PENGARUH PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH,
AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN
KEUANGAN DAERAH TERHADAP KINERJA PEMERINTAH
DAERAH KOTA PARE-PARE
TESIS
Untuk Memenuhi Syarat
Memperoleh Gelar Magister Manajemen
Oleh:
ALAMSYAH
[Link].1.2192
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS
NOBEL INDONESIA
MAKASSAR
2022
i
PENGARUH PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH,
AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN
KEUANGAN DAERAH TERHADAP KINERJA PEMERINTAH
DAERAH KOTA PARE-PARE
TESIS
Untuk Memenuhi Syarat
Memperoleh Gelar Magister Manajemen
Oleh:
ALAMSYAH
[Link].1.2192
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN
KONSENTRASI MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH
ITB NOBEL INDONESIA
PROGRAM PASCASARJANA
MAKASSAR
2022
11
PENGESAⅡAN TESIS
PENGARUII PENGAlWASAN KEUANGAN DAERAH,
AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSIPENGELOLAAN
KE■ ,ANGAN DAERAII:TERIIADAP KINERJA PE卜 IERINTAH
DAERAE KOTA PARE‐ PARE
C)leh:
ALAplSYAH
Telah dipettahittlkan di depan IPengl.11
Pada tanggal 19 Januari 2022
Dinyatakan telah memenuhi syarat
Nlenyetujui :
Komisi Pembimbing
Ketua,
Dr. Sylvia Sjarlis, S.E. [Link]., A.K., CA Dr. [Link],卜 質。
Si
Mengetahui :
:Direktur FPS Ketua Program Studi
ITB Nobel lndollesiaラ Magister Manajemen.
`
/´
t
,
l ●
. Maryadio S.8., M.M.
ンド
Dr. Sylvia Sjarlis, S.E. [Link].. A.K." CA
iii
HALAMAN IDENTITAS
MAHASISWA, PEMBIMBING DAN PENGUJI
JUDUL TESIS :
PENGARUH PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH, AKUNTABILITAS DAN
TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH TERHADAP KINERJA
PEMERINTAH DAERAH KOTA PARE-PARE
Nama Mahasiswa : Alamsyah
NIM : [Link].1.2192
Program Studi : Magister Manajemen
Peminatan : Manajemen Keungan Daerah
KOMISI PEMBIMBING:
Ketua : Dr. Sylvia Sjarlis, S.E. [Link]., A.K., CA
Anggota : Dr. Syafruddin Kitta, S.T., [Link]
TIM DOSEN PENGUJI :
Dosen Penguji 1 : Dr. Maryadi, S.E., M.M.
Dosen Penguji 2 : Dr. Asri, [Link]., [Link]
Tanggal Ujian : 19 Januari 2022
SK Penguji Nomor : 032/SK/PPS/STIE-NI/IV2021
vii
ABSTRAK
Alamsyah. 2022. Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan
Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Kota Parepare, dibimbing oleh Sylvia Sjarlis dan Syarifuddin Kitta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis (1) pengaruh
secara parsial pengawasan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah
(2) pengaruh secara parsial pengawasan keuangan daerah terhadap kinerja
pemerintah daerah (3) pengaruh secara parsial akuntabilitas terhadap kinerja
pemerintah daerah (4) pengaruh secara parsial transparansi pengelolaan
keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah (5) variabel yang paling
dominan pengaruhnya terhadapkinerja pemerintah daerah Kota Parepare.
Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability
sampling dan purposive sampling. Data diperoleh dengan membagikan kuesioner
terkait pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, transparansi Pengelolaan
Keuangan Daerah dan Kinerja Pemerintah Daerah kepada 128 responden. Teknik
analisis data dalam penelitian ini adalah regresi berganda menggunakan aplikasi
SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengawasan keuangan daerah
berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Parepare (2)
Akuntabilitas berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah
Kota Parepare (3) transparansi pengelolaan keuangan daerah berpengaruh secara
parsial terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Parepare (4) pengawasan
keuangan daerah, Akuntabilitas dan Transparansi pengelolaan keuangan daerah
berpengaruhsecara simultan terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Parepare (5)
Akuntabilitas memiliki pengaruh yang paling dominan terhadap kinerja
pemerintah daerah Kota Parepare.
Kata kunci: Pengawasan, Transparansi, Akuntabilitas, Kinerja Pemerintah
Daerah
viii
ABSTRACT
Alamsyah. 2022. The Effect of Regional Financial Supervision, Accountability
and Transparency of Regional Financial Management on the Performance of the
Local Government of Parepare City, supervised by Sylvia Sjarlis and Syarifuddin
Kitta.
This study aims to determine and analyze (1) the partial effect of regional
financial supervision on the performance of local governments (2) the partial
influence of regional financial supervision on the performance of local
governments (3) the partial influence of accountability on the performance of
local governments (4) the partial influence transparency of local financial
management on the performance of local governments (5) the most dominant
variable influenceon the performance of the local government of Parepare City.
The sampling technique used was non-probability sampling and
purposive sampling. Data were obtained by distributing questionnaires related
to regional financial supervision, accountability, transparency of Regional
Financial Management and Regional Government Performance to 128
respondents. The dataanalysis technique in this study is multiple regression using
the SPSS application.
The results showed that (1) regional financial supervision had a partial
effect on the performance of the Parepare City local government (2)
Accountability partially affected the performance of the Parepare City local
government (3) the transparency of regional financial management had a partial
effect on the performance of the Parepare City local government (4 ) regional
financial supervision, accountability and transparency of regional financial
management have a simultaneous effect on the performance of the local
government of Parepare City (5) Accountability has the most dominant influence
on the performance of thelocal government of Parepare City.
Keywords: Supervision, Transparency, Accountability, Local Government
Performance
iv
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan curahan rahmat dan berkat ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan
penyusunan tesis yang berjudul “Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah,
Akuntabilitas Dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah Kota Parepare”. Tujuan dari penyusunan tesis ini
adalah untuk memenuhi syarat menyelesaikan Program Studi Strata Dua (S2)
pada Pascasarjana ITB NOBEL Indonesia.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu penyelesaian penulisan tesis ini yang atas bantuannyalah Penulis
mendapatkan inspirasi dan motivasi sehingga terwujudnya Tesis ini untuk itu
dalam kesempatan ini Penulis bermaksud mengucapkan terimakasih yang
setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak Dr. H. Badaruddin, S.T., M.M Selaku Rektor ITB Nobel
Indonesia Makassar.
2. Dr. Maryadi, S.E., M.M. selaku Direktur Program Pascasarjana ITB
Nobel Indonesia Makassar.
3. Dr. Sylvia Sjarlis, SE., [Link]., AK., C.A. selaku Ketua Program Studi
Magister Manajemen sekaligus Ketua Komisi Pembimbing yang telah
meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan masukan serta
saran untuk kesempurnaan tesis.
4. Dr. Syafruddin Kitta, S.T., [Link] selaku Anggota Komisi Pembimbing
yang telah meluangkan waktunya bersedia membimbing,
v
menyumbangkan masukan dan saran serta kritikan untuk kesempurnaan
Tesis ini.
5. Dr. Maryadi, S.E., M.M dan Dr. Asri, S. Pd., [Link] selaku anggota
komisi penguji yang telah memberikan masukan dan kritikan guna
penyempurnaan tesis ini.
6. Segenap dosen dan karyawan Program Pascasarjana ITB Nobel
Indonesia.
7. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat disebutkan
satu per satu
Penulis menyadari mungkin dalam penulisan tesis ini masih terdapat
banyak kekurangan, untuk itu diharapkan tanggapan dan masukan dari berbagai
pihak sebagai bahan perbaikan dengan harapan dan pada akhirnya.
Makassar, Januari 2022
Penulis
ALAMSYAH
[Link].1.2192
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN ..................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... ii
HALAMAN IDENTITAS ............................................................................. iii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iv
PERNYATAAN ORISINALITAS TESIS ................................................... vi
ABSTRAK..................................................................................................... vii
ABSTRACT.................................................................................................... viii
DAFTAR ISI ................................................................................................. ix
DAFTAR TABEL ......................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ………………… ...... ……………………………….... 1
1.2. Rumusan Masalah Penelitian......................................................... ....... . 6
1.3. Tujuan Penelitan.................................................. .................................. 6
1.4. Manfaat Penelitian........ ....................................................................... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kajian Penelitian Terdahulu..... ........................................................... 9
2.2. Pengawasan Keuangan Daerah......... ................................................... 13
2.3. Akuntabilitas.............. ................................................................. 21
2.4. Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah.............................. .......... 26
2.5. Kinerja Pemerintah Daerah.............. .................................. 29
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Konsep Penelitian.......................................... ... 34
3.1.1. Hubungan Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah...................................... 34
3.1.2. Hubungan Akuntabilitas Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah................... ................................ 35
x
3.1.3. Hubungan Transparansi Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah............ ....................................... 35
3.2. Hipotesis Penelitian............................ ................................ 37
3.3. Definisi Operasional................ ........................................... 37
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1. pendekatan penelitian............. ............................................ 40
4.2. Populasi, Sampel Dan Tehnik Sampling................ ............ 40
4.3. Teknik Pengumpulan Data.............. ............................................ 41
4.4. Uji Instumen Penelitian........................................................................ 41
4.5. Uji Asumsi Klasik............................................................................... 42
4.5.1. Uji Normalitas........... .............................................................. 42
4.5.2. Uji Multikoloniertitas................. .............................................. 44
4.5.3. Uji Heteroskedastisitas........... .................................................. 44
4.6 Teknik Analisa Data..... ...................................................................... 45
4.6.1. Analisis Regresi Berganda........................................................ 45
4.6.2. Pengujian Hipotesis............. ..................................................... 46
[Link]. Uji T............... ............................................................. 47
[Link]. Uji F.......... .................................................................. 47
[Link]. Uji Koefisien Determinasi.............. .............................. 47
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian............... ..................................................................... 49
5.1.1. Profil Objek Penelitian............ ................................................... 49
5.1.2. Karakter Responden................... ................................................ 51
[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia.................. ..... 52
[Link]. Karakter Responden Berdasarkan Jenis Kelamin............... 52
[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir 53
[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja......... 53
5.1.3. Deskripsi Variabel Penelitian........... .......................................... 54
[Link]. Pengawasan Keuangan Daerah (X1)................................. 54
[Link]. Akuntabilitas (X2).... ....................................................... 56
xi
[Link]. Transparansi Pengelolaan Keuanga Daerah (X3)............... 57
[Link]. Kinerja Pemerintah Daerah (Y)..... ................................... 59
5.1.4. Uji Instrumen Penelitian......... ........................................... 61
5.1.5. Uji Asumsi Klasik........... .................................................. 62
[Link]. Uji Normalitas............... ........................................... 62
[Link]. Uji Hertoskedastisitas...... ......................................... 63
[Link]. Uji Multikolinearitas............. ................................... 65
5.1.6. Analisis Data.............. ....................................................... 66
[Link]. Analisis Regresi Linear Berganda............................. 66
[Link]. Uji Hipotesis Secara Parsial........ ............................. 68
[Link]. Uji Hipotesis Secara Simultan.............. .................... 69
[Link]. Hasil Pengujian Koefisien Determinasi.......................... 70
5.2. Pembahasan................... ...................................................................... 71
5.2.1. Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah...... ....................................................... 71
5.2.2. Pengaruh Akuntabilitas Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah........ 73
5.2.3. Pengaruh Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah
Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.............. ................................ 74
5.2.4. Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas Dan
Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah........................................................................... 76
5.2.5. Akuntabilitas Memiliki Pengaruh Yang Paling Besar Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah............................................................... 77
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan....... .................................................................................. 78
6.2. Saran................... ................................................................................ 78
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xii
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
1. Jumlah Responden Berdasarkan Usia ..................................................... 52
2. Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin......... ............................. 52
3. Jumlah Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ............................ 53
4. Jumlah Responden Berdasarkan Lama Bekerja....... ............................... 54
5. Tanggapan Atas Kuisioner Varibel Pengawasan Keuangan Daerah. . . 55
6. Tanggapan Atas Kuisioner Varibel Akuntabilitas.... ....................... 57
7. Tanggapan Responden untuk Variabel Transparansi
Pengelolaan Keuangan Daerah ........................................................ 58
8. Tanggapan Responden Untuk Variabel Kinerja Pemerintah Daerah....... 60
9. Uji Instrumen Penelitian...... .................................................................. 61
10. Uji Normalitas Data............................................................................... 63
11. Uji Heteroskedastisitas .......................................................................... 64
12. Uji Multikolinearitas .......................................................................... 65
13. Hasil Analisis Regresi Liniear Berganda ............................................... 66
14. Hasil Uji Hipotesis secara Simulta ......................................................... 70
15. Uji Koefisien Determinasi ..................................................................... 71
xiii
DAFTAR GAMBAR
No Judul Halaman
1. Kerangka Konsep Penelitian .......................................................... 36
2. Pengujian Normalitas ...................................................................... 62
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Surat Izin Penelitian
Lampiran 2 : Kuesioner
Lampiran 3 : Tabulasi Data Kuesioner
Lampiran 4 : Validasi Output Hasil Analisis Data
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tingginya berbagai asumsi masyarakat terhadap pelaksanaan otonomi
daerah menyebabkan kinerja pemerintah menjadi salah satu isu yang menjadi
sorotan publik. Hal ini dikarenakan masyarakat belum merasakan hasil kinerja
pemerintah secara maksimal (Sundari, 2013). Sebagai organisasi sektor publik,
pemerintah dituntut untuk melaksanakan kinerja yang baik dalam menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya. Tuntutan akan kinerja pemerintah yang baik ini
terjadi hampir disemua pemerintahan seiring dengan diterapkannya konsep
otonomi daerah dan penetapan perundang-undangan terkait dengan pengelolaan
pemerintahan.
Kinerja merupakan pencapaian atas apa yang telah direncanakan, baik oleh
pribadi maupun organisasi (Nugroho dan Rohman, 2012). Dalam konteks
organisasi pemerintah daerah, kinerja adalah suatu ukuran prestasi atau hasil
dalam mengelola dan menjalankan suatu organisasi dimana berhubungan dengan
segala hal yang akan datang, sedang dan telah dilakukan organisasi tersebut dalam
kurun waktu tertentu. Dalam peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dinyatakan bahwa kinerja
adalah keluaran/hasil dari kegiatan atau program yang akan atau telah dicapai
sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang
terukur. Sedangkan menurut Gusmal (2007) dalam Mongeri (2013) kinerja
2
pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran atau
tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi pemerintah daerah
yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan-
kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi paratur pemerintah. Pengukuran
kinerja organisasi pemerintah daerah penting dilakukan karena berguna sebagai
acuan untuk meningkatkan kinerja organisasi tersebut agar lebih baik lagi dimasa
yang akan datang.
Pada dasarnya beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja
Pemerintah Daerah, meliputi pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas,
transparansi dan pengelolaan daerah.
Secara umum pengawasan dapat dirumuskan sebagai suatu proses kegiatan
yang dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan untuk mengamati,
memahami, dan menilai setiap pelaksanaan kegiatan tertentu sehingga dapat
mencegah atau memperbaiki kesalahan atau penyimpangan yang terjadi (Halim
dan Iqbal, 2012). Sedangkan menurut Saydam yang dikutip oleh Badruzzaman
dan Ruslina (2018) menyatakan bahwa pengawasan merupakan kegiatan
manajerial, dilakukan dengan maksud agar tidak terjadi penyimpangan delam
melaksanakan pekerjaan. Suatu penyimpangan atau kesalahan terjadi atau tidak
selama dalam pelaksanaan pekerjaan tergantung pada tingkat kemampuan dan
keterampilan pegawain. Para pegawai yang selalu mendapat pengarahan atau
bimbingan dari atasan, cenderung melakukan kesalahan atau penyimpangan lebih
sedikit dibandingkan dengan pegawai yang tidak memperoleh bimbingan.
Arti pengawasan atas penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan
3
pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan
dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa
pengawasan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah adalah proses kegiatan
yang ditujukan untuk menjamin agar Pemerintahan Daerah berjalan secara efisien
dan efektif sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Menurut Halim (2002) dalam Zainal (2018) manfaat pengawasan
keuangan daerah adalah untuk menjamin keamanan seluruh komponen keuangan
daerah, dipatuhinya berbagai aturan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan
daerah, dan untuk menjamin dilakukannya berbagai upaya penghematan, efisiensi,
serta efektivitas dalam pengelolaan keuangan daerah.
Faktor ke dua yang memberikan pengaruh ke kinerja pemerintah daerah
yaitu Akuntabiltas. Akuntabilitas merupakan konsep terkait dengan mekanisme
pertanggungjawaban dari satu pihak ke pihak yang lain (Jatimiko, 2020). Menurut
Adisasmita (2011) Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberi
pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan
seseorang, badan hukum, pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki
hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.
Sedangkan menurut UNDP (United Nations Development Program) yang dikutip
Novesti (2017), akuntabilitas adalah evaluasi terhadap proses pelaksanaan
kegiatan/kinerja organisasi untuk dapat dipertanggungjawabkan serta sebagai
umpan balik bagi pimpinan organisasi untuk dapat lebih meningkatkan kinerja
organisasi pada masa yang akan datang. Akuntabilitas adalah kewajiban untuk
memberikan informasi termasuk informasi keuangan sebagai wujud
4
tanggungjawab organisasi (Grey et. Al, 1996 dalam Setiawan, 2017).
Akuntabilitas merupakan pertanggungjawaban atas segala yang dilakukan oleh
pimpinan atau lembaga yang memberi wewenang dan akuntabilitas merupakan
prinsip yang menjamin bahwa setiap kegiatan suatu organisasi atau perorangan
dapat dipertangungjawabkan secara terbuka kepada masyarakat (Nasution,
2019).
Akuntabilitas mensyaratkan bahwa pengambilan keputusan berprilaku
sesuai dengan mandat yang diterimanya. Aspek penting yang harus
dipertimbangkan yaitu: 1) aspek legalitas penerimaan dan pengeluaran daerah
bahwa setiap transaksi yang dilakukan harus dapat dilacak otoritas legalnya, 2)
aspek pengelolaan (sterwarship) keuangan daerah secara baik, perlindungan asset
fisik dan finansial mencegah terjadinya pemborosan dan salah urus. Untuk ini,
perumusan kebijakan, bersama-sama dengan cara dan hasil kebijakan tersebut
harus dapat diakses dan dikomunikasikan secara vertikal maupun horizontal
dengan baik (Mardiasmo dalam Benawan et al, 2018)
Serta faktor yang terakhir adalah transparansi pengelolaan keuangan
daerah. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 menjelaskan
bahwa transparan adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur
kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak
untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban
Pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan
ketaatannya pada Perundang-undangan. Dalam PP. Pasal 4 PP No. 58 Tahun 2013
menyebutkan bahwa pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara tertib, taat
5
pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, efisien, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatuhan (Umar, et
al, 2018).
Penerapan azas transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui berbagai informasi
tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah secara benar, jujur dan tidak
diskriminatif Kondisi yang mengharuskan pemerintah memberikan informasi
seluas-luasnya kepada masyarakat terkait pengelolaan pemerintahan secara tidak
langsung pengelola pemerintahan berusaha untuk memberikan yang terbaik
(kinerja terbaik) kepada masyarakat dengan meningkatkan pencapaian tujuan
pemerintah sesuai dengan visi dan misi (Rahmanurrasjid dalam Wiguna, 2015)
Fenomena tentang pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, dan
transparansi pada pemerintah daerah Kota Pare-Pare sebagai lokasi penelitian,
peneliti menemukan bahwa masih tidak maksimalnya kinerja pemerintah daerah
Kota Pare-Pare, dikarenakan tingkat pengawasan pengelolaan keuangan daerah
belum terlaksana dengan baik dalam hal pelaksanaan kegiatan , disisi lain kuranag
akuntabelnya beberapa aktivitas serta kurang terbukanya pemerintah dalam
memberikan informasi pengelolaan keuangan daerah terhadap masyarakat.
Berdasarkan penjabaran pada latar belakang yang telah dikemukakan di
atas, maka peneliti ingin mengkaji lebih jauh terkait dengan faktor yang
mempengaruhi kinerja pemerintah daerah dengan mengangkat judul penelitian
yaitu: “Pengaruh pengawasan keuang daerah, akuntabilitas, transparansi
pengeloaan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota
6
Pare-Pare”.
1.2. Rumusan Masalah
Mengacu atas uraian pada latar belakang, maka peneliti dapat merumuskan
beberapa permasalahan penelitian sebagai berikut:
1. Apakah pengawasan keuangan daerah berpengaruh secara parsial
terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare?
2. Apakah akuntabilitas berpengaruh secara parsial terhadap kinerja
pemerintah daerah Kota Pare-Pare?
3. Apakah Transparansi pengelolaan keuangn daerah berpengaruh secara
parsial terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare?
4. Apakah pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan pengawasan
keuangan daerah berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah
daerah Kota Pare-Pare?
5. Variabel manakah yang paling besara pengaruhnya terhadap terhadap
kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini
yakni untuk menganalisis:
1. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial pengawasan keuangan
daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
2. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial pengawasan keuangan
7
daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
3. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial akuntabilitas terhadap
kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
4. Untuk menganalisis pengaruh secara parsial transparansi pengelolaan
keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
5. Untuk menganalisis variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap
terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti empiris yang
menunjukkan adanya pengaruh pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas,
transparansi pengeloaan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah,
yang dapat memberikan masukan pemerintah daerah Kota Pare-Pare, akan
pentingnya pemahaman dari manajemen keuangan kaitannya dengan pengawasan
keungan daerah, akuntabilitas, transparansi pengelolaan keuangan daerah dan
kinerja pemerintah daerah. Dengan demikian, kinerja pemerintah daerah semula
menurun dapat ditingkatkan kembali sehingga tujuan pemerintah daerah bisa
tercapai. Disamping itu, setelah melakukan penelitian ini diharapkan mahasiswa
dapat membandingkan fenomena-fenomena yang ada di organisasi yang akan
diteliti dan dapat memperoleh pengetahuan yang lebih luas tentang permasalahan
dalam dunia pemerintahan.
8
1.4.2. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan wawasan baru bagi penelti
selanjutnjutnya yang berkaitan dengan bidang ilmu manajemen keuangan
mengenai pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, transparansi pengelolaan
keuangan daerah dan kinerja pemerintah daerah.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian terdahulu ini diharapkan peneliti dapat melihat beberapa
temuan peneliti sebelumnya untuk menjadi dasar empiris dalam pembentukan
model penelitian. Beberapa penelitian terdahulu yang menjadi rujukan yaitu
sebagai berikut:
1. Ulimpa, Sondakh dan Runtu, T. (2018) dengan judul penelitiannya “Analisis
Pengukuran Kinerja Pemerintah Daerah Dalam Era Otonomi Daerah Di
Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat” menemukan bahwa pengukuran
kinerja pemerintah daerah dilakukan karena ketentuan yang dibuat oleh
pemerintah pusat laporan akuntabilitas kinerja untuk masing- masing instansi
pemerintah.
2. Wiguna, Yuniarta, dan Darmawan (2015). Dengan judul penelitian mengenai
“Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan Transparansi
Pengelolaan Keuangan Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Kabupaten Buleleng. Penelitian ini dilaksanakan di Inspektorat Kabupaten
Buleleng dengan jumlah Populasi sebanyak 52 Orang. Teknik pengambilan
sampel menggunakan teknik Non probability Sampling sehingga yang
menjadi sampel dalam penelitian ini adalah bidang pengawasan dan bidang
auditor sebesar 34 Orang. Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah
jenis data kuantitatif dan kualitatif sedangkan sumber datanya adalah sumber data
10
primer. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dokumentasi dan
kuisioner. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda
dengan bantuan program SPSS versi 21.00 Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa (1) Pengawasan Keuangan Daerah berpengaruh signifikan
terhadap kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng, (2) akuntabilitas
pengelolaan keuangan berpengaruh signifikan terhadap kinerja Pemerintah Daerah
Kabupaten Buleleng, (3) transparansi pengelolaan keuangan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng, (4) pengawasan keuangan
daerah, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng Kata Kunci :
Pengawasan, Akuntabilitas, Transparansi, Kinerja
3. Penelitian oleh Purnama dan Nadirsyah (2016). Pengaruh Pengawasan
Keuangan Daerah, Akuntabilitas, dan Transparansi Pengelolaan Keuangan
Daerah Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Pada Kabupaten Aceh Barat
Daya. Populasi penelitian adalah 44 SKPK (Satuan Kerja Perangkat
Kabupaten). Teknik pengambilan sampel yang digunakan Dengan simple
random sampling, 31 SKPK dipilih sebagai sampel penelitian dengan total 93
responden. Data yang digunakan dalam bidang supervisi adalah jenis
kuantitatif dan sumber data adalah sumber primer. Data dikumpulkan dengan
menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan analisis regresi
berganda dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, dan transparansi manajemen
keuangan baik secara simultan maupun parsial berpengaruh terhadap kinerja
Pemerintah Daerah Kabupaten Abdya.
11
4. Nasution (2018), dengan peneltian yang berjudul “Analisis pengaruh
pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja
keuangan pemerintah”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode
asosiatif / korelasi. Populasi dalam penelitian ini adalah 34 instansi
pemerintah daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara,
dengan sampel sebanyak 68 responden yang terdiri dari pejabat pengguna
anggaran / pengguna anggaran dan Pejabat Departemen Keuangan. Data
merupakan data primer yang diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan
melakukan survey selanjutnya, setelah data tersbut terkumpul kemudian
dianalisis dengan menggunakan uji regresi linier berganda dengan
menggunakan asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara
parsial pengelolaan dan akuntabilitas keuangan daerah berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kinerja keuangan, sedangkan transparansi
berpengaruh negatif tetapi signifikan terhadap kinerja keuangan. Secara
simultan pengelolaan keuangan daerah, akuntabilitas, dan transparansi
berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan pada Pemerintah Provinsi
Sumatera Utara.
5. Penelitian oleh Putra dan Indraswarawati (2021) mengenai Pengaruh
Pengawasan Keuangan Daerah, Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah
Dan Akuntabilitas Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten
Klungkung. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 143 responden dengan metode
purposive sampling serta pengujian sampel bias non respon. Pengumpulan data
dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Instrumen penelitian yang digunakan
adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Teknik analisis yang digunakan adalah uji
12
asumsi klasik dan analisis regresi linier berganda, analisis determinasi, uji F dan uji
t. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pengawasan keuangan daerah tidak
berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah pada Pemerintah Kabupaten
Klungkung, dibuktikan dengan t-hitung = 1,503 dengan nilai signifikansi 0,135>
0,05, dengan demikian H1 adalah ditolak. Transparansi pengelolaan keuangan
daerah berpengaruh positif terhadap kinerja pemerintah daerah pada Pemerintah
Kabupaten Klungkung, dibuktikan dengan nilai t-hitung = 4,365 dengan nilai
signifikansi 0,000<0,05 sehingga H2 diterima. Akuntabilitas berpengaruh positif
terhadap Kinerja Pemerintah Daerah pada Pelayanan di Pemerintah Kabupaten
Klungkung, terbukti dengan t-hitung = 3,058 dengan nilai signifikansi 0,003 <0,05,
dengan demikian H3 diterima.
6. Penelitian Jitmau, Kalangi, dan Lambey (2017) mengenai “Pengaruh
Akuntabilitas, Transparansi dan Fungsi Pemeriksaan Intern Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah (Studi Empiris Di Kabupaten Sorong)”. Jenis data yang
digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dan pengumpulan data
digunakan kuesioner. Dalam penelitian ini diambil sampel dari 100
responden yang terdapat pada 10 SKPD di pemerintah Kabupaten Sorong.
Metode analisis data yang digunakan yaitu regresi linier berganda, dengan pengujian
validitas data, uji reabilitas data, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis. Data diolah
dengan menggunakan perangkat Software Statical Product And Services Solution
(SPSS) versi 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akuntabilitas tidak
berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah Kabupaten Sorong, transparansi
berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah Kabupaten Sorong, fungsi
pemeriksaan intern berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah
7. Nicolla (2019) dengan penelitian yang berjudul “Pengaruh Pengawasan
13
Keuangan Daerah, Akuntabilitas, Transparansi Terhadap Kinerja Pemerintah
Daerah (Studi kasus pada BPKAD Provinsi Sumatera Selatan). Jenis
penelitian yang digunakan adalah asosiatif. Data yang digunakan adalah data
sekunder dan primer. Populasi dalam penelitian adalah seluruh karyawan
BPKAD Kota Palembang dengan jumlah respnden 95 karyawan. Sampel
yang digunakan berjumlah 49 dengan menggunakan rumus Slovin. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Metode analisis data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dan analisis
kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama
diperoleh hasil pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi
signifikan memengaruhi kinerja pemerintah. Hasil uji secara parsial
pengawasan keuangan daerah signifikan memengaruhi kinerja pemerintah.
Akuntabilitas dan Transparansi secara parsial tidak memengaruhi kinerja
pemerintah.
2.2. Pengawasan Keuangan Daerah
Secara umum pengawasan dapat dirumuskan sebagai suatu proses kegiatan
yang dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan untuk mengamati,
memahami, dan menilai setiap pelaksanaan kegiatan tertentu sehingga dapat
mencegah atau memperbaiki kesalahan atau penyimpangan yang terjadi (Halim
dan Iqbal, 2012).
Menurut Siagian (2014) pengawasan merupakan proses pengamatan dari
pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan
14
yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah di tentukan.
Sedangkan menurut Saydam yang dikutip oleh Badruzzaman dan Ruslina
(2018) menyatakan bahwa pengawasan merupakan kegiatan manajerial, dilakukan
dengan maksud agar tidak terjadi penyimpangan delam melaksanakan pekerjaan.
Suatu penyimpangan atau kesalahan terjadi atau tidak selama dalam pelaksanaan
pekerjaan tergantung pada tingkat kemampuan dan keterampilan pegawain. Para
pegawai yang selalu mendapat pengarahan atau bimbingan dari atasan, cenderung
melakukan kesalahan atau penyimpangan lebih sedikit dibandingkan dengan
pegawai yang tidak memperoleh bimbingan.
Selanjutnya Tery (2006) yang dikutip oleh Nurfaidah (2018) mengartikan
pengawasan sebagai mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya
mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tidankan-tindakan
korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Menurut Winardi (2010) pengawasan adalah semua aktivitas yang
dilaksanakan oleh pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual
sesuai dengan hasil yang direncanakan.
Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja
standar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk
membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk
menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk
mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua
sumber daya perusahaan atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan
seefisien mungkin guna mencapai tujuan pemerintahan. Arti pengawasan atas
15
penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 12
Tahun 2019 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daera menyatakan bahwa
pengawasan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah adalah proses kegiatan
yang ditujukan untuk menjamin agar Pemerintahan Daerah berjalan secara efisien
dan efektif sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan
Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengawasan merupakan hal penting dalam menjalankan suatu perencanaan.
Halim (2000) mengatakan bahwa dengan adanya pengawasan, maka
diperlukan perencanaan yang diharapkan oleh manajemen dapat terpenuhi dan
berjalan dengan baik lebih lanjut halim (2000) mengatakan bahwa pengaawasan
terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Secara umum tujuan pengawasan adalah untuk menjamin agar pemerintah
daerah berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku guna menciptakan aparatur pemerintahan yang Bersih, Bebas
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
2. Secara khusus meliputi: a) Menilai ketaatan terhadap peraturan perundang-
undangan yang berlaku; b) Menilai apakah kegiatan dengan pedoman
akuntansi yang berlaku; c) Menilai apakah kegiatan dilaksanakan secara
ekonomis, efisien, dan efektif; serta d) Mendeteksi adanya kecurangan.
Adapun Menurut Situmorang dan Juhir (1994) dalam Yulinda (2013),
tujuan pengawasan mencakup:
1. Mengetahui jalannya pekerjaan, apakah lancar atau tidak;
2. Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan
mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahankesalahan
16
yang sama atau timbulnya kesalahan yang baru;
3. Mengetahui apakah penggunaan budget yang telah ditetapkan dalam rencana
terarah kepada sasarannya dan sesuai dengan yang telah direncanakan.;
4. Mengetahui pelaksanaan kerja sesuai dengan program (tahapan dari tingkat
pelaksanaan) seperti yang telah ditentukan dalam perencanaan atau tidak; dan
5. Mengetahui hasil pekerjaan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan
dalam perecanaan.
Menurut Saputra (2013), Pengawasan pada dasarnya diarahkan
sepenuhnya untuk menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau
penyimpangan atas tujuan yang akan dicapai. Melalui pengawasan, diharapkan
dapat membantu melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai
tujuan yang telah direncanakan secara efektif dan efisien. Bahkan, melalui
pengawasan tercipta suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan penentuan atau
evaluasi mengenai sejauh mana pelaksanaan kerja sudah dilaksanakan, sejauh
mana kebijakan pimpinan dijalankan, dan sampai sejauh mana penyimpangan
yang terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut.
Terdapat jenis-jenis pengawasan yang dapat dilakukan oleh pemerintah
(Prasetyo dan Fatchuddin, 2018) antara lain sebagai berikut:
1. Pengawasan intern, dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam
lingkungan unit organisasi yang bersangkutan. Pengawasan intern dapat
dilakukan dengan cara pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat
(built in control), atau pengawasan yang dilakukan secara rutin oleh
Inspektorat Jendral pada setiap kementrian dan Inspektorat Wilayah untuk
17
setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan menempatkannya di bawah
Pengawasan Kementrian Dalam Negeri.
2. Pengawasan ekstern merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh unit
pengawasan yang berada di luar unit organisasi yang diawasi. Dalam hal ini,
di Indonesia adalah BPK yang merupakan lembaga tinggi negara yang
terlepas dari pengaruh kekuasaan manapun. Dalam menjalankan tugasnya,
BPK tidak mengabaikan hasil laporan pemeriksaan aparat pengawasan intern
pemerintah.
3. Pengawasan preventif, pengawasan yang yang dilakukan terhadap suatu
kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat mencegah
terjadinya penyimpangan. Pengawasan preventif ini dilakukan pemerintah
dengan maksud untuk menghadiri adanya penyimpangan pelaksanaan
keuangan daerah yang akan membebankan dan merugikan daerah lebih besar.
Pengawasan preventif akan lebih bermanfaat dan bermakna jika dilakukan
oleh atasan langsung, sehingga penyimpangan yang kemungkinan dilakukan
akan terdeteksi lebih awal.
4. Pengawasan represif, pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan
setelah kegiatan itu dilakukan. Pengawasan ini umumnya dilakukan pada
akhir tahun anggaran, dimana anggaran yang telah ditentukan kemudian
disampaikan laporannya. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan dan
pengawasan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan.
Pengawasan keuangan daerah merupakan bagian dari pengendalian
internal pemerintah sebagaimana yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah
18
Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).
Pasal 1 peraturan tersebut menyatakan salah satu tujuan dari pengendalian internal
adalah keandalan pelaporan keuangan dan pengamanan aset negara, yang mana
kedua tujuan tersebut berkaitan dengan pengawasan keuangan daerah. Oleh
karena itu, indikator untuk mengukur pengawasan keuangan daerah dapat dilihat
dari unsur-unsur SPIP yang terdiri atas lingkungan pengendalian, penilaian risiko,
kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan. Uraian dari
kelima unsur tersebut yaitu:
1. Lingkungan pengendalian. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib menciptakan
dan memelihara lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif
dan kondusif untuk penerapan Sistem Pengendalian Intern dalam lingkungan
kerjanya, melalui penegakan integritas dan nilai etika, komitmen terhadap
kompetensi, kepemimpinan yang kondusif, pembentukan struktur organisasi
yang sesuai dengan kebutuhan, pendelegasian wewenang dan tanggung jawab
yang tepat, penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang
pembinaan sumber daya manusia, perwujudan peran APIP yang efektif, dan
hubungan kerja yang baik dengan Instansi Pemerintah terkait.
2. Penilaian risiko. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib melakukan penilaian
risiko yang terdiri atas identifikasi risiko dan analisis risiko. Dalam rangka
pelaksanaan penilaian risiko, Pimpinan menetapkan tujuan Instansi
Pemerintah dan tujuan pada tingkatan kegiatan yang bersifat spesifik, terukur,
dapat dicapai, realistis, dan terikat waktu, serta berpedoman pada peraturan
perundang-undangan.
19
3. Kegiatan pengendalian. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib
menyelenggarakan kegiatan pengendalian sesuai dengan ukuran,
kompleksitas, dan sifat dari tugas dan fungsi Instansi Pemerintah yang
bersangkutan. Penyelenggaraan kegiatan pengendalian sekurang kurangnya
memiliki karakteristik yaitu kegiatan pengendalian diutamakan pada kegiatan
pokok Instansi Pemerintah, kegiatan pengendalian harus dikaitkan dengan
proses penilaian risiko, kegiatan pengendalian yang dipilih disesuaikan
dengan sifat khusus Instansi Pemerintah, kebijakan dan prosedur harus
ditetapkan secara tertulis, prosedur yang telah ditetapkan harus dilaksanakan
sesuai yang ditetapkan secara tertulis, dan kegiatan pengendalian dievaluasi
secara teratur untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut masih sesuai dan
berfungsi seperti yang diharapkan.
4. Informasi dan komunikasi. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib
mengidentifikasi, mencatat, dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk
dan waktu yang tepat. Komunikasi atas informasi tersebut wajib
diselenggarakan secara efektif. Oleh karena itu pimpinan Instansi Pemerintah
harus sekurang-kurangnya menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk
dan sarana komunikasi, dan mengelola, mengembangkan, dan memperbarui
sistem informasi secara terus menerus.
5. Pengawasan. Pimpinan Instansi Pemerintah wajib melakukan pemantauan
SPI. Pelaksanaan pemantauan SPI dilakukan dengan pemantauan
berkelanjutan, evaluasi terpisah, dan tindak lanjut rekomendasi hasil audit
dan reviu lainnya. Pemantauan berkelanjutan diselenggarakan melalui
20
kegiatan pengelolaan rutin, supervisi, pembandingan, rekonsiliasi, dan
tindakan lain yang terkait dalam pelaksanaan tugas. Evaluasi terpisah
diselenggarakan melalui penilaian sendiri, reviuw, dan pengujian efektivitas
SPI. Tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan reviuw lainnya harus segera
diselesaikan dan dilaksanakan sesuai dengan mekanisme penyelesaian
rekomendasi hasil audit dan reveuw lainnya yang ditetapkan
Sedangkan menurut Azlan, et al (2019) indikator dalam pengawasan keuangan
daerah yaitu :
1. Bersih dan bebas KKN,
2. Evaluasi kegiatan,
3. Pencatatan transaksi berdasarkan bukti, serta
4. Pencatatan transaksi yang tepat waktu.
Dalam pandangan Rachman (2014) dalam gunawan (2020) menyatakan,
bahwa indikator keberhasilan suatu organisasi pemerintah dalam mencapai
tujuannya banyak ditentukana oleh keberhasilan pengawasan. Jika pengawasan
berjalan dengan baik maka pengawasan merupakan unsur paling pokok dalam
menentukan keberhasilan suatu program. Keberhasilan program pengawasan
sendiri dapat dilihat dari berbagai macam indikator sebagai berikut:
1. Meningkatnya disiplin, prestasi dan pencapaian sasaran pelaksanaan tugas,
antara lain:
a) Rencana yang disusun dapat menggambarkan adanya sasaran yang jelas
dan dapat diukur, terlihat kaitan antara rencana dengan program dan
anggaran.
21
b) Tugas dapat selesai sesuai dengan rencana, baik dilihat dari aspek fisik
maupun biaya;
2. Berkurangnya penyalahgunaan wewenang yaitu berkurangnya tuntutan
masyarakat terhadap pemerintah;
3. Berkurangnya kebocoran, pemborosan dan pungutan liar antara lain:
a) Kualitas dan kuantitas kasus-kasus penyimpangan, penyelewengan,
kebocoran, pemborosan dapat dikurangi sebagaimana laporan
pengawasan fungsional dan laporan pengawasan lainnya
b) berkurangnya tingkat kesalahan dalam pelaksanaan tugas.
Sedangkan menurut Putra dan Indraswarawati (2021) pengawasan
keuangan daerah diukur dengan menggunakan indikator: Kualitas Pengawasan,
Standar Pengawasan, Peningkatan Pengawasan dan Tugas Pengawasan.
2.3. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberi pertanggungjawaban atau
menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang, badan hukum,
pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan
untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban (Adisasmita, 2011). Menurut
Akbar (2012) Akuntabilitas (accountability) secara harfiah dapat diartikan sebagai
pertanggungjawaban, namun penerjemahan secara sederhana ini dapat
mengaburkan arti kata accountability itu sendiri bila dikaitkan dengan pengertian
akuntansi dan manajemen.
Sedangkan menurut UNDP (United Nations Development Program) yang
22
dikutip Novesti (2017), akuntabilitas adalah evaluasi terhadap proses pelaksanaan
kegiatan/kinerja organisasi untuk dapat dipertanggungjawabkan serta sebagai
umpan balik bagi pimpinan organisasi untuk dapat lebih meningkatkan kinerja
organisasi pada masa yang akan datang. Akuntabilitas adalah kewajiban untuk
memberikan informasi termasuk informasi keuangan sebagai wujud
tanggungjawab organisasi (Grey et. Al, 1996 dalam Setiawan, 2017). Selanjutnya,
dalam pasal 7 Undang-undang No.28 Tahun 1999 menjelaskan bahwa yang
dimaksud asas akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan
dan hasil dari kegiatan penyelenggaraan negara harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat/rakyat sebagai pemegang kedaulatan
tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang
berlaku
Dalam pandangan Silvia dan Ansor (2011) menyatakan bahwa terdapat 3
jenis akuntabilitas dalam organisasi antara lain yaitu: akuntanbilitas publik,
akuntabilitas hukum dan kejujuran, akuntabilitas program, akuntabilitas proses,
akuntabilitas kebijakan, dan akuntabilitas finansial.
1. Akuntabilitas Publik adalah kewajiban penerima tanggungjawab untuk
mengelola sumber daya, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas
dan kegiatan yang berkaitan dengan pengguna sumber daya publik kepada
pihak pemberi mandat (principal).
2. Akuntabilitas kejujuran dan hukum , akuntabilitas kejujuran terkait dengan
adanya penghindaran penyalahgunaan jabatan (abuse of power). Sedangkan
akuntabilitas hukum (legal accountability) menjamin adanya peraturan yang terkait
23
dengan supermasi hukum dan peraturan lain dalam organisasi (Silvia dan Azwar,
2011).
3. Akuntabilitas proses, menjelaskan bagaimana proses yang digunakan dalam
melaksanakan tugas, hal ini ditekankan lebih kepada pemberian pelayanan
yang cepat dan responsive. Proses berkaiatan dengan penyelenggaraan atau
pengelolaan organisasi settiap hari. Akuntanbilitas proses terlihat melalui
pemberian pelayanan publik yang cepat dan responsif, sistem infomasi dan
prosedur administrasi.
Sheila Elwood (Amelia, 2018) mengemukakan ada empat jenis
akuntabilitas, yaitu:
1. Akuntabilitas hukum dan peraturan, yaitu akuntabilitas yang terkait dengan
jaminan adanya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan lain yang
diisyaratkan dalam penggunaan sumber dana publik. Untuk menjamin
dijalankannya jenis akuntabilitas ini perlu dilakukan audit kepatuhan.
2. Akuntabilitas proses, yaitu akuntabilitas yang terkait dengan prosedur yang
digunakan dalam melaksanakan tugas apakah sudah cukup baik. Jenis
akuntabilitas ini dapat diwujudkan melalui pemberian pelayanan yang cepat,
responsif, dan murah biaya.
3. Akuntabilitas program, yaitu akuntabilitas yang terkait dengan perimbangan
apakah tujuan yang ditetapkan dapat dicapai dengan baik, atau apakah
pemerintah daerah telah mempertimbangkan alternatif program yang dapat
memberikan hasil optimal dengan biaya yang minimal.
4. Akuntabilitas kebijakan, yaitu akuntabilitas yang terkait dengan
pertanggungjawaban pemerintah daerah dalam terhadap DPRD sebagai
24
legislatif dan masyarakat luas. Ini artinya, perlu adanya transparansi
kebijakan sehingga masyarakat dapat melakukan penilaian dan pengawasan
serta terlibat dalam pengambilan keputusan.
Sedangkan menurut Yango (Raba, 2020) yang menyatakan bahwa ada 4
jenis akuntabilitas, diantaranya yaitu:
1. Traditional atau regulatory accountability. Dimaksudkan bahwa untuk
mempertahankan tingkat efisiensi pelaksanaan administrasi publik yang
mengarah pada perwujudan pelayanan prima, maka perlu akuntabilitas
tradisional atau akuntabilitas regular untuk mendapatkan informasi mengenai
kepatuhan pada peraturan yang berlaku terutama yang terkait dengan aturan
fisikal dan peraturan pelaksanaan administrasi publik disebut juga compliance
accountability.
2. Managerial Accountability, yang menititberatkan pada efisiensi dan
kehematan penggunaan dana, harta kekayaan, sumber daya manusia, dan
sumber-sumber daya lainnya.
3. Program accountability, memfokuskan pada penciptaan hasil operasi
pemerintah. Untuk itu, semua pegawai pemerintah harus dapat menjawab
pertanyaan disekitar penyampaian tujuan pemerintah, bukan sekedar ketaatan
pada peraturan yang berlaku.
4. Process accountability, memfokuskan kepada informasi mengenai tingkat
pencapaian kesejahteraan sosial atas pelaksanaan kebijakan dan
aktivitasaktivitas organisasi, sebab rakyat yang nota bene pemegang
kekuasaan, selayaknya memiliki kemampuan untuk menolak kebijakan
25
pemerintah yang nyatanya sudah merugikan mereka
Dari penjelasan mengenai akuntabilitas serta beberapa jenis dari
akuntabilitas yang telah dipaparkan di atas, maka indikator dari akuntabilitas
yaitu:
1. Pada tahap proses pembuatan sebuah keputusan, meliputi: pembuatan sebuah
keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap warga yang
membutuhkan; pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan
nilai-nilai yang berlaku; adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang
diambil, dan sudah sesuai dengan visi dan misi organisasi, serta standar yang
berlaku; adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi;
konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah ditetapkan
maupun prioritas dalam mencapai target tersebut.
2. Pada tahap sosialisasi kebijakan, meliputi: penyebarluasan informasi
mengenai suatu keputusan, melalui media massa, media nirmassa, maupun
media komunikasi personal; akurasi dan kelengkapan informasi yang
berhubungan dengan cara-cara mencapai sasaran suatu program; akses publik
pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan dibuat dan mekanisme
pengaduan masyarakat; dan ketersediaan sistem informasi manajemen dan
monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah.
Sedangkan menurut Raba (2020) indikator untuk mengukur akuntabilitas
penyelenggaraan pelayanan publik dalam penelitian dilihat melalui indikator-
indikator kinerja yang meliputi:
1. Adanya kepatuhan terhadap prosedur,
26
2. Adanya pelayanan yang murah biaya,
3. Adanya kepatuhan terhadap standar waktu, dan
4. Adanya pelayanan yang responsif.
2.4. Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah
Transparansi adalah salah satu prinsip dari good governance. Transparansi
dibangun atas dasar arus informasi yang bebas, seluruh proses pemerintahan,
lembaga-lembaga dan informasi perlu diakses oleh pihak-pihak yang
berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat dimengerti
dan dipantau (Coryanata,2015).
Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005
menjelaskan bahwa transparan adalah memberikan informasi keuangan yang
terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa
masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas
pertanggungjawaban Pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang
dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada Perundang-undangan. Dalam PP.
Pasal 4 PP No. 58 Tahun 2013 menyebutkan bahwa pengelolaan keuangan daerah
dilakukan secara tertib,taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku,
efisien, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan
dan kepatuhan (Umar, et al, 2018).
Lalolo (2003) menyatakan bahwa transparansi adalah prinsip yang
menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi
tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses
27
pembuatan serta hasil yang dicapai (Sangki et al, 2017).
Transparansi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan
pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat. Melalui transparansi
penyelenggaraan pemerintahan, masyarakat diberikan kesempatan untuk
mengetahui apa yang terjadi dalam pemerintahan, termasuk diantaranya kebijakan
yang akan atau telah diambil oleh pemerintah serta implementasi kebijakan
tersebut (Akmalia, 2020)
Katz (2004) dalam Yahya (2006) menyatakan bahwa transparansi
merupakan proses demokrasi yang esensial di mana setiap warga negara dapat
melihat secara terbuka dan jelas atas aktivitas dari pemerintah mereka daripada
membiarkan aktivitas tersebut dirahasiakan. Selanjutnya pandangan dari Agoes
dan Ardana (2009) yang di kutip Handayani (2015) dimana defenisi transparansi
berati kewajiban bagi para pengelola untuk menjalankan prinsip keterbukaan
dalam proses keputusan dan penyampaian informasi. keterbukaan dalam
menyampaikan informasi juga mengandung arti bahwa informasi yang
disampaikan harus lengkap, benar, dan tepat waktu kepada semua pemangku
kepentingan. Tidak boleh ada hal-hal yang dirahasiakan, disembunyikan, ditutup-
tutupi, atau ditunda-tunda pengungkapannya.
Beberapa manfaat penting dengan adanya transparansi menurut Andrianto
(dalam Reza, 2018), yaitu :
1. Mencegah korupsi;
2. Lebih mudah mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan kebijakan;
3. Meningkatkan akuntabilitas pemerintahan sehingga masyarakat akan lebih
28
mampu mengukur kinerja pemerintah;
4. Meningkatkan kepercayaan terhadap komitmen pemerintah untuk
memutuskan kebijakan tertentu;
5. Menguatkan kohesi, karena kepercayaan publik terhadap pemerintah akan
terbentuk
Reza (2018) terdapat 4 prinsip-prinsip dari transparansi meliputi:
1. Terbuka Adanya akses masyarakat dan stakeholders yang luas untuk terlibat
dalam proses perencanaan, penyusunan, maupun pelaksanaan anggaran
keuangan desa.
2. Bisa diketahui oleh masyarakat luas. Masyarakat dengan mudah mendapatkan
informasi seluas-luasnya yang mudah dan murah bagi seluruh kalangan dari
pemerintah desa, tanpa membedakan status sosial dan ekonomi tentang
keadaan keuangan desa.
3. Keputusan yang diambil melibatkan masyarakat. Keputusan yang diambil
dalam penyusunan pengelolaan dana yang diputuskan melibatkan masyarakat.
4. Adanya ide-ide atau aspirasi dari masyarakat. Pemerintah harus
mengakomodir ide-ide atau aspirasi masyarakat yang kemudian dijadikan
sebuah keputusan.
Sedangkan indikator yang menjadi tolak ukur dari transparansi
(Mardiasmo, dalam pertiwi, 2016) yaitu :
1. Terdapat pengumuman kebijakan mengenai pendapatan, pengelolaan
keuangan dan asset,
2. Tersedia laporan mengenai pendapatan, pengelolaan keuangan, dan aset yang
29
mudah diakses,
3. Tersedia laporan pertanggungjawaban yang tepat waktu,
4. Tersedia sarana untuk suara dan usulan rakyat,
5. Terdapat sistem pemberian informasi pada publik.
2.5. Kinerja Pemerintah Daerah
Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai, karena merupakan
cerminan dari kemampuan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber
dayanya. Selain itu tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk memotivasi
dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang
telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang
diharapkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana
formal yang dituangkan dalam anggaran (Revitasari dan Lisda, 2018).
Moeheriono (2012) mengatakan bahwa kinerja adalah gambaran mengenai
tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam
mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi yang dituangkan melalui perencanaan
strategis. Selanjutnya, dalam peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dinyatakan bahwa kinerja
adalah keluaran/hasil dari kegiatan atau program yang akan atau telah dicapai
sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang
terukur.
Sedangkan Armstrong dan Baron dalam Revitasari dan lisda (2018)
kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan
30
organisasi atau perusahaan, kepuasan dan memberikan kontribusi ekonomi.
Rivai (2013) menyatakan bahwa defenisi dari kinerja yaitu merupakan
suatu istilah secara umum yang digunakan sebagian atau seluruh tindakan atau
aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode dengan suatu referensi pada
sejumlah standar seperti biaya masa lalu yang diproyeksikan dengan dasar
efisiensi, pertanggungjawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya.
Serta Fahmi (2013) mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil yang diperoleh
oleh suatu organisasi baik organisasi tersebut bersifat profit oriented dan non
profit oriented yang dihasilkan selama satu periode waktu.
Kinerja pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian
sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi
pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan
pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur
pemerintah (Gusmal, 2007 dalam Mongeri, 2013).
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja pemerintah daerah atau
kemampuan daerah merupakan salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk
melihat kemampuan daerah dalam menjalankan otonomi daerah
Tercapainya tujuan lembaga merupakan salah satu wujud dari keberhasilan
sebuah lembaga dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Tetapi keberhasilan
tersebut tidak dapat dilihat begitu saja, diperlukan penilaian terhadap kinerja
lembaga dalam hal ini adalah pemerintah daerah. Penilaian kinerja atau penilaian
prestasi kerja tidak dapat dipisahkan dengan dari setiap proses aktivitas sumber
daya manusia.
31
Bastian dalam Agung (2013) mengemukakan bahwa pengukuran dan
pemanfaatan penilaian kinerja akan mendorong pencapaian tujuan
organisasi/lembaga dan akan memberikan umpan balik untuk upaya perbaikan
secara terus menerus. Menurut Indra (2006) indikator pengukuran kinerja adalah
ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu
sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan, 5 komponen yang ada di dalam indikator
pengukuran kinerja yaitu:
1. Masukan (inputs) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar palaksanaan
kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran.
2. Keluaran (outputs) adalah sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari
suatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan/atau nonfisik.
3. Hasil (outcomes) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya
keluaran kegiatan pada jangka menengah (Direct effect).
4. Manfaat (benefit) adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari
pelaksanaan kegiatan.
5. Dampak (impacts) adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun
negatif terhadap setiap tingkatan indikator berdasarkan asumsi yang telah
ditetapkan.
Namun dalam pandangan Mohamad (2006) dalam Hidayat (2015),
Indikator kinerja Pemerintah Daerah terdapat 4 indikator, meliputi:
1. Indikator masukan (Input), adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar
pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran. Misalnya:
jumlah dana yang dibutuhkan, jumlah pegawai yang dibutuhkan, jumlah
32
infrastruktur yang ada, dan jumlah waktu yang digunakan.
2. Indikator proses (Process). Dalam indikator ini, merumuskan ukuran
kegiatan, baik dari segi kecepatan, ketepatan, maupun tingkat akurasi
pelaksanaan kegiatan tersebut. Misalnya: ketaatan pada peraturan
perundangan dan rata-rata yang diperlukan untuk memproduksi atau
menghasilkan layanan jasa.
3. Indikator keluaran (Output), adalah sIndikator keluaran adalah sesuatu yang
diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik
atau nonfisik. Misalnya: jumlah produk atau jasa yang dihasilkan dan
ketepatan dalam memproduksi barang atau jasa..
4. Indikator hasil (Outcomes), adalah segala sesuatu yang mencerminkan
berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah. Misalnya: tingkat
kualitas produk dan jasa yang dihasilkan dan produktivitas para pegawai.
Menurut Mardiasmo (2009) dalam Sinaga (2016) peran indikator kinerja
bagi pemerintah antara lain:
1. Untuk membantu memperjelas tujuan organisasi;
2. Untuk mengevaluasi target akhir (final outcome) yang dihasilkan;
3. Sebagai masukan untuk menentukan skema insentif manajerial;
4. Memungkinkan bagi pemakai jasa layanan pemerintah untuk melakukan
pilihan;
5. Untuk menunjukkan standar kinerja;
6. Untuk menunjukkan efektivitas;
7. Untuk membantu menentukan aktivitas yang memiliki efektivitas biaya yang
33
paling baik untuk mencapai target sasaran, dan
8. Untuk menunjukkan wilayah, bagian, atau proses yang masih potensial untuk
dilakukan penghematan biaya;
Berdasarkan pada indikator dari kinerja, maka makna dari pengukuran
kinerja merupakan suatu proses sistematis untuk menilai apakah program/
kegiatan yang telah direncanakan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana
tersebut, dan yang lebih penting adalah apakah telah mencapai keberhasilan yang
telah ditargetkan pada saat perencanaan (Nordiawan dan Hertianti dalam Sinaga,
2016).
34
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1. Kerangka Konseptual
3.1.1. Hubungan Pengawasan Keuangan Daerah terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah
Menurut Halim dan Iqbal (2012), secara umum pengawasan dapat artikan
sebagai suatu proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus atau
berkesinambungan untuk mengamati, memahami, dan menilai setiap pelaksanaan
kegiatan tertentu sehingga dapat mencegah atau memperbaiki kesalahan atau
penyimpangan yang terjadi. Pengawasan keuangan daerah merupakan bagian
integral dari pengelolaan keuangan daerah. Berdasarkan defenisi, pengawasan
keuangan daerah pada dasarnya mencakup segala tindakan untuk menjamin agar
pengelolaan keuangan daerah berjalan sesuai dengan rencana, ketentuan, dan
undang-undang yang berlaku.
Pengawasan keuangan daerah berkaitan erat dengan kinerja pemerintah
daerah. Hal ini disebabkan karena pencapaian keberhasilan suatu visi dan misi
membutuhkan pengawasan yang baik dan maksimal, baik dalam segi
perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan
sebelumnya. Semakin baik tingkat pengawasan pengelolaan keuangan daerah
maka akan menghasilkan kinerja pemerintah yang baik pula (Purnama dan
Nadirsyah, 2016).
Kinerja pemerintah merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian
35
sasaran ataupun tujuan instansi pemerintah sebagai penjabaran dari visi, misi, dan
strategi instansi pemerintah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan dan
kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan
yang ditetapkan (MenPAN:2007).
3.1.2. Hubungan Akuntabilitas terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Pemerintah akan lebih menekankan aspek akuntabilitas pemerintahan
dalam reformasi birokrasi pemerintahan. Untuk mewujudkan pertanggungjawaban
pemerintah terhadap masyarakat salah satu cara dilakukan dengan menggunakan
prinsip transparansi (keterbukaan).
Kinerja pemerintah berkaitan erat dengan akuntabilitas. Memantapkan
mekanisme transparansi diperlukan manajemen kinerja yang baik. Penerapan
berbagai aturan perundang-undangan yang ada terkait dengan penerapan konsep
akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan diharapkan dapat mewujudkan
pengelolaan pemerintah daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat.
Implementasi akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah diharapkan mampu
meningkatkan kinerja pemerintah daerah (Wiguna, et al, 2015).
3.1.3. Hubungan Transparansi terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Transparansi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan
pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat. Melalui transparansi
penyelenggaraan pemerintahan, masyarakat diberikan kesempatan untuk
mengetahui apa yang terjadi dalam pemerintahan, termasuk diantaranya kebijakan
yang akan atau telah diambil oleh pemerintah serta implementasi kebijakan
tersebut (Akmalia, 2020).
36
Kinerja pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian
sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi
pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan
pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur
pemerintah (Gusmal, 2007 dalam Mongeri, 2013).
Berdasarkan dari hubungan setiap variabel di atas, maka kerangka
konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian
3.2. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan pemaparan pada bab sebelumnya dan di dukung oleh
37
penelitian terdahulu kerangka konseptual yang dibangun dalam penelitian ini,
maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pengawasan keuangan daerah berpengaruh secara parsial terhadap kinerja
pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
2. Akuntabilitas berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah
Kota Pare-Pare.
3. Transparansi pengelolaan keuangan daerah berpengaruh secara parsial
terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
4. Pengawasan keuangan daerah, Akuntabilitas dan Transparansi pengelolaan
keuangan daerah berpengaruh secara simultan terhadap kinerja pemerintah
daerah Kota Pare-Pare.
5. Akuntabilitas memiliki pengaruh yang paling besar terhadap kinerja
pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
3.3. Definisi Operasional Variabel
3.3.1. Pengawasan Keuangan Daerah (X1)
Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan
metode kerja pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi,
untuk membandingkan hasil kerja aktual dengan standar yang telah ditentukan,
untuk menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk
mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua
sumber daya perusahaan atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan
seefisien mungkin guna mencapai tujuan pemerintahan. Pengawasan keuangan
38
daerah dalam penelitian ini diukur dengan indikator (Azlan, et al (2019):
a. Bersih dan Bebas KKN.
b. Evaluasi kegiatan,
c. Pencacatan transaksi berdasarkan bukti,
d. Pencacatan transaksi yang tepat waktu.
3.3.2. Akuntabilitas (X2)
Akuntabilitas adalah bentuk kewajiban pertanggungjawaban seseorang
atau suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk
meminta keterangan terkait kinerja atau tindakan dalam menjalankan misi dan
tujuan organisasi dalam bentuk pelaporan yang telah ditetapkan secara periodik.
Adapun Indikator dari akuntabilitas menurut Raba (2020) penelitian ini yaitu:
1. Kepatuhan terhadap prosedur,
2. pelayanan yang murah biaya,
3. kepatuhan terhadap standar waktu,
4. pelayanan yang responsive.
3.3.3. Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah (X3)
Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan wujud
keterbukaan informasi keruangan kepada publik. Artinya pemerintah
penyelenggara publik harus menyediakan informasi ke publik (masyarakat).
Menurut pandangan Mardiasmo dalam Pertiwi, 2016 terdapat 5 Indikator untuk
mengukur transparansi pengelolaan keuangan daerah, yaitu:
a. Terdapat pengumuman kebijakan,
39
b. Tersedia laporan,
c. Tersedia laporan pertanggungjawaban yang tepat waktu,
d. Tersedia sarana untuk suara dan usulan rakyat,
e. Terdapat sistem pemberian informasi pada publik.
3.3.4. Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Kinerja pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian
sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi
pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan
pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur
pemerintah. Indikator dari kinerja pemerintah daerah (Mohamad, 2006 dalam
Hidayat, 2015) yaitu:
a. Masukan (inputs),
b. Proses (Process),
c. Keluaran (Outputs),
d. Hasil (Outcomes).
40
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kuantitatif dengan
pendekatan penelitian deskriftif dan asosiatif, karena adanya variabel-variabel
yang akan ditelaah hubungannya serta tujuannya untuk menyajikan gambaran
secara terstruktur, faktual, mengenai fakta-fakta hubungannya antara variabel
yang diteliti. Penelitian dengan pendekatan asosiatif ini digunakan untuk menguji
pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas, transparansi pengelolaan keuangan
daerah dan kinerja pemerintah daerah.
4.2. Populasi, Sampel dan Tehnik sampling
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugoyono, 2014), maka populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai kota pare-pare sebanyak 189 orang
pegawai. Dalam penelitian ini, teknik sampling yang digunakan oleh penulis
adalah teknik non probability sampling dan purposive sampling yaitu teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun jumlah sampel
ditentukan dengan rumus slovin sebagai berikut:
N
n=
1+N (e)2
189
n=
1+189 (0,05)2
41
n=128,35
n=128 orang
Dalam hal ini jumlah sampel yang digunakan oleh penulis sebanyak 128
pegawai yang tersebar Kota Pare-Pare.
4.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara
langsung kepada responden untuk memberikan keterangan secara serta data
yang diperlukan yang berupa tulisan.
2. Angket (kuisioner)
Teknik pengolahan data hasil kuisioner menggunakan skala likert dimana alternative
jawaban nilai positif 5 sampai dengan 1. Pemberian skor Pemberian skor dilakukan
atas jawaban responden kemudian diberi skor dengan menggunakan skala likert,
dimana skala ini berisi lima tingkat preferensi jawaban dengan pilihan jawaban
sebagai berikut:
1 = Sangat Tidak Setuju
2 = Tidak Setuju
3 = Kurang Setuju
4 = Setuju
5 = Sangat Setuju
4.4. Uji Instrumen Penelitian
Uji Validitas merupakan alat ukur untuk melihat apakah hasil pengukuran
42
dapat konsisten, yaitu apabila alat ukur yang ada dapat diterapkan pada obyek
yang sama secara berulang-ulang dari menghasilkan ukuran yang mendekati
ukuran yang sebelumnya. Apabila hubungan dari hasil perhitungan dari koaefisien
korelasi mempunyai nilai lebih besar dari nilai kritisnya (0,3) pada taraf 0,05
(5%) maka dikatakan pertanyaan-pertanyaan dikatakan valid.
Adapun uji reliabilitas, dimana uji ini diperlukan untuk mengetahui
kestabilan alat ukur. Sebuah alat ukur dikatakan reliabel, andaikan pengulangan
pengukuran untuk subyek penelitian yang sama menunjukkan hasil yang
konsisten. Pada penelitian ini penulis menggunakan reliabilitas dengan rumus
Alpha Cronbach (α). Suatu instrument dikatakan reliabel apabila mempunyai nilai
alpha lebih besar daripada 0,6
4.5. Uji Asumsi Klasik
Asumsi klasik merupakan persyaratan yang harus dipenuhi pada analisis
regresi berganda. Uji asumsi klasik yang biasa digunakan adalah uji normalitas,
uji multikolinieritas, uji heteroskedesitas dan uji auto korelasi. Adapun
penjelasannya adalah sebagai berikut :
4.5.1. Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2013) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah
dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi
normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual
mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi
tidak valid untuk jumlah sampel kecil. Ada dua cara untuk mendeteksi apakah
residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan cara analisis grafik dan uji
43
statistik.
a) Analisis Grafik
Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah
dengan melihat grafik histrogram yang membandingkan antara data observasi
dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Namun demikian hanya
dengan melihat histrogram hal ini dapat menyesatkan khususnya untuk jumlah
sampel yang kecil. Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal
probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi
normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal dan
ploating data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi
data residual normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya
akan mengikuti garis diagonalnya.
b) Analisis Statistik
Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hati-hati
secara visual kelihatan normal, padahal secara statistik bisa sebaliknya. Oleh
sebab itu dianjurkan disamping uji grafik dilengkapi dengan uji statistik.
Pendeteksian normalitas secara statistik adalah dengan menggunakan
uji Kolmogorov-Smirnov. Uji Kolmogorov-Smirnov merupakan uji normalitas
yang umum digunakan karena di nilai lebih sederhana dan tidak menimbulkan
perbedaan persepsi. Uji Kolmogorov-Smirnov dilakukan dengan tingkat
signifikan 0,05. Untuk lebih sederhana, pengujian ini dapat dilakukan dengan
melihat profitabilitas dari Kolmogorov-Smirnov Z statistik. Jika profitabilitas Z
statistik lebih kecil dari 0,05 maka nilai residiual dalam suatu regresi tidak
44
terdistribusi secara normal (Ghozali, 2007 dalam Duitaningsih, 2012).
4.5.2. Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang
baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel indepen. Jika variabel
independen saling berkolerasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal.
Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama
variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2013:105). Untuk menguji ada
atau tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi salah satunya dapat dilihat
dari (1) nilai tolerance dan lawannya (2) variance inflation factor (VIF). Kedua
ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh
variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel
independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregresi terhadap variabel
independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang
terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi
nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi. (Karena
VIF=1/Tolerance). Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya
multikolonieritas adalah nilai tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan niali VIF ≥ 10.
4.5.3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yng lain.
Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka
disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model
45
regresi yang baik adalah yang Homoskesdastisitas atau tidak terjadi
Heteroskesdastisitas. Kebanyakan data crossection mengandung situasi
heteroskesdastisitas karena data ini menghimpun data yang mewakili berbagai
ukuruan (kecil, sedang dan besar) (Ghozali, 2013:139). Salah satu cara untuk
mendeteksi ada atau tidaknya heteroskesdastisitas yaitu dengan melihat grafik plot
antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residual
SRESID. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan
melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan
ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumber X adalah
residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di-studentized. Jika tidak ada
pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada
sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
4.6. Teknik Analisa Data
4.6.1. Analisis Regresi Berganda
Salah Satu upaya dalam menjawab permasalahan dalam penelitian ini
maka digunakan analisis regresi linear berganda (Multiple Regression). Analisis
regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen
(terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel penjelas atau
bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi atau memprediksi rata-rata populasi
atau nilai- nilai variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang
diketahui (Ghozali, 2016)
Teknik analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda
dengan bantuan program Statistical Package for Social Science (SPSS) Versi 16.
46
Untuk regresi yang variabel independennya terdiri atas dua atau lebih, regresinya
disebut juga regresi berganda. Oleh karena variabel independen diatas mempunyai
variabel yang lebih dari dua, maka regresi dalam penelitian ini disebut regresi
berganda. Persamaan Regresi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
seberapa besar pengaruh variabel independen (bebas) yaitu Pengawasan keuangan
daerah (X1), Akuntabilitas (X2) dan Transparansi pengelolaan keuangan daerah
(X3) terhadap variabel dependen yaitu Kinerja pemerintah daerah (Y).
Adapun persamaan regresi linear berganda dalam bentuk umum yang akan
dugunakan yaitu:
Y = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + ei
Keterangan:
Y = Kinerja pemerintah daerah
b0 = Konstanta
X1 = Pengawasan keuangan daerah
X2 = Akuntabilitas
X3 = Transparansi pengelolaan keuangan daerah
b1,b2,b3 = Koefiesien korelasi
e1 (error) = Kesalahan Prediksi
4.6.2. Pengujian Hipotesis
Uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang
jelas dan dapat dipercaya antara variabel independen terhadap variabel
dependen. Pengujian hipotesis menggunakan uji regresi berganda. Dalam
analisis regresi, dikembangkan sebuah persamaan regresi yaitu suatu formula
47
yang mencari nilai variabel dependen dari nilai variabel independen
yang diketahui. Analisis regresi digunakan untuk tujuan peramalan, di mana
dalam model tersebut ada sebuah variabel dependen dan independen.
Dalam penelitian ini terdapat satu variabel dependen yaitu kinerja
pemerintah daerah, tiga variabel independen yaitu pengawasan keuangan daerah,
akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah, Pengujian hipotesis
ini dilakukan dengan menguji:
[Link]. Uji t (uji parsial)
Digunakan untuk melihat tingkat signifikasi variabel independen
mempengaruhi variabel dependen secara individu atau sendiri-sendiri.
a. Jika Probabilitas t tes > 0,05 maka Ho diterima dan Ha diterima
b. Jika Probabilitas t tes ≤ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha diterima.
[Link]. Uji f (uji secara Bersama-sama/Simultan)
Uji ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh semua variabel
independen mempengaruhi variabel dependen (Bawono,2008).
a) Jika Probabilitas F tes > 0,05 maka Hoditerima
b) Jika Probabilitas F tes ≤ 0,05 maka Ho ditolak atau Ha diterima.
[Link]. Uji R2 (Koefisien determinasi)
Digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh prosentase (%)
keseluruhan variabel independen yang digunakan terhadap variabel dependen
(Gujarati dalam Bawono, 2008). Nilai R2 terletak antara 0 sampai dengan 1.
a) Nilai 0 menunjukkan tidak adanya hubungan antara variabel independen
48
dengan variabeldependen.
b) Nilai 1 menunjukkan adanya hubungan sempurna antara variabel
independen dengan variabel dependen.
Untuk mengetahui apakah variabel independen berpengaruh atau tidak
terhadap variabel dependen maka dapat dilihat dari taraf signifikansinya dengan
standar signifikansi 5%. Apabila tingkat signifikansi yang diperoleh dari hasil
lebih dari 5% maka hipotesis ditolak, sebaliknya jika hasil uji hipotesis berada
diantara 0-5% maka hipotesis diterima. Untuk melihat regresi yang dihasilkan
berpengaruh positif atau negatif melalui koefisien beta (β). Apabila koefisien
beta memiliki tanda minus (-) berarti pengaruh yang dihasilkan adalah negatif,
sebaliknya apabila koefisien beta tidak memiliki tanda minus (-),maka arah
pengaruh adalah positif (+).
49
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Profil Obyek Penelitian
Diawal perkembangannya dataran tinggi yang sekarang ini, yang disebut
Kota Parepare, dahulunya adalah merupakan semak-semak belukar yang diselang-
selingi oleh lubang-lubang tanah yang agak miring tempat tumbuhnya semak-
semak tersebut secara liar dan tidak teratur, mulai dari utara (Cappa Ujung)
hingga ke jurusan selatan kota. Kemudian dengan melalui proses perkembangan
sejarah sedemikian rupa dataran itu dinamakan Kota Parepare.
Lontara Kerajaan Suppa menyebutkan, sekitar abad XIV seorang anak
Raja Suppa meninggalkan Istana dan pergi ke selatan mendirikan wilayah
tersendiri pada tepian pantai karena hobbynya memancing. Wilayah itu kemudian
dikenal sebagai kerajaan Soreang, kemudian satu lagi kerajaan berdiri sekitar abad
XV yakni Kerajaan Bacukiki.
Dalam satu kunjungan persahabatan Raja Gowa XI, Manrigau Dg. Bonto
Karaeng Tonapaalangga (1547-1566) berjalan-jalan dari kerajaan Bacukiki ke
Kerajaan Soreang. Sebagai seorang raja yang dikenal sebagai ahli strategi dan
pelopor pembangunan, Kerajaan Gowa tertarik dengan pemandangan yang indah
pada hamparan ini dan spontan menyebut “Bajiki Ni Pare” artinya “Baik dibuat
pelabuhan Kawasan ini”. Sejak itulah melekat nama “Parepare” Kota Pelabuhan.
Parepare akhirnya ramai dikunjungi termasuk orang-orang melayu yang datang
50
berdagang ke kawasan Suppa.
Melihat posisi yang strategis sebagai pelabuhan yang terlindungi oleh
tanjung di depannya, serta memang sudah ramai dikunjungi orang-orang, maka
Belanda pertama kali merebut tempat ini kemudian menjadikannya kota penting
di wilayah bagian tengah Sulawesi Selatan. Di sinilah Belanda bermarkas untuk
melebarkan sayapnya dan merambah seluruh dataran timur dan utara Sulawesi
Selatan. Hal ini yang berpusat di Parepare untuk wilayah Ajatappareng.
Pada zaman Hindia Belanda, di Kota Parepare, berkedudukan seorang
Asisten Residen dan seorang Controlur atau Gezag Hebber sebagai Pimpinan
Pemerintah (Hindia Belanda), dengan status wilayah pemerintah yang dinamakan
“Afdeling Parepare” yang meliputi, Onder Afdeling Barru, Onder Afdeling
Sidenreng Rappang, Onder Afdeling Enrekang, Onder Afdeling Pinrang dan
Onder Afdeling Parepare.
Pada setiap wilayah/Onder Afdeling berkedudukan Controlur atau Gezag
Hebber. Disamping adanya aparat pemerintah Hindia Belanda tersebut, struktur
Pemerintahan Hindia Belanda ini dibantu pula oleh aparat pemerintah raja-raja
bugis, yaitu Arung Barru di Barru, Addatuang Sidenreng di Sidenreng Rappang,
Arung Enrekang di Enrekang, Addatung Sawitto di Pinrang, sedangkan di
Parepare berkedudukan Arung Mallusetasi.
Struktur pemerintahan ini, berjalan hingga pecahnya Perang Dunia II yaitu
pada saat terhapusnya Pemerintahan Hindia Belanda sekitar tahun 1942. Pada
zaman kemerdekaan Indonesia tahun 1945, struktur pemerintahan disesuaikan
dengan undang-undang no. 1 tahun 1945 (Komite Nasional Indonesia). Dan
51
selanjutnya Undang-undang Nomor 2 Tahun 1948, dimana struktur
pemerintahannya juga mengalami perubahan, yaitu di Daerah hanya ada Kepala
Daerah atau Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) dan tidak ada lagi semacam
Asisten Residen atau Ken Karikan.
Pada waktu status Parepare tetap menjadi Afdeling yang wilayahnya tetap
meliputi 5 Daerah seperti yang disebutkan sebelumnya. Dan dengan keluarnya
Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan dan pembagian
Daerah-daerah tingkat II dalam wilayah Propinsi Sulawesi Selatan, maka ke
empat Onder Afdeling tersebut menjadi Kabupaten Tingkat II, yaitu masing-
masing Kabupaten Tingkat II Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang dan Pinrang,
sedang Parepare sendiri berstatus Kota Praja Tingkat II Parepare. Kemudian pada
tahun 1963 istilah Kota Praja diganti menjadi Kotamadya dan setelah keluarnya
UU No. 2 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka status Kotamadya
berganti menjadi “KOTA” sampai sekarang ini.
Didasarkan pada tanggalpelantikan dan pengambilan sumpah
Walikotamadya Pertama H. Andi Mannaungi pada tanggal 17 Februari 1960,
maka dengan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah No. 3 Tahun
1970 ditetapkan hari kelahiran Kotamadya Parepare tanggal 17 Februari 1960.
5.1.2. Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah
diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin, usia, pekerjaan dan pendidikan
responden. Berikut ini akan dibahas mengenai kondisi dari masing-masing
klasifikasi responden tersebut.
52
[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Untuk mengetahui gambaran dari karakteristik responden berdasarkan
tingkat usia dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.1 Responden berdasarkan Usia
Rentang Usia Jumlah responden Persentase
21-30 tahun 39 30,5 %
31–40 tahun 75 58,6 %
41-50 tahun 14 10,9 %
Jumlah 128 100,0 %
Sumber: Data primer diolah, 2021
Pada tabel 5.1 dapat dideskripsikan bahwa jumlah responden yang berusia
antara 21-30 tahun sebanyak 39 responden dengan presentase sebesara 30,5 %,
untuk responden yang memiliki rentang usia 31-40 tahun sebanyak 75 responden
atau sebesar 58,6%. Serta terdapat responden yang telah berusia antara 41-50
tahun. Denga jumlah reponden sebesar 14 orang (10,9%) Hal ini mengindikasikan
bahwa pegawai yang bekerja di Pemerintahan Daerah Kota Pare-Pare didominasi
oleh pegawai yang berusia antara 31-40 tahun.
[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Gambaran dari karakteristik responden berdasarkan pada jenis kelamin
dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.2. Responden berdasarkan Jenis Kelamin
Gender Jumlah Persentase
Pria 102 79,7 %
Wanita 26 20,3 %
Jumlah 128 100,0 %
Sumber: Data primer diolah, 2021
53
Pada tabel 5.2 dapat dideskripsikan bahwa jumlah responden yang berjenis
kelamin pria sebanyak 102 responden dengan presentase sebesara 79,7 % dadna
untuk responden yang berjenis kelamin wanita responden sebanyak 20,3% atau
sebesar 26 responden. Hal ini mengindikasikan bahwa pegawai yang bekerja di
Pemerintahan Daerah Kota Pare-Pare didominasi oleh pegawai yang berjenis
kelamin Pria..
[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Untuk mengetahui gambaran dari karakteristik responden berdasarkan
tingkat pendidikam terakhirnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.3. Responden berdasarkan Pendidikan Terakhir
Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase
S1 115 89,8 %
S2 13 10,2 %
Jumlah 128 100,0 %
Sumber: Data primer diolah, 2021
Pada tabel 5.3 dapat dideskripsikan bahwa jumlah responden yang
memiliki pendidikan terakhir S1 sebanyak 115 responden dengan persentase
89,8%, dan responden yang tingkat pendidikan terkahirnya S2 sebanyak 13 orang
(10,2). Hal ini mengindikasikan bahwa pegawai yang bekerja di Pemerintahan
Daerah Kota Pare-Pare didominasi oleh pegawai yang memiliki tingkat
pendididkan S1.
[Link]. Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja
Untuk mengetahui gambaran dari karakteristik responden berdasarkan
masa pengabdian atau lama bekerja dapat dilihat pada tabel berikut ini:
54
Tabel 5.4. Responden berdasarkan Lama Bekerja
Lama bekerja Jumlah Persentase
1-10 tahun 96 75,0 %
11-20 tahun 13 10,2 %
21-30 tahun 11 8,6 %
31-40 tahun 8 6,3%
Jumlah 128 100,0 %
Sumber: Data primer diolah, 2021
Pada tabel 5.4 dapat dideskripsikan bahwa jumlah responden yang telah
bekerja anatara 1 – 10 tahun sebanyak 96 orang (75,0%), responden yang lama
bekerjanya antara 11-30 tahun sebanyak 13 orang atau 10,2%, dan terdapat 11
responden (8,6%) yang lama bekerjase antara 21-30 tahun serta terdapat 8
responden dengan persentase sebesar 6,2% yang telah bekerja dengan rentang
waktu antara 31-40 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa pegawai yang bekerja
di Pemerintahan Daerah Kota Pare-Pare didominasi oleh pegawai yang masa
Kerjanya kurang dari 11 tahun.
5.1.3. Deskripsi Variabel Penelitian
[Link]. Pengawasan Keuangan Daerah (X1)
Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja
standar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk
membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk
menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan tersebut, serta untuk
mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua
55
sumber daya perusahaan atau pemerintahan telah digunakan seefektif dan
seefisien mungkin guna mencapai tujuan pemerintahan. Adapun indikator yang
digunakan dalam penelitian mengacu pada pandangan dari Azlan et al., yaitu
sebagai berikut:
1) Bersih dan Bebas KKN (X1.1),
2) Evaluasi Kegiatan (X1.2),
3) Pencatatan Transaksi Berdasarkan Bukti (X1.3), dan
4) Pencatatan Transaksi Yang tepat waktu (X1.4).
Adapun interpretasi jawaban dari masing-masing responden dapat dilihat
pada tabel berikut ini:
Tabel 5.5. Tanggapan Responden mengenai Pengawasan Keuangan Daerah
(X1)
Pilihan Jawaban Rata-
Indikator STS TS RR S SS rata
(X1.1) 7 3 19 40 59 4,10
(5,5%) (2,3%) (14,8%) (31,2%) (46,1%)
(X1.2) 1 - 16 69 42 4,18
(0,8%) (12,5%) (53,9%) (32,8%)
(X1.3) 7 2 10 47 62 4,21
(5,5%) (1,6%) (7,8%) (36,7%) (48,4%)
(X1.4) 1 2 14 62 51 4,23
(0,8%) (1,6%) (10,9) (48,9%) (39,8%)
Total mean 4,18
Sumber: Data primer diolah, 2021
Berdasarkan tabel 5.5 diatas terlihat bahawa indikator X1.4 memiliki nilai
mean sebesar 4,23 sehingga dapat diartikan bahwa pencatatan transaksi yang tepat
waktu dinilai tinggi oleh responden. Dengan jawaban responden meliputi yang
menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 7 orang (5,5%), yang menjawab tidak
setuju sebanyak 3 orang (2,3%) yang menjawab ragu-ragu sebanyak 19 orang
56
(14,8%), yang menjawab setuju 40 orang (31,2%) serta yang menjawab sangat
setuju sebanyak 59 orang (46,1%).
Indikator X1.1 memiliki nilai mean sebesar 4,10 sehingga dapat diartikan
bahwa indikator Bersih dan Bebas KKN dinilai rendah oleh responden. Dengan
jawaban responden meliputi yang menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 1
orang (0,8%), yang menjawab ragu-ragu sebanyak 16 orang (12,5%), yang
menjawab setuju 69 orang (59,3%) serta yang menjawab sangat setuju sebanyak
42 orang (32,8%).
[Link]. Akuntabilitas (X2)
Akuntabilitas adalah bentuk kewajiban pertanggungjawaban seseorang
atau suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk
meminta keterangan terkait kinerja atau tindakan dalam menjalankan misi dan
tujuan organisasi dalam bentuk pelaporan yang telah ditetapkan secara periodik
Indikator yang digunakan untuk mengukur akuntabilitas menurut Raba (2020)
adalah:
1) Kepatuhan terhadap prosedur (X2.1),
2) Pelayanan yang murah biaya (X2.2),
3) Kepatuhan pada standar waktu (X2.3), dan
4) Pelayanan yang responsif (X2.4).
Adapun interpretasi jawaban dari masing-masing responden dapat dilihat
pada tabel berikut ini:
57
Tabel 5.6. Tanggapan Responden mengenai akuntabilitas (X2)
Pilihan Jawaban Rata-
Indikator STS TS RR S SS rata
4 16 68 40
(X2.1) - 4,09
(3,1%) (12,5%) (53,1%) (31,2%)
3 18 63 44
(X2.2) - 4,16
(2,35) (14,1%) (49,2%) (34,4%)
1 7 18 64 38
(X2.3) 4,02
(0,8%) (5,5%) (14,1%) (50,4%) (29,7%)
1 1 10 74 42
(X2.4) 4,21
(0,8%) (0,8%) (7,8%) (57,8%) (32,6%)
Total mean 4,12
Sumber: Data primer diolah, 2021
Berdasarkan tabel 5.6 diatas terlihat bahawa indikator X2.4 memiliki nilai
mean sebesar 4,21 sehingga dapat diartikan bahwa Pelayanan yang responsif
dinilai tinggi oleh responden. Dengan jawaban responden meliputi: yang
menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 1 orang (0,8%), yang menjawab tidak
setuju sebanyak 1 orang (0,8%), yang menjawab ragu-ragu sebanyak 10 orang
(7,8%), yang menjawab setuju 74 orang (57,8%) serta yang menjawab sangat
setuju sebanyak 42 orang (32,6%).
Indikator X2.3 memiliki nilai mean terendah yaitu sebesar 4,02 sehingga
dapat diartikan bahwa Kepatuhan pada standar waktu dinilai rendah oleh
responden. Dengan jawaban responden meliputi yang menyatakan sangat tidak
setuju sebanyak 1 orang (0,8%), yang menjawab tidak setuju 7 orang (5,5%), yang
menjawab ragu-ragu sebanyak 18 orang (14,1%), yang menjawab setuju 64 orang
(50,0%) serta yang menjawab sangat setuju sebanyak 38 orang (29,7%).
[Link]. Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah (X3)
Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan wujud
58
keterbukaan informasi keruangan kepada publik. Artinya pemerintah
penyelenggara publik harus menyediakan informasi ke publik (masyarakat)..
Indikator yang digunakan untuk mengkur transparansi pengelolaan keuangan
daerah menurut pendapat dari Mardiasmo dalam Pertiwi (2016), meliputi:
1) Terdapat pengumuman kebijakan (X3.1),
2) Tersedianya Laporan (X3.2),
3) Tersedianya laporan pertanggung jawaban yang tepaat waktu
(X3.3),
4) Tersedianya sarana untuk suara dan usulan (X3.4), dan
5) Terdapat sistem pemberian informasi pada publik (X3.5),
Adapun interpretasi jawaban dari masing-masing responden dapat dilihat
pada tabel berikut ini:
Tabel 5.7. Tanggapan Responden mengenai Transparansi Pengelolaan
Keuangan Daerah (X3)
Pilihan Jawaban Rata-
Indikator STS TS RR S SS rata
2 3 19 73 31
(X3.1) 4,00
(1,6%) (2,3%) (14,8%) (57,0%) (24,2%)
5 3 11 64 46
(X3.2) 4,12
(3,9%) (1,6%) (8,6%) (50,0%) (35,9%)
3 1 20 65 39
(X3.3) 4,06
(2,3) (0,8%) (15,8%) (50,8%) (30,5%)
2 2 19 71 34
(X3.4) 4,04
(1,6%) (1,6%) (14,8%) (55,5%) (26,6%)
1 8 10 76 33
(X3.5) 4,03
(0,8%) (6,2%) (7,8%) (59,4%) (25,8%)
Total mean 4,12
Sumber: Data primer diolah, 2021
Berdasarkan tabel 5.7 diatas terlihat bahawa indikator X3.2 memiliki nilai
mean sebesar 4,12 sehingga dapat diartikan bahwa Tersedianya Laporan (X3.2),
59
dinilai tinggi oleh responden. Dengan jawaban responden meliputi yang
menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 5 orang (3,9%), yang menjawab tidak
setuju sebanyak 2 orang (1,6%) yang menjawab ragu-ragu sebanyak 11 orang
(8,6%), yang menjawab setuju 64 orang (50,0%) serta yang menjawab sangat
setuju sebanyak 46 orang (35,9%).
Indikator X3.1 memiliki nilai mean sebesar 4,00 sehingga dapat diartikan
bahwa indikator mengenai Terdapat pengumuman kebijakan diniliai rendah oleh
responden. dengan jawaban responden meliputi yang menyatakan sangat tidak
setuju sebanyak 2 orang (1,6%), yang menjawab tidak setuju 3 orang (2,3%), yang
menjawab ragu-ragu sebanyak 19 orang (14,8%), yang menjawab setuju 73 orang
(57,0%) serta yang menjawab sangat setuju sebanyak 31 orang (24,2%).
[Link]. Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Kinerja pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian
sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi
pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan
pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur
pemerintah. Kinerja pemerintah daerah dalam penelitian ini diukur dengan
menggunakan indikator menurut pandangan dari Mohammad (2006) dalam
Hidayat (2015):
1) Masukan (Inputs) (Y.1),
2) Proses (Process) (Y.2),
3) Keluaran (Outputs) (Y.3), dan
60
4) Hasil (Outcome) (Y.4)
Adapun interpretasi jawaban dari masing-masing responden dapat dilihat
pada tabel berikut ini:
Tabel 5.8. Tanggapan Responden mengenai Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Pilihan Jawaban Rata-
Indikator STS TS RR S SS rata
4 3 11 57 53
(Y.1) 4,19
(3,1%) (2,3%) (8,6%) (44,5%) (41,4%)
15 72 41
(Y.2) - - 4,20
(11,7%) (56,2%) (32,0%)
7 2 8 52 59
(Y.3) 4,20
(5,5%0 (1,6%) (6,2%) (40,6%) (46,1%)
8 7 60 53
(Y.4) - 4,23
(6,2%) (5,5%) (46,9%) (41,4%)
Total mean 4,21
Sumber: Data primer diolah, 2021
Berdasarkan tabel 5.8 diatas terlihat bahwa indikator Y.4 memiliki nilai
mean sebesar 4,23 sehingga dapat diartikan bahwa hasil (outcome) dinilai tinggi
oleh responden. Dengan jawaban responden meliputi yang menyatakan tidak
setuju sebanyak 8 orang (6,2%), yang menjawab ragu-ragu sebanyak 7 orang
(5,5%), yang menjawab setuju 60 orang (46,9%) serta yang menjawab sangat
setuju sebanyak 53 orang (41,4%).
Indikator Y.1 memiliki nilai mean sebesar 4,19 sehingga dapat diartikan
bahwa indikato masukan (inputs) dinilai rendah oleh responden. Dengan jawaban
responden meliputi yang menyatakan sangat tidak setuju sebanyak 4 orang
(3,1%), yang menjawab tidak setuju sebanyak 3 orang (2,3%), yang menjawab
ragu-ragu sebanyak 11 orang (8,6%), yang menjawab setuju 57 orang (44,5%)
serta yang menjawab sangat setuju sebanyak 53 orang (41,4%).
61
5.1.4. Uji Instrumen Penelitian
Dalam penelitian, pengujian instrumen diperlukan untuk mengetahui
apakah alat ukur yang digunakan dalam penelitian layak atau tidak. Dalam
penelitian ini instrumen yang digunakan dalam bentuk kuesioner, sehingga perlu
dilakukan pengujian validitas dan realibilitas. Berikut adalah hasil pengujian
validitas dan reliabilitas pengujian intrumen penelitian:
Tabel 5.9. Hasil Uji Instrumen Penelitian
Variabel Indikator r Hitung Cut Off Point > 0,3 Ket
X1.1 0,894 > 0,3 Valid
Pengawasan X1.2 0,711 > 0,3 Valid
Keuangan Daerah
X1.3 0,892 > 0,3 Valid
(X1)
X1.4 0,829 > 0,3 Valid
Cronbach’s Alpha 0,849 > 0,6 Reliabel
X2.1 0,824 > 0,3 Valid
Akuntabilitas
X2.2 0,782 > 0,3 Valid
(X2)
X2.3 0,845 > 0,3 Valid
X2.4 0,822 > 0,3 Valid
Cronbach’s Alpha 0,833 > 0,6 Reliabel
X3.1 0,791 > 0,3 Valid
Transparansi X3.2 0,902 > 0,3 Valid
Pengelolaan X3.3 0,830 > 0,3 Valid
Keuangan Daerah
X3.4 0,828 > 0,3 Valid
(X3)
X3.5 0,909 > 0,3 Valid
Cronbach’s Alpha 0,906 > 0,6 Reliabel
Y.1 0,913 > 0,3 Valid
Kinerja Pemerintah Y.2 0,778 > 0,3 Valid
Daerah
Y.3 0,928 > 0,3 Valid
(Y)
Y.4 0,938 > 0,3 Valid
Cronbach’s Alpha 0,909 > 0,6 Reliabel
Sumber: Data primer diolah, 2021
Berdasarkan dari tabel di atas (5.9) untuk hasil pengujian validitas pada
variabel pengawasan keuangan daerah memiliki nilai pearson correlation lebih
besar dari cut of point 0,3 dengan rentang nilai 0,711-0,894, pada variabel
akuntabilitas memiliki nilai r hitung 0,782-0,845, variabel transparansi
62
pengelolaan keuangan daerah memiliki nilai r hitung 0,791-0,909 dan untuk
variabel kinerja pemerintah daerah memilik nilai r hitung 0,778-0,938. Sedangkan
untuk hasil pengujian reliabilitas dari 4 variabel yang di teliti memiliki cronbach
alpha lebih dari 0,6 dengan rentang nilai yaitu 0,833 – 0,909. Sehingga dapat di
simpulkan bahwa data yang digunakan untuk penelitian valid (saha) dan reliabel
(Handal).
5.1.5. Uji Asumsi Klasik
[Link]. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas dan
terikat mempunyai distribusi daya yang normal atau tidak melalui pengujian
metode grafis, dimana bila data menyebar disekitar dan mengikuti garis diagonal
maka model regresi memenuhi asumsi normalitas (Santoso, 2012). Model regresi
yang baik adalah yang mempunyai distribusi data normal atau mendekati normal.
Adapun hasil uji normalitas sebagai berikut:
63
Gambar 5.1. Hasil Uji Normalitas
Berdasarkan hasil uji normalitas pada Gambar 5.1, nampak bahwa data
menyebar disekitar dan mengikuti garis diagonal. Olehnya itu, data yang
digunakan telah memenuhi kriteria asumsi normalitas atau data berdistribusi
normal. Menurut Santoso (2012), bahwa untuk memastikan kriteria normalitas,
maka diperlukan uji kolmogrov-smirnov Z dengan asumsi Asymp sig. (2-tailed) >
0,05 (normal). Sebaliknya apabila Asymp sig. (2-tailed) < 0,05 tidak normal, yang
hasil pengujiannya tampak pada Tabel berikut ini.
Tabel 5.10. Hasil Uji Normalitas Data
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 128
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation 1.68196536
Most Extreme Differences Absolute .115
Positive .115
Negative -.108
Kolmogorov-Smirnov Z 1.296
Asymp. Sig. (2-tailed) .069
a. Test distribution is
Normal. Sumber : Data
Primer diolah, 2021
Berdasarkan hasil pengujian normalitas pada tabel 5.14 melalui uji statistik
non-parametrik, menunjukkan bahwa nilai Asymp sig. (2-tailed) > 0,05 yaitu
0,069. Hal Ini berarti, asumsi normalitas terhadap data yang dipergunakan telah
terpenuhi.
[Link]. Uji Heteroskedastisitas
64
Terjadinya heterokedastisitas ditunjukkan dengan adanya ketidaksamaan
varian nilai residual antara variabel-variabel bebas melalui perhitungan uji
koefisien korelasi Rank Spearman yang mengkorelasikan antara nilai absolute
residual dengan setiap variabel bebas. Bila probabilitas hasil korelasi lebih kecil
dari 0,05 maka persamaan regresi yang terbentuk mengandung gejala
heteroskedastisitas, maupun sebaliknya. Hasil uji heteroskedasitas yang dilakukan
dengan bantuan software SPSS versi 16 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.11. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Correlations
Transparansi
Pengawasan Pengelolaan
Keuangan Akuntabilitas Keuangan
Daerah (X1) (X2) Daerah (X3) Abs_Res
Spearman's Pengawasan Correlation
1.000 .621** .531** -.143
rho Keuangan Daerah Coefficient
(X1)
Sig. (2-tailed) . .000 .000 .108
N 128 128 128 128
Akuntabilitas (X2) Correlation
.621** 1.000 .437** -.051
Coefficient
Sig. (2-tailed) .000 . .000 .564
N 128 128 128 128
Transparansi Correlation
.531** .437** 1.000 -.148
Pengelolaan Coefficient
Keuangan Daerah
Sig. (2-tailed) .000 .000 . .096
(X3)
N 128 128 128 128
Abs_Res Correlation
-.143 -.051 -.148 1.000
Coefficient
Sig. (2-tailed) .108 .564 .096 .
N 128 128 128 128
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber : Data Primer diolah, 2021
Berdasarkan Tabel 5.11 yang merupakan hasil uji heteroskedastisitas,
menunjukkan bahwa korelasi antara pengawasan keuangan daerah (X1),
akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap nilai
65
absolute residual (abs_res) memiliki nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu
0,108; 0,564; dan 0,096. Dikarenakan korelasi antara nilai absolute residual
(abs_res) dengan setiap variabel memiliki nilai probabilitas atau signifikansi >
0,05, sehingga tidak menunjukkan adanya gejala heteroskedasitas terhadap model
penelitian ini.
[Link]. Uji Multikolinearitas
Uji Multikolonieritas bertujuan untuk mendeteksi gejala multikolonieritas
dilakukan dengan cara melihat nilai (VIF) Variance Inflation Factor (Ghozali,
2011). Pada perhitungan ini tidak ada satupun variabel bebas yang memiliki VIF
lebih dari 10, maka data ini dapat dikatan bebas multikolonieritas.
Sedangkan berdasarkan nilai tolerance tidak ada satupun variabel bebas
yang memiliki tolerance kurang dari 0,1. Untuk hasilnya dapat dilihat dari tabel
5.12 berikut:
Tabel 5.12. Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 (Constant)
Pengawasan Keuangan Daerah (X1) .303 3.306
Akuntabilitas (X2) .323 3.1098
Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah
.458 2.183
(X3)
a. Dependent Variable: Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Sumber : Data Primer diolah, 2021
Berdasarkan Tabel 5.12, terlihat bahwa nilai Tolerance pada masing-
66
masing variabel bebas tidak ada yang memiliki nilai Tolerance kurang dari 0,10,
serta nilai variance inflating factor (VIF) pada setiap variabel sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas antar variabel independen yang
meliputi pengawasan keuangan daerah (X1); akuntabilitas dan transparansi
pengelolaan keuangan daerah (X3) dalam model regresi dalam penelitian ini
dikarenakan nilai VIF < 10.
5.1.6. Analisis Data
[Link]. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Dari hasil pengolahan data yang peneliti lakukan menggunakan program
SPSS dengan metode analisis regresi untuk menguji pengaruh pengawasan
keuangan daerah (X1), akuntabilitas (X2) dan transparansi pengelolaan keuangan
daerah (X3) terhadap kinerja pemerintah daerah (Y) di Kota Pare-Pare, dapat
dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 5.13. Hasil Analisis Regresi Berganda
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) .238 1.019 .234 .816
Pengawasan Keuangan
.278 .090 .277 3.076 .003
Daerah (X1)
Akuntabilitas (X2) .439 .104 .369 4.235 .000
Transparansi Pengelolaan
.233 .063 .271 3.697 .000
Keuangan Daerah (X3)
a. Dependent Variable: Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Berdasarkan Tabel 5.14, maka diperoleh model persamaan regresi dalam
penelitian ini sebagai berikut:
67
Y = a + þ1X1 + þ2X2 + þ3X3 + s
Y = 0,238 + 0,378 X1 + 0,439 X2 + 0,233 X3 + e
Keterangan:
X1 = Pengawasan keuangan daerah
X2 = Akuntabilitas
X3 = Transparansi pengelolaan keuangan daerah
Y = Kinerja pemerintah daerah
Dengan interrpretasinya sebagai berikut:
Nilai a = 0,238, artinya apabila pengawasna keuangan daerah,
akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah bernilai atau sama
dengan 0, maka nilai kinerja pemerintah daerah meningkat sebesar 0,238 poin.
Nilai β1X1 = 0,378, artinya apabila pengawasan keuangan daerah naik 1 poin
dengan asumsi variabel akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan
daerah konstan, maka kinerja pemerintah daerah meningkat sebesar 0,378 poin
dengan tingkat signifikansi sebesar 0,003 dan kurang dari taraf sig. yaitu 0,05
yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara pengawasan keuangan
daerah terhadap kinerja pemerintah daerah. Nilai β2X2 = 0,439, artinya apabila
akuntabilitas naik 1 poin dan pengawasan keuangan daerah serta transparansi
pengelolaan keuangan daerah konstan, maka kinerja pemerintah daerah akan
meningkat sebesar 0,439 poin dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 dan
kurang dari taraf sig. yaitu 0,05 yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan
antara akuntabilitas terhadap kinerja pemerintah daerah. Nilai β3X3 = 0,233,
artinya apabila transparansi pengelolaan keuangan daerah naik 1 poin dan
68
pengawasan keuangan daerah serta akuntabilitas konstan, maka kinerja
pemerintah daerah akan meningkat sebesar 0,233 poin. dengan tingkat
signifikansi sebesar 0,000 dan kurang dari taraf sig. yaitu 0,05 yang berarti
terdapat pengaruh yang signifikan antara transparansi pengelolaan keuangan
daerah terhadap kinerja pemerintah daerah
Berdasarkan interpretasi hasil uji persamaan regresi diatas, dapat diketahui
bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah
adalah akuntabilitas (X2) yaitu 0,439 jika dibandingkan dengan variabel lainnya.
[Link]. Uji Hipotesis secara Parsial
Untuk melakukan uji-t digunakan tabel coefficient, seperti yang telah
tercantum pada tabel 5.13 di atas. Uji-t dilakukan untuk mengetahui apakah antara
variabel pengawasan keuangan daerah; akuntabilitas; dan transparansi
pengelolaan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah mempunyai
pengaruh yang nyata atau tidak.
Berdasarkan data tabel 5.13 untuk diperoleh t-hitung sebesar 3,076 untuk
koefisien korelasi antara pengawasan keuangan daerah terhadap kinerja
pemerintah daerah. Hal ini berarti nilai t-hitung sebesar 3,076 pada tingkat
probabilitas 0,05 (95%) diperoleh t-tabel sebesar 1,979 serta tingkat
signifikansinya di bawah dari taraf signifikansi 0,05 (0,003) Hasil uji-t tersebut
dikaitkan dengan hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini yaitu
Pengawasan keuangan daerah berpengaruh secara parsial terhadap kinerja
pemerintah daerah Kota Pare-Pare. Hal ini bermakna bahwa uintuk hipotesi
pertama terbukti. Selanjutnya untuk nilai koefisien korelasi antara akuntabilitas
69
terhadap kinerja pemerintah daerah memiliki t hitung sebesar 4,235 pada tingkat
probabilitas 0,05 (95%) diperoleh t-tabel sebesar 1,979 serta tingkat
signifikansinya di bawah dari taraf signifikansi 0,05 (0,000), hasil uji-t tersebut
dikaitkan dengan hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini yaitu
akuntabilitas berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah Kota
Pare-Pare. Hal ini bermakna bahwa uintuk hipotesi terbukti terbukti. Untuk nilai
koefisien korelasi antara transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap
kinerja pemerintah daerah memiliki t hitung sebesar 3,697 pada tingkat
probabilitas 0,05 (95%) diperoleh t-tabel sebesar 1,979 serta tingkat
signifikansinya di bawah dari taraf signifikansi 0,05 (0,000), hasil uji-t tersebut
dikaitkan dengan hipotesis ketiga yang diajukan dalam penelitian ini yaitu
transparansi pengelolaan keuangan daerah berpengaruh secara parsial terhadap
kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare. Hal ini bermakna bahwa uintuk
hipotesi terbukti terbukti.
Berdasarkan pada Tabel 5.13 juga ditemukan bahwa variabel yang
memiliki nilai koefesien korelasi yang besar yaitu variabel akuntabilitas (0,439)
sehingga hipotesis kelima yang menyatakan akuntabilitas memiliki pengaruh yang
paling besar terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare terbukti.
[Link].Uji Hipotesis secara Simultan
Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama yaitu
variabel pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan
keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.. Uji F
dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel, dengan asumsi.
70
Berikut ini adalah hasil pengujian hipotesis secara simultan:
Tabel 5.14. Hasil Uji Hipotesis secara Simultan
ANOVAb
Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 820.935 3 273.645 94.443 .000a
Residual 359.284 124 2.897
Total 1180.219 127
a. Predictors: (Constant), Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah (X3),
Akuntabilitas (X2), Pengawasan Keuangan Daerah (X1)
b. Dependent Variable: Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Dari tabel 5.14 diperoleh F hitung sebesar 94.443. Sedangkan nilai f tabel
di peroleh dari df1 = k (4)-1 = 3 dan df2 = n (128) – k (4) = 124 dengan taraf
signifikannya 0,05% sehingga nilai f tabel = 2,68. Maka nilai f hitung lebih besar
dari f tabel yakni 94,443 > 2,68 serta nilai signifikansinya kurang dari 0,050
(0,000). Sehingga secara simultan, variabel pengawasan keuangan daerah,
akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah. Sehingga hipotesis ke 4 di
terima.
[Link].Uji Koefisien Determinasi
Uji koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan variabel independen dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu Menurut Kuncoro (2013)
Uji koefisien korelasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Nilai koefisien determinasi /
R2 berada pada rentang angka nol (0) dan satu (1). Jika nilai koefisien determinasi
71
yang mendekati angka nol (0) berarti kemampuan model dalam menerangkan
variabel terikat sangat terbatas. Sebaliknya apabila nilai koefisien determinasi
variabel mendekati satu (1) berarti kemampuan variabel bebas dalam
menimbulkan keberadaan variabel terikat semakin kuat. Nilai koefisien
determinasi dari model penelitian disajikan sebagai berikut:
Tabel 5.15. Hasil Pengujian Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Std. Error of the
Model R R Square Adjusted R Square Estimate
1 .834a .696 .688 1.702
a. Predictors: (Constant), Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah (X3), Akuntabilitas (X2),
Pengawasan Keuangan Daerah (X1)
b. Dependent Variable: Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Sumber: Data Primer diolah, 2021
Berdasarkan dari hasil uji pada tabel 5.15 yaitu 0,696 atau 69,6%. Artinya
bahwa variabel independen yaitu pengawasan keuangan daerah (X1),
akuntabilitas (X2) dan transparansi pengelolaan keuangan daerah (X3) memberi
sumbangan terhadap variabel dependen yaitu kinerja pemerintah daerah (Y)
sebesar 69,6%, sedangkan sisanya sebesar 30,4% (100% - 49,7%) dipengaruhi
variabel lain yang tidak di teliti dalam penelitian ini.
5.2. Pembahasan
5.2.1. Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengawasan keuangan daerah
terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare, menunjukkan bahwa
pengawasan keuangan daerah berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja
72
pemerintah daerah Kota Pare-Pare dengan nilai t hitung lebih besar dari t tabel,
yakni 3,076 > 1,976 dan nilai sig. sebesar 0,003. Artinya semakin tinggi
pengawasan keuangan daerah, maka akan meningkatkan kinerja pemerintah
daerah, sebaliknya semakin rendah pengawasan keuangan daerah, maka akan
semakin rendah pula kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare .
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Utami (2021) yang
menemukan bahwa terdapat pengaruh pengawasan keuangan daerah terhadap
kinerja pemerintah daerah.
Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai, karena merupakan
cerminan dari kemampuan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber
dayanya. Selain itu tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk memotivasi
dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang
telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang
diharapkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana
formal yang dituangkan dalam anggaran (Revitasari dan Lisda, 2018).
Kinerja pemerintah dinilai baik apabila dapat dilihat dari pencapaian hasil
yang dilaksanakan secara nyata dan maksimal. Jika kinerja yang telah
dilaksanakan dan mencapai hasil yang memuaskan itu harus sesuai dengan visi
dan misi suatu kelompok atau organisasi yang sudah ditetapkan sebagai landasan
dalam pelaksanaan tugas yang harus dipertanggungjawabkan. Pengukuran kinerja
membantu pejabat pemerintah daerah untuk menentukan tingkat pencapaian
tujuan dan membantu warga untuk mengevaluasi apakah tingkat pelayanan yang
diberikan oleh pemerintah sejajar dengan uang yang dikeluarkan untuk pelayanan
73
program tersebut (Ihyaul, 2017 dalalm Gaga, 2021). Olehnya itu kinerja
pemerintah berkaitan erat dengan pengawasan
Pengawasan terhadap pengelolaan keuangan daerah oleh sangat penting
dilakukan, karena pengawasan merupakan suatu usaha untuk menjamin adanya
keserasian antara penyelenggaraan tugas pemerintah di daerah (pusat) dan
menjamin kelancaran penyelenggaraan pemerintah secara berdaya guna.
Pengawasan merupakan tindakan nyata dan paling efektif dalam mewujudkan
kedisiplinan pegawai organisasi
5.2.2. Pengaruh Akuntabilitas Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh akuntabilitas terhadap
kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare, menunjukkan bahwa akuntabilitas
berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare
dengan nilai t hitung lebih besar dari t tabel, yakni 4,235 > 1,976 dan dan nilai sig.
sebesar 0,000. Artinya semakin tinggi akuntabilitas, maka akan meningkatkan
kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare, sebaliknya semakin rendah
akuntabilitas, maka akan semakin rendah pula kinerja pemerintah daerah Kota
Pare-Pare.
Hasil penelitian ini di perkuat oleh penelitan terdahulu meliputi Novanti et
al., (2019); Jitmau et al., (2017); Auditya et al., (2013) serta Laga (2021), yang
menemukan bahwa akuntabilitas berpengaruh terhadap kinerja pemerintah
daerah.
Menurut Mardiasmo (2006) pengukuran kinerja pemerintah memiliki
kaitan erat dengan akuntabilitas. Untuk memantapkan mekanisme akuntabilitas,
74
diperlukan manajemen kinerja yang baik. Pemahaman mengenai konsep kinerja
organisasi publik dapat dilakukan dengan (dua) 2 pendekatan, yaitu melihat
kinerja organisasi publik dari perspektif birokrasi itu sendiri, dan melihat kinerja
organisasi publik dari perspektif kelompok sasaran atau pengguna jasa organisasi
publik. Khusus mengenai organisasi publik berkaitan erat dengan produktivitas,
kualitas layanan, responsivitas, responsibilitas, akuntabilitas, serta persamaan
pelayanan.
Wiguna, et al, (2015) menmyatakan bahwa penerapan berbagai aturan
perundang-undangan yang ada terkait dengan penerapan konsep akuntabilitas
dalam pengelolaan keuangan diharapkan dapat mewujudkan pengelolaan
pemerintah daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. Implementasi
akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah diharapkan mampu meningkatkan
kinerja pemerintah daerah. Dengan menjalankan asas akuntabilitas sebagai
kewajiban pihak pemegang amanah untuk memberikan pertanggungjawaban,
menyajikan, melaporkan dan mengungkapkan (disclosure) segala aktivitas dan
kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak pemberi amanah yang
memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban Lucy
Auditya, Husaini, Lismawati 39 tersebut maka kualitas kinerja pemerintah daerah
5.2.3. Pengaruh transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap
Kinerja pemerintah daerah
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh transparansi pengelolaan
keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare,
menunjukkan bahwa transparansi pengelolaan keuangan daerah berpengaruh
75
positif signifikan terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare dengan nilai
t hitung lebih besar dari t tabel, yakni 3,697 > 1,976 dan nilai sig. sebesar 0,000.
Artinya semakin tinggi transparansi pengelolaan keuangan daerah, maka akan
meningkatkan kinerja, sebaliknya semakin transparansi pengelolaan keuangan
daerah, maka akan semakin rendah pula kinerja pemerintah daerah Kota Pare-
Pare.
Pada beberapa hasil penelitian juga menemukan bahwa transparansi
pengelolaan keuangan daerah memiliki pengaaruh terhadap kinerja pemerintah
daerah (Uditya et al, 2013; Laga, 2021; Nasution, 2018).
Coryanata (2015) mengatakan bahwa salah satu dari prinsip good
governance adalah transparansi. Transparansi dibangun atas dasar arus informasi
yang bebas, seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu
diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus
memadai agar dapat dimengerti dan dipantau Transparansi pengelolaan keuangan
daerah adalah keterbukaan pemerintah daerah dalam memberikan informasi
terkait dengan aktivitas pengelolaan keuangan daerah kepada para pemangku
kepentingan.. Hal ini disebabkan karena penerapan transparansi pengelolaan
keuangan daerah merupakan bukti keseriusan pemerintah dalam menjalankan
pemerintahan yang bersih, jujur dan bebas dari segala bentuk penyimpangan.
Dengan demikian, hal ini juga dapat menjadi bukti tingkat keberhasilan
pemerintah dalam mengelola keuangan dan dapat meningkatkan kinerja
pemerintah menjadi lebih baik (Wiguna et al., 2015).
76
5.2.4. Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas Dan
Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh pengawasan keuangan
daerah, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap
kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
yang signifikan pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi
pengelolaan keuangan daerah terhadap kinerja pemerintah daerah dengan nilai f
hitung lebih besar dari f tabel, yakni 94,443 > 2,68 sedangkan nilai sig. sebesar
0,000. Hal ini berartinya semakin baik pengawasan keuangan daerah,
akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah, maka akan
meningkatkan kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare, sebaliknya semakin
rendah pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan
keuangan daerah, maka akan menurunkan kinerja pemerintah daerah Kota Pare-
Pare
Hasil penelitian ini di perkuat oleh penelitan sebelumnya, yang
menemukan bahwa pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi
pengelolaan keuangan daerah berpengaruh terhadap kinerja (Jatmiko, 2020).
Tercapainya tujuan lembaga merupakan salah satu wujud dari keberhasilan
sebuah lembaga dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Tetapi keberhasilan
tersebut tidak dapat dilihat begitu saja, diperlukan penilaian terhadap kinerja
lembaga dalam hal ini adalah pemerintah daerah. Penilaian kinerja atau penilaian
77
prestasi kerja tidak dapat dipisahkan dengan dari setiap proses aktivitas sumber
daya manusia. Bastian dalam Agung (2013) mengemukakan bahwa pengukuran
dan pemanfaatan penilaian kinerja akan mendorong pencapaian tujuan
organisasi/lembaga dan akan memberikan umpan balik untuk upaya perbaikan
secara terus menerus.
5.2.5. Akuntabilitas Memiliki Pengaruh Yang Paling Besar Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah.
Berdasarakan hasil penelitian ditemukan bahwa variabel yanag memiliki
pengaruh yang paling besar adalah variabel akuntabilitas di mana nilai koefisien
korelasi sebesar 0,439 dengan nilai signifikansi 0,000 atau kurang dari taraf sig.
0,05 sedangkan nilai t hitungnya sebesar 4,235 lebih besar dari t tabel (1,976).
Kinerja pemerintah merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian
sasaran ataupun tujuan instansi pemerintah sebagai penjabaran dari visi, misi, dan
strategi instansi pemerintah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan dan
kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan
yang ditetapkan (MenPAN:2007).
Kinerja pemerintah berkaitan erat dengan akuntabilitas. Memantapkan
mekanisme transparansi diperlukan manajemen kinerja yang baik. Penerapan
berbagai aturan perundang-undangan yang ada terkait dengan penerapan konsep
akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan diharapkan dapat mewujudkan
pengelolaan pemerintah daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat.
Implementasi akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah diharapkan mampu
meningkatkan kinerja pemerintah daerah (Wiguna, et al, 2015).
78
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan serrta adanya dukungan
teori maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini:
1. Pengawasan keuangan daerah berpengaruh secara parsial terhadap kinerja
pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
2. Akuntabilitas berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pemerintah daerah
Kota Pare-Pare.
3. Transparansi pengelolaan keuangan daerah berpengaruh secara parsial
terhadap kinerja pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
4. Pengawasan keuangan daerah, Akuntabilitas dan Transparansi pengelolaan
keuangan daerah berpengaruh secara simultan terhadap kinerja pemerintah
daerah Kota Pare-Pare.
5. Akuntabilitas memiliki pengaruh yang paling besar terhadap kinerja
pemerintah daerah Kota Pare-Pare.
6.2. Saran
Mengacu pada hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka
terdapat beberapa saran yang dapat diajukan baik kepada pihak pemerintah daerah
Kota Pare-Pare maupun bagi peneliti untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Adapun saran peneliti sebagai berikut:
1. Agar lebih meningkatkan lagi pengawasan khususnya pada terhadap instansi-
79
intansi maupun individu pelaksananya
2. Agar pegawai –pegawai dapat lebih patuh terhadap standar waktu yang telah
ditetapkan
3. Agar lebih meningkat keterbukaan terhadap pengumuman kebijakan
4. Dalam hal kinerja agar lebih ditingkatkan lagi khususnya pada input dari
segala pelaksanaan kegiatan yang arahnya jelas dan terarah.
5. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar menambah cakupan penelitian.
Serta penambahan variabel yang digunakan seperti variabel gaya
kepemimpinan dan beban kerja sehingga menambah ilmu dan referensi bagi
pengambilan keputusan serta kebijakan yang di keluarkan oleh Pemerintah
Daerah Kota Pare-Pare dalam upaya meningkatkan kinerja
DAFTAR PUSTAKA
Agung, Sigit Nugrahanto, 2014. Analisis Kinerja Kantor Pengelolaan Pasar Niten
Dalam Pengoptimalan Retribusi Pasar Di Kabupaten Bantul Tahun 2013.
Non publication. UNY.
Akmalia, D. (2020). Pengaruh pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan
transparansi pengelolaan keuangan terhadap kinerja pemerintah daerah
pada Skpd Kota lhoksemawe (Doctoral dissertation).
Astuti, R. M. (2013). Pengaruh Akuntabilitas, Transparansi dan Fungsi
Pemeriksaan Intern Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Studi Kasus
pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
(DPPKAD) Kabupaten Grobogan) (Doctoral dissertation, Universitas
Muhammadiyah Surakarta).
Auditya, L., Husaini, H., & Lismawati, L. (2013). Analisis pengaruh akuntabilitas
dan transparansi pengelolaan keuangan daerah terhadap kinerja
pemerintah daerah. Jurnal Fairness, 3(1), 21-42.
Azlan, M., Herwanti, T., & Pituringsih, E. (2019). Pengaruh Kualitas Sumber
Daya Manusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Pengendalian Intern
Akuntansi, Dan Pengawasan Keuangan Daerahterhadap Keandalan
Laporan Keuangan Daerah Pada Skpd Pemerintah Kabupaten Lombok
Timur. Jurnal Akuntansi Aktual, 3(2), 188-198.
Badruzzaman, S., & Ruslina Lisda, S. E. (2018). Pengaruh Pengawasan
Keuangan, Akuntabilitas Dan Transparansi Pengelolaan Keuangan
Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Survey pada Dinas di Pemerintah
Kabupaten Bandung Barat) (Doctoral dissertation, Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Unpas Bandung).
Benawan, E. T. P., Saerang, D. P., & Pontoh, W. (2018). Pengaruh pengawasan,
akuntabilitas dan transparansi keuangan terhadap kinerja pegawai (Studi
kasus pada Dinas Perhubungan Kota Tidore Kepulauan). Going Concern:
Jurnal Riset Akuntansi, 13(03).
Coryanata, I. (2011). Akuntabilitas, partisipasi masyarakat dan transparansi
kebijakan publik sebagai pemoderasi hubungan pengetahuan dewan
tentang anggaran dan pengawasan keuangan daerah. Journal of
Accounting and Investment, 12(2), 110-125.
Fahmi, Irham. 2013. Manajemen Kinerja teori dan aplikasi. Bandung: Alfabeta
Gunawan, B. (2020). Pengaruh Partisipasi Masyarakat Dan Transparasi Kebijakan
Publik Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah (Studi Pada Kantor DPR
Aceh) (Doctoral dissertation).
Halim, A. dan Iqbal M., 2012. Pengelolaan Keuangan [Link] STIM YKPN:
Yogyakarta.
Haza, I. I. (2015). Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Pengawasan
Keuangan Daerah Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Daerah (Studi
Empiris pada SKPD Pemerintah kota padang). Jurnal Akuntansi, 3(1).
Halim, A. dan Iqbal M., 2012. Pengelolaan Keuangan [Link] STIM YKPN:
Yogyakarta.
Handayani, Y. (2015). Pengaruh Transparansi dan Akuntabilitas Terhadap
Pengelolaan Keuangan Partai Politik (Studi pada 9 Partai Politik di Kota
Bandung) (Doctoral dissertation, Fakultas Ekonomi Unpas).
Hayat, I. H. (2018). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (Pad), Dana Perimbangan,
Belanja Modal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Kinerja Keuangan
Daerah Pemerintah Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Timur (Studi Kasus
Pada Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Timur Periode 2014-
2016) (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
SURABAYA).
Jatmiko, B. (2020). Pengaruh Pengawasan Internal, Akuntabilitas Dan
Transparansi Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman
(Survei Pada Seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten
Sleman). Jurnal Akuntansi Trisakti, 7(2), 231-246.
Jitmau, F., Kalangi, L., & Lambey, L. (2017). Pengaruh Akuntabilitas,
Transparansi dan Fungsi Pemeriksaan Intern Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah (Studi Empiris Di Kabupaten Sorong). Jurnal riset
akuntansi dan auditing" goodwill", 8(1).
Laga, Y. M. V. I. (2021). Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah Akuntabilitas
dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja
Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Doctoral dissertation, Universitas
17 Agustus 1945 surabaya).
Laoli, V. (2019). Pengaruh Akuntabilitas dan Transparansi terhadap Kinerja
Anggaran Berkonsep Value of Money pada Pemerintah Kabupaten
Nias. Owner: Riset dan Jurnal Akuntansi, 3(1), 91-102.
Mardiasmo. (2006). Perwujudan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui
Akuntansi Sektor Publik: Suatu Saran Good Governance. Jurnal
Akuntansi Pemerintahan. Volume 2 Nomor 1. Mei 2006.
Moeheriono. 2012. “Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi”. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Mongeri, M. (2013). Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah Dengan Komitmen Organisasi Sebagai
Variabel Moderating (Studi Empiris Pada SKPD Pemerintah Daerah
Kota Padang). Jurnal Akuntansi, 1(1).
Nasution, D. A. D. (2018). Analisis pengaruh pengelolaan keuangan daerah,
akuntabilitas dan transparansi terhadap kinerja keuangan
pemerintah. Jurnal Studi Akuntansi & Keuangan, 2(3), 149-162.
Nasution, A. P. (2019). Implementasi E–Budgeting Sebagai Upaya Peningkatan
Tranparansi Dan Akuntabilitas Pemerintah Daerah Kota Binjai. Jurnal
Akuntansi Bisnis Dan Publik, 9(2), 1-13.
Nicolla, A. (2019). Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas,
Transparansi Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah (Studi kasus pada
BPKAD Provinsi Sumatera Selatan) (Doctoral dissertation, Universitas
Muhammadiyah Palembang).
Nugroho, Fajar dan Rohman, Abdul. 2012. Pengaruh Belanja Modal Terhadap
Pertumbuhan Kinerja Keuangan Daerah Dengan Pendapatan Asli Daerah
Sebagai Variabel Intervening ( Studi Kasus Di Propoinsi Jawa Tengah).
Jurnal Akuntansi Volume 1, Nomor 2 Tahun 2012
Nurfaidah, N. (2018). Efektivitas Pengawasan Keuangan Daerah Pada Pemerintah
Kota Makassar. Jurnal BISNIS & KEWIRAUSAHAAN, 7(4).
Novatiani, A., Kusumah, R. W. R., & Vabiani, D. P. (2019). Pengaruh
Transparansi dan Akuntabilitas Terhadap Kinerja Instansi
Pemerintah. Jurnal Ilmu Manajemen dan Bisnis, 10(1), 51-62.
Pertiwi, B. A. (2016). Pengaruh Transparansi Laporan Keuangan, Pengelolaan
Zakat, Dan Reputasi Organisasi Terhadap Kepercayaan Donatur Di
Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) Surabaya (Doctoral dissertation,
UIN Sunan Ampel Surabaya).
Prasetyo, Ari dan Fatchuddin, A. 2021. Pengantar Manajemen Islami. Airlangga
University Press.
Purnama, F., & Nadirsyah, N. (2016). Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah,
Akuntabilitas, dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah Pada Kabupaten Aceh Barat Daya. Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi, 1(2), 1-15.
Putra, P. D. S., & Indraswarawati, S. A. P. A. (2021). Pengaruh Pengawasan
Keuangan Daerah, Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Dan
Akuntabilitas Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten
Klungkung. Widya Akuntansi dan Keuangan, 3(1), 79-92.
Raba, Manggakuang. 2020. Akuntabilitas: Konsep dan Implementasi. Cet. II
UMM Press.
Rahayu, S. (2018). Analisis Penerapan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Daerah
(Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Siak) (Doctoral dissertation,
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).
Revitasari, L., Ruslina Lisda, S. E., MSi, A. K., & CA, P. I. (2018). Pengaruh
Kualitas Sistem Informasi Dan Pengawasan Keuangan Terhadap
Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Dan Dampaknya Terhadap Kinerja
Instansi Pemerintah Daerah (Survey pada SKPD Kota Cimahi) (Doctoral
dissertation, Perpustakaan FEB-UNPAS BANDUNG).
Reza, E. M. (2018). Transparansi Penggunaan Dana Desa Di Kepenghuluan
Sekeladi Kecamatan Tanah Putih Kabupaten Rokan Hilir (Doctoral
dissertation, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).
Rivai, Veithzal. 2013, Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk Perusahaan Dari
Teori Ke Praktek, Rajagrafindo persada, Bandung.
Sangki, A. A., Gosal, R., & Kairupan, J. (2017). Penerapan Prinsip Transparansi
Dan Akuntabilitas Dalam Pengelolaan Anggaran Pendapatan Dan
Belanja Desa (Suatu Studi Di Desa Tandu Kecamatan Lolak Kabupaten
Bolaang Mongondow). Jurnal Eksekutif, 1(1).
Sinaga, A. N. (2016). Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten
Simalungun Tahun 2012-2013 (Doctoral Dissertation, Unimed).
Sundari, R. (2013). Analisis Pengaruh Belanja Langsung Terhadap Capaian
Kinerja Instansi Pemerintah (Studi Kasus Pada Dinas Kesehatan
Kabupaten Klaten) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah
Surakarta).
Trisaputra, A. (2013). Pengaruh Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap Ketepatwaktuan Pelaporan
Keuangan Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada SKPD Pemerintah
Provinsi Sumatera Barat). Jurnal Akuntansi, 1(3).
Ulimpa, Y. S., Sondakh, J. J., & Runtu, T. (2018). Analisis Pengukuran Kinerja
Pemerintah Daerah Dalam Era Otonomi Daerah Di Kabupaten Sorong
Provinsi Papua Barat. Going Concern: Jurnal Riset Akuntansi, 13(04).
Umar, Z., Syawalina, C. F., & Khairunnisa, K. (2018). Pengaruh Akuntabilitas
Dan Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja
Instansi Inspektorat Aceh. KOLEGIAL, 6(2), 136-148.
Utami, P. (2021). Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja
Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat.
Wiguna, M. B. S., Yuniarta, G. A., AK, S., Darmawan, N. A. S., & SE, A. (2015).
Pengaruh Pengawasan Keuangan Daerah, Akuntabilitas dan Transparansi
Pengelolaan Keuangan Daerah terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Kabupaten Buleleng. JIMAT (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi)
Undiksha, 3(1).
Yahya, I. (2006). Akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan
daerah. Jurnal Sistem Teknik Industri, 7(4), 27-29.
Yulinda, M. (2013). Analisis Efektivitas Pengawasan Dinas Tanaman Pangan,
Hortikultura Dan Peternakan Kabupaten Indragiri Hilir Pada Gabungan
Kelompok Tani Di Kecamatan Tembilahan (Doctoral dissertation,
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).
Zainal, A. (2018). Pengaruh Political Background Dan Pengetahuan Dewan
Tentang Anggaran Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah (Studi pada
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten
Ponorogo) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah
Ponorogo).
LAMPIRAN 2. KUESIONER PENELITIAN
KUESIONER PENELITIAN
PENGARUH PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH, AKUNTABILITAS
DAN TRANSPARANSI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
TERHADAP KINERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA PAREPARE
Program Pasca Sarjana Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia
Kepada Yang Terhormat.
Bapak/ibu/ Saudara (i) pegawai di Kota Parepare
Dengan Hormat,
Bersama ini saya sampaikan kuesioner penelitian yang berjudul “Pengaruh
pengawasan keuangan daerah, akuntabilitas dan transparansi pengelolaan
keuangan daerah terhadap kinerja Pemerintah Daerah Kota Parepare”, saya
sangat mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu/Saudara (i) meluangkan waktu sejenak
untuk berpartisipasi, membaca, memahami, dan mengisi kuesioner ini.
Adapun Kuisioner ini bertujuan untuk kepentingan ilmiah, oleh karena itu
jawaban yang Bapak/Ibu/Saudara (i) berikan besar manfaatnya bagi pengembangan
ilmu dan pengetahuan. Kuisioner ini tidak ada hubungannya dengan status dan
kedudukan Bapak/Ibu/Saudara (i) dalam instansi, maka jawaban yang benar adalah
jawaban yang benar-benar menggambarkan keadaan Bapak/Ibu/Saudara (i) saat ini.
Saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerjasama yang
telah Bapak/Ibu Saudara (i) berikan.
Hormat saya,
Alamsyah
BAGIAN I
IDENTIFIKASI RESPONDEN
Petunjuk Pengisian :
1. Sebelum mengisi pertanyaan pada kolom yang telah disediakan, terlebih
dahulu mohon diisi identitas responden.
2. Pada kolom pernyataan mohon di isi secara lengkap dari keseluruhan pernyatan
yang telah disediakan, sesuai dengan opini anda dan kondisi sebenarnya.
3. Berilah tanda silang (×) pada kolom jawaban yang anda pilih.
4. Terdapat 5 (lima) alternatif pengisian jawaban, yaitu :
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
RR : Ragu-Ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
Identitas Responden *Di isi Oleh Peneliti
No. Responden* :....................................................................................
Usia :....................................................................................
Jenis Kelamin :....................................................................................
Pendidikan Terakhir :....................................................................................
Lama Bekerja :....................................................................................
Pengawasan Keuangan Daerah (X1)
Alternatif Jawaban
No Pernyataan
SS ST RR TS STS
1 Setiap pegawai yang melakukan
pengawasan bersih dan bebas dari
KKN
2 Masing-masing individu dari pegawai
mampu melakukan kegiatan evaluasi
sebagai bentuk dari pengawasan
3 Setiap aktivitas yang membutuhkan
biaya akan dubukukan sebagai bukti
dari pecatatan transaksi
4 Untuk menghindari resiko
penyalahgunaan biaya maka setiap
pegawai di harpkan melakukan
pencatattan transaksi yang tetpat waktu
Akuntabilitas (X2)
Alternatif Jawaban
No Pernyataan
SS ST RR TS STS
1 Setiap pegawai mematuhi segala
prosedur yang berlaku dalam
melakukan pekerjaanya
2 Dalam bekerja pegawai mampu
memberikan pelayanan yang terbaik
tanpa dipungut biaya
3 Dengan adanya standar waktu yang
telah ditetapkan, masing-masing dari
individu mampu menjalankan tugas
dengan terarah
4 Tingkat kedisiplinan pegawai sangat
tinggi karna patuh terhadap standar
waktu
Transparansi Pengelolaan Keuangan Daerah (X3)
Alternatif Jawaban
No Pernyataan
SS ST RR TS STS
1 Terdapat pengumuman kebijakan
mengenai pendapatan, pengelolaan
keuangan dan asset
2 Tersedia laporan mengenai
pendapatan, pengelolaan keuangan,
dan aset yang mudah diakses
3 Dengan adanya laporan
pertanggungjawaban yang tepat waktu
merupakan bentuk tanggung jawab dari
seorang pegawai
4 Setiap instansi menyediakan tempat
usulan dan usulan rakyat
5 Terdapat Sistem yang yang digunakan
instansi dalam pemberian informasi
kepada publik
Kinerja Pemerintah Daerah (Y)
Alternatif Jawaban
No Pernyataan
SS ST RR TS STS
1 Pegawai mampu menghitung jumlah
dana yang dibutuhkan
2 Setiap kegiatan yang dilakukan oleh
pegawai selalu melalui proses
merumuskan ukuran kegiatan, baik dari
segi kecepatan, ketepatan, maupun
tingkat akurasi pelaksanaan kegiatan
3 Tingkat ketepatan pegawai dalam
bekerja sangat baik
4 Dengan didukung tingkat produktivitas
para pegawai yang tinggi ,sehingga
hasil dari kegiatan ataupun aktivitas
jangka menengah maupun jangka
panjang sangat maksimal
LAMPIRAN
UJI VALIDITAS ITEM
1) Validitas Pengawasan (X1)
2) Validasi Akuntabilitas (X2)
3) Validasi Transparasi (X3)
4) Validitas Kinerja Pemerintah (Y)
UJI REABILITAS
1. REABILITAS PENGAWASAN (X1)
Nilai Cronbach’s Alpha
0.849 > 0.50
2. REABILITAS AKUNTABILITAS (X2)
Nilai Cronbach’s Alpha
0.833 > 0.50
3. REABILITAS TRANSPARANSI (X3)
Nilai Cronbach’s Alpha
0.906 > 0.50
4. REABILITAS KINERJA PEMERINTAH (Y)
Nilai Cronbach’s Alpha
0.909 > 0.50
1. UJI DESKRIPTIF (RESPONDEN & ITEM)
Deskriptif Responden
Deskrptif Item
Item Pengawasan (X1)
Item Akuntabilitas (X2)
Item Transparansi (X3)
Item Kinerja Pemerintah (Y)
● UJI ASUMSI KLASIK
1. UJI NORMALITAS (Nilai Sig. Kolmogorov > 0.05)
2. UJI MULTIKOLINIERITAS NILAI VIF < 10.00
3. UJI HETEROSKEDASTISITAS
Data tersebar di atas dan di bawah titik 0 pada sumbu Y, disimpulkan tidak terjadi
heteroskedastisitas
● UJI HIPOTESIS
1. UJI T T TABEL = 1,979
t hitung > t tabel = ADA PENGARUH
t hitung < t tabel = TIDAK ADA PENGARUH
2. UJI F F TABEL = 2,68
UJI KOEFISIEN REGRESI