0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan69 halaman

Terapi Komplementer: Definisi dan Manfaat

Bab I pendahuluan membahas latar belakang terapi komplementer yang menjadi pilihan masyarakat, rumusan masalah dan tujuan dari dokumen tersebut. Bab II membahas pengertian, tujuan, ruang lingkup dan jenis-jenis terapi komplementer beserta diagnosa alternatif dan pengaturan prakteknya.

Diunggah oleh

nurjama680
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan69 halaman

Terapi Komplementer: Definisi dan Manfaat

Bab I pendahuluan membahas latar belakang terapi komplementer yang menjadi pilihan masyarakat, rumusan masalah dan tujuan dari dokumen tersebut. Bab II membahas pengertian, tujuan, ruang lingkup dan jenis-jenis terapi komplementer beserta diagnosa alternatif dan pengaturan prakteknya.

Diunggah oleh

nurjama680
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................. 1

BAB I PENDAHULUAN................................................................. 2

A. Latar Belakang..................................................................... 2

B. Rumusan Masalah................................................................ 4

C. Tujuan................................................................................. 4

D. Manfaat............................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN................................................................. 6

A. Pengertian Terapi Komplementer........................................... 6

B. Tujuan Terapi Komplementer................................................ 7

C. Ruang Lingkup Terapi Komplementer-Alternatif...................... 8

D. Jenis-Jenis Terapi Komplementer........................................... 9

E. Diagnosa Alternatif Dalam Asuhan Keperawatan..................... 41

F. Pengaturan Praktek Terapi Komplementer.............................. 43

BAB III PENUTUP....................................................................... 64

A. Kesimpulan.......................................................................... 64

B. Saran.................................................................................. 64

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………… 66

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Terapi komplementer merupakan istilah umum terhadap

berbagai praktik ataupun produk yang umumnya tidak dianggap

sebagai terapi medis/konvensional. Perkembangan terapi

komplementer akhir- akhir ini menjadi sorotan banyak negara dan

menjadi salah satu pilihan pengobatan masyarakat. Hal ini terjadi

karena masyarakat ingin mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan

pilihannya, sehingga apabila keinginannya terpenuhi akan berdampak

pada kepuasan. Hal ini dapat menjadi peluang bagi perawat untuk

berperan memberikan terapi komplementer.

Alasan yang mendasari terapi komplementer menjadi pilihan

masyarakat adalah karena terapi komplementer dianggap sebagai

terapi holistik artinya tidak hanya memperbaiki kondisi sakitnya

namun terapi ini juga ikut terlibat dalam pemeliharaan bio, piskonya,

selain alasan diatas masyarakat pun ingin terlibat langsung dalam

pengambilan keputusan dalam pengobatan dan peningkatan kualitas

hidupnya. Bebrapa alasan klasik diatas, diikuti dengan beberapa

masalah yang terjadi seperti dikatakan oleh (Snyder, 2002) dalam

(Wijaya et al., 2022) bahwa terdapat 82% klien melaporkan adanya

2
reaksi efek samping dari pengobatan konvensional yang diterima

sehingga mereka beralih pada terapi komplementer.

Pengobatan komplementer atau alternatif menjadi bagian

penting dalam pelayanan kesehatan di dunia. WHO yang merupakan

salah satu organisasi kesehatan dunia telah merekomendasikan

penggunaan obat traditional termasuk herbal dalam pemeliharaan

kesehatan masyarakat, pencegahan, dan pengobatan penyakit,

terutama bagi penyakit kronik, penyakit degenerative dan cancer,

WHO juga mendukung upaya peningkatan keamanan dan khasiat obat

traditional. Data dunia menunjukkan Amerika Serikat dan negara

sekitarnya tercatat 627 juta orang adalah pengguna terapi alternatif

dan 386 juta orang yang mengunjungi praktik konvensional (Snyder,

2002) dalam (Wijaya et al., 2022) . Data lain menyebutkan terjadi

peningkatan jumlah pengguna terapi komplementer di Amerika dari

33% pada tahun 1991 menjadi 42% di tahun 1997. Indonesia sendiri,

yang merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang

mampu menciptakan berbagai terapi komplementer, juga telah

mengembangkan penggunaan terapi komplementer, RS Dharmais dan

12 RS lainnya yang ada di Jakarta telah ditunjuk oleh Kementerian

Kesehatan untuk mengembangakan pengobatan komplementer ini.

Oleh karena tingginya kebutuhan masyarakat akan terapi

komplementer pada berbagai ranah perawatan dan berkembangnya

3
penelitian terhadap terapi komplementer, maka hal ini menjadi

perluang emas perawat untuk berpartisipasi sesuai kebutuhan

masyarakat. Dalam hal ini perawat dapat berperan aktif sebagai

konselor bagi masyarakat untuk memilih terapi komplementer yang

tepat bagi masyarakat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, selanjutnya penulis

merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Jelaskan pengertian terapi komplementer !

2. Sebutkan tujuan terapi komplementer !

3. Jelaskan ruang lingkup terapi komplementer-alternatif !

4. Sebutkan jenis-jenis terapi komplementer !

5. Sebutkan diagnosa alternatif dalam asuhan keperawatan !

6. Sebutkan pengaturan praktek terapi komplementer !

C. Tujuan

Setelah membahas tentang terapi komplementer, mahasiswa

mampu :

1. Menjelaskan pengertian terapi komplementer.

2. Menyebutkan tujuan terapi komplementer.

3. Menjelaskan ruang lingkup terapi komplementer-alternatif.

4. Menyebutkan jenis-jenis terapi komplementer.

4
5. Menyebutkan diagnosa alternatif dalam asuhan keperawatan.

6. Menyebutkan pengaturan praktek terapi komplementer.

D. Manfaat

Selain untuk memenuhi tuntutan akademis dari dosen pengajar

mata kuliah keperawatan holistic II, juga memenuhi rasa

keingintahuan penulis untuk menelusuri bagaimana konsep terapi

komplementer.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Terapi Komplementer

Terapi Komplementer merupakan bentuk penyembuhan yang

bersumber pada berbagai sistem modalitas dalam praktik kesehatan

yang didukung oleh teori dan kepercayaan. Saat ini, banyak

masyarakat yang beralih dari pengobatan modern ke komplementer.

Pelayanan kesehatan tradisional atau yang sekarang disebut

pelayanan komplementer memanfaatkan ilmu biomedis dan

biokultural, cara pengobatan atau perawatan komplementer itu dapat

berupa keterampilan dengan menggunakan teknik manual, terapi

energi dan terapi olah pikir. Cara lainnya ialah dengan ramuan obat

tradisional ataupun kombinasi yang memadukan antara keterampilan

dan ramuan. Pelayanan tersebut dapat dilakukan secara mandiri

perorangan ataupun praktik berkelompok. Gambaran dari penelitian

terbaru di seluruh dunia menunjukkan bahwa di negara-negara

sedang berkembang hampir 80% orang menggunakan metode terapi

komplementer, terutama untuk mengobati penyakit kronis (Anggraeni

et al., 2023).

Terapi komplementer dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

(KBBI), terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang

sedang sakit, pengobatan penyakit, perawatan penyakit.

6
Komplementer adalah bersifat melengkapi, bersifat menyempurnakan.

Pengobatan komplementer dilakukan dengan tujuan melengkapi

pengobatan medis konvensional dan bersifat rasional yang tidak

bertentangan dengan nilai dan hukum kesehatan di Indonesia (Abidin,

2019).

Terapi Komplementer adalah penggunaan terapi tradisional ke

dalam pengobatan modern. Terminologi ini dikenal sebagai terapi

modalitas atau aktivitas yang menambahkan pendekatan ortodoks

dalam pelayanan kesehatan. Terapi komplementer juga disebut

sebagai pengobatan holistik, pendapat ini didasari oleh bentuk terapi

yang mempengaruhi individu secara menyeluruh yaitu sebuah

pengobatan yang mengatur keharmonisan individu untuk

mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam kesatuan fungsi.

Memperhatikan beberapa pengertian diatas, dapat ditarik suatu

kesimpulan, bahwa terapi komplementer merupakan suatu terapi

pengganti/tradisional yang dikombinasikan ke dalam pengobatan

modern guna mencapai suatu proses kesembuhan (Wijaya et al.,

2022).

B. Tujuan Terapi Komplementer

Tujuan dari terapi kompementer adalah untuk meningkatkan

fungsi sistem-sistem yang ada di dalam tubuh manusia terutama pada

7
kekebalan dan pertahanan tubuh sehingga tubuh mampu

memperbaiki dirinya sendiri yang sedang sakit sehingga dapat pulih

sebab tubuh sebenarnya memiliki kemampuan untuk menyembuhkan

dirinya sendiri melalui pemikiran positif, asupan nutrisi secara adekuat

dan lengkap dan perawatan medis yang tepat. Menurut Purwanto

tujuan terapi komplementer digunakan secara umum adalah untuk

memperbaiki fungsi serta sistem kerja dari organ-organ tubuh secara

komprehensif, meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap

berbagai jenis penyakit serta menstimulasi dan mengaktifkan

mekanisme penyembuhan secara alami oleh tubuh itu sendiri (Supardi

et al., 2022).

C. Ruang Lingkup Terapi Komplementer Alternatif

Terapi komplementer mengadopsi dari kearifan budaya suatu

bangsa yang berarti terapi yang didapatkan melalui proses sosial yang

bukan merupakan sistem yang baku dalam pelayanan kesehatan

namun cukup kuat untuk menentukan kepercayaan terhadap penyakit

dan penyembuhannya. Sehingga dalam penerapannya dapat

dimodifikasi oleh terapis sesuai dengan kemampuannya, tetapi hasil

akhirnya adalah tindakan tersebut berefek positif bagi kesehatan

pasien. Dalam hal ini kemampuan terapis secara kognitif, afektif dan

psikomotor sangat menentukan keberhasilan terapi. Ruang lingkup

8
tindakan komplementer yang berlandaskan ilmu pengetahuan

biomedik dan ditetapkan oleh menteri kesehatan adalah:

1. Intervensi Tubuh dan Fikiran (Mind and body intervension).

2. Sistem Pelayanan Pengobatan Alternatif (Alternative System of

Medical Practice).

3. Cara penyembuhan manual (Manual Healing Methods).

4. Pengetahuan farmakologi dan biologi (Pharmakologic and Biologic

Treatments).

5. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan (Diet and

Nutrition the Prevebtion and Treatment of Desease).

6. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan (Unclassified Diagnostic

and Treatment Methods).

D. Jenis-Jenis Terapi Komplementer

Jenis terapi komplementer saat ini telah dikembangkan dan

meluas dalam ilmu keperawatan, meskipun penemu terapi tersebut

tidak berasal dari kelompok keperawatan. Terapi komplementer dibagi

menjadi dua bagian yaitu terapi invasif dan terapi noninvasif (Wijaya

et al., 2022) :

1. Terapi invasif adalah segala tindakan yang berhubungan dengan

suatu teknik yang dimasukkan di dalam tubuh yang termasuk

9
dalam terapi invasif antara lain akupuntur dan cupping (bekam

basah) yang menggunakan jarum dalam pengobatannya.

2. Terapi non invasif adalah segala tindakan yang berhubungan

dengan suatu teknik yang tidak dimasukkan di dalam tubuh, hanya

pada permukaan kulit saja, yang termasuk dalam terapi non invasif

seperti terapi energi (reiki, chikung, tai chi, prana, terapi suara),

terapi biologis (herbal, terapi nutrisi, food combining, terapi jus,

terapi urin, hidroterapi colon dan terapi sentuhan modalitas;

akupresur, pijat bayi, refleksi, reiki, rolfing, dan terapi lainnya

(Wijaya et al., 2022).

Adapun contoh jenis terapi komplementer antara lain :

a. Herbal

 Jahe merah

Merangsang regenerasi sel kulit, memperlambat proses

penuaan, antihistamin, menghambat keluarnya enzim sikoo-

oksigenase dan 5- lipoksigenase, meningkatkan aktivitas

kelenjar endokin, mengobati batuk, melegakan saluran

pernafasan, mengobati gatal, perut kembung serta sakit kepala.

 Minyak kelapa murni/ Virgin coconut oil (VCO)

VCO mengandung pelembab ilmiah dan membantu menjaga

kelembaban kulit serta baik untuk kulit yang kering, kasar dan

bersisik. VCO mengandung asam lemak jenuh rantai sedang

10
yang mudah masuk ke lapisan kulit dalam dan

mempertahankan kelenturan serta kekenyalan kulit. Asam

laurat dan asam kaprat yang terkandung di dalam VCO mampu

membunuh virus. Di dalam tubuh, asam laurat diubah menjadi

monolaurin sedangkan asam kaprat berubah menjadi

monokaprin. Senyawa ini termasuk senyawa monogliserida

yang bersifat sebagai antivirus, antibakteri, antibodi dan

antiprotozo.

 Daun sirih

Zat aktif yang terdapat pada seluruh bagian tanaman dapat

merangsang saraf pusat, merangsang daya pikir, meningkatkan

peristaltik dan meredakan sifat mendengkur. Daun sirih juga

memiliki efek mencegah ejakulasi premature, ekspektoran,

antiseptic, antibiotik, mematikan cendawan, anti kejang,

analgesik, pereda kejang pada otot polos, penekan kendali

gerak, mengurangi sekresi cairan pada liang vagina, penekan

kekebalan tubuh, pelindung hati dan anti diare. Berkumur

dengan rebusan daun sirih dapat mengobati gigi dan gusi yang

meradang. Daun sirih hijau dapat di gunakan untuk mengobati

sariawan dan bibir pecah-pecah.

 Minyak kayu putih

11
Daun kayu putih bersifat karminatif, analgesik, stomakik,

spasmolitik, antiseptik, antivirus, antireumatik, difuretik bersifat

diaforetik, menghilangkan rasa sakit, membunuh kuman,

mengencerkan dahak dan anti kejang. Buahnya meningkatkan

nafsu makan. Kulit pohon memberikan efek menenangkan.

 Minyak zaitun

Senyawa aktif mono unsaturaned fat, terutama asam oleat

dapat menjaga kesehatan pembuluh darah jantung, sehinga

menurunkan resiko pada penyakit jantung koroner. Senyawa

golongan fenol pada minyak zaitun bersifat sebagai anti

oksidan, anti kanker, anti penuaan dini serta menjaga

elastisitas dinding pembuluh darah. Mencampurkan minyak

zaitun dengan minyak kayu putih dan menggosokkan pada kulit

di sertai masasse berfungsi untuk memperlancar peredaran

darah, mengurangi kelelahan serta dapat menjaga kelembaban

kulit dan elastisitas kulit. Minyak zaitun juga dapat berfungsi

sebagai laksatif ringan untuk memudahkan proses buang air

besar.

 Teh hijau (Green tea)

Dalam teh hijau kandungan senyawa polifenol yang sangat

banyak berperan sebagai pelindung terhadap kanker. Senyawa

ini akan mentralkan radikal bebas yang menjadi penyebab

12
kanker. Daun teh hijau yang telah dikeringkan terdiri dari 40%

polifenol. Selain dapat memerangi kanker payudara, zat ini juga

diyakini dapat menurunkan resiko kanker lambung, paru-paru,

usus besar, dubur, hati dan pankreas. Epigallocatecin gallate

(EGCG) dalam teh hijau berperan sebagai antioksidan,

memperbaiki sel- sel yang rusak. Vitamin E pada teh hijau

dapat bermanfaat untuk menghaluskan dan meningkatkan

elastisitas kulit. Kafein pada teh hijau berfungsi sebagai

perangsang kuat pada susunan saraf pusat dan aktivitas

jantung. Theofilin mempunyai efek diuretik kuat, menstimulir

kerja jantung dan melebarkan pembuluh darah koroner.

 Lidah buaya

Lidah buaya bersifat antibiotik, antiseptik, antibakteri,

antikanker, antivirus, anticendawan, antiinfeksi, antiradang,

antipembengkakan, antivius dan laksatif. Lidah buaya bekerja

sebagai antiinflamasi serta obat herbal untuk luka bakar yang

dapat mencegah oedema dengan cara menghambat enzim

sikloogenase atau menghambat sintesis prostaglandin E2

(PGE2) dari asam arakhidonat. Senyawa PGE2 merupakan

prostaglandin yang dilepaskan oleh makrofag dan memodulasi

beberapa respon radang serta meningkatkan sensitifitas nyeri.

Ekstrak lidah buaya juga menghambat migrasi sel-sel neutrofil.

13
Sebagai zat antibakteri, ekstrak lidah buaya menghambat

perkembangan bakteri Streptococcus dan sigella. Ekstrak lidah

buaya juga berperan sebagai imunostimulan asetil polisakarida

yang di ekstrak dari daun lidah buaya menstimulasi aktifitas

limfosit-T dan meningkatkan produksi IL-1 oleh makrofag.

b. Food combining

Food combining mengatur agar setiap suapan makanan

dapat memberikan sumbangan nutrisi optimal, tanpa memberatkan

kerja organ-organ cerna kita. Dengan demikian tubuh terjamin

memperoleh kecukupan nutrisi. Selain itu tubuh memiliki jeda

istirahat mencerna yang cukup, sehingga bisa leluasa melakukan

proses metabolisme lainnya, seperti proses peremajaan sel. Ketika

proses metabolisme dalam tubuh berjalan seimbang tanpa

terbebani kesibukan mencerna otomatis tubuh dapat lebih fokus

memperkuat sistem kekebalan tubuh, lebih sigap melakukan proses

pemulihan jika kita mengalami gangguan kesehatan, memperbaiki

sel-sel dan/atau menumbuhkan sel-sel baru dan lain-lain.

Sebaliknya, kesibukan mencerna tiada henti akibat pilihan makanan

yang buruk dan kombinasi makanan yang kurang serasi akan

menghilangkan kesempatan tubuh melakukan proses alami

tersebut. Akibatnya organ-organ cerna lebih cepat aus, antara lain

di tandai dengan munculnya gangguan kesehatan : hipertensi,

14
kadar tinggi kolesterol/ trigliserida, gangguan asam urat, diabetes

dan lain-lain. Termasuk di dalamnya adalah gangguan ringan

seperti maag dan alergi. Berikut adalah padu padan unsur makanan

yang serasi dalam food combining.

 Pati + protein nabati

Padu padan di atas (disebut juga menu pati) merupakan

paduan yang serasi karena mudah di cerna dan di terima oleh

tubuh. Namun sekali lagi yang harus di perhatikan adalah

konsumsi karbohidrat (umumnya nasi) yang lebih dominan dari

sayuran bisa menyebabkan lonjakan gula darah.

 Pati + sayur

Seperti paduan sebelumnya, kombinasi pati dan sayur pun tidak

masalah. Enzim yang mencerna keduanya meski berbeda

namun dapat bekerja dalam suasana yang tidak bertentangan.

Sifat mudah dicerna dari sayur terutama sayur segar dapat

mengimbangi pencernaan karbohidrat. Sebaiknya

mengkombinasikan keduanya dengan porsi sayur yang lebih

dominan. Misalnya sayur ½ piring karbohidrat ¼ piring, ¼

piring lagi bisa di tambahkan komponen lain yang serasi, yaitu

protein nabati.

 Protein + sayur

15
Yang dimaksud disini adalah protein hewani. Kombinasi ini di

sebut juga sebagai menu protein. Paduan serasi ini saling

melengkapi satu sama lain namun sebaiknya untuk padu padan

ini utamakan sayuran segar, sebab sayuran segar akan

membantu pencernaan protein hewani. Jangan lupa meski

termasuk paduan serasi, sebaiknya tetap mengatur prporsinya.

Pastikan sayuran segar menempati kapasitas jauh lebih luas di

piring anda. Idealnya, 10% saja untuk protein hewani, sisanya?

Sayur segar!

Berikut ini adalah padu padan unsur makanan yang tidak

serasi dalam food combining.

 Pati + protein hewani

Aturan utama dalam food combining adalah jangan menyantap

makanan yang mengandung karbohidrat dominan dengan

protein hewani secara bersamaan. Ini aturan yang sangat

penting bahkan ada yang mengatakan kombinasi keduanya

adalah pembentuk racun yang paling utama dalam tubuh.

Mengapa protein hewani tidak boleh di campur dengan pati? Ini

berkaitan dengan aktivitas pencernaan keduanya yang memiliki

perbedaan. Karbo dicerna oleh amilase sedangkan protein

hewani di cerna dengan bantuan enzim pepsin. Protein hewani

merangsang lambung mengeluarkan asam lambung. Di sisi lain,

16
amilase tak dapat bekerja optimal dalam suasana yang terlalu

asam. Ph yang tidak cocok ini menimbulkan hambatan dalam

pencernaan. Akibatnya jika keduanya di campur, waktu

cernanya jauh lebih lama, bisa mencapai 8 jam bahkan lebih

lama lagi. Lamanya waktu cerna menyebabkan makanan

membusuk dan menimbulkan toksin dalam tubuh. Demikian

pula dengan waktu cerna yang berbeda di antara keduanya.

Waktu cerna karbo 1-1,5 jam sedangkan waktu cerna protein 4

jam. Waktu cerna keduanya terlalu jauh berbeda menimbulkan

hambatan dalam proses pencernaan keduanya.

c. Terapi pikiran tubuh

 Relaksasi progresif

Teknik relaksasi progresif adalah memusatkan perhatian pada

suatu aktifitas otot dengan mengidentifikasi otot yang tegang

kemudian menurunkan ketegangan dengan melakukan teknik

relaksasi untuk mendapatkan perasaan rileks. Manfaat :

1. Meningkatkan keterampilan dasar relaksasi.

2. Mengurangi ketegangan otot dan syaraf.

3. Mengurangi tingkat kecemasan klien.

4. Bermanfaat untuk penderita gangguan tidur (insomnia) serta

meningkatkan kualitas tidur.

5. Mengurangi stres dan depresi.

17
6. Menghilangkan kelelahan.

7. Mengurangi kelihan spasme otot, nyeri leher dan punggung.

8. Bermanfaat bagi penderita tekanan darah tinggi.

 Guided Imaginary Theraphy

Relaksasi bertujun untuk mengurangi stres dan meningkatkan

perasaan tenang dan damai serta merupakan metode

penenang untuk situasi yang sulit dalam kehidupan. Guide

imaginary theraphy adalah teknik pikiran tubuh tradisional yang

di pandu melalui konsentrasi dan imajinasi pikiran. Dengan

demikian terbentuklah keseimbangan antara pikiran tubuh dan

jiwa. Manfaat :

1. Mempercepat proses penyembuhan penyakit.

2. Meringankan gejala alergi dan asma.

3. Membantu pasien lebih rileks.

4. Mengurangi kecemasan, stres dan depresi.

5. Mengurangi nyeri dan efek samping terapi medis, misalnya

setelah pasien menjalani operasi atau kemoterapi.

6. Mengurangi level gula darah.

7. Mengurangi keluhan sakit kepala.

8. Menurunkan tekanan darah tinggi.

9. Mengatasi ketegangan pada otot.

10. Mengobati gejala sulit tidur (insomnia).

18
11. Meringankan alergi kronis, gatal-gatal dan asma.

12. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh (imunitas).

 Berdoa

Terapi pada jiwa, raga dan pikiran untuk mendekatkan diri

serta meminta pertolongan kepada Sang Pencipta (Tuhan)

melalui pendekatan agama yang di anut masing-masing klien.

Manfaat :

1. Meningkatkan harapan hidup pada pasien dengan penyakit

kronis.

2. Meningkatkan sistem daya tahan tubuh.

3. Meningkatkan ketenangan jiwa.

4. Mempercepat proses penyembuhan terhadap penyakit.

5. Meningkatkan keharmonisan kualitas hubungan antar

sesama manusia maupun lingkungannya.

 Terapi musik

Terapi musik ini adalah suatu bentuk pelayanan keperawatan

holistik yang dapat di terapkan kepada klien. Terapi musik

adalah suatu usaha untuk meningkatkan kualiotas fisik dan

mental dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi,

ritme, harmoni, bentuk dan gaya yang diorganisir sedemikian

rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan

19
fisik dan mental. Terapi musik dapat dibagi menjadi dua jenis

yaitu : terapi musik aktif dan terapi musik pasif. Manfaat :

1. Meningkatkan, memulihkan dan memelihara emosional,

sosial dan spiritual.

2. Meningkatkan kualitas fisik dan mental.

3. Merelaksasikan tubuh dan pikiran.

4. Meningkatkan motivasi tubuh dan meningkatkan kekebalan

tubuh.

5. Menyeimbangkan tubuh dan jiwa serta meningkatkan

kecerdasan.

 Terapi humor

Humor theraphy atau terapi humor adalah penggunaan humor

untuk mengurangi rasa sakit fisik atau emosional dan stres.

Tujuannya adalah mengurangi stres dan meningkatkan kualitas

hisup seseorang. Perawat dapat melakukan terapi ini di saat

melakukan kegiatan keperawatan yang lain, misalnya : ketika

melakukan konseling kesehatan, menyiapkan fooding atau pada

saat melakukan kegiatan santai dengan pasien. Manfaat :

1. Meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit.

2. Mengurangi ketegangan otot dan syaraf.

3. Memperlancar sistem peredaran darah.

4. Meningkatkan kualitas hidup.

20
5. Mendorong relaksasi dan menurunkan tekanan darah tinggi.

6. Mengurangi stres dan meningkatkan mood.

 Hipnosis atau hypnotheraphy

Hypnotheraphy adalah terapi yang dilakukan pada subyek

dalam kondisi hipnotis. Hipnosis di definisikan sebagai suatu

kondisi pikiran dimana fungsi analitis logis pikiran di reduksi

sehingga memungkinkan individu masuk ke dalam kondisi

bawah sadar (subconscius/unconcius) dimana tersimpan

beragam potensi internal yang dapat di manfaatkan untuk lebih

meningkatkan kualitas hidup. Individu yang berada pada

kondisi “hypnotic trance” lebih terbuka terhadap sugesti dan

dapat di netralkan dari berbagai rasa takut berlebih (phobia)

trauma ataupun rasa sakit. Hipnpsis dapat membantu

mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif.

Secara umum, mekanisme kerja hipnoterapi berhubungan

dengan sistem kerja otak manusia yang dapat menstimulir otak

untuk meningkatkan kualitas suasana hati yang lebih baik.

Manfaat :

1. Hipnosis sangat berguna dalam mengatasi berbagai macam

kasus berkenaan dengan kecemasan, ketegangan, depresi

dan phobia.

21
2. Membantu untuk menghilangkan kebiasaan buruk seperti

ketergantungan pada rokok, alkohol dan obat-obatan.

3. Membangun berbagai kondisi emosional positif berkenaan

dengan menjadi seorang yang bukan perokok dan penolakan

terhadap rasa atau aroma rokok.

4. Khusus untuk phobia, hypnotheraphy di gunakan untuk

mereduksi kecemasan yang mengambil alih kontrol individu.

5. Hypnotheraphy dapat di gunakan untuk membawa orang

mundur ke masa lampau atau regresi krhidupan masa lalu

untuk mengobati trauma dengan memberikan kesempatan

untuk mengubah “fokus” perhatian.

6. Hypnotheraphy juga dapat di gunakan untuk meningkatkan

optimalitas pembelajaran. Berkaitan dengan pembelajaran,

hypnotheraphy dapat di aplikasikan untuk meningktakan

daya ingat, kreativitas, fokus, merubuhkan batasan mental

(self limiting mental block) dan lainnya.

d. Aromatherapy

Aromaterapi berarti terapi dengan memakai minyak esensial

yang ekstrak dan unsur kimianya diambil dengan utuh. Tumbuhan

aromatic menghasilkan minyak aromatik. Apabila disuling, senyawa

yang manjur ini perlu ditangani secara hati-hati. Sebagian besar

senyawa ini akan menimbulkan reaksi kulit, tetapi jika digunakan

22
secara tepat, senyawa ini memilki nilai teraupetik. Senyawa ini

dapat dihirup, digunakan dalam kompres, dalam air mandi, atau

dalam minyak pijat. Aromaterapi merupakan pengobatan alternatif

dengan menggunakan sari tumbuhan aromatik murni berupa bahan

cairan tanaman yang mudah menguap dan senyawa aromatik lain

dari tumbuhan. Fhfgh

 Aplikasi aroma terapi

1. Dihirup

Penggunaan aromaterapi dengan cara menghirup dianggap

sebagai cara disebut dengan teknik inhalasi. Beberapa tetes

minyak diteteskan ke dalam baskom yang berisi air panas,

kemudian wajah dihadapkan ke atas baskom dengan

menutup kepala dan muka menggunakan handuk, dengan

cara ini uap yang naik dapat terhirup seluruhnya.

2. Penguapan

Alat yang digunakan untuk menyebarkan aromaterapi

dengan cara penguapan ini mempunyai rongga seperti gua

untuk meletakkan lilin kecil atau lampu minyak dan bagian

atas terdapat cekungan seperti cangkir biasanya terbuat dari

kuningan untuk meletakkan sedikit air dan beberapa tetes

minyak esensial. Cara penggunaannya adalah mengisi

cekungan cangkir pada tungku dengan air dan tambahkan

23
beberapa tetes minyak esensial, kemudian nyalakan lilin,

lampu minyak atau listrik. Setelah air dan minyak menjadi

panas, penguapan pun terjadi dan seluruh ruangan akan

terpenuhi dengan bau aromatik. Proses penguapan dapat

berlangsung sekitar lima sampai enam jam.

3. Pijatan

Pijat merupakan salah satu bentuk pengobatan yang sangat

sering dikolaborasikan dengan aromaterapi. Beberapa tetes

minyak esensial dicampurkan dalam minyak untuk pijat

sehingga dapat memberikan efek simultan antara terapi

sentuhan dan terapi wangi-wangian. Pijatan dapat

memperbaiki peredaran darah, mengembalikan kekenyalan

otot, membuang racun dan melepaskan energi yang

terperangkap di dalam otot. Wangi-wangian memicu rasa

senang dan sehat.

4. Semprotan untuk ruangan

Minyak esensial bersifat lebih alami daripada aerosol yang

dapat merusak ozon dalam penggunaannya sebagai pewangi

ruangan. Penggunaannya adalah dengan menambahkan

sekitar 10-12 tetes minyak esensial ke dalam setengah liter

air dan menyemprotkan campuran tersebut ke seluruh

ruangan dengan bantuan botol penyemprot.

24
5. Mandi dengan berendam

Mandi dengan berendam merupakan cara yang paling mudah

untuk menikmati aromaterapi. Tambahkan beberapa tetes

minyak aroma ke dalam air berendam, kemudian

berendamlah selama 20 menit. Minyak esensial akan berefek

pada tubuh dengan cara memasuki badan lewat kulit.

Campurkan minyak esensial dengan cara yang tepat, karena

beberapa minyak aroma tidak mudah larut dalam air.

 Jenis aromaterapi

1. Lemon

Minyak essensialnya diambil dari kulit buah. Mempunyai

efek menjernihkan, meremajakan, membangkitkan rasa

senang dan semangat, juga baik untuk penanganan

pertama digigit ular dan serangga. Aromaterapi lemon

dapat mengurangi masalah gangguan pernafasan,

tekanan darah tinggi, pelupa, stress, pikiran negatif dan

rasa takut.

2. Lavender

Bunga lavender memiliki nama latin Lavandula

angustifolia, berwarna lembayung muda. Sari minyaknya

diambil dari bagian pucuk bunga, selain mampu

mengusir nyamuk ternyata juga memberikan efek

25
meningkatkan ketenangan, keseimbangan, rasa nyaman,

rasa keterbukaan, dan keyakinan. Selain itu juga

mengurangi rasa tertekan, stres, rasa sakit saat

menstruasi, emosi yang tidak seimbang, histeria, rasa

frustrasi, dan kepanikan. Lavender tumbuh dan

dibudidayakan di seluruh penjuru duniaManfaat bunga

lavender telah dibuktikan dari berbagai hasil penelitian.

Aromaterapi lavender dapat menurunkan 30% tingkat

kecemasan pada pasien dimensia yang mengalami

agitasi.

3. Rosemary

Rosemary dapat menghilangkan depresi, stres,

ketegangan mental dan lesu atau kelelahan. Minyak

rosemary dapat meningkatkan aktivitas radikal bebas dan

menurunkan hormon stress.

4. Peppermint

Peppermint memiliki aroma segar dan kuat yang berasal

dari rerumputan mint yang ditemukan di Amerika. Minyak

murni daun mint ini dapat meningkatkan konsentrasi,

vitalitas, rasa percaya diri, pikiran positif, sensualitas,

keyakinan arah dan tujuan hidup. Juga mengurangi rasa

26
lelah, rasa putus asa, histeria, sakit kepala, dan rasa

takut.

5. Cendana (Sandalwood)

Cendana memiliki aroma yang khas, sari minyaknya

diambil dari bagian kayu. Sandalwood ternyata memiliki

efek meningkatkan keterbukaan, kehangatan, rasa

percaya diri, kejujuran, ketenangan jiwa, perasaan cinta,

sensualitas, rasa nyaman, harapan, kepercayaan,

kebijaksanaan, pengertian, stabilitas, keberanian serta

daya tahan. Cendana juga mengurangi stres saat

menstruasi, gangguan konsentrasi, dan rasa kesepian.

6. Eucalyptus (minyak kayu putih)

Eucalyptus sarinya diambil dari bagian daun dan ranting.

Aroma ini mempunyai efek keseimbangan dan

menstimulus peningkatan proses penyembuhan,

protectiveness, konsentrasi, vitalitas, keseimbangan

emosi, dan juga spontanitas. Selain itu dapat mengurangi

panas badan saat flu, sakitkepala, perilaku yang tidak

rasional, kemarahan, mengusir serangga serta

menghilangkan bau yang tidak sedap.

7. Green tea Aroma

27
Green tea dapat membantu menyeimbangkan fungsi sel

tubuh, membantu mencegah kanker, memperbaiki sistem

peredaran darah, membantu menguraikan asam lemak,

menurunkan kadar gula dalam darah, meningkatkan

fungsi lever, membantu mengeluarkan dahak dan

membersihkan paru-paru, memperlambat proses

penuaan, dan membangkitkan semangat.

 Efek samping aromaterapi

1. Keracunan pada anak-anak jika tertelan Minyak esensial

sangat pekat dan memiliki berbagai tingkat toksisitas jika

tidak digunakan dengan benar. Bahkan, beberapa minyak

tumbuhan aromatik, termasuk minyak esensial bisa

menjadi racun apabila ditelan. Karena itulah, bagi

orangtua yang menggunakan minyak aromaterapi,

simpan minyak- minyakan tersebut dengan baik dan

jauhkan dari jangkauan anak-anak.

2. Membuat kulit lebih sensitif Beberapa minyak esensial

yang digunakan dalam aromaterapi meningkatkan

sensitivitas kulit terhadap paparan matahari secara

langsung dan dalam waktu yang lama, misalnya akar

angelica, jinten, lemon ataupun jeruk pada bagian tubuh

28
yang sering terpapar sinar matahari, yang akan mudah

membuat kulit terbakar.

3. Iritasi kulit Salah satu efek samping samping aromaterapi

yang paling umum adalah iritasi kulit atau reaksi alergi.

Hal ini akan menyebabkan munculnya ruam, gatal dan

sensasi panas. Namun iritasi kulit ini bisa bervariasi,

tergantungseberapa sensitif kulit seseorang. Oleh karena

itu, sebaiknya dilakukan tes terlebih dahulu. Caranya

dengan mengoleskan sedikit minyak aromaterapi di kulit

untuk melihat reaksi yang ditimbulkan .Jika setelah

dioleskan muncul kemerahan, gatal, dan rasa panas di

kulit, sebaiknya Anda menghentikan pemakaian

aromaterapi oles.

4. Alergi pada penderita asma Kandungan Volatile Organic

Compound (VOC), bahan organik yang mudah menguap

dari bentuk cairan yang terkandung dalam aromaterapi,

akan berdampak terhadap peningkatkan risiko inflamasi

di tubuh, mengganggu fungsi sistem saraf dan dapat

menimbulkan reaksi alergi saluran pernafasan.

e. Terapi energy

Pada dasarnya terapi ini dilakukan dengan dua cara yaitu

dengan sentuhan dan tanpa sentuhan. Terapi dengan sentuhan

29
juga ada bermacam-macam. Ada sentuhan yang dilakukan sangat

tepat pada titik-titik energi tertentu pada tubuh dengan

menggunakan jarum pada akupuntur atau cukup dengan jari pada

akupresur dan pijat refleksi. Terapi energi tanpa sentuhan juga

bermacam-macam, ada yang dilakukan dengan Chi Kung, dan ada

juga dengan tenaga Prana. Aliran energi hidup ini berhubungan

dengan zat kimia yang berfungsi sebagai penghantar rangsang

untuk mengontrol pusat-pusat yang mempengaruhi organ penting

tubuh. Seperti energi elektromagnetik atau energi listrik, energi ini

juga mempunyai dua kutub, yaitu positif dan negatif. Kondisi tubuh

akan sehat bila energi pada kedua kutub tersebut berada dalam

keadaan seimbang. Sehingga dapat membangkitkan medan energi.

Tujuan terapi energi adalah mengembalikan keseimbangan energi

pada kedua kutub tersebut. Dari sudut pandang 5 elemen, terapi

energi yang lemah, menyehatkan dan menyeimbangkan kembali

energi pada elemen yang lemah.

1. Akupuntur

Metode pengobatan akupuntur dikenal sejak 5000 tahun

yang lalu. Akupuntur juga menggunakan konsep energi 5

elemen. Metode ini menggunakan teori meridian, yaitu titik-titik

energi Chi. Titik-titik meridian digunakan untuk

menyeimbangkan energi 5 di dalam tubuh. Ada 12 pasang jalur

30
meridian utama dan 2 pasang jalur meridian tambahan. Sampai

saat ini, telah di temukan lebih dari 300 titik akupuntur dengan

fungsi yang berbeda. Energi Chi mengalir melalui jaringan di

berbagai meridian tubuh dan cabang- cabangnya. Dengan

menusuk titik-titik tersebut, di harapkan organ tubuh yang sakit

akan memperoleh energi Chi yang cukup sehingga terjadi

keseimbangan Chi dalam tubuh.

Meridian adalah jalur lalu lintas energi dalam tubuh. Dan

sebagaimana lalu lintas, pada meridian terdapat jalur/jalan,

hambatan, persimpangan, titik awal, titik akhir dan sebagainya.

Jika jalan energi pada meridian lancar, akan tercipta

keharmonisan dalam tubuh dan tubuh kita mampu melawan

penyakit. Sebaliknya jika terjadi hambatan pada meridian, akan

muncul gangguan kesehatan. Yang membedakan meridian

dengan jaringan lain di tubuh adalah jaringan darah dan saraf

dapat terlihat oleh mata, sedangkan jaringan meridian tidak

terlihat walaupun nyata. Dalam ilmu kedokteran modern,

rahasia teori jalur energi meridian ini masih belum terungkap

karena saat ini belum ada alat yang bisa mendeteksinya. Tetapi,

teori ini sudah di buktikan manfaatnya selama ribuan tahun.

Fenomena teori meridian mungkin sama dengan keberadaan

nyawa pada makhluk hidup. Keberadaan nyawa sangat penting

31
bagi kehidupan, tapi belum ada yang bisa mengungkapkan

rahasia keberadaannya. Jadi keberadaan meridian belum dapat

di buktikan secara fisik menurut ilmu kedokteran, walaupun riset

telah menunjukkan bagaimana transformasi dari Chi dapat

berhubungan di bagian-bagian internal manusia. Menurut Hiromi

Shinya, MD., pada dasarnya tubuh manuisa di lengkapi untuk

selalu menjaga keseimbangan sistem tubuh atau homeostatis.

Jika terjadi abnormalitas pada tubuh, homeostatis tubuh akan

berusaha mengembalikan tubuh pada kondisi kesehatan yang

normal. Hiromi Shinya mengatakan bahwa yang membantu

tubuh mengatur homeostatis ini adalah enzim dasar atau enzim

pangkal. Dalam konsep energi yang mengatur ini adalah prana,

chi atau energi sehat 5 elemen. Jadi, tubuh akan selalu

berusaha mengembalikan kondisinya pada kesehatan semula

misalnya menyeimbangkan temperatur tubuh, menyeimbangkan

kondisi asam basa, mengobati luka sehingga sembuh dan

kembali mempunyai warna kulit semula. Tetapi bila

abnormalitas terjadi terus-menerus, energi bisa habis atau

terhambat sehingga tidak bisa mengalir dan akhirnya menjadi

lemah. Hal ini mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan

energi. Dalam kondisi ini, akupuntur dapat membantu untuk

32
mengalirkan dan menyeimbangkan energi melalui titik-titik

meridian tertentu, misalnya :

a) Meridian jantung, paru-paru, selaput jantung mewakili energi

pada elemen udara.

b) Titik meridian hati, empedu, lambung, tri pemanas mewakili

energi pada elemen api.

c) Titik meridian limpa, usus kecil, ginjal, kandung kemih

mewakili energi pada elemen air.

2. Akupresur

Akupresur menggunakan metode yang sama dengan akupuntur

dan biasanya di gunakan untuk pengobatan sendiri (self

healing). Bedanya, bila akupuntur menggunakan jarum,

akupresur biasanya menggunakan jari tangan. Akupresur

berkembang dari naluri manusia untuk memegang, menekan

atau memijat-mijat bagian tubuh ketika terluka atau cedera.

Para pendeta Tao dari zaman China kuno memformulasikan

pengamatan mereka akan naluripengobatan sendiri. Saat ini di

kenal berbagai jenis akupresur seperti Shiatsu, Jin Shin, dan Tui

na.

3. Pijat refleksi (refleksiologi)

Pijat refleksi mempunyai konsep yang mirip dengan

akupuntur. Melalui pijat refleksi, energi yang terhambat dapat

33
mengalir kembali, sehingga terjadi keseimbangan energi. Jika

bagian tubuh tertentu mengalami gangguan, gangguan ini bisa

di atasi dengan menekan bagian tubuh yang berada pada zona-

zona yang sama. Hal ini akan menstimulasi energi yang sesuai

sehingga mampu mengatasi stres, ketegangan dan gangguan

pada bagian tubuh yang terganggu. Pakar refleksiologi meyakini

paling sedikit ada 15 zona atau mikrosistem pada tubuh

manusia. Zona atau saluran energi ini di anggap sebagai jalur

untuk mengalirnya energi vital, prana, atau Chi pada setiap

orang. Zona tersebut berakhir pada ujung kaki, uujung tangan

dan telinga. Pijat refleksi dapat dilakukan pada ujung kaki,

ujung tangan dan telinga.

Melalui pijat refleksi pada ujung tangan, ujung kaki atau

telinga, energi yang terhambat dapat mengalir kembali sehingga

terjadi keseimbagan energi. Pada pijat refleksi ujung tangan,

jari-jari mewakili energi pada elemen Eter. Telapak tangan

bagian atas mewakili energi pada elemen udara. Telapak tangan

bagian tengah-atas mewakili energi pada elemen api. Telapak

tangan bagian tengah-bawah mewakili energi ppada elemen air.

Telapak tangan bagian bawah mewakili energi pada elemen

bumi.

4. Chi Kung

34
Chi kung atau Qi gong adalah disiplin tradisional China

yang telah berumur ribuan tahun. Chi Kung mengintegrasikan

sistem pengobatan, seni bela diri, kebudayaan dan sekaligus

ilmu pengetahuan. Dari sudut pandang kesehatan, chi kung

adalah ilmu sekaligus seni dalam mengelola dan mengontrol chi

untuk mengintegrasikan tubuh, pikiran dan jiwa sehingga semua

sistem yang bekerja di dalam diri kita menjadi satu kesatuan

yang seimbang dan harmonis untuk mencapai tujuan kesehatan

yang holistik. Chi Kung adalah latihan Chi untuk mencegah dan

menyembuhkan penyakit dengan cara merangsang titik-titik

meridian, sehingga Chi di dalam tubuh mengalir dengan bebas

dan lancar. Selain itu juga untuk menguatkan tubuh,

memperpanjang usia dan meningkatkan kecerdasan.

5. EFT (Emotional Freedom Techniques)

EFT dalah teknik pengobatan modern yang dipopulerkan

oleh Gary Craig pada tahun 1991. EFT menggunakan titik-titik

akupuntur yang disederhanakan. Menurut Gary craig dengan

melakukan tapping pada titik- titik tertentu pada tubuh, maka

energi meridian akan menjadi seimbang.

Selain itu EFT juga merupakan bentuk pengobatan

psikoterapi, yang dilakukan dengan memanipulasi medan energi

tubuh melalui tapping pada titik-titik akupuntur, sambil

35
memfokuskan pikiran pada trauma yang pernah terjadi,

sehingga akhirnya dapat menyelesaikan problem yang bersifat

psikologis. Gary Craig pernah menawarkan diri untuk menerapi

para veteran perang vietnam di VA (Veteran Administration)

yang telah puluhan tahun menderita PTSD (Post Traumatic

Stress Disorder) yaitu stres dan ketakutan yang muncul settelah

mengalami peristiwa mengerikan. Para veteran perang yang

malang ini selama belasan tahun telah di tangani oleh belasan

psikoterapis tanpa menunjukkan hasil positif yang signifikan.

Ajaibnya, dalam enam hari Gary Craig berhasil membebaskan

dua puluh veteran dari penderitaan emosi yang mereka derita

selama puluhan tahun.

Pada dasarnya EFT juga menggunakan konsep

keseimbangan enegi. Misalnya dengan memijat titik-titik

tertentu pada jari-jari tangan, energi pada 5 elemen akan

mengalir sehingga energi tubuh akan menjadi seimbang.

Kelebihannya EFT juga dapat membebaskan orang dari stres

dan trauma.

6. Penyembuhan Prana (Pranic Healing)

Penyembuhan Prana berdasarkan teori bahwa tubuh

manusia terdiri dari tubuh fisik yang kelihatan dan tubuh energi

yang tidak kelihatan. Tubuh energi di kenal juga dengan istilah

36
tubuh eterik atau tubuh bioplasmik. Tubuh energi ini

mengelilingi tubuh fisik. Setiap penyakit akan bermanifestasi

pada tubuh energi sebelum menampakkan gejalanya pada

tubuh fisik. Fenomena ini telah berhasil di buktikan dalam

penelitian secara ilmiah. Dalam tubuh energi terdapat pusat-

pusat energi masing-masing berdiameter 7,5-10 cm dan di

sebut dengan istilah cakra. Semua cakra mengendalikan dan

menjadi pintu keluar masuknya energi yang menghidupi seluruh

organ tubuh fisik. Cakra dapat diibaratkan sebagai sumber daya

yang mensuplai energi vital atau Prana ke seluruh organ tubuh.

Bila terjadi sumbatan, kemacetan atau kebocoran pada cakra

tertentu, maka organ yang terkait akan menjadi terganggu dan

sakit. Praktisi Prana akan menangani cakra yang tidak sehat

tersebut dengan membuka sumbatan, menambal kebocoran dan

menyeimbangkan kembali aliran pada prana untuk

menyembuhkan pasien.

Tubuh bioplasmik terdiri dari ion-ion yang bermuatan

positif dan negatif. Bidang energi yang mengelilingi tubih fisik ini

di sebut juga aura. Penyembuh Prana terlatih menggunakan

tangannya yang sensitif untuk merasakan tubuh energi pasien

untuk keperluan diagnosa. Ukuran, lebar danwarna aura

37
tergantung pada kondisi kesehatan dan gaya hidup masing-

masing orang.

7. Cupping

Terapi cupping adalah metode pengobatan dengan

metode tabung atau gelas yang ditelungkupkan pada

permukaan kulit agar menimbulkan bendungan lokal. Terjadinya

bendungan lokal disebabkan tekanan negatif dalam tabung yang

sebelumnya benda-benda dibakar dan dimasukan ke dalam

tabung agar terjadi pengumpulan darah lokal. Kemudian darah

yang telah terkumpul dikeluarkan dari kulit dengan dihisap,

dengan tujuan meningkatkan sirkulasi energi/qi dan darah/xue,

menimbulkan efek analgetik, anti bengkak, serta mengusir

patogen angin dingin maupun angin lembab. Terapi cupping

adalah teknik pengobatan atau penanganan penyakit yang

melibatkan penarikan qi (energi) dan xue (darah) ke permukaan

kulit yang menggunakan alat kop atau gelas. Terapi cupping

yang dapat menciptakan ruang hampa udara (vakum) yang

dapat mengeluarkan 6 patogen dari luar tubuh seperti: angin,

panas, dingin, kering,lembab dan api.

 Jenis Terapi Cupping

Terapi cupping terbagi menjadi 4 jenis yaitu:

38
a) Terapi cupping basah adalah proses pemcuping

therapyan dengan melakukan sayatan untuk

mengeluarkan darah yang ada di kapiler epidermis dan

mengeluarkan patogen yang berada dari luar tubuh

seperti angin, panas dan api serta darah statis.

b) Terapi cupping kering adalah pengkopan dengan pompa

tanpa mengeluarkan darah, Terapi cuppingkering

mengeluarkan patogen angin, panas, dan api. Terapi

cupping kering tidak mengeluarkan darah tetapi

mengeluarkan energi, sehingga diperlukan kehati-hatian

bagi orang dengan kondisi energi yang lemah. Teknik ini

sangat bagus untuk menangani sindrom panas defisien

yin xu. Meskipun prinsip sindrom yin xu terapi utamanya

adalah dengan tonik yin bukan dengan Terapi cupping

kering, tetapi Terapi cupping kering akan membantu

mengeluarkan patogen angin dan menurunkan panas

pada oarang dengan kondisi yin xu.

c) Terapi cupping api adalah proses pengekopan dengan

bantuan api sebagai media pembuatan ruang hampa

udara dalam gelas vakum. Terapi cupping api

mengeluarkan patogen angin, dingin, dan lembab yang

tidak bisa dikeluarkan dengan Terapi cupping basah dan

39
Terapi cupping kering. Kemudian ada tambahan 2 jenis

Terapi cupping yaitu terapi cupping luncur dan tarik.

Terapi cupping luncur adalah terapi cupping dengan

mengekop bagian tubuh yang lain, teknik terapi cupping

ini biasanya untuk pemanasan pasien dengan fungsi

melancarkan peredaran darah, pelemasan otot, dan

menyehatkan kulit. Terapi cupping tarik, teknik ini

dilakukan dengan cara ditarik-tarik. Cupping kemudian

beberapa detik ditarik dan ditempelkan lagi hingga kulit

yang di kop menjadi merah.

 Manfaat

Menurut Ridho (2015) dalam Amin Samiasih (2019)

beberapa penyakit secara medis yang bisa dilakukan

pengobatan terapi cupping diantaranya adalah:

a) Nyeri muskuloskeletal: Back pain dan lumbar pain,

cervical spondilodis dan HNP, fibromyalgia dan fibrositis,

osteoarthritis genu, prolaps discus lumbal, neck and

shoulder pain, persisten LBP (Low Back Pain), skleletal

pain in general, shoulder back myofascitis, traumatic

strain, sprain, and post fracture condition.

40
b) Penyakit kardiovaskular: Hipertensi, edema, aritmia,

penjakit jantung iskemik, penyakit jantung koroner,

trombosis vaskular.

c) Penyakit hematologi: Thalasemia (untuk mengeluarkan

kelebihan serum iron, ferritin dan fragmented cells),

sideroblastic anemia, hemosiderosis dan hemo

chrematosis.

d) Penyakit kulit: Akne vulgaris, atopic dermatitis, urtikaria

kronik idiophatic.

e) Kondisi metabolik: Gout dan arthritis gout, gangguan

tiroid, hormonal imbalance, hiperlipidemia dan

hypercholesteromia, diabetes melitus, hipertrigliserida.

f) Sistem pernapasan: Commond cold, asma bronchial,

sinusitis kronis, tonsilitis, otitis media, motion sickness.

g) Penyakit gstrointestinal: Gastritis, iritable bowel

sindrom, chron’s disease, colitis ulcerative.

h) Penyakit neurologi: Carpal tunel syndrome (CTS),

epilepsi, migraine, stroke, trigeminal neuralgia, infark

cerebral tahap awal.

i) Penyakit autoimun: systemic lupus erythematosus,

myasthenia gravis, multiple sclerosis, rheumatoid

41
arthritis, autoimmune anemia, scleroderma, insulin

dependent DM.

j) Perokok, keracunan makanan, kelebihan dosis obat, dan

masih banyak penyakit yang secara empiris banyak

berhasil diterapi dengan metode Terapi Cupping.

E. Diagnosa Alternatif Dalam Asuhan Keperawatan

No
Diagnosa Keperawatan
. Terapi Komplementer

Nyeri akut Relaksasi napas dalam, akupresur,

1 teknik kompres hangat, guided

imagery, relaksasi genggam jari.

Nyeri kronis Relaksasi napas dalam, akupresur,

2 teknik kompres hangat, guided

imagery, relaksasi genggam jari.

Menyusui tidak efektif Akupresur, aromaterapi,

hypnobreastfeeding, yoga, pijat


3
oketani, pijat woolwich, massage

rolling.

Defisit nutrisi Aromatherapi,herbal,akupresur,terapi


4
pijat

5 Berat badan lebih Akpresur,Hypnotherapi,herbal

6 Gangguan Menelan Akupuntur,herbal,akupresur

42
Ketidakstabilan kadar Herbal
7
glukosa darah

8 Hipovolemia Herbal

9 Hipervolemia Akupuntur,akupresur

Inkontinensia urin Akupuntur,akupresur,


10
refleks

11 Inkontinensia urin stres Akupuntur,akupresur

Gangguan eliminasi Akupuntur,akupresur


12
urin

13 Konstipasi Akupuntur,herbal

14 Diare Akupuntur,herbal

Disfungsi motilitas Akupuntur,herbal


15
gastrointestinal

Gangguan pertukaran Akupuntur


16
gas

Gangguan mobilitas Akupuntur,akupresur


17
fisik

18 Intoleransi aktivitas Akupuntur,akupresur

Bersihan jalan napas Akupuntur,aromatherapy,herbal


19
tidak efektif

Ketidakefektifan perfusi Akupunktur,bekam


20
jaringan

21 Gangguan pola tidur Aromatherapi,hypnoterapi,terapi

43
pijat,akupuntur

F. Pengaturan Praktek

 Dasar hukum

Praktik Keperawatan Komplementer dapat dilakukan oleh

perawat secara mandiri dengan sertifikat dan kompetensi khusus

yang secara resmi diakui organisasi profesi atau lembaga lain yang

berkompeten. Pelaksanaan praktik keperawatan komplementer di

Indonesia berlandaskan pada:

1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

HK.02.02/MENKES/148/I/2010 tentang izin dan

penyelenggaraan praktik perawat pada pasal 8 ayat 3 yang

menyebutkan: “praktik keperawatan dilaksanakan melalui

kegiatan pelaksanaan tindakan keperawatan komplementer”.

2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

908/MENKES/SK/VII/2010 tentang pedoman penyelenggaraan

pelayanan keperawatan keluarga, pada ruang lingkup pelayanan

keperawatan keluarga yang mencakup upaya kesehatan

perorangan (UKP) dan upaya kesehatan masyarakat (UKM) yang

diberikan kepada klien sepanjang rentang kehidupan dan sesuai

tahap perkembangan keluarga. Lingkup pelayanan keperawatan

keluarga mencakup:

44
1) Promosi kesehatan

2) Pencegahan penyakit

3) Intervensi keperawatan

4) Pemulihan kesehatan

3. Peraturan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1109/MENKES/PER/IX/2007 tentang penyelenggaraan

pengobatan komplementer-altirnatif di fasilitas pelayanan

kesehatan, pada Pasal 12 ayat (1) “tenaga pengobatan

komplementer-alternatif terdiri dari dokter, dokter gigi dan

tenaga kesehatan lainnya yang memiliki pendidikan terstruktur

dalam bidang pengobatan komplementer-alternatif”. Sedangkan

pada Pasal 14 ayat 2(a) menyebutkan “dokter dan dokter gigi

merupakan pelaksana utama dalam pengobatan komplementer-

alternatif secara sinergi dan atau terintegrasi di faasilitas

pelayanan kesehatan”. Ayat 2(b) “tenaga kesehatan lainnya

mempunyai fungsi untuk membantu dokter atau dokter gigi

dalam pelaksanaan pengobatan komplementer-alternatif secara

sinergi dan atau terintegrasi di fasilitas pelayanan kesehatan”.

 UU 38 TAHUN 2014 Tentang Keperawatan

a. BAB I Ketentuan Umum 1

Pasal 1

45
a) Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan kepada

individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik dalam

keadaan sakit maupun sehat.

b) Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi

keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang

diakui oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

c) Pelayanan Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan

profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan

kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan

ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau

masyarakat, baik sehat maupun sakit.

d) Praktik Keperawatan adalah pelayanan yang diselenggarakan

oleh perawat dalam bentuk Asuhan Keperawatan.

e) Asuhan Keperawatan adalah rangkaian interaksi Perawat

dengan klien dan lingkungannya untuk mencapai tujuan

pemenuhan kebutuhan dan kemandirian Klien dalam

merawat dirinya.

f) Uji Kompetensi adalah proses pengukuran pengetahuan,

keterampilan, dan perilaku peserta didik pada perguruan

tinggi yang menyelenggarakan program studi Keperawatan.

46
g) Sertifikat Kompetensi adalah surat tanda pengakuan

terhadap kompetensi Perawat yang telah lulus Uji

Kompetensi untuk melakukan Praktik Keperawatan.

h) Sertifikat Profesi adalah surat tanda pengakuan untuk

melakukan praktik Keperawatan yang diperoleh lulusan

pendidikan profesi.

i) Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap Perawat yang

telah memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi

dan telah mempunyai kualifikasi tertentu lainnya serta telah

diakui secara hukum untuk menjalankan Praktik

Keperawatan.

j) Surat Tanda Registrasi yang selanjutnya disingkat STR

adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Konsil Keperawatan

kepada Perawat yang telah diregistrasi.

k) Surat Izin Praktik Perawat yang selanjutnya disingkat SIPP

adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Pemerintah Daerah

kabupaten/kota kepada Perawat sebagai pemberian

kewenangan untuk menjalankan Praktik Keperawatan.

l) Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah alat dan/atau tempat

yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan

kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun

47
rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah

Daerah, dan/atau masyarakat.

m)Perawat Warga Negara Asing adalah Perawat yang bukan

berstatus Warga Negara Indonesia.

n) Klien adalah perseorangan, keluarga, kelompok, atau

masyarakat yang menggunakan jasa Pelayanan

Keperawatan.

o) Organisasi Profesi Perawat adalah wadah yang menghimpun

Perawat secara nasional dan berbadan hukum sesuai dengan

ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

p) Kolegium Keperawatan adalah badan yang dibentuk oleh

Organisasi Profesi Perawat untuk setiap cabang disiplin ilmu

Keperawatan yang bertugas mengampu dan meningkatkan

mutu pendidikan cabang disiplin ilmu tersebut.

q) Konsil Keperawatan adalah lembaga yang melakukan tugas

secara independen.

r) Institusi Pendidikan adalah perguruan tinggi yang

menyelenggarakan pendidikan Keperawatan.

s) Wahana Pendidikan Keperawatan yang selanjutnya disebut

wahana pendidikan adalah fasilitas, selain perguruan tinggi,

yang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan

Keperawatan.

48
t) Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah

adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang

kekuasaan pemerintah negara Republik Indonesia

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945.

u) Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, dan Wali Kota

serta perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara

pemerintahan.

v) Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan

pemerintahan di bidang kesehatan.

Pasal 2

Praktik Keperawatan berasaskan :

a) Perikemanusiaan

b) nilai ilmiah

c) etika dan profesionalitas

d) manfaat

e) keadilan

f) pelindungan

g) kesehatan dan keselamatan Klien.

Pasal 3

Pengaturan Keperawatan bertujuan:

49
a) Meningkatkan mutu perawat.

b) Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.

c) Memberikan pelindungan dan kepastian hukum kepada

perawat dan klien

d) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

b. BAB II Jenis Perawat

Pasal 4

a) Jenis Perawat terdiri atas:

(1) Perawat profesi

(2) Perawat vokasi

b) Perawat profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf

a terdiri atas:

(1) ners

(2) ners spesialis

c) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis perawat sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan

Peraturan Menteri.

 Nomor 103 Tahun 2014 Tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional

c. BAB III pasal 7

1) Jenis pelayanan kesehatan tradisional meliputi :

a) Pelayanan kesehatan tradisional empiris.

b) Pelayanan kesehatan tradisional komplementer.

50
c) Pelayanan kesehatan tradisional integrasi.

2) Pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) dilaksanakan dalam satu sistem kesehatan tradisional

3) Pelayanan kesehatan tradisional sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) harus dapat di pertanggungjawabkan keamanan dan

manfaatnya serta tidak bertentangan dengan norma agama

dan kebudayaan masyarakat.

d. BAB III pasal 10

1) Pelayanan kesehatan tradisional komplementer sebagaimana

dimaksud dalam pasal 7 ayat (1) huruf b merupakan

pelayanan kesehatan tradisional dengan menggunakan ilmu

biokultural dan ilmu biomedis yang manfaat dan

keamanannya terbukti secara ilmiah.

2) Pelayanan kesehatan tradisional komplementer dapat

menggunakan satu cara pengobatan/perawatan atau

kombinasi cara pengobatan/perawatan dalam satu kesatuan

pelayanan kesehatan tradisional komplementer.

3) Pelayanan kesehatan tradisional komplementer sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan di fasilitas pelayanan

kesehatan tradisional.

51
4) Pelayanan kesehatan tradisional komplementer yang

memenuhi kriteria tertentu dapat diintegrasikan pada fasilitas

pelayanan kesehatan.

5) Kriteria tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (4)

meliputi

a) Mengikuti kaidah-kaidah ilmiah

b) Tidak membahayakn kesehatan pasien/klien

c) Tetap memperhatikan kepentingan terbaik pasien/klien

d) Memiliki potensi promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif

dan meningkatkan kualitas hidup pasien/klien secara fisik,

mental dan sosial, dan

e) Dilakukan oleh tenaga kesehatan tradisional.

 PMK Nomor 6 TAHUN 2016 Tentang Formularium Obat Herbal Asli

Indonesia

Pasal 1

Formularium obat herbal asli Indonesia yang selanjutnya di singkat

FOHAI merupakan dokumen yang berisi kumpulan tanaman obat

asli Indonesia beserta dengan informasi tambahan yang penting

tentang tanaman obat asli Indonesia.

Pasal 2

52
FOHAI sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 tercantum dalam

lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan

menteri ini.

Pasal 3

Pengaturan FOHAI sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 du

gunakan sebagai acuan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan

pelayanan kesehatan tradisional integrasi dengan menggunakan

herbal.

Pasal 4

1. FOHAI sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 dan pasal 2

memuat daftar tanaman obat pilihan asli Indonesia yang sudah

terbukti aman, berkhasiatdan bermutu.

2. Daftar tanaman obat pilihan asli Indonesia sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) telah memenuhi kriteria yang meliputi

a) Mempunyai data keamanan yang di buktikan minimal dengan

data toksisitas akut (LD50).

b) Mempunyai data manfaat minimal memiliki data praklinik.

c) Mutu dinyatakan dengan pemenuhan produk terhadap

Farmakope Herbal Indonesia (FHI).

d) Sediaan bentuk formulasi modern.

Pasal 5

53
Pembinaan dan pengawasan terhadap penggunaan obat herbal

asli Indonesia dilakukan oleh kementrian kesehatan, Dinas

kesehatan provinsi dan DinasKesehatan Kabupaten/kota sesuai

dengan tugas dan kewenangannya masing- masing.

 PMK Nomor 61 TAHUN 2016 Tentang Pelayanan Kesehatan

Tradisional Empiris

Pasal 1

Dalam peraturan menteri ini yang dimaksud dengan :

1. Pelayanan kesehatan tradisional empiris adalah penerapan

kesehatan tradisional yang manfaat dan keamanannya terbukti

secara empiris.

2. Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa

bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian

(galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun

temurun telah di gunakan untuk pengobatan dan dapat di

terapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

3. Penyehat tradisional adalah setiap orang yang amelakukan

pelayanan kesehatan tradisional empiris yang pengetahuan dan

keterampilannya diperoleh melalui pengalaman turun temurun

atau pendidikan non formal.

4. Surat terdaftar penyehat tradisional yang selanjutnya disingkat

STPT adalah bukti tertulis yang di berikan kepada penyehat

54
tradisional yang telah mendaftar untuk memberikan pelayanan

kesehatan tradisional empiris.

5. Panti sehat adalah tempat yang di gunakan untuk melakukan

perawatan kesehatan dan/atau pelayanan kesehatan tradisional

empiris.

6. Klien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah

kesehatan dan/atau pelayanan kesehatan tradisional empiris.

7. Pemerintah pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang

memegang kekuasaan pemerintah negara Republik Indonesia

yang di bantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana

dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia 1945.

8. Pemerintah daerah adalah kepala daerah sebagai unsur

penyelenggara Pemerintah Daerah yang memimpin

pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan

daerah otonom.

9. Menteri kesehatan adalah menteri yang menyelenggarakan

urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

Pasal 2

Pengaturan pelayanan kesehatan tradisional empiris bertujuan

untuk

55
1. Mewujudkan penyelenggaraan pelayanan kesehatan tradisional

empiris yang aman dan bermanfaat.

2. Pedoman penyelenggaraan pelayanan kesehatan tradisional

empiris bagi pemerintah, pemerintah daerah dan penyehat

tradisional.

3. Pedoman pelaksanaan pembinaan dan pengawasan secara

berjenjang terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan

tradisional.

 PMK Nomor 1109/ Menkes/ Per /IX/ 2007

Tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di

fasilitas pelayanan kesehatan, pada pasal 12 ayat (1) “tenaga

pengobatan komplementer-alternatif terdiri dari dokter, dokter gigi

dan tenaga kesehatan lainnya yang memiliki pendidikan terstruktur

dalam bidang pengobatan komplementer-alternatif”. Sedangkan

pada pasal 14 ayat 2(a) menyebutkan “dokter dan dokter gigi

merupakan pelaksana utama untuk pengobatan komplementer-

alternatif secara sinergi dan atau terintegrasi di fasilitas pelayanan

kesehatan”. Ayat 2(b) “tenaga kesehatan lainnya mempunyai fungsi

untuk membantu dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan

pengobatan komplementer alternatif secara sinergi dan atau

terintegrasi di fasilitas pelayanan kesehatan”.

56
 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

121/Menkes/Sk/II /2008 Tentang Standar Pelayanan Medik Herbal

a. Tujuan umum : Tersusunnya standar pelayanan medik herbal

dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medik pengobatan

komplementer-alternatif, khususnya pelayanan medik herbal di

fasilitas kesehatan secara menyeluruh dan terpadu.

b. Tujuan khusus :

a) Tersedianya standar pelayanan medik herbal yang dapat

menjadi acuan dalam penyelenggaraan pelayanan medik

herbal yang aman, profesional, efektif dan bermutu.

b) Memberi pelaynan medik herbal yang terjangkau kepada

masyarakat.

c) Tersusun standar evaluasi pengobatan dengan obat herbal.

d) Memperoleh data-data lebih lanjut tentang keamanan dan

efektivitas obat herbal dalam pemakaiannya pada manusia.

e) Memberi perlindungan kepada masyarakat dan pelaksanaan

pelayananmedik herbal.

c. Pengertian

a) Standar adalah ukuran tertentu yang di pakai sebagai

patokan.

57
b) Standar pelayanan adalah pedoman yang harus dipatuhi dan

dipergunakan sebagai pegangan dalam memberikan pelaynan

kepada masyarakat.

c) Pelayanan medik adalah upaya kesehatan kepada perorangan

meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif

yang di berikan kepada pasien oleh tenaga medis sesuai

dengan standar pelayanan medis dengan memanfaatkan

sumber daya dan fasilitas secara optimal.

d) Pengobatan komplementer-alternatif adalah pengobatan non-

konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif,

kuratif danrehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan

terstruktur dengan kualitas, keamanan dan efektivitas yang

tinggi yang berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik yang

belum diterima dalam kedokteran konvensional.

e) Pengobatan herbal adalah pengobatan yang menggunakan

bahan yang berasal dari tanaman, bisa berupa daun, akar,

biji-bijian dan lainnya yang mengandung bahan yang

berkhasiat untuk tubuh.

f) Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang

telah di buktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah

dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandarisasi.

58
g) Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah di

buktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji

praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah

distandarisasi.

h) Perhimpunan dokter indonesia pengembang kesehatan

tradisional timur (PDPKT) adalah organisasi seminat yang

menghimpun anggota ikatan dokter indonesia (IDI) yang

berminat dalam kesehatanikatan dokter indonesia (IDI) yang

berminat dalam kesehatan tradisional timur terutama bidang

akupuntur dan herbal untuk meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan

keterampilan dalam bidang tersebut.

i) Pendidikan terstruktur adalah pendidikan yang terencana,

dilaksanakan sesuai dengan metode yang ada, dan dilakukan

pembinaan dan pengawasan sesuai dengan target yang akan

di capai.

 Penyelenggaraan Pelayanan Medik Herbal

1. Sumber daya manusia

Untuk standar pelayanan medik herbal ini sumber daya

manusianya adalah dokter dan dokter gigi, sedangkan tenaga

kesehatan lain peraturannya akan disusun sendiri. Dalam

pelaksanaannya di fasilitas kesehatan, bila tidak menggunakan

59
obat jadi tetap meracik sendiri maka dokter pelaksana

pelayanan perlu di dampingi oleh asisten apoteker.

2. Sarana Dan Peralatan

Agar dapat menyelenggarakan pelayanan medik herbal,

fasilitas pelayanan kesehatan yang bersangkutan harus memiliki

sarana, prasarana dan peralatan yang aman, akurat dan handal,

serta memenuhi persyaratan desain di samping memiliki

prosedur tetap penggunaan peralatan dengan memperhatikan

keamanan dan melakukan kendali mutu.a. Sarana pelayanan

medik herbal adalah gedung atau tempat pelayanan kesehatan

untuk menyelenggarakan pelayanan medik herbal, baik milik

pemerintah maupun milik swasta. Sarana pelayanan medik

herbal harus memenuhi standar ruangan yaitu standar ruangan

pelayanan medik herbal yang terdiri dari :

1) Ruang pemeriksaan pasien

a) Tempat tidur pemeriksaan

b) Meja dan kursi

c) Alat diagnostic

d) Penerangan dan ventilasi yang memadai

2) Ruang penyediaan obat herbal

a) Obat herbal terstandar

b)Timbangan/neraca

60
c) Meja peracikan

d) Tempat penyimpanan bahan obat herbal

e) Penerangan dan ventilasi yang memadai

f) Wastafel dan air yang cukup baik kualitas maupun

kuantitas g) Tempat sampah

Peralatan Agar pelayanan medik herbal dapat

terselenggara dengan baik, maka diperlukan bahan, peralatan

medis, dan non medis yang menandai serta memenuhi standar

di setiap ruangan yang sesuai dengan fungsinya. Persyaratan

umum adalah harus memenuhi syarat sterilisasi, penyimpanan,

keamanan, pemeliharaan rutin dan kalibrasi. Minimal bahan dan

peralatan pada sarana pelayanan medik herbal yang harus

tersedia adalah :

1) Bahan herbal alami/tumbuhan

2) Mortar dan stamfer (pastel)

3) Kertas puyer

4) Kapsul kosong

5) Botol atau pot plastic

6) Timbangan atau neraca

7) Kantong plastik obat

61
3. Standar pelayanan medik herbal

a. Melakukan anamnesis

b. Melakukan pemeriksaan

1) Pemeriksaan fisik

a) Inspeksi

b) Palpasi

c) Perkusi

d) Auskultasi

2) Pemeriksaan penunjang

a) Pemeriksaan laboratorium

b) Pemeriksaan radiologi

c) EKG

c. Menegakkan diagnosis secara ilmu kedokteran

d. Memperoleh informed consent dari penderita sesuai

ketentuan yang berlaku

e. Pemberian obat herbal hanya dilakukan pada pasien usia

dewasa

f. Pemberian terapi berdasarkan hasil diagnosis yang telah di

tegakkan

62
g. Penggunaan pengobatan herbal dilakukan dengan

menggunakan tanaman berkhasiat obat (sebagai contoh

yang selama ini telah digunakan di beberapa rumah sakit)

h. Dalam memberikan obat herbal perlu dilakukan dengan obat

kimia :

1) Sedapat mungkin tidak mengkombinasikan dengan obat

kimia.

2) Mencatat hasil pelayanan yang meliputi setiap kejadian

atau perubahan yang terjadi pada pasien termasuk efek

samping.

3) Mencatat setiap intervensi jenis obat herbal yang di

berikan termasuk dosis atau takaran, cara pemberian

dan bentuk sediaan.

4) Untuk obat yang di racik sendiri perlu di jelaskan sumber

bahan, proses peracikan, sampai bentuk siap saji obat

tersebut.

5) Rujukan Dilakukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang

lebih mampu apabila terjadi kasus yang tidak tertangani.

4. Pembinaan, pengawasan dan evaluasi

a. Pembinaan

1) Dilaksanakan oleh departemen kesehatan, dinas

kesehatan propinsi/ kabupaten/kota, balai POM

63
Kabupaten/ kota dengan mengikutsertakan organisasi

profesi terkait sesuai tugas dan fungsi masing-masing.

2) Administrasi pelayanan dilaksanakan sesuai dengan

format pencatatan dan pelaporan yang berlaku untuk

setiap fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan medik herbal.

b. Pengawasan

1) Pengawasan internal dilaksanakan oleh pembina masing-

masing fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan medik herbal.

2) Pengawasan eksternal dilaksanakan oleh :

a) Program akreditasi dengan advokasi oleh

departemen kesehatan, direktorat jenderal bina

pelayanan medik.

b) Untuk tingkat propinsi dilaksanakan oleh Kepala

Dinas Kesehatan Propinsi.

c) Untuk tingkat kabupaten/kota dilaksanakan oleh

kepala dinas kesehatan kabupaten/kota.

d) Pengawasan tersebut di atas dilaksanakan bekerja

sama dengan organisasi profesi.

c. Evaluasi

64
Evaluasi standar pelayanan medik herbal dilakukan setiap 1

(satu) sampai 3 (tiga) tahun sekali oleh organisasi profesi

dan institusi/lembaga terkait lainnya.

65
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Terapi komplementer juga disebut sebagai pengobatan holistik,

pendapat ini didasari oleh bentuk terapi yang mempengaruhi individu

secara menyeluruh yaitu sebuah pengobatan yang mengatur

keharmonisan individu untuk mengintegrasikan pikiran, badan, dan

jiwa dalam kesatuan fungsi. Memperhatikan beberapa pengertian

diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa terapi komplementer

merupakan suatu terapi pengganti/tradisional yang dikombinasikan ke

dalam pengobatan modern guna mencapai suatu proses kesembuhan

(Wijaya et al., 2022).

Beberapa terapi yang telah dibuktikan secara ilmiah dan telah

memiliki evidance based diantaranya: terapi herbal, food combining,

terapi pikiran tubuh, aromatherapy dan terapi energi tubuh.

B. Saran

Bagi Mahasiswa Keperawatan, setelah membaca makalah ini

hendaklah dapat benar-benar memahami konsep umum dari terapi

komplementer, serta terus memperbaharui pengetahuan keperawatan

khususnya pada terapi komplementer.

66
Bagi perawat lapangan, oleh karena tingginya kebutuhan

masyarakat akan terapi komplementer pada berbagai ranah

perawatan dan berkembangnya penelitian terhadap terapi

komplementer, maka hal ini menjadi perluang emas perawat untuk

berpartisipasi sesuai kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini perawat

dapat berperan aktif sebagai konselor bagi masyarakat untuk memilih

terapi komplementer yang tepat bagi masyarakat.

67
DAFTAR PUSTAKA

Abidin,Z. (2019). Buku Ajar Keperawatan Komplenter "Terapi


Komplementer Solusi Cerdas Optimalkan Kesehatan (Vol. 3, Issue 3).
Lumajang : Universitas Jember.
Anggraeni, R. D., Sumaji, V. V., Novyriana, E., & Kusumastuti, K. (2023).
Program Komplementer Kebidanan Di Pmb Sri Wiwik Ismurtini. Jurnal
EMPATI (Edukasi Masyarakat, Pengabdian Dan Bakti), 4(1), 55.
Apriani, N. (2020). Aplikasi Akupresur Untuk Mengatasi Hambatan
Eliminasi Urin Pada Anak Usia Prasekolah Dengan Enuresis . Skripsi :
Universitas Muhammadiyah Magelang.
Astuti, E., Santiasari, R. N., & Srifatimah, V. (2022). Pemberian
Aromaterapi Lemon Dapat Meredakan Keluhan Mual Dan Muntah
Pada Ibu Hamil Trimester Pertama Di Tempat Praktik Mandiri Bidan
(Tpmb) Surabaya. Jurnal Keperawatan, 11(2), 22-29.
Fathonah, L. T., & Widada, W. (2023). Asuhan Keperawatan pada Pasien
Hipertensi dengan Penerapan Terapi Komplementer Bekam . Health &
Medical Sciences, 2(1), 1–5.
Kemenkes. (2022). Terapi Komplementer untuk Meningkatkan Produksi
ASI pada Ibu Menyusui -RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro . Jakarta :
Kementrian Kesehatan RI.
Khairuddin, M. (2022). Analisis Komunikasi Terapeutik Dalam Proses
Hipnolangsing Di Mindslim Program Palembang. Wardah, 23(1), 133-
140.
Kusuma wheny. (2021). International Geoscience and Remote Sensing
Symposium (IGARSS). Jurnal Keperawatan Merdeka, 1(2), 76–91.
Madani, R. F., & Widada, W. (2024). Asuhan Keperawatan pada Pasien
Hiperglikemia dengan Pendekatan Terapi Komplementer . Health &
Medical Sciences, 1(3), 6-6.
Samiasih, A., Ishak, Handoko Sriyono, G., Handari, M., Susaldi, Made
Mahardika, I. (2019). Modul pelatihan terapi cupping dasar bagi
perawat (Edisi Pert). Semarang : Unimus Press.
Siyamti, D., Pudjonarko, D., & Mardiyono, M. (2019). Pengaruh Akupresur
dan Shaker Exercise terhadap Kemampuan Menelan Pasien Stroke
Akut dengan Disfagia. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat
Cendekia Utama, 8(2), 142-150.
Supardi, N., Eva, Z., Aryani, R., Gustina, I., Handayani, L., Prajayanti, H.,

68
Lubis, D. R., R.A, M. Y., Chairiyah, R., Larasati, E. W., Anggraeni, L.,
Maryuni, & Laela, N. (2022). Terapi Komplementer pada Kebidanan.
Padang : Global Eksekutif Teknologi.
Wijaya, Y. A., Yudhawati, N. L. P. S., Dewi, K. A. K., & Khaqul, S. I.
(2022). Konsep Terapi Komplementer Keperawatan. Jurnal Universitas
Brawijaya, III(13), 1–13.

69

Anda mungkin juga menyukai