ANALISIS
RASIO NILAI PASAR
By : Irwan Supriyadi, [Link].
PENGERTIAN RASIO NILAI PASAR
Rasio nilai pasar adalah metrik keuangan yang mengukur
dan menganalisis harga saham dan membandingkan
harga pasar dengan pesaing dan terhadap fakta dan
angka lainnya. Rasio ini melacak kinerja keuangan
perusahaan publik untuk memahami posisinya di pasar.
Manfaat rasio nilai pasar
• Rasio nilai pasar memberikan wawasan kepada investor
tentang harga saham dan efisiensi keuangan perusahaan
• Mereka membantu menganalisis prospek masa depan
perusahaan
• Rasio pasar juga memberi tahu Anda tentang tren pasar
saham baru
• Mereka dapat digunakan untuk menentukan saham
yang undervalued atau overvalued mana yang cenderung
mengubah kinerja di masa depan
• Mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan kembalian
(return) atau imbalan kepada para pemberi dana, khususnya
investor yang ada di pasar modal.
• Merupakan rasio yang bermanfaat bagi para investor untuk menilai
kinerja sekuritas saham di pasar modal.
Keuntungan investasi saham yang diharapkan oleh para
investor di pasar modal pada dasarnya terdiri atas dua
macam yaitu perubahan harga sekuritas saham yang
bersangkutan (capital gain) dan dividen.
Biasanya dividen merupakan keuntungan investasi yang
bersifat jangka panjang, dan capital gain merupakan
keuntungan investasi yang bersifat jangka pendek.
JENIS-JENIS RASIO NILAI PASAR
Price Book Value (PBV)
Earning Per Share (EPS)
Price Earning Ratio (PER)
Dividend Yield Ratio (DYR)
Dividend Payout Ratio (DPR)
HARGA SAHAM
1. Harga Nominal, harga yang tercantum dalam sertifikat
saham yang ditetapkan oleh emiten untuk menilai setiap lembar
saham yang dikeluarkan.
2. Harga Perdana, harga ini merupakan harga saat saham itu
dicatat di bursa efek. Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan
oleh penjamin emisi (underwriter) dan emiten.
3. Harga Pasar, harga jual dari investor yang satu dengan investor
yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatat di bursa.
PRICE BOOK VALUE (PBV)
Price Book Value (PBV) merupakan salah satu rasio pasar
yang digunakan untuk mengukur kinerja harga pasar
saham terhadap nilai bukunya, untuk melihat apakah
sebuah saham saat ini sudah diperdagangkan di harga
yang sudah mahal, masih murah, atau wajar menurut rata-
rata historisnya.
PRICE BOOK VALUE (PBV)
Rumus Price Book Value (PBV)
Nilai buku yang dimaksudkan disini yaitu nilai yang
dicatat berdasarkan sistem akuntansi dan nampak di
dalam neraca perusahaan.
Rumus Price Book Value (PBV)
Jika perusahaan memiliki harga pasar Rp. 375 per
lembar, sedang harga nominal sahamnya Rp. 100 per
lembar.
PBV = RP 375 / RP 100 = 3,75 kali
EARNING PER SHARE (EPS)
Earning Per Share (EPS) merupakan rasio yang
menunjukkan berapa besar keuntungan (return) yang
diperoleh investor atau pemegang saham per lembar
saham.
EPS merupakan komponen penting pertama yang harus
diperhatikan dalam analisis perusahaan. Informasi EPS
suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih
perusahaan yang siap dibagikan untuk semua pemegang
saham perusahaan.
Rumus EARNING PER SHARE (EPS)
PRICE EARNING RATIO (PER)
Price Earning Ratio merupakan suatu rasio yang lazim
dipakai untuk mengukur harga pasar (market price) setiap
lembar saham biasa dengan laba per lembar saham.
Rasio harga/laba mencerminkan penilaian pemodal
terhadap pendapatan dimasa mendatang.
PRICE EARNING RATIO (PER)
DIVIDEND YIELD RATIO (DYR)
DIVIDEND YIELD RATIO (DYR)
Dividend yield menunjukkan berapa banyak perusahaan telah
membayar dividen selama setahun terhadap harga sahamnya. Ini
membuat pemegang saham lebih mudah melihat berapa banyak
pengembalian per rupiah yang diinvestasikan dan diterima melalui
dividen.
Perusahaan baru yang sedang bertumbuh, membayar dividend
yield lebih rendah dibanding perusahaan yang sudah matang di sektor
yang sama. Perusahaan lama yang sudah mature dan tidak lagi
tumbuh cepat, umumnya membayar dividend yield lebih tinggi.
Dividend yield saham yang tinggi tidak selalu menunjukkan peluang
investasi menarik di perusahaan tersebut. Sebab, dividend yield bisa
naik ketika harga saham turun, Dan sebaliknya, saat harga saham
naik, dividend yield turun.
DIVIDEND YIELD RATIO (DYR)
Pembagian dividen Rp DYR = 300 / 5.000
300 per saham. = 0,06
Harga saham Rp. 5,000 0,06 x 100 % = 6%
per lembar.
KELEBIHAN DIVIDEND YIELD
Kelebihan dividend yield bagi perusahaan adalah investor atau pemegang saham
akan menginvestasikan kembali dividen yang mereka terima dari perusahaan
untuk membeli saham perusahaan tersebut.
Contohnya investor membeli saham A senilai Rp 10 juta dengan dividend yield 4%
pada harga saham Rp 1.000. Investor memiliki 10 ribu saham yang semuanya
membayar dividen Rp 200 per saham.
= 10.000 saham x Rp 200 = Rp 2.000.000
Investor menggunakan dividen Rp 2 juta ini untuk membeli 2.000 saham A lagi.
Harga disesuaikan menjadi Rp 900. Investasi ulang akan membeli 2.222 saham.
Tahun depan, investor akan memiliki 12.222 saham (10.000 + 2.222 saham)
senilai Rp 12.222.000 (12.222 x Rp 1.000). Jika nantinya perusahaan membayar
dividen lagi sebesar Rp 210 per saham misalnya, berarti kamu akan menerima
dividen yang lebih besar daripada tahun sebelumnya.
= 12.222 saham x Rp 210 = Rp 2.566.620.
KEKURANGAN DIVIDEND YIELD
Dividend yield yang tinggi memang menarik, tetapi bisa saja itu mengorbankan
potensi pertumbuhan perusahaan. Setiap rupiah yang dibayar perusahaan dalam
bentuk dividen kepada pemegang saham sama saja dengan satu rupiah yang
tidak diinvestasikan kembali perusahaan untuk tumbuh dan menghasilkan lebih
banyak keuntungan modal.
Tanpa pembagian dividen, investor atau pemegang saham punya potensi
mendapatkan pengembalian yang lebih tinggi jika harga saham perusahaan
meningkat. Dengan kata lain, perusahaan menahan laba, tidak bagi dividen, tetapi
dialihkan untuk pertumbuhan perusahaan.
Oleh karena itu, sebaiknya investor tidak melihat saham berdasarkan dividend
yield saja. Data dividen bisa sudah lama atau informasi yang salah. Sebab, banyak
perusahaan memeiliki dividend yield tinggi karena harga sahamnya ambruk.
DIVIDEND PAYOUT RATIO (DPR)
Rumus Dividend Payout Ratio (DPR)
Jika perusahaan DPS = 70.000.000 / 2.000.000
memperoleh laba bersih = Rp 35 / lembar
Rp 90.000.000.
EPS = 90.000.000 / 2.000.000
Pembagian dividen Rp = Rp 45 / lembar
70.000.000 di mana jumlah
saham beredar sebanyak DPR = 35 / 45 X 100%
2.000.000 lembar. = 78%
TERIMA KASIH