Perancangan Campuran Beton Efisien
Perancangan Campuran Beton Efisien
1
Tabel 3.1 Nilai Slump yang Disarankan untuk Berbagai Jenis Pengerjaan Konstruksi
Slump (mm)
Jenis Konstruksi
3.2.2 Maksimum Minimum
Dinding fondasi, footing, sumuran, dinding basemen 75 25
Dinding dan balok 100 25
Kolom 100 25
Perkerasan dan Lantai 75 25
Beton dalam jumlah yang besar (seperti dam) 50 25
2
Tabel 3.2 Kebutuhan Air Pencampuran dan Udara untuk Berbagai Nilai Slump dan
Ukuran Maksimum Agregat Kasar
Kebutuhan Air (kg/m3) untuk ukuran maksimum
agregat
Jenis Beton Slump (mm)
10 12,5 20 25 40 50 75
mm mm mm mm mm mm mm
25 - 50 205 200 185 180 160 155 140
Tanpa Penambahan
75 - 100 225 215 200 190 175 170 155
Udara
150 - 175 240 230 210 200 185 175 170
Udara yang tersekap (%) 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0,3
Tabel 3.3 Hubungan Rasio Air Semen dan Kuat Tekan Beton
Rasio Air Semen (dalam perbandingan berat)
Kuat Tekan Beton
Tanpa Penambahan Dengan Penambahan
Umur 28 hari (MPa)
Udara Udara
48 0,33 -
40 0,41 0,32
35 0,48 0,4
28 0,57 0,48
20 0,68 0,59
14 0,82 0,74
3
Rasio Air Semen (dalam perbandingan berat)
Kuat Tekan Beton
Tanpa Penambahan Dengan Penambahan
Umur 28 hari (MPa)
Udara Udara
Nilai kuat tekan beton yang digunakan pada tabel 3.3 adalah nilai kuat tekan
beton rata-rata yang dibutuhkan, yaitu:
f m=¿f '
+1 ,64 Sd ¿
c
dimana,
f m = kuat tekan rata-rata
'
f c= nilai kuat tekan karakteristik (yang disyaratkan)
Sd = standar deviasi
Harga rasio air semen tersebut biasanya dibatasi oleh harga maksimum yang
diperbolehkan untuk kondisi exposure (lingkungan) tertentu. Dalam perancangan
campuran beton, digunakan kuat tekan rata-rata yang lebih besar dari kuat tekan
rencana. Kuat tekan rata-rata ini merupakan penjumlahan nilai kuat tekan rencana
dengan suatu standar deviasi. Penjumlahan dengan standar deviasi ini memberikan
faktor keamanan (safety factor) pada beton yang didesain, sehingga menjamin kuat
tekan minimum yang dibutuhkan oleh beton untuk menahan beban rencana dapat
terlampaui.
4
3.2.5 Perhitungan Kandungan Semen
Berat semen yang dibutuhkan adalah sama dengan jumlah berat air
pencampur (tahap 3.2.3) dibagi dengan nilai rasio air semen (3.2.4).
Berat air
Berat semen=
w
ratio
c
Tabel 3.5 Volume Agregat Kasar per Satuan Volume Beton dengan Nilai Slump 75-100
mm
Volume Agregat Kasar (Dry Rodded)
Ukuran
Persatuan Volume Beton untuk Berbagai Nilai
Maksimum
Modulus Kehalusan Pasir
Agregat Kasar
2,4 2,6 2,8 3,0
10 0,5 0,48 0,46 0,44
12,5 0,59 0,57 0,55 0,53
20 0,66 0,64 0,62 0,6
25 0,71 0,69 0,67 0,65
40 0,75 0,73 0,71 0,69
50 0,78 0,76 0,74 0,72
75 0,82 0,8 0,78 0,76
150 0,87 0,85 0,83 0,81
5
Tabel 3.6 Faktor Koreksi Tabel 3.5 untuk Nilai Slump yang Berbeda
Slump Faktor Koreksi untuk Berbagai Ukuran Maksimum Agregat
(mm) 10 mm 12,5 mm 20 mm 25 mm 40 mm
25 - 50 1,08 1,06 1,04 1,06 1,09
75 - 100 1 1 1 1 1
150 - 175 0,97 0,98 1 1 1
6
berkurang ini menyebabkan w/c ratio berubah dan dapat mempengaruhi kuat tekan
beton.
Karena itu, untuk mendapatkan campuran beton yang sesuai dengan dengan
perhitungan awal, diperlukan koreksi terhadap kadar air dan agregat dalam
campuran. Koreksi dilakukan dengan menambah atau mengurangi air saat
pencampuran beton, sesuai dengan kandungan air bebas pada agregat. Perhitungan
koreksi kadar air ini dilakukan pada kedua jenis agregat yaitu, agregat kasar dan
halus.
Perhitungan koreksi air dapat dilakukan dengan rumus berikut:
ak−mk
( i ) Tambahan air=M x ( )
1−mk
mk−ak
( ii ) Tambahan Agregat =M x ( )
1−mk
dimana,
M = massa agregat (kg)
Ak = % penyerapan air
Mk = % kadar air asli
7
PROSEDUR PERANCANGAN CAMPURAN BETON
8
campuran beton lebih encer dan meningkatkan nilai slump. Oleh karena itu rencana
massa air awal dipengaruhi oleh ukuran maksimum agregat kasar juga nilai slump.
7) Menentukan w/c ratio berdasarkan kuat tekan beton rata-rata, dari tabel3.3,
diregresi. Kemudian dari nilai w/c ratio ditentukan massa semen yangdibutuhkan.
Rasio w/c sangat mempengaruhi kuat tekan beton, semakin kecil W/C ratio maka
semakin besar kuat tekan beton, karena beton menjadi lebih padat. Maka W/C ratio
dapat ditentukan dari kuat tekan beton yang diinginkan.
8) Menentukan volume agregat kasar per satuan volume beton berdasarkan modulus
kehalusan dan ukuran maksimum agregat kasar. (sesuai Tabel 3.5).
Untuk menentukan volume agregat kasar ini, tentu yang mempengaruhinya adalah
modulus kehalusan juga ukuran maksimum agregat kasar. Dengan bertambahnya
volume maksimum agregat kasar dan semakin kasar pasir, maka beton akan butuh
volume agregat kasar lebih banyak untuk dapat menutupi kandungan udara yang
terperangkap dalam beton.
9) Mengestimasi kebutuhan volume agregat halus per m3 beton sesuai denganrumus
pada subbab 3.2.7.
Setelah mengetahui volume semen, volume air juga volume agregat kasar untuk
beton, maka kita akan mencari volume agregat halus yang dibutuhkan caranya adalah
dengan menyelisihkan volume 1m3 dengan volume semen, volume air, volume
agregat kasar dan juga volume udara yang terperangkap.
10) Hitung koreksi kadar air, kemudian koreksi jumlah air agregat halusdan agregat
kasar untuk campuran beton.
Agregat yang ada di laboratorium kemungkinan tidak berada dalam kondisi jenuh.
Sehingga hal ini menyebabkan agregat yang basah akan menambah kandungan air
dalam campuran sedangkan agregat yang kering akan menyerap air dalam campuran.
Dengan adanya perubahan kandungan air dalam campuran maka W/C rasio pun akan
berubah oleh karena itu dibutuhkan factor koreksi kandungan air. Setelah didapat
factor koreksi, maka kita mendapatkan jumlah air yang harus ditambahkan atau
dikurangkan, dengan demikian maka agregat juga akan mengalami koreksi berupa
penambahan ataupun pengurangan.
11) Volume per m3 beton masing masing unsur campuran di atas disesuaikanuntuk
volume beton yang akan dibuat.
Setelah mendapatkan massa air, massa agregat halus, massa agregat kasar, juga massa
semen yang dibutuhkan untuk membuat 1m 3 beton maka berikutnya kita harus
9
mengkonversi untuk membuat 6 buah beton silinder berukuran ( d= 150mm, h= 300
mm).
3) Dari percobaan sebelumnya diperoleh data agregat kasar yaitu sebagai berikut.
Tabel 3.7 Data Agregat Kasar
Modulus Kehalusan - - -
10
Modulus Kehalusan 3,46 3,022 3,241
4) Dari tabel 3.2, berdasarkan ketentuan di atas diperoleh berat air untuk campuran beton
dan persentase udara terperangkap sebagai berikut.
5) Kuat tekan beton rencana fc’= K-225 dikonversikan ke dalam satuan MPa dengan
standar deviasi yaitu 2,5 MPa. Gunakan rumus sebagai berikut untuk menentukan
nilai kuat tekan beton rata-rata.
'
fm=f c +1 , 64 S d
( )
2
kg m 1 cm
Nilai Kuat Tekan Rata−Rata=0 ,83 x 225 2
x 9 , 81 2 x 2
+1 , 64 x 2 , 5 MPa=22,420175 MPa
cm s 100 mm
y−0.68= ( 0.57−0.68
28−20 )
(x−20)
11
8) Tentukan volume agregat kasar yang diperlukan dari tabel 3.5. Namun, karena pada
percobaan sebelumnya didapat nilai modulus kehalusan sebesar 3,241, maka harus
dilakukan ekstrapolasi dengan x sebagai nilai modulus kehalusan, dan y sebagai
volume agregat kasar dengan ukuran maksimum agregat kasar 25 mm.
Faktor koreksi sebesar 1,00 karena slump yang dipilih 100 mm. Untuk menentukan
berat agregat kasar, gunakan rumus sebagai berikut.
10) Berat masing masing bahan bagi setiap m3 beton adalah sebagai berikut.
Semen = 293,78902 kg
Air = 190 kg
1. Tambahanair=Mx ( ak1−mk
−mk
)
mk−ak
2. TambahanAgregat=Mx ( )
1−mk
13
a. Agregat Kasar
0,04335−0,0376
Tambahan air ¿ 765,4757 x =4,573447 kg
1−0,0376
0,04335−0,0621
Tambahan agregat kasar¿ 765,4757 x =−4,573447 kg
1−0,0376
b. Agregat Halus
0,04167−0,0933
Tambahan air ¿ 1129,1892 x =64,29915 kg
1−0,0933
0,0133−0,04335
Tambahan agregat halus¿ 1129,1892 x =−64,29915 kg
1−0,0133
14
12) Berat bahan untuk tiap 1 m3 beton setelah adanya koreksi kadar air adalah sebagai
berikut.
Semen = 293,78902 kg
13) Beton untuk trial mix yang digunakan adalah 6 buah beton berbentuk silinder dengan
ukuran diameter alas 15 cm dan tinggi 30 cm. Ditambahkan pula safety factor sebesar
1,3 sehingga volume total beton adalah sebagai berikut.
1 1
π d xhx 1 ,3=6 x π ( 0 , 15 ) x 0 , 30 x 1 , 3
2 2
Volume beton total = 6 x
4 4
Volume beton total = 0,041351213 m3
Dari data volume beton yang akan dibuat, dapat kita ketahui banyaknya masing
masing bahan campuran untuk volume beton yang dituju.
15
3.5 Tabel Trial Mix
Tabel 3.9 Penetapan Variabel Perencanaan
16
Tabel 3.11 Komposisi Berat Unsur Adukan per m3 Beton
Tabel 3.12 Komposisi Jumlah Air dan Berat Unsur untuk Perencanaan Lapangan
Tabel 3.13 Komposisi Akhir Unsur untuk Perencanaan Lapangan per m3 Beton
17
34. Semen 12,148533 kg
35. Air 5,3870002 kg
36. Agregat Kasar Kondisi Lapangan 31,464231 kg
37. Agregat Halus Kondisi Lapangan 49,464231 kg
18