BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Administrasi publik
2.1.2 Definisi Administrasi publik
Administrasi publik menurut Chandler dan Plano dalam Keban (2014:3)
adalah proses dimana sumber daya dan personel publik diorganisir dan
dikoordinasikan untukmemformulasikan, mengimplementasikan dan mengelola
keputusan-keputusan dalam kebijakan publik. Kedua pengarang tersebut juga
menjelaskan bahwa administrasi publik merupakan seni dan ilmu yang ditujukan
untuk mengatur Public Affairs dan melaksanakan berbagai tugas yang telah
ditetapkan. Dan sebagai suatu disiplin ilmu, administrasi publik bertujuan untuk
memecahkan masalah-masalah publik melalui perbaikan atau penyempurnaan
terutama dibidang organisasi, sumber daya manusia dan keuangan.
McCurdy dalam Keban (2014: 3) “Mengemukakan bahwa administrasi
publik dapat dilihat sebagai suatu proses politik, yaitu sebagai salah satu cara
metode memerintah suatu negara dan dapat juga dianggap sebagai cara yang
orinsipil untuk melakukan berbagai fungsi negara”. Dengan kata lain administrasi
publik bukan hanya sekedar persoalan manajerial tetapi juga persoalan politik.
Anggapan ini mungkin membingungkan pendefinisian administrasi publik,
termasuk ruang lingkupnya. Akan tetapi hal ini justru menunjukan bahwa dunia
12
13
adminstrasi publik itu terus mengalami perkembangan dan justru sulit untuk
dipisahkan dari dunia politik.
2.1.3 Konsep Pelayanan Publik
Moenir (2005:1) Mengemukakan bahwa “Pelayanan adalah kunci keberhasilan
dalam berbagai usaha atau kegiatan yang bersifat jasa. Perannya akan lebih besar
dan bersifat menentukan manakala dalam kegiatan-kegiatan jasa di masyarakat itu
terdapat kompetisi dalam usaha merebut pasaran atau langganan”.
Menurut Lukman (2009:14) “Berpendapat bahwa pelayanan adalah suatu
kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antar seseorang
dengan orang lain atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan pelanggan”.
Widodo (2005:162) “Mengemukakan bahwa, arah yang dicapai oleh
pemerintah daerah dalam memberikan layanan publik, tidak lain yakni layanan
yang lebih baik (Better), lebih cepat (Faster). Muarannya yakni terwujud nya
kepuasan masyarakat dalam menerima layanan yang diberikan oleh perangkat
pemerintah daerah. Selanjutnya Widodo (2005:163) “Mengemukakan kondisi
masyarakat saat ini telah terjadi suatu perkembangan yang sangat dinamis, tingkat
kehidupan masyarakat yang semakin baik, merupakan indikasi yang dialami oleh
masyarakat”. Hal ini berarti masyarakat semakin sadar akan apa yang menjadi hak
dan kewajibannya sebagai warga negara dalam hidup bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara. Masyarakat semakin berani untuk mengajukan tuntutan, keinginan,
dan aspirasinya kepada pemerintah. Masyarakat semakin kritis dan semakin berani
untuk melakukan kontrol terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintahnya.
14
Birokrasi publik harus dapat memberikan layanan publik yang lebih
profesional, efektif, sederhana, transparan, terbuka, tepat waktu, responsif dan
adaftif serta sekaligus dapat membangun kualitas manusia dalam arti meningkatkan
kapasitas individu dan masyarakat untuk secara aktif menentukan masa depannya
sendiri.
Napitulu (2007:174) Menyatakan bahwa :
“Prinsip kepuasan masyarakat dalam proses pelayanan jasa publik oleh
pemerintah sebagai Service Provider sangat penting karena hanya dengan
memenuhi kebutuhan pelanggan secara memuaskan, keberadaan pemerintah itu
diakui dan mendapatkan legitimasi serta kepecayaan dari rakyatnya. Hal ini
berarti pemerintah sebagai pemberi pelayanan mempunyai peranan penting untuk
memenuhi kebutuhan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah yang mendapat
kepercayaan atau letimigasi dari masyarakat dalam melaksanakan proses
pelayanan jasa publik, haruslah benar-benar dapat memenuhi kebutuhan
masyarakatnya, tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan lainnya”.
Subarsono (2006:142) “Kualitas pelayanan publik yang diberikanoleh birokrasi
akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tingkat kompetensi aparat, kualitas
peralatan yang digunakan untuk memproses pelayanan, budaya, birokrasi dan
sebagainya. Kompetensi aparat birokrasi merupakan akumulasi dari sejumlah sub
variabel seperti tingkat pendidikan, jumlah tahun pengalaman kerja
15
dan variasai pelatihan yang diterima. Sedangkan kualitas dan kuantitas peralatan
yang digunakan akan mempengaruhi prisedur, kecepatan proses, dan kualitas
keluaran (Output) yang akan dihasilkan. Apabila organisasi menggunakan
teknologi modern seperti komputer maka metode dan prosedur kerja berbeda dngan
ketika organisasi menggunakan cara kerja manual. Melalui adopsi teknologi
modern dapat menghasilkan output yang lebih banyak dan berkualitas yang relatif
lebih cepat”.
Memberikan pelayanan yang baik merupakan salah satu upaya penyedia
pelayanan untuk menciptakan kepuasan bagi para penerima pelayanan. Jika layanan
yang diterima atau yang dirasakan lebih rendah daripada yang diharapkan penerima
layanan, maka dapat dikatakan kualitas pelayanan itu buruk. Tidak hanya kepuasan
dari masyarakat saja yang penting bagi suatu kualitas pelayanan tapi kepercayaann
dari masyarakat untuk menggunakan layanan juga dianggap penting bagi kualitas
pelayanan yang diberikan, karena hal tersebut mempengaruhi penilaian dari
masyarakat terhadap layanan tersebut.
2.1.4 Pengertian Kualitas
Kualitas mencakup usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
Menurut Crosby dalam Nasution (2015:2) menyatakan bahwa, “Kualitas adalah
Confermance To Requiretment, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau di
standarkan”.
Barata (2004:36) Mengemukakan bahwa kualitas pelayanan adalah:
“Berbicara mengenai kualitas pelayanan, ukurannya bukan hanya
ditentukan oleh pihak yang melayani saja, tetapi lebih banyak
16
ditentukan oleh pihak yang dialayani, karena merekalah yang
menikmati layanan sehingga dapat mengukur kualitas pelayanan
berdasarkan harapan-harapan mereka dalam memenuhi kepuasan”.
Menurut Kadir (2001:19) menyatakan bahwa
“Kualitas adalah tinjauan yang sulit dipahami, karena harapan para
konsumen akan selalu berubah. Setiap standar baru ditemukan,
maka konsumen akan menuntut lebih untuk mendapatkan standar
baru lain yang lebih baru dan lebih baik. Dalam pandangan ini ,
kualitas adalah proses dan bukan hasil akhir (meningkatkan kualitas
kontinuitas)”.
Dan adapula pengertian lebih luas yang dikatakan oleh Daviddow & Uttal
dalam Hardiyansyah (2018:49) yaitu “ Merupakan usaha apa saja yang digunakan
untuk mempertinggi kepuasan pelanggan (Whatever Enhances Customer
Satisfaction)”. Sedangkan menurut Sinambela dalam Hardiyansyah (2018:49)
“Kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan pelanggan
(Meeting The Needs Of Cutomers)’’. Menurut pengertian diatas dalam hal ini
kualitas ini sangat penting untuk memenuhi kebutuhan atau kepuasan pelanggan,
karena jika kebutuhan dan keinginan pelanggan itu daoat terpenuhi dengan baik dan
pelanggan merasa puas atas pelayanan yang diterimanya maka pelayanan tersebut
dapat dikatakan berkualitas.
2.1.5 Pengertian kualitas pelayanan
Jasfar (2005:47) mengemukakan bahwa kualitas pelayanan adalah:
“Pelayanan juga diartikan jasa. Kualitas jasa merupakan suatu
pembahasan yang sangat kompleks karena penilaian kualitas
pelayanan berbeda dengan kualitas produk, terutama sifatnya yang
tidak nyata dan produksi serta konsumsi berjalan secara srimultan.
Sehingga, kualitas pelayanan adalah sebagaimana tanggapan
pelanggan terhadap jasa yang dikonsumsi atau dirasakannya”.
17
“Kualitas pelayanan yaitu sebagai tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan. Wyckof dalam Tjiptono (2006:59).
Zeithmal dan Bitner dalam Arief (2007:120) “Mengemukakan arti kualitas jasa
atau pelayanan merupakan penyampaian jasa yang baik atau sangat baik atau sangat
baik, jika dibanding dengan ekspektasi pelanggan”. Wyekof dalam Arief
(2007:118) “Mengungkapkan bahwa pengertian kualitas pelayanan sebagai tingkat
kesempurnaan yang diharapkan dan pengendalian akan kesempurnaan tersebut
untuk memenuhi keingnan pelanggan”. Sedangkan menurut Parasuraman dalam
Arief (2007:118) ”Kualitas pelayanan merupakan perbandingan antara layanan
yang dirasakan sama atau melebihi kualitas layanan yang diharapkan, maka layanan
dapat dikatakan berkualitas dan memuaskan”.
Berdasarkan definisi diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa kualitas
pelayanan adalah segala benuk pelayanan yang dilakukan oleh sesorang atau
penyelenggara jasa secara maksimal dengan segala keunggulan dalam rangka
memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan..
2.1.6 Dimensi Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan pelayanan yang dapat
memenuhi kebutuhan atau harapan pengguna layanan yang diberikan oleh suatu
penyelenggara layanan yaitu Pemerintah.
Salim & Woodward dalam Hardiansyah (2011:52) menyatakan bahwa
dimensi kualitas pelayanan publik terdiri dari:
18
1. Economy atau ekonomis adalah penggunaan sumber daya yang sedikit
mungkin dalam proses penyelenggaraan pelayanan publik.
2. Eficency atau efisiensi adalah suatu keadaan yang menunjukan
tercapainya perbandingan terbaik antara masukan dan keluaran dalam
suatu penyelenggaraan pelayanan publik.
3. Efectiveness atau efektivitas adalah tercapainya tujuan yang telah
diterapkan, baik itu dalam bentuk target, sasaran jangka panjang maupun
misi organisasi.
4. Equity atau keadilan adalah pelayanan publik yang diselenggrakan
dengan memperhatikan aspek-aspek kemerataan.
Berdasarkan uraian diatas, maka untuk menilai sejauh mana kualitas atau
mutu pelayanan yang diberikan pemberi layanan dapat ditelaah melalui kriteria
dalam menilai kualitas pelayanan .
Levinne dalam Hardiansyah (2011:53) menyatakan bahwa dimensi kualitas
pelayanan terdiri atas:
1. Responsiviness atau responsivitas ini mengukur daya tanggap providers
terhadap harapan, keinginan dan aspirasi serta tuntutan customers.
2. Responsibility atau responsibilitas adalah suatu ukuran yang menunjukan
seberapa jauh proses pemberian pelayanan publik itu dilakukan dengan
tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.
3. Accountability atau akuntabilitas adalah suatu ukuran yang menunjukan
dengan ukuran-ukuran eksternal yang ada di masyarakat dan dimiliki oleh
Stakeholders, seperti nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat.
\
Potter dalam Supriyono (2003:16) menguraikan kriteria atau indikator-
indikator yang menjadi dasar penilaian kualitas pelayanan publik adalah :
1. Tepat dan relevan, artinya meliputi konsisten/keajegan kinerja pelayanan
yang tetap dipertahankan dan menjaga saling ketergantungan/integrasi
antara penyediaan pelayanan dan masyarakat, seperti menjaga ketepatan
perhitungan biaya pelayanan, ketepatan atau akurat dalam pencatatan data
(sistem informasi yang baik), dan tepat waktu, tepat kualitas, tepat
kuantitas sesuai dengan persyaratan dalam prosedur pelayanan.
19
Menurut Tangkilisan, 2004:65 indikator dalam tepat dan relevan yaitu :
A. Pelayanan pegawai yang cepat
Ability
Performance
Kredabilitas
B. Kecermatan pegawai
Produktivitas pegawai
Kualitas kerja
2. Tersedia dan terjangkau, artinya pelayanan harus dapat memenuhi segala aspek
yang dibutuhkan oleh penerima layanan berupa fasilitas sarana dan prasarana
penunjang yang memadai dan mudah dijangkau yang digunakan untuk
mendukung keberhasilan pelayanan.
Menurut Azwar, 1994:45 indikator dalam tersedia dan terjangkau adalah:
A. Tersedia dan berkesinambungan
Tersedia di masyarakat
Pelayanan tidak sulit ditemukan
Keberadaanya dalam masyarakat ada saat dibutuhkan
B. Dapat diterima dan wajar
Pelayanan tidak bertentangan dengan adat istiadat,kebudayaan,
keyakinan dan kepercayaan masyarakat serta bersifat wajar
C. Mudah dicapai
Lokasi tempat pelayanan mudah dicapai atau strategis
Pelayanan tidak terkonsentrasi di daerah perkotaan saja
D. Mudah dijangkau
20
Pelayanan tidak berbelit-belit
E. Bermutu
Mampu menentukan cara menyelesaikan tugas
Mampu menyelesaikan tugas dengan baik
Mampu menentukan prosedur terbaik dalam melaksanakan tugas
F. Dapat menjamin rasa keadilan, artinya terbuka dalam memberikan
perlakuan terhadap individu atau sekelompok orang dalam keadaan sama.
Menurut Maxham dan Netemeyer 2002 sebagai berikut :
1. Perhatian
Kesigapan petugas membantu masyarakat yang kesusahan
dalam melakukan pelayanan
2. Kesopanan
Melayani setiap masyarakat dengan senyum, sapa, salam
3. Kejujuran
Tidak membeda-bedakan pelayanan kepada masyarakat
4. Penanganan komplain
Tersedianya sarana untuk menampung aspirasi dari
masyarakat diruang pelayanan, masukan dan kritikan
melalui aduan masyarakat
4. Dapat diterima, artinya pelayanan memiliki kualitas apabila dilihat dari
teknis/cara, kemudahan akses, terbuka, kenyamanan, menyenangkan,
dapat diandalkan tepat waktu, cepat responsif, dan manusiawi.
Menurut Hardiansyah, 2016:66 indikator dapat diterima adalah :
1. Kebersihan dan kenyamanan ruangan pelayanan
Tersedianya tong sampah
Toilet yang bersih
Tersedianya ruang tunggu yang nyaman
2. Fasilitas yang ada di ruang pelayanan
21
Tersedianya komputer
Tersedianya layanan internet
3. Kerapian dan kebersihan penampilan petugas
Pegawai selalu memakai seragam sesuai yang ditentukan
setiap harinya
5. Ekonomis dan efisiensi, Ekonomis artinya penggunaan sumberdaya yang
sesedikit mungkin dalam proses penyelenggaraan pelayanan publik
sedangkan efisiensi artinya cara untuk mencapai suatu tujuan yang optimal
cepat dan tepat serta sesuai dengan meminimalkan sumber daya (tenaga,
uang dan waktu) yang dikeluarkan.
Menurut Mardiasmo, 2009:132 indikator ekonomis dan effisiensi terdiri
dari :
1. Staff
Tingkat pegawai dalam pendidikan dan keterampilan
Tingkat pemahaman serta tujuan pelayanan
Ketepatan waktu dalam melaksanakan pelayanan
2. Upah
Memenuhi ketentuan minimum pemerintah
3. Biaya Administratif
Biaya adminisrasi harus sesuai dengan kemampuan
ekonomi masyarakat
6. Efektif, artinya tercapainya tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya,
dalam bentuk target sesuai jangka waktu serta hasil yang diharapkan.
Menurut Fandi Tjiptono, 2004:65 indikator Efektif adalah :
1. Kompetensi Pegawai
Pegawai cepat tanggap dalam memberikan pelayanan
2. Standar Operasional prosedur pelayanan
22
Pegawai cepat waktu dalam mengerjakan pelayanan sesuai
SOP yang berlaku
3. Inisiatif Pegawai
Kesigapan pegawai layanan dalam memberikan apa yang
dibutuhkan oleh masyarakat
2.1.7 Penduduk, perpindahan penduduk dan penyebabnya
Menurut Peter L. Berger dalam Widodo (2003:23) mengemukakan bahwa
Masyarakat atau penduduk adalah :
“Suatu keseluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya,
keseluruhan yang kompleks sendiri berarti bahwa keseluruhan itu
terdiri atas bagian- bagian yang membentuk suatu kesatuan.
Penduduk adalah warga negara indonesia (WNI) dan orang asing
yang bertempat tinggal di wilayah indonesia dan telah
menetap/berniat menetap selama minimal 1 tahun”.
Perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke
tempat lain melewati batas administratif (migrasi internal) atau batas politik/negara
(migrasi international). Dengan kata lain, migrasi diartikan sebagai perpindahan
yang relatif permanen dari suatu daerah (negara) ke daerah (negara) lain.
Volume migrasi di suatu wilayah berkembang sesuai dengan tingkat
keragaman daerah-daerah di wilayah tersebut. Di daerah asal dan di daerah tujuan,
terdapat faktor-faktor yang disebut sebagai :
a) Faktor positif yaitu faktor yang memberikan nilai keuntungan bila bertempat
tinggal di tempat tersebut.
b) Faktor negatif yaitu faktor yang memberikan nilai negatif atau merugikan bila
tinggal di tempat tersebut sehingga seseorang merasa perlu untuk pindah ke
tempat lain.
23
c) Faktor netral yaitu tidak berpengaruh terhadap keinginan seorang individu
untuk tetap tinggal di tempat asal atau pindah ke tempat lain.
Selain ketiga faktor diatas terdapat faktor rintangan antara. Rintangan antara
adalah hal-hal yang cukup berprngaruh terhadap besar kecilnya arus mobilitas
penduduk. Rintangan antara dapat berupa: ongkos pindah, topografi wilayah asal
dengan tujuam atau sarana transportasi. Faktor yang tidak kalah penting yang
mempengaruhi mobilitas penduduk adalah faktor individu, karena faktor individu
pula yang dapat menilai positif atau negatifkah suatu daerah dan memutuskan untuk
pindah atau bertahan di tempat asal. Jadi arus migrasi dipengaruhi oleh 4 faktor
yaitu :
a) Faktor individu
b) Faktor-faktor yang terdapat didaerah asal, seperti keterbatasan kepemilikan
lahan, upah di desa rendah, waktu luang antara masa tanam dan masa
panen, sempitnya lapangan pekerjaan di desa, terbatasnya jenis pekerjaan
di desa.
c) Faktor di daerah tujuan, seperti : tingkat upah yang tinggi, luasnya lapangan
pekerjaan yang beraneka ragam.
d) Rintangan antara daerah asal dengan daerah tujuan seperti : sarana
transportasi, topografi desa ke kota dan jarak desa kota.
2.2 Kerangka Pemikiran
Mengetahui kualitas pelayanan yang diberikan oleh suatu organisasi itu
penting karena dapat memberikan manfaat bagi organisasi yang bersangkutan.
Kalau ini dilakukan paling tidak organisasi atau instansi yang bersangkutan sudah
24
punya “Concern” pada pelanggannya. Pada akhirnya, bisa jadi berusaha maksimal
untuk memenuhi kepuasan pelanggan yang dilayani.
Priansa (2017:91) mengemukakan bahwa
“Organisasi dan instansi pmerintahan harus banyak berinovasi
dalam melakukan pelayanan terhadap untuk memenuhi kepuasan
pelanggan dan mendapatkan kepercayaan dari pelanggan untuk
terus mengunakan layanan tersebut. Kepuasan publik merupakan
respon publik terhadap ketidak sesuaian antara tingkat harapan yang
dimiliki dengan kinerja actual yang diraskan setelah memanfaatkan
pelayanan publik”.
Menurut Wyckof dalam Tjiptono (2006:59) “Kualitas pelayanan yaitu
sebagai tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat
keunggulan tersebut untuk memenuhi keingginan pelanggan”.
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Subang adalah salah satu
instansi pemberi layanan terhadap masyarakat. Salah satu pelayanan yang
dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Subang
adalah pembuatan Surat pindah datang antar kota, sedangkan yang akan digunakan
dalam penelitian ini adalah variabel Kualitas Pekayanan Surat Pindah Datang Antar
Kota Di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Subang menurut
Supriyono (2003:16) dengan indikator : Tepat dan relevan, Tersedia dan
Terjangkau, Dapat menjamin rasa keadilan, Dapat diterima, Ekonpomis dan
efisiensi, Efektif.
Bertitik tolak pada kajian teori yang relevan di atas, maka dapat
digambarkan kerangka pemikiran penelitian sebagai berikut :
25
Gambar 2.1
Kerangka Pikir Penelitian
Kualitas Pelayanan Pembuatan Surat Pindah Datang Antar
Kota Di Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kabupaten
Subang belum optimal.
Indikator keberhasilan terhadap kualitas suatu pelayanan
publik dapat di ukur sebagai teori Potter dalam Supriyono
(2003:16) sebagai berikut :
a. Tepat dan relevan
b. Tersedia dan terjangkau
c. Dapat menjamin rasa keadilan
d. Dapat diterima
e. Ekonomis dan efisiensi
f. Efektif
ndikator keberhasilan terhadap kualitas suatu pelayanan
publik dapat di ukur dengan teori Potter dalam Supriyono
Kualitas Pelayanan Pembuatan Surat Pindah Datang
(2003:16) sebagai
Antar Kota berikut
Di Dinas :
Kependudukan Dan Pencatatan
a. Tepat dan relevan
Sipil Kabupaten Subang optimal.
b. Tersedia dan terjangkau
c. Dapat menjamin rasa keadilan
2.3 Hipotesis
d. Dapat diterima
Berdasarkan tinjauandan
e. Ekonomis teoritis, dan kerangka pemikiran diatas maka peneliti
efisiensi
menyatakan dalam bentuk hipotesis bahwa “Kualitas Pelayanan Surat Pindah
f. Efektif
datang antar kota pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Subang
akan optimal apabila dalam proses pelayanan yang diberikan menggunakan
dimensi-dimensi : Tepat dan Relevan, Tersedia dan Terjangkau, Dapat menjamin
rasa keadilan, Dapat diterima, Ekonomis dan Efisiensi, , dan Efektif.