MAKALAH
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN
KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN DI PAUD
DISUSUN OLEH:
Nama
Stambuk
UNIVERSITAS TADULAKO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN GURU PAUD
2023
Kata Pengantar
Puji Syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat. Hidayah dan nikmat yang tak ternilai harganya. Atas izin-
Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Makalah Pemanfaatan
Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Pembelajaran di Paud”
Dalam penyususan makalah ini, saya banyak melibatkan berbagai pihak
yang telah meluangkan waktu dan tenaga atas bantuan, saran, dan bimbingan yang
diperlukan. Untuk itu, dengan kerendahan hati saya mengucapkan terima kasih.
Dengan menyadari terbatasnya kemampuan dan pengetahuan yang saya
miliki, maka kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa saya harapkan
demi kesempurnaan makalah ini. Saya berharap semoga makalah ini bermanfaat
bagi mereka yang memerlukannya dan senantiasa medapat ridho Allah SWT.
Palu, 18 Desember 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................i
DAFTAR ISI..................................................................................ii
BAB [Link]...................................................................1
[Link] Belakang.................................................................1
[Link] Masalah............................................................3
[Link] Masalah...............................................................3
BAB [Link]...................................................................4
2.1 Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi................4
2.2 Pembelajaran PAUD.........................................................6
2.2.1 Bermain Sebagai Esensi Pembelajaran Anak Usia
Dini.........................................................................6
2.2.2 Pembelajaran Anak Usia Dini...................................8
2.3 Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Sebagai
Media Pembelajaran Anak Usia Dini.................................11
2.4 Penerapan TIK dalam Pembelajaran Anak Usia Dini...........14
2.5 Manfaat TIK dalam Pembelajaran Anak Usia Dini..............15
BAB [Link]................................................................17
2.1 Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi..............17
2.2 Pembelajaran PAUD.......................................................17
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................18
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Zaman modernisasi saat ini, bangsa Indonesia mengalami kemajuan di
bidang ilmu pengatahuan dan teknologi yang sangat cepat. Hal ini dapat dilihat
dengan adanya informasi dan komunikasi yang cepat menyebar dalam setiap sendi
kehidupan termasuk dalam dunia pendidikan. Seiring dengan kemajuan tersebut,
dunia pendidikan juga mengalami pengaruh yang signifikan. Dampak tersebut
membawa pengaruh secara langsung terhadap proses pendidikan baik secara
positif maupun negative.
Proses pembelajaran pada satuan pendidikan anak usia dini
dapatdiselenggarakan melalui: (1) jalur pendidikan formal berbentuk taman
kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat, (2)
jalur pendidikan non formal berbentuk kelompok bermain (KB), Taman
PenitipanAnak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat, dan (3) jalur pendidikan
informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan
olehlingkungan (Depdiknas, 2003:9).
Oleh karena itu, proses pembelajaran yang bermutu sejatinya dapat
dimulaisejak usia dini dengan mempertimbangkan aspek perkembangan dan
karakteristik anak secara holistik dan integratif . Hal ini memberi arti bahwa
pembelajaran yang bermutu menjadi faktor utama dalam keberhasilan pendidikan
pada anak usia [Link] dalam pembelajaran dapat ditingkatkan melalui
pengelolaan kelas yangmemadai dengan mengedepankan prinsip-prinsip dan
pendekatan yang humanis bagi anak.
Namun demikian, pada umumnya pembelajaran yang dilaksanakan
dilembaga- lembaga pendidikan anak usia dini baik formal, informal
maupunnonformal masih terdapat banyak kendala, hambatan, dan tantangan.
Dahulu, pembelajaran lebih bersifat tradisionalis, manual, dogmatis, penggunaan
strategidan metode pembelajaran yang belum variatif. Selain itu, pembelajaran
cenderungmasih berpusat pada guru sehingga tidak memberikan kesempatan bagi
anak usiadini untuk dapat mengeksplorasi potensi dirinya secara bebas. Hal ini
disebabkan karena masih rendahnya kualitas guru PAUD dalam mengelola
pembelajaran sertakeilmuan dibidang pendidikan anak usia dini. Selain itu, belum
optimalnyakemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi yang bisa diaplikasikan dalam pembelajaran PAUD di sekolah.
Sumber daya manusia (SDM) yang unggul merupakan kunci kemajuan
dandaya saing bangsa. SDM unggul merupakan individu yang memiliki
kreativitas,inovasi, dan kecepatan beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
Tantangan untuk ke depan didominasi oleh percepatan perkembangan teknologi
informasi dankomunikasi (TIK). Ketertinggalan penguasaan TIK akan
menyebabkan lemahnyadaya saing dan hanya menjadikan sebagai bangsa
pengguna. Oleh karena itu,diperlukan upaya pengenalan, pemahaman,
pemanfaatan, dan pengembangan TIK secara tepat. Hal itu dimaksudkan agar
SDM memiliki pemahaman danketerampilan untuk memanfaatkan TIK dengan
baik. Salah satu cara yang dapatdilakukan adalah melalui pendidikan anak usia
dini (PAUD).
Pembelajaran saat ini, lebih diarahkan pada aktivitas modernisasi dengan
bantuan teknologi canggih dengan harapan dapat membantu anak usia dini
dalammengeksplorasi potensi, minat, dan bakat secara interaktif, produktif,
efektif,inspiratif, konstruktif, dan menyenangkan. Selain itu, anak usia dini
jugadiharapkan memiliki life skill secara sederhana dari aplikasi teknologi
tersebut.
Sesungguhnya, pembelajaran dengan menggunakan teknologi
memberikesempatan dan peluang bagi guru untuk dapat meningkatkan
danmengembangkan kompetensinya terutama kompetensi paedagogik dan
profesional. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran diasumsikan
dandiharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan pembelajaran
dikelas yang disebabkan oleh kurang optimalnya peran guru dalam memanfaatkan
penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan terutama pendidikan anak usiadini.
Salah satu hal yang bisa dimanfaatkan oleh dunia pendidikan terutama
gurudalam melaksanakan proses pembelajaran yaitu dengan cara
memanfaatkanteknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran
PAUD sesuaidengan tingkat perkembangan anak secara optimal. Pemanfaatan
TIK inidiharapkan menjadi salah satu alternatif dalam menjawab tantangan
pembelajaran PAUD pada masa kekinian dengan tetap mengedepankan prinsip-
prinsip pembelajaran anak usia dini dengan memperhatikan karakteristik dan
perkembangannya.
Optimalisasi pemanfaatan TIK ini menjadi sarana dalam
meningkatkanstimulasi perkembangan anak secara optimal. Oleh karena itu,
melalui penggunaan TIK ini diharapkan anak usia dini dapat memahami dan
mengerti penggunaan teknologi secara tepat guna untuk dapat membantu dalam
pembelajaran di sekolah. pemanfaatan TIK ini dengan cara mengoperasikan
penggunaa media audio visual, media player, komputer, dan internet. Hal
tersebutdiasumsikan dapat menjadi alternatif dalam proses pembelajaran
yangmenyenangkan dan menggembirakan bagi anak usia dini dengan tuntunan
dan panduan dari guru.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat ditarik rumusan permasalahan pada
makalah ini sebagai berikut:
a. Bagaimana penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam
pembelajaran PAUD ?
b. Apakah manfaat dan tujuan Penerapan Teknologi Informasi
danKomunikasi dalam Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk menerapkan teknologi informasi dan komunikasi yang
tepat,sederhana, menarik, komunikatif dan mendidik dalam
pembelajaranPAUD.
b. Untuk mengetahui manfaat dan tujuan penerapan Teknologi Informasidan
Komunikasi dalam Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini
BAB III
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi informasi dan komunikasi atau TIK lebih populer
dikenal dengansebutan istilah ICT. Sementara ICT tersebut singkatan dari
Information andCommunication Technologies. Dalam hal penggunaannya
TIK ini menggunakan perpaduan antara perangkat keras (hardware) dan
perangkat lunak (software). TIK ini menjadi salah satu perkembangan baru
dalam dunia pendidikan yang saat inimulai dirasakan disetiap lini bidang
kehidupan.
Terkait dengan hal itu, Lucas (Munir, 2008:41) mengemukakan
bahwateknologi informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan
untuk memproses dan mengirim informasi dalam bentuk elektronik, micro
komputer,komputer mainframe, pembaca barcode, perangkat lunak
memproses transaksi, perangkat lembar kerja dan peralatan komunikasi
dan jaringan merupakan contohteknologi informasi. Hal ini memberikan
informasi secara langsung dengan bantuan utama berupa komputer dan
alat-alat teknologi lainnya. Oleh karena itu,dalam memproses informasi,
teknologi membutuhkan peralatan dan media yangmendukung terciptanya
komunikasi melalui layanan yang mempermudah adanyatransaksi secara
langsung.
Hal yang terpenting dalam penggunaan teknologi informasi dan
komunikasiadalah tersedianya komponen-komponen yang saling
mendukung antara lainsoftware, hardware, proses, dan sistem dengan
tujuan utama menyampaikan pesansecara mudah dan dapat diterima
dengan cepat.
Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah bagian
dari media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan dalam aplikasi
pembelajaran. Hal ini dapat mempermudah guru dalam mengelola dan
menyampaikan pesan kepada peserta didik. Sekait dengan hal tersebut di
atas, menurut Sadiman dkk (1993:189-190)ada dua pola dalam
memanfaatkan media yaitu: 1) pemanfaatan media dalamsituasi kelas,
dimana pemanfaatannya dipadukan dalam proses pembelajaran disituasi
kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu; 2) pemanfaatan media
di luar kelas situasi kelas, pemanfaatan ini dibagi menjadi dua kelompok
utamayaitu pemanfaatan secara bebas dan pemanfaatan secara terkontrol.
Pemanfaatan media ini dapat mempermudah guru melakukan
aktivitas pembelajaran secara langsung baik indoor maupun outdoor. Hal
tersebut dapatdioptimalkan dengan mempertimbangkan karaktertik
perkembangan peserta [Link] lanjut, menurut Bates (1995:21)
pemilihan media berbasis teknologikomputer antara lain akses, biaya,
pertimbangan pedagogis, interaktivitas dankemudahan penggunaan,
pertimbangan organisasi, kebaruan (novelty) dankecepatan.
Berikut ini beberapa jenis TIK yang dapat dimanfaatkan dalam
pembelajaran PAUD, antara lain:
1. Audio dan Video Player.
Media audio berhubungan dengan pendengaran. Karena hal
inimenyangkut komunikasi melalui pendengaran secara langsung.
Sementaramedia video visual berkaitan dengan pelibatan indra
penglihatan. Hal inisesungguhnya terdapat dua pesan yang dimuat
dalam media visual yakni pesan verbal dan pesan nonverbal
2. Komputer
Komputer merupakan perangkat yang melibatkan teknologi sofware
danhardware. Melalui penggunaan komputer ini mempunyai pengaruh
secarasignifikan dalam proses pembelajaran. Komputer dapat
membantu gurumengopeasionalkan pembelajaran yang menantang dan
menyenagkan bagianak didik.
3. Internet
Internet merupakan layanan teknologi yang menyiapkan seluruh
aplikasidan informasi yang dapat dijadikan sebagai sumber dan media
pembelajaran. Internet dapat dioptimalkan dengan cepat, nyaman, aman
bagi penggunannya. Penggunaan internet dapat mempermudah guru
dalammencari dan menelusuri informasi berkaitan materi pembelajaran
yangdiajarkan kepada anak didik.
2.2 Pembelajaran PAUD
2.2.1 Bermain sebagai Esensi Pembelajaran Anak Usia Dini
Bermain merupakan esensi dalam pembelajaran anak usia dini.
Karenamelalui bermain, anak usia dini dapat mengeksplorasi dengan senang,
gembira,ceria, dan menyenangkan. Oleh karena itu, bermain menjadi wahana
untuk dapatmengeksplorasi minat dan bakatnya dengan cara-cara yang
menyenangkan.
Mengacu pendapat dari Karl Buhler dkk (Suryadi,
2007:116)mengemukakan bahwa pengertian bermain adalah kegiatan yang
menimbulkankenikmatan, dan kenikmatan itu menjadi rangsangan bagi perilaku
lainnya, yaituketika anak mampu berbicara dan berfantasi. Sementara itu, Freud
(Suryadi,2007:117) berpendapat bahwa dengan bermain anak yakin dapat
menumpahkanseluruh perasaan, bahkan mampu mengatur, menguasai, berpikir,
dan [Link] pendapat tersebut diperkuat oleh pendapatnya Piaget
yangmenyatakan bahwa bermain menunjukan 2 realita anak yaitu: 1) adaptasi
terhadapapa sudah mereka ketahui, dan 2) respons mereka dalam hal- hal baru.
Menurut Tedjasaputra (2001:20) menjelaskan bahwa melalui bermain
anak merasakan berbagai pengalaman emosi, senang, sedih, bergairah, kecewa,
bangga,marah. Melalui bermain pula memahami aturan apapun tata cara
[Link] Piaget (Mayesky, 1990:196-197) menjelaskan bahwa
bermain adalahsuatu kegiatan yang berulang-ulang dan menimbulkan
kesenangan/kepuasan bagidiri seseorang.
Sementara itu, bermain menurut Hildebrand (Moeslihatoen, 2004:24)
bahwa bermain berarti berlatih, mengeksploitasi, merekayasa, mengulang latihan
apapunyang dapat dilakukan untuk mentransformasi secara imajinatif hal-hal yang
samadengan dunia orang dewasa. Selain pendapat tersebut yang telah
dipaparkan,Stone (1993:5) menjelaskan bahwa bermain adalah hal yang nyata, hal
yang penting membantu anak mempelajari tentang dunianya secara alamiah.
Pendapatdi atas juga di perkuat menurut Bettleheim (Hurlock, 1991:320) yang
menjelaskan bahwa kegiatan bermain adalah kegiatan yang dilakukan tidak
mempunyai peraturan lain kecuali yang ditetapkan pemain sendiri dan tidak ada
hasil akhir yang dimaksudkan dalam realitas luar.
Pendapat lain dikemukakan oleh Musfiroh (2008:4) ia menjelaskan
bahwakegiatan bermain mengandung unsur: (1) menyenangkan dan
menggembirakan bagi anak-anak menikmati kegiatan bermain tersebut, tampak
riang dan senang,(2) dorongan bermain muncul dari anak bukan paksaan orang
lain, (3) anak melakukan karena spontan dan sukarela, anak tidak merasa
diwajibkan, (4) semuaanak ikut serta secara bersama-sama sesuai peran masing-
masing, (5) anak berlaku pura-pura marah atau pura- pura menangis, (6) anak
menetapkan aturanmain sendiri, baik aturan yang diadopsi dari orang lain maupun
aturan yang baru,aturan main dipatuhi oleh semua peserta bermain. (7) anak
berlaku aktif; merekamelompat atau menggerakan tubuh, tangan dan tidak sekedar
melihat, (8) anak bebas memilih maun bermain apa dan beralih ke kegiatan
bermain lain, bermain bersifat fleksibel.
Berdasarkan pendapat yang telah terurai tersebut dapat disimpulkan bahwa
bermain merupakan bermacam bentuk kegiatan yang memberikan kepuasan
padadiri anak yang bersifat non serius, lentur, dan bahan mainan terkadang
dalamkegiatan dan yang secara imajinatif ditransformasikan sepadan dengan
duniaorang dewasa. Bermain juga merupakan suatu aktivitas yang dilakukan anak
untuk bereksplorasi, membantu anak mempelajari tentang dirinya, orang lain,
danlingkungan, sehingga dapat mempengaruhi semua aspek perkembangan
melaluikegiatan yang menyenangkan, spontan tanpa aturan yang mengikat,
gembira,sukarela, dan penuh kebebasan.
Bermain mempunyai fungsi untuk dapat menjadi sarana eksplorasi anak
dalam melakukan aktivitasnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Santoso (2004:50)
bahwa salah satu fungsi bermain adalah melatih kerjasama, gotong
royong,toleransi, saling menghargai dan saling membutuhkan antar anak.
Sementara itu,Suratno (2005:80-81) menjelaskan bahwa melalui bermain anak
dapat berlatihdalam kehidupan bersosial seperti keterampilan berkomunikasi dan
bernegoisasi. Pendapat lain dijelaskan menurut Bruner (Suratno, 2005:76) bahwa
fungsi bermain adalah sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas dan
fleksibilitasanak. Hal ini menjadi penting bahwa bermain menjadi bagian penting
dalamkehidupan anak untuk melakukan penjelajahan terhadap dunianya. Pendapat
tersebut diperkuat oleh Frank dan Goldenson (Moeslihatoen, 2004:33-34)
menjelaskan bahwa bermain bagi anak memiliki 8 fungsi antara lain: 1)Menirukan
apa yang dilakukan oleh orang dewasa, seperti meniru ibu masak didapur, dokter
mengobati orang sakit, 2) untuk melakukan berbagai peran yang adadi dalam
kehidupan nyata seperti guru mengajar di kelas, supir mengendaraimobil, 3) untuk
mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidupyang nyata.
Contohnya ibu memandikan adik, ayah membaca koran, kakak mengerjakan tugas
sekolah, 4) untuk menyalurkan perasaan yang kuat sepertimemukul-mukul kaleng,
menepuk-nepuk air, 5) untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat
diterima seperti berperan sebagai pencuri, 6) untuk kilas balik peran-peran yang
biasa dilakukan seperti gosok gigi, sarapan pagi, naik angkutan kota, dan lain
sebagainya, 7) Mencerminkan pertumbuhan seperti pertumbuhan misalnya
semakin bertambah tinggi tubuhnya, semakin gemuk badannya dan semakin
dapat berlari cepat, dan 8) untuk memecahkan masalah danmencoba berbagai
penyelesaian masalah seperti menghias ruangan, menyiapkan jamuan makan,
pesta ulang tahun.
Berdasarkan paparan pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwafungsi bermain adalah sebagai upaya pengembangan potensi dan kreativitas
anak melalui proses yang dialaminya dengan melakukan ekplorasi
terhadapkeinginannya secara bebas dan spontan. Selanjutnya dengan bermain pula
anak dapat mengetahui kemampuan yang dimilikinya sebagai modal dasar
dalammelakukan tindakan dan aktivitasnya secara langsung.
2.2.2 Pembelajaran Anak Usia Dini
Pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik
dengansumber belajar. Interaksi ini menjadi bagian dalam memperoleh informasi
secarasistematis dan teratur. Hal lain juga dikaitkan bahwa pembelajaran
mampumenghasilkan adanya perubahan tingkah laku sesuai yang diharapkan
berdasarkantujuan yang diinginkan. Terkait dengan hal ini, Surya (2004:7)
memaparkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh
individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasildari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Sementara itu, menurut Undang-undang nomor 20 tahun 2003 Pasal 1
ayat20 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatulingkungan belajar. Melalui proses interaksi tersebut, diharapkan
dapatmengeksplor pengetahuannya secara bebas dengan lingkungan belajar yang
memadai.
Proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dalam lingkungan
belajar adalah sebuah proses yang tidak bisa diindahkan dalam konteks
pengelolaan pembelajaran. Terkait dengan hal ini, Sagala (2003:61) menjelaskan
pembelajaran sebagai suatu proses dimana lingkungan seseorang secara
sengajadikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu
dalamkondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu.
Halini menunjukkan bahwa pembelajaran mengarahkan pada proses menuju
adanya perubahan tingkah laku ke arah yang positif. Selain itu, pembelajaran
dapatdikelola dengan teratur, sistematis, dan mengedepankan seluruh aspek
[Link] karena itu, dalam proses ini dapat memberikan stimulasi dengan
melibatkanunsur-unsur pedagogis sehingga dapat tercapai tujuan pembelajaran
yangdiinginkan oleh pembelajar.
Selain itu, Sa’ud (2010:124) memaparkan bahwa pembelajaran
merupakanserangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya
proses belajar pada siswa. Dalam hal ini, pembelajaran mengarahkan adanya
interaksiyang harmonis antara pendidik dengan peserta didik. Lingkungan belajar
jugamenjadi hal yang penting dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu,
kegiatanini dapat memberikan manfaat dalam proses komunikasi dan interaksi
[Link] demikian, pembelajaran diarahkan pada proses yang saling
membutuhkandalam memperoleh ilmu pengetahuan secara komprehensif. Melalui
pembelajaranini, siswa dapat melakukan kegiatan sesuai dengan potensi yang
tujuan yanghendak dicapai secara efektif dan tepat sasaran. Maka pembelajaran
ini menjadihal penting sehingga dapat membangkitkan siswa untuk dapat
mengetahui lebih dalam pengetahuan yang diinginkannya.
Disisi lain, Sudjana (Mariyana,dkk 2013: 6) menyatakan bahwa
pembelajaran adalah penyiapan suatu kondisi agar terjadinya belajar. Hal ini
memberikan pemahaman bahwa pembelajaran hendaknya didesain untuk
dapatterciptanya belajar yang melibatkan seluruh elemen atau komponen
[Link] tersebut saling bersinergi untuk dapat menumbuhkan
suasana pembelajaran secara kondusif dan produktif.
Sekait dengan hal itu, (Ahmadi, dkk: 2011:19) menguraikan bahwa
pembelajaran merupakan suatu sistem instruksional yang mengacu
padaseperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk
mencapaitujuan. Lebih lanjut, mengatakan bahwa pembelajaran meliputi suatu
komponen,antara lain tujuan, bahan, peserta didik, guru, metode, situasi, dan
evaluasi.
Pembelajaran pada anak usia dini mengedepankan prinsip-prinsip
perkembangan sesuai dengan karakteristiknya. Hal ini bertujuan bahwa pada anak
usia dini pembelajarannya menggunakan pembelajaran terpadu. Oleh karena itu,
pembelajaran terpadu menjadi ciri khas yang melekat dalam proses
pembelajaranyang diselenggarakan pada anak usia dini.
Sejalan dengan itu, Hadisubroto (1998:23) memaparkan bahwa
pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dari suatu pokok
bahasanatau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lainnya, dimana
konseptertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan
ataudirencanakan, baik dalam satu bidang atau lebih dan dengan beragam
pengalaman belajar agar pembelajaran menjadi lebih bermakna. Hal ini memiliki
pengertian bahwa pembelajaran terpadu mengaitkan komponen tertentu dalam
prosesintegrasi keterampilan dan kemampuan.
Sementara itu, Prabowo (2000:3) mengatakan bahwa pembelajaran
terpadusebagai suatu proses yang mempunyai beberapa ciri yaitu: (1) berpusat
pada siswa(student centered), (2) proses pembelajaran mengutamakan pemberian
pengalaman langsung, serta (3) pemisahan bidang studi tidak terlihat
[Link] terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum
yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan.
Lebih lanjut, Trianto (2010a:6) berpendapat bahwa implementasi
pembelajaran terpadu bergantung pada kecenderungan materi-materi
yangmemiliki potensi untuk dipadukan dalam satu tema tertentu. Dari beberapa
ciri pembelajaran terpadu di atas, menunjukkan bahwa model pembelajaran
terpadu adalah sejalan dengan beberapa aliran modern yaitu termasuk dalam
aliran pendidikan progresivisme. Aliran pendidikan progresivisme memandang
pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat
pada anak (student centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikanyang
masih berpusat pada guru dan pada bahan ajar. Tujuan utama sekolah adalahuntuk
meningkatkan kecerdasan praktis, serta untuk membuat anak lebih efektif dalam
memecahkan berbagai problem yang disajikan dalam konteks
pengalaman(experience) pada umumnya (William [Link], 1981).
2.3 Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Sebagai Media
Pembelajaran Anak Usia Dini
Menurut Robinson Situmorang, (2013:17), Pemanfatan Teknologi
Informasidan Komunikasi (TIK), pada masa perkembangannya lebih dikenal
dengansebutan“media Komputer”, yang digunakan sebagai media pembelajaran,
baik itu bersifat offline maupun online. Komputer sebagai media pembelajaran
secara begantian disebut disebut pula dengan mutimedia. Ini disebabkan
kemampuanteknologi yang dimiliki perangkat komputer mampu
mengintegrasikan berbagaifungsi media (mulai dari audio, visual, animasi, sistem
transisi, kemampuaninteraktif, sampai kepada layanan sistem hypertexs) di dalam
satu medium, yang disebut Komputer.
Dengan kemampuan teknologi yang dimiliki, “komputer” menjadi
saranayang sangat efektif dan efisien untuk digunakan sebagai modalitas dalam
pembelajaran. Hal inilah yang menjadikan teknologi komputer memberi banyak
ragam dalam pembelajaran, khususnya ketika teknologi tersebut menjadi
mediunyang terkoneksi dengan internet. Berbagai ragam pembelajaran yang
memanfaatkan teknologi dengan istelah pembelajaran berbasis komputer
bermunculan, mulai dari Computer Based Learning (CBL), Online Learning atau
Web Based Learning, E-learning yang sering disebut juga Technology Based
Learning, Distance Learning (Pembelajaran Berbasis Jaringan) atau Integreted
System.
Melalui berbagai keunggulan yang dimiliki, teknologi komputer
telahmenginspirasi banyak ahli di bidang pendidikan untuk memberdayakannya
dalam skala yang lebih luas, sehingga tidak terbatas dalam pembelajaran
semata,tetapi menjadi modal utama dalam penyelenggaraan pendidikan, seperti
nampak dalam gambar berikut ini :
Gambar 1 : Rentang Pembelajaran Berbasis Komputer
Menurut Heinich dan Molenda (2005), dalam Robinson Situmorang,
(2013:18),mengemukakan bahwa secara umum media diartikan sebagai
„alatkomunikasi yang membawa pesan dari sumber ke penerima. Pengertian ini
lebihmengarah pada pengertian media yang lebih khusus. Secara lebih luas
dikatakan bahwa media adalah alat yang bermuatan pesan, yang memungkinkan
orang atau siswa dapat berorientasi dengan pesan tersebut secara langsung. Media
teknologiinilah merupakan media yang dirancang khusus untuk mencapai tujuan
pembelajaran tertentu, seperti Tenologi informasi dan Komunikasi (TIK) berbasis
offline dan online.
Lebih lanjut ia katakan, dengan memanfaatkan Teknologi informasi
danKomunikasi (TIK) sebagai media pembelajaran bukan hanya bermanfaat
bagisiswa (peserta didik) saja, tetapi juga bagi guru (pendidik) sebagai perancang,
pengembang dan pelaksana dalam pembelajaran. Oleh karena itu, kehadiran TIK
sebagai media pembelajaran banyak membantu guru (pendidik) dalam
berbagaihal, antara lain:
1. Pembelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif
Penggunaan media pembelajaran berupa foto ataupun video, dapatmenarik
perhatian siswa bila dibandingkan dengan penjelasan secaradiskripsi secara
lesan. Guru dapat menciptakan berbagai kegiatan yangvariatif dan
mengaktifkan siswa melalui foto ataupun gambar obyek yang dibahas.
2. Pembelajaran menjadi lebih kongkret dan nyata
Penggunaan media pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar, lebih-lebihdikelas
rendah sangat sesuai dengan karakteristik siawa yang masih beradadalam
tarah “operasional-konkret. Dengan media ini siswa akan lebihmudah
mempelajari segala sesuatu yang secara langsung dapat merekalihat, dengaar,
pegang dan merasakan.
3. Pengelolaan pembelajaran lebih efektif dan efisien
Dengan media pembelajaran, guru dapat terbantu untuk tidak perlu banyak
menulis atau mengilustrasikan di papan tulis. Ilustrasi dan tulisanyang
dibutuhkandapat dipenuhi guru dengan waktu yang tepat dan cepatmelaui
fasilitas tang terdapat pada komputer.
4. Mendorong siswa belajar secara lebih mandiri. Media Pembelajaran
yangsudah dirancang khusus untuk pembelajaran tertentu dapat
dipergunakanoleh siswa untuk belajar baik secara individu maupun secara
kelompok.
5. Meningkatkan kualitas [Link] media pembelajaran proses
pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien, serta dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran secara menyeluruh.
6. Proses pembelajaran dapat dilakukan di mana dan kapan sajaProgram
audio, video, komputer (offline dan online) adalah media pembelajaran
yang dapat digunakan di mana saja dan kapan sajasesuaidengan kondisi
dan situasi guru maupun siswa.
7. Menimbulkan sikap positif siswa terhadap proses pembelajaran
8. Penggunaan media yang dirancang sesuai dengan kebutuhan belajar
siswadapat menimbulkan sikap positif siswa terhadap proses belajar
mengajar.
2.4 Penerapan TIK dalam Pembelajaran Anak Usia Dini
Pembelajaran merupakan suatu istilah yang memiliki keterkaitan
yangsangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses
[Link] merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan
suasanaatau memberikan pelayanan agar siswa belajar disesuaikan dengan kondisi
yangrelevan. Untuk itu, harus dipahami bagaimana siswa memperoleh
pengetahuandari kegiatan belajarnya. Dalam hal ini, belajar bagi anak usia dini
adalah melalui bermain yang kemudian dapat menstimulasi perkembangan dirinya
secara optimal
Dikaitkan dengan kondisi relevan yang ada di sekitar anak yaitu anak
beradadi lingkungan serba teknologi, maka kegiatan pembelajaran haruslah
dapatmenyesuaikan dengan kondisi tersebut. Bentuk penyesuaian
tersebutmengarahkan pada kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan TIK
sebagai media pembelajaran ataupun sebagai perangkat pendukung kelancaran
proses pembelajaran. Adapun penggunaan TIK dalam pembelajaran khususnya di
jenjang pendidikan anak usia dini perlu memperhatikan tingkat usia dan kaidah
tahapan pembelajaran anak agar penerapan TIK berfungsi secara benar dan
pemanfaatannya dapat menstimulasi seluruh aspek perkembangan anak.
Berikutcara penerapan TIK dalam pembelajaran anak usia dini yang
dikelompokkan berdasarkan kelompok usia:
1. Pada perkembangan anak usia 0-2 tahun, anak mulai belajar mendengar
dan mengenal sekitarnya, dari rangsangan-rangsangan yang
ditimbulkanmelalui gerakan, serta suara. Kemudian anak mulai menirukan
ketikamereka mulai belajar berbicara. Pemberian IT pada usia anak
demikiandapat melalui multimedia dengan cara diputarkan lagu-lagu
rohani ataulagu anak. Mengenalkan warna juga dapat melalui multimedia
denganmemutarkan film-film kartun anak, yang tentunya mendidik.
2. Pada anak kelompok usia 3-4 tahun, anak mulai menggunakan
kalimatyang hampir lengkap, hal ini dapat dilihat dari cara mereka
menanyakan sesuatu hal. Menurut Piaget, cara anak mengajukan
pertanyaanmenunjukkan perkembangan kognitif seorang anak. Oleh
karenannya penting diberikan IT melalui multimedia, dengan cara seperti
pada usiaanak 0–2 tahun, tetapi cara pembelajarannya meningkat
disesuaikandengan usia anak yang telah dapat menerima rangsangan lebih
banyak,namun tentu saja perlu pendampingan guru dan orang tua sehingga
dapatterlihat sejauh mana anak mampu untuk belajar. Semakin banyak
kesempatan anak belajar untuk berbicara, dapat membantu anak
menumbuhkan rasa percaya diri.
3. Pada kelompok usia 5-6 tahun, pengenalan dunia IT sudah
lebihmeningkat. Pengenalan dapat berupa pengenalan perangkat
keraskomputer (hardware) yang bisa dilihat dan dipegang langsung oleh
anak,misalnya: CPU, Monitor, Mouse, Keyboard dan Printer. Pengenalan
perangkat keras ini juga dilengkapi dengan penjelasan fungsi dari masing-
masing alat dengan cara langsung dipraktekkan (learning by doing).
4. Pada kelompok usia 7-8 tahun, pengenalan dunia IT sudah masuk
padatingkat program interaktif, dimana anak sudah bisa berinteraksi
dengan program aplikasi pembelajaran.
2.5 Manfaat TIK dalam Pembelajaran Anak Usia Dini
Manfaat untuk peserta didik bagi Anak Usia Dini, internet
menawarkankesempatan untuk belajar sendiri secara cepat untuk meningkatkan
pengetahuan, belajar interaktif, dan mengembangkan kemampuan anak.`TIK juga
dapatmenstimulus pengembangan kemampuan anak diantaranya:
1. TIK dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak
Media merupakan alat yang memungkinkan anak mudah untuk
mengertidan memahami sesuatu dengan mudah dan dapat untuk
mengingatnyadalam waktu yang lama dibandingkan dengan penyampaian
materi pelajaran dengan cara tatap muka dan ceramah tanpa alat bantuan.
Dengan penerapan media pembelajaran berbasis TIK anak akan lebih
termotivasidalam belajar sehingga kecerdasan kognitif anak akan terlatih.
Oleh karenaitu, dengan menerapkan media pembelajaran berbasis TIK
dalam pembelajaran dapat meningkatkan kecerdasan kognitif anak yaitu
adanya peningkatan yang pada kondisi awal kondisi masih kurang baik
akanmenjadi meningkat pada akhir.
2. TIK dapat meningkatkan kemampuan nilai agama dan moralDalam
meningkatkan kemampuan nilai agama dan moral yaitu melaluimedia TIK
guru dapat menstiumulus kemampuan NAM anak melaui vidioatau film
tentang kisah kisah teladan para nabi dan Rasul dan juga
denganmenggunakan game edukasi seperti mengenal hijaiyah
3. TIK dapat meningkatkan kemampuan sosial emosional anak Kemampuan
sosial emosianal anak dapat di stimulkus melalui pembelajaran
mengunakan pmedia TIK yaitu dengan menayangkan vidioatau pilem
mengenai prilaku sosial maupun emosional anak.
4. TIK dapat meningkatkan kemampuan bahasa pada anak Kemampuan
bahasa verbal dan literasi anak usia dini dapat dikembangkandengan
memberikan stimulasi melalui bermain yang sudah [Link]
merupakan cara belajar anak usia dini yang paling tepat. Melaluimedia
berbasis TIK dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan bahasa
pada anak , melalui pembelajaran berbasis TIK ini anak bisa belajar sambil
bermain seperti ketika anak bermain game tebak kata ataugambar dari
media TIK yang disediakan guru dan banyak lagi kegiatanlain yang
menggunakan media TIK.
5. TIK dapat meningkatkan kemampuan visik motorik anak Dalam
pengembangan fisik motorik penerapan TIK ini bisa melaluikegiatan
senam yang menggunakan audio, dan ketika anak melakukankegiatan yang
menggunakan jari tangan seperti memegang mos ataumemainkan gatget
maka secara tidak langsung kemampuan motorik halusanak berkembang.
6. TIK dapat meningkatkan kemampuan seni pada anak Penerapan TIK
tentunya sangat erat kaitan nya dengan seni maka dari itukemampuan seni
dapat distimulus melalui pembelajaran yangmenggunakan media TIK.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi
dankomunikasi lebih diarahkan pada stimulasi perkembangan anak usia
dini. Olehkarena itu, permasalahan-permasalahan harus diantisipasi
dengan solusi [Link] satu alternatif yang dapat dijadikan sebagai
solusi adalah melalui implementasi pembelajaran berbasis TIK.
Penggunaan TIK ini diantaranya melalui media audio, komputer,
daninternet diasumsukan dapat membangkitkan dan menstimulasi
perkembangan pada anak usia dini. Oleh karena itu, optimalisasi
pemanfaatan TIK menjadi salahsatu solusi alternatif dalam pembelajaran
anak usia dini. Pembelajaran anak usiadini melalui alat teknologi tersebut,
diharapkan mampu mendongkrak suasana pembelajaran yang kreatif,
inovatif, inspiratif, dan menyenangkan bagi anak usiadini. Selain itu,
manfaatnya lainnya bagi anak usia dini adalah mampumenstimulasi
perkembangan anak secara keseluruhan dengan
mempertimbangkankarakteristik anak.
3.2 Saran
a. Guru PAUD melakukan analisis terhadap silabus untuk memilih
danmemilah tema yang memungkinkan dapat dibelajarkan
denganmenggunakan perangkat TIK. Ingat, tidak semua tema
dapatdibelajarkan dengan memanfaatkan teknologi secara langsung.
b. Memilih jenis perangkat TIK yang akan digunakan termasuk
menetapkan kategori perangkat, misalnya audio saja, video saja,
ataumultimedia.
c. Menyiapkan perangkat pendukung, misalnya ketersediaan materi
danalat pemutarnya, kesiapan aplikasi yang tidak bermasalah
dalamcomputer, dan seterusnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bates, A.W. (1995). Technology, open Learning and distance education.
London:Routledge.
Brewer, Jo Aan. (2007). Introduction to early Chilhood Education. United
States:Pearson Education.
Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Undang-Undang Nomor 20 Tahun2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas.
Fogarty, Robin. (1991). The Mindful School How to Integrate the
[Link] in the United State of America: IRI/Sky Light Training.
Hurlock, Elizabet B. (1999). Perkembangan Anak Jilid 1(Edisi 6).
Jakarta:Penerbit Erlangga. Jamaris, Martini. (2006).
Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta:
[Link].
Masitoh. (2007). Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: Universitas Terbuka.
Mayesky, Mary. (1990). Creative Activities For Young Children, Fourth
Edition,Albany, New York: Delmar Publisher.
Mariyana, dkk. (2013). Pengelolaan Lingkungan Belajar. Jakarta: Penerbit
Kencana Prenada Media Group.
Miarso, Yusufhadi. (2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan.
Jakarta:Prenada Media.
Moeslihatoen. (2004). Metode Pengajaran di Taman Kanak- Kanak.
Jakarta:Rineka Cipta.
Musfiroh,Tadzkiroatun. (2008). Cerdas Melalui Bermain: Cara MengasahMultiple
Intelligences pada anak sejak usia dini. Jakarta: PT. Gramedia.
Sa’ud, U.S. (2010). Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Suyanto, Slamet. (2005). Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
Yogyakarta:Hikayat. Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu (Konsep,
Strategi,dan Implementasinya dalam
Kurikulun Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)). Jakarta: Bumi Aksara Trianto.
(2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta:Kencana.