100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
28 tayangan2 halaman

Perubahan Hukum Perseroan di Indonesia

1. Pengaturan perseroan terbatas di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan sejak zaman kolonial hingga era reformasi, di mana UU No. 40 Tahun 2007 menjadi lex specialis terkini yang mencabut UU sebelumnya. 2. UU perseroan terkini telah menerapkan beberapa asas hukum perseroan asing seperti piercing the corporate veil dan fiduciary duty, meskipun menimbulkan tantangan karena perbedaan sistem hukum antara common law dan civil law

Diunggah oleh

encep iik muzakir
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
28 tayangan2 halaman

Perubahan Hukum Perseroan di Indonesia

1. Pengaturan perseroan terbatas di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan sejak zaman kolonial hingga era reformasi, di mana UU No. 40 Tahun 2007 menjadi lex specialis terkini yang mencabut UU sebelumnya. 2. UU perseroan terkini telah menerapkan beberapa asas hukum perseroan asing seperti piercing the corporate veil dan fiduciary duty, meskipun menimbulkan tantangan karena perbedaan sistem hukum antara common law dan civil law

Diunggah oleh

encep iik muzakir
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

PT pertama kali diatur dalam Pasal 36 sampai dengan Pasal 56 KUHD yang berlaku di Indonesia sejak
tahun 1848, pengaturan lain juga terdapat pada Pasal 1233 sampai dengan Pasal 1356 dan Pasal 1618
sampai dengan Pasal 1652 KUHPerdata.
Pada masa orde baru diterbitkan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas,
konsekwensi dari lahirnya UU tersebut Pasal 36 sampai dengan Pasal 56 KUHD yang menjadi dasar
hukum NV tidak lagi menjadi dasar hukum PT, karena UU tersebut ditetapkan menjadi lex specialis dari
pengaturan perseroan dalam KUHD dan KUHPerdata.
Pada era reformasi kemudian disahkan Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan
Terbatas, Yang sekaligus mencabut, UU nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Dimasa
reformasi ini terdapat hal baru dalam Pengaturan UU No 40 Tahun 2007 tersebut, antara lain; lahirnya
pengaturan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai bentuk perwujudan dari konsep
Corporate Social Responsibility (CSR), pengaturan mengenai perubahan modal perseroan, hingga
pengaturan tentang pendaftaran PT secara Online.
Jika kita cermati perubahan-perubahan tersebut, maka akan diketemukan bahwa perubahan
pengaturan hukum perseroan sangat di pengaruhi oleh asas-asa hukum asing, hal ini tidak bisa
dihindari karena dampak dari Globalisasi terhadap bidang ekonomi, yang konsekwensinya adalah
pembaharuan Hukum. Melalui Globalisasi mengakibatkan masuknya sistem ekonomi asing dan hukum
asing kedalam negara Indonesia, yang mana sistem tersebut satu sama lain sangat berbeda, dimana
sistem asing menganut sistem common law, sedangkan indonesia menganuts sistem civil law, yang
pada prakteknya karena perbedaan sistem tersebut seringkali meimbulkan benturan. Oleh karena hal
tersebut, maka dirubahlah hukum perseroan sebagai jawaban tantangan globalisasi.
Perubahan tersebut membuka ruang masuknya asas-asas hukum terhadap asas hukum perseroan
indonesia. Menurut nyulistowato Suryanti (2023: 2.6) dalam BMP Hukum dagang menerangkan bahwa
setidaknya ada 6 asas hukum asing yang diterapkan dalam Hukum Perseroan ( UU No 40 Tahun 2007),
yaitu :
a. Piercing The Corporate Veil, yang merubah ketentuan pasal 3 ayat (1) UU PT, yang menyebutkan
bahawa Pemegang saham perseroan memiliki tanggung jawab yang terbatas, dirubah menjadi
tidak terbatas, apabila memenuhi unsur-unsur pasal 3 ayat (2) UU PT.
b. Ultra Vires, yang melahirkan ketentuan pasal 97 dan pasal 114 UU Perseroan Terbatas, sehingga
setiap anggota direksi bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian perseroan, apabila
bersalah atau lalai menjalankan tugas.
c. Corporate Ratification, yang menekankan bahwa perseroan bisa menerima tindakan yang
dilakukan oleh orang lain dalam aktivitas perseroan, sekaligus mengambil alih tanggung jawab
dari orang lain tersebut, asas ini yang melahirkan ketentuan pasal 13, dan pasal 14 UU
Perseroan Terbatas.
d. Fiduciary Duty, yang melahirkan pasal 92 ayat (1) UU Perseroan terbatas, yang menyebutkan
bahwa direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai
dengan maksud dan tujuan perseroan.
e. Corporate opportunity, yang mengajarkan bahwa kepentingan perseroan lebih tinggi dari
kepentingan peribadi, yang kemudian agar tidak terjadi benturan kepentingan maka lahirlah
pengaturan pasal 99 ayat (1) UU Perseroan Terbatas.
f. Derivative Action, yang mengajarkan tentang gugatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih
pemegang saham atas nama perseroan untuk keuntungan perseroan. Asas ini melahirkan pasal
97 ayat 6 UU Perseroan terbatas.
2. Penerapan sistem Anglo Saxon ke dalam hukum perseroan yang menganut sistem hukum Eropa
Kontinental, tentunya akan ada kendala, hal ini karena terjadinya perbedaan dimana anglo saxon
berdasar kepada common law, sedangkan eropa kontinental berdasarkan kepada civil law.
Sebagaimana yang telah diketahui Bahwa UU No 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas telah
menjadi lex specialis bagi hukum ekonomi Indonesia, sehingga UU tersebut menjadi rujukan bagi,
hukum dibawahnya. Yang dalam prakteknya UU No 40 Tahun 2007 yang mengandung asas asing
tersebut, terjadi pertentangan dengan Hukum kepailitan, hal ini dibuktikan oleh Jefry Jonathan dalam
tesisnya yang berjudul Analisis Penerapan Ketentuan Pasal 3 Ayat (2) UU No.40 Tahun 2007 Terhadap
Pertanggung Jawaban Pemegang Saham Dalam Hukum Kepailitan Indonesia. Dalam tesis tersebut
ditemukan bahwa asas Piercing The Corporate Veil yang terdapat pada Pasal 3 Ayat (2) UUPT, tidak
pernah diterapkan dalam kasus kepailitan di Indonesia, karena Hukum Kepailitan Indonesia tidak
mengantisipasi itikad buruk debitur dalam proses kepailitan, beberapa ketentuan dalam kepailitan
membawa dampak pada tidak efektifnya di terapkan ketentun tersebut. Berdasarkan hal tersebut
diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem anglo saxon terhdap hukum yang menganut sistem
hukum eropa kontinental terdapat kendala didalam praktek pelaksanaannya.

Sumber :

Suryanti. Nyulistiowati. Dkk. (2023). Hukum Perusahaan. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka.

Pangestu. M. Teguh dan Nurul Aulia, Hukum Perseroan Terbatas Dan Perkembangannya Di
Indonesia. Business Law Review. Volume III. Halaman 21.
[Link]
[Link] diakses pada tanggal 28 April 2024

Harjono. Dhaniswara K. (2009). Pengaruh Sistem Hukum Common Law Terhadap Hukum Investasi dan
Pembiayaan di Indonesia. Lex Jurnalica Vol. 6 No.3. Halaman 180.
[Link]
[Link] diakses pada tanggal 28 April 2024

Jonathan. Jefry. Dan Nindyo Pramono. (2018). Analisis Penerapan Ketentuan Pasal 3 Ayat (2) UU No.40
Tahun 2007 Terhadap Pertanggung Jawaban Pemegang Saham Dalam Hukum Kepailitan Indonesia. Abstrak.
Universitas Gajah Mada [Link]
diakses pada tanggal 28 April 2024

Anda mungkin juga menyukai