Jumat, 26 April 2024
KLUB
Pengulas:
Achmad R. Renhoran
An Nur Fahira
BACA
Moderator:
Aloysius Gilang Andretti RADIO BUKU
Buku edisi kali ini, Coy!
Semua Untuk sebagai penulis yang patut diperhatikan. Satu nama yang seringkali luput, Savitri
Scherer (Lanjut: Savitri). Saya mengenal Savitri lewat karyanya Pramoedya Ananta
Toer Dari Budaya Ke Politik. Buku itu mengulas dan membenturkan realistas dan
karya sastra buatan Pram. Dari kumpulan cerpen Cerita Dari Blora sampai Bumi
Manusia.
Bendoro Bukan itu saja sumbangsih Savitri. Ia turut mengumpulkan Gadis
Pantai yang berserak. Sebab, novel tersebut mula-mula dalam cerita
bersambung di Bintang Timur – surat kabar yang Kiri. Beruntung, karya itu
tidak habis dilalap kekuasaan. Sebab, Australia National University
Oleh: Aloysius Gilang Andretti menyimpannya. Beruntung pula Savitri menjadikannya sebagai bahan
disertasi yang kelak menjadi buku terbitan Komunitas Bambu tersebut.
Gadis Pantai baru berumur 14 tahun ketika dikersakke (diingini) oleh Savitri kemudian menyerahkan kumpulan cerita bersambung itu
pembesar bumiputera. Ia hidup pada pergantian abad, 19 ke 20, artinya zaman kepada Pram. Hingga kemudian terbitlah buku bersampul didominasi
modern mulai merasuk ke Hindia Belanda. Gaya bahasa dan diksi yang warna biru tua. Lengkap dengan sketsa seorang gadis berambut panjang,
dituturkan Pram indah, Dan tidak diketahuinya – di antara derai ombak abadi bermata belo, terbitan Hasta Mitra. Justru terbitan pertamanya tahun
suling angin dan datang perginya perahu, seseorang telah mencatatnya dalam 1970 dengan bahasa Rusia. Besar kemungkinan Soviet menyimpan
hatinya. Bintang Timur sehingga, bisa diterbitkan terlebih dahulu.
Dengan demikian, jalan hidup Gadis Pantai berubah total. Ia bukan Kini Warung Arsip menyimpan dokumentasi perjalanan Savitri
lagi gadis yang tinggal di perkampungan nelayan yang reyot, jorok, dan menekuni Pram dalam bentuk rekaman suara. Rekaman suara itu diberi
kumuh. Bukan pula gadis yang dengan sesuka hati bapak dan ibunya, judul Savitri Scherer, Meneliti Karya Awal Pram (Suara Buku Vol 23).
dapat diperlakukan. Gadis Pantai juga bukan seorang individu yang
bebas merdeka bertindak dan berbuat semau hatinya. Semua di atur Dari Reforma Agraria Sampai Soal Priyayi
sesuai dengan kuasa yang ada di atasnya.
Cerita bersambung Gadis Pantai yang terbit pertama kali
Tugas Gadis Pantai tidak lagi menumbuk rebon jadi terasi bertitimangsa 1962 hingga 1965. Apa yang terjadi saat itu?
atau menunggu bapaknya pulang melaut. Kini hanya satu, Mengapa Pram mencurahkan banyak sentimen negatif pada
melayani Bendoro sambil menunggu datangnya jabang bayi. golongan priyayi?
Gadis Pantai tindas semua keinginan dan kehendak hatinya
Tahun 1960-an di Indonesia diwarnai gejolak dan
demi pengabdian yang paripurna. Ia tak sendirian, namun
dinamika tak berkesudahan. Salah satu kalimat menyita
dibantu dua tokoh lainnya, Simbok Tua dan Mardinah.
perhatian saya, khusunya soal tanah. Pram membandingkan
Simbok Tua berperan ganda, abdi sekaligus figur ibu halaman belakang kediaman Bendoro dengan luas kampung
Gadis Pantai. Lebih-lebih setelah kuasa merenggut ibunya. nelayan (Hlm. 40). Sentimen yang akan semakin terasa tatkala
Simbok Tua tak bertahan lama, ia diusir digantikan Mardinah. tanah yang begitu luas dikuasai segilintir orang saja.
Seorang perempuan muda yang menanggung ambisi besar
Konteksnya hampir bebarengan terbitnya UU No. 5
dirinya sendiri. Melalui empat tokoh itu, plot bergerak walaupun
Tahun 1960 atau dikenal sebagai Undang-Undang Pokok
sudah dibocorkan pada pertengahan cerita.
Agraria (UUPA). UUPA merupakan angin segar bagi Partai
Komunis Indonesia (PKI) yang sebagaian besar didukung
Bukan Cuma Pramoedya Ananta Toer Semata petani dan petani penggarap. Tidak hanya tanah negara –
Bukan hanya Pramoedya Ananta Toer (Lanjut: Pram) yang sesuai ketentuan UUPA – yang dibagikan kepada petani.
sebagai penulis yang patut diperhatikan. Satu nama yang seringkali luput, Savitri
Scherer (Lanjut: Savitri). Saya mengenal Savitri lewat karyanya Pramoedya Ananta
Toer Dari Budaya Ke Politik. Buku itu mengulas dan membenturkan realistas dan
karya sastra buatan Pram. Dari kumpulan cerpen Cerita Dari Blora sampai Bumi
Manusia.
Bukan itu saja sumbangsih Savitri. Ia turut mengumpulkan Gadis
Pantai yang berserak. Sebab, novel tersebut mula-mula dalam cerita
bersambung di Bintang Timur – surat kabar yang Kiri. Beruntung, karya itu
tidak habis dilalap kekuasaan. Sebab, Australia National University
menyimpannya. Beruntung pula Savitri menjadikannya sebagai bahan
disertasi yang kelak menjadi buku terbitan Komunitas Bambu tersebut.
Savitri kemudian menyerahkan kumpulan cerita bersambung itu
kepada Pram. Hingga kemudian terbitlah buku bersampul didominasi
warna biru tua. Lengkap dengan sketsa seorang gadis berambut panjang,
bermata belo, terbitan Hasta Mitra. Justru terbitan pertamanya tahun
1970 dengan bahasa Rusia. Besar kemungkinan Soviet menyimpan
Bintang Timur sehingga, bisa diterbitkan terlebih dahulu.
Kini Warung Arsip menyimpan dokumentasi perjalanan Savitri
menekuni Pram dalam bentuk rekaman suara. Rekaman suara itu diberi
judul Savitri Scherer, Meneliti Karya Awal Pram (Suara Buku Vol 23).
Dari Reforma Agraria Sampai Soal Priyayi
Cerita bersambung Gadis Pantai yang terbit pertama kali
bertitimangsa 1962 hingga 1965. Apa yang terjadi saat itu?
Mengapa Pram mencurahkan banyak sentimen negatif pada
golongan priyayi?
Tahun 1960-an di Indonesia diwarnai gejolak dan
dinamika tak berkesudahan. Salah satu kalimat menyita
perhatian saya, khusunya soal tanah. Pram membandingkan
halaman belakang kediaman Bendoro dengan luas kampung
nelayan (Hlm. 40). Sentimen yang akan semakin terasa tatkala
tanah yang begitu luas dikuasai segilintir orang saja.
Konteksnya hampir bebarengan terbitnya UU No. 5
Tahun 1960 atau dikenal sebagai Undang-Undang Pokok
Agraria (UUPA). UUPA merupakan angin segar bagi Partai
Komunis Indonesia (PKI) yang sebagaian besar didukung
petani dan petani penggarap. Tidak hanya tanah negara –
yang sesuai ketentuan UUPA – yang dibagikan kepada petani.
Maka novel ini dijadikan Pram sebagai persembahan untuk nenek
yang dicintai, dibanggakan dan dikagumi itu.
Membaca Gadis Pantai memberikan kesadaran baru akan
DUA WAJAH BERBEDA
pentingnya sejarah keluarga. Terlepas dari fakta sejarah, novel ini mampu
merekam semangat zaman Pram maupun neneknya. Tak hanya itu, Pram
mampu merekonstruksi ulang kehidupan di balik tembok tinggi nan rapat
golongan priyayi.
TENTANG DESA
Oleh: Achmad R. Renhoran
Sumber:
Hermawan Sulistyo. 2000. Palu Arit Di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian
“Kata orang, biar laut kasih kita makan, dia kejam bukan
Massal yang Terlupakan (1965-1966). (Jakarta: Kepustakaan Populer buatan.” - Gadis Pantai (Hlm. 64)
Gramedia).
Kuntowijoyo. 2018. Pengantar Ilmu Sejarah. (Yogyakarta: Tiara Wacana). Banyak yang sudah menguliti “Gadis Pantai” dengan pembahasan seputar
Pratika Rizki Dewi, dkk, “Posisi Arsip dan Sejarah Keluarga dalam feodalisme, feminisme, dan lain sebagainya. Lepas dari itu, di sini saya ingin mencoba
Historiografi Indonesia”, dalam Jurnal Kearsipan, Vol. 15, No. 1, 2020. membahas ihwal kesenjangan sosialnya saja. Bagian ini bisa dibilang cukup menarik
Diakses pada 20 April 2024. perhatian saya, sebab kalau dilihat-lihat, ada perbedaan pendapat yang mencuat dari
Savitri Scherer. 2019. Pramoedya A. Toer: Dari Budaya ke Politik, 1950- dua tokoh dalam novel ini terkait kesenjangan tersebut.
1965. (Depok: Komunitas Bambu). Melalui dialog Mas Nganten (Gadis Pantai) dan si mBok; sosok bujang wanita yang
bertugas mendampinginya, Pram telah mendengungkan dua suara berbeda dari
orang yang memiliki asumsi sendiri-sendiri terhadap kampungnya.
Saya melihat si mBok begitu menaruh dendam kepada desa setelah suaminya
meninggal. Dengan segala kepahitan yang dia dan sang suami alami di sana, tak
sedikit pun hasrat si mBok untuk pulang lagi ke rumah. Desa, bagi si mBok, tak
ubahnya tempat paling sial di muka bumi, tak ubahnya neraka.
Lain dengan Mas Nganten. Meski merasa bahwa hidup di kampung lebih susah di
banding kota, gadis itu justru lebih memilih untuk pulang daripada harus tinggal di
rumah Bendoro yang begitu megah. Di mana meski dianggap lebih baik dari
rumahnya di desa, rumah bendoro nyatanya tak pernah memberikan secuil pun
kebahagiaan untuknya.
“Ia rasai bagaimana dirinya seperti seekor ayam direnggut dari rumpunnya.” (Toer,
hlm. 46).
Hidup di rumah Bendoro, tak ubahnya tinggal dalam penjara. Mas Nganten merasa
tak memiliki kebebasan melakukan apa yang ia sukai. Yang mesti dilakukan adalah
menuruti apapun yang diperintah suaminya, Bendoro.
Kesetiaan Gadis Pantai Terhadap Rumahnya
Mas Nganten rupanya bukanlah orang yang mudah terpikat oleh harta. Barang-
barang mewah yang tersedia untuknya serta status 'wanita utama' yang disandangnya,
sama sekali tidak merubah pendirian Mas Nganten.
DUA WAJAH BERBEDA
TENTANG DESA
Oleh: Achmad R. Renhoran
“Kata orang, biar laut kasih kita makan, dia kejam bukan
buatan.” - Gadis Pantai (Hlm. 64)
Banyak yang sudah menguliti “Gadis Pantai” dengan pembahasan seputar
feodalisme, feminisme, dan lain sebagainya. Lepas dari itu, di sini saya ingin mencoba
membahas ihwal kesenjangan sosialnya saja. Bagian ini bisa dibilang cukup menarik
perhatian saya, sebab kalau dilihat-lihat, ada perbedaan pendapat yang mencuat dari
dua tokoh dalam novel ini terkait kesenjangan tersebut.
Melalui dialog Mas Nganten (Gadis Pantai) dan si mBok; sosok bujang wanita yang
bertugas mendampinginya, Pram telah mendengungkan dua suara berbeda dari
orang yang memiliki asumsi sendiri-sendiri terhadap kampungnya.
Saya melihat si mBok begitu menaruh dendam kepada desa setelah suaminya
meninggal. Dengan segala kepahitan yang dia dan sang suami alami di sana, tak
sedikit pun hasrat si mBok untuk pulang lagi ke rumah. Desa, bagi si mBok, tak
ubahnya tempat paling sial di muka bumi, tak ubahnya neraka.
Lain dengan Mas Nganten. Meski merasa bahwa hidup di kampung lebih susah di
banding kota, gadis itu justru lebih memilih untuk pulang daripada harus tinggal di
rumah Bendoro yang begitu megah. Di mana meski dianggap lebih baik dari
rumahnya di desa, rumah bendoro nyatanya tak pernah memberikan secuil pun
kebahagiaan untuknya.
“Ia rasai bagaimana dirinya seperti seekor ayam direnggut dari rumpunnya.” (Toer,
hlm. 46).
Hidup di rumah Bendoro, tak ubahnya tinggal dalam penjara. Mas Nganten merasa
tak memiliki kebebasan melakukan apa yang ia sukai. Yang mesti dilakukan adalah
menuruti apapun yang diperintah suaminya, Bendoro.
Kesetiaan Gadis Pantai Terhadap Rumahnya
Mas Nganten rupanya bukanlah orang yang mudah terpikat oleh harta. Barang-
barang mewah yang tersedia untuknya serta status 'wanita utama' yang disandangnya,
sama sekali tidak merubah pendirian Mas Nganten.
Kesetiaan Mas Nganten, salah satunya bisa dilihat dari ketidaksukaannya Kepada cermin, ia seolah berdiskusi dengan temannya yang bertindak
dengan cermin di kamar pengantinnya. Dilihatnya benda itu, dirasainya sebagai pendengar, tidak merangkap sebagai pemberi solusi. Ini mirip-mirip
sebuah perbedaan antara cermin di rumah Bendoro dengan yang ada di dengan syair dalam puisinya Sapardi;
rumahnya. Mas Nganten tampaknya tidak terbiasa dengan cermin mahal,
yang ia anggap menyimpan kebohongan-kebohongan. Sementara cermin di “barangkali ia hanya bisa bertanya;
rumahnya sangat sederhana, tanpa pigura, dan memiliki nilai yang ia sebut
mengapa kau seperti kehabisan suara?”
sebagai 'kejujuran'.
Oleh: Achmad R. Renhoran
(Damono, 1994).
“Dengan cermin di rumahnya, ia juga bisa membersihkan
mukanya dari tahi mata, dan menyeka pipi dari jelaga dapur. Dalam potongan larik puisi “Cermin 1” ini, Sapardi memosisikan cermin
Tapi di sini, celak Arab berwarna jelaga justru dipulaskan seolah pendengar yang setia. Alih-alih bertindak sebagai manusia, ia hanya
pada sekitar matanya.” (Toer, hlm. 50). bisa jadi pendengar, sesekali bertanya dalam diam. Pada konteks cermin di
depan Mas Nganten, juga seolah memberi respons yang tak bisa diterima
secara implisit oleh Mas Nganten, melainkan hanya bisa diimani secara
Adegan Mas Nganten yang tengah bercermin itu, secara semiotik telah
esensial semata. Bisa jadi, sebuah maklumat bahwa sekeras apapun usaha
menyiratkan semacam proses redefinisi diri. Ketika menyentil soal cermin,
yang dilakukan Mas Nganten untuk kembali pulang dan melunasi
gambaran yang ada di kepala saya adalah Mas Nganten sedang mencoba
kerinduannya, tetap saja akan sia-sia saja belaka.
mengintrospeksi diri, merenungi nasibnya dahulu yang jauh lebih baik. Ia
Lebih Baik Tingal di Desa
membandingkan betapa indah parasnya waktu di desa dibandingkan saat ia
Kerinduan Mas Nganten akan kampung halaman, bukan sekadar
di kota. Sayangnya, Mas Nganten hanya bisa mengubur hasrat pulangnya
kerinduan materil. Wajah kampung yang dianggap identik dengan
dalam-dalam.
kemiskinan oleh Bendoro, di mana orang-orangnya jarang makan nasi karena
tak mampu membeli, tidak lantas membuat Gadis Pantai membenci desanya.
Bagi gadis itu, laut di desanya telah banyak memberikan hasil alam
melimpah, udang, ikan, jagung dan bahan makanan lainnya. Semua makanan
itu, baginya lebih bernilai dibanding nasi.
“Tapi kelaparan waktu itu hanya kelaparan karena tak makan beras-jagung.
Setidak-tidaknya, laut masih memberi makan, kerang-kerangan panjang,
kepiting, dan gangang laut.
Sekarang, makanan tersedia, malah melimpah-limpah. Tapi tak mungkin ia
memakannya. Di sini terlalu banyak benang-benang baja, tangan-tangan
gaib yang selalu mencegah, roh-roh mahakuasa yang selalu membuat hati
selalu kecut.” (Toer, hlm. 44).
Ada beberapa alasan yang kiranya menurut saya membuat Mas Nganten
jadi enggan tinggal di tempat Bendoro. Pertama, Mas Nganten sudah
terbiasa dengan altruisme masyarakat di desa. Ia tumbuh besar dengan kasih
sayang dari orang tua serta seluruh warga di kampungnya. Kebiasaan ini
menumbuhkan ikatan emosional yang sulit terlepas darinya. Kehidupan yang
begitu dingin di rumah Bendoro, membuatnya sulit beradaptasi dan merasa
bahwa kemewahan orang kota memang tak cocok buat dia.
Kesetiaan Mas Nganten, salah satunya bisa dilihat dari ketidaksukaannya Kepada cermin, ia seolah berdiskusi dengan temannya yang bertindak
dengan cermin di kamar pengantinnya. Dilihatnya benda itu, dirasainya sebagai pendengar, tidak merangkap sebagai pemberi solusi. Ini mirip-mirip
sebuah perbedaan antara cermin di rumah Bendoro dengan yang ada di dengan syair dalam puisinya Sapardi;
rumahnya. Mas Nganten tampaknya tidak terbiasa dengan cermin mahal,
yang ia anggap menyimpan kebohongan-kebohongan. Sementara cermin di “barangkali ia hanya bisa bertanya;
rumahnya sangat sederhana, tanpa pigura, dan memiliki nilai yang ia sebut
mengapa kau seperti kehabisan suara?”
sebagai 'kejujuran'.
Oleh: Achmad R. Renhoran
(Damono, 1994).
“Dengan cermin di rumahnya, ia juga bisa membersihkan
mukanya dari tahi mata, dan menyeka pipi dari jelaga dapur. Dalam potongan larik puisi “Cermin 1” ini, Sapardi memosisikan cermin
Tapi di sini, celak Arab berwarna jelaga justru dipulaskan seolah pendengar yang setia. Alih-alih bertindak sebagai manusia, ia hanya
pada sekitar matanya.” (Toer, hlm. 50). bisa jadi pendengar, sesekali bertanya dalam diam. Pada konteks cermin di
depan Mas Nganten, juga seolah memberi respons yang tak bisa diterima
secara implisit oleh Mas Nganten, melainkan hanya bisa diimani secara
Adegan Mas Nganten yang tengah bercermin itu, secara semiotik telah
esensial semata. Bisa jadi, sebuah maklumat bahwa sekeras apapun usaha
menyiratkan semacam proses redefinisi diri. Ketika menyentil soal cermin,
yang dilakukan Mas Nganten untuk kembali pulang dan melunasi
gambaran yang ada di kepala saya adalah Mas Nganten sedang mencoba
kerinduannya, tetap saja akan sia-sia saja belaka.
mengintrospeksi diri, merenungi nasibnya dahulu yang jauh lebih baik. Ia
Lebih Baik Tingal di Desa
membandingkan betapa indah parasnya waktu di desa dibandingkan saat ia
Kerinduan Mas Nganten akan kampung halaman, bukan sekadar
di kota. Sayangnya, Mas Nganten hanya bisa mengubur hasrat pulangnya
kerinduan materil. Wajah kampung yang dianggap identik dengan
dalam-dalam.
kemiskinan oleh Bendoro, di mana orang-orangnya jarang makan nasi karena
tak mampu membeli, tidak lantas membuat Gadis Pantai membenci desanya.
Bagi gadis itu, laut di desanya telah banyak memberikan hasil alam
melimpah, udang, ikan, jagung dan bahan makanan lainnya. Semua makanan
itu, baginya lebih bernilai dibanding nasi.
“Tapi kelaparan waktu itu hanya kelaparan karena tak makan beras-jagung.
Setidak-tidaknya, laut masih memberi makan, kerang-kerangan panjang,
kepiting, dan gangang laut.
Sekarang, makanan tersedia, malah melimpah-limpah. Tapi tak mungkin ia
memakannya. Di sini terlalu banyak benang-benang baja, tangan-tangan
gaib yang selalu mencegah, roh-roh mahakuasa yang selalu membuat hati
selalu kecut.” (Toer, hlm. 44).
Ada beberapa alasan yang kiranya menurut saya membuat Mas Nganten
jadi enggan tinggal di tempat Bendoro. Pertama, Mas Nganten sudah
terbiasa dengan altruisme masyarakat di desa. Ia tumbuh besar dengan kasih
sayang dari orang tua serta seluruh warga di kampungnya. Kebiasaan ini
menumbuhkan ikatan emosional yang sulit terlepas darinya. Kehidupan yang
begitu dingin di rumah Bendoro, membuatnya sulit beradaptasi dan merasa
bahwa kemewahan orang kota memang tak cocok buat dia.
Kedua, kebahagiaan nonmaterial lebih utama. Mas Nganten tidak serta
merasa dimanjakan oleh fasilitas yang ada di rumah Bendoro. Padahal, bisa
saja ia memanfaatkan seluruh kemewahan itu untuk bersenang-senang, akan
tetapi hidup sederhana yang telah menubuh, memaksanya meninggalkan
tempat itu. Rumah dan kampung beserta kehangatan orang-orang di sana
adalah sebenar-benarnya kemewahan bagi Mas Nganten.
Ketiga, kejenuhan terhadap hidup yang eksklusif dan terisolir. Terlalu
banyak aturan, bahkan hingga persoalan paling personal pun tak boleh
sembarang. Keinginan Mas Nganten bertemu ayah dan ibunya saja mesti
lewat persetujuan Bendoro. Ia merasa diperlakukan seperti seorang tahanan
di rumahnya sendiri.
Mas Nganten, adalah sosok gadis yang acuh dengan statusnya sebagai
wanita utama. Hidup di kota, di rumah prirayi, tidak lebih mengerikan dari
penjara. Tidak seperti orang kebanyakan yang sangat terobsesi dengan
gemerlapnya kota. Begitu berbeda dengan si mBok yang justru sangat
membenci kampungnya dan lebih memilih tinggal di kota meski kemudian
memilih hidup sebagai sahaya.
Faktanya, Desa Tidak Sebaik Itu
Pengalaman buruk si mBok, memberikan banyak alasan mengapa ia begitu
enggan pulang ke kampungnya. Kisah yang diceritakan kepada Mas Nganten
membawa kita pada satu kesimpulan untuk setuju mengapa ia bersikap
demikian. Ia dan suaminya dipaksa kerja rodi oleh tentara Belanda. Padahal,
waktu itu ia sedang hamil dan butuh istirahat. Tentara tidak ambil pusing,
perutnya diinjak, ia keguguran. Suaminya dibunuh dan ia dipenjara habis itu.
Penderitaan bujang wanita itu akhirnya berakhir setelah ia diusir dari
kampungnya sendiri. Beberapa waktu kemudian, barulah ia tiba di kota dan
berjanji untuk tidak akan pernah kembali lagi ke kampungnya.
“Kembali ke kampung sahaya tidak berani, takut kena
rodi lagi.”
(Toer, hlm. 61).
Alasan si mBok untuk enggan kembali ke kampung terbilang logis, sangat
bisa dimaklumi. Trauma dan stres yang ia rasakan pasca hijrah, begitu
membekas dan sulit dilupakan. Trauma, menurut Cavanagh, merupakan
sebuah peristiwa luar biasa yang pernah dialami seseorang, sehingga
menimbulkan sakit dan luka yang membekas. Setiap orang memiliki berat
Kedua, kebahagiaan nonmaterial lebih utama. Mas Nganten tidak serta dan ringan sebuah peristiwa yang berbeda-beda. Hal ini akan berakibat pada
merasa dimanjakan oleh fasilitas yang ada di rumah Bendoro. Padahal, bisa perilaku yang juga berbeda antara individu dengan yang lain.
saja ia memanfaatkan seluruh kemewahan itu untuk bersenang-senang, akan Pengalaman buruk yang dialami bujang wanita itu, tentunya membawa
tetapi hidup sederhana yang telah menubuh, memaksanya meninggalkan sakit dan luka yang hampir mustahil untuk dilupakan. Namun, tak ada sedikit
tempat itu. Rumah dan kampung beserta kehangatan orang-orang di sana pun dendam yang bersarang di dadanya. Saya tidak melihat keinginan untuk
adalah sebenar-benarnya kemewahan bagi Mas Nganten. balas dendam kepada siapa pun. Sebaliknya, ia tampak menerima nasibnya
Ketiga, kejenuhan terhadap hidup yang eksklusif dan terisolir. Terlalu sebagai sahaya di rumah Bendoro. Pekerjaan itu mungkin semacam
banyak aturan, bahkan hingga persoalan paling personal pun tak boleh eskapisme, yang mampu mengobati luka traumatik meski hanya sedikit
sembarang. Keinginan Mas Nganten bertemu ayah dan ibunya saja mesti efeknya.
lewat persetujuan Bendoro. Ia merasa diperlakukan seperti seorang tahanan Pada titik ini, saya melihat perbedaan yang sangat kontras dari dua tokoh
di rumahnya sendiri. utama dalam novel ini. Perbedaan terkait pandangan mereka melihat desa
Mas Nganten, adalah sosok gadis yang acuh dengan statusnya sebagai sebagai rumah asalnya. Pendapat yang saling bertolak belakang ini seolah
wanita utama. Hidup di kota, di rumah prirayi, tidak lebih mengerikan dari telah memberi kesimpulan bahwa tidak semua orang desa bahagia tinggal di
penjara. Tidak seperti orang kebanyakan yang sangat terobsesi dengan kota. Sebaliknya, tidak semua orang desa yang tinggal di kota merindukan
gemerlapnya kota. Begitu berbeda dengan si mBok yang justru sangat rumahnya di desa. Apakah memang demikian adanya? Untuk sementara,
membenci kampungnya dan lebih memilih tinggal di kota meski kemudian saya cukupkan dulu sampai di situ. Selebihnya, bahasan ini mungkin akan
memilih hidup sebagai sahaya. diteruskan dalam diskursus kita sore hari ini. Itupun, kalau Anda sekalian
Faktanya, Desa Tidak Sebaik Itu berkenan. Sekian.
Pengalaman buruk si mBok, memberikan banyak alasan mengapa ia begitu
enggan pulang ke kampungnya. Kisah yang diceritakan kepada Mas Nganten Dankje.
membawa kita pada satu kesimpulan untuk setuju mengapa ia bersikap
demikian. Ia dan suaminya dipaksa kerja rodi oleh tentara Belanda. Padahal,
waktu itu ia sedang hamil dan butuh istirahat. Tentara tidak ambil pusing,
perutnya diinjak, ia keguguran. Suaminya dibunuh dan ia dipenjara habis itu.
Penderitaan bujang wanita itu akhirnya berakhir setelah ia diusir dari
kampungnya sendiri. Beberapa waktu kemudian, barulah ia tiba di kota dan
berjanji untuk tidak akan pernah kembali lagi ke kampungnya.
“Kembali ke kampung sahaya tidak berani, takut kena
rodi lagi.”
(Toer, hlm. 61).
Alasan si mBok untuk enggan kembali ke kampung terbilang logis, sangat
bisa dimaklumi. Trauma dan stres yang ia rasakan pasca hijrah, begitu
membekas dan sulit dilupakan. Trauma, menurut Cavanagh, merupakan
sebuah peristiwa luar biasa yang pernah dialami seseorang, sehingga
menimbulkan sakit dan luka yang membekas. Setiap orang memiliki berat
Menyusu Gadis Pant
Hati pada y
Oleh: Afin N
Menyusu Gadis Pantai, Menjumpa Jatuh
Hati pada yang Hakiki
Oleh: Afin Nur Fahira
Akankah Cinta Tetap Tumbuh dalam Tata Nilai yang Porak-Poranda?
Kekuasaan selalu menciptakan ilusinya sendi demi kelanggengannya.
Sebagaimana Hannah Arent menamai fenomena tersebut dengan panggilan
totalitaanisme. Ilusi-ilusi yang diciptakan penguasa terlihat jelas dalam narasi
yang dirangkai Eyang Pram pada Gadis Pantai, di mana penguasa berhasil
mentahtakan perbuatan-perbuatan dzalim setingggi-tingginya dengan
bungkus kesucian agama. Semestinya, agama adalah kompas yang
menunjukkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan, akan tetapi perjalanan
bangsa merekam bagaimana agama menjadi legitimasi atas kelaliman para
pembesarnya. Sebagaimana potongan alur bekut:
"Aku tahu kampung-kampung sepanjang pantai sini. Sama saja. Sepuluh
tahun yang lalu aku juga pernah datang ke kampungmu. Kotor, miskin,
orangnya tak pernah bebadah. Kotor itu tercela, tidak dibenarkan oleh
orang yang tahu agama. Di mana banyak terdapat kotoran, orang-orang di
situ kena murka Tuhan, rezeki mereka tidak lancar, mereka miskin." "Sahaya
Bendoro." "Kebersihan, Mas Nganten, adalah bagian penting da iman. Itu
namanya kebersihan batin. Ngerti Mas Nganten?" "Sahaya Bendoro."
"Kebersihan batin membuat orang dekat pada Tuhan." "Sahaya Bendoro."
(Gadis Pantai. Hlm. 28)
Menegakkan keberanian dan nurani dalam selimut ilusi atas jungkir
baliknya degradasi nilai kemanusiaan dan keadilan, tentu bukan perkara yang
mudah. Tingginya upeti rakyat untuk bupati, cengkraman kerja rodi, serta
kecongakan para penguasa menjadi sumbu atas bagaimana humanisme
ditenggelamkan. Rakyat kebanyakan hanyalah sebagai objektivikasi hasrat
kuasa para pembesar. Apabila rakyat telah dijadikan objektivikasi,
eksistensinya sebagai manusia tak lagi dipedulikan, ia diperlakukan layaknya
barang tanpa mempertimbangkan martabatnya.
Melalui Gadis Pantai, Eyang Pram menghadirkan kompleksitas
perampasan yang dilakukan oleh para penguasa terhadap rakyatnya. Tak
cukup rakyat dibiarkan dengan menanggung aniaya atas perampasan matel,
tetapi juga perampasan kesadaran. Hal ini dilakukan dengan memarginalkan
berbagai keafan serta keberdayaan yang dimiliki oleh masyarakat jelata, baik
keafan dan keberdayaan dalam tata nilai perekonomiannya, tata nilai
keluhuran moralitasnya, tata nilai keberdayaan budayanya, maupun
agamanya.
Di sinilah kehadiran Gadis Pantai yang sekaligus menjadi representasi
masyarakat martim bertaruh melawan perampasan atas kesadarannya.
Penguasa dapat dengan gampangnya merampas hak ekonomi masyarakat
pantai, tetapi tidak boleh semudah itu melucuti kesadarannya sebagai
manusia. Dengan terseok-seok dan nyala perjuangan, Gadis Pantai memegang
erat tata nilai keafan da lubuk kesadarannya, ia tidak boleh tumbang
menghadapi congaknya kekejaman para penguasa.
"Orang kampungan seperti aku ini tidak takut." "Jangan biarkan sahaya
seorang di, Mas Nganten." "Lebih dua tahun aku tinggal di kota, sampai
akhimya kau datang. Dan baru sekarang ini aku tahu, orang-orang kota,
orang-orang berbangsa itu, begitu takutnya kalau orang tidak lagi
menghormatinya. Dan mereka begitu takutnya kalau terpaksa menghormati
orang-orang kampung." (Gadis Pantai. Hlm. 129)
Di masa yang seperti ini, meski dalam sunyi perlawanan-perlawanan
menyala, perlawanan untuk mengembalikan kembali hak dan martabat
kemanusiaan. Latar Gadis Pantai ialah realita yang dipotret Eyang Pram
sebagaimana latar zaman masa perjuangan R.A Kartini.
Mengurai Kusutan Dominasi untuk Hlm. 33)
Menjumpa Cinta yang Hakiki Ia merasa teralienasi justru
Novel Gadis Pantai menjadi dengan berdandan. Jika kita telisik
cermin atas dialektika batin seorang lebih lanjut, bukan aktivitas dandan
anak nelayan dalam mengurai yang membuatnya teraleniasi, akan
kusutan-kusutan dominasi yang tetapi karena ia tak meniatkan
menyelubungi kesadarannya. Adapun berdandan untuk dinya sendi,
salah satu dialektika batin yang namun untuk Bendoro, dan untuk
dialami Sang Gadis Pantai ditunjukkan menaati tata budaya sebagai seorang
dengan pemberontakkannya yang ist pembesar.
merasa tak lagi mengenali dinya Di sinilah kesadaran akan cinta
justru ketika ia dandani dengan yang hakiki ditunjukkan oleh Gadis
begitu cantik. Pantai. Ia mencintai wujudnya yang
Emak tak menjawab. Ia menghampi, jujur, sebab bersama kejujuran, ia
membantu bujang mendandani dan temukan kediannya yang autentik,
meas. Celak Arab itu kembali bukan dinya yang dalam selubung
memperbawakan wajahnya. Dan ke p u r a - p u r a a n . B u k a n w u j u d
r o u g e b u at a n Pe r a n c i s i tu c a nt i k ny a y a n g m e r u p a k a n
menyalakan wajahnya. "Lihat di kaca," pendisiplinan da sebuah kekuasaan.
bujang menganjurkan. Gadis Pantai Jika Gadis Pantai merupakan simbol
m e n at ap waj a h nya . T i b a - t i b a r ef l ek s i b a ga i m a n a s e s e ora n g
ditutupnya wajahnya dengan kedua mengurai selubung-selubung untuk
belah tangannya. "Mengapa, nak?" menjumpa cinta yang hakiki, adalah
emak bertanya waktu dilihatnya patut kita pertanyakan, "Bagaimana
Gadis Pantai berpaling da kaca. "Nak, perjalanan kita melawan bentuk-
nak, ... nak." Dengan tangannya yang bentuk baru jelmaan dominasi yang
ki Gadis Pantai menuding pada kaca, menjauhkan pada hati yang hakiki?"
memekik, "Itu bukan aku, bukan aku. Da narasi novel Gadis Pantai
Bukan! Bukan! Iblis." (Gadis Pantai. yang disajikan oleh Eyang Pram,
menggambarkan pula bahwa mencintai yang
hakiki ialah mencintai proses metamorfosa yang
terus bergerak. Hal ini ditunjukkan dengan
bagaimana Gadis Pantai menghadapi lompatan-
lompatan sejarah atas perubahan demi
perubahan nasibnya. Sebagai seorang gadis lugu
dengan berbagai keafan budaya kampung
nelayannya, kemudian bermetamorfosa menjadi
perempuan penuh wibawa dalam tempaan istana,
dan ketika ia terusir da istana, ia memilih
memperjuangkan pertumbuhan nasibnya dengan
berhijrah ke Blora, menca kesejatian dinya di
saat sang ayah dan penduduk kampung nelayan
mengajaknya kembali.
D e m i k i a n l a h , t a m p a k ny a s e b u a h
sinkonisitas semesta sedang bekerja. Di momen
Klub Baca Radio Buku memilih Gadis Pantai
sebagai medium pengatan berpulangnya salah
satu sastrawan luhur Indonesia, Pramoedya
A n a nt a To e r , p e r j a l a n a n G a d i s Pa nt a i
memperjuangkan kesejatian dinya, adalah pula
manifestasi da penggambaran atas perjalanan
penulisnya menuju Pangkuan Sang Maha Cinta.