0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
127 tayangan21 halaman

Potensi dan Implementasi PLTS di Indonesia

Dokumen tersebut memberikan ringkasan tentang potensi energi surya di Indonesia dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Indonesia memiliki potensi energi surya yang besar karena berada di dekat garis khatulistiwa dengan rata-rata intensitas sinar matahari 5 kWh/m2 per hari. PLTS dapat beroperasi secara off-grid atau on-grid dengan mengkonversi energi surya menjadi listrik melalui panel surya dan inverter. Pemerintah mendukung pen

Diunggah oleh

giban0394
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
127 tayangan21 halaman

Potensi dan Implementasi PLTS di Indonesia

Dokumen tersebut memberikan ringkasan tentang potensi energi surya di Indonesia dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Indonesia memiliki potensi energi surya yang besar karena berada di dekat garis khatulistiwa dengan rata-rata intensitas sinar matahari 5 kWh/m2 per hari. PLTS dapat beroperasi secara off-grid atau on-grid dengan mengkonversi energi surya menjadi listrik melalui panel surya dan inverter. Pemerintah mendukung pen

Diunggah oleh

giban0394
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Potensi Energi Matahari


Energi matahari atau biasa disebut juga sebagai energi surya adalah
energi yang berasal dari radiasi sinar matahari. Indonesia memiliki intensitas
energi matahari yang sangat besar karena wilayahnya yang terbentang
melintasi garis khatulistiwa dengan radiasi sinar 4,80 kWh/m2 tiap harinya.
Energi Surya dapat dimanfaatkan secara langsung dengan aplikasi yang
terbagi menjadi dua jenis, yaitu solar thermal untuk aplikasi pemanasan dan
solar photovoltaic untuk pembangkit listrik (Safrizal, 2017).

Gambar 2.1 Sebaran Potensi Energi Surya di Indonesia


(Sumber: Global Solar Atlas 2.0, 2020)

Secara umum potensi energi surya di Indonesia sangat menjanjikan


karena secara geografis berada pada garis lintang -7,4003 dan garis bujur
109,6259 sehingga memiliki iklim tropis. Dengan nilai rata – rata insolasi
matahari di Indonesia mencapai 5,045 kWh/m2/hari maka PLTS sangat
berpotensi untuk dapat dikembangkan (Dewan Energi Nasional, 2021).

7
Tabel 2.1 Sebaran Energi Surya di Indonesia
Insolasi Matahari
Lokasi Provinsi Latitude Longitude
(kWh/m2/hari)
Pekanbaru Riau 0,506 101,437 4,67
Jambi Jambi -1,609 103,607 4.63
Palembang Sumatera Selatan -2,990 104,756 4,81
Jakarta DKI Jakarta -6,200 106,816 4,87
Bandung Jawa Barat -6,914 107,609 5,02
Semarang Jawa Tengah -6,966 110,416 5,48
Yogyakarta DIY -7,803 110,374 5,26
Pontianak Kalimantan Barat 0,000 109.333 4,67
Surabaya Jawa Timur -7,250 112,768 5,27
Banjarmasin Kalimantan Selatan -3,316 114,590 4,84
Denpasar Bali -8.650 115.216 5,54
Samarinda Kalimantan Timur -0.502 117.153 4,84
Makkasar Sulawesi Selatan -5.135 119.423 5,24
Kendari Sulawesi Tenggara -3,972 122,514 5,07
Manado Sulawesi Utara 1.474 124.842 5,51
Ambon Maluku -3.654 128.190 5,00
Rata-rata 5,045

Dengan pemanfaatan teknologi secara tepat, tidak hanya energi listrik


yang dapat diproduksi oleh energi surya, namun dapat dimanfaatkan pula
sebagai fungsi pemanas air. Dengan berbagai panjang gelombang, mulai dari
ultraviolet, cahaya tampak, sampai infrared dari spektrum elektromagnetik,
radiasi matahari dapat dikonversi menjadi energi listrik. Sebagai bentuk
komitmen untuk mendorong percepatan implementasi PLTS, PT. PLN
(Persero) menargetkan bauran energi dari PLTS ke dalam Rencana Usaaha
Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sebesar 3.200 MW pada tahun 2025-
2028 dengan kontribusi konsumen dalam instalasi panel surya. Jika menilik
potensi energi surya yang dapat berkontribusi hingga 207,8 GWp, realisasi
pemanfaatan di angka 0,092 GWp terbilang sangat minim. Hal ini

8
menandakan bahwa Indonesia mengalami ketertinggalan dari negara tetangga
di Asia tenggara terkait implementasi PLTS (Handayani & Ariyanti, 2012).
Produksi energi listrik dengan sistem PLTS diproyeksikan akan menjadi
yang terbesar di Indonesia hingga mencapai 421,3 TWh (Tera Watt Hour) dari
sekian jenis sumber energi baru terbarukan atau sekitar 68 %. Tingginya
produksi listrik tersebut disinyalir karena implementasi PLTS atap / rooftop
yang memiliki 25% porsi dari jumlah rumah mewah serta adanya
perkembangan industri baterai di beberapa daerah sebagai penunjang sistem
penyimpanan energi listrik PLTS (off grid) (Suharyati, dkk., 2019).

2.2 Pembangkit Listrik Tenaga Surya


Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) merupakan suatu sistem
pembangkitan yang mengkonversi energi kalor dari radiasi matahari / surya
menjadi energi listrik. PLTS terdiri dari beberapa komponen utama yaitu panel
surya, inverter, dan unit kontrol. Secara desain dan sistem integrasi, PLTS
dikonfigurasikan menjadi dua jenis, yaitu PLTS jenis Off-Grid dan PLTS jenis
On-Grid. Pada PLTS jenis Off-Grid, energi listrik yang dihasilkan oleh panel
surya akan disimpan pada baterai yang terhubung dengan charger controller
dan inverter. Sedangkan pada PLTS jenis On-Grid, panel surya akan
dihubungkan langsung dengan inverter dan jaringan PLN (Putra, 2020).

2.2.1 PLTS On Grid


PLTS jenis On-Grid didesain secara langsung terkoneksi dengan sistem
grid dari PLN. PLTS jenis ini tidak menggunakan baterai sebagai sarana
penyimpanan energi listrik. Agar sistem listrik PLTS tidak mengintervensi
kestabilan sistem grid PLN, maka biasanya memiliki kapasitas yang relatif
kecil. Ketika jaringan listrik kehilangan tegangan, maka sistem PLTS ini
memiliki kemampuan untuk dapat memutus kontak terhadap sistem grid.
Sistem ini biasa digunakan pada perkantoran, mall, rumah sakit, serta fasilitas
umum lainnya (Mohite & Butale, 2019).

9
Gambar 2.2 Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Jenis On-Grid
(Sumber: Sunergi, 2022)

2.2.2 PLTS Off - Grid


PLTS Off-Grid adalah suatu sistem pembangkit listrik yang hanya
bersumber dari energi matahari saja. Sistem ini tidak terkoneksi terhadap
jaringan grid PLN. Pada sistem ini energi listrik yang dihasilkan akan
disalurkan menuju beban dan baterai. Baterai difungsikan untuk menyimpan
energi listrik pada saat tidak ada konsumsi beban atau konsumsi beban sedikit
(Mohite & Butale, 2019).

Gambar 2.3 Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Jenis Off-Grid


(Sumber: learnsolarblog, 2017)

10
2.3 Kebijakan Implementasi PLTS
PLTS Rooftop atau PLTS Atap adalah suatu pembangkit listrik yang
memanfaatkan kinerja modul PV yang ditempatkan pada atap gedung
bangunan. Implementasi PLTS Atap dapat memberikan manfaat yaitu
penghematan konsumsi energi listrik pelanggan PLN serta meningkatkan
kontribusi energi listrik yang bersih dan ramah lingkungan (Bayu & Windarta,
2021). Pemanfaatan energi matahari sebagai salah satu energi terbarukan
bersandar pada Paris Agreement sebagai instrument hukum internasional yang
telah diadopsi oleh Indonesia. Hal ini guna mendukung pengurangan jumlah
emisi karbon melalui program transisi energi agar tercapai penurunan tingkat
pemanasan global (Agung & Maharta Yasa, 2021)
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 79 tahun 2014 (pasal 9f
ayat 1) tentang Kebijakan Energi Nasional, menyebutkan bahwa Pemerintah
menargetkan penggunaan Energi Baru Terbarukan paling sedikit 23% pada
tahun 2025 dan setidaknya 31% sepanjang keekonomiannya terpenuhi
(Setyono, dkk., 2019). Undang-undang Nomor 30 tahun 2009 tentang
Ketenagalistrikan menetapkan bahwa sumber energi primer harus
dimanfaatkan secara optimal. Sejalan dengan ketentuan tersebut, inisiatif
strategis dalam upaya meningkatkan peran Energi Baru Terbarukan ke dalam
bauran energi sebagai pasokan pembangkit listrik salah satunya dengan
pengembangan PLTS untuk Pemakaian Sendiri pada Pembangkit Listrik
eksisting milik PLN (RUPTL PLN, 2021).

2.4 Komponen Utama PLTS (Sistem On-Grid)


PT. Komipo – PJB telah mengimplementasikan Pembangkit Listrik
Tenaga Surya sistem On - Grid dengan kapasitas terpasang sebesar 32 kWp.
Adapun beberapa komponen utama dari sistem PLTS tersebut yaitu sebagai
berikut :
2.4.1 Panel Surya
Panel surya merupakan suatu peralatan yang berisikan sel surya yang
berfungsi mengkonversikan energi kalor dari radiasi matahari menjadi energi

11
listrik. Efek fotovoltaik yang terjadi ketika penyerapan radiasi matahari
membangkitkan arus yang mengalir di antara dua lapisan bermuatan yang
berlawanan. Tegangan listrik yang diproduksi oleh sel surya sangat kecil,
berkisar 0,6 VDC pada kondisi tanpa beban atau 0,45 VDC pada kondisi
berbeban. Dengan merangkai sel surya secara seri akan menghasilkan nilai
tegangan yang lebih besar. Jika 36 keping sel surya dirangkai seri, maka akan
menghasilkan tegangan mencapai 16V, sehingga cukup untuk mensuplai
baterai berkapasitas 12V (pada sistem Off–Grid) (Purwoto, dkk., 2018).
Dengan merangkai lebih banyak sel surya secara seri, maka akan
menghasilkan tegangan yang lebih besar pula (Roza & Mujirudin, 2019).
Penyusunan beberapa panel surya akan membentuk array dan dapat
menaikkan nilai tegangan dan arus array. Nilai tegangan akan naik jika panel
surya disusun secara seri, sedangkan nilai arus akan naik jika disusun secara
paralel (Prayogi, dkk., 2018). Panel surya memiliki beberapa jenis yang
sering digunakan di berbagai sektor, antara lain sebagai berikut :
1. Monokristal (Mono-Crystalline)
Panel surya jenis ini memiliki tingkat efisiensi paling tinggi jika
dibandingkan dengan jenis lain. Monokristal dapat diaplikasikan pada
lokasi dengan cuaca ekstrim dan memiliki kondisi alam yang keras.
Memiliki nilai efisiensi antara 15-20 %. Namun memiliki kelemahan
yaitu tidak dapat optimal jika diimplementasikan di tempat yang
memiliki intensitas sinar matahari yang kecil (Prayogi, dkk., 2018).

Gambar 2.4 Panel Surya Monokristal


(Sumber: Aslansolar, 2022)

12
2. Polikristal (Poly-Crystalline)
Panel surya jenis ini dirancang dengan susunan kristal secara acak
karena dipabrikasi dengan proses pengecoran. Panel surya jenis ini
biasanya memiliki luas permukaan yang lebih besar dari jenis lainnya,
namun memiliki nilai efisiensi yang lebih rendah. Harga panel surya jenis
ini relatif murah (Prayogi, dkk., 2018).

Gambar 2.5 Panel Surya Polikristal


(Sumber: Aslansolar, 2022)

3. Thin Film Photovoltaic


Tersusun dari dua struktur lapisan tipis mikrokristal - silicon dan
amorphous yang dapat memiliki nilai efisiensi mencapai 8.5%. Sehingga
dapat menghasilkan nilai daya yang lebih besar daripada jenis
monokristal & polykristal dengan luas permukaan yang sama. Menurut
temuan terbaru, Thin Film Photovoltaic dengan tiga lapisan memiliki
nilai efisiensi sangat baik sehingga mampu memproduksi energi listrik
45% lebih tinggi dibanding jenis lain (Purwoto, dkk., 2018).

Gambar 2.6 Thin film photovoltaic


(Sumber: Solar Power World, 2018)

13
2.4.2 Inverter
Secara sederhana, inverter berfungsi mengubah tegangan DC menjadi
AC. Pada sistem PLTS, energi listrik yang dihasilkan oleh solar panel dalam
wujud tegangan DC akan diubah menjadi tegangan AC untuk kemudian
disalurkan menuju beban (Fatahillah, 2022). Terdapat beberapa jenis inverter
yang umum digunakan pada sistem PLTS, antara lain:
1. String Inverter
Inverter jenis ini terpasang padda setiap array. Sehingga apabila
terjadi suatu kegagalan dalam salah satu sistem array, maka tidak akan
menginterupsi ke sistem array yang lain. String inverter juga menjaga
tegangan dan arus tetap stabil dan seimbang dalam proses konversi daya
listrik.

Gambar 2.7 String Inverter


(Sumber: DS New Energy, 2022)

2. Central Inverter
Central inverter memiliki dimensi yang umumnya lebih besar dari
string inveter. Terdapat cukup banyak kabel dari sambungan berbagai
array dan dapat mengkonversi daya listrik dengan kapasitas yang lebih
besar. Inverter jenis ini biasanya menjadi pilihan pengguna system PLTS
karena dinilai dapat menghemat biaya investasi dan juga memudahkan
pemeliharaan jika dibandingkan dengan tipe string inverter yang
terpasang pada masing masing system array.

14
Gambar 2.8 Tampilan Central Inverter
(Sumber: Solar Power World, 2014)

3. Multi - String Inverter


Multi – String Inverter merupakan gabungan antara string inverter
dengan central inverter. Inverter jenis ini memiliki keunggulan yaitu
antar string memiliki input yang terpisah sehingga apabila terjadi
kerusakan modul atau kegagalan sistem pada suatu string, maka tidak
akan mempengaruhi string yang lain. Sehingga kerugian daya dapat
dihindari.

Gambar 2.9 Topologi Multi – String Inverter


(Sumber: IEEE, 2012)

2.4.3 Human Monitor Interface


HMI (Human Monitor Interface) merupakan sistem penghubung antara
manusia dengan suatu proses. HMI dapat menampilkan kondisi serta sebagai
media pengendali suatu proses secara aktual dan real time. Sistem HMI

15
bekerja secara online dengan memberikan gambaran kondisi proses, trend
grafik, serta opsi pengendalian dari jarak jauh sehingga memudahkan kerja
operator (Haryanto & Hidayat, 2012).
(Galitz, 2007) mengemukakan bahwa beberapa hal yang perlu
diperhatikan pada desain HMI adalah sebagai berikut:
1. Pengaturan lay out dan pages, layar HMI harus dapat menampilkan
informasi yang benar dengan kecepatan yang komprehensif.
2. Pemilihan icon pada layar HMI harus sesuai, jelas, dan dapat dengan
mudah dipahami.
3. Pemilihan warna harus sesuai dan komunikatif, sehingga informasi dapat
disampaikan dengan mudah.

Gambar 2.10 Tampilan Human Monitor Interface

2.4.4 KWH Meter Ekspor Impor


KWH Ekspor Impor digunakan untuk menghitung pemakaian energi
listrik pada pengguna PLTS sistem On–Grid. KWH Exim berfungsi mencatat
besaran produksi listrik (ekspor) dan konsumsi energi listrik (impor)
menggunakan skema net metering. Mekanisme penagihan listrik dari sistem

16
net metering memungkingkan pengguna PLTS untuk dapat menghasilkan
sebagian atau bahkan seluruh kebutuhan energi listrik. Ketika terjadi
kelebihan produksi energi listrik, maka akan di ekspor ke jaringan PLN dan
tercatat pada kWh meter ekspor impor sehingga akan mendapatkan
kompensasi biaya tarif listrik. Namun Ketika produksi energi listrik kurang
dari nilai kebutuhan, maka jaringan PLN akan menyuplai kekurangan energi
listrik (Perdana, dkk., 2018).

Gambar 2.11 Tampilan kWh Ekspor Impor


(Sumber: EDMI, 2020)

2.5 Perhitungan Teknis PLTS


Berkaitan dengan beberapa parameter pada sistem PLTS, perhitungan
dapat dijabarkan melalui beberapa persamaan sebagai berikut :
2.5.1 Perhitungan PV Array
Untuk menghitung luasan PV area dapat dihitung dengan metode
persamaan sebagai berikut:
EL
PV Area = G (2.1)
AV x TCF x η PV x η out

Dalam hal ini :


EL = Energi yang dibangkitkan [kWh/hari]
PV Area = Luas permukaan panel surya [m2]
TCF = Temperature coefficient factor [%]

17
GAV = Intensitas Matahari harian [kW/m2/hari]
η PV = Efisiensi panel surya [%]
η out = Efisiensi keluaran [%] asumsi 0,9
Setiap kenaikan temperatur 1 (dari temperatur standarnya) pada panel
surya, maka hal tersebut akan mengakibatkan daya yang dihasilkan oleh panel
surya akan berkurang sekitar 0,5% (Colli, 2015). Efisiensi sel surya adalah
perbandingan antara daya listrik yang diproduksi (dikirim ke beban) dengan
daya cahaya yang mengenai permukaan sel. Daya cahaya yang mengenai sel
biasanya ditentukan sebagai daya cahaya matahari pada permukaan bumi
yang besarnya 1000W/m2 .

2.5.2 Perhitungan Daya PLTS


Setelah mendapatkan hasil perhitungan area array, nilai daya listrik
yang dihasilkan oleh PLTS (watt peak) dapat dihitung menggunakan formula
sebagai berikut (Eriyanto, 2017):
PV watt peak = PV Area x PSI x η PV (2.2)
Dimana:
PV Area = Luas Permukaan panel surya (m2)
PSI = Peak Solar Insolation, yaitu sebesar 1.000 W/m2
η PV = Efisiensi panel surya [%]

2.5.3 Perhitungan Jumlah Panel Surya


Dari hasil perhitungan daya dibangkitkan oleh PLTS (watt peak), maka
jumlah banyaknya panel surya yang dibutuhkan dapat dihitung dengan rumus
berikut (Eriyanto, 2017):
P watt peak
Jumlah Panel Surya = (2.3)
PMPP

Dimana:
P watt peak = Daya yang dibangkitkan (Wp)
PMPP = Daya maksimum keluaran panel surya (Wp)

18
2.5.4 Perhitungan Kapasitas Modul PLTS
Dalam menentukan kapasitas modul Panel surya berdasar pada
kebutuhan energi aktual beserta penambahan kompensasi akibat adanya rugi
– rugi pada rangkaian PLTS. Umumnya nilai faktor pengali akibat adanya
kompensasi rugi – rugi adalah sebesar 130% (Firmansyah & Windarta, 2021).
Sehingga perhitungan kapasitas modul panel surya dapat dihitung
menggunakan formula berikut:
Total energi beban
Kapasitas Modul = Minimum rata rata iradiasi × faktor kali (2.4)

2.5.5 Perhitungan Daya Input


Dengan menghitung daya input maka dapat diketahui besaran nilai daya
yang diterima oleh panel surya sehingga dapat dihitung efisiensinya (Imam,
dkk., 2021). Berikut rumus perhitungan daya input:
Pin = E x A (2.5)
Dimana:
E = Nilai Iradiasi (W/m2)
A = Luas permukaan string panel surya (m2)

2.5.6 Perhitungan Fill Factor


Nilai perbandingan antara daya maksimal terhadap nilai arus short
circuit dan tegangan open circuit disebut fill factor (FF). Daya aktual adalah
pada saat kondisi tegangan dan arus maksimal (Vmp dan Imp) (Eriyanto,
2017). Data – data tersebut biasanya telah tertera pada nameplate / buku
manual dari pihak manufaktur panel surya. Semakin tinggi nilai FF pada sel
surya maka kinerja dapat dikatakan semakin maksimal dengan nilai efisiensi
konversi energi yang semakin baik pula.
(VMP x IMP )
FF = (VOC x ISC )
(2.6)

Dimana:
VMP = Tegangan Maksimal (V)

19
IMP = Arus Maksimal (A)
VOC = Tegangan Open Circuit (V)
IOC = Arus Short Circuit (A)

2.5.7 Perhitungan Efisiensi PLTS


Setelah mendapatkan nilai daya input dan nilai daya output panel surya,
maka dapat diperhitungkan nilai efisiensi dari PLTS tersebut (Eriyanto,
2017). Perhitungan nilai efisiensi adalah sebagai berikut:
POUT
η= x 100 % (2.7)
PIN

Dimana:
η = Nilai Efisiensi (%)
Pout = Daya Listrik Panel Surya (Watt)
Pin = Daya Input Panel Surya dengan mempertimbangkan iradiasi (Watt)

2.5.8 Perhitungan Performance Ratio


Performa atau kinerja PLTS dapat dihitung dan dianalisa berdasarkan
dari nilai Performance Ratio (Syahindra, dkk., 2021). PR dihitung dengan
membagi nilai aktual produksi listrik dengan hasil perhitungan energi output.
Nilai PR dikatakan baik apabila mendekati nilai 1 (Sharma & Chandel, 2013).
Pandangan lain menyatakan bahwa nilai Performance Ratio di atas 70%
terbilang cukup baik (Martha, dkk., 2022). Nilai Performance Ratio dapat
dicari dengan persamaan sebagai berikut:
Energi aktual output PLTS
PR = (2.8)
GHI x A x η

Dimana:
GHI = Global Horizontal Irradiance (kWh/m2)
A = Luas permukaan string panel (m2)
𝜂 = efisiensi panel surya dari data sheet (%)
Dalam melakukan analisa performa sistem PLTS dapat dilakukan dengan
menghitung beberapa hal yaitu Hasil Akhir / Final Yield (YF), Hasil Acuan /

20
Reference Yield (YR), dan Performance Ratio (PR) merujuk pada standar
IEC 61724 (Ariawan, 2022).
Epv
YF = (2.9)
Po

Dimana:
YF = Produksi energi listrik PLTS per daya terpasang
Epv = Energi yang dihasilkan PLTS (kWh)
Po = Daya PLTS terpasang (kWp)

Ht
YR = Gstc (2.10)

Dimana:
YR = Potensi energi yang dapat dihasilkan PLTS saat kondisi ideal
Ht = Radiasi pada array / permukaan panel surya (kWh/m2)
Gstc = Referensi nilai radiasi kondisi ideal (1.000 W/m2)

Sehingga dari kedua nilai YF dan YR di atas, didapatkan nilai Performance


Ratio (PR) sebesar:
YF
PR = YR x 100% (2.11)

2.6 Potensi Losses pada PLTS


Energi surya yang ditangkap oleh panel surya tidak sepenuhnya
terkonversi menjadi energi listrik dan terkirim penuh menuju beban / grid. Hal
ini dikarenakan adanya factor losses / pengurangan pada sistem PLTS yang
mana dapat menurunkan nilai efisiensi. Berikut beberapa factor yang perlu
diperhatikan terkait potensi losses pada sistem PLTS :
2.6.1 Kotoran (Soilage)
Kotoran pada permukaan panel surya dapat menurunkan efisiensi
sistem PLTS. Kotoran menempel tersebut dapat menghalangi cahaya
matahari yang menuju ke sel – sel pada panel surya sehingga mengakibatkan
output produksi menjadi turun. Kotoran mengakibatkan sistem tidak bekerja

21
secara optimal (Rawat & Hod, 2017). Dengan demikian diperlukan kegiatan
pemeliharaan rutin, khususnya pembersihan terhadap permukaan panel surya.

2.6.2 Bayangan (Shading)


Pada proses penangkapan energi matahari oleh panel surya, adanya
bayangan yang menutupi permukaan panel surya dapat mempengaruhi
kinerjanya. Efek bayangan mengakibatkan berkurangnya radiasi matahari
sehingga menggangu proses transfer energi ke permukaan panel surya dan
menurunkan hasil produksi (Colli, 2015). Efek bayangan dapat menginterupsi
sistem PLTS apabila:
1. Array terhalang oleh bayangan, sehingga nilai tegangan yang masuk
menuju inverter akan menurun dan mempengaruhi kinerja inverter.
2. Penggunaan string inverter untuk memfasilitasi beberapa string panel
surya, hal ini dikarenakan efek bayangan pada satu string dapat
mempengaruhi output string lainnya.
Dalam kedua situasi tersebut di atas, akan sulit memperkirakan output
array dikarenakan perbedaan efek pada masing-masing inverter. Maka dalam
pemasangan array sebaiknya memilih lokasi yang tidak tertutup bayangan
(gedung / pohon / lainnya).

2.6.3 Temperatur Panel Surya


Temperatur pada lokasi PLTS, khususnya pada permukaan panel surya
dapat mempengaruhi efisiensi dan kinerja sistem pembangkitan. Pada saat
temperatur permukaan sel surya naik, nilai tegangan yang mengalir pada
setiap sel akan berkurang sehingga menurunkan pula nilai daya. Efek
penurunan ini tergantung pada karakteristik panel surya terpasang. Daya yang
diproduksi oleh panel surya akan turun hingga 0,5% setiap kenaikan suhu 1ᴼC
pada permukaan panel surya, dihitung dari nilai standarnya (Colli, 2015).

22
2.6.4 Toleransi Manufaktur
Karakteristik dari panel surya selalu mengacu pada spesifikasi dari
manufaktur. Spesifikasi tersebut biasanya tercatat pada data sheet produk.
Spesifikasi mencatat beberapa parameter karakteristik yang menyimpulkan
potensi kinerja dari panel surya tersebut, seperti nilai toleransi, nilai tegangan
dan arus maksimal, nilai daya output dan lain sebagainya (Colli, 2015).

2.6.5 Efisiensi Inverter


Efisiensi inverter tercatat pada lembaran data sheet dari manufaktur.
Parameter tegangan dan arus input yang dialirkan dari masing – masing array
sangat mempengaruhi efisiensi inverter. Untuk menghindari penurunan
efisiensi inverter perlu dilakukan monitoring terhadap output array, karena
nilai output array yang berlebihan akan menurunkan nilai efisiensi inverter.
Pada instalasi inverter juga perlu memperhatikan ventilasi untuk mengatur
alur keluar masuk udara sehingga dapat memaksimalkan performa kerja
inverter (Colli, 2015).

2.6.6 Lifetime
Usia dari panel surya sangat berpengaruh pada efisiensi kerja PLTS.
Panel Surya dengan kapasitas 400watt peak akan mengalami penurunan
output daya sekitar 5% di tahun ke 5, 10% di tahun ke 10, dan mencapai 20
% di tahun ke 25 pasca operasional (Everexceed, 2020).

2.7 Software Simulasi PVSyst


PVSyst adalah suatu perangkat lunak dirancang untuk media edukasi
PLTS, lengkap dengan perencanaan hingga analisis data (Satrio, dkk., 2022).
Universitas Genewa berhasil mengembangkan PVSyst dengan beberapa
opsional sistem, antara lain sistem jaringan (grid-connected), sistem berdiri
sendiri (stand-alone), sistem pompa (pumping), dan jaringan arus searah untuk
transportasi publik (DC-grid). Pada database PVSyst, terdapat banyak sumber
data meteorologi, lengkap dengan bermacam jenis komponen PLTS.

23
PVSyst memiliki fitur desain proyek yang dapat berfungsi untuk
mensimulasi dan menganalisa hasil produksi serta performa dari PLTS, yaitu
dengan membuat terlebih dahulu perancangan atau desain proyek kemudian
menjalankan fitur simulasi. Berikut tahapan dalam merencanakan dan
mendesain PLTS pada perangkat lunak PVSyst:
1. Penetapan proyek
Setelah menentukan jenis PLTS yang diantaranya Grid Connected, Stand
Alone, Pumping, dan DC Grid, kemudian lanjut ke tahap desain proyek
baru serta mengisi beberapa informasi seperti nama proyek, lokasi dan data
meteorologi.
2. Penetapan konfigurasi sistem
Setelah menentukan orientasi dari panel surya seperti jenis konstruksi
rangka, sudut kemiringan, dan azimuth, dilanjutkan pemilihan spesifikasi,
jumlah panel surya dan inverter serta konfigurasi instalasi. Kemudian
dilanjutkan running simulasi.

Gambar 2.12 Tampilan Software Simulasi PVSyst 7.2

24
2.8 Perhitungan Ekonomi
2.8.1 Alur Kas / Cash Flow
Alur kas atau disebut juga cash flow merupakan aliran pemasukan dan
pengeluaran dana pada periode waktu tertentu. Cash Flow meliputi:
1. Cash in (Pemasukan), yaitu berasal dari keuntungan penjualan produk
atau keuntungan yang didapat dari manfaat produk.
2. Cash Out (Pengeluaran), yaitu nilai total biaya / cost yang dikeluarkan
dalam proses operasional.
Menurut sudut pandang ekonomi adalah cash flow investasi umumnya akan
dihitung pada saat perencanaan suatu investasi. Jadi diperlukan perhitungan
perkiraan atau estimasi yang sekiranya akan terjadi jika investasi dijalankan
(Giatman, 2022).

2.8.2 Net Present Value (NPV)


Net Present Value adalah suatu teknik perhitungan yang
mengasumsikan nilai bersih pada waktu sekarang. Sehingga diasumsikan
waktu sekarang merupakan waktu awal perhitungan yang mana bertepatan
dengan waktu dilakukannya evaluasi, atau pada periode tahun k enol (0)
dalam perhitungan cash flow suatu investasi (Avinda & Darjat, 2022).
Present Worth of Benefit (PWB) adalah cash flow yang memperhitungkan sisi
pemasukan saja. Sedangkan perhitungan arus pengeluaran disebut sebagai
Present Worth of Cost (PWC). Sementara itu nilai dari NPV sendiri diperoleh
dari selisih antara PWB dengan PWC. Berikut rumus untuk menghitung NPV,
PWB, dan PWC:

PWB = ∑nt=0 Cbt (FBP)t (2.12)

PWC = ∑nt=0 Cct (FBP)t (2.13)

NPV = PWB − PWC (2.14)

25
Dimana:
PWB = Present Worth Benefit
PWC = Present Worth Cost
Cb = Cash flow benefit
Cc = Cash flow cost
FBP = Faktor Bunga Present
T = periode waktu
n = Usia investasi

Metode NPV memiliki dua kriteria untuk menentukan kelayakan ekonomi


suatu investasi, yaitu:
1. NPV > 0, maka investasi dapat dikatakan layak / feasible.
2. NPV < 0, maka investasi dapat dikatakan tidak layak / unfeasible.

2.8.3 Benefit Cost Rasio (BCR)


Perhitungan Benefit Cost Ratio (BCR) termasuk salah satu cara yang
sering digunakan dalam mengevaluasi perencanaan investasi suatu proyek
pekerjaan. BCR juga menjadi metode analisa tambahan untuk memvalidasi
hasil metode perhitungan kelayakan ekonomi lainnya (Avinda & Darjat,
2022). Metode perhitungan nilai BCR menggunakan persamaan berikut:

PWB
BCR = (2.15)
PWC

2.8.4 Payback Period (PBP)


Analisis payback period merupakan metode untuk mencari jangka
waktu pengembalian modal investasi dengan memperhitungkan discount
faktor dari arus kas bersih kumulatif yang ditaksir akan sama dengan investasi
awal ([Link]., 2022). Untuk menentukan payback period terdapat beberapa
kondisi yaitu:

26
1. Payback period yang memiliki jangka waktu pendek daripada perkiraan
umur proyek, maka dapat dikatakan layak / feasible.
2. Payback period yang memiliki jangka waktu yang lebih panjang dari
perkiraan usia proyek, maka dapat dikatakan tidak layak.
Pay back period dapat dihitung dengan menggunakan persamaan rumus
berikut sebagai berikut (Giatman, 2022):

Arus kas kumulatif tahun (n−1)


PBP = n + (2.16)
Arus kas bersih tahun n

27

Anda mungkin juga menyukai