0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan23 halaman

Faktor Risiko Ulkus Diabetik di RSUD Parigi

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang diabetes melitus sebagai penyakit kronis yang ditandai dengan kadar glukosa darah tinggi dan komplikasinya. Dokumen juga membahas tentang prevalensi diabetes yang tinggi di Indonesia, termasuk di Sulawesi Tengah. Data dari rumah sakit menunjukkan peningkatan jumlah pasien diabetes dengan ulkus diabetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko ulkus diabetik pada pas

Diunggah oleh

ekuivalentolampi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan23 halaman

Faktor Risiko Ulkus Diabetik di RSUD Parigi

[Ringkasan] Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang diabetes melitus sebagai penyakit kronis yang ditandai dengan kadar glukosa darah tinggi dan komplikasinya. Dokumen juga membahas tentang prevalensi diabetes yang tinggi di Indonesia, termasuk di Sulawesi Tengah. Data dari rumah sakit menunjukkan peningkatan jumlah pasien diabetes dengan ulkus diabetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko ulkus diabetik pada pas

Diunggah oleh

ekuivalentolampi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULIUAN

A. Latar Belakang

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai

dengan kadar glukosa darah (gula darah) melebihi normal yaitu kadar gula

darah sewaktu sama atau lebih dari 200 mg/dl, dan kadar gula darah puasa di

atas atau sama dengan 126 mg/dl (Hestiana, 2017). DM dikenal sebagai silent

killer karena sering tidak disadari oleh penyandangnya dan saat diketahui

sudah terjadi komplikasi (Kemenkes RI, 2014). DM dapat menyerang hampir

seluruh sistem tubuh manusia, mulai dari kulit sampai jantung yang

menimbulkan komplikasi (Hestiana, 2017).

Angka mortalitas karena penyakit DM diseluruh Dunia mencapai 1,5 juta

orang pada tahun 2012 dan pada tahun 2014 prevalensi penderita DM

diperkirakan mencapai 9% dari total populasi dunia (Imelda, 2019). Data

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa Indonesia

merupakan negara dengan penderita DM terbanyak keempat di dunia setelah

India, China dan Amerika Serikat, dengan perkiraan penderita DM mencapai

angka 21,3 juta orang pada 2030. Asia menyumbang lebih dari 60% penderita

DM diseluruh dunia (Imelda, 2019). Prevalensi penderita DM di Indonesia

menempati urutan ke 4 dunia dengan jumlah penderita sebanyak 12 juta jiwa

dan diperkirakan akan meningkat menjadi 21,3 juta jiwa pada tahun 2030

(Imelda, 2019). Prevalensi diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2013

adalah sebesar 2,1%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tahun

1
2007 (1,1%). Sebanyak 31 provinsi (93,9%) menunjukkan kenaikan prevalensi

diabetes mellitus yang cukup berarti (Hestiana, 2017).

Jumlah penderita diabetes melitus di Sulawesi tengah terbilang masih

tinggi. Berdasarkan data Dinas kesehatan Sulawesi Tengah jumlah penderita

meningkat pada tahun 2015 dibandingkan tahun sebelumnya yaitu pada tahun

2014 mencapai 16.330 penderita, meningkat menjadi 16.456 penderita di

tahun 2015 (Nur Afni, 2018). Untuk penderita diabetes di sulawesi tengah

tersebar di beberapa kabupaten / kota yaitu : kota palu 3.122 kasus,

Kabupaten Donggala 571 kasus, Poso 506 kasus, Parigi Moutong 65 kasus,

Tolitoli 415 kasus, Buol 330 kasus, Tojo Una-una 3.587 kasus, Banggai 1.089

kasus, Banggai Kepulauan 269 kasus, Morowali 237 kasus, Sigi 382 kasus,

Morowali Utara 248 kasus dan Banggai Laut 202 kasus (Surdatin 2015)

dalam (Nur Afni, 2018). Berdasarkan data di atas menunjukkan masih

tingginya angka penderita yang disebabkan oleh Diabetes melitus yang terus

meningkat dari tahun ke tahun (Nur Afni, 2018).

Peneliti melakukan studi pendahuluan di Rumah Sakit Umum di kota

Parigi, yaitu di ruang rawat inap RSUD Anuntaloko Parigi. Berdasarkan data

yang didapat dari rekam medis menunjukkan jumlah penderita diabetes

melitus di ruang perawatan bedah pada tahun 2019 sebanyak 94 pasien, tahun

2020 sebanyak 220 pasien, tahun 2021 sebanyak 126 pasien dan tahun 2022

yang terdata sampai bulan juni sebanyak 90 pasien. Berdasarkan data pada

pasien DM didapatkan pasien diabetes dengan jenis kelamin perempuan

sebanyak 53 orang dan jenis kelamin laki-laki 41 orang di tahun 2019, pada

2
tahun 2020 didapatkan pasien diabetes dengan jenis kelamin perempuan

sebanyak 128 orang dan jenis kelamin laki-laki 92 orang, pada tahun 2021

didapatkan pasien diabetes dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 69

orang dan jenis kelamin laki-laki 57 orang, dan pada tahun 2022 didapatkan

data pasien diabetes sampai bulan juni dengan jenis kelamin perempuan

sebanyak 58 orang dan jenis kelamin laki-laki 32 orang (Rekam Medik

RSUD Anuntaloko Parigi 2022).

Hasil wawancara dengan 3 orang perawat ruang rawat inap perawatan

bedah di RSUD Anuntaloko Parigi pada tanggal 28 juni, didapatkan bahwa

faktor-faktor resiko dengan kejadian ulkus diabetik penderita diabetes melitus

yang dilakukan di RSUD Anuntaloko Parigi untuk pasien ulkus diabetik

adalah Edukasi yang dijelaskan oleh ahli gizi, pasien akan diberikan panduan

makanan beserta aturannya (Ruang Bedah RSUD Anuntaloko Parigi 2022).

Sebelumnya ada senam kaki yang dilakukan satu kali dalam seminggu,

namun sekarang sudah tidak ada dikarenakan keterbatasan tempat, dan

perawat yang melaksanakan program senam kaki adalah perawat dari unit

lain. Untuk edukasi perawatan kaki belum ada, jumlah pasien per hari ± 200

orang, dengan berbagai kasus (tidak hanya pasien diabetes), perawat yang

bertugas hanya 3 orang, dengan jadwal dinas perawat ada yang lanjut sampai

sore (Pukul 17.00 WIB). (Ruang Bedah RSUD Anuntaloko Parigi 2022).

Wawancara pada 4 orang pasien dengan diabetes melitus, didapatkan 2

pasien memiliki ulkus diabetik dan 2 pasien tanpa ulkus, terdapat mengatakan

nyaman berjalan kaki tanpa alas kaki dan tidak menyadari bahwa kakinya

3
sudah terluka karena tidak ada rasa di kaki. Perawatan luka yang dilakukan

adalah perawatan luka biasa, setelah satu bulan baru ke rumah sakit, akibat

luka yang tidak sembuh-sembuh, dan makin membesar. Wawancara pada 4

orang pasien dengan diabetes melitus, didapatkan 3 pasien dengan jenis

kelamin perempuan dan 1 pasien berjenis kelamin laki-laki (Ruang Bedah

RSUD Anuntaloko Parigi 2022).

Didapatkan dua pasien telah menderita DM lebih dari enam tahun

mengatakan bahwa tidak terlalu peduli dengan kaki, karena tidak tahu ada

perawatan kaki. Ketika kaki pasien dalam kondisi basah, pasien hanya

mengeringkan selintas dengan keset kaki. Selanjutnya pemotongan kuku

mengikuti bentuk kuku dan sangat dekat kekulit, alas kaki yang digunakan

saat berpergian adalah sandal yang jari dan tumit kaki masih terbuka.

Diantara keduanya menggunakan sandal jepit, pasien hanya fokus dengan

diet, dan terapi Insulin agar gula darahnya terkontrol (Ruang Bedah RSUD

Anuntaloko Parigi 2022).

Pasien mengatakan tidak pernah mendapatkan pendidikan kesehatan

tentang perawatan kaki. Dua pasien tidak pernah memeriksa kakinya dan

tidak pernah mengeringkan kakinya setelah cuci kaki. Pemotongan kuku

mengikuti alur kuku dan tidak mengoleskan pelembab pada kulit yang kering.

Satu dari pasien, mengatakan kakinya melepuh akibat api anti nyamuk yang

diletakkan pada kaki kemudian pasien tidak sengaja tertidur, karena pasien

merasa nyaman dengan rasa hangatnya, anak pasien yang mengetahui

kakinya telah melepuh (Ruang Bedah RSUD Anuntaloko Parigi 2022).

4
Dua pasien dengan kalus pada telapak kaki, mengatakan membersihkan

kalus bila sudah tebal, jika tidak dibersihkan akan terasa sakit saat berjalan,

tidak melakukan perawatan kaki lainnya karena yang di anjurkan adalah

kontrol bila kalus sudah tebal, sudah menggunakan sepatu yang direkomend

asikan perawat, namun tidak pernah memeriksa sepatu sebelum dipakai

(Ruang Bedah RSUD Anuntaloko Parigi 2022).

Berdasarkan fenomena dan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti

tentang faktor-faktor resiko dengan kejadian ulkus diabetik pada penderita

diabetes melitus berbasis kuisioner terhadap pengetahuan pasien ulkus

diabetik dalam perawatan kaki untuk mencegah ulkus diabetikum di Ruang

perawatan bedah RSUD Anuntaloko Parigi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian

ini adalah bagaimana faktor resiko dengan kejadian ulkus diabetik penderita

diabetes melitus di ruang perawatan bedah Rumah Sakit Anuntaloko Parigi.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui faktor resiko dengan kejadian ulkus diabetik

penderita diabetes melitus di ruang perawatan bedah Rumah Sakit

Anuntaloko Parigi.

2. Tujuan khusus

5
a. Untuk mengidentifikasi faktor resiko yang berhubungan dengan

jenis kelamin pada kejadian ulkus diabetik penderita diabetes

melitus di ruang perawatan bedah Rumah Sakit Anuntaloko Parigi.

b. Untuk mengidentifikasi faktor resiko lama DM dengan kejadian

ulkus diabetik penderita diabetes melitus di ruang perawatan bedah

Rumah Sakit Anuntaloko Parigi.

c. Untuk mengidentifikasi faktor resiko perawatan kaki dengan

kejadian ulkus diabetik penderita diabetes melitus di ruang

perawatan bedah Rumah Sakit Anuntaloko Parigi.

D. Manfaat Penelitian

1. Untuk instansi pemerintah (rumah sakit anuntaloko parigi)

Sebagai masukan kepada pihak rumah sakit anuntaloko parigi

tentang faktor resiko dengan kejadian ulkus diabetic penderita diabetes

melitus.

2. Untuk institusi (STIK Indonesia Jaya)

a. Untuk memberikan informasi tambahan bagi mahasiswa tentang faktor

resiko dengan kejadian ulkus diabetic penderita diabetes melitus.

b. Dapat menjadi pedoman untuk penelitian selanjutnya

3. Untuk peneliti

Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan.

6
BAB II

TINJAUN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Ulkus Diabetikum

1. Pengertian Diabetes Melitus

Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik

dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi

insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya, yang menimbulkan

berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah

(American Diabetes Asosiation, 2017). Diabetes mellitus atau yang

dikenal dengan kencing manis/penyakit gula merupakan penyakit dimana

kadar gula dalam darah cukup tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan

atau menggunakan insulin sehingga gula didalam darah tidak dapat

dimetabolisme (Andalas 2019).

2. Jenis-Jenis Diabetes Melitus

Diabetes melitus tipe 1 (Diabetes Insulin Dependent) Diabetes

melitus tipe 1 terjadi karena destruktif sel beta yang mengakibatkan

defisiensi insulin absolut yang disebabkan autoimun dan idiopatik

(Perkeni, 2015). Diabetes melitus tipe II (Diabetes Non Insulin Dependent)

Diabetes melitus tipe II terjasi karena bermacam- macam penyebab, dari

mulai dominasi resitensi yang disertai defiensi insulin relatif sampai yang

dominan defek sekresi insulin yang disertai resistensi insulin (Perkeni,

2015). DM Tipe II adalah penyakit gangguan metabolik yang di tandai

oleh kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta

7
pankreas dan atau ganguan fungsi insulin (resistensi insulin) (Kemenkes

RI, 2018).

Diabetes melitus gestasional Diabetes Melitus yang timbul pada

saat kehamilan akibatnya apabila tidak ditangani secara dini pada ibu

adalah akan terjadi preklamsia, komplikasi proses persalinan, resiko

Diabetes Melitus tipe II setelah melahirkan. Sedangkan resiko pada bayi

adalah lahir dengan berat badan > 4000 gram, pertumbuhan janin

terhambat, hipokalsemia dan kematian bayi dalam kandungan (Sugianto,

2012).

3. Gejala Diabetes Melitus

Gejala yang dikeluhkan pada penderita Diabetes Melitus yaitu

gangguan pada keseimbangan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Pasien

mengalami peningkatan nafsu makan yang berlebihan dikarenakan

penggunaan cadangan lemak akibat glukosa tidak dapat masuk ke dalam

sel. Selanjutnya gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga pasien

mengeluh banyak buang air kecil. Gangguan pemenuhan kebutuhan

oksigenasi, pasien mengalami peningkatan kekentalan darah yang

mengakibatkan aliran darah melambat dan menyebabkan iskemik pada

jaringan perifer. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur,

dikarenakan sumber energi menurun sehingga pasien mengeluh lemah.

Gangguan integritas kulit, diakibatkan karena penurunan atau tidak adanya

sensasi akibat neuropati, Gangguan-gangguan tersebut apabila tidak segera

8
ditangani akan menyebabkan terjadinya komplikasi dari penyakit Diabetes

Melitus (Riyadi, Sujono 2014).

Menurut Sujono & Sukarmin (2010), komplikasi Diabetes Melitus

dibagi dalam 2 kategori mayor, yaitu komplikasi metabolik akut dan

komplikasi vaskular jangka panjang :

1) Hyperglikemia

Hiperglikemi didefinisikan sebagai kadar glukosa darah

yang tinggi pada rentang non puasa sekitar 140-160 mg/100 ml

darah. Hiperglikemia mengakibatkan pertumbuhan berbagai

mikroorganisme dengan cepat seperti jamur dan bakteri. Karena

mikroorganisme tersebut sangat cocok dengan daerah yang kaya

glukosa.

2) Hipoglikemia sedang

Penururnan kadar glukosa yang menyebabkan sel-sel otak

tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik.

Berbagai tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup

ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi,

penurunan daya ingat, patirasa didaerah bibir serta lidah, bicara

pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku

yang tidak rasional.

9
3) Hipoglikemia berat

Hipoglikemia berat merupakan gangguan fungsi sistem

saraf yang sangat berat sehingga jika mengalami gangguan ini

pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi

hipoglikemi yang dideritanya. Gejalanya dapat mencakup perilaku

yang mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan

dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran. Penanganan harus

segera diberikan saat terjadi hipoglikemi.

4) Komplikasi Kronik Jangka Panjang

a.) Mikroangiopati merupakan lesi spesifik diabetes yang menyerang

kapiler dan arteriola retina (retinopati diabetik), glomerolus ginjal

(nefropati diabetik) dan saraf-saraf perifer (neuropati diabetik).

b.) Makroangiopati, mempunyai gambaran histopatologis berupa

aterosklerosis. Gabungan dari gangguan biokimia yang disebabkan

oleh insufisiensi insulin dapat menjadi penyebab jenis penyakit

vaskular.

[Link] Umum Tentang Faktor Resiko Ulkus Diabetik Pada Penderita

Diabetes Melitus

1. Pengertian Ulkus Diabetes Melitus

Ulkus diabetikum adalah keadaannya infeksi, tukak dan atau

kerusakan jaringan kulit yang paling dalam pada pasien Diabetes Mellitus

10
(DM) akibat kelainan darah saraf dan gangguan pembuluh arteri perifer

(Zulkarnain Edwar, 2015).

2. Faktor-Faktor Resiko Diabetes Melitus

Faktor-faktor risiko terjadinya ulkus kaki diabetik lebih lanjut dijelaskan

sebagai berikut:

a. Jenis Kelamin

Laki-laki memiliki organ-organ reproduksi seperti testis dan penis,

serta mampu menghasilkan sel gamet yang disebut sel sperma. Ciri

kelamin sekunder yang khas pada manusia seperti

munculnya jakun dan rambut wajah seperti kumis dan janggut. Istilah

laki-laki umumnya digunakan untuk manusia segala umur dan umum

untuk orang dewasa berjenis kelamin laki-laki disebut pria. Sapaan

yang lebih sopan ataupun panggilan untuk pria yang dihormati atau

yang lebih tua adalah bapak, atau sapaan-sapaan lainnya menurut

bahasa daerah masing-masing wilayah dan lawan jenis dari laki-laki

adalah perempuan (Zulkarnain Edward, 2015).

Perempuan adalah seseorang yang memiliki kemampuan

untuk menstruasi, mengandung, melahirkan anak, dan menyusui. Istilah

perempuan umumnya digunakan untuk manusia segala umur. Sebutan

umum untuk orang dewasa berjenis kelamin perempuan disebut wanita.

Sementara itu, istilah untuk anak-anak yang berjenis kelamin

perempuan disebut anak perempuan, cewek atau gadis. Di Indonesia,

sapaan yang lebih sopan ataupun panggilan untuk wanita yang

11
dihormati atau yang lebih tua adalah ibu, atau sapaan-sapaan lainnya

menurut bahasa daerah masing-masing wilayah. lawan jenis dari

perempuan adalah laki-laki (Zulkarnain Edward, 2015).

b. Lama Menderita DM

Lama Menderita DM yaitu Semakin lama seseorang menderita

DM, maka akan makin berisiko mengalami komplikasi. Risiko ulkus

berulang akan semakin besar pada penderita DM yang lamanya lebih 3

tahun tercatat 35-40% dari 70% pada penderita lebih daru 5 tahun

menderita DM. Berbeda dengan Macligeyo dan Otieno (1991)

menyatakan bahwa lamanya menderita DM rata-rata 5 tahun hingga

terjadi klomplikasi ulkus. Ulkus terjadi apabila kadar glukosa darah

tidak terkendali karena akan muncul komplikasi yang berhubungan

denga vakuler sehingga mengalami makroangiopati-mikroangiopati

yang akan terjadi vaskulopati dan neuropati yang mengakibatkan

menurunnya sirkulasi darah dan adanya robekan/luka pada kaki (Lubis,

2016).

c. Perawatan Kaki

Perawatan kaki diabetik yang teratur yaitu akan mencegah atau

mengurangi terjadinya komplikasi kronik pada kaki. Penelitian di

Spanyol yang dilakukan oleh Calle dkk. pada 318 DM dengan neuropati

dilakukan edukasi perawatan kaki kemudian diikuti selama 3-6 tahun

dihasilkan pada kelompok I (223 responden) melaksanakan perawatan

kaki teratur dan kelompok II (95 responden) tidak melaksanakan

12
perawatan kaki, pada kelompok I terjadi ulkus sejumlah 7 responden

dan kelompok II terjadi ulkus sejumlah 30 responden. Kelompok I

dilakukan tindakan amputasi sejumlah 1 responden dan kelompok II

sejumlah 19 responden. Hasil penelitian pada DM dengan neuropati

yaitu kelompok yang tidak melakukan perawatan kaki 13 kali risiko

terjadi ulkus kaki diabetik dibandingkan kelompok yang melakukan

perawatan kaki secara teratur (Celle, Pascual dan Duran, 2001).

Penggunaan alas kaki tidak tepat Penderita DM tidak boleh

berjalan tanpa alas kaki karena tanpa menggunakan alas kaki yang tepat

memudahkan terjadi trauma yang mengakibatkan ulkus kaki diabetik,

terutama apabila terjadi neuropati yang mengakibatkan sensasi rasa

berkurang atau hilang. Penelitian eksperimental oleh Gayle (2002)

tentang tekanan pada kaki karena penggunaan alas kaki yang tidak tepat

dengan kejadian ulkus kaki diabetik, menghasilkan bahwa penggunaan

alas kaki tidak tepat menyebabkan tekanan yang tinggi pada kaki

sehingga risiko terjadi ulkus diabetika 3 kali dibandingkan dengan

penggunaan alas kaki yang tepat (Lubis, 2016).

C. Landasan Teory

Penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit degeneratif non infeksi

yang bersifat menahun akibat kadar glukosa dalam darah yang tinggi. Pasien

diabetes mellitus dituntut mampu beradaptasi dengan penyakitnya sehingga

dapat mengatur dan menangani Perubahan pola hidup yang terjadi serta dapat

mengubah perilaku maladaptif ke perilaku adaptif (Cabral, 2016)

13
Pasien dengan penyakit diabetes mellitus dituntut agar mampu beradaptasi

dengan penyakitnya sehingga dapat mengatur dan menangani perubahan pola

hidup yang terjadi serta dapat mengubah perilaku maladaptif ke perilaku

adaptif. Pasien penyakit diabetes mellitus ini masih banyak yang belum paham

tentang penyakitnya sehingga masih banyak yang mengonsumsi makanan-

makanan manis yang menyebabkan terjadinya kekambuhan. Penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui adaptasi dan mekanisme adaptasi dari pasien

diabetes melistus dengan menggunakan teori adaptasi Sister Calista Roy

(Cabral, 2016).

[Link] Pikir

Veriabel Indenpenden Veriabel Dependen

Faktor resiko :

1. jenis kelamin
H Kejadian ulkus pada pasien DM
2. lama DM
pasien DMpasien DM
3. perawatan kaki

14
BAB III

METODOLGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitan

Jenis penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu

suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor

resiko dengan efek dengan cara pendekatan atau pengumpulan data sekaligus

secara bersamaan (Notoatmodjo, 2010).

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan di laksanakan pada bulan Agustus tahun 2022 di

RSUD Anuntaloko Parigi.

C. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah variabel indenpenden (variabel

bebas) Jenis kelamin, lama DM, neoropati, dan perawatan kaki. Variabel

dependent (veriabel terkait) adalah ulkus pada pasien DM.

D. Definisi Oprasional

a. Variabel indenpenden

1.) Jenis Kelamin

Jenis Kelamin karaktareristik pasien perempuan dan laki-laki di

penelitian ini yaitu pasien perempuan yang memiliki rata-rata usia diatas

55 tahun dan laki-laki dengan kebiasaan merokok. Usia ini merupakan

usia menuju dewasa tua dan dikaitkan pada usia tersebut perempuan

mulai memasuki masa menopause yang menyebabkan terjadinya

15
penurunan hormon estrogen. Estrogen merupakan faktor protektif

terhadap penyakit athresklerosis sehingga perempuan pada usia tersebut

lebih rentan terkena ulkus diabetikum.

Penelitian case control di California oleh Casanno dikutip oleh

WHO pada penderita Diabetes mellitus yang merokok ≥ 12 batang per

hari mempunyai risiko 3 kali untuk menjadi ulkus diabetika

dibandingkan dengan penderita DM yang tidak merokok. Kebiasaan

merokok akibat dari nikotin yang terkandung di dalam rokok akan dapat

menyebabkan kerusakan endotel kemudian terjadi Universitas Sumatera

Utara penempelan dan agregasi trombosit yang selanjutnya terjadi

kebocoran sehingga lipoprotein lipase akan memperlambat clearance

lemak darah dan mempermudah timbulnya aterosklerosis. Aterosklerosis

berakibat insufisiensi vaskuler sehingga aliran darah ke arteri dorsalis

pedis, poplitea, dan tibialis juga akan menurun.

Alat ukur : kuesioner

Cara ukur : pengisian kuisioner

Skla ukur : nominal

Hasil ukur :

o Laki-laki

o Perempuan

16
2.) Lama DM

Lamanya DM menginisiasi terjadinya hiperglisolia yaitu

keadaan sel yang kebanjiran glukosa sehingga menyebabkan

terjadinya komplikasi kronik.

Alat ukur : kuesioner

Cara ukur : Rekam medik dan wawancara

Skla ukur : ordinal

Hasil ukur : 1. <10tahun

2. ≥10 tahun

3.) Perawatan Kaki

Perawatan kaki adalah aktivitas untuk memelihara kaki dengan

melakukan pemerikasaan kaki, perewatan kaki regular dan

mencegah injuri pada kaki.

Alat ukur : kuesioner

Cara ukur : Wawancara dengan 8 pertanyaan

hasil jawaban responden diberi skor 1-4, dengan kategori: 1. tidak

pernah = 1 2. kadangkadang = 2 3. sering=3 4. selalu =4

Skala ukur : ordinal

Hasil ukur : 1. perawatan kaki

rutin; nilai ≥20

2. Perawatan kaki

tidak rutin; nilai

<20

17
b. Variabel dependen

Kejadian ulkus deabetik pada pasien DM

Definisi Operasional : Berdasarkan WHO dan

International Working Group on the Diabetic Foot, ulkus

diabetikum adalah keadaan adanya ulkus, infeksi, dan atau

kerusakan dari jaringan, yang berhubungan dengan kelainan

neurologi dan penyakit pembuluh darah perifer pada ekstremitas

bawah (Hendra et al., 2019).

D. Jenis Dan Cara Pengumpulan Data

1. Jenis Data

Untuk mendapatkan data maka digunakan cara prngumpulan data

sebagai berikut :

a. Data primer adalah data yang di kumpulkan lansung oleh peneliti

dengan wawancara lansung pada pasien diabetes melitus dengan ulkus

menggunanakan ceklis atau daftar pertanyaan kepada sampel.

b. Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari RSUD

Anuntaloko Parigi. Dokumentasi yaitu dengan melakukan penulusuran

pustaka dan dokumen yang berhubungan dengan penelitian.

2. Cara pengumpulan data

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka

digunakan teknik kusioner pengetahuan menggunakan skala Guttman

Kuesioner pengetahuan menggunakan skala Guttman Area, 2022). Dengan

menggunakan pilihan jawaban benar dan salah. pernyataan pengetahuan

18
berisi 10 pernyataan yang terdiri dari 7 pernyataan positif (nomor

1,3,4,6,7,8,10) dan 3 pernyataan negative (nomor 2, 5 dan 9). Pemberian

skor pada jawaban kuesioner yang pernyataan positif yaitu dengan skor 1

jika pilihan jawaban benar dan skor 0 jika pilihan jawaban salah. dan skor 0

jika pilihan jawaban salah dan skor 0 jika pilihan jawaban benar (Dita Dwi

Putri, 2014). Maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

a. Melalui kuisioner yaitu pengumpulan data dengan membagikan kuisioner

pada responden tentang pengetahuan diabetes melitus.

b. Dokumentasi yaitu dengan melakukan penulusuran pustaka dan dokumen

yang berhubungan dengan penelitian.

E. Penggolahan Data

Penggolahan data dalam penelitian ini di lakukan dalam beberapa

tahapan yaitu :

1. Editing data

Yaitu memeriksa adanya kesalahan atau kekurangan data yang di

peroleh dari lapangan.

2. Coding data

Yaitu memberikan kode nomor jawaban yang untuk memudahkan

peneliti dalam menganalisis data.

3. Tabulating

Yaitu menghitung dan mentabulasi data secara manual.

4. Entry data

Yaitu mencegah data dengan menggunakan rumus presentase .

19
5. Cleanig data

Yaitu melakukan pengecekan kembali,bila ada kesalahan dalam

perhitungam.

6. Describling data

Menggambarkan atau menjelaskan data yang sudah di kumpulkan di

dalam pembahasan.

F. Analisis Data

Adapun teknis analisis data yang di gunakan adalah :

1. Analisis univariat

Analisis ini di gunakan untuk melihat distribusi frekuensi terhadap

profesi masing-masing veriabel yang diteliti baik veriabel bebas maupun

veriabel [Link] data dilakukan dengan formulasi distribusi

frekuensi dengan rumus :

F
P= × 100%
N

Keterangan :

P = Presentase

F = Jumlah jawaban dari setiap alternatif

N = Banyaknya responden yang menjawab

2. Analisis bivariat

Analisis ini untuk melihat hubungan antara veriabel independen

menggunakan wi chi square dengan tingkat kepercayaan 95% kreteria

penerimaan hipotesis.

a. Jika nilai P value > a (0,05) maka hipotesis penelitian (HO) di terima

20
b. Jika nilai P value < a (0,05) maka hipotesis penelitian (HO) di tolak

G. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek dan

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan

oleh peneliti untuk di pelajari kemudian di tarik kesimpulannya (Sugiyono

2011). Populasi dalam penelitian ini adalah 90 pasien.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi sumber data

dalam penelitian, dimana populasi merupakan bagian dari jumlah

karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2017).

Pada penelitian ini yang menjadi sampel adalah sebagian pasien

penderita DM di RSUD Anuntaloko Parigi. Besar sampel dihitung dengan

menggunakan rumus Slovin ialah sebagai berikut:

N
n= 2
1+ N (d)

Keterangan :

n : Jumlah sampel

N : Jumlah populasi

d : Derajat ketetapan 15% (0,15)

90
n= 2
1+ 90(0 , 15)

90
n=
3,025

n=29

21
Jadi, besarnya sampel yang akan diteliti adalah 29 responden.

Jumlah sampel yang akan diambil disesuaikan dengan jumlah pasien yang

ada di ruang perawatan bedah RSUD Anuntaloko Parigi secara proposional

random sampling.

3. Kriteria inklusui dan eksklusi

a. Kriteria inklusi rawat inap

1) Pasien yang dirawat di ruang bedah RSUD Anuntaloko Parigi.

2) Bersedia menjadi sampel

3) Dapat berbahasa indonesia

4) Bisa membaca dan menulis

b. Kriteria Eksklusi Pasien Rawat Inap

1) Pasien yang mengalami gangguan kesadaran (tidak sadar)

2) Tidak bersedia sebagai responden dalam penelitian

22
23

Anda mungkin juga menyukai