0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan114 halaman

Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah

Tesis ini membahas pengaruh pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, dan transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Parepare dalam 3 kalimat. Tesis ini menganalisis pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat serta variabel yang paling dominan mempengaruhi kinerja pemerintah daerah Kota Parepare.

Diunggah oleh

lensi susianti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan114 halaman

Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah

Tesis ini membahas pengaruh pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, dan transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Parepare dalam 3 kalimat. Tesis ini menganalisis pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat serta variabel yang paling dominan mempengaruhi kinerja pemerintah daerah Kota Parepare.

Diunggah oleh

lensi susianti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH,

AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN


KEUANGAN DAERAH TERHADAP KINERJA PEMERINTAH
DAERAH KOTA PARE-PARE

TESIS

Untuk Memenuhi Syarat


Memperoleh Gelar Magister Manajemen

Oleh:

ALAMSYAH
[Link].1.2192

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS
NOBEL INDONESIA
MAKASSAR
2022
i

PENGARUH PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH,


AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN
KEUANGAN DAERAH TERHADAP KINERJA PEMERINTAH
DAERAH KOTA PARE-PARE

TESIS

Untuk Memenuhi Syarat


Memperoleh Gelar Magister Manajemen

Oleh:

ALAMSYAH
[Link].1.2192

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


KONSENTRASI MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH

ITB NOBEL INDONESIA


PROGRAM PASCASARJANA
MAKASSAR
2022
11

PENGESAⅡAN TESIS
PENGARUII PENGAlWASAN KEUANGAN DAERAH,
AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSIPENGELOLAAN
KE■ ,ANGAN DAERAII:TERIIADAP KINERJA PE卜 IERINTAH
DAERAE KOTA PARE‐ PARE

C)leh:

ALAplSYAH
Telah dipettahittlkan di depan IPengl.11
Pada tanggal 19 Januari 2022

Dinyatakan telah memenuhi syarat

Nlenyetujui :

Komisi Pembimbing

Ketua,

Dr. Sylvia Sjarlis, S.E. [Link]., A.K., CA Dr. [Link],卜 質。


Si

Mengetahui :

:Direktur FPS Ketua Program Studi


ITB Nobel lndollesiaラ Magister Manajemen.



t
,
l ●

. Maryadio S.8., M.M.


ンド
Dr. Sylvia Sjarlis, S.E. [Link].. A.K." CA
iii

HALAMAN IDENTITAS

MAHASISWA, PEMBIMBING DAN PENGUJI

JUDUL TESIS :

PENGARUH PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH, AKUNTABILITAS DAN


TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH TERHADAP KINERJA
PEMERINTAH DAERAH KOTA PARE-PARE

Nama Mahasiswa : Alamsyah


NIM : [Link].1.2192
Program Studi : Magister Manajemen
Peminatan : Manajemen Keungan Daerah

KOMISI PEMBIMBING:
Ketua : Dr. Sylvia Sjarlis, S.E. [Link]., A.K., CA
Anggota : Dr. Syafruddin Kitta, S.T., [Link]

TIM DOSEN PENGUJI :


Dosen Penguji 1 : Dr. Maryadi, S.E., M.M.
Dosen Penguji 2 : Dr. Asri, [Link]., [Link]

Tanggal Ujian : 19 Januari 2022

SK Penguji Nomor : 032/SK/PPS/STIE-NI/IV2021


vii

ABSTRAK

Alamsyah. 2022. Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan


Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Kota Parepare, dibimbing oleh Sylvia Sjarlis dan Syarifuddin Kitta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis (1) pengaruh
secara parsial pengawasan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah
(2) pengaruh secara parsial pengawasan keuangan daerah terhadap kinerja
pemerintah daerah (3) pengaruh secara parsial akuntabilitas terhadap kinerja
pemerintah daerah (4) pengaruh secara parsial transparansi pengelolaan
keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah (5) variabel yang paling
dominan pengaruhnya terhadapkinerja pemerintah daerah Kota Parepare.
Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability
sampling dan purposive sampling. Data diperoleh dengan membagikan kuesioner
terkait pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, transparansi Pengelolaan
Keuangan Daerah dan Kinerja Pemerintah Daerah kepada 128 responden. Teknik
analisis data dalam penelitian ini adalah regresi berganda menggunakan aplikasi
SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengawasan keuangan daerah
berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Parepare (2)
Akuntabilitas berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah
Kota Parepare (3) transparansi pengelolaan keuangan daerah berpengaruh secara
parsial terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Parepare (4) pengawasan
keuangan daerah, Akuntabilitas dan Transparansi pengelolaan keuangan daerah
berpengaruhsecara simultan terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Parepare (5)
Akuntabilitas memiliki pengaruh yang paling dominan terhadap kinerja
pemerintah daerah Kota Parepare.

Kata kunci: Pengawasan, Transparansi, Akuntabilitas, Kinerja Pemerintah


Daerah
viii

ABSTRACT

Alamsyah. 2022. The Effect of Regional Financial Supervision, Accountability


and Transparency of Regional Financial Management on the Performance of the
Local Government of Parepare City, supervised by Sylvia Sjarlis and Syarifuddin
Kitta.
This study aims to determine and analyze (1) the partial effect of regional
financial supervision on the performance of local governments (2) the partial
influence of regional financial supervision on the performance of local
governments (3) the partial influence of accountability on the performance of
local governments (4) the partial influence transparency of local financial
management on the performance of local governments (5) the most dominant
variable influenceon the performance of the local government of Parepare City.
The sampling technique used was non-probability sampling and
purposive sampling. Data were obtained by distributing questionnaires related
to regional financial supervision, accountability, transparency of Regional
Financial Management and Regional Government Performance to 128
respondents. The dataanalysis technique in this study is multiple regression using
the SPSS application.
The results showed that (1) regional financial supervision had a partial
effect on the performance of the Parepare City local government (2)
Accountability partially affected the performance of the Parepare City local
government (3) the transparency of regional financial management had a partial
effect on the performance of the Parepare City local government (4 ) regional
financial supervision, accountability and transparency of regional financial
management have a simultaneous effect on the performance of the local
government of Parepare City (5) Accountability has the most dominant influence
on the performance of thelocal government of Parepare City.

Keywords: Supervision, Transparency, Accountability, Local Government


Performance
iv

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan curahan rahmat dan berkat ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan

penyusunan tesis yang berjudul “Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah,

Akuntabilitas Dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap

Kinerja Pemerintah Daerah Kota Parepare”. Tujuan dari penyusunan tesis ini

adalah untuk memenuhi syarat menyelesaikan Program Studi Strata Dua (S2)

pada Pascasarjana ITB NOBEL Indonesia.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah

membantu penyelesaian penulisan tesis ini yang atas bantuannyalah Penulis

mendapatkan inspirasi dan motivasi sehingga terwujudnya Tesis ini untuk itu

dalam kesempatan ini Penulis bermaksud mengucapkan terimakasih yang

setinggi-tingginya kepada :

1. Bapak Dr. H. Badaruddin, S.T., M.M Selaku Rektor ITB Nobel

Indonesia Makassar.

2. Dr. Maryadi, S.E., M.M. selaku Direktur Program Pascasarjana ITB

Nobel Indonesia Makassar.

3. Dr. Sylvia Sjarlis, SE., [Link]., AK., C.A. selaku Ketua Program Studi

Magister Manajemen sekaligus Ketua Komisi Pembimbing yang telah

meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan masukan serta

saran untuk kesempurnaan tesis.

4. Dr. Syafruddin Kitta, S.T., [Link] selaku Anggota Komisi Pembimbing

yang telah meluangkan waktunya bersedia membimbing,


v

menyumbangkan masukan dan saran serta kritikan untuk kesempurnaan

Tesis ini.

5. Dr. Maryadi, S.E., M.M dan Dr. Asri, S. Pd., [Link] selaku anggota

komisi penguji yang telah memberikan masukan dan kritikan guna

penyempurnaan tesis ini.

6. Segenap dosen dan karyawan Program Pascasarjana ITB Nobel

Indonesia.

7. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat disebutkan

satu per satu

Penulis menyadari mungkin dalam penulisan tesis ini masih terdapat

banyak kekurangan, untuk itu diharapkan tanggapan dan masukan dari berbagai

pihak sebagai bahan perbaikan dengan harapan dan pada akhirnya.

Makassar, Januari 2022

Penulis

ALAMSYAH
[Link].1.2192
ix

DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN ..................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... ii
HALAMAN IDENTITAS ............................................................................. iii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iv
PERNYATAAN ORISINALITAS TESIS ................................................... vi
ABSTRAK..................................................................................................... vii
ABSTRACT.................................................................................................... viii
DAFTAR ISI ................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL ......................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiv

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ………………… ...... ……………………………….... 1
1.2. Rumusan Masalah Penelitian......................................................... ....... . 6
1.3. Tujuan Penelitan.................................................. .................................. 6
1.4. Manfaat Penelitian........ ....................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Kajian Penelitian Terdahulu..... ........................................................... 9
2.2. Pengawasan Keuangan Daerah......... ................................................... 13
2.3. Akuntabilitas.............. ................................................................. 21
2.4. Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah.............................. .......... 26
2.5. Kinerja Pemerintah Daerah.............. .................................. 29

BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS


3.1. Kerangka Konsep Penelitian.......................................... ... 34
3.1.1. Hubungan Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah...................................... 34
3.1.2. Hubungan Akuntabilitas Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah................... ................................ 35
x

3.1.3. Hubungan Transparansi Terhadap Kinerja


Pemerintah Daerah............ ....................................... 35
3.2. Hipotesis Penelitian............................ ................................ 37
3.3. Definisi Operasional................ ........................................... 37

BAB IV METODE PENELITIAN


4.1. pendekatan penelitian............. ............................................ 40
4.2. Populasi, Sampel Dan Tehnik Sampling................ ............ 40
4.3. Teknik Pengumpulan Data.............. ............................................ 41
4.4. Uji Instumen Penelitian........................................................................ 41
4.5. Uji Asumsi Klasik............................................................................... 42
4.5.1. Uji Normalitas........... .............................................................. 42
4.5.2. Uji Multikoloniertitas................. .............................................. 44
4.5.3. Uji Heteroskedastisitas........... .................................................. 44
4.6 Teknik Analisa Data..... ...................................................................... 45
4.6.1. Analisis Regresi Berganda........................................................ 45
4.6.2. Pengujian Hipotesis............. ..................................................... 46
[Link]. Uji T............... ............................................................. 47
[Link]. Uji F.......... .................................................................. 47
[Link]. Uji Koefisien Determinasi.............. .............................. 47

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


5.1. Hasil Penelitian............... ..................................................................... 49
5.1.1. Profil Objek Penelitian............ ................................................... 49
5.1.2. Karakter Responden................... ................................................ 51
[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia.................. ..... 52
[Link]. Karakter Responden Berdasarkan Jenis Kelamin............... 52
[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir 53
[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja......... 53
5.1.3. Deskripsi Variabel Penelitian........... .......................................... 54
[Link]. Pengawasan Keuangan Daerah (X1)................................. 54
[Link]. Akuntabilitas (X2).... ....................................................... 56
xi

[Link]. Transparansi Pengelolaan Keuanga Daerah (X3)............... 57


[Link]. Kinerja Pemerintah Daerah (Y)..... ................................... 59
5.1.4. Uji Instrumen Penelitian......... ........................................... 61
5.1.5. Uji Asumsi Klasik........... .................................................. 62
[Link]. Uji Normalitas............... ........................................... 62
[Link]. Uji Hertoskedastisitas...... ......................................... 63
[Link]. Uji Multikolinearitas............. ................................... 65
5.1.6. Analisis Data.............. ....................................................... 66
[Link]. Analisis Regresi Linear Berganda............................. 66
[Link]. Uji Hipotesis Secara Parsial........ ............................. 68
[Link]. Uji Hipotesis Secara Simultan.............. .................... 69
[Link]. Hasil Pengujian Koefisien Determinasi.......................... 70
5.2. Pembahasan................... ...................................................................... 71
5.2.1. Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah...... ....................................................... 71
5.2.2. Pengaruh Akuntabilitas Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah........ 73
5.2.3. Pengaruh Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah
Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.............. ................................ 74
5.2.4. Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas Dan
Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah........................................................................... 76
5.2.5. Akuntabilitas Memiliki Pengaruh Yang Paling Besar Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah............................................................... 77

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


6.1. Kesimpulan....... .................................................................................. 78
6.2. Saran................... ................................................................................ 78

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
xii

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

1. Jumlah Responden Berdasarkan Usia ..................................................... 52


2. Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin......... ............................. 52
3. Jumlah Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ............................ 53
4. Jumlah Responden Berdasarkan Lama Bekerja....... ............................... 54
5. Tanggapan Atas Kuisioner Varibel Pengawasan Keuangan Daerah. . . 55
6. Tanggapan Atas Kuisioner Varibel Akuntabilitas.... ....................... 57
7. Tanggapan Responden untuk Variabel Transparansi
Pengelolaan Keuangan Daerah ........................................................ 58
8. Tanggapan Responden Untuk Variabel Kinerja Pemerintah Daerah....... 60
9. Uji Instrumen Penelitian...... .................................................................. 61
10. Uji Normalitas Data............................................................................... 63
11. Uji Heteroskedastisitas .......................................................................... 64
12. Uji Multikolinearitas .......................................................................... 65
13. Hasil Analisis Regresi Liniear Berganda ............................................... 66
14. Hasil Uji Hipotesis secara Simulta ......................................................... 70
15. Uji Koefisien Determinasi ..................................................................... 71
xiii

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

1. Kerangka Konsep Penelitian .......................................................... 36


2. Pengujian Normalitas ...................................................................... 62
xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat Izin Penelitian

Lampiran 2 : Kuesioner

Lampiran 3 : Tabulasi Data Kuesioner

Lampiran 4 : Validasi Output Hasil Analisis Data


1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tingginya berbagai asumsi masyarakat terhadap pelaksanaan otonomi

daerah menyebabkan kinerja pemerintah menjadi salah satu isu yang menjadi

sorotan publik. Hal ini dikarenakan masyarakat belum merasakan hasil kinerja

pemerintah secara maksimal (Sundari, 2013). Sebagai organisasi sektor publik,

pemerintah dituntut untuk melaksanakan kinerja yang baik dalam menjalankan

tugas dan tanggung jawabnya. Tuntutan akan kinerja pemerintah yang baik ini

terjadi hampir disemua pemerintahan seiring dengan diterapkannya konsep

otonomi daerah dan penetapan perundang-undangan terkait dengan pengelolaan

pemerintahan.

Kinerja merupakan pencapaian atas apa yang telah direncanakan, baik oleh

pribadi maupun organisasi (Nugroho dan Rohman, 2012). Dalam konteks

organisasi pemerintah daerah, kinerja adalah suatu ukuran prestasi atau hasil

dalam mengelola dan menjalankan suatu organisasi dimana berhubungan dengan

segala hal yang akan datang, sedang dan telah dilakukan organisasi tersebut dalam

kurun waktu tertentu. Dalam peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun

2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dinyatakan bahwa kinerja

adalah keluaran/hasil dari kegiatan atau program yang akan atau telah dicapai

sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang

terukur. Sedangkan menurut Gusmal (2007) dalam Mongeri (2013) kinerja


2

pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran atau

tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi pemerintah daerah

yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan-

kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi paratur pemerintah. Pengukuran

kinerja organisasi pemerintah daerah penting dilakukan karena berguna sebagai

acuan untuk meningkatkan kinerja organisasi tersebut agar lebih baik lagi dimasa

yang akan datang.

Pada dasarnya beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja

Pemerintah Daerah, meliputi pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas,

transparansi dan pengelolaan daerah.

Secara umum pengawasan dapat dirumuskan sebagai suatu proses kegiatan

yang dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan untuk mengamati,

memahami, dan menilai setiap pelaksanaan kegiatan tertentu sehingga dapat

mencegah atau memperbaiki kesalahan atau penyimpangan yang terjadi (Halim

dan Iqbal, 2012). Sedangkan menurut Saydam yang dikutip oleh Badruzzaman

dan Ruslina (2018) menyatakan bahwa pengawasan merupakan kegiatan

manajerial, dilakukan dengan maksud agar tidak terjadi penyimpangan delam

melaksanakan pekerjaan. Suatu penyimpangan atau kesalahan terjadi atau tidak

selama dalam pelaksanaan pekerjaan tergantung pada tingkat kemampuan dan

keterampilan pegawain. Para pegawai yang selalu mendapat pengarahan atau

bimbingan dari atasan, cenderung melakukan kesalahan atau penyimpangan lebih

sedikit dibandingkan dengan pegawai yang tidak memperoleh bimbingan.

Arti pengawasan atas penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan


3

pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan

dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa

pengawasan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah adalah proses kegiatan

yang ditujukan untuk menjamin agar Pemerintahan Daerah berjalan secara efisien

dan efektif sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Menurut Halim (2002) dalam Zainal (2018) manfaat pengawasan

keuangan daerah adalah untuk menjamin keamanan seluruh komponen keuangan

daerah, dipatuhinya berbagai aturan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan

daerah, dan untuk menjamin dilakukannya berbagai upaya penghematan, efisiensi,

serta efektivitas dalam pengelolaan keuangan daerah.

Faktor ke dua yang memberikan pengaruh ke kinerja pemerintah daerah

yaitu Akuntabiltas. Akuntabilitas merupakan konsep terkait dengan mekanisme

pertanggungjawaban dari satu pihak ke pihak yang lain (Jatimiko, 2020). Menurut

Adisasmita (2011) Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberi

pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan

seseorang, badan hukum, pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki

hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.

Sedangkan menurut UNDP (United Nations Development Program) yang dikutip

Novesti (2017), akuntabilitas adalah evaluasi terhadap proses pelaksanaan

kegiatan/kinerja organisasi untuk dapat dipertanggungjawabkan serta sebagai

umpan balik bagi pimpinan organisasi untuk dapat lebih meningkatkan kinerja

organisasi pada masa yang akan datang. Akuntabilitas adalah kewajiban untuk

memberikan informasi termasuk informasi keuangan sebagai wujud


4

tanggungjawab organisasi (Grey et. Al, 1996 dalam Setiawan, 2017).

Akuntabilitas merupakan pertanggungjawaban atas segala yang dilakukan oleh

pimpinan atau lembaga yang memberi wewenang dan akuntabilitas merupakan

prinsip yang menjamin bahwa setiap kegiatan suatu organisasi atau perorangan

dapat dipertangungjawabkan secara terbuka kepada masyarakat (Nasution,

2019).

Akuntabilitas mensyaratkan bahwa pengambilan keputusan berprilaku

sesuai dengan mandat yang diterimanya. Aspek penting yang harus

dipertimbangkan yaitu: 1) aspek legalitas penerimaan dan pengeluaran daerah

bahwa setiap transaksi yang dilakukan harus dapat dilacak otoritas legalnya, 2)

aspek pengelolaan (sterwarship) keuangan daerah secara baik, perlindungan asset

fisik dan finansial mencegah terjadinya pemborosan dan salah urus. Untuk ini,

perumusan kebijakan, bersama-sama dengan cara dan hasil kebijakan tersebut

harus dapat diakses dan dikomunikasikan secara vertikal maupun horizontal

dengan baik (Mardiasmo dalam Benawan et al, 2018)

Serta faktor yang terakhir adalah transparansi pengelolaan keuangan

daerah. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 menjelaskan

bahwa transparan adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur

kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak

untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban

Pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan

ketaatannya pada Perundang-undangan. Dalam PP. Pasal 4 PP No. 58 Tahun 2013

menyebutkan bahwa pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara tertib, taat


5

pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, efisien, transparan, dan

bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatuhan (Umar, et

al, 2018).

Penerapan azas transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah

memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui berbagai informasi

tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah secara benar, jujur dan tidak

diskriminatif Kondisi yang mengharuskan pemerintah memberikan informasi

seluas-luasnya kepada masyarakat terkait pengelolaan pemerintahan secara tidak

langsung pengelola pemerintahan berusaha untuk memberikan yang terbaik

(kinerja terbaik) kepada masyarakat dengan meningkatkan pencapaian tujuan

pemerintah sesuai dengan visi dan misi (Rahmanurrasjid dalam Wiguna, 2015)

Fenomena tentang pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, dan

transparansi pada pemerintah daerah Kota Pare-Pare sebagai lokasi penelitian,

peneliti menemukan bahwa masih tidak maksimalnya kinerja pemerintah daerah

Kota Pare-Pare, dikarenakan tingkat pengawasan pengelolaan keuangan daerah

belum terlaksana dengan baik dalam hal pelaksanaan kegiatan , disisi lain kuranag

akuntabelnya beberapa aktivitas serta kurang terbukanya pemerintah dalam

memberikan informasi pengelolaan keuangan daerah terhadap masyarakat.

Berdasarkan penjabaran pada latar belakang yang telah dikemukakan di

atas, maka peneliti ingin mengkaji lebih jauh terkait dengan faktor yang

mempengaruhi kinerja pemerintah daerah dengan mengangkat judul penelitian

yaitu: “Pengaruh pengawasan keuang daerah, akuntabilitas, transparansi

pengeloaan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota


6

Pare-Pare”.

1.2. Rumusan Masalah

Mengacu atas uraian pada latar belakang, maka peneliti dapat merumuskan

beberapa permasalahan penelitian sebagai berikut:

1. Apakah pengawasan keuangan daerah berpengaruh secara parsial

terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare?

2. Apakah akuntabilitas berpengaruh secara parsial terhadap kinerja

pemerintah daerah Kota Pare-Pare?

3. Apakah Transparansi pengelolaan keuangn daerah berpengaruh secara

parsial terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare?

4. Apakah pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan pengawasan

keuangan daerah berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah

daerah Kota Pare-Pare?

5. Variabel manakah yang paling besara pengaruhnya terhadap terhadap

kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini

yakni untuk menganalisis:

1. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial pengawasan keuangan

daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

2. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial pengawasan keuangan


7

daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

3. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial akuntabilitas terhadap

kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

4. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial transparansi pengelolaan

keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

5. Untuk menganalisis variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap

terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris yang

menunjukkan adanya pengaruh pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas,

transparansi pengeloaan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah,

yang dapat memberikan masukan pemerintah daerah Kota Pare-Pare, akan

pentingnya pemahaman dari manajemen keuangan kaitannya dengan pengawasan

keungan daerah, akuntabilitas, transparansi pengelolaan keuangan daerah dan

kinerja pemerintah daerah. Dengan demikian, kinerja pemerintah daerah semula

menurun dapat ditingkatkan kembali sehingga tujuan pemerintah daerah bisa

tercapai. Disamping itu, setelah melakukan penelitian ini diharapkan mahasiswa

dapat membandingkan fenomena-fenomena yang ada di organisasi yang akan

diteliti dan dapat memperoleh pengetahuan yang lebih luas tentang permasalahan

dalam dunia pemerintahan.


8

1.4.2. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan wawasan baru bagi penelti

selanjutnjutnya yang berkaitan dengan bidang ilmu manajemen keuangan

mengenai pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, transparansi pengelolaan

keuangan daerah dan kinerja pemerintah daerah.


9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian terdahulu ini diharapkan peneliti dapat melihat beberapa

temuan peneliti sebelumnya untuk menjadi dasar empiris dalam pembentukan

model penelitian. Beberapa penelitian terdahulu yang menjadi rujukan yaitu

sebagai berikut:

1. Ulimpa, Sondakh dan Runtu, T. (2018) dengan judul penelitiannya “Analisis

Pengukuran Kinerja Pemerintah Daerah Dalam Era Otonomi Daerah Di

Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat” menemukan bahwa pengukuran

kinerja pemerintah daerah dilakukan karena ketentuan yang dibuat oleh

pemerintah pusat laporan akuntabilitas kinerja untuk masing- masing instansi

pemerintah.

2. Wiguna, Yuniarta, dan Darmawan (2015). Dengan judul penelitian mengenai

“Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan Transparansi

Pengelolaan Keuangan Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Kabupaten Buleleng. Penelitian ini dilaksanakan di Inspektorat Kabupaten

Buleleng dengan jumlah Populasi sebanyak 52 Orang. Teknik pengambilan

sampel menggunakan teknik Non probability Sampling sehingga yang

menjadi sampel dalam penelitian ini adalah bidang pengawasan dan bidang

auditor sebesar 34 Orang. Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah

jenis data kuantitatif dan kualitatif sedangkan sumber datanya adalah sumber data
10

primer. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dokumentasi dan

kuisioner. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda

dengan bantuan program SPSS versi 21.00 Hasil penelitian ini

menunjukkan bahwa (1) Pengawasan Keuangan Daerah berpengaruh signifikan

terhadap kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng, (2) akuntabilitas

pengelolaan keuangan berpengaruh signifikan terhadap kinerja Pemerintah Daerah

Kabupaten Buleleng, (3) transparansi pengelolaan keuangan berpengaruh signifikan

terhadap kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng, (4) pengawasan keuangan

daerah, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan berpengaruh signifikan

terhadap kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng Kata Kunci :

Pengawasan, Akuntabilitas, Transparansi, Kinerja

3. Penelitian oleh Purnama dan Nadirsyah (2016). Pengaruh Pengawasan

Keuangan Daerah, Akuntabilitas, dan Transparansi Pengelolaan Keuangan

Daerah Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Pada Kabupaten Aceh Barat

Daya. Populasi penelitian adalah 44 SKPK (Satuan Kerja Perangkat

Kabupaten). Teknik pengambilan sampel yang digunakan Dengan simple

random sampling, 31 SKPK dipilih sebagai sampel penelitian dengan total 93

responden. Data yang digunakan dalam bidang supervisi adalah jenis

kuantitatif dan sumber data adalah sumber primer. Data dikumpulkan dengan

menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan analisis regresi

berganda dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, dan transparansi manajemen

keuangan baik secara simultan maupun parsial berpengaruh terhadap kinerja

Pemerintah Daerah Kabupaten Abdya.


11

4. Nasution (2018), dengan peneltian yang berjudul “Analisis pengaruh

pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja

keuangan pemerintah”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode

asosiatif / korelasi. Populasi dalam penelitian ini adalah 34 instansi

pemerintah daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara,

dengan sampel sebanyak 68 responden yang terdiri dari pejabat pengguna

anggaran / pengguna anggaran dan Pejabat Departemen Keuangan. Data

merupakan data primer yang diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan

melakukan survey selanjutnya, setelah data tersbut terkumpul kemudian

dianalisis dengan menggunakan uji regresi linier berganda dengan

menggunakan asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara

parsial pengelolaan dan akuntabilitas keuangan daerah berpengaruh positif

dan signifikan terhadap kinerja keuangan, sedangkan transparansi

berpengaruh negatif tetapi signifikan terhadap kinerja keuangan. Secara

simultan pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas, dan transparansi

berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pada Pemerintah Provinsi

Sumatera Utara.

5. Penelitian oleh Putra dan Indraswarawati (2021) mengenai Pengaruh

Pengawasan Keuangan Daerah, Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah

Dan Akuntabilitas Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten

Klungkung. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 143 responden dengan metode

purposive sampling serta pengujian sampel bias non respon. Pengumpulan data

dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Instrumen penelitian yang digunakan

adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Teknik analisis yang digunakan adalah uji
12

asumsi klasik dan analisis regresi linier berganda, analisis determinasi, uji F dan uji

t. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pengawasan keuangan daerah tidak

berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah pada Pemerintah Kabupaten

Klungkung, dibuktikan dengan t-hitung = 1,503 dengan nilai signifikansi 0,135>

0,05, dengan demikian H1 adalah ditolak. Transparansi pengelolaan keuangan

daerah berpengaruh positif terhadap kinerja pemerintah daerah pada Pemerintah

Kabupaten Klungkung, dibuktikan dengan nilai t-hitung = 4,365 dengan nilai

signifikansi 0,000<0,05 sehingga H2 diterima. Akuntabilitas berpengaruh positif

terhadap Kinerja Pemerintah Daerah pada Pelayanan di Pemerintah Kabupaten

Klungkung, terbukti dengan t-hitung = 3,058 dengan nilai signifikansi 0,003 <0,05,

dengan demikian H3 diterima.

6. Penelitian Jitmau, Kalangi, dan Lambey (2017) mengenai “Pengaruh

Akuntabilitas, Transparansi dan Fungsi Pemeriksaan Intern Terhadap Kinerja

Pemerintah Daerah (Studi Empiris Di Kabupaten Sorong)”. Jenis data yang

digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dan pengumpulan data

digunakan kuesioner. Dalam penelitian ini diambil sampel dari 100

responden yang terdapat pada 10 SKPD di pemerintah Kabupaten Sorong.

Metode analisis data yang digunakan yaitu regresi linier berganda, dengan pengujian

validitas data, uji reabilitas data, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis. Data diolah

dengan menggunakan perangkat Software Statical Product And Services Solution

(SPSS) versi 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akuntabilitas tidak

berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah Kabupaten Sorong, transparansi

berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah Kabupaten Sorong, fungsi

pemeriksaan intern berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah

7. Nicolla (2019) dengan penelitian yang berjudul “Pengaruh Pengawasan


13

Keuangan Daerah, Akuntabilitas, Transparansi Terhadap Kinerja Pemerintah

Daerah (Studi kasus pada BPKAD Provinsi Sumatera Selatan). Jenis

penelitian yang digunakan adalah asosiatif. Data yang digunakan adalah data

sekunder dan primer. Populasi dalam penelitian adalah seluruh karyawan

BPKAD Kota Palembang dengan jumlah respnden 95 karyawan. Sampel

yang digunakan berjumlah 49 dengan menggunakan rumus Slovin. Teknik

pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Metode analisis data

yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dan analisis

kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama

diperoleh hasil pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi

signifikan memengaruhi kinerja pemerintah. Hasil uji secara parsial

pengawasan keuangan daerah signifikan memengaruhi kinerja pemerintah.

Akuntabilitas dan Transparansi secara parsial tidak memengaruhi kinerja

pemerintah.

2.2. Pengawasan Keuangan Daerah

Secara umum pengawasan dapat dirumuskan sebagai suatu proses kegiatan

yang dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan untuk mengamati,

memahami, dan menilai setiap pelaksanaan kegiatan tertentu sehingga dapat

mencegah atau memperbaiki kesalahan atau penyimpangan yang terjadi (Halim

dan Iqbal, 2012).

Menurut Siagian (2014) pengawasan merupakan proses pengamatan dari

pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan


14

yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah di tentukan.

Sedangkan menurut Saydam yang dikutip oleh Badruzzaman dan Ruslina

(2018) menyatakan bahwa pengawasan merupakan kegiatan manajerial, dilakukan

dengan maksud agar tidak terjadi penyimpangan delam melaksanakan pekerjaan.

Suatu penyimpangan atau kesalahan terjadi atau tidak selama dalam pelaksanaan

pekerjaan tergantung pada tingkat kemampuan dan keterampilan pegawain. Para

pegawai yang selalu mendapat pengarahan atau bimbingan dari atasan, cenderung

melakukan kesalahan atau penyimpangan lebih sedikit dibandingkan dengan

pegawai yang tidak memperoleh bimbingan.

Selanjutnya Tery (2006) yang dikutip oleh Nurfaidah (2018) mengartikan

pengawasan sebagai mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya

mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tidankan-tindakan

korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Menurut Winardi (2010) pengawasan adalah semua aktivitas yang

dilaksanakan oleh pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual

sesuai dengan hasil yang direncanakan.

Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja

standar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk

membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk

menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk

mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua

sumber daya perusahaan atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan

seefisien mungkin guna mencapai tujuan pemerintahan. Arti pengawasan atas


15

penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 12

Tahun 2019 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daera menyatakan bahwa

pengawasan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah adalah proses kegiatan

yang ditujukan untuk menjamin agar Pemerintahan Daerah berjalan secara efisien

dan efektif sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan

Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

pengawasan merupakan hal penting dalam menjalankan suatu perencanaan.

Halim (2000) mengatakan bahwa dengan adanya pengawasan, maka

diperlukan perencanaan yang diharapkan oleh manajemen dapat terpenuhi dan

berjalan dengan baik lebih lanjut halim (2000) mengatakan bahwa pengaawasan

terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :

1. Secara umum tujuan pengawasan adalah untuk menjamin agar pemerintah

daerah berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-

undangan yang berlaku guna menciptakan aparatur pemerintahan yang Bersih, Bebas

Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

2. Secara khusus meliputi: a) Menilai ketaatan terhadap peraturan perundang-

undangan yang berlaku; b) Menilai apakah kegiatan dengan pedoman

akuntansi yang berlaku; c) Menilai apakah kegiatan dilaksanakan secara

ekonomis, efisien, dan efektif; serta d) Mendeteksi adanya kecurangan.

Adapun Menurut Situmorang dan Juhir (1994) dalam Yulinda (2013),

tujuan pengawasan mencakup:

1. Mengetahui jalannya pekerjaan, apakah lancar atau tidak;

2. Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan

mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahankesalahan


16

yang sama atau timbulnya kesalahan yang baru;

3. Mengetahui apakah penggunaan budget yang telah ditetapkan dalam rencana

terarah kepada sasarannya dan sesuai dengan yang telah direncanakan.;

4. Mengetahui pelaksanaan kerja sesuai dengan program (tahapan dari tingkat

pelaksanaan) seperti yang telah ditentukan dalam perencanaan atau tidak; dan

5. Mengetahui hasil pekerjaan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan

dalam perecanaan.

Menurut Saputra (2013), Pengawasan pada dasarnya diarahkan

sepenuhnya untuk menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau

penyimpangan atas tujuan yang akan dicapai. Melalui pengawasan, diharapkan

dapat membantu melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai

tujuan yang telah direncanakan secara efektif dan efisien. Bahkan, melalui

pengawasan tercipta suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan penentuan atau

evaluasi mengenai sejauh mana pelaksanaan kerja sudah dilaksanakan, sejauh

mana kebijakan pimpinan dijalankan, dan sampai sejauh mana penyimpangan

yang terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut.

Terdapat jenis-jenis pengawasan yang dapat dilakukan oleh pemerintah

(Prasetyo dan Fatchuddin, 2018) antara lain sebagai berikut:

1. Pengawasan intern, dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam

lingkungan unit organisasi yang bersangkutan. Pengawasan intern dapat

dilakukan dengan cara pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat

(built in control), atau pengawasan yang dilakukan secara rutin oleh

Inspektorat Jendral pada setiap kementrian dan Inspektorat Wilayah untuk


17

setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan menempatkannya di bawah

Pengawasan Kementrian Dalam Negeri.

2. Pengawasan ekstern merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh unit

pengawasan yang berada di luar unit organisasi yang diawasi. Dalam hal ini,

di Indonesia adalah BPK yang merupakan lembaga tinggi negara yang

terlepas dari pengaruh kekuasaan manapun. Dalam menjalankan tugasnya,

BPK tidak mengabaikan hasil laporan pemeriksaan aparat pengawasan intern

pemerintah.

3. Pengawasan preventif, pengawasan yang yang dilakukan terhadap suatu

kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat mencegah

terjadinya penyimpangan. Pengawasan preventif ini dilakukan pemerintah

dengan maksud untuk menghadiri adanya penyimpangan pelaksanaan

keuangan daerah yang akan membebankan dan merugikan daerah lebih besar.

Pengawasan preventif akan lebih bermanfaat dan bermakna jika dilakukan

oleh atasan langsung, sehingga penyimpangan yang kemungkinan dilakukan

akan terdeteksi lebih awal.

4. Pengawasan represif, pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan

setelah kegiatan itu dilakukan. Pengawasan ini umumnya dilakukan pada

akhir tahun anggaran, dimana anggaran yang telah ditentukan kemudian

disampaikan laporannya. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan dan

pengawasan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan.

Pengawasan keuangan daerah merupakan bagian dari pengendalian

internal pemerintah sebagaimana yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah


18

Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).

Pasal 1 peraturan tersebut menyatakan salah satu tujuan dari pengendalian internal

adalah keandalan pelaporan keuangan dan pengamanan aset negara, yang mana

kedua tujuan tersebut berkaitan dengan pengawasan keuangan daerah. Oleh

karena itu, indikator untuk mengukur pengawasan keuangan daerah dapat dilihat

dari unsur-unsur SPIP yang terdiri atas lingkungan pengendalian, penilaian risiko,

kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan. Uraian dari

kelima unsur tersebut yaitu:

1. Lingkungan pengendalian. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib menciptakan

dan memelihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif

dan kondusif untuk penerapan Sistem Pengendalian Intern dalam lingkungan

kerjanya, melalui penegakan integritas dan nilai etika, komitmen terhadap

kompetensi, kepemimpinan yang kondusif, pembentukan struktur organisasi

yang sesuai dengan kebutuhan, pendelegasian wewenang dan tanggung jawab

yang tepat, penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang

pembinaan sumber daya manusia, perwujudan peran APIP yang efektif, dan

hubungan kerja yang baik dengan Instansi Pemerintah terkait.

2. Penilaian risiko. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib melakukan penilaian

risiko yang terdiri atas identifikasi risiko dan analisis risiko. Dalam rangka

pelaksanaan penilaian risiko, Pimpinan menetapkan tujuan Instansi

Pemerintah dan tujuan pada tingkatan kegiatan yang bersifat spesifik, terukur,

dapat dicapai, realistis, dan terikat waktu, serta berpedoman pada peraturan

perundang-undangan.
19

3. Kegiatan pengendalian. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib

menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan ukuran,

kompleksitas, dan sifat dari tugas dan fungsi Instansi Pemerintah yang

bersangkutan. Penyelenggaraan kegiatan pengendalian sekurang kurangnya

memiliki karakteristik yaitu kegiatan pengendalian diutamakan pada kegiatan

pokok Instansi Pemerintah, kegiatan pengendalian harus dikaitkan dengan

proses penilaian risiko, kegiatan pengendalian yang dipilih disesuaikan

dengan sifat khusus Instansi Pemerintah, kebijakan dan prosedur harus

ditetapkan secara tertulis, prosedur yang telah ditetapkan harus dilaksanakan

sesuai yang ditetapkan secara tertulis, dan kegiatan pengendalian dievaluasi

secara teratur untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut masih sesuai dan

berfungsi seperti yang diharapkan.

4. Informasi dan komunikasi. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib

mengidentifikasi, mencatat, dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk

dan waktu yang tepat. Komunikasi atas informasi tersebut wajib

diselenggarakan secara efektif. Oleh karena itu pimpinan Instansi Pemerintah

harus sekurang-kurangnya menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk

dan sarana komunikasi, dan mengelola, mengembangkan, dan memperbarui

sistem informasi secara terus menerus.

5. Pengawasan. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib melakukan pemantauan

SPI. Pelaksanaan pemantauan SPI dilakukan dengan pemantauan

berkelanjutan, evaluasi terpisah, dan tindak lanjut rekomendasi hasil audit

dan reviu lainnya. Pemantauan berkelanjutan diselenggarakan melalui


20

kegiatan pengelolaan rutin, supervisi, pembandingan, rekonsiliasi, dan

tindakan lain yang terkait dalam pelaksanaan tugas. Evaluasi terpisah

diselenggarakan melalui penilaian sendiri, reviuw, dan pengujian efektivitas

SPI. Tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan reviuw lainnya harus segera

diselesaikan dan dilaksanakan sesuai dengan mekanisme penyelesaian

rekomendasi hasil audit dan reveuw lainnya yang ditetapkan

Sedangkan menurut Azlan, et al (2019) indikator dalam pengawasan keuangan

daerah yaitu :

1. Bersih dan bebas KKN,

2. Evaluasi kegiatan,

3. Pencatatan transaksi berdasarkan bukti, serta

4. Pencatatan transaksi yang tepat waktu.

Dalam pandangan Rachman (2014) dalam gunawan (2020) menyatakan,

bahwa indikator keberhasilan suatu organisasi pemerintah dalam mencapai

tujuannya banyak ditentukana oleh keberhasilan pengawasan. Jika pengawasan

berjalan dengan baik maka pengawasan merupakan unsur paling pokok dalam

menentukan keberhasilan suatu program. Keberhasilan program pengawasan

sendiri dapat dilihat dari berbagai macam indikator sebagai berikut:

1. Meningkatnya disiplin, prestasi dan pencapaian sasaran pelaksanaan tugas,

antara lain:

a) Rencana yang disusun dapat menggambarkan adanya sasaran yang jelas

dan dapat diukur, terlihat kaitan antara rencana dengan program dan

anggaran.
21

b) Tugas dapat selesai sesuai dengan rencana, baik dilihat dari aspek fisik

maupun biaya;

2. Berkurangnya penyalahgunaan wewenang yaitu berkurangnya tuntutan

masyarakat terhadap pemerintah;

3. Berkurangnya kebocoran, pemborosan dan pungutan liar antara lain:

a) Kualitas dan kuantitas kasus-kasus penyimpangan, penyelewengan,

kebocoran, pemborosan dapat dikurangi sebagaimana laporan

pengawasan fungsional dan laporan pengawasan lainnya

b) berkurangnya tingkat kesalahan dalam pelaksanaan tugas.

Sedangkan menurut Putra dan Indraswarawati (2021) pengawasan

keuangan daerah diukur dengan menggunakan indikator: Kualitas Pengawasan,

Standar Pengawasan, Peningkatan Pengawasan dan Tugas Pengawasan.

2.3. Akuntabilitas

Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberi pertanggungjawaban atau

menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang, badan hukum,

pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan

untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban (Adisasmita, 2011). Menurut

Akbar (2012) Akuntabilitas (accountability) secara harfiah dapat diartikan sebagai

pertanggungjawaban, namun penerjemahan secara sederhana ini dapat

mengaburkan arti kata accountability itu sendiri bila dikaitkan dengan pengertian

akuntansi dan manajemen.

Sedangkan menurut UNDP (United Nations Development Program) yang


22

dikutip Novesti (2017), akuntabilitas adalah evaluasi terhadap proses pelaksanaan

kegiatan/kinerja organisasi untuk dapat dipertanggungjawabkan serta sebagai

umpan balik bagi pimpinan organisasi untuk dapat lebih meningkatkan kinerja

organisasi pada masa yang akan datang. Akuntabilitas adalah kewajiban untuk

memberikan informasi termasuk informasi keuangan sebagai wujud

tanggungjawab organisasi (Grey et. Al, 1996 dalam Setiawan, 2017). Selanjutnya,

dalam pasal 7 Undang-undang No.28 Tahun 1999 menjelaskan bahwa yang

dimaksud asas akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan

dan hasil dari kegiatan penyelenggaraan negara harus dapat

dipertanggungjawabkan kepada masyarakat/rakyat sebagai pemegang kedaulatan

tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang

berlaku

Dalam pandangan Silvia dan Ansor (2011) menyatakan bahwa terdapat 3

jenis akuntabilitas dalam organisasi antara lain yaitu: akuntanbilitas publik,

akuntabilitas hukum dan kejujuran, akuntabilitas program, akuntabilitas proses,

akuntabilitas kebijakan, dan akuntabilitas finansial.

1. Akuntabilitas Publik adalah kewajiban penerima tanggungjawab untuk

mengelola sumber daya, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas

dan kegiatan yang berkaitan dengan pengguna sumber daya publik kepada

pihak pemberi mandat (principal).

2. Akuntabilitas kejujuran dan hukum , akuntabilitas kejujuran terkait dengan

adanya penghindaran penyalahgunaan jabatan (abuse of power). Sedangkan

akuntabilitas hukum (legal accountability) menjamin adanya peraturan yang terkait


23

dengan supermasi hukum dan peraturan lain dalam organisasi (Silvia dan Azwar,

2011).

3. Akuntabilitas proses, menjelaskan bagaimana proses yang digunakan dalam

melaksanakan tugas, hal ini ditekankan lebih kepada pemberian pelayanan

yang cepat dan responsive. Proses berkaiatan dengan penyelenggaraan atau

pengelolaan organisasi settiap hari. Akuntanbilitas proses terlihat melalui

pemberian pelayanan publik yang cepat dan responsif, sistem infomasi dan

prosedur administrasi.

Sheila Elwood (Amelia, 2018) mengemukakan ada empat jenis

akuntabilitas, yaitu:

1. Akuntabilitas hukum dan peraturan, yaitu akuntabilitas yang terkait dengan

jaminan adanya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan lain yang

diisyaratkan dalam penggunaan sumber dana publik. Untuk menjamin

dijalankannya jenis akuntabilitas ini perlu dilakukan audit kepatuhan.

2. Akuntabilitas proses, yaitu akuntabilitas yang terkait dengan prosedur yang

digunakan dalam melaksanakan tugas apakah sudah cukup baik. Jenis

akuntabilitas ini dapat diwujudkan melalui pemberian pelayanan yang cepat,

responsif, dan murah biaya.

3. Akuntabilitas program, yaitu akuntabilitas yang terkait dengan perimbangan

apakah tujuan yang ditetapkan dapat dicapai dengan baik, atau apakah

pemerintah daerah telah mempertimbangkan alternatif program yang dapat

memberikan hasil optimal dengan biaya yang minimal.

4. Akuntabilitas kebijakan, yaitu akuntabilitas yang terkait dengan

pertanggungjawaban pemerintah daerah dalam terhadap DPRD sebagai


24

legislatif dan masyarakat luas. Ini artinya, perlu adanya transparansi

kebijakan sehingga masyarakat dapat melakukan penilaian dan pengawasan

serta terlibat dalam pengambilan keputusan.

Sedangkan menurut Yango (Raba, 2020) yang menyatakan bahwa ada 4

jenis akuntabilitas, diantaranya yaitu:

1. Traditional atau regulatory accountability. Dimaksudkan bahwa untuk

mempertahankan tingkat efisiensi pelaksanaan administrasi publik yang

mengarah pada perwujudan pelayanan prima, maka perlu akuntabilitas

tradisional atau akuntabilitas regular untuk mendapatkan informasi mengenai

kepatuhan pada peraturan yang berlaku terutama yang terkait dengan aturan

fisikal dan peraturan pelaksanaan administrasi publik disebut juga compliance

accountability.

2. Managerial Accountability, yang menititberatkan pada efisiensi dan

kehematan penggunaan dana, harta kekayaan, sumber daya manusia, dan

sumber-sumber daya lainnya.

3. Program accountability, memfokuskan pada penciptaan hasil operasi

pemerintah. Untuk itu, semua pegawai pemerintah harus dapat menjawab

pertanyaan disekitar penyampaian tujuan pemerintah, bukan sekedar ketaatan

pada peraturan yang berlaku.

4. Process accountability, memfokuskan kepada informasi mengenai tingkat

pencapaian kesejahteraan sosial atas pelaksanaan kebijakan dan

aktivitasaktivitas organisasi, sebab rakyat yang nota bene pemegang

kekuasaan, selayaknya memiliki kemampuan untuk menolak kebijakan


25

pemerintah yang nyatanya sudah merugikan mereka

Dari penjelasan mengenai akuntabilitas serta beberapa jenis dari

akuntabilitas yang telah dipaparkan di atas, maka indikator dari akuntabilitas

yaitu:

1. Pada tahap proses pembuatan sebuah keputusan, meliputi: pembuatan sebuah

keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap warga yang

membutuhkan; pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan

nilai-nilai yang berlaku; adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang

diambil, dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi, serta standar yang

berlaku; adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi;

konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah ditetapkan

maupun prioritas dalam mencapai target tersebut.

2. Pada tahap sosialisasi kebijakan, meliputi: penyebarluasan informasi

mengenai suatu keputusan, melalui media massa, media nirmassa, maupun

media komunikasi personal; akurasi dan kelengkapan informasi yang

berhubungan dengan cara-cara mencapai sasaran suatu program; akses publik

pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat dan mekanisme

pengaduan masyarakat; dan ketersediaan sistem informasi manajemen dan

monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah.

Sedangkan menurut Raba (2020) indikator untuk mengukur akuntabilitas

penyelenggaraan pelayanan publik dalam penelitian dilihat melalui indikator-

indikator kinerja yang meliputi:

1. Adanya kepatuhan terhadap prosedur,


26

2. Adanya pelayanan yang murah biaya,

3. Adanya kepatuhan terhadap standar waktu, dan

4. Adanya pelayanan yang responsif.

2.4. Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah

Transparansi adalah salah satu prinsip dari good governance. Transparansi

dibangun atas dasar arus informasi yang bebas, seluruh proses pemerintahan,

lembaga-lembaga dan informasi perlu diakses oleh pihak-pihak yang

berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti

dan dipantau (Coryanata,2015).

Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005

menjelaskan bahwa transparan adalah memberikan informasi keuangan yang

terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa

masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas

pertanggungjawaban Pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang

dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada Perundang-undangan. Dalam PP.

Pasal 4 PP No. 58 Tahun 2013 menyebutkan bahwa pengelolaan keuangan daerah

dilakukan secara tertib,taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku,

efisien, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan

dan kepatuhan (Umar, et al, 2018).

Lalolo (2003) menyatakan bahwa transparansi adalah prinsip yang

menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi

tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses


27

pembuatan serta hasil yang dicapai (Sangki et al, 2017).

Transparansi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan

pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat. Melalui transparansi

penyelenggaraan pemerintahan, masyarakat diberikan kesempatan untuk

mengetahui apa yang terjadi dalam pemerintahan, termasuk diantaranya kebijakan

yang akan atau telah diambil oleh pemerintah serta implementasi kebijakan

tersebut (Akmalia, 2020)

Katz (2004) dalam Yahya (2006) menyatakan bahwa transparansi

merupakan proses demokrasi yang esensial di mana setiap warga negara dapat

melihat secara terbuka dan jelas atas aktivitas dari pemerintah mereka daripada

membiarkan aktivitas tersebut dirahasiakan. Selanjutnya pandangan dari Agoes

dan Ardana (2009) yang di kutip Handayani (2015) dimana defenisi transparansi

berati kewajiban bagi para pengelola untuk menjalankan prinsip keterbukaan

dalam proses keputusan dan penyampaian informasi. keterbukaan dalam

menyampaikan informasi juga mengandung arti bahwa informasi yang

disampaikan harus lengkap, benar, dan tepat waktu kepada semua pemangku

kepentingan. Tidak boleh ada hal-hal yang dirahasiakan, disembunyikan, ditutup-

tutupi, atau ditunda-tunda pengungkapannya.

Beberapa manfaat penting dengan adanya transparansi menurut Andrianto

(dalam Reza, 2018), yaitu :

1. Mencegah korupsi;

2. Lebih mudah mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan kebijakan;

3. Meningkatkan akuntabilitas pemerintahan sehingga masyarakat akan lebih


28

mampu mengukur kinerja pemerintah;

4. Meningkatkan kepercayaan terhadap komitmen pemerintah untuk

memutuskan kebijakan tertentu;

5. Menguatkan kohesi, karena kepercayaan publik terhadap pemerintah akan

terbentuk

Reza (2018) terdapat 4 prinsip-prinsip dari transparansi meliputi:

1. Terbuka Adanya akses masyarakat dan stakeholders yang luas untuk terlibat

dalam proses perencanaan, penyusunan, maupun pelaksanaan anggaran

keuangan desa.

2. Bisa diketahui oleh masyarakat luas. Masyarakat dengan mudah mendapatkan

informasi seluas-luasnya yang mudah dan murah bagi seluruh kalangan dari

pemerintah desa, tanpa membedakan status sosial dan ekonomi tentang

keadaan keuangan desa.

3. Keputusan yang diambil melibatkan masyarakat. Keputusan yang diambil

dalam penyusunan pengelolaan dana yang diputuskan melibatkan masyarakat.

4. Adanya ide-ide atau aspirasi dari masyarakat. Pemerintah harus

mengakomodir ide-ide atau aspirasi masyarakat yang kemudian dijadikan

sebuah keputusan.

Sedangkan indikator yang menjadi tolak ukur dari transparansi

(Mardiasmo, dalam pertiwi, 2016) yaitu :

1. Terdapat pengumuman kebijakan mengenai pendapatan, pengelolaan

keuangan dan asset,

2. Tersedia laporan mengenai pendapatan, pengelolaan keuangan, dan aset yang


29

mudah diakses,

3. Tersedia laporan pertanggungjawaban yang tepat waktu,

4. Tersedia sarana untuk suara dan usulan rakyat,

5. Terdapat sistem pemberian informasi pada publik.

2.5. Kinerja Pemerintah Daerah

Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai, karena merupakan

cerminan dari kemampuan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber

dayanya. Selain itu tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk memotivasi

dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang

telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang

diharapkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana

formal yang dituangkan dalam anggaran (Revitasari dan Lisda, 2018).

Moeheriono (2012) mengatakan bahwa kinerja adalah gambaran mengenai

tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam

mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi yang dituangkan melalui perencanaan

strategis. Selanjutnya, dalam peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun

2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dinyatakan bahwa kinerja

adalah keluaran/hasil dari kegiatan atau program yang akan atau telah dicapai

sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang

terukur.

Sedangkan Armstrong dan Baron dalam Revitasari dan lisda (2018)

kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan
30

organisasi atau perusahaan, kepuasan dan memberikan kontribusi ekonomi.

Rivai (2013) menyatakan bahwa defenisi dari kinerja yaitu merupakan

suatu istilah secara umum yang digunakan sebagian atau seluruh tindakan atau

aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode dengan suatu referensi pada

sejumlah standar seperti biaya masa lalu yang diproyeksikan dengan dasar

efisiensi, pertanggungjawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya.

Serta Fahmi (2013) mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil yang diperoleh

oleh suatu organisasi baik organisasi tersebut bersifat profit oriented dan non

profit oriented yang dihasilkan selama satu periode waktu.

Kinerja pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian

sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi

pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan

pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur

pemerintah (Gusmal, 2007 dalam Mongeri, 2013).

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja pemerintah daerah atau

kemampuan daerah merupakan salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk

melihat kemampuan daerah dalam menjalankan otonomi daerah

Tercapainya tujuan lembaga merupakan salah satu wujud dari keberhasilan

sebuah lembaga dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Tetapi keberhasilan

tersebut tidak dapat dilihat begitu saja, diperlukan penilaian terhadap kinerja

lembaga dalam hal ini adalah pemerintah daerah. Penilaian kinerja atau penilaian

prestasi kerja tidak dapat dipisahkan dengan dari setiap proses aktivitas sumber

daya manusia.
31

Bastian dalam Agung (2013) mengemukakan bahwa pengukuran dan

pemanfaatan penilaian kinerja akan mendorong pencapaian tujuan

organisasi/lembaga dan akan memberikan umpan balik untuk upaya perbaikan

secara terus menerus. Menurut Indra (2006) indikator pengukuran kinerja adalah

ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu

sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan, 5 komponen yang ada di dalam indikator

pengukuran kinerja yaitu:

1. Masukan (inputs) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar palaksanaan

kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran.

2. Keluaran (outputs) adalah sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari

suatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan/atau nonfisik.

3. Hasil (outcomes) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya

keluaran kegiatan pada jangka menengah (Direct effect).

4. Manfaat (benefit) adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari

pelaksanaan kegiatan.

5. Dampak (impacts) adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun

negatif terhadap setiap tingkatan indikator berdasarkan asumsi yang telah

ditetapkan.

Namun dalam pandangan Mohamad (2006) dalam Hidayat (2015),

Indikator kinerja Pemerintah Daerah terdapat 4 indikator, meliputi:

1. Indikator masukan (Input), adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar

pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran. Misalnya:

jumlah dana yang dibutuhkan, jumlah pegawai yang dibutuhkan, jumlah


32

infrastruktur yang ada, dan jumlah waktu yang digunakan.

2. Indikator proses (Process). Dalam indikator ini, merumuskan ukuran

kegiatan, baik dari segi kecepatan, ketepatan, maupun tingkat akurasi

pelaksanaan kegiatan tersebut. Misalnya: ketaatan pada peraturan

perundangan dan rata-rata yang diperlukan untuk memproduksi atau

menghasilkan layanan jasa.

3. Indikator keluaran (Output), adalah sIndikator keluaran adalah sesuatu yang

diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik

atau nonfisik. Misalnya: jumlah produk atau jasa yang dihasilkan dan

ketepatan dalam memproduksi barang atau jasa..

4. Indikator hasil (Outcomes), adalah segala sesuatu yang mencerminkan

berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah. Misalnya: tingkat

kualitas produk dan jasa yang dihasilkan dan produktivitas para pegawai.

Menurut Mardiasmo (2009) dalam Sinaga (2016) peran indikator kinerja

bagi pemerintah antara lain:

1. Untuk membantu memperjelas tujuan organisasi;

2. Untuk mengevaluasi target akhir (final outcome) yang dihasilkan;

3. Sebagai masukan untuk menentukan skema insentif manajerial;

4. Memungkinkan bagi pemakai jasa layanan pemerintah untuk melakukan

pilihan;

5. Untuk menunjukkan standar kinerja;

6. Untuk menunjukkan efektivitas;

7. Untuk membantu menentukan aktivitas yang memiliki efektivitas biaya yang


33

paling baik untuk mencapai target sasaran, dan

8. Untuk menunjukkan wilayah, bagian, atau proses yang masih potensial untuk

dilakukan penghematan biaya;

Berdasarkan pada indikator dari kinerja, maka makna dari pengukuran

kinerja merupakan suatu proses sistematis untuk menilai apakah program/

kegiatan yang telah direncanakan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana

tersebut, dan yang lebih penting adalah apakah telah mencapai keberhasilan yang

telah ditargetkan pada saat perencanaan (Nordiawan dan Hertianti dalam Sinaga,

2016).
34

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1. Kerangka Konseptual

3.1.1. Hubungan Pengawasan Keuangan Daerah terhadap Kinerja

Pemerintah Daerah

Menurut Halim dan Iqbal (2012), secara umum pengawasan dapat artikan

sebagai suatu proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus atau

berkesinambungan untuk mengamati, memahami, dan menilai setiap pelaksanaan

kegiatan tertentu sehingga dapat mencegah atau memperbaiki kesalahan atau

penyimpangan yang terjadi. Pengawasan keuangan daerah merupakan bagian

integral dari pengelolaan keuangan daerah. Berdasarkan defenisi, pengawasan

keuangan daerah pada dasarnya mencakup segala tindakan untuk menjamin agar

pengelolaan keuangan daerah berjalan sesuai dengan rencana, ketentuan, dan

undang-undang yang berlaku.

Pengawasan keuangan daerah berkaitan erat dengan kinerja pemerintah

daerah. Hal ini disebabkan karena pencapaian keberhasilan suatu visi dan misi

membutuhkan pengawasan yang baik dan maksimal, baik dalam segi

perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan

sebelumnya. Semakin baik tingkat pengawasan pengelolaan keuangan daerah

maka akan menghasilkan kinerja pemerintah yang baik pula (Purnama dan

Nadirsyah, 2016).

Kinerja pemerintah merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian


35

sasaran ataupun tujuan instansi pemerintah sebagai penjabaran dari visi, misi, dan

strategi instansi pemerintah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan dan

kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan

yang ditetapkan (MenPAN:2007).

3.1.2. Hubungan Akuntabilitas terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Pemerintah akan lebih menekankan aspek akuntabilitas pemerintahan

dalam reformasi birokrasi pemerintahan. Untuk mewujudkan pertanggungjawaban

pemerintah terhadap masyarakat salah satu cara dilakukan dengan menggunakan

prinsip transparansi (keterbukaan).

Kinerja pemerintah berkaitan erat dengan akuntabilitas. Memantapkan

mekanisme transparansi diperlukan manajemen kinerja yang baik. Penerapan

berbagai aturan perundang-undangan yang ada terkait dengan penerapan konsep

akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan diharapkan dapat mewujudkan

pengelolaan pemerintah daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat.

Implementasi akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah diharapkan mampu

meningkatkan kinerja pemerintah daerah (Wiguna, et al, 2015).

3.1.3. Hubungan Transparansi terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Transparansi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan

pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat. Melalui transparansi

penyelenggaraan pemerintahan, masyarakat diberikan kesempatan untuk

mengetahui apa yang terjadi dalam pemerintahan, termasuk diantaranya kebijakan

yang akan atau telah diambil oleh pemerintah serta implementasi kebijakan

tersebut (Akmalia, 2020).


36

Kinerja pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian

sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi

pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan

pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur

pemerintah (Gusmal, 2007 dalam Mongeri, 2013).

Berdasarkan dari hubungan setiap variabel di atas, maka kerangka

konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

3.2. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pemaparan pada bab sebelumnya dan di dukung oleh


37

penelitian terdahulu kerangka konseptual yang dibangun dalam penelitian ini,

maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pengawasan keuangan daerah berpengaruh secara parsial terhadap kinerja

pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

2. Akuntabilitas berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah

Kota Pare-Pare.

3. Transparansi pengelolaan keuangan daerah berpengaruh secara parsial

terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

4. Pengawasan keuangan daerah, Akuntabilitas dan Transparansi pengelolaan

keuangan daerah berpengaruh secara simultan terhadap kinerja pemerintah

daerah Kota Pare-Pare.

5. Akuntabilitas memiliki pengaruh yang paling besar terhadap kinerja

pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

3.3. Definisi Operasional Variabel

3.3.1. Pengawasan Keuangan Daerah (X1)

Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan

metode kerja pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi,

untuk membandingkan hasil kerja aktual dengan standar yang telah ditentukan,

untuk menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk

mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua

sumber daya perusahaan atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan

seefisien mungkin guna mencapai tujuan pemerintahan. Pengawasan keuangan


38

daerah dalam penelitian ini diukur dengan indikator (Azlan, et al (2019):

a. Bersih dan Bebas KKN.

b. Evaluasi kegiatan,

c. Pencacatan transaksi berdasarkan bukti,

d. Pencacatan transaksi yang tepat waktu.

3.3.2. Akuntabilitas (X2)

Akuntabilitas adalah bentuk kewajiban pertanggungjawaban seseorang

atau suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk

meminta keterangan terkait kinerja atau tindakan dalam menjalankan misi dan

tujuan organisasi dalam bentuk pelaporan yang telah ditetapkan secara periodik.

Adapun Indikator dari akuntabilitas menurut Raba (2020) penelitian ini yaitu:

1. Kepatuhan terhadap prosedur,

2. pelayanan yang murah biaya,

3. kepatuhan terhadap standar waktu,

4. pelayanan yang responsive.

3.3.3. Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah (X3)

Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan wujud

keterbukaan informasi keruangan kepada publik. Artinya pemerintah

penyelenggara publik harus menyediakan informasi ke publik (masyarakat).

Menurut pandangan Mardiasmo dalam Pertiwi, 2016 terdapat 5 Indikator untuk

mengukur transparansi pengelolaan keuangan daerah, yaitu:

a. Terdapat pengumuman kebijakan,


39

b. Tersedia laporan,

c. Tersedia laporan pertanggungjawaban yang tepat waktu,

d. Tersedia sarana untuk suara dan usulan rakyat,

e. Terdapat sistem pemberian informasi pada publik.

3.3.4. Kinerja Pemerintah Daerah (Y)

Kinerja pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian

sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi

pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan

pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur

pemerintah. Indikator dari kinerja pemerintah daerah (Mohamad, 2006 dalam

Hidayat, 2015) yaitu:

a. Masukan (inputs),

b. Proses (Process),

c. Keluaran (Outputs),

d. Hasil (Outcomes).
40

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kuantitatif dengan

pendekatan penelitian deskriftif dan asosiatif, karena adanya variabel-variabel

yang akan ditelaah hubungannya serta tujuannya untuk menyajikan gambaran

secara terstruktur, faktual, mengenai fakta-fakta hubungannya antara variabel

yang diteliti. Penelitian dengan pendekatan asosiatif ini digunakan untuk menguji

pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, transparansi pengelolaan keuangan

daerah dan kinerja pemerintah daerah.

4.2. Populasi, Sampel dan Tehnik sampling

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugoyono, 2014), maka populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai kota pare-pare sebanyak 189 orang

pegawai. Dalam penelitian ini, teknik sampling yang digunakan oleh penulis

adalah teknik non probability sampling dan purposive sampling yaitu teknik

penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun jumlah sampel

ditentukan dengan rumus slovin sebagai berikut:

N
n=
1+N (e)2
189
n=
1+189 (0,05)2
41

n=128,35

n=128 orang

Dalam hal ini jumlah sampel yang digunakan oleh penulis sebanyak 128

pegawai yang tersebar Kota Pare-Pare.

4.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara

langsung kepada responden untuk memberikan keterangan secara serta data

yang diperlukan yang berupa tulisan.

2. Angket (kuisioner)

Teknik pengolahan data hasil kuisioner menggunakan skala likert dimana alternative

jawaban nilai positif 5 sampai dengan 1. Pemberian skor Pemberian skor dilakukan

atas jawaban responden kemudian diberi skor dengan menggunakan skala likert,

dimana skala ini berisi lima tingkat preferensi jawaban dengan pilihan jawaban

sebagai berikut:

1 = Sangat Tidak Setuju

2 = Tidak Setuju

3 = Kurang Setuju

4 = Setuju

5 = Sangat Setuju

4.4. Uji Instrumen Penelitian

Uji Validitas merupakan alat ukur untuk melihat apakah hasil pengukuran
42

dapat konsisten, yaitu apabila alat ukur yang ada dapat diterapkan pada obyek

yang sama secara berulang-ulang dari menghasilkan ukuran yang mendekati

ukuran yang sebelumnya. Apabila hubungan dari hasil perhitungan dari koaefisien

korelasi mempunyai nilai lebih besar dari nilai kritisnya (0,3) pada taraf 0,05

(5%) maka dikatakan pertanyaan-pertanyaan dikatakan valid.

Adapun uji reliabilitas, dimana uji ini diperlukan untuk mengetahui

kestabilan alat ukur. Sebuah alat ukur dikatakan reliabel, andaikan pengulangan

pengukuran untuk subyek penelitian yang sama menunjukkan hasil yang

konsisten. Pada penelitian ini penulis menggunakan reliabilitas dengan rumus

Alpha Cronbach (α). Suatu instrument dikatakan reliabel apabila mempunyai nilai

alpha lebih besar daripada 0,6

4.5. Uji Asumsi Klasik

Asumsi klasik merupakan persyaratan yang harus dipenuhi pada analisis

regresi berganda. Uji asumsi klasik yang biasa digunakan adalah uji normalitas,

uji multikolinieritas, uji heteroskedesitas dan uji auto korelasi. Adapun

penjelasannya adalah sebagai berikut :

4.5.1. Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2013) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah

dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi

normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual

mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi

tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah

residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan cara analisis grafik dan uji
43

statistik.

a) Analisis Grafik

Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah

dengan melihat grafik histrogram yang membandingkan antara data observasi

dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Namun demikian hanya

dengan melihat histrogram hal ini dapat menyesatkan khususnya untuk jumlah

sampel yang kecil. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal

probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi

normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal dan

ploating data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi

data residual normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya

akan mengikuti garis diagonalnya.

b) Analisis Statistik

Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hati-hati

secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik bisa sebaliknya. Oleh

sebab itu dianjurkan disamping uji grafik dilengkapi dengan uji statistik.

Pendeteksian normalitas secara statistik adalah dengan menggunakan

uji Kolmogorov-Smirnov. Uji Kolmogorov-Smirnov merupakan uji normalitas

yang umum digunakan karena di nilai lebih sederhana dan tidak menimbulkan

perbedaan persepsi. Uji Kolmogorov-Smirnov dilakukan dengan tingkat

signifikan 0,05. Untuk lebih sederhana, pengujian ini dapat dilakukan dengan

melihat profitabilitas dari Kolmogorov-Smirnov Z statistik. Jika profitabilitas Z

statistik lebih kecil dari 0,05 maka nilai residiual dalam suatu regresi tidak
44

terdistribusi secara normal (Ghozali, 2007 dalam Duitaningsih, 2012).

4.5.2. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang

baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel indepen. Jika variabel

independen saling berkolerasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal.

Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama

variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2013:105). Untuk menguji ada

atau tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi salah satunya dapat dilihat

dari (1) nilai tolerance dan lawannya (2) variance inflation factor (VIF). Kedua

ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh

variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel

independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregresi terhadap variabel

independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang

terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi

nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi. (Karena

VIF=1/Tolerance). Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya

multikolonieritas adalah nilai tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan niali VIF ≥ 10.

4.5.3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah model regresi terjadi

ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yng lain.

Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka

disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model


45

regresi yang baik adalah yang Homoskesdastisitas atau tidak terjadi

Heteroskesdastisitas. Kebanyakan data crossection mengandung situasi

heteroskesdastisitas karena data ini menghimpun data yang mewakili berbagai

ukuruan (kecil, sedang dan besar) (Ghozali, 2013:139). Salah satu cara untuk

mendeteksi ada atau tidaknya heteroskesdastisitas yaitu dengan melihat grafik plot

antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residual

SRESID. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan

melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan

ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumber X adalah

residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di-studentized. Jika tidak ada

pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada

sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

4.6. Teknik Analisa Data

4.6.1. Analisis Regresi Berganda

Salah Satu upaya dalam menjawab permasalahan dalam penelitian ini

maka digunakan analisis regresi linear berganda (Multiple Regression). Analisis

regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen

(terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel penjelas atau

bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi atau memprediksi rata-rata populasi

atau nilai- nilai variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang

diketahui (Ghozali, 2016)

Teknik analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda

dengan bantuan program Statistical Package for Social Science (SPSS) Versi 16.
46

Untuk regresi yang variabel independennya terdiri atas dua atau lebih, regresinya

disebut juga regresi berganda. Oleh karena variabel independen diatas mempunyai

variabel yang lebih dari dua, maka regresi dalam penelitian ini disebut regresi

berganda. Persamaan Regresi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui

seberapa besar pengaruh variabel independen (bebas) yaitu Pengawasan keuangan

daerah (X1), Akuntabilitas (X2) dan Transparansi pengelolaan keuangan daerah

(X3) terhadap variabel dependen yaitu Kinerja pemerintah daerah (Y).

Adapun persamaan regresi linear berganda dalam bentuk umum yang akan

dugunakan yaitu:

Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + ei


Keterangan:

Y = Kinerja pemerintah daerah

b0 = Konstanta

X1 = Pengawasan keuangan daerah

X2 = Akuntabilitas

X3 = Transparansi pengelolaan keuangan daerah

b1,b2,b3 = Koefiesien korelasi

e1 (error) = Kesalahan Prediksi

4.6.2. Pengujian Hipotesis

Uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang

jelas dan dapat dipercaya antara variabel independen terhadap variabel

dependen. Pengujian hipotesis menggunakan uji regresi berganda. Dalam

analisis regresi, dikembangkan sebuah persamaan regresi yaitu suatu formula


47

yang mencari nilai variabel dependen dari nilai variabel independen

yang diketahui. Analisis regresi digunakan untuk tujuan peramalan, di mana

dalam model tersebut ada sebuah variabel dependen dan independen.

Dalam penelitian ini terdapat satu variabel dependen yaitu kinerja

pemerintah daerah, tiga variabel independen yaitu pengawasan keuangan daerah,

akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah, Pengujian hipotesis

ini dilakukan dengan menguji:

[Link]. Uji t (uji parsial)

Digunakan untuk melihat tingkat signifikasi variabel independen

mempengaruhi variabel dependen secara individu atau sendiri-sendiri.

a. Jika Probabilitas t tes > 0,05 maka Ho diterima dan Ha diterima

b. Jika Probabilitas t tes ≤ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha diterima.

[Link]. Uji f (uji secara Bersama-sama/Simultan)

Uji ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh semua variabel

independen mempengaruhi variabel dependen (Bawono,2008).

a) Jika Probabilitas F tes > 0,05 maka Hoditerima

b) Jika Probabilitas F tes ≤ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha diterima.

[Link]. Uji R2 (Koefisien determinasi)

Digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh prosentase (%)

keseluruhan variabel independen yang digunakan terhadap variabel dependen

(Gujarati dalam Bawono, 2008). Nilai R2 terletak antara 0 sampai dengan 1.

a) Nilai 0 menunjukkan tidak adanya hubungan antara variabel independen


48

dengan variabeldependen.

b) Nilai 1 menunjukkan adanya hubungan sempurna antara variabel

independen dengan variabel dependen.

Untuk mengetahui apakah variabel independen berpengaruh atau tidak

terhadap variabel dependen maka dapat dilihat dari taraf signifikansinya dengan

standar signifikansi 5%. Apabila tingkat signifikansi yang diperoleh dari hasil

lebih dari 5% maka hipotesis ditolak, sebaliknya jika hasil uji hipotesis berada

diantara 0-5% maka hipotesis diterima. Untuk melihat regresi yang dihasilkan

berpengaruh positif atau negatif melalui koefisien beta (β). Apabila koefisien

beta memiliki tanda minus (-) berarti pengaruh yang dihasilkan adalah negatif,

sebaliknya apabila koefisien beta tidak memiliki tanda minus (-),maka arah

pengaruh adalah positif (+).


49

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Profil Obyek Penelitian

Diawal perkembangannya dataran tinggi yang sekarang ini, yang disebut

Kota Parepare, dahulunya adalah merupakan semak-semak belukar yang diselang-

selingi oleh lubang-lubang tanah yang agak miring tempat tumbuhnya semak-

semak tersebut secara liar dan tidak teratur, mulai dari utara (Cappa Ujung)

hingga ke jurusan selatan kota. Kemudian dengan melalui proses perkembangan

sejarah sedemikian rupa dataran itu dinamakan Kota Parepare.

Lontara Kerajaan Suppa menyebutkan, sekitar abad XIV seorang anak

Raja Suppa meninggalkan Istana dan pergi ke selatan mendirikan wilayah

tersendiri pada tepian pantai karena hobbynya memancing. Wilayah itu kemudian

dikenal sebagai kerajaan Soreang, kemudian satu lagi kerajaan berdiri sekitar abad

XV yakni Kerajaan Bacukiki.

Dalam satu kunjungan persahabatan Raja Gowa XI, Manrigau Dg. Bonto

Karaeng Tonapaalangga (1547-1566) berjalan-jalan dari kerajaan Bacukiki ke

Kerajaan Soreang. Sebagai seorang raja yang dikenal sebagai ahli strategi dan

pelopor pembangunan, Kerajaan Gowa tertarik dengan pemandangan yang indah

pada hamparan ini dan spontan menyebut “Bajiki Ni Pare” artinya “Baik dibuat

pelabuhan Kawasan ini”. Sejak itulah melekat nama “Parepare” Kota Pelabuhan.

Parepare akhirnya ramai dikunjungi termasuk orang-orang melayu yang datang


50

berdagang ke kawasan Suppa.

Melihat posisi yang strategis sebagai pelabuhan yang terlindungi oleh

tanjung di depannya, serta memang sudah ramai dikunjungi orang-orang, maka

Belanda pertama kali merebut tempat ini kemudian menjadikannya kota penting

di wilayah bagian tengah Sulawesi Selatan. Di sinilah Belanda bermarkas untuk

melebarkan sayapnya dan merambah seluruh dataran timur dan utara Sulawesi

Selatan. Hal ini yang berpusat di Parepare untuk wilayah Ajatappareng.

Pada zaman Hindia Belanda, di Kota Parepare, berkedudukan seorang

Asisten Residen dan seorang Controlur atau Gezag Hebber sebagai Pimpinan

Pemerintah (Hindia Belanda), dengan status wilayah pemerintah yang dinamakan

“Afdeling Parepare” yang meliputi, Onder Afdeling Barru, Onder Afdeling

Sidenreng Rappang, Onder Afdeling Enrekang, Onder Afdeling Pinrang dan

Onder Afdeling Parepare.

Pada setiap wilayah/Onder Afdeling berkedudukan Controlur atau Gezag

Hebber. Disamping adanya aparat pemerintah Hindia Belanda tersebut, struktur

Pemerintahan Hindia Belanda ini dibantu pula oleh aparat pemerintah raja-raja

bugis, yaitu Arung Barru di Barru, Addatuang Sidenreng di Sidenreng Rappang,

Arung Enrekang di Enrekang, Addatung Sawitto di Pinrang, sedangkan di

Parepare berkedudukan Arung Mallusetasi.

Struktur pemerintahan ini, berjalan hingga pecahnya Perang Dunia II yaitu

pada saat terhapusnya Pemerintahan Hindia Belanda sekitar tahun 1942. Pada

zaman kemerdekaan Indonesia tahun 1945, struktur pemerintahan disesuaikan

dengan undang-undang no. 1 tahun 1945 (Komite Nasional Indonesia). Dan


51

selanjutnya Undang-undang Nomor 2 Tahun 1948, dimana struktur

pemerintahannya juga mengalami perubahan, yaitu di Daerah hanya ada Kepala

Daerah atau Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) dan tidak ada lagi semacam

Asisten Residen atau Ken Karikan.

Pada waktu status Parepare tetap menjadi Afdeling yang wilayahnya tetap

meliputi 5 Daerah seperti yang disebutkan sebelumnya. Dan dengan keluarnya

Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan dan pembagian

Daerah-daerah tingkat II dalam wilayah Propinsi Sulawesi Selatan, maka ke

empat Onder Afdeling tersebut menjadi Kabupaten Tingkat II, yaitu masing-

masing Kabupaten Tingkat II Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang dan Pinrang,

sedang Parepare sendiri berstatus Kota Praja Tingkat II Parepare. Kemudian pada

tahun 1963 istilah Kota Praja diganti menjadi Kotamadya dan setelah keluarnya

UU No. 2 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka status Kotamadya

berganti menjadi “KOTA” sampai sekarang ini.

Didasarkan pada tanggalpelantikan dan pengambilan sumpah

Walikotamadya Pertama H. Andi Mannaungi pada tanggal 17 Februari 1960,

maka dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah No. 3 Tahun

1970 ditetapkan hari kelahiran Kotamadya Parepare tanggal 17 Februari 1960.

5.1.2. Karakteristik Responden

Karakteristik responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah

diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin, usia, pekerjaan dan pendidikan

responden. Berikut ini akan dibahas mengenai kondisi dari masing-masing

klasifikasi responden tersebut.


52

[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Untuk mengetahui gambaran dari karakteristik responden berdasarkan

tingkat usia dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.1 Responden berdasarkan Usia

Rentang Usia Jumlah responden Persentase

21-30 tahun 39 30,5 %

31–40 tahun 75 58,6 %

41-50 tahun 14 10,9 %

Jumlah 128 100,0 %

Sumber: Data primer diolah, 2021

Pada tabel 5.1 dapat dideskripsikan bahwa jumlah responden yang berusia

antara 21-30 tahun sebanyak 39 responden dengan presentase sebesara 30,5 %,

untuk responden yang memiliki rentang usia 31-40 tahun sebanyak 75 responden

atau sebesar 58,6%. Serta terdapat responden yang telah berusia antara 41-50

tahun. Denga jumlah reponden sebesar 14 orang (10,9%) Hal ini mengindikasikan

bahwa pegawai yang bekerja di Pemerintahan Daerah Kota Pare-Pare didominasi

oleh pegawai yang berusia antara 31-40 tahun.

[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Gambaran dari karakteristik responden berdasarkan pada jenis kelamin


dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.2. Responden berdasarkan Jenis Kelamin
Gender Jumlah Persentase
Pria 102 79,7 %
Wanita 26 20,3 %
Jumlah 128 100,0 %
Sumber: Data primer diolah, 2021
53

Pada tabel 5.2 dapat dideskripsikan bahwa jumlah responden yang berjenis

kelamin pria sebanyak 102 responden dengan presentase sebesara 79,7 % dadna

untuk responden yang berjenis kelamin wanita responden sebanyak 20,3% atau

sebesar 26 responden. Hal ini mengindikasikan bahwa pegawai yang bekerja di

Pemerintahan Daerah Kota Pare-Pare didominasi oleh pegawai yang berjenis

kelamin Pria..

[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Untuk mengetahui gambaran dari karakteristik responden berdasarkan

tingkat pendidikam terakhirnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.3. Responden berdasarkan Pendidikan Terakhir

Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase


S1 115 89,8 %
S2 13 10,2 %
Jumlah 128 100,0 %
Sumber: Data primer diolah, 2021

Pada tabel 5.3 dapat dideskripsikan bahwa jumlah responden yang

memiliki pendidikan terakhir S1 sebanyak 115 responden dengan persentase

89,8%, dan responden yang tingkat pendidikan terkahirnya S2 sebanyak 13 orang

(10,2). Hal ini mengindikasikan bahwa pegawai yang bekerja di Pemerintahan

Daerah Kota Pare-Pare didominasi oleh pegawai yang memiliki tingkat

pendididkan S1.

[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja

Untuk mengetahui gambaran dari karakteristik responden berdasarkan

masa pengabdian atau lama bekerja dapat dilihat pada tabel berikut ini:
54

Tabel 5.4. Responden berdasarkan Lama Bekerja

Lama bekerja Jumlah Persentase

1-10 tahun 96 75,0 %

11-20 tahun 13 10,2 %

21-30 tahun 11 8,6 %

31-40 tahun 8 6,3%

Jumlah 128 100,0 %

Sumber: Data primer diolah, 2021

Pada tabel 5.4 dapat dideskripsikan bahwa jumlah responden yang telah

bekerja anatara 1 – 10 tahun sebanyak 96 orang (75,0%), responden yang lama

bekerjanya antara 11-30 tahun sebanyak 13 orang atau 10,2%, dan terdapat 11

responden (8,6%) yang lama bekerjase antara 21-30 tahun serta terdapat 8

responden dengan persentase sebesar 6,2% yang telah bekerja dengan rentang

waktu antara 31-40 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa pegawai yang bekerja

di Pemerintahan Daerah Kota Pare-Pare didominasi oleh pegawai yang masa

Kerjanya kurang dari 11 tahun.

5.1.3. Deskripsi Variabel Penelitian

[Link]. Pengawasan Keuangan Daerah (X1)

Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja

standar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk

membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk

menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk

mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua


55

sumber daya perusahaan atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan

seefisien mungkin guna mencapai tujuan pemerintahan. Adapun indikator yang

digunakan dalam penelitian mengacu pada pandangan dari Azlan et al., yaitu

sebagai berikut:

1) Bersih dan Bebas KKN (X1.1),

2) Evaluasi Kegiatan (X1.2),

3) Pencatatan Transaksi Berdasarkan Bukti (X1.3), dan

4) Pencatatan Transaksi Yang tepat waktu (X1.4).

Adapun interpretasi jawaban dari masing-masing responden dapat dilihat

pada tabel berikut ini:

Tabel 5.5. Tanggapan Responden mengenai Pengawasan Keuangan Daerah


(X1)
Pilihan Jawaban Rata-
Indikator STS TS RR S SS rata
(X1.1) 7 3 19 40 59 4,10
(5,5%) (2,3%) (14,8%) (31,2%) (46,1%)
(X1.2) 1 - 16 69 42 4,18
(0,8%) (12,5%) (53,9%) (32,8%)
(X1.3) 7 2 10 47 62 4,21
(5,5%) (1,6%) (7,8%) (36,7%) (48,4%)
(X1.4) 1 2 14 62 51 4,23
(0,8%) (1,6%) (10,9) (48,9%) (39,8%)
Total mean 4,18
Sumber: Data primer diolah, 2021

Berdasarkan tabel 5.5 diatas terlihat bahawa indikator X1.4 memiliki nilai

mean sebesar 4,23 sehingga dapat diartikan bahwa pencatatan transaksi yang tepat

waktu dinilai tinggi oleh responden. Dengan jawaban responden meliputi yang

menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 7 orang (5,5%), yang menjawab tidak

setuju sebanyak 3 orang (2,3%) yang menjawab ragu-ragu sebanyak 19 orang


56

(14,8%), yang menjawab setuju 40 orang (31,2%) serta yang menjawab sangat

setuju sebanyak 59 orang (46,1%).

Indikator X1.1 memiliki nilai mean sebesar 4,10 sehingga dapat diartikan

bahwa indikator Bersih dan Bebas KKN dinilai rendah oleh responden. Dengan

jawaban responden meliputi yang menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 1

orang (0,8%), yang menjawab ragu-ragu sebanyak 16 orang (12,5%), yang

menjawab setuju 69 orang (59,3%) serta yang menjawab sangat setuju sebanyak

42 orang (32,8%).

[Link]. Akuntabilitas (X2)

Akuntabilitas adalah bentuk kewajiban pertanggungjawaban seseorang

atau suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk

meminta keterangan terkait kinerja atau tindakan dalam menjalankan misi dan

tujuan organisasi dalam bentuk pelaporan yang telah ditetapkan secara periodik

Indikator yang digunakan untuk mengukur akuntabilitas menurut Raba (2020)

adalah:

1) Kepatuhan terhadap prosedur (X2.1),

2) Pelayanan yang murah biaya (X2.2),

3) Kepatuhan pada standar waktu (X2.3), dan

4) Pelayanan yang responsif (X2.4).

Adapun interpretasi jawaban dari masing-masing responden dapat dilihat

pada tabel berikut ini:


57

Tabel 5.6. Tanggapan Responden mengenai akuntabilitas (X2)


Pilihan Jawaban Rata-
Indikator STS TS RR S SS rata
4 16 68 40
(X2.1) - 4,09
(3,1%) (12,5%) (53,1%) (31,2%)
3 18 63 44
(X2.2) - 4,16
(2,35) (14,1%) (49,2%) (34,4%)
1 7 18 64 38
(X2.3) 4,02
(0,8%) (5,5%) (14,1%) (50,4%) (29,7%)
1 1 10 74 42
(X2.4) 4,21
(0,8%) (0,8%) (7,8%) (57,8%) (32,6%)
Total mean 4,12
Sumber: Data primer diolah, 2021

Berdasarkan tabel 5.6 diatas terlihat bahawa indikator X2.4 memiliki nilai

mean sebesar 4,21 sehingga dapat diartikan bahwa Pelayanan yang responsif

dinilai tinggi oleh responden. Dengan jawaban responden meliputi: yang

menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 1 orang (0,8%), yang menjawab tidak

setuju sebanyak 1 orang (0,8%), yang menjawab ragu-ragu sebanyak 10 orang

(7,8%), yang menjawab setuju 74 orang (57,8%) serta yang menjawab sangat

setuju sebanyak 42 orang (32,6%).

Indikator X2.3 memiliki nilai mean terendah yaitu sebesar 4,02 sehingga

dapat diartikan bahwa Kepatuhan pada standar waktu dinilai rendah oleh

responden. Dengan jawaban responden meliputi yang menyatakan sangat tidak

setuju sebanyak 1 orang (0,8%), yang menjawab tidak setuju 7 orang (5,5%), yang

menjawab ragu-ragu sebanyak 18 orang (14,1%), yang menjawab setuju 64 orang

(50,0%) serta yang menjawab sangat setuju sebanyak 38 orang (29,7%).

[Link]. Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah (X3)

Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan wujud


58

keterbukaan informasi keruangan kepada publik. Artinya pemerintah

penyelenggara publik harus menyediakan informasi ke publik (masyarakat)..

Indikator yang digunakan untuk mengkur transparansi pengelolaan keuangan

daerah menurut pendapat dari Mardiasmo dalam Pertiwi (2016), meliputi:

1) Terdapat pengumuman kebijakan (X3.1),

2) Tersedianya Laporan (X3.2),

3) Tersedianya laporan pertanggung jawaban yang tepaat waktu

(X3.3),

4) Tersedianya sarana untuk suara dan usulan (X3.4), dan

5) Terdapat sistem pemberian informasi pada publik (X3.5),

Adapun interpretasi jawaban dari masing-masing responden dapat dilihat

pada tabel berikut ini:

Tabel 5.7. Tanggapan Responden mengenai Transparansi Pengelolaan

Keuangan Daerah (X3)

Pilihan Jawaban Rata-


Indikator STS TS RR S SS rata
2 3 19 73 31
(X3.1) 4,00
(1,6%) (2,3%) (14,8%) (57,0%) (24,2%)
5 3 11 64 46
(X3.2) 4,12
(3,9%) (1,6%) (8,6%) (50,0%) (35,9%)
3 1 20 65 39
(X3.3) 4,06
(2,3) (0,8%) (15,8%) (50,8%) (30,5%)
2 2 19 71 34
(X3.4) 4,04
(1,6%) (1,6%) (14,8%) (55,5%) (26,6%)
1 8 10 76 33
(X3.5) 4,03
(0,8%) (6,2%) (7,8%) (59,4%) (25,8%)
Total mean 4,12
Sumber: Data primer diolah, 2021

Berdasarkan tabel 5.7 diatas terlihat bahawa indikator X3.2 memiliki nilai

mean sebesar 4,12 sehingga dapat diartikan bahwa Tersedianya Laporan (X3.2),
59

dinilai tinggi oleh responden. Dengan jawaban responden meliputi yang

menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 5 orang (3,9%), yang menjawab tidak

setuju sebanyak 2 orang (1,6%) yang menjawab ragu-ragu sebanyak 11 orang

(8,6%), yang menjawab setuju 64 orang (50,0%) serta yang menjawab sangat

setuju sebanyak 46 orang (35,9%).

Indikator X3.1 memiliki nilai mean sebesar 4,00 sehingga dapat diartikan

bahwa indikator mengenai Terdapat pengumuman kebijakan diniliai rendah oleh

responden. dengan jawaban responden meliputi yang menyatakan sangat tidak

setuju sebanyak 2 orang (1,6%), yang menjawab tidak setuju 3 orang (2,3%), yang

menjawab ragu-ragu sebanyak 19 orang (14,8%), yang menjawab setuju 73 orang

(57,0%) serta yang menjawab sangat setuju sebanyak 31 orang (24,2%).

[Link]. Kinerja Pemerintah Daerah (Y)

Kinerja pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian

sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi

pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan

pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur

pemerintah. Kinerja pemerintah daerah dalam penelitian ini diukur dengan

menggunakan indikator menurut pandangan dari Mohammad (2006) dalam

Hidayat (2015):

1) Masukan (Inputs) (Y.1),

2) Proses (Process) (Y.2),

3) Keluaran (Outputs) (Y.3), dan


60

4) Hasil (Outcome) (Y.4)

Adapun interpretasi jawaban dari masing-masing responden dapat dilihat

pada tabel berikut ini:

Tabel 5.8. Tanggapan Responden mengenai Kinerja Pemerintah Daerah (Y)


Pilihan Jawaban Rata-
Indikator STS TS RR S SS rata
4 3 11 57 53
(Y.1) 4,19
(3,1%) (2,3%) (8,6%) (44,5%) (41,4%)
15 72 41
(Y.2) - - 4,20
(11,7%) (56,2%) (32,0%)
7 2 8 52 59
(Y.3) 4,20
(5,5%0 (1,6%) (6,2%) (40,6%) (46,1%)
8 7 60 53
(Y.4) - 4,23
(6,2%) (5,5%) (46,9%) (41,4%)
Total mean 4,21
Sumber: Data primer diolah, 2021

Berdasarkan tabel 5.8 diatas terlihat bahwa indikator Y.4 memiliki nilai

mean sebesar 4,23 sehingga dapat diartikan bahwa hasil (outcome) dinilai tinggi

oleh responden. Dengan jawaban responden meliputi yang menyatakan tidak

setuju sebanyak 8 orang (6,2%), yang menjawab ragu-ragu sebanyak 7 orang

(5,5%), yang menjawab setuju 60 orang (46,9%) serta yang menjawab sangat

setuju sebanyak 53 orang (41,4%).

Indikator Y.1 memiliki nilai mean sebesar 4,19 sehingga dapat diartikan

bahwa indikato masukan (inputs) dinilai rendah oleh responden. Dengan jawaban

responden meliputi yang menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 4 orang

(3,1%), yang menjawab tidak setuju sebanyak 3 orang (2,3%), yang menjawab

ragu-ragu sebanyak 11 orang (8,6%), yang menjawab setuju 57 orang (44,5%)

serta yang menjawab sangat setuju sebanyak 53 orang (41,4%).


61

5.1.4. Uji Instrumen Penelitian

Dalam penelitian, pengujian instrumen diperlukan untuk mengetahui

apakah alat ukur yang digunakan dalam penelitian layak atau tidak. Dalam

penelitian ini instrumen yang digunakan dalam bentuk kuesioner, sehingga perlu

dilakukan pengujian validitas dan realibilitas. Berikut adalah hasil pengujian

validitas dan reliabilitas pengujian intrumen penelitian:

Tabel 5.9. Hasil Uji Instrumen Penelitian

Variabel Indikator r Hitung Cut Off Point > 0,3 Ket


X1.1 0,894 > 0,3 Valid
Pengawasan X1.2 0,711 > 0,3 Valid
Keuangan Daerah
X1.3 0,892 > 0,3 Valid
(X1)
X1.4 0,829 > 0,3 Valid
Cronbach’s Alpha 0,849 > 0,6 Reliabel
X2.1 0,824 > 0,3 Valid
Akuntabilitas
X2.2 0,782 > 0,3 Valid
(X2)
X2.3 0,845 > 0,3 Valid
X2.4 0,822 > 0,3 Valid
Cronbach’s Alpha 0,833 > 0,6 Reliabel
X3.1 0,791 > 0,3 Valid
Transparansi X3.2 0,902 > 0,3 Valid
Pengelolaan X3.3 0,830 > 0,3 Valid
Keuangan Daerah
X3.4 0,828 > 0,3 Valid
(X3)
X3.5 0,909 > 0,3 Valid
Cronbach’s Alpha 0,906 > 0,6 Reliabel
Y.1 0,913 > 0,3 Valid
Kinerja Pemerintah Y.2 0,778 > 0,3 Valid
Daerah
Y.3 0,928 > 0,3 Valid
(Y)
Y.4 0,938 > 0,3 Valid
Cronbach’s Alpha 0,909 > 0,6 Reliabel
Sumber: Data primer diolah, 2021

Berdasarkan dari tabel di atas (5.9) untuk hasil pengujian validitas pada

variabel pengawasan keuangan daerah memiliki nilai pearson correlation lebih

besar dari cut of point 0,3 dengan rentang nilai 0,711-0,894, pada variabel

akuntabilitas memiliki nilai r hitung 0,782-0,845, variabel transparansi


62

pengelolaan keuangan daerah memiliki nilai r hitung 0,791-0,909 dan untuk

variabel kinerja pemerintah daerah memilik nilai r hitung 0,778-0,938. Sedangkan

untuk hasil pengujian reliabilitas dari 4 variabel yang di teliti memiliki cronbach

alpha lebih dari 0,6 dengan rentang nilai yaitu 0,833 – 0,909. Sehingga dapat di

simpulkan bahwa data yang digunakan untuk penelitian valid (saha) dan reliabel

(Handal).

5.1.5. Uji Asumsi Klasik

[Link]. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas dan

terikat mempunyai distribusi daya yang normal atau tidak melalui pengujian

metode grafis, dimana bila data menyebar disekitar dan mengikuti garis diagonal

maka model regresi memenuhi asumsi normalitas (Santoso, 2012). Model regresi

yang baik adalah yang mempunyai distribusi data normal atau mendekati normal.

Adapun hasil uji normalitas sebagai berikut:


63

Gambar 5.1. Hasil Uji Normalitas

Berdasarkan hasil uji normalitas pada Gambar 5.1, nampak bahwa data

menyebar disekitar dan mengikuti garis diagonal. Olehnya itu, data yang

digunakan telah memenuhi kriteria asumsi normalitas atau data berdistribusi

normal. Menurut Santoso (2012), bahwa untuk memastikan kriteria normalitas,

maka diperlukan uji kolmogrov-smirnov Z dengan asumsi Asymp sig. (2-tailed) >

0,05 (normal). Sebaliknya apabila Asymp sig. (2-tailed) < 0,05 tidak normal, yang

hasil pengujiannya tampak pada Tabel berikut ini.

Tabel 5.10. Hasil Uji Normalitas Data


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized
Residual

N 128
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation 1.68196536
Most Extreme Differences Absolute .115
Positive .115
Negative -.108
Kolmogorov-Smirnov Z 1.296
Asymp. Sig. (2-tailed) .069

a. Test distribution is
Normal. Sumber : Data
Primer diolah, 2021

Berdasarkan hasil pengujian normalitas pada tabel 5.14 melalui uji statistik

non-parametrik, menunjukkan bahwa nilai Asymp sig. (2-tailed) > 0,05 yaitu

0,069. Hal Ini berarti, asumsi normalitas terhadap data yang dipergunakan telah

terpenuhi.

[Link]. Uji Heteroskedastisitas


64

Terjadinya heterokedastisitas ditunjukkan dengan adanya ketidaksamaan

varian nilai residual antara variabel-variabel bebas melalui perhitungan uji

koefisien korelasi Rank Spearman yang mengkorelasikan antara nilai absolute

residual dengan setiap variabel bebas. Bila probabilitas hasil korelasi lebih kecil

dari 0,05 maka persamaan regresi yang terbentuk mengandung gejala

heteroskedastisitas, maupun sebaliknya. Hasil uji heteroskedasitas yang dilakukan

dengan bantuan software SPSS versi 16 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 5.11. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Correlations
Transparansi
Pengawasan Pengelolaan
Keuangan Akuntabilitas Keuangan
Daerah (X1) (X2) Daerah (X3) Abs_Res
Spearman's Pengawasan Correlation
1.000 .621** .531** -.143
rho Keuangan Daerah Coefficient
(X1)
Sig. (2-tailed) . .000 .000 .108
N 128 128 128 128
Akuntabilitas (X2) Correlation
.621** 1.000 .437** -.051
Coefficient
Sig. (2-tailed) .000 . .000 .564
N 128 128 128 128
Transparansi Correlation
.531** .437** 1.000 -.148
Pengelolaan Coefficient
Keuangan Daerah
Sig. (2-tailed) .000 .000 . .096
(X3)
N 128 128 128 128
Abs_Res Correlation
-.143 -.051 -.148 1.000
Coefficient
Sig. (2-tailed) .108 .564 .096 .
N 128 128 128 128
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber : Data Primer diolah, 2021

Berdasarkan Tabel 5.11 yang merupakan hasil uji heteroskedastisitas,

menunjukkan bahwa korelasi antara pengawasan keuangan daerah (X1),

akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap nilai


65

absolute residual (abs_res) memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu

0,108; 0,564; dan 0,096. Dikarenakan korelasi antara nilai absolute residual

(abs_res) dengan setiap variabel memiliki nilai probabilitas atau signifikansi >

0,05, sehingga tidak menunjukkan adanya gejala heteroskedasitas terhadap model

penelitian ini.

[Link]. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolonieritas bertujuan untuk mendeteksi gejala multikolonieritas

dilakukan dengan cara melihat nilai (VIF) Variance Inflation Factor (Ghozali,

2011). Pada perhitungan ini tidak ada satupun variabel bebas yang memiliki VIF

lebih dari 10, maka data ini dapat dikatan bebas multikolonieritas.

Sedangkan berdasarkan nilai tolerance tidak ada satupun variabel bebas

yang memiliki tolerance kurang dari 0,1. Untuk hasilnya dapat dilihat dari tabel

5.12 berikut:

Tabel 5.12. Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Collinearity Statistics

Model Tolerance VIF

1 (Constant)

Pengawasan Keuangan Daerah (X1) .303 3.306

Akuntabilitas (X2) .323 3.1098

Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah


.458 2.183
(X3)

a. Dependent Variable: Kinerja Pemerintah Daerah (Y)


Sumber : Data Primer diolah, 2021

Berdasarkan Tabel 5.12, terlihat bahwa nilai Tolerance pada masing-


66

masing variabel bebas tidak ada yang memiliki nilai Tolerance kurang dari 0,10,

serta nilai variance inflating factor (VIF) pada setiap variabel sehingga dapat

disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas antar variabel independen yang

meliputi pengawasan keuangan daerah (X1); akuntabilitas dan transparansi

pengelolaan keuangan daerah (X3) dalam model regresi dalam penelitian ini

dikarenakan nilai VIF < 10.

5.1.6. Analisis Data

[Link]. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Dari hasil pengolahan data yang peneliti lakukan menggunakan program

SPSS dengan metode analisis regresi untuk menguji pengaruh pengawasan

keuangan daerah (X1), akuntabilitas (X2) dan transparansi pengelolaan keuangan

daerah (X3) terhadap kinerja pemerintah daerah (Y) di Kota Pare-Pare, dapat

dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 5.13. Hasil Analisis Regresi Berganda


Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) .238 1.019 .234 .816

Pengawasan Keuangan
.278 .090 .277 3.076 .003
Daerah (X1)

Akuntabilitas (X2) .439 .104 .369 4.235 .000

Transparansi Pengelolaan
.233 .063 .271 3.697 .000
Keuangan Daerah (X3)

a. Dependent Variable: Kinerja Pemerintah Daerah (Y)


Berdasarkan Tabel 5.14, maka diperoleh model persamaan regresi dalam

penelitian ini sebagai berikut:


67

Y = a + þ1X1 + þ2X2 + þ3X3 + s

Y = 0,238 + 0,378 X1 + 0,439 X2 + 0,233 X3 + e


Keterangan:

X1 = Pengawasan keuangan daerah

X2 = Akuntabilitas

X3 = Transparansi pengelolaan keuangan daerah

Y = Kinerja pemerintah daerah

Dengan interrpretasinya sebagai berikut:

Nilai a = 0,238, artinya apabila pengawasna keuangan daerah,

akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah bernilai atau sama

dengan 0, maka nilai kinerja pemerintah daerah meningkat sebesar 0,238 poin.

Nilai β1X1 = 0,378, artinya apabila pengawasan keuangan daerah naik 1 poin

dengan asumsi variabel akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan

daerah konstan, maka kinerja pemerintah daerah meningkat sebesar 0,378 poin

dengan tingkat signifikansi sebesar 0,003 dan kurang dari taraf sig. yaitu 0,05

yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara pengawasan keuangan

daerah terhadap kinerja pemerintah daerah. Nilai β2X2 = 0,439, artinya apabila

akuntabilitas naik 1 poin dan pengawasan keuangan daerah serta transparansi

pengelolaan keuangan daerah konstan, maka kinerja pemerintah daerah akan

meningkat sebesar 0,439 poin dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 dan

kurang dari taraf sig. yaitu 0,05 yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan

antara akuntabilitas terhadap kinerja pemerintah daerah. Nilai β3X3 = 0,233,

artinya apabila transparansi pengelolaan keuangan daerah naik 1 poin dan


68

pengawasan keuangan daerah serta akuntabilitas konstan, maka kinerja

pemerintah daerah akan meningkat sebesar 0,233 poin. dengan tingkat

signifikansi sebesar 0,000 dan kurang dari taraf sig. yaitu 0,05 yang berarti

terdapat pengaruh yang signifikan antara transparansi pengelolaan keuangan

daerah terhadap kinerja pemerintah daerah

Berdasarkan interpretasi hasil uji persamaan regresi diatas, dapat diketahui

bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah

adalah akuntabilitas (X2) yaitu 0,439 jika dibandingkan dengan variabel lainnya.

[Link]. Uji Hipotesis secara Parsial

Untuk melakukan uji-t digunakan tabel coefficient, seperti yang telah

tercantum pada tabel 5.13 di atas. Uji-t dilakukan untuk mengetahui apakah antara

variabel pengawasan keuangan daerah; akuntabilitas; dan transparansi

pengelolaan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah mempunyai

pengaruh yang nyata atau tidak.

Berdasarkan data tabel 5.13 untuk diperoleh t-hitung sebesar 3,076 untuk

koefisien korelasi antara pengawasan keuangan daerah terhadap kinerja

pemerintah daerah. Hal ini berarti nilai t-hitung sebesar 3,076 pada tingkat

probabilitas 0,05 (95%) diperoleh t-tabel sebesar 1,979 serta tingkat

signifikansinya di bawah dari taraf signifikansi 0,05 (0,003) Hasil uji-t tersebut

dikaitkan dengan hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini yaitu

Pengawasan keuangan daerah berpengaruh secara parsial terhadap kinerja

pemerintah daerah Kota Pare-Pare. Hal ini bermakna bahwa uintuk hipotesi

pertama terbukti. Selanjutnya untuk nilai koefisien korelasi antara akuntabilitas


69

terhadap kinerja pemerintah daerah memiliki t hitung sebesar 4,235 pada tingkat

probabilitas 0,05 (95%) diperoleh t-tabel sebesar 1,979 serta tingkat

signifikansinya di bawah dari taraf signifikansi 0,05 (0,000), hasil uji-t tersebut

dikaitkan dengan hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini yaitu

akuntabilitas berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah Kota

Pare-Pare. Hal ini bermakna bahwa uintuk hipotesi terbukti terbukti. Untuk nilai

koefisien korelasi antara transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap

kinerja pemerintah daerah memiliki t hitung sebesar 3,697 pada tingkat

probabilitas 0,05 (95%) diperoleh t-tabel sebesar 1,979 serta tingkat

signifikansinya di bawah dari taraf signifikansi 0,05 (0,000), hasil uji-t tersebut

dikaitkan dengan hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini yaitu

transparansi pengelolaan keuangan daerah berpengaruh secara parsial terhadap

kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare. Hal ini bermakna bahwa uintuk

hipotesi terbukti terbukti.

Berdasarkan pada Tabel 5.13 juga ditemukan bahwa variabel yang

memiliki nilai koefesien korelasi yang besar yaitu variabel akuntabilitas (0,439)

sehingga hipotesis kelima yang menyatakan akuntabilitas memiliki pengaruh yang

paling besar terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare terbukti.

[Link].Uji Hipotesis secara Simultan

Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama yaitu

variabel pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan

keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.. Uji F

dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel, dengan asumsi.


70

Berikut ini adalah hasil pengujian hipotesis secara simultan:

Tabel 5.14. Hasil Uji Hipotesis secara Simultan


ANOVAb
Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 820.935 3 273.645 94.443 .000a
Residual 359.284 124 2.897
Total 1180.219 127
a. Predictors: (Constant), Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah (X3),
Akuntabilitas (X2), Pengawasan Keuangan Daerah (X1)
b. Dependent Variable: Kinerja Pemerintah Daerah (Y)

Dari tabel 5.14 diperoleh F hitung sebesar 94.443. Sedangkan nilai f tabel

di peroleh dari df1 = k (4)-1 = 3 dan df2 = n (128) – k (4) = 124 dengan taraf

signifikannya 0,05% sehingga nilai f tabel = 2,68. Maka nilai f hitung lebih besar

dari f tabel yakni 94,443 > 2,68 serta nilai signifikansinya kurang dari 0,050

(0,000). Sehingga secara simultan, variabel pengawasan keuangan daerah,

akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah mempunyai pengaruh

yang signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah. Sehingga hipotesis ke 4 di

terima.

[Link].Uji Koefisien Determinasi

Uji koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh

kemampuan variabel independen dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu Menurut Kuncoro (2013)

Uji koefisien korelasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan

model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Nilai koefisien determinasi /

R2 berada pada rentang angka nol (0) dan satu (1). Jika nilai koefisien determinasi
71

yang mendekati angka nol (0) berarti kemampuan model dalam menerangkan

variabel terikat sangat terbatas. Sebaliknya apabila nilai koefisien determinasi

variabel mendekati satu (1) berarti kemampuan variabel bebas dalam

menimbulkan keberadaan variabel terikat semakin kuat. Nilai koefisien

determinasi dari model penelitian disajikan sebagai berikut:

Tabel 5.15. Hasil Pengujian Koefisien Determinasi


Model Summaryb
Std. Error of the
Model R R Square Adjusted R Square Estimate
1 .834a .696 .688 1.702
a. Predictors: (Constant), Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah (X3), Akuntabilitas (X2),
Pengawasan Keuangan Daerah (X1)
b. Dependent Variable: Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Sumber: Data Primer diolah, 2021

Berdasarkan dari hasil uji pada tabel 5.15 yaitu 0,696 atau 69,6%. Artinya

bahwa variabel independen yaitu pengawasan keuangan daerah (X1),

akuntabilitas (X2) dan transparansi pengelolaan keuangan daerah (X3) memberi

sumbangan terhadap variabel dependen yaitu kinerja pemerintah daerah (Y)

sebesar 69,6%, sedangkan sisanya sebesar 30,4% (100% - 49,7%) dipengaruhi

variabel lain yang tidak di teliti dalam penelitian ini.

5.2. Pembahasan

5.2.1. Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap

Kinerja Pemerintah Daerah

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengawasan keuangan daerah

terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare, menunjukkan bahwa

pengawasan keuangan daerah berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja


72

pemerintah daerah Kota Pare-Pare dengan nilai t hitung lebih besar dari t tabel,

yakni 3,076 > 1,976 dan nilai sig. sebesar 0,003. Artinya semakin tinggi

pengawasan keuangan daerah, maka akan meningkatkan kinerja pemerintah

daerah, sebaliknya semakin rendah pengawasan keuangan daerah, maka akan

semakin rendah pula kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare .

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami (2021) yang

menemukan bahwa terdapat pengaruh pengawasan keuangan daerah terhadap

kinerja pemerintah daerah.

Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai, karena merupakan

cerminan dari kemampuan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber

dayanya. Selain itu tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk memotivasi

dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang

telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang

diharapkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana

formal yang dituangkan dalam anggaran (Revitasari dan Lisda, 2018).

Kinerja pemerintah dinilai baik apabila dapat dilihat dari pencapaian hasil

yang dilaksanakan secara nyata dan maksimal. Jika kinerja yang telah

dilaksanakan dan mencapai hasil yang memuaskan itu harus sesuai dengan visi

dan misi suatu kelompok atau organisasi yang sudah ditetapkan sebagai landasan

dalam pelaksanaan tugas yang harus dipertanggungjawabkan. Pengukuran kinerja

membantu pejabat pemerintah daerah untuk menentukan tingkat pencapaian

tujuan dan membantu warga untuk mengevaluasi apakah tingkat pelayanan yang

diberikan oleh pemerintah sejajar dengan uang yang dikeluarkan untuk pelayanan
73

program tersebut (Ihyaul, 2017 dalalm Gaga, 2021). Olehnya itu kinerja

pemerintah berkaitan erat dengan pengawasan

Pengawasan terhadap pengelolaan keuangan daerah oleh sangat penting

dilakukan, karena pengawasan merupakan suatu usaha untuk menjamin adanya

keserasian antara penyelenggaraan tugas pemerintah di daerah (pusat) dan

menjamin kelancaran penyelenggaraan pemerintah secara berdaya guna.

Pengawasan merupakan tindakan nyata dan paling efektif dalam mewujudkan

kedisiplinan pegawai organisasi

5.2.2. Pengaruh Akuntabilitas Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh akuntabilitas terhadap

kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare, menunjukkan bahwa akuntabilitas

berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare

dengan nilai t hitung lebih besar dari t tabel, yakni 4,235 > 1,976 dan dan nilai sig.

sebesar 0,000. Artinya semakin tinggi akuntabilitas, maka akan meningkatkan

kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare, sebaliknya semakin rendah

akuntabilitas, maka akan semakin rendah pula kinerja pemerintah daerah Kota

Pare-Pare.

Hasil penelitian ini di perkuat oleh penelitan terdahulu meliputi Novanti et

al., (2019); Jitmau et al., (2017); Auditya et al., (2013) serta Laga (2021), yang

menemukan bahwa akuntabilitas berpengaruh terhadap kinerja pemerintah

daerah.

Menurut Mardiasmo (2006) pengukuran kinerja pemerintah memiliki

kaitan erat dengan akuntabilitas. Untuk memantapkan mekanisme akuntabilitas,


74

diperlukan manajemen kinerja yang baik. Pemahaman mengenai konsep kinerja

organisasi publik dapat dilakukan dengan (dua) 2 pendekatan, yaitu melihat

kinerja organisasi publik dari perspektif birokrasi itu sendiri, dan melihat kinerja

organisasi publik dari perspektif kelompok sasaran atau pengguna jasa organisasi

publik. Khusus mengenai organisasi publik berkaitan erat dengan produktivitas,

kualitas layanan, responsivitas, responsibilitas, akuntabilitas, serta persamaan

pelayanan.

Wiguna, et al, (2015) menmyatakan bahwa penerapan berbagai aturan

perundang-undangan yang ada terkait dengan penerapan konsep akuntabilitas

dalam pengelolaan keuangan diharapkan dapat mewujudkan pengelolaan

pemerintah daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. Implementasi

akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah diharapkan mampu meningkatkan

kinerja pemerintah daerah. Dengan menjalankan asas akuntabilitas sebagai

kewajiban pihak pemegang amanah untuk memberikan pertanggungjawaban,

menyajikan, melaporkan dan mengungkapkan (disclosure) segala aktivitas dan

kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak pemberi amanah yang

memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban Lucy

Auditya, Husaini, Lismawati 39 tersebut maka kualitas kinerja pemerintah daerah

5.2.3. Pengaruh transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap

Kinerja pemerintah daerah

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh transparansi pengelolaan

keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare,

menunjukkan bahwa transparansi pengelolaan keuangan daerah berpengaruh


75

positif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare dengan nilai

t hitung lebih besar dari t tabel, yakni 3,697 > 1,976 dan nilai sig. sebesar 0,000.

Artinya semakin tinggi transparansi pengelolaan keuangan daerah, maka akan

meningkatkan kinerja, sebaliknya semakin transparansi pengelolaan keuangan

daerah, maka akan semakin rendah pula kinerja pemerintah daerah Kota Pare-

Pare.

Pada beberapa hasil penelitian juga menemukan bahwa transparansi

pengelolaan keuangan daerah memiliki pengaaruh terhadap kinerja pemerintah

daerah (Uditya et al, 2013; Laga, 2021; Nasution, 2018).

Coryanata (2015) mengatakan bahwa salah satu dari prinsip good

governance adalah transparansi. Transparansi dibangun atas dasar arus informasi

yang bebas, seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu

diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus

memadai agar dapat dimengerti dan dipantau Transparansi pengelolaan keuangan

daerah adalah keterbukaan pemerintah daerah dalam memberikan informasi

terkait dengan aktivitas pengelolaan keuangan daerah kepada para pemangku

kepentingan.. Hal ini disebabkan karena penerapan transparansi pengelolaan

keuangan daerah merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam menjalankan

pemerintahan yang bersih, jujur dan bebas dari segala bentuk penyimpangan.

Dengan demikian, hal ini juga dapat menjadi bukti tingkat keberhasilan

pemerintah dalam mengelola keuangan dan dapat meningkatkan kinerja

pemerintah menjadi lebih baik (Wiguna et al., 2015).


76

5.2.4. Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas Dan

Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja

Pemerintah Daerah

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh pengawasan keuangan

daerah, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap

kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh

yang signifikan pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi

pengelolaan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah dengan nilai f

hitung lebih besar dari f tabel, yakni 94,443 > 2,68 sedangkan nilai sig. sebesar

0,000. Hal ini berartinya semakin baik pengawasan keuangan daerah,

akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah, maka akan

meningkatkan kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare, sebaliknya semakin

rendah pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan

keuangan daerah, maka akan menurunkan kinerja pemerintah daerah Kota Pare-

Pare

Hasil penelitian ini di perkuat oleh penelitan sebelumnya, yang

menemukan bahwa pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi

pengelolaan keuangan daerah berpengaruh terhadap kinerja (Jatmiko, 2020).

Tercapainya tujuan lembaga merupakan salah satu wujud dari keberhasilan

sebuah lembaga dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Tetapi keberhasilan

tersebut tidak dapat dilihat begitu saja, diperlukan penilaian terhadap kinerja

lembaga dalam hal ini adalah pemerintah daerah. Penilaian kinerja atau penilaian
77

prestasi kerja tidak dapat dipisahkan dengan dari setiap proses aktivitas sumber

daya manusia. Bastian dalam Agung (2013) mengemukakan bahwa pengukuran

dan pemanfaatan penilaian kinerja akan mendorong pencapaian tujuan

organisasi/lembaga dan akan memberikan umpan balik untuk upaya perbaikan

secara terus menerus.

5.2.5. Akuntabilitas Memiliki Pengaruh Yang Paling Besar Terhadap

Kinerja Pemerintah Daerah.

Berdasarakan hasil penelitian ditemukan bahwa variabel yanag memiliki

pengaruh yang paling besar adalah variabel akuntabilitas di mana nilai koefisien

korelasi sebesar 0,439 dengan nilai signifikansi 0,000 atau kurang dari taraf sig.

0,05 sedangkan nilai t hitungnya sebesar 4,235 lebih besar dari t tabel (1,976).

Kinerja pemerintah merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian

sasaran ataupun tujuan instansi pemerintah sebagai penjabaran dari visi, misi, dan

strategi instansi pemerintah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan dan

kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan

yang ditetapkan (MenPAN:2007).

Kinerja pemerintah berkaitan erat dengan akuntabilitas. Memantapkan

mekanisme transparansi diperlukan manajemen kinerja yang baik. Penerapan

berbagai aturan perundang-undangan yang ada terkait dengan penerapan konsep

akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan diharapkan dapat mewujudkan

pengelolaan pemerintah daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat.

Implementasi akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah diharapkan mampu

meningkatkan kinerja pemerintah daerah (Wiguna, et al, 2015).


78

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan serrta adanya dukungan

teori maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini:

1. Pengawasan keuangan daerah berpengaruh secara parsial terhadap kinerja

pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

2. Akuntabilitas berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah

Kota Pare-Pare.

3. Transparansi pengelolaan keuangan daerah berpengaruh secara parsial

terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

4. Pengawasan keuangan daerah, Akuntabilitas dan Transparansi pengelolaan

keuangan daerah berpengaruh secara simultan terhadap kinerja pemerintah

daerah Kota Pare-Pare.

5. Akuntabilitas memiliki pengaruh yang paling besar terhadap kinerja

pemerintah daerah Kota Pare-Pare.

6.2. Saran

Mengacu pada hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka

terdapat beberapa saran yang dapat diajukan baik kepada pihak pemerintah daerah

Kota Pare-Pare maupun bagi peneliti untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Adapun saran peneliti sebagai berikut:

1. Agar lebih meningkatkan lagi pengawasan khususnya pada terhadap instansi-


79

intansi maupun individu pelaksananya

2. Agar pegawai –pegawai dapat lebih patuh terhadap standar waktu yang telah

ditetapkan

3. Agar lebih meningkat keterbukaan terhadap pengumuman kebijakan

4. Dalam hal kinerja agar lebih ditingkatkan lagi khususnya pada input dari

segala pelaksanaan kegiatan yang arahnya jelas dan terarah.

5. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar menambah cakupan penelitian.

Serta penambahan variabel yang digunakan seperti variabel gaya

kepemimpinan dan beban kerja sehingga menambah ilmu dan referensi bagi

pengambilan keputusan serta kebijakan yang di keluarkan oleh Pemerintah

Daerah Kota Pare-Pare dalam upaya meningkatkan kinerja


DAFTAR PUSTAKA

Agung, Sigit Nugrahanto, 2014. Analisis Kinerja Kantor Pengelolaan Pasar Niten
Dalam Pengoptimalan Retribusi Pasar Di Kabupaten Bantul Tahun 2013.
Non publication. UNY.

Akmalia, D. (2020). Pengaruh pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan


transparansi pengelolaan keuangan terhadap kinerja pemerintah daerah
pada Skpd Kota lhoksemawe (Doctoral dissertation).

Astuti, R. M. (2013). Pengaruh Akuntabilitas, Transparansi dan Fungsi


Pemeriksaan Intern Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Studi Kasus
pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
(DPPKAD) Kabupaten Grobogan) (Doctoral dissertation, Universitas
Muhammadiyah Surakarta).

Auditya, L., Husaini, H., & Lismawati, L. (2013). Analisis pengaruh akuntabilitas
dan transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap kinerja
pemerintah daerah. Jurnal Fairness, 3(1), 21-42.

Azlan, M., Herwanti, T., & Pituringsih, E. (2019). Pengaruh Kualitas Sumber
Daya Manusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Pengendalian Intern
Akuntansi, Dan Pengawasan Keuangan Daerahterhadap Keandalan
Laporan Keuangan Daerah Pada Skpd Pemerintah Kabupaten Lombok
Timur. Jurnal Akuntansi Aktual, 3(2), 188-198.

Badruzzaman, S., & Ruslina Lisda, S. E. (2018). Pengaruh Pengawasan


Keuangan, Akuntabilitas Dan Transparansi Pengelolaan Keuangan
Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Survey pada Dinas di Pemerintah
Kabupaten Bandung Barat) (Doctoral dissertation, Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Unpas Bandung).

Benawan, E. T. P., Saerang, D. P., & Pontoh, W. (2018). Pengaruh pengawasan,


akuntabilitas dan transparansi keuangan terhadap kinerja pegawai (Studi
kasus pada Dinas Perhubungan Kota Tidore Kepulauan). Going Concern:
Jurnal Riset Akuntansi, 13(03).

Coryanata, I. (2011). Akuntabilitas, partisipasi masyarakat dan transparansi


kebijakan publik sebagai pemoderasi hubungan pengetahuan dewan
tentang anggaran dan pengawasan keuangan daerah. Journal of
Accounting and Investment, 12(2), 110-125.

Fahmi, Irham. 2013. Manajemen Kinerja teori dan aplikasi. Bandung: Alfabeta

Gunawan, B. (2020). Pengaruh Partisipasi Masyarakat Dan Transparasi Kebijakan


Publik Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Pada Kantor DPR
Aceh) (Doctoral dissertation).

Halim, A. dan Iqbal M., 2012. Pengelolaan Keuangan [Link] STIM YKPN:
Yogyakarta.

Haza, I. I. (2015). Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Pengawasan


Keuangan Daerah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Daerah (Studi
Empiris pada SKPD Pemerintah kota padang). Jurnal Akuntansi, 3(1).

Halim, A. dan Iqbal M., 2012. Pengelolaan Keuangan [Link] STIM YKPN:
Yogyakarta.

Handayani, Y. (2015). Pengaruh Transparansi dan Akuntabilitas Terhadap


Pengelolaan Keuangan Partai Politik (Studi pada 9 Partai Politik di Kota
Bandung) (Doctoral dissertation, Fakultas Ekonomi Unpas).

Hayat, I. H. (2018). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (Pad), Dana Perimbangan,


Belanja Modal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Kinerja Keuangan
Daerah Pemerintah Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Timur (Studi Kasus
Pada Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Timur Periode 2014-
2016) (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
SURABAYA).

Jatmiko, B. (2020). Pengaruh Pengawasan Internal, Akuntabilitas Dan


Transparansi Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman
(Survei Pada Seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten
Sleman). Jurnal Akuntansi Trisakti, 7(2), 231-246.

Jitmau, F., Kalangi, L., & Lambey, L. (2017). Pengaruh Akuntabilitas,


Transparansi dan Fungsi Pemeriksaan Intern Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah (Studi Empiris Di Kabupaten Sorong). Jurnal riset
akuntansi dan auditing" goodwill", 8(1).

Laga, Y. M. V. I. (2021). Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah Akuntabilitas


dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja
Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Doctoral dissertation, Universitas
17 Agustus 1945 surabaya).

Laoli, V. (2019). Pengaruh Akuntabilitas dan Transparansi terhadap Kinerja


Anggaran Berkonsep Value of Money pada Pemerintah Kabupaten
Nias. Owner: Riset dan Jurnal Akuntansi, 3(1), 91-102.

Mardiasmo. (2006). Perwujudan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui


Akuntansi Sektor Publik: Suatu Saran Good Governance. Jurnal
Akuntansi Pemerintahan. Volume 2 Nomor 1. Mei 2006.

Moeheriono. 2012. “Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi”. Jakarta: Raja


Grafindo Persada.

Mongeri, M. (2013). Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap


Kinerja Pemerintah Daerah Dengan Komitmen Organisasi Sebagai
Variabel Moderating (Studi Empiris Pada SKPD Pemerintah Daerah
Kota Padang). Jurnal Akuntansi, 1(1).

Nasution, D. A. D. (2018). Analisis pengaruh pengelolaan keuangan daerah,


akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja keuangan
pemerintah. Jurnal Studi Akuntansi & Keuangan, 2(3), 149-162.

Nasution, A. P. (2019). Implementasi E–Budgeting Sebagai Upaya Peningkatan


Tranparansi Dan Akuntabilitas Pemerintah Daerah Kota Binjai. Jurnal
Akuntansi Bisnis Dan Publik, 9(2), 1-13.

Nicolla, A. (2019). Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas,


Transparansi Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Studi kasus pada
BPKAD Provinsi Sumatera Selatan) (Doctoral dissertation, Universitas
Muhammadiyah Palembang).

Nugroho, Fajar dan Rohman, Abdul. 2012. Pengaruh Belanja Modal Terhadap
Pertumbuhan Kinerja Keuangan Daerah Dengan Pendapatan Asli Daerah
Sebagai Variabel Intervening ( Studi Kasus Di Propoinsi Jawa Tengah).
Jurnal Akuntansi Volume 1, Nomor 2 Tahun 2012

Nurfaidah, N. (2018). Efektivitas Pengawasan Keuangan Daerah Pada Pemerintah


Kota Makassar. Jurnal BISNIS & KEWIRAUSAHAAN, 7(4).

Novatiani, A., Kusumah, R. W. R., & Vabiani, D. P. (2019). Pengaruh


Transparansi dan Akuntabilitas Terhadap Kinerja Instansi
Pemerintah. Jurnal Ilmu Manajemen dan Bisnis, 10(1), 51-62.

Pertiwi, B. A. (2016). Pengaruh Transparansi Laporan Keuangan, Pengelolaan


Zakat, Dan Reputasi Organisasi Terhadap Kepercayaan Donatur Di
Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya (Doctoral dissertation,
UIN Sunan Ampel Surabaya).

Prasetyo, Ari dan Fatchuddin, A. 2021. Pengantar Manajemen Islami. Airlangga


University Press.

Purnama, F., & Nadirsyah, N. (2016). Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah,


Akuntabilitas, dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah Pada Kabupaten Aceh Barat Daya. Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi, 1(2), 1-15.

Putra, P. D. S., & Indraswarawati, S. A. P. A. (2021). Pengaruh Pengawasan


Keuangan Daerah, Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Dan
Akuntabilitas Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten
Klungkung. Widya Akuntansi dan Keuangan, 3(1), 79-92.

Raba, Manggakuang. 2020. Akuntabilitas: Konsep dan Implementasi. Cet. II


UMM Press.

Rahayu, S. (2018). Analisis Penerapan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah


(Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Siak) (Doctoral dissertation,
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).

Revitasari, L., Ruslina Lisda, S. E., MSi, A. K., & CA, P. I. (2018). Pengaruh
Kualitas Sistem Informasi Dan Pengawasan Keuangan Terhadap
Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Dan Dampaknya Terhadap Kinerja
Instansi Pemerintah Daerah (Survey pada SKPD Kota Cimahi) (Doctoral
dissertation, Perpustakaan FEB-UNPAS BANDUNG).

Reza, E. M. (2018). Transparansi Penggunaan Dana Desa Di Kepenghuluan


Sekeladi Kecamatan Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir (Doctoral
dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).

Rivai, Veithzal. 2013, Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan Dari
Teori Ke Praktek, Rajagrafindo persada, Bandung.

Sangki, A. A., Gosal, R., & Kairupan, J. (2017). Penerapan Prinsip Transparansi
Dan Akuntabilitas Dalam Pengelolaan Anggaran Pendapatan Dan
Belanja Desa (Suatu Studi Di Desa Tandu Kecamatan Lolak Kabupaten
Bolaang Mongondow). Jurnal Eksekutif, 1(1).

Sinaga, A. N. (2016). Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten


Simalungun Tahun 2012-2013 (Doctoral Dissertation, Unimed).

Sundari, R. (2013). Analisis Pengaruh Belanja Langsung Terhadap Capaian


Kinerja Instansi Pemerintah (Studi Kasus Pada Dinas Kesehatan
Kabupaten Klaten) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah
Surakarta).

Trisaputra, A. (2013). Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi dan


Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan
Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada SKPD Pemerintah
Provinsi Sumatera Barat). Jurnal Akuntansi, 1(3).

Ulimpa, Y. S., Sondakh, J. J., & Runtu, T. (2018). Analisis Pengukuran Kinerja
Pemerintah Daerah Dalam Era Otonomi Daerah Di Kabupaten Sorong
Provinsi Papua Barat. Going Concern: Jurnal Riset Akuntansi, 13(04).

Umar, Z., Syawalina, C. F., & Khairunnisa, K. (2018). Pengaruh Akuntabilitas


Dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja
Instansi Inspektorat Aceh. KOLEGIAL, 6(2), 136-148.
Utami, P. (2021). Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat.

Wiguna, M. B. S., Yuniarta, G. A., AK, S., Darmawan, N. A. S., & SE, A. (2015).
Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan Transparansi
Pengelolaan Keuangan Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Kabupaten Buleleng. JIMAT (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi)
Undiksha, 3(1).

Yahya, I. (2006). Akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan


daerah. Jurnal Sistem Teknik Industri, 7(4), 27-29.

Yulinda, M. (2013). Analisis Efektivitas Pengawasan Dinas Tanaman Pangan,


Hortikultura Dan Peternakan Kabupaten Indragiri Hilir Pada Gabungan
Kelompok Tani Di Kecamatan Tembilahan (Doctoral dissertation,
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).

Zainal, A. (2018). Pengaruh Political Background Dan Pengetahuan Dewan


Tentang Anggaran Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah (Studi pada
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten
Ponorogo) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah
Ponorogo).
LAMPIRAN 2. KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN

PENGARUH PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH, AKUNTABILITAS


DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
TERHADAP KINERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA PAREPARE

Program Pasca Sarjana Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia

Kepada Yang Terhormat.


Bapak/ibu/ Saudara (i) pegawai di Kota Parepare

Dengan Hormat,

Bersama ini saya sampaikan kuesioner penelitian yang berjudul “Pengaruh


pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan
keuangan daerah terhadap kinerja Pemerintah Daerah Kota Parepare”, saya
sangat mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu/Saudara (i) meluangkan waktu sejenak
untuk berpartisipasi, membaca, memahami, dan mengisi kuesioner ini.

Adapun Kuisioner ini bertujuan untuk kepentingan ilmiah, oleh karena itu
jawaban yang Bapak/Ibu/Saudara (i) berikan besar manfaatnya bagi pengembangan
ilmu dan pengetahuan. Kuisioner ini tidak ada hubungannya dengan status dan
kedudukan Bapak/Ibu/Saudara (i) dalam instansi, maka jawaban yang benar adalah
jawaban yang benar-benar menggambarkan keadaan Bapak/Ibu/Saudara (i) saat ini.

Saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerjasama yang
telah Bapak/Ibu Saudara (i) berikan.

Hormat saya,

Alamsyah
BAGIAN I
IDENTIFIKASI RESPONDEN

Petunjuk Pengisian :

1. Sebelum mengisi pertanyaan pada kolom yang telah disediakan, terlebih


dahulu mohon diisi identitas responden.
2. Pada kolom pernyataan mohon di isi secara lengkap dari keseluruhan pernyatan
yang telah disediakan, sesuai dengan opini anda dan kondisi sebenarnya.
3. Berilah tanda silang (×) pada kolom jawaban yang anda pilih.
4. Terdapat 5 (lima) alternatif pengisian jawaban, yaitu :
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
RR : Ragu-Ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju

Identitas Responden *Di isi Oleh Peneliti

No. Responden* :....................................................................................

Usia :....................................................................................

Jenis Kelamin :....................................................................................

Pendidikan Terakhir :....................................................................................

Lama Bekerja :....................................................................................

Pengawasan Keuangan Daerah (X1)

Alternatif Jawaban
No Pernyataan
SS ST RR TS STS
1 Setiap pegawai yang melakukan
pengawasan bersih dan bebas dari
KKN
2 Masing-masing individu dari pegawai
mampu melakukan kegiatan evaluasi
sebagai bentuk dari pengawasan
3 Setiap aktivitas yang membutuhkan
biaya akan dubukukan sebagai bukti
dari pecatatan transaksi
4 Untuk menghindari resiko
penyalahgunaan biaya maka setiap
pegawai di harpkan melakukan
pencatattan transaksi yang tetpat waktu

Akuntabilitas (X2)

Alternatif Jawaban
No Pernyataan
SS ST RR TS STS
1 Setiap pegawai mematuhi segala
prosedur yang berlaku dalam
melakukan pekerjaanya
2 Dalam bekerja pegawai mampu
memberikan pelayanan yang terbaik
tanpa dipungut biaya
3 Dengan adanya standar waktu yang
telah ditetapkan, masing-masing dari
individu mampu menjalankan tugas
dengan terarah
4 Tingkat kedisiplinan pegawai sangat
tinggi karna patuh terhadap standar
waktu

Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah (X3)

Alternatif Jawaban
No Pernyataan
SS ST RR TS STS
1 Terdapat pengumuman kebijakan
mengenai pendapatan, pengelolaan
keuangan dan asset
2 Tersedia laporan mengenai
pendapatan, pengelolaan keuangan,
dan aset yang mudah diakses
3 Dengan adanya laporan
pertanggungjawaban yang tepat waktu
merupakan bentuk tanggung jawab dari
seorang pegawai
4 Setiap instansi menyediakan tempat
usulan dan usulan rakyat
5 Terdapat Sistem yang yang digunakan
instansi dalam pemberian informasi
kepada publik

Kinerja Pemerintah Daerah (Y)

Alternatif Jawaban
No Pernyataan
SS ST RR TS STS
1 Pegawai mampu menghitung jumlah
dana yang dibutuhkan
2 Setiap kegiatan yang dilakukan oleh
pegawai selalu melalui proses
merumuskan ukuran kegiatan, baik dari
segi kecepatan, ketepatan, maupun
tingkat akurasi pelaksanaan kegiatan
3 Tingkat ketepatan pegawai dalam
bekerja sangat baik

4 Dengan didukung tingkat produktivitas


para pegawai yang tinggi ,sehingga
hasil dari kegiatan ataupun aktivitas
jangka menengah maupun jangka
panjang sangat maksimal
LAMPIRAN

 UJI VALIDITAS ITEM


1) Validitas Pengawasan (X1)

2) Validasi Akuntabilitas (X2)


3) Validasi Transparasi (X3)

4) Validitas Kinerja Pemerintah (Y)


 UJI REABILITAS

1. REABILITAS PENGAWASAN (X1)

Nilai Cronbach’s Alpha


0.849 > 0.50

2. REABILITAS AKUNTABILITAS (X2)

Nilai Cronbach’s Alpha


0.833 > 0.50

3. REABILITAS TRANSPARANSI (X3)

Nilai Cronbach’s Alpha


0.906 > 0.50
4. REABILITAS KINERJA PEMERINTAH (Y)

Nilai Cronbach’s Alpha


0.909 > 0.50

1. UJI DESKRIPTIF (RESPONDEN & ITEM)


Deskriptif Responden
Deskrptif Item
Item Pengawasan (X1)
Item Akuntabilitas (X2)
Item Transparansi (X3)
Item Kinerja Pemerintah (Y)
● UJI ASUMSI KLASIK
1. UJI NORMALITAS (Nilai Sig. Kolmogorov > 0.05)
2. UJI MULTIKOLINIERITAS  NILAI VIF < 10.00

3. UJI HETEROSKEDASTISITAS
Data tersebar di atas dan di bawah titik 0 pada sumbu Y, disimpulkan tidak terjadi
heteroskedastisitas
● UJI HIPOTESIS
1. UJI T T TABEL = 1,979
t hitung > t tabel = ADA PENGARUH
t hitung < t tabel = TIDAK ADA PENGARUH

2. UJI F F TABEL = 2,68

 UJI KOEFISIEN REGRESI

Anda mungkin juga menyukai