PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH
SMKN 1 CIPONGKOR
A. PENDAHULUAN
Membaca merupakan suatu keterampilan dasar yang sangat penting dimiliki oleh
setiap peserta didik, membaca akan mengantarkan peserta didik pada berbagai
pengetahuan yang berguna bagi kehidupannya. Kemampuan membaca juga merupakan
dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Selain membaca, menulis juga menjadi
keterampilan dasar yang penting untuk dikuasai, ketika seseorang terampil menulis
banyak keterampilan lain yang juga ikut terasah, seperti kemampuan membaca,
kreativitas, daya imajinasi, juga pola pikir kritis. Kemampuan membaca dan menulis
sangat mempengaruhi kemampuan literasi. Namun, literasi tidak sekedar membaca dan
menulis, kemampuan literasi juga mencakup keterampilan berpikir menggunakan
sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Literasi
merupakan keterampilan penting dalam hidup. Sebagian besar proses pendidikan
bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam
diri peserta didik memengaruhi tingkat keberhasilannya, baik di sekolah maupun dalam
kehidupan bermasyarakat.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah sebuah upaya yang dilakukan secara
menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi
pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik
berdasarkan data yang diperoleh secara langsung, kebiasaan membaca nampaknya belum
membudaya di masyarakat Indonesia khususnya di kalangan peserta didik. Hasil
penelitian Programmer for International Student Assessment (PISA) tahun 2015
menyatakan kemampuan literasi siswa di Indonesia menduduki urutan ke-69 dari 76
negara. Hal tersebut tentu harus dijadikan bahan evaluasi bagi pemerintah Indonesia dan
para pegiat pendidikan Indonesia mengingat pentingnya kemapuan literasi masyarakat
bagi kemajuan suatu bangsa.
Rendahnya kemampuan literasi tersebut akan berpengaruh pada daya saing
bangsa dalam persaingan global. Hal ini memberikan penguatan bahwa pembiasaan wajib
1
baca sangat penting diterapkan dalam pendidikan di Indonesia, karena wajib baca
mempunyai tujuan yang sangat luas dan mendasar yakni : a) membentuk budi pekerti
luhur; b) mengembangkan rasa cinta membaca; c) merangsang tumbuhnya kegiatan
membaca di luar sekolah; d) menambah pengetahuan dan pengalaman; e) meningkatkan
intelektual; f ) meningkatkan kreativitas; g) meningkatkan kemampuan literasi tinggi.
B. PENGERTIAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH
Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis.
Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup
bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik
dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO,
2003). Deklarasi UNESCO itu juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula
dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi,
menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan
informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Kemampuankemampuan itu perlu dimiliki
tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan itu
bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.
Sedangkan pengertian Literasi Sekolah dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah
adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas
melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau
berbicara.
Gerakan Literasi Sekolah merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang
bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala
sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid
peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang
dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di
bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Gerakan Literasi Sekolah adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif
berbagai elemen. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan
membaca peserta didik. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca
2
(guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati, yang disesuaikan
dengan konteks atau target sekolah). Ketika pembiasaan membaca terbentuk, selanjutnya
akan diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran (disertai tagihan berdasarkan
Kurikulum 2013). Variasi kegiatan dapat berupa perpaduan pengembangan keterampilan
reseptif maupun produktif.
C. TUJUAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan:
1. Menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah,
2. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat,
3. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar
warga sekolah mampu mengelola pengetahuan,
4. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan
mewadahi berbagai strategi membaca
D. PELAKSANAAN GLS DI SMKN 1 CIPONGKOR
Pelaksanaan GLS di SMKN 1 Cipongkor mempertimbangkan tiga tahap literasi, yakni
(1) pembiasaan (belum ada tagihan), (2) pengembangan (ada tagihan nonakademik), dan (3)
pembelajaran (ada tagihan akademik).
[Link] Pembiasaan
a) Program RabuKu (Rabu Membaca Buku)
Kegiatan ini merupakan upaya menanamkan kebiasaan membaca rutin peserta didik
1) Guru memandu peserta didik untuk membaca selama lima belas menit setiap hari
Rabu
2) Guru dan peserta didik membaca selama minimal lima belas menit.
3) Guru memotivasi peserta didik untuk gemar membaca.
b) Mengunjungi Kafe Sastra (Pojok Baca)
3
Kafe sastra merupakan bentuk yang mirip dengan pojok baca, namun hanya menyajikan
buku-buku fiksi, hal ini merupakan upaya mendekatkan peserta didik pada buku. Berikut ini
yang dapat dilakukan untuk mengelola sudut baca.
1) Sekolah menyediakan satu area yang didekorasi dengan menarik di perpustakaan
sekolah
2) Area tersebut dibuat khusus menyajikan buku-buku fiksi
3) Ada peserta didik yang bertugas mengelola administrasi peminjaman buku.
4) Peserta didik wajib meminjam buku fiksi untuk dibaca.
c) Sumbangan Buku (1 tahun sekali)
Program ini bertujuan untuk menambah jumlah koleksi buku di perpustakaan sekolah.
1) Peserta didik membuat kelompok sebanyak 5 orang
2) Setiap kelompok menyumbang 1 buku untuk perpustakaan sekolah
d) Wajib Kunjung Perpustakaan Sekolah
Kegiatan ini bertujuan memanfaatkan perpustakaan untuk menumbuhkan kegemaran
membaca
1) Pengelola perpustakaan memberikan jadwal kunjung ke perpustakaan kepada setiap
guru mata pelajaran.
2) Sesuai dengan jadwal, setiap guru mata pelajaran membawa peserta didik satu kelas
untuk berkunjung ke perpustakaan.
2. Tahap Pengembangan
a. Menghidupkan sudut baca
Mengelola sudut baca dilakukan di tahap pengembangan dengan menerapkan beberapa
langkah.
1) Ketua Kelas / Wakil Ketua Kelas bertugas mengelola administrasi peminjaman buku.
2) Peserta didik wajib meminjam buku untuk dibaca.
3) Peserta didik membuat resume hasil bacaan.
4) Peserta didik mengumpulkan hasil resume di meja guru.
5) Guru kelas memeriksa resume sebulan sekali.
4
6) Peserta didik membuat perayaan hasil membaca, misalnya menceritakan hasil bacaan di
kelas.
b. Duta Literasi Sekolah
Duta literasi merupakan peserta didik terpilih yang bertugas untuk mengembangkan program
literasi di sekolah. Beberapa kegiatan duta literasi dapat dilakukan, antara lain:
1) Wali kelas mengadakan seleksi duta literasi.
2) Wali kelas memilih tiga duta literasi .
3) Duta literasi dilatih dan dibekali keterampilan membaca dan menulis.
4) Duta literasi wajib menjadi teladan membaca dan menulis.
5) Duta literasi bertugas memotivasi peserta didik lainnya agar gemar membaca.
6) Duta literasi bersama guru bekerja sama dalam mengelola dan mengembangkan
program literasi di sekolah
c. Menyusun Portofolio Membaca
Program ini bertujuan untuk mendokumentasikan perkembangan membaca peserta didik.
Portofolio hasil membaca dapat berupa dokumen bukti fisik hasil membaca misalnya
ringkasan buku-buku yang telah dibaca atau jurnal membaca, laporan tugas membaca peserta
didik, dan hasil membaca kreatif peserta didik. Berikut langkah-langkahnya:
1) Guru meminta semua produk hasil membaca peserta didik untuk dikumpulkan.
2) Peserta didik menyiapkan bahan-bahan untuk membuat portofolio (lembar kerja, folder,
dan map dokumen).
3) Peserta didik menyusun portofolio berdasarkan bentuk dan isi produk.
4) Tentukan isi portofolio (semua karya peserta didik atau hasil laporan membaca)
5) Bentuk portofolio meliputi identitas peserta didik, daftar isi protofolio atau garis besar
portofolio dan kumpulan karya-karya.
6) Setiap hari peserta didik mengerjakan portofolio (misalnya lima belas menit setiap sore).
7) Portofolio yang telah disusun, kemudian disimpan atau digantung berjajar di kelas secara
berurutan.
5
8) Guru memantau dan menilai portofolio yang telah disusun peserta didik.
d. Apresiasi Giat Literasi
Pemberian buku sebagai hadiah dilakukan untuk lebih mendorong peserta didik dapat secara
rutin membaca dan meminjam buku di perpustakaan. Program ini dapat dilakukan dengan
langkah-langkah berikut
1) Guru bekerja sama dengan pengelola perpustakaan sekolah untuk menyediakan catatan
kunjungan peserta didik ke perpustakaan.
2) Guru menyosialisasikan kepada seluruh peserta didik tentang program Pengunjung
perpustakaan terbaik yang akan dilaksanakan setiap semester.
3) Peserta didik akan berkompetisi membaca di perpustakaan sebanyak-banyaknya setiap
saat. Kunjungan peserta didik ke perpustakaan sekolah dapat dilakukan ketika jam
istirahat atau waktu senggang.
4) Setiap semester, guru akan memilih pembaca terbaik di sekolah kemudian diberi hadiah
buku dan tercatat di papan Pembaca Terbaik.
5) Pembaca terbaik dipilih berdasarkan frekuensi kunjungan peserta didik ke perpustakaan,
jumlah buku yang dipinjam, dan jenis buku-buku yang dibaca serta riwayat
pengembalian buku pinjaman peserta didik.
6) Pemilihan Pembaca Terbaik dapat dilakukan pada setiap jenjang.
3. Tahap Pembelajaran
a. Setor Resume Buku Sastra
Kegiatan ini membiasakan peserta didik untuk membaca sastra. Kegiatan membaca buku
cerita dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
1) membaca buku cerita,
2) membuat ringkasan isi cerita,
3) membuat bahan presentasi,
4) menceritakan kembali pada guru, teman atau kelompok.
6
b. Membuat Piramida Cerita
Kegiatan ini membiasakan peserta didik untuk membaca sastra. Berikut ini contoh kegiatan
dalam piramida cerita yang dapat dilakukan oleh peserta didik.
1) Individu atau berkelompok 2–3 peserta didik;
2) membaca buku cerita bersama;
3) diskusi menentukan bagian-bagian penting cerita;
4) mengambar piramida di kertas;
5) menulis bagian awal, inti, dan akhir cerita di tiga sisi piramida;
6) peserta didik bercerita di depan teman dengan bantuan piramida.
D. Kesimpulan
Gerakan Literasi Sekolah (LGS) adalah sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh
dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya
literat sepanjang hayat melalui pelibatan [Link] yang paling mendasar dalam praktik literasi
adalah kegiatan membaca. Keterampilan membaca merupakan fondasi untuk mempelajari
berbagai hal lainnya. Kemampuan ini penting bagi pertumbuhan intelektual peserta didik.
Melalui membaca peserta didik dapat menyerap pengetahuan dan mengeksplorasi dunia yang
bermanfaat bagi [Link] memberikan pengaruh budaya yang amat kuat terhadap
perkembangan literasi peserta didik. Keberhasilan Program ini sangat tergantung dari komitmen
seluruh warga besar SD Negeri 1 Semarapura Tengah dan pihak terkait secara kolaboratif.
Oleh karena itu diharapkan semua pihak terkait dapat ikut secara proaktif berperan dalam
kegiatan ini sesuai dengan tupoksi masing-masing.