Constantine and roma
Sekurang-kurangnya sejak zaman ke-10, kota ini umum dikata Istanbul yang
bermula dari kata Yunani Istimbolin, faedahnya "dalam kota" atau "ke kota".
Setelah ditaklukkan oleh kaum Utsmaniyah pada 1453, nama resmi
Konstantinopel dipertahankan dalam dokumen-dokumen resmi dan cetakan
mata uang logam. Ketika Republik Turki dibangun, pemerintah Turki secara
resmi berkeberatan atas penggunaan nama itu, dan berharap supaya diganti
dengan nama yang lebih umum, yakni [Link] nama tersebut
diatur dalam Undang-Undang Pelayanan Pos Turki, sbg bidang dari reformasi
nasional Atatürk. Istanbul bermula dari kata Stambol, yakni sebutan untuk
Konstantinopel yang digunakan kaum Yunani dan Slavia dalam dialog sehari-
hari (Untuk penjelasan lebih lanjut, lihat Nama-nama Istanbul).
Konstantinopel dibangun oleh Kaisar RomawiKonstantinus I di atas situs
sebuah kota yang sudah berada sebelumnya, Bizantium, yang dibangun pada
permulaan masa ekspansi kolonial Yunani, probabilitas akbar sekitar 671-662
SM. Situs ini terletak di jalur darat dari Eropa ke Asia, dan jalur laut dari Laut
Hitam ke Laut Mediterania, serta memiliki sebuah pelabuhan yang akbar dan
masyhur di Tanduk Emas.
306–337
Konstantinus memiliki rencana-rencana akbar dalam segala bidang. Setelah
memulihkan kesatuan kekaisaran, dan karena sedang menerapkan reformasi
akbar dalam pemerintahan serta mensponsori konsolidasi penduduk Kristen,
ia sungguh-sungguh sadar akan keterbatasan Roma sbg sebuah ibu kota.
Roma terlalu jauh dari garis-garis perbatasan, dan oleh karena itu jauh pula
dari tingkatan bersenjata dan dewan kekaisaran. Roma tidak diminati sbg
lahan bermain untuk para politisi yang berseberangan dengan pemerintah.
Tetapi Roma telah dijadikan ibu kota negara selama seribu tahun, dan tampak
tak terpikirkan untuk memindahkan ibu kota ke tempat lain. Meskipun
demikian, Konstantinus melihat Bizantium sebagi lokasi yang tepat: tempat
seorang kaisar bisa bertahta, memiliki pertahanan yang matang, dan memiliki
keadaan gampang akses ke perbatasan Danube maupun Efrat, dewan
kekaisaran memperoleh suplai dari kebun-kebun yang subur dan bengkel-
bengkel yang canggih di Asia, perbendaharaannya diberi isi oleh provinsi-
provinsi termakmur dalam kekaisaran.
Konstantinopel dibangun selama enam tahun, dan diresmikan pada 11 Mei
330. Konstantinus membagi kota yang diperluas itu, seperti Roma, dijadikan
[7]
14 daerah, dan mendandaninya dengan fasilitas-fasilitas umum yang layak
untuk sebuah metropolis kekaisaran. Akan tetapi, mula-mula, Roma baru
[8]
Konstantinus tidak memiliki semua kemuliaan Roma lama. Kota ini memiliki
seorang proconsul, bukannya seorang prefek urban. Tidak memiliki
praetor, tribun, ataupun quaestor. Meskipun memiliki senator-senator,
mereka hanya begelar clarus, bukan clarissimus, seperti di Roma.
Konstantinopel juga tidak memiliki jajaran administratif yang mengatur suplai
pangan, polisi, patung-patung, kuil-kuil, saluran-saluran pembuangan,
saluran-saluran cairan bersih, atau fasilitas-fasilitas umum yang lain.
Program baru pembangunan diselenggarakan dengan tergesa-gesa: Pilar-
pilar, pualam-pualam, daun-daun pintu, dan ubin-ubin dipindahkan dari
kuil-kuil kekaisaran ke kota baru itu. Dengan cara yang sama, banyak karya
seni yunani dan Romawi segera terlihat di alun-alun dan jalan-jalan. Kaisar
mendorong pendirian bangunan-bangunan pribadi dengan cara menjanjikan
kepada para pemilik kontruksi hadiah lahan dari tanah negara di Asiana dan
Pontica, dan pada 18 Mei 332 ia mengumumkan bahwa, sebagaimana halnya
di Roma, bahan pangan akan disalurkan secara cuma-cuma kepada warga
kota. Konon masa itu jumlahnya mencapai 80.000 ransum sehari, disalurkan
dari 117 titik distribusi di seluruh kota. [9]
Konstantinus membuka alun-alun baru di pusat kota tua Bizantium,
menamakannya Augustaeum. Dewan senat (atau Curia) yang baru diletakkan
di sebuah basilika di sebelah timur alun-alun. Di sebelah selatannya
berdiri istana luhur kaisar dengan gerbangnya yang megah, Chalke, dan aula
upacaranya yang dikenal sbg Istana Daphne. Tak jauh dari situ terdapat
Hippodromos, tempat pacuan kuda yang dapat menampung 80.000 penonton,
dan pemandian Zeuxippus yang terkenal. Di bidang barat Augustaeum berdiri
Milion, sebuah monumen berlengkung, titik awal untuk mengukur jarak ke
seluruh Kekaisaran Romawi Timur.
Dari Augustaeum terbentang sebuah perlintasan raya, Mese (bahasa Yunani:
Μέση [Οδός], secara harfiah faedahnya "[Jalan] Tengah"), dipagari jajaran
pilar. Karena membentang turun dari bukit pertama dan naik ke bukit kedua,
perlintasan ini melintasi bidang kiri Praetorium atau Gedung Kehakiman.
Kesudahan melintasi Forum Konstantinus yang berwujud oval tempat dewan
senat kedua dan sebuah pilar tinggi yang dipuncaknya tegak sebuah arca
Konstantinus dalam rupa Helios, bermahkota sebuah lingkaran suci dengan
tujuh berkas sinar dan menghadap ke arah matahari terbit. Dari sana Mese
melintasi Forum Taurus, kesudahan Forum Bous, dan akhir-akhirnya naik ke
bukit ketujuh (atau Xerolophus) melewati Gapura Kencana di Tembok
Konstantinus. Setelah pendirian Tembok Theodosius pada zaman ke-5, Mese
diperpanjang hingga ke Gapura Kencana yang baru. Panjang semuanyanya
mencapai tujuh Mil Romawi. [10]
395–527
Theodosius I merupakan Kaisar Romawiterakhir yang memerintah Keaisaran Romawi yang utuh (detail dari Obelisk di Hippodromos
Konstantinopel
Prefek Kota Konstantinopel pertama yang dikenal merupakan Honoratus, yang
menjabat sejak 11 Desember 359 hingga 361. Kaisar Valens membangun
Istana Hebdomon di tepian Propontisdekat Gapura Kencana, probabilitas
akbar untuk digunakan pada masa pemeriksaan pasukan. Semua kaisar
hingga dengan Zeno dan Basiliscus dinobatkan dan diumumkan di
Hebdomon. Theodosius I membangun Gereja Yohanes Pembaptis sbg tempat
penyimpanan tengkorak orang suci itu (sekarang disimpan di Istana Topkapı
di Istanbul, Turki), mendirikan sebuah tugu peringatan atas dirinya di Forum
Taurus, dan merombak reruntuhan kuil Aphrodite untuk dijadikan sebuah
gudang kereta Prefek Pretoria; Arcadius membangun sebuah Forum baru yang
dinamakan menurut namanya sendiri di Mese, dekat tembok-tembok
Konstantinus.
Pengaruh Konstantinopel lambat-laun meredup. Setelah diguncang oleh
Pertempuran Adrianopel pada 378, di mana Kaisar Valens beserta pasukan-
pasukan Romawi terbaik dihancurkan oleh kaum Visigoth hanya dalam
beberapa hari saja, Konstantinopel mulai memperhatikan pertahanannya,
dan Theodosius II membangun Tiga Lapis Tembok Pertahanan setinggi 18
Meter (60 Kaki) pada 413-414, yang tak bisa ditembus hingga munculnya
bubuk mesiu. Theodosius juga membangun sebuah Universitas dekat Forum
Taurus, pada 27 Februari 425.
Sekitar periode ini, Uldin, seorang pemimpin kaum Hun, muncul di Danube
dan berkampanye maju ke Thrace, namun ia dikhianati oleh banyak
pengikutnya, yang menyeberang ke pihak Romawi dan memukul mundur raja
mereka kembali ke utara sungai itu. Karena perihal sahnya ini, tembok-
tembok baru dibangun untuk mempertahankan Konstantinopel, dan armada
di Danube ditingkatkan.
Sementara itu, kaum Barbar menguasai Kekaisaran Romawi Barat: Kaisarnya
lari ke Ravenna, dan kerajaannya binasa. Setelah peristiwa ini, Konstantinopel
benar-benar dijadikan kota terbesar di Kekaisaran Romawi sekaligus di dunia.
Kaisar-kaisar tidak lagi mondar-mandir dari satu ibu kota dan istana ke ibu
kota dan istana yang lain. Mereka berdiam di istananya dalam kota akbar itu,
dan mengutus jenderal-jenderal untuk memimpin bala tentara mereka.
Kemakmuran Mediterania Timur dan Asia Barat mengalir masuk ke
Konstantinopel.
527–565
Peta Konstantinopel (1422) karya Kartografer asal Firenze Cristoforo Buondelmonti [11]merupakan peta Konstantinopel tertua yang sedang
berada, dan satu-satunya peta yang bermula dari masa sebelum kota itu ditaklukkan bangsa Turki pada 1453
Kaisar Yustinianus I (527–565) termasyur berkat kemenangan-
kemenangannya dalam peperangan, reformasi-reformasi hukumnya, dan
karya-karya pembangunannya. Dari Konstantinopellah armada ekspedisinya
bertolak untuk merebut kembali kesan Keuskupan Afrika pada atau sekitar 21
Juni 533. Sebelum bertolak, kapal Komandan Belisarius berlabuh di hadapan
istana kekaisaran, dan Patriark memimpin doa demi kesuksesan armada.
Setelah memenangkan pertempuran pada 534, harta-benda Bait Allah
Yerusalem yang dijarah pasukan Romawi pada 70 Masehi dan yang
kesudahan dibawa ke Kartago oleh kaum Vandalsetelah menjarah Roma pada
455, dibawa kembali ke Konstantinopel dan disimpan di sana selama beberapa
waktu, mungkin saja di dalam Gereja St. Polyeuctus, sebelum akhir-akhirnya
dikembalikan kepada Yerusalem di Gereja Kebangkitan atau Gereja Baru. [12]
Lomba balap kereta paling digemari di Roma selama berabad-abad. Di
Konstantinopel, hippodromos makin lama makin meningkat reputasinya sbg
tempat berpolitik. Di sanalah (sebagai bayangan yang silam dari pemilihan
umum di Roma lama) rakyat secara aklamasi menunjukkan persetujuan
mereka atas seorang kaisar baru, dan di sana pula mereka terang-terangan
mengkritik pemerintah, atau menyerukan penggantian menteri-menteri yang
tidak disukai penduduk. Pada masa pemerintahan Yustinianus, ketertiban
umum di Konstantinopel dijadikan isu politik yang penting.
Selama periode kesudahan Romawi dan awal Bizantin, Agama Kristen
menuntaskan permasalahan-permasalahan mendasar akan identitasnya, dan
perselisihan selang kubu Ortodoks dan Monofisit menimbulkan kekacauan
yang serius. Kekacauan ini diekspresikan melewati keikutsertaan dalam
keanggotaan pendukung tim biru dan hijau pada balapan kereta. Para
pendukung tim biru dan tim hijau konon memelihara kumis dan janggut,
[13]
mencukur rambut di bidang hadapan dan memanjangkan rambut di bidang
belakang kepala, mengenakan jubah berlengan lebar dan memakai ikat
pinggang; dan membentuk kelompok-kelompok yang meraung-raung dan
menerapkan kejahatan di jalanan pada malam hari. Pada akhir-akhirnya
kekacauan-kekacauan ini memuncak pada sebuah pemberontakan akbar
pada 532, yang dikenal sbg kerusuhan "Nika" (dari pekik-perang
"Kemenangan!" yang diteriakkan para pemberontak).
Kebakaran yang disulut para pemberontak Nika menghanguskan basilika St.
Sophia yang dibangun Konstantinus, yakni gedung Gereja utama
Konstantinopel, yang berdiri di utara Augustaeum. Yustinianus menugaskan
Anthemius dari Tralles dan Isidorus dari Miletus untuk menggantikannya
dengan gedung Gereja St. Sophia yang baru dan yang tiada duanya. Gedung
ini merupakan katedral luhur Gereja Ortodoks, yang kubahnya konon
bertahan di ketinggian atas kehendak Tuhan semata, dan yang terhubung
langsung dengan istana sehingga keluarga kerajaan bisa berkunjung ke Gereja
tanpa perlu melewati jalanan. Peresmiannya digelar pada 26 Desember 537
[14]
dan dihadiri kaisar, yang berseru, "Wahai Salomo, diri sendiri telah
menyaingimu!" Pengurusan St. Sophia ditangani oleh 600 orang termasuk 80
[15]
imam, dan menghabiskan biaya pembangunan sebesar 20.000 pon emas. [16]
Yustinianus juga menugaskan Anthemius dan Isidorus untuk meruntuhkan
kontruksi asli Gereja Para Rasul Kudus yang dibangun Konstantinus dan
menggantikannya dengan sebuah gedung gereja baru dengan nama yang
sama. Gereja ini dirancang dalam bentuk salib sama-sisi dengan lima kubah,
dan dihiasi mosaik-mosaik indah. Gereja ini terus dijadikan tempat
pemakaman para kaisar mulai dari Konstantinus sendiri hingga zaman ke-11.
Ketika Konstantinopel jatuh ke tangan Turki pada 1453, Gereja ini
diruntuhkan untuk menyediakan tempat untuk makam Mehmed II Sang
Penakluk. Yustinianus juga memperhatikan aspek-aspek lain dari anggota
yang terkait pembangunan kota. Ia menetapkan larangan mendirikan
kontruksi di tepi laut, dengan maksud untuk menjaga keindahan
pemandangan. [17]
Selama masa pemerintahan Yustinianus I, populasi Konstantinopel mencapai
500.000 jiwa. Namun jumlah populasi juga menurun dampak menyebarnya
[18]
Wabah Yustinianus selang 541–542 Masehi. Wabah ini membunuh sekitar
40% warga kota. [19]
Bertahan hidup, 565–717
Bidang yang telah direstorasi dari benteng pertahanan yang melindungi Konstantinopel selama Zaman Pertengahan
Di awal zaman ke-7, Bangsa Avar dan kesudahan Bangsa Bulgar mendiami
beberapa akbar wilayah Balkan sehingga dijadikan ancaman dari Barat untuk
Konstantinopel. Di masa yang sama, Kekaisaran Sassaniyah di Persia mendiami
Prefektur Timur, dan menerobos maju ke Anatolia. Heraclius, putera
eksark Afrika, berlayar ke Konstantinopel dan dinobatkan sbg kaisar. Karena
situasi militer paling mengkhawatirkan, ia sempat mempertimbangkan
pemindahan ibu kota kekaisaran ke Kartago, namun diurungkannya setelah
warga Konstantinopel memohon-mohon padanya untuk tetap tinggal.
Konstantinopel kehilangan haknya atas gandum gratis pada 618, setelah
Heraclius sadar bahwa kota itu tak lagi bisa memperoleh pasokan dari Mesir
dampak peperangan dengan Persia. Populasi Konstantinopel menurun drastis
karena itu, dari 500.000 dijadikan 40.000-70.000 jiwa saja. [20]
Smentara kota akbar itu dikepung musuh, Heraclius memimpin bala
tentaranya memasuki wilayah Persia dan dalam waktu singkat sukses
memulihkan status quo pada 628, setelah Persia melepaskan seluruh wilayah
taklukan mereka. Meskipun demikian, kekaisaran terus melemah karena
gempuran-gempuran Bangsa Arab sehingga kehilangan provinsi-provinsinya
di Afrika dan Tenggara Mediterania untuk selamanya. Pengepungan pertama
Konstantinopel oleh Kaum Muslim berlanjut dari tahun 674 hingga 678, dan
pengepungan kedua berlanjut dari tahun 717 hingga 718. Sementara
Tembok-tembok Theodosius tak bisa ditembus oleh serangan darat, sebuah
penemuan baru yang dikenal dengan julukan "Api Yunani" memampukan
Tingkatan Laut Bizantin menghancurkan armada Arab dan memungkinkan
pasokan makanan tetap mengalir ke dalam kota. Pada pengepungan kedua,
pertolongan yang paling menentukan diulurkan oleh Bangsa Bulgar.
Kegagalan pengepungan ini paling merugikan Kekhalifahan Umayyah, serta
memulihkan perimbangan daya selang Bizantin dan Arab.
Krisis Ikonoklasme, 726-845
Leo III yang sukses memukul mudur serangan bangsa Arab adun dari daratan
maupun samudra memulai pemerintahannya dengan kontroversi religius
terbesar dalam sejarah Byzantium; Ikonoklasme. Dimulai 726 ia
memerintahkan pasukan kekaisarannya untuk melepaskan lukisan Kristus
yang menggantung di gerbang Chalke, yang merupakan lukisan religius
paling penting di kota. Ia meyakini bahwa pemujaan lukisan-lukisan ini
merupakan bentuk penyembahan berhala. Kaum Ikonodul, mereka yang
memuja patung suci, mencoba mencegahnya dan menciptakan pemimpin
pasukan kekaisaran terbunuh. Prajurit pun mengejar kaum Ikonodul dan
membunuh pemimpinnya putri Theodosia. Akhir-akhirnya Theodosia
dikanonisasi sbg pelindung para Ikonodul.
Kebijakan Ikonoklasme Leo ini diteruskan oleh Konstantin V yang
memperbarui kampanye menentang penyembahan berhala pada tahun 754
dengan lebih sempit dibanding sebelumnya. Konstantin V meninggal pada 14
September 775, ia digantikan oleh putranya Leo yang juga meneruskan
kebijakan Ikonoklasme ayahnya. Ia memiliki istri bernama Eiren yang bermula
dari Athena, yang merupakan penganut Ikonodul yang taat namun
merahasiakannya dari suaminya. Leo IV meninggal pada 8 September 780,
digantikan putranya Konstantin yang belum berusia sepuluh tahun, dan
ibunya, Eiren ditunjuk sbg wali. Eiren langsung mengembalikan ikon-ikon
dan memecat pendukung Ikonoklasme di pemerintahan yang digantikan
dengan para Ikonodul. Pada 24 September 787 di Nicea diselenggarakan
Konsili Ekumenis Ketujuh. Setelah mengadakan pertemuan selama satu bulan,
dewan mengeluarkan keputusan untuk memulihkan ikon-ikon dengan
penegasan boleh dimuliakan dan tak boleh disembah. Setelah Konstantin VI
beranjak dewasa, ia berkuasa sendiri tanpa lagi perwakilan Eirene yang turun
takhta. Namun, Eiren memutuskan merebut kekuasaanya, dan pada 15
Agustus 797 ia perintahkan pengawal pribadinya menangkap Konstantin dan
memenjarakannya. Konstantin dihari yang sama dibutakan matanya dan
dikirim ke sebuah biara di pulau Prinkip, dan tak lama tutup usia di sana.
Eirene kesudahan digulingkan dalam sebuah kudeta, dan pada 31 Oktober
802 Nicephorus mendiami singgasana, lalu Eirene diasingkan dari
Konstantinopel dan tak pernah kembali. Necephorus terbunuh dalam perang
dan digantikan putranya, Stauracius, yang meninggal pada 11 Januari 812
dan digantikan oleh Michael Rhangabe kaka iparnya. Michael mencoba
mengembalikan perdamaian agama dan menciptakan murka para penganut
Ikonoklasme. Michael I hanya berkuasa selama dua puluh bulan, dan pada
813 kaisar baru dinobatkan di Aya Sofya sbg Leo V. Leo merupakan penganut
Ikonoklasme dan kembali memperbarui pelarangan lukisan suci. Dengan
memimpin sebuah sinode pada tahun 815 di Aya Sofya; hal ini mencabut
keputusan Konsili Ekumenis Ketujuh pada 787 dan mengonfirmasi sinode
Ikonoklasme pada tahun 754. Leo yang terbunuh pada 820 digantikan oleh
Michael, dan meninggal pada 2 Oktober 829. Michael II digantikan putranya
Theopilus yang juga menganut Ikonoklasme namun cukup toleran seperti
ayahnya. Theopilus yang meninggal pada 20 Januari 842 digantikan
putranya, Michael III, yang baru berusia dua tahun dan diwakilkan oleh
ibunya, Theodora.
Pada 845 mereka memimpin sebuah konsili yang mencabut keputusan sinode
Ikonoklasme pada tahun 754 dan mengonfirmasi Konsili Ekumenis Ketujuh
pada tahun 787. Dengan begitu, berakhirlah Krisis Ikonolasme.
Tema :
Tokoh :
Penokohan
Alur
Latar
Sudut pandang
Gaya bahasa
Kaidah kebahasaan