luka perineum karena adanya robekan jalan

lahir baikkarena rupture maupun karena episiotomy pada waktu

melahirkan janin. Rupture perineum adalah robekan yang terjadi pada

perineum sewaktu persalinan.

10. Perdarahan Pervagina

Perdarahan pervagina atau perdarahan postpartum adalah kehilangan

darah sebanyak 500 cc atau lebih dari traktus genetalia setelah

melahirkan. Hemoragi postpartum primer mencakup semua kejadian

perdarahan dalam24 jam setelah kelahiran.

7. Program Kunjungan Masa Nifas


Paling sedikit 4 kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan

untuk:

1. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.


2. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-

kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayi.

3. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi

pada masa nifas.

4. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan

mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya (Walyani,

2017).

Tabel 1. Program Masa Nifas (Walyani, 2017)

Kunjungan Waktu Tujuan


1 6- 8 jam a. Mencegah terjadinya perdarahan pada
setelah masa nifas.
persalinan b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain
perdarahan dan memberikan rujukan bila
perdarahan berlanjut.
c. Memberikan konseling kepada ibu atau
salah satu anggota keluarga mengenai
bagaimana mencegah perdarahan masa
nifas karena atonia uteri.
d. Pemberian ASI pada masa awal menjadi
ibu.
e. Mengajarkan ibu untuk mempererat
hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara
mencegah hipotermi.
2 6 hari setelah a. Memastikan involusi uteri berjalan normal,
Persalinan uterus berkontraksi, fundus di bawah

umbilicus tidak ada perdarahan abnormal,


dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya tanda- tanda demam,
infeksi, atau kelainan pasca melahirkan.
c. Memastikan ibu mendapat cukup cairan,
makanan, dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak ada tanda- tanda penyulit.
e. Memberikan konseling kepada ibu
mengenai asuhan pada bayi, cara merawat
tali pusat, dan menjaga bayi agar tetap
hangat.
2

3 2 minggu setelah a. Memastikan involusi uteri berjalan normal,


persalinan uterus berkontraksi, fundus di bawah
umbilicus tidak ada perdarahan abnormal,
dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya tanda- tanda demam,
infeksi atau kelainan pasca melahirkan.
c. Memastikan ibu mendapat cukup makanan,
cairan, dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak ada tanda- tanda penyulit.
e. Memberikan konseling kepada ibu
mengenai asuhan pada bayi, cara merawat
tali pusat, dan menjaga bayi agar tetap
hangat.
4 6 minggu setelah a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-
persalinan penyulit yang dialami atau bayinya.
b. Memberikan konseling untuk KB secara
dini.

 Tindakan pengawasan yang dilakukan pada masa nifas, meliputi :


1. Memantau keadaan klien pada masa nifas
2. Mengawasi perkembangan yang terjadi pada klien
3. Mengawasi tanda bahaya yang dialami klien

8. Diagnosa Keperawatan

1. Menyusui Tidak Efektif

2. Resiko Hipovolemia

3. Gangguan Pola Tidur

4. Ketidaknyamanan Pasca Partum

5. Nyeri Akut

6. Defisit Pengetahuan

7. Resiko Gangguan Perlekatan

8. Resiko Infeksi
2

9. Konsep Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan ibu masa nifas adalah sebagai berikut:

1. Pengkajian

Pengkajian menurut (Margaretha, 2017) antara lain:

1. Identitas Pasien

Biodata pasien terdiri dari nama, umur, agama, pendidikan,

suku/bangsa, pekerjaan dan alamat.

2. Riwayat Kesehatan

Riwayat kesehatan terdiri dari tempat pemeriksaan kehamilan,

frekuensi, imunisasi, keluhan selama kehamilan, pendidikan

kesehatan yang diperoleh.

3. Riwayat Persalinan

Riwayat persalinan terdiri dari tempat persalinan, penolong

persalinan, jalannya persalinan.

4. Pemeriksaan Fisik

a. Vital Sign

Dalam vital sign yang perlu di cek yaitu: suhu, nadi, pernapasan,

danjuga tekanan darah. Suhu tubuh diukur setiap 4 sampai 8 jam

selama beberapa hari pascapartum karena demam biasanya

merupakan gejala awal infeksi. Suhu tubuh 38⁰C mungkin

disebabkan oleh dehidrasi pada 24 jam pertama setelah

persalinan atau karena awitan laktasi dalam 2 sampai 4 hari.

Demam yang menetap atau berulang diatas 24jam pertama dapat

menandakan adanya infeksi. Bradikardi merupakan perubahan

fisiologis
2

normal selama 6 sampai 10 hari pascapartum dengan frekuensi

nadi 40 sampai 70 kali/ menit. Frekuensi diatas 100 kali/ menit

dapat menunjukan adanyya infeksi, hemoragi, nyeri, atau

kecemasan, nadi yang cepat dan dangkal yang dihubungkan

dengan hipotensi, menunjukan hemoragi, syok atau emboli.

Tekanan darah umumnya dalam batasan normal selama

kehamilan. Wanita pasca partum dapat mengalami hipotensi

ortostatik karena dieresis dan diaphoresis, yang menyebabkan

pergeseran volume cairan kardiovasukuler, hipotensi menetap

atau berat dapat merupakan tanda syok atau emboli.

Peningkatan tekanan darah menunjukan hipertensi akibat

kehamilan, yang dapat muncul pertama kali pada masa

pascapartum. Kejang eklamsia dilaporkan terjadi sampai lebih

dari 10 hari pascapartum.

b. Kepala dan Wajah

Inspeksi kebersihan dan kerontokan rambut (normal rambut

bersih, tidak terdapat lesi pada kulit kepala dan rambut tidak

rontok), cloasmagravidarum, keadaan sclera (normalnya sclera

berwarna putih), konjungtiva (normalnya konjungtiva berwarna

merah muda, kalau pucat berarti anemis), kebersihan gigi dan

mulut (normalnya mulut dan gigi bersih, tidak berbau, bibir

merah), caries. Palpasi palpebra, odem pada mata dan wajah;

palpasi pembesaran getah bening (normalnya tidak ada

pembengkakan), JVP, kelenjar tiroid.


2

c. Dada

1) Inspeksi irama nafas, dengarkan bunyi nafas dan bunyi

jantung, hitung frekuensi.

2) Payudara: pengkajian payudara pada ibu postpartum

meliputi inspeksi ukuran, bentuk, warna, dan kesimetrisan

dan palpasi konsisten dan apakah ada nyeri tekan guna

menentukan status laktasi. Normalnya puting susu menonjol,

areola berwarna kecoklatan, tidak ada nyeri tekan, tidak ada

bekas luka, payudarasimetris dan tidak ada benjolan atau

masa pada saat di palpasi.

d. Abdomen

Menginspeksi adanya striae atau tidak, adanya luka/insisi,

adanya linea atau tidak. Involusi uteri: kemajuan involusi yaitu

proses uteruskembali ke ukuran dan kondisinya sebelum

kehamilan, di ukur dengan mengkaji tinggi dan konsistensi

fundus uterus, masase dan peremasan fundus dan karakter serta

jumlah lokia 4 sampai 8 jam. TFU pada hari pertama setinggi

pusat, pada hari kedua 1 jari dibawahpusat, pada hari ketiga 2

jari dibawah pusat, pada hari keempat 2 jaridiatas simpisis, pada

hari ketujuh 1 jari diatas simpisis, pada hari kesepuluh setinggi

simpisis. Konsistensi fundus harus keras dengan bentuk bundar

mulus. Fundus yang lembek atau kendor menunjukan atonia

atau subinvolusi. Kandung kemih harus kosong agar pengukuran

fundus akurat, kandung kemih yang penuh menggeser uterus

dan
2

meningkatkan tinggi fundus.

e. Vulva dan vagina

Melihat apakah vulva bersih atau tidak, adanya tandatanda

infeksi. Lochea: karakter dan jumlah lochea secara tidak

langsung menggambarkan kemajuan penyembuhan normal,

jumlah lochea perlahan-lahan berkurang dengan perubahan

warna yang khas yang menunjukan penurunan komponen darah

dalam aliran lochea. Jumlahlokia sangat sedikit noda darah

berkurang 2,5-5 cm= 10 ml, sedang noda darah berukuran ≤

10cm= 10,25 ml.

f. Perineum

Pengkajian daerah perineum dan perineal dengan sering untuk

mengidentifikasi karakteristik normal atau deviasi dari normal

seperti hematoma, memar, edema, kemerahan, dan nyeri tekan.

Jika ada jahitan luka, kaji keutuhan, hematoma, perdarahan dan

tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak dan nyeri tekan).

Daerah anus dikaji apakah ada hemoroid dan fisura. Wanita

dengan persalinan spontan per vagina tanpa laserasi sering

mengalami nyeri perineum yang lebihringan. Hemoroid tampak

seperti tonjolan buah anggur pada anus danmerupakan sumber

yang paling sering menimbulkan nyeri perineal. Hemoroid

disebabkan oleh tekanan otot-otot dasar panggul oleh bagian

terendah janin selama kehamilan akhir dan persalinan akibat

mengejan selama fase ekspulsi.

g. Payudara dan tungkai


2

Pengkajian payudara meliputi bentuk, ukuran, warna, dan

kesimetrisan serta palpasi konsistensi dan deteksi apakah ada

nyeri tekan guna persiapan menyusui. Hari pertama dan kedua

pasca melahirkan akan ditemukan sekresi kolostrum yang

banyak. Pengkajian pada tungkai dimaksudkan untuk

mengetahui adatidaknya tromboflebitis. Payudara dan tungkai

dikaji tiap satu jam sampai dengan 8 jam setelah persalinan,

kemudian dikaji tiap empat jam sampai dengan 24 jam setelah

persalinan

h. Eliminasi

Pengkajian eliminasi meliputi pengkajian bising usus, inspeksi

dan palpasi adanya distensi abdomen. Ibu postpartum

dianjurkan untuk berkemih sesegera mungkin untuk

menghindari distensi kandungkemih. Eliminasi dikaji setiap 9

jam, kaji juga defekasi setiap harinya.

5. Pengkajian psikososial

Pengkajian psikososial ini difokuskan pada interaksi dan

adaptasi ibu, bayi baru lahir dan keluarga. Perawat melihat status

emosianal dan respon ibu terhadap pengalaman kelahiran, interaksi

dengan bayi baru lahir, menyusui bayi baru lahir, penyesuaian

terhadap peran baru, hubungan baru dalam keluarga, dan

peningkatan pemahaman dalamperawatan diri


2

10. Intervensi Keperawatan

Tabel Intervensi Keperawatan (Sumber : SDKI,SIKI,SLKI, 2016)

NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1. Menyusui Tidak Efektif Status Menyusui (L.03029) Edukasi Menyusui (I.12393)


(D. 0029)
Diharapkan status menyusui membaik, Observasi:
dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi kesiapan dan kemapuan menerima
1. Perlekatan bayi pada payudara ibu informasi
membaik 2. Identifikasi tujuan atau keinginan menyusui
2. Kemampuan ibu memposisikan bayi
dengan benar membaik Terapeutik:
3. Berat badan bayi membaik 1. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
4. Tetesan/panacaran ASI membaik 2. Dukung ibu untuk meningkatkan kepercayaan
5. Suplai ASI adekuat diri dalam menyusui
6. Putting tidak lecet setelah 2 minggu 3. Libatkan sistem pendukung
membaik
7. Kepercayaan ibu membaik Edukasi:
1. Berikan konseling menyusui
2. Ajarkan empat posisi menyusui dan
perlekatan dengan benar
3. Ajarkan perawatan payudara post partum
2

2. Resiko Hipovolemia Status Cairan (L.03028) Pemantauan cairan (I.03121)


(D.0023)
Diharapkan status cairan membaik, dengan Observasi:
kriteria hasil: 1. Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
1. Kekuatan nadi meningkat 2. Monitor frekuensi napas
2. Tugor kulit meningkat 3. Monitor tekanan darah
3. Frekuensi nadi membaik 4. Monitor berat badan
4. Tekanan darah membaik 5. Monitor waktu pengisian kapiler
5. Tekanan nadi membaik 6. Monitor elastisitas atau tugor kulit
6. Membran mukosa membaik 7. Monitor jumlah, warna dan berat jenis urine
7. Kadar HB membaik 8. Monitor kadar albumin dan protein total
8. Kadar HT membaik 9. Monitor hasil pemeriksaan serum (mis. osmolaritas
9. Intake cairan membaik serum, hematokrit, natrium, kalium, BUN)
10. Suhu tubuh membaik 10. Monitor intake dan output cairan
11. Indentifikasi tanda-tanda hipovolemia (mis. frekuensi
nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah
menurun, tekanan nadi menyempit, tugor kulit
menurun, membran mukosa lering, volume urin
menurun, hematokrit meningkat, haus, lemah,
konsentrasi urine meningkat, volume urine menurun
dalam waktu singkat)
Terapeutik:
1. Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan
kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi:
1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
2. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
2

3. Gangguan Pola Tidur Pola Tidur (L.05045) Edukasi aktivitas/istirahat (I.12362)


(D.0055)
Diharapkan kualitas tidur membaik, dengan Observasi:
kriteria hasil: Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima
1. Kesulitan sulit tidur membaik informasi
2. Keluhan sering terjaga membaik
3. Keluhan tidak puas tidur membaik Terapeutik:
4. Keluhan istirahat tidak cukup membaik 1. Sediakan materi dan media pengaturan aktivitas dan
istirahat
2. Jadwalkan pemberian pendidikan kesehatan sesuai
kesepakatan
3. Berikan kesempatan kepada pasien dan keluarga
untuk bertanya
Edukasi:

1. Jelaskan pentingnya melakukan aktivitas


fisik/olahraga secara rutin
2. Anjurkan terlibat dalam aktivitas kelompok,
aktivitas bermain atau aktivitas lainnya
3. Anjurkan menyusun jadwal aktivitas dan istirahat
4. Ajarkan cara mengidentifikasi kebutuhan istirahat
(mis. kelelahan, sesak nafas saat aktivitas)
5. Ajarkan cara mengidentifikasi target dan jenis
aktivitas sesuai kemampuan
3

4. Ketidaknyamanan pasca partum Status kenyamanan pasca partum (L.07061) Manajemen nyeri (I.08238)
(D. 0029)
Observasi:
Diharapkan perasaan nyaman setelah 1. Identifikasi lokasi, karakterisik, durasi, frekuensi,
melahirkan meningkat, dengan kriteria hasil: kualitas, intensitas nyeri
1. Meringis meningkat 2. Identifikasi skala nyeri
2. Kontraksi uterus meningkat 3. Identifikasi respon neyeri non verbal
3. Tekanan darah menurun 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan
4. Frekuensi nadi menurun memperingan nyeri
5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
8. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang
sudah diberikan
9. Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik:
1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri
2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
3. Fasilitasi istirahat dan tidur
4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredahkan nyeri

Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
2. Kelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat
5. Anjarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri

Kolaborasi:
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
3

5. Nyeri Akut Tingkat nyeri Manajemen nyeri (I.08238)


Diharapkan nyeri menurun, dengan kriteria Observasi:
hasil: 1. Identifikasi lokasi, karakterisik, durasi, frekuensi,
1. Keluhan nyeri menurun kualitas, intensitas nyeri
2. Meringis menurun 2. Identifikasi skala nyeri
3. Gelisah menurun 3. Identifikasi respon neyeri non verbal
4. Kesulitan tidur menurun 4. Identifikasi faktor yang memperberat dan
5. Perasaan depresi menurun memperingan nyeri
5. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
8. Monitor keberhasilan terapi komplementer yang
sudah diberikan
9. Monitor efek samping penggunaan analgetik
Terapeutik:
1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri
2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
3. Fasilitasi istirahat dan tidur
4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredahkan nyeri
Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri
2. Kelaskan strategi meredakan nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
3

4. Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat


5. Anjarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri

Kolaborasi:
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
6. Defisit Pengetahuan Tingkat Pengetahuan (L.12111) Edukasi kesehatan (I.12383)

Diharapkan kecukupan informasi kognitif Observasi :


membaik, dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima
1. Perilaku sesuai anjuran meningkat informasi
2. Kemampun menjelaskan 2. Indentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan
pengetahuan tentang suatu topik dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan
meningkat sehat
3. Perilaku sesuai dengan
kemampuan meningkat Terapeutik :
4. Perilaku membaik 1. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
2. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
3. Berikan kesempatan untuk bertanya

Edukasi :
1. Jelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi
kesehatan
2. Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
3. Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku hidup bersih dan
sehat
7. Resiko gangguan perlekatan Perlekatan (L.13122) Promosi perlekatan (I. 10342)

Diharapkan interaksi antara ibu dan anak Observasi :


meningkat, dengan kriteria hasil: 1. Monitor kegiatan menyusul
1. Mempraktikkan perilaku sehat selama 2. Identifikasi kemampuan bayi menghisap dan
hamil meningkat menelan ASI
2. Menyiapkan perlengkapan bayi 3. Identifikasi payudara ibu (mis. bengkak, puting
sebelum kelahiran meningkat lecet, mastitis, nyeri pada payudara)
3. Verbalisasi perasaan positif terhadap 4. Monitor perlekatan saat menyusui (mis. aerola bagian
bayi meningkat bawah lebih kecil dari pada aerola baian atas, mulut
3

4. Mencium bayi meningkat bayi terbuka lebar, bibir bayi terputar keluar dan
5. Tersenyum kepada bayi meningkat dagu bayi menempel pada payudara ibu)
6. Melakukan kontak mata dengan bayi
meningkat Terapeutik :
7. Berbicara dengan baik meningkat 1. Hindari memegang kepala bayi
8. Bermain dengan bayi meningkat 2. Diskusikan dengan ibu masalah selama proses
9. Berespon dengan isyarat bayi menyusui
meningkat
10. Kekhawatiran menjalankan peran orang Edukasi :
tua menurun 1. Ajarkan ibu menopang seluruh tubuh bayi
11. Konflik hubungan orang tua dengan 2. Anjurkan ibu melepas pakaian bagian atas agar bayi
bayi/anak menurun dapat menyentuh payudara ibu
3. Anjurkan bayi yang mendekati kearah payudara ibu
dari bagian bawah
4. Anjurkan ibu memegang payudara menggunakan
jarinya seperti huruf “C” pada posisi jam 12-6 atau
3- 9 saat mengarahkan ke mulut bayi
5. Anjurkan ibu untuk menyusui menunggu mulut bayi
terbuka lebar sehingga aerola bagian bawah dapat
masuk sempurna
6. Anjurkan ibu mengenali tanda bayi siap menyusu
7. Resiko infeksi Tingkat Infeksi (L.14137) Pencegahan infeksi (I.14539)

Diharapkan tingkat infeksi menurun, Observasi :


dengan kriteria hasil: Monitor tanda dam gejala infeksi lokal dam sistemik
1. Kebersihan tangan meningkat
2. Kebersihan badan meningkat Terapeutik :
3. Demam menurun 1. Batasi jumlah pengunjung
4. Kemeraha menurun 2. Berikan perawatan kulit pada aera edema
5. Nyeri menurun 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
6. Bengkak menurun pasien dan lingkungan pasien
7. Kadar sel darah putih membaik 4. Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko
8. Kadar sel darah merah membaik tinggi

Edukasi :
1. Jelaskan tanda dan gejala infeksi
3

2. Ajarkan cara mencuci tangan denggan benar


3. Ajarkan etika batuk
4. Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka
operasi
5. Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
6. Anjurkan meningkatkan asupan
cairan Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu
11. Implementasi Keperawatan

Implementasi Keperawatan Rencana keperawatan tindakan yang diberikan

kepada pasien sesuai rencana keperawatan yang sudah ditetapkan atau bila

memungkinkan tergantung pada situasi dan kondisi klien (Putri, 2021)

12. Evaluasi Keperawatan

Dilaksanakan suatu penilaian terhadap asuhan keperawatan yang telah

diberikan dengan berpegang teguh terhadap target yang diharapakan, pada

evaluasiditentukan apakah perencanaan sudah mencapai target atau masih belum

hingga masalah teratasi sebagian atau timbul masalah baru (Putri, 2021)
 PATHWAY (dalam Jurnal Wayan, 2017)

Gambar 2.5 Web Of Caution Post Partum


DAFTAR PUSTAKA

Diani, A. 2020. Pentingnya Perawatan Selama Masa Nifas. Diakses dari


[Link], tanggal 23 Desember 2023.
[Link]. 2017. Masa Nifas. Diakses dari
[Link]
[Link], diakses tanggal 22 Desember 2023.
Djami, M.E.U. 2018. Konsep dasar nifas, laktasi, dan menyusui. diakses dari
[Link], diakses tanggal 22 Desember 2023.
Handayani, R.P. 2016. Asuhan Kebidanan Berkesinambungan pada Ny.T Umur
28 Tahun dengan Partus Lama di Puskesmas Wilayah Kota Yogyakarta.
Diakses dari [Link]
diakses tanggal 22 Desember 2023.

Herlina. 2018. Hubungan Teknik Vulva Hygiene Dengan Penyembuhan Luka


Perinium Pada Ibu Post Partum. Jurnal kebidanan. Vol 4 (No 1). 5-10.
Indriyani, R dan Salat, S.Y.S. 2019. Pengaruh Stres Post Partum Terhadap
Pembengkakan Payudara Pada Ibu Menyusui Di Desa Matanair. Jurnal
ilmu kesehatan. Vol 4 (No 1). 33-37.
Juliaan, F dan Anggareni, M. 2015. Penggunaan Kontrasepsi Pada Wanita
Pasca Melahirkan Dan Pasca Keguguran, SDKI 2012. Jurnal kesehatan
reproduksi. Vol 6 (No 2). 108-116.
Karjatin, A. 2016. Keperawatan Maternitas. Jakarta Selatan.

Letak, T. 2017. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Diakses


dari [Link], diakses tanggal 21 Desember 2023.
Lidya. 2019. Analisis Pelaksanaan Pencegahan Komplikasi Nifas di Wilayah
Kerja Puskesmas Paal V Kota Jambi Tahun 2018. Scientia Journal. Vol 8
(No 1). 197- 204.

Anda mungkin juga menyukai