6.
1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN RENCANA PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP
6.1.1. Ruang Lingkup Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan
Lingkungan Hidup
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) menggambarkan strategi untuk mengelola dampak
lingkungan dari pengembangan kawasan industri IWIP. Tujuannya adalah untuk menghindari, mencegah,
meminimalkan, dan/atau mengendalikan dampak negatif serta meningkatkan dampak positif dari rencana
kegiatan tersebut. RKL ini terdiri dari tahapan prakonstruksi, konstruksi, operasi, dan pascaoperasi.
Setelah RKL disusun, langkah selanjutnya adalah melakukan pemantauan terhadap implementasinya,
yang dijelaskan dalam Bab Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).
6.1.2. Prinsip Dasar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan
Hidup
Pengelolaan lingkungan hidup untuk pengembangan Kawasan Industri Indonesia Weda Bay Industrial
Park (IWIP) di Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, memiliki fokus pada tiga aspek
utama: pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan dampak negatif, serta peningkatan dampak
positif terhadap lingkungan. Dalam konteks ini, pencegahan mengacu pada upaya untuk mengurangi
atau menghilangkan dampak negatif sejak awal, sedangkan pengendalian berkaitan dengan langkah-
langkah yang diambil untuk membatasi dampak negatif yang mungkin timbul. Sementara itu,
penanggulangan menunjukkan respons terhadap dampak negatif yang sudah ada, dengan berbagai
tindakan perbaikan dan rehabilitasi.
Pengelolaan lingkungan hidup juga harus mempertimbangkan aspek ekonomi dan sumber daya. Artinya,
strategi yang diusulkan harus tidak hanya berkelanjutan dari sudut pandang lingkungan, tetapi juga
ekonomis dalam pelaksanaannya dan dapat diterapkan dengan sumber daya yang ada. Hal ini
menandakan perlunya keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan keberlanjutan ekonomi.
Pemantauan lingkungan hidup dijelaskan sebagai alat evaluasi untuk memastikan bahwa rencana
pengelolaan lingkungan hidup berjalan secara efektif dan efisien. Proses ini melibatkan serangkaian
kegiatan, termasuk pengukuran, pengambilan sampel, pengamatan, dan pengumpulan informasi secara
berkala. Tujuannya adalah untuk memantau perubahan lingkungan seiring waktu dan menilai dampak
dari kegiatan pembangunan Kawasan Industri IWIP. Hasil pemantauan ini nantinya akan disampaikan
kepada instansi terkait, seperti lembaga pemerintah dan masyarakat setempat, untuk mendukung
transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan lingkungan hidup.
6.1.3. Pendekatan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan
Hidup
Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup terhadap pengembangan Kawasan Industri Indonesia Weda
Bay Industrial Park oleh PT IWIP di Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara melibatkan
beberapa pendekatan, yaitu teknologi, sosial ekonomi, dan institusi. Pendekatan teknologi berfokus pada
penggunaan teknologi yang ramah lingkungan. Pendekatan sosial ekonomi mempertimbangkan dampak
ekonomi dan sosial dari kegiatan industri, sementara pendekatan institusi menyangkut kerangka kerja
dan kebijakan yang mengatur pengelolaan lingkungan.
Teknis pemantauan lingkungan hidup melibatkan berbagai metode. Untuk aspek geofisik-kimia dan
biologi, pengukuran, sampling, analisis laboratorium, observasi, pengamatan, dan wawancara digunakan.
Sementara itu, untuk aspek sosial-ekonomi-budaya dan kesehatan masyarakat, observasi dan wawancara
dengan menggunakan kuesioner terhadap penduduk dilakukan untuk memahami persepsi mereka
terhadap pembangunan kawasan industri serta mendapatkan data prevalensi penyakit dari fasilitas
kesehatan.
6.1.4. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
Dampak Penting
[Link]. Tahap Prakonstruksi
Dampak Lingkungan yang Dikelola
1. Kehilangan lahan garapan
o Kehilangan lahan garapan disebabkan oleh kegiatan pengadaan lahan.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Melakukan sosialisasi dan konsultasi rencana pengadaan lahan pengembangan
kawasan industri;
Melakukan pendekatan dengan masyarakat dan ketua adat;
Mengumpulkan informasi mengenai status lahan dan area yang telah digunakan
atau ditempati oleh penduduk;
Menelusuri dan mencatat sejarah kepemilikan lahan untuk mencegah pengakuan
kepemilikan ganda dari anggota keluarga pemilik lahan;
Kesepakatan nilai ganti untung (dengan mempertimbangkan asas pemisahan
horizontal berdasarkan jenis tanaman dan bangunan yang ada diatasnya);
Melakukan koordinasi dengan pihak instansi terkait.
o Rencana pemantauan:
Analisis data jumlah pemilik lahan dan luas lahan yang dibebaskan yang telah
ditabulasi secara deskriptif kuantitatif dan/atau kualitatif.
2. Kehilangan Mata Pencaharian
o Kehilangan Mata Pencaharian dapat diakibatkan oleh kegiatan pengadaan lahan.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Sosialisasi rencana pembebasan lahan
Pendekatan dengan masyarakat dan ketua adat
Pengukuran luas penguasaan lahan
Kesepakatan nilai ganti untung.
Melakukan koordinasi dengan pihak instansi terkait.
o Rencana pemantauan:
Tabulasi dan deskripsikan hasil pengumpulan data secara kuantitatif dan/atau
kualitatif untuk perubahan mata pencaharian dari warga yang dibeli lahannya.
3. Perubahan Pola Interaksi Sosial
o Perubahan Pola Interaksi Sosial disebabkan oleh kegiatan pengadaan lahan.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Sosialisasi rencana pembebasan lahan
Pendekatan dengan masyarakat dan ketua adat
Pengukuran luas penguasaan lahan
Kesepakatan nilai ganti untung.
Melakukan koordinasi dengan pihak instansi terkait.
o Rencana pemantauan:
Tabulasi dan deskripsikan hasil pengumpulan data secara kuantitatif dan/atau
kualitatif untuk perubahan mata pencaharian dari warga yang dibeli lahannya.
4. Perekonomian Kawasan
o Perekonomian Kawasan disebabkan oleh kegiatan pengadaan lahan.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Sosialisasi rencana pembebasan lahan
Pendekatan dengan masyarakat dan ketua adat
Pengukuran luas penguasaan lahan
Kesepakatan nilai ganti untung.
Melakukan koordinasi dengan pihak instansi terkait.
o Rencana pemantauan:
Data produksi komoditas unggulan yang diperoleh dibandingkan dengan
produksi tahun sebelumnya dan dianalisis secara deskriptif kualitatif dan/atau
kuantitatif.
5. Gangguan Keamanan
o Gangguan Keamanan dapat diakibatkan karena kegiatan pengadaan lahan.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Sosialisasi rencana pembebasan lahan
Pendekatan dengan masyarakat dan ketua adat
Pengukuran luas penguasaan lahan
Kesepakatan nilai ganti untung.
Melakukan koordinasi dengan pihak instansi terkait.
o Rencana pemantauan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif dan/atau
kualitatif untuk perubahan mata pencaharian dari warga yang dibeli lahannya.
6. Peningkatan potensi konflik
o Peningkatan potensi konflik dapat disebabkan oleh kegiatan pengadaan lahan.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Melakukan sosialisasi dan konsultasi rencana pengadaan lahan pengembangan
kawasan industri;
Melakukan pendekatan dengan masyarakat dan ketua adat;
Mengumpulkan informasi mengenai status lahan dan area yang telah digunakan
atau ditempati oleh penduduk;
Menelusuri dan mencatat sejarah kepemilikan lahan untuk mencegah pengakuan
kepemilikan ganda dari anggota keluarga pemilik lahan;
Kesepakatan nilai ganti untung (dengan mempertimbangkan asas pemisahan
horizontal berdasarkan jenis tanaman dan bangunan yang ada diatasnya);
Melakukan koordinasi dengan pihak instansi terkait.
o Rencana pemantauan:
Tabulasi dan analisis deskriptif serta melakukan evaluasi tingkat kecenderungan
dan tingkat kritis.
7. Penurunan pendapatan masyarakat
o Disebabkan oleh kegiatan pengadaan lahan.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
o Melakukan pengelolaan terhadap dampak primer dan sekunder, yaitu kehilangan lahan
garapan dan perubahan mata pencaharian.
o Rencana pemantauan:
Data tingkat pendapatan masyarakat ditabulasi dan dibandingkan dengan
tingkapendapatan masyarakat tahun [Link] tabulasi data kemudian
dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan/atau kualitatif.
8. Peningkatan keresahan masyarakat
o Peningkatan keresahan masyarakat disebabkan oleh kegiatan pengadaan lahan.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Melakukan sosialisasi dan konsultasi rencana pengadaan lahan pengembangan
kawasan industri;
Melakukan pendekatan dengan masyarakat dan ketua adat;
Mengumpulkan informasi mengenai status lahan dan area yang telah digunakan
atau ditempati oleh penduduk;
Menelusuri dan mencatat sejarah kepemilikan lahan untuk mencegah pengakuan
kepemilikan ganda dari anggota keluarga pemilik lahan;
Kesepakatan nilai ganti untung (dengan mempertimbangkan asas pemisahan
horizontal berdasarkan jenis tanaman dan bangunan yang ada diatasnya);
Melakukan koordinasi dengan pihak instansi terkait.
o Rencana pemantauan:
Tabulasi dan analisis deskriptif dan melakukan evaluasi tingkat kecenderungan
dan tingkat kritis.
[Link]. Tahap Konstruksi
Dampak Lingkungan yang Dikelola
1. Penurunan kualitas udara
o Penurunan kualitas udara diakibatkan oleh:
Mobilisasi peralatan dan material
Penyiapan lahan kawasan industri (Area pengembangan)
Peningkatan kapasitas pelabuhan,
Peningkatan kapasitas PLTU
Peningkatan kapasitas bandara-
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
Pembangunan fasilitas penunjang tambahan (Akomodasi, PLTS, Tailing Storage
facility & Water Intake)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Melakukan penyiraman minimal tiga kali sehari menggunakan water spraying
truck pada ruas jalan untuk mobilisasi dan area yangdibuka untuk konstruksi,
terutama pada saat musim kemarau dengan mengacu kepada prosedur
penyiraman jalan;
Membersihkan debu pada roda kendaraan setiap hari setelah kendaraan
digunakan di lokasi yang ditetapkan di dalam basecamp;
Membersihkan ceceran material disepanjang jalan yang dilalui kendaraan
material konstruksi;
Melakukan pemeriksaan dan perawatan berkala untuk setiap kendaraan/alat
berat yang digunakan;
Melakukan pemeriksaan dan perawatan berkala untuk setiap generator diesel.
o Rencana pemantauan:
Tabulasi data dan membandingkan dengan baku mutu yang berlaku serta
melakukan penghitungan beban emisi, penghitungan, dan indeks pencemaran.
2. Peningkatan kebisingan
o Peningkatan kebisingan disebabkan oleh:
Mobilisasi peralatan dan material
Penyiapan lahan kawasan industri (Area pengembangan)
Peningkatan kapasitas pelabuhan,
Peningkatan kapasitas PLTU
Peningkatan kapasitas bandara-
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
Pembangunan fasilitas penunjang tambahan (Akomodasi, PLTS, Tailing Storage
facility & Water Intake)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Pengaturan kecepatan kendaraan pengangkut di jalur mobilisasi alat dan
material, terutama di permukiman maksimal 20 km/jam sesuai dengan prosedur
dan ketentuan yang berlaku;
Mobilisasi peralatan dan material dilakukan hanya jam kerja siang hari, saat
umumnya masyarakat juga bekerja di luar rumah dan apabila pada saat kondisi
tertentu yang dilaksanakan pada malam hari diharuskan melakukan koordinasi
dengan pemerintah dan warga setempat;
Kendaraan yang digunakan adalah kendaraan yang telah layak pakai;
Sosialisasi rencana mobilisasi peralatan dan material;
Pendekatan dengan masyarakat yang berada di jalur mobilisasi;
o Rencana pemantauan:
Hasil pengukuran digunakan untuk menghitung Ls, Lm, dan Lsm dan
dibandingkan dengan baku tingkat kebisingan sesuai Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996.
3. Peningkatan air limpasan
o Peningkatan air limpasan karena penyiapan lahan kawasan industri (Area
pengembangan)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Memadatkan tanah urugan untuk mencegah terjadinya erosi;
Menyediakan saluran drainase di sekitar lokasi proyek;
Pemasangan sediment trap pada saluran drainase dan outlet kolam penampung
sedimen (settling pond) dan pemeliharaan settling pond
Menyesuaikan topografi sedapat mungkin mendekati kondisi alami daerah
tangkapan air seiring dengan penimbunan tanah pucuk, pembangunan saluran
drainase buatan, dan upaya revegetasi.
o Rencana pemantauan:
Data pengamatan dan perhitungan debit run off ditabulasi dan dideskripsikan
secara kuantitatif dan/atau kualitatif.
4. Peningkatan abrasi dan sedimentasi
o Peningkatan abrasi dan sedimentasi diakibatkan oleh:
Peningkatan kapasitas pelabuhan
Peningkatan kapasitas bandara
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Melakukan pemilihan material reklamasi yang tepat dan pemadatan yang
memadai untuk menghindari abrasi jangka panjang;
Pembuatan breakwater permanen/seawall/penanaman kembali hutan bakau di
pesisir kawasan dan sekitar yang berpotensi mengalami abrasi.
Penanaman pohon yang bisa tahan pada lingkungan asam dan salinitas tinggi,
tanah berpasir dan sedikit unsur hara. Contohnya : cemara udang ( Casuarina
equisetifolia var incana)
Pemeliharaan dan transportasi terumbu karang, karena dapat mengurangi
kekuatan gelombang dan arus laut yang akan menyentuh pantai.
o Rencana pemantauan:
Data garis pantai berdasarkan historis peta citra satelit per satuan waktu
dianalisis secara secara kuantitatif dan/atau kualititaf untuk mengetahui tingkat
perubahan garis pantai.
5. Penurunan keanekaragaman vegetasi
o Penurunan keanekaragaman vegetasi diakibatkan oleh:
Peningkatan kapasitas pelabuhan
Peningkatan kapasitas bandara
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Mengidentifikasi spesies flora yang memiliki nilai konservasi dan nilai ekonomi;
Melakukan kegiatan pembukaan lahan sesuai dengan kebutuhan;
Menyiapkan kebun bibit (nursery ground) terutama untuk jenis flora yang
memiliki nilai konservasi dan nilai ekonomi, termasuk jenis–jenis mangrove;
Melakukan revegetasi jenis tanaman yang memiliki nilai konservasi dan nilai
ekonomi di area yang akan dijadikan RTH;
Revegetasi menghindari penggunaan tanaman bersifat invasif;
Menyiapkan plot permanen untuk menentukan dampak terhadap struktur hutan
dan sebagai area konservasi untuk flora dan fauna.
o Rencana pemantauan:
Data pengamatan dianalisis dengan menghitung kerapatan, kerapatan relatif,
dominansi, dominansi relatif, frekuensi, frekuensi relatif, indeks keanekaragaman
jenis, Indeks Nilai Penting; Identifikasi status konservasinya sesuai dengan
peraturan yang berlaku dan identifikasi jenis-jenis spesies yang dilindungi.
Data pengamatan dianalisis dengan menghitung kerapatan, kerapatan relatif,
dominansi, dominansi relatif,frekuensi, frekuensi relatif, indeks keanekaragaman
jenis, Indeks Nilai Penting dan Identifikasi status konservasinya sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Tabulasi jenis- jenis spesies dilindungi dan dievaluasi
kecenderungan, tingkat kritis dengan baku ilmiah.
6. Penurunan keanekaragaman satwa liar
o Penurunan keanekaragaman satwa liar diakibatkan oleh:
Peningkatan kapasitas pelabuhan
Peningkatan kapasitas bandara
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Mengidentifikasi spesies satwa liar yang memiliki nilai konservasi dan nilai
ekonomi;
Melakukan monitoring satwa liar di sekitar tapak proyek yang diperkirakan
sebagai tempat migrasi satwa liar akibat pembukaan lahan yang masih berada
dalam batas ekologis;
Memasang tanda “Dilarang Berburu Binatang yang Dilindungi” di tempat yang
strategis;
Mengendalikan satwa liar yang menjadi hama tanaman komoditas lokal;
Menyiapkan dan mengimplementasikan kebijakan pelarangan pekerja IWIP dan
kontrakor untuk berburu, memelihara, memperdagangkan satwa dan tumbuhan
yang dilindungi.
o Rencana pemantauan:
Tabulasi hasil plot sampel; Perhitungan potensi serangan hama dan analisis data
dilakukan dengan cara tabulasi data untuk mengetahui tingkat kepadatan dan
keanekaragaman serta diidentifikasi untuk status konservasinya sesuai dengan
peraturan yang berlaku sedangkan untuk evaluasi kecenderungan, tingkat kritis
dengan baku ilmiah.
7. Penurunan keanekaragaman Biota Perairan Laut
o Penurunan keanekaragaman Biota Perairan Laut karena peningkatan kapasitas
pelabuhan.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Pemilihan material reklamasi dengan kadar butiran halus (lanau dan lempung)
rendah dan pencucian material sebelum ditempatkan di laut;
Pemasangan bundwall/cofferdam sebelum penempatan material reklamasi di
laut;
Pemasangan silt curtain di laut di wilayah reklamasi untuk mencegah melebarnya
sebaran sedimen;
o Rencana pemantauan:
Sampel plankton, makrozoobenthos, dan nekton dianalisis di laboratorium dan
diidentifikasi jenisnya serta dihitung kelimpahan, indeks diversitas, indeks
keseragaman (Evenness), dan indeks dominansi dan kemudian dievaluasi
kecenderungan, tingkat kritis dengan baku ilmiah dan penaatan lingkungan.
8. Penurunan tutupan terumbu karang
o Penurunan tutupan terumbu karang disebabkan oleh peningkatan kapasitas pelabuhan.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Menyiapkan area transplantasi terumbu karang untuk penggantian karang yang
rusak akibat kegiatan peningkatankapasitas pelabuhan dari kegiatan reklamasi
dengan luasan minimal 68 ha;
Melakukan monitoring dan pemeliharaan secara berkala di area yang dijadikan
pemulihan (transplantasi karang).
o Rencana pemantauan:
Penentuan kondisi terumbu karang sesuai dengan Keputusan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 04/MENLH/02/2001 yang menjelaskan baku mutu
kategori kondisi terumbu karang. Kategori kondisi terumbu karang berdasarkan
baku mutu tersebut didasari dari tutupan karang hidup, yaitu jika berada
diantara 0–24,9% adalah kategori buruk, 25–49,9% adalah sedang, 50–
74,9%adalah baik, dan 75-100% adalah sangat baik. Hasil pemantauan
kemudian dilakukan evaluasi kecenderungan dan tingkat kritis terhadap
ekosistem terumbu karang.
9. Perubahan mata pencaharian
o Perubahan mata pencaharian disebabkan karena penerimaan tenaga kerja konstruksi.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Penerimaan tenaga kerja lokal sesuai dengan kualifikasinya;
Mencegah pengaruh negatif dari aktivitas konstruksi terhadap kehidupan
masyarakat;
Memberikan pengupahan sesuai dengan UMR;
Menetapkan SOP K3 pada semua komponen kegiatan dan mengawasi dengan
ketat agar semua karyawan patuh pada ketentan K3.
o Rencana pemantauan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif
dan/atau kualitatif. Evaluasi kecenderungan dan tingkat krutis dengan
pendekatan ilmiah.
10. Perubahan pola interaksi sosial
o Perubahan pola interaksi sosial dapat disebabkan oleh penerimaan tenaga kerja
konstruksi.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Mengutaman penerimaan tenaga kerja lokal sesuai dengan kualifikasinya;
Menyiapkan program sosialisasi kepada pemangku kepentingan ( stakeholders)
mengenai dampak-dampak terkait dengan kegiatan proyek;
Sosialisasi rencana penerimaan tenaga kerja lokal termasuk jumlah dan syarat-
syaratnya;
Mengkoordinasikan kegiatan konstruksi dengan instansi pemerintah yang
berwenang khususnya kecamatan dan desa untuk meminimalisasi migrasi yang
tidak terkontrol.
o Rencana Pemantauan:
Data hasil pengamatan ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif dan dievaluasi
tingkat kecenderungan, tingkat kritis dan penaatan terhadap perubahan pola
interaksi sosial dan perubahan norma dan tata nilai sosial.
11. Peningkatan masyarakat pendatang
o Peningkatan masyarakat pendatang dapat disebabkan oleh penerimaan tenaga kerja
konstruksi.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Sosialisasi rencana penerimaan tenaga kerja lokal termasuk jumlah dan syarat-
syaratnya;
Pendataan dan pelaporan terhadap tenaga kerja pendatang baik dari tenaga
nasional maupun asing kepada penyelenggara pemeritahan di bidang
administrasi kependudukan;
Program sosialisasi dan edukasi kepada para pekerja pendatang untuk
menghormati kebiasaan dan adat istiadat dan nilai budaya yang dianut oleh
penduduk lokal.
o Rencana pemantauan:
Hasil pengumpulan dataditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif
dan/atau kualitatif dan dievaluasi tingkat kecenderungan tingkat kritis terhadap
peningkatan jumlah penduduk.
12. Peningkatan inflasi lokal
o Peningkatan inflasi lokal karena penerimaan tenaga kerja konstruksi.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Memprioritaskan penduduk setempat dalam penerimaan tenaga kerja sesuai
dengan kualifikasi yang diperlukan perusahaan;
Melakukan inventarisasi dan pemetaan secara komprehensif mengenai
kebutuhan akan barang dan jasa yang diperlukan oleh perusahaan;
Melakukan pengawasan terhadap ketersediaan kebutuhan barang-barang
pekerja;
Mendorong dan memberdayakan masyarakat lokal untuk mengembangkan usaha
produktif guna memasok kebutuhan bagi para pekerja dan masyarakat lokal
melalui program CSR
o Rencana pemantauan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif dan/atau
kualitatif. Evaluasi tingkat kecenderungan, tingkat kritis terhadap tingkat inflasi
lokal.
13. Peningkatan gangguan keamanan
o Peningkatan gangguan keamanan diakibatkan oleh:
Penerimaan tenaga kerja
Mobilisasi peralatan dan material
Penyiapan lahan kawasan industri (Area pengembangan)
Peningkatan kapasitas pelabuhan,
Peningkatan kapasitas PLTU
Peningkatan kapasitas bandara-
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
Pembangunan fasilitas penunjang tambahan (Akomodasi, PLTS, Tailing Storage
facility & Water Intake)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Menyiapkan program sosialisasi kepada pemangku kepentingan (stakeholders)
mengenai dampak-dampak terkait dengan kegiatan proyek;
Sosialisasi rencana kegiatan secara rutin terhadap masyarakat selama kegiatan
konstruksi untuk pencegahan gangguan keamanan;
Memberikan informasi yang jelas dan transparan tentang pengembangan
kawasan industri;
Sosialisasi rencana penerimaan tenaga kerja lokal termasuk jumlah dan syarat-
syaratnya untuk mencegah terjadinya konflik sosial.
o Rencana pemantauan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif
dan/atau kualitatif dan dilakukan evaluasi tingkat kecenderungan, tingkat kritis
terhadap peningkatan jumlah gangguan kamtibmas.
14. Hilangnya situs arkeologi
o Hilangnya situs arkeologi diakibatkan oleh:
Mobilisasi peralatan dan material
Penyiapan lahan kawasan industri (Area pengembangan)
Peningkatan kapasitas pelabuhan,
Peningkatan kapasitas PLTU
Peningkatan kapasitas bandara-
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
Pembangunan fasilitas penunjang tambahan (Akomodasi, PLTS, Tailing Storage
facility & Water Intake)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Sosialisasi kepada para tenaga kerja untuk tidak melakukan perusakan terhadap
situs arkeologi di Tanjung Uli dan Desa Woekob;
Memasang rambu-rambu peringatan dan larangan di lokasi situs arkeologi yang
telah teridentifikasi;
Menyiapkan dan melaksanakan Prosedur Penemuan Kebetulan yang
menguraikan tindakan yang diperlukan jika ditemukan situs atau artefak warisan
budaya yang sebelumnya tidak dikenal dalam pelaksanaan konstruksi proyek.
o Rencana pemantauan:
Hasil pengamatan ditabulasi dan dideskripsikan secara kualitatif dan kuantitatif,
kemudian dievaluasi tingkat kecenderungan, tingkat kritis dan penaatan terhadap
keberadaan situs arkeologi.
15. Peningkatan potensi konflik
o Peningkatan potensi konflik diakibatkan oleh:
Penerimaan tenaga kerja
Mobilisasi peralatan dan material
Penyiapan lahan kawasan industri (Area pengembangan)
Peningkatan kapasitas pelabuhan,
Peningkatan kapasitas PLTU
Peningkatan kapasitas bandara-
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
Pembangunan fasilitas penunjang tambahan (Akomodasi, PLTS, Tailing Storage
facility & Water Intake)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Sosialisasi rencana penerimaan tenaga kerja lokal termasuk jumlah dan syarat-
syaratnya;
Memberikan informasi yang jelas tentang penerimaan tenaga kerja, status,
sistem upah, hak dan perlindungan nya baik kepada tenaga kerja atau kontraktor
dan sub kontraktor;
Sosialisasi kepada pemangku kepentingan (stakeholders) mengenai dampak-
dampak terkait dengan kegiatan proyek.
o Rencana pemantauan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif
dan/atau kualitatif. Evaluasi tingkat kecenderungan, tingkat kritis terhadap
peningkatan konflik sosial.
16. Peningkatan kesempatan kerjadan permasalahan ketenagakerjaan
o Peningkatan kesempatan kerjadan permasalahan ketenagakerjaan yang disebabkan oleh
penerimaan tenaga kerja konstruksi.
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Memprioritaskan tenaga kerja lokal khususnya penduduk yang berdomisili di
Desa Lelilef Sawai dan Lelilef Waeboelan, Desa Woekob dan Desa Gemaf dan
desa-desa sekitar untuk diterima sebagai tenaga kerja konstruksi sesuai
kebutuhan
Tenaga kerja skill diseleksi sesuai skill yang dibutuhkan
Sosialisasi peraturan perusahaan dan prosedur penanganan pelanggaran hingga
ke pemutusan hubungan kerja.
o Rencana pemantauan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif dan/atau
kualitatif. Kemudian dievaluasi tingkat kecenderungan, tingkat kritis terhadap
peningkatan kesempatan kerja dan permasalahan ketenagakerjaan.
17. Peningkatan peluang usaha
o Peningkatan peluang usaha diakibatkan oleh:
Penerimaan tenaga kerja
Mobilisasi peralatan dan material
Penyiapan lahan kawasan industri (Area pengembangan)
Peningkatan kapasitas pelabuhan,
Peningkatan kapasitas PLTU
Peningkatan kapasitas bandara-
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
Pembangunan fasilitas penunjang tambahan (Akomodasi, PLTS, Tailing Storage
facility & Water Intake)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Memberi peluang penduduk lokal untuk membuka usaha dan menjadi mitra
perusahaan meliputi jasa konsultasi dan konstruksi, pengadaan barang dan
akomodasi, transportasi;
Melakukan inventarisasi dan pemetaan secara komprehensif mengenai
kebutuhan-kebutuhan akan barang dan jasa yang diperlukan oleh IWIP dan
dapat disediakan oleh penduduk lokal yang memenuhi persyaratan yang
ditetapkan IWIP;
Mendorong penyediaan barang dan jasa lokal yang memenuhi standar kualitas
sesuai dengan kapasitas IWIP
o Rencana pemantauan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif
dan/atau kualitatif, kemudian dievaluasi tingkat kecenderungan, tingkat kritis
terhadap peningkatan peluang usaha.
18. Peningkatan pendapatan masyarakat
o Peningkatan pendapatan masyarakat diakibatkan oleh:
Penerimaan tenaga kerja
Mobilisasi peralatan dan material
Penyiapan lahan kawasan industri (Area pengembangan)
Peningkatan kapasitas pelabuhan,
Peningkatan kapasitas PLTU
Peningkatan kapasitas bandara-
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
Pembangunan fasilitas penunjang tambahan (Akomodasi, PLTS, Tailing Storage
facility & Water Intake)
o Pengelolaan dilakukan terhadap dampak primer peningkatan kesempatan kerja dan
peningkatan peluang usaha, sehingga pendapatan masyarakat dapat meningkat dan
angka kemiskinan menurun.
o Metode pemantauan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif
dan/atau kualitatif, kemudian dievaluasi tingkat kecenderungan, tingkat kritis
terhadap peningkatan pendapatan masyarakat
19. Peningkatan keresahan masyarakat
o Peningkatan keresahan keamanan diakibatkan oleh:
Penerimaan tenaga kerja
Mobilisasi peralatan dan material
Penyiapan lahan kawasan industri (Area pengembangan)
Peningkatan kapasitas pelabuhan,
Peningkatan kapasitas PLTU
Peningkatan kapasitas bandara-
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
Pembangunan fasilitas penunjang tambahan (Akomodasi, PLTS, Tailing Storage
facility & Water Intake)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Dampak primer potensi konflik akibat pengadaan lahan, peningkatan penduduk
pendatang akibat perekrutan tenaga kerja.
Sosialisasi kepada pemangku kepentingan (stakeholders), terutama masyarakat
nelayan, mengenai rencana pengembangan pelabuhan khusus dan dampak-
dampak terkait.
o Metode pemantauan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif dan/atau
kualitatif dan dilakukan evaluasi tingkat kecenderungan, tingkat kritis dan
penaatan terhadap tingkat keresahan dan kecemburuan sosial masyarakat.
20. Peningkatan kecelakaan lalu lintas darat dan kerusakan jalan
o Peningkatan kecelakaan lalu lintas darat dan kerusakan jalan diakibatkan oleh:
Mobilisasi peralatan dan material
Penyiapan lahan kawasan industri (Area pengembangan)
Peningkatan kapasitas pelabuhan,
Peningkatan kapasitas PLTU
Peningkatan kapasitas bandara-
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
Pembangunan fasilitas penunjang tambahan (Akomodasi, PLTS, Tailing Storage
facility & Water Intake)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Pengatur lalu lintas di titik keluar-masuknya kendaraan proyek dan titik
persimpangan jalan;
Pemasangan rambu-rambu lalu lintas pengaturan kecepatan kendaraan
pengangkut di jalur mobilisasi alat dan material terutama di permukiman
maksimal 20 km/jam sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku dan
menempatkan traffic count serta membuat papan pemberitahuan yang hurufnya
memantulkan cahaya tempat pengerjaan diruas jalan, serta memasang tanda
marka parker untuk kendaran di dalam areal kegiatan;
Memperbaiki jalan yang rusak.
o Rencana pemantauan:
Data hasil pengamatan ditabulasi dan dianalisis V/C ratio dengan klas jalan untuk
menentukan tingkat kejenuhan kemudian dievaluasi tingkat kecenderungan,
tingkat kritis terhadap kepadatan lalu lintas.
21. Peningkatan arus lalu lintas laut dan potensi kecelakaan laut
o Peningkatan arus lalu lintas laut dan potensi kecelakaan laut diakibatkan oleh:
Mobilisasi peralatan dan material
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Memasang rambu-rambu Jalur pelayaran dari pelabuhan khusus ke jalur
pelayaran umum;
Memasang rambu-rambu batas area konstruksi pelabuhan yang berbahaya bagi
nelayan.
o Metode pemantauan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif dan/atau
kualitatif, kemudian dievaluasi tingkat kecenderungan, tingkat kritis terhadap
tingkat gangguan transportasi laut.
22. Penurunan daya dukung fasilitas kesehatan dan peningkatan gangguan kesehatan masyarakat
o Penurunan daya dukung fasilitas kesehatan dan peningkatan gangguan kesehatan
masyarakat diakibatkan oleh:
Penerimaan tenaga kerja
Mobilisasi peralatan dan material
Penyiapan lahan kawasan industri (Area pengembangan)
Peningkatan kapasitas pelabuhan,
Peningkatan kapasitas PLTU
Peningkatan kapasitas bandara-
Pembangunan dan penerimaan pabrik – pabrik (Tenant)
Pembangunan fasilitas penunjang tambahan (Akomodasi, PLTS, Tailing Storage
facility & Water Intake)
o Beberapa arahan pengelolaan dampak antara lain:
Untuk pencegahan dampak terhadap kualitas udara dan kebisingan sebagaimana
diuraikan pada aspek fisik-kimia;
Melaksanakan pemeriksaan kesehatan karyawan pada awal masuk kerja dan
setahun sekali;
Membuat papan informasi terkait penggunaan APD dalam bekerja di tapak
proyek.
o Rencana pemantauan lingkungan:
Hasil pengumpulan data ditabulasi dan dideskripsikan secara kuantitatif dan/atau
kualitatif; Evaluasi tingkat kecenderungan, tingkat kritis terhadap peningkatan
dan perubahan prevalensi penyakit berbasis lingkungan.