BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Konsep Lansia Dengan Hipertensi
a. Konsep Lansia
1) Definisi Lansia
Menurut Undang-undang Republik Indonesia no 13 Tahun
1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, lanjut usia (lansia)
adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.
Lansia merupakan seseorang yang telah berusia ≥ 60 tahun dan
tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya sehari-hari (Ratnawati, 2017). Lansia
merupakan suatu proses hilangnya kemampuan fungsi jaringan
secara perlahan, ditandai dengan proses penuaan seperti
penurunan daya ingat, tumbuh uban, kulit keriput disertai otot
yang tidak lentur, emosi yang lebih sensitif, penurunan fungsi
pendengaran dan penglihatan (Priyoto, 2015).
2) Klasifikasi Lansia
Klasifikasi lanjut usia menurut WHO sesuai tingkatan umur:
a) Usia pertengahan (middle age) : 45-59 tahun
b) Usia lanjut (elderly) : 60-70 tahun
c) Usia lanjut (old) : 75-90 tahun
d) Usia sangat tua (very old) : ≥ 90 tahun
10
11
3) Perubahan - Perubahan Pada Lansia
Perubahan pada lansia dalam penelitian Puspita & Budiman
(2021) sebagai berikut:
a) Perubahan fisik
Biasanya terjadi pada sistem indra, sistem integumen, sistem
muskuloskeletal, sistem kardiovaskuler, sistem respirasi,
pencernaan dan metabolisme, sistem perkemihan, sistem
saraf, sistem reproduksi.
b) Perubahan Kognitif
Perubahan kognitif pada lansia meliputi daya ingat
(memory), IQ (intellegent quotient), kemampuan belajar
(learning), kemampuan pemahaman (comprehension),
pemecahan masalah (problem solving), pengambilan
keputusan (decision making), kebijaksanaan (wisdom),
kinerja (performance), motivasi (motivation).
c) Perubahan Mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental antara
lain perubahan fisik, khususnya organ perasa, kesehatan
umum, tingkat pendidikan, keturunan (hereditas),
lingkungan, gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan
dan ketulian, gangguan konsep diri akibat kehilangan
kehilangan jabatan, rangkaian dari kehilangan yaitu
kehilangan hubungan dengan teman dan keluarga, hilangnya
12
kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran
diri, perubahan konsep diri, perubahan spiritual agama atau
kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya.
d) Perubahan Psikososial
(1) Kesepian kerap kali dirasakan oleh lansia terutama
ketika pasangan atau kerabat terdekat meninggal.
(2) Duka cita (Bereavement) kepergian pasangan, kerabat
terdekat atau bahkan hewan peliharaan dapat
mengganggu kondisi jiwa lansia yang telah rapuh
(3) Depresi, kesedihan yang berkelanjutan serta perasaan
kesepian yang diikuti dengan kondisi dimana lansia ingin
menangis terus menerus dapat menjadi tanda terjadinya
episode depresi.
(4) Gangguan cemas dapat dibagi kedalam beberapa bagian
antara lain fobia, gangguan cemas umum, panik,
gangguan stres pasca trauma dan gangguan obsesif
kompulsif.
(5) Parafrenia, adanya waham (curiga) menjadi tanda utama
skizofrenia pada lansia. Hal ini dapat berupa perasaan
curiga bahwa orang terdekatnya akan melakukan
tindakan jahat kepadanya.
13
(6) Sindroma diogenes merupakan suatu kondisi kelainan
dimana terjadi penampilan atau perilaku pada lansia
yang sangat mengganggu.
b. Konsep Hipertensi
1) Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan darah di
dalam arteri. Dikatakan hipertensi apabila tekanan sistoliknya ≥
140 mmHg, atau tekanan diastoliknya ≥ 90 mmHg. Hipertensi
maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak
diobati, akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan
(Kemenkes RI, 2016).
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi merupakan
suatu gangguan pada dinding pembuluh darah yang mengalami
peningkatan tekanan darah sehingga mengakibatkan suplai
oksigen dan nutrisi tidak bisa sampai ke jaringan yang
membutuhkannya. Hal tersebut mengakibatkan jantung harus
bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Apabila
kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lama dan
menetap akan menimbulkan penyakit hipertensi (Hastuti, 2022).
14
2) Tanda dan Gejala Hipertensi
Menurut Hastuti (2022), tanda dan gejala hipertensi antara lain
sebagai berikut:
a) Sakit kepala
b) Jantung berdebar-debar
c) Sesak nafas setelah aktivitas berat
d) Mudah lelah
e) Penglihatan kabur
f) Wajah memerah
g) Hidung berdarah
h) Sering buang air kecil, terutama malam hari
i) Telinga berdenging (tinnitus)
j) Dunia terasa berputar (vertigo)
k) Tengkuk terasa berat
l) Sulit tidur
m) Cepat marah
n) Mata berkunang-kunang dan pusing
3) Klasifikasi Hipertensi
Tabel 2.1 Klasifikasi hipertensi (Kemmenkes RI, 2016)
Kriteria Sistolik Diastolik
Normal ≤ 130 mmHg ≤ 85 mmHg
Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
Hipertensi ringan 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Hipertensi sedang 160-179 mmHg 100-109 mmHg
Hipertensi berat 180-209 mmHg 110-119 mmHg
Hipertensi maligna ≥ 210 mmHg ≥ 120 mmHg
15
4) Etiologi Hipertensi
Menurut Sunanto pada tahun 2013, penyakit hipertensi dapat
digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu:
a) Hipertensi Primer
Hipertensi primer atau bisa juga disebut hipertensi
esensial adalah jenis hipertensi yang belum dapat diketahui
penyebabnya dan penderitanya tidak merasakan gejala apa-
apa. Secara umum 15 penderita hipertensi 90 % diantaranya
adalah penderita hipertensi golongan primer. Untuk saat ini
diduga pemicu hipertensi primer ialah faktor bertambahnya
usia, faktor keturunan yang diturunkan, stress yang berlebih,
serta gangguan pada fungsi jantung yang membuat
pembuluh darah meningkatkan tekanan darahnya.
b) Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah jenis hipertensi yang
penyebabnya sudah dapat diketahui. Secara umum 10 %
penderita hipertensi menderita jenis ini. Yang menyebabkan
hipertensi golongan ini adalah gangguan yang terjadi pada
endokrin (adrenal, tiroid, hipofisis, dan para tiroid), penyakit
ginjal, pemakaian alat kontrasepsi, dan lainnya.
16
5) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hipertensi
a) Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol :
(1) Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria dengan
wanita. Wanita diketahui mempunyai tekanan darah
lebih rendah dibandingkan pria ketika berusia 20-30
tahun. Tetapi akan mudah menyerang pada wanita ketika
berumur 55 tahun, sekitar 60% menderita hipertensi
berpengaruh pada wanita. Hal ini dikaitkan dengan
perubahan hormon pada wanita setelah menopause
(Triyanto, 2014).
(2) Umur
Perubahan tekanan darah pada seseorang secara
stabil akan berubah di usia 20-40 tahun. Setelah itu akan
cenderung lebih meningkat secara cepat. Sehingga,
semakin bertambah usia seseorang maka tekanan darah
semakin meningkat. Jadi seorang lansia cenderung
mempunyai tekanan darah lebih tinggi dibandingkan
diusia muda (Triyanto, 2014).
(3) Keturunan (genetik)
Adanya faktor genetik tentu akan berpengaruh
terhadap keluarga yang telah menderita hipertensi
sebelumnya. Hal ini terjadi adanya peningkatan kadar
17
sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium
terhadap sodium individu sehingga pada orang tua
cenderung beresiko lebih tinggi menderita hipertensi dua
kali lebih besar dibandingan dengan orang yang tidak
mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi
(Triyanto, 2014).
b) Faktor resiko hipertensi yang dapat dikontrol
(1) Obesitas
Pada usia pertengahan dan usia lanjut, cenderung
kurangnya melakukan aktivitas sehingga asupan kalori
mengimbangi kebutuhan energi, sehingga akan terjadi
peningkatan berat badan atau obesitas dan akan
memperburuk kondisi (Anggara & Prayitno, 2013).
(2) Kurang olahraga
Jika melakukan olahraga dengan teratur akan mudah
untuk mengurangi peningkatan tekanan darah tinggi
yang akan menurunkan tahanan perifer, sehingga melatih
otot jantung untuk terbiasa melakukan pekerjaan yang
lebih berat karena adanya kondisi tertentu.
(3) Kebiasaan merokok
Merokok dapat meningkatkan tekanan darah. Hal ini
dikarenakan di dalam kandungan nikotik yang dapat
menyebabkan penyempitan pembuluh darah.
18
(4) Konsumsi garam berlebihan
WHO merekomendasikan konsumsi garam yang dapat
mengurangi peningkatan hipertensi. Kadar sodium yang
direkomendasikan adalah tidak lebih dari 100 mmol
(sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram) (Martono &
Pranaka, 2014).
(5) Minum alkohol
Ketika mengonsumsi alkohol secara berlebihan akan
menyebabkan peningkatan tekanan darah yang tergolong
parah karena dapat menyebabkan darah di otak
tersumbat dan menyebabkan stroke.
(6) Konsumsi kopi
Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu
cangkir kopi mengandung 75-200 mg kafein, dimana
dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan
tekanan darah 5-10 mmHg (Lestari, 2020).
(7) Kecemasan
Kecemasan akan menimbulkan stimulus simpatis yang
akan meningkatkan frekuensi jantung, curah jantung dan
resistensi vaskuler, efek samping ini akan meningkatkan
tekanan darah. Kecemasan atau stress meningkatkan
tekanan darah sebesar 30 mmHg. Jika individu merasa
cemas pada masalah yang di hadapinya maka hipertensi
19
akan terjadi pada dirinya. Hal ini dikarenakan kecemasan
yang berulang-ulang akan mempengaruhi detak jantung
semakin cepat sehingga jantung memompa darah
keseluruh tubuh akan semakin cepat.
6) Komplikasi Hipertensi
Komplikasi yang muncul pada penderita hipertensi antara lain
stroke, infark miokard, gagal ginjal, gagal jantung, dan
ensefalopati (Pranata & Prabowo, 2017).
7) Penatalaksanaan Hipertensi
Menurut Triyanto (2014) penanganan hipertensi dibagi menjadi
dua yaitu secara non farmakologis dan farmakologi.
a) Terapi non farmakologi
Terapi non farmakologi merupakan terapi tanpa
menggunakan obat, terapi non farmakologi diantaranya
memodifikasi gaya hidup dimana termasuk pengelolaan
stress dan kecemasan merupakan langkah awal yang harus
dilakukan. Penanganan non farmakologis yaitu menciptakan
keadaan rileks, mengurangi stress dan menurunkan
kecemasan. Terapi non farmakologi diberikan untuk semua
pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan tekanan darah
dan mengendalikan faktor risiko serta penyakit lainnya.
20
b) Terapi farmakologi
Terapi farmakologi yaitu yang menggunakan
senyawa obat obatan yang dalam kerjanya dalam
mempengaruhi tekanan darah pada pasien hipertensi seperti:
angiotensin receptor blocker (ARBs), beta blocker, calcium
chanel dan lainnya. Penanganan hipertensi dan lamanya
pengobatan dianggap kompleks karena tekanan darah
cenderung tidak stabil.
2. Konsep Terapi Relaksasi Nafas Dalam
a. Definisi Terapi Relaksasi Nafas Dalam
Relaksasi adalah suatu teknik yang dapat membuat pikiran
dan tubuh menjadi rileks melalui sebuah proses yang secara
progresif akan melepaskan ketegangan otot di setiap tubuh (Potter
& Perry, 2013). Relaksasi merupakan suatu prosedur dan teknik
yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan,
dengan cara melatih pasien agar mampu dengan sengaja untuk
membuat relaksasi otot-otot tubuh setiap saat, sesuai dengan
keinginan. Terapi relaksasi ini tidak dimaksudkan untuk mengganti
terapi obat yang selama ini digunakan penderita hipertensi, tetapi
terapi ini dapat menimbulkan rasa nyaman atau relaks. Dalam
keadaan relaks tubuh akan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis
yang berfungsi untuk menurunkan detak jantung, laju pernafasan
dan tekanan darah (Sulistyarini, 2018).
21
Terapi relaksasi nafas dalam merupakan pernafasan pada
abdomen dengan frekuensi lambat serta perlahan, berirama, dan
nyaman. Mekanisme relaksasi nafas dalam pada sistem pernafasan
berupa suatu keadaan inspirasi dan ekspirasi pernafasan dengan
frekuensi pernafasan menjadi 6-10 kali permenit sehingga terjadi
peningkatan regangan kardiopulmonari. Terapi relaksasi nafas
dalam dapat dilakukan secara mandiri, relatif mudah dilakukan dari
pada terapi nonfarmakologis lainnya, tidak membutuhkan waktu
lama untuk terapi, dan dapat mengurangi dampak buruk dari terapi
farmakologis bagi penderita hipertensi (Masnina & Setyawan,
2018).
Menurut Nababan (2022), bahwa ada efektivitas terapi nafas
dalam terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi.
Hal ini disebabkan terapi nafas dalam dengan mengatur frekuensi
pernafasan memberi pengaruh berupa menurunnya konsumsi
oksigen oleh sel-sel tubuh dan meningkatnya kadar CO2.
Peningkatan kadar CO2 merangsang refleks baroreseptor, yang
kemudian menurunkan aktivitas simpatis pada jantung sehingga
menurunkan tekanan darah.
b. Tujuan dan Manfaat Relaksasi Nafas Dalam
Relaksasi nafas dalam bertujuan untuk mengontrol
pertukaran gas agar menjadi efisien, mengurangi kinerja bernafas,
meningkatkan inflasi alveolar maksimal, meningkatkan relaksasi
22
otot, menghilangkan ansietas, menyingkirkan pola aktivitas otot-
otot pernafasan yang tidak berguna, melambatkan frekuensi
pernafasan, mengurangi udara yang terperangkap serta mengurangi
kerja bernafas (Bruner & Suddart, 2013).
Beberapa manfaat terapi relaksasi nafas dalam adalah
sebagai berikut: ketentraman hati, berkurangnya rasa cemas,
khawatir dan gelisah, ketegangan jiwa menjadi rendah, detak
jantung lebih rendah, mengurangi tekanan darah, meningkatkan
keyakinan, kesehatan mental menjadi lebih baik (Paramita, 2021).
Pada penelitian Masnina & Setyawan, (2018) menunjukkan hasil
bahwa terapi relaksasi nafas dalam daapat menurunkan tekanan
darah pasien lansia.
c. Standar Operasional Prosedur Relaksasi Nafas Dalam
Menurut Tim Pokja DPP PPNI (2021), standar prosedur operasional
latihan nafas antara lain:
1) Identifikasi pasien menggunakan minimal dua identitas (nama
lengkap dan tanggal lahir)
2) Jelaskan tujuan dan langkah-langkah prosedur
3) Lakukan kebersihan tangan 6 langkah
4) Monitor frekuensi, irama, dan kedalaman nafas
5) Sediakan tempat yang tenang dan nyaman
6) Posisikan pasien nyaman dan rileks
23
7) Anjurkan memposisikan tangan satu tangan di dada dan satu
tangan di perut
8) Anjurkan menarik nafas melalui hidung selama 4 detik,
menahan nafas selama 2 detik, kemudian menghembuskan nafas
dari mulut dengan bibir dibulatkan (mencucu) selama 8 detik
9) Pastikan dinding dada mengembang saat inspirasi
10) Anjurkan mengulangi latihan nafas sebanyak 5-10 kali
11) Rapikan pasien dan alat-alat yang digunakan
12) Lakukan kebersihan tangan 6 langkah
13) Dokumentasikan prosedur yang telah dilakukan dan respons
pasien.
3. Konsep Asuhan Keperawatan Lansia Hipertensi
a. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan.
Pengkajian harus dilakukan secara komprehensif terkait dengan
aspek biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual. Tujuan
pengkajian adalah untuk mengumpulkan informasi dan membuat
data dasar pasien. Metode utama yang dapat digunakan dalam
pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan pemeriksaan
fisik serta diagnostik. Pengkajian adalah proses sistematis berupa
pengumpulan, verifikasi, dan komunikasi data tentang klien (Padila,
2019).
24
1) Identitas klien meliputi nama, tempat tanggal lahir, jenis
kelamin, status perkawinan, agama, dan suku.
2) Riwayat pekerjaan dan status ekonomi meliputi pekerjaan saat
ini, perkerjaan sebelumnya, sumber pendapatan, dan kecukupan
pendapatan.
3) Lingkungan tempat tinggal meliputi kebersihan dan kerapihan
lingkungan, penerangan, sirkulasi udara, keadaan kamar mandi
dan WC, pembuangan air kotor, sumber air minum, pembuangan
sampah, sumber pencemaran, privasi, dan risiko injury.
4) Riwayat Kesehatan
a) Status kesehatan saat ini
Menurut Cahyani (2020) keluhan utama sering
menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan
adalah sakit kepala disertai rasa berat di tengkuk dan sakit
kepala berdenyut. Pada sebagian besar penderita, hipertensi
tidak menimbulkan gejala. Gejala yang di maksud adalah
sakit di kepala, pendarahan di hidung, pusing, wajah
kemerahan, dan kelelahan yang bisa saja terjadi pada
penderita hipertensi. Jika hipertensinya berat atau menahun
dan tidak di obati, bisa timbul gejala sakit kepala, kelelahan
muntah, sesak nafas, pandangan menjadi kabur, yang terjadi
karena kerusakan pada otak, mata, jantung, dan ginjal.
25
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan
kesadaran dan bahkan koma.
b) Riwayat kesehatan masa lalu
Menurut Cahyani (2020) riwayat kesehatan masa lalu
yang perlu dikaji antara lain: apakah ada riwayat hipertensi
sebelumnya, diabetes mellitus, penyakit ginjal, obesitas,
hiperkolestrol, adanya riwayat merokok, penggunaan
alkohol dan penggunaan obat kontrasepsi oral, dan lain-lain.
5) Pola Fungsional
a) Persepsi kesehatan dan pola manajemen kesehatan
b) Nutrisi metabolik
Menilai apakah ada perubahan nutrisi dalam makan
dan minum, pola konsumsi makanan dan riwayat
peningkatan berat badan. Biasanya penderita hipertensi perlu
memenuhi kandungan nutrisi seperti karbohidrat, protein,
mineral, air, lemak, dan serat. Tetapi diet rendah garam juga
berfungsi untuk mengontrol tekanan darah pada klien.
c) Eliminasi
d) Aktivitas pola dan latihan
e) Pola istirahat tidur
f) Pola kognitif persepsi
g) Persepsi diri pola konsep diri
h) Pola peran-hubungan
26
i) Seksualitas
j) Koping-pola toleransi stress
k) Nilai-pola keyakinan
6) Pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, tanda-tanda vital,
berat badan, tinggi badan, pemeriksaan kepala, rambut, mata,
telinga, mulut, gigi, bibir, dada, abdomen, kulit, ekstremitas atas,
dan ekstremitas bawah.
7) Pengkajian khusus
a) Indeks katz
Indeks katz adalah suatu instrumen pengkajian
dengan sistem penilaian yang didasarkan pada kemampuan
seseorang untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
secara mandiri. Penentuan kemandirian fungsional dapat
mengidentifikasikan kemampuan dan keterbatasan klien
sehingga memudahkan pemilihan intervensi yang tepat
(Purba, Veronika, Ambarita, & Sinaga, 2022). Adapun
aktivitas yang dinilai dalam indeks katz adalah bathing,
dressing, toileting, transferring, continence dan feeding.
b) APGAR keluarga lansia
APGAR keluarga lansia dilakukan untuk menilai
fungsi keluarga dengan lansia. APGAR terdiri dari:
Adaptation, Partnership, Growth, Afek, dan Resolve (Purba,
Veronika, Ambarita, & Sinaga, 2022).
27
c) SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionnare)
SPMSQ (Short Portable Mental Status Questionaire)
adalah penilaian fungsi intelektual lansia. Untuk mendeteksi
adanya tingkat kerusakan intelektual. Terdiri dari 10
pertanyaan tentang: orientasi, riwayat pribadi, memori dalam
hubungannya dengan kemampuan perawatan diri, memori
jauh dan kemampuan matematis (Purba, Veronika,
Ambarita, & Sinaga, 2022).
d) Inventaris Depresi
Back Depresi back merupakan alat pengukur status
efektif digunakan untuk membedakan jenis depresi yang
mempengaruhi suasana hati. Berisikan 21 karakteristik yaitu
alam perasaan, pesimisme, rasa kegagalan, kepuasan, rasa
bersalah, rasa terhukum, kekecewaan terhadap seseorang,
kekerasan terhadap diri sendiri, keinginan untuk
menghukum diri sendiri, keinginan untuk menangis, mudah
tersinggung, menarik diri, ketidakmampuan membuat
keputusan, gambaran tubuh, gangguan tidur, kelelahan,
gangguan selera makan, kehilangan berat badan. Berisikan
13 hal tentang gejala dan sikap yang berhubungan dengan
depresi (Purba, Veronika, Ambarita, & Sinaga, 2022).
28
e) Resiko Jatuh (Morse Fall Scale)
Morse Fall Scale (MFS) adalah strategi pencegahan
jatuh dengan menciptakan lingkungan yang bebas dari faktor
pencetus, yaitu dengan mengorientasikan reponden terhadap
lingkungan dan pemberian informasi yang jelas tentang
bagaimana menggunakan alat bantu jalan. MFS metode
cepat dan sederhana yang dapat digunakan untuk menilai
kemungkinan jatuh pada lansia dan digunakan secara luas
dalam melakukan perawat akut maupun dalam pelayanan
jangka panjang. Instrumen ini memiliki 6 variabel yaitu:
riwayat jatuh, diagnosa sekunder, penggunaan alat bantu,
terpasang infus, gaya berjalan, dan status mental (Sarah, &
Sembiring, 2021).
f) Status Nutrisi: MNA (Mini Nutritional Assessment)
MNA (Mini Nutritional Assessment) adalah alat
untuk mengukur atau menskrining nutrisi pada lansia. Mini
Nutritional Assessment (MNA) mengandung pertanyaan-
pertanyaan yang berhubungan dengan nutrisi dan kondisi
kesehatan, kebebasan, kualitas hidup, pengetahuan,
mobilitas, dan kesehatan yang subjektif. Tujuan dari MNA
ini untuk mendeteksi status gizi lansia, sehingga akan
mendapatkan rekomendasi lebih lanjut (Mujiastuti, dkk,
2021).
29
b. Diagnosa Keperawatan
Menurut SDKI (2017) diagnosa keperawatan yang mungkin
ditemukan pada klien dengan hipertensi adalah:
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen pencidera fisiologis:
peningkatan tekanan vaskuler serebral
2) Risiko perfusi serebral tidak efektif dibuktikan dengan
hipertensi
3) Risiko perfusi perifer tidak efektif dibuktikan dengan hipertensi
4) Risiko penurunan curah jantung dibuktikan dengan perubahan
afterload
5) Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurangnya kontrol
tidur
6) Manajemen kesehatan tidak efektif berhubungan dengan kurang
terpapar informasi
7) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen
8) Ketidakpatuhan minum obat berhubungan dengan
ketidakadekuatan pemahaman: kurang motivasi
c. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan
oleh perawat didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis
untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan. Sedangkan
tindakan keperawatan adalah perilaku atau aktivitas spesifik yang
30
dikerjakan oleh perawat untuk mengimplementasikan intervensi
keperawatan. Tindakan pada intervensi keperawatan terdiri atas
observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi (Tim pokja SIKI PPNI,
2018).
Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan
Diagnosa Tujuan &
Intervensi Keperawatan
Keperawatan Kriteria Hasil
Risiko perfusi Setelah dilakukan Intervensi Utama :
serebral tidak tindakan 1. Manajemen Peningkatan
efektif d.d keperawatan Tekanan Intrakranial
hipertensi selama 3x24 jam (SIKI, I.09325 hal. 205)
diharapkan
(SDKI, perfusi serebral Observasi :
D.0017 hal. meningkat, - Identifikasi penyebab
51) dengan kriteria peningkatan TIK (misalnya:
hasil : lesi, gangguan metabolism,
1. Sakit kepala edema serebral)
menurun - Monitor tanda/gejala
2. Tekanan darah peningkatan TIK (misalnya:
sistolik tekanan darah meningkat,
membaik tekanan nadi melebar,
3. Tekanan darah bradikardia, pola nafas
diastolik ireguler, kesadaran
membaik menurun)
- Monitor MAP (mean arterial
(SKLI, L.02014 pressure)
hal. 86) - Monitor CVP (central
venous pressure)
- Monitor PAWP, jika perlu
- Monitor PAP, jika perlu
- Monitor ICP (intra cranial
pressure)
- Monitor gelombang ICP
- Monitor status pernafasan
- Monitor intake dan output
cairan
- Monitor cairan serebro-
spinalis (mis. Warna,
konsistensi)
31
Terapeutik :
- Minimalkan stimulus
dengan menyediakan
lingkungan yang tenang
- Berikan posisi semi fowler
- Hindari manuver valsava
- Cegah terjadinya kejang
- Hindari penggunaan PEEP
- Hindari pemberian cairan IV
hipotonik
- Atur ventilator agar PaCO2
optimal
- Pertahankan suhu tubuh
normal
Kolaborasi :
- Kolaborasi pemberian
sedasi dan antikonvulsan,
jika perlu
- Kolaborasi pemberian
diuretik osmosis, jika perlu
- Kolaborasi pemberian
pelunak tinja, jika perlu
2. Pemantauan Tekanan
Intrakranial
(SIKI, I.06198 hal. 249)
Observasi :
- Identifikasi penyebab
peningkatan TIK (mis: lesi
menempati ruang, gangguan
metabolisme, edema
serebral, peningkatan
tekanan vena, obstruksi
cairan serebrospinal,
hipertensi intracranial
idiopatik)
- Monitor peningkatan TD
- Monitor pelebaran tekanan
nadi (selisih TDS dan TDD)
- Monitor penurunan
frekuensi jantung
- Monitor ireguleritas irama
nafas
- Monitor penurunan tingkat
kesadaran
32
- Monitor perlambatan atau
ketidaksimetrisan respon
pupil
- Monitor kadar CO2 dan
pertahankan dalam rentang
yang diindikasikan
- Monitor tekanan perfusi
serebral
- Monitor jumlah, kecepatan,
dan karakteristik drainase
cairan serebrospinal
- Monitor efek stimulus
lingkungan terhadap TIK
Terapeutik :
- Ambil sampel drainase
cairan serebrospinal
- Kalibrasi transduser
- Pertahankan sterilitas sistem
pemantauan
- Pertahankan posisi kepala
dan leher netral
- Bilas sistem pemantauan,
jika perlu
- Atur interval pemantauan
sesuai kondisi pasien
- Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi :
- Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
- Informasikan hasil
pemantauan, jika perlu
Intervensi Pendukung :
1. Pemantauan Tanda Vital
(SIKI, I.02060 hal. 248)
Observasi :
- Monitor tekanan darah
- Monitor nadi (frekuensi,
kekuatan, irama)
- Monitor pernafasan
(frekuensi, kedalaman)
- Monitor suhu tubuh
- Memonitor oksimetri nadi
33
- Monitor tekanan nadi
(selisih TDS dan TDD)
- Identifikasi penyebab
perubahan tanda vital
Terapeutik :
- Atur interval pemantauan
sesuai kondisi pasien
- Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi :
- Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
- Informasikan hasil
pemantauan, jika perlu
Risiko perfusi Setelah dilakukan Intervensi Utama :
perifer tidak tindakan 1. Pencegahan Syok
efektif d.d keperawatan (SIKI, I.02068 hal. 285)
hipertensi selama 3x24 jam
diharapkan Observasi :
(SDKI, perfusi perifer - Monitor status
D.0015, hal. meningkat, kardiopulmonal (frekuensi
48) dengan kriteria dan kekuatan nadi, frekuensi
hasil : nafas, TD, MAP)
1. Denyut nadi - Monitor status oksigenasi
perifer (oksimetri nadi, AGD)
meningkat - Monitor status cairan
2. Tekanan (masukan dan haluaran,
darah sistolik turgor kulit, CRT)
membaik - Monitor tingkat kesadaran
3. Tekanan dan respon pupil
darah - Periksa Riwayat alergi
diastolik Terapeutik :
membaik - Berikan oksigen untuk
mempertahankan saturasi
(SKLI, L.02011 oksigen > 94%
hal. 84) - Persiapkan intubasi dan
ventilasi mekanis, jika perlu
- Pasang jalur IV, jika perlu
- Pasang kateter urin untuk
menilai produksi urin, jika
perlu
- Lakukan skin test untuk
mencegah reaksi alergi
Edukasi :
- Jelaskan penyebab/faktor
risiko syok
34
- Jelaskan tanda dan gejala
awal syok
- Anjurkan melapor jika
menemukan/merasakan
tanda dan gejala awal syok
- Anjurkan memperbanyak
asupan cairan oral
- Anjurkan menghindari
allergen
Kolaborasi :
- Kolaborasi pemberian IV,
jika perlu
- Kolaborasi pemberian
transfusi darah, jika perlu
- Kolaborasi pemberian
antiinflamasi, jika perlu
2. Perawatan Sirkulasi
(SIKI, I.02079 hal. 345)
Observasi :
- Periksa sirkulasi perifer
(mis: nadi perifer, edema,
pengisian kapiler, warna,
suhu, ankle-brachial index)
- Identifikasi faktor risiko
gangguan sirkulasi (mis:
diabetes, perokok, orang
tua, hipertensi, dan kadar
kolesterol tinggi)
- Monitor panas, kemerahan,
nyeri, atau bengkak pada
ekstremitas
Terapeutik :
- Hindari pemasangan infus,
atau pengambilan darah di
area keterbatasan perfusi
- Hindari pengukuran tekanan
darah pada ekstremitas
dengan keterbatasan perfusi
- Hindari penekanan dan
pemasangan tourniquet pada
area yang cidera
- Lakukan pencegahan infeksi
- Lakukan perawatan kaki dan
kuku
35
- Lakukan hidrasi
Edukasi :
- Anjurkan berhenti merokok
- Anjurkan berolahraga rutin
- Anjurkan mengecek air
mandi untuk menghindari
kulit terbakar
- Anjurkan menggunakan
obat penurun tekanan darah,
antikoagulan, dan penurun
kolesterol, jika perlu
- Anjurkan minum obat
pengontrol tekanan darah
secara teratur
- Anjurkan menghindari
penggunaan obat penyekat
beta
- Anjurkan melakukan
perawatan kulit yang tepat
(mis: melembabkan kulit
kering pada kaki)
- Anjurkan program
rehabilitasi vaskular
- Ajarkan program diet untuk
memperbaiki sirkulasi (mis:
rendah lemak jenuh, minyak
ikan omega 3)
- Informasikan tanda dan
gejala darurat yang harus
dilaporkan (mis: rasa sakit
yang tidak hilang saat
istirahat, luka tidak sembuh,
hilangnya rasa).
Intervensi Pendukung :
2. Pemantauan Tanda Vital
(SIKI, I.02060 hal. 248)
Observasi :
- Monitor tekanan darah
- Monitor nadi (frekuensi,
kekuatan, irama)
- Monitor pernafasan
(frekuensi, kedalaman)
- Monitor suhu tubuh
- Memonitor oksimetri nadi
36
- Monitor tekanan nadi
(selisih TDS dan TDD)
- Identifikasi penyebab
perubahan tanda vital
Terapeutik :
- Atur interval pemantauan
sesuai kondisi pasien
- Dokumentasikan hasil
pemantauan
Edukasi :
- Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
- Informasikan hasil
pemantauan, jika perlu
d. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana keperawatan
untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap implementasi dimulai
setelah rencana keperawatan disusun dan ditujukan untuk membantu
klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari implementasi
adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping.
Perencanaan keperawatan dapat dilaksanakan dengan baik jika klien
mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam implementasi
keperawatan.
Implementasi dalam mengurangi masalah keperawatan nyeri
akut lebih ditekankan pada (Andarmoyo, 2013):
1) Upaya keperawatan dalam meningkatkan kenyamanan
2) Upaya pemberian informasi yang akurat
37
3) Upaya mempertahankan kesejahteraan
4) Upaya tindakan meredakan nyeri dengan teknik non
farmakologis
5) Peberian terapi nyeri farmakologis
e. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah hasil dari perkembangan kesehatan pasien,
dengan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tujuan perawat
dapat dicapai dan memberikan umpan balik terhadap asuhan
keperawatan yang diberikan. Evaluasi keperawatan terhadap pasien
dengan masalah nyeri akut dilakukan dengan menilai kemampuan
pasien dalam merespon rangsangan nyeri diantaranya (Andarmoyo,
2013):
1) Pasien melaporkan adanya penurunan rasa nyeri
2) Pasien mendapatkan pemahaman yang akurat mengenai nyeri
3) Mampu mempertahankan kesejahteraan dan meningkatkan
kemampuan fungsi fisik dan psikologis yang dimiliki pasien
4) Mampu melakukan tindakan-tindakan non farmakologis
5) Mampu menggunakan terapi yang diberikan untuk menguangi
nyeri.
38
B. Kerangka Teori
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Faktor Risiko
Umur, Jenis Kelamin, Genetik, Gaya Hidup
Vasokontriksi pembuluh darah
Peningkatan Tekanan Darah → Hipertensi
Penatalaksanaan
Farmakologi Nonfarmakologi
Obat Anti Hipertensi Terapi Relaksasi
Angiotensin receptor - relaksasi otot progresif
blocker (arbs), beta blocker, - imajinasi terbimbing,
calcium chanel dan lainnya - tai chi
Terapi relaksasi nafas dalam
merupakan pernafasan pada Terapi Relaksasi Nafas Dalam
abdomen dengan frekuensi
lambat serta perlahan,
berirama, dan nyaman.
Peningkatan kadar CO2 Mengatur frekuensi
merangsang refleks pernafasan memberi pengaruh
baroreseptor, yang kemudian berupa menurunnya konsumsi
menurunkan aktivitas oksigen oleh sel-sel tubuh dan
simpatis pada jantung. meningkatnya kadar CO2.
Tekanan Darah Menurun