0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan21 halaman

Proteksi Transmisi Tenaga Listrik

1. Dokumen ini membahas tentang proteksi transmisi tenaga listrik, termasuk pengertian, peralatan, cara kerja, dan penerapannya. Proteksi dipasang untuk mengamankan sistem transmisi listrik dan pekerja dari gangguan. 2. Peralatan proteksi transmisi listrik meliputi relay arus lebih, relay hubung tanah, relay diferensial, relay jarak, dan kawat tanah. Masing-masing bekerja untuk mendeteksi dan mengisolasi gangguan tertentu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan21 halaman

Proteksi Transmisi Tenaga Listrik

1. Dokumen ini membahas tentang proteksi transmisi tenaga listrik, termasuk pengertian, peralatan, cara kerja, dan penerapannya. Proteksi dipasang untuk mengamankan sistem transmisi listrik dan pekerja dari gangguan. 2. Peralatan proteksi transmisi listrik meliputi relay arus lebih, relay hubung tanah, relay diferensial, relay jarak, dan kawat tanah. Masing-masing bekerja untuk mendeteksi dan mengisolasi gangguan tertentu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Senin, 30 Mei 2011

Peralatan Proteksi Jaringan Transmisi


1. Pengertian Proteksi Transmisi Tenaga Listrik
Pengertian proteksi transmisi tenaga listrik adalah proteksi yang
dipasang pada peralatan-peralatan listrik pada suatu transmisi tenaga
listrik sehingga proses penyaluaran tenaga listrik dari tempat
pembangkit tenaga listrik(Power Plant) hingga Saluran distribusi listrik
(substation distribution) dapat disalurkan sampai pada konsumer
pengguna listrik dengan aman. Proteksi transmisi tenaga listrik
diterapkan pada transmisi tenaga listrik agar jika terjadi gangguan
peralatan yang berhubungan dengan transmisi tenaga listrik tidak
mengalami kerusakan. Ini juga termasuk saat terjadi perawatan dalam
kondisi menyala. Jika proteksi bekerja dengan baik, maka pekerja
dapat melakukan pemeliharaan transmisi tenaga listrik dalam kondisi
bertegangan. Jika saat melakukan pemeliharaan tersebut terjadi
gangguan, maka pengaman-pengaman yang terpasang harus bekerja
demi mengamankan sistem dan manusia yang sedang melakukan
perawatan.
Transmisi tenaga listrik terbagi dalam beberapa kategori. Kategori
yang pertama adalah transmisi dengan tegangan sebesar 500kV. Ini
merupakan transmisi yang sangat tinggi. Karena di Indonesia masih
menggunakan sistem 500 kV. Kategori yang kedua adalah transmisi
dengan tegangan sebesar 150 kV. Dan yang ketiga adalah transmisi
75 kV. Untuk dibawah 75 kV selanjutnya dinamakan dengan distribusi
tenaga listrik.
Proteksi berbeda dengan pengaman. Jika pengaman suatu sistem
berarti system tersebut tidak merasakan gangguan
sekalipun. Sedangkan proteksi atau pengaman sistem, sistem
merasakan gangguan tersebut namun dalam waktu yang sangat
singkat dapat diamankan. Sehingga sistem tidak mengalami
kerusakan akibat gangguan yang terlalu lama. Gangguan pada
transmisi tenaga listrik dapat berupa :
a. Gangguan transmisi akibat hubung singkat.
b. Gangguan transmisi akibat sambaran petir.
c. Gangguan transmisi akibat hilangnya salah satu kabel fasa
disebabkan dicuri oleh manusia
2. Peralatan Proteksi Transmisi Tenaga Listrik
Peralatan proteksi transmisi tenaga listrik diantaranya adalah :
a. Relay arus lebih
merupakan relay Pengaman yang bekerja karena adanya besaran
arus dan terpasang pada Jaringan Tegangan tinggi, Tegangan
menengah juga pada pengaman Transformator tenaga. Rele ini
berfungsi untuk mengamankan peralatan listrik akibat adanya
gangguan phasa-phasa.
b. Relay hubung tanah
Merupakan relay Pengaman yang bekerja karena adanya besaran
arus dan terpasang pada jaringan Tegangan tinggi,Tegangan
menengah juga pada pengaman Transformator tenaga.
c. Relay Diferensial
Relay diferensial ini berfungsi untuk mengamankan transformator
tenaga terhadap gangguan hubung singkat yang terjadi didalam
daerah pengaman transformator, yang disambung ke instalasi trafo
arus ( CT ) dikedua sisi

d. Relay jarak
a. Dapat menentukan arah letak gangguan
b. Gangguan didepan relai harus bekerja.
c. Gangguan dibelakang relai tidak boleh bekerja
d. Dapat menentukan letak gangguan.
e. Gangguan di dalam daerahnya relai harus bekerja.
f. Gangguan diluar daerahnya relai tidak boleh bekerja.
g. Dapat membedakan gangguan dan ayunan daya.
e. Kawat tanah
Kawat tanah atau overhead grounding adalah media pelindung kawat
fasa dari sambaran petir. Kawat ini dipasang diatas kawat fasa
dengan sudut perlindungan sekecil mungkin karena dianggap petir
menyambar diatas kawat. Pada umumnya ground wire terbuat dari
kawat baja (steel wire) dengan kekuatan St 35 atauSt 50, tergantung
dari spesifikasiyang ditentukan oleh PLN.
f. Pemutus Tenaga ( PMT )
Adalah alat untuk memisahkan / menghubungkan satu bagian
instalasi dengan bagian instalasi lain, baik instalasi dalam keadaan
normal maupun dalam keadaan terganggu. Batas dari bagian-bagian
instalasi tersebut dapat terdiri dari satu PMT atau lebih.

3. Cara Kerja Proteksi Transmisi Tenaga Listrik


a. Relay arus lebih
Jika dalam suatu transmisi terdapat gangguan yang berupa arus lebih,
maka dalam waktu yang singkat relay arus lebih akan bekerja
sehingga jaringan transmisi akan tidak terhubung sementara. Jika
gangguan telah hilang, maka jaringan transmisi akan terhubung
kembali. Macam-macam karakteristik relay arus lebih :
a. Relay waktu seketika (Instantaneous relay)
Relay yang bekerja seketika (tanpa waktu tunda) ketika arus yang
mengalir melebihi nilai settingnya, relay akan bekerja dalam waktu
beberapa mili detik (10 – 20 ms).
b. Relay arus lebih waktu tertentu (Definite time relay)
Relay ini akan memberikan perintah pada PMT pada saat terjadi
gangguan hubung singkat dan besarnya arus gangguan melampaui
settingnya (Is), dan jangka waktu kerja relay mulai pick up sampai
kerja relay diperpanjang dengan waktu tertentu tidak tergantung
besarnya arus yang mengerjakan relay.
c. Relay arus lebih waktu terbalik (Inverse Relay)
Relay ini akan bekerja dengan waktu tunda yang tergantung dari
besarnya arus secara terbalik (inverse time), makin besar arus makin
kecil waktu tundanya. Karakteristik ini bermacam-macam dan setiap
pabrik dapat membuat karakteristik yang berbeda-beda, karakteristik
waktunya dibedakan dalam tiga kelompok :
Standar invers, Very inverse, Extreemely inverse
b. Relay hubung tanah
Jika dalam transmisi tenaga listrik terjadi hubung singkat antara kabel
fasa dengan tanah, maka relay hubung tanah akan langsung bekerja
dalam waktu yang sangat singkat, sehingga sistem menjadi aman
karena tidak terjadi kerusakan yang sangat banyak.
c. Relay diferensial
Relay differensial adalah suatu alat proteksi yang sangat cepat
bekerjanya dan sangat selektif berdasarkan keseimbangan (balance)
yaitu perbandingan arus yang mengalir pada kedua sisi trafo daya
melalui suatu perantara yaitu trafo arus (CT). Dalam kondisi normal,
arus mengalir melalui peralatan listrik yang diamankan (generator,
transformator dan lain-lainnya).
Dalam kondisi normal, arus mengalir melalui peralatan listrik yang
diamankan (generator, transformator dan lain-lainnya). Arus-arus
sekunder transformator arus, yaitu I1 dan I2 bersikulasi melalui jalur
IA. Jika relay pengaman dipasang antara terminal 1 dan 2, maka
dalam kondisi normal tidak akan ada arus Jika terjadi gangguan diluar
peralatan listrik peralatan listrik yang diamankan (external fault), maka
arus yang mengalir akan bertambah besar, akan tetapi sirkulasinya
akan tetap sama dengan pada kondisi normal, sehingga relay
pengaman tidak akan bekerja untuk gangguan luar tersebut. Jika
gangguan terjadi didalam (internal fault), maka arah sirkulasi arus
disalah satu sisi akan terbalik, menyebabkan keseimbangan pada
kondisi normal terganggu, akibatnya arus ID akan mengalir melalui
relay pengaman dari terminal 1 menuju ke terminal 2. Selama arus-
arus sekunder transformator arus sama besar, maka tidak akan ada
arus yang mengalir melalui kumparan kerja (operating coil) relay
pengaman, tetapi setiap gangguan (antar fasa atau ke tanah) yang
mengakibatkan sistem keseimbangan terganggu, akan menyebabkan
arus mengalir melalui Operating Coil relay pengaman, maka relai
pengaman akan bekerja dan memberikan perintah putus (tripping)
kepada circuit breaker (CB) sehingga peralatan atau instalasi listrik
yang terganggu dapat diisolir. Adapun gambar kerja dari relai
differensial seperti gambar dibawah ini.

d. Relay jarak
Rele jarak merupakan proteksi yang paling utama pada saluran
transmisi. Rele jarak menggunakan pengukuran teganan dan arus
untuk mendapatkan impedansi saluran yang harus diamankan. Di
sebut rele jarak, karena impedansi pada saluran besarnya akan
sebanding dengan panjang saluran. Oleh karena itu, rele jarak tidak
tergantung oleh besarnya arus gangguan yang terjadi, tetapi
tergangung pada jarak gangguan yang terjadi terhadap rele proteksi.
Impedansi yang diukur dapat berupa Z, R saja ataupun X saja.
Tergantung rele yang dipakai.
Relai jarak mengukur tegangan pada titik relai dan arus gangguan
yang terlihat dari relai, dengan membagi besaran tegangan dan arus,
maka impedansi sampai titik terjadinya gangguan dapat ditentukan.
Perhitungan impedansi dapat dihitung menggunakan rumus sebagai
berikut:
Zf=Vf/If
Dimana:
Zf = Impedansi (ohm)
Vf = Tegangan (Volt)
If = Arus gangguan
Relai jarak akan bekerja dengan cara membandingkan impedansi
gangguan yang terukur dengan impedansi setting, dengan ketentuan:
a. Bila harga impedansi gangguan lebih kecil dari pada impedansi
seting relai maka relai akan trip.
b. Bila harga impedansi ganguan lebih besar daripada impedansi
setting relai maka relai akan tidak trip.
e. Kawat tanah
Kawat tanah atau overhead grounding adalah media pelindung kawat
fasa dari sambaran petir. Kawat ini dipasang diatas kawat fasa
dengan sudut perlindungan sekecil mungkin karena dianggap petir
menyambar diatas kawat. Kawat ini merupakan proteksi transmisi
tenaga listrik yang bersifat pasif. Jika terjadi sambaran petir, maka
kawan ini akan mebyalurkan arus petir langsung ketanah. Sehingga
sistem transmisi aman dari gangguan. Kawat yang bagus adalah yang
memiliki tahanan kurang dari 4 ohm. Jika lebih dari 4 ohm, maka arus
yang mengalir tidak bisa cepat, dapat menyebabkan putusnya kawat
atau terjadinya flashover antara kawat dasa dengan kawat tanah.
f. Pemutus tenaga (PMT)
PMT termasuk proteksi terhadap transmisi tenaga listrik. PMT dapat
membuka dan menutup baik secara otomatis maupun secara manual.
Sehingga, jika transmisi sedang dalam pemeliharaan, maka jaringan
transmisi dapat diputus sementara.
4. Penerapan Proteksi Transmisi Tenaga Listrik
Proteksi transmisi tenaga listrik diberlakukan di semua transmisi
tenaga listrik. Namun, untuk pemasangannya hanya berada di gardu
induk. Pemasangannya pada saluran masuk ke gardu induk dan di
saluran keluar garu induk. Sehingga jika jaringan transmisis terjadi
gangguan, maka gardu induk tidak mengalami kerusakan. Jika terjadi
kerusakan, maka kerusakannya minimal. Kecuali kawat tanah. Kawat
tanah dipasang diatas kawat fasa yang berfungsi untuk melindungi
kawat fasa dari sambaran petir. Sehingga pemasanggannya berada
diseluruh jaringan transmisi tenaga listrik.

Gambar pemasangan relai untuk memproteksi arus lebih pada


jaringan transmisi disebuah gardu induk

5. Pencegahan Gangguan Transmisi Tenaga Listrik


Pencegahan gangguan pada jaringan transmisi sangat penting
dilaksanakan karena jaringan tranmisi merupakan penyalur utama dari
energi listrik untuk sampai ke jaringan distribusi dan seterusnya
sampai ke konsumen. Jika jaringan transmisi menyalurkan secara
baik maka energi listrik tidak akan terputus-putus. Pencegahan
gangguan bertujuan untuk mengecilkan dari frekuensi terjadinya
hambatan penyaluran energi listrik.
1. Usaha Memperkecil Terjadinya Gangguan
Cara yang ditempuh, antara lain:
a. Membuat alat proteksi sesuai dengan fungsinya masing-masing
dan dapat bekerja dengan cepat jika terjadi gangguan sehingga tidak
menyebabkan kerusakan pada sistem jaringan.
b. Menyetting relay proteksi sesuai dengan waktu kerjanya. Arus atau
tegangan kerja relay harus lebih besar dari arus dan tegangan normal,
sehingga relay dapat bekerja sesuai fungsinya
c. Membuat isolasi yang baik untuk semua peralatan transmisi
d. Membuat koordinasi isolasi yang baik antara ketahanan isolasi
peralatan transmisi dan penangkal petir (arrester)
e. Memakai kawat tanah dan membuat tahanan tanah pada kaki
menara sekecil mungkin, serta selalu mengadakan pengecekan
f. Membuat perencanaan yang baik untuk mengurangi pengaruh
dan mengurangi atau menghindarkan sebab-sebab gangguan karena
hubungsingkat dan sambaran petir.
g. Pemasangan yang baik, artinya pada saat pemasangan harus
mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku
h. Menghindari kemungkinan kesalahan operasi, yaitu dengan
membuat prosedur tata cara operasional (standing operational
procedur) dan membuat jadwal pemeliharaan yang rutin
i. Memasang kawat tanah pada SUTT dan gardu induk untuk
melindungi terhadap sambaran petir
j. Memasang lightning arrester (penangkal petir) untuk mencegah
kerusakan pada peralatan akibat sambaran petir.

2. Usaha Mengurangi Kerusakan Akibat Gangguan


Beberapa cara untuk mengurangi pengaruh akibat gangguan, antara
lain sebagai berikut:
a. Secepatnya memisahkan bagian sistem yang terganggu dengan
memakai pengaman dan pemutus beban dengan kapasitas
pemutusan yang memadai yang di perintah otomatis oleh relay
proteksi.
b. Merencanakan agar bagian sistem yang terganggu bila harus
dipisahkan dari sistem tidak akan menganggu operasi sistem secara
keseluruhan atau penyaluran tenaga listrik ke jaringan distribusi tidak
terganggu.
c. Mempertahankan stabilitas sistem selama terjadi gangguan, yaitu
dengan memakai pengatur tegangan otomatis yang cepat dan
karakteristik kestabilan generator memadai.
Rabu, 06 Juni 2012

“PROTEKSI SISTEM TENGA LISTRIK”


“PROTEKSI SISTEM TENGA LISTRIK”

Pidelis S Purba
5103331026
Program Studi Pend. Teknik Elektro
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Medan

Abstrak

Sistem proteksi tenaga listrik pada umumnya terdiri dari beberapa komponen yang di
rancang untuk mengidentifikasi kondisi sistem tenaga listrik dan bekerja berdasarkan informasi
yang diperoleh dari sistem tersebut seperti arus, tegangan atau sudut fasa antara keduanya.
Informasi yang diperoleh dari sistem tenaga listrik akan digunakan untuk membandingkan
besarannya dengan besaran ambang-batas (threshold setting) pada peralatan
proteksi. Apabila besaran yang diperoleh dari sistem melebihi setting ambang-batas peralatan
proteksi, maka sistem proteksi akan bekerja untuk mengamankan kondisi tersebut. Peralatan
proteksi pada umumnya terdiri dari beberapa elemen yang dirancang untuk mengamati kondisi
sistem dan melakukan suatu tindakan berdasarkan kondisi sistem

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proteksi transmisi tenaga listrik sangat penting dalam proses penyaluran daya dari satu
tempat ke tempat yang lain. Ini dikarenakan prinsip dalam transmisi tenaga listrik yang baik
salah satunya adalah aman selain andal dan ekonomis. Proteksi tenaga listrik merupakan bagian
yang menjamin bahwa dalam transmisi tenaga lisrik dapat dikatakan aman. Dapat dikatakan
aman karena dalam transmisi tenaga listrik akan diberikan suatu alat yang berfungsi untuk
mengamankan transmisi dari gangguan bahkan mengamankan manusia dari bahaya yang
ditimbulkan oleh pemindahan daya listrik dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Proteksi transmisi tenaga listrik sangat diperlukan dalam transmisi tenaga listrik. Dengan
proteksi yang bagus, maka transmisi tidak akan rusak ketika ada sebuah gangguan yang bersifat
sementara. Jika proteksi transmisi tenaga listrik baik, maka nilai ekonomis dapat diperoleh
karena jika dalam suatu transmisi terjadi gangguan, maka kerusakan peralatan tidak dapat
menyebar keperalatan yang lain dikarenakan ada sebuah proteksi transmisi. Nilai ekonomis dan
aman dapat dipadukan menjadi nilai andal. Andal yang dimaksud disini adalah tidak
membahayakan manusia yang berada disekitar transmisi tenaga listrik sehingga manusia yang
berada disekitar transmisi ini tidak mengalami gangguan kesehatan maupun gangguan material.
Pembuatan karya tulis ini berdasarkan tugas mata kuliah konsentrasi yaitu sistem
proteksi. Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah tersebut,

B. Rumusan masalah

Dalam karya tulis ini saya akan membahas beberapa permasalasahan. Diantaranya adalah
:
1. Apakah Pengertian Proteksi Transmisi Tenaga Listrik?
2. Apa saja yang termasuk dalam alat proteksi tenaga listrik?
3. Bagaimana proteksi transmisi tenaga listrik itu bekerja?
4. Dimanakah proteksi transmisi tenaga listrik diterapkan?
C. Batasan Masalah

Mengingat permasalahan dalam gangguan pada sistem tenaga listrik sangat luas maka
penulisan makalah ini akan dibatasi pada pengertian proteksi transmisi tenaga listrik, bagaimana
proteksi tersebut bekerja, dimana letak porteksi tersebut, dan apa saja alatnya.

D. Tujuan

Tujuan penyusun karya tulis ini yang pertama adalah untuk memenuhi tungas mata kuliah
sistem proteksi sistem tenaga listrik. Yang kedua adalah agar para penyusun mendapatkan ilmu
dan kompetensi yang lebih dalam hal proteksi, terutama proteksi transmisi tenaga listrik. Yang
ketiga adalah agar karya tulis ini dapat dijadikan sumber referensi oleh para pembaca sebagai
dasar pemikiran untuk dikembangkan atau untuk dilengkapi.

E. Manfaat
Manfaat yang diperoleh setelah membaca karya tulis ini adalah pembaca mengetauhi
proteksi transmis tenaga listrik yang digunakan pada umumnya, bagaimana proteksi tersebut bisa
bekerja, penerapannya dibagian sebelah mana, dan macam alat pengaman transmisi tenaga
listrik.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Proteksi Transmisi Tenaga Listrik

Gambar 1. Gambar jaringan sistem tenaga listrik

Pengertian proteksi transmisi tenaga listrik adalah adalah proteksi yang dipasang pada
peralatan-peralatan listrik pada suatu transmisi tenaga listrik sehingga proses penyaluran tenaga
listrik dari tempat pembangkit tenaga listrik(Power Plant) hingga Saluran distribusi listrik
(substation distribution) dapat disalurkan sampai pada konsumer pengguna listrik dengan aman.
Proteksi transmisi tenaga listrik diterapkan pada transmisi tenaga listrik agar jika terjadi
gangguan peralatan yang berhubungan dengan transmisi tenaga listrik tidak mengalami
kerusakan. Ini juga termasuk saat terjadi perawatan dalam kondisi menyala. Jika proteksi bekerja
dengan baik, maka pekerja dapat melakukan pemeliharaan transmisi tenaga listrik dalam kondisi
bertegangan. Jika saat melakukan pemeliharaan tersebut terjadi gangguan, maka pengaman-
pengaman yang terpasang haurus bekerja demi mengamankan sistem dan manusia yang sedang
melaukukan perawatan.
Tujuan dari sistem proteksi adalah
 untuk mengidentifikasi gangguan, memisahkan bagian instalasi yang terganggu dari
bagian lain yang masih normal dan sekaligus mengamankan instalasi dari kerusakan atau
kerugian yang lebih besar, serta memberikan informasi / tanda bahwa telah terjadi gangguan,
yang pada umumnya diikuti dengan membukanya PMT.
 Pemutus Tenaga ( PMT ) untuk memisahkan / menghubungkan satu bagian instalasi
dengan bagian instalasi lain, baik instalasi dalam keadaan normal maupun dalam keadaan
terganggu. Batas dari bagian-bagian instalasi tersebut dapat terdiri dari satu PMT atau
lebih Sedangkan untuk syarat yang harus dimiliki oleh sebuah sistem proteksi adalah Sensitif :
yaitu mampu merasakan gangguan sekecil apapun

1. Andal : yaitu akan bekerja bila diperlukan (dependability) dan tidak akan bekerja
bila tidak diperlukan (security).
2. Selektif : yaitu mampu memisahkan jaringan yang terganggu saja.
3. Cepat : yaitu mampu bekerja secepat-cepatnya

Proteksi ini berbeda dengan pengaman. Jika pengaman suatu sistem berarti system tersebut
tidak merasakan gangguan sekalipun. Sedangkan proteksi atau pengaman sistem, sistem
merasakan gangguan tersebut namun dalam waktu yang sangant singkat dapat diamankan.
Sehingga sistem tidak mengalami kerusakan akibat gangguan yang terlalu lama. Gangguan pada
transmisi tenaga listrik dapat berupa :
 GANGGUAN SISTEM
Gangguan sistem adalah gangguan yang terjadi di sistem tenaga listrik seperti pada
transformator, reaktor, kapasitor, busbar, SUTT, SKTT, SUTET dan lain sebagainya. Gangguan
sistem dapat dikelompokkan sebagai gangguan permanen dan gangguan temporer.
 GANGGUAN NON SISTEM
Gangguan non sistem adalah gangguan bukan pada sistem, jenis nya antara lain
kerusakan komponen relai, kabel kontrol terhubung singkat dan interferensi / induksi pada kabel
kontrol.
Dan untuk jenis tipe gangguan pada sistem proteksi terdiri dari
• Gangguan Fasa
Terhubungnya dua fasa atau lebih, secara langsung atau [Link] gangguan hubung
singkat dua fasa dan tiga fasa. Hubung singkat ditandai dengan:
- Turunnya tegangan sistem jaringan.
- Kenaikan arus dalam waktu yang sangat pendek
Gangguan Tanah
Terhubungnya satu fasa atau lebih dengan tanah, secara langsung atau tidak langsung. (tiang,
badan trafo, selubung timah kabel).

2. Relay Proteksi

Gambar 2. Skema diagram relay proteksi

• ELEMEN PEMBANDING
Elemen ini berfungsi menerimabesaran setelah terlebih dahulu besaran itu diterima oleh
elemen pengindera untukmembandingkan besaran listrikpada saat keadaan normal
denganbesaran arus kerja relai.
• ELEMEN PENGINDERA
Elemen ini berfungsi untukmerasakan besaran-besaran listrik,seperti arus, tegangan,
frekuensi,dan sebagainya tergantung relai yang dipergunakan.
Pada bagian ini besaran yang masuk akan dirasakan keadaannya,apakah keadaan yang
diproteksi itu mendapatkan gangguan atau dalam keadaan normal, untuk selanjutnya besaran
tersebut dikirimkan keelemen pembanding.
• ELEMEN PENGUKUR
Elemen ini berfungsi untuk mengadakan perubahan secara cepet pada besaran ukurnya
dan akan segera memberikan isyarat untuk membuka PMT atau memberikan sinyal.
Relay adalah Sebuah alat yang bertugas menerima/mendeteksi besaran tertentu untuk
kemudian mengeluarkan perintah sebagai tanggapan (respons) atas besaran yang dideteksinya.
Berdasarkan cara mendeteksi besaran:
a) Relay Primer; besaran yang dideteksi misalnya arus, dideteksi secara langsung.
b) Relay Sekunder; besaran yang dideteksi, melalui alat-alat bantu misalnya trafo arus/trafo
tegangan
Konstruksi Relay terdiri dari dua bagian utama yaitu kumparan magnit dan kumparan induksi
3. Jenis-jenis Relay

a) Relay Arus Lebih


Merupakan rele Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus dan terpasang pada
Jaringan Tegangan tinggi, Tegangan menengah juga pada pengaman Transformator tenaga. Rele
ini berfungsi untuk mengamankan peralatan listrik akibat adanya gangguan phasa-phasa.
Jenis Relay Arus Lebih:
 Relay invers; waktu kerjanya tergantung kepada besarnya arus hubung singkat,
makin besar makin cepat. Pada koordinasi antara relay-relay invers berlaku koordinasi arus dan
waktu sekaligus.
 Relay Cepat; digunakan dalam kombinasi dengan relay definit/invers apabila
diperlukan waktu kerja yang lebih cepat misalnya jika terjadi gangguan dengan arus hubung
singkat besar.

 Relay Definit; bekerjanya tidak tergantung kepada besarnya arus hubung singkat
yang melaluinya. Waktu kerjanya disetel tertentu dan biasanya dikoordinasikan dengan waktu
kerja pengaman didepan dan dibelakangnya.
Gambar 3. Bentuk fisik dari relay arus lebih
b) Relay Diffrensial
Relay Differensial pada prinsipnya adalah sama saja dengan relay arus lebih hanya saja lebih
peka karena harus bekerja terhadap arus yang kecil. Perbedaan dengan relay arus lebih terletak
pada rangkaian listrik yang bertugas mendeteksi arus.
Gambar 4. Skema dan bentuk fisik relay diffrensial
c. Relai gangguan tanah terbatas
Rele Gangguan Tanah Terbatas ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap
tanah didalam daerah pengaman transformator khususnya untuk gangguan didekat titik netral
yang tidak dapat dirasakan oleh RELE differential, yang disambung ke instalasi trafo arus ( CT )
dikedua sisi.

Gambar 5. Single diagram Rele Gangguan Tanah Terbatas

d. Relai Bucholtz
Rele Bucholtz berfungsi untuk mendeteksi adanya gas yang ditimbulkan oleh loncatan
( bunga ) api dan pemanasan setempat dalam minyak transformator. Penggunaan rele deteksi gas
(Bucholtz) pada Transformator terendam minyak yaitu untuk mengamankan transformator yang
didasarkan pada gangguan Transformator seperti : arcing, partial discharge, over heating yang
umumnya menghasilkan gas.

Gambar 6. Bentuk fisik dari relai Bucholtz


e. Relai jansen
Relai Jansen berfungsi untuk mengamankan pengubah tap (tapchanger) dari
transformator.
 Tap changer adalah alat yang terpasang pada trafo,berfungsi untukmengatur tegangan
keluaran (sekunder) akibat beban maupun variasitegangan pada sistem masukannya (input).
 Tap changer umumnya dipasang pada ruang terpisah dengan ruang untuktempat
kumparan,dimaksudkan agar minyak tap changer tidak bercampurdengan minyak tangki utama.
 Untuk mengamankan ruang diverter switch apabila terjadi gangguan padasistem tap
changer ,digunakan pengaman yang biasa disebut :RELE JANSEN (bucholznya Tap changer).
 Jenis dan tipe rele jansen bermacam-macam bergantung pada merk Trafo:misalnya RS
1000,LF 15,LF 30.
 Rele jansen dipasang antara tangki tap changer dengan konservator minyaktap changer.

Gambar 7. Bentuk fisik dari relai Jensen

F. Relai zero sequenze current


Konstruksi dan prinsif kerjanya adalah seperti relay arus lebih, hanya rangkaian arusnya
yang bertugas mendeteksi arus zero sequenze yang berbeda. Juga karena arus zero sequenze ini
ordenya lebih kecil maka relay arus zero sequenze ini juga harus lebih peka dari relai arus lebih.

Dalam keadaan normal maka arus dalam setiap fasa I R, IS, dan IT sama besarnya (Simetris)
masing-masing berbeda fasa 1200 , sehingga arus melewati kumparan Zo =0. tetapi apabila ada
gangguan hubung tanah maka keadaan arus setiap fasa tidak simetris lagi dan mengalirkan
komponen arus urutan nol lewat kumparan Zo sehingga relai arus zero Sequenze bekerja.
Gambar 8. Rangkaian arus relai zero sequencec cureent dan diagram vektornya

G. Relai tekan lebih


Rele Tekanan Lebih ini berfungsi mengamankan tekanan lebih pada transformator,
dipasang pada transformator tenaga dan bekerja dengan menggunakan [Link] lebih
terjadi karena adanya flash over atau hubung singkat yang timbul pada belitan transformator
tenaga yang terendam minyak, lalu berakibat decomposisi dan evaporasi minyak, sehingga
menimbulkan tekanan lebih pada tangki transformator.

Gambar 9. Bentuk fisik dari relai tekan lebih

H. Relai Impedansi
Relay impedansi disebut juga relay jarak atau impedance relay atau Distance
relay. Disebut relay impedansi karena mendeteksi impedansi tapi disebut relay jarak karena
bersifat mengukur jarak. Rele ini mempunyai beberapa karaktristik seperti mho, quadralateral,
reaktans, dll. Sebagai unit proteksi relai ini dilengkapi dengan pola teleproteksi seperti putt, pott
dan blocking. Jika tidak terdapat teleproteksi maka rele ini berupa step distance saja
I. Directional Comparison Relay.
Relai penghantar yang prinsip kerjanya membandingkan arah gangguan, jika kedua relai pada
penghantar merasakan gangguan di depannyamaka relai akan bekerja. Cara kerjanya ada yang
menggunakan directional impedans, directional current dan superimposed

Gambar 11. Gambar single line diagram directional comparison relai

J. Relai hubung tanah (GFR)


Rele hubung tanah merupakan rele Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus
dan terpasang pada jaringan Tegangan tinggi,Tegangan menengah juga pada pengaman
Transformator tenaga.
Gambar 12. Diagram Pengaman arus lebih dengan 3 OCR + GFR

K. Circuit Breaker (CB)


Circuit Breaker (CB) adalah salah satu peralatan pemutus daya yang berguna untuk
memutuskan dan menghubungkan rangkaian listrik dalam kondisi terhubung ke beban secara
langsung dan aman, baik pada kondisi normal maupun saat terdapat gangguan. Berdasarkan
media pemutus listrik / pemadam bunga api, terdapat empat jenis CB sbb:
1. Air Circuit Breaker (ACB), menggunakan media berupa udara.
2. Vacuum Circuit Breaker (VCB), menggunakan media berupa vakum.
3. Gas Circuit Breaker (GCB), menggunakan media berupa gas SF6.
4. Oil Circuit Breaker (OCB), menggunakan media berupa minyak.
Berikut ini adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu peralatan untuk menjadi pemutus
daya :
a. Mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara kontinu.
b. Mampu memutuskan atau menutup jaringan dalam keadaan berbeban ataupun dalam keadaan
hubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus daya itu sendiri.
c. Mampu memutuskan arus hubung singkat dengan kecepatan tinggi.

L. Relay Suhu
Relay ini digunakan untuk mengamankan transformator dari kerusakan akibat adanya
suhu yang berlebihan. Ada 2 macam relay suhu pada transformator, yaitu :

a. Relay Suhu Minyak


Relay ini dilengkapi dengan sensor yang dipasang pada minyak isolasi transformator.
Pada saat transformator bekerja memindahkan daya dari sisi primer ke sisi sekunder, maka akan
timbul panas pada minyak isolasi, akibat rugi daya maupun adanya gangguan pada
transformator.

b. Relay Suhu Kumparan


Relay ini hampir sama dengan relay suhu minyak. Perbedaannya terletak pada sensornya.
Sensor relay suhu kumparan berupa elemen pemanas yang dialiri arus dari transformator arus
yang dipasang pada kumparan-kumparan transformator.

Gambar 13. Rangakaian relai suhu

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
ü Proteksi transmisi tenaga listrik adalah adalah proteksi yang dipasang pada peralatan-peralatan
listrik pada suatu transmisi tenaga listrik sehingga proses penyaluran tenaga listrik dari tempat
pembangkit tenaga listrik(Power Plant) hingga Saluran distribusi listrik (substation distribution)
dapat disalurkan sampai pada konsumer pengguna listrik dengan aman.
ü Relay adalah Sebuah alat yang bertugas menerima/mendeteksi besaran tertentu untuk kemudian
mengeluarkan perintah sebagai tanggapan (respons) atas besaran yang dideteksinya.
DAFTAR PUSTAKA
ABB. 2007. “ANSI / IEC three-phase recloser OVR” [Link] Download 16th
November 2007
Arismunandar, A dan Kuwahara, S. 1972. Teknik Tenaga Listrik, jilid III gardu [Link]:
PT. Pradnya Paramita

Anda mungkin juga menyukai