0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
153 tayangan116 halaman

Analisis Puisi Chairil Anwar

[Ringkasan] Bab 4 dokumen tersebut membahas hasil penelitian struktur fisik dan batin puisi-puisi Chairil Anwar. Struktur fisik meliputi unsur seperti diksi, citraan, kata konkret, dan tipografi. Struktur batin meliputi makna religius, kesedihan, perjuangan, dan ketuhanan. Puisi-puisi tersebut menggunakan berbagai teknik seperti majas, rima, dan metrum.

Diunggah oleh

ghinaalifah228
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
153 tayangan116 halaman

Analisis Puisi Chairil Anwar

[Ringkasan] Bab 4 dokumen tersebut membahas hasil penelitian struktur fisik dan batin puisi-puisi Chairil Anwar. Struktur fisik meliputi unsur seperti diksi, citraan, kata konkret, dan tipografi. Struktur batin meliputi makna religius, kesedihan, perjuangan, dan ketuhanan. Puisi-puisi tersebut menggunakan berbagai teknik seperti majas, rima, dan metrum.

Diunggah oleh

ghinaalifah228
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENELITIAN

4.1.1 Struktur Fisik yang terdapat di dalam Kumpulan Puisi Kerikil Tajam

dan Yang Terampas dan Yang Putus Karya Chairil Anwar.

Penelitian ini membahas tentang struktur fisik dan struktur batin dalam

kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus” karya

Chairil Anwar serta relevansinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di

SMA. Struktur fisik dalam kumpulan puisi ini yaitu pada umumnya setiap puisi

memiliki unsur pembangun berupa diksi, citraan, kata konkret, majas, verifikasi,

dan tipografi. Struktur batin dalam puisi-puisi tersebut merupakan ungkapan batin

dari penyair terhadap permasalahan sosial (kehidupan), perjuangan, percintaan

serta ketuhanan (hubungan manusia dengan Tuhan).

1) Nisan

Struktur fisik yang ada dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang

Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar saling berkaitan satu sama lain.

Hal ini bersifat saling membangun untuk membentuk keutuhan puisi, seperti diksi

yang digunakan oleh penyair dalam puisi Nisan menggunakan kata yang singkat

namun tetap puitis dan mengandung nilai religius. Pilihan kata penyair sebagai

berikut ini.

Bukan kematian benar menusuk kalbu


Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertahta.

Puisi ini merupakan bentuk dari kesadaran penyair akan kematian, serta

duka, kesedihan yang dirasakan setelah kematian. Diksi yang digunakan oleh

35
penyair dalam puisi Nisan adalah denotatif, seperti pada larik Bukan kematian

benar menusuk kalbu yang memiliki makna ketika datang musibah kematian bagi

seseorang menimbulkan kesedihan yang mendalam, seperti yang digambarkan

pada kata ‗menusuk kalbu‘. Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan

penglihatan, terdapat pada kalimat Tak kutahu setinggi itu atas debu, karena kata

setinggi serta atas debu itu hanya dapat dilihat dengan menggunakan indera

penglihatan. Kata konkret yang menggambarkan kesedihan dalam puisi ini adalah

Bukan kematian benar menusuk kalbu. Rima dalam puisi ini adalah a-b-a-b. yaitu

adanya persamaan bunyi /a/ dan /u/ di akhir baris puisi seperti /u/, /a/, /u/, dan /a/.

Tipografi dalam puisi ini adalah rata kiri, terdiri dari 1 bait dengan 4 baris puisi.

1) Penghidupan

Puisi ini menggambarkan tentang seseorang yang menjalani kerasnya

kehidupan dan mencoba bertahan, namun semua usaha dan kerja keras yang ia

lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan semuanya sia-sia, karena hasil yang

didapatkan kecil, tenaga serta raganya sudah hancur remuk dimakan usia. Diksi

yang digunakan oleh penyair adalah jelas dan beberapa bermakna konotatif serta

denotatif, seperti berikut:

PENGHIDUPAN

Lautan maha dalam


mukul dentur selama
nguji tenaga pematang kita

mukul dentur selama


hingga hancur remuk redam
kurnia bahgia
kecil setumpuk
sia-sia dilindung sia-sia dipupuk,

36
Citraan dalam puisi ini adalah penglihatan dan citraan gerak. Citraan

penglihatan dalam puisi ini dapat dilihat pada baris ke-1,5, dan 7, yaitu Lautan

maha dalam/hingga hancur remuk redam/kecil setumpuk. Pada baris puisi

tersebut penyair menggunakan pilihan kata yang menggambarkan apa yang

dilihat, sehingga menimbulkan citraan penglihatan bagi pembaca.

Selanjutnya, citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-2, yaitu mukul dentur

selama. Kata yang dipilih oleh penyair pada baris ke-2 menggambarkan kepada

pembaca suatu gerakan, dengan menggunakan kata “mukul” yang berasal dari

kata memukul, pukul berarti mengetuk dengan menggunakan sesuatu yang keras

atau berat.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)

yang terdapat pada baris ke-2 dan ke-5, yaitu mukul dentur selama, bermakna

bekerja keras selama hidup dan hingga hancur remuk redam, bermakna sampai

hancur tak berbentuk seperti perjuangan yang berusaha sekuat tenaga sampai

badan sakit.

Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan usaha

dan perjuangan dalam hidup, yaitu mukul dentur selama/nguji tenaga pematang

kita. Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan usaha

yang sia-sia adalah kecil setumpuk/sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk. Rima yang

terdapat pada bait I puisi adalah /m/ dan /a/. Kemudian pada bait ke-II terdapat

persamaan bunyi /m/, /r/, dan /k/.

Metrum yang digunakan oleh penyair adalah metrum jambe, yaitu

ditemukan penekanan pada baris akhir puisi, berupa tanda (,). Tipografi yang

37
digunakan oleh penyair adalah penulisan tipografi rata kiri yang terdiri dari dua

bait dan 8 baris puisi.

2) Diponegoro

Puisi ini merupakan bentuk ungkapan perasaan penyair terkait semangat

perjuangan yang dilakukan oleh pangeran diponegoro dalam berjuang untuk

membebaskan negara dari penjajahan. Diksi yang digunakan oleh penyair jelas,

tegas, lugas dan memiliki makna yang dalam, seperti berikut:

DIPONEROGO

Dimasa pembangunan ini


tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Didepan sekali tuan menanti


Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang dikanan, keris dikiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu


Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah diatas menghamba


Binasa diatas ditindas

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai


Jika hidup harus merasai.

Maju.
Serbu.
Serang.
Terjang.

Citraan (imaji) yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan

dan citraan gerak. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-1 dan 2, yaitu

38
Didepan sekali tuan menanti /Pedang dikanan, keris dikiri. Kata-kata yang

digunakan oleh penyair menimbulkan gambaran bagi pembaca seolah-olah dapat

melihat apa yang dilihat oleh penyair.

Citraan gerak pada puisi ini terdapat pada baris ke-20, 21, 22, dan 23, yaitu

Maju/Serbu/Serang/Terjang. Kata-kata yang digunakan oleh penyair pada baris

tersebut menggambarkan kepada pembaca suatu gerakan seperti kata ―Maju”

memiliki arti berjalan (bergerak), kata “Serbu” berarti menyerbu (mendatangi

dengan maksud melawan, menyerang), kata “Serang” memiliki arti hampir sama

dengan serbu yaitu mendatangi untuk melawan, kemudian kata “Terjang” berarti

tendang, serang.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)

dan majas perbandingan. Majas perbandingan dalam puisi „Diponegoro‟ terdapat

pada baris Pedang dikanan, keris dikiri. Kemudian, majas pertentangan

(hiperbola) terdapat pada baris Dan bara kagum menjadi api, kata yang digunakan

oleh penyair bermakna yang rasa yang dulunya suka, takjub berubah menjadi rasa

benci, marah.

Kata konkret yang dipilih oleh penyair dalam menggambarkan semangat

perjuangan melawan penjajah adalah Tak gentar./Lawan banyaknya seratus

kali./Pedang dikanan, keris dikiri/Berselempang semangat yang tak bisa

mati./MAJU/Ini barisan tak bergenderang-berpalu/Kepercayaan tanda

menyerbu./Sekali berarti/Sudah itu mati./MAJU/Bagimu Negeri/Menyediakan

api./Punah diatas menghamba/Binasa diatas ditindas/Sungguhpun dalam ajal

baru tercapai /Jika hidup harus merasai./Maju./Serbu./Serang./Terjang.

39
Persamaan bunyi (rima) yang terdapat dalam puisi ini adalah bunyi

asonansi yaitu bunyi vokal /i/ di akhir baris 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 11, 12, 14, 15, 18,

dan 19. Kemudian persamaan bunyi vokal /u/ di baris 8, 9, 10, 13, 20, 21, 22,

dan 23, persamaan bunyi vokal /a/ di akhir baris 16 dan 17.

Metrum yang digunakan penyair dalam puisi diponerogo adalah metrum

jambe, karena dalam puisi ini ditemukan penekan pada beberapa baris pada bait

puisi, penekanan tersebut berupa tanda (.) dan Huruf kapital pada baris puisi, yaitu

kata MAJU. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi rata kiri

dengan jumlah bait yaitu 11 bait yang terdiri dari 23 baris puisi.

3) Tak sepadan

Puisi ini mengungkapkan perasaan sedih, kekecewaan seseorang yang

ditinggalkan oleh kekasihnya. Pemilihan diksi dalam puisi ini menggunakan kata

Aku, yang menggambarkan bahwa seolah-olah penyairlah yang mengalami

peristiwa tersebut, selain itu diksi yang digunakan oleh penyair jelas dan dapat

dipahami oleh pembaca, seperti berikut:

TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-sumpahi eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami


Unggunan api ini
Karena kau tidak ‗kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan

penglihatan. Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-6, yaitu Aku merangkaki

dinding buta. Kata merangkaki berasal dari kata dasar “rangkak” yang artinya

40
bergerak. Kemudian, citraan penglihatan dapat dilihat pada baris ke-7 dan ke-9,

yaitu Tak satu juga pintu terbuka dan Unggunan api ini. Kata yang digunakan

oleh penyair pada baris ke-7 dan ke-9 membuat pembaca seolah-olah melihat apa

yang dilihat oleh penyair.

Majas perbandingan (personifikasi), yaitu majas yang berusaha

membandingkan sifat, fisik, atau perbuatan manusia, terhadap benda-benda

(Ahmad Fauzi, 2019:77). Pada puisi Tak sepadan terdapat pada bait, berikut:

Dikutuk-sumpahi eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.

Kata buta yang dimiliki oleh dinding biasanya terdapat pada makhluk

hidup seperti manusia, namun di sini penyair menggunakannya untuk benda mati

(dinding), sehingga melahirkan efek imajinatif bagi pembacanya. Kemudian,

Majas metafora dalam puisi ini terdapat pada bait berikut:

Jadi baik juga kita padami


Unggunan api ini
Karena kau tidak ‗kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

Kata Unggunan api ini, maksudnya adalah permusuhan, amarah yang

terjadi diantara tokoh aku dan kekasihnya. Kata konkret dalam puisi ini dijelaskan

oleh penyair dengan kata yang lugas. Pada puisi Tak Sepadan, terdapat di bait

berikut:

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau Kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Untuk menggambarkan perasaan tokoh aku yang sedih dan kecewa karena

ditinggalkan oleh kekasihnya, penyair menggunakan diksi Beginilah nanti

jadinya/Kau Kawin, beranak dan berbahagia/Sedang aku mengembara serupa

41
Ahasveros. Kata konkret yang menggambarkan kesedihan tokoh yang ditinggal

oleh kekasihnya adalah dengan kata Kau Kawin, beranak dan berbahagia.

Rima dalam puisi ini adalah rima putus yaitu rima yang suku katanya

putus. Menurut Yusra, dkk (2021:33) mengungkapkan bahwa rima putus adalah

persamaan bunyi kata atau suku kata yang putus. Bait I didominasi oleh bunyi

vokal /u/ dan /a/. Bait II didominasi oleh bunyi /a/ dan /u/. Kemudian bait III

didominasi oleh bunyi vokal /a/, /i/, dan /u/.

Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum

jambe, karena ditemukan penekanan pada puisi berupa tanda (,) dan tanda („),

kemudian tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi penulisan rata

kiri dengan jumlah 3 bait dan 11 baris.

4) Sia-sia

Puisi ini mengungkapkan tentang pengorbanan yang sia-sia. Diksi yang

digunakan oleh penyair jelas dan dapat dipahami, serta beberapa bermakna

konotatif, seperti berikut:

SIA-SIA

Penghabisan kali itu kan datang


Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci
Kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan: untukmu

Lalu kita sama termanggu


Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti.

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi


Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Citraan yang terdapat dalam puisi sia-sia adalah citraan penglihatan,

citraan gerak, dan citraan pendengaran. Citraan penglihatan dapat dilihat pada

42
baris ke-3, 4, dan 5, yaitu Mawar merah dan melati putih/Darah dan suci/Kau

tebarkan depanku. Kata mawar merah dan melati putih, menggambarkan rupa dari

warna bunga mawar berwarna merah serta melati yang berwarna putih, dapat

dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. Pada baris Darah dan suci,

penyair membuat pembaca seolah-olah dapat melihat apa yang dilihat penyair.

Kemudian, pada baris Kau terbarkan depanku penyair menggambar seakan-akan

sedang menebarkan kebahagian dan kesedihan.

Citraan pendengaran terdapat baris ke-8, yaitu Saling bertanya: apakah

ini? kata saling bertanya: apakah ini? Mengandung citraan pendengaran karena

penyair menggambarkan tokoh kami yang sedang bingung lalu bertanya satu sama

lain, pertanyaan tersebut diungkapkan dan didengar oleh indera pendengaran.

Majas yang terdapat di dalam puisi Sia-sia adalah majas Pertentangan (Hiperbola

dan Antitesis). Majas antitesis dapat dilihat pada baris Mawar merah dan melati

putih /Darah dan suci. Pada baris tersebut penyair menggunakan kata mawar

merah yang bertentang dengan melati putih, sama halnya dengan kata darah yang

bertentangan dengan kata suci. Darah biasanya identik dengan warna merah dan

suci itu biasanya disimbolkan dengan warna putih yang memiliki arti bersih, suci.

Kemudian, majas hiperbola dapat dilihat pada baris Mampus kau dikoyak-

koyak sepi. Kata dikoyak-koyak sepi pada larik tersebut terlalu berlebihan untuk

menggambarkan maksud bahwa tokoh kau sedang kesepian. Kemudian, kata

konkret yang digunakan oleh penyair untuk menimbulkan imaji adalah kata

membawa pada baris Membawa kembang berkarang.

Pada puisi sia-sia terdapat persamaan bunyi (Rima) aliterasi pada barisnya,

seperti pada baris 1 terdapat bunyi konsonan /ng/ dan /n/. baris ke 2 terdapat

43
persamaan bunyi /ng/ dan /em/. Baris ke 3 terdapat variasi bunyi konsonan /m/,

/r/, dan /ti/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi konsonan /ng/, baris ke 7 terdapat

bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 8 dan 9 terdapat persamaan

bunyi vokal /i/ dan /a/. Baris ke 10 terdapat aliterasi bunyi konsonan yang

didominasi oleh bunyi /m/ dan /ir/. Baris ke 11 terdapat persamaan bunyi

konsonan /k/ dan /m/, kemudian baris ke 12 terdapat persamaan bunyi konsonan

/k/, /m/, dan /s/.

Metrum dalam puisi ini adalah jambe, yaitu metrum tekanan bervariasi,

ada yang diberi tekanan, ada yang tidak diberi tekanan pada tiap suku katanya.

Pemberian tekanan pada puisi sia-sia terdapat pada Ah! Hatiku yang tak mau

memberi, terdapat tekanan berupa tanda (!). Tipografi yang digunakan dalam puisi

ini adalah tipografi rata kiri, terdapat 12 baris puisi.

5) Pelarian

Puisi ini mengungkapkan perasaan emosi serta keinginan untuk melarikan

diri dari masalah yang dihadapi. Diksi yang digunakan oleh penyair dalam puisi

ini sangat lugas, jelas, dan dapat dipahami oleh pembaca. Pemilihan diksi

menggambarkan dengan jelas bahwa penyair sedang menuangkan emosinya,

seperti berikut ini:

PELARIAN
I
Tak tertahan lagi
Remang miang sengketa di sini.

Dalam lari
Dihempaskannya pintu keras tak terhingga.

Hancur-luluh ke malam
Dan paduan dua jiwa

Baris puisi di atas menggambarkan bagaimana perasaan penyair yang

dihadapkan dengan sebuah masalah yang menghancurkan hubungannya dengan

44
belahan belahan jiwa. Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak,

citraan penglihatan dan citraan pendengaran. Citraan gerak dapat dilihat pada bait

ke-2 baris ke-1, yaitu Dalam lari.

Citraan penglihatan dalam puisi terdapat pada bait ke-1 baris ke-2, yaitu

Remang miang sengketa di sini. Pada baris tersebut penyair membuat pembaca

seolah-olah dapat melihat peristiwa apa yang sedang terjadi. Kemudian, citraan

pendengaran dalam puisi ini dapat dilihat pada bait ke-2 baris ke-2, yaitu

Dihempaskannya pintu keras tak terhingga. Pada baris tersebut penyair

menggambarkan kepada pembaca kerasnya suara dihempaskannya pintu.

Kata konkret yang dipilih penyair untuk menggambarkan emosi akibat

masalah yang dihadapi adalah Tak tertahan lagi/Remang miang sengketa di sini.

Majas yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah majas perbandingan

(sinekdoke dan personifikasi) serta majas pertentangan (hiperbola).

Majas perbandingan (sinekdok) dapat dilihat pada baris remang miang

sengketa di sini, baris tersebut bermaksud untuk mengungkapkan bagian dari

permasalahan yang ada. Seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Fauzi (2019)

bahwa sinekdoke adalah majas yang mengungkapkan atau menyebutkan sebagian

untuk menyatakan keseluruhan.

Majas perbandingan (personifikasi) dapat dilihat pada baris Tertawa-

meringis malam menerimanya, baris tersebut mengandung makna yang

membandingkan sifat, fisik, atau perbuatan manusia dengan benda mati. Kata

tertawa, meringis biasanya dimiliki atau dilakukan oleh manusia, namun di sini

penyair menggambarkan malam yang tertawa-meringis menerimanya.

45
Majas pertentangan (hiperbola) pada puisi ini terdapat pada baris ―Mau

apa?Rayu dan pelupa, dan Ia dicekam malam. Kalimat ―Mau apa?Rayu dan

pelupa, termasuk majas pertentangan karena kata Rayu dan pelupa memiliki arti

yang berlawanan. Kalimat Ia dicekam malam termasuk majas hiperbola,

penggunaan kata dicekam malam menggambarkan makna yang ingin disampaikan

secara berlebihan dari kenyataan yang sebenarnya.

Rima yang digunakan penyair dalam puisi pelarian bagian I adalah

persamaan bunyi aliterasi, yaitu bunyi konsonan /ng/ di baris ke 2. Bait II terdapat

bunyi konsonan /m/ dan /s/. Bait III terdapat bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/,

/e/, /i/, dan /u/. Kemudian, pada puisi pelarian II pada baris 1 terdapat persamaan

bunyi aliterasi, yaitu bunyi konsonan /ke/ dan /m/. Baris 2 terdapat persamaan

bunyi konsonan /ri/ dan /m/. Baris ke 3 terdapat persamaan bunyi /r/ dan /u/. Baris

ke 4 terdapat persamaan bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 5

dan 6 terdapat persamaan bunyi vokal /u/ dan /i/. Baris ke 7 terdapat persamaan

bunyi vokal /a/ dan /i/, baris ke 8 terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/.

Kemudian, baris ke 10 dan 11 terdapat persamaan bunyi konsonan /k/ dan /m/.

Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum

jambe, yaitu terdapat pada Aku ada!Pilih saja!/Bujuk dibeli?/Atau sungai

sunyi?/Mari!Mari!/Turut saja!, pada baris puisi ini terdapat penekanan berupa

tanda (!) yang membuktikan bahwa puisi ini menggunakan metrum jambe.

Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan rata kiri yang terdiri dari

5 bait puisi dengan jumlah 17 baris puisi.

6) Sendiri

46
Puisi ini menceritakan tentang kisah seorang anak yang sangat kesepian

dan merindukan ibunya yang sudah meninggal. Diksi yang digunakan penyair

dalam puisi ini jelas dan mudah dimengerti, seperti berikut:

SENDIRI
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala


Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga


Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?


Ah! Lemah lesu iia tersedu: Ibu! Ibu!

Citraan yang terdapat dalam puisi sendiri adalah citraan pendengaran,

citraan penglihatan, dan citraan gerak. Citraan pendengaran terdapat pada bait

pertama baris ke-4, yaitu Ia memekik ngeri, kata memekik itu bisa didengarkan

oleh indera pendengaran. Citraan penglihatan terdapat pada bait ke-3 baris ke-2

yaitu, Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga, kata dari tiap sudut dapat dilihat

dengan menggunakan indera penglihatan (mata). Citraan gerak terdapat pada bait

ke-4 baris pertama, yaitu Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu? Kata

terduduk merupakan kata kerja yang dapat dilakukan oleh tubuh dengan gerakan.

Kata konkret yang dipilih oleh penyair untuk menggambarkan perasaan

kesepian adalah Hidupnya tambah sepi, tambah hampa/malam apa lagi/Ia

memekik ngeri/Dicekik kesunyian kamarnya. Kata konkret yang digunakan

penyair untuk menggambarkan kerinduan kepada ibunya adalah Terkejut ia

terduduk. Siapa memanggil itu?/Ah! Lemah lesu ia tersedu:Ibu!Ibu!.

Majas yang terdapat di dalam puisi ini adalah majas penegasan dan majas

pertentangan (Hiperbola). Majas penegasan terdapat pada bait pertama, baris ke-1,

47
yaitu Hidupnya tambah sepi, tambah hampa. Baris puisi tersebut mengandung

makna bahwa hidupnya semakin kesepian, dan hampa tanpa seorang ibu. Kata

tambah sepi, tambah hampa, merupakan kata yang menegaskan maksud dari kata

sebelumnya.

Majas pertentangan (hiperbola) terdapat pada baris Dicekik kesunyian

kamarnya. Kata dicekik pada baris tersebut digunakan penyair untuk

menyampaikan makna berlebihan dari kenyataan sebenarnya, yaitu tokoh merasa

sangat kesepian berada di kamarnya.

Rima yang digunakan oleh penyair adalah pada bait ke 1 adalah berpola a-

b-b-a, yaitu diakhiri dengan persamaan bunyi vokal /a/ pada baris ke 1 dan baris 4.

Kemudian, persamaan bunyi /i/ pada baris ke 2 dan 3. Bait ke 2 terdapat

persamaan bunyi aliterasi, yaitu konsonan /m/ dan /n/. Bait ke 3 terdapat

persamaan bunyi aliterasi, yaitu konsonan /m/ dan /t/. bait ke 4 baris ke 1 terdapat

persamaan bunyi vokal /a/, /i/, dan /u/, kemudian baris ke 2 terdapat bunyi /i/ dan

/u/, sehingga jika dibacakan akan terdengar indah.

Metrum pada puisi ini adalah metrum jambe, yaitu adanya penekanan pada

bait maupun baris puisi, seperti di dalam puisi „sendiri‘ terdapat tanda (!) yang

menjadi penekanan pada puisi ini. Tipografi yang digunakan oleh penyair dalam

puisi ini adalah penulisan rata kiri dengan jumlah 4 bait, terdiri dari 10 baris.

7) Suara Malam

Puisi ini merupakan pengungkapan perasaan penyair tentang kegelisahan

hidup yang dihadapinya. Diksi yang dipilih oleh penyair lugas, dapat dipahami

oleh pembaca, dan menggunakan bahasa yang bermakna konotatif, yaitu kata

yang mengandung maksud bukan sebenarnya, seperti berikut:

48
SUARA MALAM

Dunia badai dan topan


Manusia mengingatkan ―Kebakaran di hutan‖*
Jadi kemana
Untuk damai dan reda?
Mati.
Barang kali ini diam kaku saja
Dalam ketenangan dalam bersatu
Mengatasi suka dan duka
Kekebalan terhadap debu dan nafsu.
Berbaring tak sedar
Seperti kapal pecah di dasar lautan
jemu dipukul ombak besar.
Atau ini.
Peleburan dalam Tiada
dan sekali akan menghadap cahaya
…………………………………….
Ya Allah! Badanku terbakar-segala samar.
Aku sudah melewati batas.
Kembali? Pintu tertutup dengan keras.

Citraan yang terdapat di dalam puisi ini ada citraan perabaan dan citraan

pendengaran. Citraan perabaan terdapat pada baris ke-17, yaitu Ya Allah!

Badanku terbakar-segala samar, kata-kata digunakan oleh penyair

menggambarkan si aku yang merasakan rasa terbakar pada kulit tubuhnya. Citraan

gerak terdapat pada baris terakhir yaitu, kembali? Pintu tertutup dengan keras,

kata keras di sini menggambarkan bahwa suara pintu yang ditutup dapat didengar

oleh indera pendengaran dengan keras.

Kata konkret yang dipilih oleh penyair untuk menggambarkan kegelisahan

hidup yang dialami dapat dilihat pada baris puisi ini yaitu, Dunia badai dan

topan/Manusia mengingatkan ―Kebakaran di hutan‖*/Jadi kemana/Untuk damai

dan reda?/Mati/Barang kali ini diam kaku saja/Dalam ketenangan dalam

bersatu/Mengatasi suka dan duka/Kekebalan terhadap debu dan nafsu/Berbaring

tak sedar/Seperti kapal pecah di dasar lautan/jemu dipukul ombak besar/Atau

ini/Peleburan dalam Tiada/dan sekali akan menghadap cahaya.

49
Pada puisi ‗Suara Malam‘ terdapat majas pertentangan (hiperbola) dan

perbandingan (metafora). Majas pertentangan (hiperbola) terdapat pada baris

Dunia badai dan topan, dan majas perbandingan (metafora) terdapat pada baris

Seperti kapal pecah di dasar lautan, baris tersebut memiliki maksud yang tidak

sebenarnya. Kata seperti kapal pecah di dasar lautan diibaratkan sebagai

kehancuran seseorang karena kesalahan yang telah dilakukan.

Majas pertentangan (hiperbola) terdapat pada baris jemu dipukul ombak

besar, baris tersebut dapat diartikan seperti seseorang yang jenuh dengan

masalahnya, sudah terbiasa diberikan masalah yang besar.

Puisi suara malam memiliki persamaan bunyi aliterasi, yaitu bunyi

konsonan /d/ dan /n/ di baris ke 1. Pada baris ke 2 terdapat bunyi konsonan /m/

dan /n/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan

/i/. Baris ke 7 terdapat persamaan bunyi aliterasi /d/ dan /m/. Baris ke 8 terdapat

asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 9 terdapat persamaan bunyi

konsonan /e/, /k/, dan /u/. Baris ke 10 terdapat persamaan bunyi /e/ dan /r/. Baris

ke 11 terdapat persamaan bunyi konsonan /r/ dan /l/. Baris ke 12 terdapat

persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 14 terdapat persamaan bunyi vokal /a/

dan /e/. Baris ke 15 terdapat persamaan bunyi aliterasi, yaitu bunyi konsonan /n/

dan /ha/. Baris ke 17 terdapat persamaan bunyi konsonan /ar/. Baris ke 18 terdapat

persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 19 terdapat persamaan bunyi vokal /a/,

/i/, dan /u/.

Metrum pada puisi ini adalah metrum jambe, karena terdapat penekanan

pada baris puisinya, yaitu tanda (“…”). Tipografi yang digunakan penyair dalam

puisi ini adalah penulisan rata kiri, dengan jumlah 19 baris puisi.

50
8) Semangat

Puisi ini merupakan ungkapan perasaan penyair mengenai semangat

perjuangan bangsa Indonesia untuk membela NKRI dari para penjajah. Diksi yang

digunakan oleh penyair dalam puisi ‗Semangat‘ cukup jelas dan mudah dipahami,

penyair menggunakan diksi denotasi, yaitu diksi yang menunjukkan makna

sebenarnya, seperti berikut:

SEMANGAT

Kalau sampai waktuku


Kutahu tak seorang ‗kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang


Dari kumpulan terbuang

Biar peluru menembus kulitku


Aku tetap meradang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari


Berlari

Hingga hilang pedih dan perih.

Dan aku akan lebih tidak peduli


Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan pendengaran, citraan

perabaan dan citraan gerak. Citraan pendengaran terdapat pada baris Tak perlu

sedu sedan itu! kata sedu sedan dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI)

berarti isak, yang dapat didengar dengan telinga. Citraan perabaan terdapat pada

baris Biar peluru menembus kulitku, kata kulit pada baris ini merupakan bagian

tubuh manusia yang (sensitif) terhadap sentuhan seperti dapat merasakan sakit

ketika dicubit. Kemudian, citraan gerak terdapat pada baris Aku tetap meradang-

menerjang dan baris luka yang bisa kubawa berlari/Berlari. Kata-kata yang

51
digunakan oleh penyair menggambarkan kepada pembaca si aku yang bergerak

(menerjang) dan (berlari).

Kata konkret yang dipilih penyair untuk menggambarkan bagaimana

perjuang bangsa Indonesia melawan penjajahan pada zaman dahulu, yaitu pada

Biar peluru menembus kulitku/Aku tetap meradang-menerjang/Luka dan bisa

kubawa berlari/Berlari/Hingga hilang pedih dan perih. Kata konkret untuk

menggambarkan para pahlawan yang rela berkorban terdapat pada baris Dan aku

akan lebih tidak peduli/Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Majas yang terdapat pada puisi ‗Semangat‘ yaitu majas perbandingan

(metafora) dan majas penegasan (repetisi atau pengulangan kata). Majas

perbandingan (metafora) terdapat pada baris Aku ini binatang jalang/ Dari

kumpulan yang terbuang. Kalimat aku ini binatang jalang, merupakan majas

perbandingan karena tokoh aku merupakan seorang manusia yang dibandingkan

dengan binatang jalang. Kemudian, majas penegasan (Repetisi) terdapat pada

baris Luka yang bisa kubawa berlari/Berlari, kata berlari dalam kalimat tersebut

diulang sebanyak dua kali guna untuk menegaskan apa yang ingin disampaikan.

Rima dalam bait 1 terdapat bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan /u/,

baris ke 3 terdapat bunyi aliterasi /ng/. Bait ke 4 baris 1 terdapat persamaan bunyi

asonansi, yaitu bunyi vokal /i/ dan /u/. Bait ke 5 terdapat persamaan bunyi

asonansi /a/ dan /i/. Kemudian, baris selanjutnya terdapat bunyi aliterasi /h/ dan

/p/, serta terdapat persamaan bunyi aliterasi /n/ dan /l/.

Metrum pada puisi ini adalah metrum jambe, karena terdapat penekanan

pada bait atau baris puisinya, yaitu berupa tanda (!) pada baris Tak perlu sedu

52
sedan itu!. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan rata kiri

dengan jumlah 7 bait, terdiri dari 13 baris.

9) Hukum

Puisi ini menceritakan tentang peraturan pada zaman dahulu, pada tahun

1943 Indonesia masih dibawah kekuasaan pemerintahan Jepang, di masa itu setiap

rumah wajib mengirimkan anak lelakinya untuk Romusha. Diksi yang digunakan

oleh penyair jelas dan dapat dipahami oleh pembaca, seperti berikut:

HUKUM

Saban sore ia lalu depan rumahku


Dalam baju tebal abu-abu

Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.

Bungkuk jalannya – lesu


Pucat mukannya – lesu

Orang menyebut satu nama jaya


Mengingat kerjanya dan jasa

Melecut supaya terus ini padanya

Tapi mereka memaling. Begitu kurang tenaga

Pekik ia di angkasa: Perwira muda


Pagi ini menyinar lain masa

Nanti, kau dinanti- dimengerti!

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan

citraan gerak. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-2, 3 dan 4 yaitu Dalam

baju tebal abu-abu, kata baju tebal berwarna abu-abu dapat dilihat menggunakan

indera penglihatan, kemudian Bungkuk jalannya – lesu/Pucat mukanya – lesu,

kata bungkuk dan pucat mukanya dapat dilihat dengan indera penglihatan. Citraan

gerak terdapat pada baris ke-6 dan baris ke-10, yaitu Orang menyebut satu nama

jaya, kata menyebut dapat didengarkan dengan indera pendengaran. Pada baris

ke-10, yaitu Pekik di angkasa: Perwira muda, penggunaan kata pekik di baris

53
puisi tersebut dapat diartikan dengan kata seruan atau teriakan yang dapat di

dengar menggunakan indera pendengaran.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan (Pleonasme)

dan perbandingan (Sinekdok). Majas penegasan (pleonasme) dapat dilihat pada

baris pertama Saban sore ia lalu depan rumahku, karena kata pada baris tersebut

arti yang dimaksud sudah cukup jelas dipahami. Kemudian, majas perbandingan

(sinekdok) dapat dilihat pada baris ke-11, yaitu Pagi ini menyinar lain masa, kata

yang terdapat dalam baris tersebut menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.

Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan kesengsaraan

yang dirasakan oleh orang pada zaman dahulu adalah Seorang jerih

memikul/Banyak menangkis pukul./Bungkuk jalannya – lesu/Pucat mukannya –

lesu. Kata konkret yang digunakan penyair untuk menggambarkan kekuasaan

dapat dilihat pada baris ke 6, 7, 8, 9, 10 dan 11, yaitu Orang menyebut satu nama

jaya/Mengingat kerjanya dan jasa/Melecut supaya terus ini padanya/Tapi mereka

memaling. Begitu kurang tenaga/Pekik ia di angkasa: Perwira muda/Pagi ini

menyinar lain masa. Pada baris ke-8 dapat dilihat bahwa pemilik kekuasaan

memanfaatkan kekuasaannya dengan semena-mena kepada orang lain.

Puisi malam memiliki persamaan bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/ dan

/u/. Baris ke 2 terdapat aliterasi, yaitu persamaan bunyi konsonan /l/ dan /b/. Baris

ke 3 terdapat persamaan bunyi /kul/ pada kata memikul dan pukul. Baris ke 4 dan

5 terdapat persamaan bunyi aliterasi, yaitu persamaan bunyi konsonan /l/. Baris ke

6 terdapat persamaan bunyi vokal /e/ dan /u/. Baris ke 7 terdapat persamaan bunyi

vokal /a/ dan /u/. Baris ke 9 terdapat persamaan bunyi konsonan /ng/ pada kata

54
memaling dan kurang. Baris ke 10 terdapat persamaan bunyi yang bervariasi yaitu

/k/, /l/, dan /a/. Kemudian, baris ke 12 terdapat persamaan bunyi konsonan /ti/.

Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum

Jambe, karena dalam puisi ini ditemukannya beberapa tanda penekanan pada baris

puisi, seperti tanda (.), (,), dan tanda (!). Tipografi yang digunakan oleh penyair

adalah tipografi penulisan rata kiri, dengan jumlah 12 baris puisi.

10) Taman

Puisi ini menceritakan tentang kisah kehidupan dua orang yang saling

mencintai. Diksi yang dipilih oleh penyair sederhana namun bermakna, seperti

berikut:

TAMAN

Taman punya kita berdua


tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita itu bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kembang
aku kembang, kau kembang
kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‗nusia

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan

citraan perabaan. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-2, yaitu tak lebar

luas, kecil saja. kata lebar, luas, dan kecil dari suatu objek dapat dilihat

menggunakan indera penglihatan. Kemudian pada baris ke-5 dan 6, yaitu taman

kembangnya tak berpuluh warna/ Padang rumputnya tak berbanding permadani.

Penggunaan kata berpuluh warna dan padang rumput dapat dilihat menggunakan

inderan penglihatan. Citraan perabaan pada puisi ini terdapat pada baris ke-7,

55
yaitu halus lembut dipijak kaki. Penggunaan kata halus lembut pada baris ini

menggambarkan bahwa kulit telapak kaki dapat merasakan halus dan lembut.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan (repetisi),

yaitu terdapat pada baris ke-4 yaitu Bagi kau dan aku cukuplah, kata Bagi kau

dan aku diulangi lagi pada bait ke-8, yaitu Bagi kita itu bukan halangan.

Kemudian pada baris ke-11 yaitu kau kembang, aku kumbang, repetisi oleh

penyair pada baris selanjutnya menjadi aku kumbang, kau kembang.

Kata konkret yang dipilih penyair untuk menggambarkan kehidupan yang

sederhana, bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki, yaitu pada baris Bagi kau

dan aku cukuplah/Taman kembangnya tak berpuluh warna /Padang rumputnya

tak berbanding permadani/halus lembut dipijak kaki./Bagi kita itu bukan

halangan./Karena/dalam taman punya berdua/Kau kembang, aku kembang/aku

kembang, kau kembang/kecil, penuh surya taman kita/tempat merenggut dari

dunia dan ‗nusia.

Rima yang terdapat dalam puisi Taman, pada baris ke 1 terdapat

persamaan bunyi asonansi /a/ dan /u/. Baris ke 2 terdapat aliterasi bunyi konsonan

/l/. Baris ke 3 terdapat persamaan bunyi konsonan /k/, /n/, dan /t/. Baris ke 4 dan

5 terdapat persamaan bunyi aliterasi, yaitu persamaan bunyi konsonan /h/, /k/, dan

/m/. Baris ke 6 terdapat bunyi aliterasi konsonan /ng/ pada kata padang dan

berbanding. Baris ke 7 terdapat bunyi aliterasi, yaitu /l/ dan /k/. Baris ke 8 dan 9

terdapat pengulangan bunyi/k/ dan /n/. Baris ke 10 terdapat persamaan bunyi /m/

dan /a/. Baris ke 11 dan 12 terdapat persamaan bunyi /ng/ pada kata kumbang dan

kembang. Baris ke 13 dan 14 didominasi oleh persamaan bunyi /k/, /m/, dan /ia/

pada kata dunia dan „nusia.

56
Metrum yang terdapat di dalam puisi ini adalah metrum jambe, karena ada

tanda („) pada puisi ini, yaitu pada baris ke-14 tempat merenggut dari dunia dan

‗nusia. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan rata kiri yang

terdiri dari 14 baris puisi.

11) Lagu Biasa

Puisi menceritakan tentang kisah seorang lelaki yang baru berkenalan

dengan seorang perempuan. Mereka tampak malu-malu, saat bertemu. Diksi yang

dipilih penyair untuk menggambarkan kisah muda-mudi yang sedang jatuh cinta

yaitu cukup jelas, lugas dan mudah dipahami oleh pembacanya, seperti berikut:

LAGU BIASA

Daerah rumah makan kami kini berhadapan


Baru berkenalan. Cuma berpandangan
Sungguhpun samudra jiwa sudah selain berselam

Masih saja berpandangan


Dalam lakon pertama
Orkes meningkah dengan ―Carman‖ pula.

Ia mengerling. Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari

Ketika orkes memulai ―Ave Maria‖


Kuseret ia kesana….

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan pendengaran, citraan

penglihatan, dan citraan gerak. Citraan pendengaran yaitu terdapat pada bait 3

baris ke-3 Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi. Kata suaranya nyaring berarti

terdengar dengan jelas menggunakan indera pendengaran. Citraan penglihatan

dalam puisi ini terdapat pada bait ke-3 baris 1 dan 2, yaitu Ia mengerling. Ia

ketawa/ Dan rumput kering terus menyala. Kata mengerling memiliki arti melihat

dengan pandangan mata ke sebelah kanan atau kiri.

57
Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menunjukkan rasa

canggung, malu-malu diantara keduanya, dapat dilihat pada baris Baru

berkenalan. Cuma berpandangan. Kata konkret yang menunjukkan bahwa

keduanya mulai jatuh cinta, pada baris Sungguhpun samudra jiwa sudah selain

berselam. Kemudian, kata menyapa pada baris ke-8 yaitu Dan rumput kering

terus menyala, konkret sehingga menimbulkan imaji penglihatan.

Majas yang terdapat di dalam puisi ini adalah majas pertentangan

(hiperbola) dan perbandingan (personifikasi). Majas hiperbola terdapat pada baris

ke-3 dan ke-10, yaitu Sungguhpun samudra jiwa sudah selain berselam dan

Darahku terhenti berlari. Kata berhenti berlari pada kalimat Darahku berhenti

berlari terkesan terlalu berlebihan. Kemudian, majas personifikasi terdapat pada

baris ke-8 yaitu, Dan rumput kering terus menyala. Kata menyala pada kalimat

Dan rumput kering terus menyala, mengandung makna yang tidak sebenarnya.

Rima dalam puisi Luar Biasa ini, pada bait 1 terdapat persamaan bunyi

aliterasi, yaitu persamaan bunyi konsonan /h/, /m/, dan /n/. Bait ke 2 terdapat

persamaan bunyi aliterasi, yaitu bunyi konsonan /m/, /n/, /r/, dan /s/. Bait ke 3

terdapat persamaan bunyi yang bervariasi yaitu /a/, /i/, /r/, dan /ng/, bunyi /ng/

dapat dilihat pada kata mongering, kering, dan nyaring. Bait ke 4 terdapat

persamaan bunyi aliterasi, yaitu bunyi konsonan /m/ dan /k/.

Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe,

karena dalam puisi ini terdapat penekanan yaitu berupa tanda (“…”) pada baris

ke-6 dan ke-11 Orkes meningkah dengan ―Carman‖ pula./Ketika orkes memulai

“Ave Maria”. Tipografi yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah tipografi

penulisan rata kiri dengan jumlah 12 baris puisi.

58
12) Kupu Malam dan Biniku

Puisi ini menggambarkan tentang kehidupan seorang suami yang menaruh

rasa curiga atau keraguannya terhadap kesetiaan sang istri. Diksi yang dipilih oleh

penyair dalam puisi ini sederhana, namun bermakna dan penyair juga

menggunakan diksi bermakna konotatif dan denotatif, seperti berikut:

KUPU MALAM DAN BINIKU

Sambil berselisih lalu


mengebu debu.

Kupercepat langkah. Tak noleh kebelakang


Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang

Barah ternganga

Melayang ingatan ke biniku


Lautan yang belum terduga
Biar lebih kami tujuh tahun bersatu

Barangkali tak setahu


Ia menipuku.

Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan

penglihatan. Citraan gerak terdapat pada baris ke-3 yaitu Kupercepat langkah. Tak

noleh kebelakang, kata langkah merupakan kata kerja, kata noleh juga merupakan

kata kerja yang berasal dari kata toleh, menoleh yang berarti melihat dengan

memalingkan muka ke kiri, ke kanan, ke belakang.

Kemudian, citraan penglihatan terdapat pada baris ke-4 dan ke-5 yaitu

Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang/Barah ternganga. Kata-kata yang

digunakan oleh penyair pada baris ke-4 dan 5 membuat pembaca seolah-olah

dapat melihat apa yang penyair lihat.

Kata konkret yang dipilih penyair untuk menimbulkan imaji yaitu kata

melayang. Kemudian untuk menunjukkan perasaan curiga dapat dilihat pada baris

Melayang ingatan ke biniku/ Lautan yang belum terduga/Biar lebih kami tujuh

59
tahun bersatu/Barangkali tak setahu/Ia menipuku. Pada baris ke-6,7,8,9, dan 10

dapat dilihat bahwa si aku teringat akan isterinya yang tidak sepenuhnya dapat

ditebak, diduga oleh si aku, meskipun usianya hubungan (pernikahan) keduanya

sudah lebih dari 7 tahun, bisa saja si isteri tidak setia dan berbohong dengan

suaminya.

Majas yang terdapat di dalam puisi ini adalah pertentangan (hiperbola) dan

majas perbandingan (metafora). Majas hiperbola dapat dilihat pada baris ke-1 dan

2, yaitu Sambil berselisih lalu/mengebu debu. Kata yang digunakan oleh penyair

dapat dimaknai bahwa sambil berjalan lewat lalu dengan semanggat menggelora

atau dapat diartikan juga sambil jalan terburu-buru. Kemudian majas metafora

dapat dilihat pada baris ke-5, yaitu Barah ternganga yaitu bermakna luka, rasa

sakit yang terbuka kembali.

Pada puisi Kupu Malam dan Biniku terdapat persamaan bunyi akhir pada

baris 1, 2, 3, dan 4, yaitu persamaan bunyi /u/ dan /ng/ seperti pola a-a-b-b. Baris

ke 5, 6. 7 dan 8 terdapat persamaan bunyi konsonan /h/, /m/, /n/, dan /ng/.

kemudian, baris ke 9 dan 10 terdapat persamaan bunyi /ku/ dan /u/.

Tipografi yang digunakan penyair adalah penulisan rata kiri dengan

jumlah 10 baris puisi.

13) Penerimaan

Puisi ini menggambarkan tentang perasaan yang berharap ingin dengan

seseorang yang telah meninggalkannya.

Diksi yang dipilih penyair cukup sederhana, lugas dan mudah dipahami

oleh pembaca, seperti berikut:

PENERIMAAN

Jika kau mau, kuterima kau kembali

60
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi


Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Jika kau mau, kuterima kau kembali


Tapi untukku sendiri
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu

terdapat pada baris ke-6 Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani. Kata tunduk

pada baris ke-6 memiliki arti menghadapkan wajah ke bawah, atau dapat juga

diartikan kata jangan tunduk digunakan oleh penyair untuk mengatakan jangan

melihat ke bawah atau menyerah! Lihat aku dengan berani kepada pembaca.

Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukan perasaan yang

penuh harap, dapat dilihat pada baris ke-1, 2, dan 3, yaitu Jika kau mau, kuterima

kau kembali/Dengan sepenuh hati/Aku masih tetap sendiri. Pada baris tersebut

terlihat bahwa tokoh aku lirik masih berharap, dan dapat menerima orang yang

telah pergi meninggalkannya.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas perbandingan (metafora)

dan majas penegasan (repetisi atau pengulangan). Majas metafora dapat dilihat

pada baris ke-5 yaitu Bak kembang sari sudah terbagi, dapat diartikan seperti

kecantikan, kemanisan sudah terbagi (tidak utuh lagi). Kemudian, majas

penegasan (repetisi) dalam puisi ini terdapat pada baris ke-1 dengan baris ke-7,

yaitu pada kalimat Jika kau mau, kuterima kau kembali, kata pada baris tersebut

diulangi oleh penyair sebanyak dua kali untuk menegaskan kepada pembaca

maksud yang ingin disampaikan penyair.

61
Puisi Kupu Malam dan Biniku terdapat persamaan bunyi /i/ pada setiap

akhir barisnya, sehingga menghasilkan bunyi yang indah dan dapat dikatakan

berima sempurna.

Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe,

yaitu dengan adanya penekanan pada bait, baris puisi. Pada puisi ini ditemukan

penekanan pada baris ke-6 berupa tanda (!). Tipografi yang digunakan oleh

penyair adalah penulisan rata kiri dengan jumlah 9 baris puisi.

14) Kesabaran

Puisi ini menggambarkan perasaan sabar terhadap masalah kehidupan

yang sedang dihadapi. Diksi yang digunakan oleh penyair jelas dan mudah

dipahami. Penyair dalam puisi ini menggunakan diksi yang bermakna konotatif

dan denotatif, seperti berikut:

KESABARAN

Aku tak bisa tidur


Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh – mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Disebelahnya api dan abu

Aku hendak berbicara


Suaraku hilang, tenagaku terbang
Sudah! Tak jadi apa-apa:
Ini dunia enggan disapa, ambil peduli

Keras-membeku air kali


Dan hidup bukan hidup lagi.

Kuulangi yang dulu kembali


Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda dan musti tiba

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan pendengaran, citraan

penglihatan dan citraan gerak. Pada puisi ini, citraan pendengaran terdapat dalam

baris ke-2, 5, dan 8, yaitu Orang ngomong, anjing nggonggong/ Dihantam suara

bertalu-talu/ Suaraku hilang, tenagaku terbang. Kata-kata yang digunakan oleh

62
penyair membuat pembaca seperti ikut mendengarkan apa yang didengarkan oleh

si aku dalam puisi tersebut.

Citraan penglihatan terdapat dalam baris ke-6 dan 11 yaitu Disebelahnya

api dan abu/Keras-membeku air kali. Kata-kata yang digunakan oleh penyair

dalam baris tersebut membuat pembaca seolah-olah dapat melihat apa yang

penyair lihat seperti api dan abu. Kemudian, citraan gerak terdapat dalam baris ke-

14, yaitu Sambil bertutup telinga, berpicing mata. Kata bertutup telinga dapat

diartikan bahwa si aku menutup telinga, dan memicingkan matanya.

Majas yang terdapat di dalam puisi ini adalah majas pertentangan

(hiperbola) dan majas pertentangan (antithesis). Majas perbandingan dapat dilihat

pada baris ke 4, 6 dan 11, yaitu Kelam mendinding batu/ Suaraku hilang,

tenagaku terbang/Keras-membeku air kali, penyair dalam baris tersebut

menggunakan kata yang berlebihan untuk menunjukkan makna sebenarnya.

Kemudian, majas pertentangan terdapat pada baris ke 5 Disebelahnya api dan

abu, kata yang digunakan oleh penyair berlawanan makna, namu masih

berdekatan seperti api dan abu.

Puisi Penerimaan mengandung persamaan bunyi yang bervariasi, yaitu

persamaan bunyi /k/. Pada baris ke 1. Baris ke 2 terdapat persamaan bunyi

konsonan/ng/, baris ke 3 terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 4

terdapat persamaan bunyi /m/ dan /d/. Baris ke 5 terdapat persamaan bunyi /d/, /r/,

/l/, dan /u/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /e/. Baris ke 7 dan 9

terdapat persamaan bunyi /a/. Baris ke 8 terdapat persamaan bunyi konsonan /ku/

dan /ng/. Baris ke 10 terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /i/. Baris ke 11

terdapat persamaan bunyi /a/, /e/, dan /i/. Baris ke 12 terdapat persamaan bunyi

63
konsonan /n/, /h/, dan /p/. Baris ke 13 terdapat persamaan bunyi vokal /i/ dan /u/.

Baris ke 14 terdapat persamaan bunyi /m/, /i/, dan /t/. Baris ke 15 terdapat

persamaan bunyi /a/ dan /u/.

Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe,

karena pada puisi ini ditemukan tanda penekanan dalam baris puisinya yaitu

berupa tanda (!) pada baris ke-9. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah

tipografi rata kiri dengan jumlah puisi sebanyak 4 bait dan 15 baris.

15) Ajakan

Puisi ini menggambarkan tentang ajakan yang kepada seseorang (Ida)

untuk melakukan apa saja, jangan takut meskipun banyak rintangan yang nantinya

dihadapi. Diksi yang dipilih oleh penyair jelas, tegas, bermakna konotatif dan juga

denotatif, seperti berikut:

AJAKAN
Ida
Menembus sudah caya
Udara tebal kabut
Kaca hitam lumut
Pecah pencar sekarang
Di ruang legah lapang
Mari ria lagi
Tujuh belas tahun kembali
Bersepeda sama gandengan
Kita jalani ini jalan

Ria bahgia
Tak acuh apa-apa
Gembira girang
Biar hujan datang
Kita mandi-basahkan diri
Tahu pasti sebentar kering lagi.

Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan

citraan gerak. Pada puisi „Ajakan‟ citraan penglihatan dapat dilihat pada baris

Menembus sudah caya/Udara tebal kabut/Kaca hitam lumut/Pecah pencar

sekarang/Di ruang legah lapang. Kata-kata yang digunakan oleh penyair

64
membuat pembaca ikut melihat apa yang penyair lihat. Kemudian, citraan gerak

dapat dilihat pada baris Bersepeda sama gandengan, kata bersepeda dapat berarti

mengendarai sepeda dengan gerakan mengayuh.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan dan majas

perbandingan (personifikasi). Majas penegasan dapat dilihat pada baris ke-13,

yaitu Gembira girang, baris tersebut bermakna senang, bahagia yang digambarkan

dengan kata gembira lalu dipertegas lagi dengan kata girang. Kemudian, majas

personifikasi dapat dilihat pada baris ke-14 yaitu Biar hujan datang. Kata datang

pada baris ini membuat hujan seolah-olah adalah seseorang yang dinantilkan

kedatangnnya.

Kata konkret yang penyair gunakan untuk menunjukkan ajakan terdapat

pada baris Di ruang legah lapang/Mari ria lagi/Tujuh belas tahun

kembali/Bersepeda sama gandengan/Kita jalani ini jalan. Kata konkret yang

dipilih penyair untuk menggambarkan bahwa tidak apa-apa, menjadi acuh tak

acuh, bahagia dan menikmati setiap prosesnya meskipun ada rintangan, hadapi

saja dengan suka rela.

Rima yang terapat dalam puisi Ajakan adalah rima kembar karena berpola

a-a-b-b, seperti pada baris 1 dan 2 dalam puisi diakhir dengan bunyi vokal yang

sama yaitu /a/. Kemudian baris 3 dan 4 terdapat persamaan bunyi /ut/.

Metrum yang digunakan dalam puisi ini adalah adalah metrum jambe.

Kemudian tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi penulisan rata

kiri dengan jumlah 16 baris.

16) Kenangan

65
Puisi ini ditulis penyair untuk seorang wanita bernama Karinah

Moordjono. Pada puisi ini penyair menggambarkan kenangan dan rasa lega,

senang karena berhasil melupakan si wanita, meskipun akhirnya ada rasa

penyesalan yang tiba. Diksi yang dipilih penyair jelas, dapat dipahami pembaca

dan bermakna mendalam, seperti berikut:

KENANGAN
Untuk Karinah Moordjono
Kadang
Diantara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda using dilupa
Ah! tercebar rasanya diri
Membumbung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia

Citraan yang ditemukan dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu

dapat dilihat pada baris ke-6 Membumbung tinggi atas kini. Kata-kata yang

digunakan penyair pada baris ini menimbulkan imaji penglihatan yaitu pada kata

membubung berarti naik atau menaik, sehingga pada baris tersebut dapat jika

disederhanakan menaikan tinggi ke atas sekarang.

Pada puisi kenangan terdapat majas pertentangan (hiperbola) dan majas

penegasan (repetisi atau pengulangan). Majas hiperbola dapat dilihat pada baris

ke-8 dan ke-9 yaitu Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang/Hancur hilang belum

dipegang, pemilihan kata yang digunakan penyair dibuat melebih-lebihkan dari

maksud sebenarnya. Kemudian, majas penegasan (repetisi atau pengulangan)

dapat dilihat pada baris ke-2 dan ke-11, yaitu pada kata itu-itu saja.

66
Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan kenangan dapat

dilihat pada baris Sejenak/Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang/ Hancur hilang

belum dipegang/Terhentak/Kembali di itu-itu saja. Kata konkret yang digunakan

untuk menunjukkan penyesalan terdapat pada baris Menyelubung nyesak

penyesalan pernah menyia-nyia.

Puisi Kenangan mengandung rima atau persamaan bunyi yang bervariasi,

seperti pada baris 1 terdapat persamaan bunyi /a/. Baris ke 2 terdapat persamaan

bunyi /a/, /i/, /u/, dan /r/. Baris ke 3 terdapat persamaan bunyi /e/, /m/, dan /r/.

Baris ke 4 terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 5 terdapat

persamaan bunyi /d/, /e/, /r/, dan /i/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi /b/, /i/

dan /m/. Baris ke 8 terdapat persamaan bunyi /a/, /i/, dan /u/. Baris ke 9 terdapat

persamaan bunyi /e/, /h/, /ng/, dan /l/. Baris ke 11 terdapat persamaan bunyi /i/ dan

/u/. Baris ke 12 terdapat persamaan bunyi /a/, /u/, dan /r/. Baris ke 13 terdapat

persamaan bunyi /a/, /h/, /n/, /t/. Kemudian baris ke 14 terdapat persamaan bunyi

/e/, /u/, /p/, dan /m/.

Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum

jambe, karena terdapat penekanan pada baris puisi yaitu berupa tanda (!) seperti

Ah!tercebar rasanya diri. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan

rata kiri yang terdiri dari 14 baris puisi.

17) Hampa

Puisi ini menggambarkan persaan seseorang yang setia menanti meskipun

kesepian dan merasa hampa tanpa sri. Diksi yang digunakan penyair dalam puisi

'Hampa' jelas dan dapat menggambarkan perasaan penyair dengan baik, seperti

berikut:

67
HAMPA

Kepada Sri yang selalu sangsi


Sepi diluar, sepi menekan-mendesak
Lurus-kaku pohonan Tak bergerak
Sampai ke puncak
Sepi memagut
Tak suatu kuasa-berani melepas diri
Segala menanti. Menanti-menanti.
Sepi.
Dan ini menanti penghabisan mencekik
Memberat-mencekung punda
Udara bertuba
Rontok-gugur segala. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Menanti. menanti

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu

terdapat pada baris ke-1, 2, dan 3 yaitu, Sepi diluar, sepi menekan-

mendesak/Lurus-kaku pepohonan Tak bergerak/Sampai ke puncak. Kata-kata

yang digunakan oleh penyair menimbulkan citraan penglihatan bagi pembaca, saat

membaca puisi pembaca dibuat seolah-olah dapat melihat apa yang ada dalam

puisi tersebut.

Majas yang terdapat di dalam puisi ini adalah majas pertentangan

(Hiperbola), majas perbandingan (metafora) dan majas penegasan (repetisi).

Majas hiperbola terdapat pada baris ke-1, yaitu Sepi diluar, sepi menekan-

mendesak, kata yang digunakan oleh penyair berlebihan untuk menggambarkan

kesepian atau rasa sepi yang dirasakan oleh tokoh dalam puisi. Majas metafora

terdapat pada baris ke-4 dan ke-10, yaitu Sepi memagut/Udara bertuba.

Kata konkret yang dipilih penyair untuk menunjukkan rasa kesepiannya

yaitu pada baris Sepi diluar, sepi menekan-mendesak, penyair menggunakan kata

sepi yang diulangi pada baris ke-4, 7, dan 11. Kata konkret yang dipilih penyair

untuk menunjukkan kesetiaan adalah penggunaan kata menanti pada baris ke-6, 8,

68
dan 11. Penggunaan kata menanti menggambarkan dengan jelas bagaimana

kesetiaan si tokoh kepada sri.

Rima yang terkandung dalam puisi ini adalah persamaan bunyi /e/, /i/, /s/,

/m/, dan /k/. Baris ke 2 terdapat persamaan bunyi /u/, /k/, dan /r/. Baris ke 3

terdapat persamaan bunyi /a/ dan /k/. Baris ke 4 dan 5 terdapat persamaan bunyi

/e/, /i/, /k/, /s/, /m/, dan /u/. Baris ke 6 dan 7 terdapat persamaan bunyi /a/, /e/,

/nan/. Baris ke 10 dan 11 terdapat persamaan bunyi /a/, /u/, dan /r/. Baris ke 12

terdapat persamaan bunyi /m/ dan /i/.

Metrum yang digunakan penyair dalam puisinya adalah metrum jambe,

yaitu adanya penekanan pada baris atau bait puisi berupa tanda (,), kemudian,

tipografi yang digunakan penyair adalah penulisan rata kiri dengan jumlah baris

12 baris puisi

18) Perhitungan

Puisi ini menggambarkan tentang kegelisahan pernyair, ia merasa

hidupnya tidak tentu arah dan hidup dalam kesendirian. Diksi yang digunakan

oleh penyair bermakna konotatif dan denotatif, seperti berikut:

PERHITUNGAN

Banyak gores belum terputus saja


Satu rumah kecil putih dengan lampu merah
Muda caya
Langit bersih-merah dan purnama raya……
Sudah itu tempatku tak tentu dimana.

Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran

Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran


Hembus kau aku tak peduli, ke Bandung, ke
Sukabumi!?
Kini aku meringkih dalam malam sunyi.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu

dapat dilihat pada baris ke-1, 2, 3, 5 dan 8, seperti Banyak gores belum terputus

69
saja/ Satu rumah kecil putih dengan lampu merah/Langit bersih-merah dan

purnama raya….../Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran/ Kini aku

meringkih dalam malam sunyi. Kata-kata yang digunakan oleh penyair

menimbulkan citraan penglihatan, yaitu pembaca dibuat seolah-olah melihat apa

yang dilihat oleh penyair.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan dan majas

penegasan. Majas pertentangan dapat dilihat pada baris Langit bersih-merah dan

purnama raya, penyair menggunakan kata yang bertentangan namun masih

berdekatan seperti Langit bersih-merah dan purnama raya. Kemudian, majas

penegasan dapat dilihat pada baris satu rumah kecil dengan lampu merah, Kata

satu rumah kecil dipertegas lagi dengan kata lampu merah agar menjadi lebih

jelas.

Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan kesendirian

adalah Kini aku meringkih dalam malam sunyi. Kemudian, kata konkret yang

digunakan untuk menunjukkan penyair yang kehilangan arah, yaitu Sudah itu

tempatku tak tentu dimana/Sekilap pandangan serupa dua klewang

bergeseran/Sudah itu berlepasan dengan sedikit heran/Hembus kau aku tak

peduli, ke Bandung, ke/Sukabumi!? Pada baris Sudah itu tempatku tak tentu

dimana terlihat bahwa penyair bingung tak tentu kemana arah tujuannya.

Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah persamaan bunyi /a/ dan /s/

pada baris ke 1. Baris ke 2 terdapat persamaan bunyi /a/, /u/, dan /h/. Baris ke 3

terdapat persamaan bunyi /a/ dan /r/. Baris ke 4 terdapat persamaan bunyi /t/ dan

/u/. Baris ke 5 terdapat persamaan bunyi /se/ dan /an/. Baris ke 6 terdapat

70
persamaan bunyi /n/. Baris ke 7 terdapat persamaan bunyi /k/ dan /u/. Baris ke 8

terdapat persamaan bunyi /k/, /i/, dan /m/.

Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi penulisan rata kiri

dengan satu baris puisi menjorok ke dalam.

19) Rumahku

Puisi ini menggambarkan tentang seorang yang mencari suasana serta

dunia yang berbeda dari sebelumnya, hingga ia menemukan makna hidup

sesungguhnya. Diksi yang digunakan oleh penyair mengandung makna yang

mendalam, seperti berikut:

RUMAHKU
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala tampak

Kulari dari gedung lebar halaman


Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala


Di pagi terbang entah kemana

Rumahku dari unggun-timbun sajak


Disini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang


Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.

Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan

penglihatan. Citraan gerak terdapat pada baris ke-3, yaitu Kulari dari gedung

lebar halaman. Kata lari dalam baris ini menimbulkan imaji gerak pada puisi.

Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-1, 2, 5, dan 6, yaitu Rumahku dari

unggun-timbun sajak/Kaca jernih dari luar segala tampak/Kemah kudirikan

ketika senjakala/Di pagi terbang entah kemana. Kata-kata yang digunakan oleh

penyair dalam baris ke-1, 2, 5, dan 6 seperti kaca jernih dari luar, senja, pagi yang

71
dapat dilihat menggunakan indera penglihatan (mata), sehingga pembaca dibuat

seolah-olah ikut melihat apa yang dilihat oleh penyair.

Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menunjukkan pencarian

suasana yang berbeda yaitu pada baris Kulari dari gedung lebar halaman/Aku

tersesat tak dapat jalan/ Kemah kudirikan ketika senjakala/Di pagi terbang entah

kemana/ Rumahku dari unggun-timbun sajak/ Disini aku berbini dan beranak.

Pada baris tersebut terlihat bahwa si aku berusaha mencari hal yang berbeda di

dari biasanya. Jika biasanya ia mendapatkan hal tersebut di rumah, sekarang ia

mencoba mencarinya di luar, namun ia tersesat dan tidak menemukan hal yang ia

cari.

Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan makna

hidup sesungguhnya adalah pada baris Rasanya lama lagi, tapi datangnya

datang/Aku tidak lagi meraih petang/Biar berleleran kata manis madu/Jika

menagih yang satu. Pada baris ini terlihat bahwa si aku sadar sejauh mana ia ingin

menemukan hal baru diluar rumah, tempat terbaik adalah rumah, karena ada

keluarga, kehangatan yang sangat berarti dan tidak akan di dapatkan di tempat

lain.

Majas yang didapatkan di dalam puisi ini adalah majas penegasan

(repetisi) dan majas pertentangan (Hiperbola). Majas repetisi dapat dilihat pada

baris ke-1 dan ke-7, yaitu Rumahku dari unggun-timbun sajak yang diulangi pada

baris ke-7 untuk menegaskan kembali makna oleh penyair. Majas hiperbola

terdapat pada baris aku tidak lagi meraih petang, jika dilihat secara umum si aku

sebagai manusia tidak akan dapat meraih petang itu tidak mungkin dilakukan, hal

72
tersebut berlebihan untuk menggambarkan maksud yang sebenarnya. Rima yang

terdapat persamaan bunyi berpola a-a-b-b pada setiap baitnya.

Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe.

Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan rata kiri dengan jumlah

12 baris.

20) Kawanku dan aku

Puisi ini menggambarkan tentang perjuangan dua orang yang bekerja keras

hingga tak kenal waktu. Diksi yang digunakan penyair dalam puisi ini berhasil

menggambarkan bagaimana lika-liku kerasnya kehidupan, seperti pada baris

berikut:

KAWANKU DAN AKU


Kepada L.K Bohang
Kami jalan sama. Sudah larut
Menembus kabut.
Hujan mengucur badan.

Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan.

Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat.

Siapa berkata?

Kawanku hanya rangka saja


Karena dera Mengental tenaga.

Dia bertanya jam berapa!

Sudah larut sekali


Hingga hilang segala makna
Dan gerak tak punya arti

Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan gerak, citraan

perabaan, dan citraan penglihatan. Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-1,

yaitu Kami jalan sama. Sudah larut. Kata jalan yang digunakan oleh penyair bisa

diartikan sebagai gerak atau suatu perlintasan (dari satu tempat ke tempat lain).

Citraan perabaan dapat dilihat pada baris ke-3, yaitu Hujan mengucur badan, kata

mengucur badan dapat diartikan hujan jatuh mengenai badan dan dirasakan oleh

73
kulit sebagai lapisan terluar dari badan (tubuh). Citraan penglihatan dapat dilihat

pada baris ke-4 dan ke-10, yaitu berkakuan kapal-kapal di pelabuhan dan sudah

larut sekali, kata yang digunakan oleh penyair membuat pembaca seperti ikut

melihat apa yang penyair lihat.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (Hiperbola)

dan majas penegasan (repetisi). Majas hiperbola terdapat pada baris ke-2 dan ke-4,

yaitu Menembus kabut dan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan, penyair

menggunakan kata yang berlebihan dalam puisinya untuk menggambarkan

maksud sebenarnya. Kemudian, majas penegasan (repetisi) pada puisi „Kawanku

dan Aku‟ adalah kata sudah larut malam yang diulang dua kali oleh penyair untuk

menegaskan maksud atau makna penyair dalam puisi.

Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan kerja

keras dari si aku dan temannya yaitu pada baris Kami jalan sama. Sudah

larut/Menembus kabut/Hujan mengucur badan/Berkakuan kapal-kapal di

pelabuhan/ Darahku mengental-pekat. Aku tumpat-pedat/Siapa

Kami jalan sama. Sudah larut/Menembus kabut./Hujan mengucur

badan./Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan/Darahku mengental-pekat. Aku

tumpat-pedat./Siapa berkata?/Kawanku hanya rangka saja/karena dera

Mengelucak tenaga. Kata konkret yang digunakan penyair untuk menggambarkan

usaha yang tak kenal waktu yaitu pada baris Dia bertanya jam berapa!/Sudah

larut sekali/Hingga hilang segala makna/Dan gerak tak punya arti.

Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah bunyi /ut/ di akhir baris 1 dan 2.

Baris ke 3 dan 4 terdapat persamaan bunyi aliterasi, yaitu persamaan bunyi

konsonan /n/ dan /l/. Baris ke 5 terdapat persamaan bunyi /at/ pada kata pekat dan

74
tumpat. Baris 6 dan 7 terdapat persamaan bunyi asonansi, yaitu bunyi vokal /a/.

Baris ke 8 dan 9 terdapat persamaan bunyi aliterasi konsonan /k/ dan /r/. Baris ke

10, 11, dan 12 terdapat persamaan bunyi /h/, /s/, dan /k/.

Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum

jambe, karena pada baris puisi ditemukan adanya penekan berupa tanda (!) yaitu

Dia bertanya jam berapa!. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah

penulisan rata kiri dengan jumlah 12 baris.

21) Di masjid

Puisi ini menggambarkan tentang hubungan antara manusia dengan

Tuhan. Penyair juga menempatkan dirinya sebagai aku di dalam puisi, diksi yang

digunakan oleh penyair jelas dan memiliki makna yang dalam, seperti berikut:

DI MESJID
Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga

Kamipun bermuka-muka

Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada.


Segala daya memadamkannya

Bersimbah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang
Gelanggang kami berperang

Binasa-membinasa
Satu menista lain gila.

Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan pendengaran dan

citraan penglihatan. Citraan pendengaran dapat dilihat pada baris ke-1, yaitu

Kuseru saja dia. Kata seru pada baris tersebut mengandung arti panggilan atau

digunakan untuk memanggil dengan suara nyaring, panggilan tersebut dapat

didengar menggunakan indera pendengaran (telinga). Citraan penglihatan dapat

dilihat pada baris ke-3, yaitu Kamipun bermuka-muka, kata bermuka-muka

75
mengandung arti berhadapan muka, di depan muka, di depan orang, pada baris

tersebut penyair membuat pembaca seolah dapat melihat apa yang penyair lihat.

Majas yang terdapat di dalam puisi ini adalah majas pertentangan

(hiperbola), yaitu pada baris Seterusnya. Ia benyala-nyala dalam dada./Segala

daya memadamkannya, kata yang digunakan oleh penyair dalam baris tersebut

terkesan berlebihan dalam menggambarkan maksud sebenarnya.

Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan adanya

hubungan manusia dengan tuhan, yaitu Kuseru saja Dia/Sehingga datang

juga/Kamipun bermuka-muka. Pada baris ini menggambarkan saat panggilan-Nya

terdengar, berdatangan manusia untuk menghadap kepada-Nya untuk

melaksanakan perintah dan kewajiban sebagai seorang hamba. Kata konkret yang

digunakan oleh penyair untuk menunjukkan rasa kegelisahan dalam diri saat

menghadap Tuhan, yaitu Seterusnya. Ia bernyala-nyala dalam dada/ Segala daya

memadamkannya.

Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah /a/ dan /u/ di baris ke 1 dan 2.

Baris ke 3 terdapat persamaan bunyi /a/ dan /u/. Baris ke 4 dan 5 terdapat

persamaan bunyi /a/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi konsonan /h/ dan /r/.

Baris ke 7 dan 8 terdapat persamaan bunyi /ng/. Baris ke 9 dan 10 terdapat

persamaan bunyi /a/, /b/, dan /s/. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah

penulisan rata kiri dengan jumlah 10 baris puisi.

22) Aku

Puisi ini menggambarkan tentang kehidupan si aku yang tergerak untuk

melakukan sesuatu yang tidak biasanya. Pada puisi ini si aku merasa bahwa

dirinya sedang terjatuh ke dalam lembah dosa, sebelumnya si aku sangat taat dan

76
beriman, namun kini ia menjauh dari kata taat dan beriman tersebut. Diksi yang

digunakan oleh penyair sangat jelas dan berhasil menggambarkan perasaan si aku

yang sudah salah arah dan berdosa, seperti berikut:

AKU

Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak


Cumbu-buatan satu biduan
Kujauhi ahli agama serta lembing-katanya

Aku hidup
Dalam hidup di mata tampak-bergerak
Dengan cacar satu senyum kukucup-minum dalam
Dahaga.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan

penglihatan. Citraan gerak pada puisi ini dapat dilihat pada baris ke-1 yaitu

Melangkahkan aku bukan tuak menggelegak, kata melangkahkan dalam baris

tersebut dapat diartikan mengayunkan kaki ke depan. Citraan penglihatan pada

puisi ini dapat dilihat pada baris ke-5, yaitu Dalam hidup di mata tampak

bergerak, kata tampak dalam baris tersebut dapat diartikan melihat, dapat dilihat,

atau kelihatan, sehingga jika disederhanakan baris tersebut menjadi dalam hidup

dimata kelihatan bergerak.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan

(hiperbola). Majas pertentangan (hiperbola) terdapat pada baris ke-6 yaitu Dengan

cacar melebar, barah bernanah, pada baris ini bermakna dosa dan kesalahan yang

ada dalam diri si aku semakin besar serta sulit untuk diampuni, dan pada baris

Kujauhi ahli agama serta lembing-katanya, bermakna bahwa si aku telah

menyimpang dari yang seharusnya.

Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan si aku

yang terjatuh ke dalam lembah dosa adalah Melangkahkan aku bukan tuak

menggelegak/Cumbu-buatan satu biduan/Kujauhi ahli agama serta lembing-

77
katanya. Kemudian, kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukan si

aku yang merasa dirinya salah adalah Aku hidup/Dalam hidup di mata tampak-

bergerak/Dengan cacar satu senyum kukucup-minum dalam/Dahaga.

Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah aliterasi, yaitu persamaan bunyi

konsonan /k/ dan /n/. Baris ke 2 terdapat persamaan bunyi /t/ dan /n/. Baris ke 3

terdapat persamaan bunyi vokal /a/ dan /i/. Baris ke 4 dan 5 terdapat persamaan

bunyi /k/, /m/, dan /p/. Baris ke 6 dan 7 terdapat persamaan bunyi /i/, /r/, dan /m/.

Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi dengan penulisaan

rata kiri dan kanan, serta jumlah baris puisi 7 baris.

23) Cerita

Puisi ini ditujukan kepada Darmawidjaja dan menggambarkan tentang

kisah atau cerita pertemanan antara penyair dan Darmawidjaja. Puisi ini

memperlihatkan gambaran bagaimana si penyair dan Darmawidjaja berteman,

bersenda gurau, bahkan tak jarang keduanya bertengkar (berjarak) namun

nantinya akan kembali berbaikan. Diksi yang digunakan oleh penyair jelas, mudah

dipahami, serta memiliki makna yang cukup mendalam, seperti berikut:

CERITA

Di pasar baru mereka


Lalu mengada-menggaya

Mengikat sudah kesal


Tak tahu apa dibuat

Jiwa satu teman lucu


Dalam hidup, dalam tuju.

Gundul diselimuti tebal


Sama segala berbuat-buat.

Tapi kadang pula dapat


Ini renggang terus terapat.

78
Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak, yaitu pada baris

ke-3 Mengikat sudah kesal/Tak tahu apa dibuat, kata mengikat yang digunakan

oleh penyair dapat diartikan gerak mengeratkan, mengebat dengan tali. Majas

yang terdapat dalam puisi ini adalah majas perbandingan (metafora) dan majas

penegasan (repetisi). Majas perbandingan (metafora) terdapat pada baris ke-7

Gundul diselimuti tebal. Kemudian, majas penegasan (repetisi atau pengulangan)

terdapat pada baris ke-6, yaitu Dalam hidup, dalam tuju. Kata dalam pada baris

ini diulang dua kali untuk menegaskan makna puisi kepada pembaca.

Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan bagaimana

kisah pertemanan antara penyair dan Darmawidjaja adalah Di pasar baru mereka /

Lalu mengada-menggaya/ Mengikat sudah kesal/Tak tahu apa buat/ Jiwa satu

teman lucu. Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan konflik

yang pernah dialami keduannya adalah Tapi kadang pula dapat/Ini renggang

terus terapat.

Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah /a/ dan /r/ pada baris 1. Baris ke

2 terdapat persamaan bunyi /a/ dan /m/. Baris 3 dan 7 terdapat persamaan bunyi

/al/. Baris ke 4, 8, 9, dan 10 terdapat persamaan bunyi /at/. Baris ke 5 dan 6

terdapat persamaan bunyi /u/.

Metrum yang digunakan oleh penyair adalah metruTipografi yang

digunakan jambe, karena ditemukannya penekanan pada baris puisi berupa tanda

(,), kemudian tipografi yang digunakan oleh penyair adalah penulisan rata kiri

dengan jumlah 11 baris puisi.

24) Bercerai

79
Puisi ini menyampaikan tentang perasaan penyair yang diharuskan

berpisah atau mengakhiri hubungannya dengan Ida. Dibandingkan harus

menderita lebih banyak lagi. Diksi yang digunakan oleh penyair mengandung

makna konotafit, denotatif, jelas serta dapat dipahami oleh pembaca. Pemilihan

diksi oleh penyair dapat dilihat seperti berikut:

BERCERAI

Kita musti bercerai


Sebelum kicau murai berderai

Terlalu kita minta pada mala mini.

Benar belum puas serah-menyerah


Darah masih berbusah-busah.

Terlalu kita minta pada malam ini.

Kita musti bercerai


Biru surya Ian menembus oleh malam di perisai

Dua benua bakal bentur-membentur.


Merah kesumba jadi putih kapur.

Bagaimana?
Kalau IDA, mau turut mengabur
Tidak samudra caya tempatmu menghambur.

Citraan yang terdapat dalam puisi adalah citraan pendengaran dan citraan

penglihatan. Citraan pendengaran dapat dilihat pada baris ke-2, yaitu Sebelum

kicau murai berderai, kata kicau memiliki arti tiruan bunyi burung yang dapat

didengarkan dengan indera pendengaran (telinga). Kemudian, citraan penglihatan

dapat dilihat pada baris ke-5, 9, dan 11, yaitu Darah masih berbusah-busah/Biru

surya Ian menembus oleh malam di perisai/ Merah kesumba jadi putih kapur.

Kata-kata yang digunakan oleh penyair pada ke-5, 9, dan 11 membuat pembaca

dapat melihat apa yang penyair lihat.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)

dan majas penegasan (repetisi). Majas pertentangan (hiperbola) dapat dilihat pada

80
baris ke-5 dan ke-9, yaitu Darah masih berbusah-busah dan Dua benua bakal

bentur-membentur, kata yang digunakan oleh penyair berlebihan dalam

menggambarkan maksud sebenarnya. Majas penegasan (repetisi) dapat dilihat

pada baris ke-1 dengan ke-7, serta baris ke-3 dengan baris ke-6. Pada baris ke-1

Kita musti bercerai diulangi kembali di baris ke-7. Kemudian, pada baris ke-3

Terlalu kita minta pada malam ini diulangi kembali pada baris ke-6. Majas

pertentangan dapat dilihat pada baris ke-10 yaitu Merah kesumba jadi putih

kapur.

Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan perasaan ingin

mengakhiri hubungan tersebut terdapat pada baris Kita musti bercerai/Sebelum

kicau murai. Bagaimana?/Kalau IDA, mau turut mengabur/Tidak samudera caya

tempatmu manghambur.

Rima yang terdapat dalam baris ke 1, 2, dan 3 adalah bunyi /i/ di akhir

baris. Baris ke 4 dan 5 terdapat persamaan bunyi /h/, /r/, dan /s/. Baris ke 6, 7, dan

8 terdapat persamaan bunyi /i/ dan /m/. Baris ke 9, 10, 12, dan 13 terdapat

persamaan bunyi /ur/ pada bentur-membentur, kapur, mengabur, dan

menghambur.

Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah adalah

metrum Jambe, karena terdapat tekanan bervariasi berupa tanda (.) pada beberapa

baris puisi yang artinya menunjukkan penghentian baca puisi. Tipografi yang

digunakan adalah tipografi dengan penulisan rata kiri serta jumlah baris 13 baris.

25) Selamat tinggal

81
Puisi ini menceritakan tentang kegelisahan dan kesedihan seseorang yang

akan berpisah. Diksi yang digunakan oleh penyair sederhana namun memiliki

makna yang sangat dalam, seperti berikut:

SELAMAT TINGGAL

Aku berkaca
Bukan untuk ke pesta

Ini muka penuh luka


Siapa punya?

Kudengar seru menderu


-dalam hatiku?-
Apa hanya angin lalu?

Lagu lain pula


Menggempar tengah malam buta

Ah………… !!!

Segala menebal, segala mengental


Segala takku kenal…………….

Selamat tinggal …………….!!

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan

citraan pendengaran. Citraan penglihatan dapat dilihat pada baris ke-1, 3, dan 9

yaitu, aku berkaca/ Ini muka penuh luka/ Menggelepar tengah malam buta. Kata-

kata yang digunakan oleh penyair membuat pembaca seolah-olah ikut melihat apa

yang dilihat oleh penyair. Kemudian, citraan pendengaran dapat dilihat pada baris

ke-5, yaitu Kudengar seru menderu, kata seru menderu dalam baris tersebut

berarti panggilan yang dilakukan berulang kali. Suara panggilan dapat didengar

oleh indera pendengaran (telinga).

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)

dan perbandingan (metafora). Majas pertentangan (hiperbola) terdapat pada baris

ke-3 dan ke-9 Ini muka penuh luka dan Menggelepar tengah malam buta, kata

yang digunakan oleh penyair terlalu berlebihan untuk menggambarkan maksud

82
sebenarnya. Kemudian, majas metafora terdapat pada baris ke-11 yaitu segala

menebal, segala mengental kata yang digunakan oleh penyair untuk

menggambarkan maksud yang tidak sebenarnya.

Kata konkret yang penyair pilih untuk menimbulkan imaji adalah pada

baris ke-5, kata menderu berhasil menimbulkan imaji pendengaran. Kemudian

kata konkret yang dipilih penyair pada baris ke-9 juga berhasil menimbulkan

imaji, yaitu kata menggelepar tengah malam buta, menimbulkan imaji

penglihatan.

Rima yang terdapat pada baris ke 1, 2, 3, 4, 8, dan 9 adalah persamaan

bunyi vokal /a/. Baris ke 5, 6, dan 7 adalah persamaan bunyi /u/ pada akhir baris

puisi. Baris ke 11, 12, dan 13 terdapat persamaan bunyi /al/ pada kata menebal,

mengental, kenal, dan tinggal.

Metrum yang digunakan oleh penyair adalah metrum jambe karena banyak

terdapat penekanan pada barisnya berupa tanda (!) yang artinya menegaskan

maksud atau makna yang ingin disampaikan dalam puisi tersebut. Tipigrafi yang

digunakan penyair dalam puisi ini adalah penulisan rata kiri dengan jumlah 13

baris puisi.

26) Dendam

Puisi ini menceritakan tentang seseorang yang memiliki perasaan dendam,

hidupnya akan merasa tidak tenang dan gelisah. Diksi yang digunakan oleh

penyair jelas, sederhana namun sangat bermakna, seperti berikut ini:

DENDAM

Berhenti tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak

Aku tegak
Nulan bersinar sedikit tak tampak

83
Tangan meraba kebawah bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu

Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbelas di jari

Aku mencari
Diri tercerai dari hati

Bulan bersinar sedikit tak tampak

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah gerak dan citraan penglihatan.

Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-1 dan ke-5, yaitu Berdiri tersentak dan

tangan meraba kebawah bantalku/Keris berkarat kugenggam di hulu, kata-kata

yang digunakan oleh penyair membuat pembaca seolah-olah dapat melihat si aku

berdiri, lalu menggerakan tangannya, kemudian menggenggam keris di hulu.

Citraan penglihatan dapat dilihat pada baris ke-3 dan ke-4, yaitu Aku tegak dan

Bukan bersinar sedikit tak tampak, kata yang digunakan oleh penyair

menimbulkan imaji penglihatan bagi pembaca yaitu pembaca seolah-olah melihat

si aku yang berdiri. Kemudian, kata “sinar” pada baris puisi tersebut biasanya

dilihat menggunakan indera penglihatan.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)

dan perbandingan (metafora). Majas pertentangan (hiperbola) dapat dilihat pada

baris ke-9 dan ke-11, yaitu Mendadak mati kuhendak berbekas di jari dan Diri

tercerai dari hati, kata yang digunakan oleh penyair berlebihan dari maksud yang

ingin disampaikan sebenarnya. Kemudian, majas perbandingan (metafora) dapat

dilihat pada baris ke-6, yaitu Keris berkarat kugenggam di hulu, baris tersebut

dapat dimaknai seperti dendam yang lama masih disimpan dihati.

Rima yang terdapat pada baris 1, 2, 3, 4, 5, dan 12 adalah bunyi konsonan

/k/. Baris ke 8, 9, dan 10 terdapat persamaan bunyi /ri/ di akhir baris. Baris ke 11

84
terdapat persamaan bunyi /i/. Tipografi yang digunakan penyair dalam puisi ini

adalah tipografi penulisan rata kiri dengan jumlah 11 baris puisi.

27) Merdeka

Puisi ini menggambarkan tentang seseorang yang menginginkan

kebebasan dari rasa bayang-bayang Ida, serta hidup dengan tenang. Diksi yang

digunakan oleh penyair sederhana, namun memiliki makna yang dalam, seperti

berikut:

MERDEKA

Aku mau bebas dari segala


Merdeka
Juga dari Ida

Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
Menjadi sumsum dan darah
Seharian kukunyah – kumamah

Sedang meradang
Segala kurenggut
Ikut bayang

Tapi kini hidupku terlalu tenang


Selama tidak antara badai
Kalah menang

Ah! Jiwa yang menggapai-gapai


Mengapa kalau beranjak dari sini
Kucoba dalam mati.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak. Citraan ini

dapat dilihat pada baris ke-7 dan ke-16, yaitu Seharian kukunyah-kumamah dan

Mengapa kalau beranjak dari sini. Kata-kata yang digunakan oleh penyair

menimbulkan imaji gerak, yaitu penyair menggambarkan kepada pembaca

gerakan menguyah yaitu gerak yang dilakukan pada saat memakan sesuatu.

Kemudian, kata beranjak yang terdapat dalam baris ke-16 dapat diartikan gerak

berpindah tempat.

85
Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (antithesis

dan hiperbola). Majas pertentangan (antitesis) terdapat pada baris Pernah/Aku

percaya pada sumpah dan cinta/Menjadi sumsum dan darah, kata yang dipilih

dan digunakan oleh penyair pasangan kata yang berlawanan makna, namun

dituliskan bergandengan, berdekatan untuk menimbulkan efek puitis bagi

pembaca. Majas perbandingan (hiperbola) terdapat pada baris Seharian kukunyah-

kumamah, kata yang digunakan oleh penyair berlebihan dalam menunjukkan

maksud sebenarnya.

Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan keinginan untuk

terbebas dari kenangan dengan Ida adalah pada baris Aku mau bebas dari

segala/Merdeka/jaga dari Ida. Kata konkret yang digunakan penyair untuk

menunjukkan tekanan batin yang dialami oleh si aku, yaitu pada baris Sedang

meradang/Segala kurenggut/Ikut bayang/Tapi kini/Hidupku terlalu

tenang/Selama tidak antara badai/Kalah menang/Ah! JIwa yang menggapai-

gapai/Mengapa kalau beranjak dari sini/Kucoba dalam hati. Pada tiga baris

terakhir pada puisi terlihat bahwa si aku yang terlalu berharap, dan mencoba untuk

pergi.

Rima yang terdapat pada bait 1 adalah persamaan bunyi vokal /a/. Bait ke

2 terdapat persamaan bunyi konsonan /h/, /k/, /m/, dan /r/. Bait ke 3 terdapat

persamaan bunyi /ng/ dan /ut/. Bait ke 4 terdapat persamaan bunyi /i/ dan /ng/

atau berpola a-a-b-b. Kemudian, bait ke 5 terdapat persamaan bunyi /i/.

Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe,

yaitu tekanan bervariasi, ada yang diberi tekanan dan ada yang tidak diberi

tekanan pada tiap kata atau suku kata, seperti pada bait terakhir Ah! Jiwa yang

86
menggapai-gapai/Mengapa kalau beranjak dari sini/Kucoba dalam mati.

Tipografi yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah tipografi penulisan rata

kiri, dengan jumlah 17 baris puisi.

28) Kita Guyah Lemah

Puisi ini menggambarkan tentang “kita” yang lemah dan tidak berdaya

untuk melawan. Diksi yang dipilih penyair jelas, ada beberapa yang mengandung

makna konotatif dan denotatif, seperti berikut:

KITA GUYAH LEMAH)*


Kita guyah lemah
Sekali letak tentu rebah
Segala erang dan jeritan
Kita pendam dalam keseharian

Mari tegak merentak


Diri sekeliling kita bentak
Ini malam purnama akan menembus awan.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan pendengaran. yaitu

pada baris ke-3 Segala erang dan jeritan. Kata erang berarti keluh atau rintih yang

disebabkan rasa kesakitan, dan kata jeritan berarti pekikan atau teriakan. Kedua

kata tersebut menghasilkan suara dan dapat didengarkan oleh indera pendegaran.

Kemudian, majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan

(Antitesis dan Hiperbola). Majas antitesis dapat dilihat pada baris ke-3 Segala

erang dan jeritan. Majas hiperbola dapat dilihat pada baris ke-2 dan ke-7, yaitu

Sekali tetak tentu rebah dan Ini malam purnama akan menembus awan. Pada

baris ke-2 dan ke-7, penyair menggunakan kata yang berlebihan dalam

menggambarkan maksud sebenarnya.

Kata konkret dalam puisi ini yang menggambarkan seseorang yang lemah

dan rapuh dapat dilihat pada baris ke-1 dan ke-2, yaitu Kita guyah lemah dan

Sekali tetak tentu rebah. Kemudian, kata konkret yang digunakan oleh penyair

87
untuk menunjukkan penderitaan yang dialami dapat dilihat pada baris ke-3 dan

ke-4, yaitu Segala erang dan jeritan dan Kita pendam dalam keseharian.

Rima yang terdapat dalam bait 1 adalah bunyi konsonan /h/ dan /m/ pada

akhir baris dengan pola a-a-b-b. Kemudian bait ke 2 terdapat persamaan bunyi /k/,

/n/, dan /m/.

Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum

anapest, yaitu tekanan yang dimulai pada suku kata ketiga, dan pada awal suku tak

bertekanan, seperti pada baris Ini malam purnama akan menembus awan.

Terdapat tanda (.) diakhir kalimat. Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah

tipografi penulisan rata kiri.

29) Jangan Kita Disini Berhenti

Puisi ini menggambarkan tentang seseorang yang tidak berhenti dan

berdiam diri dengan dosa yang dimiliki. Diksi yang digunakan oleh penyair

bermakna konotatif, seperti berikut:

(JANGAN KITA DISINI BERHENTI)*

Jangan kita disini berhenti


Tuaknya tua, sedikit pula
Sedang kita mau berkendi-kendi
Terus, terus dulu……..!!

Ke ruang dimana botol tuak banyak berbaris


Pelayannya kita dilayani gadis-gadis
O, bibir merah, selokan mati pertama
O, hidup, kau masih ketawa??

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan

penglihatan. Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-1 dan ke-4, yaitu Jangan

kita disini berhenti/Terus, terus dulu…….!! kata yang digunakan oleh penyair

menggambarkan kepada pembaca untuk jangan berhenti atau dapat juga diartikan

terus jalan (bergerak). Kemudian, citraan penglihatan dalam puisi ini dapat dilihat

88
pada baris ke-2, 5, 7, dan 8, Tuaknya tua, sedikit pula/Ke ruang dimana botol tuak

banyak berbaris/O, bibir merah, selokan mati pertama/O, hidup, kau masih

ketawa?? Kata-kata yang digunakan oleh penyair membuat pembaca seolah-olah

dapat melihat apa yang dilihat oleh penyair.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan (pleonasme

dan repetisi). Majas pleonasme yaitu Tuaknya tua, sedikit pula penyair

menggunakan kata sedikit pula untuk menegaskan kata-kat yang sudah jelas.

Kemudian, majas penegasan (repetisi) terdapat pada baris sedang kita mau

berkendi-kendi/Terus, terus dulu…..!!/Ke ruang dimana botol tuak banyak

berbaris, penggunaan kata berkendi-kendi dan terus-terus, diulangi oleh penyair

untuk menegaskan maksud puisi.

Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menunjukkan tidak

berdiam diri dan berhenti, yaitu Jangan kita disini berhenti, kemudian rima yang

terdapat dalam bait 1 yaitu persamaan bunyi vokal /a/, /i/, dan /u/. Bait ke 2

terdapat persamaan bunyi /a/ dan /s/ dengan pola a-a-b-b.

Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum

jambe, yaitu ditemukannya penekanan dalam puisi berupa tanda (,) dan tanda (!).

Tipografi yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah tipografi penulisan

rata kiri.

30) Mulutmu mencubit di mulutku

Puisi ini menggambarkan tentang seseorang sakit hati atau tersinggung

dengan perkataan yang diutaran oleh orang lain mengenai dirinya sehingga timbul

rasa tidak suka, benci dengan orang tersebut. Diksi yang digunakan oleh penyair

jelas, lugas, dan sederhana namun bermakna dalam, seperti berikut:

89
(MULUTMU MENCUBIT DI MULUTKU)*
Mulutmu mencubit di mulutku

Menggelegak benci sejenak itu

Mengapa meraihmu tak kucekik pula

Ketika halus-perih kau meluka??

Citraan yang terdapat di dalam puisi ini adalah citraan gerak, yaitu pada

baris pertama Mulutmu mencubit di mulutku, kata mencubit yang digunakan oleh

penyair dalam baris ini dapat digambarkan seperti gerakan menjepit dengan jari-

jari tangan.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan

(hiperbola), yaitu Mulutmu mencubit di mulutku, pada umumnya yang biasanya

mencubit adalah tangan, namun disini penyair menggambarkan jika mulutmu bisa

mencubit, sehingga kata tersebut terkesan berlebihan untuk menggambarkan

makna sebenarnya yaitu seseorang yang tersinggung atau sakit hati karena lisan

seseorang.

Kata konkret yang dipilih penyair dalam puisi ini untuk menunjukkan

kekesalan, kebencian dapat dilihat pada baris Menggelegak benci sejenak

itu/Mengapa merihmu tak kucekik pula. Pada baris ini bermakna bahwa muncul

benci setelah itu, dan kenapa tenggorokan kamu tidak kucekik saja?, kata tersebut

menggambarkan bahwa si aku sangat marah, dan tidak suka dengan orang

tersebut.

Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah bunyi /a/ dan /u/ yang berpola

a-a-b-b, kemudian tipografi yang digunakan penyair dalam puisi adalah tipografi

penulisan rata kiri dengan jumlah 4 baris puisi.

31) Kepada Peminta-Minta

90
Puisi ini menggambarkan tentang kehidupan seseorang yang merasa

banyak dosa yang telah diperbuat selama ini, hingga keinginannya untuk meminta

ampunan kepada Tuhan. Diksi yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini sangat

jelas dan bahasa yang digunakan penyair ada yang konotatif dan denotatif

sehingga memberikan makna yang dalam setra dapat diterima oleh pembaca

dengan baik, seperti berikut:

KEPADA PEMINTA-MINTA

Baik, baik aku akan menghadap Dia


Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Jangan lagi kau bercerita


Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga.

Bersuara tiap kau melangkah


Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.

Mengganggu dalam mimpiku


Mengehempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku.

Baik, baik aku akan menghadap Dia


Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi debu.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, citraan

perabaan, citraan gerak, citraan pengecapan, dan citraan pendengaran. Citraan

penglihatan dapat dilihat pada baris ke-6, yaitu Sudah tercacar semua di muka,

pada baris tersebut penyair mengajak pembaca untuk melihat si aku yang sudah

terkena cacar di seluruh wajahnya. Citraan pendengaran dapat dilihat pada baris

ke-16, yaitu Mengaum di telingaku, kata mengaum memiliki arti berbunyi

menderam. Bunyi tersebut dapat didengarkan oleh indera pendengaran (telinga).

91
Citraan gerak dalam puisi dapat dilihat pada baris ke-11 dan 12, yaitu

Menetes dari suasana kau datang/Sembarang kau merebah. Kata menetes adalah

gerakan jatuh menitih, kemudian kata merebah dapat diartikan membaringkan,

atau membuat menjadi rebah. Kemudian, citraan pencecapan dapat dilihat pada

baris ke-15, yaitu Di bibirku terasa pedas, kata pedas dalam baris tersebut pada

umumnya dapat dirasakan melalui indera pengecapan yaitu bibir.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (hiperbola)

dan majas penegasan (repetisi). Majas hiperbola dalam puisi ini dapat dilihat pada

baris ke-4, 14 dan 20, yaitu Nanti darahku jadi beku/Menghempas aku di bumi

keras/ Nanti darahku jadi debu, kata-kata yang digunakan oleh penyair dalam

baris tersebut terkesan berlebih-lebihan dari makna yang ingin disampaikan

sebenarnya. Kemudian majas penegasan (repetisi) dalam puisi ini terletak pada

baris Baik, baik aku akan menghadap Dia, kata tersebut diulangi oleh penyair

dalam puisinya sebanyak dua kali.

Kata konkret yang penyair gunakan untuk menunjukkan seorang manusia

yang penuh dosa, yaitu Sudah tercacar semua di muka/Nanah meleleh dari

luka/Sambil berjalan kau usap juga. Kata konkret yang digunakan penyair untuk

menunjukkan si aku yang ingin menghadap Tuhan mengharapkan ampunan, yaitu

Baik,baik aku akan menghadap Dia/Menyerahkan diri dan segala dosa.

Rima yang terdapat dalam bait ke 1 adalah persamaan bunyi vokal /a/ dan

/u/ dengan pola a-a-b-b. Bait ke 2 terdapat persamaan bunyi /a/ pada setiap

barisnya, sehingga bait ini dapat dikatakan berima sempurna. Bait ke 3 terdapat

persamaan bunyi adalah /h/ dan /ng/ dengan pola a-b-b-a. Bait ke 4 terdapat

92
persamaan bunyi /u/ dan /s/ dengan pola a-b-a-b. Bait ke 5 terdapat persamaan

bunyi vokal /a/ dan /u/ dengan pola a-a-b-b.

Metrum yang digunakan oleh penyair adalah metrum Jambe, yaitu

penekanan bervariasi, ada yang diberi tekanan, ada yang tidak diberi tekanan pada

setiap suku kata atau kata. Pada puisi ini terdapat tanda berupa tanda (.) dan (,)

seperti pada baris pertama yaitu Baik,baik aku akan menghadap Dia/

Menyerahkan diri dan segala dosa. Tipografi yang digunakan oleh penyair dalam

puisi ini adalah tipografi penulisan rata kiri, dengan jumlah 20 baris puisi.

32) Fragmen

Puisi ini menggambarkan tentang bagian-bagian kejadian yang ada dalam

yang sudah dialami oleh si aku dan akan diingat menjadi kenangan serta

pengalaman. Diksi yang digunakan oleh penyair jelas, dan memiliki makna yang

dalam, seperti berikut:

FRAGMEN

Tiada lagi yang akan diberikan? Kuburlah semua ihwal,


Duduklah diri beristirahat, tahanlah dada yang menyesak
Lihat ke luar, hitung-pisah warna yang bermain di jendela
Atau nikmatkan lagi lukisan-lukisan di dinding
Pemberian teman-teman kita.
Atau kita omongkan Ivy yang ditinggalkan suaminnya,
jatuhnya pulau Okinawa. Atau berdiam saja
Kita saksikan hari cerah, jadi mendung,
Mega dikemudian angina
-Tidak, tidak, tidak sama dengan angina ikutan kita…..
Melupakan dan mengenang-

Kau asing, aku asing


Dipertemukan oleh jalan yang tidak pernah bersilang
Kau menatap, aku menatap
Kebuntuan rahsia yang kita bawa masing-masing
Kau pernah melihat pantai, melihat laut, melihat gunung?

Lupa diri terlambung tinggi?

Dan juga
diangkat dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain
mengungsi dari kota satu ke kota lain? Aku
sekarang jalan 1 ½ rabu.
Dan

93
Pernah percaya pada kemutlakan soal….
Tapi adakah ini kata-kata untuk mengangkat tabir
Pertemuan
Memperjelas datang siang? Adakah-
Mari cintaku

Demi Allah, kita jejakkan kaki di bumi pedat,


Bercerita tentang raja-raja yang mati dibunuh rakyat;
Papar-jemur kalbu, terangkan jalan darah kita
Hitung dengan teliti kekalahan, hitung dengan
teliti kemenangan. Aku sudah saksikan
Senja kekcewaan dan putus asa yang bikin tuhan juga
turut tersedu
membekukan berpuluh nabi, hilang mimpi, dalam
kuburnya.
Sekali kugenggam Waktu, keluasan di tangan lain
Tapi kucampur bauran hingga hilang tuju.
Aku bisa nikmatkan perempuan luar batasnya, cium
Matanya, kucup rambutnya, isap dadanya jadi
gersang.
Kau cintaku
Melenggang diselubungi kabut dan caya, benda yang
tidak menyata
Tukang tadah segala yang kurampas, kaki tangan tuhan –
Berceritalah cintaku bukakan tubuhmu di atas sofa ini
Mengapa kau selalu berangkat dari kelam ke kelam
dari kecemasan sampai istirahat – dalam – kecemasan;
cerita surya berhawa pahit. Kita bercerita begini –

Tapi sudah tiba waktu pergi, dan aku akan pergi


Dan apa yang kita pikirkan, lupakan, kenangkan,
rahsiakan
Yang bukan-penyair tidak ambil bagian.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan

citraan gerak. Citraan penglihatan dapat dilihat pada baris ke-3, 14 dan 16, yaitu

Lihat keluar, hitung-pisah warna yang bermain di jendela/ Kau menantap, aku

menatap/ Kau pernah melihat pantai, melihat laut, melihat gunung? Kata-kata

yang digunakan oleh penyair pada baris ke-3, 14, dan 16 membuat pembaca ikut

berimajinasi seakan melihat apa yang dilihat oleh penyair. Kemudian, citraan

gerak dapat dilihat pada baris ke-2, 19, 20 dan 21, yaitu Duduklah diri

beristirahat, tahanlah dada yang menyesak/diangkat dari rumah sakit satu ke

rumah sakit lain/mengungsi dari kota satu ke kota lain?Aku/sekarang jalan

dengan 1 ½ rabu. Kata duduk yang digunakan oleh penyair pada baris ke-2

94
menggambarkan tokoh yang sedang mengistirahatkan tubuhnya. Pada baris ke-19,

kata diangkat digunakan penyair untuk menggambarkan kepada pembaca bahwa

diambil/dibawa dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Kemudian, pada baris

ke-21, yaitu kata jalan yang digunakan oleh penyair dapat diartikan pelintasan

atau suatu gerak yang dilakukan oleh makhluk hidup untuk berpindah tempat.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan (antithesis)

dan majas penegasan. Majas pertentangan dapat dilihat pada baris ke-12, 13, dan

14, yaitu Kau asing, aku asing/Dipertemukan oleh jalan yang tidak pernah

bersilang/Kau menatap, aku menatap. Kemudian, majas penegasan terdapat pada

baris ke-19, 30, 45,46,47,48, dan 49, yaitu diangkat dari rumah sakit satu ke

rumah sakit lain/papar-jemur kalbu, terangkan jalan darah kita/Mengapa kau

selalu berangkat dari kelam ke kelam/dari kecemasan sampai ke istirahat-dalam-

kecemasan,/cerita surya berhawa pahit. Kita bercerita begini—/Tapi sudah tiba

waktu pergi, dan aku akan pergi/Dan apa yang kita pikirkan, lupakan,

kenangkan,/rahsiakan, pada baris yang digaris bawahi terdapat majas penegasan

klimaks, yaitu menyebutkan rentetan kata yang terus meningkat baik dari kualitas

maupun kuantitas. Kemudian, pada baris ke-10 terdapat pengulangan (repetisi)

kata yang bertujuan menegaskan makna puisi, yaitu – Tidak,tidak, tidak sama

dengan angina ikutan kita…., kata tidak pada baris ini diulangi sampai sebanyak

tiga kali.

Kata konkret yang penyair gunakan untuk memunculkan imaji bagi

pembaca yaitu, kata menatap pada baris ke-14 Kau menatap, aku menatap, pada

baris ini terlihat imaji penglihatan. Kemudian, kata melenggang pada baris ke-42

95
Melenggang diselubungi kabut dan caya, benda yang tidak menyata, pada baris

ini kata melenggang memunculkan imaji bagi pembaca.

Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum

jambe, yaitu penekanan pada puisi berupa tanda (,) dan (.), kemudian tipografi

yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah tidak beraturan.

33) Malam

Puisi ini menggambarkan tentang keadaan saat malam hari dan

kegelisahan yang dirasakan orang-orang yang harus berjaga karena sewaktu-

waktu bisa saja bertemu dengan musuh yang dapat membunuh kapan saja, bahkan

sebelum siang tiba, bisa saja diri sudah hilang diserang musuh. Diksi yang

digunakan dalam puisi ini jelas, sederhana, dan bermakna konotatif serta

denotatif, seperti berikut:

MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam,
kami masih saja berjaga
—Thermopylae?—
—jagal tidak dikenal? —
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang……

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu

terdapat pada baris pertama Mulai kelam, kata malam pada baris tersebut

menimbulkan citraan penglihatan bagi pembaca, karena malam merupakan waktu

setelah matahari terbenam hingga matahari terbit yang dapat diihat oleh indera

penglihatan.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas pertentangan

(hiperbola), yaitu terdapat pada baris ke-7 dan ke-8, Sebelum siang membentang/

96
kami sudah tenggelam hilang, dapat diartikan sebelum pagi hari tiba, kami para

prajurit bisa saja gugur atau tertangkap oleh lawan.

Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan

kegelisahan tokoh, yaitu Mulai kelam/belum buntu malam,/kami masih saja

berjaga/Thermopylae?/jagal tidak dikenal?, kemudian rima yang terdapat dalam

puisi ini adalah /a/, /al/, /m/, dan /ng/.

Metrum yang digunakan dalam puisi ini adalah metrum anapest, yaitu

tekanan yang dimulai pada suku kata ketiga, dan pada awal suku kata tidak

bertekanan. Tipografi yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah tipografi

penulisan rata kiri.

34) Krawang-Bekasi

Puisi ini menggambarkan tentang perjuangan pahlawan negara republik

indonesia untuk merdeka. Diksi yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini

tegas, dapat dipahami oleh pembaca, dan ada beberapa yang menggunakan makna

konotatif dan denotatif, seperti berikut:

KERAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi


tidak bisa teriak ―Merdeka‖ dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,


terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi


Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.


Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa


Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa


Kerja belum selesai, belum selesai memperhitungkan arti
4 – 5 ribu nyawa
Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu

97
Kaulah lagi yang tentukan nilai-tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi


Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami


Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir

Kami sekarang mayat


Berilah kami arti
Berjagalah terus digaris batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami


yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan

citraan pendengaran. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-1 dan ke-7, yaitu

Kami yang terbaring antara krawang - Bekasi dan kami mati muda. Yang tinggal

tulang diliputi debu. Kata yang digunakan oleh penyair pada baris ke-1 dan 7

membuat pembaca seolah-olah ikut melihat apa yang dilihat oleh penyair.

Kemudian, citraan pendengaran dapat dilihat pada baris ke-2 dan ke-6, yaitu Tapi

siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami dan Jika dalam dada rasa hampa

dan jam dinding yang berdetak. Kata deru dalam baris ke-2 memiliki arti tiruan

bunyi dan kata berdetak memiliki arti berbunyi seperti berdetik. Kedua kata

tersebut menghasilkan sumber bunyi yang dapat didengar oleh indera

pendengaran.

Majas yang terdapat di dalam puisi ini adalah majas perbandingan

(metafora) dan majas penegasan (repetisi). Majas metafora dapat dilihat pada bait

ke-7 baris ke-1, bait ke-11 baris ke-1, dan bait ke-12 baris ke-2, yaitu Kami cuma

98
tulang-tulang berserakan/ Kami sekarang mayat/yang tinggal tulang-tulang

diliputi debu. Kata tulang-tulang yang berserakan, bukanlah maksud sebenarnya,

itu hanya kata yang diibaratkan seperti tulang-tulang berserakan dapat juga

diartikan sebagai bentuk pengorbanan para pejuang dalam membela negara dari

para penjajah. Kemudian baris kami sekarang mayat juga bukan maksud

sebenarnya, mayat disini dapat diartikan bahwa sudah mati tak dapat berbuat apa-

apa.

Majas penegasan (repetisi atau pengulangan) yaitu terdapat pada bait 3

dengan bait 9, yaitu terdapat pengulangan kata Kami bicara padamu dalam

hening di malam sepi/Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak oleh

penyair untuk menegaskan makna dari puisi yang ingin disampaikan oleh penyair.

Kata konkret yang penyair gunakan untuk menunjukkan pengorbanan para

pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan dapat dilihat pada baris Kami

yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi/tidak bisa teriak "Merdeka" dan

angkat senjata lagi.

Rima yang terdapat dapat dalam baris 1,2, dan 3 terdapat persamaan bunyi

/i/. Baris ke 5 terdapat persamaan bunyi /a/ dan /i/. Baris ke 6 terdapat persamaan

bunyi /a/ dan /m/. Baris ke 7 dan 8 terdapat persamaan bunyi /i/, /m/, dan /ng/.

Baris ke 9 dan 10 terdapat persamaan bunyi /a/, /k/, /s/, dan /m/. Baris ke 11 dan

12 terdapat persamaan bunyi /wa/ pada kata jiwa dan nyawa. Baris ke 13, 14, 15,

dan 16 terdapat persamaan bunyi /n/ dan /ng/. Baris ke 17, 18, 19 terdapat

persamaan bunyi /a/. Baris ke 20 dan 21 terdapat persamaan bunyi /m/, /i/, dan

/ng/. Baris ke 22 dan 23 terdapat persamaan bunyi /lah/. Baris ke 27, 28 dan 29

99
terdapat persamaan bunyi /a/, /m/, /n/, dan /s/. Baris ke 30, 31, dan 32 terdapat

persamaan bunyi /i/, /u/, dan /ng/.

Metrum yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah metrum jambe,

karena pada puisi 'Krawang-Bekasi' terdapat tanda ("...") dan (,). Tipografi yang

digunakan penyair dalam puisi ini terdiri dari 12 bait dengan jumlah 22 baris

puisi.

35) Persetujuan dengan Bung Karno

Puisi ini menggambarkan peristiwa yang terjadi pada tahun 1948,

pemberontakan PKI atau peristiwa madiun, yaitu konflik yang terjadi antara

pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Bung Karno dan Bung

Hatta dengan kelompok oposisi sayap kiri (FDR), pada puisi ini penyair juga

menggambarkan bagaimana kesetiaan si aku dalam mendukung pemerintahan

Republik Indonesia. Diksi yang digunakan penyair dalam puisi ini adalah jelas,

tegas, dan beberapa bermakna denotatif, seperti berikut:

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo! Bung Karno kasih tangan mari kita bikin janji


Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang
atas apimu, digarami oleh lautmu

Dari mulai tanggal, 17 Agustus 1945


Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat


Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak
& berlabuh

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan

pendengaran. Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-5, yaitu Ayo!Bung Karno

Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu. Kata melangkah dalam baris ke-5

dapat diartikan menggerakan kaki. Kemudian, citraan pendengaran dapat dilihat

100
pada baris ke-2, yaitu Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang /atas

apimu, digarami oleh lautmu. Kata dengar bicaramu yang digunakan oleh penyair

membuat pembaca seolah-olah dapat mendengar suara yang si aku dengar.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan, majas

perbandingan (metafora), dan (pertentangan) hiperbola. Majas penegasan dalam

puisi ini terdapat pada baris ke-2, yaitu Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,

dipanggang /atas apimu, digarami oleh. Majas pertentangan (hiperbola) dalam

puisi ini dapat dilihat pada baris ke-6 dan ke-8, yaitu Bung karno!Kau dan Aku

satu zat satu urat/ Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak, kata yang

digunakan oleh penyair berlebihan dalam menunjukkan makna sebenarnya.

Kemudian, majas perbandingan (metafora) dapat dilihat pada baris ke-5, yaitu Aku

sekarang api, aku sekarang laut, kata yang digunakan oleh penyair dalam baris

tersebut bukanlah arti sebenarnya.

Kata konkret yang digunakan penyair untuk menunjukkan si aku yang

setia mendukung pemimpin, yaitu Dari mulai tanggal, 17 Agustus 1945/Aku

melangkah kedepan berada rapat disisimu/Aku sekarang api aku sekarang laut.

Rima yang terdapat dalam bait 1 adalah bunyi /i/ da /u/. bait ke 2 terdapat

persamaan bunyi /a/, /e/, dan /ng/, kemudian bait ke 3 terdapat persamaan bunyi

/t/, /k/, dan /l/.

Metrum yang digunakan oleh penyair adalah metrum Jambe, yaitu adanya

tanda penekanan (!) pada awal suku kata dalam puisi, kemudian tanda (,).

Tipografi yang digunakan terdiri dari 3 bait puisi, dengan jumlah 10 baris puisi.

36) Sudah Dulu Lagi Terjadi Begini

101
Puisi ini menggambarkan tentang perjuangan seseorang yang selalu siap

siaga membela dan menjaga negara. Diksi yang digunakan oleh penyair jelas,

tegas, dan dapat menggambarkan suasana serta peristiwa yang sedang di alami

oleh si aku, seperti berikut:

SUDAH DULU LAGI TERJADI BEGINI)*

Sudah dulu lagi terjadi begini


Jari tidak bakal beranjak dari petikan bedil
Jangan Tanya mengapa jari cari tempat disini
Aku tidak tahu tanggal serta alasan lagi
Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang
penghabisan
Yang akan terima pusaka: kedamaian antara
runtuhan menara
Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi
Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan gerak dan citraan

pendengaran. Citraan gerak dapat dilihat pada baris ke-2, yaitu Jari tidak bakal

beranjak dari petikan bedil, kata jari tidak bakal beranjak digunakan oleh penyair

menggambarkan kepada pembaca bahwa jari akan tetap siap pada senjata bedil,

dan tidak akan bergerak. Kemudian, citraan pendengaran pada puisi ini terdapat

pada baris ke-3, dan ke-4, yaitu Jangan tanya mengapa jari cari tempat disini/Aku

tidak tahu tanggal serta alasan lagi, kata tanya mengapa biasanya diucapkan oleh

lisan dan menghasilkan suara yang dapat didengarkan oleh indera pendengaran.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan pada baris ke-7, yaitu

Yang akan terima pusaka:kedamaian antara runtuhan menara.

Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menunjukkan bagaimana

si aku siap siaga, yaitu pada kata Jari tidak bakal beranjak dari petikan bedil,

menggambarkan bahwa si aku selalu siap dengan senjatanya, kemudian rima yang

terdapat dalam puisi ini adalah bunyi /a/, /i/, /ri/, /n/, /h/, /k/, dan /l/.

102
Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum

jambe, yaitu ditemukannya penekanan berupa tanda (,) pada puisi, kemudian

tipografi yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini sama pada puisi pada

umumnya.

37) Ina Mia

Puisi ini menggambarkan tentang perempuan yang bernama Ina Mia yang

merasakan kesedihan karena kehilangan marwah dalam dirinya, kesucian telah

dirampas oleh tentara jepang pada masa penjajahan. Diksi yang digunakan oleh

penyair jelas, mengandung makna konotatif dan denotatif, seperti berikut:

Ina Mia
Terbaring di rangkuman pagi
-hari baru jadi-
Ina Mia mencari
hati impi,
terasa Ina Mia
kulit harapan belaka
Ina Mia
Menarik napas panjang
di tepi jurang
nafsu
yang sudah lepas terhembus,
antara daun-daunan mengelabu
kabut cinta lama, cinta hilang
terasa getar sejenak
Ina Mia menekan tapak hiaju rumput,
Angin ikut,
-dayang penghabisan yang mengipas
Berpaling
Kelihatan seorang serdadu mempercepat langkah
di tekongan.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan

citraan gerak. Citraan penglihatan terdapat dalam baris ke-1, 3, 9, 12, dan 15,

yaitu Terbaring di rangkuman pagi/Ina Mia mencari/di tepi jurang/antara daun-

daunan mengelabu/Ina Mia menekan tapak di hijau rumput, kata yang digunakan

oleh penyair menimbulkan imaji penglihatan sehingga pembaca dibuat seolah-

olah dapat melihat apa yang dilihat oleh penyair.

103
Citraan gerak dalam puisi ini terdapat pada baris ke-17, 18, dan 19, yaitu

dayang penghabisan yang mengipas/Berpaling/kelihatan seorang serdadu

mempercepat langkah di tekongan. kata mengipas pada baris ke-17 dapat

diartikan menggerak-gerakan kipas. Kata berpaling pada baris ke-18 dapat

diartikan menoleh yaitu gerakan melihat ke arah kiri atau kanan, kemudian kata

mempercepat langkah berarti bergerak menjalankan kaki lebih cepat dari

kecepatan semula. Kemudian, majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas

penegasan, yaitu pada baris ke-13 kabut cinta lama, cinta hilang. Kata cinta pada

baris ini terdapat dua, sebagai bentuk penegasan.

Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan

perasaan kesedihan Ina, yaitu pada baris Ina Mia mencari/hati impi,/terasa Ina

Mia/kulit harapan belaka/Ina Mia/Menarik napas panjang/di tepi

jurang/nafsu/yang sudah lepas terhembus,/antara daun-daunan mengelabu/kabut

cinta lama, cinta hilang. Pada baris puisi tersebut, tergambar bahwa begitu

tersiksa batin Ina Mia harus mengalami hal yang tidak diinginkannya.

Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah bunyi /a/, /i/, /r/, /n/, /t/, /k/, /s/,

/u/, dan /ng/, kemudian metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini

adalah metrum jambe, karena ditemukan penekanan pada baris puisi berupa tanda

(,) dan tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi penulisan rata kiri

dengan jumlah 20 baris puisi.

38) Prajurit Jaga Malam

Puisi ini menggambarkan tentang prajurit yang selalu siaga berjaga malam

demi keamanan negara Indonesia dari penjajahan. Diksi yang digunakan oleh

penyair adalah jelas, tegas dan dapat dipahami sebagai berikut:

104
PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?


Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam,
mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada disisiku selama menjaga daerah
mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang menemu
malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…..
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan

citraan penciuman. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-2 yaitu Pemuda-

pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam. Kata yang digunakan

oleh penyair membuat pembaca seolah-olah ikut melihat apa yang dilihat oleh

penyair. Kemudian, Citraan penciuman terdapat pada baris ke-10, yaitu Malam

yang berwangi mimpi, terlucut debu…., kata wangi memiliki arti berbau atau

harum yang hanya dapat dirasakan dengan indera penciuman (hidung).

Majas dalam puisi terdiri dari majas perbandingan (metafora), majas

pertentangan (hiperbola), dan majas penegasan (repetisi). Majas perbandingan

(metafora) terdapat pada baris ke-3, yaitu bermata tajam. Majas pertentangan

(hiperbola) dalam puisi ini terdapat pada baris ke-10, yaitu Malam yang berwangi

mimpi, terlucut debu. Kemudian, majas penegasan (repetisi atau pengulangan

kata) dapat dilihat pada baris ke-7 dan ke-8 yaitu Aku suka pada mereka yang

berani hidup/Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam. Kata aku suka

pada mereka diulang sebanyak dua kali sebagai tanda penegasan.

Kata konkret yang digunakan oleh penyair untuk menunjukkan sikap

prajurit yang selalu siap menjaga dan membela negara, yaitu Mimpinya

kemerdekaan bintang-bintangnya/kepastian ada disisiku selama menjaga daerah

105
mati ini, kemudian rima yang terdapat dalam puisi ini adalah bunyi /a/, /u/, /i/, /h/,

dan /m/.

Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah metrum

jambe, karena dalam puisi ini ditemukan tanda (,) pada 2 suku kata pertama dan

tanda (!). tipografi yang digunakan oleh penyair adalah rata kiri dengan ada

beberapa baris puisi yang agak menjorok ke dalam.

39) Buat Gadis Rasid

Puisi ini menggambarkan tentang kita (dua orang) yang berbeda, namun

ingin dan berharap dapat bersama. Diksi yang digunakan oleh penyair memiliki

makna yang dalam, seperti berikut:

Buat Gadis Rasid


Antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa berlari-larian
burung-burung merdu
hujan segar dan menyebar
bangsaa muda menjadi, baru bisa bilang ―aku‖
Dan
angin tajam kering, tanah semata gersang
pasir bangkit mentanduskanm daerah kosongi
Kita terapit, cintaku
- mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder
mendarat
- the only possible non-stop flight
Tidak mendapat.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah penglihatan, citraan gerak,

dan citraan pendengaran. Citraan penglihatan dalam puisi ini dapat dilihat pada

baris Antara/daun-daun hijau/padang lapang dan terang/ angin tajam kering,

tanah semata gersang/pasir bangkit mentanduskanm daerah kosongi/Kita terapit,

cintaku. Pada baris tersebut penyair membuat seolah-olah pembaca dapat melihat

apa yang dilihat oleh penyair.

106
Citraan gerak terdapat pada baris anak-anak kecil tidak bersalah, baru

bisa berlari-larian/ Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati/Terbang.

Kata lari yang digunakan oleh penyair berarti melangkahkan kaki dengan cepat.

Kata mencari berarti berusaha mendapatkan atau memperoleh, dan kata terbang

berarti bergerak melayang di udara. Kemudian, citraan pendengaran dalam puisi

ini terdapat pada baris bangsaa muda menjadi, baru bisa bilang ―aku‖/burung-

burung merdu, kata bilang “aku” dan merdu yang digunakan oleh penyair

menimbulkan imaji pendengaran, karena kata tersebut menghasilkan bunyi atau

suara yang dapat didengar oleh indera pendengara.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan (pleonasme)

dan majas perbandingan (hiperbola). Majas penegasan (pleonasme) dalam puisi

ini terdapat pada baris anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa berlari-larian,

pada baris ini penyair sudah menjelaskan dengan jelas maksud dari puisi tersebut.

Kemudian, majas pertentangan (hiperbola) terdapat pada baris angin tajam

kering, tanah semata gersang/pasir bangkit mentanduskanm daerah kosongi. Kata

tajam pada umumnya digunakan untuk pisau, namun penyair dalam puisi ini

menggunakannya untuk angin. Rima yang terdapat dalam puisi ini adalah

persamaan bunyi /i/, /u/, /it/, /r/, /t/, dan /ng/, kemudian tipografi yang digunakan

oleh penyair dalam puisi ini tidak beraturan.

40) Puncak

Puisi ini menggambarkan tentang sebuah kenangan si aku pada minggu

pagi, di puncak, tempat yang hijau masih asri. Diksi yang digunakan oleh penyair

jelas dan bermakna dalam, seperti berikut:

Puncak

Pondering, pondering on you, dear…….

107
Minggu pagi disini. Kederasan ramai kota yang terbawa
tambah penjoal dalam diri—diputar atau memutar
terasa tertekan; kita berbaring bulat telanjang
Sehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata
sekarang.
Berada 2000 m, jauh dari muka laut, silang siur
pelabuhan,
jadi terserah pada perbandingan dengan
cemara bersih hijau, kali yang bersih hijau

Maka cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmu


mendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu
dibalik rupa.
Kau terlompak dari ranjang, lari ke tingkap yang
masih mengandung kabut, dank au lihat disana, bahwa
antara
cemara bersih hijau dan kali gunung bersih hijau
mengembang juga tanya dulu, tanya lama, tanya.

Citraan yang terdapat dalam puisi „Puncak‟ adalah citraan penglihatan dan

citraan gerak. Citraan penglihatan terdapat pada bait pertama, yaitu Minggu padi

disini/tambah penjoal dalam diri—diputar atau memutar/terasa tertekan;kita

berbaring bulat telanjang/Sehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis

kata/sekarang. Kata yang digunakan oleh penyair pada baris-baris tersebut

membuat pembaca seolah-olah dapat melihat apa yang penyair lihat. Kemudian,

citraan gerak dapat dilihat pada bait ke-4, yaitu Maka cintaku sayang, kucoba

menjabat tanganmu/mendekap wajahmu yang asing, meraih bibirmu/dibalik rupa.

Kata menjabat dan mendekap merupakan salah satu bentuk kata kerja yang

berasal dari kata “jabat” yang artinya pegang, kemudian kata „dekap‟ yang artinya

peluk atau lekap.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan (Pleonasme,

paralelisme, dan repetisi). Majas pleonasme terdapat pada bait ke-4, yaitu Maka

cintaku sayang, kucoba menjabat tanganmu/mendekap wajahmu yang asing,

meraih bibirmu/dibalik rupa, pada bait ini terdapat penegasan yang jelas bahwa si

aku berusaha mendekati gadis rasid. Majas paralelisme, yaitu pengulangan sebuah

108
konsep seperti yang terdapat pada baris Kau melompat dari ranjang, lari ke

tingkap yang/ masih mengandung kabut, dan kau lihat di sana, bahwa/ antara/

cemara bersih hijau dan kali gunung bersih hijau. Majas repetisi (pengulangan

kata) terdapat pada baris terakhir puisi, yaitu mengembang juga tanya dulu, tanya

lama, tanya, kata tanya dalam baris ini diulang sebanyak tiga kali.

Rima yang terdapat dalam baris 1 adalah bunyi vokal /a/ dan /i/. Baris ke 2

terdapat persamaan bunyi konsonan /m/ dan /ar/. Baris ke 3 terdapat persamaan

bunyi /r/ dan /ng/. Baris ke 4 terdapat persamaan bunyi /s/. Baris ke 5 terdapat

persamaan bunyi vokal /a/ dan /u/. Baris ke 6 terdapat persamaan bunyi konsonan

/p/ dan /n/. Baris ke 7 terdapat persamaan bunyi /h/, /r/, dan /au/. Baris ke 8 dan 9

terdapat persamaan bunyi /a/, /i/, /u/, dan /m/. Baris 10 dan 11 terdapat persamaan

bunyi /ri/ dan /t/. Baris ke 12 dan 13 terdapat persamaan bunyi /h/, /u/, dan /ng/.

Kata konkret yang digunakan penyair untuk menggambarkan suasana

puncak yang bersih dan hijau, yaitu dengan kata cemara bersih hijau dan kali

gunung bersih hijau. Metrum yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah

metrum jambe, karena ditemukannya penekanan pada baris puisi, berupa tanda (,).

Tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tidak beraturan.

41) Yang Terampas dan Yang Putus

Puisi ini menggambarkan tentang kegelisahan dan ketakutan si aku dengan

kehidupan yang akan dijalani selanjutnya (kematian). Diksi yang digunakan oleh

penyair jelas, bermakna konotatif dan denotatif, seperti berikut:

Yang Terampas dan Yang Putus

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,


menggigir juga ruang dimana dia yang kuingin,
malam tambah merusak, rimba jadi semati tugu.

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru

109
angin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau
datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi hanya tangan yang bergerak lantang.
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa
Berlalu beku.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan dan

citraan pendengaran. Citraan penglihatan terdapat pada baris ke-1, yaitu Kelam

dan angin lalu mempesiang diriku/menggigir juga ruang dimana dia yang

kuingin. Kata yang digunakan oleh penyair seolah-olah membuat pembaca dapat

melihat apa yang dilihat oleh penyair. Kemudian, citraan gerak dalam puisi ini

dapat dilihat pada baris tapi hanya tangan yang bergerak lantang, kata bergerak

yang digunakan oleh penyair pada baris tersebut meggambarkan gerakan.

Majas yang terdapat dalam puisi ini adalah majas penegasan dan majas

perbandingan. Majas perbandingan (personifikasi) dalam puisi ini dapat dilihat

pada baris Kelam dan angin lalu mempesiang diriku, bermakna tokoh si aku

sedang merasakan hampa. Kemudian, malam tambah merusak, rimba jadi semati

tugu, bermakna bahwa si aku merasa bahwa hidupnya yang dahulu dipenuhi

dengan orang-orang, sekarang sepi, hampa, tak bernyawa. Majas penegasan dalam

puisi ini dapat dilihat pada baris di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga

deru/ angin, bermakna bahwa rumah terakhir atau tempat terakhir yang diinginkan

si aku adalah di karet.

Kata konkret yang digunakan penyair untuk menggambarkan kegelisahan

akan kehidupan selanjutnya (kematian) adalah Kelam dan angin lalu mempesiang

diriku,/menggigir juga ruang dimana dia yang kuingin,/malam tambah merusak,

rimba jadi semati tugu, baris puisi ini menggambarkan bahwa si aku merasakan

kehampaan yang sangat jelas, hidup yang dulunya ramai kini hampa, sepi, dan

110
senyap, seperti di kubur semua akan merasa sendiri, sepi, dan hampa. Kata

konkret yang digunakan oleh penyair untuk menunjukkan kesiapan untuk

kehidupan selanjutnya (kematian) adalah aku berbenah dalam kamar, dalam

diriku jika kau/datang, baris ini bermakna bahwa si aku sudah siap untuk

memperbaiki diri (bertaubat), jika sewaktu-waktu ajal datang menjemput.

Rima yang terdapat dalam baris 1 dan 3 adalah persamaan bunyi /m/ dan

/u/. Baris ke 2 terdapat persamaan bunyi /i/ dan /r/. Baris ke 4 terdapat persamaan

bunyi /et/ dan /u/. Baris ke 5 terdapat persamaan bunyi /a/ dan /u/. Baris ke 6

terdapat persamaan bunyi /a/, /i/, dan /u/. Baris ke 7 terdapat persamaan bunyi /a/

dan /ng/. Baris ke 8 terdapat persamaan /i/ dan /u/.

Metrum yang digunakan oleh penyair adalah metrum jambe karena dalam

puisi ini ditemukan penekanan pada baris atau bait puisi, yaitu berupa tanda (,),

kemudian tipografi yang digunakan oleh penyair adalah tipografi tidak beraturan,

baris puisinya ditulis rata kiri dengan beberapa baris menjorok jauh ke dalam.

42) Derai-derai Cemara

Puisi ini menggambarkan tentang kehidupan yang sementara, hidup seperti

menunda kekalahan semua masalah akan berakhir pada masanya. Diksi yang

digunakan oleh penyair adalah kata atau bahasa yang bermakna konotatif dan

denotatif, seperti berikut:

Derai-derai Cemara

cemara menderai sampai jauh,


terasa hari akan jadi malam,
ada beberapa dahan ditingkap merapuh,
dipukul angin yang terpendam.

aku sekarang orangnya bisa tahan,


sudah berapa waktu bukan kanak lagi,
tapi dulu memang ada suatu bahan,
yang bukan dasar perhitungan kini

111
hidup hanya menunda kekalahan,
tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,
sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Citraan yang terdapat dalam puisi ini adalah citraan penglihatan, yaitu

pada baris terasa hari akan jadi malam, /ada beberapa dahan ditingkap merapuh.

Kata malam dan beberapa dahan ditingkap merapuh seakan-akan dapat dilihat

juga oleh pembaca.

Majas yang terdapat di dalam puisi ini adalah majas perbandingan

(personifikasi) Majas perbandingan dalam puisi ini dapat dilihat dalam baris

dipukul angin yang terpendam, pada baris ini penyair membuat seolah-olah angin

dapat dapat memukul seperti makhluk hidup pada umumnya yaitu manusia.

Kata konkret yang digunakan untuk menggambarkan tentang kehidupan

yang sementara, yaitu hidup hanya menunda kekalahan,/tambah terasing dari

cinta sekolah rendah. Pada baris hidup hanya menunda kekalahan, tergambar

bahwa hidup di dunia pada dasarnya hanya sementara, semua akan kembali

kepada Tuhan. Rima yang terdapat dalam bait 1, 2, dan 3 adalah berpola a-b-a-b,

kemudian tipografi yang digunakan oleh penyair dalam puisi ini adalah penulisan

rata kiri terdiri dari 3 bait dan 12 baris puisi.

4.1.2 Srtuktur batin yang terdapat di dalam Kumpulan Puisi Kerikil Tajam

dan Yang Terampas dan Yang Putus Karya Chairil Anwar.

1) Nisan

Tema puisi Nisan bertemakan kesedihan, karena puisi tersebut

menjelaskan tentang kesedihan yang mendalam akibat ditinggal pergi (meninggal)

oleh orang yang disayangi. Nada dalam puisi ini adalah ajakan kepada pembaca

untuk mengingat tentang kematian yang bisa datang kapan saja, dan menjemput

112
siapa saja. Perasaan dalam puisi ini menunjukkan rasa sedih. Hal ini ditunjukkan

dengan bukan kematian benar menusuk kalbu. Amanat yang terkandung dalam

puisi ini adalah untuk mengajak pembaca mempersiapkan diri dengan sebaik

mungkin, sebab kematian tidak ada yang tahu datangnya kapan.

2) Penghidupan

Tema puisi ini adalah tentang masalah kehidupan. Nada dalam puisi ini

adalah bernada pemberitahuan tentang kerasnya kehidupan. Perasaan puisi

menunjukkan rasa lelah dan putus asa, hal ini ditunjukkan dengan kata sia-sia

dilindungi, sia-sia dipupuk. Amanat puisi ini adalah dalam hidup memang dituntut

untuk bekerja keras. Namun, jangan berlebihan serta selalu bersyukur dengan

hasil yang didapatkan. Jika tidak sesuai dengan apa yang inginkan, bukan berarti

usaha yang dilakukan sia-sia, karena semua tidak ada yang sia-sia.

3) Diponegoro

Tema puisi ini adalah tentang perjuangan pahlawan dalam melawan

penjajah. Nada dalam puisi ini adalah bernada ajakan untuk mengingat upaya

yang dilakukan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan, seperti yang

dilakukan oleh pangeran diponegoro. Perasaan puisi ini adalah menunjukkan

suasana penuh semangat perjuang membela negara. Hal ini ditunjukkan dengan

kata Berselempang semangat yang tak bisa mati/MAJU. Amanat dalam puisi ini

agar pembaca selalu dapat mengingat kegigihan para pahlawan dalam

memperjuangkan kemerdekaan.

4) Tak Sepadan

Puisi ini bertema tentang permasalahan cinta, sedih, serta patah hati. Nada

puisi ini adalah memberitahu kepada pembaca untuk tidak sedih dan patah hati

113
yang berlarut-larut. Perasaan dalam puisi ini adalah sedih dan kecewa. Hal ini

ditunjukkan dengan kata Kau kawin, beranak dan berbahagia/Sedang aku

mengembara serupa Ahasveros. Amanat dalam puisi ini adalah jangan terlalu

sedih dan kecewa jika tidak ditakdirkan hidup bersama, carilah kebahagiaan yang

lainnya.

5) Sia-sia

Tema puisi Sia-sia menjelaskan tentang kekecewaan dengan terlalu

berharap kepada seseorang. Nada puisi ini adalah seruan kepada pembaca untuk

tidak terlalu berharap kepada makhluk hidup karena akan memberikan

kekecewaan. Perasaan yang terdapat dalam puisi ini adalah rasa kecewa dan sedih.

Hal ini ditunjukkan dengan kata Ah! Hatiku yang tak mau memberi/Mampus kau

dikoyak-koyak sepi. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak pembaca untuk tidak

terlalu berharap dengan orang lain.

6) Pelarian

Puisi pelarian bertema tentang permasalahan sosial, yaitu masalah hidup

yang sering kali dihadapi oleh masyarakat seperti kecewa, marah, dan sedih. Nada

dalam puisi ini adalah bernada emosi dan kesedihan. Perasaan ini menunjukkan

rasa emosi, marah. Hal ini ditunjukkan dengan kata Dihempaskannya pintu keras

tak berhingga. Amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah jika ada

permasalahan harus dihadapi dengan bijak, tenang dan tidak emosi, karena hidup

tidak akan pernah lepas dari masalah, setiap masalah manusia pasti memiliki

masalah, tinggal bagaimana orang tersebut cara menghadapinya.

7) Sendiri

114
Puisi sendiri bertema tentang kesepian dan kerinduan seorang anak kepada

ibunya. Nada dalam puisi ini adalah bernada sedih dan tak menerima kepergian

ibunya. Perasaaan puisi ini menunjukkan kesedihan seorang anak yang

ditinggalkan oleh ibunya. Hal ini ditunjukkan dengan kata Ia membenci. Dirinya

dari segala/Yang minta perempuan untuk kawannya/Ah! Lemah lesu ia tersedu:

Ibu! Ibu! Amanat dalam puisi ini adalah sayangilah orangtua selagi masih ada.

Jika sudah ada, kita tidak bisa lagi memintanya kembali.

8) Suara Malam

Puisi suara malam bertema religi yaitu tentang hubungan antara manusia

dengan tuhan. Nada dalam puisi ini adalah bernada ajakan untuk ingat dan

menjaga hubungan dengan Tuhan. Perasaan puisi ini menunjukkan suasana

malam yang penuh dengan konflik batin yang dialami oleh si aku. Hal ini

ditunjukkan dengan kata Jadi kemana/Untuk damai dan reda?/Mati. Amanat

dalam puisi ini mengajak pembaca untuk selalu menjaga hubungan dengan Tuhan,

dan bertaubat.

9) Semangat

Puisi ini bertema tentang semangat perjuangan para pahlawan. Nada dalam

puisi ini adalah ajakan untuk tetap semangat, dan ingat dengan jasa perjuangan

pahlawan. Perasaan dalam puisi ini menunjukkan rasa semangat menggebu-gebu.

Amanat dalam puisi ini adalah mengajak para pembaca untuk tetap semangat

hidup, dan ingat dengan perjuangan pahlawan dalam kemerdekaan indonesia.

10) Hukum

Tema puisi Hukum menjelaskan tentang bagaimana kehidupan yang

dialami dan dirasakan oleh orang pada zaman penjajahan dahulu. Nada dalam

115
puisi ini adalah kesengsaraan yang dirasakan oleh orang zaman dahulu. Perasaan

puisi ini menunjukkan suasana yang kejam penuh kesengsaraan. Amanat dalam

puisi ini adalah hukum dan kekuasaan yang dimiliki seseorang belum tentu

menjamin orang tersebut dapat memanusiakan manusia.

11) Taman

Tema dalam puisi Taman adalah menunjukkan tentang percintaan. Nada

dalam puisi ini mengajak pembaca untuk dapat menikmati hidup dengan cara

sederhana. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa senang dan bahagia. Amanat

dalam puisi ini mengajak pembaca untuk peduli dan bersyukur dengan orang yang

ada disekitarnya, meskipun dengan cara sederhana, tetap bisa bahagia.

12) Lagu biasa

Tema puisi lagu biasa adalah tentang percintaan. Nada dalam puisi ini

bernada memberitahu kepada pembaca untuk menjaga diri, marwah, dan batasan

antara laki-laki dengan perempuan. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa cinta dan

bahagia. Amanat dalam puisi ini adalah untuk tetap menjaga diri, marwah dalam

pergaulan.

13) Kupu Malam Dan Biniku

Tema puisi kupu malam dan biniku adalah permasalahan sosial (kehidupan

suami-isteri). Nada dalam puisi ini bernada kecurigaan dan keraguan. Perasaan

puisi ini menunjukkan rasa curiga dan keraguan dengan pasangan. Amanat dalam

puisi ini adalah pentingnya untuk setia dan saling percaya dalam suatu hubungan.

14) Penerimaan

Tema puisi penerimaan adalah percintaan. Nada dalam puisi ini adalah

ajakan untuk dapat memaafkan orang lain. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa

116
penuh harap. Amanat dalam puisi ini adalah dapat menerima dan memaafkan

seseorang dengan ikhlas.

15) Kesabaran

Tema puisi kesabaran adalah masalah kehidupan sosial. Nada dalam puisi

ini adalah ajakan kepada pembaca untuk sabar dalam menghadapi kehidupan.

Perasaan puisi ini menunjukkan rasa sabar. Amanat dalam puisi ini adalah setiap

masalah yang datang, cobalah untuk bersabar dalam menghadapinya.

16) Ajakan

Tema puisi Ajakan menjelaskan tentang seorang Ida yang diajak oleh

seseorang untuk tidak takut melakukan sesuatu, meskipun ada rintangan pasti bisa

dilalui. Nada dalam puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk berani dan

tidak takut dalam melakukan sesuatu. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa

keberanian. Amanat dalam puisi ini adalah jangan takut melakukan sesuatu, selagi

itu baik.

17) Kenangan

Tema puisi ini adalah tentang cinta dan kenangan. Nada dalam puisi ini

adalah menjelaskan rasa lega senang karena berhasil melupakan si karinah.

Perasaan puisi ini menunjukkan rasa lega dan juga penyesalan. Amanat dalam

puisi ini adalah jangan mudah melupakan kebaikan orang lain.

18) Hampa

Tema puisi ini kesepian dan kesetiaan. Nada dalam puisi ini adalah

menjelaskan kepada pembaca tentang perasaan kesepian yang dirasakan oleh

penyair kepada sri. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa kesepian dan penantian

penyair kepada sri. Amanat dalam puisi ini adalah agar pembaca dapat

117
menghargai seseorang yang baik, sabar dan setia, karena jarang ada seseorang

yang mau mengorbankan perasaan dan waktunya.

19) Perhitungan

Tema puisi ini adalah kegelisahan dan masalah kehidupan. Nada dalam

puisi ini adalah ajakan kepada pembaca agar memiliki pedoman hidup supaya

tidak kehilangan arah. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa gelisah dan bingung

tak tentu arah. Amanat dalam puisi ini adalah setiap orang pasti memiliki masalah,

agar hidup dapat terkendali dan tidak kehilangan arah karena masalah, carilah

pedoman yang bisa dijadikan pegangan hidup agar memiliki arah tujuan.

20) Rumahku

Tema puisi Rumahku adalah kegelisahan seseorang yang berusaha

mencari hal baru. Nada dalam puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk dapat

memiliki rumah (keluarga) yang terbaik. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa

gelisah dan gundah. Hal ini ditunjukkan dengan kata kulari dari gedung lebar

halaman/aku tersesat tak dapat jalan. Amanat dalam puisi ini adalah jangan

terlalu gelisah dengan dunia yang ada diluar, karena tempat terbaik adalah rumah

(Keluarga).

21) Kawanku dan Aku

Tema puisi ini adalah kehidupan sosial. Nada dalam puisi ini adalah

ajakan kepada pembaca untuk terus semangat dan berjuang dalam menghadapi

kerasnya kehidupan. Perasaaan puisi ini menunjukkan rasa perjuangan dan kerja

keras si aku dan temannya. Amanat dalam puisi ini adalah untuk bertahan hidup

kita harus dapat berusaha lebih keras.

118
22) Ke Mesjid

Tema puisi ini adalah hubungan manusia dengan Tuhan (keagamaan).

Nada dalam puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk melaksanakan perintah

Tuhan, setiap mendengar seruan panggilan (adzan) segeralah datang. Perasaan

puisi ini menunjukkan rasa tak berdaya dari seorang hamba kepada Tuhan atas

segala kesalahan dan juga dosa serta rasa konflik batin yang terjadi ketika seorang

hamba menghadap kepada Tuhan. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak

pembaca untuk lebih dekat dengan Tuhan.

23) Aku

Tema puisi ini adalah keagamaan, hubungan manusia dengan Tuhan. Nada

dalam puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk tidak menjauhi kebaikkan

dan menyimpang dari apa yang diajarkan. Perasaan puisi ini menunjukkan tentang

dilema dan bingung karena salah arah. Amanat dalam puisi ini adalah untuk tidak

menyimpang dan menjauhi kebaikan, serta lebih mendekatkan diri kepada Tuhan

agar hidup tetap berpedoman.

24) Cerita

Tema puisi ini adalah tentang kisah pertemanan antara penyair dengan

Darmawidjaja. Nada dalam cerita ini menjelaskan tentang kisah pertemanan

antara dua orang yang sering bepergian bersama. Perasaan dalam puisi ini

menunjukkan rasa senang mengenang kisah dengan teman. Amanat dalam puisi

ini adalah jaga hubungan pertemanan yang dimiliki.

25) Bercerai

Tema puisi bercerai adalah perpisahan. Nada dalam puisi ini adalah tegas

yang ditujukan kepada pembaca untuk dapat bijak dalam mengambil keputusan.

119
Perasaan puisi ini menunjukkan rasa pasrah dan ikhlas jika memang diharuskan

berpisah. Amanat dalam puisi ini adalah memberitahu pembaca bahwa lebih baik

akhiri suatu hubungan jika itu membuat salah satu atau keduanya tersakiti, jangan

takut untuk melepaskan hal yang tidak baik.

26) Selamat Tinggal

Tema puisi ini adalah permasalahan kehidupan sosial. Nada dalam puisi

ini adalah bernada memberitahu kepada pembaca tentang kesedihan dan

kegelisahan akan dosa-dosa yang diperbuat. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa

gelisah si aku pada malam hari saat menghadap Tuhan dengan dosa dan

kesalahannya yang telah diperbuat. Amanat dalam puisi ini adalah memberitahu

pembaca agar tidak takut untuk meninggalkan hal buruk dan berbuat baik serta

bertaubat, karena setiap manusia pasti pernah berbuat dosa.

27) Dendam

Tema puisi ini adalah permasalahan sosial. Nada dalam puisi ini adalah

bernada mengajak para pembaca untuk tidak dendam kepada orang lain. Perasaan

puisi ini menunjukkan rasa tidak tenang dan selalu gelisah. Amanat dalam puisi

ini adalah mengajak pembaca untuk tidak benci dan dendam dengan siapapun,

karena hanya akan merugikan diri sendiri.

28) Merdeka

Tema puisi ini menjelaskan tentang tokoh si aku yang berusaha terbebas

dari bayangan Ida agar dapat hidup dengan tenang. Nada dalam puisi ini ajakan

untuk percaya dan berani terbebas dari hal yang dapat membuat tidak nyaman.

Perasaan puisi ini menunjukkan rasa ingin bebas, merdeka dari bayang-bayang si

120
Ida. Amanat dalam puisi ini adalah ajakan untuk berani menggapai kebebasan dari

hal yang membuat diri tidak nyaman.

29) Kita Guyah Lemah

Tema puisi ini adalah kehidupan (kesedihan dan kegelisahan). Nada dalam

puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk bangkit dan menjadi manusia yang

tangguh tidak mudah menyerah. Perasaaan puisi ini menunjukkan rasa lemah

seseorang yang tidak dapat melawan dan berjuang. Amanat dalam puisi ini adalah

mengajak pembaca untuk berani bangkit, berjuang menjadi manusia kuat dan

tangguh.

30) Jangan Kita Disini Berhenti

Tema puisi ini adalah masalah kehidupan. Nada dalam puisi ini adalah

ajakan kepada pembaca untuk tidak berhenti dan berdiam diri dengan masalah

(dosa-dosa) yang dimiliki. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa berusaha

menjauhi kesalahan, hal ini ditunjukkan dengan kata kata jangan kita berhenti

disini/Tuaknya tua, sedikit pula/Sedang kita mau berkendi-kendi/Terus, terus

dulu…..!!. Amanat yang terkandung dalam puisi ini adalah mengajak pembaca

untuk tidak berhenti dan berdiam diri dengan masalah (dosa-dosa) yang dimiliki,

serta menjauhi hal-hal yang tidak baik.

31) Mulutmu Mencubit di Mulutku

Tema puisi ini adalah masalah kehidupan (kebencian). Nada puisi ini

adalah memberitahu kepada pembaca untuk dapat menjaga lisan, karena perkataan

yang keluar dari lisan dapat menyakiti perasaan orang lain. Perasaan puisi ini

menunjukkan rasa benci dan tidak suka. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak

121
pembaca untuk lebih memperhatikan perkataan yang diucapkan kepada orang

lain.

32) Kepada Peminta-Minta

Tema puisi ini adalah Hubungan manusia dengan Tuhan. Nada puisi ini

bernada ajakan kepada pembaca untuk lebih dekat kepada Tuhan, berdoa dan

meminta ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Perasaan puisi ini

menunjukkan rasa gelisah. Amanat dalam puisi ini adalah jangan takut untuk

meminta ampunan kepada Tuhan atas dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan.

33) Fragmen

Tema puisi ini adalah menjelaskan tentang cerita kenangan yang masih

tersimpan dalam ingatan. Nada puisi adalah ajakan kepada pembaca untuk

mengenang fragmen-fragmen dalam hidup. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa

senang dan duka dengan kenangan yang dimiliki. Amanat yang terkandung dalam

puisi ini adalah setiap manusia memiliki kenangan dan pengalaman dalam

hidupnya masing-masing, mulai dari senang, sedih, kecewa, marah, gelisah, dan

buruk yang selalu menjadi guru terbaik dalam hidup.

34) Malam

Tema puisi ini adalah perjuangan. Nada dalam puisi ini adalah informasi

kepada pembaca tentang suasana malam pada masa penjajahan. Perasaan puisi ini

menunjukkan rasa kesetiaan dan tanggungjawab dari prajurit, yaitu ditunjukkan

dengan kata kami masih saja berjaga. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak

para pembaca agar mengingat perjuangan para prajurit dalam melindungi negara.

35) Krawang-Bekasi

122
Tema puisi ini adalah perjuangan. Nada dalam puisi ini bernada

pemberitahuan kepada pembaca bagaimana semangat dan keberanian para

pejuang dalam mempertahankan indonesia. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa

nasionalisme, yaitu pengorbanan pahlawan untuk kemerdekaan indonesia. Hal ini

dapat dilihat pada kata ataukah jiwa kami melayang untuk

kemerdekaan/kemenangan dan harapan. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak

pembaca untuk mengingat dan menghargai jasa para pahlawan demi kemerdekaan

indonesia.

36) Persetujuan dengan Bung Karno

Tema puisi ini adalah masalah kehidupan (kesetiaan). Nada dalam puisi ini

adalah ajakan kepada pembaca untuk percaya dan mendukung pemerintah

(Pemimpin) yang sudah dipilih atau terpilih. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa

percaya, yaitu ditunjukkan dengan kata Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu

urat. Amanat dalam puisi ini adalah agar pembaca percaya dan mendukung

pemimpin dengan baik, karena pemimpin, masyarakat, rakyat, dan staf

pemerintahan harus bersatu serta memiliki satu tujuan yang sama agar dapat

membuat negara maju.

37) Sudah Dulu Lagi Terjadi Begini

Tema puisi ini adalah Perjuangan. Nada dalam puisi ini adalah ajakan

kepada pembaca untuk berani membela dan menjaga negara Indonesia, agar

penjajahan tidak terulang lagi. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa nasionalisme

para prajurit dalam menjaga keamanan Indonesia. Amanat dalam puisi ini adalah

mengajak kepada pembaca untuk menjaga NKRI, karena setiap warga negara

memiliki kewajiban untuk menjaga negara NKRI.

123
38) Ina Mia

Tema puisi ini adalah kehidupan (kesedihan dan kekecewaan). Nada

dalam puisi ini pemberitahuan kepada pembaca tentang kesengsaraan para

perempuan pada zaman dahulu. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa sedih dan

kecewa. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak pembaca menjaga diri dan

bersyukur hidup di zaman yang sudah bebas dari penjajahan.

39) Prajurit Jaga Malam

Tema puisi ini adalah perjuangan. Nada dalam puisi ini adalah ajakan

kepada pembaca untuk berani membela kemerdekaan. Perasaan puisi ini

menunjukkan rasa nasionalisme para prajurit. Amanat dalam puisi ini adalah

mengajak pembaca untuk ingat dan mengenang perjuangan para prajurit dan

pahlawan.

40) Buat Gadis Rasid

Tema puisi ini adalah percintaan. Nada dalam puisi ini adalah

memberitahu kepada pembaca bahwa tidak apa-apa berbeda, jangan takut untuk

melepaskan perbedaan yang ada. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa keinginan

untuk dapat bersama, meskipun berbeda. Amanat dalam puisi ini adalah

memberitahu kepada pembaca untuk berani melepaskan perbedaan dan menikmati

kehidupan.

41) Puncak

Tema puisi puncak adalah kehidupan. Nada dalam puisi ini adalah bernada

ajakan kepada pembaca untuk menatap masa depan yang bersih yang sedang

menunggu. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa bebas dalam memilih atau

menentukan jalan hidup. Hal ini ditunjukkan dengan kata diputar atau memutar.

124
Amanat dalam puisi ini adalah mengajak pembaca mulai berencana, dan berpikir

tentang pilihan yang ingin diambil dalam kehidupan.

42) Yang Terampas dan Yang Putus

Tema puisi ini adalah tentang keputusasaan dan kematian. Nada dalam

puisi ini adalah ajakan kepada pembaca untuk selalu siap dan membenahi diri,

karen kematian bisa datang kapan saja. Perasaan puisi ini menunjukkan rasa putus

asa dan rasa hampa. Amanat dalam puisi ini adalah mengajak pembaca untuk

selalu membenahi diri dan berbuat baik sebelum datangnya ajal (kematian).

43) Derai-Derai Cemara

Tema puisi ini adalah kehidupan dan masalah sosial. Nada dalam puisi ini

adalah ajakan kepada pembaca untuk semangat dalam menjalani kehidupan dan

menghadapi masalah. Amanat dalam puisi ini adalah memberitahukan kepada

pembaca bahwa hidup hanya sementara, setiap permasalahan yang datang pasti

akan selesai dan terlewati.

4.2 PEMBAHASAN

4.2.1 Struktur Fisik Puisi dalam Kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang

Terampas dan Yang Putus” Karya Chairil Anwar

1) Diksi

Diksi yang digunakan penyair dalam kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan

Yang Terampas dan Yang Putus‖ pada umumnya jelas, lugas, dapat dipahami

oleh pembaca dan terkadang menggunakan bahasa yang bermakna konotatif serta

denotatif, seperti pada puisi yang berjudul Nisan berikut ini:

Bukan kematian benar menusuk kalbu


Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertahta.

125
Puisi ini merupakan bentuk dari kesadaran penyair akan kematian, serta

duka, kesedihan yang dirasakan setelah kematian. Diksi yang digunakan oleh

penyair dalam puisi Nisan adalah denotatif, seperti pada larik Bukan kematian

benar menusuk kalbu yang memiliki makna ketika datang musibah kematian bagi

seseorang menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi orang yang ditinggalkan,

digambarkan oleh penyair dengan kata ‗menusuk kalbu‘, yang dapat diartikan

menyakitkan batin (hati).

2) Citraan (Imaji)

Citraan adalah gambaran penyair yang melibatkan panca indra seperti

penglihatan, penciuman, perabaan, pencecapan, gerak, serta pendengaran yang

menjadi alat kepuitisan penyair dalam menuliskan puisi. Menurut Yusra, dkk

(2021:104) ada enam jenis citraan Ada enam jenis citraan, yaitu citraan

penglihatan (visual imagery), citraan pendengaran (auditory imagery), Citraan

perabaan (Tactile imagery), citraan penciuman (Olfactory Imagery), Citraan

pengecapan (Gustatory imagery), Citraan gerak (Kinaesthetic imagery).

Pada kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang

Putus‖ karya Chairil Anwar menggunakan enam jenis citraan, yaitu citraan

penglihatan, citraan pendengaran, citraan perabaan, citraan gerak, citraan

pengecapan, dan penciuman.

a. Citraan Penglihatan

Berdasarkan data penelitian, citraan penglihatan dalam kumpulan

puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya Chairil

Anwar berjumlah 32. Perhatikan kutipan puisi berjudul Diponegoro

berikut ini:

126
Didepan sekali tuan menanti
Pedang dikanan, keris dikiri

Kata Didepan itu dapat dilihat dengan menggunakan indera

penglihatan, sama halnya dengan kata Pedang dikanan, keris dikiri, dapat

dilihat menggunakan indera penglihatan. Majas yang terdapat dalam puisi

ini adalah majas perbandingan yaitu terdapat pada baris Pedang dikanan,

keris dikiri, sehingga pembaca dibuat seolah-olah dapat melihat seseorang

yang sedang menunggu dan membawa pedang serta keris.

b. Citraan Pendengaran

Berdasarkan data penelitian, citraan pendengaran berjumlah 17. Perhatikan

kutipan puisi berjudul Semangat dan Hukum berikut ini:

Tak perlu sedu sedan itu!

Kata sedu sedang dalam kamus besar bahasa indonesia (kbbi)

berarti isak, yang dapat didengar oleh telinga, sehingga pembaca seakan

ikut mendengarkan suara tersebut.

Pekik ia di angkasa: Perwira muda

Penggunaan kata pekik di baris puisi tersebut dapat diartikan

dengan kata seruan atau teriakan yang dapat didengar menggunakan indera

pendengaran.

c. Citraan Gerak

Berdasarkan data penelitian, citraan gerak berjumlah 24. Perhatikan

kutipan puisi berjudul Kupu Malam dan Biniku berikut ini:

Kupercepat langkah. Tak noleh kebelakang


Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang

127
Kata langkah merupakan kata kerja, kata noleh juga merupakan

kata kerja yang berasal dari kata toleh, menoleh yang memungkinkan

adanya gerakan.

d. Citraan Perabaan

Berdasarkan data penelitian, citraan perabaan berjumlah 4. Perhatikan

kutipan puisi berjudul Suara Malam berikut ini:

Ya Allah! Badanku terbakar-segala samar.


Aku sudah melewati batas.

Kata Badanku terbakar digunakan oleh penyair sehingga membuat

pembaca seakan-akan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh si aku

melalui kulit.

e. Citraan Pengecapan

Berdasarkan data penelitian citraan pencecapan berjumlah 1. Perhatikan

kutipan puisi berjudul Kepada peminta-minta berikut ini:

Mengganggu dalam mimpiku


Mengehempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku.

Di bibirku terasa pedas, kata pedas dalam baris tersebut berarti

rasa seperti rasa cabai (Lombok dan sebagainya) yang dapat dirasakan

dengan indera pengecapan yaitu lidah.

f. Citraan Penciuman

Berdasarkan data penelitian citraan penciuman berjumlah 1. Perhatikan

kutipan puisi berjudul Prajurit Jaga Malam berikut ini:

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…..


Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

Kata wangi berarti berbau sedap atau harum, yang hanya dapat dirasakan

dengan indera penciuman yaitu hidung.

128
3) Majas (Bahasa Figuratif)

Berdasarkan data penelitian majas (bahasa figuratif) pada kumpulan puisi

“Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya Chairil Anwar ada

tiga jenis, yaitu majas perbandingan, majas pertentangan dan majas penegasan.

a. Majas Perbandingan

Majas perbandingan adalah majas yang menyamakan suatu hal dengan

hal lain menggunakan kata pembanding. Menurut Ahmad Fauzi (2019:75)

mengungkapkan bahwa majas perbandingan adalah rangkaian kata yang

disusun dengan tujuan membentuk kalimat yang mengandung makna

perbandingan.

Berdasarkan data penelitian, majas perbandingan dalam Pada

kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖

karya Chairil Anwar berjumlah 21 dari 19 judul. Perhatikan kutipan puisi

berjudul Tak Sepadan berikut ini:

Dikutuk-sumpahi eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.

Pada baris puisi di atas terdapat majas personifikasi, yaitu majas

yang berusaha membandingkan sifat, fisik, atau perbuatan manusia,

terhadap benda-benda (Ahmad Fauzi, 2019:77). Kata buta yang dimiliki

oleh dinding biasanya terdapat pada makhluk hidup seperti manusia,

namun disini penyair menggunakannya untuk benda mati (dinding),

sehingga melahirkan efek imajinatif bagi pembacanya. Kemudian,

perbandingan yang lainnya yaitu, majas metafora dalam puisi ini terdapat

pada baris berikut:

129
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‗kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

Kata Unggunan api ini, maksudnya adalah permusuhan, amarah

yang terjadi diantara tokoh aku dan kekasihnya. Api, disini diartikan

sebagai bara, nyala, obor yang berhawa panas diibaratkan seperti ketika

seseorang marah, yang dirasakan adalah panas, rasa kesal, serta amarah

yang membara seperti api.

b. Majas Pertentangan

Majas pertentangan adalah majas yang ditulis untuk menunjukkan

makna atau maksud yang bertentangan. Menurut Ahmad Fauzi (2019:81)

mengungkapkan bahwa majas pertentangan adalah gaya bahasa yang

ditulis dengan tujuan menyatakan pertentangan makna.

Berdasarkan data penelitian majas pertentangan pada kumpulan

puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya Chairil

Anwar berjumlah 30 dari 30 judul. Perhatikan kutipan puisi berjudul Sia-

sia berikut ini:


Mawar merah dan melati putih
Darah dan suci
Kata mawar merah yang digunakan oleh penyair bertentang dengan

kata melati putih, sama halnya dengan kata darah yang bertentangan

dengan kata suci. Darah biasanya dilambangkan dengan warna merah dan

suci itu biasanya dilambangkan dengan warna putih yang memiliki arti

bersih.

130
c. Majas Penegasan

Majas penegasan adalah majas yang digunakan untuk menyatakan

suatu penegasan. Menurut Ahmad Fauzi (2019:83) mengungkapkan bahwa

majas penegasan adalah majas yang dibuat untuk mengungkapkan

penegasan, untuk meningkatkan kesan serta pengaruhnya terhadap

pembaca.

Berdasarkan data penelitian, majas penegasan dalam pada

kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖

karya Chairil Anwar berjumlah .33 dari 23 judul. Perhatikan kutipan puisi

berjudul Bercerai berikut ini:

Kita musti bercerai


Sebelum kicau murai berderai

Terlalu kita minta pada mala mini.

Benar belum puas serah-menyerah


Darah masih berbusah-busah.

Terlalu kita minta pada malam ini.

Kita musti bercerai


Biru surya Ian menembus oleh malam di perisai

Kata kita musti bercerai yang bermakna bahwa kita memang harus

berpisah di baris ke-1 diulang atau ditegaskan kembali oleh penyair di

baris ke-7, guna menegaskan maksud dan kesan kepada pembacanya.

4) Kata Konkret

Kata konkret dalam kumpulan “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan

Yang Putus‖ diperjelas (diperkonkret) oleh penyair dengan tujuan agar kata-kata

tersebut dapat menggambarkan arti, makna secara jelas dan menyeluruh. Seperti

pada puisi berjudul Diponegoro, kata konkret yang dipilih oleh penyair dalam

131
menggambarkan semangat perjuangan melawan penjajah adalah Tak

gentar./Lawan banyaknya seratus kali./Pedang dikanan, keris

dikiri/Berselempang semangat yang tak bisa mati./

5) Verifikasi

a) Rima

Rima merupakan pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk

musikalisasi puisi atau orkestrasi, sehingga puisi menjadi lebih menarik untuk

dibaca. Pada kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang

Putus‖ karya Chairil Anwar terdapat rima yang bervariasi seperti aliterasi,

asonansi, rima sempurna, rima berpola a-a-b-b, dan rima yang berpola a-b-a-b.

b) Metrum

Metrum hampir sama dengan ritma, karena sama membicarakan tentang

irama atau ketukan, namun metrum lebih berkaitan dengan intonasi serta artikulasi

pada teknik penulisan puisi. Untuk memastikan keberadaan metrum, Ahmad Fauzi

(2019:98) mengungkapkan bahwa metrum adalah penggunaan tanda seru (!) pada

ujung larik, untuk menunjukkan bahwa larik tersebut dianggap penting, sehingga

pembacasnya harus dengan artikulasi yang jelas dan tegas.

Berdasarkan data penelitian, metrum yang digunakan oleh penyair dalam

kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ pada

umumnya adalah metrum Jambe, yaitu tekanan bervariasi, ada yang diberi

tekanan, dan ada yang tidak diberi tekanan pada setiap kata atau suku kata.

Tekanan tersebut dapat berupa tanda seru (!) ataupun tanda cure katas („). Seperti

yang terdapat pada puisi Persetujuan dengan Bung Karno berikut ini:

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

132
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang

atas apimu, digarami oleh lautmu

Terlihat dengan jelas pada baris pertama terdapat penekanan dengan tanda seru(!),

sehingga pada saat pembacaan puisi tersebut pembaca harus menggunakan

artikulasi jelas serta tegas.

1) Tipografi

Tipografi adalah masalah teknik penulisan puisi dalam wujud visualnya.

Beliau juga menjelaskan bahwa tipografi merupakan teknik perwajahan dalam

penulisan puisi, pengaturan penulisan kata, larik (baris), serta barik (bait) dalam

puisi. Jenis tipografi terdiri dari tipografi rata kiri, rata kanan atau ditulis rata kiri

dan rata kanan dengan tujuan mempermudah pembaca memahami makna yang

ingin disampaikan oleh penyair (Ahmad Fauzi 2019: 100).

Berdasarkan data penelitian, sebagian besar tipografi yang digunakan oleh

penyair dalam kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang

Putus‖ adalah penulisan rata kiri, seperti berikut:

SENDIRI
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala


Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga


Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?


Ah! Lemah lesu iia tersedu: Ibu! Ibu!

Struktur batin puisi ialah mengungkapkan tujuan atau maksud perasaan

dan jiwa dari penyair. Menurut Yusra, dkk (2021:34) struktur batin merupakan

133
unsur pembangun puisi yang tidak nampak secara langsung pada penulisan puisi.

struktur batin terdiri dari tema, rasa, nada dan amanat.

4.2.2 Struktur Batin dalam Kumpulan Puisi “Kerikil Tajam dan Yang

Terampas dan Yang Putus” Karya Chairil Anwar

1) Tema

Berdasarkan data penelitian, tema yang diangkat oleh penyair dalam

kumpulan puisi ―Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ adalah

tema kehidupan, tema ketuhanan (hubungan manusia dengan Tuhan), tema

perjuangan, dan tema percintaan.

a. Tema Kehidupan

Puisi dengan tema kehidupan ditulis penyair untuk

mengungkapkan masalah sosial yang sering dihadapi oleh masyarakat

seperti kegelisahan, kegundahan, kekecewaan yang dirasakan karena

masalah kehidupan. Seperti puisi perhitungan, rumahku, penghidupan,

sia-sia, pelarian, sendiri, kupu malam dan biniku, kesabaran, ajakan,

hampa, penerimaan, kawanku dan aku, cerita, bercerai, dendam, kita

guyah lemah, mulutmu mencubit di mulutku, fragmen, ina mia, puncak,

dan derai-derai cemara. Berikut ini puisi Penghidupan:

Lautan maha dalam


mukul dentur selama
nguji tenaga pematang kita

mukul dentur selama


hingga hancur remuk redam
kurnia bahgia
kecil setumpuk
sia-sia dilindung sia-sia dipupuk,

134
b. Tema Ketuhanan

Puisi dengan tema ketuhanan menyampaikan tentang hubungan

manusia dengan Tuhan dan juga kematian (ajal), seperti puisi suara

malam, nisan, di masjid, jangan kita disini berhenti, aku, selamat tinggal,

Yang terampas dan Yang Putus, dan kepada peminta-minta. Berikut ini

puisi di masjid:

DI MESJID

Kuseru saja Dia


Sehingga datang juga

Kamipun bermuka-muka

Seterusnya Ia bernyala-nyala dalam dada.


Segala daya memadamkannya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang
Gelanggang kami berperang

Binasa-membinasa
Satu menista lain gila.

c. Tema Perjuangan

Puisi dengan tema perjuangan ditulis oleh penyair untuk

menyampaikan dan mengenang kembali jasa serta pengorbanan para

pahlawan dalam membela kemerdekaan negara Indonesia. Seperti puisi

Sudah dulu lagi terjadi begini, malam, persetujuan dengan bung Karno,

hukum, prajurit jaga malam, krawang-bekasi, semangat, dan diponegoro.

Berikut ini puisi Semangat:

SEMANGAT

Kalau sampai waktuku


Kutahu tak seorang ‗kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang

135
Dari kumpulan terbuang

Biar peluru menembus kulitku


Aku tetap meradang-menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari


Berlari

Hingga hilang pedih dan perih.

Dan aku akan lebih tidak peduli


Aku mau hidup seribu tahun lagi.

d. Tema Percintaan

Puisi bertema percintaan ditulis oleh penyair untuk menyampaikan

rasa cintanya kepada teman perempuannya. Seperti puisi tak sepadan, taman,

lagu biasa, kenangan, merdeka, hampa, bercerai dan buat gadis rasid.

2) Nada

Nada yang digunakan oleh penyair pada kumpulan puisi “Kerikil Tajam

dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ yaitu bernada mengajak dan nada

memberitahu, seperti pada puisi Krawang-Bekasi berikut ini.

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi


Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.


Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa


Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa


Kerja belum selesai, belum selesai memperhitungkan arti
4 – 5 ribu nyawa

Membaca puisi Krawang-Bekasi pembaca diajak oleh penyair untuk

mengingat dan mengenang kembali perjuangan yang dilakukan oleh para

pahlawan.

3) Perasaan

Rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan pada puisi yang dibuat.

136
Perhatikan kutipan puisi berikut ini:

Didepan sekali tuan menanti


Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang dikanan, keris dikiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

Perasaan puisi ini adalah menunjukkan rasa semangat dan nasionalisme, hal

ini ditunjukkan dengan kata Berselempang semangat yang tak bisa mati/MAJU.

4) Amanat

Amanat ialah pesan tersirat yang ingin disampaikan oleh penyair,

sehingga pesan akan tersampaikan jika pembaca dapat memahami makna, tema

yang disampaikan dari puisi. Perhatikan puisi Kupu Malam dan Biniku berikut ini:

Sambil berselisih lalu


mengebu debu.

Kupercepat langkah. Tak noleh kebelakang


Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang

Barah ternganga

Melayang ingatan ke biniku


Lautan yang belum terduga
Biar lebih kami tujuh tahun bersatu

Barangkali tak setahu


Ia menipuku.

Amanat yang ingin disampaikan oleh penyair adalah dalam suatu

hubungan pentingnya rasa saling percaya, karena tanpa adanya rasa percaya suatu

hubungan tidak akan mungkin bisa bertahan.

4.2.3 Relevansinya Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA

Berdasarkan kompetensi dasar yang terdapat pada kurikulum 2013,

sebagian besar puisi karya chairil anwar yang terdapat dalam kumpulan puisi

―Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ dapat digunakan sebagai

bahan ajar dalam meningkatkan minat peserta didik, karena terdiri dari unsur

137
pembangun puisi yang cukup lengkap, yaitu berupa diksi, citraan, majas, kata

konkret, verifikasi, tipografi, tema, nada, perasaan serta amanat.

Kelengkapan unsur pembangun dalam puisi tentu menjadi berpengaruh

dalam pemilihan bahan ajar oleh pendidik, karena dalam KD 3.17 Menganalisis

unsur pembangun puisi terdapat indikator yang mengharuskan peserta didik untuk

memahami dan mampu menganalisis unsur-unsur pembangun yang ada dalam

puisi seperti diksi, citraan, kata konkret, majas, verifikasi, tipografi, tema, dan

amanat, dengan demikian puisi dalam kumpulan ini dapat dipertimbangkan oleh

pendidik untuk dijadikan sebagai pilihan bahan ajar.

Kemudian, bila dilihat dari tingkat kesulitan, puisi karya Chairil Anwar

tidak begitu sulit, peserta didik dapat memahami makna yang terkandung dalam

puisi. Bila dilihat dari isinya, puisi karya Chairil Anwar masih sesuai dengan latar

belakang budaya peserta didik. Seperti puisi dengan tema perjuangan, kehidupan,

ketuhanan, dan percintaaan masih sesuai keadaan lingkungan dan keadaan sosial

masyarakat. Contohnya pada puisi yang berjudul kepada peminta-minta yang

menceritakan tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Amanat yang terkadung

dalam puisi ini adalah jangan takut untuk meminta ampunan kepada Tuhan atas

segala dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan. Selanjutnya puisi berjudul

Diponegoro, Merdeka, Semangat, Krawang-Bekasi, Prajurit Jaga Malam, yaitu

puisi dengan tema perjuangan, dalam puisi ini menceritakan bagaimana

perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan pada zaman dahulu.

Hal ini sesuai dengan pendapat Gatindou (Rahmawati, 2015) yaitu dalam

memilih teks sastra pendidik harus mempertimbangkan tingkat kesulitan teks

sastra dengan kemampuan peserta didik, dan isi teks sastra sesuai dengan latar

138
budaya peserta didik. Didukung oleh pernyataan hasil wawancara yang dilakukan

oleh peneliti dengan N.1, N.2 dan N.3, selaku guru bahasa Indonesia berikut ini.

“Kalau menurut saya karena puisi karya Chairil Anwar yang realistis gitu ya, mudah
dipahami. Selain itu, mudah untuk dibahas dan diceritakan kepada siswa karena ada
kaitannya dengan sejarah.” (N.1)

“Maksudnya gini, guru itu membawakan puisi apapun bisa, tapi dengan catatan kajiannya
itu ilmiah. Bahkan puisi saya sendiri pun bisa saya sampaikan, namun dikaji nih kira-kira
dari sisi diksinya seperti apa, gaya bahasanya seperti apa, kemudianada tidak perloncatan
makna perbarisnya.” ( N.1)

“...karya-karyanya sudah diakui secara nasional serta diksi yang digunakan juga dapat
dipahami oleh siswa, sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa
Indonesia.”(N.2)

“…dalam pembelajaran yang terpenting diksinya tersebut mudah dipahami oleh siswa,
karena dengan diksi yang mudah, siswa dapat menganalisis, kan diksi yang menjadi tolak
ukur dalam menganalisis suatu puisi.” (N.3)

“…puisi siapapun akan sesuai digunakan sebagai bahan ajar, tetapi kita lihat dulu dari
situasi siswa yang akan menerima bagaimana kondisinya, kemudian bahasa yang
digunakan dalam puisi itu bagaimana. Jika kita sebagai guru kesulitan dalam
menganalisis, ya bagaimana puisi tersebut akan digunakan dalam pembelajaran di
sekolah. Jadi, kita benar-benar mencari puisi yang diksinya mudah dipahami oleh siswa,
kemudian sepertti unsur-unsur pembangunya juga mudah dipahami, seperti unsur batin.”
(N.3)

Selain itu, untuk melihat kesesuaian puisi karya Chairil Anwar dengan

pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA, dapat dilihat dengan indikator

kesesuaian K13, yaitu sebagai berikut ini:

a. Kompetensi Dasar (KD)

Unsur-unsur pembangun puisi sesuai dengan bahan ajar pada KD 3.17

yaitu Menganalisis unsur pembangun puisi. unsur-unsur yang terdapat di dalam

kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya

Chairil Anwar sebagian besar puisinya dapat dipahami dan sesuai dengan tingkat

pemahaman peserta didik tingkat SMA, sebagai contoh puisi berjudul Nisan,

Sendiri, Penghidupan, Diponegoro, suara malam, dan Semangat. Puisi tersebut

memiliki diksi, rima, ritme, metrum, majas (bahasa figuratif), tipografi, tema,

nada, perasaan dan amanat yang layak dikaji secara keseluruhan. Peserta didik

139
dapat diajak untuk menganalisis unsur-unsur yang terdapat dalam puisi karya

Chairil Anwar dengan diberikan sedikit pemahaman bahwa dalam menganalisis

tidak bisa dilakukan secara terpisah, harus secara menyeluruh karena unsur-unsur

tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.

Kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya

Chairil Anwar dapat juga dijadikan sebagai contoh kepada peserta didik saat

proses pembelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh N.1, N.2, N.3, dan

N.4 selaku guru Bahasa Indonesia di SMA 1 Kota Jambi dan SMA 11 Kota

Jambi sebagai berikut.

“Unsur pembangun yang dibahas ya, semua. Mulai dari diksi, citraan, majas, kata
konkret, tema, amanat. Semuanya dibahas hanya sekadar mereka tahu saja,
pembahasannya ringan, karena puisi itu adalah hasil pemikiran dan perasaan seeorang
yang ditunjukkan untuk menyampaikan pesan.” (N.1)

“Analisis unsur pembangun puisi (struktur fisik dan batin), karena siswa dalam
pembelajaran dituntut untuk dapat memahami serta menganalisis setiap unsur pembangun
puisi serta memaknainya.” (N.2)

“Semua unsur yaitu unsur pembangun fisik dan batin, karena pada indikator itu
(KD 3.17) siswa dituntut untuk mampu memahami sesuai unsur, meskipun
pembelajarannya dilakukan secara bertahap.” (N.3)

“Unsur fisik dan unsur batin, karena siswa pada KD puisi dituntut untuk dapat memahami
setiap unsur yang terdapat di dalam suatu puisi.” (N.4)

b. Isi

Berdasarkan hasil analisis kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang

Terampas dan Yang Putus‖ karya Chairil Anwar mengandung banyak pesan nilai

di dalamnya, hal ini dapat dilihat dengan adanya citraan (imaji), majas (bahasa

figuratif), perasaan, ide pokok (tema) dan amanat yang penyair yang dituangkan

pada setiap puisi, selain itu puisi karya Chairil Anwar dapat dijadikan sebagai

bahan ajar dengan mengaitkan isi puisi pada keadaan lingkungan dan keadaan

sosial masyarakat, seperti puisi Chairil Anwar yang berjudul Penghidupan,

140
Kesabaran, dan Kawanku dan Aku, yang menceritakan tentang kehidupan yang

berliku-liku, ada masalah sosial yang mengharuskan seseorang menjadi sabar,

kuat, dan bekerja lebih keras agar dapat bertahan hidup, kemudian puisi karya

Chairil Anwar juga ada bercerita tentang perjuangan, seperti puisi berjudul

Diponegoro, Merdeka, Semangat, Krawang-Bekasi, Prajurit Jaga Malam. Puisi

dengan tema perjuangan, jika dibaca dan dimaknai dengan baik oleh peserta didik

dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri, dengan beberapa masalah-

masalah aktual yang terjadi sekarang dan masih sesuainya isi dalam kumpulan

puisi karya Chairil Anwar dapat membuat peserta didik mengidentifikasi unsur-

unsur yang terkandung di puisi tersebut dengan cara membaca buku kumpulan

puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus‖.

c. Bahasa

Berdasarkan analisis yang dilakukan kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan

Yang Terampas dan Yang Putus‖ karya Chairil Anwar sebagian besar bahasa

yang digunakan oleh penyair dalam puisi-puisinya dapat dipahami oleh pembaca

serta komunikatif, sehingga layak untuk dijadikan sebagai bahan ajar di tingkat

SMA oleh pendidik. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Irwansyah dalam

wawancara yaitu:

―Secara umum puisi mereka (Chairil Anwar, Edi Mulyadi, Dimas Arika Mihardja)
mudah dipahami, berbeda dengan puisi karya Danarto, itu memang berat.” (N.1)

Kemudian, didukung oleh pendapat dari bu Mega sebagai guru bahasa Indonesia

kelas X di SMA sebagai berikut.

“Sangat layak, karena Chairil Anwar seorang pelopor angkatan ‟45 yang telah memiliki
banyak karya terutama di puisi salah satu karyanya yaitu „Aku‟ yang sangat terkenal.
Melalui karyanya itu, Chairil Anwar dijuluki atau mendapat julukan „Si Binatang
Jalang‟.” (N.4)

141
Berdasarkan kutipan dari wawancara yang dilakukan, dapat disimpulkan

bahwa puisi-puisi karya Chairil Anwar dalam buku kumpulan ”Kerikil Tajam dan

Yang Terampas dan Yang Putus‖ dapat dijadikan alternatif bahan ajar Bahasa

Indonesia di SMA oleh pendidik, karena dalam puisi karya Chairil Anwar

terdapat unsur-unsur pembangun puisi, bahasanya dapat dipahami, dan puisinya

juga masih sesuai dengan keadaan saat ini, kemudian jika dilihat dari psikologis

peserta didik tingkat SMA, tema puisi yang terdapat dalam puisi ini sesuai, yaitu

tentang cinta, perjuangan, ketuhanan (Hubungan manusia dengan Tuhan), serta

kehidupan seperti permasalahan sosial yang seringkali dihadapi dalam

lingkungan sehari-hari. Sesuai dengan pendapat Rahmawati (2015)

mengungkapkan bahwa bahan ajar sastra yang baik adalah yang sesuai dengan

tingkat kemampuan, perkembangan psikologis, dan latar belakang siswa.

4.2.4 Penelitian Relevan

1) Penelitian yang dilakukan oleh Monica Cristina Febrianti pada tahun 2016

dengan judul “Analisis Struktur Puisi Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang

Karya Sapardi Djoko Damono Dan Rintik Sedu Sebagai Bahan Ajar

Bahasa Indonesia Kelas X‖, diterbitkan oleh Jurnal Pendidikan Bahasa

dan Sastra Indonesia, Vol. 1 No. 2 september 2016.

Penelitian ini membahas tentang apa saja struktur fisik dan struktur

batin puisi yang terkandung dalam antalogi puisi Hujan Lolos di Sela Jari

karya Yudhiswara. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti,

yaitu membahas tentang apa saja struktur fisik dan struktur batin yang

terdapat dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan

142
Yang Putus Karya Chairil Anwar serta relevansinya terhadap pembelajaran

bahasa di SMA.

Metode yang digunakanan dalam penelitian ini adalah metode

deskriptif dan bentuk penelitian ini adalah kualitatif, serta pendekatan

yang digunakan adalah pendekatan struktural atau pendekatan objektif.

Dalam penelitian yang dilakukan peneliti untuk menganalisis struktur

pembangun dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan

Yang Putus Karya Chairil Anwar serta relevansinya terhadap pembelajaran

bahasa di SMA, juga digunakan metode deskriptif dan bentuk penelitian

ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan struktural.

Sumber data pada penelitian ini adalah antalogi puisi karya

Yudhiswara yang berjudul Hujan Lolos di Sela Jari yang berjumlah 63

judul puisi. Sementara sumber data yang digunakan dalam penelitian yang

dilakukan oleh peneliti saat ini adalah kumpulan puisi dalam Kerikil

Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus Karya Chairil Anwar.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah struktur fisik

mencakup seluruh puisi yang terdapat di dalam kumpulan puisi Hujan

Lolos di Sela Jari Karya Yudhiswara. Struktur fisik yang terdapat di

dalamnya saling terikat satu sama lain. Keterkaitan ini bersifat saling

membangun untuk membentuk keutuhan puisi. Struktur batin dalam

kumpulan puisi Hujan Lolos di Sela Jari karya Yudhiswara merupakan

ungkapan batin penyair terhadap realita kehidupan yang dijalaninya. Puisi-

puisi yang terdapat dalam kumpulan ini adalah representase kehidupan

143
penyair dalam pencariannya kepada Tuhan yang secara spesifik

memunculkan persoalan religius dan kemanusiaan.

Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam

menganalisis struktur pembangun kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang

Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar ditemukan struktur fisik

dan struktur batin yang saling berkaitan, berupa diksi, citraan, kata

konkret, majas, verifikasi, tipografi, tema, nada, perasaan dan amanat.

Struktur batin dalam kumpulan puisi ini merupakan ungkapan batin dari

penyair tehadap permasalahan sosial (kehidupan), perjuangan, percintaan

serta ketuhanan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat

persamaan dan perbedaan pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti

terhadap penelitian yang sebelumnya. Persamaannya adalah metode dan

pendekatan yang dilakukan oleh peneliti dengan penelitian sebelumnya

yaitu serupa, menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan

untuk mendeskripsikan unsur-unsur pembangun dalam kumpulan puisi

Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar.

Perbedaan yang terdapat dalam penelitian yang dilakukan dengan

penelitian sebelumnya ialah objek kajiannya yang berbeda, serta waktu

dan tempat penelitiannya yang tidak sama.

2) Penelitian yang dilakukan oleh Nori Anggraini dan Nurlaely Aulia pada

tahun 2020 dengan judul Analisis Struktural Pada Puisi Malu Aku Jadi

Orang Indonesia karya Taufiq Ismail (Pendekatan Struktural) diterbitkan

oleh jurnal Sasindo Unpam, Vol.8 No.1, Juni 2020.

144
Penelitian ini menggunkan pendekatan kualitatif dan metode

analisis isi untuk menganalisis unsur fisik dan unsur batin puisi, berbeda

dengan penelitian yang dilakukan peneliti, dalam menganalisis struktur

pembangun pada kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan

Yang Putus Karya Chairil Anwar serta relevansinya terhadap pembelajaran

bahasa di SMA, peneliti menggunakan metode deskriptif dan bentuk

penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan

struktural.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu puisi

dari buku kumpulan puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia karya puisi

Taufiq Ismail, sedangkan sumber data yang digunakan oleh peneliti adalah

43 puisi dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan

Yang Putus karya Chairil Anwar.

Hasil dari penelitian ini adalah terdapat unsur fisik dan batin pada

puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia. Temuan yang didapat pada unsur

fisik terdiri dari lima diksi, dua imaji, tiga kata konkret, dua gaya bahasa

perbandingan dan gaya bahasa penegasan yang masing-masing memiliki

bagian, terdapat dua rima atau irama, dan dua tipografi. Sedangkan temuan

unsur batin puisi terdiri dari satu tema, satu nada, tiga rasa, dan satu

amanat. Pada penelitian ini unsur fisik yang mendominasi adalah rasa

dalam puisi, bagaimana seorang penyair menyampaikan rasa kepada

pembaca melalui tulisan.

Sedangkan hasil temuan dalam penelitian yang dilakukan oleh

peneliti adalah ditemukannya unsur pembangun fisik dan batin dalam

145
setiap puisi, yaitu berupa diksi, citraan, kata konkret, majas, verifikasi,

tipografi, tema, nada, perasaan, dan amanat. Temuan yang didapat yaitu

diksi yang digunakan penyair dalam kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan

Yang Terampas dan Yang Putus‖ pada umumnya jelas, lugas, dapat

dipahami oleh pembaca dan terkadang menggunakan bahasa yang

bermakna konotatif serta denotatif.

Pada kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang

Putus‖ karya Chairil Anwar menggunakan enam jenis citraan, yaitu

citraan penglihatan berjumlah 32, citraan perndengaran berjumlah 17,

citraan perabaan berjumlah 4, citraan gerak berjumlah 24, citraan

pencecapan berjumlah 1, dan penciuman berjumlah 1.

Pada penelitian ini ditemukan ada tiga jenis majas, yaitu majas

perbandingan, majas pertentangan dan majas penegasan. Berdasarkan data

penelitian, majas perbandingan dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan

Yang Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar berjumlah 21 dari 19

judul. Majas pertentangan berjumlah 30 dari 30 judul, dan majas

penegasan berjumlah 33 dari 23 judul.

Kata konkret dalam kumpulan “Kerikil Tajam dan Yang Terampas

dan Yang Putus‖ diperjelas (diperkonkret) oleh penyair dengan tujuan

agar kata-kata tersebut dapat menggambarkan arti, makna secara jelas dan

menyeluruh. Kemudian, rima yang terdapat dalam kumpulan puisi ini

bervariasi seperti aliterasi, asonansi, rima sempurna, rima berpola a-a-b-b,

dan rima yang berpola a-b-a-b, dan berdasarkan temuan saat penelitian,

peneliti menemukan metrum jambe, yaitu metrum yang digunakan oleh

146
penyair dalam kumpulan puisi ini. Kemudian, sebagian besar tipografi

yang digunakan oleh penyair dalam kumpulan puisi “Kerikil Tajam dan

Yang Terampas dan Yang Putus‖ adalah penulisan rata kiri.

Dari penjelasan di atas persamaan penelitian yang dilakukan oleh

Nori dan Nurlaely dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti

adalah sama-sama menganalisis unsur pembangun puisi yaitu struktur fisik

dan struktur batin yang terdapat di dalam suatu puisi. Perbedaanya adalah

dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan

metode analisis dalam penelitiannya, sedangkan peneliti akan

menggunakan metode deskriptif kualitatif serta pendekatan struktural

dalam menganalisis puisinya, serta penggunaan puisinya juga berbeda.

3) Penelitian yang dilakukan oleh Alfianny Rakha Puri dengan judul Analisis

struktural pada kumpulan puisi tirani dan benteng karya taufiq ismail

sebagai alternative bahan ajar kelas X, diterbitkan oleh repository Unpas

pada tanggal 19 November 2020.

Penelitian ini dilakukan untuk memberikan sumbangsih berupa

solusi kepada pendidik mengenai pemilihan bahan ajar yang sesuai dengan

pembelajaran menganalisis puisi di SMA. Adapun tujuan dalam penelitian

ini yaitu diantaranya untuk mendeskripsikan diksi yang digunakan oleh

penyair, mendeskripsikan citraan yang terdapat dalam puisi tersebut, kata

konkret yang ada di dalam puisi, bahasa figuratif yang terdapat dalam

puisi, rima, tipografi, tema, nada dan suasana, perasaaan dan amanat yang

ada di dalam puisi, semuanya di deskripsikan.

147
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan peneliti, yaitu untuk

mencari puisi bentuk lain untuk dijadikan sebagai bahan ajar dalam

pembelajaran puisi di SMA, dengan tujuan penelitian yaitu untuk

mendeskripsikan diksi yang digunakan oleh penyair, mendeskripsikan

citraan, kata konkret yang ada di dalam puisi, bahasa figuratif yang

terdapat dalam puisi, rima, tipografi, tema, nada dan suasana, perasaaan

dan amanat yang ada di dalam puisi di deskripsikan dengan jelas.

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Alfianny Rakha Puri

ialah ditemukannya diksi denotasi dan diksi konotasi dengan jumlah 91

diksi, sama halnya dengan penelitian yang dilakukan peneliti, yaitu diksi

yang digunakan penyair dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang

Terampas dan Yang Putus pada umumnya jelas, lugas, dapat dipahami

oleh pembaca dan terkadang menggunakan bahasa yang bermakna

konotatif serta denotatif.

Kemudian ditemukan juga gaya bahasa dengan jumlah 10 gaya

bahasa, sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti hanya

ditemukan 3 jenis gaya bahasa yaitu majas perbandingan, majas

pertentangan dan majas penegasan, dengan jumlah masing-masing yakni

majas perbandingan yaitu berjumlah 21 dari 19 judul, majas pertentangan

berjumlah 30 dari 30 judul, dan majas penegasan berjumlah 33 dari 23

judul.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Alfianny Rakha Puri

ditemukan 4 macam citraan dengan jumlah 47 citraan, sementara dalam

penelitian yang dilakukan oleh peneliti ditemukan 6 macam citraan dengan

148
jumlah 79 citraan. Kemudian dalam penelitian yang dilakukan oleh

Alfianny Rakha Puri ditemukan kata konkret dengan jumlah 40 data.

Rima dengan jumlah 40 data, dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam

dan Yang Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar terdapat rima

yang bervariasi seperti aliterasi, asonansi, rima sempurna, rima berpola a-

a-b-b, dan rima yang berpola a-b-a-b.

Tipografi yang ditemukan oleh Alfianny Rakha Puri berjumlah 40

data, sementara dalam penelitian yang dilakukan peneliti sebagian besar

tipografi yang digunakan oleh penyair dalam kumpulan puisi Kerikil

Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus adalah penulisan rata kiri.

Berdasarkan data penelitian, tema yang diangkat oleh penyair

dalam kumpulan puisi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus

adalah tema kehidupan, tema ketuhanan (hubungan manusia dengan

Tuhan), tema perjuangan, dan tema percintaan, berbeda dengan temuan

yang dilakukan oleh Alfianny Rakha Puri, dalam penelitiannya ditemukan

tema dengan jumlah 40 data, nada dan suasana dengan jumlah 40 data,

sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdapat 43 data,

dan amanat dengan jumlah 43 data, sementara dalam penelitian Alfianny

Rakha Puri hanya 40 data.

Di dalam penelitian ini struktur fisik dan struktur batin pada

kumpulan puisi Tirani dan Benteng karya Taufiq Ismail dapat

diimplementasikan untuk bahan ajar pembelajaran apresiasi sastra di

sekolah utamanya kelas X SMA. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan

peneliti, struktur fisik dan struktur batin pada kumpulan puisi Kerikil

149
Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus karya Chairil Anwar dapat

dijadikan alternatif pemilihan bahan ajar oleh pendidik.

Dari uraian di atas, penelitian ini cukup relevan dengan penelitian

yang dilakukan oleh peneliti yakni mengkaji struktur pembangun puisi

(struktur batin dan struktur fisik) pada puisi serta relevansinya terhadap

pembelajaran bahasa di SMA.

150

Anda mungkin juga menyukai