0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan15 halaman

Rasisme dan Rasialisasi dalam Budaya Populer

Dokumen tersebut membahas tentang rasialisasi dan budaya populer. Ia menjelaskan bagaimana budaya populer dapat memperkuat stereotip ras dan melekatkan makna tertentu pada kelompok, serta bagaimana rasialisasi dapat mempengaruhi representasi kelompok dalam budaya populer."

Diunggah oleh

husnamotret
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan15 halaman

Rasisme dan Rasialisasi dalam Budaya Populer

Dokumen tersebut membahas tentang rasialisasi dan budaya populer. Ia menjelaskan bagaimana budaya populer dapat memperkuat stereotip ras dan melekatkan makna tertentu pada kelompok, serta bagaimana rasialisasi dapat mempengaruhi representasi kelompok dalam budaya populer."

Diunggah oleh

husnamotret
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Rasisme,

P O P U L E R

dan Budaya Populer.


B U D A Y A
D A N

disusun oleh:
A U D I E N S

Estavita Chantik Pembayun (20/471507/PSP/07169)


Fachmi Rizal Chaniago (20/471508/PSP/07170)
Fuzna Raisa Maharani (20/471510/PSP/07172)
Husna Nur Amalia (20/471512/PSP/07174)
Tri Kurnia Revul Andina (20/471520/PSP/07182)
Ras
Arti 'Ras' yang mengacu pada manusia ini muncul pada abad ke 17

Ras merupakan gagasan bahwa spesies manusia dibagi menjadi kelompok-


kelompok yang berbeda berdasarkan perbedaan fisik dan perilaku yang
diwariskan. (ensiklopedia Britannica)

Ras dikaitkan dengan biologi dan karakteristik fisik

Kesamaan dari kebanyakan definisi ras adalah upaya untuk mengkategorikan


orang-orang terutama berdasarkan perbedaan fisik mereka.
Rasialisasi
Dalam panduan riset pustaka University of Winnipeg Canada, konsep rasialisasi
mengacu pada proses di mana sekelompok orang didefinisikan oleh "ras"
mereka.

Rasialisasi adalah proses pembentukan dan pemanfaatan gagasan ras dalam


kapasitas apapun (Dalal, 2002).

Rasialisasi adalah wawasan yang mempertanyakan, mencari jawaban, dan


memaknai berbagai gejala sosial berdasarkan perbedaan rasial, tanpa perlu
membenci atau mengunggulkan salah satu ras (Heryanto, 1999)
Rasialisasi adalah proses di mana ras menjadi penanda perbedaan
sosial dan integral dengan realsi kuasa yang terkonstruksi secara
sosial (Garner, 2010).

Efek yang terlihat dari proses rasialisasi adalah ketidaksetaraan rasial


yang tertanam dalam struktur dan sistem sosial.
Rasisme
Rasisme adalah serangkaian sikap, kecenderungan, pemyataan, dan tindakan
mengunggulkan atau memusuhi kelompok masyarakat terutama karena
identitas ras (Haryanto, 1999)
Rasisme adalah suatu paham yang membedakan suatu ras dengan ras lainnya dan
menganggap ras sendirilah yang paling unggul dibandingkan dengan ras-ras
lainnya (Irab, 2007).

Berkembangnya paham rasisme didorong dari beberapa faktor dari teori evolusi
yang dikemukakan oleh Charles R. Darwin, kolonialisme bangsa Eropa, serta
dorongan untuk menguasai dan memperoleh kekuasaan.

Dampak yang dihasilkan dari rasisme dapat dilihat dari dua sisi
ras, yaitu yang diuntungkan dan ras yang dirugikan.

Rasisme mempengaruhi berbagai bidang kehidupan.


Akar Rasialisasi
Mitos-mitos dan rasionalitas: Perbedaan ras sudah ada sejak lama dan diyakini hingga
sekarang. Keyakinan akan superioritas dan inferioritas terutama secara biologis dan
kultural dipertahankan, bahkan diinternalsasi sehingga muncul rasialisasi (Munro, 2019;
Gampa et al, 2020).
Teori Evolusi Darwin: Prinsip evolusi Darwin secara tidak langsung membentuk
pemikiran bahwa bangsa Barat lebih unggul daripada bangsa lainnya, dan bangsa
kulit putih lebih baik daripada kulit berwarna.
Kolonialisme bangsa Barat: Migrasi besar-besaran ke negara-negara wilayah Timur
untuk mengeksploitasi sumber daya alam.
Materi dan kekuasaan: Semangat kapitalis dan hasrat utuk menguasai, terutama oleh
bangsa Barat merupakan akar dari rasialisasi yang dampaknya masih bisa dirasakan hingga
sekarang. Rasialisasi juga dapat terjadi karena hadirnya pendatang baru (imigran), yang
pada kasus tertentu dating dalam keadaan miskin. Di samping itu, adanya perasaan
terancam dengan kehadiran kelompok baru dapat pula mendorong rasialisasi (Gans,
2016).
Bentuk-bentuk Rasialisasi
Rasialisasi kelompok: membedakan suatu kelompok
atas rasnya dan memperlakukan mereka sebagai inferior
dimana dapat berimplikasi pada praktik kehidupan
sehari-hari dan kebijakan yang cenderung merugikan
kelompok tersebut (Hochman, 2018).
Rasialisasi individu: mengidentifikasi serta
mengelompokkan individu dalam satu ras tertentu yang
seringkali termanifestasi dalam kebiasaan sehari-sehari
(Phoenix, 2005; Ware, 2005).
Self-racialization: melekatkan sendiri makna kepada
individu maupun kelompok sebagai satu ras tertentu; di
satu sisi hal ini digunakan oleh kelompok yang
tersubordinasi untuk membela dirinya, namun di lain sisi
digunakan oleh kelompok dominan untuk
mempertahankan statusnya (Garger, 2009).
Dimensi Rasisme
Rasisme menurut Lilian Green (2020) setidaknya memiliki empat dimensi, antara lain:
Rasisme internal mengacu pada pikiran, perasaan dan tindakan kita sendiri, sadar dan tidak
sadar, sebagai individu. Contohnya seperti mempercayai stereotip ras yang negatif, atau bahkan
menyangkal adanya rasisme.
Rasisme interpersonal adalah tindakan rasis dari seseorang ke orang lain, yang bisa
mempengaruhi interaksi publik mereka. Misalnya perilaku negatif seperti pelecehan, diskriminasi,
dan kata-kata rasis.
Rasisme institusional ada dalam institusi dan sistem politik, ekonomi, atau hukum yang secara
langsung atau tidak langsung melanggengkan diskriminasi atas dasar ras. Ini menyebabkan
ketidaksetaraan kekayaan, pendapatan, pendidikan, perawatan kesehatan, hak-hak sipil, dan
bidang lainnya. Misalnya, praktik perekrutan diskriminatif, membungkam suara orang dengan ras
tertentu di ruang rapat, atau budaya kerja yang mengutamakan sudut pandang kelompok ras
dominan.
Rasisme sistemik melibatkan institusi atau entitas berwenang yang menegakkan kebijakan rasis,
baik di bidang pendidikan, perawatan kesehatan, perumahan, pemerintah, dan lain-lain. Ini adalah
efek riak dari ratusan tahun praktik rasis dan diskriminatif yang masih berlangsung hingga kini.
Dampak Rasialisasi
Rasialisasi merupakan konstruksi identitas individu maupun kelompok yang dapat
melanggengkan hierarki sosial (Inwood & Yarbrough, 2009).
Rasialisasi mengucilkan kelompok-kelompok tertentu yang mana dapat memperkuat
dominasi serta melahirkan eksploitasi dan opresi (Ibid).

Dampak rasialisasi dibagi menjadi tiga. Pertama adalah name-calling, blaming, demonisasi,
dan bentuk-bentuk stigma lainnya. Kedua yakni diskriminasi, segregasi, pengusiran, dan
bentuk-bentuk pengucilan dari masyarakat dominan. Ketiga dan yang paling parah antara
lain pelecehan, penganiayaan, penuntutan, pemenjaraan, termasuk juga hukuman mati
tanpa pengadilan (Gans, 2016)
Paham rasialisasi dapat mendatangkan "keuntungan" bagi ras yang berkuasa tetapi
menimbulkan "kerugian" yang tak ternilai harganya bagi ras yang didiskriminasi (Irab, 2007)
RASIALISASI RASIALISASI
BAGI RAS YANG BERKUASA BAGI RAS YANG DIDISKRIMINASI

Politik Politik
Kebebasan untuk menjalankan sistim politik yang mereka Dikekang, ditindas, serta dikuasai sepenuhnya oleh ras yang
kehendaki demi menjaga kekuasaannya agar tidak menguasainya. Mereka'tidak dapat menyuarakan keluhan,
terancam oleh pihak-pihak lain bantahan atau usulan.

Ekonomi Ekonomi
Ras ini menguasai aspek-aspek ekonomi yang Dieksploitasi secara besar-besaran tetapi tidak menikmati
mendatangkan banyak keuntungan hasilnya.

Sosial Sosial
Mendapat posisi atau berada pada level yang nyaman Terisolir dari masyarakat umum. Mereka dikucilkan dan selalu
dalam bersosialisasi menjadi bahan olokan.

Pendidikan Pendidikan
Ilmu pengetahuan dengan suatu cara tertentu dibentuk dan Ras yang lebih lemah tidak dapat menikmati pendidikan
dikembangkan oleh ras yang berkuasa supaya selayaknya. Mereka semakin tersisih karena tidak
kekuasaannya tidak terancam (Andre Gorz) berpendidikan.

Kultural Kultural
Menguasai dan mengembangkan kebudayaannya secara Sulit mengembangkan kebudayaannya secara maksimal.
maksimal.
Rasialisasi dan Budaya Populer

Budaya populer merupakan budaya yang lahir


atas kehendak media (Strinati, 2009). Jika media
mampu memproduksi sebuah bentuk budaya,
maka publik akan menyerapnya dan menjadikannya
sebagai sebuah bentuk kebudayaan.

Populer yang dibicarakan disini tidak terlepas


dari perilaku konsumsi dan determinasi
media massa terhadap publik yang bertindak
sebagai konsumen.

Budaya populer telah menjadi bagian dari


aparatus ideologis dan material kehidupan
sosial.
Peran Budaya Populer
Budaya populer kerap menyuburkan stereotipe ras yang melanggengkan
diskriminasi.
Kekuatan budaya populer terletak pada kemampuannya untuk mendistorsi,
membentuk, dan menghasilkan realitas, mendikte cara kita berpikir,
merasakan, dan beroperasi di dunia sosial (Kellner)
Riset yang dilakukan media Jerman Deutsche Welle (DW), yang menganalisis lebih dari
6.000 film Hollywood sejak 1928, menemukan bahwa stereotipe ras yang
digambarkan di dunia perfilman selama ini bermasalah.
Penggambaran keliru tentang karakteristik ras tokoh film bisa menghambat
kesempatan bagi kelompok ras tertentu untuk direpresentasikan, atau bahkan
bisa membuat penggambaran keliru tentang ras tertentu dan menimbulkan prasangka
buruk.
Prasangka buruk muncul sebagai upaya meningkatkan citra diri seorang individu atau
kelompok. Individu atau kelompok yang memandang rendah kelompok lain, dapat
menghasilkan prasangka lainnya, yaitu pandangan bahwa mereka berhak
memimpin atau mendominasi orang lain karena superioritas mereka
Manifestasi Rasialisasi dalam Budaya Populer
Pemahaman mengenai ras dan proses rasialisasi dibahas secara
strategis dalam budaya populer.
Konsep ras sebagai faktor sosial dibuat konkret dalam bentuk populer
seperti film, televisi dan musik (Perez & Gonzalez-Martin, 2019).
Pada tahun 1950-an, ketika terjadi protes hak-hak sipil di Amerika, para
pembuat konten takut menggambarkan karakter kulit hitam karena
takut menimbulkan perhatian negatif. Di televisi, karakter hitam juga
menghilang dari peran yang berarti di media populer Amerika.
Pada tahun 1970an dan 1980an representasi di media populer Amerika
terus berkembang, namun masih dibatasi oleh sebagian pencipta dan
penonton kulit putih.
Peremajaan TV di abad ke-21 membuat representasi dan peran
seniman kulit hitam sebagai pencipta, penulis & produser meluas.
Fenomena Global
Fenomena Lokal

Produk Budaya Populer di TV Gerakkan 212 - GoJek (2016)


Simpulan
Ras dan rasialisme merupakan sebuah proses internalisasi guna
mengkonstruksikan /mencirikan identitas suatu kelompok golongan ras. Namun pada
batasan tertentu, ras dan rasialisme dapat menimbulkan konsekuensi negatif
(racism).
Ras dan etnisitas dikontstruksi dan direproduksi dalam berbagai variasi produk
media hiburan. Secara spesifik melalui proses produksi dan konsumsi yang membentuk
Budaya Populer.
Teks dan image dalam produk budaya populer memiliki tendensi representasi
yang bersifat diskriminatif dan stereotipikal terhadap golongan ras tertentu.

Konsekuensi yang muncul menimbulkan prasangka dan asumsi yang bersifat


one dimensional; mereduksi kompleksitas kemanusiaan, terlebih kelompok golongan ras
dan kelompok etnis yang berkaitan.

Anda mungkin juga menyukai