Alpha Cut
Alpha Cut
Korespondensi:
Aminahtuz Zahro,
Jurusan Matematika,
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
Jl. Gajayana No. 50 Malang, Jawa Timur, Indonesia 65144
hanafizhalkaff@[Link]
1. PENDAHULUAN
Salah satu disiplin ilmu dalam matematika yang terus mengalami perkembangan adalah aljabar. Pada
pertengahan pertama abad ke-19, George Boole berupaya untuk merumuskan proposisi logika yang kemudian
mendasari konsep aljabar Boolean. Selama berlangsung penelitian aksioma-aksioma aljabar Boolean di akhir
abad ke-19, Charles S. Pierce dan Ernst Schröder memperkenalkan teori latis. Teori ini muncul dari dua teori
utama yaitu keterurutan dan aljabar abstrak yang dikembangkan oleh Garret Birkhoff. Sebuah keterurutan yang
memenuhi sifat refleksif, antisimetri, transitif, dan linier, dikatakan latis jika supremum dan infimumnya ada.
Sedangkan suatu aljabar dengan dua operasi biner dikatakan latis jika masing-masing aljabar dengan satu
operasi binernya memenuhi sifat idempoten, komutatif, asosiatif, dan absorpsi [1].
Dalam aljabar abstrak, subjek pertama yang digunakan sebagai penelitian yaitu menggunakan gagasan
himpunan fuzzy yakni merupakan kelas dari objek-objek kontinu dari derajat keanggotaan, layaknya suatu
himpunan yang dicirikan oleh fungsi keanggotaannya yang memberikan derajat keanggotaan setiap objek
antara nol hingga satu [2]. Ada beberapa penyajian fungsi keanggotaan untuk menyatakan himpunan fuzzy,
seperti: representasi linier, kurva segitiga, kurva trapesium, dan lain sebagainya [3]. Selain itu, cara lain untuk
menyatakan himpunan fuzzy yaitu menggunakan potongan 𝛼. Untuk suatu bilangan 𝛼 ∈ [0,1], potongan 𝛼 dari
suatu himpunan fuzzy 𝐴̅, yang dilambangkan dengan 𝐴𝛼 , ialah suatu himpunan tegas yang memuat semua
unsur dari semesta dengan derajat keanggotaan dalam 𝐴̅ yang lebih besar atau sama dengan 𝛼 [2].
Pada penelitian sebelumnya, ditemukan keterkaitan antara teori himpunan fuzzy dengan teori latis.
dimulai pada tahun 1971, A. Rosenfeld memperluas gagasan teori grup untuk memperkenalkan suatu disiplin
baru yaitu grup fuzzy. Percobaan serupa menghasilkan teori latis dibawa oleh B. Yung dan W. Wu pada tahun
1990. Setelah itu N. Ajmal dan K.V. Thomas secara sistematis mengembangkan teori dari fuzzy sublatis [4].
Pada tahun 2012, Latha [Link] melakukan penelitian mengenai aplikasi himpunan fuzzy dalam teori latis.
Kemudian terakhir pada tahun 2015, Takashi Mitsuishi dan Grzegorz Bancerek meneliti mengenai latis pada
himpunan fuzzy.
Penelitian mengenai himpunan fuzzy dan teori latis terus menarik untuk dibahas, karena mereka
memiliki keunikan tersendiri yang menarik para peneliti untuk terus mempelajari tentang keterkaitan kedua hal
tersebut. Berdasarkan paparan penelitian terdahulu, dari Latha S. Nair yang melakukan penelitian mengenai
aplikasi dari himpunan fuzzy dalam teori latis, maka kami tertarik untuk mengetahui deskripsi operasi
himpunan fuzzy dalam teori latis.
2. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang kami gunakan pada penelitian ini yaitu studi literatur yang merupakan
serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat, serta
mengelola bahan penelitian [5]. Kami memilih metode ini, karena kami ingin mengaplikasikan definisi latis
pada operasi-operasi yang ada di himpunan fuzzy, yakni mengembangkan definisi latis yang mula-mula
berdasarkan himpunan tegas menjadi latis yang berdasarkan himpunan fuzzy.
Kami menggunakan dua literatur utama yaitu: Lattice Theory, Foundation By. George Gr𝑎̈ tzer, dan
Fuzzy Sets dan Fuzz Logic: Theory and Applications By. George [Link] dan Bo yuan. Adapun langkah-langkah
yang akan dilakukan untuk mendeskripsikan operasi-operasi himpunan fuzzy dalam teori/definisi latis, yakni
sebagai berikut:
1. Mencari dan mengumpulkan berbagai literatur yang berkaitan dengan penelitian, baik dari buku-buku,
jurnal, internet, artikel dan sumber lain yang relevan.
2. Memahami dan mempelajari konsep teori latis, teori fuzzy dan teori pendukung lainnya.
3. Mendefinisikan fungsi karakteristik dari suatu himpunan fuzzy.
4. Mendeskripsikan definisi dan sifat operasi himpunan fuzzy.
5. Menerapkan teori latis sebagai aljabar pada operasi himpunan fuzzy.
6. Membuat kesimpulan dari pembahasan
1. Himpunan Fuzzy A:
Prosiding Seminar Nasional Integrasi Matematika dan Nilai Islami Vol.3, No.1, September 2019
p-ISSN: 2580-4596; e-ISSN: 2580-460X 45
2. Himpunan Fuzzy B:
𝑥−𝑔
, 𝑔≤𝑥<ℎ
ℎ−𝑔
𝑓(𝑥) = 𝑖 − 𝑥
, ℎ≤𝑥≤𝑖
𝑖−ℎ
{ 0, 𝑥 ≤ 𝑔 atau 𝑥 ≥ 𝑖
𝑥−𝑔 𝑖−𝑥
Dengan menyatakan 𝛼 = (ℎ
maka diperoleh 𝑥 = − 𝑔)𝛼 + 𝑔 dan 𝛼 = diperoleh 𝑥 = 𝑖 −
ℎ−𝑔 𝑖−ℎ
(𝑖 − ℎ)𝛼, dapat dinyatakan dalam 𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 𝐶 untuk 𝛼 ∈ [0,1], yaitu
𝐶𝛼 = [(ℎ − 𝑔)𝛼 + 𝑔, 𝑖 − (𝑖 − ℎ)𝛼].
Untuk sebarang dua himpunan fuzzy 𝐴𝛼 dan 𝐵𝛼 . Didefinisikan operasi irisan dan gabungan dari
himpunan fuzzy sebagai berikut
(𝐴𝛼 ∩ 𝐵𝛼 )(𝑥) = min[𝐴𝛼 (𝑥), 𝐵𝛼 (𝑥)] (3.1)
Misalkan ℛ menotasikan himpunan semua himpunan fuzzy. Maka operasi irisan dan gabungan
merupakan suatu fungsi dengan bentuk ℛ × ℛ → ℛ. Teorema berikut yang menetapkan sifat-sifat dasar dari
operasi irisan dan gabungan, serta memastikan bahwa (ℛ,∩,∪) merupakan latis, yang mana ∩ dan ∪ masing-
masing merepresentasikan join dan meet.
Teorema 3.1. Misalkan ∩ dan ∪ merupakan operasi biner pada ℛ yang masing-masing telah
didefinisikan oleh (4.1) dan (4.2). Maka untuk suatu 𝐴𝛼 , 𝐵𝛼 , dan 𝐶𝛼 ∈ ℛ, (ℛ,∩,∪) adalah latis yang memenuhi
sifat-sifat berikut:
(a.) 𝐴𝛼 ∩ 𝐵𝛼 = 𝐵𝛼 ∩ 𝐴𝛼 ,
𝐴𝛼 ∪ 𝐵𝛼 = 𝐵𝛼 ∪ 𝐴𝛼 (komutatif).
(b.) (𝐴𝛼 ∩ 𝐵𝛼 ) ∩ 𝐶𝛼 = 𝐴𝛼 ∩ (𝐵𝛼 ∩ 𝐶𝛼 ),
(𝐴𝛼 ∪ 𝐵𝛼 ) ∪ 𝐶𝛼 = 𝐴𝛼 ∪ (𝐵𝛼 ∪ 𝐶𝛼 ) (Asosiatif).
(c.) 𝐴𝛼 ∩ 𝐴𝛼 = 𝐴𝛼 ,
𝐴𝛼 ∪ 𝐴𝛼 = 𝐴𝛼 (Idempoten).
(d.) 𝐴𝛼 ∩ (𝐴𝛼 ∪ 𝐵𝛼 ) = 𝐴𝛼 ,
𝐴𝛼 ∪ (𝐴𝛼 ∩ 𝐵𝛼 ) = 𝐴𝛼 (Absorpsi).
Prosiding Seminar Nasional Integrasi Matematika dan Nilai Islami Vol.3, No.1, September 2019
p-ISSN: 2580-4596; e-ISSN: 2580-460X 47
𝑥 4−𝑥
Dengan menyatakan 𝛼 = diperoleh 𝑥 = 2𝛼 dan 𝛼 = diperoleh 𝑥 = 4 − 2𝑎, dapat dinyatakan dalam
2 2
̌
𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 2 untuk 𝛼 ∈ [0,1] yaitu,
2𝛼 = [2𝑎, 4 − 2𝑎]
Sedangkan
𝑥 − 2 ,2 ≤ 𝑥 ≤ 3
𝜇3̌ (𝑥) = segitiga (𝑥; 2,3,4) = { 4 − 𝑥 , 3 ≤ 𝑥 ≤ 4
0 , 𝑥 < 2 atau 𝑥 ≥ 4
Dengan menyatakan 𝑎 = 𝑥 − 2 diperoleh 𝑥 = 𝑎 + 2 dan 𝑎 = 4 − 𝑥 diperoleh 𝑥 = 4 − 𝑎, dapat dinyatakan
dalam 𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 3̃ untuk 𝑎 ∈ [0,1] yaitu
3𝛼 = [𝑎 + 2, 4 − 𝑎].
Maka:
2𝛼 ∩ 3𝛼 = [2𝛼 , 4 − 2𝛼] ∩ [𝛼 + 2 , 4 − 𝛼]
= [min[[2𝛼 , 4 − 2𝛼], [𝛼 + 2 , 4 − 𝛼]]]
= [min[2𝛼, 𝛼 + 2], min[4 − 2𝛼, 4 − 𝛼]]
Dapat diketahui min[2𝛼, 𝛼 + 2] yaitu 2𝛼 untuk 𝛼 ∈ [0,1] dan min[4 − 2𝛼, 4 − 𝛼] yaitu 4 − 2𝛼 untuk
𝛼 ∈ [0,1].
Sehingga
2𝛼 ∩ 3𝛼 = {2𝛼, 4 − 2𝛼}
Kemudian
3𝛼 ∩ 2𝛼 = [𝑎 + 2 , 4 − 𝑎] ∩ [2𝑎, 4 − 2𝑎]
= min[[𝑎 + 2 , 4 − 𝑎], [2𝑎, 4 − 2𝑎]]
= min[𝛼 + 2 , 2𝛼] , min[4 − 𝛼, 4 − 2𝛼]
Telah diketahui min[𝛼 + 2, 2𝛼] yaitu 2𝛼 untuk 𝛼 ∈ [0,1] dan min[4 − 𝛼, 4 − 2𝛼] yaitu 4 − 2𝛼 untuk
𝛼 ∈ [0,1].
Dengan demikian diperoleh
3𝛼 ∩ 2𝛼 = {𝛼 + 2, 4 − 𝛼}
Maka terbukti 2𝛼 ∩ 3𝛼 = 3𝛼 ∩ 2𝛼 .
Sedangkan
𝑥 − 2 ,2 ≤ 𝑥 ≤ 3
𝜇3̌ (𝑥) = segitiga (𝑥; 2,3,4) = { 4 − 𝑥 , 3 ≤ 𝑥 ≤ 4
0 , 𝑥 < 2 atau 𝑥 ≥ 4
Dengan menyatakan 𝛼 = 𝑥 − 2 diperoleh 𝑥 = 𝛼 + 2 dan 𝛼 = 4 − 𝑥 diperoleh 𝑥 = 4 − 𝛼, dapat dinyatakan
dalam 𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 3̃ untuk 𝛼 ∈ [0,1] yaitu
3𝛼 = [𝛼 + 2, 4 − 𝛼].
Maka dapat diperoleh
2𝛼 ∪ 3𝛼 = [2𝛼 , 4 − 2𝛼] ∪ [𝛼 + 2 , 4 − 𝛼]
= [max[[2𝛼 , 4 − 2𝛼], [𝛼 + 2 , 4 − 𝛼]]]
= [max[2𝛼, 𝛼 + 2], max[4 − 2𝛼, 4 − 𝛼]]
Diketahui max[2𝛼, 𝛼 + 2] yaitu 𝛼 + 2 untuk 𝛼 ∈ [0,1] dan max[4 − 2𝛼, 4 − 𝛼] yaitu 4 − 𝛼 untuk
𝛼 ∈ [0,1].
Sehingga
2𝛼 ∪ 3𝛼 = {𝛼 + 2, 4 − 𝛼}.
Kemudian
3𝛼 ∪ 2𝛼 = [𝛼 + 2 , 4 − 𝑎] ∪ [2𝛼, 4 − 2𝛼]
= max[[𝛼 + 2 , 4 − 𝛼], [2𝛼, 4 − 2𝛼]]
= max[𝛼 + 2 , 2𝛼] , max[4 − 𝛼, 4 − 2𝛼]
Diketahui max[𝛼 + 2, 2𝛼] yaitu 𝛼 + 2 jika 𝛼 ∈ [0,1] dan max[4 − 𝛼, 4 − 2𝛼] yaitu 4 − 𝛼 jika 𝛼 ∈
[0,1].
Sehingga
3𝛼 ∪ 2𝛼 = {𝛼 + 2, 4 − 𝛼}
Dengan demikian terbukti 2𝛼 ∪ 3𝛼 = 3𝛼 ∪ 2𝛼 .
Prosiding Seminar Nasional Integrasi Matematika dan Nilai Islami Vol.3, No.1, September 2019
p-ISSN: 2580-4596; e-ISSN: 2580-460X 49
1𝛼 = [𝛼, 2 − 𝛼].
𝑥
,0 ≤ 𝑥 ≤ 2
2
𝜇2̃ (𝑥) = segitiga (𝑥; 0,2,4) = 4−𝑥
,2 ≤ 𝑥 ≤ 4
2
{0 𝑥 ≤ 0 atau 𝑥 ≥ 4,
𝑥 4−𝑥
Dengan menyatakan 𝑎 = diperoleh 𝑥 = 2𝑎 dan 𝑎 = diperoleh 𝑥 = 4 − 2𝑎, dapat dinyatakan dalam
2 2
𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 2̌ untuk 𝛼 ∈ [0,1] yaitu,
2𝛼 = [2𝑎, 4 − 2𝑎]
Sedangkan
𝑥 − 2 ,2 ≤ 𝑥 ≤ 3
𝜇3̌ (𝑥) = segitiga (𝑥; 2,3,4) = { 4 − 𝑥 , 3 ≤ 𝑥 ≤ 4
0 , 𝑥 < 2 atau 𝑥 ≥ 4
Dengan menyatakan 𝑎 = 𝑥 − 2 diperoleh 𝑥 = 𝑎 + 2 dan 𝑎 = 4 − 𝑥 diperoleh 𝑥 = 4 − 𝑎, dapat dinyatakan
dalam 𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 3̃ untuk 𝑎 ∈ [0,1] yaitu
3𝛼 = [𝑎 + 2, 4 − 𝑎].
(1𝛼 ∩ 2𝛼 ) ∩ 3𝛼 = [[𝛼 , 2 − 𝛼] ∩ [2𝑎, 4 − 2𝑎]] ∩ [𝑎 + 2, 4 − 𝑎]
= min[min[[𝛼 , 2 − 𝛼], [2𝑎, 4 − 2𝑎]], [𝑎 + 2, 4 − 𝑎]]
= min[[min[𝛼, 2𝛼], min[2 − 𝛼, 4 − 2𝛼]], [𝛼 + 2 , 4 − 𝛼]]
= [min[min[𝛼, 2𝛼] , 𝛼 + 2] , min[min[2 − 𝛼, 4 − 2𝛼] ,4 − 𝛼]]
= [min[𝛼, 2𝛼, 𝛼 + 2] , min[2 − 𝛼 ,4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]
Dapat diketahui max[α,2𝛼, 𝛼 + 2] yaitu 𝛼 untuk 𝛼 ∈ [0,1] dan max[2-α, 4 − 2𝛼, 4 − 𝛼] yaitu 2 − 𝛼
untuk 𝛼 ∈ [0,1].
Sehingga
(1𝛼 ∩ 2𝛼 ) ∩ 3𝛼 = {𝛼, 2 − 𝛼}
Kemudian,
1𝛼 ∩ (2𝛼 ∩ 3𝛼 ) = [𝛼 , 2 − 𝛼] ∩ [[2𝑎, 4 − 2𝑎] ∩ [𝑎 + 2, 4 − 𝑎]]
= min [[𝛼 , 2 − 𝛼] ,min[[2𝛼, 4 − 2𝛼], [𝑎 + 2, 4 − 𝑎]]]
= min[[𝛼 , 2 − 𝛼], [min[2𝛼 , 𝛼 + 2], min[4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]]
= [min[𝛼, min[2𝛼 , 𝛼 + 2]], min[2 − 𝛼 , min[4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]]
= [min[𝛼, 2𝛼, 𝛼 + 2] , min[2 − 𝛼 ,4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]
Dapat diketahui max[α,2𝛼, 𝛼 + 2] yaitu 𝛼 jika 𝛼 ∈ [0,1] dan max[2-α, 4 − 2𝛼, 4 − 𝛼] yaitu 2 − 𝛼
jika 𝛼 ∈ [0,1].
Sehingga
1𝛼 ∩ (2𝛼 ∩ 3𝛼 ) = {𝛼, 2 − 𝛼}.
Dengan demikian terbukti bahwa (1𝛼 ∩ 2𝛼 ) ∩ 3𝛼 = 1𝛼 ∩ (2𝛼 ∩ 3𝛼 ).
= max[𝐴𝛼 , max[𝐵𝛼 , 𝐶𝛼 ]]
= 𝐴𝛼 ∪ (𝐵𝛼 ∪ 𝐶𝛼 )
Dengan demikian terbukti bahwa operasi gabungan bersifat asosiatif.
Contoh 3.4:
Misalkan bilangan fuzzy 1, ̃ 2̃ dan 3̃ mempunyai fungsi keanggotaan segitiga sebagai berikut:
𝑥 ,0 ≤ 𝑥 ≤ 1
𝜇1,̃ (𝑥) = segitiga (𝑥; 0,1,2) = { 2 − 𝑥 , 1 ≤ 𝑥 ≤ 2
0 , 𝑥 ≤ 0 atau 𝑥 ≥ 2
Dengan menyatakan 𝛼 = 𝑥 diperoleh 𝑥 = 𝛼 dan 𝛼 = 2 − 𝑥 diperoleh 𝑥 = 2 − 𝛼. Sehingga dapat
dinyatakan dalam 𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 2̌ untuk 𝛼 ∈ [0,1] yaitu,
1𝛼 = [𝛼, 2 − 𝛼]
Selanjutnya,
𝑥
,0 ≤ 𝑥 ≤ 2
2
𝜇2̃ (𝑥) = segitiga (𝑥; 0,2,4) = 4−𝑥
,2 ≤ 𝑥 ≤ 4
2
{0 𝑥 ≤ 0 atau 𝑥 ≥ 4,
𝑥 4−𝑥
Dengan menyatakan 𝑎 = diperoleh 𝑥 = 2𝑎 dan 𝑎 = diperoleh 𝑥 = 4 − 2𝑎, dapat dinyatakan dalam
2 2
𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 2̌ untuk 𝛼 ∈ [0,1] yaitu,
2𝛼 = [2𝑎, 4 − 2𝑎]
Sedangkan
𝑥 − 2 ,2 ≤ 𝑥 ≤ 3
𝜇3̌ (𝑥) = segitiga (𝑥; 2,3,4) = { 4 − 𝑥 , 3 ≤ 𝑥 ≤ 4
0 , 𝑥 < 2 atau 𝑥 ≥ 4
Dengan menyatakan 𝑎 = 𝑥 − 2 diperoleh 𝑥 = 𝑎 + 2 dan 𝑎 = 4 − 𝑥 diperoleh 𝑥 = 4 − 𝑎, dapat dinyatakan
dalam 𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 3̃ untuk 𝑎 ∈ [0,1] yaitu
3𝛼 = [𝑎 + 2, 4 − 𝑎].
(1𝛼 ∪ 2𝛼 ) ∪ 3𝛼 = [[𝛼 , 2 − 𝛼] ∪ [2𝑎, 4 − 2𝑎]] ∪ [𝑎 + 2, 4 − 𝑎]
= max[max[[𝛼 , 2 − 𝛼], [2𝑎, 4 − 2𝑎]], [𝑎 + 2, 4 − 𝑎]]
= max[[max[𝛼, 2𝛼], max[2 − 𝛼, 4 − 2𝛼]], [𝛼 + 2 , 4 − 𝛼]]
= [max[max[𝛼, 2𝛼] , 𝛼 + 2] , max[max[2 − 𝛼, 4 − 2𝛼] ,4 − 𝛼]]
= [max[𝛼, 2𝛼, 𝛼 + 2] , max[2 − 𝛼 ,4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]
Dapat diketahui max[α,2𝛼, 𝛼 + 2] yaitu 𝛼 + 2 untuk 𝛼 ∈ [0,1] dan max[2-α, 4 − 2𝛼, 4 − 𝛼] yaitu
4 − 𝛼 untuk 𝛼 ∈ [0,1].
Sehingga
(1𝛼 ∪ 2𝛼 ) ∪ 3𝛼 = {𝛼 + 2, 4 − 𝛼}.
Kemudian,
1𝛼 ∪ (2𝛼 ∪ 3𝛼 ) = [𝑥 , 2 − 𝛼] ∪ [[2𝑎, 4 − 2𝑎] ∪ [𝑎 + 2, 4 − 𝑎]]
= max [[𝛼 , 2 − 𝛼] ,max[[2𝛼, 4 − 2𝛼], [𝑎 + 2, 4 − 𝑎]]]
= max[[𝛼 , 2 − 𝛼], [max[2𝛼 , 𝛼 + 2], max[4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]]
= [max[𝛼, max[2𝛼 , 𝛼 + 2]], max[2 − 𝛼 , max[4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]]
= [max[𝛼, 2𝛼, 𝛼 + 2] , max[2 − 𝛼 ,4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]
Dapat diketahui max[α,2𝛼, 𝛼 + 2] yaitu 𝛼 + 2 jika 𝛼 ∈ [0,1] dan max[2-α, 4 − 2𝛼, 4 − 𝛼] yaitu 4 −
𝛼 jika 𝛼 ∈ [0,1].
Sehingga diperoleh
1𝛼 ∪ (2𝛼 ∪ 3𝛼 ) = {𝛼 + 2, 4 − 𝛼}.
Dengan demikian terbukti bahwa (1𝛼 ∪ 2𝛼 ) ∪ 3𝛼 = 1𝛼 ∪ (2𝛼 ∪ 3𝛼 ).
Prosiding Seminar Nasional Integrasi Matematika dan Nilai Islami Vol.3, No.1, September 2019
p-ISSN: 2580-4596; e-ISSN: 2580-460X 51
𝐴𝛼 ∩ 𝐴𝛼 = min[𝐴𝛼 , 𝐴𝛼 ]
= min[[𝑥, 𝑦], [𝑥, 𝑦]]
= [min[𝑥, 𝑥],min[𝑦, 𝑦]]
= [𝑥, 𝑦]
= 𝐴𝛼
Dengan demikian, terbukti bahwa operasi irisan bersifat idempoten.
Contoh 3.5:
Misalkan bilangan fuzzy 2̃ mempunyai fungsi keanggotaan segitiga sebagai berikut:
𝑥
,0 ≤ 𝑥 ≤ 2
2
𝜇2̃ (𝑥) = segitiga (𝑥; 0,2,4) = 4−𝑥
,2 ≤ 𝑥 ≤ 4
2
{0 𝑥 ≤ 0 atau 𝑥 ≥ 4,
𝑥 4−𝑥
Dengan menyatakan 𝑎 = diperoleh 𝑥 = 2𝑎 dan 𝑎 = diperoleh 𝑥 = 4 − 2𝑎, dapat dinyatakan dalam
2 2
𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 2̌ untuk 𝛼 ∈ [0,1] yaitu,
2𝛼 = [2𝑎, 4 − 2𝑎]
2𝛼 ∩ 2𝛼 = [2𝑎, 4 − 2𝑎] ∩ [2𝑎, 4 − 2𝑎]
= min[[2𝑎, 4 − 2𝑎] , [2𝑎, 4 − 2𝑎]]
= [min[2𝛼, 2𝛼] , min[4 − 2𝛼 , 4 − 2𝛼]]
= [2𝑎, 4 − 2𝑎]
= 2𝛼 .
Dengan demikian, terbukti bahwa 2𝛼 ∪ 2𝛼 = 2𝛼 .
Untuk setiap himpunan fuzzy 𝐴𝛼 dan 𝐵𝛼 dengan fungsi keanggotaan segitiga, maka berlaku 𝐴𝛼 ∩
(𝐴𝛼 ∪ 𝐵𝛼 ) = 𝐴𝛼 .
Bukti.
Ambil sebarang 𝐴𝛼 , 𝐵𝛼 ∈ ℛ dengan 𝐴𝛼 = [(𝑏 − 𝑎)𝛼 + 𝑎, 𝑐 − (𝑐 − 𝑏)𝛼] dan 𝐵𝛼 =
[(𝑒 − 𝑑)𝛼 + 𝑑, 𝑓 − (𝑓 − 𝑒)𝛼] dimana 𝑎, 𝑏, 𝑐, 𝑑, 𝑒, 𝑓 ∈ ℝ.
Misalkan
(𝑏 − 𝑎)𝛼 + 𝑎 = 𝑥
𝑐 − (𝑐 − 𝑏)𝛼 = 𝑦
(𝑒 − 𝑑)𝛼 + 𝑑 = 𝑧
𝑓 − (𝑓 − 𝑒)𝛼 = 𝑤
Dimana 𝑥, 𝑦, 𝑧, 𝑤 ∈ ℝ, maka
𝐴𝛼 ∩ (𝐴𝛼 ∪ 𝐵𝛼 ) = min[𝐴𝛼 ,max[𝐴𝛼 , 𝐵𝛼 ]]
= min[[𝑥, 𝑦],max[[𝑥, 𝑦], [𝑧, 𝑤]]
= min [[𝑥, 𝑦], [max[𝑥, 𝑧],max[𝑦, 𝑤]]]
= [min[𝑥,max[𝑥, 𝑧]],min[𝑦,max[𝑦, 𝑤]]]
= [𝑥, 𝑦]
= 𝐴𝛼
Dengan demikian, terbukti bahwa operasi irisan bersifat absorpsi.
Contoh 3.7:
Misalkan bilangan fuzzy 2̃ dan 3̃ mempunyai fungsi keanggotaan segitiga sebagai berikut:
𝑥−2
,0 ≤ 𝑥 ≤ 2
2
𝜇2̃ (𝑥) = segitiga (𝑥; 0,2,4) = 4−𝑥
,2 ≤ 𝑥 ≤ 4
2
{0 𝑥 ≤ 0 atau 𝑥 ≥ 4,
𝑥 4−𝑥
Dengan menyatakan 𝑎 = diperoleh 𝑥 = 2𝑎 dan 𝑎 = diperoleh 𝑥 = 4 − 2𝑎, dapat dinyatakan dalam
2 2
̌
𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 2 untuk 𝛼 ∈ [0,1] yaitu,
2𝛼 = [2𝑎, 4 − 2𝑎]
Sedangkan
𝑥 − 2 ,2 ≤ 𝑥 ≤ 3
𝜇3̌ (𝑥) = segitiga (𝑥; 2,3,4) = { 4 − 𝑥 , 3 ≤ 𝑥 ≤ 4
0 , 𝑥 < 2 atau 𝑥 ≥ 4
Dengan menyatakan 𝑎 = 𝑥 − 2 diperoleh 𝑥 = 𝑎 + 2 dan 𝑎 = 4 − 𝑥 diperoleh 𝑥 = 4 − 𝑎, dapat dinyatakan
dalam 𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 3̃ untuk 𝑎 ∈ [0,1] yaitu
3𝛼 = [𝑎 + 2, 4 − 𝑎].
Maka
2𝛼 ∩ (2𝛼 ∪ 3𝛼 ) = min[[2𝑎, 4 − 2𝑎] , [max[2𝑎, 4 − 2𝑎], [𝑎 + 2, 4 − 𝑎]]
= min[2𝛼 ,4 − 2𝛼], [max[2𝛼 , 𝛼 + 2], max[4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]
= min[2𝛼 , max[2𝛼, 𝛼 + 2]] ,min[[4 − 2𝛼 , max[4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]
Dari uraian tersebut, maka dapat diketahui max[2𝛼, 𝛼 + 2] yaitu 𝛼 + 2 jika 𝛼 ∈ [0,1] dan max[4 − 2𝛼, 4 −
𝛼] yaitu 4 − 𝛼 jika 𝛼 ∈ [0,1]. Serta min[2𝛼, 𝛼 + 2] yaitu 2𝛼 jika 𝛼 ∈ [0,1] dan min[4 − 2𝛼, 4 − 𝛼] yaitu
4 − 2𝛼 jika 𝛼 ∈ [0,1].
Sehingga
2𝛼 ∩ (2𝛼 ∪ 3𝛼 ) = [min[2𝛼 , 𝛼 + 2] , min[4 − 2𝛼 , 4 − 𝛼]]
= [2𝛼 , 4 − 2𝛼]
= 2𝛼.
Dengan demikian dapat terbukti bahwa 2𝛼 ∩ (2𝛼 ∪ 3𝛼 ) = 2𝛼 bersifat absorpsi terhadap operasi gabungan.
Prosiding Seminar Nasional Integrasi Matematika dan Nilai Islami Vol.3, No.1, September 2019
p-ISSN: 2580-4596; e-ISSN: 2580-460X 53
𝑐 − (𝑐 − 𝑏)𝛼 = 𝑦
(𝑒 − 𝑑)𝛼 + 𝑑 = 𝑧
𝑓 − (𝑓 − 𝑒)𝛼 = 𝑤
Dimana 𝑥, 𝑦, 𝑧, 𝑤 ∈ ℝ, maka
𝐴𝛼 ∪ (𝐴𝛼 ∩ 𝐵𝛼 ) = max[𝐴𝛼 ,min[𝐴𝛼 , 𝐵𝛼 ]]
= max[[𝑥, 𝑦],min[[𝑥, 𝑦], [𝑧, 𝑤]]
= max [[𝑥, 𝑦], [min[𝑥, 𝑧],max[𝑦, 𝑤]]]
= [max[𝑥,min[𝑥, 𝑧]],max[𝑦,min[𝑦, 𝑤]]]
= [𝑥, 𝑦]
= Aα
Dengan demikian, terbukti bahwa operasi gabungan bersifat absorpsi.
Contoh 3.8:
Misalkan bilangan fuzzy 2̃ dan 3̃ mempunyai fungsi keanggotaan segitiga sebagai berikut:
𝑥
,0 ≤ 𝑥 ≤ 2
2
𝜇2̃ (𝑥) = segitiga (𝑥; 0,2,4) = 4−𝑥
,2 ≤ 𝑥 ≤ 4
2
{0 𝑥 ≤ 0 atau 𝑥 ≥ 4,
𝑥 4−𝑥
Dengan menyatakan 𝛼 = diperoleh 𝑥 = 2𝛼 dan 𝛼 = diperoleh 𝑥 = 4 − 2𝛼, dapat dinyatakan dalam
2 2
𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 2̌ untuk 𝛼 ∈ [0,1] yaitu,
2𝛼 = [2𝛼, 4 − 2𝛼]
Sedangkan
𝑥 − 2 ,2 ≤ 𝑥 ≤ 3
𝜇3̌ (𝑥) = segitiga (𝑥; 2,3,4) = { 4 − 𝑥 , 3 ≤ 𝑥 ≤ 4
0 , 𝑥 < 2 atau 𝑥 ≥ 4
Dengan menyatakan 𝛼 = 𝑥 − 2 diperoleh 𝑥 = 𝛼 + 2 dan 𝛼 = 4 − 𝑥 diperoleh 𝑥 = 4 − 𝛼, dapat dinyatakan
dalam 𝛼 − 𝑐𝑢𝑡 dari 3̃ untuk 𝛼 ∈ [0,1] yaitu
3𝛼 = [𝛼 + 2, 4 − 𝛼].
Maka
2𝛼 ∪ (2𝛼 ∩ 3𝛼 ) = max[[2𝛼, 4 − 2𝛼] , [min[2𝛼, 4 − 2𝛼], [𝛼 + 2, 4 − 𝛼]]
= max[[2𝛼, 4 − 2𝛼] , [min[2𝛼 , 𝛼 + 2], min[4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]]
= [max[2𝛼 , min[2𝛼, 𝛼 + 2]] ,max[[4 − 2𝛼 , min[4 − 2𝛼 ,4 − 𝛼]]]
Dapat diketahui min[2𝛼, 𝛼 + 2] yaitu 2𝛼 jika 𝛼 ∈ [0,1] dan min[4 − 2𝛼, 4 − 𝛼] yaitu 4 − 2𝛼 jika 𝛼 ∈ [0,1].
Sehingga
2𝛼 ∪ (2𝛼 ∩ 3𝛼 ) = [max[2𝛼 , 2𝛼] , max[4 − 2𝛼 , 4 − 2𝛼]]
= [2𝛼 , 4 − 2𝛼]
= 2𝛼 .
Dengan demikian dapat terbukti bahwa 2𝛼 ∪ (2𝛼 ∩ 3𝛼 ) = 2𝛼 bersifat absorpsi terhadap operasi irisan.
Sehingga, Teorema 3.1 terbukti benar bahwa jika ℛ merupakan himpunan semua himpunan fuzzy, ia
merupakan latis dengan dua operasi biner ∩ dan ∪ yang memenuhi 4 (empat) sifat yang telah dibuktikan.
4. KESIMPULAN
Dari penelitian ini, terbukti bahwa himpunan fuzzy secara fungsi keanggotaan segitiga dengan dua
operasi irisan dan gabungan merupakan latis yang memenuhi sifat-sifat dalam teori latis, yaitu:
(e.) 𝐴𝛼 ∩ 𝐵𝛼 = 𝐵𝛼 ∩ 𝐴𝛼 ,
𝐴𝛼 ∪ 𝐵𝛼 = 𝐵𝛼 ∪ 𝐴𝛼 (komutatif).
(f.) (𝐴𝛼 ∩ 𝐵𝛼 ) ∩ 𝐶𝛼 = 𝐴𝛼 ∩ (𝐵𝛼 ∩ 𝐶𝛼 ),
(𝐴𝛼 ∪ 𝐵𝛼 ) ∪ 𝐶𝛼 = 𝐴𝛼 ∪ (𝐵𝛼 ∪ 𝐶𝛼 ) (Asosiatif).
(g.) 𝐴𝛼 ∩ 𝐴𝛼 = 𝐴𝛼 ,
𝐴𝛼 ∪ 𝐴𝛼 = 𝐴 𝛼 (Idempoten).
(h.) 𝐴𝛼 ∩ (𝐴𝛼 ∪ 𝐵𝛼 ) = 𝐴𝛼 ,
𝐴𝛼 ∪ (𝐴𝛼 ∩ 𝐵𝛼 ) = 𝐴𝛼 (Absorpsi).
Dengan demikian, dapat dikatakan deskripsi operasi himpunan fuzzy dalam teori latis merupakan
operasi himpunan yang dapat dinyatakan ke dalam empat sifat tersebut.
5. UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Ibu Evawati Alisah yang mendampingi penelitian ini
hingga selesai. Serta kepada pihak penyelenggara simanis yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk
dapat mempublikasikan tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Grätzer, George. 2010. Lattice Theory: Fundamental. Berlin: Birkhäuser.
[2] Susilo, Frans. 2006. Himpunan dan Logika Kabur serta Aplikasinya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
[3] Kusumadewi, Sri dan Hari, Purnomo. 2010. “Aplikasi Logika Fuzzy”, Cetakan Pertama. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
[4] Nair, Latha S. Applications of Fuzzy Sets on Lattice Theory. Vol. 2012. Artikel 8 halaman.
[5] Neyman, Shelvie N. 2012. [Link] Diakses pada tanggal 15 Maret 2019.
Prosiding Seminar Nasional Integrasi Matematika dan Nilai Islami Vol.3, No.1, September 2019