Pembelajaran E-Learning dan Efektivitasnya dalam Pendidikan
Oleh : Muhammad Raja Zahran Fadillah (2207638)
Pendahuluan
Teknologi menjadi sebuah kebutuhan di zaman sekarang, terlebih apapun aktivitas
yang kita lakukan sudah diiringi dengan teknologi. Teknologi bisa digunakan dimanapun dan
kapanpun, hanya dengan menggunakan smartphone yang kita punya, kita bisa mengakses
apapun termasuk informasi dan data di seluruh dunia. Kemajuan teknologi tentunya diiringi
dengan bagaimana ilmu pengetahuan berkembang, sehingga kita tidak bisa menghindari
adanya perkembangan teknologi dalam hidup kita sendiri (Musfiqon, 2015).
Kemajuan teknologi yang mengglobal telah berpengaruh dalam segala aspek
kehidupan baik dibidang ekonomi, politik, kebudayaan seni dan bahkan didalam dunia
pendidikan. Dunia pendidikan harus mau mengadakan inovasi yang menyeluruh artinya
semua perangkat dalam sistem pendidikan memiliki peran dan menjadi faktor yang begitu
berpengaruh dalam keberhasilan sistem pendidikan. Dari para pembuat kebijakan, guru,
murid, kurikulum, semuanya memiliki peran penting. Dari semuanya itu disatukan dalam
sebuah sistem yaitu teknologi pendidikan.
A. Pengertian E-Learning
E-learning merupakan penerapan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar.
Teknologi pendidikan adalah penggunaan alat-alat teknologi secara efektif dalam
pembelajaran. Teknologi pendidikan tidak terbatas pada teknologi tinggi. Meskipun
demikian, teknologi pendidikan elektronik atau disebut juga e-learning telah menjadi bagian
penting dalam masyarakat saat ini. E-learning terdiri dari penggunaan pendekatan digitalisasi,
komponen dan metode penyampaian secara ekstensif. Misalnya, m-learning menekankan
pada mobilitas, namun pada prinsipnya tidak dapat dibedakan dari teknologi pendidikan.
Teknologi pendidikan mencakup berbagai jenis media yang menyampaikan teks, audio,
gambar, animasi, dan video streaming, dan mencakup aplikasi dan proses teknologi seperti
kaset audio atau video, TV satelit, CD-ROM, dan pembelajaran berbasis komputer, serta
intranet/ekstranet lokal dan pembelajaran berbasis web. Sistem informasi dan komunikasi,
baik yang berdiri sendiri atau berbasis pada jaringan lokal atau Internet dalam pembelajaran
berjaringan, mendasari banyak proses e-learning.
E-learning memungkinkan interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja, serta
memungkinkan akses ke materi pembelajaran secara fleksibel. Meskipun demikian, tantangan
dalam penerapan e-learning meliputi kualitas pembelajaran yang bervariasi, keterbatasan
akses internet, dan kebutuhan akan perancangan yang baik. Manfaat e-learning meliputi
peningkatan interaksi pembelajaran, akses terhadap materi pembelajaran dari mana dan kapan
saja, serta penghematan biaya dalam program pembelajaran.
Dalam e-learning sendiri, harus memiliki model dalam penerapan e-learningnya, sama
seperti model dalam pembelajaran biasanya.
B. Model – Model Pembelajaran E-Learning
Model pembelajaran e-learning sangat beragam dan dapat dikembangkan menjadi
berbagai variasi. Berikut ini adalah beberapa model e-learning yang mungkin Anda temui:
1) Model Adjunct: Model ini melibatkan pembelajaran tatap muka di dalam kelas,
di mana media elektronik hanya dijadikan opsional ketika sumber belajar tidak
bisa diadakan.
2) Blended Learning: Model campuran di mana pembelajaran dilakukan dengan
dua metode, yaitu metode tatap muka dan metode pembelajaran online.
3) Fully Online Model: Model ini di mana pembelajaran dilakukan secara daring
penuh, di mana instruktur dan peserta didik tidak saling bertemu dan tetap berada
di tempat masing-masing.
4) Model Inovasi E-Learning: Model ini menawarkan penggunaan teknologi
informasi untuk mendukung pembelajaran dan memperkuat model belajar
konvensional.
5) Model Pembelajaran Berbasis Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK):
Model ini menggunakan teknologi e-learning untuk mendukung pembelajaran
berbasis KBK, di mana fokus utama pada mengembangkan kompetensi siswa.
Beberapa platform populer untuk membuat e-learning meliputi Moodle, Zenius,
Udemy, dan Niagahoster Course. E-learning memungkinkan format pembelajaran yang
beragam, seperti video, PDF, kuis, dan game, serta dapat diakses melalui perangkat mobile
maupun desktop. Selain itu, e-learning juga memungkinkan otomatisasi proses administrasi,
seperti membagikan modul, mengumpulkan tugas, membagikan nilai, dan mengadakan ujian.
C. Kelebihan dan Kekurang Model Pembelajaran E-Learning
Model-model pembelajaran e-learning menawarkan berbagai kelebihan dan
kekurangan. Berikut adalah gambaran singkat mengenai kelebihan dan kekurangan dari
beberapa model pembelajaran e-learning:
Model Adjunct
Kelebihan:
Memungkinkan penggunaan media elektronik sebagai tambahan saat sumber
belajar tidak dapat diadakan.
Kekurangan:
Tidak menggantikan sepenuhnya model pembelajaran konvensional.
Blended Learning
Kelebihan:
Menggabungkan pembelajaran tatap muka dan online, memberikan fleksibilitas
dalam pembelajaran.
Kekurangan:
Memerlukan perencanaan yang matang agar kedua metode pembelajaran dapat
berjalan secara efektif.
Fully Online Model
Kelebihan:
Memberikan akses pembelajaran dari mana saja dan kapan saja melalui perangkat
yang terhubung ke internet.
Kekurangan:
Tidak semua wilayah memiliki akses listrik dan internet yang memadai, sehingga
tidak semua individu dapat menikmati pembelajaran berbasis e-learning.
Setiap model pembelajaran e-learning memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu
dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan dan konteks pembelajaran yang diinginkan.
Kelebihan model pembelajaran e-learning antara lain:
1) Akses Fleksibel: Memungkinan akses pembelajaran dari mana saja dan kapan
saja melalui perangkat yang terhubung ke internet.
2) Format Pembelajaran Beragam: Menyediakan beragam format
pembelajaran, seperti video, PDF, kuis, dan game, serta dapat diakses melalui
perangkat mobile maupun desktop.
3) Otomatisasi Proses Administrasi: Memungkinkan otomatisasi proses
administrasi, seperti membagikan modul, mengumpulkan tugas, membagikan
nilai, dan mengadakan ujian.
Sementara itu, beberapa kekurangan model pembelajaran e-learning meliputi:
1) Keterbatasan Akses: Belum semua wilayah memiliki akses listrik dan
internet yang memadai, sehingga tidak semua individu dapat menikmati
pembelajaran berbasis e-learning.
2) Kapasitas Siswa yang Bervariasi: Kapasitas siswa dalam mengakses dan
memahami materi e-learning sangat bervariasi tergantung pada konten dan
cara penyampaiannya.
3) Tidak Menggantikan Model Pembelajaran Konvensional: E-learning tidak
menggantikan model pembelajaran konvensional di dalam kelas, tetapi
memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan konten dan
pengembangan teknologi.
E-learning menawarkan fleksibilitas dan beragamnya format pembelajaran, namun
juga perlu memperhatikan keterbatasan akses dan memahami bahwa e-learning sebaiknya
tidak menggantikan sepenuhnya model pembelajaran konvensional. Beberapa cara yang
dapat dilakukan untuk mengatasi kekurangan dari model pembelajaran e-learning antara lain:
1) Meningkatkan Akses: Pemerintah dapat meningkatkan akses listrik dan
internet di wilayah yang belum terjangkau, sehingga lebih banyak individu
yang dapat menikmati pembelajaran berbasis e-learning.
2) Mengembangkan Konten yang Mudah Dipahami: Pengembang konten e-
learning dapat memperhatikan kapasitas siswa dalam mengakses dan
memahami materi e-learning dengan mengembangkan konten yang mudah
dipahami.
3) Mengintegrasikan Model Pembelajaran: E-learning dapat diintegrasikan
dengan model pembelajaran konvensional untuk memperkuat model belajar
tersebut melalui pengayaan konten dan pengembangan teknologi.
4) Mengoptimalkan Platform E-Learning: Pengguna dapat memilih platform
e-learning yang tepat dan memanfaatkan fitur-fitur khusus yang ditawarkan
untuk memaksimalkan pengalaman pembelajaran.
Dengan mengatasi kekurangan-kekurangan tersebut, pembelajaran e-learning dapat
menjadi alternatif yang efektif dan efisien dalam mendukung proses pembelajaran. Untuk
meningkatkan efektivitas model pembelajaran e-learning, beberapa strategi yang dapat
digunakan meliputi:
1) Menggunakan Pembelajaran Sosial: Mempromosikan interaksi dan
kolaborasi antar pelajar, serta antara pelajar dan instruktor.
2) Menggunakan Prinsip Desain Pembelajaran yang Selaras: Mengadopsi
prinsip-prinsip desain pembelajaran yang efektif, seperti pembelajaran
bermakna, untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
3) Mengintegrasikan Umpan Balik dan Dukungan Instruksi: Memastikan
bahwa sistem e-learning menyediakan umpan balik dan dukungan instruksi
yang efektif untuk membantu peserta didik dalam proses pembelajaran.
4) Mengoptimalkan Konten: Menyediakan konten yang mudah dipahami,
menarik, dan informatif, serta menggunakan format yang beragam untuk
memenuhi kebutuhan pelajar.
5) Menggunakan Teknologi Interaktif: Mengintegrasikan teknologi interaktif,
seperti chatbot dan forum, untuk membantu peserta didik dalam proses
pembelajaran dan meningkatkan interaksi antar pelajar.
6) Mengembangkan Keterampilan Pembelajaran Mandiri: Mendorong
peserta didik untuk mengembangkan keterampilan pembelajaran mandiri,
seperti mengatur waktu, mengelola risiko, dan mengidentifikasi sumber daya
belajar yang efektif.
7) Menggunakan Metode Pengajaran yang Efektif: Menggunakan metode
pengajaran yang efektif, seperti blended learning, untuk menjaga motivasi dan
keterlibatan peserta didik selama proses pembelajaran.
Dengan menerapkan strategi-strategi ini, model pembelajaran e-learning dapat
meningkatkan efektivitas dan membantu peserta didik mendapatkan pemahaman dan
keterampilan yang diperlukan. Untuk mengukur efektivitas model pembelajaran e-learning,
dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk:
1) Analisis Data Penggunaan Platform: Melalui analisis data penggunaan
platform e-learning, seperti jumlah pengguna, tingkat partisipasi, dan tingkat
keterlibatan, dapat memberikan gambaran mengenai sejauh mana platform
tersebut digunakan dan efektif.
2) Evaluasi Hasil Pembelajaran: Melalui evaluasi hasil pembelajaran, baik
melalui ujian daring maupun penugasan, dapat diketahui sejauh mana peserta
didik memahami materi pembelajaran dan mencapai tujuan pembelajaran yang
ditetapkan.
3) Umpan Balik dari Peserta Didik dan Instruktur: Mengumpulkan umpan
balik dari peserta didik dan instruktur mengenai pengalaman pembelajaran,
kesulitan yang dihadapi, serta saran perbaikan, dapat membantu dalam
mengevaluasi efektivitas model pembelajaran e-learning.
4) Pengukuran Keterampilan yang Diperoleh: Melalui pengukuran
keterampilan yang diperoleh, baik melalui ujian praktik maupun proyek, dapat
diketahui sejauh mana peserta didik mampu mengaplikasikan pengetahuan
yang diperoleh dari pembelajaran e-learning.
Dengan menggunakan berbagai metode evaluasi tersebut, institusi pendidikan dapat
memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai efektivitas model pembelajaran e-
learning yang diterapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Nurdyansyah, N. (2017). Sumber daya dalam teknologi pendidikan. Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo.
Suryawanshi, V., & Suryawanshi, D. (2015). Fundamentals of e-learning models: A
review. IOSR Journal of Computer Engineering, 107-120.
Engelbrecht, E. (2003). A look at e-learning models: investigating their value for developing
an e-learning strategy. Progressio, 25(2), 38-47.
Selim, H. M. (2007). Critical success factors for e-learning acceptance: Confirmatory factor
models. Computers & education, 49(2), 396-413.
Means, B., Toyama, Y., Murphy, R., Bakia, M., & Jones, K. (2010). Evaluation of evidence-
based practices in online learning: A meta-analysis and review of online learning
studies. US Department of Education, Office of Planning, Evaluation, and Policy
Development.
Kulik, J. A., & Kulik, C. C. (2016). Effectiveness of computer-based education in colleges.
AEDS Journal, 40(1), 14-24.