Pengolahan Citra Digital: Konsep dan Teknik
Pengolahan Citra Digital: Konsep dan Teknik
TINJAUAN PUSTAKA
II-1
d. Frame memproses nilai pixel suatu gambar berdasarkan operasi dari 2 buah
gambar atau lebih. Contoh dari proses frame adalah addition, substraction, dan
and/or.
Selain itu masih ada 3 tipe pengolahan citra yaitu:
a. Low-level process: proses-proses yang berhubungan dengan operasi primitif
seperti image pre-processing untuk mengurangi noise, menambah kontras dan
menajamkan gambar. Pada low-level process, input dan output - nya berupa
gambar.
b. Mid-level process: proses-proses yang berhubungan dengan tugas-tugas seperti
segmentasi gambar (membagi gambar menjadi objek-objek), pengenalan
(recognition) suatu objek individu. Pada mid-level process, input pada
umumnya berupa gambar tetapi output-nya berupa atribut yang dihasilkan dari
proses yang dilakukan gambar tersebut seperti garis, garis contour, dan objek-
objek individu.
c. High-level process: proses-proses yang berhubungan dengan hasil dari mid-
level process (Gonzalez, 2002).
II-2
Alat digitasi ini dapat berupa penjelajahan silod-state yang menggunakan
matriks sel yang sensitif terhadap cahaya yang masuk, dimana citra yang direkam
maupun sensor yang digunakan mempunyai kedudukan atau posisi yang tetap
alat masukan citra yang umum digunakan adalah kamera dimana sensor citra dari
alat ini menghasilkan keluaran berupa citra analog sehingga dibutuhkan proses
digitasi dengan menggunakan alat digitasi seperti yang telah disebutkan diatas.
Komponen utama dari perangkat keras pengolahan citra secara digital adalah
komputer dan alat peraga. Komputer tersebut bisa dari jenis komputer multiguna
khusus yang dirancang untuk pengolahan citra digital. Pengolahan citra pada
umumnya dilakukan dari pixel yang sifatnya paralel pipe lined (Suhandy, 2003).
II-3
2. Komputer digital, digunakan pada sistem pemroses citra, mampu melakukan
berbagai fungsi pada citra digital resolusi tinggi.
3. Piranti tampilan, peraga berfungsi mengkonversi matriks intensitas tinggi
merepresentasikan citra ke tampilan yang dapat diinterpretasi oleh manusia.
4. Media penyimpanan, piranti yang mempunyai kapasitas memori besar
sehingga gambar dapat disimpan secara permanen agar dapat diproses lagi
pada waktu yang lain (Gunadarma, 2006).
II-4
2.5 Pembentukan citra
Citra ada dua macam diantaranya:
1. Citra Kontinu. Dihasilkan dari sistem optik yang menerima sinyal analog.
Contoh : mata manusia, kamera analog
2. Citra diskrit atau citra digital. Dihasilkan melalui proses digitalisasi terhadap
citra kontinu. Contoh : kamera digital, scanner (Gunadarma, 2006).
II-5
Model pengolahan warna yang lain adalah model wrna HIS. Model warna
ini menggunakan dasar nilai Hue (corak), saturation (kejenuhan), dan intensity
(kecerahan). Modelini dianggap sebagai cara sebenarnya manusia memandang
suatu warna, yang biasanya melakukan penilaia warna secara kualitatif (Idhawati,
2007).
II-6
Gambar 2.2. Grafik komputer
(Sumber: Gonzalez, 2002)
II-7
Elemen dalam citra perlu dikelompokkan, dicocokan atau diukur (image
segmentation) Operasi ini berkaitan erat dengan pengenalan pola. Diperlukannya
ekstraksi ciri-ciri tertentu yang dimiliki citra untuk membantu dalam
pengidentifikasian objek (image analysis). Proses segementasi kadangkala
diperlukan untuk melokalisasi objek yang diinginkan dari sekelilingnya. Contoh :
pendeteksian tepi objek. Sebagian citra perlu digabung dengan bagian citra yang
lain (image reconstruction) contoh, beberapa foto rontgen digunakan untuk
membentuk ulang gambar organ tubuh. Citra perlu dimampatkan (image
compression) contoh, suatu file citra berbentuk BMP berukuran 258 KB
dimanfaatkan dengan metode jpeg menjadi berukuran 49 KB. Menyembunyikan
data rahasia (berupa teks/citra) pada citra sehingga keberadaan data rahasia
tersebut tidak diketahui orang (steganografi dan watermarking) (Idhawati, 2007).
3. Pengenalan Pola
II-8
2.10 Histrogram
Histogram adalah grafik yang menunjukkan distribusi dari intensitas sebuah
gambar Histogram dari sebuah gambar digital berupa sebuah fungsi ℎ r =nk,
dimana rk adalah nilai warna ke-k dan nk adalah jumlah pixel dalam gambar yang
memiliki nilai tersebut. Pada gray-level, rk adalah tingkat gray-level ke-k. K =
0, 1, 2, …, L-1. L adalah batas maksimum nilai (Gonzalez, 2002).
Normalisasi dari histogram adalah dengan membagi tiap nilai nk dengan
total pixel dari gambar, p (rk) = nk/n. Jumlah total nilai ( p (rk) ) dari
normalisasi histogram adalah 1. Sumbu pada harizontal menujukan nilai gray
level sedangkan sumbu vertikal menunjukan nilai jumlah piksel gray level
tersebut h(rk) = nk/MN jika nilainya dinormalkan. Bahwa citra yang gelap
histrogramnya cenderung ke kiri (intensitas gray levelnya rendah), citra terang
cenderung kekanan (intensitas gray levelnya tinggi), untuk low contrast agak
cenderung menjahui terang dan gelap, untuk high contrast histrogram merata pada
semua gray level. Fungsi yang digunakan dalam matlab untuk menampilkan
histrogram sebuah citra adalah: h = imhist (f, b). Di mana h merupakan histrogram
dari citra, f merupakan variabel citra dan b adalah jmlah bins yang digunakan
dalam membentuk histrogram. Jika tidak disebutkan maka matlab akan
menggunakan nilai default, yaitu b=256 pada citra 8 bit. Contoh kode program
histrogram yaitu (Prasetyo,2011).
i = imread (‘[Link]’);
i=rgb2gray(i);
x=imadjust (i, [],[],0.2);
figure,imshow(x);
figure, imhist (x);
II-9
Gambar 2.5. Histogram
II-10
2.11 Grayscaling
Grayscaling adalah proses perubahan nilai pixel dari warna (RGB) menjadi
gray-level. Pada dasarnya proses ini dilakukan dengan meratakan nilai pixel dari
3 nilai rgb menjadi 1 nilai. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, nilai pixel
tidak langsung dibagi menjadi 3 melainkan terdapat persentasi dari masing-
masing nilai.
Salah satu persentasi yang sering digunakan adalah 29,9% dari warna merah
(Red), 58,7% dari warna hijau (Green), dan 11,4% dari warna biru (Blue). Nilai
pixel didapat dari jumlah persentasi 3 nilai tersebut (Gonzalez, 2002).
II-11
jumlah angka real, R) untuk setiap pasangan kordinat (x,y) yang berbeda. Jika
gray level juga integer, Z menggantikan R (Prasetyo, 2011).
II-12
Satu aplikasi pokok ini dari transformasi ini adalah menghilangkan objek
dari citra dengan menggunakan strel dalam operasi opening dan closing di mana
objek tidak boleh dilepaskan. Perbedaan kedua operasi adalah citra di mana hanya
terdapat sisa dari komponen yang dibuang. Transformasi top-hat digunakan untuk
objek terang pada background gelap, sedangkan transformasi bottom-hat
digunakan untuk objek gelap pada background terang. Untuk alasan ini, nama
white top-hat dan black top-hat sering digunakan mereferensikan pada kedua
transformasi ini (Prasetyo, 2011).
Penggunaan penting dari transformasi top-hat adalah memperbaiki efek
ilumination yang tidak uniform, karena ilumination yang baik (uniform)
mamainkan peran penting dalam proses pengekstrakan objek dari backgrond.
Proses ini yang disebut dengan segmentasi, yaitu satu dari langkah awal yang
dilakukan dalam analisis citra otomatis. Umumnya digunakan pendekatan
segmentasi untuk threshold citra input (Prasetyo, 2011).
II-13
Algoritma ini berjalan dengan lebih cepat meskipun menggunakan formasi
iteratif. Fungsi yang digunakan untuk melakukan “fast hybrid reconstruction”
[Vincent, 1993] adalah imreconstruct dengan sintaks:
out = imreconstruct(marker, mask)
strel yang digunakan adalah square dengan ukuran 3 piksel. Untuk membuat
marker dilakukan dengan membuat sebuah citra dengan ukuran yang sama dengan
mask, dan bernilai 0 semua kecuali pada koordinat yang menjadi starting point
deberi nilai 1 (Prasetyo, 2011).
II-14
>> j = imfill(i, ‘holes’);
>> figure, imshow(j);
2.15 Thresholding
Thresholding ini di contohkan pada sebuah gambar, f(x,y) tersusun dari
objek yang terang pada sebuah background yang gelap Gray-level milik objek
dan milik background terkumpul menjadi 2 grup yang dominan. Salah satu cara
untuk mengambil objek dari backgroundnya adalah dengan memilih sebuah nilai
threshold T yang memisahkan grup yang satu dengan grup yang lain. Maka semua
pixel yang memiliki nilai > T disebut titik objek, yang lain disebut titik
background. Proses ini disebut thresholding (Gonzalez, 2002).
Karena properti intutif dan kesederhanaannya dalam implementasi,
thresholding citra menjadi titik pusat dalam aplikasi segmentasi citra. Di sini akan
dibahas mengenai cara pemilihan nilai thresholding secara otomatis dan
II-15
memperhatikan metode untuk bermacam-macam thresholding menurut properti
ketetanggaan citra lokal.
Andaikan bahwa histrogram intensitasnya yang ditunjukan pada gambar 2.5
yang berkaitan dengan citra F(x,y), yang terdiri dari obyek pada background
mempunya level intensita yang dikelompokan kedalam dua mode domain. Satu
cara yang jelas untuk mengekstrak obyek dari background adalah dengan memilih
threshold T yang membagi mode-mode ini. Kemudian sembarang titik (x,y) untuk
dimana f(x,y) ≥ disebut object point. Sedangkan yang lain disebut background
point. Dengan kata lain, citra yang di- threshold g(x,y) didefinisikan yaitu:
1 (x, y) ≥
g(x,y) = (3)
2 x, y <
piksel yang diberi 1 berkaitan dengan obyek sedangkan piksel yang diberik
diberi nilai 0 berkaitan dengan background. Ketika konstanta., pendekatan ini
disebut global thresholding (Prasetyo, 2011).
II-16
3. Menghitung rata-rata intensitas 1 dan 2 untuk piksel-piksel dalam region
G1 dan G2.
4. Menghitung nilai threshold yang baru:
T=( 1+ 2)
Di mana n adalah jumlah piksel dalam citra, nq adalah jmlah piksel yang
dipunyai level intensitas rq dan L adalah total jumlah level intentitas yang tersedia
dalam citra. Andaikan bahwa threshold k dipilih maka Co adalah sekumpulan
piksel dengan level [0, 1, ......, k – 1] dan C1 adalah sekumpulan piksel dengan
level [k, k + 1, ..., L – 1 ]. Metode otsu memilih nilai k yang memaksimalkan
2
between-class variance B, yang didefenisikan sebagai berikut:
2 2 2
b= o( o– T) + 1( o– T)
Di mana:
o = ∑ q (rq) (4)
1 = ∑ q (rq) (5)
o = ∑ q (rq) / 0 (6)
1= ∑ q (rq) / 1 (7)
1= ∑ q (rq) (8)
II-17
Fungsi graythresh mengambil citra, menghitung histrogramnya, dan
2
kemudian mencari nilai threshold yang memaksimalkan B. Threshold
dikembalikan sebagai nilai normal di antara 0.0 dan 1.0. sintaks untuk pemangilan
fungsi graythresh adalah T = graythresh (f).
Di mana f adalah input dan T adalah threshold yang dihasilkan. Untuk
melakukan segmentasi citra, digunakan T dalam fungsi im2bw. Karena threshold
dinormalisasikan dalam range [0, 1], maka harus diskalakan ke range gray level
yang benar dari citra sebelum digunakan. Misalnya jika f adalah kelas uint8, maka
T dikalikan dengan 255 sebelum digunakan ( Prasetyo, 2011).
2.17 Konvolusi
Secara umum konvolusi diidenfikasi sebagai cara untuk mengkombinasikan
dua buah deret angka yang menghasilkan deret angka yang ketiga. Didalam dunia
seismik deret-deret angka tersebut adalah wavelet sumber gelombang, reflektivitas
bumi dan rekaman seismik. Secara matematis, konvolusi adalah integral yang
mencerminkan jumlah lingkupan dari sebuah fungsi a yang digeser atas fungsi b
sehingga menghasilkan fungsi c. Konvolusi dilambangkan dengan asterisk ( *).
Sehingga, a*b = c berarti fungsi a dikonvolusikan dengan fungsi b menghasilkan
fungsi c (Rudy, 2005).
Konvolusi adalah salah satu proses filtering image yang sering dilakukan
pada proses pengolahan gambar. Pada matlab terdapat banyak sekali cara yang
dapat dilakukan untuk melakukan proses konvolusi. Proses konvolusi dilakukan
dengan menggunakan matriks yang biasa disebut mask yaitu matriks yang
berjalan sepanjang proses dan digunakan untuk menghitung nilai representasi
lokal dari beberapa piksel pada image (Rudy, 2005).
Operasi konvolusi dilakukan perpixel dan untuk setiap pixel dilakukan
operasi perkalian dan penjumlahan, sehinga memerlukan komputasi yang besar.
Jika citra berukuran NxN dan kernel mxm, mk jumlah perkalian dlm orde N 2 m 2
Contoh, jk citra 512x512 dan kernel 16x16 maka ada sekitar 32 juta perkalian,
tidak cocok untuk proses real time. Suatu cara mengurangi waktu komputasi
adalah mentransformasi citra dan kernel ke dalam domain frekuensi dalam hal ini
II-18
Transf. Fourier keuntungan penggunaan domain frekuensi adalah proses
konvolusi dapat diterapkan dalam bentuk perkalian langsung. g(x,y)= 1 2 1 2 4 2 1
2 1.
Pada pixel-pixel pinggir dapat diabaikan, tidak dikonvolusi (tetap).
Duplikasi elemen citra, misalnya elemen kolom pertama disalin ke kolom M+1,
begitu sebaliknya. Elemen kosong diasumsikan 0. Catatan: Ada masalah untuk
pinggiran citra, hal ini dapat diatasi degan cara, dapat dilihat bahwa operasi
konvolusi merupakan komputasi pada aras lokal, karena komputasi untuk suatu
pixel pada citra keluaran melibatkan pixel-pixel tetangga pada citra masukannya.
Konvolusi berguna pada proses pengolahan citra. Perbaikan kualitas citra
Penghilangan derau Penghalusan atau pelembutan citra deteksi tepi, penajaman
tepi dan lain-lain. Contoh: dilakukan konvolusi suatu citra fhoto hitam putih
dengan penapis gaussian untuk mempertajam tepi-tepi di dlm citra. Penapis
gaussian adalah sebuah mask berukuran 3x3 (Rudy, 2005).
Penapisan (filtering) termasuk pengolahan lokal yaitu dalam tranformasinya
melibatkan:
1. Nilai‐nilai pixel tetangganya
2. Nilai‐nilai suatu sub‐citra yang memiliki dimensi yangnilai nilai suatu sub citra
yang memiliki dimensi yang sama. Sub‐citra ini dikenal sebagai
filter, mask, kernel, template, atau window atau window. Nilai dalam sub‐citra
tidak disebut sebagai nilai intensitas pixel, tetapi sebagai koefisien.
Untuk mengaplikasikan penapis pada citra, digunakan metode konvolusi.
Konvolusi 2 fungsi f(x) dan g(x):
∞
∗ = α − α α … … … … … … … . (9)
∞
α = peubah bantu
Fungsi diskrit:
∗ = α − α … … … … … … … . (10)
II-19
, ∗ = , … … … … … … . … … . (11)
Konvolusi bisa dinyatakan dalam matriks. Tiap elemen matriks penapisnya
berupa koefisien konvolusi operasi menggeser karnel pixel perpixel ‐hasil
disimpan dalam matriks baru (Rudy, 2005).
2.19 Segmentasi
Segmentasi gambar adalah pemisahan objek yang satu dengan objek yang
lain dalam suatu gambar (Ballerini). Ada 2 macam segmentasi, yaitu full
segmentation dan partial segmentation. Full segmentation adalah pemisahan suatu
object secara individu dari background dan diberi ID (label) pada tiap-tiap
segmen. Partial segmentation adalah pemisahan sejumlah data dari background
dimana data yang disimpan hanya data yang dipisahkan saja untuk mempercepat
proses selanjutnya (Rudy, 2005).
Ada 3 tipe dari segmentasi yaitu:
1. Classification-based: segmentasi berdasarkan kesamaan suatu ukuran dari
nilai pixel. Salah satu cara paling mudah adalah thresholding. Thresholding
ada 2 macam yaitu global dan lokal. Pada thresholding global, segmentasi
berdasarkan pada sejenis histogram. Pada thresholding lokal, segmentasi
dilakukan berdasarkan posisi pada gambar, gambar dibagi menjadi bagian-
bagian yang saling melengkapi, jadi sifatnya dinamis.
2. edge-based yaitu mencari garis yang ada pada gambar dan garis tersebut
digunakan sebagai pembatas dari tiap segmen.
II-20
3. region-based yaitu segmentasi dilakukan berdasarkan kumpulan pixel yang
memiliki kesamaan (tekstur, warna atau tingkat warna abu-abu) dimulai dari
suatu titik ke titik-titik lain yang ada disekitarnya (Rudy, 2005).
Segmentasi membangi citra ke dalam sejumlah region atau objek. Level
untuk pembagian tergantung pada masalah yang diselesaikan. Meka, segmentasi
seharusnya berhenti ketika objek yang diinginkan dalam aplkasi telah terisolasi.
Misalnya, pemeriksaan otomatis pada rakitan produk elektronik, yang diinginkan
adalah analisa citra produk dengan tujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya
penyimpangan tertentu, seperti salah komponen, atau lintasan hubungan yang
putus.
Segmentasi citar non-trival adalah satu dari perkerjaan yang paling sulit
dalam pengolahan citra. Akurasi segmentasi menentukan kemukinan sukses atau
gagalnya komputerisasi prosedur analisis. Untuk alasan ini, perhatian seharusnya
digunakan untuk meningkatkan kemukinan segmentasi yang kasar.
Algoritma segmentasi citra umumnya didasarkan pada satu dari dua properti
nilai intensitas, diskontinuitas dan similaritas. Dalam katagori pertama,
pendekatanya adalah memecah atau memilih citra berdasarkan perubahan kasar
dalam intensitas, seperti tepi dalam citra. Pendekatan utama katagori kedua
didasarkan pada pemecahan citra kedalam rigion yang sama menurut sejumlah
kreteria yang didefinisikan, seperti thresholding, region growing, region splitting
dan merging (Prasetyo, 2011).
II-21
dengan mudah dideteksi oleh mask jenis ini. Jumlah dari koefisien mask adalah
nol. Artinya, akan memberikan nol pada daerah dengan nilai gray level kosntan
(Prasetyo, 2011).
-1 -1 -1 2 -1 -1
2 2 2 -1 2 -1
-1 -1 -1 -1 -1 2
a. Horizontal b. +450
-1 2 -1 -1 -1 2
-1 2 -1 -1 2 -1
-1 2 -1 2 -1 -1
c. vertikal d. -450
Gambar 2.7. Mask untuk deteksi garis
(Sumber: Prasetyo, 2011)
jika R1, R2, R3, dan R4 menyatakan hasil mask pada gambar ditas dari kiri ke
kanan, di mana nilai R diberikan oleh persamaan masking. Andaikan empat mask
dijalankan secara individu terhadap citra. Jika titik tertentu dalam citra,׀Ri׀ >׀Rj׀
untuk semua j ≠ i, maka titik tersebut dikatakan lebih berasosiasi dengan garis
dalam arah mask i. Misalnya, jika sebuah titik dalam citra ׀Ri׀ >׀Rj ׀untuk j = 2,
3, 4, bahwa titik tertentu dikatakan lebih berhubungan dengan garis horizontal.
Alternatifnya, deteksi garis dapat dilakukan dalam arah tertentu. Dalam kasus ini,
mask yang digunakan berasosiasi dengan arah dan threshold outputnya. Dengan
II-22
kata lain, jika ingin mendeteksi semua garis dalam citra dalam arah yang
difinisikan mask, maka cukup hanya menjalankan mask sepanjang bidang citra
dan men-threshold nilai absolut dari hasil. Titik-titik yang tersisa adalah hasil
yang terkuat, di mana garis dengan ketabalan satu piksel berhubungan dengan
arah yang difinisikan oleh mask (Prasetyo, 2011).
∇ = = (12)
∇ = ∇ = + (13)
= [( / )2 + ( / )2 ]2
Untuk menyederhanakan komputasi, persamaan ini kadang diperkirakan
dengan mengabaikan operasi akar kuadrat:
∇ ≈ + (14)
II-23
variabel. Umunya dalam praktek, penyebutan jarak gradien cukup dengan
“gradien” saja (Prasetyo, 2011).
Properti dasar vektor gradien adalah bahwa titik-titik dalam arah rate
maksimum dari perubahan f pada koordinat (x,y). Sudut di mana perubahan rate
terjadi adalah :
, = tan (16)
0 0 0 -2 0 2
1 2 1 -1 0 1
a. Gx=(z7+2z8+z9)-(z1+2z2+z3) b. Gy=(z3+2z6+z9)-(z1+2z4+z7)
II-24
-1 -1 -1 -1 0 1
0 0 0 -1 0 1
1 1 1 -1 0 1
c. Gx=(z7+2z8+z9)-(z1+2z2+z3) d. Gy=(z3+2z6+z9)-(z1+2z4+z7)
-1 0 0 -1
0 -1 1 0
II-25
2 2
G + G 1/2
g= (18)
II-26
Untuk dapat menggunakan slope histogram, sebuah gambar sebaiknya
diubah dahulu menjadi biner. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan
threshold. Setelah gambar siap, maka gradien atau kemiringan tiap pixel yang
berwarna hitam dicari. Di sini dapat digunakan matriks yang memetakan pixel
tersebut dengan pixel-pixel berwarna hitam yang ada disekelilingnya. Matriks
yang digunakan adalah 5 x 5.
Persamaan garis dalam matematika adalah sebagai berikut:
ax+by+c=0
di mana a, b, dan c adalah parameter yang menjelaskan posisi garis dan
orientasinya, dan x,y adalah koordinat horisontal dan vertikal. Nilai a dapat dicari
dengan menggunakan rumus cos( θ + π/2 ) dan b dapat dicari dengan (1 – a *
a)1/2 Sedangkan konstanta c dapat dicari dari c = -ax –by. Garis yang ”terbaik”
didapat dengan mencoba semua sudut antara -90 hingga 90 derajat dengan asumsi
bahwa garis harus melalui paling sedikit satu dari pixel berwarna gelap dalam
matriks 5x5. Nilai error didapatkan dari jumlah ax+by+c untuk setiap x dan y
yang pixel-nya berwarna hitam. Jika semua pixel berwarna hitam berada pada 1
garis maka nilai error-nya adalah 0 dan dengan memilih garis dengan nilai error
paling minimum, maka garis yang ”terbaik” dapat dipilih. Nilai pada histogram
milik sudut dari garis yang ”terbaik” di-increment dan dengan demikian
terbentuklah slope histogram (Rudy, 2005).
Untuk membandingkan 2 slope histogram dapat digunakan distance yang
didefinisikan:
•
D=
• • •
Dimana dot product dari a dan b didefinisikan:
• = ∑ i bi
II-27
menyelesaikan suatu masalah sebagaimana yang dilakukan oleh seorang pakar.
Sistem pakar dibuat pada wilayah pengetahuan tertentu dan untuk suatu keahlian
tertentu yang mendekati kemampuan manusia di salah satu bidang khusus. Sistem
pakar mencoba mencari solusi yang memuaskan sebagaimana yang dilakukan
seorang pakar dan dapat memberikan penjelasan terhadap langkah yang diambil
serta memberikan alasan atas kesimpulan yang diambil (Rudy, 2005).
II-28
4. Terkadang sistem tidak dapat membuat keputusan.
5. Pengetahuan tidak selalu didapat dengan mudah karena pendekatan tiap
pakar berbeda.
II-29
dan pemakai, yang memungkinkan sistem pakar menerima instruksi dan
informasi (input) dan pemakai juga memberikan informasi (output)
kepada pemakai.
2. Basis pengetahuan
Basis pengetahuan mengandung pengetahuan untuk pemahaman,
formulasi, dan penyelesaian masalah. Komponen sistem pakar ini disusun
atas dua elemen dasar, yaitu fakta dan aturan. Fakta merupakan informasi
tentang obyek dalam area permasalahan tertentu, sedangkan aturan
merupakan informasi tentang cara bagaimana memperoleh fakta baru dari
fakta yang telah diketahui (Arhami, 2005).
3. Akuisisi pengetahuan
Akusisi pengetahuan adalah akumulasi, transfer dan transformasi keahlian
dalam menyelesaikan masalah dari sumber pengetahuan ke dalam program
komputer. Dalam tahap ini knowledge engineer berusaha menyerap
pengetahun untuk selanjutnya ditransfer ke dalam basis pengetahuan.
Pengetahuan diperoleh dari pakar, dilengkapi dengan buku, basis data,
laporan penelitian dan pengalaman pemakai (Arhami, 2005).
Akuisisi pengetahuan dilakukan sepanjang proses pembangunan
sistem. Menurut (Firebaugh 1989). Proses akuisisi pengetahuan dibagi ke dalam
enam tahap, yaitu :
1. Tahap identifikasi
Tahap identifikasi meliputi penentuan komponen-komponen kunci dalam
sistem yang sedang dibangun. Komponen kunci ini adalah knowledge
engineer, pakar, karakterisitik masalah, sumber daya, dan tujuan.
Knowledge engineer dan pakar bekerja bersama untuk menentukan
berbagai aspek masalah, seperti lingkup dari proyek, data input yang
dimasukkan, bagian-bagian penting dan interaksinya, bentuk dan isi dari
penyelesaian, dan kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi dalam
pembangunan sistem. Mereka juga harus menentukan sumber
pengetahuan seperti basis data, system informasi manajemen, buku teks,
serta prototipe masalah dan contoh. Selain menentukan sumber
II-30
pengetahuan, pakar juga mengklarifikasi dan menentukan tujuan-tujuan
sistem dalam proses penentuan masalah.
2. Tahap konseptualisasi
Konsep-konsep kunci dan hubungannya yang telah ditentukan pada tahap
pertama dibuat lebih jelas dalam tahap konseptualisasi.
3. Tahap formalisasi
Tahap ini meliputi pemetaan konsep-konsep kunci, sub-masalah dan
bentuk aliran informasi yang telah ditentukan dalam tahap-tahap
sebelumnya ke dalam representasi formal yang paling sesuai dengan
masalah yang ada.
4. Tahap implementasi
Tahap ini meliputi pemetaan pengetahuan dari tahap sebelumnya yang
telah diformalisasi ke dalam skema representasi pengetahuan yang dipilih.
5. Tahap pengujian
Setelah prototipe sistem yang dibangun dalam tahap sebelumnya berhasil
menangani dua atau tiga contoh, prototipe sistem tersebut harus menjalani
serangkaian pengujian dengan teliti menggunakan beragam sampel
masalah. Masalah-masalah yang ditemukan dalam pengujian ini biasanya
dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu kegagalan input/output, kesalahan
logika dan strategi kontrol.
6. Revisi prototipe
Suatu unsur penting pada semua tahap dalam proses akuisisi pengetahuan
adalah kemampuan untuk kembali ke tahap-tahap sebelumnya untuk
memperbaiki sistem.
4. Mesin inferensi
Komponen ini mengandung mekanisme pola pikir dan penalaran yang
digunakan oleh pakar dalam menyelesaikan suatu masalah. Mesin
inferensi adalah program komputer yang memberikan metodologi untuk
penalaran tentang informasi yang ada dalam basis pengetahuan dan
II-31
dalam workplace, dan untuk memformulasikan kesimpulan (Turban,
1995).
Inferensi merupakan proses menghasilkan kesimpulan berdasarkan fakta
atau pengetahuan yang diketahui atau diasumsikan. Terdapat dua pendekatan
untuk mengontrol inferensi dalam sistem pakar berbasis aturan yaitu pelacakan ke
depan (forward chaining).
Pelacakan ke Depan (Forward Chaining). Pada metode forward chaining di
artikan sebagai pendekatan yang dimotori data. Dalam pendekatan ini pelacakan
dimulai dari informasi masukan, dan selanjutnya mencoba menggambarkan
kesimpulan. Sehingga metode ini juga sering disebut “Data driven”.
Forward Chaining merupakan pencocokan fakta atau pernyataan dimulai
dari bagian sebelah kiri dulu (IF dulu). Dengan kata lain penalaran dimulai dari
fakta terlebih dahulu untuk menguji kebenaran hipotesis (Kusumadewi, 2013).
II-32
a. Perolehan pengetahuan (dari para ahli atau sumber-sumber lainnya),
b. Representasi pengetahuan ke komputer.
c. Kesimpulan dari pengetahuan dan
d. Pengalihan pengetahuan ke pengguna.
4. Mengambil keputusan.
Hal yang unik dari sistem pakar adalah kemampuan untuk menjelaskan
dimana keahlian tersimpan dalam basis pengetahuan.
Kemampuan komputer untuk mengambil kesimpulan dilakukan oleh
komponen yang dikenal dengan mesin inferensi yaitu meliputi prosedur
tentang pemecahan masalah.
5. Aturan.
Sistem pakar yang dibuat merupakan sistem yang berdasarkan pada
aturan–aturan dimana program disimpan dalam bentuk aturan-aturan
sebagai prosedur pemecahan masalah. Aturan tersebut biasanya
berbentuk IF – THEN.
6. kemampuan menjelaskan.
Keunikan lain dari sistem pakar adalah kemampuan dalam menjelaskan
atau memberi saran/rekomendasi serta juga menjelaskan mengapa
beberapa tindakan atau saran tidak direkomendasikan (Kusumadewi,
2013).
II-33
a. fakta : informasi tentang obyek dalam area
permasalahan tertentu.
b. aturan : informasi tentang cara bagaimana memperoleh fakta baru dari
fakta yang telah diketahui.
3. Akuisisi Pengetahuan (Knowledge Acquisition)
Akuisisi pengetahuan adalah akumulasi, transfer, dan transformasi keahlian
dalam menyelesaikan masalah dari sumber pengetahuan ke dalam program
komputer..
4. Mesin atau motor Inferensi (inference engine).
Komponen ini mengandung mekanisme pola pikir dan penalaran yang
digunakan oleh pakar dalam menyelesaikan suatu masalah.
5. Workplace / Blackboard
Workplace merupakan area dari sekumpulan memori kerja (working
memory), digunakan untuk merekam kejadian yang sedang berlangsung
termasuk keputusan sementara.
6. Fasilitas Penjelasan
Adalah komponen tambahan yang akan meningkatkan kemampuan sistem
pakar.
7. Perbaikan Pengetahuan
Pakar memiliki kemampuan untuk menganalisis dan meningkatkan
kinerjanya serta kemampuan untuk belajar dari kinerjanya (Kusumadewi,
2013).
II-34
solusi untuk keadaan yang terjadi sekarang (fakta yang ada)
(Kusumadewi, 2013).
II-35
2. lingkungan konsultasi (consultation environment): digunakan oleh
pengguna yang bukan pakar untuk memperoleh pengetahuan pakar
(Kusumadewi, 2013).
II-36