0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan17 halaman

Penyelesaian Aliran Daya 3 Bus

1. Metode Gauss-Seidel dan Newton-Raphson digunakan untuk menyelesaikan aliran daya pada sistem tiga bus dengan generator pada bus 1 dan 3. 2. Bus 2 memiliki beban 400 MW dan 250 MVar. Tegangan bus 1 diatur 1,05 pu dan tegangan bus 3 diatur 1,04 pu. 3. Metode Gauss-Seidel menghasilkan nilai akhir V2 = 0,97168 ∠-2,6948°, S3 = 2,0 + j1,4617 pu, dan V3 = 1,04

Diunggah oleh

Renaldoalvidril
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan17 halaman

Penyelesaian Aliran Daya 3 Bus

1. Metode Gauss-Seidel dan Newton-Raphson digunakan untuk menyelesaikan aliran daya pada sistem tiga bus dengan generator pada bus 1 dan 3. 2. Bus 2 memiliki beban 400 MW dan 250 MVar. Tegangan bus 1 diatur 1,05 pu dan tegangan bus 3 diatur 1,04 pu. 3. Metode Gauss-Seidel menghasilkan nilai akhir V2 = 0,97168 ∠-2,6948°, S3 = 2,0 + j1,4617 pu, dan V3 = 1,04

Diunggah oleh

Renaldoalvidril
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS ASTL (Load Flow)

Metode Gauss-Seidel
Sebuah one line diagram sederhana 3 bus dengan generator pada bus 1 dan bus 3 ditunjukkan
gambar dibawah. Besar tegangan bus 1 diatur 1,05 pu. Besar tegangan pada bus 3 ditetapkan
1,04 pu dengan membangkitkan daya real 200 MW. Sebuah beban terdiri 400 MW dan 250
Mvar diperoleh dari bus 2. Impedansi jaringan dibuat dalam perunit dengan dasar 100 MVA, dan
susceptances jaringan diabaikan. Carilah penyelesaian aliran daya dengan metode gauss-Seidel.

1 0,02 + j0,04 2
400
MW
G
0,01 + j0,03 0,0125+j0,025
250
Mvar
3
Slack Bus
V1=1,05 00

G
200 V3 = 1,04
MW
Penyelesaian:
MVA base = 100 MVA
Impedansi diubah menjadi admitansi adalah :
Y12 = 10 - j20 , y13= 10 - j30 dan y23 = 16 – j 32.

Beban dan generator dalam perunit adalah :


(400 + j 250 )
S 2sch = − = −4,0 − j 2,5 pu
100
200
P3sc = = 2,0 pu
100
Bus 1 sebagai slack bus. Untuk memulai perhitungan digunakan kondisi awal adalah :

V2( 0) = 1,0 + j 0,0 dan V2( 0) = 1,04 + j 0,0


sehingga diperoleh :
P2sch − jQ2sch
*( 0 )
+ y12V1 + y23V3( 0 )
V2
V2(1) =
y12 + y23
− 4,0 + j 2,5
+ (10 − j 20)(1,05 + j 0) + (16 − j 32)(1,04 + j 0)
1,0 − j 0
V2( 0) =
(26 − j 52)
V2( 0) = 0,97462 − j 0,042307
Bus 3 adalah bus regulasi dimana tegangan magnitude dan daya nyata diketahui. Untuk
tegangan kontrol bus daya reaktif pada iterasi pertama diperoleh :

(1)  *(0)  (0) (1)  


Q = −V V3 ( y13 + y 23 ) − y13V1 − y 23V2  
3  3
Q = −(1,04 − j 0)(1,04 + j 0)(26 − j 62) − (10 − j 30)(1,05 + j 0) − (16 − j 32)(0,97462 − j 0,042307) = 1,16
(1)
3

Nilai Q3(1) dan nilai Qsch digunakan untuk mencari tegangan pada bus 3 . Tegangan kompleks

pada bus 3 diberi notasi Vc(31) dan dapat diperhitungkan dengan :

P3sch − jQ3sch (1)


+ y13V1 + y 23V2
*(0)
(1) Vc3
V =
c3 y13 + y 23
2,0 − j1,16
+ (10 − j 30)(1,05 + j 0) + (16 − j 32)(0,97462 − j 0,042307)
(1) 1,04 − j 0
V = = 1,03783 − j 0,005170
c3 (26 − j 62)

Selama tegangan V3 terjaga konstan pada 1,04 pu, dan hanya bagian imaginer pada bagian Vc(31)

terjaga maka f3(1) = −0,005170 , dimana bagian real dapat dicari dengan :

e31(1) = (1,04) 2 − (0,005170 ) 2 = 1,039987

sehingga :
V3(1) = 1,039987 − j 0,005170
Untuk iterasi kedua diperoleh :
P sch − Q sch
2 2 y V + y V (1)
*(2) 12 1 23 3
(2) V2
V =
2 y12 + y 23
− 4,0 + j 2,5
+ (10 − j 20)(1,05) + (16 − j 32)(1,039987 + j 0,005170)
(2) 0,97462 + j 0,42307
V2 = = 0,971057 − j 0,043432
(26 − j 52)

(2)  *(1)  (1) (2)  


Q = −V V ( y13 + y 23 ) − y13V1 − y 23V  
3  3  3 2

(2)  (1,039987 − j 0,005170)(26 − j 62) − (10 − j 30)(1,05 + j 0) − 


Q = −(1,039987 + j 0,005170)  
(16 − j 32)(0,971057 − j 0,043432)
3   

= 1,38796

P3sch − jQ3sch (2)


+ y13V1 + y 23V2
*(1)
(2) Vc3
V =
c3 y13 + y 23
2,0 − j1,38796
+ (10 − j30)(1,05) + (16 − j 32)(0,971057 − j 0,043432)
(1) 1,039987 − j 0,00517
V = = 1,03908 − j 0,00730
c3 (26 − j 62)

Selama tegangan V3 terjaga konstan pada 1,04 pu, dan hanya bagian imaginer pada bagian

Vc(32) terjaga maka f 3( 2) = −0,00730 , dimana bagian real dapat dicari dengan :

e32(1) = (1,04) 2 − (0,00730 ) 2 = 1,039974

sehingga :
V3( 2) = 1,039974 − j 0,00730
Untuk selanjutnya dilakukan iterasi sampai mendapatkan konvergensi ketelitian sampai 5 x 10-5
pu dan diperoleh pada iterasi ke tujuh . Nilai-nilai hasil iterasi diberikan dibawah ini :
V2(3) = 0,97073 − j 0,04479 Q3(3) = 1,42904 V3(3) = 1,03996 − j 0,00833

V2(3) = 0,97065 − j 0,04553 Q3(3) = 1,44833 V3(3) = 1,03996 − j 0,00873

V2(3) = 0,97062 − j 0,04555 Q3(3) = 1,45621 V3(3) = 1,03996 − j 0,00893

V2(3) = 0,97061 − j 0,04565 Q3(3) = 1,45947 V3(3) = 1,03996 − j 0,00900

V2(3) = 0,97061 − j 0,04469 Q3(3) = 1,46082 V3(3) = 1,03996 − j 0,00903

Hasil akhir diperoleh seperti :

V2 = 0,97168  − 2,6948 o pu

S 3 = 2,0 + j1,4617 pu

V3 = 1,04 − 0,498 o pu

S1 = 2,1842 + j1,4085 pu
Metode Newton-Raphson
Sebuah one line diagram sederhana 3 bus dengan generator pada bus 1 dan bus 3 ditunjukkan
gambar dibawah. Besar tegangan bus 1 diatur 1,05 pu. Besar tegangan pada bus 3 ditetapkan
1,04 pu dengan membangkitkan daya real 200 MW. Sebuah beban terdiri 400 MW dan 250
Mvar diperoleh dari bus 2. Impedansi jaringan dibuat dalam perunit dengan dasar 100 MVA, dan
susceptances jaringan diabaikan. Carilah penyelesaian aliran daya dengan metode Newton-
Raphson

1 0,02 + j0,04 2
400
MW
G
0,01 + j0,03 0,0125+j0,025
250
Mvar
3
Slack Bus
V1=1,05 00

G
200 V3 = 1,04
MW

Penyelesaian:
Impedansi jaringan dikonversi ke admitansi yaitu y12 = 10 - j20, y13 = 10 - j30,
y23 = 16-j32. Hasil ini dalam bentuk matriks admitansi bus adalah
 20 − j50 − 10 + j 20 − 10 + j30
Ybus = − 10 + j 20 26 − j52 − 16 + j32
 − 10 + j30 − 16 + j32 26 − j 62 

perubahan matriks admitansi bus ke bentuk polar dengan sudut dalam radian
53,85165  − 1,9029 22,36068 2,0344 31,62278 1,8925 
Ybus =  22,36068 2,0344 58,13777  − 1,1071 35,77709 2,0344 
 31,62278 1,8925 35,77709 2,0344 67,23095  − 1,1737 
Daya beban dan daya real yang dibangkitkan dinyatakan dalam perunit
(400 + j 250 )
=− = −4,0 − j 2,5
sch
S2 pu
100
200
= = 2,0 pu
sch
P3
100
Tegangan slack bus V1 = 1,050 pu dan besar tegangan bus 3 adalah V3 = 1,04 pu . Starting

= 1,0,  2 = 0,0, dan  3 = 0,0 . Daya sisa dihitung dari


( 0) ( 0) ( 0)
dengan perhitungan awal V2

persamaan 32.
P2 = P2 − P2 = −4,0 − (−1,14) = −2,8600
(0) sch ( 0)

P3 = P3 − P2 = 2,0 − (0,5616 ) = 1,4384


(0) sch (0)

Q2 = Q2 − Q2 = −2,5 − (−2,28) = −0,2200


(0) sch (0)

Evaluasi elemen matriksa jacobian dengan perhitungan awal, set persamaan linear pada iterasi
pertama menjadi

 − 2,8600   54,2800 − 33,2800 24,86000    2 ( 0) 


 1,4384  = − 33,2800 66,04000 − 16,64000   ( 0) 
      3 
− 0,2200   − 27,1400 16,64000 49,72000   V ( 0 ) 
 2 
diperoleh penyelesaian persamaan matriks di atas, tegangan bus baru dalam iterasi pertama yaitu
 2 = −0,045263  2 (1) = 0 + (−0,045263 ) = −0,045263
(0)

 3 = −0,007718  3(1) = 0 + (−0,007718 ) = −0,007718


(0)

 V2( 0) = −0,026548 V21 = 1 + (−0,026548 ) = 0,97345

sudut phasa tegangan dalam radian. Untuk iterasi kedua diperoleh

− 0,099218   51,724675 − 31.765618 21,302567    2 (1) 


 0,021715  =  − 32,981642  (1) 
   65,656383 − 15,379086    3 
− 0,050914  − 28,538577 17,402838 48,103589   V (1) 
 2 
dan

 2 = −0,001795  2 ( 2) = −0,045263 + (−0,001795 ) = −0,04706


(1)

 3 = −0,000985  3( 2) = −0,007718 + (−0,000985 ) = −0,00870


(1)

 V2(1) = −0,001767 V2( 2) = 0,973451 + (−0,001767 ) = 0,971684


Untuk iterasi ketiga diperoleh

− 0,000216   51,596701 − 31,693866 21,147447    2( 2) 


 0,000038  = − 32,933865 65,597585  
   − 15,351628    3 
( 2)

 − 0,000143  − 28,548205 17,396932 47,954870   V ( 2 ) 


 2 
dan
 2( 2) = −0,000038  2(3) = −0,047058 + (−0,0000038 ) = −0,04706
 3( 2) = −0,0000024  3(3) = −0,008703 + (−0,0000024 ) = 0,008705
 V2( 2) = −0,0000044 V2(3) = 0,971684 + (−0,0000044 ) = 0,97168

Penyelesaian pada iterasi ke 3 dengan daya maksimum tak sebanding 2,5x10-2 dengan
V2=0,97168-2,6960 dan V3 = 1,04-0,49880. Dari persamaan 24 dan 25 , besar daya reaktif
bus 3 dan daya real dan daya reaktif pada slack bus adalah
Q3 = 1,4617 pu
P1 = 2,1842 pu
Q1 = 1,4085 pu
Metode Fast Decoupled
Sebuah one line diagram sederhana 3 bus dengan generator pada bus 1 dan bus 3 ditunjukkan
gambar dibawah. Besar tegangan bus 1 diatur 1,05 pu. Besar tegangan pada bus 3 ditetapkan
1,04 pu dengan membangkitkan daya real 200 MW. Sebuah beban terdiri 400 MW dan 250
Mvar diperoleh dari bus 2. Impedansi jaringan dibuat dalam perunit dengan dasar 100 MVA, dan
susceptances jaringan diabaikan. Carilah penyelesaian aliran daya dengan metode Fast
Decoupled.

1 0,02 + j0,04 2
400
MW
G
0,01 + j0,03 0,0125+j0,025
250
Mvar
3
Slack Bus
V1=1,05 00

G
200 V3 = 1,04
MW

Penyelesaian :
Impedansi jaringan dikonversi ke admitansi yaitu y12 = 10 - j20, y13 = 10 - j30,
y23 = 16-j32. Hasil ini dalam bentuk matriks admitansi bus adalah

 20 − j50 − 10 + j 20 − 10 + j30
Ybus = − 10 + j 20 26 − j52 − 16 + j32
 − 10 + j30 − 16 + j32 26 − j 62 

Pada system ini Bus 1 sebagai Slack Bus dan penyesuaian matriks suseptansi untuk
memperhitungkan sudut phasa 2 dan 3 adalah :
− 52 32 
B' =  
 32 − 62 
Invers matriknya adalah :
− 0,028182 − 0,014545 
B 
' −1
=
− 0,023636 
− 0,014545
Persamaan daya aktif dan reaktif adalah :
n
Pi =  Vi V j Yij cos( ij −  i +  j )
j =1

n
Qi = − Vi V j Yij sin( ij −  i +  j )
j =1

Dari persamaan diatas daya nyata pada bus 2 dan 3 serta daya reaktif dari bus 2 dapat diperoleh
dengan persamaan :
P2 = V2 V1 Y21 cos( 21 −  2 +  1 ) + V22 Y22 cos 22 + V2 V3 Y23 cos( 23 −  2 +  3 )

P3 = V3 V1 Y31 cos( 31 −  3 +  1 ) + V3 V2 Y32 cos( 32 −  3 +  2 ) + V32 Y33 cos 33

Q2 = − V2 V1 Y21 sin( 21 −  2 +  1 ) + V22 Y22 sin  22 − V2 V3 Y23 sin( 23 −  2 +  3 )

Perhitungan perunit untuk beban dan generator adalah :

(400 + j 250 )
S 2sch = − = −4,0 − j 2,5 pu
100
200
P3sch = = 2,0 pu
100

Tegangan slack bus adalah V11,050 pu, dan tegangan magnitude bus 3 adalah V3 = 1,04 pu.

Starting pada estimasi awal pada V2( 0 ) = 1,0,  2( 0 ) = 0,0

dan  3(0) = 0,0 . Dengan data-data diatas maka diperoleh ;

P2( 0) = P2sch − P2( 0) = −4,0 − (−1,14) = −2,86


P3( 0) = P3sch − P3( 0) = −2,0 − (0,5616 ) = 1,4384
Q2( 0) = Q2sch − Q2( 0) = −2,5 − (−2,28) = −0,22

 = − B '   −1 P
V
diperoleh :
 − 2,8600 
 2( 0)   − 0,028182 − 0,014545   1,0   − 0,060483 
 (0)  = −   =
 3  − 0,0145454 − 0,013636   1,4384  − 0,008909 
 1,04 

B '' = − 52

 
 V = − B ''
−1 Q
V

Diperoleh :

 − 1  − 2,2 
 V2 = −     = −0,0042308
 52   1,0 
Tegangan bus baru pada iterasi pertama adalah :

 2( 0) = −0,060483
 3( 0) = −0,008989
 V2( 0) = −0,0042308

 2(1) = 0 + (−0,060483 ) = −0,060483


 3(1) = 0 + (−0,008989 ) = −0,008989
V2(1) = 1 + (−0,0042308 ) = 0,995769

Proses selanjutnya dilakukan iterasi dengan memasukan harga terbaru sampai mencapai
konvergensi, adapun hasil iterasi adalah :

Iterasi 2 3 V2 P2 P3 Q2

1 -0,060482 -0,008909 0,995769 -0,860000 1,438400 -0,220000


2 -0,056496 -0,007952 0,965274 0,175895 -0,070951 -1,579042
3 -0,044194 -0,008690 0,965711 0,640309 -0,457039 0,021948
4 -0,044802 -0,008968 0,9672985 -0,021395 0,001195 0,365249
5 -0,047665 -0,008713 0,973116 -0,153368 0,112899 0,006657
6 -0,047614 -0,008645 0,971414 0,000520 0,002610 -0,086136
7 -0,0476936 -0,008702 0,971333 0,035980 -0,026190 -0,004067
8 -0,046928 -0,008720 0,971732 0,000948 -0,001411 0,020119
9 -0,047087 -0,008707 0,971762 -0,008442 0,006133 0,001558
10 -0,047094 -0,008702 0,971669 -0,000470 0,000510 -0,004688
11 -0,047057 -0,008705 0,971660 0,001971 -0,001427 -0,000500
12 -0,047054 -0,008706 0,971681 0,000170 -0,000163 0,001087
13 -0,047063 -0,008706 0,971684 -0,000458 0,000330 0,000151
14 -0,0477064 -0,008706 0,971680 -0,000053 0,000048 -0,000250

Harga akhir dicapai pada itersi ke 15 dengan harga :


V2 = 0,97168  − 2,696 o
dan
V3 = 1,04 − 0,4988

Daya pada bus 3 dan daya real serta daya reaktif pada slack bus adalah :
Q3 = 1,4617 pu
P1 = 2,1842 pu
Q1 = 1,4085 pu

1. Simulasikan dan berikan analisis dengan menggunakan Matlab, Power Wold, Edsa untuk
system yang telah sdr siapkan :
a. untuk kondisi normal/base case (metode Gauss Seidel, Newton Raphson, Fast
Decoupled), bandingkan hasilnya (tegangan + sudut fasa) untuk ketiga metode tsb
b. tulis persamaan yang digunakan pada setiap iterasi dari ketiga metode tsb,
c. tentukan matrix Ybus, matrix Jacobian, matrix B’, matrix B’’. Check hasil tsb
dengan perhitungsn manual.
d. Dengan mengunakan matrix Jacobian, matrix B’ dan B’’ tuliskan persamaan yang
digunakan pada iterasi tearkhir
e. untuk kondisi dimana Q pada bus generator melewati batas Qmax dari generator
f. untuk kondisi dimana Q pada bus generator melewati batas Qmin dari generator
g. untuk metode Gauss Seidel, check apakah faktor percepatan 1.6 menghasilkan
jumlah iterasi yang terkecil
h. check jumlah iterasi utk ketiga metode
Penyelesaian :
a. Pada Bus Kecil (5 Bus Loop):
1. Dengan Metode Gauss-Siedel :
No. of Iterations = 25

Bus Voltage Angle


No. Mag. Degree

1 1.015 0.000
2 1.010 -2.034
3 0.989 -2.600
4 0.986 -3.783
5 0.974 -6.297

Total 50.000 10.000 51.023 14.471 0.000


2. Dengan Metode Newton Raphson
No. of Iterations = 3
Bus Voltage Angle
No. Mag. Degree

1 1.015 0.000
2 1.010 -2.035
3 0.989 -2.596
4 0.986 -3.784
5 0.974 -6.294
3. Dengan Metode Fast Decouple
No. of Iterations = 6
Bus Voltage Angle
No. Mag. Degree
1 1.015 0.000
2 1.010 -2.035
3 0.989 -2.597
4 0.986 -3.787
5 0.974 -6.294
PERBANDINGAN HASIL SIMULASI 5 BUS (LOOP) DENGAN
MENGGUNAKAN
BEBERAPA METODA

METODE GAUSS- METODE NEWTON METODE FAST


BUS SIEDEL RAPHSON DECOUPLE
NO TEGANGAN SUDUT TEGANGAN SUDUT TEGANGAN SUDUT
1 1.015 0 1.015 0 1.015 0
2 1.01 -2.034 1.01 -2.035 1.01 -2.035
3 0.989 -2.6 0.989 -2.596 0.989 -2.597
4 0.986 -3.783 0.986 -3.784 0.986 -3.787
5 0.974 -6.297 0.974 -6.294 0.974 -6.294

Dari tabel diatas terlihat bahwa ketiga metode pada dasarnya memiliki hasil yang sama,
hanya berbeda dalam pembulatan beberapa angka dibelakang koma (desimal).

b. MATRIK Y dari sistem Bus Kecil (5 Bus)

MATRIKS JACOBIAN :
Jac = sparse(10);
Jac(1,3)= 0.00000;
Jac(1,8)= 0.00000;
Jac(6,3)= 0.00000;
Jac(6,8)= 0.00000;
Jac(1,4)= 0.00000;
Jac(1,9)= 0.00000;
Jac(6,4)= 0.00000;
Jac(6,9)= 0.00000;
Jac(1,2)= 0.00000;
Jac(1,7)= 0.00000;
Jac(6,2)= 0.00000;
Jac(6,7)= 0.00000;
Jac(1,1)= -1.00000;
Jac(1,6)= 0.00000;
Jac(6,1)= 0.00000;
Jac(6,6)= -1.00000;
Jac(2,5)= 1.09575;
Jac(2,10)= 3.73199;
Jac(7,5)= 0.00000;
Jac(7,10)= 0.00000;
Jac(2,4)= 3.82279;
Jac(2,9)= 0.71740;
Jac(7,4)= 0.00000;
Jac(7,9)= 0.00000;
Jac(2,2)= -6.06710;
Jac(2,7)= -8.00518;
Jac(7,2)= -1.99748;
Jac(7,7)= 0.10004;
Jac(2,1)= 0.00000;
Jac(2,6)= 0.00000;
Jac(7,1)= 0.00000;
Jac(7,6)= 0.00000;
Jac(3,3)= -1.27746;
Jac(3,8)= -4.38754;
Jac(8,3)= -4.29721;
Jac(8,8)= 1.47958;
Jac(3,4)= 0.60563;
Jac(3,9)= 1.76299;
Jac(8,4)= 1.76299;
Jac(8,9)= -0.60563;
Jac(3,1)= 0.00000;
Jac(3,6)= 0.00000;
Jac(8,1)= 0.00000;
Jac(8,6)= 0.00000;
Jac(4,5)= 0.55800;
Jac(4,10)= 2.02702;
Jac(9,5)= 2.02702;
Jac(9,10)= -0.55800;
Jac(4,3)= 0.62163;
Jac(4,8)= 1.74943;
Jac(9,3)= 1.74943;
Jac(9,8)= -0.62163;
Jac(4,4)= -4.88454;
Jac(4,9)= -4.47203;
Jac(9,4)= -4.47204;
Jac(9,9)= 4.88454;
Jac(4,2)= 3.70491;
Jac(4,7)= 0.69558;
Jac(9,2)= 0.69558;
Jac(9,7)= -3.70491;
Jac(4,1)= 0.00000;
Jac(4,6)= 0.00000;
Jac(9,1)= 0.00000;
Jac(9,6)= 0.00000;
Jac(5,5)= -1.51508;
Jac(5,10)= -5.60361;
Jac(10,5)= -5.17177;
Jac(10,10)= 2.31926;
Jac(5,4)= 0.66550;
Jac(5,9)= 1.93639;
Jac(10,4)= 1.93639;
Jac(10,9)= -0.66550;
Jac(5,2)= 1.25166;
Jac(5,7)= 3.45130;
Jac(10,2)= 3.45130;
Jac(10,7)= -1.25166;

MATRIKS B’ :

− 8.54 0 0.91 3.78 


 0 − 4. 51 1 .83 0 
 
 0.91 1.83 − 4.86 2.12 
 
 3. 78 0 2 . 12 − 5. 90 

MATRIKS B’’ :
− 4.51 1.83 0 
 1.83 − 4.86 2.12 
 
 0 2.12 − .5.90
2. Kerjakan Project Design Case 1 (Glover & Sarma) dengan Power World

DESIGN PROJECT I

MORO to HANA
(8.3 miles)

AMAN to PETE
(4.5 miles)

Dari beberapa alternatif pemasangan transmisi baru, maka altenatif yang tidak memiliki
pelanggaran (transmisi atau trafo tidak lebih 100% dan magnitude tegangan antara 0.95 -
1.06 pu) adalah dengan memasang 2 jalur transmisi baru yakni :Jalur : MORO ke HANA
(8.3 mile) dan AMAN ke PETE (4.5 mile).
Sedangkan jika digunakan jalur transmisi selain kedua jalur ini maka sistem akan tetap
mempunyai pelanggaran (violations).

3. Untuk UTS, siapkan paper yang terkait dengan materi ASTL untuk dipresentasikan

Anda mungkin juga menyukai