Hamburan Rutherford Partikel Alpha dan Model Inti Atom
1.1 Pendahuluan
Pandangan materi atom pertama kali dikemukakan oleh kimiawan Inggris John
Dalton pada awal abad kesembilan belas. Butuh waktu hampir seratus tahun sebelum
struktur internal atom dapat dipahami. Penelitian J.J. Thomson pada pengaliran listrik
melalui gas menyebabkan penemuan elektron, yang dapat dikatakan menjadi awal dari
pemahaman kita tentang struktur atom. Thomson mengusulkan model atom, di mana titik
elektron bermuatan negatiI yang dianggap berada dalam tubuh materi bermuatan positiI,
tersebar di seluruh ruang atom yang memiliki jari-jari ber-orde 10
-10
m. Model puding
plum itu akhirnya ditolak oleh pendukung model nuklir atom diusulkan oleh Ernest
RutherIord berdasarkan penelitian pada hamburan dari partikel u dari suatu materi.
1.2 RutherIord teori partikel-hamburan
Partikel alIa adalah partikel bermuatan positiI yang mempunyai energi yang
tinggi, yang dipancarkan oleh zat radioaktiI. Jumlah listrik positiI mereka yang sama
dengan dua unit muatan elektron. Massa mereka adalah sama dengan sebuah atom
helium. Partikel tersebut yang dipancarkan selama disintegrasi radioaktiI dari unsur-unsur
berat seperti uranium tertentu, atau radium. Ketika partikel mono-energik yang
dipancarkan dari zat radioaktiI dapat melewati Ioil logam yang sangat tipis, mereka akan
tersebar ke arah yang berbeda sesuai dengan arah lintasan sinar collimated dari partikel
penumbuk. Sebagian besar dari partikel yang dihamburkan dengan sudut kecil, sebagian
kecil ditemukan tersebar di sudut besar (lebih besar dari 90 )
Hamburan yang terjadi pada sudut besar tidak dapat dijelaskan atas dasar
model atom Thomson, alasan yang dapat dipahami secara kualitatiI adalah sebagai
berikut. Gaya tolak elektrostatik antara muatan positiI dari atom hamburan dan a-partikel
berbanding terbalik terhadap kuadrat jarak (q) partikel u dari pusat muatan yang terakhir
dan langsung menuju muatan positiI dari atom hamburan dalam bola berjari-jari q (lihat
Gambar. 1.1). Sebagaimana akan kita lihat, sudut hamburan akan meningkat seiring
dengan meningkatnya muatan eIektiI atom, pemantulan partikel u menurun dengan
meningkatnya jarak dari pusat atom di mana partikel u melewati atom. Ketika sebuah
partikel lewat pada jarak yang relatiI jauh dari pusat atom (~ 10
-10
m di dekat pinggiran
atom), jarak ini menjadi begitu besar karena sudut hamburan sangat kecil, meskipun
seluruh muatan positiI dari atom menolaknya.
Di sisi lain, ketika sebuah partikel lewat pada jarak relatiI dekat dari pusat
atom, muatan eIektiI yang akan menolak partikel itu sangat sedikit sehingga sudut
hamburan cukup kecil
Untuk menjelaskan sudut hamburan besar dari partikel u, RutherIord (1911)
mengusulkan sebuah model baru dari atom. Menurut dia, muatan positiI atom seluruh dan
hampir seluruh massa yang terkandung dalam lingkup yang sangat kecil di dekat pusat.
Inti berat ini bermuatan positiI dikenal sebagai inti atom. Ketika partikel u lewat sangat
dekat dengan pusat atom, terdapat gaya tolak elektrostatik yang kuat akibat muatan
positiI seluruh atom dan terhambur di sudut yang relatiI besar.
Selama percobaan hamburan, berkas kecil sinar collimated mono-energik
partikel u diarahkan pada Ioil logam yang sangat tipis seperti emas (Z 79) atau perak (Z
47) yang dapat digulung atau ditipiskan sampai ketebalan 10
-7
m (0,1 mikron) atau
kurang. Partikel u tidak kehilangan energi yang cukup banyak ketika melewati Ioil tipis
tersebut. Pengaturan diberikan untuk menghitung jumlah partikel tersebar di arah yang
berbeda. Dalam gambar 1.2, diagram skematik dari pengaturan eksperimental dasar untuk
pengamatan hamburan partikel u ditunjukkan .
Gaya yang dialami oleh partikel u adalah kekuatan sentral yang bervariasi
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari inti. Hal ini diketahui dari hukum
mekanika bahwa lintasan partikel yang disebabkan oleh suatu gaya berbentuk kerucut.
Bentuk kerucut tersebut akan menjadi elips, parabola atau hiperbola,
tergantung pada apakah energi awal partikel E 0, E 0 atau E~ 0. Dalam kasus ini
energi awal dari partikel u adalah positiI (Ea~ 0). Jadi lintasan PA'P nya 'adalah sebuah
hiperbola dengan inti hamburan terletak di salah satu Iokus F. Di sini kita asumsikan
bahwa seluruh muatan positiI inti Ze adalah terkonsentrasi di titik F.
Dalam gambar 1.3, lintasan PA'P` dari partikel u karena tolakan elektrostatik
karena inti muatan Ze yang muncul. Misalkan M dan Ze menjadi massa dan muatan
dari partikel; disini Z' 2, inti diasumsikan sangat berat.
Ketika partikel u mendekati inti F dari jarak sangat jauh, tolakan elektrostatik
sangat kecil ketika masih sangat jauh. Dalam hal ini energi potensial adalah diabaikan
dan energi kinetik total; Eu Mv
2
/ 2 dimana v adalah kecepatan awal partikel u.
Lintasan partikel u ketika jarak masih sangat jauh adalah berupa garis lurus, dengan QOR
asimtot dari hiperbola PA'P '. Jika kita tarik garis FG yang tegak lurus dari nukleus ke
baris ini asimtotik, maka panjang FG b yang dikenal sebagai parameter dampak.
Ketika partikel u telah mendekati inti, lintasan akan berbelok lebih dan lebih
jauh dari F karena tolakan elektrostatik yang meningkat. Akhirnya, saat mencapai titik A'
pada jarak minimum dari F, partikel tersebut mulai menjauh dari inti dengan lintasan
A'P'. Pada jarak yang sangat jauh dari inti, jalurnya akan ber-asimtot dengan R'OQ'
sehingga berbentuk hiperbola. Sudut ROQ` berada diantara dua asimtot QOR dan R'OQ'
adalah sudut hamburan 0. Kedua asimtot membentuk sudut 4 dengan sumbu FF' dari
hiperbola.
Ketika partikel u mencapai puncak A' dari hiperbola, tolakan elektrostatik di
atasnya adalah maksimum. Jarak terdekat partikel u dengan inti FA' q. Energi potensial
dari partikel u di A' adalah V ZZ'e
2
/4ac
o
q dimana c
o
10
-9
/36aF/m adalah konstanta
dielektrik ruang hampa.
Kecepatan v
m
dari partikel u pada A` adalah minimum. Energi kinetik pada
titik ini adalah E
k
M v
m
2
jadi energi totalnya adalah
=
k
+ =
H
2
+
ZZ
2
ne
o
q
Dari persamaan ini energi awal dari partikel u dapat diketahui
u
=
H
2
=
H
m
2
+
ZZ
2
ne
o
q
Atau
m
2
2
= -
ZZ
2
ne
o
H
2
q
Momentum linear dari partikel u pada saat jarak masih sangat jauh adalah Mv dengan
lintasan QOR dapat dituliskan
H. = H. b
Pada titik A` momentum linear (Mv
m
) partikel u arahnya tegak lurus terhadap sumbu FF`
sebuah hiperbola lintasan partikel u, sehingga momentum angular pada titik ini adalah
H
m
.
i
= H
m
q
Karena gaya yang bekerja pada partikel u adalah gaya sentral, momentum angularnya
harus konservatiI, sesuai dengan hukum-hukum mekanik. Jadi didapatkan
H. b = H
m
q
Sesuai dengan gambar 1.3, dapat diketahui siIat-siIat hiperbola adalah
=
i
= e.
Dimana c ~ 1 adalah sebuah keanehan. Jadi
q =
i
= +
i
= _ +
e
]
Sesuai dengan teori kerucut, kita ketahui bahwa
e
=
Jadi
Karena sin
Dari persamaan (1.2-3) dan (1.2-5), kita dapatkan
Subtitusikan q dari persamaan (1.2-5), kita dapatkan
Atau
Pada akhirnya kita dapatkan
Karena , kita dapatkan
Persamaan (1-2-7) menunjukkan bahwa sebagai parameter dampak b menjadi lebih kecil,
sudut hamburan 0 meningkat. Pada gambar 1.4, ketergantungan 0 pada b ditunjukkan
secara skematis.
Selama eksperimen berlangsung, jumlah partikel u yang ditembakkan pada inti target
sangat banyak. Jika kita batasi pengamatan kita pada sebuah inti hamburan, lalu partikel-
partikel u menuju inti dengan lintasan sepanjang garis asimptot yang berbeda akan
didapatkan parameter dampak b yang berbeda. Jika kita gambar dua silinder koaksial
terbatas dengan jari-jari b dan (bdb) memiliki sumbu sejajar dengan arah kejadian
[Link] inti pada sumbu, lalu semua partikel u dengan lajur asimtot dan 0-d 0
ditentukan oleh persamaan (1.2-7) (lihat gambar 1.5). anulus antara proyeksi dua silinder
pada bidang yang tegak lurus terhadap sumbu tampak jelas pada area 2ab db, dimana N
adalah jumlah kejadian per unit area. Lalu dengan menggunakan(1.2-7), kita dapatkan
jumlah hamburan antara 0 dan 0 - d 0 adalah
Semua partikel u terhambur pada sebuah sudut tertentu.
Jadi jumlah unit yang tersebar di setiap sudut tertentu (dituliskan Z` 2)
Dalam Pers. (1.2-9), tanda negatiI muncul dalam Persamaan (1.2-8) telah menurun.
Tanda negatiI tersebut berarti bahwa dengan meningkatnya dampak parameter b, sudut
hamburan 0 menurun .
Dalam deduksi di atas diasumsikan bahwa dari N partikel- a, kejadian pada area unit
penghambur, jumlah dN tersebar oleh aksi dari inti hamburan tunggal. Jadi jika hanya
satu partikel u adalah insiden per unit area, sehingga N 1, maka Pers. (1.2-9)
memberikan probabilitas bahwa partikel hamburan akibat aksi dari inti hamburan
tunggal. Nilai probabilitas hamburan per satuan suatu sudut adalah ditentukan oleh
Persamaan (1.2.10) dikenal dengan rumus hamburan RutherIord.
Jika Ze
2
/4ac
o
mempunyai dimensi (energi x panjang) dimana Mv
2
adalah dimensi energi.
Sehingga do/dO adalah dimensi kuadrat panjang, yaitu suatu wilayah. Untuk alasan ini,
kemungkinan hamburan di berikan oleh persamaan (1.2-10) yang dibuat sebagai
penampang lintang dari hamburan per unit sudut atau diIerensial penampang lintang
hamburan. Karena elemen dari sudut dO tidak mempunyai dimensi, do mempunyai pada
area dan pengukuran penampang lintang hamburan pada sudut tertentu dO. Penampang
lintang hamburan total o diperoleh dengan mengintegrasikan do pada semua sudut juga
pada dimensi area.
Pada experiment hamburan, berkas kolimasi dari energi tunggal partikel u dapat jatuh
pada lembar tipis yang ditembak dengan ketebalan t seperti pada gambar 1.6. Jika N buah
partikel u bertumbukan pada lembaran Ioil dengan interval waktu tertentu, jumlah N
yang dihamburkan pada sudut tertentu O dengan sudut 0 akan sebanding dengan NO.
Ini juga bergantung pada jumlah inti n
1
yang dihamburkan pada suatu unit area pada
lembar Ioil (yaitu kepadatan inti) sehingga dapat kita tuliskan
Atau
Dari gambar 1.6, kita lihat bahwa n
1
nt dimana n adalah jumlah hamburan inti per
satuan volume Ioil. Jadi kita dapatkan, menggunakan persamaan (1.2-10)
Dari gambar 1.7, kita lihat jika kita gambar jari-jari bola dan menggambar dua kerucut
dengan sudut semi vertikal 0 dan 0 0, maka area dari Jalur antara dua kerucut pada
permukaan bola adalah
Partikel u yang terhambur pada tiap sudut O pada sudut hamburan 0 semuanya
melewati jalur ini. Sehingga jumlah hamburan partikel u yang jatuh pada suatu luasan
adalah.
Bahkan jika lebar dari Ioil penghambur RR` cukup kecil pada eksperimen Chadwick area
eIektiId berada pada