Potensi dan Implementasi PLTS di Indonesia
Potensi dan Implementasi PLTS di Indonesia
TINJAUAN PUSTAKA
7
Tabel 2.1 Sebaran Energi Surya di Indonesia
Insolasi Matahari
Lokasi Provinsi Latitude Longitude
(kWh/m2/hari)
Pekanbaru Riau 0,506 101,437 4,67
Jambi Jambi -1,609 103,607 4.63
Palembang Sumatera Selatan -2,990 104,756 4,81
Jakarta DKI Jakarta -6,200 106,816 4,87
Bandung Jawa Barat -6,914 107,609 5,02
Semarang Jawa Tengah -6,966 110,416 5,48
Yogyakarta DIY -7,803 110,374 5,26
Pontianak Kalimantan Barat 0,000 109.333 4,67
Surabaya Jawa Timur -7,250 112,768 5,27
Banjarmasin Kalimantan Selatan -3,316 114,590 4,84
Denpasar Bali -8.650 115.216 5,54
Samarinda Kalimantan Timur -0.502 117.153 4,84
Makkasar Sulawesi Selatan -5.135 119.423 5,24
Kendari Sulawesi Tenggara -3,972 122,514 5,07
Manado Sulawesi Utara 1.474 124.842 5,51
Ambon Maluku -3.654 128.190 5,00
Rata-rata 5,045
8
menandakan bahwa Indonesia mengalami ketertinggalan dari negara tetangga
di Asia tenggara terkait implementasi PLTS (Handayani & Ariyanti, 2012).
Produksi energi listrik dengan sistem PLTS diproyeksikan akan menjadi
yang terbesar di Indonesia hingga mencapai 421,3 TWh (Tera Watt Hour) dari
sekian jenis sumber energi baru terbarukan atau sekitar 68 %. Tingginya
produksi listrik tersebut disinyalir karena implementasi PLTS atap / rooftop
yang memiliki 25% porsi dari jumlah rumah mewah serta adanya
perkembangan industri baterai di beberapa daerah sebagai penunjang sistem
penyimpanan energi listrik PLTS (off grid) (Suharyati, dkk., 2019).
9
Gambar 2.2 Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Jenis On-Grid
(Sumber: Sunergi, 2022)
10
2.3 Kebijakan Implementasi PLTS
PLTS Rooftop atau PLTS Atap adalah suatu pembangkit listrik yang
memanfaatkan kinerja modul PV yang ditempatkan pada atap gedung
bangunan. Implementasi PLTS Atap dapat memberikan manfaat yaitu
penghematan konsumsi energi listrik pelanggan PLN serta meningkatkan
kontribusi energi listrik yang bersih dan ramah lingkungan (Bayu & Windarta,
2021). Pemanfaatan energi matahari sebagai salah satu energi terbarukan
bersandar pada Paris Agreement sebagai instrument hukum internasional yang
telah diadopsi oleh Indonesia. Hal ini guna mendukung pengurangan jumlah
emisi karbon melalui program transisi energi agar tercapai penurunan tingkat
pemanasan global (Agung & Maharta Yasa, 2021)
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 79 tahun 2014 (pasal 9f
ayat 1) tentang Kebijakan Energi Nasional, menyebutkan bahwa Pemerintah
menargetkan penggunaan Energi Baru Terbarukan paling sedikit 23% pada
tahun 2025 dan setidaknya 31% sepanjang keekonomiannya terpenuhi
(Setyono, dkk., 2019). Undang-undang Nomor 30 tahun 2009 tentang
Ketenagalistrikan menetapkan bahwa sumber energi primer harus
dimanfaatkan secara optimal. Sejalan dengan ketentuan tersebut, inisiatif
strategis dalam upaya meningkatkan peran Energi Baru Terbarukan ke dalam
bauran energi sebagai pasokan pembangkit listrik salah satunya dengan
pengembangan PLTS untuk Pemakaian Sendiri pada Pembangkit Listrik
eksisting milik PLN (RUPTL PLN, 2021).
11
listrik. Efek fotovoltaik yang terjadi ketika penyerapan radiasi matahari
membangkitkan arus yang mengalir di antara dua lapisan bermuatan yang
berlawanan. Tegangan listrik yang diproduksi oleh sel surya sangat kecil,
berkisar 0,6 VDC pada kondisi tanpa beban atau 0,45 VDC pada kondisi
berbeban. Dengan merangkai sel surya secara seri akan menghasilkan nilai
tegangan yang lebih besar. Jika 36 keping sel surya dirangkai seri, maka akan
menghasilkan tegangan mencapai 16V, sehingga cukup untuk mensuplai
baterai berkapasitas 12V (pada sistem Off–Grid) (Purwoto, dkk., 2018).
Dengan merangkai lebih banyak sel surya secara seri, maka akan
menghasilkan tegangan yang lebih besar pula (Roza & Mujirudin, 2019).
Penyusunan beberapa panel surya akan membentuk array dan dapat
menaikkan nilai tegangan dan arus array. Nilai tegangan akan naik jika panel
surya disusun secara seri, sedangkan nilai arus akan naik jika disusun secara
paralel (Prayogi, dkk., 2018). Panel surya memiliki beberapa jenis yang
sering digunakan di berbagai sektor, antara lain sebagai berikut :
1. Monokristal (Mono-Crystalline)
Panel surya jenis ini memiliki tingkat efisiensi paling tinggi jika
dibandingkan dengan jenis lain. Monokristal dapat diaplikasikan pada
lokasi dengan cuaca ekstrim dan memiliki kondisi alam yang keras.
Memiliki nilai efisiensi antara 15-20 %. Namun memiliki kelemahan
yaitu tidak dapat optimal jika diimplementasikan di tempat yang
memiliki intensitas sinar matahari yang kecil (Prayogi, dkk., 2018).
12
2. Polikristal (Poly-Crystalline)
Panel surya jenis ini dirancang dengan susunan kristal secara acak
karena dipabrikasi dengan proses pengecoran. Panel surya jenis ini
biasanya memiliki luas permukaan yang lebih besar dari jenis lainnya,
namun memiliki nilai efisiensi yang lebih rendah. Harga panel surya jenis
ini relatif murah (Prayogi, dkk., 2018).
13
2.4.2 Inverter
Secara sederhana, inverter berfungsi mengubah tegangan DC menjadi
AC. Pada sistem PLTS, energi listrik yang dihasilkan oleh solar panel dalam
wujud tegangan DC akan diubah menjadi tegangan AC untuk kemudian
disalurkan menuju beban (Fatahillah, 2022). Terdapat beberapa jenis inverter
yang umum digunakan pada sistem PLTS, antara lain:
1. String Inverter
Inverter jenis ini terpasang padda setiap array. Sehingga apabila
terjadi suatu kegagalan dalam salah satu sistem array, maka tidak akan
menginterupsi ke sistem array yang lain. String inverter juga menjaga
tegangan dan arus tetap stabil dan seimbang dalam proses konversi daya
listrik.
2. Central Inverter
Central inverter memiliki dimensi yang umumnya lebih besar dari
string inveter. Terdapat cukup banyak kabel dari sambungan berbagai
array dan dapat mengkonversi daya listrik dengan kapasitas yang lebih
besar. Inverter jenis ini biasanya menjadi pilihan pengguna system PLTS
karena dinilai dapat menghemat biaya investasi dan juga memudahkan
pemeliharaan jika dibandingkan dengan tipe string inverter yang
terpasang pada masing masing system array.
14
Gambar 2.8 Tampilan Central Inverter
(Sumber: Solar Power World, 2014)
15
bekerja secara online dengan memberikan gambaran kondisi proses, trend
grafik, serta opsi pengendalian dari jarak jauh sehingga memudahkan kerja
operator (Haryanto & Hidayat, 2012).
(Galitz, 2007) mengemukakan bahwa beberapa hal yang perlu
diperhatikan pada desain HMI adalah sebagai berikut:
1. Pengaturan lay out dan pages, layar HMI harus dapat menampilkan
informasi yang benar dengan kecepatan yang komprehensif.
2. Pemilihan icon pada layar HMI harus sesuai, jelas, dan dapat dengan
mudah dipahami.
3. Pemilihan warna harus sesuai dan komunikatif, sehingga informasi dapat
disampaikan dengan mudah.
16
net metering memungkingkan pengguna PLTS untuk dapat menghasilkan
sebagian atau bahkan seluruh kebutuhan energi listrik. Ketika terjadi
kelebihan produksi energi listrik, maka akan di ekspor ke jaringan PLN dan
tercatat pada kWh meter ekspor impor sehingga akan mendapatkan
kompensasi biaya tarif listrik. Namun Ketika produksi energi listrik kurang
dari nilai kebutuhan, maka jaringan PLN akan menyuplai kekurangan energi
listrik (Perdana, dkk., 2018).
17
GAV = Intensitas Matahari harian [kW/m2/hari]
η PV = Efisiensi panel surya [%]
η out = Efisiensi keluaran [%] asumsi 0,9
Setiap kenaikan temperatur 1 (dari temperatur standarnya) pada panel
surya, maka hal tersebut akan mengakibatkan daya yang dihasilkan oleh panel
surya akan berkurang sekitar 0,5% (Colli, 2015). Efisiensi sel surya adalah
perbandingan antara daya listrik yang diproduksi (dikirim ke beban) dengan
daya cahaya yang mengenai permukaan sel. Daya cahaya yang mengenai sel
biasanya ditentukan sebagai daya cahaya matahari pada permukaan bumi
yang besarnya 1000W/m2 .
Dimana:
P watt peak = Daya yang dibangkitkan (Wp)
PMPP = Daya maksimum keluaran panel surya (Wp)
18
2.5.4 Perhitungan Kapasitas Modul PLTS
Dalam menentukan kapasitas modul Panel surya berdasar pada
kebutuhan energi aktual beserta penambahan kompensasi akibat adanya rugi
– rugi pada rangkaian PLTS. Umumnya nilai faktor pengali akibat adanya
kompensasi rugi – rugi adalah sebesar 130% (Firmansyah & Windarta, 2021).
Sehingga perhitungan kapasitas modul panel surya dapat dihitung
menggunakan formula berikut:
Total energi beban
Kapasitas Modul = Minimum rata rata iradiasi × faktor kali (2.4)
Dimana:
VMP = Tegangan Maksimal (V)
19
IMP = Arus Maksimal (A)
VOC = Tegangan Open Circuit (V)
IOC = Arus Short Circuit (A)
Dimana:
η = Nilai Efisiensi (%)
Pout = Daya Listrik Panel Surya (Watt)
Pin = Daya Input Panel Surya dengan mempertimbangkan iradiasi (Watt)
Dimana:
GHI = Global Horizontal Irradiance (kWh/m2)
A = Luas permukaan string panel (m2)
𝜂 = efisiensi panel surya dari data sheet (%)
Dalam melakukan analisa performa sistem PLTS dapat dilakukan dengan
menghitung beberapa hal yaitu Hasil Akhir / Final Yield (YF), Hasil Acuan /
20
Reference Yield (YR), dan Performance Ratio (PR) merujuk pada standar
IEC 61724 (Ariawan, 2022).
Epv
YF = (2.9)
Po
Dimana:
YF = Produksi energi listrik PLTS per daya terpasang
Epv = Energi yang dihasilkan PLTS (kWh)
Po = Daya PLTS terpasang (kWp)
Ht
YR = Gstc (2.10)
Dimana:
YR = Potensi energi yang dapat dihasilkan PLTS saat kondisi ideal
Ht = Radiasi pada array / permukaan panel surya (kWh/m2)
Gstc = Referensi nilai radiasi kondisi ideal (1.000 W/m2)
21
secara optimal (Rawat & Hod, 2017). Dengan demikian diperlukan kegiatan
pemeliharaan rutin, khususnya pembersihan terhadap permukaan panel surya.
22
2.6.4 Toleransi Manufaktur
Karakteristik dari panel surya selalu mengacu pada spesifikasi dari
manufaktur. Spesifikasi tersebut biasanya tercatat pada data sheet produk.
Spesifikasi mencatat beberapa parameter karakteristik yang menyimpulkan
potensi kinerja dari panel surya tersebut, seperti nilai toleransi, nilai tegangan
dan arus maksimal, nilai daya output dan lain sebagainya (Colli, 2015).
2.6.6 Lifetime
Usia dari panel surya sangat berpengaruh pada efisiensi kerja PLTS.
Panel Surya dengan kapasitas 400watt peak akan mengalami penurunan
output daya sekitar 5% di tahun ke 5, 10% di tahun ke 10, dan mencapai 20
% di tahun ke 25 pasca operasional (Everexceed, 2020).
23
PVSyst memiliki fitur desain proyek yang dapat berfungsi untuk
mensimulasi dan menganalisa hasil produksi serta performa dari PLTS, yaitu
dengan membuat terlebih dahulu perancangan atau desain proyek kemudian
menjalankan fitur simulasi. Berikut tahapan dalam merencanakan dan
mendesain PLTS pada perangkat lunak PVSyst:
1. Penetapan proyek
Setelah menentukan jenis PLTS yang diantaranya Grid Connected, Stand
Alone, Pumping, dan DC Grid, kemudian lanjut ke tahap desain proyek
baru serta mengisi beberapa informasi seperti nama proyek, lokasi dan data
meteorologi.
2. Penetapan konfigurasi sistem
Setelah menentukan orientasi dari panel surya seperti jenis konstruksi
rangka, sudut kemiringan, dan azimuth, dilanjutkan pemilihan spesifikasi,
jumlah panel surya dan inverter serta konfigurasi instalasi. Kemudian
dilanjutkan running simulasi.
24
2.8 Perhitungan Ekonomi
2.8.1 Alur Kas / Cash Flow
Alur kas atau disebut juga cash flow merupakan aliran pemasukan dan
pengeluaran dana pada periode waktu tertentu. Cash Flow meliputi:
1. Cash in (Pemasukan), yaitu berasal dari keuntungan penjualan produk
atau keuntungan yang didapat dari manfaat produk.
2. Cash Out (Pengeluaran), yaitu nilai total biaya / cost yang dikeluarkan
dalam proses operasional.
Menurut sudut pandang ekonomi adalah cash flow investasi umumnya akan
dihitung pada saat perencanaan suatu investasi. Jadi diperlukan perhitungan
perkiraan atau estimasi yang sekiranya akan terjadi jika investasi dijalankan
(Giatman, 2022).
25
Dimana:
PWB = Present Worth Benefit
PWC = Present Worth Cost
Cb = Cash flow benefit
Cc = Cash flow cost
FBP = Faktor Bunga Present
T = periode waktu
n = Usia investasi
PWB
BCR = (2.15)
PWC
26
1. Payback period yang memiliki jangka waktu pendek daripada perkiraan
umur proyek, maka dapat dikatakan layak / feasible.
2. Payback period yang memiliki jangka waktu yang lebih panjang dari
perkiraan usia proyek, maka dapat dikatakan tidak layak.
Pay back period dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus
berikut sebagai berikut (Giatman, 2022):
27