BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit dermatitis secara global mash merupakan beban penyakit
akibal gangguan kulit yang dilaporkan sangat tinggi baik di negara
berpenghasilan menengah keatas maupun rendah. Hal ini mendukung untuk
memasukkan pencegahan dan pengobatan penyakit kulit dalam strategi
kesehatan global dimasa depan sebagai hal yang mendesak. Studi Global
Burden of Disease (GBD) 2010 memperkirakan beban penyakit disebabkan
oleh lima belas kategori penyakit kulit dari Tahun 1990 hingga 2010 untuk
187 negara dan penyakit dermatitis termasuk ke dalam lima belas kategori
beban penyakit global.
Menurut perkiraan International Labour Organization (2004), setiap
Tahun diseluruh dunia sekitar 2 juta orang meninggal karena masalah yang
berhubungan dengan pekerjaan Setiap Tahun, sekitar 270 juta pekerja menjadi
korban kecelakaan dan sekitar 160 juta menderita penyakit akibat kerja.
Badan pengurus International Labour Organization menyetujui daftar baru
penyakit akibat kerja mencakup berbagai penyakit akibat kerja yang diakui
secara internasional, dan penyakit dermatitis masuk kedalam daftar penyakit
akibat kerja tersebut.
Menurut Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2019, di Indonesia
dermatitis termasuk penyakit kulit akibat kerja Prevalensi dermatitis di
Indonesia menjukkan dari 389 kasus 97% merupakan dermatitis kontak dan
sekitar 66,3% adalah dermatitis kontak iritan.
Berdasarkan profil Rumah Sakit Umum Daerah Bahteramas Tahun
2020, pada Tahun 2018 penyakit kulit terdapat sebesar 0,7%, pada Tahun
2019 terdapat sebesar 0,46% dan pada Tahun 2020 terdapat sebesar 1,28%
Kasus penyakit kulit berdasarkan jumlah kunjungan pasien rawat jalan
menurut jenis pelayanan di RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan data dua puluh besar penyakit Dinas Kabupaten Konawe,
penyakit kulit menempati urutan keempat sebesar 2,3%. Berdasarkan data
awal yang didapatkan pada profil UPTD Puskesmas Soropia, Tahun 2018
terdapat sebesar 22% penyakit dermatitis, pada Tahun 2019 menurun sebesar
6,48%, dan Tahun 2020 mengalami peningkatan sebesar 10,52% Berdasarkan
data tersebut, nelayan termasuk kelompok masyarakat yang mengalami
penyakit dermatitis.
Daerah pesisir memberikan dampak penting bagi mata pencaharian,
namun daerah pesisir secara global belum mendapat perhatian yang cukup
dari pemerintah daerah dan pusat yang menyebabkan kurangnya kemajuan
dalam fasilitas kesehatan, kesadaran kesehatan yang rendah, dan
ketidaksetaraan kesehatan antara penduduk pesisir, non-pesisir, dan
perkotaan. Nelayan adalah kelompok masyarakat pesisir yang banyak
memanfaatkan hasil laut, potensi lingkungan dan pesisir untuk
keberlangsungan hidupnya.
Nelayan merupakan kelompok pekerja yang memilikii risiko tinggi
terkena penyakit akibat kerja. Dermatitis adalah salah satu dari sepuluh
penyakit akibat pekerjaan, dan nelayan termasuk pekerjaan yang memiliki
risiko tinggi terkena dermatitis akibat kulit yang terpapar air laut yang
mengandung garam cukup tinggi dan tidak adanya pemakaian APD. Alat
pelindung diri biasa di singkat APD merupakan alat yang memiliki fungsi
melindungi tubuh dari adanya potensi bahaya. Alat pelindung diri digunakan
nelayan dalam mencegah penyakit dermatitis berupa pakaian khusus (pakaian
kerja), pelindung kepala, pelindung kaki, dan alat pelindung tangan yang
berfungsi melindungi tubuh terhadap paparan sinar matahari, suhu yang
ekstrim, percikan air laut, mikroorganisme, dan lain sebagainya.
Perilaku manusia dibagi ke dalam tiga domain atau ranah. Menurut
Mendrofa (2015) dalam Sirait & Samura (2021), pengetahuan seseorang
sangat penting dalam membentuk tindakan. Nelayan sangat rentan terkena
penyakit dermatitis akibat kerja yang disebabkan minimnya pengetahuan
nelayan terhadap aktivitas fisiknya pada saat melaut. Menurut teori
Notoatmodjo (2014) sikap adalah respond tertutup terhadap suatu objek atau
stimulus, serta predisposisi untuk melakukan suatu perilaku sedangkan
tindakan adalah realisasi dari pengetahuan dan sikap dalam perbuatan yang
nyata. Berdasarkan hal tersebut, pengetahuan, sikap, serta tindakan dapat
membentuk perilaku penggunaan APD bagi nelayan.
Berdasarkan Sumamur (2009) dalam Chafidz & Dwiyanti (2018) gejala
penyakit dermatitis adalah timbulnya rasa gatal, bintik kemerahan,
mengelompok maupun merebak, terkadang bersisik, serta berair akibat kulit
yang terpapar unsur-unsur yang ada dilingkungan kerja. Sehingga penyakit
dermatitis sangat berpengaruh negatif terhadap produktivitas kerja dan
mempengaruhi keadaan ekonomi.
Kabupaten Konawe mayoritas nelayan tersebar dibeberapa desa
Kecamatan Soropia. Berdasarkan data monografi kecamatan Soropia Tahun
2021, masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan sebanyak 517
orang. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan terhadap sepuluh nelayan
di wilayah pesisir Soropia, sebanyak semblan orang pernah mengalami
keluhan penyakit kulit seperti gatal, ruam, dan kemerahan. Berdasarkan
observasi awal yang dilakukan terkait penggunaan alat pelindung diri,
terdapat empat nelayan yang biasa menggunakan pakaian khusus seperti
lengan panjang dan pelindung -Kepala (topi), dua nelayan yang menggunakan
sepatu boot saat bekerja, dan satu nelayan yang biasa menggunakan sarung
tangan saat bersentuhan dengan air laut atau hasil melaut. Berdasarkan
observasi awal yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan APD
nelayan mash kurang dan dapat menyebabkan masalah penyakit
dermatitis pada nelayan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Dermatitis?
2. Apa faktor penyebab Dermatitis di wilayah pesisir?
3. Apa faktor resiko penyakit Dermatitis?
4. Bagaimana manifestasi klinis penyakit dermatitis?
5. Bagaimana klasifikasi penyakit Dermatitis?
6. Bagaimana paparan terhadap air laut dan sinar matahari mempengaruhi
perkembangan Dermatitis di wilayah pesisir?
7. Bagaimana penanggulangan Dermatitis di wilayah pesisir?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Dermatitis.
2. Untuk mengetahui faktor penyebab Dermatitis di wilayah pesisir.
3. Untuk mengetahui faktor resiko penyakit Dermatitis.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis penyakit Dermatitis.
5. Untuk mengetahui klasifikasi penyakit Dermatitis.
6. Untuk mengetahui bagaimana paparan terhadap air laut dan sinar matahari
mempengaruhi perkembangan Dermatitis di wilayah pesisir.
7. Untuk mengetahui penanggulangan Dermatitis di wilayah pesisir.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Dermatitis
Dermatitis adalah kelainan pada kulit dengan gejala subjektif berupa
rasa gatal dan secara objektif ditandai bercak, ruam atau peradangan.
Gejalanya bisa berupa warna kemerahan akibat pelebaran pembuluh darah,
sembab atau lebam akibat penimbunan cairan pada jaringan, penebaan kulit
dan tanda garukan serta perubahan warna kulit (Sumaryati M, 2016).
Dermatitis adalah suatu peradangan pada dermis dan epidermis sebagai
respons terhadap pengaruh faktor eksogen atau endogen yang menimbulkan
efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama) dan keluhan
gatal. Eksim atau Dermatitis adalah istilah kedokteran untuk kelainan kulit
yang mana kulit tampak meradang dan iritasi (Oktavianti M, 2021).
Dermatitis merupakan kelainan kulit yang sering dijumpai dalam
praktek sehari-hari. Dari segi praktis penanganannya, kelainan ini dapat
dimasukkan dalam kelompok kelainan yang responsif terhadap
[Link]-faktor yang dapat memicu terjadinya penyakit dermatitis
adalah baik itu faktor dari luar (eksogen) misalnya; bahan kimia (contoh: air,
suhu), mikroorganisme (contoh: Bakteri, jamur), maupun faktor dari dalam
(endogen), misalnya; dermatitis atopic (Sumaryanti M, 2016).
Keparahan dari kelainan kulit akibat dermatitis tergantung daya
imunitas penderita, diakibatkan karena keparahan dari reaksi satu orang
berbeda dengan orang yang lainnya meskipun penyebabnya sama. Tetapi
apabila seseorang yang menderita penyakit dermatitis yang sudah parah maka
pada kulitnya yang terserang akan terjadi kelepuhan dan sangat berbahaya
bagi kulit (Sumaryanti M, 2016).
2.2 Faktor penyebab Dermatitis di wilayah pesisir
Faktor penyebab dermatitis dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
penyebab langsung (karakteristik bahan kimia, karakteristik paparan) dan
penyebab tidak langsung (usia, jenis kelamin, ras, personal hygiene, lama
kontak, penggunaan APD, dan pengetahuan) (Manyullei et al, 2022).
Penyebab langsung penyakit Dermatitis:
a) BahanKimia
Bahan kimia merupakan penyebab utama dari penyakit kulit dan
gangguan [Link] pekerja dapat terkena bahan kimia
berbahaya melalui kontak langsung dengan permukaan yang
terkontaminasi atau percikan. Bahaya bahan kimia adalah korosif dan
racun. Pemanfaatan bahan-bahan ini bisa dijumpai dalam pembuatan agar
rumput laut maupun bahan perlengkapan para nelayan (Manyullei et al,
2022).
b) Suhu dan Kelembaban
Kelembaban udara dan suhu udara yang tidak stabil dapat
mempengaruhi terjadinya dermatitis kontak. Kelembaban rendah
menyebabkan pengeringan pada epidermis. Semua penyebab dermatitis
kontak seperti basa kuat dan asam kuat, sabun, detergen dan bahan kimis
organik lainnya jika diperberat dengan turunnya kelembaban dan naiknya
suhu lingkungan kerja dapat mempermudah terjadinya dermatitis kontak
iritan berkontak dengan kulit. Bila kelembaban udara turun dan suhu
lingkungan naik dapat menyebabkan kekeringan pada kulit sehingga
memudahkan bahan kimia untuk mengiritasi kulit dan kulit menjadi lebih
mudah terkena dermatitis. Kontruksi bangunan masyarakat Pundata Baji
Sebagian besar merupakan rumah panggung dengan kontruksi dua lantai
dan berdekatan dengan pesisir langsung. Banyak rumah yang terkena
rembesan ataupun terkena aliran air laut dan kurangnya drenase sehingga
banyak genangan air (Manyullei et al, 2022).
c) Sinar Matahari
Sinar matahari berbahaya bagi kulit jika dibiarkan terkena paparan
sinarnya dalam waktu lama. Hal ini disebabkan oleh sinar ultra violet
(UV), yang mendominasi sebagian besar dari sinar matahari. Dengan
iklim Indonesia dan termasuk wilayah pesisir tentunya sinar matahari
terasa lebih panas dan kering. Nelayan memiliki waktu kerja yang cukup
lama untuk berada di bawah sinar matahari langsung tanpa menggunakan
APD seperti topi (Manyullei et al, 2022).
Adapun Penyebab tidak lansgung penyakit Dermatitis:
a) Umur
Usia hanya sedikit berpengaruh pada kapitas sensitisasi. Setiap
usia memiliki pola karakteristik sensitivitas yang berbeda, seperti
pada dewasa muda cenderung didapati alergi karena kosmetik dan
pekerjaan, sedangkan pada usia yang lebih tua pada medikamentosa
dan adanya riwayat sensitivitas terdahulu (Rahma Widya, 2018).
b) Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, dermatitis akibat kerja memiliki
frekuensi yang sama pada pria dan Wanita. Nikel merupakan
penyebab paling sering terjadinya dermatitis kontak pada wanita,
sedangkan pada laki-laki jarang terjadi alergi akibat
kontak dengan nikel (Rahma Widya, 2018).
c) Personal hygiene
Siregar dan Nugroho, 1991 menyatakan bahwa hyegiene
personal merupakan salah satu penyebab faktor yang dapat mencegah
terjadinya penyakit dermatitis. Kebersihan kulit yang terjaga baik
akan menghindari diri dari penyakit, dengan cuci tangan dan kaki,
ganti pakaian secara rutin dapat terhindar dari penyakit kulit. Dengan
mandi dan mengganti pakaian setelah bekerja akan mengurangi
kontak dengan mikroorganisme yang hidup di permukaan kulit yang
berasal dari lingkungan sekitar (Rahma Widya, 2018).
d) Masa kerja
Pekerja yang berpengalaman akan lebih berhati-hati sehingga
kemungkinan terpajan bahan kimia lebih sedikit. Selain itu adanya
masalah kepekaan atau kerentanan kulit terhadap bahan kimia pada
pekerja dengan masa kerja pendek. Pada pekerja dengan masa
panjang dapat di mungkinkan telah mengalami resistensi terhadap
bahan kimia yang digunakan (Rahma Widya, 2018).
e) Pengetahuan
Pengetahuan sangatlah penting dimiliki oleh pekerja, karena
dengan adanya pengetahuan dapat mengenali dan memahami
substansi-substansi yang dapat membahayakan kesehatan pekerja dan
dapat mengurangi resiko timbulnya penyakit akibat kerja. Pekerja
yang tidak mengetahui prosedur kerja akan bekerja dengan sendirinya
tanpa mempehatikan keselamatan dan kesehatan kerja (Rahma
Widya, 2018).
f) Pemakaian alat perlindungan diri
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.
Per.01/MEN/1981 pasal 4 ayat 3 tentang kewajiba melapor PAK
bahwa kewajiban pengurus menyediakan alat perlindungan diri dan
wajib bagi tenaga kerja untuk menggunakannya untuk pencegahan
dermatitis (Rahma Widya, 2018).
Menurut Budiono, 2005 Beberapa jenis APD yang sering
digunakan adalah
a. Alat pelindung kepala: helm, tutup kepala, hats/cap
b. Alat pelindung mata atau muka: spectacles, goggles, perisai muka
c. Alat pelindung telinga: ear plug, ear muff
d. Alat pelindung pernafasan: masker, respirator
e. Alat pelindung tangan: sarung tangan
f. Alat pelindung kaki: sepatu boot
g. Pakaian pelindung: celana panjang, baju Panjang
g) Ras
Ras merupakan salah satu faktor yang ikut berperan untuk
terjadinya dematitis. Ras dalam hubungannya dalam dermatitis
terlihat dari warna kulit, setiap individu mempunyai warna kuli yang
berbeda berdasarkan rasnya masing-masing. Kulit putih lebih rentan
terkena dermatitis dibandingkan dengan klit hitam. Orang kulit hitam
lebih tahan terhadap lingkungan industri karena kulitnya
kaya akan melanin
2.3 Faktor Resiko Penyakit Dermatitis
Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar tubuh (eksogen) misalnya
bahan kimia (contoh: detergen, asam, basa, oli, semen), fisik (contoh: sinar,
suhu), mikroorganisme (bakteri, jamur); dapat pula dari dalam tubuh
(endogen), misanya dermatitis atopik. Sebagian lain etiologinya tidak
diketahui dengan pasti (Rahma Widya, 2018).
Menurut joko Suyono, 1995. Agen-agen penyebab penyakit kulit akibat
kerja dapat digolongkan sebagai berikut :
1) Agen fisik
Antara lain tekanan atau gesekan, kondisi cuaca (angin, hujan, cuaca
beku, matahari), panas, radiasi (ultraviolet ionisasi), dan serat-serat
mineral.
2) Agen kimia
Agen kimia terbagi menjadi 4 kategori :
a. iritan primer, yaitu asam, basa, pelarut lemak, detergen, garam-
garam, logam (arsen, air raksa)
b. sensitizer, diantaranya logam dan garam-garamnya (kromium, nikel,
kobalt, dil) senyawa-senyawa yang berasal dari anilin
(pfenilendiamin, pewarna azo, dil), derivat nitro aromatik
(trinitoulen), resin (khusunya monomer dan aditif seperti
epoksiresin, formaldehid, vinil, akrilik, akselerator, platicizer),
bahan-bahan kimia karet ( vulkanizer seperti dimetiltiuram disulfida,
antioksidan), obat-obatan dan antibiotik (misalnya prokain,
fenotiazin, klorotiazid, penicilin, dan tetrasiklin), kosmetik,
terpenting tanam-tanaman (misanya primula dan chrysanthemum)
c. agen-agen aknegenik yaitu naftalen dan bifenil klor, minyak mineral
d. Photosensitizer yaitu antrasen, pitch, derivat asam aminobenzoat,
hidrokarbon, aromatik klor, pewarna akidin
3) Agen biologi
Meliputi beberapa mikoroorganisme (mikoba, fungi), parasit kulit
dan produk-produknya juga menyebabkan penyakit kulit
2.4 Manifestasi klinis Penyakit Dermatitis
Pada umumnya pasien dermatitis mengeluh gatal. Kelainan kulit
bergantung pada stadium penyakit, dapat sirkumskrip, dapat pula difus,
dengan penyebaran setempat, gneralisata dan universalis (Rahma Widya,
2018).
Pada stadium akut kelainan kulit dengan gambaran klinis berupa
eritema, edema, vesikel, atau bula, erosi dan eksudasi, sehingga tampak
membasah (madidans). Pada stadium subakut, eritema dan edema berkurang,
eksudat mengering menjadi krusta. Sedang pada stadium kronis lesi tampak
kering, berbentuk skuama, hiperpigmentasi, papul dan likenifikasi, meski
mungkin juga mash terdapat erosi atau ekskoriasi karena garukan. Stadium
tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja suatu dermatitis sejak awal memberi
gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis. Demikian pula jenis
efloresensi tidak selalu harus polimorfik, mungkin hanya oligomorfik (Rahma
Widya, 2018).
Menurut Arief Manjoer (2000) Manifestasi klinis dermatitis dibagi
menjadi 4, yaitu :
1. Subyektif, ada tanda-tanda radang akut, terutama pruritus (sebagai
pengganti dolor. Selain itu terdapat pula kenaikan suhu (kalor),
kemerahan (rubor), edema atau pembengkakan, dan gangguan fungsi kulit
(fungsio lesa)
2. Obyektif, biasanya batas kelainan tidak tegas dan terdapat lesi polimorfi
yang dapat timbul secara serentak atau berturut-turut. Pada permulaan
timbul eritema dan edema. Edema sangat jelas pada kulit yang longgar
misalnya muka (terutama palpebra dan bibir) dan genitalia eksterna.
Ifiltrasi biasanya terdiri atas papul.
3. Dermatitis mardidans (basah) berarti terdapat eksudasi. Disana-sisi
terdapat sumber dermatitis, artinya terdapat vesikel-vesikel pungtiformis
yang berkelompok yang kemudian membesar. Kelainan tersebut dapat
disertai bula ata pustul, jika disertai infeksi.
4. Dermatitis sika (kering) berarti tidak mandidans. Bila gelembung-
gelembung mengering, maka akan terlihat erosi atau ekskoriasi dengan
krusta. Hal ini berarti dermatitis menjadi kering disebut dermatitis sika.
Pada stadium tersebut terjadi deskuaasi, artinya timbul sisik-sisik. Bila
proses menjadi kronis tampak likenifikasi dan sebagai sekuele terlihat
hiperpigmentasi atau hipopigmentasi
2.5 Klasifikasi Penyakit Dermatitis
Hingga kini belum ada kesepakatan internasional mengenai tatanama
dan klasifikasi dermatitis, tidak hanya karena penyebabnya multi faktor,
tetapi juga karena seseorang dapat mengalami lebih dari satu jenis dermatitis
pada waktu yang bersamaan (Rahma Widya, 2018).
Ada yang memberi nama berdasarkan etiologi (contoh: dermatitis
kontak, radiodermatitis, dermatitis medikamentosa), morfologi (contoh:
dermatitis madidans, dermatitis eksfolative), bentuk (contoh: dermatitis
numularis), lokalisasi (contoh: deramtitis tangan/hand dermatitis, dermatitis
intertriginosa), dan ada pula yang berdasarkan stadium penyakit (contoh:
dermatitis akut, dermatitis kronis) (Rahma Widya, 2018).
1) Dermatitis kontak
Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh
bahan/substansi yang menempel pada kulit. Ada dua macam jenis
dermatitis kontak, yaitu :
a. Dermatitis kontak iritan,di sebabkan oleh pajanan dengan bahan yang
bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas,
asam, alkali dan serbuk kayu. Kelainan kulit yang terjadi selain di
tentukan oleh ukuran molekul, daya larut, konsentrasi bahan tersebut
dan vehikulum. Terdapat juga pengaruh faktor lain, yaitu: lama
kontak, kekerapan (terus menerus atau berselang), oklusi yang
menyebabkan kulit lebih permeabel, demikian pula gesekan dan
trauma fisis. Suhu dan kelembaban lingkungan juga turut berperan
(Rahma Widya, 2018).
b. Dermatitis kontak alergik, disebabkan oleh bahan kimia sederhana
dengan berat molekul rendah (<1000 dalton), disebut sebagai hapten,
bersifat lipofilik, sangat reaktif,dan dapat menembus stratus korneum
sehingga mencapai sel epidermis bagian dalam yang hidup. Berbagai
faktor berpengaruh terhadap kejadian DKA, misalnya potensi
sensitisasi alergen, dosis per unit area, luas daerah yang terkena, lama
pajanan, oklusi, suhu dan kelemban lingkungan, vehikulum dan pH.
Ada juga di sebabkan oleh faktor individu, misalnya keadaan kulit
pada lokasi kontak (keadaan stratus korneum, ketebalan epidermis),
status imun (misalnya sedang mengalami sakit, atau terpajan sinar
matahari secara intens) (Rahma Widya, 2018).
2) Dermatitis atopik
Dermatitis atopik adalah peradangan kulit berupa dermatitis yang
kronis residif, disertai rasa gatal, dan mengenai bagian tubuh tertentu
terutama di wajah pada bayi (fase infantil) dan bagian fleksural
ekstremitas (pada fase anak) (Rahma Widya, 2018).
3) Liken simplek kronikus
Liken simplek kronikus merupakan peradangan kulit kronis, gatal,
sirkumskrip, ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih
meninjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang kayu, akibat garukan atau
gosokan yang berulang-ulang karena berbagai ransangan pruritogenic
(Rahma Widya, 2018).
4) Dermatitis numularis
Dermatitis numularis ialah peradangan kulit yang bersifat kronis,
ditandai dengan lesi berbentuk mata uang (koin) atau agak lonjong
barbatas tegas, dengan efloresensi berupa populovesikel yang biasanya
mudah pech sehingga membasah (oozing) (Rahma Widya, 2018).
5) Dermatitis statis
Dermatitis statis adalah peradangan pada kulit tungkai bawah yang
disebabkan insufisiensi dan hipertensi vena yang bersifat kronis (Rahma
Widya, 2018).
2.6 Hubungan paparan terhadap air laut dan sinar matahari dapat
mempengaruhi perkembangan Dermatitis di wilayah pesisir.
2.7 Pencegahan Penyakit Dermatitis di wilayah pesisir
DAFTAR PUSTAKA
Manyullei, S., Nurhikmah, N., Adziim, A. M. F., Arman, L., & Handoko, S. A.
(2022). Penyuluhan Dermatitis pada Masyarakat Maccini Baji Kelurahan
Pundata Baji Kecamatan Labakkang Kabupaten Pangkajene dan
Kepulauan. Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat, 2(4), 319-326.
OKTAVIANTI, M. (2021). ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN
KEBUTUHAN RASA NYAMAN PADA REMAJA AN. F KELUARGA
BAPAK A DENGAN DERMATITIS DI DESA TALANG PADANG
TANGGAMUS LAMPUNG TAHUN 2021 (Doctoral dissertation,
Poltekkes Tanjungkarang).
RAHMA WIDYA UTAMA, R. W. U. (2018). Hubungan Pengetahuan dan
Pengalaman terhadap Pencegahan Dermatitis pada Nelayan di Wilayah
Batang Kapas Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2018 (Doctoral
dissertation, STIKes Perintis Padang).
Sumaryati, M. (2016). Tingkat Pengetahuan dan Sikap Lansia Tentang Penyakit
Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Batua Kota Makassar. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 4(2), 11-23.