100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
85 tayangan12 halaman

Tes Proyeksi Kepribadian: SSCT & FSCT

FSCT dan SSCT adalah tes proyeksi kepribadian berbentuk kalimat tidak sempurna yang harus diselesaikan oleh responden untuk mengungkap sikap dan dinamika kepribadian mereka."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
85 tayangan12 halaman

Tes Proyeksi Kepribadian: SSCT & FSCT

FSCT dan SSCT adalah tes proyeksi kepribadian berbentuk kalimat tidak sempurna yang harus diselesaikan oleh responden untuk mengungkap sikap dan dinamika kepribadian mereka."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Mata Kuliah Dosen Pengampu

Asesmen Kepribadian Reni Susanti, [Link]., [Link]., Psikolog

Tes Inventori: SSCT (Sacks Sentence Completion Test) dan FSCT (Forer
Sentence Completion Test)

Oleh:

Kelompok 2

Fatimah Azzahroh (12160125037)

Jihan Fahira S. (12160123584)

Mokti Alamsyah (12160113818)

Silvi Handayani (12160121745)

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU

2024
A. Sejarah

1. SSCT (Sacks Sentence Completion Test)


Tes ini dibuat oleh Joseph M. Sacks, Sidney Levy dan beberapa
psikolog lainnya dari New York Veterans Administration Mental Hygiene
Service. SSCT (Sacks Sentence Completion Test) adalah suatu teknik
proyeksi yang digunakan untuk mengungkap dinamika kepribadian, yang
dapat menampakkan diri individu dalam hubungan interpersonal dan dalam
interpretasi terhadap lingkungan. Tes ini menggunakan pendekatan klinis,
dan digunakan untuk mengungkap aspek penolakan, tema atau aspek
kepribadian yang diproyeksikan.

Metode sentence completion pertama kali muncul dalam


pengukuran psikologi untuk mengukur intelegensi anak. Herman
Ebbinghaus, yang merupakan seorang pelopor dalam penelitian dan studi
eksperimental mengenai memori individu, juga mengamati bagaimana
kemampuan intelektual dan penalaran berkembang pada remaja. Untuk
memenuhi ketertarikannya ini, ia membuat tugas-tugas yang berkaitan
dengan penyelesaian frasa (Ebbinghaus, 1897). Binet dan Simon (1905)
kemudian menambahkan versi lengkap frasa Ebbinghaus ke dalam tes
intelegensinya, yang item-itemnya diperoleh melalui berbagai revisi.

Pada tahun 1928, Arthur Payne pertama kali menggunakan metode


sentence completion untuk mengukur kepribadian. Payne menggunakan tes
sebagai panduan untuk mengukur hubungan antara karir dan sifat pribadi.
Metode ini digunakan oleh Alexander Tandler untuk mempelajari reaksi
emosional pada tahun 1930. Dalam tesnya, kalimat-kalimatnya selalu
dimulai dengan kata "saya" dan mengungkapkan emosi seperti kekesalan,
ketakutan, ketertarikan, dan attachment.

Tes ini berbentuk kalimat-kalimat tidak sempurna yang harus


dilengkapi oleh testee, sehingga menjadi kalimat yang utuh (completion
task). Kalimat-kalimat tidak sempurna (incomplete sentences) dapat
merangsang seseorang untuk memproyeksikan keadaan atau isi psikisnya
sesuai dengan rangsang yang terdapat atau berkaitan dengan isi kalimat
tersebut (aufferderungs character). Itemnya berjumlah 60, berbentuk
kalimat belum selesai dan harus diselesaikan oleh testee. Dari respon testee
akan dapat diketahui adanya hambatan sosial dari individu dengan “Agent
Of Relation” nya, yaitu kelompok atau situasi yang memiliki relasi dengan
kehidupan individu. Area-area masalah kepribadian, yang meliputi sikap
individu terhadap 4 area individual adjustment, dan dirinci menjadi 15 agent
penyesuaian di area:

1. Keluarga (serangkaian sikap terhadap ibu, ayah dan unit keluarga)


1) Ibu : 14, 29, 44, 59 ;
2) Ayah : 1, 16, 31, 46 ;
3) Kehidupan keluarga : 12, 27, 42, 57;
2. Seks (sikap terhadap wanita dan hubungan antar lawan jenis atau
heteroseksual)
4) Wanita : 10, 25, 40, 55 ;
5) Hubungan heteroseksual : 11, 26, 41, 56 ;
3. Hubungan antara manusia (sikap terhadap teman & kenalan, atasan atau
bawahan, dan sejawat di sekolah, kantor atau di tempat kuliah)
6) Teman dan kenalan : 8, 23, 38, 53;
7) Pimpinan/atasan : 6, 21, 36, 51;
8) Bawahan : 4, 19, 34, 48;
9) Teman sekerja : 13, 28, 43, 58
4. Konsep diri (ketakutan, perasaan bersalah, sikap seseorang terhadap
kemampuannya, terhadap masa lalu, masa depan, cita-cita/tujuan
hidup).
10) Ketakutan-ketakutan : 7, 22, 37, 52;
11) Rasa bersalah : 15, 30, 45, 60;
12) Kemampuan diri sendiri : 2, 17, 32, 47;
13) Masa lalu : 9, 24, 39, 54;
14) Masa depan : 5, 20, 35, 50;
15) Cita-cita : 3, 18, 33, 49.

Tes ini biasanya digunakan untuk orang dewasa dan bertujuan untuk
mengetahui individual adjustment dan struktur kepribadian. Asesmen
kepribadian melalui proyeksi sikap individu terhadap asesmen masalah
tersebut akan diperoleh:

a. Gambaran sikap individu terhadap hal-hal yang penting yang


berkaitan dengan penyesuaian dirinya.
b. Gambaran keadaan psikis dalam dirinya atau kepribadiannya
(kemampuan berfikir terhadap realita, keadaan emosi, cara
menyelesaikan konflik, dll).
c. Gambaran konflik atau masalah-masalah yang dialami menyangkut
penyesuaian diri (individual adjustment).
d. Dalam kacamata klinis, dapat menampakkan suatu gangguan
sehingga tes ini bermanfaat untuk terapi.
e. Lebih sering digunakan sebagai pre-test, digunakan sebagai bahan
awal suatu wawancara eksploratif lebih dalam.

2. FSCT (Forer Sentence Completion Test)


Pertram R. Forer (24 Oktober 1914 - 4 April 2000) adalah seorang
psikolog Amerika yang lahir di Springfield, Massachusetts. Dia terkenal
dengan Forer Effect, atau validasi subjektif. Forer lulus pada tahun 1936
dari University of Massachusetts Amherst. Dia memperoleh gelar Master of
Arts dan Doctor of Philosophy dalam psikologi klinis dari University of
California, Los Angeles. Selama Perang Dunia Kedua, dia bekerja sebagai
psikolog dan administrasi di rumah sakit militer Perancis. Setelah itu, ia
mendirikan praktik di Malibu, California, setelah bekerja di administrasi
klinik mental veteran di Los Angeles. Forer melakukan eksperimen
klasiknya pada tahun 1948 dengan menguji kepribadian siswanya,
mengabaikan jawaban mereka, dan kemudian menyampaikan hasil yang
sama kepada setiap siswa. Dia meminta mereka untuk menilai pekerjaan
mereka pada skala dari 0 hingga 5, dengan 5 sebagai skor yang paling
akurat. Evaluasi yang diberikan rata-rata 4.26. Tes ini telah diulang ratusan
kali dan rata-ratanya tetap sekitar 4.2.

Jika deskripsi kepribadian umum dan kabur tentang diri mereka


sendiri benar, orang lebih cenderung menerima klaim tentang diri mereka
sendiri yang sebanding dengan keinginan mereka daripada ketelitian
empiris dari klaim yang diukur oleh standar non-subjektif. Orang yang
percaya astrologi, bioritme, peramal keberuntungan, grafologi, pembaca
guratan telapak tangan, dan metode analisis karakter lainnya mungkin
disebabkan oleh Forer Effect. Menurut Forer, kecerobohan mungkin
bertanggung jawab atas kecenderungan klien untuk mendapatkan hasil tes
kepribadian yang sama. Tampak lebih rumit daripada itu, dan dapat
menunjukkan kecerobohan serta bias konfirmasi, pemikiran berharap, dan
penipuan diri. Jika kita merasa cukup positif tentang diri kita sendiri, kita
cenderung menerimanya tanpa mempertanyakan. Untuk membuat
pernyataan tentang diri kita sendiri yang kabur atau tidak konsisten masuk
akal, kita sering menggunakan penafsiran yang sangat liberal (Carroll, 2003,
hlm. 147).

Fenomena tersebut disebut juga sebagai Barnum Effect, yang


diambil dari nama P.T. Barnum, seorang showbiz man yang pernah
mengatakan bahwa “any good circus should have something for everyone”.
Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa untuk membuat sesuatu yang
menarik, kita harus bisa membuatnya menarik bagi semua orang. Dalam
kaitannya dengan eksperimennya, Forer menyimpulkan bahwa untuk
terlihat akurat, deskripsi astrologi tidak harus akurat. Alih-alih, seorang
astrologer dapat memberikan gambaran kepribadian yang umum dan samar
kepada orang-orang, yang sebenarnya gambaran tersebut dapat berlaku juga
bagi setiap orang lainnya. Dalam beberapa literatur psikologi, hal ini juga
sering disebut dengan pernyataan “one size fits all”, yaitu di mana sebuah
pernyataan berlaku bagi (hampir) semua orang.

Sejumlah ilmuwan psikologi berusaha meniru tindakan Forer. Studi


tersebut menemukan bahwa hampir semua orang rentan terhadap Barnum
Effect termasuk orang tua dan muda, laki-laki dan perempuan, orang yang
percaya atau tidak pada astrologi, dan manajer sumber daya manusia. Dalam
studi lain, psikolog Margaret Hamilton dari University of Wisconsin
menemukan bahwa ada perbedaan dalam tingkat kepercayaan seseorang
terhadap keakuratan horoskop. Secara tradisional, dua belas zodiak dibagi
menjadi enam "positif" (Aries, Gemini, Leo, Libra, Sagitarius, dan
Aquarius) dan enam "negatif" (Taurus, Cancer, Virgo, Scorpio, Capricorn,
dan Pisces). Sifat-sifat yang berasal dari zodiak-zodiak "positif" biasanya
lebih menyenangkan daripada sifat-sifat yang berasal dari zodiak-zodiak
"negatif". Dalam penelitian tersebut, partisipan diberikan sebuah deskripsi
kepribadian menurut zodiak. Setelah itu, mereka diminta untuk memberi
penilaian mengenai deskripsi tersebut dan sejauh mana mereka percaya
terhadap astrologi. Dari penelitian tersebut terungkap bahwa partisipan
yang berzodiak positif, dibandingkan dengan mereka yang berzodiak
negatif, cenderung lebih percaya terhadap penjelasan astrologi yang
dipaparkan dalam penelitian tersebut. Dalam situasi seperti ini, terjadi efek
flattery, di mana orang cenderung percaya dan mendukung ide-ide yang
terlihat positif. Gagasan Forer sebelumnya bahwa yang paling penting
dalam astrologi bukanlah akurasi, tetapi bagaimana membuat orang
mengiyakan gambaran diri yang diberikan mendukung temuan ini.

Pada prinsipnya, asumsi dasar dan tujuan FSCT sama dengan SSCT.
Namun, FSCT ini digunakan untuk anak-anak. FSCT juga terdiri dari 60
item kalimat, yang dikelompokkan berdasarkan isinya, yaitu :

1. Sikap terhadap karakteristik interpersonal figur (ayah, ibu, laki-laki,


perempuan, kelompok, tokoh otoritas)
2. Keinginan-keinginan
3. Sebab-sebab dari perasaan atau tindakan seseorang.
4. Reaksi-reaksi terhadap keadaan luar.

B. Administrasi

1. SSCT (Sacks Sentence Completion Test)


a. Penyajian dapat dilakukan untuk individual atau kelompok/massal
secara tertulis atau lisan (lisan digunakan untuk testee pencemas,
kesulitan dalam menulis, dll. Tujuannya adalah memberi
kesempatan testee untuk katarsis, mengobservasi ekspresi wajah
atau perubahan suara, dll).
b. Durasi waktu ialah ± 20 – 40 menit untuk testee yang normal, dan 1
jam untuk testee yang terganggu atau untuk pengetesan klasikal
c. Subyek menjawab secara spontan.
d. Instruksi → “Dibawah ini terdapat 60 kalimat yang belum selesai,
tiap kalimat di bawah ini merupakan permulaan suatu kalimat.
Bacalah setiap kalimat dan selesaikan dengan menuliskan pikiran
yang segera timbul setelah membacanya. Bekerjalah secepat
mungkin. Bila ada beberapa kalimat yang tidak dapat segera
diselesaikan tandailah dengan memberi lingkaran pada nomor yang
bersangkutan, tinjaulah kembali setelah menyelesaikan kalimat-
kalimat lainnya. Tidak ada jawaban yang salah atau benar. Semua
jawaban benar, asal sesuai dengan yang anda rasakan atau pikirkan”.
e. Pencatatan → tester mencatat waktu respon pertama dari testee dan
akhir waktu testee memberi respon. Bila memungkinkan lakukan
inquiry.
f. Bila ada pertanyaan → boleh menjelaskan arti kosakata, bukan
keseluruhan kalimat.
g. Perhatikan → reaksi spontan subyek, item yang dilewati, kalimat
yang kurang jelas (penting untuk skoring)
2. FSCT (Forer Sentence Completion Test)
Tes Forer (ditulis pada tahun 1950; Forer, 1960, 1993) berpusat pada
berbagai attitudes dan sistem nilai. Ini didasarkan pada teori Henry
Murray tentang kebutuhan, tekanan, dan inner states. Tes ini diterbitkan
oleh Western Psychological Services pada tahun 1998. Tes ini
mengidentifikasi perspektif dan persepsi individu tentang diri mereka
sendiri, orang lain, dan lingkungan. Pernyataan yang digunakan sebagai
stimulus dalam tes dicocokkan dalam kondisi orang ketiga dan orang
pertama, baik dalam bentuk tunggal maupun jamak.
Struktur Tes Forer meliputi :
• spesifikasi pernyataan awal dan sistem evaluasi digunakan untuk
meng-assess kualitas respons.
• Waktu mengerjakan tes ini 15-20 menit, dengan subjek populasi
remaja dan dewasa.
• Tes ini terdiri dari 100 item yang dibagi dalam subskala:
• Interpersonal Figures: sikap terhadap karakteristik interpersonal
figures (ayah, ibu, laki-laki,perempuan, kelompok, tokoh otoritas).
• Wishes: keinginan-keinginan.
• Causes of Personal Emotions: sebab-sebab dari perasaan atau
tindakan seseorang.
• Reactions to Emotions: reaksi-reaksi terhadap keadaan luar

C. Skoring

1. SSCT (Sacks Sentence Completion Test)

Untuk mengetahui derajat permasalahan, digunakan penilaian


kuantitatif (judgement):

a) 2: sangat terganggu (membutuhkan pertolongan untuk mengolah


konflik).
b) 1: agak terganggu (masih dapat menyelesaikan konflik tanpa
bantuan luar).
c) 0: tidak ada tanda-tanda gangguan dalam daerah sikap tersebut.
d) X: tidak diketahui atau kurang cukup bukti adanya gangguan dalam
daerah sikap tersebut.
2. FSCT (Forer Sentence Completion Test)

Dalam menentukan setiap itemnya, mengacu pada sikap dan


karakteristik dalam empat kategori yang berbeda. Meskipun Forer berusaha
mendefinisikan istilah-istilah tesnya secara operasional dengan panduan
klinis yang spesifik, tetapi reliabilitas dan validitasnya masih kurang karena
menggunakan sistem manual tanpa informasi yang memadai. Normanya
juga minim, sehingga tes Forer lebih baik digunakan sebagai pelengkap
dalam pengujian psikologis klinis dan penelitian.
D. Contoh Soal SSCT

Waktu Mulai :

Waktu Selesai :

Nama :

Jenis kelamin :

Umur :

Tanggal :

Petunjuk: Dibawah ini terdapat enam puluh bagian kalimat yang harus

dilengkapi. Bacalah masing-masing dan selesaikan dengan menuliskan hal

pertama yang muncul dalam pikiran Anda. kerjakan secepat yang Anda bisa.

Jika Anda tidak dapat menyelesaikan salah satu item, lingkari nomornya dan

kerjakan kembali nanti.

1. Saya merasa bahwa ayah saya jarang. . .

2. Ketika rintangan menentang saya. . .

3. Saya selalu ingin. . .

4. Jika saya mampu dalam. . .

5. Bagi saya masa depan terlihat. . .

6. Orang-orang terhadap saya. . .

7. Saya tahu itu konyol tapi saya takut untuk. . .

8. Saya merasa bahwa sahabat sejati. . .

9. Ketika saya masih anak-anak. . .

10. Pemikiran saya tentang wanita yang sempurna. . .

11. Ketika saya melihat seorang pria dan seorang wanita bersama-sama. . .

12. Dibandingkan dengan kebanyakan keluarga, keluarga saya. . .


13. Di tempat kerja, saya bisa mendapatkan yang terbaik dengan. . .

14. Ibu saya . . .

15. Saya akan melakukan apa saja untuk melupakan waktu ketika saya. . .

16. Seandainya ayah saya hanya. . .

17. Saya percaya bahwa saya memiliki kemampuan untuk. . .

18. Saya bisa benar-benar bahagia jika. . .

19. Jika orang bekerja untuk saya. . .

20. Saya berharap untuk. . .

21. 21, Di sekolah, guru saya. . .

22. Sebagian besar teman saya tidak tahu bahwa saya takut terhadap. . .

23. Saya tidak suka orang yang. . .

24. Sebelum perang, saya. . .

25. Saya pikir sebagian besar anak perempuan. . .

26. Perasaan saya tentang kehidupan pernikahan adalah. . .

27. Keluarga saya memperlakukan saya seperti. . .

28. Mereka yang bekerja dengan saya adalah. . .

29. Ibu saya dan saya. . .

30. Kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan adalah. . .

31. Saya berharap ayah saya. . .

32. Kelemahan terbesar saya adalah. . .

33. Ambisi rahasia dalam hidup saya . . .

34. Orang-orang yang bekerja untuk saya. . .

35. Suatu hari saya. . .

36. Ketika saya melihat bos datang. . .


37. Saya berharap saya dapat mengalahkan rasa takut terhadap. . .

38. Orang-orang yang paling saya sukai. . .

39. Jika saya kembali muda. . .

40. Saya percaya sebagian besar wanita. . .

41. Jika saya memiliki hubungan seks. . .

42. Sebagian besar keluarga yang saya tahu. . .

43. Saya senang bekerja dengan orang-orang yang. . .

44. Saya berpikir bahwa kebanyakan ibu. . .

45. Ketika saya masih muda, saya merasa bersalah apabila. . .

46. Saya merasa bahwa ayah saya. . .

47. Ketika keberuntungan berbalik melawan saya. . .

48. Dalam memberikan perintah kepada orang lain, saya. . .

49. Apa yang saya inginkan yang terbaik dari kehidupan. . .

50. Ketika saya lebih tua. . .

51. Orang yang saya anggap lebih unggul dari saya. . .

52. Ketakutan saya kadang-kadang memaksa saya untuk. . .

53. Ketika saya tidak ada, teman-teman saya. . .

54. Kenangan masa kecil saya yang paling jelas. . .

55. Apa yang kurang saya sukai dari wanita. . .

56. Kehidupan seks saya. . .

57. Ketika saya masih kecil, keluarga saya. . .

58. Orang yang bekerja dengan saya biasanya. . .

59. Saya suka ibu saya tapi. . .

60. Hal terburuk yang pernah saya lakukan. . .


DAFTAR PUSTAKA
Fatmawati, A., Azhari, S. N., & Nisa, R. N. A. (2016). Pengembangan aplikasi tes
kepribadian berbasis intelligent agent menggunakan metode summary. IJCCS
(Indonesian Journal of Computing and Cybernetics Systems), 10(2), 173-182.

Gregory, R. J. (2004). Psychological testing: History, principles, and


applications (4th ed.). Boston: Pearson Education.

Holaday, Margot. A. Smith, Debra. Sherry, Alissa. 2000. Sentence Completion Tests:
A Review of the Literature and Results of a Survey of Members of the Society
for Personality Assessment. _____: Lawrence Erlbaum Associates, Inc. Dalam
JOURNAL OF PERSONALITY ASSESSMENT, 74(3), 371 – 383.

Merida, S. C. Adetya, Sandra, dkk. (2022). BUKU AJAR MATA KULIAH


PEMERIKSAAN PSIKOLOGI TES PROYEKTIF. PROGRAM STUDI
PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA. Sari, E.

Nastiti, D. (2019). Psikologi Proyeksi (Pengantar Memahami Kepribadian Secara


Akurat). Umsida Press, 1-116.

Sari, E. Y. D. (2021). Mengenal Tes Kepribadian Non Proyektif. UM Jakarta Press.

Sari, E. Y. D., & Swastiningsih, N. (2021). Mendeskripsikan Kepribadian Melalui


Teknik Non-Proyektif. UAD PRESS.

Common questions

Didukung oleh AI

Eksperimen Forer merubah pandangan tentang tingkat subjektivitas dalam evaluasi kepribadian dengan menunjukkan bahwa orang cenderung menilai deskripsi yang umum dan positif tentang kepribadian mereka sebagai sangat akurat. Ini menyoroti bahwa keinginan pribadi untuk disesuaikan dan diterima dapat mengaburkan penilaian rasional, menyebabkannya mengabaikan ketepatan empiris dalam menilai akurasi kepribadian .

SSCT dapat menampakkan gangguan psikis individu sehingga bermanfaat sebagai bahan awal terapi di klinik. Tes ini dapat digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami konflik atau masalah yang dialami individu dalam penyesuaian diri. Gambaran keadaan psikis individu memberikan wawasan kepada terapeut mengenai dinamika kepribadian yang perlu dikelola dalam terapi lanjutan .

Forer Effect dapat memperkenalkan bias dalam interpretasi tes kepribadian karena individu cenderung menerima umpan balik yang umum dan afirmatif sebagai deskripsi yang akurat terkait diri mereka. Hal ini dapat menyebabkan bias konfirmasi dan kepercayaandiri semu, di mana penilaian seseorang tentang diri mereka mungkin lebih dipengaruhi oleh keinginan untuk menemukan kesesuaian ketimbang oleh penilaian objektif .

FSCT menghadapi masalah reliabilitas dan validitas karena menggunakan sistem manual yang kurang informasi memadai dan norma yang minimal. Forer, meskipun memiliki panduan klinis yang spesifik, memperlihatkan bahwa penerapan istilah-operasional dalam penilaian respons tidak selalu dapat menjamin akurasi dan keandalan hasil akhir .

Arthur Payne pada tahun 1928 adalah orang pertama yang menggunakan metode sentence completion untuk studi kepribadian. Payne menggunakan metode ini untuk mengukur hubungan antara karier dan sifat pribadi seseorang, yang kemudian diadopsi oleh peneliti lain untuk memahami reaksi emosional dan interaksi interpersonal .

Dasar asumsi FSCT, seperti SSCT, adalah bahwa struktur kepribadian dan penyesuaian individu dapat diungkap melalui penyelesaian kalimat yang tidak lengkap. Namun, FSCT dirancang untuk anak-anak dan berfokus pada sikap terhadap karakteristik interpersonal dan reaksi terhadap keadaan luar. SSCT lebih sering digunakan untuk orang dewasa dan mengeksplorasi area penyesuaian individu dalam lingkup yang lebih luas .

Barnum Effect menjelaskan bahwa individu cenderung menerima dan mengiyakan deskripsi kepribadian umum dan kabur sebagai akurat untuk diri mereka sendiri karena biasanya disampaikan dengan cara yang positif dan flattery, meskipun deskripsi tersebut dapat berlaku bagi hampir semua orang. Jadi, dalam astrologi, meskipun deskripsi tidak akurat secara empiris, cara penyajiannya membuat orang merasa relevan dan menerima .

FSCT disusun dengan 100 item yang dikelompokkan dalam subskala seperti interpersonal figures, wishes, causes of personal emotions, dan reactions to emotions. Struktur ini membantu untuk mengeksplorasi sikap individu terhadap diri mereka, orang lain, serta lingkungan; mencerminkan sistem nilai, kebutuhan, dan tekanan yang dihadapi individu menurut teori Henry Murray .

Melalui analisis respon terhadap kalimat yang tidak lengkap di SSCT, tes ini mengungkapkan hambatan sosial individu dengan 'Agent Of Relation'-nya dan memberikan gambaran tentang sikap dan penyesuaian individu terhadap kehidupan keluarga, hubungan interpersonal, dan konsep diri. Hal ini memberikan wawasan tentang masalah penyesuaian diri yang dapat dihadapi individu, seperti hambatan emosional atau sosial .

Herman Ebbinghaus adalah pelopor dalam penelitian eksperimen mengenai memori individu dan pengembangan penalaran. Ia menciptakan tugas-tugas dengan metode penyelesaian frasa untuk mengamati perkembangan kemampuan intelektual dan penalaran pada remaja. Karyanya menginspirasi penggunaan metode sentence completion dalam pengukuran psikologis untuk mengukur intelegensi anak .

Anda mungkin juga menyukai