Konsep Pengukuran Kinerja
Kemampuan untuk mengelola informasi untuk pengambilan keputusan yang
membawa keberhasilan organisasi sangatlah penting. Kata yang penting dalam hal ini
adalah performansi. Dalam lingkup organisasi, performansi dapat diklasifikasikan dalam
beberapa level, yaitu level organisasi atau perusahaan, level unit kerja, dan level
individu. Berbagai metode dan aktivitas dikembangkan untuk dapat mencapai
performansi yang maksimal; termasuk teknik-teknik manajemen untuk memastikan
performansi tercapai.
Banyak definisi tentang performansi, masing-masing ahli manajemen
mendefinisikannya secara beragam. Menurut Bernardin dan Russel (1993),
“Performansi adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi
pekerjaan atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu”.(Sulisworo, 2009).
Kinerja (performance) adalah tingkat prestasi atau hasil nyata yang dihitung secara
periodik baik kualitas maupun kuantitas berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang
telah ditetapkan sebelumnya sebagai hasil kewenangan dan tanggung jawab sebuah
pekerjaan dalam suatu perusahaan atau organisasi. (Effendi, 2008).
Kinerja merupakan hasil fungsi pekerjaan atau kegiatan seseorang dalam suatu
organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk mencapai tujuan organisasi
dalam periode waktu tertentu. Kinerja adalah keberhasilan personel, tim atau unit
organisasi dalam mewujudkan sasaran strategik yang telah ditetapkan sebelumnya
dengan perilaku yang diharapkan.(Riadi, 2020)
Istilah kinerja (performance) mulai dikenal seiring dengan berkembangnya
paradigma New Public Management (NPM) (West & Blackman, 2015). Perubahan
paradigma ilmu administrasi dari Old Public Administration menjadi NPM kemudian
membawa konsekuensi terhadap tuntutan reformasi birokrasi dan kualitas pelayanan
publik yang semakin tinggi bagi masyarakat.
Manajemen pemerintah tidak lagi berfokus pada streering (mengarahkan),
melainkan rowing (mengayuh). Dengan kata lain, penyelenggaraan pelayanan publik
tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan diserahkan kepada
masyarakat melalui mekanisme pasar sebagaimana konsep reinventing government
yang dicetuskan oleh Osborne & Gaebler (1993).
Dalam perkembangannya, kinerja (performance) diartikan sebagai tingkat
pencapaian hasil atau degree of accomplishment. Dalam konteks ini, kinerja harus
dapat menggambarkan hasil yang diraih, bukan sekedar cara kerja, proses,
kemampuan, maupun perilaku individu. Adapun pencapaian hasil yang dimaksud yaitu
pencapaian hasil yang diraih oleh individu (kinerja individu), kelompok (kinerja
kelompok), institusi (kinerja organisasi), dan oleh suatu program atau kebijakan (kinerja
program/kebijakan), sebagaimana dijelaskan berikut ini (Moeheriono, 2012: 68 - 69):
Pengukuran kinerja didefinisikan sebagai moitoring dan pelaporan program
berjalan yang harus diselesaikan untuk mencapaia tujuan yang telah ditentukan. Kinerja
yang diukur dapat ditekankan pada jenis atau level program ynag dijalankan (proses),
produk atau layanan langsung yang dihasilkan (output), maupun hasil ataupun dampak
dari produk atau layanan (outcome). Program yang dimaksud dapat berupa aktivitas,
projek, fungsi, atau kebijakan yang telah teridentifikasi tujuannya atau sasarannya.
(Sulisworo, 2009)
Menurut Yuwono (2002), pengukuran kinerja merupakan proses mencatat dan
mengukur pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam arah pencapaian misi (mission
accomplishment) melalui hasil-hasil yang ditampilkan berupa produk, jasa ataupun
suatu proses. Sedangkan menurut Mahmudi (2010), pengukuran kinerja adalah suatu
proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang
telah ditentukan, termasuk informasi atas efisiensi penggunaan sumber daya dalam
menghasilkan barang atau jasa, kualitas barang atau jasa, perbandingan hasil kerja
dengan target dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan.(Adiputri & Sinarasri,
2013)
Dari berbagai pengertian kinerja, pada dasarnya kinerja menekankan pada apa
yang dihasilkan (output) atau manfaat apa yang dikeluarkan (outcome) dari fungsifungsi
suatu pekerjaan melalui sebuah proses pengelolaan input. Selanjutnya, untuk
mengetahui sejauh mana kinerja tersebut berfungsi, diperlukan sebuah sistem
pengukuran atau biasa dikenal dengan sistem pengukuran kinerja.
Pengukuran kinerja (Performance Measurement) merupakan siklus dari sistem
manajemen kerja (performance management system) (Suwignjo dan Vanany, 2003).
Menurut Bacal (2002), manajemen kinerja merupakan proses komunikasi yang
berlangsung terusmenerus, yang dilaksanakan berdasarkan kemitraan, antara seorang
karyawan dengan penyedia langsungnya (Sriwidadi, 2012).
Implementasi Sistem Pengukuran Kinerja (Performance Measurement System)
dalam organisasi seringkali belum dipahami, apa itu performance measure,
Performance Measurement dan Performance Measurement System. Performance
measure didefinisikan sebagai matriks yang menunjukkan efesiensi dan atau efektifitas
dari suatu tindakan.
Pengukuran Kinerja (Performance Measurement) didefinisikan sebagai proses
untuk mengkuantifisir efisiensi dan efektifitas suatu aktivitas. Sedangkan Sistem
Pengukuran Kinerja (Performance Measurement System) didefinisikan sebagai
sekumpulan metrik yang terstruktur (bukan acak) dan prosedur-prosedur yang
digunakan untuk mengkuantifisir efesiensi dan efektifitas suatu aktivitas.(Broad &
Javadi, 2009) Performance measurement merupakan siklus dari performance
measurement system.
Pengukuran kinerja adalah proses pengukuran (assessment) kemajuan
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya, termasuk informasi mengenai
efisiensi atas output yang dihasilkan, kualitas output, termasuk kualitas layanan yang
diberikan, dan hasil-hasil aktivitas program. Pengukuran kinerja juga diartikan sebagai
cara pemerintah untuk menentukan apakah mereka telah menghasilkan produk yang
berkualitas dengan biaya yang masuk akal.
Pengukuran kinerja dimaksudkan untuk mengukur kinerja organisasi, termasuk
pengukuran atas Produktivitas, Efektivitas, Kualitas dan Ketepatan waktu.(Effendi,
2008) Performance Planning: Goal Setting, target setting resource bargaining
Performance Accomplishment Performance Measurement/performance appraisal
Performance Improvement Model Sistem Pengukuran Kinerja Didalam merancang
sistem pengukuran kinerja organisasi dibutuhkan model yang mampu memotret kinerja
secara kesulurahan dari organisasi.
Telah banyak model Sistem Pengukuran Kinerja (SPK) terintegrasi berhasil dibuat
oleh para akademisi dan praktisi (Vanany, 2003) Model-model Sistem Pengukuran
Kinerja (SPK) tersebut antara lain:
1. Balance Scorecard (BSC)
Sampai saat ini Balance Scorecard adalah model terpopuler untuk Sistem
Pengukuran Kinerja (SPK) baru yang telah dikembangkan. Kerangka kerja
Balance Scorecard menggunakan empat perspektif (finansial, pelanggan, proses
bisnis internal, dan proses belajar & pertumbuhan) dengan titik awal strategi
sebagai dasar perancangan SPK.
2. Sustainability Balance Scorecard (SBSC)
Model SBSC merupakan perluasan dari model Balance Scorecard dengan
penambahan aspek lingkungan dan sosial. Sustainability Balance Scorecard
(SBSC) memperlihatkan hubungan kausal antara kinerja ekonomi, lingkungan
dan sosial dari perusahaan.
3. Cambridge model
Model Cambridge menggunakan product group sebagai dasar untuk
mengidentifikasi Key Performance indicator (KPI) dan dari pengelompokan
produk tersebut dilakukan penentuan tujuan bisnis untuk product group-nya.
4. Integrated Performance Measurement System (IPMS)
Model IPMS merupakan model SPK yang bertujuan agar sistem pengukuran
kinerja lebih robust, terintegrasi, efektif dan efesien. Model IPMS menjadikan
keinginan stakeholder menjadi titik awal dalam melakukan perancangan SPK.
5. Integrated Environment Performance Measurenment System (IEPMS)
Integrated Environment Performance Measurenment System (IEPMS)
merupakan model sistem pengukuran kinerja yang berkaitan dengan lingkungan.
IEPMS menggunakan ukuran-ukuran kuantitatif dan kualitatif yang digunakan
secara bersama-sama.