Nama : FAISAL RIFKI KAFIL
TTL : Sukabumi, 16 Januari 1986
NIP : 8610983 Z
Unit : PT PLN (persero) Udiklat Suralaya
Control Engineering telah berkembang dari waktu ke
waktu. Dahulu, manusia berperan sebagai pengendali utama
sistem. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kini
peranan manusia hanyalah memonitor sistem, dan
pengendali utama adalah Controller.
Sistim Kerja
4 2
1. Sensor mengambil data
lapangan
2. Controller mengolah data
tersebut, dan
mengeluarkan perintah
ke control valve
3. Control Valve bekerja
sesuai perintah dari
controller
3 4. Komputer mencatat dan
menampilkan
1 gambar/grafik pada layar
operator
Dari banyak tipe Controller saat ini, yang paling populer
adalah PLC (Programmable Logic Controller)
NEMA (National Electrical Manufactures Association)
ICS3 - 1978 Part ICS3 -304:
“PLC adalah suatu peralatan elektronik yang bekerja secara
digital, memiliki memori yang dapat diprogram, menyimpan
perintah-perintah untuk melakukan fungsi-fungsi khusus,
seperti logic, sequencing, timing, counting dan arithmatic
untuk mengontrol berbagai jenis mesin atau proses melalui
modul input / output analog atau digital”
Programmable, menunjukkan kemampuan dalam
P hal memori untuk menyimpan program dan program
tersebut dapat diubah-ubah apabila diperlukan
Logic, menunjukkan kemampuan dalam
L memproses input secara aritmatik dan logic (ALU)
seperti penjumlahan, pembandingan, AND, OR, dll
Controller, menunjukkan kemampuan dalam
C mengontrol dan mengatur proses sehingga
menghasilkan output yang diinginkan
PLC dirancang untuk menggantikan suatu rangkaian relai
sequensial dalam suatu sistem kontrol. Selain dapat
diprogram, PLC juga dapat dikendalikan, dan dioperasikan
oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan di bidang
pengoperasian komputer secara khusus.
PLC ini memiliki bahasa pemrograman yang mudah dipahami
dan dapat dioperasikan bila program yang telah dibuat
dengan menggunakan software yang sesuai dengan jenis PLC
yang digunakan.
PLC bekerja berdasarkan input-input yang ada dan tergantung
dari keadaan pada suatu waktu tertentu yang kemudian akan
meng-ON atau meng-OFF kan output-output.
“1” menunjukkan bahwa keadaan yang diharapkan terpenuhi
sedangkan “0” berarti keadaan yang diharapkan tidak
terpenuhi. PLC juga dapat diterapkan untuk pengendalian
sistem yang memiliki banyak output.
Secara umum fungsi PLC adalah sebagai berikut:
1. Sekuensial Control. PLC memproses input sinyal biner menjadi
output yang digunakan untuk keperluan pemrosesan teknik secara
berurutan (sekuensial), disini PLC menjaga agar semua step atau
langkah dalam proses sekuensial berlangsung dalam urutan yang
tepat.
2. Monitoring Plant. PLC secara terus menerus memonitor status suatu
sistem (misalnya temperatur, tekanan, tingkat ketinggian) dan
mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan proses
yang dikontrol (misalnya nilai sudah melebihi batas) atau
menampilkan pesan tersebut pada operator
Prinsip kerja sebuah PLC adalah menerima sinyal masukan
proses yang dikendalikan lalu melakukan serangkaian instruksi
logika terhadap sinyal masukan tersebut sesuai dengan
program yang tersimpan dalam memori lalu menghasilkan
sinyal keluaran untuk mengendalikan aktuator atau peralatan
lainnya.
Keuntungan menggunakan PLC antara lain:
[Link] pengawatannya relatif sedikit.
2. Suku cadangnya relatif mudah dicari.
3. Perbaikan (maintenance) nya relatif mudah.
4. Pelacakan kesalahan pada sistem lebih mudah.
5. Konsumsi daya listrik relatif lebih rendah.
6. Modifikasi sistem lebih sederhana dan cepat.
PLC yang kita kenal sekarang adalah hasil
penyempurnaan dari PLC-PLC generasi sebelumnya.
Pada awal perkembangannya PLC hanya dapat
digunakan untuk proses Logic saja (On-Off) akan tetapi
saat ini PLC tidak hanya dapat memproses Logic,
namun juga dapat memproses bilangan Analog,
perhitungan algoritma, pembanding (Comparator),
bahkan perhitungan rumit seperti rumusan PID.
PLC kini sudah jauh berkembang dari awal mula
diciptakan.
Sebelum Tahun 1960 Tahun 1960-an
GM Hydramatic (divisi Automatic
transmission dari General Motors)
mengajukan sayembara untuk mencari
alat yang nantinya digunakan untuk
menggantikan sistem kontrol Relay
Sistem Kontrol masih Logic
menggunakan Relay Logic.
Relay-relay tersebut
dikendalikan oleh
kontaktor.
Tahun 1968
Bedford Associates Inc mengajukan prototype yang diberi
nama MODICON 084 (cikal bakal PLC)
MODICON 084
Shown here with a Model 084 PLC, Bedford Associates’ pioneers :
Dick Morley, Tom Boissevain, George Scwerk, Jonas Landau
Tahun 1971-an
PLC mulai banyak digunakan di kalangan industri
makanan, pengolahan metal, manufaktur, dsb.
Pemograman PLC kala itu masih menggunakan
Handheld
Tahun 1980-an
Ukuran PLC mulai mengecil dan
Munculnya Software pemograman PLC
untuk menggantikan Handheld
Awal tahun 1990
Penggunaan PLC makin vital dalam Automation Industries, Proses dengan
mudah dikontrol dan di monitor dengan PLC dan jaringan seperti DCS dan
SCADA.
Power Supply
Sensor Aktuator
(Digital/Analog) Programming (Digital/Analog)
Device
Sistem Kontrol Diskrit
Banyak aplikasi kontrol tidak melibatkan variabel proses
analog. Aplikasi control tersebut menggunakan variabel biner.
Yaitu variable yang dapat memiliki salah satu dari dua nilai
yang mungkin, (seperti 1 atau 0, on atau off, terbuka atau
tertutup dll). Sistem kontrol dioperasikan dengan
menghidupkan dan mematikan switch, motor, katup, dan
perangkat lain dalam merespon kondisi operasi dan sebagai
salah satu fungsi waktu. Sistem seperti ini disebut sebagai
urutan/logika sistem kontrol.
Contoh Sensor Digital:
Tipe Sinyal Remark
Switch Perintah biner External Input Device
Limit switch Posisi Feedback Sensor Device
Thumbwheel switch Set valued Command External Input Device
Thermostat Level temperatur Feedback Sensor Device
Photo cell Posisi obyek Feedback Sensor Device
Proximity detector Posisi obyek Feedback Sensor Device
Push button Command External Input Device
(unlatched)
Level Switch
Limit Switch Saklar Toggle/Push
Button
Pressure Switch
Contoh Peralatan Digital:
Type Output Quantity Energy Source
Relay, Contactor voltage electrical
Motor Starter motion electrical
Lamp indication electrical
Solenoid motion electrical
On-off Flow Control valve Flow pneumatic, hydraulic
Directional Valves Hydraulic Pressure pneumatic, hydraulic
Relay Solenoid Valve Lampu
Motor Listrik Pompa
Relay adalah suatu alat sederhana
yang menggunakan medan magnet
untuk mengontrol sebuah saklar
(seperti digambarkan pada Gambar)
.Ketika tegangan diterapkan ke koil
masukan, maka arus yang dihasilkan
akan menciptakan medan
magnet. Medan magnet menarik logam
switch ke arahnya dan menyentuh
kontak, sehingga saklar akan tertutup.
Kontak yang menutup jika coilnya
terenergize disebut kontak normally
open. Sedangkan kontak normally
close mempunyai kontak yang menutup
jika coilnya tidak terenergize.
Relay dapat digunakan untuk membuat suatu rangkaian
control logic, yaitu dengan cara mengkombinasikan
kontak-kontak normally open dan normally close sesuai
dengan kebutuhan. Sebagai contoh, kita dapat merancang
sebuah sistem pengisian air tandon secara otomatis
seperti gambar berikut dengan menggunakan kontrol
elektro-mekanis
Dari gambar tersebut dapat kita
buat proses kontrolnya sebagai pump
Limit Switch Atas
berikut :
1. Jika level tangki low, maka
pompa akan beroperasi atau
“on” otomatis oleh level switch
Limit Switch Bawah
atas.
2. Pompa juga dapat
dioperasikan secara manual
dengan tombol “start”.
3. Jika level tangki tinggi, maka
pompa akan berhenti atau “off”
otomatis oleh level switch.
4. Pompa juga dapat dihentikan
secara manual dengan
menggunakan tombol “stop”.
Jika kontrol proses dari proses kontrol diatas ingin dirancang menggunakan peralatan
logic elektro-mekanikal, maka gambar wiring diagramnya adalah sebagai berikut
380 V AC
220 V AC
PB Start
Limit Switch
K1
bawah
Fuse
Limit Switch K1
atas
PB Stop
Motor
K1 3 fasa
Prinsip kerja dari rangkaian di atas adalah jika PB start
ditekan atau limit switch bawah aktif dan limit switch atas
belum aktif maka kontaktor K1 akan aktif, sehingga motor
pompa akan aktif. Rangkaian kontrol juga ditahan dengan
menggunakan rangkaian latching dengan menggunakan
kontak bantu dari K1, sehingga jika PB start dilepas,
kontaktor masih tetap aktif, sehingga motor pompa masih
bekerja.
Jika pada saat pompa bekerja mengisi tandon dan limit
switch atas aktif atau PB stop ditekan, maka kontaktor
akan kehilangan suplai dayanya, sehingga kontaktor
akan tidak aktif dan motor pompa juga akan mati.
Dari rangkaian kontrol elektro-mekanis di atas, kita akan
mengalami kesulitan jika ingin mengganti sistem
kontrolnya, karena kita harus mengkabel ulang rangkaian
kontrol di atas. Kasus tersebut adalah salah satu contoh
dari kelemahan sistem kontrol elektro-mekanis
adapun kelemahan atau kekurangan sistem kontrol elektro-
mekanis adalah sebagai berikut :
1. Jika pada suatu saat kita ingin merubah proses kontrol
dari sistem tersebut, maka kita harus mengkabel ulang
rangkaian kontrol relay elektro-mekanis sistem tersebut,
sehingga akan memakan waktu yang cukup lama dan
biaya yang cukup besar.
2. Rangkaian kontrol elektro-mekanis memerlukan ruang
yang besar karena terdiri dari banyak komponen kontrol.
3. Kita tidak bisa memonitor kerja sistem dari jarak jauh,
kita hanya bisa memonitornya dengan melihat langsung
ke lokasi sistem tersebut.
3. Jika kita merancang sebuah sistem yang kompleks
dengan kontrol elektro-mekanis, maka kita akan
membutuhkan banyak relay dan kabel, sehingga biaya
akan semakin besar.
4. Jika kita akan membuat sistem yang sama di tempat
yang lain dengan menggunakan kntrol logic relay, maka
kita harus merangkai ulang wiring diagramnya, sehingga
akan memerlukan banyak waktu.
Sistem control elektro-mekanis dan sistem control PLC
pada dasarnya mempunyai prinsip yang sama, akan tetapi
pada system control PLC, pembuatan logic dilakukan
dengan software, tidak menggunakan hard wiring seperti
pada system control elektro mekanis. Pada umumnya cara
yang digunakan untuk memprogram PLC adalah
menggunakan diagram ladder
Contoh diagram ladder.
Cara membaca:
bayangkanlah bahwa power berada pada garis vertical di sebelah kiri, kita
sebut sebagai hot rail.
Pada sisi kanan disebut neutral rail.
Pada gambar terdapat dua anak tangga (rung), pada tiap rung terdapat
kombinasi dari beberapa input dan output.
jika input diaktifkan atau dinonaktifkan pada kombinasi yang benar, maka
power dapat mengalir dari hot rail melalui input menuju output dan pada
akhirnya menuju neutral rail
Pada rung kedua terdapat kombinasi ganda dari input yang akan
mengaktifkan output Y. pada rung sebelah kiri, power dapat mengalir
melalui sisi atas melalui C dan D jika C off dan D on. Power juga dapat
melalui sisi bawah melalui E dan F jika E dan F kedua-duanya on. hal ini
menyebabkan power telah melewati separuh dari rung, dan jika G atau H
on maka power akan sampai ke output Y, sehingga output Y akan aktif.
Pengisian Tangki Otomatis:
pump
Limit Switch Atas
Limit Switch Bawah
Relay/Kontaktor
Start LS Atas Stop Pompa
X0 X2 X1 Y0
Y0
Pompa
X3
LS Bawah
Prinsip kerja dari diagram ladder di atas adalah apabila motor
pompa masih belum beroperasi dan PB start ditekan atau
limit switch bawah aktif, maka “X0” atau “X3” akan aktif,
sehingga coil output Y0 akan aktif, dan motor pompa juga
akan aktif. Output coil “Y0” ditahan dengan menggunakan
rangkaian latching dengan menggunakan internal relay coil
“Y0”. Sehingga jika PB start dilepas maka motor masih akan
tetap beroperasi sebelum limit switch atas “X2” aktif.
Ketika limit switch atas atau PB stop ditekan pada saat motor
pompa sedang beroperasi, maka “X2” atau “X1” akan aktif,
sehingga output “Y0” tidak aktif. Motor pompa juga akan
berhenti beroperasi.
Wiring PLC: L1 PB PB
Limit Switch Limit Switch
Start Stop
atas bawah
X0 X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7
common
L1
PLC
L2
source
Y0 Y1 Y2 Y3 X4 Y5 Y6 Y7
Output
K Kontaktor
L2
380 V AC
Wiring PLC:
Relay Kontaktor Fuse
PLC
K1
Motor
3 fasa
Pada sistem kontrol PLC, program diagram ladder bersifat
fleksibel, yaitu dapat kita modifikasi kapan saja sesuai
dengan kebutuhan. Sehingga jika ingin merubah program
hanya memerlukan waktu yang singkat tidak seperti pada
rangkaian kontrol elektro-mekanis yang harus merangkai
ulang pengkabelannya sehingga membutuhkan waktu yang
lebih lama
PLC Allen-Bradley
PLC Siemen S7 series
PLC Omron series
PLC Ge Fanuc 90 series
PLC mampu memonitor dan mengkontrol puluhan peralatan. Disusun dalam
lemari kontrol (control cabinet), suatu PLC memerlukan ruang yang kecil,
bandingkan ruang yang diperlukan oleh relei elektro-mekanikal untuk
melakukan fungsi yang sama.
Satu kelebihan PLC yang tidak bisa dilakukan dengan relei elektro-
mekanikal adalah pemantauan dan kontrol jarak jauh (remote monitoring
and control) melalui jaringan komputer digital. Karena PLC adalah
komputer digital dengan fungsi tertentu, yang mampu berkomunikasi
dengan komputer lain dengan cukup mudah.
Foto berikut menunjukkan
komputer pribadi (PC) sedang
menampilkan gambaran grafik
proses pengaturan level cairan
sesungguhnya (sistem
pemompaan pengolahan air
limbah) yang dikontrol
denganPLC. Lokasi pemompaan
sesungguhnya berada cukup jauh
dari tampilan komputer tersebut.
Diagram ladder yang telah dibuat bisa dicopy agar bisa di download
ditempat yang lain yang mempunyai sistem yang sama. Jadi untuk
membuat sistem yang baru dengan proses kontrol yang sama tidak
membutuhkan waktu yang terlalu lama karena tidak perlu
merangkai diagram ladder yang baru lagi. Tidak seperti pada
kontrol elektro-mekanis yang harus merangkai ulang rangkaian
kontrolnya jika ingin membuat sistem yang sama di tempat yang
lain.