1
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH HIPERTERMIA
PADA ANAK DENGAN DHF DI RUANG AULIA RS AL-HUDA
GENTENG
KARYA ILMIAH AKHIR NERS
Disusun Oleh:
RISKA ANGGRAINI, [Link]
NIM : 2
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG
TAHUN 2023/2024
2
LEMBAR PENGESAHAN
Asuhan keperawatan anak yang berjudul Asuhan keperawatan anak An K dengan
Dengue Fever di Ruang Aulia RS Al Huda Genteng. Yang disusun oleh: Riska
Anggraini, [Link].
Telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada:
Hari :………………..
Tanggal : ………………
Mahasiswa
Riska Anggraini, [Link].
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik
................................................... ...................................................
NPP: ............................................. NPP: .............................................
3
BAB I
PENDAHULUAN
LAPORAN PENDAHULUAN
DENGUE HEMORAGIC FEVER(DHF)
A. Latar Belakang
Hipertermia adalah keadaan saat meningkatnya suhu tubuh seseorang diatas
rentang normal tubuh (Tim Pokja SDKI, 2018). Hipertermi adalah keadaan dimana
individu mengalami peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal 37,5 oC yang ditandai
dengan kulit terasa hangat dan kulit kemerahan (Herdman, 2012). Hipertermi
merupakan naiknya suhu tubuh menjadi lebih tinggi daripada biasanya. Suhu tubuh
normal manusia berada pada titik 37, 5 oC, jika tubuh menunjukkan angka tersebut
menunjukkan adanya demam yang disebabkan oleh infeksi (Indah, 2019).
Demam dengue atau DF dan demam berdarah dengue atau DBD
(Dengue Hemorrhagic Fever disingkat DHF) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot
dan/atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati,
trombositopenia dan ditesis hemoragik. Pada DHF terjadi perembesan plasma
yang ditandai dengan hemokosentrasi (peningkatan hematokrit) atau
penumpukan cairan dirongga tubuh. Sindrom renjatan dengue yang ditandai oleh
renjatan atau syok (Nurarif & Kusuma 2015).
World Health Organizaton (WHO) menyebutkan jumlah kasus demam
berdarah yang dilaporkan meningkat lebih dari 8 kali lipat selama 4 tahun
terakhir, dari 505.000 kasus meningkat menjadi 4,2 juta pada tahun 2019.
4
Jumlah angka kematian yang dilaporkan juga mengalami peningkatan dari 960
menjadi 4032 selama 2015. Tidak hanya jumlah kasus yang meningkat seiring
penyebaran penyakit ke wilayah baru termasuk Asia, tetapi wabah eksplosif juga
terjadi. Ancaman kemungkinan wabah demam berdarah sekarang ada di Asia.
Wilayah Amerika melaporkan 3,1 juta kasus, dengan lebih dari 25.000
diklasifikasikan sebagai parah. Terlepas dari jumlah kasus yang
mengkhawatirkan ini, kematian yang terkait dengan demam berdarah 2 lebih
sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah kasus DBD tersebut
merupakan masalah yang dilaporkan secara global terjadi pada tahun 2019
(WHO, 2019).WHO mencacat negara Indonesia adalah negara dengan kasus
(DHF) tertinggi di Asia Tenggara dan tertinggi nomor dua di dunia setelah
Thailand (Dhamayanti, 2019). Data Depkes RI (2019) jumlah kasus penderita
(DHF) di Indonesia pada tanggal 29 Januari 2019 13.683 orang diseluruh
Indonesia. Penderita (DHF) di indonesia terdapat dengan jumlah 133 orang.
Penderita (DHF) terus bertambah hingga 3 Februari 2019, banyaknya penderita
(DHF) mencapai 16.692 kasus, dengan 169 jiwa dinyatakan meninggal dunia.
Direktur pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis kemenkes,
Berdasarkan data Kemenkes tahun 2020 kasus Demam Berdarah Dengue
(DBD) di Indonesia hingga Juli mencapai 71.700 kasus. Ada 10 provinsi yang
melaporkan jumlah kasus terbanyak yaitu di Jawa Barat 10.772 kasus, Bali
8.930 kasus, Jawa Timur 5.948 kasus, NTT 5.539 kasus,Lampung 5.135 kasus,
DKI Jakarta 4.227 kasus, NTB 3.796 kasus, Jawa Tengah 2.846 kasus,
Yogyakarta 2.720 kasus, dan Riau 2.255 kasus sedangkan tahun 2019 jumlah
5
kasus lebih tinggi berjumlah 112.954. Selain itu jumlah kematian di seluruh
Indonesia mencapai 459. Namun demikian jumlah kasus dan kematian tahun ini
masih rendah jika dibandingkan tahun 2019. Begitupun dengan jumlah
kematian, tahun ini berjumlah 459, sedangkan tahun 2019 sebanyak 751
(Kemenkes, 2020) Prevalensi Jumlah kasus DHF di kota Pontianak pada tahun
2020 dengan jumlah 359 kasus yang menyerang terutama pada anak-anak usia
berkisar antara 5 hingga 14 tahun, mengingat daya tahan tubuh mereka lebih
rendah dibandingkan orang dewasa (Dinkes Kota Pontianak 2020). Tahun 2020
jumlah kasus Dangue Haemoragic Fever (DHF) untuk rawat jalan dan rawat
inap sebanyak 861 penderia dengan 4 orang meniggal dunia. Penderita DHF
didominasi usia 3-15tahun dengan jumlah 421 penderita. Berdasarkan
uraian diatas penulis termotivasi dan tertarik untuk menulis karya ilmiah tentang
hipertemi pada An. A dengan Dangue Haemoragic Fever (DHF) di RS Anton
Soedjarwo, sehingga lebih mendalami dalam asuhan keperawatan dengan anak
penderita DHF dengan pendekatan karya tulis ilmiah.
B. Tujuan Penulisan
a. Tujuan umum
Tujuan umum dari Karya Ilmiah Akhir ini yaitu untuk memberikan
gambaran asuhan keperawatan Hipertermia pada An. A dengan Dangue
Haemorogic Fever (DHF) di Ruang Chatur Prasetya di RS Anton
Soedjarwo Pontianak tahun 2022
b. Tujuan khusus
a. Menerapkan konsep teori tentang proses asuhan keperawatan
6
Hipertermia pada An. A dengan Dangue Haemorogic Fever (DHF)
di Ruang Chatur di RS Anton Soedjarwo Pontianak tahun 2022
b. Membandingkan antara teoritis dan praktik lapangan asuhan
keperawatan pada Hipertermia pada An. A dengan Dangue
Haemorogic Fever (DHF) di Ruang Chatur di RS Anton Soedjarwo
Pontianak tahun 2022
c. Untuk melihat gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan
Hipertermia pada An. A dengan Dangue Haemorogic Fever
(DHF) di Ruang Chatur di RS Anton Soedjarwo Pontianak
Tahun 2022
d. Untuk mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat
dilaksanakan asuhan keperawatan Hipertermia pada An. A
dengan Dangue Haemorogic Fever (DHF) di Ruang Chatur
di RS Anton Soedjarwo Pontianak Tahun 2022
C. Manfaat Penulisan
a. Tenaga Kesehatan
Data dan hasil yang diperoleh dari peneliti dapat
dijadikan suatu tolak ukur serta upaya Rumah Sakit dalam
meningkatkan kualitas pelayanan dengan cara meningkatkan
kesejahteraan perawat
b. Institusi Pendidikan
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi bagi
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan
7
anak mengenai asuhan keperawatan anak serta berkontribusi
dalam menanamkan minat, motivasi dan sikap dari mahasiwa
sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar bagi mahasiswa.
c. Bagi Rumah Sakit
Hasil penulisan diharapkan dapat memberikan informasi
serta dapat menambah wawasan berfikir, dapat mengaplikasikan
asuhan keperawatan yang sesuai pada masalah DHF dalam
pemberi pelayanan kesehatan mengenai asuhan keperawatan
penyakit DHF
D. Sistematika penulisan
Studi kasus secara keseluruhan dibagi dalam dua bagian, diantaranya :
a. Bagian awal memuat halaman judul, lembar pengesahan,
abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel.
b. Bagian ini memiliki 5 (lima) bab yang diantaranya ialah:
a. BAB I Pendahuluan
Bagian pedahuluan yang berisikan tentang latar belakang dari
pengangkatan kasus Hipertermia : Dangue Haemorogic
Fever (DHF) tujuan dari penulisan (tujuan umum dan
khusus) dalam Hipertermia : Dangue Haemorogic Fever
(DHF) serta sistematika penulisan.
b. BAB II Landasan teoritis
Landasan teoritis yang berisi tentang definisi dan konsep masalah yang di
angkat, pengkajian, patofisiologi, tujuan perawatan yang ingin di capai,
intervensi keperawatan.
8
c. BAB III Asuhan keperawatan
Asuhan keperawatan berisi tentang pengkajian secara
menyeluruh pada klien, diagnosis keperawatan, perencanaan
keperawatan, implementasi dan evaluasi.
d. BAB IV Pembahasan
Pembahasan proses asuhan keperawatan yang diberikan dari
pengkajian sampai dengan evaluasi, pembahasan praktik
profesi keperawatan dalam pencapaian target kompetensi.
e. BAB V Simpulan dan saran
Simpulan dan saran berisi tentang kesimpulan dari seluruh penjelasan dan
saran.
9
BAB II
LANDASAN TEORI
Landasan teoritis berisi hasil penelusuran literatur atau studi kepustakaan
menegenai masalah yang dibahas dan konsep serta teori yang melandasi penyelesaian
masalah. Pendekatan yang digunakan adalah masalah keperawatan utama yang dialami
klien selama dalam masa perawatan tiga hari. Penjabaran dalam tulisan mencakup:
A. Konsep Masalah Utama
1. Hipertermia
1) Definisi Hipertermia
Hipertermia adalah keadaan saat meningkatnya suhu tubuh
seseorang diatas rentang normal tubuh (Tim Pokja SDKI, 2018).
Hipertermi adalah keadaan dimana individu mengalami peningkatan
suhu tubuh diatas kisaran normal 37,5 oC yang ditandai dengan kulit
terasa hangat dan kulit kemerahan (Herdman, 2012). Hipertermi
merupakan naiknya suhu tubuh menjadi lebih tinggi daripada
biasanya. Suhu tubuh normal manusia berada pada titik 37, 5oC, jika
tubuh menunjukkan angka tersebut menunjukkan adanya demam
yang disebabkan oleh infeksi (Indah, 2019).
Jadi dapat disimpulkan bahwa hipertemia merupakan suatu
keadaan dimana terjadi peningkatan suhu tubuh diatas rentang
normal (>37,5°C) yang disertai dengan kulit terasa hangat dan
nampak kemerahan
1
0
2) Etiologi
Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia / SDKI (2017)
dijelaskan bahwa penyebab hipertermia:
1. Dehidrasi
2. Terpapar lingkungan panas
3. Proses penyakit (misalnya: infeksi, kanker)
4. Ketidaksesuaian pakaian dengan suhu lingkungan
5. Peningkatan laju metabolisme
6. Respon trauma aktivitas berlebihan
7. Penggunaan inkubator
II. Tanda dan Gejala
Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia / SDKI (2017)
dijelaskan bahwa tanda dan gejala hipertermia:
1. Suhu tubuh diatas nilai normal
2. Kulit merah
3. Takikardia
4. Takipnea
5. Kulit terasa hangat
III. Kondisi klinis terkait
Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia / SDKI
(2017), dijelaskan bahwa kondisi klinis terkait:
1. Proses infeksi
2. Hipertiroid
3. Stroke
1
1
4. Dehidrasi
5. Trauma
6. Prematurias
IV. Konsep kompres hangat
Menurut Eny (2015) Hasil penelitian yang dilakukan pada orang
disebutkan bahwa faktor perubahan suhu tubuh dipengaruhi oleh umur. Dalam
teori dijelaskan suhu usia anak anak sampai masa puber dan pada usia lanjut
lebih cenderung lebih labil dibandingkan dengan usia dewasa. Pola makan yang
tidak baik dengan pola gizi yang tidak seimbang sehingga lebih mudah
terserang demam sebagai awal gejala yang terjadi. Salah satu faktor yang
mempengaruhi peningkatan suhu tubuh adalah hormon. Wanita mengalami
peningkatan hormon lebih banyak daripada pria. Pada wanita terjadi
peningkatan suhu 0,3-0,6ºC di atas suhu basal saat terjadi sekresi progesteron
pada saat ovulasi berlangsumg
Penurunan suhu tubuh pada pasien demam yang diberikan kompres air
hangat pada daerah aksila adalah 0,247ºC dengan rata-rata penurunan suhu
tubuh pasien demam yang diberikan kompres air hangat pada daerah dahi
adalah 0,111ºC. Pasien demam yang dikompres dengan menggunakan air
hangat pada daerah aksila maupun dahi menunjukkan penurunan yang
signifikan. Menurut Indra (2015). Menurunkan suhu tubuh dilakukan dengan
pemberian kompres dingin dan hangat. Pemberian kompres dingin sudah tidak
dianjurkan karena tidak efektif untuk menurunkan suhu tubuh, Sehingga lebih
dilanjutkan pemberian kompres hangat untuk menurunkan demam. Hasil
penelitian yang dilakukan pada orang disebutkan bahwa suhu tubuh sebelum
pemberian kompres di dahi 38,30ºC dan pemberian kompres hangat di lipatan
1
2
paha 38,22ºC. Penurunan suhu di dahi 0,25ºC dan lipatan paha 0,58ºC. Hasilnya
ada perbedaan lokasi kompres hangat di dahi dan lipatan paha. Penelitian
tersebut menunjukkan bahwa efektifitas lokasi kompres hangat dilipatan paha
lebih efektif terhadap penurunan suhu tubuh dibandingkan kompres hangat di
dahi.
Dari kedua jurnal dapat disimpulkan bahwa kompres hangat merupakan
metode untuk menurunkan suhu tubuh. Pemberian kompres hangat pada daerah
axila dan lipatan paha lebih efektif karena terdapat banyak pembuluh darah
besar dan banyak kelenjar keringat apokrin yang mempunyai banyak vaskuler
sehingga akan memperluas daerah yang mengalami vasodilatasi yang akan
memungkinkan percepatan perpindahan panas dari dalam tubuh ke kulit hingga
delapan kali lipat lebih banyak. Lingkungan luar yang hangat akan membuat
tubuh menginpestrasikan bahwa suhu diluar cukup panas sehingga akan
menurunkan kontrol pengatur suhu tubuh lagi, juga akan membuat pori- pori
kulit terbuka sehingga mempermudah pengeluaran suhu tubuh.
V. Alat dan bahan :
a. Larutan kompres berupa air hangat 40 °C dalam wadahnya
(dalam kom).
b. Handuk / kain / wash lap untuk kompres
c. Handuk pengering, Sarung tangan, Termometer.
VI. Prosedur :
a. Beri tahu klien, dan siapkan alat, klien, dan lingkungan
b. Cuci tangan.
c. Ukur suhu tubuh.
d. Basahi kain pengompres dengan air, peras kain sehingga tidak
1
3
terlalu basah.
e. Letakkan kain pada daerah yang akan dikompres ( dahi, ketiak, perut,
leher belakang ). Tutup kain kompres dengan handuk kering.
f. Apabila kain telah kering atau suhu kain relative menjadi
dingin, masukkan kembali kain kompres ke dalam cairan
kompres dan letakkan kembali di daerah kompres, lakukan
berulang-ulang hingga efek yang diinginkan dicapai.
g. Evaluasi hasil dengan mengukur suhu tubuh klien setelah 20 menit
h. setelah selesai, keringkan daerah kompres atau bagian tubuh yang
basah dan rapikan alat
i. Cuci tangan kembal
B. Konsep Teori Dangue Haemoragic Fever (DHF)
a. Definisi DHF
Demam dengue atau DF dan demam berdarah dengue atau DBD (dengue
hemorrhagic fever disingkat DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang
disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan ditesis hemoragik.
Pada DHF terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan hemokosentrasi
(peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan dirongga tubuh. Sindrom
renjatan dengue yang ditandai oleh renjatan atau syok (Nurarif & Kusuma 2015).
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang menyerang anak dan
orang dewasa yang disebabkan oleh virus dengan manifestasi berupa demam
akut, perdarahan, nyeri otot dan sendi.
Dengue adalah suatu infeksi Arbovirus (Artropod Born Virus) yang akut di
1
4
tularkan oleh nyamuk ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti atau oleh Aedes
Aebopictus (Wijayaningsih 2017). Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) menular
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. DHF merupakan penyakit berbasis vektor
yang menjadi penyebab kematian utama di banyak negara tropis. Penyakit DHF
bersifat endemis, sering menyerang masyarakat dalam bentuk wabah dan disertai
dengan angka kematian yang cukup tinggi, khususnya pada mereka yang berusia
dibawah 15 tahun (Harmawan 2018).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Dengue
Haemorhagic Fever adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus
Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti betina yang sering muncul
pada musim penghujan dan biasanya mengigit pada siang hari, dengan tanda klinis
berupa adanya demam, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, trombositopenia dengan
atau tanpa ruam yang dapat menggangu sistem tubuh yang lain dan dapat
menyebabkan kematian.
b. Etiologi
Virus dengue merupakan penyebab dari penyakit DHF. Virus dengue
merupakan virus kelompok B atau arthropode-bornevirus. Virus dengue
menular melalui suntikan nyamuk Aedes Aegepty atau nyamuk Aedes
Albopictus yang terinfeksi oleh virus saat menghisap darah seseorang yang
sehat. Penularan penyakit DHF bisa terjadi pada manusia kemanusia atau
manusia kehewan ataupun sebaliknya. Manusia yang sedang sakit DHF
kemungkinan bisa menularkan kemanusia lainnya yang sehat, tergantung
dari sistem imunitas dari masing-masing individu untuk melawan virus
tersebut.
Dalam waktu 3 sampai 8 hari setelah virus masuk kedalam tubuh, tubuh akan
1
5
memberikan tanda dan gejala sebagai perlawanan alami dari dalam. Gejala umum
yang dialami penderita peyakit DHFyakni demam disertai menggigil, pusing,
pegal-pegal (Handayani, 201
A. Patway
Virus Dangue
Melalui Gigitan Nyamuk
Bereaksi Dengan Antibody
Viremia
Mengeluarkan Zat
Mengeluarkan Zat Mediator Dinding Pembuluh Darah
Mual Mediator
Merangsang Hipatalamus Nafsu Makan
Peningkatan Permeanilitas
Anterio Menurun
Intake Adekuat
Suhu Tubuh Meningkat
Defisit Nutrisi
Hipertemi
Kebocoran Plasma
Penurunan Tekanan Darah Tombositopenia
Resiko Perdarahan Volume Darah Berkurang
2.1 Patway Dangae Hoemoragic Fever (DHF) Syok Hipovolemik
16
Virus dengue, termasuk genus Flavivirus, keluarga flaviridae. Terdapat 4
serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Keempatnya
ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 serotipe terbanyak. Infeksi salah
satu serotipe akan menimbulkan antibody terhadap serotipe yang
bersangkutan, sedangkan antibody yang terbentuk terhadap serotype lain
sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang
memadai terhadap serotipe lain tersebut. Seseorang yang tinggal di daerah
endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya.
Keempat serotipe virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di
Indonesia (Nurarif & Kusuma 2015).
Virus dengue yang mana biasanya di bawa oleh nyamuk Aedes Aegepty
(betina) dengan gigitan menjadi vektor kebutuh manusia dengan gigitan
nyamuk tersebut. Infeksi yang pertama kali bisa memeri gejala sebagai
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dengan gejala utama demam,
nyeri/sendi (Titik lestari, 2016).
c. Manifestasi Klinis
Berikut ini tanda dan gejala penyakit DHF yang dapat dilihat dari penderita
kasus DHF dengan gejala klinik dan laboratorium menurut Nurarif (2015) adalah:
a) Gejala Klinik
1) Demam tinggi mendadak 2 sampai 7 hari (38 – 40 º C).
2) Manifestasi perdarahan dengan bentuk: uji Tourniquet
positif, Petekie (bintik merah pada kulit), Purpura
(pendarahan kecil di dalam kulit), Ekimosis, Perdarahan
17
konjungtiva (pendarahan pada mata), Epistaksis
(pendarahan hidung), Perdarahan gusi, Hematemesis
(muntah darah), Melena (BAB darah) dan Hematuri
(adanya darah dalam urin).
b) Perdarahan pada hidung dan gusi.
c) Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah
pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.
d) Pembesaran hati (hepatomegali).
e) Renjatan (syok), tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau
kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.
f) Gejala klinik lainnya yang sering menyertai yaitu anoreksia
(hilangnya selera makan), lemah, mual, muntah, sakit perut,
diare dan sakit kepala.
d. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada anak yang mengalami demam berdarah dengue
yaitu perdarahan massif dan dengue shock syndrome (DSS) atau sindrom syok
dengue (SSD). Syok sering terjadi pada anak berusia kurang dari 10 tahun. Syok
ditandai dengan nadi yang lemah dan cepat sampai tidak teraba, tekanan nadi
menurun menjadi 20 mmHg atau sampai nol, tekanan darah menurun dibawah 80
mmHg atau sampai nol, terjadi penurunan kesadaran, sianosis di sekitar mulut dan
kulit ujung jari, 24 hidung, telinga, dan kaki teraba dingin dan lembab, pucat dan
oliguria atau anuria (Pangaribuan 2017)
18
e. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan pada Pemeriksaan darah
lengkap
a) Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk memeriksa kadar
hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit. Peningkatan nilai
hematokrit yang selalu dijumpai pada DHF merupakan indikator
terjadinya perembesan plasma.
1) Pada demam dengue terdapat Leukopenia pada hari kedua atau
hari ketiga.
2) Pada demam berdarah terdapat trombositopenia dan
hemokonsentrasi.
3) Pada pemeriksaan kimia darah: Hipoproteinemia, hipokloremia,
SGPT, SGOT, ureum dan Ph darah mungkin meningkat.
b) Uji Serologi = Uji HI (Hemaglutination Inhibition Test)
Uji serologi didasarkan atas timbulnya antibody pada penderita yang
terjadi setelah infeksi. Untuk menentukan kadar antibody atau antigen
didasarkan pada manifestasi reaksi antigen-antibody. Ada tiga kategori,
yaitu primer, sekunder, dan tersier. Reaksi primer merupakan reaksi tahap
awal yang dapat berlanjut menjadi reaksi sekunder atau tersier. Yang mana
tidak dapat dilihat dan berlangsung sangat cepat, visualisasi biasanya
dilakukan dengan memberi label antibody atau antigen dengan flouresens,
radioaktif, atau enzimatik. Reaksi sekunder merupakan lanjutan dari reaksi
primer dengan manifestasi yang dapat dilihat secara in vitro seperti
prestipitasi, flokulasi, dan aglutinasi. Reaksi tersier merupakan lanjutan
19
reaksi sekunder dengan bentuk lain yang bermanifestasi dengan gejala
klinik
c) Uji hambatan hemaglutinasi
Prinsip metode ini adalah mengukur campuran titer IgM dan IgG
berdasarkan pada kemampuan antibody-dengue yang dapat menghambat
reaksi hemaglutinasi darah angsa oleh virus dengue yang disebut reaksi
hemaglutinasi inhibitor (HI).
d) Uji netralisasi (Neutralisasi Test = NT test)
Merupakan uji serologi yang paling spesifik dan sensitif untuk virus
dengue. Menggunakan metode plague reduction neutralization test
(PRNT). Plaque adalah daerah tempat virus menginfeksi sel dan batas
yang jelas akan dilihat terhadap sel di sekitar yang tidak terkena infeksi.
e) Uji ELISA anti dengue
Uji ini mempunyai sensitivitas sama dengan uji Hemaglutination Inhibition
(HI). Dan bahkan lebih sensitive dari pada uji HI. Prinsip
dari metode ini adalah mendeteksi adanya antibody IgM dan
IgG di dalam serum penderita.
f) Rontgen Thorax
Pada foto thorax (pada DHF grade III/ IV dan sebagian besar
grade II) di dapatkan efusi pleura
Pemeriksaan penunjang pada DHF menurut buku Nurarif
(2015) adalah :
1) Trombositpenia (100.000/ mm3)
2) Hb dan PCV meningkat 20 %
20
3) Leukopenia (Normal atau lekositosis)
4) Isolasi virus
5) Serologi (uji H) : respon antibody sekunder
6) Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali
(setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda
perbaikan).
B. Anatomi Fisiologi
Menurut Sheerwood hematologi adalah ilmu yang mempelajari segala
sesuatu tentang darah dan aspeknya pada keadaan sehat atau sakit, dalam
keadaan normal volume darah manusia ±7-8% dari berat bagian tengah rongga
tulang panjang. Sumsum merupakan 4% sampai 5% berat badan total,
sehingga merupakan yang paling besar didalam tubuh. Sumsum bisa berwarna
merah atau kuning. Sumsum merah merupakan tempat produksi sel darah
merah aktif dan merupakan organ hematopoetik (penghasil darah) utama.
Sedangkan sumsum tulang kuning, tersusun terutama oleh lemak dan tidak ktif
dalam produksi elemen darah. (Desmawati, 2013)
Darah sendiri adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lain karena
berbentuk ciran yang mengandung elektrolit dan sebagai kendaraan atau
medium untuk transportasi pertukaran antar sel. Darah juga merupakan
komponen esensial makhluk hidup yang berada dalam ruang vaskuler, karena
perannya sebagai media komunikasi antar sel ke berbagai bagian tubuh dengan
21
dunia luar karena fungsinya membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan
karbondioksida dari jaringan ke paru-paru untuk di keluarkan, membawa zat
nutrisi dari saluran cerna ke jaringan kemudian mengantarkan sisa
metabolisme melalui organ sekresi seperti ginjal, menghantarkan hormon dan
materi-materi pembekuan. (Desmawati, 2013)
1. Karakteristik darah
Karakteristik umum darah meliputi warna, viskositas, pH, volume, dan komposisinya
a. Warna darah
Darah arteri berwarna merah muda karena banyak oksigen yang
berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Darah vena
berwarna merah tua karena kurang oksigen dibandingkan dengan darah
arteri.
b. Viskositas Darah
Viskositas darah ¼ lebih tinggi pada viskositas air yaitu sekitar
1.084 sampai 1.066.
c. pH Darah
pH darah bersifat alkaline dengan pH 7,35-7,45.
d. Volume Darah
Pada orang dewasa volume darah sekitar 70-75m/kgBB, atau
sekitar 4-5 liter darah
e. Komposisi Darah
Darah tersusun atas dua komponen utama, yaitu :
1) Plasma darah
22
Unsur ini merupakan komponen terbesar dalam darah, karna
lebih dari separu darah mengandung plasma darah. Plasma darah yaitu
suatu cairan kompleks yang berfungsi sebagai medium transportasi
untuk zat-zat yang diangkat dalam darah, yaitu sebagian terdiri dari
air (92%), 7% protein, 1% nutrisi, hasil metabolisme, gas pernafasan,
enzim, hormon-hormon, faktor pembekuan darah dan garam-garaman
organik. Protein-protein dalam plasma terdiri dari serum albumin
(alpha-1 globulin, alpha-2 globulin, beta globulin, dan
gamma globulin), fibrinogen, protombin, dan protein esensial untuk
[Link] albumin dan gamma globulin sangat penting untuk
mempertahankan tekanan osmotik, dan gamma globulin juga
mengandung antibodi (immunoglobulin) seperti IgM, IgG, igA, igD,
dan IgE untuk mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme.
2) Sel-sel darah
Sel-sel darah tersusun atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit), trombosit (keping darah).
1) Sel darah merah (eritrosit)
Eritrosit merupakan jenis sel darah yang paling banyak dan
berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh lewat
darah. Bagian dalam eritrosit terdiri dari hemoglobin, sebua
biomolekul yang dapat mengikat oksigen. Hemoglobin akan
mengambil oksigen dari paruparu, dan oksigen akan di lepaskan
saat eritrosit melewati pembuluh kapiler. Warna merah sel darah
23
merah sendiri berasal dari hemoglobil yang unsur pembuatannya
adalah zat besi.
Hemoglobin adalah protein atau pigmen merah yang terdapat
sel darah merah. Normalnya dalam darah pada laki-laki 15,5 g/dl
dan pada wanita 14,00 g/dl. Rata-rata konsentrasi hemoglobin
(MCHC ꞊ Mean cell concentration of hemoglobin) pada sel darah
merah 32g/dl. Fungsi hemoglobin mengangkut oksigen dari paru
dan dalam peredaran darah untuk di bawa ke jaringan. Ikatan
oksigen dengan hemoglobin 10 disebut oksihemoglobin (HbO2).
Disamping oksigen, hemoglobin juga membawa karbondioksida
dan dengan karbondioksida membentuk ikatan karbon monoksida
(hbCO), juga berperan dalam keseimbangan pH darah.
(Desmawati, 2013)
2) Sel darah putih (leukosit)
Sel darah putih berperan dalam membentuk sistem pertahanan
tubuh terhadap penyakit. Leukosit terbagi atas 2 bagian yaitu :
Agranulosit Adalah leukosit yang tidak memiliki granula pada
sitoplasmanya dan Granulosit adalah leukosit yang memiliki
granula pada sitoplasmanya (Desmawati, 2013)
3) Trombosit
Trombosit merupakan partikel kecil, berdiameter dua sampai
empat mikron, yang terdapat di dalam sirkulasi plasma darah.
Karena dapat mengalami disintegrasi cepat dan mudah,
24
jumlahnya selalu berubah berkisar antara 150.000 sampai
dengan
450.000 per mm³ darah. Trombosit berperan penting dalam
mengontrol perdarahan. Apabila terjadi cedera vaskuler,
trombosit mengumpul pada tempat cedera tersebut. Substansi
yang dilepaskan dari granula trombosit menyebabkan trombosit
menempel satu dengan lainnya yang membentuk tambalan atau
sumbatan yang sementara menghentikan perdarahan. Substansi
lain dilepaskan dari trombosit dan memulai mekanisme rumit
pembekuan darah yang disebut juga Clotting Cascade.
Akan tetapi mekanisme pembekuan ini hanya efektif pada
perdarahan intensitas kecil misalnya pada pembuluh darah kecil
atau rembesan kapiler. Sedangkan pada perdarahan pembuluh
darah besar atau arteri, mekanisme ini sulit mempertahankan
kontinuitasnya oleh karena tekanan hidrostatik yang dihasilkan
oleh jantung dan darah yang masih di dalam [Link]
hematologi yang terjadi pada pasien Dengue heamoragic fever:
1. Trombositpenia
Trombositopenia didefinisikan sebagai jumlah
trombosit di bawah 100.000 / mm3 . hal ini bisa disebabkan
oleh pembentukan trombosit yang berkurang atau
penghancuran yang meningkat. Pada umumnya trombositpenia
terjadi sebelum ada peningkatan hematokrit dan terjadi
25
sebelum suhu turun. Jumlah trombosit kurang dari 100.000
/ mm3 biasanya ditemukan antara hari ketiga sakit
sampai ketujuh.
2. Hematokrit
Hematokrit yaitu suatu nilai kadar sel darah yang
terdapat didalam plasma darah. Semakin tinggi nilai
hematokrit, semakin tinggi viksositas atau kekentalan darah.
Nilai hematokrit normal untuk pria berkisar antara 45 – 52%,
sedangkan nilai hematokrit normal untuk wanita berkisar
antara 36 – 48%. Hemokonsentrasi yang terjadi akibat adanya
perembesan plasma dapat ditentukan berdasar peningkatan
angka hematokrit. Pada waktu terjadinya penurunan suhu
badan penderita atau sebelum terjadinya syok, terjadi
penurunan jumlah trombosit diikuti peningkatan angka
hematokrit (Desmawati, 2013)
A. Fatofisiologi
Nyamuk Aedes yang terinfeksi atau membawa virus dengue menggigit
manusia. Kemudian virus dengue masuk kedalam tubuh dan berdar dalam
pembuluh darah bersama darah. Virus kemudian bereaksi dengan antibody yang
mengakibatkan tubuh mengaktivasi dan melepaskan C3 dan C5. Akibat dari
pelepasan zat-zat tersebut tubuh mengalami demam, pegal dan sakit kepala,
mual, ruam pada kulit. Pathofisiologi primer pada penyakit DHF adalah
meningkatnya permeabilitas membran vaskuler yang mengakibatkan kebocoran
26
plasma sehingga 9 cairan yang ada diintraseluler merembes menuju
ekstraseluler. Tanda dari kebocoran plasma yakni penurunan jumlah
trombosit, tekanan darah mengalami penurunan, hematokrit meningkat. Pada
pasien DHF terjadi penurunan tekanan darah dikarenakan tubuh kekurangan
hemoglobin, hilangnya plasma darah selama terjadinya kebocoran, Hardinegoro
dalam buku keperawatan medikal bedah 1 (Kardiyudiana, 2019).
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan viremia.
Hal tersebut akan menimbulkan reaksi oleh pusat pengatur suhu di hipotalamus
sehingga menyebabkan (pelepasan zat bradikinin, serotinin, trombin, histamin)
terjadinya: peningkatan suhu. Selain itu viremia menyebabkan pelebaran pada dinding
pembuluh darah yang menyebabkan perpindahan cairan dan plasma dari intravascular
ke intersisiel yang menyebabkan hipovolemia. Trombositopenia dapat terjadi akibat
dari penurunan produksi trombosit sebagai reaksi dari antibodi melawan virus
(Murwani 2018)
Pada pasien dengan trombositopenia terdapat adanya perdarahan baik kulit
seperti petekia atau perdarahan mukosa di mulut. Hal ini mengakibatkan adanya
kehilangan kemampuan tubuh untuk melakukan mekanisme hemostatis secara normal.
Hal tersebut dapat menimbulkan perdarahan dan jika tidak tertangani maka akan
menimbulkan syok. Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus akan
masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Pertama tama yang
terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala,
mual, nyeri otot pegal pegal di seluruh tubuh, ruam atau bintik bintik merah pada kulit,
hiperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi pembesaran kelenjar getah
bening, pembesaran hati atau hepatomegali (Murwani 2018).
Kemudian virus bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus
27
antibodi. Dalam sirkulasi dan akan mengativasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3
dan C5 akan di lepas C3a dan C5a dua peptida yang berdaya untuk melepaskan
histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningkatnya permeabilitas
dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya pembesaran plasma ke
ruang ekstraseluler. Pembesaran plasma ke ruang eksta seluler mengakibatkan
kekurangan volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia
serta efusi dan renjatan atau syok. Hemokonsentrasi atau peningkatan hematokrit >20%
menunjukan atau menggambarkan adanya kebocoran atau perembesan sehingga nilai
hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena (Murwani 2018).
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler di buktikan dengan ditemukan
cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritonium, pleura, dan
perikardium yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit menunjukan
kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus di kurangi
kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadi edema paru dan gagal jantung,
sebaliknya jika tidak mendapat cairan yang cukup, penderita akan mengalami
kekurangan cairan yang akan mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa
mengalami renjatan.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia
jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan
baik (Murwani 2018). Nyamuk Aedes yang sudah terinfeksi virus dengue, akan
tetap infektif sepanjang hidupnya dan terus menularkan kepada individu yang
rentan pada saat menggigit dan menghisap darah. Setelah masuk kedalam
tubuh manusia, virus dengue akan menuju organ sasaran yaitu sel kuffer hepar,
endotel pembuluh darah, nodus limpaticus, sumsum tulang serta paru-paru.
28
Ada beberapa peneliti, menunjukkan, sel monosit dan magrofag mempunyai
peran pada infeksi ini, dimulai dengan menempel dan masuknya genom virus
ke 10 dalam sel dengen bantuan organel sel membentuk komponen perantara
dan komponen struktur virus. Arbovirus yang menyebar melalui gigitan
nyamuk kemudian racun masuk melalui aliran darah, badan, menjadi panas
akibat toksin yang di kelola oleh nyamuk, akibat toksin tersebut hipotalamus
tidak bisa mengontrol yang akhirnya menjadi panas tinggi atau demam.
Efek dari demam dengue tersebut yaitu demam akut disertai nyeri kepala,
nyeri belakang mata, perdarahan, leucopenia. Demam akut dengan ciri-ciri
demam manifestasi perdarahan, dan bertendensi mengakibatkan renjatan (flek)
yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah, kebocoran plasma, efusi
pleura, hematemesis, melena, kematian (Fitrianda, 2016). Virus dengue akan
masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan kemudian
akan bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks vrius antibodi,
dalam sirkulasi akan mengaktivasi sistem komplement.
Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang
berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai
faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan
plasma melalui endotel dinding itu. Terjadinya trombositopenia, menurunnya
fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin, faktor V, VII,
IX dan X) yang merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat,
terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
29
1.1 RUMUSAN MASALAH
1.2 TUJUAN PENELITIAN
1.2.1 TUJUAN UMUM
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
1.3 MANFAAT PENELITIAN
1.3.1 MANFAAT BAGI PASIEN DAN MASYARAKAT
1.3.2 MANFAAT BAGI PELAYANAN KESEHATAN
1.3.3 MANFAAT BAGI PENELITI
30
BAB 2
TINJAUAN PUSAKA
A. DEFINISI
Demam dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus
dengue, dan disebarkan melalui perantara nyamuk Aedes Aegypti yang telah
terinfeksi dengan virus dengue(Ratna,2011). Demam Berdarah Dengue
(DBD/DHF) merupakan penyakit menular yang ditandai panas (Demam) serta
pendarahan(Ratna 2011). DBD merupakan merupakan bentuk yang lebih parah
dari demam dengue dimana terjadi perembesan plasma yang ditandai
hemakonsentrasi(peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga
tubuh yang menyebabkan syok, apabila tidak ditangani dengan tepat dapat
berujung kematian.
Derajat DBD/DHF menurut WHO :
Derajat I : Demam 2-7 hari disertai gejala tidak khas, dapat ditandai
dengan uji torniquet (+).
Derajat II : Sama dengan Derajat I, dengan disertai pendarahan
spontan seperti eputaksis, hematemesis, melena, pendarahan
gusi.
31
Derajat III : Ditemukan tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan
lembut(≤ 120x/menit), tekanan nadi menurun (≤ 20mmhg)
atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab, dan pasien
menjadi gelisah.
Derajat IV : syok bera, nadi tidak teraba dan teakanan darah tidak
teratur, akral dingin dan berkeringat, kulit tampak biru.
B. ETIOLOGI
DBD disebabkan oleh virus dengue, yang merupakan genus flavivirus,
keluarga flaviridae. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan
DEN-4, keempat serotipe tersebut ditemukan di Indonesia. Seseorang yang
tinggal di daerah endemis dengue dapt terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama
hidupnya(Sudoyo Aru,dkk 2009)
Virus dengue ditularkan melalui vektor [Link] yang berperan
dalam penyebaran virus dengue adalah nyamuk Aedes Aegepypti, nyamuk ini
tersebar di seluruh daerah tropis, dengan ciri khas terdapat sepasang garis putih
yang sejajar di tengah badan dan garis lengkung putih yang lebih tebal pada setiap
sisi tubuhnya. Aedes Aegypti senang berkembang biak pada genangan air yang
bersih dan tempat penyimpanan air, selain itu nyamuk jenis ini juga lebih senang
menggigit pada tempat-tempat yang terlinsungi seperti di dalam rumah.
C. MANIFESTASI KLINIS
1. Demam Dengue
Merupakan deam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih
manifestasi klinis sebagai berikut :
32
a. Nyeri kepala
b. Nyeri retro-orbital
c. Mialgia/artralgia
d. Ruam kulit
e. Manifestasi pendarahan (ptekie atau uji bendung positif)
f. Leukopenia
g. Pemeriksaan serulogi dengue positif; tidak ditemukan DD/DBD yang
sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.
2. Demam Berdarah Dengue
Berdasarkan diagnostik WHO 1997 daignosis DBD ditegakkan bila
semua hal dibawah ini terpenuhi
a. Demam atau riwayat demam akut antara 2-7 hari, biasanya bersifat
bifasik.
b. Manifestasi pendarahan biasanya berupa :
1) Uji torniquet positif
2) Ptekie, ekimosis, dan purpura
3) Pendarahan mukosa (epistaksis, perdarahan gusi), saluran cerna,
tempat bekas suntikan
4) Hematemesis atau melena
c. Trombositopenia < 100.00/ul
d. Kebocoran plasma yang ditandai dengan :
1) Peningkatan nilai hematokrit ≥ 20% dari nilai baku sesuaiumur
dan jenis kelamin
33
2) Penurunan nilai hematokrit ≥ 20% setelah pemberian cairan
yang adekuat
e. Tanda kebocoran plasma seperti : hipoproteinemi, asites, efusi pleura.
3. Sindrom Syok Dengue
Seluruh kriteria DBD diatas disertai dengan kegagalan sirkulasi yaitu :
a. Penurunan kesadaran ,gelisah
b. Nadi cepat lemah
c. Hipotensi
d. Tekanan darah menurun ≤ 20 mmHg
e. Perfusi perifer menurun
f. Kulit dingin-lembab
34
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai (Nur Salam 2008) :
1. Hb dan PCV meningkat (≥ 20%)
2. Trombositopenia (≤ 100.000/ml).
3. Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis).
4. [Link] positif.
5. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia,
hipokloremia, dan hiponatremia.
6. Urium dan pH darah mungkin meningkat.
7. Asidosis metabolik : pCO2 <35-40 mmHg dan HCO3 rendah.
8. SGOT/SGPT mungkin meningkat.
E. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan DHF yaitu :
a. Tirah baring
b. Makanan lunak dan diberi minum 1,5-2 liter dalam 24 jam.
c. Untuk hiperpireksia duberikan kompres
d. Berikan antibiotik bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi.
2. Pada pasien dengan tanda renjatan dilakukan :
a. Pemasangan infus RL/Asering dan dipertahankan selama 12-48 jam
b. Observasi keadaan umum (tanda Tanda Vital)
3. Pencegahan DBD
35
a. Melakukan PSN DB (Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam
Berdarah) dengan 3M :
1) Menutup rapt penampungan air.
2) Menguras penampungan air minimal 1 minggu sekali.
3) Mengubur dan menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat
menjadi tempat menggenangnya air.
b. Pengasapan (Fogging).
c. Larvadisasi, yaitu menaburkan bubuk abate pada tempat penyimpanan
air untuk membunuh larva nyamuk.
d. Penyuluhan Demam berdarah.
F. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
b. Keluhan utama : terjadi panas tinggi (≥ 41°C), terdapat bintik-bintik
merah pada kulit, keadaan umum anak lemah
c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang: tanyakan kepada keluarga klien
kapankah terjadi keluhan, dan tindakan apa yang dilakuka
untukmenatasi keluhan
2) Riwayat penyakit dahulu: tanyakan apakah keluarga klien
apakah pasien pernah mengalami penyakit yang lain atau
penyakit yang sama dengan jenis virus yang berbeda.
36
3) Riwayat keluarga : tanyakan kepada keluarga apakah dalam
keluarga pernah terjadi kasus yang sama.
4) Riwayat imunisasi: kaji kekebalan imun dari klien, dengan
mengetahui tingkat imunitas resiko timbulnya komplikasi dapat
terjadi.
5) Riwayat gizi: kaji status gizi klien, apakah terjadi gangguan
pemenuhan kebutuhan nutrisi.
6) Riwayat pemakaian obat: tanyakan kepada keluarga klien,
apakah memiliki alergi terhadap obat tertentu.
7) Kondisi lingkungan: tanyakan kepada klien bagaimanakah
kondsi lingkungan di sekitar rumah klien, apakah terdapat
genangan air, atau terdapat tumpukan sampah.
d. Pemeriksaan fisik
1) Sitem pernafasan (B1)
Apakah ada ketidak efektifan pola nafas, apakah ada ronchi,
wheezing, da gangguan irama pernafasan.
2) Sistem kardiovaskuler (B2)
Apakah terjadi gangguan sirkulasi darah dan irama jantung, kaji
frequensi denyut nadi, dan tekanan darah.
3) Sistem persarafan (B3)
Kaji tingkat kesadaran (composmentis, somnolent, apatais, dsb),
apakh terjadi nyeri.
4) Sistem perkemihan (B4)
37
Hitung jumlah rin yang keluar dan asupan cairan tubuh pasien,
apakah sebanding (adekuat) atau tidak.
5) Sistem pencernaan (B5)
Kaji apakah terjadi mual untah, kaji apakah terdapat
hematemesis, melena, atau gusi berdarah.
6) Sistem muskuloskeletal dan integumen(B6)
Kaji apakah terjadi nyeri pada bagian ekstermitas dan otot,kaji
kekuatan otot klien pada saat tirah baring, apakah ekstermitas
terasa dingin, berkeringat dan kulit tampak kebiruan. Kaji
apakah timbul ptekie pada daerah integumen, tugor kulit,
muncul keringat dingin dan lembab.
38
DAFTAR PUSTAKA
Dani S, [Link] PENYAKIT [Link]: Gosyen Publishing
Dewi P, [Link] PENYAKIT PADA [Link] barat: PT Indeks
Nadesul, [Link] Mudah Mengalahkan Demam [Link]: PT
Kompas Media Nusantara
Nanda.2013. APLIKASI ASUHAN KEPERAWTANBERDASARKAN DIAGNOSA MEDIS &
NANDA [Link]:Med Action publishing
Nilus S&[Link] PERTAMA PADA ANAK
[Link]: KATAHATI
Nursalam, [Link] KEPERAWATAN BAYI dan [Link]: Salemba
Medika
Sujono&[Link] Keperawatan pada Anak [Link]: Gosyen
Publishing