0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan21 halaman

Definisi dan Komponen Pariwisata

Tinjauan pustaka menjelaskan konsep pariwisata, komponen penting pariwisata seperti daya tarik, fasilitas, dan aksesibilitas. Produk wisata terbentuk dari tiga komponen utama yaitu daya tarik wisata, fasilitas di daerah tujuan, dan aksesibilitas ke tempat tujuan.

Diunggah oleh

faris.toretto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan21 halaman

Definisi dan Komponen Pariwisata

Tinjauan pustaka menjelaskan konsep pariwisata, komponen penting pariwisata seperti daya tarik, fasilitas, dan aksesibilitas. Produk wisata terbentuk dari tiga komponen utama yaitu daya tarik wisata, fasilitas di daerah tujuan, dan aksesibilitas ke tempat tujuan.

Diunggah oleh

faris.toretto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pariwisata

Arti pariwisata secara luas menurut Yoeti (1985), kepariwisataan adalah


setiap peralihan tempat yang bersifat sementara dari seseorang atau beberapa
orang, dengan maksud memperoleh pelayanan yang diperuntukkan bagi
kepariwisataan itu oleh lembaga-lembaga yang terkait dengan industri pariwisata.
Dalam undang – undang Nomor 9 tahun 1990 tentang Pokok – Pokok Pariwisata
dijelaskan tentang istilah wisata, pariwisata, dan kepariwisataan, masing masing
dijalaskan sebagai :

a. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian kegiatan tersebut


dilaksanakan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati
objek dan daya tarik wisata. Unsur yang terpenting dalam wisata adalah
tidak bertujuan mencari nafkah. Tetapi apabila disela – sela kegiatan
mencari nafkah itu juga secara khusus dilakukan kegiatan wisata, bagian
dari kegiatan tersebut dapat dianggap sebagai kegiatan wisata. Pengertian
wisata pada dasarnya mengandung 4 unsur, yaitu :
1) Unsur manusia (wisatawan)
2) Unsur kegiatan (perjalanan)
3) Unsur motivasi (menikmati)
4) Unsur sasaran (obyek dan daya tarik wisata)
b. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata
termasuk pengusaha objek wisata dan daya tarik wisata serta usaha – usaha
yang terkait di bidang tersebut.
c. Kawasan Pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang dibangun
atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.
d. Obyek Wisata dalam hal ini diartikan sebagai perwujudan dari ciptaan
manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan tempat atau
keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi wisata.
Berdasarkan pengertian ini, maka beberapa faktor penting dalam bidang
pariwisata adalah :

a. Perjalanan itu dilakukan sementara waktu


b. Perjalanan itu dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain
c. Perjalanan itu apapun bentuknya, harus selalu dikaitkan dengan tamasya
atau rekreasi.
d. Orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak memiliki tujuan untuk
mencari nafkah atau upah dari tempat yang dikunjunginya, tetapi semata-
mata hanya sebagai konsumen di tempat tersebut.
Dari empat pengertian tersebut, disimpulkan bahwa pariwisata adalah
suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu dari suatu tempat
ke tempat lain untuk kepentingan rekreasi atau untuk kepentingan lain seperti
ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan maupun kepentingan
lainnya seperti sekedar ingin tahu, menambah pengalaman, atau untuk belajar
sesuatu dan juga karena kepentingan yang berhubungan dengan kegiatan olah
raga, untuk kesehatan, dan keperluan lainnya.
Dalam kegiatan wisata terdapat beberapa komponen
penting, sebagaimana menurut Yoeti (1985) :

a. Kawasan wisata harus mempunyai apa yang disebut sebagai “something to


see”. Artinya, di tempat tersebut harus ada objek wisata dan atraksi wisata
yang dapat dilihat dan disaksikan, serta berbeda dengan apa yang dimiliki
oleh kawasan wisata lain.
b. Di daerah tersebut harus tersedia apa yang dimaksud dengan istilah
“something to do”. Artinya, di tempat tersebut disediakan fasilitas rekreasi
yang dapat membuat mereka betah tinggal lebih lama di tempat itu.
c. Di daerah tersebut harus tersedia apa yang disebut dengan istilah
“something to buy”. Artinya, di tempat tersebut harus tersedia fasilitas
untuk belanja (shopping), terutama barang-barang souvenir dan kerajinan
rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tempat asal masing-
masing.
Dalam Yoeti (1997) berpendapat bahwa berhasilnya suatu tempat wisata
hingga tercapainya kawasan wisata sangat tergantung pada 3A yaitu atraksi
(attraction), mudah dicapai (accessibility), dan fasilitas (amenities).

a. Atraksi (attraction)

Atraksi wisata yaitu sesuatu yang dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat
dilihat, dinikmati dan yang termasuk dalam hal ini adalah: tari-tarian,
nyanyian kesenian rakyat tradisional, upacara adat, dan lain-lain.

b. Aksesibilitas (accesibility)
Aktivitas kepariwisataan banyak tergantung pada transportasi dan
komunikasi karena faktor jarak dan waktu yang sangat mempengaruhi
keinginan seseorang untuk melakukan perjalanan wisata. Unsur yang
terpenting, kecepatan yang dimilikinya dapat mengakibatkan jarak seolah-
olah menjadi dekat.

Selain transportasi yang berkaitan dengan aksesibilitas adalah prasarana


meliputi jalan, jembatan, terminal, stasiun, dan bandara. Prasarana ini
berfungsi untuk menghubungkan suatu tepat dengan tempat yang lain.
Keberadaan prasarana transportasi akan mempengaruhi laju tingkat
transportasi itu sendiri. Kondisi prasarana yang baik akan membuat laju
transportasi optimal.

c. Fasilitas (amenities)

Fasilitas wisata merupakan hal-hal penunjang terciptanya kenyamanan


wisatawan untuk dapat mengunjungi suatu daerah tujuan wisata. Adapun
sarana-sarana penting yang berkaitan dengan perkembangan pariwisata
adalah sebagai berikut:

1) Akomodasi hotel
2) Restoran
3) Air bersih
4) Komunkasi
5) Hiburan
6) Keamanan
Aspek-aspek yang mempengaruhi wisata dapat dikelompokkan
menjadi empat kategori sebagaimana menurut Spillane (1994), yaitu :

a. Attraction/ Daya tarik

Menurut pengertiannya attraction adalah menarik wisatawan atau


pengunjung dengan sesuatu yang dapat ditampilkan atau wisatawan
tertarik pada ciri-ciri khas tertentu dari obyek wisata. Motivasi wisatawan
untuk mengunjungi suatu tempat adalah untuk memenuhi atau memuaskan
beberapa kebutuhan dan permintaan. Biasanya para wisatawan tertarik
pada suatu lokasi yang memiliki ciri khas tertentu yang antara lain adalah
keindahan alam.

b. Fasilitas

Fasilitas dalam hal ini lebih cenderung berorientasi pada atraksi di suatu
lokasi. Hal ini disebabkan karena karena fasilitas harus terletak dekat
dengan pasarnya. Fasilitas cenderung mendukung bukan mendorong
pertumbuhan dan cenderung berkembang pada saat yang sama atau
sesudah atraksi berkembang, atraksi juga dapat merupakan fasilitas.

c. Infrastruktur
Attraction dan fasilitas tidak hanya dapat dicapai dengan mudah kalau
belum ada infrastruktur. Infrastruktur dalam hal ini adalah prasarana yang
mendukung kegiatan wisata, seperti listrik dan ketersediaan air bersih.
d. Transportasi
Aktivitas kepariwisataan banyak tergantung pada transportasi karena
faktor jarak dan waktu sangat mempengaruhi keinginan orang untuk
melakukan perjalanan wisata. Dengan demikian transportasi dapat
memudahkan wisatawan mengunjungi suatu daerah tertentu.

Middleton (2001) memberikan pengertian produk wisata lebih dalam yaitu


“The tourist products to be considered as an amalgam of three main components
of attraction, facilities at the destination and accessibility of the destination”. Dari
pengertian di atas kita dapat melihat bahwa produk wisata secara umum terbentuk
disebabkan oleh tiga komponen utama yaitu atraksi wisata, fasilitas di daerah
tujuan wisata dan aksesibilitas.

Middleton (2001) mengungkapkan ada tiga komponen utama dari produk


wisata, diuraikan sebagai berikut:

a. Atraksi

Elemen-elemen di dalam suatu atraksi wisata yang secara luas menentukan


pilihan konsumen dan mempengaruhi motivasi calon-calon pembeli
diantaranya :

1) Atraksi wisata alam, meliputi bentang alam, pantai, iklim dan bentukan
geografis lain dari suatu destinasi dan sumber daya alam lainnya.
2) Atraksi wisata buatan / binaan manusia, meliputi angunan dan
infrastruktur pariwisata termasuk arsitektur bersejarah dan modern,
monument, trotoar jalan, taman dan kebun, pusat konvensi, marina, ski,
tempat kepurbakalaan, lapangan golf, toko-toko khusus dan daerah yang
bertema.
3) Atraksi wisata budaya, meliputi sejarah dan cerita rakyat (legenda),
agama dan seni, teater musik, tari dan pertunjukkan lain, dan museum.
Beberapa dari hal tersebut dapat dikembangankan menjadi even khusus,
festival, dan karnaval.
4) Atraksi wisata sosial, meliputi pandangan hidup suatu daerah, penduduk
asli, bahasa, dan kegiatan-kegiatan pertemuan sosial.
b. Amenities / Fasilitas

Terdapat unsur-unsur di dalam suatu atraksi atau berkenaan dengan suatu


atraksi yang memungkinkan pengunjung untuk menginap dan dengan kata
lain untuk menikmati dan berpatisipasi di dalam suatu atraksi wisata. Hal
tersebut meliputi :

1) Akomodasi meliputi hotel, desa wisata, apartment, villa,


caravan, hostel, guest house, dan sebagainya.
2) Restoran, meliputi dari makanan cepat saji sampai dengan makanan
mewah.
3) Transportasi di suatu atraksi, meliputi taksi, bus, penyewaan sepeda
dan alat ski di atraksi yang bersalju.
4) Aktivitas, seperti sekolah ski, sekolah berlayar dan klub golf.
5) Fasilitas-fasilitas lain, misalnya pusat-pusat bahasa dan kursus
keterampilan.
6) Retail Outlet, seperti toko, agen perjalanan, souvenir, produsen
camping.
7) Pelayanan-pelayanan lain, misalnya salon kecantikan, pelayanan
informasi, penyewaan perlengkapan dan kebijaksanaan pariwisata.
c. Aksesibilitas

Elemen-elemen ini adalah yang mempengaruhi biaya, kelancaran dan


kenyamanan terhadap seorang wisatawan yang akan menempuh suatu
atraksi.

Elemen-elemen tersebut ialah :

1) Infrastruktur
2) Jalan, bandara, jalur kereta api, pelabuhan laut, marina.
3) Perlengkapan, meliputi ukuran, kecepatan, jangkauan dari sarana
transportasi umum.
4) Faktor-faktor operasional seperti jalur/rute operasi, frekuensi
pelayanan, dan harga yang dikenakan.
5) Peraturan Pemerintah yang meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan
peraturan transportasi.
Sesuai dengan pemahaman Middleton (2001), dilengkapi oleh Direktorat
Jenderal Pariwisata Republik Indonesia yang menyebutkan perkembangan produk
wisata dikaitkan atas 4 faktor yaitu :

a. Attractions (daya tarik) :


1) Site Attractions (tempat-tempat bersejarah, tempat dengan iklim yang
baik, pemandangan indah).
2) Event Attractions (kejadian atau peristiwa misalnya kongres, pameran,
atau peristiwa lainnya).
b. Amenities (fasilitas) tersedia fasilitas yaitu tempat penginapan, restoran,
transport lokal yang memungkinkan wisatawan berpergian, alat-alat
komunikasi.
c. Aksesibilitas adalah tempatnya tidak terlalu jauh, tersedia transportasi ke
lokasi, murah, aman, dan nyaman.
d. Tourist organization untuk menyusun kerangka pengembangan pariwisata,
mengatur industri pariwisata dan mempromosikan daerah sehingga
dikenal banyak orang.
Dalam mengkaji pemahaman wisata air terdapat beberapa elemen penting
dalam perkembangan kegiatan wisata. Sebagaimana menurut Yoeti (1985) maka
dapat diketahui bahwa dalam kegiatan wisata terdapat 3 hal penting, yakni
something to see, something to do dan something to buy. Dalam Yoeti (1997),
juga diketahui bahwasanya kawasan wisata bergantung pada 3A, yakni atraksi,
aksesibilitas dan amenities (fasilitas). Sejalan dengan Yoeti, pendapat Spillane
(1994) menyatakan bahwa terdapat 4 pengaruh wisata yaitu atraksi, fasilitas,
insfrastruktur dan transportasi. Infrastruktur dan transportasi dalam hal ini sejalan
dengan aksesibilitas. Begitu juga dengan Middleton (2001), dan Direktorat
Jendral Pariwisata Republik Indonesia, bahwa faktor atraksi, amenities (fasilitas)
serta akesibilitas merupakan faktor penting terkait wisata. Maka dapat diketahui
bahwa diambil kesimpulan bahwa sebaiknya dalam merencanakan kawasan
wisata penting dalam memperhatikan beberapa elemen seperti : atraksi/ daya
tarik, fasilitas dan aksesibilitas.
2.1.1 Wisata Air

Wisata air atau wisata tirta memiliki pengertian penyelenggaraan sarana


dan jasa yang dikelola secara komersisal di perairan laut, pantai, sungai dan
danau. Sebagaimana terdapat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 36 Tahun 2010 Tentang Pengusahaan Pariwisata Alam Di Suaka
Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam,
yang dimaksud dengan usaha wisata tirta adalah usaha menyelenggarakan wisata
dan olahraga air termasuk penyediaan sarana dan jasa lainnya yang dikelola
secara komersial di perairan laut, pantai, sungai, dan danau. Sedangkan izin usaha
penyediaan sarana wisata alam diberikan dengan ketentuan:
a. Bukan sebagai hak kepemilikan atau penguasaan atas kawasan taman
nasional, taman hutan raya, atau taman wisata alam;
b. Tidak dapat dijadikan jaminan atau agunan;
c. Hanya dapat dipindahtangankan setelah mendapat persetujuan tertulis dari
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai kewenangannya;
d. Luas areal yang diizinkan untuk dibangun sarana wisata alam paling
banyak 10% (sepuluh per seratus) dari luas areal yang ditetapkan dalam
izin;
e. Sarana wisata alam yang di bangun untuk wisata tirta dan akomodasi,
harus semi permanen dan bentuknya disesuaikan dengan arsitektur
budaya setempat;
f. Dalam melaksanakan pembangunan sarana wisata alam disesuaikan
dengan kondisi alam dengan tidak mengubah bentang alam.
Maka berdasarkan rujukan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian
wisata air yang ada dalam penelitian ini adalah penyelenggaraan sarana dan jasa
yang dikelola secara komersial di Sungai Kali Mas. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penyediaan sarana wisata air antara lain memiliki jenis
bangunan yang semi permanen dan menyesuaikan dengan arsitektur budaya
setempat serta tidak mengubah bentang alam kondisi sungai yang ada.

Menurut Fandeli (2002) terdapat beberapa jenis kegiatan wisata air antara
lain :

a. Berjalan kaki

Pada jenis ini terdapat dua bentuk yaitu bersantai dan berjalan lebih serius
(hiking).

b. Bermain di dalam ruang

Pada umumnya di lingkungan yang tidak alami, hasil binaan tanpa


peralatan tertentu

c. Berenang (swimming)

Kegiatan wisata alam ini dilakukan tidak di kolam renang


buatan
d. Memancing (fishing)

Ada dua macam memancing, yaitu di kolam buatan dan di perairan alam.
Pada wisata alam ditekankan pada perairan alam.

e. Studi alam arkeologi

Mempelajari artefak dan ekofak di alam

f. Perjalanan penjelajahan

Ada dua pola yaitu menjelajah alam dengan dipandu dan tidak
dipandu

g. Berlayar (boating / sailing)

Baik di perairan sungai, danau, waduk, ataupun di laut menggunakan


peralatan dan mesin.

h. Berperahu / berkano (canoeing)

Berperahu di perairan sungai, danau dan


pantai.

i. Sightseeing (melihat-lihat)

Biasanya untuk melihat budaya masyarkat dan pemandangan alam di


kota / desa

j. Piknik
k. Ski air
l. Selancar

Merujuk pada referensi di atas, maka pada sungai Kali Mas potensi wisata
air dapat berupa berjalan kaki bersantai menikmati pemandangan alam di
pedestrian way sepanjang sungai, bermain di dalam ruang binaan khususnya pada
tiap taman yang ada pada area playground, berperahu dengan menyusur sungai
dan sightseeing dengan pemandangan alam sungai.

Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam


Nomor : P. 3/Iv-Set/2011 Tentang Pedoman Penyusunan Desain Tapak
Pengelolaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman
Hutan Raya Dan Taman Wisata Alam. Rancangan desain tapak ruang publik
dalam wisata alam, termasuk wisata air, untuk fasilitas wisata dapat berupa
bangunan pusat pengunjung, ruang pusat informasi, dermaga/jetty, tempat parkir,
tambat kapal/mooring buoy, pintu gerbang, pondok teduh/shelter, jalan wisata
beraspal /berpengeras dan jalan setapak lengkap dengan jembatan, menara
pandang, tempat pengamatan dan interpretasi, papan penunjuk jalan dan arah,
papan peringatan, papan informasi, papan interpretasi, dan pal hectometer
sepanjang perjalanan, perkemahan, caravan, pondok wisata, resort wisata dan
motel/hotel, tempat penyewaan peralatan, tempat penyediaan makan dan minum,
tempat penyediaan cindera mata, dan tempat penjualan kebutuhan pengunjung
lainnya. Desain tapak ruang publik diletakkan pada pintu masuk dan atau
lokasilokasi yang terhubungkan dengan jalur lalu lintas umum dan atau dermaga
pelabuhan untuk kemudahan mencapai lokasi wisata. Ruang pusat informasi
diletakkan paling jauh 500 meter dari pintu gerbang.

2.2 Teori Keterhubungan (Linkage)

Dalam suatu tata ruang perkotaan, hubungan sebuah tempat dengan yang
lain dari berbagai aspek merupakan generator perkotaan. Sebagaimana
diungkapkan oleh Maki dalam Zahnd (2006) penghubung adalah perekat
sederhana dari sebuah kota yang menyatukan seluruh lapisan kegiatan dan
menghasilkan bentuk rupa fisik dalam kota. Sebuah aspek keterhubungan
memperhatikan dan menegaskan hubungan-hubungan dan gerakan-gerakan atau
dinamika sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric). Terdapat 2 jenis pendekatan
penghubung yang akan diteliti yakni pengubung visual dan penghubung
structural.

2.2.1 Penghubung Visual

Bacon dalam Zahnd (2006) menyatakan bahwa linkage visual atau


keterhubungan visual mampu menyatukan daerah kota dalam berbagai skala. Pada
dasarnya terdapat 2 pokok perbedaan penghubung visual yaitu menghubungan
dua daerah secara netral dan menghubungkan dua daerah dengan mengutamakan
satu daerah.

Terdapat 5 elemen dalam penghubung visual menurut Zahnd (2006) yaitu


garis, koridor, sisi, sumbu dan irama. Dalam merancang lanskap akan sangat
efektif bila menghubungkan fragmen dan bagian kota dengan cara penghubung
visual. Elemen garis menghubungkan secara langsung dua tempat dengan deretan
massa yang dapat dipakai sebuah deretan bangunan maupun deretan pohon yang
memiliki rupa massif. Elemen koridor dapat dibentuk oleh dua deretan massa
(bangunan atau pohon) kemudian membentuk sebuah ruang. Elemen sisi sama
seperti elemen garis tetapi massanya agak tipis. Elemen sumbu mirip dengan
elemen koridor yang bersifat spasial. Namun perbedaanya elemen ini sering
mengutamakan satu dari dua daerah berbeda. Elemen irama menghubungkan dua
tempat dengan variasi massa dan ruang, memiliki fungsi menghubungan dua
tempat secara menarik. Dalam pengaplikasiannya, perancangan lanskap wisata air
dapat berupa elemen garis, koridor, sisi, sumbu dan irama yang menghubungkan
satu taman dengan taman lainnya dengan memperhatikan peletakkan bangunan
maupun deretan pohon yang massif

2.2.2 Penghubung Struktural

Sebuah kawasan yang letaknya berdekatan dapat terlihat berbeda dan


terpisah serta berdiri sendiri, hal ini dikarenakan kurangnya dalam memperhatikan
penghubung struktural. Colin dalam Zahnd (2006) menyatakan bahwa suatu krisis
obyek-obyek perkotaan dengan kondisi struktur yang sangat disayangkan.
Kawasan-kawasan yang tidak terhubungkan secara struktural atau terhubungkan
tapi secara kurang baik akan menimbulkan keraguan pada kualitas kota. Dalam
hal ini, Rowe dalam Zahnd (2006), menggunakan sebuah sistem perencanaan
yang mampu mengatasi masalah kesenjangan kawasan melalui bentuk jaringan
struktural yang lebih dikenal dengan sistem kolase (collage). Sama seperti
penghubung visual, terdapat dua perbedaan yaitu menghubungan dua daerah
secara netral dan menghubungkan dua daerah dengan mengutamakan satu daerah/
Pemakain kedua cara tersebut tergantung pada fungsi kawasan, sehingga cara
hubungannya secara hierarkis juga dapat berbeda.
Penghubung struktural sering berfungsi sebagai stabilisator dan
koordinator dalam lingkungannya, karena setiap kolase perlu diberikan stabilitas
tertentu dan koordinasi tertentu dalam strukturnya.

Terdapat beberapa elemen dalam penghubung struktural antara lain


elemen tambahan, sambungan dan tembusan. Elemen tambahan adalah
melanjutkan pola pembangunan yang sudah ada sebelumnya. Bentuk dan massa
ruang dapat berbeda namun dapat tetap dipahami sebagai bagian atau tambahan
pola yang sudah ada.

Elemen sambungan memperkenalkan pola baru pada lingkungan


kawasannya, sehingga diusahakan elemen ini dapat menyambung dua atu lebih
banyak pola disekitarnya sehingga dapat dimengerti sebagai satu kesatuan.
Elemen tembusan mirip dengan elemen tambahan namun lebih banyak polanya
dan lebih rumit karena didalamnya terdapat dua atau lebih pola yang sudah ada di
sekitarnya dan akan disatukan sebagai pola-pola yang sekaligus menembus dalam
satu kawasan.

2.3 Lansekap Ruang Luar

Ruang luar adalah ruang uang terkadi dengan membatasi alam hanya pada
bidang alas dan dindingnya, sedangkan atapnya dapat dikatakan tidak terbatas.
Menurut Asihara (1970), ruang luar disebut juga arsitektur tanpa atap, merupakan
ruang yan terjadi dengan menggunakan dua elemen pembatas atau dibatasi
dengan dua bidang, yakni lantai dan dinding. Hal ini yang kemudian
menyebabkan bahwa lantai dan dinding merupakan elemen penting dalam
merencanakan ruang luar. Lantai merupakan bagian dari lansekap sebuah
kawasan sehingga dalam merancang ruang luar dapat memfokuskan pada
penataan lansekapya. Menurut Hakim (2012), perencanaan lansekap secara
prinsip adalah upaya menciptakan dan menyambung kembali suatu rangkaian
taman hijau kota (green parks) dan ruang terbuka kota (open space) dengan cara
visi jangka panjang. Perencanaan lansekap (Hakim, 2012) adalah proses
kolaboratif untuk memberdayakan peran-serta masyarakat dalam pengambilan
keputusan, pembebasan lahan, pengembangan, konektivitas, pendanaan dan
pengelolaan sebuah ruang terbuka. Menurut Eckbo (1969), lansekap adalah suatu
bentuk pengalaman terus menerus yang tidak pernah berakhir. Sebuah jaringan
terus menerus dari hubungan timbal balik antar struktur, ruang terbuka dan alam.
Eckbo (1969), menyatakan bahwa dalam ruang terbuka perlu mengusahakan
perancangan keberlanjutan, keterhubungan dan hubungan antara
bangunanbangunan, kawasan dan sekitar kawasan lansekap. Perancangan
lansekap juga dipandang sebagai seni dalam pengembangan pemanfaatan dan
pengalaman manusia dalam ruang terbuka.

Dalam merancang lansekap daerah rekreasi, maka segala sesuatu yang


dianlisis baik tapak, aktifitas, selalu mengarah pada tujuan rekreasi. Dalam tahap
analisa ini, memerlukan pertimbangan yang sistematis terhadap beberapa faktor.
Faktor tersebut menurut White dalam Hakim (2012) antara lain:

a. Analisis terhadap aktifitas dan fungsi pemakai untuk mendapatkan


program kebutuhan.
b. Analisis terhadap lingkungan alamiah untuk memahami karakteristik
tapak. Hal ini meliputi elemen alami sekitar tapak yang penting bagi
rancangan tapak.
c. Analisis lingkungan buatan untuk memahami konsepsi dari masterplan.
Hal ini menyangkut batas tapak, mengetahui konsepsi ruang seperti
aktifitas ruang public/aktifitas utama ruang luar yang ingin dicapai.
d. Analisis terhadap sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan tapak sekitar
termasuk kebijakan umum yang mempengaruhi perkembangan tapak.
Dalam hal ini misalnya terkait peraturan atau kebijakan pemerintah
mengenai garis sempadan. Hal ini juga dapat menyangkut tentang aktiftas
kegiatan masyarakat sekitar sehingga menjadi pertimbangan dalam
menentukan zoning dan aktifitas kegiatan yang dirancang.

Hal ini sejalan dengan Eckbo (1969), dalam bukunya yang berjudul The
Landscape We See, menyatakan terdapat beberapa elemen lansekap yang perlu
diperhatikan oleh perancang kawasan ruang terbuka. Seperti yang dikemukakan
oleh Eckbo (1969), antara lain :
a. Kepribadian (personality) dan perilaku dari pengguna sebagai
perwakilan/gambaran dalam ruang terbuka.
b. Permasalahan teknis yang meliputi konstruksi, tanah, iklim, drainase, dan
kemungkinan serta jenis vegetasi.
c. Fungsional atau masalah penggunaan, meliputi hubungan antara manusia,
struktur, kawasan dan lingkungan sekitar.
d. Masalah Estetika meliputi kehati-hatian dalam teknis dan penggunaan
membuat perancang terkadang membuat bentuk yang kurang
memperhatikan desain estetika perancangan ruang terbuka.

Sedangkan menurut Gold (1980), prinsip umum dalam perencanaan


lansekap pada kawasan rekreasi/wisata antara lain:

a. Semua orang melakukan aktifitas memakai fasilitas rekreasi


b. Rekreasi harus dikoordinasikan dengan kemungkinan rekreasi yang lain
untuk menghindari duplikasi
c. Rekreasi harus berintegrasi dengan pelayanan umum lain, aspek
kesehatan, pendidikan dan transportasi
d. Fasilitas harus dapat beradaptasi dengan kebutuhan di masa depan
e. Masyarakat dan sistem sosial budaya harus terlibat dalam proses
perencanaan
f. Perencanaan local dan regional harus terintegrasi
g. Terlebih dahulu harus tersedia lahan yang akan dikembangkan dan
dirancang sebagai kawasan wisata
h. Fasilitas harus menjadikan lahan secara efisien dan seefektif mungkin dan
menciptakan kenyamanan, keamanan dan kebahagiaan pengunjung.

Ruang rekreasi/wisata membutuhkan pertimbangan penting serta syarat


fundamental dari preferensi dan kepuasan pengunjung. Menurut Gold (1980) dua
konsep penting dalam experience taman kota dan ukuran preferensi kepuasan
pengunjung antara lain kualitas sumber dan kualitas penggunaan. Kualitas sumber
didasarkan pada fisik alam, vegetasi, serta kualitas fisik fasilitas buatan.
Sedangkan kualitas penggunaan adalah kepuasan dalam mengunjungi area, seperti
pelayanan, kebisingan, tingkat kriminalitas.
Sebagai lansekap kawasan taman dengan karakter wisata taman, maka
dalam penataan lansekap kawasan sepanjang Sungai Kali Mas perlu
memperhatikan berbagai elemen penting seperti kepribadian dan perilaku
pengguna/wisatawan, permasalahan teknis (kawasan sungai), penggunaan lahan,
estetika dan keamanan.

2.4 Perancangan Taman

Menurut Laurie (1986), Taman (garden) diterjemahkan dari bahasa Ibrani,


Gan berarti melindungi atau mempertahankan lahan yang ada dalam suatu
lingkungan berpagar, Oden berarti kesenangan, kegembiraan, dan kenyamanan
Secara lengkap dapat diartikan taman adalah sebidang lahan berpagar yang
digunakan untuk mendapatkan kesenangan, kegembiraan, dan kenyamanan.

Menurut Arifin (2006), beberapa elemen perancangan taman dapat


diklasifikasikan menjadi:

a. Berdasarkan jenis dasar elemen :


1) Elemen alami
2) Elemen non alami (buatan)
b. Berdasarkan kesan yang ditimbulkan:
1) Elemen lunak (soft material) seperti tanaman, air dan satwa.
2) Elemen keras (hard material) seperti paving, pagar, patung, pergola,
bangku taman, kolam, lampu taman, dan sebagainya.
c. Berdasarkan kemungkinan perubahan:

Taman dalam skala besar (dalam konteks lansekap), memiliki elemen


perancangan yang lebih beragam yang memiliki perbedaan dalam hal
kemungkinan dirubah. Elemen tersebut diklasifikasikan menjadi:

1) Elemen mayor (elemen yang sulit diubah), seperti sungai, gunung,


pantai, hujan, kabut, suhu, kelembaban udara, radiasi matahari, angin,
petir dan sebagainya.
2) Elemen minor (elemen yang dapat diubah), seperti sungai kecil, bukit
kecil, tanaman, dan sebagainya serta elemen buatan manusia.
Taman kota dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu:

a. Bergerombol atau menumpuk, yaitu taman kota dengan komunitas


vegetasinya terkonsentrasi pada suatu areal dengan jumlah vegetasinya
minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat yang tidak beraturan.
b. Menyebar, yaitu taman kota yang tidak mempunyai pola tertentu dengan
komunitas vegetasinya tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk
rumpun atau gerombol-gerombol kecil.
c. Berbentuk jalur, yaitu komunitas vegetasinya tumbuh pada lahan yang
berbentuk jalur lurus atau melengkung, mengikuti bentukan sungai, jalan,
pantai, saluran, dan sebagainnya.

Sedangkan beberapa prinsip desain yang harus diperhatikan dalam


pembuatan taman antara lain :

a. Tema, unity.

Penetapan tema yang terlihat dari adanya kesan kesatuan (unity)


merupakan upaya untuk memunculkan kesan utama, karakter atau
identitas. Melalui unity yang terjadi, karakter taman dapat terlihat dengan
jelas, misal memiliki karakter sebagai taman bermain, taman rumah,
taman formal, taman tropis, dan sebagainya.

b. Gradasi, variasi, repetisi.

Pembuatan gradasi bertujuan untuk menimbulkan kesan gerak sehingga


terkesan dinamis dan berirama. Hal ini akan mencegah kemonotonan.

Contoh :

1) warna hijau menjadi gradasi hijau tua ke hijau muda


2) bentuk bulat diolah menjadi berbagai variasi bulat, misal berdasarkan
ukuran (kecil – besar), berdasarkan tekstur (halus – kasar) dan
sebagainya.
c. Kontras, penarik perhatian.

Melalui pembuatan desain elemen tertentu yang memiliki kontras dengan


elemen yang lainnya, akan menarik perhatian. Pemberian kontras ini akan
memberikan kesan kejutan ataupun klimaks. Kontras, antara lain dapat
dibuat dengan menerapkan:

1) warna yang menyolok


2) bentuk individual yang menarik
3) elemen yang unik, misal peletakan elemen tanaman pada lingkungan
yang terdiri dari elemen buatan, dan sebagainya.
d. Kontrol, balance, skala, sederhana.

Prinsip desain ini mampu menjadi aspek penyeimbang, agar taman


terkesan harmonis. Pada dasarnya desain merupakan pengaturan dan
ekspresi dari elemen-elemen disain. Elemen desain terdiri dari titik, garis,
bentuk/pola, warna, tekstur, bunyi, aroma dan gerak. Karakter / sifat yang
melekat pada elemen taman ditata berdasarkan prinsip –prinsip
[Link] teori yang ada maka beberapa elemen penting yang
akan digunakan dalam penelitian ini, antara lain elemen keras (hard
material) dan elemen lunak (soft material).

2.5 Kawasan Tepian Sungai

Sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan
pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara sengan
dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan. Sebagaimana tedapat dalam
Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai, terdapat perlindungan
ruas restorasi sungai salah satunya melalui kegiatan fisik. Dalam melakukan
kegiatan fisik pengembangan sungai termasuk pariwisata dilakukan dengan tidak
merusak ekosistem sungai, mempertimbangkan karakteristik sungai, kelestarian
keanekaragaman hayati serta kekhasan dan aspirasi daerah/masyarakat setempat.,
mengakibatkan terganggunya aliran sungai dan/atau keruntuhan tebing sungai.

Garis sempadan adalah garis maya di kiri dan kanan palung sungai yang
ditetapkan sebagai batas perlindungan sungai.

Karakteristik sungai, kelestarian keanekaragaman hayati serta kekhasan


dan aspirasi daerah/masyarakat setempat. Kegiatan pengembangan sungai yang
dilarang antara lain kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran,
mengakibatkan terganggunya aliran sungai dan/atau keruntuhan tebing sungai.

Kemudian pada peraturan tersebut disebutkan bahwa garis sempadan


sungai bertanggul didalam kawasan perkotaan ditentukan paling sedikit berjarak 5
meter dari tepi luar kaki tanggul sepanjang alur sungai. Sebagaimana kondisi
Sungai Kakap yang terletak di dalam bagian wilayah Kabupaten Kuburaya, serta
kondisi fisiknya yang bertanggul maka dalam pengembangan kawasannya perlu
memperhatikan jarak garis sempadan sungai sebesar 5 meter sepanjang alur
Sungai Kapuas.

2.6 Studi Kasus Kawasan Wisata Air Sepanjang Sungai Green Bay,
Wisconsin, USA

Studi kasus yang dipilih adalah kegiatan wisata air sepanjang sungai
Green Bay. Hal ini dikarenakan kondisi lokasi sungai yang berada di tengah
Wisconsin, Amerika Serikat memiliki kemiripan dengan lokasi Sungai Kakap,
yakni di pinggir Kabupaten Kuburaya. Selain itu kegiatan wisata yang ada di
Sepanjang Sungai Green Bay ini memiliki kemiripan yakni kegiatan wisata air
sungai Kakap, yakni kegiatan wisata air menyusur sungai.

Gambar 2.1 Desain Kawasan City Deck

Sumber: [Link]
Pada tahun 1980-an, Green Bay mengalami transformasi besar dalam
pengembangan waterfront. Proyek-proyek seperti pembangunan Veterans
Memorial Park dan CityDeck Plaza dimulai pada periode ini. CityDeck Plaza,
terletak di pusat kota Green Bay, menjadi pusat kegiatan dan hiburan di tepi
sungai dengan taman, panggung, dan akses langsung ke sungai.

Sejak itu, lebih banyak proyek dan perbaikan telah dilakukan untuk terus
mengembangkan waterfront di Green Bay. Detail lebih lanjut tentang
pembangunan waterfront Green Bay dan proyek-proyek terkini dapat ditemukan
melalui sumber-sumber informasi lokal seperti situs web kota Green Bay atau
lembaga pariwisata setempat.

Gambar 2.2 View City Deck, Green Bay pada sore hari

Sumber: [Link]
Gambar 2.3 View City Deck, Green Bay pada pagi hari

Sumber: [Link]

Kondisi jalur pejalan kaki yang ada di kawasan wisata air di Green Bay ini
memiliki tingkat kenyamanan yang cukup tinggi, adanya keberadaan tanaman
peneduh sepanjang jalur pejalan kaki serta keberadaan kafe dan restoran hingga
toko souvenir di sepanjang Sungai Green Bay menjadi atraksi yang juga tidak
kalah menarik. Kemudian dalam kawasan wisata ini juga terdapat beberapa
jembatan yang menghubungkan sisi kiri dan kawasan bagian Sungai Green Bay.

Gambar 2.4 Atraksi permainan air City Deck, Green Bay

Sumber: [Link]
Gambar 2.5 View City Deck, Green Bay

Sumber: [Link]

Critical Review Berdasarkan Studi Kasus

Berdasarkan studi kasus yang telah dijelaskan terdapat beberapa


perbedaan yaitu kegiatan wisata air yang ada di sungai Green Bay juga aktif
beroperasi di malam hari, dimana hal ini juga dapat diterapkan pada kegiatan
wisata air di sungai Kakap. Hal ini dapat menarik wisatawan lebih banyak dan
memberikan pilihan untuk berwisata dan menikmati wisata air pagi hingga malam
hari. Hal lain yang dapat diambil terkait keberadaan pengembangan wisata air
sungai Singapura yang dapat menjadi rujukan bagi wisata air sepanjang Sungai
Kakap, antara lain:

1. Kawasan wisata air harus memiliki fasilitas utama berupa dermaga yang
dapat menghubungkan setiap spot wisata yang ada.
2. Kawasan wisata air harus memiliki jalur pedestrian yang nyaman dan
memiliki atraksi yang menarik seperti kafe atau restoran di sepanjang
koridor sungai.
3. Kawasan wisata air sebaiknya memiliki beberapa jembatan sebagai
penghubung bagi sisi kanan dan kiri bagian sungai. Selain sebagai atraksi
yang menarik, jembatan juga memberikan kesempatan bagi wisatawan
untuk menikmati pemandangan sungai.
4. Kawasan wisata air sebaiknya memiliki karakteristik softscape yang
rindang dan teduh sehingga memberikan kenyamanan bagi wisatatan
5. Kawasan wisata air sebaiknya memiliki karakteistik hardscape tematik
yang menarik, misalnya memanfaatkan bangunan lama yang ada dan
mempercantik serta memanfaatkan sebagai kegiatan yang mendukung
kawasan wisata air, seperti restoran atau toko souvenir.
6. Kawasan wisata air sebaiknya tetap hidup di malam hari, dengan atraksi
makan malam di tempat terbuka, kehidupan malam, pencahayaan yang
semarak dan hiburan keluaraga yang ramah

Anda mungkin juga menyukai