a
empat
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@[Link]
ANNA baru tiba di rumah ketika hari sudah
malam. Bincang-bincang dengan Airin dan Cessa
sangat menyenangkan, hingga Anna sendiri lupa
waktu. Melihat Airin, sama dengan melihat
dirinya sendiri ketika baru memulai karier
menulis. Airin persis dirinya. Semangatnya,
imajinasi dan kekuatannya dalam bermain kata-
kata mampu memainkan emosi pembaca. Karena
itu Anna tak ragu untuk menurunkan ilmunya
pada Airin. Dia berani memprediksi Airin akan
menjadi penulis berbakat jika ada kesempatan.
Rumah gelap gulita. Anna menghidupkan
saklar lampu depan lalu beranjak menuju ruang
tengah.
Klik.
Lampu ruang tengah terang benderang.
Untuk sesaat Anna mengerjap silau, setelah
akhirnya terbelalak melihat kertas-kertas
berserakan di lantai. Anna berputar. Ruangan
acak-acakan. Buku-buku, koran dan catatan
39
tangannya berserakan seolah habis diacak-acak.
Anna buru-buru memeriksa laptop. Laptop dalam
posisi menyala. Anna mengernyit heran. Jendela
dalam keadaan tertutup, jadi...?
"Perasaan tadi udah dimatiin ...."
Windows Word Document terpampang.
Sebuah judul 'Pastor' dalam posisi zoom in
memenuhi layar. Anna segera memperkecil layar
sambil mengecek ketikannya.
"Gak ada yang hilang ... kenapa ya?" Anna
termangu-mangu.
Tanpa disadarinya, sebuah bayangan hitam
melintas cepat di belakangnya. Bulu kuduk Anna
terasa merinding. Anna menoleh ke sekeliling.
Kosong.
"Mungkin tadi memang lupa matiin laptop.
Ah, udahlah," katanya menghibur diri.
Anna menepis bayangan aneh yang seketika
bercokol di otaknya.. Anna berjongkok me-
munguti kertas-kertas yang bertebaran di lantai.
Ketika tangannya hendak menjumput sebuah
kertas.
"AAAAHHH...!!" teriaknya kaget. Sepa-
sang kaki kumal dan pucat dalam posisi melayang
berdiri di depannya.
40
Reflek, Anna langsung beringsut mundur dan
panik. Bruk! Anna terjengkang. Matanya
melotot, bayangan itu hilang. Napas Anna
memburu, sepasang kaki pucat berurat biru itu
benar-benar ada di depannya.
"Hhhh .. hhh .... hh ...," hanya terdengar
desahan napasnya yang ketakutan. Anna
menguatkan dirinya.
Tiba-tiba PRANGG ... kaca jendela di
sampingnya meledak. Serpihannya bertaburan
dan mengepung Anna. Anna terpana tanpa
sempat menghindar. Serpihan kaca menghantam
tubuh Anna, sebagian menusuk kornea mata
Anna.
" A W W H H H ...." Anna berteriak kesakitan
sambil memegang matanya yang berdarah.
Ruangan menjadi suram. Anna berdiri dan
berusaha meraih apa saja untuk dijadikan
pegangan, tapi sia-sia. Tubuhnya tertabrak
benda-benda di sekelilingnya. Rasa pedih, sakit
dan perih menghujamnya bersamaan. Matanya
terasa terkoyak, membuat wajahnya berlumuran
darah. Dia meraba sebisanya, meniti tembok
menuju kamar. Darah yang membasahi wajahnya
membuatnya semakin sulit melihat. Sia-sia dan
putus asa. Entah di mana letak pintu kamar. Anna
41
terhuyung-huyung lemah, kembali meniti tembok
mencari meja telpon.
Sebuah bayangan hitam muncul dari depan
dan menabrak Anna. Anna terpental ke tembok,
kepalanya terlebih dulu membentur tembok,
BUG!! Anna jatuh terjerembap.
"AAAHHH ...," Anna mengerang kesakitan.
Sekarang rasa sakit menyerangnya dari
segala arah. Pandangan buram, matanya semakin
pedih karena terus mengeluarkan darab, matanya
semakin kabur dan kabur, bingga dia melihat
bayangan hitam pekat berdiri di depannya dan
sesuatu terulur, mencakar wajahnya. Anna
menjerit kesakitan.
***
Rumah Airin
Airin baru saja pulang dan mengunci pintu
depan. Rumah sepi dan lengang. Rumah mungil
itu hanya ditinggali berdua, Airin dan ibunya.
Teringat sesuatu, Airin kembali murung.
Melewati ruang keluarga, tampak Rona; ibu
Airin duduk di depan kursi goyang dengan
pandangan kosong ke televisi yang telah padam.
Airin berjongkok di dekatnya, menatap sedih.
42
Rona hampir tak pernah bicara. Dia selalu ter-
paku dan mematung di kursi goyangnya, entah
kenapa. Wajah perempuan separuh baya itu
tampak lebih tua dari usia yang sebenarnya.
Beberapa bagian rambut memutih, kerut
wajahnya menyiratkan duka yang dalam. Sejak
bercerai dari suaminya, Rona terpukul. Dia tak
siap. Tak ada yang siap dengan pengkhianatan
dari orang yang diciritai.
"Ma, mama sudah makan?" tanya Airin. Tak
ada sahutan. Airin menghela napas, "kalau butuh
sesuatu panggil Airin yah. Airin di kamar."
Airin beranjak, ingin rasanya menceritakan
pertemuannya dengan Anna tadi sore. Bahwa
betapa senangnya dia bertemu penulis idola, dan
betapa b e r s y u k u r n y a A i r i n bahwa A n n a
menyukai naskahnya. Naskah Airin berpeluang
terbit, Airin akan jadi penulis, Ma. Airin meng-
urungkan niatnya, menyimpan ceritanya untuk
dirinya sendiri.
Di kamar, Airin menghempas tas ranselnya
sembarang. Kesedihan kembali menggelayuti
hatinya. Aku harus membuat mama bangga, mungkin
itu akan sedikit menghibur hatinya ....
Airin teringat sesuatu. Dia buru-buru menel-
pon Anna, bermaksud untuk mengucapkan
terima kasih atas waktu yang diluangkan Anna
43
sore itu. Mbak Anna udah sampe rumah belum ya?
Hmmm ... aku telpon ke hape aja ah ....
Tutt .. tuttt ... terdengar nada sambung.
Automatic answer.
"Hallo ... Mbak Anna ... makasih buat ...
hallo ...," terdengar suara ribut-ribut di seberang.
Airin terpana heran.
"Mbak Anna .. hallo ...."
***
Rumah Anna, ruang tengah
Anna terbanting. Cakaran entah oleh apa
telah menggores luka yang cukup dalam. Anna
hanya bisa menutup wajahnya yang berdarah.
Terdengar nada ringtone handphone berbunyi.
Anna menoleh ke asal suara, seketika dia sadar
bahwa handphone tergeletak tak jauh darinya.
Anna merayap sebisanya meraib handphone.
~ Automatic Answer - Loudspeaker ~
"Hallo ... Mbak Anna ... makasih buat... hallo
..." terdengar suara Airin di seberang. Kecil tapi
Anna segera tabu suara khas Airin,
"Ai-rinnhhh...," teriaknya.
"Mbak Anna ..hallo...."
"AIRRIINNNHHH ...," teriaknya lagi.
Suaranya semakin serak, sepasang tangan
bergerak meraih lehernya. Anna berontak, dia
44
menendang-nendang. Bayangan hitam meng-
hempas tubuh Anna. Anna melayang membentur
pintu kamar. Anna bangun, menggenggam
handphone-nya erat-erat dan merayap memasuki
kamar. Kengerian memenuhi segala penjuru
rumah. Anna merasa sesuatu mencengkeram
kakinya dan menaikinya. Anna terus merayap,
hingga mentok membentur tembok. Anna
berbalik, dari pandangannya yang berdarah, dia
melihat sosok wanita berkepang dalam balutan
kebaya tradisional. Matanya mendelik perih.
"Mbak Anna ...," suara loudspeaker telpon.
***
"Mbak Anna, kenapa Mbak? MBAK!!"
Airin berteriak panik.
"Terus-in ce-rit-ta-ku ... te-rus-in ... KKhhh
"MBAK ANNA!! MBAK A N N A
KENAPA?! MBAK!!"
Klik! Sambungan terputus.
Airin melotot tegang campur bingung.
Tanpa sadar dia menghempaskan telponnya.
Mbak Anna kenapa? Itu bukan lagi action kan? Itu
... suara itu .... Airin bergidik. Dia buru-buru
meraih handphone dan kembali men-dial. Tak ada
45
sahutan. Pun dicoba nomor rumah, tetap tak ada
sahutan. Airin frustrasi.
Gue harus gimana? Gimana.... Gue ... gue
mesti pergi. Gue mesti pergi ke rumah Mbak
Anna ....
A i r i n segera mengganti bajunya dan
menyambar ranselnya. Melewati ruang keluarga,
dia melibat Rona masih dalam posisi duduk yang
sama. Airin cepat-cepat melintas.
"Airin, mau kemana kamu?" tanya Rona tiba-
tiba.
"Airin pergi, Ma, sebentar saja," pamitnya
buru-buru.
Rona tetap tanpa ekpresi, melengos seakan
marah pada diri sendiri.
Airin menghadang taksi. Setelah memberi-
tahukan alamat, dia segera meluncur ke rumah
Anna.
***
Rumah Anna sepi dan sunyi. Airin mem-
beranikan diri mengetuk pintu. Tak ada sahutan.
Airin memutar handle pintu, ternyata pintu tidak
dikunci. Airin masuk ke ruangan depan, kosong.
Menuju ruang tengah, suasana acak-acakan.
Kertas-kertas berserakan, serpihan kaca dan
46
ceceran darah di lantai. Airin menegang. Dia
segera mencari Anna.
"Mbak Anna ... Mbak!"
Airin memasuki dapur. Kosong. Airin
kembali ke ruang tengah, dan melihat pintu kamar
yang terbuka lebar. Airin segera berlari menuju
kamar tidur. Kamar tidur lebih berantakan lagi.
Sprei awut-awutan. Di sebuah pojok kamar, Anna
terduduk menyender tembok. W a j a h n y a
berlumuran darah, matanya melotot dengan lidah
menjulur.
"Aahh ...," Airin menutup matanya. Ngeri.
Airin mengintip, dia memberanikan diri
mendekati Anna. Memegang pergelangan tangan
Anna dan kembali menjerit.
"Ya Tuhan!!" Airin beringsut mundur. Anna
sudah mati. "Mbak Anna ...," rasa duka
menyelimutinya. "Mbak ... tidak ...."
Anna sudah mati!!
"Ya Tuhan, rasanya baru tadi sore ... Mbak
Anna...."
Sebuah handphone berlumuran darah ter-
genggam di tangannya. Airin ingat telponnya tadi,
itu adalah pesan terakhir Anna ....
Airin. membuang muka, pandangannya
berhenti pada bekas guntingan klipping yang
47
tertempel di dinding kamar, tentang HANTU
P A S T O R KEPALA B U N T U N G JERUK
PURUT. Beberapa sketsa hantu kepala buntung
tertempel di sampingnya. Airin berdiri perlahan.
Napasnya berpacu. Supranatural... pasti ini yang
dimaksud Mbak Anna. Dia menguatkan hatinya.
Wajahnya yang sedih terlihat mengeras. la segera
mencopoti satu per satu kliping dan gambar-
gambar yang tergantung di dinding. Sebuah
guntingan koran dengan foto seorang nenek tua
menjadi klipping terakhir yang dilucutinya.
' N Y A I SUKAT, KEDEKATANNYA
DENGAN HANTU KEPALA BUNTUNG
....'
Airin tak lagi konsen. Dia banya melihat
sekilas headline dan segera pergi dengan perasaan
kacau. Melewati ruang tengah, Airin melihat
laptop dalam keadaan hancur. Sebuah flashdisc
tercolok di salah satu port. Tanpa pikir panjang
Airin segera menyambar flashdisc tersebut dan
buru-buru keluar rumah.
***
48
Rumah Airin, dini hari
Butuh waktu lama untuk menenangkan
dirinya yang kacau. Bayangan kematian Anna
menghantui pikirannya. Airin ingat pesan
terakhir Anna, Airin segera menyambar flashdisc
dan mencolokkannya ke port laptop.
New Port ~ Browse - Copy ~ Paste.
Airin sibuk men-transfer isi flashdisc ke dalam
laptop. Seperti dugaan Airin, flashdisc itu berisi
data terakhir ketikan naskah Anna. Airin
membacanya. Perasaan tak enak menjalari
dirinya.
"Teruskan ceritaku ...," kata-kata Anna
terbayang. "Supranatural...."
Pasti ini yang dimaksud Mhak Anna. Airin
melirik guntingan klipping yang berserakan di
mejanya. Lagi, terlintas bayangan kematian Anna
yang tak wajar. Airin bergidik. Polisi akan
menemukannya besok....
***
Airin ada di padang rumput, berlari-lari
ketakutan. Sesekali dia menoleh ke belakang,
sesuatu mengejarnya.
"Tolongg ... TOLONG!!" Airin menjerit
sekeras-kerasnya tapi tak ada yang mendengar.
49
Rumput-rumput liar setinggi paha mem-
buatnya susah bergerak. Kaki Airin tersangkut,
dia terjatuh. Airin merayap-rayap berusaha
bangkit, tapi langkahnya tertahan.
Sepasang kaki pucat berurat biru berdiri di
depannya. Airin menengadah, seraut wajah pucat
tertutup rambut dalam balutan kebaya tradisional
menunduk menatapnya. Airin gelagapan, dia
menoleh kanan kiri mencari bantuan tapi wajah
itu seketika telah berjongkok sejajar dengan
wajahnya. Airin merasa napasnya terhenti.
"Jangan menulis apa yang tidak kamu
ketahui," suaranya terdengar berat dan serak.
Airin melotot. Jarak mereka begitu dekat.
Kemudian tubuh itu berdiri, beringsut
mundur, bangkit dan berbalik. Airin melotot,
berteriak sejadi-jadinya karena punggung gadis
itu BOLONG!!
"AAAHHHHH!!! AAAHHHH....!!!"
Airin terloncat, terbangun dari tidurnya. Dia
panik, tegang dan keringatan. Airin menoleh kiri
kanan dan menemukan suasana kamar tidurnya.
A i r i n mengatur napasnya, ngos-ngosan.
Matanya yang menegang perlahan mengendur ...
gue mimpi buruk ..., keluhnya.
50
"Ya Tuhan ...," batinnya hendak mengusap
wajah.
Gerakannya terhenti, di tangannya ter-
genggam rumput liar.
***
51
a
lima
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
Taman sekolah, pada suatu siang
AIRIN, Cessa, dan Nadine terlibat percakapan
serius.
"Gue gak tau dari mana asal rumput itu. Kok
bisa tiba-tiba ada di tangan gue ...," lemas Airin.
Cessa dan Nadine saling berpandangan.
"Elo stres kali, kecapean," Cessa mengelus
punggung Nadine.
"Gak mungkin, Ces. Gue buang tuh rumput
dan elo tau apa selanjutnya? Gue mau pegi minum,
ternyata laptop GUE IDUP!! Padahal semalem
gue yakin banget udah gue matiin."
"Elu lupa kali, Rin ...," lembut Nadine
simpati.
"Gak mungkin, gue yakin banget! Kalo gak,
dari mana munculnya tulisan: Jangan menulis
tentang kebohongan!! Dari mana coba? Masa
gue nulis sendiri?"
"Mungkin mimpi itu ada artinya ...," gumam
53
Cessa. Airin dan Nadine mendengarkan, "kita kan
gak tau apa yang kita lakukan itu salah apa
enggak ... yang namanya orang idup .... Begini,
mungkin aja mimpi itu adalah isyarat untuk tidak
melakukan sesuatu."
"Apa?" tanya Nadine polos.
" Ya jangan terusin novelnya Mbak Anna,"
sahut Cessa mantap.
"Mana mungkin?!" sengit Airin.
"Kan kira-kira begitu. Coba elupikirin deb
Rin, sebelom ini elo gak ada masalah gangguan
m i m p i kan?" A i r i n menggeleng, Cessa
melanjutkan, "makanya gue berkesimpulan
semuanya mulai dari kemarin."
"Ngaco lu. Apapun yang terjadi gue akan
terusin novel itu. Lagian gak ada kaitannya sama
mimpi gue, kali aja ini kebetulan," Airin
bersikeras, kemudian mengendur. "Bayangin
deb, itu amanat Mbak Anna sebelum meninggal
"Segitu kagumnya elu sama diaa ...," ledek
Cessa miris. Senyumnya terlihat pahit, "Padahal
baru kemarin kita ngobrol-ngobrol .... Gue, gue
sedih banget... hiks."
"Kok bisa-bisanya sih ngasih amanat begitu
...," gumam Nadine menerawang, "kok bisa pas
juga elo telpon ya ...."
"Mungkin udah suratan gue ketemu dia.
Mbak Anna memang agak misterius. Gue sering
54
telpon dia beberapa kali, memang kebanyakan
hapenya dijawab dalam automatic answer. Tau
deh buat apa ...," jelas Airin.
"Kalo gue bilang, ada something wrong di novel
ini," Cessa berkesimpulan, "bisa gak elu mikir-
mikir lagi...."
Airin menggeleng yakin.
"Kuburannya aja elu gak tau kayak apa,
gimana mau ngelanjutin? Apa tadi namanya?"
tanya Nadine linglung.
"Kuburan Jeruk Purut," jawab Airin.
"Kayaknya pernah denger ... elo tau, Nad?"
tanya Cessa pada Nadine. Nadine menggeleng,
"tar gue tanyain sodara gue deh, kayaknya
pernah denger, tapi lupa tentang apaan ...."
"Karena itu, gue akan cari tau sejauh yang
gue bisa. Gue bener-bener mau bantuin Mbak
Anna. Belakangan ini gue sering berhubungan
sama Mbak Anna, gue tau dia tuh antusias banget
nulis novel supranatural ini. Pokoknya niat
banget bikin riset, jalan sampe ke mana gitu ...."
Cessa dan Nadine berpandangan sejenak,
kemudian membuang muka. Keduanya menye-
rah. Airin begitu keras dengan kemauannya.
"Eh, polisi udah tau penyebab kematian
Mbak Anna?" Airin tiba-tiba teringat sesuatu.
"Belum. Kematiannya aneh .... Kayaknya
kasusnya bakalan panjang atau dipetieskan."
55
Airin terdiam. Bayangan kematian Anna
melintas. Airin buru-buru menepisnya. Beberapa
saat kemudian, wajahnya mengeras.
"Gue akan mati-matian menyelesaikan novel
ini ... apapun yang terjadi. Gue barus tau apa
yang menyebabkan kematian Mbak Anna...,"
tekadnya.
***
Sore harinya, Airin dan Nadine menunggu
taksi. Mereka bermaksud pergi ke Pemakaman
Jeruk Purut. Nadine menemani Airin, walaupun
Nadine sendiri penakut, dia tidak mengizinkan
Airin pergi sendiri.
"Cessa gak jadi ikutan, Rin. Migren-nya
kambuh lagi," kata Nadine sambil menutup
handphone, dia baru selesai online dengan Cessa,
"tau kenapa tuh anak suka migren ...."
"Biar dia istirahat. Elo serius mau ikut gue?
Kuburan loh, elo biasa takut," A i r i n
menyakinkan Nadine.
"Iya dong! Daripada elo pergi sendiri, ntar
kenapa-napa gimana ... Asal inget masukin nama
gue aja ntar! Terima kasih untuk N-a-d-i-n-e ...,"
cengirnya. Airin tertawa.
Mereka menunggu lagi. Hari semakin sore,
taksi penuh.
56
"Taksinya kok pada penuh sih?" gerutu
Nadine tak sabar, "udah lama mejeng nih, capek.
Bedak gue udah campur debu." Airin celingak-
celinguk.
"Duh, taksi please dong... please bantuin kita."
"Sabar sebentar lagi, semoga ada yang
kosong."
Sebuah mobil berhenti di dekat mereka.
Pengemudi menurunkan kaca mobil, ternyata
V a l e n . Melihat V a l e n , Nadine sontak
kegirangan.
"Valen, Rin!" tunjuknya. Airin mendengus
sebal.
"Pada mau kemana gals? Sore-sore begini...
tar diculik loh! Siapa yang gak mau coba ... pada
manis," sapa Valen menatap Airin sekilas.
"Kita mau ke kuburan Jeruk Purut," jawab
Nadine.
"Waw! Kebetulan banget! Ayo gue anterin!"
Nadine menyikut Airin, Airin menjuling sebal.
"Sore-sore begini susah cari taksi, pada full.
Mending ikut gue aja sekalian ...," rayu Valen.
"Ayo aja," Nadine membuka pintu mobil
sebelah Valen. Airin mengikuti dengan setengah
hati. "Ngapain elo ke kuburan Jeruk Purut, Val?"
"Eh?" heran Valen.
"Katanya tadi kebetulan...."
57
"Oh, gue kebetulan lewat hehehe .... Ngapain
sih elu orang pake acara ke kuburan segala?
Minta jimat?" kekehnya melirik Airin dari kaca
spion tengah. Airin membuang muka.
"Berisik lu ...," cubit Nadine sayang. Valen
langsung tancap gas.
***
Kuburan Jeruk Purut, malam hari
Nadine dan Airin turun dari mobil Valen
yang berhenti di tepi jalan. Pemandangan
kuburan Jeruk Purut sepi, sunyi mencekam.
Kegelapan berkabut, padahal hari baru
menjelang malam.
"Gelap amat... serem Rin," Nadine gemetar.
Dia merapatkan tubuhnya ke Airin. Airin
mengamati serius.
"Oi... perlu lampu senter gak?" teriak Valen
dari dalam mobil.
"Thanks a lot! Elo memang ahlinya, Val...,"
puji Nadine sambil menyambar lampu senter
pemberian Valen.
"Gue ...," Valen membanggakan dirinya.
Puas pada kelengkapan peralatan mobilnya,
Nadine memberikan lampu senter kepada Airin.
58
Airin menyorot depan, sorot senter dipantulkan
nisan-nisan makam. Nadine bergidik.
"Baru tau kuburan kalo malem-malem begini
serem amat ya," bisiknya pada Airin.
Airin menyorotkan senter ke segala arah.
Ketika senter disorotkan ke samping, Airin
dikagetkan dengan sesosok wajah yang berdiri
di sampingnya.
" A w w ...," A i r i n terperanjat. Nadine
terloncat dan buru-buru ngumpet di belakang
Airin.
Seorang nenek-nenek menyeringai. Fisiknya
kurus kerempeng, kecil, bengkok, wajahnya
penuh keriput dengan rambut panjang putih
beruban. Airin mengendalikan diri.
"Maaf, nek ...," katanya.
Sorot mata nenek begitu tajam, seakan
menelanjangi batin Airin. Pakaiannya lusuh dan
kumal.
"Mau apa kalian malam-malam begini?
Jangan main-main di kuburan. Pulang saja, nanti
kalian akan susah. Pulang sekarang," perintahnya.
Suaranya serak seperti nenek sihir.
Nadine semakin bersembunyi, Airin ter-
bengong.
"Dengar, ini malam tidak baik. Roh-roh jahat
akan menyantap jiwa kalian, pergi dari sini
59
sekarang juga sebelum jatuh korban lagi,"
perintahnya lagi.
Valen keluar dari mobil dan berbaur.
Pandangannya meremehkan.
"Apaan sih? Gembel didengerin...," asalnya.
"Val! Sopan sedikit, dia kan orang tua,"
Airin memperingatkan. Valen malah bertingkah,
membuang muka. Valen berjalan menuju
kuburan sekadar melihat-lihat.
"Nek, maafin teman kita yah...," kata Airin.
Nenek itu memandang mereka dengan kesal.
la menggerutu. Setelah itu dengan tertatih-tatih
dia melangkah pergi. Airin dan Nadine segera
menyusul Valen. Nenek terus berjalan, dalam
jarak beberapa meter dia langsung hilang ditutup
kabut.
Airin tiba-tiba teringat akan sesuatu, dia
langsung berbalik. Nenek tadi sudah pergi. Airin
terpaku, memorinya bermain mencari-cari data
mana yang hendak dikeluarkan.
"Kayaknya pernah lihat ... di mana ya ...,"
gumamnya.
"HOI Rin, ngapain lagi nih?!" teriak Valen
asal. Suaranya bergema terpantul-pantul,
kemudian hilang.
60
Airin kembali bergabung dengan Valen dan
Nadine. Mereka berada di sisi kuburan. Airin
terpaku.
"Serem Rin, pulang yok ...," keluh Nadine
melirik kanan kiri. Kuburan lengang dan sepi.
Nadine bergidik. "Rin, pulang yok ...."
"Bentar ah!" cuek Airin menebarkan
pandangan.
"Gue mau aja bantuin elu nyari data atau
ngetik, tapi bukan mejeng di kuburan kayak gini
deh ... serem banget Rin ...."
"Gue baca di catetannya Mbak Anna,
katanya kalo kita ngelilingi kuburan ini tujuh
kali, hantu pastor pala buntung itu bakal
nampakin diri. Kita bisa melihatnya dengan mata
telanjang."
Valen dan Nadine langsung menoleh, sejurus
kemudian Valen mencibir.
"Denger dari mana sih lo cerita begituan.
Gak percaya deh sama yang begituan. Mitos Rin,
Mitos ...," Valen meremehkan.
"Val, mending elo diem deh ...," Airin
mendengus sebal.
"Emang bener kok. Tahayul dipercaya.
Orang udah terbang ke mana coba ...."
"Valen!!" seru Airin sebal. Valen melengos.
61
Airin berpikir sejenak, lalu berjalan meyusuri
pinggiran kuburan. Nadine dan Valen keheranan.
"Ngapain lo! OI AIRIN!!" teriak Valen, lagi-
lagi suaranya bergema dan terpantul-pantul.
"Lagi error tuh anak. Ayolah ...," ajak Valen.
"Takut, Val...," keluh Nadine manja.
"Ada Valen. Yok ...."
Nadine mengikuti dengan takut-takut.
Mereka bertiga mengikuti Airin menyusuri
kuburan. Valen sesekali menggerutu. Pijakan
tanah kuburan tidak rata. Tanah becek dan
lembap melumuri sandal Valen, tanah pun nyelip
di sela-sela jari dan telapak kaki.
"Abis deh kaki gue ... sialan!" gerutunya,
sementara Nadine yang ketakutan merapatkan
tubuhnya ke Valen. Mereka menyusul Airin.
"Rin, tujuan kita ke sini tuh cuman pengen
ngenalin lokasi makam, gak sampe sejauh ini...,"
keluh Nadine.
Airin tak menyahut. Dia terus menelusuri
pinggir makam.
"Udah biarin aja, biarin dia tau kalo semua
itu cuman TA-HA-YUL!" sergah Valen.
Airin tak menanggapi, dia terus melangkah.
Mereka bertiga menyusuri pinggiran kuburan,
beberapa kali putaran dan berhenti pada pinggir
62
jalan di mana mobil Valen terparkir. Airin
kembali mengamati.
"Mana hantunya?" Valen melecehkan. Airin
menebarkan pandangan. "Udah dibilang tahayul
...."
***
Di kamarnya, Airin serius membaca hasil
ketikan Anna. Dia menimbang-nimbang gaya
penulisan Anna yang tak jauh beda dengannya.
Seharusnya gak ada kesulitan, yang penting ahu tau
udah sampe mana risetnya Mbak Anna.
Airin mulai mengetik, men-transfer atmosfer
horror yang dirasakannya tadi malam. Pintu
diketuk dari luar, Rona muncul dengan wajah
cerah.
"Airin, ada Nadine di luar."
Airin mengernyit. Nadine? Malam-malam
begini? Ada yang ketinggalan apa? Merasa
terganggu, dengan perasaan tak rela Airin
bangkit menuju ruang tamu. Pintu ruang tamu
dalam keadaan terbuka. Airin melongok. Teras
rumah sepi dan tak ada siapa-siapa. Airin
keheranan. Dia menutup pintu dan kembali ke
ruang keluarga.
63
Rona sedang duduk di kursi goyang sambil
menonton acara televisi. Sorot matanya lurus
tanpa ekpresi.
"Ngak ada siapa-siapa, Ma?"
Airin menatap Rona yang duduk di kursi
goyang membelakanginya. Kursi bergoyang
perlahan, kedua tangan Rona terpangku di perut.
Sebelah tangannya terkepal menggenggam
sesuatu yang disembunyikan di balik lengannya.
"Gak ada siapa-siapa, Ma?" Airin mengulang
menghampiri.
Kursi goyang berhenti, Rona berdiri dengan
gerakan kaku laksana robot. Melihat gelagat
aneh ibunya, Airin terhenti.
"Ma?"
Rona berbalik, tangannya terbuka. Airin
membelalak melihat pisau dapur berada dalam
genggaman Rona. Sedetik kemudian, Rona
menyerbu Airin dengan pisau dapur terangkat
dan siap dihujamkan, Airin terbelakak.
"MAMA!" teriaknya mengelak.
Rona membentur angin kosong di belakang
Airin.
"MA! MAMA! MA!" teriak Airin panik.
Rona kembali berbalik mengejar Airin. Airin
menghindar dan menjatuhkan apa saja untuk
64
memperlambat langkah Rona. Sebuah kursi
yang dijatuhkan Airin membuat Rona terpeleset
dan jatuh terjerembap. Airin buru-buru
memungut guci keramik terdekat dan dihantam-
kan ke kepala Rona.
PRAK!
Rona tersungkur dengan kepala berdarah.
Airin terpaku. Wajahnya takut dan tegang.
"Mama ... maafin Airin, Ma ... Mamaaa ...,"
Airin menghampiri Rona, mengguncang-gucang
tubuhnya.
Tiba-tiba tubuh Airin menegang, napasnya
menyesak. Di luar dugaan tubuhnya terdorong
keras ke belakang oleh sebuah kekuatan yang
tak terlihat. Airin terbanting sambil mengerang
kesakitan. Baru mau bangkit, sebuah kekuatan
mencengkeram lehernya, mendorongnya rapat
ke dinding dan mengangkatnya. Kaki Airin
menjuntai dengan wajah melotot, tergantung oleh
sebuah kekuatan yang tak dapat dilihatnya.
"Kkahhhh .... KKKhahhhh ...," napasnya
menyesak.
Tiba-tiba k e k u a t a n itu melepaskan
cengkeramannya begitu saja, Airin terbanting
dengan sisa napas, terengah-engah lemas.
Ruangan kembali senyap. Hanya ruangan yang
65
berantakan menjadi saksi penyerangan yang
entah oleh siapa. Airin melotot liar. Sambil
merayap, dia menghampiri Rona.
"Ma ...," raihnya.
Kepalanya terasa pusing. Paru-parunya
bergerak memompa udara sebanyak-banyaknya.
Dengan gerak perlahan Airin bangkit, sebuah
bayangan hitam melesat terbang melewati
kepalanya dan menghilang di balik dinding. Airin
terpana. Dia mengerjap-kerjap matanya lalu buru-
buru menghampiri Rona.
Airin berjongkok dekat Rona, mencoba
membangunkannya.
"MA! Bangun! Ma!" Airin menguncang-
guncang tubuh Rona.
Tiba-tiba kedua mata Rona terbuka,
mendelik lebar, tersentak kaget sambil menarik
napas panjang. Dia bengong, memandang Airin
dengan pandangan linglung....
***
66
a
enam
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
AIRIN baru tiba di sekolah. Dia bergegas
menyusul Cessa dan Nadine yang berjalan di
depannya. Wajahnya tampak pucat dan panik.
Bel sekolah baru saja berbunyi, murid-murid
beranjak masuk kelas.
"Nad, elu semalem ke rumah gue?" tanya
Airin mensejajarkan langkah.
"Enggak," jawab Nadine enteng, "mang
napa?"
Wajah Airin berubah tegang. Langkahnya
melambat.
"Nyokap gue semalem bilang elu dateng. Pas
gue buka pintu gak ada siapa-siapa. Trus nyokap
gue tingkahnya jadi aneh, dia bawa-bawa pisau
kayak mau ngebunuh gue!"
Cessa dan Nadine langsung terhenti.
"Yang bener Rin ...," Cessa setengah gak
percaya, "nyokap elu, Rin..!"
"Iya!! Duh, gue juga gak tau kenapa nyokap
67
begitu. Abis dia bangun katanya gak inget apa-
apa. Cuman kepalanya terasa sakit soalnya
waktu dia mau nikam gue, gue pukul pake guci."
"HAH!! ELO PUKUL NYOKAP ELU...!"
Nadine terperanjat, "trus napa-napa gak?"
"Anehnya dia gak gitu ngerasain, padahal gue
pukul keras-keras. Cuman memar sih ... udah
gue kasih obat memar."
"Jangan-jangan nyokap elu kerasukan ...,"
Cessa melirik tegang, "gue pernah denger yang
namanya kerasukan suka gak inget apa-apa.
Tiba-tiba blank gitu."
"Duh ...," Airin melirik ke koridor, guru-
guru mulai berdatangan dan masuk kelas.
"Ntar deh, gue pusing. Gelap. Masuk yuk
***
Ruang Praktek Laboratorium, siang
harinya
Pelajaran parktek laboratorium baru saja
usai. Beberapa murid keluar ruangan, tinggallah
Airin metnbereskan perangkat laboratorium di
meja. Pikirannya melayang pada kejadian
semalam. Masa mama kesurupan?
68
"Cao Rin ...," pamit salah seorang teman.
"Hooh ...," sahut Airin nelangsa.
Pelajaran hari itu tak ada yang nyangkut di
otaknya. Terngiang kata-kata Cessa, jangan-
jangan mama memang kesurupan....
Airin mengusir hatinya yang galau, dia
menoleh kanan kiri, ruangan sudah sepi. Airin
buru-buru menyimpan peralatan lab. Seolah-
olah ada yang mengawasinya, Airin semakin
gelisah. Tiba-tiba...
Puk ....
Sepotong tangan menepuk bahunya. Airin
terpekik kaget, segera berpaling.
"VALEN!!" serunya kaget, "ngapain sih lo
... kaget tau!" kesalnya. Valen terkekeh iseng.
"Gue belom liat penampakan apa-apa ...
Elo?"
Airin tak menyahut. Dia menaruh perangkat
laboratorium di lemari kaca. Valen mengikuti.
"Elo kenapa sih bete begitu tiap kali ngeliat
gue ...," Valen memerhatikan Airin yang diam
saja, "elo cakep deh kalo marah." Tak ada
sahutan. Valen mulai sebal. Begitu Airin menutup
lemari kaca, Valen langsung merenggut lengan
Airin.
" A P A A N S I H ! " Airin memberontak.
Tenaga Valen tercengkeram kuat di lengannya,
"VALEN!" seru Airin kesal.
69
"Asal elo tau aja ... gue jadian sama Nadine
karena kesian!"
"Lepasin, Valen!!" Airin memberontak,
cengkeraman Valen semakin tnembuatnya
kesakitan.
"Gue sukanya sama elo, mestinya elo yang
jadi cewek gue dua bulan yang lalu! Tapi elonya
malah gak jelas."
"Sakit...."
Cessa muncul di depan pintu laboratorium
memergoki keduanya. Melihat Cessa, Valen
melepaskan cengkeraman tangannya dan mem-
buang muka. Berlagak nothing's happened. Airin
mengelus tangannya, wajahnya memerah menahan
marah.
"Brengsek bener lo ...," geram Airin berlalu.
Airin menghampiri meja lab, mengambil
buku-buku lalu bergegas keluar ruangan.
Di depan pintu dia berpapasan dengan Cessa,
kemudian melewati Cessa dengan tampang
cemberut. Cessa segera tahu apa yang dilakukan
Valen pada Airin. Cessa bergegas menghampiri
Valen,
"Bisa gak sih elo gentle dikit .... Elo jangan
bikin posisi Airin susah dong, Airin sama Nadine
kan temenan!" sengit Cessa.
Valen membuang muka menghindar.
70
"Gak usah sok ikut campur deh," katanya
seraya meninggalkan Cessa.
Cessa hanya bisa menarik napas kesal. Ingin
rasanya dia memberitahu Nadine tapi Airin selalu
melarangnya. Cessa merenggut, ikut-ikutan bete.
***
71
a
tujuh
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
MR. Collection's
AIRIN sedang mengetik di laptop. Kening
berkerut seakan berpikir keras. Di atas kasur,
Nadine dan Cessa duduk sambil membaca
kumpulan kliping koran dan majalah seputar
pemberitaan hantu kepala buntung.
"Rin, ini isinya opini apa pengalaman orang-
orang?" tanya Cessa. Airin menggeleng tanpa
mengalihkan perhatiannya dari laptop. Cessa
memaklumi.
"Gue bacain ya, elo sambil kerja aja. Hmm
... umumnya pengemudi atau pejalan kaki yang
kebetulan lewat jalan di kawasan kuburan Jeruk
Purut itu yang melibat penampakan hantu kepala
buntung ...."
Cessa melirik Airin. Airin masib dalam posisi
semula. Dia melirik Nadine yang mengangkat
bahunya. Mereka kembali membaca kumpulan
kliping.
73
"Gals yang ini menarik nih ... dengerin yah
...," kata Nadine antusias pada klipping
temuannya, "seorang pemuda terpaksa dirawat
di rumah sakit lantaran stres diteror selama tujuh
hari oleh hantu pastor kepala buntung. Pasalnya,
dia ...," Nadine menelan ludah. Dia melirik Cessa
yang mendengarkan, "Pasalnya ... dia berjalan
mengitari kuburan Jeruk Purut sebanyak tujuh
kali...."
Wajah Nadine menyiratkan kepanikan.
"Kita ... kita juga mengitari kuburan itu
sebanyak tujuh kali," katanya gemetar. Cessa
melotot, serempak menoleh ke Airin. Airin
menghentikan ketikannya sejenak.
"Kebetulan aja kali ...," jawab Airin tanpa
menoleh. Nadine menelan ludah.
"Ini ada lanjutannya ...," dia kembali membaca
berkas, "ternyata selain hantu pastor itu, ada lagi
hantu lain yang lebih ... menyerupai sosok
kuntilanak. Kedua arwah penasaran ini terus
bergantian mengganggunya. Jangan-jangan ...
yang gangguin elu selama ini...."
"Udah jangan keburu percaya. Mungkin aja
kebetulan," hibur Cessa.
"Tapi Airin kan udah ngalamin, nyokap elu
kerasukan," bayangan kengerian itu tak mau
pergi dari benak Nadine. Sifat penakutnya
kembali muncul.
74
"Mungkin itu gara-gara hal lain. Elu tau kan
... nyokap gue memang agak aneh ...," terdengar
kesedihan di ujung kalimat, "udah ah, gue cuman
mau selesain novelnya Mbak Anna. Setelah itu
the end."
***
Sore harinya, Nadine dan Cessa berpamitan
pulang.
"Thanks banget yah, gue ... oh. Gue panggil
nyokap dulu," Airin menuju kamar Rona.
Kriett...
Airin melongok ke dalam kamar tidur Rona.
Tampak Rona sedang berdiri menghadap jendela,
memandang keluar dengan tatapan kosong.
"Ma ... Nadine mau pulang," panggil Airin.
Rona perlahan menoleh dan memandang
mereka tanpa ekspresi. Tampak perban
menutupi cidera kepala di keningnya.
"Permisi, Tante ...," sapa Nadine.
Tak ada sahutan. Airin kembali menutup
pintu kamar dengan rasa kecewa. Nadine
menepuk pundak Airin.
"Lo sabar ya Rin ...."
Airin hanya tersenyum sedih tanpa balas
menatap Nadine.
***
75
Malam itu bulan purnama bersinar kuning
pucat. Sesekali mega menutupi cahayanya yang
lembut. Sinarnya merayap masuk melalui kisi-
kisi jendela kamar Airin.
Airin tidur dengan gelisah. Sesekali dia
membolak-balik tubuhnya, bantalnya ditendang
entah ke mana.
"Hhhh .. hh ...," napasnya berpacu.
Airin kembali membalik badan ke samping. Tak
tenang, kembali telentang. Mimpi buruk kembali
menerpanya.
"Tidak .. ahh...," Airin menggeleng. "Tidak
...."
Hutan belantara. Kegelapan di mana-mana.
Airin sendirian, ketakutan dan terus berlari. Di
belakangnya seekor anjing hitam besar mengejar-
nya. Airin berteriak sejadi-jadinya meminta
pertolongan, tapi tak ada suara yang keluar dari
mulutnya. Hanya terdengar lolongan anjing yang
semakin dekat mengejarnya. Lolongannya penuh
kemaraban.
Sia-sia Airin berteriak. Tiba-tiba Airin
berbenti. Di depannya berdiri sosok seorang
perempuan. Airin tercengang. Dia menoleb kanan
kiri, anjing yang mengejarnya tadi hilang.
"Si-siapa ...," desahnya tanpa suara. Hanya
mulutnya komat-kamit membentuk kata-kata.
76
Tiba-tiba Airin tersadar, rasanya dia tahu siapa
sosok itu namun namanya tertahan di ujung lidah.
Sosok itu kusam, terbalut kebaya. Rambutnya
yang panjang menjuntai di depan tubuhnya. Airin
dapat melihat wajahnya yang pucat diantara
juntaian rambutnya. Matanya melotot dari balik
rambutnya yang acak-acakan. Sorotnya penuh
kemarahan.
"Kamu harus berhenti. Kalian tidak tau
apapun kebenaran tentang kami ...," suaranya
terdengar laksana geram.
Belum hilang tanyanya, entah dari mana
asalnya muncul hantu kepala buntung yang
berdiri di sisi sosok perempuan itu. Hantu itu
manenteng kepalanya sendiri. Airin bergidik
ngeri. Terlihat otot leher dengan urat leher yang
terpotong begitu jelas. Airin seketika merasa
mual. Seekor anjing berdiri didekatnya. Anjing
yang tadi mengejarnya ....
"Kamu harus berhenti...."
Sosok perempuan itu membalikkan tubuh-
nya, saat itu tampaklah punggungnya berlubang
lebar, memperlihatkan daging dalam yang
memerah berlumur darah kental. Ratusan ulat dan
belatung mengerubungi lubang itu, darah yang
menghitam menetes menjijikkan. Airin berterik
77
histeris. Suaranya tercekat di kerongkongan, dia
berteriak sejadi-jadinya ....
" A A A A H H H H H H H .... KKHHH ...,"
Airin terloncat dari tidurnya. Dia langsung
meraih sisi ranjang dan menyemburkan muntah
ke lantai.
"Hoeekk .... hoekkk ...," Airin memuntah-
kan isi perutnya hingga dia lemas.
Bekas muntahan berceceran di lantai. Airin
kembali terkapar dengan wajah terengah-engah.
Bayangan hantu perempuan berpunggung bolong
terlalu kental di matanya. Gue tau ... gue .. dia
adalah ....
Terdengar suara batuk-batuk dari kamar
sebelah. Kamar Rona. Airin segera berhambur
ke kamar sebelah.
Di kamar Rona, tampak Rona sedang batuk-
batuk hebat. Rona terduduk di tepi ranjang dan
segera rubuh ke lantai menahan sesuatu yang
berat.
"Ma!" seru Airin khawatir, "Mama sakit?"
Rona tak menyahut. Dia terus batuk-batuk
hebat. Ekspresinya tampak tersiksa dan
kesakitan.
"HUK-HUK-HUK .. HOEKK .. HUK ..
HUKKK...," Rona seakan hendak memuntahkan
78
sesuatu dari dalam mulutnya. Airin segera
mengelus-elus punggung Rona penuh rasa cemas.
"HOEEEKKK ...," sebuah muntahan dahsyat
keluar dari mulut Rona. Menyembur darah kental
bercampur potongan silet. Airin terbelalak kaget
campur jijik dan ngeri.
"Ya ampun Ma .... Kenapa ini, Ma?"
Mulut Rona belepotan darah. Rona mengam-
bil silet terakhir yang nyangkut di mulutnya,
menggenggamnya gemetar. Silet hitam itu tajam
dan berkilat. Airin melongo. Pandangan Rona
beralih ke Airin.
"Ma...Buang Ma...."
Rona menatapnya tajam. Perlahan, wajahnya
memucat, matanya memutih dan urat nadi biru
merayapi wajahnya.
"Grrmmmhhh ...," Rona mengerang. Airin
bergerak mundur, kengerian meliputi wajahnya
melihat ekspresi Rona yang menyeramkan.
"Ma, nyebut Ma. Ini Airin ...."
" G G G R R M M H H H ...." Rona bangkit
dengan gerak tubuh terpatah-patah.
Airin beringsut mundur menjauhi Rona.
Rona melangkah dengan terhuyung-huyung
seperti hendak rubuh, mendekati Airin. Airin
semakin merayap mundur.
79
"MA!" seru Airin. Rona terhenti. Airin
menunggu.
"AAAHHH ... AHH .. AAHHH"...!!" Rona
menjerit histeris. Ruangan terasa bergetar karena
lengkingan Rona.
Airin menunduk dalam-dalam sambil
menutup kedua telinganya. Bersamaan jeritan
Rona yang memenuhi ruangan, kaca-kaca jendela,
kaca lemari pakaian dan cermin serempak
meledak pecah.
PRANGGG.... PYARRR....
Serpihan kaca bertaburan ke mana-mana,
memercik ke segala arah. Sebagian mengenai
tubuh Airin yang membungkuk di lantai. Rona
bagai hilang ingatan. Jeritannya terhenti, kedua
tangannya terangkat, jarinya seakan menahan
sebuah kekuatan yang menarik tangannya. Airin
memandangnya dengan mata berair.
"Saya akan lebih keras lagi kalau kamu tetap
keras!" geraman Rona membuat Airin terkesiap.
Airin mendongak, sekilas dia melihat seraut
wajah yang menguasai tubuh Rona.
"Lasmi...," desis Airin di sela-sela bengong-
nya.
80
Tubuh Rona terkulai lemas dan rubuh.
Sesaat menggelepar-gelepar, matanya kosong
menerawang, entah melihat apa. Airin segera
mendekati Rona, berlutut dan mendekapnya
sambil menangis terisak-isak. Bayangan sosok
yang dilihatnya meliputi hatinya.
Tidak salah lagi, Lasmi....
***
81