Analisis Puisi Chairil Anwar
Analisis Puisi Chairil Anwar
4.1.1 Struktur Fisik yang terdapat di dalam Kumpulan Puisi Kerikil Tajam
Penelitian ini membahas tentang struktur fisik dan struktur batin dalam
kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus” karya
SMA. Struktur fisik dalam kumpulan puisi ini yaitu pada umumnya setiap puisi
memiliki unsur pembangun berupa diksi, citraan, kata konkret, majas, verifikasi,
dan tipografi. Struktur batin dalam puisi-puisi tersebut merupakan ungkapan batin
1) Nisan
Struktur fisik yang ada dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang
Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar saling berkaitan satu sama lain.
Hal ini bersifat saling membangun untuk membentuk keutuhan puisi, seperti diksi
yang digunakan oleh penyair dalam puisi Nisan menggunakan kata yang singkat
namun tetap puitis dan mengandung nilai religius. Pilihan kata penyair sebagai
berikut ini.
Puisi ini merupakan bentuk dari kesadaran penyair akan kematian, serta
duka, kesedihan yang dirasakan setelah kematian. Diksi yang digunakan oleh
35
penyair dalam puisi Nisan adalah denotatif, seperti pada larik Bukan kematian
benar menusuk kalbu yang memiliki makna ketika datang musibah kematian bagi
pada kata ‗menusuk kalbu‘. Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan
penglihatan, terdapat pada kalimat Tak kutahu setinggi itu atas debu, karena kata
setinggi serta atas debu itu hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera
penglihatan. Kata konkret yang menggambarkan kesedihan dalam puisi ini adalah
Bukan kematian benar menusuk kalbu. Rima dalam puisi ini adalah a-b-a-b. yaitu
adanya persamaan bunyi /a/ dan /u/ di akhir baris puisi seperti /u/, /a/, /u/, dan /a/.
Tipografi dalam puisi ini adalah rata kiri, terdiri dari 1 bait dengan 4 baris puisi.
1) Penghidupan
kehidupan dan mencoba bertahan, namun semua usaha dan kerja keras yang ia
didapatkan kecil, tenaga serta raganya sudah hancur remuk dimakan usia. Diksi
yang digunakan oleh penyair adalah jelas dan beberapa bermakna konotatif serta
PENGHIDUPAN
36
Citraan dalam puisi ini adalah penglihatan dan citraan gerak. Citraan
penglihatan dalam puisi ini dapat dilihat pada baris ke-1,5, dan 7, yaitu Lautan
Selanjutnya, citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-2, yaitu mukul dentur
selama. Kata yang dipilih oleh penyair pada baris ke-2 menggambarkan kepada
pembaca suatu gerakan, dengan menggunakan kata “mukul” yang berasal dari
kata memukul, pukul berarti mengetuk dengan menggunakan sesuatu yang keras
atau berat.
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)
yang terdapat pada baris ke-2 dan ke-5, yaitu mukul dentur selama, bermakna
bekerja keras selama hidup dan hingga hancur remuk redam, bermakna sampai
hancur tak berbentuk seperti perjuangan yang berusaha sekuat tenaga sampai
badan sakit.
dan perjuangan dalam hidup, yaitu mukul dentur selama/nguji tenaga pematang
kita. Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan usaha
yang sia-sia adalah kecil setumpuk/sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk. Rima yang
terdapat pada bait I puisi adalah /m/ dan /a/. Kemudian pada bait ke-II terdapat
ditemukan penekanan pada baris akhir puisi, berupa tanda (,). Tipografi yang
37
digunakan oleh penyair adalah penulisan tipografi rata kiri yang terdiri dari dua
2) Diponegoro
membebaskan negara dari penjajahan. Diksi yang digunakan oleh penyair jelas,
DIPONEROGO
MAJU
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.
Citraan (imaji) yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan
dan citraan gerak. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-1 dan 2, yaitu
38
Didepan sekali tuan menanti /Pedang dikanan, keris dikiri. Kata-kata yang
Citraan gerak pada puisi ini terdapat pada baris ke-20, 21, 22, dan 23, yaitu
dengan maksud melawan, menyerang), kata “Serang” memiliki arti hampir sama
dengan serbu yaitu mendatangi untuk melawan, kemudian kata “Terjang” berarti
tendang, serang.
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)
(hiperbola) terdapat pada baris Dan bara kagum menjadi api, kata yang digunakan
oleh penyair bermakna yang rasa yang dulunya suka, takjub berubah menjadi rasa
benci, marah.
39
Persamaan bunyi (rima) yang terdapat dalam puisi ini adalah bunyi
asonansi yaitu bunyi vokal /i/ di akhir baris 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 11, 12, 14, 15, 18,
dan 19. Kemudian persamaan bunyi vokal /u/ di baris 8, 9, 10, 13, 20, 21, 22,
dan 23, persamaan bunyi vokal /a/ di akhir baris 16 dan 17.
jambe, karena dalam puisi ini ditemukan penekan pada beberapa baris pada bait
puisi, penekanan tersebut berupa tanda (.) dan Huruf kapital pada baris puisi, yaitu
kata MAJU. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi rata kiri
dengan jumlah bait yaitu 11 bait yang terdiri dari 23 baris puisi.
3) Tak sepadan
ditinggalkan oleh kekasihnya. Pemilihan diksi dalam puisi ini menggunakan kata
peristiwa tersebut, selain itu diksi yang digunakan oleh penyair jelas dan dapat
TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Dikutuk-sumpahi eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan
penglihatan. Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-6, yaitu Aku merangkaki
dinding buta. Kata merangkaki berasal dari kata dasar “rangkak” yang artinya
40
bergerak. Kemudian, citraan penglihatan dapat dilihat pada baris ke-7 dan ke-9,
yaitu Tak satu juga pintu terbuka dan Unggunan api ini. Kata yang digunakan
oleh penyair pada baris ke-7 dan ke-9 membuat pembaca seolah-olah melihat apa
(Ahmad Fauzi, 2019:77). Pada puisi Tak sepadan terdapat pada bait, berikut:
Dikutuk-sumpahi eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Kata buta yang dimiliki oleh dinding biasanya terdapat pada makhluk
hidup seperti manusia, namun di sini penyair menggunakannya untuk benda mati
terjadi diantara tokoh aku dan kekasihnya. Kata konkret dalam puisi ini dijelaskan
oleh penyair dengan kata yang lugas. Pada puisi Tak Sepadan, terdapat di bait
berikut:
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau Kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.
Untuk menggambarkan perasaan tokoh aku yang sedih dan kecewa karena
41
Ahasveros. Kata konkret yang menggambarkan kesedihan tokoh yang ditinggal
oleh kekasihnya adalah dengan kata Kau Kawin, beranak dan berbahagia.
Rima dalam puisi ini adalah rima putus yaitu rima yang suku katanya
putus. Menurut Yusra, dkk (2021:33) mengungkapkan bahwa rima putus adalah
persamaan bunyi kata atau suku kata yang putus. Bait I didominasi oleh bunyi
vokal /u/ dan /a/. Bait II didominasi oleh bunyi /a/ dan /u/. Kemudian bait III
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum
jambe, karena ditemukan penekanan pada puisi berupa tanda (,) dan tanda („),
kemudian tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi penulisan rata
4) Sia-sia
digunakan oleh penyair jelas dan dapat dipahami, serta beberapa bermakna
SIA-SIA
citraan gerak, dan citraan pendengaran. Citraan penglihatan dapat dilihat pada
42
baris ke-3, 4, dan 5, yaitu Mawar merah dan melati putih/Darah dan suci/Kau
tebarkan depanku. Kata mawar merah dan melati putih, menggambarkan rupa dari
warna bunga mawar berwarna merah serta melati yang berwarna putih, dapat
dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. Pada baris Darah dan suci,
penyair membuat pembaca seolah-olah dapat melihat apa yang dilihat penyair.
ini? kata saling bertanya: apakah ini? Mengandung citraan pendengaran karena
penyair menggambarkan tokoh kami yang sedang bingung lalu bertanya satu sama
Majas yang terdapat di dalam puisi Sia-sia adalah majas Pertentangan (Hiperbola
dan Antitesis). Majas antitesis dapat dilihat pada baris Mawar merah dan melati
putih /Darah dan suci. Pada baris tersebut penyair menggunakan kata mawar
merah yang bertentang dengan melati putih, sama halnya dengan kata darah yang
bertentangan dengan kata suci. Darah biasanya identik dengan warna merah dan
suci itu biasanya disimbolkan dengan warna putih yang memiliki arti bersih, suci.
Kemudian, majas hiperbola dapat dilihat pada baris Mampus kau dikoyak-
koyak sepi. Kata dikoyak-koyak sepi pada larik tersebut terlalu berlebihan untuk
konkret yang digunakan oleh penyair untuk menimbulkan imaji adalah kata
Pada puisi sia-sia terdapat persamaan bunyi (Rima) aliterasi pada barisnya,
seperti pada baris 1 terdapat bunyi konsonan /ng/ dan /n/. baris ke 2 terdapat
43
persamaan bunyi /ng/ dan /em/. Baris ke 3 terdapat variasi bunyi konsonan /m/,
/r/, dan /ti/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi konsonan /ng/, baris ke 7 terdapat
bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 8 dan 9 terdapat persamaan
bunyi vokal /i/ dan /a/. Baris ke 10 terdapat aliterasi bunyi konsonan yang
didominasi oleh bunyi /m/ dan /ir/. Baris ke 11 terdapat persamaan bunyi
konsonan /k/ dan /m/, kemudian baris ke 12 terdapat persamaan bunyi konsonan
Metrum dalam puisi ini adalah jambe, yaitu metrum tekanan bervariasi,
ada yang diberi tekanan, ada yang tidak diberi tekanan pada tiap suku katanya.
Pemberian tekanan pada puisi sia-sia terdapat pada Ah! Hatiku yang tak mau
memberi, terdapat tekanan berupa tanda (!). Tipografi yang digunakan dalam puisi
5) Pelarian
diri dari masalah yang dihadapi. Diksi yang digunakan oleh penyair dalam puisi
ini sangat lugas, jelas, dan dapat dipahami oleh pembaca. Pemilihan diksi
PELARIAN
I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa di sini.
Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak terhingga.
Hancur-luluh ke malam
Dan paduan dua jiwa
44
belahan belahan jiwa. Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak,
citraan penglihatan dan citraan pendengaran. Citraan gerak dapat dilihat pada bait
Citraan penglihatan dalam puisi terdapat pada bait ke-1 baris ke-2, yaitu
Remang miang sengketa di sini. Pada baris tersebut penyair membuat pembaca
seolah-olah dapat melihat peristiwa apa yang sedang terjadi. Kemudian, citraan
pendengaran dalam puisi ini dapat dilihat pada bait ke-2 baris ke-2, yaitu
masalah yang dihadapi adalah Tak tertahan lagi/Remang miang sengketa di sini.
Majas yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah majas perbandingan
permasalahan yang ada. Seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Fauzi (2019)
membandingkan sifat, fisik, atau perbuatan manusia dengan benda mati. Kata
tertawa, meringis biasanya dimiliki atau dilakukan oleh manusia, namun di sini
45
Majas pertentangan (hiperbola) pada puisi ini terdapat pada baris ―Mau
apa?Rayu dan pelupa, dan Ia dicekam malam. Kalimat ―Mau apa?Rayu dan
pelupa, termasuk majas pertentangan karena kata Rayu dan pelupa memiliki arti
persamaan bunyi aliterasi, yaitu bunyi konsonan /ng/ di baris ke 2. Bait II terdapat
bunyi konsonan /m/ dan /s/. Bait III terdapat bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/,
/e/, /i/, dan /u/. Kemudian, pada puisi pelarian II pada baris 1 terdapat persamaan
bunyi aliterasi, yaitu bunyi konsonan /ke/ dan /m/. Baris 2 terdapat persamaan
bunyi konsonan /ri/ dan /m/. Baris ke 3 terdapat persamaan bunyi /r/ dan /u/. Baris
ke 4 terdapat persamaan bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 5
dan 6 terdapat persamaan bunyi vokal /u/ dan /i/. Baris ke 7 terdapat persamaan
bunyi vokal /a/ dan /i/, baris ke 8 terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/.
Kemudian, baris ke 10 dan 11 terdapat persamaan bunyi konsonan /k/ dan /m/.
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum
tanda (!) yang membuktikan bahwa puisi ini menggunakan metrum jambe.
Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan rata kiri yang terdiri dari
6) Sendiri
46
Puisi ini menceritakan tentang kisah seorang anak yang sangat kesepian
dan merindukan ibunya yang sudah meninggal. Diksi yang digunakan penyair
SENDIRI
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
citraan penglihatan, dan citraan gerak. Citraan pendengaran terdapat pada bait
pertama baris ke-4, yaitu Ia memekik ngeri, kata memekik itu bisa didengarkan
oleh indera pendengaran. Citraan penglihatan terdapat pada bait ke-3 baris ke-2
yaitu, Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga, kata dari tiap sudut dapat dilihat
dengan menggunakan indera penglihatan (mata). Citraan gerak terdapat pada bait
ke-4 baris pertama, yaitu Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu? Kata
terduduk merupakan kata kerja yang dapat dilakukan oleh tubuh dengan gerakan.
Majas yang terdapat di dalam puisi ini adalah majas penegasan dan majas
pertentangan (Hiperbola). Majas penegasan terdapat pada bait pertama, baris ke-1,
47
yaitu Hidupnya tambah sepi, tambah hampa. Baris puisi tersebut mengandung
makna bahwa hidupnya semakin kesepian, dan hampa tanpa seorang ibu. Kata
tambah sepi, tambah hampa, merupakan kata yang menegaskan maksud dari kata
sebelumnya.
Rima yang digunakan oleh penyair adalah pada bait ke 1 adalah berpola a-
b-b-a, yaitu diakhiri dengan persamaan bunyi vokal /a/ pada baris ke 1 dan baris 4.
persamaan bunyi aliterasi, yaitu konsonan /m/ dan /n/. Bait ke 3 terdapat
persamaan bunyi aliterasi, yaitu konsonan /m/ dan /t/. bait ke 4 baris ke 1 terdapat
persamaan bunyi vokal /a/, /i/, dan /u/, kemudian baris ke 2 terdapat bunyi /i/ dan
Metrum pada puisi ini adalah metrum jambe, yaitu adanya penekanan pada
bait maupun baris puisi, seperti di dalam puisi „sendiri‘ terdapat tanda (!) yang
menjadi penekanan pada puisi ini. Tipografi yang digunakan oleh penyair dalam
puisi ini adalah penulisan rata kiri dengan jumlah 4 bait, terdiri dari 10 baris.
7) Suara Malam
hidup yang dihadapinya. Diksi yang dipilih oleh penyair lugas, dapat dipahami
oleh pembaca, dan menggunakan bahasa yang bermakna konotatif, yaitu kata
48
SUARA MALAM
Citraan yang terdapat di dalam puisi ini ada citraan perabaan dan citraan
menggambarkan si aku yang merasakan rasa terbakar pada kulit tubuhnya. Citraan
gerak terdapat pada baris terakhir yaitu, kembali? Pintu tertutup dengan keras,
kata keras di sini menggambarkan bahwa suara pintu yang ditutup dapat didengar
hidup yang dialami dapat dilihat pada baris puisi ini yaitu, Dunia badai dan
49
Pada puisi ‗Suara Malam‘ terdapat majas pertentangan (hiperbola) dan
Dunia badai dan topan, dan majas perbandingan (metafora) terdapat pada baris
Seperti kapal pecah di dasar lautan, baris tersebut memiliki maksud yang tidak
besar, baris tersebut dapat diartikan seperti seseorang yang jenuh dengan
konsonan /d/ dan /n/ di baris ke 1. Pada baris ke 2 terdapat bunyi konsonan /m/
dan /n/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan
/i/. Baris ke 7 terdapat persamaan bunyi aliterasi /d/ dan /m/. Baris ke 8 terdapat
asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 9 terdapat persamaan bunyi
konsonan /e/, /k/, dan /u/. Baris ke 10 terdapat persamaan bunyi /e/ dan /r/. Baris
persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 14 terdapat persamaan bunyi vokal /a/
dan /e/. Baris ke 15 terdapat persamaan bunyi aliterasi, yaitu bunyi konsonan /n/
dan /ha/. Baris ke 17 terdapat persamaan bunyi konsonan /ar/. Baris ke 18 terdapat
persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 19 terdapat persamaan bunyi vokal /a/,
Metrum pada puisi ini adalah metrum jambe, karena terdapat penekanan
pada baris puisinya, yaitu tanda (“…”). Tipografi yang digunakan penyair dalam
puisi ini adalah penulisan rata kiri, dengan jumlah 19 baris puisi.
50
8) Semangat
perjuangan bangsa Indonesia untuk membela NKRI dari para penjajah. Diksi yang
digunakan oleh penyair dalam puisi ‗Semangat‘ cukup jelas dan mudah dipahami,
SEMANGAT
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan pendengaran, citraan
perabaan dan citraan gerak. Citraan pendengaran terdapat pada baris Tak perlu
sedu sedan itu! kata sedu sedan dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI)
berarti isak, yang dapat didengar dengan telinga. Citraan perabaan terdapat pada
baris Biar peluru menembus kulitku, kata kulit pada baris ini merupakan bagian
tubuh manusia yang (sensitif) terhadap sentuhan seperti dapat merasakan sakit
ketika dicubit. Kemudian, citraan gerak terdapat pada baris Aku tetap meradang-
menerjang dan baris luka yang bisa kubawa berlari/Berlari. Kata-kata yang
51
digunakan oleh penyair menggambarkan kepada pembaca si aku yang bergerak
perjuang bangsa Indonesia melawan penjajahan pada zaman dahulu, yaitu pada
menggambarkan para pahlawan yang rela berkorban terdapat pada baris Dan aku
perbandingan (metafora) terdapat pada baris Aku ini binatang jalang/ Dari
kumpulan yang terbuang. Kalimat aku ini binatang jalang, merupakan majas
baris Luka yang bisa kubawa berlari/Berlari, kata berlari dalam kalimat tersebut
diulang sebanyak dua kali guna untuk menegaskan apa yang ingin disampaikan.
Rima dalam bait 1 terdapat bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan /u/,
baris ke 3 terdapat bunyi aliterasi /ng/. Bait ke 4 baris 1 terdapat persamaan bunyi
asonansi, yaitu bunyi vokal /i/ dan /u/. Bait ke 5 terdapat persamaan bunyi
asonansi /a/ dan /i/. Kemudian, baris selanjutnya terdapat bunyi aliterasi /h/ dan
Metrum pada puisi ini adalah metrum jambe, karena terdapat penekanan
pada bait atau baris puisinya, yaitu berupa tanda (!) pada baris Tak perlu sedu
52
sedan itu!. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan rata kiri
9) Hukum
Puisi ini menceritakan tentang peraturan pada zaman dahulu, pada tahun
1943 Indonesia masih dibawah kekuasaan pemerintahan Jepang, di masa itu setiap
rumah wajib mengirimkan anak lelakinya untuk Romusha. Diksi yang digunakan
oleh penyair jelas dan dapat dipahami oleh pembaca, seperti berikut:
HUKUM
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan
citraan gerak. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-2, 3 dan 4 yaitu Dalam
baju tebal abu-abu, kata baju tebal berwarna abu-abu dapat dilihat menggunakan
kata bungkuk dan pucat mukanya dapat dilihat dengan indera penglihatan. Citraan
gerak terdapat pada baris ke-6 dan baris ke-10, yaitu Orang menyebut satu nama
jaya, kata menyebut dapat didengarkan dengan indera pendengaran. Pada baris
ke-10, yaitu Pekik di angkasa: Perwira muda, penggunaan kata pekik di baris
53
puisi tersebut dapat diartikan dengan kata seruan atau teriakan yang dapat di
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan (Pleonasme)
baris pertama Saban sore ia lalu depan rumahku, karena kata pada baris tersebut
arti yang dimaksud sudah cukup jelas dipahami. Kemudian, majas perbandingan
(sinekdok) dapat dilihat pada baris ke-11, yaitu Pagi ini menyinar lain masa, kata
yang dirasakan oleh orang pada zaman dahulu adalah Seorang jerih
dapat dilihat pada baris ke 6, 7, 8, 9, 10 dan 11, yaitu Orang menyebut satu nama
menyinar lain masa. Pada baris ke-8 dapat dilihat bahwa pemilik kekuasaan
Puisi malam memiliki persamaan bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan
/u/. Baris ke 2 terdapat aliterasi, yaitu persamaan bunyi konsonan /l/ dan /b/. Baris
ke 3 terdapat persamaan bunyi /kul/ pada kata memikul dan pukul. Baris ke 4 dan
5 terdapat persamaan bunyi aliterasi, yaitu persamaan bunyi konsonan /l/. Baris ke
6 terdapat persamaan bunyi vokal /e/ dan /u/. Baris ke 7 terdapat persamaan bunyi
vokal /a/ dan /u/. Baris ke 9 terdapat persamaan bunyi konsonan /ng/ pada kata
54
memaling dan kurang. Baris ke 10 terdapat persamaan bunyi yang bervariasi yaitu
/k/, /l/, dan /a/. Kemudian, baris ke 12 terdapat persamaan bunyi konsonan /ti/.
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum
Jambe, karena dalam puisi ini ditemukannya beberapa tanda penekanan pada baris
puisi, seperti tanda (.), (,), dan tanda (!). Tipografi yang digunakan oleh penyair
10) Taman
Puisi ini menceritakan tentang kisah kehidupan dua orang yang saling
mencintai. Diksi yang dipilih oleh penyair sederhana namun bermakna, seperti
berikut:
TAMAN
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan
citraan perabaan. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-2, yaitu tak lebar
luas, kecil saja. kata lebar, luas, dan kecil dari suatu objek dapat dilihat
menggunakan indera penglihatan. Kemudian pada baris ke-5 dan 6, yaitu taman
Penggunaan kata berpuluh warna dan padang rumput dapat dilihat menggunakan
inderan penglihatan. Citraan perabaan pada puisi ini terdapat pada baris ke-7,
55
yaitu halus lembut dipijak kaki. Penggunaan kata halus lembut pada baris ini
menggambarkan bahwa kulit telapak kaki dapat merasakan halus dan lembut.
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan (repetisi),
yaitu terdapat pada baris ke-4 yaitu Bagi kau dan aku cukuplah, kata Bagi kau
dan aku diulangi lagi pada bait ke-8, yaitu Bagi kita itu bukan halangan.
Kemudian pada baris ke-11 yaitu kau kembang, aku kumbang, repetisi oleh
sederhana, bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki, yaitu pada baris Bagi kau
persamaan bunyi asonansi /a/ dan /u/. Baris ke 2 terdapat aliterasi bunyi konsonan
/l/. Baris ke 3 terdapat persamaan bunyi konsonan /k/, /n/, dan /t/. Baris ke 4 dan
5 terdapat persamaan bunyi aliterasi, yaitu persamaan bunyi konsonan /h/, /k/, dan
/m/. Baris ke 6 terdapat bunyi aliterasi konsonan /ng/ pada kata padang dan
berbanding. Baris ke 7 terdapat bunyi aliterasi, yaitu /l/ dan /k/. Baris ke 8 dan 9
terdapat pengulangan bunyi/k/ dan /n/. Baris ke 10 terdapat persamaan bunyi /m/
dan /a/. Baris ke 11 dan 12 terdapat persamaan bunyi /ng/ pada kata kumbang dan
kembang. Baris ke 13 dan 14 didominasi oleh persamaan bunyi /k/, /m/, dan /ia/
56
Metrum yang terdapat di dalam puisi ini adalah metrum jambe, karena ada
tanda („) pada puisi ini, yaitu pada baris ke-14 tempat merenggut dari dunia dan
‗nusia. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan rata kiri yang
dengan seorang perempuan. Mereka tampak malu-malu, saat bertemu. Diksi yang
dipilih penyair untuk menggambarkan kisah muda-mudi yang sedang jatuh cinta
yaitu cukup jelas, lugas dan mudah dipahami oleh pembacanya, seperti berikut:
LAGU BIASA
Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan pendengaran, citraan
penglihatan, dan citraan gerak. Citraan pendengaran yaitu terdapat pada bait 3
baris ke-3 Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi. Kata suaranya nyaring berarti
dalam puisi ini terdapat pada bait ke-3 baris 1 dan 2, yaitu Ia mengerling. Ia
ketawa/ Dan rumput kering terus menyala. Kata mengerling memiliki arti melihat
57
Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menunjukkan rasa
keduanya mulai jatuh cinta, pada baris Sungguhpun samudra jiwa sudah selain
berselam. Kemudian, kata menyapa pada baris ke-8 yaitu Dan rumput kering
ke-3 dan ke-10, yaitu Sungguhpun samudra jiwa sudah selain berselam dan
Darahku terhenti berlari. Kata berhenti berlari pada kalimat Darahku berhenti
baris ke-8 yaitu, Dan rumput kering terus menyala. Kata menyala pada kalimat
Dan rumput kering terus menyala, mengandung makna yang tidak sebenarnya.
Rima dalam puisi Luar Biasa ini, pada bait 1 terdapat persamaan bunyi
aliterasi, yaitu persamaan bunyi konsonan /h/, /m/, dan /n/. Bait ke 2 terdapat
persamaan bunyi aliterasi, yaitu bunyi konsonan /m/, /n/, /r/, dan /s/. Bait ke 3
terdapat persamaan bunyi yang bervariasi yaitu /a/, /i/, /r/, dan /ng/, bunyi /ng/
dapat dilihat pada kata mongering, kering, dan nyaring. Bait ke 4 terdapat
Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe,
karena dalam puisi ini terdapat penekanan yaitu berupa tanda (“…”) pada baris
ke-6 dan ke-11 Orkes meningkah dengan ―Carman‖ pula./Ketika orkes memulai
“Ave Maria”. Tipografi yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah tipografi
58
12) Kupu Malam dan Biniku
rasa curiga atau keraguannya terhadap kesetiaan sang istri. Diksi yang dipilih oleh
penyair dalam puisi ini sederhana, namun bermakna dan penyair juga
Barah ternganga
Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan
penglihatan. Citraan gerak terdapat pada baris ke-3 yaitu Kupercepat langkah. Tak
noleh kebelakang, kata langkah merupakan kata kerja, kata noleh juga merupakan
kata kerja yang berasal dari kata toleh, menoleh yang berarti melihat dengan
Kemudian, citraan penglihatan terdapat pada baris ke-4 dan ke-5 yaitu
digunakan oleh penyair pada baris ke-4 dan 5 membuat pembaca seolah-olah
Kata konkret yang dipilih penyair untuk menimbulkan imaji yaitu kata
melayang. Kemudian untuk menunjukkan perasaan curiga dapat dilihat pada baris
Melayang ingatan ke biniku/ Lautan yang belum terduga/Biar lebih kami tujuh
59
tahun bersatu/Barangkali tak setahu/Ia menipuku. Pada baris ke-6,7,8,9, dan 10
dapat dilihat bahwa si aku teringat akan isterinya yang tidak sepenuhnya dapat
sudah lebih dari 7 tahun, bisa saja si isteri tidak setia dan berbohong dengan
suaminya.
Majas yang terdapat di dalam puisi ini adalah pertentangan (hiperbola) dan
majas perbandingan (metafora). Majas hiperbola dapat dilihat pada baris ke-1 dan
2, yaitu Sambil berselisih lalu/mengebu debu. Kata yang digunakan oleh penyair
dapat dimaknai bahwa sambil berjalan lewat lalu dengan semanggat menggelora
atau dapat diartikan juga sambil jalan terburu-buru. Kemudian majas metafora
dapat dilihat pada baris ke-5, yaitu Barah ternganga yaitu bermakna luka, rasa
Pada puisi Kupu Malam dan Biniku terdapat persamaan bunyi akhir pada
baris 1, 2, 3, dan 4, yaitu persamaan bunyi /u/ dan /ng/ seperti pola a-a-b-b. Baris
ke 5, 6. 7 dan 8 terdapat persamaan bunyi konsonan /h/, /m/, /n/, dan /ng/.
13) Penerimaan
Diksi yang dipilih penyair cukup sederhana, lugas dan mudah dipahami
PENERIMAAN
60
Dengan sepenuh hati
Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu
terdapat pada baris ke-6 Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani. Kata tunduk
pada baris ke-6 memiliki arti menghadapkan wajah ke bawah, atau dapat juga
diartikan kata jangan tunduk digunakan oleh penyair untuk mengatakan jangan
melihat ke bawah atau menyerah! Lihat aku dengan berani kepada pembaca.
penuh harap, dapat dilihat pada baris ke-1, 2, dan 3, yaitu Jika kau mau, kuterima
kau kembali/Dengan sepenuh hati/Aku masih tetap sendiri. Pada baris tersebut
terlihat bahwa tokoh aku lirik masih berharap, dan dapat menerima orang yang
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas perbandingan (metafora)
dan majas penegasan (repetisi atau pengulangan). Majas metafora dapat dilihat
pada baris ke-5 yaitu Bak kembang sari sudah terbagi, dapat diartikan seperti
penegasan (repetisi) dalam puisi ini terdapat pada baris ke-1 dengan baris ke-7,
yaitu pada kalimat Jika kau mau, kuterima kau kembali, kata pada baris tersebut
diulangi oleh penyair sebanyak dua kali untuk menegaskan kepada pembaca
61
Puisi Kupu Malam dan Biniku terdapat persamaan bunyi /i/ pada setiap
akhir barisnya, sehingga menghasilkan bunyi yang indah dan dapat dikatakan
berima sempurna.
Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe,
yaitu dengan adanya penekanan pada bait, baris puisi. Pada puisi ini ditemukan
penekanan pada baris ke-6 berupa tanda (!). Tipografi yang digunakan oleh
14) Kesabaran
yang sedang dihadapi. Diksi yang digunakan oleh penyair jelas dan mudah
dipahami. Penyair dalam puisi ini menggunakan diksi yang bermakna konotatif
KESABARAN
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan pendengaran, citraan
penglihatan dan citraan gerak. Pada puisi ini, citraan pendengaran terdapat dalam
baris ke-2, 5, dan 8, yaitu Orang ngomong, anjing nggonggong/ Dihantam suara
62
penyair membuat pembaca seperti ikut mendengarkan apa yang didengarkan oleh
api dan abu/Keras-membeku air kali. Kata-kata yang digunakan oleh penyair
dalam baris tersebut membuat pembaca seolah-olah dapat melihat apa yang
penyair lihat seperti api dan abu. Kemudian, citraan gerak terdapat dalam baris ke-
14, yaitu Sambil bertutup telinga, berpicing mata. Kata bertutup telinga dapat
pada baris ke 4, 6 dan 11, yaitu Kelam mendinding batu/ Suaraku hilang,
abu, kata yang digunakan oleh penyair berlawanan makna, namu masih
konsonan/ng/, baris ke 3 terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 4
terdapat persamaan bunyi /m/ dan /d/. Baris ke 5 terdapat persamaan bunyi /d/, /r/,
/l/, dan /u/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /e/. Baris ke 7 dan 9
terdapat persamaan bunyi /a/. Baris ke 8 terdapat persamaan bunyi konsonan /ku/
dan /ng/. Baris ke 10 terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /i/. Baris ke 11
terdapat persamaan bunyi /a/, /e/, dan /i/. Baris ke 12 terdapat persamaan bunyi
63
konsonan /n/, /h/, dan /p/. Baris ke 13 terdapat persamaan bunyi vokal /i/ dan /u/.
Baris ke 14 terdapat persamaan bunyi /m/, /i/, dan /t/. Baris ke 15 terdapat
Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe,
karena pada puisi ini ditemukan tanda penekanan dalam baris puisinya yaitu
berupa tanda (!) pada baris ke-9. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah
tipografi rata kiri dengan jumlah puisi sebanyak 4 bait dan 15 baris.
15) Ajakan
untuk melakukan apa saja, jangan takut meskipun banyak rintangan yang nantinya
dihadapi. Diksi yang dipilih oleh penyair jelas, tegas, bermakna konotatif dan juga
AJAKAN
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan
Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.
Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan
citraan gerak. Pada puisi „Ajakan‟ citraan penglihatan dapat dilihat pada baris
64
membuat pembaca ikut melihat apa yang penyair lihat. Kemudian, citraan gerak
dapat dilihat pada baris Bersepeda sama gandengan, kata bersepeda dapat berarti
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan dan majas
yaitu Gembira girang, baris tersebut bermakna senang, bahagia yang digambarkan
dengan kata gembira lalu dipertegas lagi dengan kata girang. Kemudian, majas
personifikasi dapat dilihat pada baris ke-14 yaitu Biar hujan datang. Kata datang
pada baris ini membuat hujan seolah-olah adalah seseorang yang dinantilkan
kedatangnnya.
dipilih penyair untuk menggambarkan bahwa tidak apa-apa, menjadi acuh tak
acuh, bahagia dan menikmati setiap prosesnya meskipun ada rintangan, hadapi
Rima yang terapat dalam puisi Ajakan adalah rima kembar karena berpola
a-a-b-b, seperti pada baris 1 dan 2 dalam puisi diakhir dengan bunyi vokal yang
sama yaitu /a/. Kemudian baris 3 dan 4 terdapat persamaan bunyi /ut/.
Metrum yang digunakan dalam puisi ini adalah adalah metrum jambe.
Kemudian tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi penulisan rata
16) Kenangan
65
Puisi ini ditulis penyair untuk seorang wanita bernama Karinah
Moordjono. Pada puisi ini penyair menggambarkan kenangan dan rasa lega,
penyesalan yang tiba. Diksi yang dipilih penyair jelas, dapat dipahami pembaca
KENANGAN
Untuk Karinah Moordjono
Kadang
Diantara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda using dilupa
Ah! tercebar rasanya diri
Membumbung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia
Citraan yang ditemukan dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu
dapat dilihat pada baris ke-6 Membumbung tinggi atas kini. Kata-kata yang
digunakan penyair pada baris ini menimbulkan imaji penglihatan yaitu pada kata
membubung berarti naik atau menaik, sehingga pada baris tersebut dapat jika
penegasan (repetisi atau pengulangan). Majas hiperbola dapat dilihat pada baris
ke-8 dan ke-9 yaitu Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang/Hancur hilang belum
dapat dilihat pada baris ke-2 dan ke-11, yaitu pada kata itu-itu saja.
66
Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan kenangan dapat
dilihat pada baris Sejenak/Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang/ Hancur hilang
seperti pada baris 1 terdapat persamaan bunyi /a/. Baris ke 2 terdapat persamaan
bunyi /a/, /i/, /u/, dan /r/. Baris ke 3 terdapat persamaan bunyi /e/, /m/, dan /r/.
Baris ke 4 terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 5 terdapat
persamaan bunyi /d/, /e/, /r/, dan /i/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi /b/, /i/
dan /m/. Baris ke 8 terdapat persamaan bunyi /a/, /i/, dan /u/. Baris ke 9 terdapat
persamaan bunyi /e/, /h/, /ng/, dan /l/. Baris ke 11 terdapat persamaan bunyi /i/ dan
/u/. Baris ke 12 terdapat persamaan bunyi /a/, /u/, dan /r/. Baris ke 13 terdapat
persamaan bunyi /a/, /h/, /n/, /t/. Kemudian baris ke 14 terdapat persamaan bunyi
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum
jambe, karena terdapat penekanan pada baris puisi yaitu berupa tanda (!) seperti
Ah!tercebar rasanya diri. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan
17) Hampa
kesepian dan merasa hampa tanpa sri. Diksi yang digunakan penyair dalam puisi
'Hampa' jelas dan dapat menggambarkan perasaan penyair dengan baik, seperti
berikut:
67
HAMPA
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu
terdapat pada baris ke-1, 2, dan 3 yaitu, Sepi diluar, sepi menekan-
yang digunakan oleh penyair menimbulkan citraan penglihatan bagi pembaca, saat
membaca puisi pembaca dibuat seolah-olah dapat melihat apa yang ada dalam
puisi tersebut.
Majas hiperbola terdapat pada baris ke-1, yaitu Sepi diluar, sepi menekan-
kesepian atau rasa sepi yang dirasakan oleh tokoh dalam puisi. Majas metafora
terdapat pada baris ke-4 dan ke-10, yaitu Sepi memagut/Udara bertuba.
yaitu pada baris Sepi diluar, sepi menekan-mendesak, penyair menggunakan kata
sepi yang diulangi pada baris ke-4, 7, dan 11. Kata konkret yang dipilih penyair
untuk menunjukkan kesetiaan adalah penggunaan kata menanti pada baris ke-6, 8,
68
dan 11. Penggunaan kata menanti menggambarkan dengan jelas bagaimana
Rima yang terkandung dalam puisi ini adalah persamaan bunyi /e/, /i/, /s/,
/m/, dan /k/. Baris ke 2 terdapat persamaan bunyi /u/, /k/, dan /r/. Baris ke 3
terdapat persamaan bunyi /a/ dan /k/. Baris ke 4 dan 5 terdapat persamaan bunyi
/e/, /i/, /k/, /s/, /m/, dan /u/. Baris ke 6 dan 7 terdapat persamaan bunyi /a/, /e/,
/nan/. Baris ke 10 dan 11 terdapat persamaan bunyi /a/, /u/, dan /r/. Baris ke 12
yaitu adanya penekanan pada baris atau bait puisi berupa tanda (,), kemudian,
tipografi yang digunakan penyair adalah penulisan rata kiri dengan jumlah baris
12 baris puisi
18) Perhitungan
hidupnya tidak tentu arah dan hidup dalam kesendirian. Diksi yang digunakan
PERHITUNGAN
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu
dapat dilihat pada baris ke-1, 2, 3, 5 dan 8, seperti Banyak gores belum terputus
69
saja/ Satu rumah kecil putih dengan lampu merah/Langit bersih-merah dan
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan dan majas
penegasan. Majas pertentangan dapat dilihat pada baris Langit bersih-merah dan
penegasan dapat dilihat pada baris satu rumah kecil dengan lampu merah, Kata
satu rumah kecil dipertegas lagi dengan kata lampu merah agar menjadi lebih
jelas.
adalah Kini aku meringkih dalam malam sunyi. Kemudian, kata konkret yang
digunakan untuk menunjukkan penyair yang kehilangan arah, yaitu Sudah itu
peduli, ke Bandung, ke/Sukabumi!? Pada baris Sudah itu tempatku tak tentu
dimana terlihat bahwa penyair bingung tak tentu kemana arah tujuannya.
Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah persamaan bunyi /a/ dan /s/
pada baris ke 1. Baris ke 2 terdapat persamaan bunyi /a/, /u/, dan /h/. Baris ke 3
terdapat persamaan bunyi /a/ dan /r/. Baris ke 4 terdapat persamaan bunyi /t/ dan
/u/. Baris ke 5 terdapat persamaan bunyi /se/ dan /an/. Baris ke 6 terdapat
70
persamaan bunyi /n/. Baris ke 7 terdapat persamaan bunyi /k/ dan /u/. Baris ke 8
Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi penulisan rata kiri
19) Rumahku
RUMAHKU
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala tampak
Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan
penglihatan. Citraan gerak terdapat pada baris ke-3, yaitu Kulari dari gedung
lebar halaman. Kata lari dalam baris ini menimbulkan imaji gerak pada puisi.
Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-1, 2, 5, dan 6, yaitu Rumahku dari
ketika senjakala/Di pagi terbang entah kemana. Kata-kata yang digunakan oleh
penyair dalam baris ke-1, 2, 5, dan 6 seperti kaca jernih dari luar, senja, pagi yang
71
dapat dilihat menggunakan indera penglihatan (mata), sehingga pembaca dibuat
suasana yang berbeda yaitu pada baris Kulari dari gedung lebar halaman/Aku
tersesat tak dapat jalan/ Kemah kudirikan ketika senjakala/Di pagi terbang entah
kemana/ Rumahku dari unggun-timbun sajak/ Disini aku berbini dan beranak.
Pada baris tersebut terlihat bahwa si aku berusaha mencari hal yang berbeda di
mencoba mencarinya di luar, namun ia tersesat dan tidak menemukan hal yang ia
cari.
hidup sesungguhnya adalah pada baris Rasanya lama lagi, tapi datangnya
menagih yang satu. Pada baris ini terlihat bahwa si aku sadar sejauh mana ia ingin
menemukan hal baru diluar rumah, tempat terbaik adalah rumah, karena ada
keluarga, kehangatan yang sangat berarti dan tidak akan di dapatkan di tempat
lain.
(repetisi) dan majas pertentangan (Hiperbola). Majas repetisi dapat dilihat pada
baris ke-1 dan ke-7, yaitu Rumahku dari unggun-timbun sajak yang diulangi pada
baris ke-7 untuk menegaskan kembali makna oleh penyair. Majas hiperbola
terdapat pada baris aku tidak lagi meraih petang, jika dilihat secara umum si aku
sebagai manusia tidak akan dapat meraih petang itu tidak mungkin dilakukan, hal
72
tersebut berlebihan untuk menggambarkan maksud yang sebenarnya. Rima yang
Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe.
Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan rata kiri dengan jumlah
12 baris.
Puisi ini menggambarkan tentang perjuangan dua orang yang bekerja keras
hingga tak kenal waktu. Diksi yang digunakan penyair dalam puisi ini berhasil
berikut:
Siapa berkata?
Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan gerak, citraan
perabaan, dan citraan penglihatan. Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-1,
yaitu Kami jalan sama. Sudah larut. Kata jalan yang digunakan oleh penyair bisa
diartikan sebagai gerak atau suatu perlintasan (dari satu tempat ke tempat lain).
Citraan perabaan dapat dilihat pada baris ke-3, yaitu Hujan mengucur badan, kata
mengucur badan dapat diartikan hujan jatuh mengenai badan dan dirasakan oleh
73
kulit sebagai lapisan terluar dari badan (tubuh). Citraan penglihatan dapat dilihat
pada baris ke-4 dan ke-10, yaitu berkakuan kapal-kapal di pelabuhan dan sudah
larut sekali, kata yang digunakan oleh penyair membuat pembaca seperti ikut
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (Hiperbola)
dan majas penegasan (repetisi). Majas hiperbola terdapat pada baris ke-2 dan ke-4,
dan Aku‟ adalah kata sudah larut malam yang diulang dua kali oleh penyair untuk
keras dari si aku dan temannya yaitu pada baris Kami jalan sama. Sudah
usaha yang tak kenal waktu yaitu pada baris Dia bertanya jam berapa!/Sudah
Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah bunyi /ut/ di akhir baris 1 dan 2.
konsonan /n/ dan /l/. Baris ke 5 terdapat persamaan bunyi /at/ pada kata pekat dan
74
tumpat. Baris 6 dan 7 terdapat persamaan bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/.
Baris ke 8 dan 9 terdapat persamaan bunyi aliterasi konsonan /k/ dan /r/. Baris ke
10, 11, dan 12 terdapat persamaan bunyi /h/, /s/, dan /k/.
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum
jambe, karena pada baris puisi ditemukan adanya penekan berupa tanda (!) yaitu
Dia bertanya jam berapa!. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah
21) Di masjid
Tuhan. Penyair juga menempatkan dirinya sebagai aku di dalam puisi, diksi yang
digunakan oleh penyair jelas dan memiliki makna yang dalam, seperti berikut:
DI MESJID
Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga
Kamipun bermuka-muka
Ini ruang
Gelanggang kami berperang
Binasa-membinasa
Satu menista lain gila.
Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan pendengaran dan
citraan penglihatan. Citraan pendengaran dapat dilihat pada baris ke-1, yaitu
Kuseru saja dia. Kata seru pada baris tersebut mengandung arti panggilan atau
75
mengandung arti berhadapan muka, di depan muka, di depan orang, pada baris
tersebut penyair membuat pembaca seolah dapat melihat apa yang penyair lihat.
daya memadamkannya, kata yang digunakan oleh penyair dalam baris tersebut
melaksanakan perintah dan kewajiban sebagai seorang hamba. Kata konkret yang
digunakan oleh penyair untuk menunjukkan rasa kegelisahan dalam diri saat
memadamkannya.
Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah /a/ dan /u/ di baris ke 1 dan 2.
Baris ke 3 terdapat persamaan bunyi /a/ dan /u/. Baris ke 4 dan 5 terdapat
persamaan bunyi /a/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi konsonan /h/ dan /r/.
persamaan bunyi /a/, /b/, dan /s/. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah
22) Aku
melakukan sesuatu yang tidak biasanya. Pada puisi ini si aku merasa bahwa
dirinya sedang terjatuh ke dalam lembah dosa, sebelumnya si aku sangat taat dan
76
beriman, namun kini ia menjauh dari kata taat dan beriman tersebut. Diksi yang
digunakan oleh penyair sangat jelas dan berhasil menggambarkan perasaan si aku
AKU
Aku hidup
Dalam hidup di mata tampak-bergerak
Dengan cacar satu senyum kukucup-minum dalam
Dahaga.
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan
penglihatan. Citraan gerak pada puisi ini dapat dilihat pada baris ke-1 yaitu
puisi ini dapat dilihat pada baris ke-5, yaitu Dalam hidup di mata tampak
bergerak, kata tampak dalam baris tersebut dapat diartikan melihat, dapat dilihat,
atau kelihatan, sehingga jika disederhanakan baris tersebut menjadi dalam hidup
(hiperbola). Majas pertentangan (hiperbola) terdapat pada baris ke-6 yaitu Dengan
cacar melebar, barah bernanah, pada baris ini bermakna dosa dan kesalahan yang
ada dalam diri si aku semakin besar serta sulit untuk diampuni, dan pada baris
yang terjatuh ke dalam lembah dosa adalah Melangkahkan aku bukan tuak
77
katanya. Kemudian, kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukan si
aku yang merasa dirinya salah adalah Aku hidup/Dalam hidup di mata tampak-
Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah aliterasi, yaitu persamaan bunyi
konsonan /k/ dan /n/. Baris ke 2 terdapat persamaan bunyi /t/ dan /n/. Baris ke 3
terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /i/. Baris ke 4 dan 5 terdapat persamaan
bunyi /k/, /m/, dan /p/. Baris ke 6 dan 7 terdapat persamaan bunyi /i/, /r/, dan /m/.
23) Cerita
kisah atau cerita pertemanan antara penyair dan Darmawidjaja. Puisi ini
nantinya akan kembali berbaikan. Diksi yang digunakan oleh penyair jelas, mudah
CERITA
78
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak, yaitu pada baris
ke-3 Mengikat sudah kesal/Tak tahu apa dibuat, kata mengikat yang digunakan
oleh penyair dapat diartikan gerak mengeratkan, mengebat dengan tali. Majas
yang terdapat dalam puisi ini adalah majas perbandingan (metafora) dan majas
terdapat pada baris ke-6, yaitu Dalam hidup, dalam tuju. Kata dalam pada baris
ini diulang dua kali untuk menegaskan makna puisi kepada pembaca.
kisah pertemanan antara penyair dan Darmawidjaja adalah Di pasar baru mereka /
Lalu mengada-menggaya/ Mengikat sudah kesal/Tak tahu apa buat/ Jiwa satu
teman lucu. Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan konflik
yang pernah dialami keduannya adalah Tapi kadang pula dapat/Ini renggang
terus terapat.
Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah /a/ dan /r/ pada baris 1. Baris ke
2 terdapat persamaan bunyi /a/ dan /m/. Baris 3 dan 7 terdapat persamaan bunyi
digunakan jambe, karena ditemukannya penekanan pada baris puisi berupa tanda
(,), kemudian tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan rata kiri
24) Bercerai
79
Puisi ini menyampaikan tentang perasaan penyair yang diharuskan
menderita lebih banyak lagi. Diksi yang digunakan oleh penyair mengandung
makna konotafit, denotatif, jelas serta dapat dipahami oleh pembaca. Pemilihan
BERCERAI
Bagaimana?
Kalau IDA, mau turut mengabur
Tidak samudra caya tempatmu menghambur.
Citraan yang terdapat dalam puisi adalah citraan pendengaran dan citraan
penglihatan. Citraan pendengaran dapat dilihat pada baris ke-2, yaitu Sebelum
kicau murai berderai, kata kicau memiliki arti tiruan bunyi burung yang dapat
dapat dilihat pada baris ke-5, 9, dan 11, yaitu Darah masih berbusah-busah/Biru
surya Ian menembus oleh malam di perisai/ Merah kesumba jadi putih kapur.
Kata-kata yang digunakan oleh penyair pada ke-5, 9, dan 11 membuat pembaca
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)
dan majas penegasan (repetisi). Majas pertentangan (hiperbola) dapat dilihat pada
80
baris ke-5 dan ke-9, yaitu Darah masih berbusah-busah dan Dua benua bakal
pada baris ke-1 dengan ke-7, serta baris ke-3 dengan baris ke-6. Pada baris ke-1
Kita musti bercerai diulangi kembali di baris ke-7. Kemudian, pada baris ke-3
Terlalu kita minta pada malam ini diulangi kembali pada baris ke-6. Majas
pertentangan dapat dilihat pada baris ke-10 yaitu Merah kesumba jadi putih
kapur.
tempatmu manghambur.
Rima yang terdapat dalam baris ke 1, 2, dan 3 adalah bunyi /i/ di akhir
baris. Baris ke 4 dan 5 terdapat persamaan bunyi /h/, /r/, dan /s/. Baris ke 6, 7, dan
8 terdapat persamaan bunyi /i/ dan /m/. Baris ke 9, 10, 12, dan 13 terdapat
menghambur.
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah adalah
metrum Jambe, karena terdapat tekanan bervariasi berupa tanda (.) pada beberapa
baris puisi yang artinya menunjukkan penghentian baca puisi. Tipografi yang
digunakan adalah tipografi dengan penulisan rata kiri serta jumlah baris 13 baris.
81
Puisi ini menceritakan tentang kegelisahan dan kesedihan seseorang yang
akan berpisah. Diksi yang digunakan oleh penyair sederhana namun memiliki
SELAMAT TINGGAL
Aku berkaca
Bukan untuk ke pesta
Ah………… !!!
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan
citraan pendengaran. Citraan penglihatan dapat dilihat pada baris ke-1, 3, dan 9
yaitu, aku berkaca/ Ini muka penuh luka/ Menggelepar tengah malam buta. Kata-
kata yang digunakan oleh penyair membuat pembaca seolah-olah ikut melihat apa
yang dilihat oleh penyair. Kemudian, citraan pendengaran dapat dilihat pada baris
ke-5, yaitu Kudengar seru menderu, kata seru menderu dalam baris tersebut
berarti panggilan yang dilakukan berulang kali. Suara panggilan dapat didengar
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)
ke-3 dan ke-9 Ini muka penuh luka dan Menggelepar tengah malam buta, kata
82
sebenarnya. Kemudian, majas metafora terdapat pada baris ke-11 yaitu segala
Kata konkret yang penyair pilih untuk menimbulkan imaji adalah pada
kata konkret yang dipilih penyair pada baris ke-9 juga berhasil menimbulkan
penglihatan.
bunyi vokal /a/. Baris ke 5, 6, dan 7 adalah persamaan bunyi /u/ pada akhir baris
puisi. Baris ke 11, 12, dan 13 terdapat persamaan bunyi /al/ pada kata menebal,
Metrum yang digunakan oleh penyair adalah metrum jambe karena banyak
terdapat penekanan pada barisnya berupa tanda (!) yang artinya menegaskan
maksud atau makna yang ingin disampaikan dalam puisi tersebut. Tipigrafi yang
digunakan penyair dalam puisi ini adalah penulisan rata kiri dengan jumlah 13
baris puisi.
26) Dendam
hidupnya akan merasa tidak tenang dan gelisah. Diksi yang digunakan oleh
DENDAM
Berhenti tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak
Aku tegak
Nulan bersinar sedikit tak tampak
83
Tangan meraba kebawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu
Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbelas di jari
Aku mencari
Diri tercerai dari hati
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah gerak dan citraan penglihatan.
Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-1 dan ke-5, yaitu Berdiri tersentak dan
yang digunakan oleh penyair membuat pembaca seolah-olah dapat melihat si aku
Citraan penglihatan dapat dilihat pada baris ke-3 dan ke-4, yaitu Aku tegak dan
Bukan bersinar sedikit tak tampak, kata yang digunakan oleh penyair
si aku yang berdiri. Kemudian, kata “sinar” pada baris puisi tersebut biasanya
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)
baris ke-9 dan ke-11, yaitu Mendadak mati kuhendak berbekas di jari dan Diri
tercerai dari hati, kata yang digunakan oleh penyair berlebihan dari maksud yang
dilihat pada baris ke-6, yaitu Keris berkarat kugenggam di hulu, baris tersebut
/k/. Baris ke 8, 9, dan 10 terdapat persamaan bunyi /ri/ di akhir baris. Baris ke 11
84
terdapat persamaan bunyi /i/. Tipografi yang digunakan penyair dalam puisi ini
27) Merdeka
kebebasan dari rasa bayang-bayang Ida, serta hidup dengan tenang. Diksi yang
digunakan oleh penyair sederhana, namun memiliki makna yang dalam, seperti
berikut:
MERDEKA
Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah – kumamah
Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak. Citraan ini
dapat dilihat pada baris ke-7 dan ke-16, yaitu Seharian kukunyah-kumamah dan
Mengapa kalau beranjak dari sini. Kata-kata yang digunakan oleh penyair
gerakan menguyah yaitu gerak yang dilakukan pada saat memakan sesuatu.
Kemudian, kata beranjak yang terdapat dalam baris ke-16 dapat diartikan gerak
berpindah tempat.
85
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (antithesis
percaya pada sumpah dan cinta/Menjadi sumsum dan darah, kata yang dipilih
dan digunakan oleh penyair pasangan kata yang berlawanan makna, namun
maksud sebenarnya.
terbebas dari kenangan dengan Ida adalah pada baris Aku mau bebas dari
menunjukkan tekanan batin yang dialami oleh si aku, yaitu pada baris Sedang
gapai/Mengapa kalau beranjak dari sini/Kucoba dalam hati. Pada tiga baris
terakhir pada puisi terlihat bahwa si aku yang terlalu berharap, dan mencoba untuk
pergi.
Rima yang terdapat pada bait 1 adalah persamaan bunyi vokal /a/. Bait ke
2 terdapat persamaan bunyi konsonan /h/, /k/, /m/, dan /r/. Bait ke 3 terdapat
persamaan bunyi /ng/ dan /ut/. Bait ke 4 terdapat persamaan bunyi /i/ dan /ng/
Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe,
yaitu tekanan bervariasi, ada yang diberi tekanan dan ada yang tidak diberi
tekanan pada tiap kata atau suku kata, seperti pada bait terakhir Ah! Jiwa yang
86
menggapai-gapai/Mengapa kalau beranjak dari sini/Kucoba dalam mati.
Tipografi yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah tipografi penulisan rata
Puisi ini menggambarkan tentang “kita” yang lemah dan tidak berdaya
untuk melawan. Diksi yang dipilih penyair jelas, ada beberapa yang mengandung
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan pendengaran. yaitu
pada baris ke-3 Segala erang dan jeritan. Kata erang berarti keluh atau rintih yang
disebabkan rasa kesakitan, dan kata jeritan berarti pekikan atau teriakan. Kedua
kata tersebut menghasilkan suara dan dapat didengarkan oleh indera pendegaran.
Kemudian, majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan
(Antitesis dan Hiperbola). Majas antitesis dapat dilihat pada baris ke-3 Segala
erang dan jeritan. Majas hiperbola dapat dilihat pada baris ke-2 dan ke-7, yaitu
Sekali tetak tentu rebah dan Ini malam purnama akan menembus awan. Pada
baris ke-2 dan ke-7, penyair menggunakan kata yang berlebihan dalam
Kata konkret dalam puisi ini yang menggambarkan seseorang yang lemah
dan rapuh dapat dilihat pada baris ke-1 dan ke-2, yaitu Kita guyah lemah dan
Sekali tetak tentu rebah. Kemudian, kata konkret yang digunakan oleh penyair
87
untuk menunjukkan penderitaan yang dialami dapat dilihat pada baris ke-3 dan
ke-4, yaitu Segala erang dan jeritan dan Kita pendam dalam keseharian.
Rima yang terdapat dalam bait 1 adalah bunyi konsonan /h/ dan /m/ pada
akhir baris dengan pola a-a-b-b. Kemudian bait ke 2 terdapat persamaan bunyi /k/,
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum
anapest, yaitu tekanan yang dimulai pada suku kata ketiga, dan pada awal suku tak
bertekanan, seperti pada baris Ini malam purnama akan menembus awan.
Terdapat tanda (.) diakhir kalimat. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah
berdiam diri dengan dosa yang dimiliki. Diksi yang digunakan oleh penyair
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan
penglihatan. Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-1 dan ke-4, yaitu Jangan
kita disini berhenti/Terus, terus dulu…….!! kata yang digunakan oleh penyair
menggambarkan kepada pembaca untuk jangan berhenti atau dapat juga diartikan
terus jalan (bergerak). Kemudian, citraan penglihatan dalam puisi ini dapat dilihat
88
pada baris ke-2, 5, 7, dan 8, Tuaknya tua, sedikit pula/Ke ruang dimana botol tuak
banyak berbaris/O, bibir merah, selokan mati pertama/O, hidup, kau masih
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan (pleonasme
dan repetisi). Majas pleonasme yaitu Tuaknya tua, sedikit pula penyair
menggunakan kata sedikit pula untuk menegaskan kata-kat yang sudah jelas.
Kemudian, majas penegasan (repetisi) terdapat pada baris sedang kita mau
berdiam diri dan berhenti, yaitu Jangan kita disini berhenti, kemudian rima yang
terdapat dalam bait 1 yaitu persamaan bunyi vokal /a/, /i/, dan /u/. Bait ke 2
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum
jambe, yaitu ditemukannya penekanan dalam puisi berupa tanda (,) dan tanda (!).
Tipografi yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah tipografi penulisan
rata kiri.
dengan perkataan yang diutaran oleh orang lain mengenai dirinya sehingga timbul
rasa tidak suka, benci dengan orang tersebut. Diksi yang digunakan oleh penyair
89
(MULUTMU MENCUBIT DI MULUTKU)*
Mulutmu mencubit di mulutku
Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan gerak, yaitu pada
baris pertama Mulutmu mencubit di mulutku, kata mencubit yang digunakan oleh
penyair dalam baris ini dapat digambarkan seperti gerakan menjepit dengan jari-
jari tangan.
mencubit adalah tangan, namun disini penyair menggambarkan jika mulutmu bisa
makna sebenarnya yaitu seseorang yang tersinggung atau sakit hati karena lisan
seseorang.
Kata konkret yang dipilih penyair dalam puisi ini untuk menunjukkan
itu/Mengapa merihmu tak kucekik pula. Pada baris ini bermakna bahwa muncul
benci setelah itu, dan kenapa tenggorokan kamu tidak kucekik saja?, kata tersebut
menggambarkan bahwa si aku sangat marah, dan tidak suka dengan orang
tersebut.
Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah bunyi /a/ dan /u/ yang berpola
a-a-b-b, kemudian tipografi yang digunakan penyair dalam puisi adalah tipografi
90
Puisi ini menggambarkan tentang kehidupan seseorang yang merasa
banyak dosa yang telah diperbuat selama ini, hingga keinginannya untuk meminta
ampunan kepada Tuhan. Diksi yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini sangat
jelas dan bahasa yang digunakan penyair ada yang konotatif dan denotatif
sehingga memberikan makna yang dalam setra dapat diterima oleh pembaca
KEPADA PEMINTA-MINTA
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, citraan
penglihatan dapat dilihat pada baris ke-6, yaitu Sudah tercacar semua di muka,
pada baris tersebut penyair mengajak pembaca untuk melihat si aku yang sudah
terkena cacar di seluruh wajahnya. Citraan pendengaran dapat dilihat pada baris
91
Citraan gerak dalam puisi dapat dilihat pada baris ke-11 dan 12, yaitu
Menetes dari suasana kau datang/Sembarang kau merebah. Kata menetes adalah
atau membuat menjadi rebah. Kemudian, citraan pencecapan dapat dilihat pada
baris ke-15, yaitu Di bibirku terasa pedas, kata pedas dalam baris tersebut pada
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)
dan majas penegasan (repetisi). Majas hiperbola dalam puisi ini dapat dilihat pada
baris ke-4, 14 dan 20, yaitu Nanti darahku jadi beku/Menghempas aku di bumi
keras/ Nanti darahku jadi debu, kata-kata yang digunakan oleh penyair dalam
sebenarnya. Kemudian majas penegasan (repetisi) dalam puisi ini terletak pada
baris Baik, baik aku akan menghadap Dia, kata tersebut diulangi oleh penyair
yang penuh dosa, yaitu Sudah tercacar semua di muka/Nanah meleleh dari
luka/Sambil berjalan kau usap juga. Kata konkret yang digunakan penyair untuk
Rima yang terdapat dalam bait ke 1 adalah persamaan bunyi vokal /a/ dan
/u/ dengan pola a-a-b-b. Bait ke 2 terdapat persamaan bunyi /a/ pada setiap
barisnya, sehingga bait ini dapat dikatakan berima sempurna. Bait ke 3 terdapat
persamaan bunyi adalah /h/ dan /ng/ dengan pola a-b-b-a. Bait ke 4 terdapat
92
persamaan bunyi /u/ dan /s/ dengan pola a-b-a-b. Bait ke 5 terdapat persamaan
penekanan bervariasi, ada yang diberi tekanan, ada yang tidak diberi tekanan pada
setiap suku kata atau kata. Pada puisi ini terdapat tanda berupa tanda (.) dan (,)
seperti pada baris pertama yaitu Baik,baik aku akan menghadap Dia/
Menyerahkan diri dan segala dosa. Tipografi yang digunakan oleh penyair dalam
puisi ini adalah tipografi penulisan rata kiri, dengan jumlah 20 baris puisi.
32) Fragmen
yang sudah dialami oleh si aku dan akan diingat menjadi kenangan serta
pengalaman. Diksi yang digunakan oleh penyair jelas, dan memiliki makna yang
FRAGMEN
Dan juga
diangkat dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain
mengungsi dari kota satu ke kota lain? Aku
sekarang jalan 1 ½ rabu.
Dan
93
Pernah percaya pada kemutlakan soal….
Tapi adakah ini kata-kata untuk mengangkat tabir
Pertemuan
Memperjelas datang siang? Adakah-
Mari cintaku
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan
citraan gerak. Citraan penglihatan dapat dilihat pada baris ke-3, 14 dan 16, yaitu
Lihat keluar, hitung-pisah warna yang bermain di jendela/ Kau menantap, aku
menatap/ Kau pernah melihat pantai, melihat laut, melihat gunung? Kata-kata
yang digunakan oleh penyair pada baris ke-3, 14, dan 16 membuat pembaca ikut
berimajinasi seakan melihat apa yang dilihat oleh penyair. Kemudian, citraan
gerak dapat dilihat pada baris ke-2, 19, 20 dan 21, yaitu Duduklah diri
dengan 1 ½ rabu. Kata duduk yang digunakan oleh penyair pada baris ke-2
94
menggambarkan tokoh yang sedang mengistirahatkan tubuhnya. Pada baris ke-19,
diambil/dibawa dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Kemudian, pada baris
ke-21, yaitu kata jalan yang digunakan oleh penyair dapat diartikan pelintasan
atau suatu gerak yang dilakukan oleh makhluk hidup untuk berpindah tempat.
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (antithesis)
dan majas penegasan. Majas pertentangan dapat dilihat pada baris ke-12, 13, dan
14, yaitu Kau asing, aku asing/Dipertemukan oleh jalan yang tidak pernah
baris ke-19, 30, 45,46,47,48, dan 49, yaitu diangkat dari rumah sakit satu ke
waktu pergi, dan aku akan pergi/Dan apa yang kita pikirkan, lupakan,
klimaks, yaitu menyebutkan rentetan kata yang terus meningkat baik dari kualitas
kata yang bertujuan menegaskan makna puisi, yaitu – Tidak,tidak, tidak sama
dengan angina ikutan kita…., kata tidak pada baris ini diulangi sampai sebanyak
tiga kali.
pembaca yaitu, kata menatap pada baris ke-14 Kau menatap, aku menatap, pada
baris ini terlihat imaji penglihatan. Kemudian, kata melenggang pada baris ke-42
95
Melenggang diselubungi kabut dan caya, benda yang tidak menyata, pada baris
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum
jambe, yaitu penekanan pada puisi berupa tanda (,) dan (.), kemudian tipografi
yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah tidak beraturan.
33) Malam
waktu bisa saja bertemu dengan musuh yang dapat membunuh kapan saja, bahkan
sebelum siang tiba, bisa saja diri sudah hilang diserang musuh. Diksi yang
digunakan dalam puisi ini jelas, sederhana, dan bermakna konotatif serta
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam,
kami masih saja berjaga
—Thermopylae?—
—jagal tidak dikenal? —
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang……
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu
terdapat pada baris pertama Mulai kelam, kata malam pada baris tersebut
setelah matahari terbenam hingga matahari terbit yang dapat diihat oleh indera
penglihatan.
(hiperbola), yaitu terdapat pada baris ke-7 dan ke-8, Sebelum siang membentang/
96
kami sudah tenggelam hilang, dapat diartikan sebelum pagi hari tiba, kami para
Metrum yang digunakan dalam puisi ini adalah metrum anapest, yaitu
tekanan yang dimulai pada suku kata ketiga, dan pada awal suku kata tidak
bertekanan. Tipografi yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah tipografi
34) Krawang-Bekasi
indonesia untuk merdeka. Diksi yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini
tegas, dapat dipahami oleh pembaca, dan ada beberapa yang menggunakan makna
KERAWANG-BEKASI
97
Kaulah lagi yang tentukan nilai-tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan
citraan pendengaran. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-1 dan ke-7, yaitu
Kami yang terbaring antara krawang - Bekasi dan kami mati muda. Yang tinggal
tulang diliputi debu. Kata yang digunakan oleh penyair pada baris ke-1 dan 7
membuat pembaca seolah-olah ikut melihat apa yang dilihat oleh penyair.
Kemudian, citraan pendengaran dapat dilihat pada baris ke-2 dan ke-6, yaitu Tapi
siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami dan Jika dalam dada rasa hampa
dan jam dinding yang berdetak. Kata deru dalam baris ke-2 memiliki arti tiruan
bunyi dan kata berdetak memiliki arti berbunyi seperti berdetik. Kedua kata
pendengaran.
(metafora) dan majas penegasan (repetisi). Majas metafora dapat dilihat pada bait
ke-7 baris ke-1, bait ke-11 baris ke-1, dan bait ke-12 baris ke-2, yaitu Kami cuma
98
tulang-tulang berserakan/ Kami sekarang mayat/yang tinggal tulang-tulang
itu hanya kata yang diibaratkan seperti tulang-tulang berserakan dapat juga
diartikan sebagai bentuk pengorbanan para pejuang dalam membela negara dari
para penjajah. Kemudian baris kami sekarang mayat juga bukan maksud
sebenarnya, mayat disini dapat diartikan bahwa sudah mati tak dapat berbuat apa-
apa.
dengan bait 9, yaitu terdapat pengulangan kata Kami bicara padamu dalam
hening di malam sepi/Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak oleh
penyair untuk menegaskan makna dari puisi yang ingin disampaikan oleh penyair.
Rima yang terdapat dapat dalam baris 1,2, dan 3 terdapat persamaan bunyi
/i/. Baris ke 5 terdapat persamaan bunyi /a/ dan /i/. Baris ke 6 terdapat persamaan
bunyi /a/ dan /m/. Baris ke 7 dan 8 terdapat persamaan bunyi /i/, /m/, dan /ng/.
Baris ke 9 dan 10 terdapat persamaan bunyi /a/, /k/, /s/, dan /m/. Baris ke 11 dan
12 terdapat persamaan bunyi /wa/ pada kata jiwa dan nyawa. Baris ke 13, 14, 15,
dan 16 terdapat persamaan bunyi /n/ dan /ng/. Baris ke 17, 18, 19 terdapat
persamaan bunyi /a/. Baris ke 20 dan 21 terdapat persamaan bunyi /m/, /i/, dan
/ng/. Baris ke 22 dan 23 terdapat persamaan bunyi /lah/. Baris ke 27, 28 dan 29
99
terdapat persamaan bunyi /a/, /m/, /n/, dan /s/. Baris ke 30, 31, dan 32 terdapat
Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe,
karena pada puisi 'Krawang-Bekasi' terdapat tanda ("...") dan (,). Tipografi yang
digunakan penyair dalam puisi ini terdiri dari 12 bait dengan jumlah 22 baris
puisi.
pemberontakan PKI atau peristiwa madiun, yaitu konflik yang terjadi antara
pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Bung Karno dan Bung
Hatta dengan kelompok oposisi sayap kiri (FDR), pada puisi ini penyair juga
Republik Indonesia. Diksi yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah jelas,
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan
pendengaran. Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-5, yaitu Ayo!Bung Karno
Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu. Kata melangkah dalam baris ke-5
100
pada baris ke-2, yaitu Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang /atas
apimu, digarami oleh lautmu. Kata dengar bicaramu yang digunakan oleh penyair
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan, majas
puisi ini terdapat pada baris ke-2, yaitu Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
puisi ini dapat dilihat pada baris ke-6 dan ke-8, yaitu Bung karno!Kau dan Aku
satu zat satu urat/ Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak, kata yang
Kemudian, majas perbandingan (metafora) dapat dilihat pada baris ke-5, yaitu Aku
sekarang api, aku sekarang laut, kata yang digunakan oleh penyair dalam baris
melangkah kedepan berada rapat disisimu/Aku sekarang api aku sekarang laut.
Rima yang terdapat dalam bait 1 adalah bunyi /i/ da /u/. bait ke 2 terdapat
persamaan bunyi /a/, /e/, dan /ng/, kemudian bait ke 3 terdapat persamaan bunyi
Metrum yang digunakan oleh penyair adalah metrum Jambe, yaitu adanya
tanda penekanan (!) pada awal suku kata dalam puisi, kemudian tanda (,).
Tipografi yang digunakan terdiri dari 3 bait puisi, dengan jumlah 10 baris puisi.
101
Puisi ini menggambarkan tentang perjuangan seseorang yang selalu siap
siaga membela dan menjaga negara. Diksi yang digunakan oleh penyair jelas,
tegas, dan dapat menggambarkan suasana serta peristiwa yang sedang di alami
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan
pendengaran. Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-2, yaitu Jari tidak bakal
beranjak dari petikan bedil, kata jari tidak bakal beranjak digunakan oleh penyair
menggambarkan kepada pembaca bahwa jari akan tetap siap pada senjata bedil,
dan tidak akan bergerak. Kemudian, citraan pendengaran pada puisi ini terdapat
pada baris ke-3, dan ke-4, yaitu Jangan tanya mengapa jari cari tempat disini/Aku
tidak tahu tanggal serta alasan lagi, kata tanya mengapa biasanya diucapkan oleh
lisan dan menghasilkan suara yang dapat didengarkan oleh indera pendengaran.
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan pada baris ke-7, yaitu
si aku siap siaga, yaitu pada kata Jari tidak bakal beranjak dari petikan bedil,
menggambarkan bahwa si aku selalu siap dengan senjatanya, kemudian rima yang
terdapat dalam puisi ini adalah bunyi /a/, /i/, /ri/, /n/, /h/, /k/, dan /l/.
102
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum
jambe, yaitu ditemukannya penekanan berupa tanda (,) pada puisi, kemudian
tipografi yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini sama pada puisi pada
umumnya.
Puisi ini menggambarkan tentang perempuan yang bernama Ina Mia yang
dirampas oleh tentara jepang pada masa penjajahan. Diksi yang digunakan oleh
Ina Mia
Terbaring di rangkuman pagi
-hari baru jadi-
Ina Mia mencari
hati impi,
terasa Ina Mia
kulit harapan belaka
Ina Mia
Menarik napas panjang
di tepi jurang
nafsu
yang sudah lepas terhembus,
antara daun-daunan mengelabu
kabut cinta lama, cinta hilang
terasa getar sejenak
Ina Mia menekan tapak hiaju rumput,
Angin ikut,
-dayang penghabisan yang mengipas
Berpaling
Kelihatan seorang serdadu mempercepat langkah
di tekongan.
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan
citraan gerak. Citraan penglihatan terdapat dalam baris ke-1, 3, 9, 12, dan 15,
daunan mengelabu/Ina Mia menekan tapak di hijau rumput, kata yang digunakan
103
Citraan gerak dalam puisi ini terdapat pada baris ke-17, 18, dan 19, yaitu
diartikan menoleh yaitu gerakan melihat ke arah kiri atau kanan, kemudian kata
kecepatan semula. Kemudian, majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas
penegasan, yaitu pada baris ke-13 kabut cinta lama, cinta hilang. Kata cinta pada
perasaan kesedihan Ina, yaitu pada baris Ina Mia mencari/hati impi,/terasa Ina
cinta lama, cinta hilang. Pada baris puisi tersebut, tergambar bahwa begitu
tersiksa batin Ina Mia harus mengalami hal yang tidak diinginkannya.
Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah bunyi /a/, /i/, /r/, /n/, /t/, /k/, /s/,
/u/, dan /ng/, kemudian metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini
adalah metrum jambe, karena ditemukan penekanan pada baris puisi berupa tanda
(,) dan tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi penulisan rata kiri
Puisi ini menggambarkan tentang prajurit yang selalu siaga berjaga malam
demi keamanan negara Indonesia dari penjajahan. Diksi yang digunakan oleh
104
PRAJURIT JAGA MALAM
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan
citraan penciuman. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-2 yaitu Pemuda-
pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam. Kata yang digunakan
oleh penyair membuat pembaca seolah-olah ikut melihat apa yang dilihat oleh
penyair. Kemudian, Citraan penciuman terdapat pada baris ke-10, yaitu Malam
yang berwangi mimpi, terlucut debu…., kata wangi memiliki arti berbau atau
(metafora) terdapat pada baris ke-3, yaitu bermata tajam. Majas pertentangan
(hiperbola) dalam puisi ini terdapat pada baris ke-10, yaitu Malam yang berwangi
kata) dapat dilihat pada baris ke-7 dan ke-8 yaitu Aku suka pada mereka yang
berani hidup/Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam. Kata aku suka
prajurit yang selalu siap menjaga dan membela negara, yaitu Mimpinya
105
mati ini, kemudian rima yang terdapat dalam puisi ini adalah bunyi /a/, /u/, /i/, /h/,
dan /m/.
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum
jambe, karena dalam puisi ini ditemukan tanda (,) pada 2 suku kata pertama dan
tanda (!). tipografi yang digunakan oleh penyair adalah rata kiri dengan ada
Puisi ini menggambarkan tentang kita (dua orang) yang berbeda, namun
ingin dan berharap dapat bersama. Diksi yang digunakan oleh penyair memiliki
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah penglihatan, citraan gerak,
dan citraan pendengaran. Citraan penglihatan dalam puisi ini dapat dilihat pada
cintaku. Pada baris tersebut penyair membuat seolah-olah pembaca dapat melihat
106
Citraan gerak terdapat pada baris anak-anak kecil tidak bersalah, baru
bisa berlari-larian/ Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati/Terbang.
Kata lari yang digunakan oleh penyair berarti melangkahkan kaki dengan cepat.
Kata mencari berarti berusaha mendapatkan atau memperoleh, dan kata terbang
ini terdapat pada baris bangsaa muda menjadi, baru bisa bilang ―aku‖/burung-
burung merdu, kata bilang “aku” dan merdu yang digunakan oleh penyair
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan (pleonasme)
ini terdapat pada baris anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa berlari-larian,
pada baris ini penyair sudah menjelaskan dengan jelas maksud dari puisi tersebut.
tajam pada umumnya digunakan untuk pisau, namun penyair dalam puisi ini
menggunakannya untuk angin. Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah
persamaan bunyi /i/, /u/, /it/, /r/, /t/, dan /ng/, kemudian tipografi yang digunakan
40) Puncak
pagi, di puncak, tempat yang hijau masih asri. Diksi yang digunakan oleh penyair
Puncak
107
Minggu pagi disini. Kederasan ramai kota yang terbawa
tambah penjoal dalam diri—diputar atau memutar
terasa tertekan; kita berbaring bulat telanjang
Sehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata
sekarang.
Berada 2000 m, jauh dari muka laut, silang siur
pelabuhan,
jadi terserah pada perbandingan dengan
cemara bersih hijau, kali yang bersih hijau
Citraan yang terdapat dalam puisi „Puncak‟ adalah citraan penglihatan dan
citraan gerak. Citraan penglihatan terdapat pada bait pertama, yaitu Minggu padi
membuat pembaca seolah-olah dapat melihat apa yang penyair lihat. Kemudian,
citraan gerak dapat dilihat pada bait ke-4, yaitu Maka cintaku sayang, kucoba
Kata menjabat dan mendekap merupakan salah satu bentuk kata kerja yang
berasal dari kata “jabat” yang artinya pegang, kemudian kata „dekap‟ yang artinya
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan (Pleonasme,
paralelisme, dan repetisi). Majas pleonasme terdapat pada bait ke-4, yaitu Maka
meraih bibirmu/dibalik rupa, pada bait ini terdapat penegasan yang jelas bahwa si
aku berusaha mendekati gadis rasid. Majas paralelisme, yaitu pengulangan sebuah
108
konsep seperti yang terdapat pada baris Kau melompat dari ranjang, lari ke
tingkap yang/ masih mengandung kabut, dan kau lihat di sana, bahwa/ antara/
cemara bersih hijau dan kali gunung bersih hijau. Majas repetisi (pengulangan
kata) terdapat pada baris terakhir puisi, yaitu mengembang juga tanya dulu, tanya
lama, tanya, kata tanya dalam baris ini diulang sebanyak tiga kali.
Rima yang terdapat dalam baris 1 adalah bunyi vokal /a/ dan /i/. Baris ke 2
terdapat persamaan bunyi konsonan /m/ dan /ar/. Baris ke 3 terdapat persamaan
bunyi /r/ dan /ng/. Baris ke 4 terdapat persamaan bunyi /s/. Baris ke 5 terdapat
persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi konsonan
/p/ dan /n/. Baris ke 7 terdapat persamaan bunyi /h/, /r/, dan /au/. Baris ke 8 dan 9
terdapat persamaan bunyi /a/, /i/, /u/, dan /m/. Baris 10 dan 11 terdapat persamaan
bunyi /ri/ dan /t/. Baris ke 12 dan 13 terdapat persamaan bunyi /h/, /u/, dan /ng/.
puncak yang bersih dan hijau, yaitu dengan kata cemara bersih hijau dan kali
gunung bersih hijau. Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah
metrum jambe, karena ditemukannya penekanan pada baris puisi, berupa tanda (,).
kehidupan yang akan dijalani selanjutnya (kematian). Diksi yang digunakan oleh
109
angin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau
datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi hanya tangan yang bergerak lantang.
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa
Berlalu beku.
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan
citraan pendengaran. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-1, yaitu Kelam
dan angin lalu mempesiang diriku/menggigir juga ruang dimana dia yang
kuingin. Kata yang digunakan oleh penyair seolah-olah membuat pembaca dapat
melihat apa yang dilihat oleh penyair. Kemudian, citraan gerak dalam puisi ini
dapat dilihat pada baris tapi hanya tangan yang bergerak lantang, kata bergerak
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan dan majas
pada baris Kelam dan angin lalu mempesiang diriku, bermakna tokoh si aku
sedang merasakan hampa. Kemudian, malam tambah merusak, rimba jadi semati
tugu, bermakna bahwa si aku merasa bahwa hidupnya yang dahulu dipenuhi
dengan orang-orang, sekarang sepi, hampa, tak bernyawa. Majas penegasan dalam
puisi ini dapat dilihat pada baris di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga
deru/ angin, bermakna bahwa rumah terakhir atau tempat terakhir yang diinginkan
akan kehidupan selanjutnya (kematian) adalah Kelam dan angin lalu mempesiang
rimba jadi semati tugu, baris puisi ini menggambarkan bahwa si aku merasakan
kehampaan yang sangat jelas, hidup yang dulunya ramai kini hampa, sepi, dan
110
senyap, seperti di kubur semua akan merasa sendiri, sepi, dan hampa. Kata
diriku jika kau/datang, baris ini bermakna bahwa si aku sudah siap untuk
Rima yang terdapat dalam baris 1 dan 3 adalah persamaan bunyi /m/ dan
/u/. Baris ke 2 terdapat persamaan bunyi /i/ dan /r/. Baris ke 4 terdapat persamaan
bunyi /et/ dan /u/. Baris ke 5 terdapat persamaan bunyi /a/ dan /u/. Baris ke 6
terdapat persamaan bunyi /a/, /i/, dan /u/. Baris ke 7 terdapat persamaan bunyi /a/
Metrum yang digunakan oleh penyair adalah metrum jambe karena dalam
puisi ini ditemukan penekanan pada baris atau bait puisi, yaitu berupa tanda (,),
kemudian tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi tidak beraturan,
baris puisinya ditulis rata kiri dengan beberapa baris menjorok jauh ke dalam.
menunda kekalahan semua masalah akan berakhir pada masanya. Diksi yang
digunakan oleh penyair adalah kata atau bahasa yang bermakna konotatif dan
Derai-derai Cemara
111
hidup hanya menunda kekalahan,
tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,
sebelum pada akhirnya kita menyerah.
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu
pada baris terasa hari akan jadi malam, /ada beberapa dahan ditingkap merapuh.
Kata malam dan beberapa dahan ditingkap merapuh seakan-akan dapat dilihat
(personifikasi) Majas perbandingan dalam puisi ini dapat dilihat dalam baris
dipukul angin yang terpendam, pada baris ini penyair membuat seolah-olah angin
dapat dapat memukul seperti makhluk hidup pada umumnya yaitu manusia.
cinta sekolah rendah. Pada baris hidup hanya menunda kekalahan, tergambar
bahwa hidup di dunia pada dasarnya hanya sementara, semua akan kembali
kepada Tuhan. Rima yang terdapat dalam bait 1, 2, dan 3 adalah berpola a-b-a-b,
kemudian tipografi yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah penulisan
4.1.2 Srtuktur batin yang terdapat di dalam Kumpulan Puisi Kerikil Tajam
1) Nisan
oleh orang yang disayangi. Nada dalam puisi ini adalah ajakan kepada pembaca
untuk mengingat tentang kematian yang bisa datang kapan saja, dan menjemput
112
siapa saja. Perasaan dalam puisi ini menunjukkan rasa sedih. Hal ini ditunjukkan
dengan bukan kematian benar menusuk kalbu. Amanat yang terkandung dalam
puisi ini adalah untuk mengajak pembaca mempersiapkan diri dengan sebaik
2) Penghidupan
Tema puisi ini adalah tentang masalah kehidupan. Nada dalam puisi ini
menunjukkan rasa lelah dan putus asa, hal ini ditunjukkan dengan kata sia-sia
dilindungi, sia-sia dipupuk. Amanat puisi ini adalah dalam hidup memang dituntut
untuk bekerja keras. Namun, jangan berlebihan serta selalu bersyukur dengan
hasil yang didapatkan. Jika tidak sesuai dengan apa yang inginkan, bukan berarti
usaha yang dilakukan sia-sia, karena semua tidak ada yang sia-sia.
3) Diponegoro
penjajah. Nada dalam puisi ini adalah bernada ajakan untuk mengingat upaya
suasana penuh semangat perjuang membela negara. Hal ini ditunjukkan dengan
kata Berselempang semangat yang tak bisa mati/MAJU. Amanat dalam puisi ini
memperjuangkan kemerdekaan.
4) Tak Sepadan
Puisi ini bertema tentang permasalahan cinta, sedih, serta patah hati. Nada
puisi ini adalah memberitahu kepada pembaca untuk tidak sedih dan patah hati
113
yang berlarut-larut. Perasaan dalam puisi ini adalah sedih dan kecewa. Hal ini
mengembara serupa Ahasveros. Amanat dalam puisi ini adalah jangan terlalu
sedih dan kecewa jika tidak ditakdirkan hidup bersama, carilah kebahagiaan yang
lainnya.
5) Sia-sia
berharap kepada seseorang. Nada puisi ini adalah seruan kepada pembaca untuk
kekecewaan. Perasaan yang terdapat dalam puisi ini adalah rasa kecewa dan sedih.
Hal ini ditunjukkan dengan kata Ah! Hatiku yang tak mau memberi/Mampus kau
dikoyak-koyak sepi. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak pembaca untuk tidak
6) Pelarian
yang sering kali dihadapi oleh masyarakat seperti kecewa, marah, dan sedih. Nada
dalam puisi ini adalah bernada emosi dan kesedihan. Perasaan ini menunjukkan
rasa emosi, marah. Hal ini ditunjukkan dengan kata Dihempaskannya pintu keras
tak berhingga. Amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah jika ada
permasalahan harus dihadapi dengan bijak, tenang dan tidak emosi, karena hidup
tidak akan pernah lepas dari masalah, setiap masalah manusia pasti memiliki
7) Sendiri
114
Puisi sendiri bertema tentang kesepian dan kerinduan seorang anak kepada
ibunya. Nada dalam puisi ini adalah bernada sedih dan tak menerima kepergian
ditinggalkan oleh ibunya. Hal ini ditunjukkan dengan kata Ia membenci. Dirinya
Ibu! Ibu! Amanat dalam puisi ini adalah sayangilah orangtua selagi masih ada.
8) Suara Malam
Puisi suara malam bertema religi yaitu tentang hubungan antara manusia
dengan tuhan. Nada dalam puisi ini adalah bernada ajakan untuk ingat dan
malam yang penuh dengan konflik batin yang dialami oleh si aku. Hal ini
dalam puisi ini mengajak pembaca untuk selalu menjaga hubungan dengan Tuhan,
dan bertaubat.
9) Semangat
Puisi ini bertema tentang semangat perjuangan para pahlawan. Nada dalam
puisi ini adalah ajakan untuk tetap semangat, dan ingat dengan jasa perjuangan
Amanat dalam puisi ini adalah mengajak para pembaca untuk tetap semangat
10) Hukum
dialami dan dirasakan oleh orang pada zaman penjajahan dahulu. Nada dalam
115
puisi ini adalah kesengsaraan yang dirasakan oleh orang zaman dahulu. Perasaan
puisi ini menunjukkan suasana yang kejam penuh kesengsaraan. Amanat dalam
puisi ini adalah hukum dan kekuasaan yang dimiliki seseorang belum tentu
11) Taman
dalam puisi ini mengajak pembaca untuk dapat menikmati hidup dengan cara
sederhana. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa senang dan bahagia. Amanat
dalam puisi ini mengajak pembaca untuk peduli dan bersyukur dengan orang yang
Tema puisi lagu biasa adalah tentang percintaan. Nada dalam puisi ini
bernada memberitahu kepada pembaca untuk menjaga diri, marwah, dan batasan
antara laki-laki dengan perempuan. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa cinta dan
bahagia. Amanat dalam puisi ini adalah untuk tetap menjaga diri, marwah dalam
pergaulan.
Tema puisi kupu malam dan biniku adalah permasalahan sosial (kehidupan
suami-isteri). Nada dalam puisi ini bernada kecurigaan dan keraguan. Perasaan
puisi ini menunjukkan rasa curiga dan keraguan dengan pasangan. Amanat dalam
puisi ini adalah pentingnya untuk setia dan saling percaya dalam suatu hubungan.
14) Penerimaan
Tema puisi penerimaan adalah percintaan. Nada dalam puisi ini adalah
ajakan untuk dapat memaafkan orang lain. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa
116
penuh harap. Amanat dalam puisi ini adalah dapat menerima dan memaafkan
15) Kesabaran
Tema puisi kesabaran adalah masalah kehidupan sosial. Nada dalam puisi
ini adalah ajakan kepada pembaca untuk sabar dalam menghadapi kehidupan.
Perasaan puisi ini menunjukkan rasa sabar. Amanat dalam puisi ini adalah setiap
16) Ajakan
Tema puisi Ajakan menjelaskan tentang seorang Ida yang diajak oleh
seseorang untuk tidak takut melakukan sesuatu, meskipun ada rintangan pasti bisa
dilalui. Nada dalam puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk berani dan
tidak takut dalam melakukan sesuatu. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa
keberanian. Amanat dalam puisi ini adalah jangan takut melakukan sesuatu, selagi
itu baik.
17) Kenangan
Tema puisi ini adalah tentang cinta dan kenangan. Nada dalam puisi ini
Perasaan puisi ini menunjukkan rasa lega dan juga penyesalan. Amanat dalam
18) Hampa
Tema puisi ini kesepian dan kesetiaan. Nada dalam puisi ini adalah
penyair kepada sri. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa kesepian dan penantian
penyair kepada sri. Amanat dalam puisi ini adalah agar pembaca dapat
117
menghargai seseorang yang baik, sabar dan setia, karena jarang ada seseorang
19) Perhitungan
Tema puisi ini adalah kegelisahan dan masalah kehidupan. Nada dalam
puisi ini adalah ajakan kepada pembaca agar memiliki pedoman hidup supaya
tidak kehilangan arah. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa gelisah dan bingung
tak tentu arah. Amanat dalam puisi ini adalah setiap orang pasti memiliki masalah,
agar hidup dapat terkendali dan tidak kehilangan arah karena masalah, carilah
pedoman yang bisa dijadikan pegangan hidup agar memiliki arah tujuan.
20) Rumahku
mencari hal baru. Nada dalam puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk dapat
memiliki rumah (keluarga) yang terbaik. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa
gelisah dan gundah. Hal ini ditunjukkan dengan kata kulari dari gedung lebar
halaman/aku tersesat tak dapat jalan. Amanat dalam puisi ini adalah jangan
terlalu gelisah dengan dunia yang ada diluar, karena tempat terbaik adalah rumah
(Keluarga).
Tema puisi ini adalah kehidupan sosial. Nada dalam puisi ini adalah
ajakan kepada pembaca untuk terus semangat dan berjuang dalam menghadapi
kerasnya kehidupan. Perasaaan puisi ini menunjukkan rasa perjuangan dan kerja
keras si aku dan temannya. Amanat dalam puisi ini adalah untuk bertahan hidup
118
22) Ke Mesjid
Nada dalam puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk melaksanakan perintah
puisi ini menunjukkan rasa tak berdaya dari seorang hamba kepada Tuhan atas
segala kesalahan dan juga dosa serta rasa konflik batin yang terjadi ketika seorang
hamba menghadap kepada Tuhan. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak
23) Aku
Tema puisi ini adalah keagamaan, hubungan manusia dengan Tuhan. Nada
dalam puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk tidak menjauhi kebaikkan
dan menyimpang dari apa yang diajarkan. Perasaan puisi ini menunjukkan tentang
dilema dan bingung karena salah arah. Amanat dalam puisi ini adalah untuk tidak
menyimpang dan menjauhi kebaikan, serta lebih mendekatkan diri kepada Tuhan
24) Cerita
Tema puisi ini adalah tentang kisah pertemanan antara penyair dengan
antara dua orang yang sering bepergian bersama. Perasaan dalam puisi ini
menunjukkan rasa senang mengenang kisah dengan teman. Amanat dalam puisi
25) Bercerai
Tema puisi bercerai adalah perpisahan. Nada dalam puisi ini adalah tegas
yang ditujukan kepada pembaca untuk dapat bijak dalam mengambil keputusan.
119
Perasaan puisi ini menunjukkan rasa pasrah dan ikhlas jika memang diharuskan
berpisah. Amanat dalam puisi ini adalah memberitahu pembaca bahwa lebih baik
akhiri suatu hubungan jika itu membuat salah satu atau keduanya tersakiti, jangan
Tema puisi ini adalah permasalahan kehidupan sosial. Nada dalam puisi
kegelisahan akan dosa-dosa yang diperbuat. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa
gelisah si aku pada malam hari saat menghadap Tuhan dengan dosa dan
kesalahannya yang telah diperbuat. Amanat dalam puisi ini adalah memberitahu
pembaca agar tidak takut untuk meninggalkan hal buruk dan berbuat baik serta
27) Dendam
Tema puisi ini adalah permasalahan sosial. Nada dalam puisi ini adalah
bernada mengajak para pembaca untuk tidak dendam kepada orang lain. Perasaan
puisi ini menunjukkan rasa tidak tenang dan selalu gelisah. Amanat dalam puisi
ini adalah mengajak pembaca untuk tidak benci dan dendam dengan siapapun,
28) Merdeka
Tema puisi ini menjelaskan tentang tokoh si aku yang berusaha terbebas
dari bayangan Ida agar dapat hidup dengan tenang. Nada dalam puisi ini ajakan
untuk percaya dan berani terbebas dari hal yang dapat membuat tidak nyaman.
Perasaan puisi ini menunjukkan rasa ingin bebas, merdeka dari bayang-bayang si
120
Ida. Amanat dalam puisi ini adalah ajakan untuk berani menggapai kebebasan dari
Tema puisi ini adalah kehidupan (kesedihan dan kegelisahan). Nada dalam
puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk bangkit dan menjadi manusia yang
tangguh tidak mudah menyerah. Perasaaan puisi ini menunjukkan rasa lemah
seseorang yang tidak dapat melawan dan berjuang. Amanat dalam puisi ini adalah
mengajak pembaca untuk berani bangkit, berjuang menjadi manusia kuat dan
tangguh.
Tema puisi ini adalah masalah kehidupan. Nada dalam puisi ini adalah
ajakan kepada pembaca untuk tidak berhenti dan berdiam diri dengan masalah
menjauhi kesalahan, hal ini ditunjukkan dengan kata kata jangan kita berhenti
dulu…..!!. Amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah mengajak pembaca
untuk tidak berhenti dan berdiam diri dengan masalah (dosa-dosa) yang dimiliki,
Tema puisi ini adalah masalah kehidupan (kebencian). Nada puisi ini
adalah memberitahu kepada pembaca untuk dapat menjaga lisan, karena perkataan
yang keluar dari lisan dapat menyakiti perasaan orang lain. Perasaan puisi ini
menunjukkan rasa benci dan tidak suka. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak
121
pembaca untuk lebih memperhatikan perkataan yang diucapkan kepada orang
lain.
Tema puisi ini adalah Hubungan manusia dengan Tuhan. Nada puisi ini
bernada ajakan kepada pembaca untuk lebih dekat kepada Tuhan, berdoa dan
meminta ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Perasaan puisi ini
menunjukkan rasa gelisah. Amanat dalam puisi ini adalah jangan takut untuk
meminta ampunan kepada Tuhan atas dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan.
33) Fragmen
Tema puisi ini adalah menjelaskan tentang cerita kenangan yang masih
tersimpan dalam ingatan. Nada puisi adalah ajakan kepada pembaca untuk
senang dan duka dengan kenangan yang dimiliki. Amanat yang terkandung dalam
puisi ini adalah setiap manusia memiliki kenangan dan pengalaman dalam
hidupnya masing-masing, mulai dari senang, sedih, kecewa, marah, gelisah, dan
34) Malam
Tema puisi ini adalah perjuangan. Nada dalam puisi ini adalah informasi
kepada pembaca tentang suasana malam pada masa penjajahan. Perasaan puisi ini
dengan kata kami masih saja berjaga. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak
para pembaca agar mengingat perjuangan para prajurit dalam melindungi negara.
35) Krawang-Bekasi
122
Tema puisi ini adalah perjuangan. Nada dalam puisi ini bernada
pembaca untuk mengingat dan menghargai jasa para pahlawan demi kemerdekaan
indonesia.
Tema puisi ini adalah masalah kehidupan (kesetiaan). Nada dalam puisi ini
(Pemimpin) yang sudah dipilih atau terpilih. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa
percaya, yaitu ditunjukkan dengan kata Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu
urat. Amanat dalam puisi ini adalah agar pembaca percaya dan mendukung
pemerintahan harus bersatu serta memiliki satu tujuan yang sama agar dapat
Tema puisi ini adalah Perjuangan. Nada dalam puisi ini adalah ajakan
kepada pembaca untuk berani membela dan menjaga negara Indonesia, agar
penjajahan tidak terulang lagi. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa nasionalisme
para prajurit dalam menjaga keamanan Indonesia. Amanat dalam puisi ini adalah
mengajak kepada pembaca untuk menjaga NKRI, karena setiap warga negara
123
38) Ina Mia
perempuan pada zaman dahulu. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa sedih dan
kecewa. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak pembaca menjaga diri dan
Tema puisi ini adalah perjuangan. Nada dalam puisi ini adalah ajakan
menunjukkan rasa nasionalisme para prajurit. Amanat dalam puisi ini adalah
mengajak pembaca untuk ingat dan mengenang perjuangan para prajurit dan
pahlawan.
Tema puisi ini adalah percintaan. Nada dalam puisi ini adalah
memberitahu kepada pembaca bahwa tidak apa-apa berbeda, jangan takut untuk
melepaskan perbedaan yang ada. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa keinginan
untuk dapat bersama, meskipun berbeda. Amanat dalam puisi ini adalah
kehidupan.
41) Puncak
Tema puisi puncak adalah kehidupan. Nada dalam puisi ini adalah bernada
ajakan kepada pembaca untuk menatap masa depan yang bersih yang sedang
menunggu. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa bebas dalam memilih atau
menentukan jalan hidup. Hal ini ditunjukkan dengan kata diputar atau memutar.
124
Amanat dalam puisi ini adalah mengajak pembaca mulai berencana, dan berpikir
Tema puisi ini adalah tentang keputusasaan dan kematian. Nada dalam
puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk selalu siap dan membenahi diri,
karen kematian bisa datang kapan saja. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa putus
asa dan rasa hampa. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak pembaca untuk
selalu membenahi diri dan berbuat baik sebelum datangnya ajal (kematian).
Tema puisi ini adalah kehidupan dan masalah sosial. Nada dalam puisi ini
adalah ajakan kepada pembaca untuk semangat dalam menjalani kehidupan dan
pembaca bahwa hidup hanya sementara, setiap permasalahan yang datang pasti
4.2 PEMBAHASAN
4.2.1 Struktur Fisik Puisi dalam Kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang
1) Diksi
Diksi yang digunakan penyair dalam kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan
Yang Terampas dan Yang Putus‖ pada umumnya jelas, lugas, dapat dipahami
oleh pembaca dan terkadang menggunakan bahasa yang bermakna konotatif serta
125
Puisi ini merupakan bentuk dari kesadaran penyair akan kematian, serta
duka, kesedihan yang dirasakan setelah kematian. Diksi yang digunakan oleh
penyair dalam puisi Nisan adalah denotatif, seperti pada larik Bukan kematian
benar menusuk kalbu yang memiliki makna ketika datang musibah kematian bagi
digambarkan oleh penyair dengan kata ‗menusuk kalbu‘, yang dapat diartikan
2) Citraan (Imaji)
menjadi alat kepuitisan penyair dalam menuliskan puisi. Menurut Yusra, dkk
(2021:104) ada enam jenis citraan Ada enam jenis citraan, yaitu citraan
Pada kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang
Putus‖ karya Chairil Anwar menggunakan enam jenis citraan, yaitu citraan
a. Citraan Penglihatan
puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya Chairil
berikut ini:
126
Didepan sekali tuan menanti
Pedang dikanan, keris dikiri
penglihatan, sama halnya dengan kata Pedang dikanan, keris dikiri, dapat
ini adalah majas perbandingan yaitu terdapat pada baris Pedang dikanan,
b. Citraan Pendengaran
berarti isak, yang dapat didengar oleh telinga, sehingga pembaca seakan
dengan kata seruan atau teriakan yang dapat didengar menggunakan indera
pendengaran.
c. Citraan Gerak
127
Kata langkah merupakan kata kerja, kata noleh juga merupakan
kata kerja yang berasal dari kata toleh, menoleh yang memungkinkan
adanya gerakan.
d. Citraan Perabaan
melalui kulit.
e. Citraan Pengecapan
rasa seperti rasa cabai (Lombok dan sebagainya) yang dapat dirasakan
f. Citraan Penciuman
Kata wangi berarti berbau sedap atau harum, yang hanya dapat dirasakan
128
3) Majas (Bahasa Figuratif)
“Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya Chairil Anwar ada
tiga jenis, yaitu majas perbandingan, majas pertentangan dan majas penegasan.
a. Majas Perbandingan
perbandingan.
kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖
Dikutuk-sumpahi eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
perbandingan yang lainnya yaitu, majas metafora dalam puisi ini terdapat
129
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‗kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.
yang terjadi diantara tokoh aku dan kekasihnya. Api, disini diartikan
sebagai bara, nyala, obor yang berhawa panas diibaratkan seperti ketika
seseorang marah, yang dirasakan adalah panas, rasa kesal, serta amarah
b. Majas Pertentangan
puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya Chairil
…
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci
Kata mawar merah yang digunakan oleh penyair bertentang dengan
kata melati putih, sama halnya dengan kata darah yang bertentangan
dengan kata suci. Darah biasanya dilambangkan dengan warna merah dan
suci itu biasanya dilambangkan dengan warna putih yang memiliki arti
bersih.
130
c. Majas Penegasan
pembaca.
kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖
karya Chairil Anwar berjumlah .33 dari 23 judul. Perhatikan kutipan puisi
Kata kita musti bercerai yang bermakna bahwa kita memang harus
4) Kata Konkret
Kata konkret dalam kumpulan “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan
Yang Putus‖ diperjelas (diperkonkret) oleh penyair dengan tujuan agar kata-kata
tersebut dapat menggambarkan arti, makna secara jelas dan menyeluruh. Seperti
pada puisi berjudul Diponegoro, kata konkret yang dipilih oleh penyair dalam
131
menggambarkan semangat perjuangan melawan penjajah adalah Tak
5) Verifikasi
a) Rima
musikalisasi puisi atau orkestrasi, sehingga puisi menjadi lebih menarik untuk
dibaca. Pada kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang
Putus‖ karya Chairil Anwar terdapat rima yang bervariasi seperti aliterasi,
asonansi, rima sempurna, rima berpola a-a-b-b, dan rima yang berpola a-b-a-b.
b) Metrum
irama atau ketukan, namun metrum lebih berkaitan dengan intonasi serta artikulasi
pada teknik penulisan puisi. Untuk memastikan keberadaan metrum, Ahmad Fauzi
(2019:98) mengungkapkan bahwa metrum adalah penggunaan tanda seru (!) pada
ujung larik, untuk menunjukkan bahwa larik tersebut dianggap penting, sehingga
kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ pada
umumnya adalah metrum Jambe, yaitu tekanan bervariasi, ada yang diberi
tekanan, dan ada yang tidak diberi tekanan pada setiap kata atau suku kata.
Tekanan tersebut dapat berupa tanda seru (!) ataupun tanda cure katas („). Seperti
yang terdapat pada puisi Persetujuan dengan Bung Karno berikut ini:
132
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang
Terlihat dengan jelas pada baris pertama terdapat penekanan dengan tanda seru(!),
1) Tipografi
penulisan puisi, pengaturan penulisan kata, larik (baris), serta barik (bait) dalam
puisi. Jenis tipografi terdiri dari tipografi rata kiri, rata kanan atau ditulis rata kiri
dan rata kanan dengan tujuan mempermudah pembaca memahami makna yang
penyair dalam kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang
SENDIRI
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
dan jiwa dari penyair. Menurut Yusra, dkk (2021:34) struktur batin merupakan
133
unsur pembangun puisi yang tidak nampak secara langsung pada penulisan puisi.
4.2.2 Struktur Batin dalam Kumpulan Puisi “Kerikil Tajam dan Yang
1) Tema
kumpulan puisi ―Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ adalah
a. Tema Kehidupan
134
b. Tema Ketuhanan
manusia dengan Tuhan dan juga kematian (ajal), seperti puisi suara
malam, nisan, di masjid, jangan kita disini berhenti, aku, selamat tinggal,
Yang terampas dan Yang Putus, dan kepada peminta-minta. Berikut ini
puisi di masjid:
DI MESJID
Kamipun bermuka-muka
Ini ruang
Gelanggang kami berperang
Binasa-membinasa
Satu menista lain gila.
c. Tema Perjuangan
Sudah dulu lagi terjadi begini, malam, persetujuan dengan bung Karno,
SEMANGAT
135
Dari kumpulan terbuang
d. Tema Percintaan
rasa cintanya kepada teman perempuannya. Seperti puisi tak sepadan, taman,
lagu biasa, kenangan, merdeka, hampa, bercerai dan buat gadis rasid.
2) Nada
Nada yang digunakan oleh penyair pada kumpulan puisi “Kerikil Tajam
dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ yaitu bernada mengajak dan nada
pahlawan.
3) Perasaan
Rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan pada puisi yang dibuat.
136
Perhatikan kutipan puisi berikut ini:
Perasaan puisi ini adalah menunjukkan rasa semangat dan nasionalisme, hal
ini ditunjukkan dengan kata Berselempang semangat yang tak bisa mati/MAJU.
4) Amanat
sehingga pesan akan tersampaikan jika pembaca dapat memahami makna, tema
yang disampaikan dari puisi. Perhatikan puisi Kupu Malam dan Biniku berikut ini:
Barah ternganga
hubungan pentingnya rasa saling percaya, karena tanpa adanya rasa percaya suatu
sebagian besar puisi karya chairil anwar yang terdapat dalam kumpulan puisi
―Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ dapat digunakan sebagai
bahan ajar dalam meningkatkan minat peserta didik, karena terdiri dari unsur
137
pembangun puisi yang cukup lengkap, yaitu berupa diksi, citraan, majas, kata
dalam pemilihan bahan ajar oleh pendidik, karena dalam KD 3.17 Menganalisis
unsur pembangun puisi terdapat indikator yang mengharuskan peserta didik untuk
puisi seperti diksi, citraan, kata konkret, majas, verifikasi, tipografi, tema, dan
amanat, dengan demikian puisi dalam kumpulan ini dapat dipertimbangkan oleh
Kemudian, bila dilihat dari tingkat kesulitan, puisi karya Chairil Anwar
tidak begitu sulit, peserta didik dapat memahami makna yang terkandung dalam
puisi. Bila dilihat dari isinya, puisi karya Chairil Anwar masih sesuai dengan latar
belakang budaya peserta didik. Seperti puisi dengan tema perjuangan, kehidupan,
ketuhanan, dan percintaaan masih sesuai keadaan lingkungan dan keadaan sosial
dalam puisi ini adalah jangan takut untuk meminta ampunan kepada Tuhan atas
segala dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan. Selanjutnya puisi berjudul
Hal ini sesuai dengan pendapat Gatindou (Rahmawati, 2015) yaitu dalam
sastra dengan kemampuan peserta didik, dan isi teks sastra sesuai dengan latar
138
budaya peserta didik. Didukung oleh pernyataan hasil wawancara yang dilakukan
oleh peneliti dengan N.1, N.2 dan N.3, selaku guru bahasa Indonesia berikut ini.
“Kalau menurut saya karena puisi karya Chairil Anwar yang realistis gitu ya, mudah
dipahami. Selain itu, mudah untuk dibahas dan diceritakan kepada siswa karena ada
kaitannya dengan sejarah.” (N.1)
“Maksudnya gini, guru itu membawakan puisi apapun bisa, tapi dengan catatan kajiannya
itu ilmiah. Bahkan puisi saya sendiri pun bisa saya sampaikan, namun dikaji nih kira-kira
dari sisi diksinya seperti apa, gaya bahasanya seperti apa, kemudianada tidak perloncatan
makna perbarisnya.” ( N.1)
“...karya-karyanya sudah diakui secara nasional serta diksi yang digunakan juga dapat
dipahami oleh siswa, sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa
Indonesia.”(N.2)
“…dalam pembelajaran yang terpenting diksinya tersebut mudah dipahami oleh siswa,
karena dengan diksi yang mudah, siswa dapat menganalisis, kan diksi yang menjadi tolak
ukur dalam menganalisis suatu puisi.” (N.3)
“…puisi siapapun akan sesuai digunakan sebagai bahan ajar, tetapi kita lihat dulu dari
situasi siswa yang akan menerima bagaimana kondisinya, kemudian bahasa yang
digunakan dalam puisi itu bagaimana. Jika kita sebagai guru kesulitan dalam
menganalisis, ya bagaimana puisi tersebut akan digunakan dalam pembelajaran di
sekolah. Jadi, kita benar-benar mencari puisi yang diksinya mudah dipahami oleh siswa,
kemudian sepertti unsur-unsur pembangunya juga mudah dipahami, seperti unsur batin.”
(N.3)
Selain itu, untuk melihat kesesuaian puisi karya Chairil Anwar dengan
kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya
Chairil Anwar sebagian besar puisinya dapat dipahami dan sesuai dengan tingkat
pemahaman peserta didik tingkat SMA, sebagai contoh puisi berjudul Nisan,
memiliki diksi, rima, ritme, metrum, majas (bahasa figuratif), tipografi, tema,
nada, perasaan dan amanat yang layak dikaji secara keseluruhan. Peserta didik
139
dapat diajak untuk menganalisis unsur-unsur yang terdapat dalam puisi karya
tidak bisa dilakukan secara terpisah, harus secara menyeluruh karena unsur-unsur
tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya
Chairil Anwar dapat juga dijadikan sebagai contoh kepada peserta didik saat
proses pembelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh N.1, N.2, N.3, dan
N.4 selaku guru Bahasa Indonesia di SMA 1 Kota Jambi dan SMA 11 Kota
“Unsur pembangun yang dibahas ya, semua. Mulai dari diksi, citraan, majas, kata
konkret, tema, amanat. Semuanya dibahas hanya sekadar mereka tahu saja,
pembahasannya ringan, karena puisi itu adalah hasil pemikiran dan perasaan seeorang
yang ditunjukkan untuk menyampaikan pesan.” (N.1)
“Analisis unsur pembangun puisi (struktur fisik dan batin), karena siswa dalam
pembelajaran dituntut untuk dapat memahami serta menganalisis setiap unsur pembangun
puisi serta memaknainya.” (N.2)
“Semua unsur yaitu unsur pembangun fisik dan batin, karena pada indikator itu
(KD 3.17) siswa dituntut untuk mampu memahami sesuai unsur, meskipun
pembelajarannya dilakukan secara bertahap.” (N.3)
“Unsur fisik dan unsur batin, karena siswa pada KD puisi dituntut untuk dapat memahami
setiap unsur yang terdapat di dalam suatu puisi.” (N.4)
b. Isi
Terampas dan Yang Putus‖ karya Chairil Anwar mengandung banyak pesan nilai
di dalamnya, hal ini dapat dilihat dengan adanya citraan (imaji), majas (bahasa
figuratif), perasaan, ide pokok (tema) dan amanat yang penyair yang dituangkan
pada setiap puisi, selain itu puisi karya Chairil Anwar dapat dijadikan sebagai
bahan ajar dengan mengaitkan isi puisi pada keadaan lingkungan dan keadaan
140
Kesabaran, dan Kawanku dan Aku, yang menceritakan tentang kehidupan yang
kuat, dan bekerja lebih keras agar dapat bertahan hidup, kemudian puisi karya
Chairil Anwar juga ada bercerita tentang perjuangan, seperti puisi berjudul
dengan tema perjuangan, jika dibaca dan dimaknai dengan baik oleh peserta didik
masalah aktual yang terjadi sekarang dan masih sesuainya isi dalam kumpulan
puisi karya Chairil Anwar dapat membuat peserta didik mengidentifikasi unsur-
unsur yang terkandung di puisi tersebut dengan cara membaca buku kumpulan
c. Bahasa
Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya Chairil Anwar sebagian besar bahasa
yang digunakan oleh penyair dalam puisi-puisinya dapat dipahami oleh pembaca
serta komunikatif, sehingga layak untuk dijadikan sebagai bahan ajar di tingkat
SMA oleh pendidik. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Irwansyah dalam
wawancara yaitu:
―Secara umum puisi mereka (Chairil Anwar, Edi Mulyadi, Dimas Arika Mihardja)
mudah dipahami, berbeda dengan puisi karya Danarto, itu memang berat.” (N.1)
Kemudian, didukung oleh pendapat dari bu Mega sebagai guru bahasa Indonesia
“Sangat layak, karena Chairil Anwar seorang pelopor angkatan ‟45 yang telah memiliki
banyak karya terutama di puisi salah satu karyanya yaitu „Aku‟ yang sangat terkenal.
Melalui karyanya itu, Chairil Anwar dijuluki atau mendapat julukan „Si Binatang
Jalang‟.” (N.4)
141
Berdasarkan kutipan dari wawancara yang dilakukan, dapat disimpulkan
bahwa puisi-puisi karya Chairil Anwar dalam buku kumpulan ”Kerikil Tajam dan
Yang Terampas dan Yang Putus‖ dapat dijadikan alternatif bahan ajar Bahasa
Indonesia di SMA oleh pendidik, karena dalam puisi karya Chairil Anwar
juga masih sesuai dengan keadaan saat ini, kemudian jika dilihat dari psikologis
peserta didik tingkat SMA, tema puisi yang terdapat dalam puisi ini sesuai, yaitu
mengungkapkan bahwa bahan ajar sastra yang baik adalah yang sesuai dengan
1) Penelitian yang dilakukan oleh Monica Cristina Febrianti pada tahun 2016
dengan judul “Analisis Struktur Puisi Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang
Karya Sapardi Djoko Damono Dan Rintik Sedu Sebagai Bahan Ajar
Penelitian ini membahas tentang apa saja struktur fisik dan struktur
batin puisi yang terkandung dalam antalogi puisi Hujan Lolos di Sela Jari
yaitu membahas tentang apa saja struktur fisik dan struktur batin yang
terdapat dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan
142
Yang Putus Karya Chairil Anwar serta relevansinya terhadap pembelajaran
bahasa di SMA.
pembangun dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan
judul puisi. Sementara sumber data yang digunakan dalam penelitian yang
dilakukan oleh peneliti saat ini adalah kumpulan puisi dalam Kerikil
Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus Karya Chairil Anwar.
dalamnya saling terikat satu sama lain. Keterkaitan ini bersifat saling
143
penyair dalam pencariannya kepada Tuhan yang secara spesifik
Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar ditemukan struktur fisik
dan struktur batin yang saling berkaitan, berupa diksi, citraan, kata
Struktur batin dalam kumpulan puisi ini merupakan ungkapan batin dari
serta ketuhanan.
Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar.
2) Penelitian yang dilakukan oleh Nori Anggraini dan Nurlaely Aulia pada
tahun 2020 dengan judul Analisis Struktural Pada Puisi Malu Aku Jadi
144
Penelitian ini menggunkan pendekatan kualitatif dan metode
analisis isi untuk menganalisis unsur fisik dan unsur batin puisi, berbeda
pembangun pada kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan
struktural.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu puisi
dari buku kumpulan puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia karya puisi
Taufiq Ismail, sedangkan sumber data yang digunakan oleh peneliti adalah
43 puisi dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan
Hasil dari penelitian ini adalah terdapat unsur fisik dan batin pada
puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Temuan yang didapat pada unsur
fisik terdiri dari lima diksi, dua imaji, tiga kata konkret, dua gaya bahasa
bagian, terdapat dua rima atau irama, dan dua tipografi. Sedangkan temuan
unsur batin puisi terdiri dari satu tema, satu nada, tiga rasa, dan satu
amanat. Pada penelitian ini unsur fisik yang mendominasi adalah rasa
145
setiap puisi, yaitu berupa diksi, citraan, kata konkret, majas, verifikasi,
tipografi, tema, nada, perasaan, dan amanat. Temuan yang didapat yaitu
diksi yang digunakan penyair dalam kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan
Yang Terampas dan Yang Putus‖ pada umumnya jelas, lugas, dapat
Pada kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang
Pada penelitian ini ditemukan ada tiga jenis majas, yaitu majas
Yang Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar berjumlah 21 dari 19
agar kata-kata tersebut dapat menggambarkan arti, makna secara jelas dan
dan rima yang berpola a-b-a-b, dan berdasarkan temuan saat penelitian,
146
penyair dalam kumpulan puisi ini. Kemudian, sebagian besar tipografi
yang digunakan oleh penyair dalam kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan
Nori dan Nurlaely dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti
dan struktur batin yang terdapat di dalam suatu puisi. Perbedaanya adalah
3) Penelitian yang dilakukan oleh Alfianny Rakha Puri dengan judul Analisis
struktural pada kumpulan puisi tirani dan benteng karya taufiq ismail
solusi kepada pendidik mengenai pemilihan bahan ajar yang sesuai dengan
konkret yang ada di dalam puisi, bahasa figuratif yang terdapat dalam
puisi, rima, tipografi, tema, nada dan suasana, perasaaan dan amanat yang
147
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan peneliti, yaitu untuk
mencari puisi bentuk lain untuk dijadikan sebagai bahan ajar dalam
citraan, kata konkret yang ada di dalam puisi, bahasa figuratif yang
terdapat dalam puisi, rima, tipografi, tema, nada dan suasana, perasaaan
diksi, sama halnya dengan penelitian yang dilakukan peneliti, yaitu diksi
yang digunakan penyair dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang
Terampas dan Yang Putus pada umumnya jelas, lugas, dapat dipahami
judul.
148
jumlah 79 citraan. Kemudian dalam penelitian yang dilakukan oleh
dan Yang Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar terdapat rima
Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus adalah penulisan rata kiri.
dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus
tema dengan jumlah 40 data, nada dan suasana dengan jumlah 40 data,
peneliti, struktur fisik dan struktur batin pada kumpulan puisi Kerikil
149
Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar dapat
(struktur batin dan struktur fisik) pada puisi serta relevansinya terhadap
150