G.
Memberikan hukuman yang mendidik
Nah kita masih berbicara tentang Disiplin di sekolah Menurut Tina Rahmawati, [Link] (Dosen
Manajemen Pendidikan, FIP, UNY),
Yang dimaksud hukuman adalah sesuatu yang tidak menyenangkan yang harus diterima atau
dikerjakan peserta didik karena bertingkah laku tidak pada tempatnya. Hukuman sebagai
penguatan negatif merupakan salah satu penunjang untuk tegaknya disiplin dan dilakukan
apabila terjadi pelanggaran tata tertib atau disiplin. Hukuman, di lain pihak adalah “imbalan”
yang tidak menyenangkan yang harus diterima peserta didik akibat tingkah laku mereka dinilai
tidak pada tempatnya.
Yang artinya Hukuman merupakan cara sekolah memperingati dan memberitahu peserta didik
bahwa perilakunya tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sosialisasi peraturan pada peserta didik amat perlu, bukan hanya pada waktu peserta didik
diterima di sekolah, melainkan harus senantiasa diulang setiap ada kesempatan yang tepat
sehingga berbagai aturan dan tata tertib dapat tertanam dalam pikiran dan hati peserta didik.
Hukuman seyogyanya diberikan jika cara-cara pendisiplinan lainnya tidak berhasil. Hukuman
memberitahu pada anak mengenai perilaku apa yang tidak diinginkan, tetapi belum tentu
menjelaskan perilaku yang bagaimana yang diinginkan. Sedangkan persyaratan dalam
penanaman disiplin adalah bahwa anak-anak harus tahu betul perilaku apa yang dapat diterima.
Dalam menegakkan disiplin hendaknya pendidik dapat menggunakan cara-cara yang
membentuk konsep diri yang positif dan realistis pada anak.
Mengacu pada pernyataan tersebut, guru hendaknya tidak terlalu mudah
dan sering menjatuhkan hukuman pada peserta didik. Karena peserta didik
yang terlalu sering dihukum pada akhirnya akan melahirkan konsep diri
negatif dalam dirinya atau akan melawan dengan berbagai cara.
Hukuman
merupakan cara terakhir yang dipakai untuk menegakkan disiplin.
Jika penegakan disiplin dilakukan dalam perspektif iman Kristen, maka
ada tahap-tahap yang harus dilalui.
dijatuhkan hukuman yang mendidik bukan untuk menyakiti dan membuat
peserta didik ketakutan tetapi untuk menyadarkan siswa akan kesalahannya. Dalam penegakan
disiplin, sebaiknya dari dalam
diri peserta didik tumbuh keengganan untuk melanggar disiplin ketimbang
“ketakutan” yang bersifat paksaan belaka.
Nah di sisi lain di dalam diri siswa haruslah tumbuh keinginan yang kuat untuk melaksanakan
aturan dan disiplin demi pembentukan karakter dirinya juga demi kepentingan bersama sebagai
komunitas. Disiplin dibuat supaya hak tiap orang terpenuhi dan dapat menjalankan aktivitas
dengan baik dan lancar.
H. Disiplin yang seimbang
Sekolah harus menyeimbangkan antara hukuman dan penghargaan. Jadi, untuk setiap ketatatan
dan prestasi, peserta didik diberi reward tetapi untuk setiap pelanggaran, peserta didik diberi
sanksi. Artinya, aspek pengampunan harus diberlakukan dan dilihat dari besar-kecilnya
pelanggaran. Sedapat mungkin sekolah tidak mengeluarkan peserta didik melainkan berupaya
keras mendidik dan memperbaiki perilaku peserta didik.
[Link] dirumah
Disiplin dirumah atau keluarga dalam hal ini adalah orang tua, yaitu pendidik pertama dan
utama bagi anak anaknya.
Oleh karena itu orang tua harus menjadi teladan bagi anak anaknya dalam hal disiplin.
Disiplin yang diajarkan di rumah bertujuan mempengaruhi remaja supaya dapat berpikir,
merasakan, dan bertindak dalam kaitannya dengan apa yang diyakininya salah atau benar.
Tetapi tidak dapat dipungkiri kalau pada saat yang sama orang tua mengalami kesulitan dalam
menghadapi perubahan-perubahan yang dialami remaja, baik secara fisik maupun psikis.
Disiplin yang disertai dengan kekerasan tidak akan menghasilkan perubahan yang berarti tetapi
cinta kasih dan konsistensi dalam menjalankan aturan diharapkan membawa perubahan bagi
remaja.