0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan18 halaman

Perancangan Campuran Beton Efisien

Dokumen tersebut membahas tentang perancangan campuran beton, meliputi: 1) Tahapan perancangan campuran beton meliputi pemilihan nilai slump, ukuran maksimum agregat, estimasi kebutuhan air dan udara, pemilihan rasio air-semen, perhitungan kandungan semen, dan estimasi kandungan agregat kasar 2) Faktor-faktor yang mempengaruhi perancangan antara lain nilai slump, ukuran maksimum agregat, rasio air-semen,

Diunggah oleh

asepawi91
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan18 halaman

Perancangan Campuran Beton Efisien

Dokumen tersebut membahas tentang perancangan campuran beton, meliputi: 1) Tahapan perancangan campuran beton meliputi pemilihan nilai slump, ukuran maksimum agregat, estimasi kebutuhan air dan udara, pemilihan rasio air-semen, perhitungan kandungan semen, dan estimasi kandungan agregat kasar 2) Faktor-faktor yang mempengaruhi perancangan antara lain nilai slump, ukuran maksimum agregat, rasio air-semen,

Diunggah oleh

asepawi91
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

PERANCANGAN CAMPURAN BETON

3.1 Pengertian dan Tujuan


Sebelum pembuatan beton untuk konstruksi dimulai, biasanya dilakukan
perancangan campuran terhadap beton. Tujuan perancangan campuran beton ini adalah
untuk mendapatkan komposisi campuran beton yang ekonomis dan memenuhi syarat
kelecakan (workability), kekuatan dan durabilitas. Perancangan ini kemudian diikuti
dengan pembuatan campuran awal (trial mix). Sifat-sifat beton hasil dari trial mix ini
kemudian diperiksa terhadap persyaratan yang ada, dan jika belum sesuai dilakukan
perubahan komposisi (koreksi) sampai mendapatkan campuran beton yang sesuai.
Mutu beton yang dibuat saat trial mix dapat dilihat berdasarkan dua hal, yaitu
kelecakan saat pengerjaan dan kekuatan beton setelah mengeras. Workability beton basah
ditunjukan oleh nilai slump beton. Semakin besar nilai slump, semakin besar workability
beton. Akan tetapi, kekuatan beton dalam batas tertentu berbanding terbalik dengan
workability beton. Kekuatan yang umumnya diperhatikan adalah kekuatan beton pada
umur 28 hari. Dalam memperhitungkan kekuatan dan kelecakan, yang harus diperhatikan
adalah perancangan campuran beton adalah rasio air-semen, tipe dan kandungan semen
yang digunakan, kandungan air, dan pemilihan agregat.

3.2 Tahap Perancangan Campuran Beton


Tahap perancangan campuran beton di bawah ini adalah berdasarkan ACI Committee 211.
3.2.1 Pemilihan Angka Slump
Nilai slump adalah selisih nilai antara tinggi beton basah dalam cetakan
kerucut terpancung dengan tinggi beton basah setelah cetakan kerucut tersebut
diangkat. Nilai slump menunjukkan workability atau kelecakan beton yang dibuat
serta untuk mengukur kekentalan campuran beton. Semakin tinggi slump, semakin
cair campuran beton dan semakin banyak kandungan udaran dalam campuran beton.
Nilai slump ini berbeda-beda untuk berbagai jenis konstruksi, karena tingkat
kesulitan penempatan beton basah dalam cetakan untuk setiap konstruksi berbeda.
Jika nilai slump tidak ditentukan dalam spesifikasi, maka nilai slump dapat dipilih
dari tabel berikut untuk berbagai jenis pengerjaan konstruksi.

1
Tabel 3.1 Nilai Slump yang Disarankan untuk Berbagai Jenis Pengerjaan Konstruksi

Slump (mm)
Jenis Konstruksi
3.2.2 Maksimum Minimum
Dinding fondasi, footing, sumuran, dinding basemen 75 25
Dinding dan balok 100 25
Kolom 100 25
Perkerasan dan Lantai 75 25
Beton dalam jumlah yang besar (seperti dam) 50 25

Pemilihan Ukuran Maksimum Agregat Kasar


Untuk volume agregat yang sama, penggunaan agregat dengan gradasi yang
baik dan dengan ukuran maksimum agregat yang besar akan menghasilkan rongga
yang lebih sedikit sehingga akan menurunkan kebutuhan mortar dalam setiap
volume satuan beton. Dasar pemilihan ukuran maksimum agregat adalah dimensi
dari struktur. Sebagai contoh, persyaratannya adalah :
d
(a) D ≤
5
h
(b) D ≤
3
2s
(c) D ≤
3
3c
(d) D ≤
4
Keterangan: D = ukuran maksimum agregat
d = lebar terkecil diantara 2 tepi bekisting
h = tebal plat lantai
s = jarak bersih antar tulangan
c = tebal bersih selimut beton

3.2.3 Estimasi Kebutuhan Air Pencampur dan Kandungan Udara


Jumlah air pencampur persatuan volume beton yang dibutuhkan untuk
menghasilkan nilai slump tertentu bergantung pada ukuran maksimum agregat,
bentuk, serta gradasi dan jumlah kebutuhan kandungan udara pencampuran.

2
Tabel 3.2 Kebutuhan Air Pencampuran dan Udara untuk Berbagai Nilai Slump dan
Ukuran Maksimum Agregat Kasar
Kebutuhan Air (kg/m3) untuk ukuran maksimum
agregat
Jenis Beton Slump (mm)
10 12,5 20 25 40 50 75
mm mm mm mm mm mm mm
25 - 50 205 200 185 180 160 155 140
Tanpa Penambahan
75 - 100 225 215 200 190 175 170 155
Udara
150 - 175 240 230 210 200 185 175 170
Udara yang tersekap (%) 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0,3

25 - 50 180 175 165 160 150 140 135


Dengan Penambahan 75 - 100 200 190 180 175 160 155 150
Udara 150 - 175 215 205 190 180 170 165 160
Kandungan udara yang disarankan (%) 8 7 6 5 4,5 4 3,5

3.2.4 Pemilihan Nilai Perbandingan Air-Semen


Nilai perbandingan antara air dan semen akan sangat berpengaruh pada
kekuatan beton setelah mengeras. Hubungan rasio air semen dan kekuatan beton
yang dihasilkan seharusnya dikembangkan berdasarkan material yang sebenarnya
yang digunakan dalam pencampuran. Semakin kecil nilai perbandingan air-semen,
maka kuat tekan beton akan semakin besar. Berikut tabel rasio air-semen untuk
berbagai kuat tekan beton.

Tabel 3.3 Hubungan Rasio Air Semen dan Kuat Tekan Beton
Rasio Air Semen (dalam perbandingan berat)
Kuat Tekan Beton
Tanpa Penambahan Dengan Penambahan
Umur 28 hari (MPa)
Udara Udara
48 0,33 -
40 0,41 0,32
35 0,48 0,4
28 0,57 0,48
20 0,68 0,59
14 0,82 0,74

3
Rasio Air Semen (dalam perbandingan berat)
Kuat Tekan Beton
Tanpa Penambahan Dengan Penambahan
Umur 28 hari (MPa)
Udara Udara

Nilai kuat tekan beton yang digunakan pada tabel 3.3 adalah nilai kuat tekan
beton rata-rata yang dibutuhkan, yaitu:
f m=¿f '
+1 ,64 Sd ¿
c

dimana,
f m = kuat tekan rata-rata
'
f c= nilai kuat tekan karakteristik (yang disyaratkan)
Sd = standar deviasi

Nilai standar deviasi dapat dilihat dari tabel 3.4

Tabel 3.4 Klasifikasi Standar Deviasi untuk Berbagai Kondisi Pengerjaan


Standar Deviasi (MPa)
Kondisi Pengerjaan
Lapangan Laboratorium
Sempurna <3 <1,5
Sangat Baik 3 - 3,5 1,5 – 1,75
Baik 3,5 – 4 1,75 – 2
Cukup 4–5 2 – 2,5
Kurang Baik >5 >2,5

Harga rasio air semen tersebut biasanya dibatasi oleh harga maksimum yang
diperbolehkan untuk kondisi exposure (lingkungan) tertentu. Dalam perancangan
campuran beton, digunakan kuat tekan rata-rata yang lebih besar dari kuat tekan
rencana. Kuat tekan rata-rata ini merupakan penjumlahan nilai kuat tekan rencana
dengan suatu standar deviasi. Penjumlahan dengan standar deviasi ini memberikan
faktor keamanan (safety factor) pada beton yang didesain, sehingga menjamin kuat
tekan minimum yang dibutuhkan oleh beton untuk menahan beban rencana dapat
terlampaui.

4
3.2.5 Perhitungan Kandungan Semen
Berat semen yang dibutuhkan adalah sama dengan jumlah berat air
pencampur (tahap 3.2.3) dibagi dengan nilai rasio air semen (3.2.4).
Berat air
Berat semen=
w
ratio
c

3.2.6 Estimasi Kandungan Agregat Kasar


Rancangan campuran beton yang ekonomis bisa didapat dengan
menggunakan semaksimal mungkin volume agregat kasar per satuan volume
beton. Semakin halus pasir dan semakin besar ukuran maksimum partikel agregat
kasar, semakin banyak volume agregat kasar yang dapat dicampurkan untuk
menghasilkan campuran beton dengan kelecakan beton yang baik.
Tabel berikut menunjukan besarnya volume agregat kasar yang dibutuhkan
per satuan volume beton yang dapat dipilih berdasarkan modulus kehalusan
agregat dan ukuran maksimum agregat kasar.

Tabel 3.5 Volume Agregat Kasar per Satuan Volume Beton dengan Nilai Slump 75-100
mm
Volume Agregat Kasar (Dry Rodded)
Ukuran
Persatuan Volume Beton untuk Berbagai Nilai
Maksimum
Modulus Kehalusan Pasir
Agregat Kasar
2,4 2,6 2,8 3,0
10 0,5 0,48 0,46 0,44
12,5 0,59 0,57 0,55 0,53
20 0,66 0,64 0,62 0,6
25 0,71 0,69 0,67 0,65
40 0,75 0,73 0,71 0,69
50 0,78 0,76 0,74 0,72
75 0,82 0,8 0,78 0,76
150 0,87 0,85 0,83 0,81

5
Tabel 3.6 Faktor Koreksi Tabel 3.5 untuk Nilai Slump yang Berbeda
Slump Faktor Koreksi untuk Berbagai Ukuran Maksimum Agregat
(mm) 10 mm 12,5 mm 20 mm 25 mm 40 mm
25 - 50 1,08 1,06 1,04 1,06 1,09
75 - 100 1 1 1 1 1
150 - 175 0,97 0,98 1 1 1

3.2.7 Estimasi Kandungan Agregat Halus


Jumlah agregat halus (pasir) yang dibutuhkan dapat dihitung dengan dua cara,
yaitu sebagai berikut.
a. Cara perhitungan berat,
yaitu jika berat jenis beton normal diketahui pada pengalaman
sebelumnya, maka berat pasir yang dibutuhkan adalah perbedaan antara berat
jenis beton dengan berat total air, semen, dan agregat kasar per satuan volume
beton yang telah diestimasi dari perhitungan pada tahap-tahap sebelumnya.
b. Cara perhitungan volume absolut
Volume agregat halus per satuan volume beton dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan berikut.
V agregat halus=1−¿ )
Volume agregat kasar dapat dihitung dengan membagi massa agregat
kasar yang diperlukan dengan berat volumenya. Berat volune agregat kasar
diperoleh melalui percobaan di laboratorium, lalu dikoreksi sehingga menjadi
keadaan SSD. Sedangkan volume semen dapat dihitung dengan membagi
massa semen yang diperlukan dengan Specific Gravity semen. Specific Gravity
semen adalah 3,15.

3.2.8 Koreksi Kandungan Air dalam Agregat


Di lapangan, agregat pada umumnya berada dalam kondisi basah atau tidak
dalam kondisi jenuh dan kering permukaan (SSD). Agregat yang terlalu kering akan
menyerap air pada campuran beton, sedangkan agregat yang terlalu basah akan
menambah jumlah air dalam campuran beton. Kandungan air yang bertambah atau

6
berkurang ini menyebabkan w/c ratio berubah dan dapat mempengaruhi kuat tekan
beton.
Karena itu, untuk mendapatkan campuran beton yang sesuai dengan dengan
perhitungan awal, diperlukan koreksi terhadap kadar air dan agregat dalam
campuran. Koreksi dilakukan dengan menambah atau mengurangi air saat
pencampuran beton, sesuai dengan kandungan air bebas pada agregat. Perhitungan
koreksi kadar air ini dilakukan pada kedua jenis agregat yaitu, agregat kasar dan
halus.
Perhitungan koreksi air dapat dilakukan dengan rumus berikut:
ak−mk
( i ) Tambahan air=M x ( )
1−mk
mk−ak
( ii ) Tambahan Agregat =M x ( )
1−mk
dimana,
M = massa agregat (kg)
Ak = % penyerapan air
Mk = % kadar air asli

7
PROSEDUR PERANCANGAN CAMPURAN BETON

Prosedur untuk merancang campuran beton adalah sebagai berikut.


1) Menetapkan jenis struktur yang akan dibuat.
2) Memilih nilai slump sesuai dengan jenis struktur (sesuai Tabel 3.1).
Kedua hal ini tentu sangat berpengaruh karena setiap jenis struktur yang berbeda
membutuhkan workability beton yang berbeda pula. Dari jenis struktur yang akan
ditempati beton maka kita dapat menentukan nilai slump untuk beton. Sebagai contoh,
untuk beton yang akan ditempatkan ditempat yang sulit dijangkau, maka butuh
workability yang tinggi dan butuh nilai slump yang lebih tinggi pula agar beton dapat
mencapai tempat tersebut lebih mudah.
3) Menentukan rencana kuat tekan beton pada umur 28 hari.
4) Menentukan kuat tekan rata-rata beton, dengan menambah kuat tekan rencana
oleh standar deviasi.
Awalnya kuat tekan yang kami gunakan adalah dalam kg/cm 2 dan untuk kubus.
Sebagai contoh 250 k, artinya 250 kg/cm2 dalam untuk kubus, oleh karena itu harus
dikonversi dengan dikali dengan gravitasi, konversi cm 2 ke m2 , juga 0.83 ( kuat tekan
silider (d=150mm dan tinggi=300mm) = 75%- 85% kuat tekan beton kubus dan
diambil 83%.Setelah mendapatkan kuat tekan beton yang disyaratkan, kemudian
dicari kuat tekan beton rata- rata yang terjadi dengan menambahkannya dengan
1.64Sd ( Sd koefisien dari kondisi pengerjaan beton (tabel 4.4).
5) Menetapkan ukuran maksimum agregat kasar yang digunakan sesuai dengan jenis
konstruksinya.
Ukuran maksimum agregat kasar juga gradasi dapat mempengaruhi kekuatan tekan
beton. Ukuran maksimum agregat kasar yang optimum juga gradasi yang baik dapat
menambah kuat tekan beton karena agregat kasar juga adanya gradasi yang baik dapat
mengurangi jumlah udara yang terperangkap dalam beton. Namun ukuran maksimum
agregat kasar juga bersyarat dari beberapa faktor seperti jarak bersih tulangan,tebal
plat lantai, ukuran terkecil dimensi struktur.
6) Menentukan massa air dan persentase udara terperangkap per satuan
volume beton berdasarkan nilai slump dan ukuran maksimum agregat (sesuai
Tabel 3.2).
Tujuan air adalah untuk dapat membasahi seluruh permukaan agregat kasar sehingga
mudah bereaksi dengan semen juga dipengaruhi oleh slump, karena air membuat

8
campuran beton lebih encer dan meningkatkan nilai slump. Oleh karena itu rencana
massa air awal dipengaruhi oleh ukuran maksimum agregat kasar juga nilai slump.
7) Menentukan w/c ratio berdasarkan kuat tekan beton rata-rata, dari tabel3.3,
diregresi. Kemudian dari nilai w/c ratio ditentukan massa semen yangdibutuhkan.
Rasio w/c sangat mempengaruhi kuat tekan beton, semakin kecil W/C ratio maka
semakin besar kuat tekan beton, karena beton menjadi lebih padat. Maka W/C ratio
dapat ditentukan dari kuat tekan beton yang diinginkan.
8) Menentukan volume agregat kasar per satuan volume beton berdasarkan modulus
kehalusan dan ukuran maksimum agregat kasar. (sesuai Tabel 3.5).
Untuk menentukan volume agregat kasar ini, tentu yang mempengaruhinya adalah
modulus kehalusan juga ukuran maksimum agregat kasar. Dengan bertambahnya
volume maksimum agregat kasar dan semakin kasar pasir, maka beton akan butuh
volume agregat kasar lebih banyak untuk dapat menutupi kandungan udara yang
terperangkap dalam beton.
9) Mengestimasi kebutuhan volume agregat halus per m3 beton sesuai denganrumus
pada subbab 3.2.7.
Setelah mengetahui volume semen, volume air juga volume agregat kasar untuk
beton, maka kita akan mencari volume agregat halus yang dibutuhkan caranya adalah
dengan menyelisihkan volume 1m3 dengan volume semen, volume air, volume
agregat kasar dan juga volume udara yang terperangkap.
10) Hitung koreksi kadar air, kemudian koreksi jumlah air agregat halusdan agregat
kasar untuk campuran beton.
Agregat yang ada di laboratorium kemungkinan tidak berada dalam kondisi jenuh.
Sehingga hal ini menyebabkan agregat yang basah akan menambah kandungan air
dalam campuran sedangkan agregat yang kering akan menyerap air dalam campuran.
Dengan adanya perubahan kandungan air dalam campuran maka W/C rasio pun akan
berubah oleh karena itu dibutuhkan factor koreksi kandungan air. Setelah didapat
factor koreksi, maka kita mendapatkan jumlah air yang harus ditambahkan atau
dikurangkan, dengan demikian maka agregat juga akan mengalami koreksi berupa
penambahan ataupun pengurangan.
11) Volume per m3 beton masing masing unsur campuran di atas disesuaikanuntuk
volume beton yang akan dibuat.
Setelah mendapatkan massa air, massa agregat halus, massa agregat kasar, juga massa
semen yang dibutuhkan untuk membuat 1m 3 beton maka berikutnya kita harus
9
mengkonversi untuk membuat 6 buah beton silinder berukuran ( d= 150mm, h= 300
mm).

3.4 Perhitungan Perencanaan Campuran Beton


Perhitungan dilakukan berdasarkan percobaan yang telah dilakukan di lab. Telah
ditentukan bahwa jenis struktur yang akan dibuat adalah kolom K-200,
1) Dari struktur yang akan dibuat tersebut, didapat nilai slump antara 25 hingga 100 mm.
Agar kuat tekan baik dan workability mudah, dipilih nilai slump adalah 100 mm.

2) Ditentukan bahwa ukuran maksimum agregat kasar yang tersedia di laboratorium


adalah 25 mm.

3) Dari percobaan sebelumnya diperoleh data agregat kasar yaitu sebagai berikut.
Tabel 3.7 Data Agregat Kasar

Aspek Kelompok 1,2,3 Kelompok 7,8 Rata-Rata

Spesific Gravity 2,42 2,76 2,59

Berat Volume 1,233 kg/ltr 1,2115 kg/ltr 1,223 kg/ltr

Kadar Air 3,7277% 3,8% 3,76%

Penyerapan Air 3,41% 5,26% 4,335%

Modulus Kehalusan - - -

Diperoleh data agregat halus yaitu sebagai berikut.

Tabel 3.8 Data Agregat Halus

Aspek Kelompok 1,2,3 Kelompok 7,8 Rata-Rata

Spesific Gravity 2,6 2,963 2,78

Berat Volume 1,651 kg/ltr 1,688 kg/ltr 1,67 kg/ltr

Kadar Air 3,1405% 15,52% 9,33 %

Penyerapan Air -20,89% 4,167% 4,167%

10
Modulus Kehalusan 3,46 3,022 3,241

4) Dari tabel 3.2, berdasarkan ketentuan di atas diperoleh berat air untuk campuran beton
dan persentase udara terperangkap sebagai berikut.

Berat air = 190 kg/m3

Udara terperangkap = 1,5 %

5) Kuat tekan beton rencana fc’= K-225 dikonversikan ke dalam satuan MPa dengan
standar deviasi yaitu 2,5 MPa. Gunakan rumus sebagai berikut untuk menentukan
nilai kuat tekan beton rata-rata.
'
fm=f c +1 , 64 S d

( )
2
kg m 1 cm
Nilai Kuat Tekan Rata−Rata=0 ,83 x 225 2
x 9 , 81 2 x 2
+1 , 64 x 2 , 5 MPa=22,420175 MPa
cm s 100 mm

6) Tentukan w/c ratio dari tabel 3.3 dengan melakukan interpolasi.


Nilai kuat tekan beton rata-rata yaitu 22,42 Mpa, berada di antara 28 dan 20. y
menunjukan kuat tekan, x menunjukan w/c ratio.

y−0.68= ( 0.57−0.68
28−20 )
(x−20)

Masukan nilai x=22,420175 MPa, maka akan didapat y=0,6467226


w
=0,6467226
c

7) Jumlah semen yang dibutuhkan dihitung dengan rumus:


BeratAir 190 3
Berat semen= = =293,78902 kg /m
W 0,6467226
ratio
C

11
8) Tentukan volume agregat kasar yang diperlukan dari tabel 3.5. Namun, karena pada
percobaan sebelumnya didapat nilai modulus kehalusan sebesar 3,241, maka harus
dilakukan ekstrapolasi dengan x sebagai nilai modulus kehalusan, dan y sebagai
volume agregat kasar dengan ukuran maksimum agregat kasar 25 mm.

y−0 ,67= ( 0 ,65−0


3−2 , 8 )
, 67
(x −2 ,8)

Masukkan nilai x=3.241, maka akan mendapatkan y=0,6259 m3 .

Faktor koreksi sebesar 1,00 karena slump yang dipilih 100 mm. Untuk menentukan
berat agregat kasar, gunakan rumus sebagai berikut.

Berat agregat kasar=Berat volume x Volume agregat kasa


kg ltr
¿ 1,223 x 1 000 3 x 0.6259
ltr m
kg
¿ 765,4757 3
m
Namun, volume di atas masih terdapat kandungan udara. Maka dari itu, volume
agregat kasar harus dikonversikan dulu dengan Specific Gravity agregat kasar.

berat agregat kasar


Volume agregat kasar=¿
SGagregatkasar x ρair
kg
765,4757 3
m
¿
ltr
2, 59 x 1 000 3
m
3
¿ 0,2955505 m

9) Tentukan proporsi volume unsur untuk setiap 1 m3 beton


a. Volume semen dengan SG semen 3,15 dapat dihitung dengan rumus:
berat semen
V semen =
SGsemen x ρ air
Didapatkan volume semen=0,0932664 m3
b. Volume air dapat dihitung dengan rumus:
berat air
V air =
ρ air
Didapatkan volume air=0 , 1 9 m3
c. Volume agregat kasar dengan SG agregat kasar adalah 2,59,
12
berat agregat kasar diperlukan
V aggkasar =
SGaggkasar x ρ air
Didapatkan volume agregat kasar =0,2955505 m3
d. Volume udara dengan % udara terperangkap adalah 1,5%,
3
V udara=% udaraterperangkapx 1 m
Didapatkan volume udara=0,015 m3
e. Volume agregat halus dapat dihitung dengan rumus:
V agghalus =1−( V semen +V air +V aggkasar +V udara )
Didapatkan volume agregat halus=0,4061832 m3
f. Dengan nilai SG agghalus=2, 78 maka berat agregat halus yang diperlukan adalah
BeratAgregatHalus=V agghalus x SGagghalus x ρair
Didapatkan berat agregat halus=1129,1892 kg /m3

10) Berat masing masing bahan bagi setiap m3 beton adalah sebagai berikut.

Semen = 293,78902 kg

Air = 190 kg

Agregat Kasar = 765,4757 kg

Agregat Halus = 1129,1892 kg

11) Koreksi kandungan air pada agregat adalah sebagai berikut.

1. Tambahanair=Mx ( ak1−mk
−mk
)
mk−ak
2. TambahanAgregat=Mx ( )
1−mk

13
a. Agregat Kasar

Kadar air asli (mk) ¿ 3 , 76 %

Penyerapan air (ak) ¿ 4,335 %

Berat agregat kasar ¿ 765,4757 kg

0,04335−0,0376
Tambahan air ¿ 765,4757 x =4,573447 kg
1−0,0376

0,04335−0,0621
Tambahan agregat kasar¿ 765,4757 x =−4,573447 kg
1−0,0376

Jadi diperlukan penambahan air sebanyak 4,573447 kg dan pengurangan


agregat kasar sebanyak 4,573447 kg,

b. Agregat Halus

Kadar air asli (mh) ¿ 9 , 33 %

Penyerapan air (ah) ¿ 4,167 %

Berat agregat halus ¿ 1129,1892 kg

0,04167−0,0933
Tambahan air ¿ 1129,1892 x =64,29915 kg
1−0,0933

0,0133−0,04335
Tambahan agregat halus¿ 1129,1892 x =−64,29915 kg
1−0,0133

Jadi diperlukan penambahan air sebanyak 64,29915kg dan pengurangan


agregat halus sebanyak 64,29915kg.

14
12) Berat bahan untuk tiap 1 m3 beton setelah adanya koreksi kadar air adalah sebagai
berikut.

Semen = 293,78902 kg

Air = (190 + 4,573447 - 64,29915) kg = 130,2743 kg

Agregat Kasar = (765,4757 – 19,48686061) kg = 760,9225 kg

Agregat Halus = (1129,1892 + 64,29915) kg = 1193,4884 kg

13) Beton untuk trial mix yang digunakan adalah 6 buah beton berbentuk silinder dengan
ukuran diameter alas 15 cm dan tinggi 30 cm. Ditambahkan pula safety factor sebesar
1,3 sehingga volume total beton adalah sebagai berikut.

1 1
π d xhx 1 ,3=6 x π ( 0 , 15 ) x 0 , 30 x 1 , 3
2 2
Volume beton total = 6 x
4 4
Volume beton total = 0,041351213 m3

Dari data volume beton yang akan dibuat, dapat kita ketahui banyaknya masing
masing bahan campuran untuk volume beton yang dituju.

Semen = 293,78902 kg/m3 x 0,041351213 m3 = 12,148533 kg

Air = 130,2743 kg/m3 x 0,041351213 m3 = 5,3870002 kg

Agregat Kasar = 760,90225 kg/m3 x 0,041351213 m3 = 31,464231 kg

Agregat Halus = 1193,4884 kg/m3 x 0,041351213 m3 = 49,352193 kg

15
3.5 Tabel Trial Mix
Tabel 3.9 Penetapan Variabel Perencanaan

Penetapan Variabel Perencanaan


1. Kategori Jenis Struktur - Kolom K-225
2. Rencana Slump Tabel 3.1 100 mm
3. Rencana Kuat TekanBeton σ' bm = σ' bk + 1.64 Sd 22,420175 MPa
Modulus Kehalusan Agregat
"Analisis Saringan" 3,241
4. Halus
Ukuran Maksimum Agregat
Ditentukan 25 mm
5. Kasar
Specific Gravity Agregat Kasar
"Specific Gravity" 2,59
6. Kondisi SSD
Specific Gravity Agregat Halus
"Specific Gravity" 2,78
7. Kondisi SSD
Berat Volume/Berat Isi Agregat
"Berat Volume" 1,223 kg/ltr
8. Kasar

Tabel 3.10 Perhitungan Komposisi Unsur Beton

Perhitungan Komposisi Unsur Beton


9. Rencana Air Adukan per 1 m3 beton Tabel 3.2 190 kg
10. Persentase Udara yang Terperangkap Tabel 3.2 1,5 %
12. w/c Ratio Maksimum Tabel 3.3 0,6467226
13. Berat Semen yang Diperlukan [9] / [12] 293,78902 kg
14. Volume Agregat Kasar per 1m3 beton Tabel 3.5 0,6259 m3
15. Berat Agregat Kasar yang Diperlukan [14] x [8] 765,4757 kg
16. Volume Semen 0.001 x [13] / 3.15 0,0932664 m3
17. Volume Air 0.001 x [9] 0,19 m3
18. Volume Agregat Kasar 0.001 x [15] / [6] 0,2955505 m3
19. Volume Udara [10] x 1 0,015 m3
20. Volume Agregat Halus per 1m3 beton 1-{[16]+[17]+[18]+[19]} 0,4061832 m3

16
Tabel 3.11 Komposisi Berat Unsur Adukan per m3 Beton

Komposisi Berat Unsur Adukan per m3 Beton


21. Semen [13] 293,78902 kg
22. Air [9] 190kg
23. Agregat Kasar kondisi SSD [15] 765,4757 kg
24. Agregat Halus kondisi SSD [20] x [7] x 1000 1129,1892 kg
25. Faktor Semen [21] / 40 (1 zak = 40 kg) 7,3447

Tabel 3.12 Komposisi Jumlah Air dan Berat Unsur untuk Perencanaan Lapangan

Komposisi Jumlah Air dan Berat Unsur untuk Perencanaan Lapangan


26. Kadar Air Asli / Kelembaban Agg Kasar Mk 3,76%
27. Penyerapan Air Kondisi SSD Agg Kasar Ak 4,335%
28. Kadar Air Asli / Kelembaban Agg Halus Mh 9,33%
29. Penyerapan Air Kondisi SSD Agg Halus Ah 4,335%
Tambahan Air Adukan dari Kondisi
30. [23] x {(ak-mk)/(1-mk)} 4,573447 kg
Agg Kasar
Tambahan Agg Kasar untuk Kondisi
31. [23] x {(mk-ak)/(1-mk)} -4,573447 kg
Lapangan
Tambahan Air Adukan dari Kondisi
32. [24] x {(ah-mh)/(1-mh)} -64,29915 kg
Agg Halus
Tambahan Agg Halus untuk Kondisi
33. [24] x {(mh-ah)/(1-mh)} 64,29915 kg
Lapangan

Tabel 3.13 Komposisi Akhir Unsur untuk Perencanaan Lapangan per m3 Beton

Komposisi Akhir Unsur untuk Perencanaan Lapangan per m3 Beton


34. Semen [13] 293,78902 kg
35. Air [22] + [30] + [32] 130,2743 kg
36. Agregat Kasar Kondisi Lapangan [23] + [31] 760,90225 kg
37. Agregat Halus Kondisi Lapangan [24] + [33] 1193,4884 kg

Tabel 3.14 Komposisi Unsur Campuran Beton

Komposisi Unsur Campuran Beton

17
34. Semen 12,148533 kg
35. Air 5,3870002 kg
36. Agregat Kasar Kondisi Lapangan 31,464231 kg
37. Agregat Halus Kondisi Lapangan 49,464231 kg

Tabel 3.15 Data-data Setelah Pengadukan / Pelaksanaan

Data-Data Setelah Pengadukan/Pelaksanaan


21. Sisa Air Campuran (jika ada) 0 kg
22. Tambahan Air Selama Pengadukan (jika ada) 6 kg
23. Jumlah Air Sesungguhnya 5,3870002 kg
24. Nilai Slump Hasil Pengukuran 100 mm
25. Berat Isi Beton Basah Waktu Pelaksanaan

18

Anda mungkin juga menyukai