0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan5 halaman

Risiko IMS pada Remaja: Pengetahuan & Kesehatan Mental

Studi ini menganalisis hubungan tingkat pengetahuan, usia, jenis kelamin, dan kesehatan mental dengan perilaku berisiko terkena infeksi menular seksual pada remaja. Penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara tingkat pengetahuan, usia, dan kesehatan mental dengan perilaku berisiko, dimana usia adalah faktor dominan yang memengaruhi dengan odds ratio 8,911. Studi ini mendukung perlunya program kesehatan remaja yang menargetkan e
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan5 halaman

Risiko IMS pada Remaja: Pengetahuan & Kesehatan Mental

Studi ini menganalisis hubungan tingkat pengetahuan, usia, jenis kelamin, dan kesehatan mental dengan perilaku berisiko terkena infeksi menular seksual pada remaja. Penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara tingkat pengetahuan, usia, dan kesehatan mental dengan perilaku berisiko, dimana usia adalah faktor dominan yang memengaruhi dengan odds ratio 8,911. Studi ini mendukung perlunya program kesehatan remaja yang menargetkan e
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link]

php/jsm

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN, USIA, JENIS KELAMIN, DAN


KESEHATAN MENTAL DENGAN PERILAKU BERISIKO TERKENA INFEKSI
MENULAR SEKSUAL PADA REMAJA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
MENTENG PALANGKA RAYA

The Relationship of Knowledge, Age, Gender and Mental Health with Behavior at Risk
for Sexually Transmitted Infections in Adolescents in the Work Area of Menteng
Palangka Raya Public Health Center

Stefanicia 1* Abstrak
Ivana Devitasari 2
Latar Belakang: Pada masa remaja, banyak terjadi perubahan biologis, psikologis,
maupun sosial, dengan masih adanya kejadian kasus infeksi menular seksual yang
menjadi bukti bahwa remaja rentan terhadap perilaku berisiko terkena infeksi
*1,2Dosen, STIKES Eka Harap, menular seksual.
Palangka Raya, Kalimantan Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, usia, jenis
Tengah, Indonesia kelamin, dan kesehatan mental dengan perilaku berisiko terkena infeksi menular
seksual pada remaja di wilayah kerja Puskesmas Menteng Palangka Raya
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan
rancangan cross sectional. Besar sampel dalam penelitian ini yaitu berjumlah 74
remaja diwilayah kerja Puskesman Menteng Palangka Raya dengan metode
*email: pengambilan sampel dengan simple random sampling.
Stefaniciamuray@[Link] Hasil: Hasil analisis bivariat penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan
dengan perilaku berisiko terkena IMS (P=0,000), usia (p=0,000), jenis kelamin
(p=0,607), dan kesehatan mental (p=0,013
Kesimpulan: ). Terdapat hubungan tingkat pengetahuan, usia, dan kesehatan
mental dengan perilaku berisiko terkena infeksi menular seksual. Hasil analisis
multivariat menunjukkan usia paling dominan dengan hasil Odd Ratio (OR) atau Exp
(B) = 8,911. Untuk itu perlunya menyelenggarakan program, mengevaluasi atau
mengaktifkan kembali kegiatan Bimbingan Konseling, PKPR, dengan sasaran remaja
maupun orang tuanya, dan membentuk LSM atau konselor khusus yang
berkonsentrasi pada remaja.

Kata Kunci: Abstract


Remaja
Perilaku Berisiko Background: In adolescence, many changes of biological, psychological, and social,
Infeksi Menular Seksual with the persistence of incident cases of sexually transmitted
infections become evidence that teenagers are prone to risky behavior sexually
transmitted infections.
Objective: This study aims to determine the level of knowledge, age, gender, and
mental health with behavior at risk of sexually transmitted infections in adolescents
in the work area of Menteng Palangka Raya Public Health Center.
Keywords : Method: This was an observational analytic study with a cross-sectional
Adolescents design. The sample size in this research is 74 teenagers in the work area of
Risk Behavior Menteng Palangka Raya Public Health Center with the method of sampling with
exually Transmitted Infections simple random sampling.
Finding: The result of bivariate analysis of this study showed that the level of
knowledge with risky behavior was affected by STI (p = 0.000), age (p = 0.000),
gender (p = 0.607), and mental health (p = 0.013).
Conclusion: There is a relationship of knowledge, age, and mental health with
behaviors at risk of sexually transmitted infections. The result of the multivariate
analysis showed the most dominant age with the result of Odd Ratio (OR) or Exp
(B) = 8.911. For that purpose, the program organizes, evaluates or re-activates the
Counseling Guidance, Health Care for Youth Care (HCYC), targeting teenagers
and their parents, and establishing special NGOs or counselors that concentrate
on adolescents.
© year The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah
Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License ([Link]
DOI: [Link]
Jurnal Surya Medika (JSM), Vol 8 No 2 Agustus 2022, Page 291 – 295 p-ISSN: 2460-7266; e-ISSN: 2655-2051

PENDAHULUAN tersebut seringkali memicu terjadinya konflik antara


remaja dan dirinya sendiri maupun konflik dengan
Infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang
lingkungan sekitarnya. Apabila konflik-konflik tersebut
disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, dan jamur yang
tidak dapat teratasi dengan baik maka dalam
menyerang manusia melalui hubungan seksual
perkembangannya dapat membawa dampak negatif
perantara liang senggama, mulut (oral), atau dubur
terutama terhadap pematangan karakter remaja dan
(anal), dimana terdapat lebih kurang 30 jenis mikroba
(1),
tidak jarang akan memicu terjadinya masalah kesehatan
yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual
(5)
mental . Masih adanya kejadian IMS ,dan gangguan
sehingga infeksi menular seksual ini termasuk di antara
kesehatan mental dikalangan remaja merupakan bukti
penyakit infeksi yang paling luas dan berbahaya( 2)
.
bahwa remaja rentan terhadap perilaku berisiko,
World Health Organizations (WHO) dalam jurnal
berdasarkan hal itu tentu fenomena gunung es
PLOS tahun 2017 mengatakan bahwa setiap hari, lebih
sebenarnya bisa saja terjadi, data yang muncul hanya
dari satu juta orang terkena IMS. Data dari Surveilans
menggambarkan situasi di permukaan, sementara kasus
Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP), yang merupakan
yang tidak diketahui atau asimtomatik jauh lebih
bagian dari kegiatan surveilans HIV/AIDS dan Infeksi
banyak, uraian di tersebut yang melatarbelakangi
menular seksual melakukan Survei pada 23
peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut
Kabupaten/Kota di 11 Provinsi di Indonesia tahun 2011
mengenai hubungan tingkat pengetahuan, usia, jenis
menyatakan sebanyak 7.022 responden remaja diambil
kelamin , dan kesehatan mental dengan perilaku
sebagai data perilaku berisiko, dan didapatkan 7%
berisiko terkena IMS pada remaja di wilayah kerja
populasi remaja pernah mengaku berhubungan seksual,
Puskesmas Menteng Palangka Raya.
dan 4% pernah mencoba menggunakan Napza (3).

Infeksi menular seksual merupakan salah satu dari


sepuluh penyebab utama penyakit yang mengganggu
METODE PENELITIAN

dewasa muda laki-laki dan penyebab kedua terbesar Lokasi penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas

pada dewasa muda perempuan di negara berkembang. Menteng Palangka Raya, dengan waktu penelitian

Kategori usia 15-24 tahun menyumbang 25% dari Februari sampai April 2020. Penelitian ini merupakan

semua kasus IMS baru yang didapat. Kasus-kasus IMS jenis penelitian Kuantitatif menggunakan rancangan

yang terdeteksi hanya menggambarkan 50%-80% dari desain observasional analitik menggunakan pendekatan

semua kasus IMS yang ada di Amerika, hal ini Cross sectional. Populasi penelitian pada remaja di

mencerminkan keterbatasan deteksi dini dan masih wilayah kerja Puskesmas Menteng Palangka Raya

rendahnya pencatatan serta kepedulian akan IMS, di sebanyak 74 orang. Pemilihan sampel dengan metode

negara Amerika, jumlah wanita yang menderita infeksi Random Sampling. Proses pengumpulam data dilakukan

klamidia 3 kali lebih tinggi dari pada laki-laki, hasil dari dengan memberikan kuesioner kepada subyek

seluruh wanita yang menderita infeksi klamidia, penelitian di wilayah kerja Puskesmas Menteng

golongan umur yang memberikan kontribusi yang Palangka Raya. Teknik analisis data menggunakan

besar ialah kategori usia 15-24 tahun (4)


. Masa remaja analisis regresi logistik berganda.
merupakan masa yang kritis dalam siklus
perkembangan seseorang, di mana pada masa ini HASIL DAN PEMBAHASAN
terjadi banyak perubahan, baik perubahan biologik, Tabel 1. Distribusi Frekuensi Hubungan Tingkat
psikologik, maupun perubahan sosial, Fase perubahan Pengetahuan, Usia, Jenis Kelamin, dan Kesehatan

292
1st Stefanicia, 2st Ivana Devitasari. 2022. The Relationship of Knowledge, Age, Gender and Mental Health with Behavior at Risk for
Sexually Transmitted Infections in Adolescents in the Work Area of Menteng Palangka Raya Public Health Center

Mental dengan Perilaku Berisiko terkena IMS pada pengetahuan dengan tingkat pengetahuan buruk
Remaja di wilayah Kerja Puskesmas Menteng Palangka didapatkan sebanyak 18 responden (24,5%) dan
Raya responden dengan pengetahuan baik sebanyak 56
Variabel N % responden (75,5%), kemudian variabel usia diketahui
Tingkat pengetahuan
bahwa usia responden untuk kategori berisiko
Buruk 18 24,5%
Baik 56 75,5%
sebanyak 44 responden (59,5%), dan kategori tidak
Usia berisiko sebanyak 30 responden (75,5%). Variabel jenis
Berisiko (15-18 44 59,5%
kelamin untuk laki-laki sebanyak 51 responden (68,9%),
tahun)
Tidak Berisiko (≤14 30 75,5% dan untuk responden perempuan sebanyak 23
tahun, dan ≥ 19
tahun) responden (31,1%, kemudian dilihat pada perilaku
Jenis Kelamin
Laki-laki 51 68,9% berisiko diketahui bahwa perilaku berisiko terkena IMS
Perempuan 23 31,1% pada 24 responden (32,4%) berisiko, dan 50
Perilaku Berisiko responden (67,6%) tidak berisiko. Variabel kesehatan
Berisiko 24 32,4%
Tidak Berisiko 50 67,6%
mental remaja dari 74 responden, 45 responden
Kesehatan Mental remaja memiliki kesehatan mental kurang (60,8%), 29
Kurang 45 60,8% responden remaja memiliki kesehatan mental baik
Baik 29 39,2%
(29%).
Tabel 2. Analisis Bivariat Tingkat Pengetahuan, Usia,
Sampel dalam penelitian ini yaitu berjumlah 74 orang
Jenis Kelamin, dan Kesehatan Mental dengan Perilaku
remaja yang berada di wilayah kerja Puskesmas
Berisiko terkena IMS pada Remaja di Wilayah Kerja
Menteng Palangka Raya. Berdasarkan tabel 1, maka
Puskesmas Menteng Palangka Raya
dapat dilihat sebagian remaja berdasarkan tingkat

Perilaku berisiko terkena IMS Total P Value

Var F %
PR
Berisiko Tdk Berisiko

F % F %
Tingkat
Pengetahu
an 3,78
Buruk 13 72,2 5 27,8 18 100
0.000
Baik
11 19,6 45 80,4 56 100
Usia

Berisiko
(15-18
tahun) 22 50,5 22 50,5 44 100 0,000 8,33
Tidak
Berisiko
(≤14 tahun,
dan ≥19
tahun) 2 6,7 28 93,3 30 100

293
Jurnal Surya Medika (JSM), Vol 8 No 2 Agustus 2022, Page 291 – 295 p-ISSN: 2460-7266; e-ISSN: 2655-2051

Jenis
Kelamin
Laki-laki 18 35,5 33 64,7 51 100
0,607 1,34

Perempuan
6 26,1 17 73,9 23 100
Kesehatan
Mental
Kurang 20 44,4 25 55,6 45 100
0,013 3,38

Baik
4 13,8 25 86,2 23 100

menular seksual 1,34 kali lebih besar daripada jenis


Analisis Bivariat pada tabel 2 menunjukkan bahwa pada kelamin perempuan.
tingkat pengetahuan didapatkan nilai P=0.000 sehingga Tabel 3. Analisis Multivariat Hubungan Tingkat
dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang Pengetahuan, Usia, dan Kesehatan Mental dengan
signifikan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku Perilaku Berisiko terkena Infeksi Menular Seksual Pada
berisiko terkena IMS, dan didukung dengan nilai analisis Remaja
lanjut PR diketahui bahwa tingkat pengetahuan buruk
No Variabel 95% CI For
meningkatkan perilaku berisiko terkena Infeksi EXP(B)
Exp
menular seksual 3,78 kali lebih besar daripada tingkat B Sig. Lower Upper
(B)
pengetahuan baik. Variabel usia didapatkan nilai
P=0.000 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat 1 Pengetahuan 2.085 ,006 8,047 1,810 35,779
hubungan yang signifikan antara usia terhadap perilaku 2 Usia 2.187 ,012 8,911 1,632 48,662

berisiko terkena IMS, dan didukung dengan analisis 3. Kshtn 2.051 ,010 7,779 7,779 37,179

lanjut PR menunjukkan bahwa usia berisiko Mental

meningkatkan perilaku berisiko terkena Infeksi


Analisis Multivariat menunjukkan terdapat tiga variabel
menular 8,33 kali lebih besar daripada usia tidak
yang masuk dalam tahap uji multivariat yaitu
berisiko. Kemudian variabel kesehatan mental
pengetahuan, usia, dan kesehatan mental, hasil analisis
didapatkan nilai P=0,013 sehingga dapat disimpulkan
lanjut didapatkan faktor yang paling dominan
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
berhubungan dengan perilaku berisiko terkena Infeksi
kesehatan mental terhadap perilaku berisiko terkena
menular seksual dalam uji multivariat penelitian ini
IMS, yang didukung dengan analisis lanjut PR
adalah usia dengan perolahan hasil nilai B = 2,187 dan
menunjukkan bahwa kesehatan mental kurang
Exp (B) = 8,911 yang berarti bahwa usia 15-18 tahun
meningkatkan perilaku berisiko terkena Infeksi
memiliki kecendrungan 8,911 kali lebih besar untuk
menular seksual berisiko 3,38 kali lebih besar daripada
berperilaku berisiko dibandingkan dengan usia ≤ 14
kesehatan mental baik, dari semua variabel independen
tahun atau ≥ 19 tahun.
didapatkan satu variabel yang tidak signifikan
berhubungan dengan perilaku berisiko terkena IMS,
KESIMPULAN
yaitu pada variabel jenis kelamin dimana didapatkan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam
nilai P= 0.607 < (0,05) yang berarti ho diterima, dan
penelitian ini terdapat hubungan signifikan tingkat
hasil PR menunjukkan ada kecendrungan jenis kelamin
pengetahuan, usia, dan jenis kelamin dengan perilaku
laki-laki meningkatkan perilaku berisiko terkena Infeksi
berisiko terkena IMS pada remaja di wilayah kerja

294
1st Stefanicia, 2st Ivana Devitasari. 2022. The Relationship of Knowledge, Age, Gender and Mental Health with Behavior at Risk for
Sexually Transmitted Infections in Adolescents in the Work Area of Menteng Palangka Raya Public Health Center

Puskesmas Menteng Palangka Raya, dan berdasarkan 6. Mubarak. (2007). Promosi Kesehatan Sebuah
Pengamatan Proses Belajar Mengajar dalam
analisis multivariat didapatkan variabel usia yang lebih
Pendidikan. Yogjakarta: Graha Ilmu
dominan berpengaruh dengan perilaku berisiko
terkena IMS. Untuk itu perlunya menyelenggarakan 7. Fatikah, Lodyya F.Z. (2010). Hubungan
Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja
program, mengevaluasi atau mengaktifkan kembali terhadap Sikap Menghadapi Premenstrual
kegiatan Bimbingan Konseling, PKPR, dengan sasaran Syndrome di SMAN 5 Surakarta. Skripsi. Fakultas
Kedokteran Sebelas Maret Surakarta
untuk usia remaja maupun orang tuanya, dan
membentuk LSM atau konselor khusus yang 8. Kozier, B.,Erb,G.,Berman,A.,&Synder.S,j,
(2004).Fundamental of Nursing Concepts, Process,
berkonsentrasi pada penanganan masalah kesehatan and [Link] [Link] : Pearson
mental bagi [Link] kesehatan juga dapat Prentice Hall
melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah ataupun
9. Brener, N.D.,Billy, J.O&Grady,W.R. (2003).
perguruan tinggi negeri atau pun swasta untuk Assessment of Factors Affecting the Validity of
Self. Reported Health. Risk Behavior Among
memberikan informasi dasar kesehatan reproduksi dan
Adolescents: Evidence From the Scientific
seksualitas yang proposional sesuai dengan pemahaman Literature. Journal of Adolescent Health, 436-457.
dan tingkat pendidikan remaja serta tidak menganggap
10. Mahmudah, Yaslinda. (2016). Faktor-Faktor yang
tabu untuk membicarakan permasalahan kesehatan Berhubungan dengan Perilaku Seksual Remaja di
reproduksi dan seksualitas. Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas.2016;5(2).
Di akses dari:
[Link]
wnload/538/443
UCAPAN TERIMAKASIH
Peneliti sangat berterima kasih kepada Puskesmas 11. Hurhapipa, A., Ayunda,G. (2017). Faktor-Faktor
yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual. Jurnal
Menteng Palangka Raya, yang telah memberikan izin
of Midwifery Science. Vol [Link].2
serta tempat untuk melakukan penelitian.
12. Santrock, John W. (2012). Life-Span
Development. 13th [Link] of Texas.
DAFTAR PUSTAKA Dallas: Mc Graw Hill
1. World Health Organization. (2011). Sexsually
13. Koenig, H.G. (2009). Research of Religion,
Transmitted [Link]:[Link] dari
Spirituality, and Mental Health: A Review. The
[Link]
Canadian Journal of [Link] [Link].5
2. Arjani, I,A. (2015).Identifikasi Penyebab Infeksi
Menular [Link] Skala [Link]: 14. Irwin. S. (2007). Menjadi Orang Tua yang Efektif
Volume 12 Nomor 1 April 2015 : 15-21.3 Bagi Anak Remaja. Yogyakarta: Lion Books

3. Kemenkes R1. (2011). Surveilans Terpadu Biologi 15. Putri, B,D. (2014). Peran Faktor Keluarga dan
dan Perilaku (STBP) 2011. Jakarta : Kemenkes RI Karakteristik Remaja terhadap Perilaku Seksual
Pranikah. Jurnal Biometrika dan Kependudukan.
4. Center for Disease Control and Vol.3, No.1 Juli 2014;8-19
Prevention.(2011). Sexually Transmitted Disease
Surveillance [Link] : U.S Department of
Health and Human Services, Division of STD
Prevention.

5. J, Miftahul. 2016). Remaja dan Tugas-Tugas


Perkembangannya dalam [Link]
[Link] 1.(1).

295

Anda mungkin juga menyukai