BAB I
PENDAHULIUAN
A. Latar Belakang
Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai
dengan kadar glukosa darah (gula darah) melebihi normal yaitu kadar gula
darah sewaktu sama atau lebih dari 200 mg/dl, dan kadar gula darah puasa di
atas atau sama dengan 126 mg/dl (Hestiana, 2017). DM dikenal sebagai silent
killer karena sering tidak disadari oleh penyandangnya dan saat diketahui
sudah terjadi komplikasi (Kemenkes RI, 2014). DM dapat menyerang hampir
seluruh sistem tubuh manusia, mulai dari kulit sampai jantung yang
menimbulkan komplikasi (Hestiana, 2017).
Angka mortalitas karena penyakit DM diseluruh Dunia mencapai 1,5 juta
orang pada tahun 2012 dan pada tahun 2014 prevalensi penderita DM
diperkirakan mencapai 9% dari total populasi dunia (Imelda, 2019). Data
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa Indonesia
merupakan negara dengan penderita DM terbanyak keempat di dunia setelah
India, China dan Amerika Serikat, dengan perkiraan penderita DM mencapai
angka 21,3 juta orang pada 2030. Asia menyumbang lebih dari 60% penderita
DM diseluruh dunia (Imelda, 2019). Prevalensi penderita DM di Indonesia
menempati urutan ke 4 dunia dengan jumlah penderita sebanyak 12 juta jiwa
dan diperkirakan akan meningkat menjadi 21,3 juta jiwa pada tahun 2030
(Imelda, 2019). Prevalensi diabetes mellitus di Indonesia pada tahun 2013
adalah sebesar 2,1%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tahun
1
2007 (1,1%). Sebanyak 31 provinsi (93,9%) menunjukkan kenaikan prevalensi
diabetes mellitus yang cukup berarti (Hestiana, 2017).
Jumlah penderita diabetes melitus di Sulawesi tengah terbilang masih
tinggi. Berdasarkan data Dinas kesehatan Sulawesi Tengah jumlah penderita
meningkat pada tahun 2015 dibandingkan tahun sebelumnya yaitu pada tahun
2014 mencapai 16.330 penderita, meningkat menjadi 16.456 penderita di
tahun 2015 (Nur Afni, 2018). Untuk penderita diabetes di sulawesi tengah
tersebar di beberapa kabupaten / kota yaitu : kota palu 3.122 kasus,
Kabupaten Donggala 571 kasus, Poso 506 kasus, Parigi Moutong 65 kasus,
Tolitoli 415 kasus, Buol 330 kasus, Tojo Una-una 3.587 kasus, Banggai 1.089
kasus, Banggai Kepulauan 269 kasus, Morowali 237 kasus, Sigi 382 kasus,
Morowali Utara 248 kasus dan Banggai Laut 202 kasus (Surdatin 2015)
dalam (Nur Afni, 2018). Berdasarkan data di atas menunjukkan masih
tingginya angka penderita yang disebabkan oleh Diabetes melitus yang terus
meningkat dari tahun ke tahun (Nur Afni, 2018).
Peneliti melakukan studi pendahuluan di Rumah Sakit Umum di kota
Parigi, yaitu di ruang rawat inap RSUD Anuntaloko Parigi. Berdasarkan data
yang didapat dari rekam medis menunjukkan jumlah penderita diabetes
melitus di ruang perawatan bedah pada tahun 2019 sebanyak 94 pasien, tahun
2020 sebanyak 220 pasien, tahun 2021 sebanyak 126 pasien dan tahun 2022
yang terdata sampai bulan juni sebanyak 90 pasien. Berdasarkan data pada
pasien DM didapatkan pasien diabetes dengan jenis kelamin perempuan
sebanyak 53 orang dan jenis kelamin laki-laki 41 orang di tahun 2019, pada
2
tahun 2020 didapatkan pasien diabetes dengan jenis kelamin perempuan
sebanyak 128 orang dan jenis kelamin laki-laki 92 orang, pada tahun 2021
didapatkan pasien diabetes dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 69
orang dan jenis kelamin laki-laki 57 orang, dan pada tahun 2022 didapatkan
data pasien diabetes sampai bulan juni dengan jenis kelamin perempuan
sebanyak 58 orang dan jenis kelamin laki-laki 32 orang (Rekam Medik
RSUD Anuntaloko Parigi 2022).
Hasil wawancara dengan 3 orang perawat ruang rawat inap perawatan
bedah di RSUD Anuntaloko Parigi pada tanggal 28 juni, didapatkan bahwa
faktor-faktor resiko dengan kejadian ulkus diabetik penderita diabetes melitus
yang dilakukan di RSUD Anuntaloko Parigi untuk pasien ulkus diabetik
adalah Edukasi yang dijelaskan oleh ahli gizi, pasien akan diberikan panduan
makanan beserta aturannya (Ruang Bedah RSUD Anuntaloko Parigi 2022).
Sebelumnya ada senam kaki yang dilakukan satu kali dalam seminggu,
namun sekarang sudah tidak ada dikarenakan keterbatasan tempat, dan
perawat yang melaksanakan program senam kaki adalah perawat dari unit
lain. Untuk edukasi perawatan kaki belum ada, jumlah pasien per hari ± 200
orang, dengan berbagai kasus (tidak hanya pasien diabetes), perawat yang
bertugas hanya 3 orang, dengan jadwal dinas perawat ada yang lanjut sampai
sore (Pukul 17.00 WIB). (Ruang Bedah RSUD Anuntaloko Parigi 2022).
Wawancara pada 4 orang pasien dengan diabetes melitus, didapatkan 2
pasien memiliki ulkus diabetik dan 2 pasien tanpa ulkus, terdapat mengatakan
nyaman berjalan kaki tanpa alas kaki dan tidak menyadari bahwa kakinya
3
sudah terluka karena tidak ada rasa di kaki. Perawatan luka yang dilakukan
adalah perawatan luka biasa, setelah satu bulan baru ke rumah sakit, akibat
luka yang tidak sembuh-sembuh, dan makin membesar. Wawancara pada 4
orang pasien dengan diabetes melitus, didapatkan 3 pasien dengan jenis
kelamin perempuan dan 1 pasien berjenis kelamin laki-laki (Ruang Bedah
RSUD Anuntaloko Parigi 2022).
Didapatkan dua pasien telah menderita DM lebih dari enam tahun
mengatakan bahwa tidak terlalu peduli dengan kaki, karena tidak tahu ada
perawatan kaki. Ketika kaki pasien dalam kondisi basah, pasien hanya
mengeringkan selintas dengan keset kaki. Selanjutnya pemotongan kuku
mengikuti bentuk kuku dan sangat dekat kekulit, alas kaki yang digunakan
saat berpergian adalah sandal yang jari dan tumit kaki masih terbuka.
Diantara keduanya menggunakan sandal jepit, pasien hanya fokus dengan
diet, dan terapi Insulin agar gula darahnya terkontrol (Ruang Bedah RSUD
Anuntaloko Parigi 2022).
Pasien mengatakan tidak pernah mendapatkan pendidikan kesehatan
tentang perawatan kaki. Dua pasien tidak pernah memeriksa kakinya dan
tidak pernah mengeringkan kakinya setelah cuci kaki. Pemotongan kuku
mengikuti alur kuku dan tidak mengoleskan pelembab pada kulit yang kering.
Satu dari pasien, mengatakan kakinya melepuh akibat api anti nyamuk yang
diletakkan pada kaki kemudian pasien tidak sengaja tertidur, karena pasien
merasa nyaman dengan rasa hangatnya, anak pasien yang mengetahui
kakinya telah melepuh (Ruang Bedah RSUD Anuntaloko Parigi 2022).
4
Dua pasien dengan kalus pada telapak kaki, mengatakan membersihkan
kalus bila sudah tebal, jika tidak dibersihkan akan terasa sakit saat berjalan,
tidak melakukan perawatan kaki lainnya karena yang di anjurkan adalah
kontrol bila kalus sudah tebal, sudah menggunakan sepatu yang direkomend
asikan perawat, namun tidak pernah memeriksa sepatu sebelum dipakai
(Ruang Bedah RSUD Anuntaloko Parigi 2022).
Berdasarkan fenomena dan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti
tentang faktor-faktor resiko dengan kejadian ulkus diabetik pada penderita
diabetes melitus berbasis kuisioner terhadap pengetahuan pasien ulkus
diabetik dalam perawatan kaki untuk mencegah ulkus diabetikum di Ruang
perawatan bedah RSUD Anuntaloko Parigi.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian
ini adalah bagaimana faktor resiko dengan kejadian ulkus diabetik penderita
diabetes melitus di ruang perawatan bedah Rumah Sakit Anuntaloko Parigi.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui faktor resiko dengan kejadian ulkus diabetik
penderita diabetes melitus di ruang perawatan bedah Rumah Sakit
Anuntaloko Parigi.
2. Tujuan khusus
5
a. Untuk mengidentifikasi faktor resiko yang berhubungan dengan
jenis kelamin pada kejadian ulkus diabetik penderita diabetes
melitus di ruang perawatan bedah Rumah Sakit Anuntaloko Parigi.
b. Untuk mengidentifikasi faktor resiko lama DM dengan kejadian
ulkus diabetik penderita diabetes melitus di ruang perawatan bedah
Rumah Sakit Anuntaloko Parigi.
c. Untuk mengidentifikasi faktor resiko perawatan kaki dengan
kejadian ulkus diabetik penderita diabetes melitus di ruang
perawatan bedah Rumah Sakit Anuntaloko Parigi.
D. Manfaat Penelitian
1. Untuk instansi pemerintah (rumah sakit anuntaloko parigi)
Sebagai masukan kepada pihak rumah sakit anuntaloko parigi
tentang faktor resiko dengan kejadian ulkus diabetic penderita diabetes
melitus.
2. Untuk institusi (STIK Indonesia Jaya)
a. Untuk memberikan informasi tambahan bagi mahasiswa tentang faktor
resiko dengan kejadian ulkus diabetic penderita diabetes melitus.
b. Dapat menjadi pedoman untuk penelitian selanjutnya
3. Untuk peneliti
Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan.
6
BAB II
TINJAUN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Ulkus Diabetikum
1. Pengertian Diabetes Melitus
Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi
insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya, yang menimbulkan
berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah
(American Diabetes Asosiation, 2017). Diabetes mellitus atau yang
dikenal dengan kencing manis/penyakit gula merupakan penyakit dimana
kadar gula dalam darah cukup tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan
atau menggunakan insulin sehingga gula didalam darah tidak dapat
dimetabolisme (Andalas 2019).
2. Jenis-Jenis Diabetes Melitus
Diabetes melitus tipe 1 (Diabetes Insulin Dependent) Diabetes
melitus tipe 1 terjadi karena destruktif sel beta yang mengakibatkan
defisiensi insulin absolut yang disebabkan autoimun dan idiopatik
(Perkeni, 2015). Diabetes melitus tipe II (Diabetes Non Insulin Dependent)
Diabetes melitus tipe II terjasi karena bermacam- macam penyebab, dari
mulai dominasi resitensi yang disertai defiensi insulin relatif sampai yang
dominan defek sekresi insulin yang disertai resistensi insulin (Perkeni,
2015). DM Tipe II adalah penyakit gangguan metabolik yang di tandai
oleh kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta
7
pankreas dan atau ganguan fungsi insulin (resistensi insulin) (Kemenkes
RI, 2018).
Diabetes melitus gestasional Diabetes Melitus yang timbul pada
saat kehamilan akibatnya apabila tidak ditangani secara dini pada ibu
adalah akan terjadi preklamsia, komplikasi proses persalinan, resiko
Diabetes Melitus tipe II setelah melahirkan. Sedangkan resiko pada bayi
adalah lahir dengan berat badan > 4000 gram, pertumbuhan janin
terhambat, hipokalsemia dan kematian bayi dalam kandungan (Sugianto,
2012).
3. Gejala Diabetes Melitus
Gejala yang dikeluhkan pada penderita Diabetes Melitus yaitu
gangguan pada keseimbangan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Pasien
mengalami peningkatan nafsu makan yang berlebihan dikarenakan
penggunaan cadangan lemak akibat glukosa tidak dapat masuk ke dalam
sel. Selanjutnya gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga pasien
mengeluh banyak buang air kecil. Gangguan pemenuhan kebutuhan
oksigenasi, pasien mengalami peningkatan kekentalan darah yang
mengakibatkan aliran darah melambat dan menyebabkan iskemik pada
jaringan perifer. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur,
dikarenakan sumber energi menurun sehingga pasien mengeluh lemah.
Gangguan integritas kulit, diakibatkan karena penurunan atau tidak adanya
sensasi akibat neuropati, Gangguan-gangguan tersebut apabila tidak segera
8
ditangani akan menyebabkan terjadinya komplikasi dari penyakit Diabetes
Melitus (Riyadi, Sujono 2014).
Menurut Sujono & Sukarmin (2010), komplikasi Diabetes Melitus
dibagi dalam 2 kategori mayor, yaitu komplikasi metabolik akut dan
komplikasi vaskular jangka panjang :
1) Hyperglikemia
Hiperglikemi didefinisikan sebagai kadar glukosa darah
yang tinggi pada rentang non puasa sekitar 140-160 mg/100 ml
darah. Hiperglikemia mengakibatkan pertumbuhan berbagai
mikroorganisme dengan cepat seperti jamur dan bakteri. Karena
mikroorganisme tersebut sangat cocok dengan daerah yang kaya
glukosa.
2) Hipoglikemia sedang
Penururnan kadar glukosa yang menyebabkan sel-sel otak
tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik.
Berbagai tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup
ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi,
penurunan daya ingat, patirasa didaerah bibir serta lidah, bicara
pelo, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku
yang tidak rasional.
9
3) Hipoglikemia berat
Hipoglikemia berat merupakan gangguan fungsi sistem
saraf yang sangat berat sehingga jika mengalami gangguan ini
pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi
hipoglikemi yang dideritanya. Gejalanya dapat mencakup perilaku
yang mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan
dari tidur atau bahkan kehilangan kesadaran. Penanganan harus
segera diberikan saat terjadi hipoglikemi.
4) Komplikasi Kronik Jangka Panjang
a.) Mikroangiopati merupakan lesi spesifik diabetes yang menyerang
kapiler dan arteriola retina (retinopati diabetik), glomerolus ginjal
(nefropati diabetik) dan saraf-saraf perifer (neuropati diabetik).
b.) Makroangiopati, mempunyai gambaran histopatologis berupa
aterosklerosis. Gabungan dari gangguan biokimia yang disebabkan
oleh insufisiensi insulin dapat menjadi penyebab jenis penyakit
vaskular.
[Link] Umum Tentang Faktor Resiko Ulkus Diabetik Pada Penderita
Diabetes Melitus
1. Pengertian Ulkus Diabetes Melitus
Ulkus diabetikum adalah keadaannya infeksi, tukak dan atau
kerusakan jaringan kulit yang paling dalam pada pasien Diabetes Mellitus
10
(DM) akibat kelainan darah saraf dan gangguan pembuluh arteri perifer
(Zulkarnain Edwar, 2015).
2. Faktor-Faktor Resiko Diabetes Melitus
Faktor-faktor risiko terjadinya ulkus kaki diabetik lebih lanjut dijelaskan
sebagai berikut:
a. Jenis Kelamin
Laki-laki memiliki organ-organ reproduksi seperti testis dan penis,
serta mampu menghasilkan sel gamet yang disebut sel sperma. Ciri
kelamin sekunder yang khas pada manusia seperti
munculnya jakun dan rambut wajah seperti kumis dan janggut. Istilah
laki-laki umumnya digunakan untuk manusia segala umur dan umum
untuk orang dewasa berjenis kelamin laki-laki disebut pria. Sapaan
yang lebih sopan ataupun panggilan untuk pria yang dihormati atau
yang lebih tua adalah bapak, atau sapaan-sapaan lainnya menurut
bahasa daerah masing-masing wilayah dan lawan jenis dari laki-laki
adalah perempuan (Zulkarnain Edward, 2015).
Perempuan adalah seseorang yang memiliki kemampuan
untuk menstruasi, mengandung, melahirkan anak, dan menyusui. Istilah
perempuan umumnya digunakan untuk manusia segala umur. Sebutan
umum untuk orang dewasa berjenis kelamin perempuan disebut wanita.
Sementara itu, istilah untuk anak-anak yang berjenis kelamin
perempuan disebut anak perempuan, cewek atau gadis. Di Indonesia,
sapaan yang lebih sopan ataupun panggilan untuk wanita yang
11
dihormati atau yang lebih tua adalah ibu, atau sapaan-sapaan lainnya
menurut bahasa daerah masing-masing wilayah. lawan jenis dari
perempuan adalah laki-laki (Zulkarnain Edward, 2015).
b. Lama Menderita DM
Lama Menderita DM yaitu Semakin lama seseorang menderita
DM, maka akan makin berisiko mengalami komplikasi. Risiko ulkus
berulang akan semakin besar pada penderita DM yang lamanya lebih 3
tahun tercatat 35-40% dari 70% pada penderita lebih daru 5 tahun
menderita DM. Berbeda dengan Macligeyo dan Otieno (1991)
menyatakan bahwa lamanya menderita DM rata-rata 5 tahun hingga
terjadi klomplikasi ulkus. Ulkus terjadi apabila kadar glukosa darah
tidak terkendali karena akan muncul komplikasi yang berhubungan
denga vakuler sehingga mengalami makroangiopati-mikroangiopati
yang akan terjadi vaskulopati dan neuropati yang mengakibatkan
menurunnya sirkulasi darah dan adanya robekan/luka pada kaki (Lubis,
2016).
c. Perawatan Kaki
Perawatan kaki diabetik yang teratur yaitu akan mencegah atau
mengurangi terjadinya komplikasi kronik pada kaki. Penelitian di
Spanyol yang dilakukan oleh Calle dkk. pada 318 DM dengan neuropati
dilakukan edukasi perawatan kaki kemudian diikuti selama 3-6 tahun
dihasilkan pada kelompok I (223 responden) melaksanakan perawatan
kaki teratur dan kelompok II (95 responden) tidak melaksanakan
12
perawatan kaki, pada kelompok I terjadi ulkus sejumlah 7 responden
dan kelompok II terjadi ulkus sejumlah 30 responden. Kelompok I
dilakukan tindakan amputasi sejumlah 1 responden dan kelompok II
sejumlah 19 responden. Hasil penelitian pada DM dengan neuropati
yaitu kelompok yang tidak melakukan perawatan kaki 13 kali risiko
terjadi ulkus kaki diabetik dibandingkan kelompok yang melakukan
perawatan kaki secara teratur (Celle, Pascual dan Duran, 2001).
Penggunaan alas kaki tidak tepat Penderita DM tidak boleh
berjalan tanpa alas kaki karena tanpa menggunakan alas kaki yang tepat
memudahkan terjadi trauma yang mengakibatkan ulkus kaki diabetik,
terutama apabila terjadi neuropati yang mengakibatkan sensasi rasa
berkurang atau hilang. Penelitian eksperimental oleh Gayle (2002)
tentang tekanan pada kaki karena penggunaan alas kaki yang tidak tepat
dengan kejadian ulkus kaki diabetik, menghasilkan bahwa penggunaan
alas kaki tidak tepat menyebabkan tekanan yang tinggi pada kaki
sehingga risiko terjadi ulkus diabetika 3 kali dibandingkan dengan
penggunaan alas kaki yang tepat (Lubis, 2016).
C. Landasan Teory
Penyakit diabetes mellitus merupakan penyakit degeneratif non infeksi
yang bersifat menahun akibat kadar glukosa dalam darah yang tinggi. Pasien
diabetes mellitus dituntut mampu beradaptasi dengan penyakitnya sehingga
dapat mengatur dan menangani Perubahan pola hidup yang terjadi serta dapat
mengubah perilaku maladaptif ke perilaku adaptif (Cabral, 2016)
13
Pasien dengan penyakit diabetes mellitus dituntut agar mampu beradaptasi
dengan penyakitnya sehingga dapat mengatur dan menangani perubahan pola
hidup yang terjadi serta dapat mengubah perilaku maladaptif ke perilaku
adaptif. Pasien penyakit diabetes mellitus ini masih banyak yang belum paham
tentang penyakitnya sehingga masih banyak yang mengonsumsi makanan-
makanan manis yang menyebabkan terjadinya kekambuhan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui adaptasi dan mekanisme adaptasi dari pasien
diabetes melistus dengan menggunakan teori adaptasi Sister Calista Roy
(Cabral, 2016).
[Link] Pikir
Veriabel Indenpenden Veriabel Dependen
Faktor resiko :
1. jenis kelamin
H Kejadian ulkus pada pasien DM
2. lama DM
pasien DMpasien DM
3. perawatan kaki
14
BAB III
METODOLGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitan
Jenis penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu
suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor
resiko dengan efek dengan cara pendekatan atau pengumpulan data sekaligus
secara bersamaan (Notoatmodjo, 2010).
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan di laksanakan pada bulan Agustus tahun 2022 di
RSUD Anuntaloko Parigi.
C. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel indenpenden (variabel
bebas) Jenis kelamin, lama DM, neoropati, dan perawatan kaki. Variabel
dependent (veriabel terkait) adalah ulkus pada pasien DM.
D. Definisi Oprasional
a. Variabel indenpenden
1.) Jenis Kelamin
Jenis Kelamin karaktareristik pasien perempuan dan laki-laki di
penelitian ini yaitu pasien perempuan yang memiliki rata-rata usia diatas
55 tahun dan laki-laki dengan kebiasaan merokok. Usia ini merupakan
usia menuju dewasa tua dan dikaitkan pada usia tersebut perempuan
mulai memasuki masa menopause yang menyebabkan terjadinya
15
penurunan hormon estrogen. Estrogen merupakan faktor protektif
terhadap penyakit athresklerosis sehingga perempuan pada usia tersebut
lebih rentan terkena ulkus diabetikum.
Penelitian case control di California oleh Casanno dikutip oleh
WHO pada penderita Diabetes mellitus yang merokok ≥ 12 batang per
hari mempunyai risiko 3 kali untuk menjadi ulkus diabetika
dibandingkan dengan penderita DM yang tidak merokok. Kebiasaan
merokok akibat dari nikotin yang terkandung di dalam rokok akan dapat
menyebabkan kerusakan endotel kemudian terjadi Universitas Sumatera
Utara penempelan dan agregasi trombosit yang selanjutnya terjadi
kebocoran sehingga lipoprotein lipase akan memperlambat clearance
lemak darah dan mempermudah timbulnya aterosklerosis. Aterosklerosis
berakibat insufisiensi vaskuler sehingga aliran darah ke arteri dorsalis
pedis, poplitea, dan tibialis juga akan menurun.
Alat ukur : kuesioner
Cara ukur : pengisian kuisioner
Skla ukur : nominal
Hasil ukur :
o Laki-laki
o Perempuan
16
2.) Lama DM
Lamanya DM menginisiasi terjadinya hiperglisolia yaitu
keadaan sel yang kebanjiran glukosa sehingga menyebabkan
terjadinya komplikasi kronik.
Alat ukur : kuesioner
Cara ukur : Rekam medik dan wawancara
Skla ukur : ordinal
Hasil ukur : 1. <10tahun
2. ≥10 tahun
3.) Perawatan Kaki
Perawatan kaki adalah aktivitas untuk memelihara kaki dengan
melakukan pemerikasaan kaki, perewatan kaki regular dan
mencegah injuri pada kaki.
Alat ukur : kuesioner
Cara ukur : Wawancara dengan 8 pertanyaan
hasil jawaban responden diberi skor 1-4, dengan kategori: 1. tidak
pernah = 1 2. kadangkadang = 2 3. sering=3 4. selalu =4
Skala ukur : ordinal
Hasil ukur : 1. perawatan kaki
rutin; nilai ≥20
2. Perawatan kaki
tidak rutin; nilai
<20
17
b. Variabel dependen
Kejadian ulkus deabetik pada pasien DM
Definisi Operasional : Berdasarkan WHO dan
International Working Group on the Diabetic Foot, ulkus
diabetikum adalah keadaan adanya ulkus, infeksi, dan atau
kerusakan dari jaringan, yang berhubungan dengan kelainan
neurologi dan penyakit pembuluh darah perifer pada ekstremitas
bawah (Hendra et al., 2019).
D. Jenis Dan Cara Pengumpulan Data
1. Jenis Data
Untuk mendapatkan data maka digunakan cara prngumpulan data
sebagai berikut :
a. Data primer adalah data yang di kumpulkan lansung oleh peneliti
dengan wawancara lansung pada pasien diabetes melitus dengan ulkus
menggunanakan ceklis atau daftar pertanyaan kepada sampel.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari RSUD
Anuntaloko Parigi. Dokumentasi yaitu dengan melakukan penulusuran
pustaka dan dokumen yang berhubungan dengan penelitian.
2. Cara pengumpulan data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka
digunakan teknik kusioner pengetahuan menggunakan skala Guttman
Kuesioner pengetahuan menggunakan skala Guttman Area, 2022). Dengan
menggunakan pilihan jawaban benar dan salah. pernyataan pengetahuan
18
berisi 10 pernyataan yang terdiri dari 7 pernyataan positif (nomor
1,3,4,6,7,8,10) dan 3 pernyataan negative (nomor 2, 5 dan 9). Pemberian
skor pada jawaban kuesioner yang pernyataan positif yaitu dengan skor 1
jika pilihan jawaban benar dan skor 0 jika pilihan jawaban salah. dan skor 0
jika pilihan jawaban salah dan skor 0 jika pilihan jawaban benar (Dita Dwi
Putri, 2014). Maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
a. Melalui kuisioner yaitu pengumpulan data dengan membagikan kuisioner
pada responden tentang pengetahuan diabetes melitus.
b. Dokumentasi yaitu dengan melakukan penulusuran pustaka dan dokumen
yang berhubungan dengan penelitian.
E. Penggolahan Data
Penggolahan data dalam penelitian ini di lakukan dalam beberapa
tahapan yaitu :
1. Editing data
Yaitu memeriksa adanya kesalahan atau kekurangan data yang di
peroleh dari lapangan.
2. Coding data
Yaitu memberikan kode nomor jawaban yang untuk memudahkan
peneliti dalam menganalisis data.
3. Tabulating
Yaitu menghitung dan mentabulasi data secara manual.
4. Entry data
Yaitu mencegah data dengan menggunakan rumus presentase .
19
5. Cleanig data
Yaitu melakukan pengecekan kembali,bila ada kesalahan dalam
perhitungam.
6. Describling data
Menggambarkan atau menjelaskan data yang sudah di kumpulkan di
dalam pembahasan.
F. Analisis Data
Adapun teknis analisis data yang di gunakan adalah :
1. Analisis univariat
Analisis ini di gunakan untuk melihat distribusi frekuensi terhadap
profesi masing-masing veriabel yang diteliti baik veriabel bebas maupun
veriabel [Link] data dilakukan dengan formulasi distribusi
frekuensi dengan rumus :
F
P= × 100%
N
Keterangan :
P = Presentase
F = Jumlah jawaban dari setiap alternatif
N = Banyaknya responden yang menjawab
2. Analisis bivariat
Analisis ini untuk melihat hubungan antara veriabel independen
menggunakan wi chi square dengan tingkat kepercayaan 95% kreteria
penerimaan hipotesis.
a. Jika nilai P value > a (0,05) maka hipotesis penelitian (HO) di terima
20
b. Jika nilai P value < a (0,05) maka hipotesis penelitian (HO) di tolak
G. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek dan
subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan
oleh peneliti untuk di pelajari kemudian di tarik kesimpulannya (Sugiyono
2011). Populasi dalam penelitian ini adalah 90 pasien.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi sumber data
dalam penelitian, dimana populasi merupakan bagian dari jumlah
karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2017).
Pada penelitian ini yang menjadi sampel adalah sebagian pasien
penderita DM di RSUD Anuntaloko Parigi. Besar sampel dihitung dengan
menggunakan rumus Slovin ialah sebagai berikut:
N
n= 2
1+ N (d)
Keterangan :
n : Jumlah sampel
N : Jumlah populasi
d : Derajat ketetapan 15% (0,15)
90
n= 2
1+ 90(0 , 15)
90
n=
3,025
n=29
21
Jadi, besarnya sampel yang akan diteliti adalah 29 responden.
Jumlah sampel yang akan diambil disesuaikan dengan jumlah pasien yang
ada di ruang perawatan bedah RSUD Anuntaloko Parigi secara proposional
random sampling.
3. Kriteria inklusui dan eksklusi
a. Kriteria inklusi rawat inap
1) Pasien yang dirawat di ruang bedah RSUD Anuntaloko Parigi.
2) Bersedia menjadi sampel
3) Dapat berbahasa indonesia
4) Bisa membaca dan menulis
b. Kriteria Eksklusi Pasien Rawat Inap
1) Pasien yang mengalami gangguan kesadaran (tidak sadar)
2) Tidak bersedia sebagai responden dalam penelitian
22
23