0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan38 halaman

Asuhan Keperawatan Hipertermia pada Anak

Karya ilmiah ini membahas asuhan keperawatan pada anak bernama An. A yang dirawat di ruang Aulia RS Al Huda Genteng dengan diagnosis Demam Berdarah Dengue (DHF) dan mengalami masalah hipertermia. Tujuan karya ini adalah untuk memberikan gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan pada masalah tersebut, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Diharapkan hasilnya dapat meningkatkan kualitas pel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan38 halaman

Asuhan Keperawatan Hipertermia pada Anak

Karya ilmiah ini membahas asuhan keperawatan pada anak bernama An. A yang dirawat di ruang Aulia RS Al Huda Genteng dengan diagnosis Demam Berdarah Dengue (DHF) dan mengalami masalah hipertermia. Tujuan karya ini adalah untuk memberikan gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan pada masalah tersebut, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Diharapkan hasilnya dapat meningkatkan kualitas pel
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH HIPERTERMIA

PADA ANAK DENGAN DHF DI RUANG AULIA RS AL-HUDA

GENTENG

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

Disusun Oleh:

RISKA ANGGRAINI, [Link]

NIM : 2

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG

TAHUN 2023/2024
2

LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan keperawatan anak yang berjudul Asuhan keperawatan anak An K dengan

Dengue Fever di Ruang Aulia RS Al Huda Genteng. Yang disusun oleh: Riska

Anggraini, [Link].

Telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada:

Hari :………………..

Tanggal : ………………

Mahasiswa

Riska Anggraini, [Link].

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

................................................... ...................................................

NPP: ............................................. NPP: .............................................


3

BAB I
PENDAHULUAN

LAPORAN PENDAHULUAN
DENGUE HEMORAGIC FEVER(DHF)

A. Latar Belakang

Hipertermia adalah keadaan saat meningkatnya suhu tubuh seseorang diatas

rentang normal tubuh (Tim Pokja SDKI, 2018). Hipertermi adalah keadaan dimana

individu mengalami peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal 37,5 oC yang ditandai

dengan kulit terasa hangat dan kulit kemerahan (Herdman, 2012). Hipertermi

merupakan naiknya suhu tubuh menjadi lebih tinggi daripada biasanya. Suhu tubuh

normal manusia berada pada titik 37, 5 oC, jika tubuh menunjukkan angka tersebut

menunjukkan adanya demam yang disebabkan oleh infeksi (Indah, 2019).

Demam dengue atau DF dan demam berdarah dengue atau DBD

(Dengue Hemorrhagic Fever disingkat DHF) adalah penyakit infeksi yang

disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot

dan/atau nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati,

trombositopenia dan ditesis hemoragik. Pada DHF terjadi perembesan plasma

yang ditandai dengan hemokosentrasi (peningkatan hematokrit) atau

penumpukan cairan dirongga tubuh. Sindrom renjatan dengue yang ditandai oleh

renjatan atau syok (Nurarif & Kusuma 2015).

World Health Organizaton (WHO) menyebutkan jumlah kasus demam

berdarah yang dilaporkan meningkat lebih dari 8 kali lipat selama 4 tahun

terakhir, dari 505.000 kasus meningkat menjadi 4,2 juta pada tahun 2019.
4

Jumlah angka kematian yang dilaporkan juga mengalami peningkatan dari 960

menjadi 4032 selama 2015. Tidak hanya jumlah kasus yang meningkat seiring

penyebaran penyakit ke wilayah baru termasuk Asia, tetapi wabah eksplosif juga

terjadi. Ancaman kemungkinan wabah demam berdarah sekarang ada di Asia.

Wilayah Amerika melaporkan 3,1 juta kasus, dengan lebih dari 25.000

diklasifikasikan sebagai parah. Terlepas dari jumlah kasus yang

mengkhawatirkan ini, kematian yang terkait dengan demam berdarah 2 lebih

sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah kasus DBD tersebut

merupakan masalah yang dilaporkan secara global terjadi pada tahun 2019

(WHO, 2019).WHO mencacat negara Indonesia adalah negara dengan kasus

(DHF) tertinggi di Asia Tenggara dan tertinggi nomor dua di dunia setelah

Thailand (Dhamayanti, 2019). Data Depkes RI (2019) jumlah kasus penderita

(DHF) di Indonesia pada tanggal 29 Januari 2019 13.683 orang diseluruh

Indonesia. Penderita (DHF) di indonesia terdapat dengan jumlah 133 orang.

Penderita (DHF) terus bertambah hingga 3 Februari 2019, banyaknya penderita

(DHF) mencapai 16.692 kasus, dengan 169 jiwa dinyatakan meninggal dunia.

Direktur pengendalian penyakit tular vektor dan zoonosis kemenkes,

Berdasarkan data Kemenkes tahun 2020 kasus Demam Berdarah Dengue

(DBD) di Indonesia hingga Juli mencapai 71.700 kasus. Ada 10 provinsi yang

melaporkan jumlah kasus terbanyak yaitu di Jawa Barat 10.772 kasus, Bali

8.930 kasus, Jawa Timur 5.948 kasus, NTT 5.539 kasus,Lampung 5.135 kasus,

DKI Jakarta 4.227 kasus, NTB 3.796 kasus, Jawa Tengah 2.846 kasus,

Yogyakarta 2.720 kasus, dan Riau 2.255 kasus sedangkan tahun 2019 jumlah
5

kasus lebih tinggi berjumlah 112.954. Selain itu jumlah kematian di seluruh

Indonesia mencapai 459. Namun demikian jumlah kasus dan kematian tahun ini

masih rendah jika dibandingkan tahun 2019. Begitupun dengan jumlah

kematian, tahun ini berjumlah 459, sedangkan tahun 2019 sebanyak 751

(Kemenkes, 2020) Prevalensi Jumlah kasus DHF di kota Pontianak pada tahun

2020 dengan jumlah 359 kasus yang menyerang terutama pada anak-anak usia

berkisar antara 5 hingga 14 tahun, mengingat daya tahan tubuh mereka lebih

rendah dibandingkan orang dewasa (Dinkes Kota Pontianak 2020). Tahun 2020

jumlah kasus Dangue Haemoragic Fever (DHF) untuk rawat jalan dan rawat

inap sebanyak 861 penderia dengan 4 orang meniggal dunia. Penderita DHF

didominasi usia 3-15tahun dengan jumlah 421 penderita. Berdasarkan

uraian diatas penulis termotivasi dan tertarik untuk menulis karya ilmiah tentang

hipertemi pada An. A dengan Dangue Haemoragic Fever (DHF) di RS Anton

Soedjarwo, sehingga lebih mendalami dalam asuhan keperawatan dengan anak

penderita DHF dengan pendekatan karya tulis ilmiah.

B. Tujuan Penulisan

a. Tujuan umum

Tujuan umum dari Karya Ilmiah Akhir ini yaitu untuk memberikan

gambaran asuhan keperawatan Hipertermia pada An. A dengan Dangue

Haemorogic Fever (DHF) di Ruang Chatur Prasetya di RS Anton

Soedjarwo Pontianak tahun 2022

b. Tujuan khusus

a. Menerapkan konsep teori tentang proses asuhan keperawatan


6

Hipertermia pada An. A dengan Dangue Haemorogic Fever (DHF)

di Ruang Chatur di RS Anton Soedjarwo Pontianak tahun 2022

b. Membandingkan antara teoritis dan praktik lapangan asuhan

keperawatan pada Hipertermia pada An. A dengan Dangue

Haemorogic Fever (DHF) di Ruang Chatur di RS Anton Soedjarwo

Pontianak tahun 2022

c. Untuk melihat gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan

Hipertermia pada An. A dengan Dangue Haemorogic Fever

(DHF) di Ruang Chatur di RS Anton Soedjarwo Pontianak

Tahun 2022

d. Untuk mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat

dilaksanakan asuhan keperawatan Hipertermia pada An. A

dengan Dangue Haemorogic Fever (DHF) di Ruang Chatur

di RS Anton Soedjarwo Pontianak Tahun 2022

C. Manfaat Penulisan

a. Tenaga Kesehatan

Data dan hasil yang diperoleh dari peneliti dapat

dijadikan suatu tolak ukur serta upaya Rumah Sakit dalam

meningkatkan kualitas pelayanan dengan cara meningkatkan

kesejahteraan perawat

b. Institusi Pendidikan

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai referensi bagi

pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan


7

anak mengenai asuhan keperawatan anak serta berkontribusi

dalam menanamkan minat, motivasi dan sikap dari mahasiwa

sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar bagi mahasiswa.

c. Bagi Rumah Sakit

Hasil penulisan diharapkan dapat memberikan informasi

serta dapat menambah wawasan berfikir, dapat mengaplikasikan

asuhan keperawatan yang sesuai pada masalah DHF dalam

pemberi pelayanan kesehatan mengenai asuhan keperawatan

penyakit DHF

D. Sistematika penulisan

Studi kasus secara keseluruhan dibagi dalam dua bagian, diantaranya :

a. Bagian awal memuat halaman judul, lembar pengesahan,

abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel.

b. Bagian ini memiliki 5 (lima) bab yang diantaranya ialah:

a. BAB I Pendahuluan

Bagian pedahuluan yang berisikan tentang latar belakang dari

pengangkatan kasus Hipertermia : Dangue Haemorogic

Fever (DHF) tujuan dari penulisan (tujuan umum dan

khusus) dalam Hipertermia : Dangue Haemorogic Fever

(DHF) serta sistematika penulisan.

b. BAB II Landasan teoritis

Landasan teoritis yang berisi tentang definisi dan konsep masalah yang di

angkat, pengkajian, patofisiologi, tujuan perawatan yang ingin di capai,

intervensi keperawatan.
8

c. BAB III Asuhan keperawatan

Asuhan keperawatan berisi tentang pengkajian secara

menyeluruh pada klien, diagnosis keperawatan, perencanaan

keperawatan, implementasi dan evaluasi.

d. BAB IV Pembahasan

Pembahasan proses asuhan keperawatan yang diberikan dari

pengkajian sampai dengan evaluasi, pembahasan praktik

profesi keperawatan dalam pencapaian target kompetensi.

e. BAB V Simpulan dan saran

Simpulan dan saran berisi tentang kesimpulan dari seluruh penjelasan dan

saran.
9

BAB II

LANDASAN TEORI

Landasan teoritis berisi hasil penelusuran literatur atau studi kepustakaan

menegenai masalah yang dibahas dan konsep serta teori yang melandasi penyelesaian

masalah. Pendekatan yang digunakan adalah masalah keperawatan utama yang dialami

klien selama dalam masa perawatan tiga hari. Penjabaran dalam tulisan mencakup:

A. Konsep Masalah Utama

1. Hipertermia

1) Definisi Hipertermia

Hipertermia adalah keadaan saat meningkatnya suhu tubuh

seseorang diatas rentang normal tubuh (Tim Pokja SDKI, 2018).

Hipertermi adalah keadaan dimana individu mengalami peningkatan

suhu tubuh diatas kisaran normal 37,5 oC yang ditandai dengan kulit

terasa hangat dan kulit kemerahan (Herdman, 2012). Hipertermi

merupakan naiknya suhu tubuh menjadi lebih tinggi daripada

biasanya. Suhu tubuh normal manusia berada pada titik 37, 5oC, jika

tubuh menunjukkan angka tersebut menunjukkan adanya demam

yang disebabkan oleh infeksi (Indah, 2019).

Jadi dapat disimpulkan bahwa hipertemia merupakan suatu

keadaan dimana terjadi peningkatan suhu tubuh diatas rentang

normal (>37,5°C) yang disertai dengan kulit terasa hangat dan

nampak kemerahan
1
0

2) Etiologi

Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia / SDKI (2017)

dijelaskan bahwa penyebab hipertermia:

1. Dehidrasi

2. Terpapar lingkungan panas

3. Proses penyakit (misalnya: infeksi, kanker)

4. Ketidaksesuaian pakaian dengan suhu lingkungan

5. Peningkatan laju metabolisme

6. Respon trauma aktivitas berlebihan

7. Penggunaan inkubator

II. Tanda dan Gejala

Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia / SDKI (2017)

dijelaskan bahwa tanda dan gejala hipertermia:

1. Suhu tubuh diatas nilai normal

2. Kulit merah

3. Takikardia

4. Takipnea

5. Kulit terasa hangat

III. Kondisi klinis terkait

Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia / SDKI

(2017), dijelaskan bahwa kondisi klinis terkait:

1. Proses infeksi

2. Hipertiroid

3. Stroke
1
1

4. Dehidrasi

5. Trauma

6. Prematurias

IV. Konsep kompres hangat

Menurut Eny (2015) Hasil penelitian yang dilakukan pada orang

disebutkan bahwa faktor perubahan suhu tubuh dipengaruhi oleh umur. Dalam

teori dijelaskan suhu usia anak anak sampai masa puber dan pada usia lanjut

lebih cenderung lebih labil dibandingkan dengan usia dewasa. Pola makan yang

tidak baik dengan pola gizi yang tidak seimbang sehingga lebih mudah

terserang demam sebagai awal gejala yang terjadi. Salah satu faktor yang

mempengaruhi peningkatan suhu tubuh adalah hormon. Wanita mengalami

peningkatan hormon lebih banyak daripada pria. Pada wanita terjadi

peningkatan suhu 0,3-0,6ºC di atas suhu basal saat terjadi sekresi progesteron

pada saat ovulasi berlangsumg

Penurunan suhu tubuh pada pasien demam yang diberikan kompres air

hangat pada daerah aksila adalah 0,247ºC dengan rata-rata penurunan suhu

tubuh pasien demam yang diberikan kompres air hangat pada daerah dahi

adalah 0,111ºC. Pasien demam yang dikompres dengan menggunakan air

hangat pada daerah aksila maupun dahi menunjukkan penurunan yang

signifikan. Menurut Indra (2015). Menurunkan suhu tubuh dilakukan dengan

pemberian kompres dingin dan hangat. Pemberian kompres dingin sudah tidak

dianjurkan karena tidak efektif untuk menurunkan suhu tubuh, Sehingga lebih

dilanjutkan pemberian kompres hangat untuk menurunkan demam. Hasil

penelitian yang dilakukan pada orang disebutkan bahwa suhu tubuh sebelum

pemberian kompres di dahi 38,30ºC dan pemberian kompres hangat di lipatan


1
2

paha 38,22ºC. Penurunan suhu di dahi 0,25ºC dan lipatan paha 0,58ºC. Hasilnya

ada perbedaan lokasi kompres hangat di dahi dan lipatan paha. Penelitian

tersebut menunjukkan bahwa efektifitas lokasi kompres hangat dilipatan paha

lebih efektif terhadap penurunan suhu tubuh dibandingkan kompres hangat di

dahi.

Dari kedua jurnal dapat disimpulkan bahwa kompres hangat merupakan

metode untuk menurunkan suhu tubuh. Pemberian kompres hangat pada daerah

axila dan lipatan paha lebih efektif karena terdapat banyak pembuluh darah

besar dan banyak kelenjar keringat apokrin yang mempunyai banyak vaskuler

sehingga akan memperluas daerah yang mengalami vasodilatasi yang akan

memungkinkan percepatan perpindahan panas dari dalam tubuh ke kulit hingga

delapan kali lipat lebih banyak. Lingkungan luar yang hangat akan membuat

tubuh menginpestrasikan bahwa suhu diluar cukup panas sehingga akan

menurunkan kontrol pengatur suhu tubuh lagi, juga akan membuat pori- pori

kulit terbuka sehingga mempermudah pengeluaran suhu tubuh.

V. Alat dan bahan :

a. Larutan kompres berupa air hangat 40 °C dalam wadahnya

(dalam kom).

b. Handuk / kain / wash lap untuk kompres

c. Handuk pengering, Sarung tangan, Termometer.

VI. Prosedur :

a. Beri tahu klien, dan siapkan alat, klien, dan lingkungan

b. Cuci tangan.

c. Ukur suhu tubuh.

d. Basahi kain pengompres dengan air, peras kain sehingga tidak


1
3

terlalu basah.

e. Letakkan kain pada daerah yang akan dikompres ( dahi, ketiak, perut,

leher belakang ). Tutup kain kompres dengan handuk kering.

f. Apabila kain telah kering atau suhu kain relative menjadi

dingin, masukkan kembali kain kompres ke dalam cairan

kompres dan letakkan kembali di daerah kompres, lakukan

berulang-ulang hingga efek yang diinginkan dicapai.

g. Evaluasi hasil dengan mengukur suhu tubuh klien setelah 20 menit

h. setelah selesai, keringkan daerah kompres atau bagian tubuh yang

basah dan rapikan alat

i. Cuci tangan kembal

B. Konsep Teori Dangue Haemoragic Fever (DHF)

a. Definisi DHF

Demam dengue atau DF dan demam berdarah dengue atau DBD (dengue

hemorrhagic fever disingkat DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh

virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang

disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan ditesis hemoragik.

Pada DHF terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan hemokosentrasi

(peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan dirongga tubuh. Sindrom

renjatan dengue yang ditandai oleh renjatan atau syok (Nurarif & Kusuma 2015).

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang menyerang anak dan

orang dewasa yang disebabkan oleh virus dengan manifestasi berupa demam

akut, perdarahan, nyeri otot dan sendi.

Dengue adalah suatu infeksi Arbovirus (Artropod Born Virus) yang akut di
1
4

tularkan oleh nyamuk ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti atau oleh Aedes

Aebopictus (Wijayaningsih 2017). Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) menular

melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. DHF merupakan penyakit berbasis vektor

yang menjadi penyebab kematian utama di banyak negara tropis. Penyakit DHF

bersifat endemis, sering menyerang masyarakat dalam bentuk wabah dan disertai

dengan angka kematian yang cukup tinggi, khususnya pada mereka yang berusia

dibawah 15 tahun (Harmawan 2018).

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Dengue

Haemorhagic Fever adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus

Dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti betina yang sering muncul

pada musim penghujan dan biasanya mengigit pada siang hari, dengan tanda klinis

berupa adanya demam, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, trombositopenia dengan

atau tanpa ruam yang dapat menggangu sistem tubuh yang lain dan dapat

menyebabkan kematian.

b. Etiologi

Virus dengue merupakan penyebab dari penyakit DHF. Virus dengue

merupakan virus kelompok B atau arthropode-bornevirus. Virus dengue

menular melalui suntikan nyamuk Aedes Aegepty atau nyamuk Aedes

Albopictus yang terinfeksi oleh virus saat menghisap darah seseorang yang

sehat. Penularan penyakit DHF bisa terjadi pada manusia kemanusia atau

manusia kehewan ataupun sebaliknya. Manusia yang sedang sakit DHF

kemungkinan bisa menularkan kemanusia lainnya yang sehat, tergantung

dari sistem imunitas dari masing-masing individu untuk melawan virus

tersebut.

Dalam waktu 3 sampai 8 hari setelah virus masuk kedalam tubuh, tubuh akan
1
5

memberikan tanda dan gejala sebagai perlawanan alami dari dalam. Gejala umum

yang dialami penderita peyakit DHFyakni demam disertai menggigil, pusing,

pegal-pegal (Handayani, 201

A. Patway

Virus Dangue

Melalui Gigitan Nyamuk

Bereaksi Dengan Antibody

Viremia

Mengeluarkan Zat
Mengeluarkan Zat Mediator Dinding Pembuluh Darah

Mual Mediator

Merangsang Hipatalamus Nafsu Makan

Peningkatan Permeanilitas
Anterio Menurun

Intake Adekuat
Suhu Tubuh Meningkat

Defisit Nutrisi
Hipertemi

Kebocoran Plasma

Penurunan Tekanan Darah Tombositopenia

Resiko Perdarahan Volume Darah Berkurang

2.1 Patway Dangae Hoemoragic Fever (DHF) Syok Hipovolemik


16

Virus dengue, termasuk genus Flavivirus, keluarga flaviridae. Terdapat 4

serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Keempatnya

ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 serotipe terbanyak. Infeksi salah

satu serotipe akan menimbulkan antibody terhadap serotipe yang

bersangkutan, sedangkan antibody yang terbentuk terhadap serotype lain

sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang

memadai terhadap serotipe lain tersebut. Seseorang yang tinggal di daerah

endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya.

Keempat serotipe virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di

Indonesia (Nurarif & Kusuma 2015).

Virus dengue yang mana biasanya di bawa oleh nyamuk Aedes Aegepty

(betina) dengan gigitan menjadi vektor kebutuh manusia dengan gigitan

nyamuk tersebut. Infeksi yang pertama kali bisa memeri gejala sebagai

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dengan gejala utama demam,

nyeri/sendi (Titik lestari, 2016).

c. Manifestasi Klinis

Berikut ini tanda dan gejala penyakit DHF yang dapat dilihat dari penderita

kasus DHF dengan gejala klinik dan laboratorium menurut Nurarif (2015) adalah:

a) Gejala Klinik

1) Demam tinggi mendadak 2 sampai 7 hari (38 – 40 º C).

2) Manifestasi perdarahan dengan bentuk: uji Tourniquet

positif, Petekie (bintik merah pada kulit), Purpura

(pendarahan kecil di dalam kulit), Ekimosis, Perdarahan


17

konjungtiva (pendarahan pada mata), Epistaksis

(pendarahan hidung), Perdarahan gusi, Hematemesis

(muntah darah), Melena (BAB darah) dan Hematuri

(adanya darah dalam urin).

b) Perdarahan pada hidung dan gusi.

c) Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah

pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.

d) Pembesaran hati (hepatomegali).

e) Renjatan (syok), tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau

kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.

f) Gejala klinik lainnya yang sering menyertai yaitu anoreksia

(hilangnya selera makan), lemah, mual, muntah, sakit perut,

diare dan sakit kepala.

d. Komplikasi

Komplikasi yang terjadi pada anak yang mengalami demam berdarah dengue

yaitu perdarahan massif dan dengue shock syndrome (DSS) atau sindrom syok

dengue (SSD). Syok sering terjadi pada anak berusia kurang dari 10 tahun. Syok

ditandai dengan nadi yang lemah dan cepat sampai tidak teraba, tekanan nadi

menurun menjadi 20 mmHg atau sampai nol, tekanan darah menurun dibawah 80

mmHg atau sampai nol, terjadi penurunan kesadaran, sianosis di sekitar mulut dan

kulit ujung jari, 24 hidung, telinga, dan kaki teraba dingin dan lembab, pucat dan

oliguria atau anuria (Pangaribuan 2017)


18

e. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan pada Pemeriksaan darah

lengkap

a) Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk memeriksa kadar

hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit. Peningkatan nilai

hematokrit yang selalu dijumpai pada DHF merupakan indikator

terjadinya perembesan plasma.

1) Pada demam dengue terdapat Leukopenia pada hari kedua atau

hari ketiga.

2) Pada demam berdarah terdapat trombositopenia dan

hemokonsentrasi.

3) Pada pemeriksaan kimia darah: Hipoproteinemia, hipokloremia,

SGPT, SGOT, ureum dan Ph darah mungkin meningkat.

b) Uji Serologi = Uji HI (Hemaglutination Inhibition Test)

Uji serologi didasarkan atas timbulnya antibody pada penderita yang

terjadi setelah infeksi. Untuk menentukan kadar antibody atau antigen

didasarkan pada manifestasi reaksi antigen-antibody. Ada tiga kategori,

yaitu primer, sekunder, dan tersier. Reaksi primer merupakan reaksi tahap

awal yang dapat berlanjut menjadi reaksi sekunder atau tersier. Yang mana

tidak dapat dilihat dan berlangsung sangat cepat, visualisasi biasanya

dilakukan dengan memberi label antibody atau antigen dengan flouresens,

radioaktif, atau enzimatik. Reaksi sekunder merupakan lanjutan dari reaksi

primer dengan manifestasi yang dapat dilihat secara in vitro seperti

prestipitasi, flokulasi, dan aglutinasi. Reaksi tersier merupakan lanjutan


19

reaksi sekunder dengan bentuk lain yang bermanifestasi dengan gejala

klinik

c) Uji hambatan hemaglutinasi

Prinsip metode ini adalah mengukur campuran titer IgM dan IgG

berdasarkan pada kemampuan antibody-dengue yang dapat menghambat

reaksi hemaglutinasi darah angsa oleh virus dengue yang disebut reaksi

hemaglutinasi inhibitor (HI).

d) Uji netralisasi (Neutralisasi Test = NT test)

Merupakan uji serologi yang paling spesifik dan sensitif untuk virus

dengue. Menggunakan metode plague reduction neutralization test

(PRNT). Plaque adalah daerah tempat virus menginfeksi sel dan batas

yang jelas akan dilihat terhadap sel di sekitar yang tidak terkena infeksi.

e) Uji ELISA anti dengue

Uji ini mempunyai sensitivitas sama dengan uji Hemaglutination Inhibition

(HI). Dan bahkan lebih sensitive dari pada uji HI. Prinsip

dari metode ini adalah mendeteksi adanya antibody IgM dan

IgG di dalam serum penderita.

f) Rontgen Thorax

Pada foto thorax (pada DHF grade III/ IV dan sebagian besar

grade II) di dapatkan efusi pleura

Pemeriksaan penunjang pada DHF menurut buku Nurarif

(2015) adalah :

1) Trombositpenia (100.000/ mm3)

2) Hb dan PCV meningkat 20 %


20

3) Leukopenia (Normal atau lekositosis)

4) Isolasi virus

5) Serologi (uji H) : respon antibody sekunder

6) Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali

(setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda

perbaikan).

B. Anatomi Fisiologi

Menurut Sheerwood hematologi adalah ilmu yang mempelajari segala

sesuatu tentang darah dan aspeknya pada keadaan sehat atau sakit, dalam

keadaan normal volume darah manusia ±7-8% dari berat bagian tengah rongga

tulang panjang. Sumsum merupakan 4% sampai 5% berat badan total,

sehingga merupakan yang paling besar didalam tubuh. Sumsum bisa berwarna

merah atau kuning. Sumsum merah merupakan tempat produksi sel darah

merah aktif dan merupakan organ hematopoetik (penghasil darah) utama.

Sedangkan sumsum tulang kuning, tersusun terutama oleh lemak dan tidak ktif

dalam produksi elemen darah. (Desmawati, 2013)

Darah sendiri adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lain karena

berbentuk ciran yang mengandung elektrolit dan sebagai kendaraan atau

medium untuk transportasi pertukaran antar sel. Darah juga merupakan

komponen esensial makhluk hidup yang berada dalam ruang vaskuler, karena

perannya sebagai media komunikasi antar sel ke berbagai bagian tubuh dengan
21

dunia luar karena fungsinya membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan

karbondioksida dari jaringan ke paru-paru untuk di keluarkan, membawa zat

nutrisi dari saluran cerna ke jaringan kemudian mengantarkan sisa

metabolisme melalui organ sekresi seperti ginjal, menghantarkan hormon dan

materi-materi pembekuan. (Desmawati, 2013)

1. Karakteristik darah

Karakteristik umum darah meliputi warna, viskositas, pH, volume, dan komposisinya

a. Warna darah

Darah arteri berwarna merah muda karena banyak oksigen yang

berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Darah vena

berwarna merah tua karena kurang oksigen dibandingkan dengan darah

arteri.

b. Viskositas Darah

Viskositas darah ¼ lebih tinggi pada viskositas air yaitu sekitar

1.084 sampai 1.066.

c. pH Darah

pH darah bersifat alkaline dengan pH 7,35-7,45.

d. Volume Darah

Pada orang dewasa volume darah sekitar 70-75m/kgBB, atau

sekitar 4-5 liter darah

e. Komposisi Darah

Darah tersusun atas dua komponen utama, yaitu :

1) Plasma darah
22

Unsur ini merupakan komponen terbesar dalam darah, karna

lebih dari separu darah mengandung plasma darah. Plasma darah yaitu

suatu cairan kompleks yang berfungsi sebagai medium transportasi

untuk zat-zat yang diangkat dalam darah, yaitu sebagian terdiri dari

air (92%), 7% protein, 1% nutrisi, hasil metabolisme, gas pernafasan,

enzim, hormon-hormon, faktor pembekuan darah dan garam-garaman

organik. Protein-protein dalam plasma terdiri dari serum albumin

(alpha-1 globulin, alpha-2 globulin, beta globulin, dan

gamma globulin), fibrinogen, protombin, dan protein esensial untuk

[Link] albumin dan gamma globulin sangat penting untuk

mempertahankan tekanan osmotik, dan gamma globulin juga

mengandung antibodi (immunoglobulin) seperti IgM, IgG, igA, igD,

dan IgE untuk mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme.

2) Sel-sel darah

Sel-sel darah tersusun atas sel darah merah (eritrosit), sel darah putih

(leukosit), trombosit (keping darah).

1) Sel darah merah (eritrosit)

Eritrosit merupakan jenis sel darah yang paling banyak dan

berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh lewat

darah. Bagian dalam eritrosit terdiri dari hemoglobin, sebua

biomolekul yang dapat mengikat oksigen. Hemoglobin akan

mengambil oksigen dari paruparu, dan oksigen akan di lepaskan

saat eritrosit melewati pembuluh kapiler. Warna merah sel darah


23

merah sendiri berasal dari hemoglobil yang unsur pembuatannya

adalah zat besi.

Hemoglobin adalah protein atau pigmen merah yang terdapat

sel darah merah. Normalnya dalam darah pada laki-laki 15,5 g/dl

dan pada wanita 14,00 g/dl. Rata-rata konsentrasi hemoglobin

(MCHC ꞊ Mean cell concentration of hemoglobin) pada sel darah

merah 32g/dl. Fungsi hemoglobin mengangkut oksigen dari paru

dan dalam peredaran darah untuk di bawa ke jaringan. Ikatan

oksigen dengan hemoglobin 10 disebut oksihemoglobin (HbO2).

Disamping oksigen, hemoglobin juga membawa karbondioksida

dan dengan karbondioksida membentuk ikatan karbon monoksida

(hbCO), juga berperan dalam keseimbangan pH darah.

(Desmawati, 2013)

2) Sel darah putih (leukosit)

Sel darah putih berperan dalam membentuk sistem pertahanan

tubuh terhadap penyakit. Leukosit terbagi atas 2 bagian yaitu :

Agranulosit Adalah leukosit yang tidak memiliki granula pada

sitoplasmanya dan Granulosit adalah leukosit yang memiliki

granula pada sitoplasmanya (Desmawati, 2013)

3) Trombosit

Trombosit merupakan partikel kecil, berdiameter dua sampai

empat mikron, yang terdapat di dalam sirkulasi plasma darah.

Karena dapat mengalami disintegrasi cepat dan mudah,


24

jumlahnya selalu berubah berkisar antara 150.000 sampai

dengan

450.000 per mm³ darah. Trombosit berperan penting dalam

mengontrol perdarahan. Apabila terjadi cedera vaskuler,

trombosit mengumpul pada tempat cedera tersebut. Substansi

yang dilepaskan dari granula trombosit menyebabkan trombosit

menempel satu dengan lainnya yang membentuk tambalan atau

sumbatan yang sementara menghentikan perdarahan. Substansi

lain dilepaskan dari trombosit dan memulai mekanisme rumit

pembekuan darah yang disebut juga Clotting Cascade.

Akan tetapi mekanisme pembekuan ini hanya efektif pada

perdarahan intensitas kecil misalnya pada pembuluh darah kecil

atau rembesan kapiler. Sedangkan pada perdarahan pembuluh

darah besar atau arteri, mekanisme ini sulit mempertahankan

kontinuitasnya oleh karena tekanan hidrostatik yang dihasilkan

oleh jantung dan darah yang masih di dalam [Link]

hematologi yang terjadi pada pasien Dengue heamoragic fever:

1. Trombositpenia

Trombositopenia didefinisikan sebagai jumlah

trombosit di bawah 100.000 / mm3 . hal ini bisa disebabkan

oleh pembentukan trombosit yang berkurang atau

penghancuran yang meningkat. Pada umumnya trombositpenia

terjadi sebelum ada peningkatan hematokrit dan terjadi


25

sebelum suhu turun. Jumlah trombosit kurang dari 100.000

/ mm3 biasanya ditemukan antara hari ketiga sakit

sampai ketujuh.

2. Hematokrit

Hematokrit yaitu suatu nilai kadar sel darah yang

terdapat didalam plasma darah. Semakin tinggi nilai

hematokrit, semakin tinggi viksositas atau kekentalan darah.

Nilai hematokrit normal untuk pria berkisar antara 45 – 52%,

sedangkan nilai hematokrit normal untuk wanita berkisar

antara 36 – 48%. Hemokonsentrasi yang terjadi akibat adanya

perembesan plasma dapat ditentukan berdasar peningkatan

angka hematokrit. Pada waktu terjadinya penurunan suhu

badan penderita atau sebelum terjadinya syok, terjadi

penurunan jumlah trombosit diikuti peningkatan angka

hematokrit (Desmawati, 2013)

A. Fatofisiologi

Nyamuk Aedes yang terinfeksi atau membawa virus dengue menggigit

manusia. Kemudian virus dengue masuk kedalam tubuh dan berdar dalam

pembuluh darah bersama darah. Virus kemudian bereaksi dengan antibody yang

mengakibatkan tubuh mengaktivasi dan melepaskan C3 dan C5. Akibat dari

pelepasan zat-zat tersebut tubuh mengalami demam, pegal dan sakit kepala,

mual, ruam pada kulit. Pathofisiologi primer pada penyakit DHF adalah

meningkatnya permeabilitas membran vaskuler yang mengakibatkan kebocoran


26

plasma sehingga 9 cairan yang ada diintraseluler merembes menuju

ekstraseluler. Tanda dari kebocoran plasma yakni penurunan jumlah

trombosit, tekanan darah mengalami penurunan, hematokrit meningkat. Pada

pasien DHF terjadi penurunan tekanan darah dikarenakan tubuh kekurangan

hemoglobin, hilangnya plasma darah selama terjadinya kebocoran, Hardinegoro

dalam buku keperawatan medikal bedah 1 (Kardiyudiana, 2019).

Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan viremia.

Hal tersebut akan menimbulkan reaksi oleh pusat pengatur suhu di hipotalamus

sehingga menyebabkan (pelepasan zat bradikinin, serotinin, trombin, histamin)

terjadinya: peningkatan suhu. Selain itu viremia menyebabkan pelebaran pada dinding

pembuluh darah yang menyebabkan perpindahan cairan dan plasma dari intravascular

ke intersisiel yang menyebabkan hipovolemia. Trombositopenia dapat terjadi akibat

dari penurunan produksi trombosit sebagai reaksi dari antibodi melawan virus

(Murwani 2018)

Pada pasien dengan trombositopenia terdapat adanya perdarahan baik kulit

seperti petekia atau perdarahan mukosa di mulut. Hal ini mengakibatkan adanya

kehilangan kemampuan tubuh untuk melakukan mekanisme hemostatis secara normal.

Hal tersebut dapat menimbulkan perdarahan dan jika tidak tertangani maka akan

menimbulkan syok. Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus akan

masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Pertama tama yang

terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala,

mual, nyeri otot pegal pegal di seluruh tubuh, ruam atau bintik bintik merah pada kulit,

hiperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi pembesaran kelenjar getah

bening, pembesaran hati atau hepatomegali (Murwani 2018).

Kemudian virus bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus


27

antibodi. Dalam sirkulasi dan akan mengativasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3

dan C5 akan di lepas C3a dan C5a dua peptida yang berdaya untuk melepaskan

histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningkatnya permeabilitas

dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya pembesaran plasma ke

ruang ekstraseluler. Pembesaran plasma ke ruang eksta seluler mengakibatkan

kekurangan volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia

serta efusi dan renjatan atau syok. Hemokonsentrasi atau peningkatan hematokrit >20%

menunjukan atau menggambarkan adanya kebocoran atau perembesan sehingga nilai

hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena (Murwani 2018).

Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler di buktikan dengan ditemukan

cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritonium, pleura, dan

perikardium yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus.

Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit menunjukan

kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus di kurangi

kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadi edema paru dan gagal jantung,

sebaliknya jika tidak mendapat cairan yang cukup, penderita akan mengalami

kekurangan cairan yang akan mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa

mengalami renjatan.

Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia

jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan

baik (Murwani 2018). Nyamuk Aedes yang sudah terinfeksi virus dengue, akan

tetap infektif sepanjang hidupnya dan terus menularkan kepada individu yang

rentan pada saat menggigit dan menghisap darah. Setelah masuk kedalam

tubuh manusia, virus dengue akan menuju organ sasaran yaitu sel kuffer hepar,

endotel pembuluh darah, nodus limpaticus, sumsum tulang serta paru-paru.


28

Ada beberapa peneliti, menunjukkan, sel monosit dan magrofag mempunyai

peran pada infeksi ini, dimulai dengan menempel dan masuknya genom virus

ke 10 dalam sel dengen bantuan organel sel membentuk komponen perantara

dan komponen struktur virus. Arbovirus yang menyebar melalui gigitan

nyamuk kemudian racun masuk melalui aliran darah, badan, menjadi panas

akibat toksin yang di kelola oleh nyamuk, akibat toksin tersebut hipotalamus

tidak bisa mengontrol yang akhirnya menjadi panas tinggi atau demam.

Efek dari demam dengue tersebut yaitu demam akut disertai nyeri kepala,

nyeri belakang mata, perdarahan, leucopenia. Demam akut dengan ciri-ciri

demam manifestasi perdarahan, dan bertendensi mengakibatkan renjatan (flek)

yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah, kebocoran plasma, efusi

pleura, hematemesis, melena, kematian (Fitrianda, 2016). Virus dengue akan

masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan kemudian

akan bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks vrius antibodi,

dalam sirkulasi akan mengaktivasi sistem komplement.

Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang

berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai

faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan

plasma melalui endotel dinding itu. Terjadinya trombositopenia, menurunnya

fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin, faktor V, VII,

IX dan X) yang merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat,

terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.


29

1.1 RUMUSAN MASALAH

1.2 TUJUAN PENELITIAN

1.2.1 TUJUAN UMUM

1.2.2 TUJUAN KHUSUS

1.3 MANFAAT PENELITIAN

1.3.1 MANFAAT BAGI PASIEN DAN MASYARAKAT

1.3.2 MANFAAT BAGI PELAYANAN KESEHATAN

1.3.3 MANFAAT BAGI PENELITI


30

BAB 2

TINJAUAN PUSAKA

A. DEFINISI

Demam dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus

dengue, dan disebarkan melalui perantara nyamuk Aedes Aegypti yang telah

terinfeksi dengan virus dengue(Ratna,2011). Demam Berdarah Dengue

(DBD/DHF) merupakan penyakit menular yang ditandai panas (Demam) serta

pendarahan(Ratna 2011). DBD merupakan merupakan bentuk yang lebih parah

dari demam dengue dimana terjadi perembesan plasma yang ditandai

hemakonsentrasi(peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga

tubuh yang menyebabkan syok, apabila tidak ditangani dengan tepat dapat

berujung kematian.

Derajat DBD/DHF menurut WHO :

Derajat I : Demam 2-7 hari disertai gejala tidak khas, dapat ditandai

dengan uji torniquet (+).

Derajat II : Sama dengan Derajat I, dengan disertai pendarahan

spontan seperti eputaksis, hematemesis, melena, pendarahan

gusi.
31

Derajat III : Ditemukan tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan

lembut(≤ 120x/menit), tekanan nadi menurun (≤ 20mmhg)

atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab, dan pasien

menjadi gelisah.

Derajat IV : syok bera, nadi tidak teraba dan teakanan darah tidak

teratur, akral dingin dan berkeringat, kulit tampak biru.

B. ETIOLOGI

DBD disebabkan oleh virus dengue, yang merupakan genus flavivirus,

keluarga flaviridae. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan

DEN-4, keempat serotipe tersebut ditemukan di Indonesia. Seseorang yang

tinggal di daerah endemis dengue dapt terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama

hidupnya(Sudoyo Aru,dkk 2009)

Virus dengue ditularkan melalui vektor [Link] yang berperan

dalam penyebaran virus dengue adalah nyamuk Aedes Aegepypti, nyamuk ini

tersebar di seluruh daerah tropis, dengan ciri khas terdapat sepasang garis putih

yang sejajar di tengah badan dan garis lengkung putih yang lebih tebal pada setiap

sisi tubuhnya. Aedes Aegypti senang berkembang biak pada genangan air yang

bersih dan tempat penyimpanan air, selain itu nyamuk jenis ini juga lebih senang

menggigit pada tempat-tempat yang terlinsungi seperti di dalam rumah.

C. MANIFESTASI KLINIS

1. Demam Dengue

Merupakan deam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih

manifestasi klinis sebagai berikut :


32

a. Nyeri kepala

b. Nyeri retro-orbital

c. Mialgia/artralgia

d. Ruam kulit

e. Manifestasi pendarahan (ptekie atau uji bendung positif)

f. Leukopenia

g. Pemeriksaan serulogi dengue positif; tidak ditemukan DD/DBD yang

sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.

2. Demam Berdarah Dengue

Berdasarkan diagnostik WHO 1997 daignosis DBD ditegakkan bila

semua hal dibawah ini terpenuhi

a. Demam atau riwayat demam akut antara 2-7 hari, biasanya bersifat

bifasik.

b. Manifestasi pendarahan biasanya berupa :

1) Uji torniquet positif

2) Ptekie, ekimosis, dan purpura

3) Pendarahan mukosa (epistaksis, perdarahan gusi), saluran cerna,

tempat bekas suntikan

4) Hematemesis atau melena

c. Trombositopenia < 100.00/ul

d. Kebocoran plasma yang ditandai dengan :

1) Peningkatan nilai hematokrit ≥ 20% dari nilai baku sesuaiumur

dan jenis kelamin


33

2) Penurunan nilai hematokrit ≥ 20% setelah pemberian cairan

yang adekuat

e. Tanda kebocoran plasma seperti : hipoproteinemi, asites, efusi pleura.

3. Sindrom Syok Dengue

Seluruh kriteria DBD diatas disertai dengan kegagalan sirkulasi yaitu :

a. Penurunan kesadaran ,gelisah

b. Nadi cepat lemah

c. Hipotensi

d. Tekanan darah menurun ≤ 20 mmHg

e. Perfusi perifer menurun

f. Kulit dingin-lembab
34

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai (Nur Salam 2008) :

1. Hb dan PCV meningkat (≥ 20%)

2. Trombositopenia (≤ 100.000/ml).

3. Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis).

4. [Link] positif.

5. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia,

hipokloremia, dan hiponatremia.

6. Urium dan pH darah mungkin meningkat.

7. Asidosis metabolik : pCO2 <35-40 mmHg dan HCO3 rendah.

8. SGOT/SGPT mungkin meningkat.

E. PENATALAKSANAAN

1. Penatalaksanaan DHF yaitu :

a. Tirah baring

b. Makanan lunak dan diberi minum 1,5-2 liter dalam 24 jam.

c. Untuk hiperpireksia duberikan kompres

d. Berikan antibiotik bila terdapat kemungkinan terjadi infeksi.

2. Pada pasien dengan tanda renjatan dilakukan :

a. Pemasangan infus RL/Asering dan dipertahankan selama 12-48 jam

b. Observasi keadaan umum (tanda Tanda Vital)

3. Pencegahan DBD
35

a. Melakukan PSN DB (Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam

Berdarah) dengan 3M :

1) Menutup rapt penampungan air.

2) Menguras penampungan air minimal 1 minggu sekali.

3) Mengubur dan menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat

menjadi tempat menggenangnya air.

b. Pengasapan (Fogging).

c. Larvadisasi, yaitu menaburkan bubuk abate pada tempat penyimpanan

air untuk membunuh larva nyamuk.

d. Penyuluhan Demam berdarah.

F. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Identitas pasien

b. Keluhan utama : terjadi panas tinggi (≥ 41°C), terdapat bintik-bintik

merah pada kulit, keadaan umum anak lemah

c. Riwayat kesehatan

1) Riwayat penyakit sekarang: tanyakan kepada keluarga klien

kapankah terjadi keluhan, dan tindakan apa yang dilakuka

untukmenatasi keluhan

2) Riwayat penyakit dahulu: tanyakan apakah keluarga klien

apakah pasien pernah mengalami penyakit yang lain atau

penyakit yang sama dengan jenis virus yang berbeda.


36

3) Riwayat keluarga : tanyakan kepada keluarga apakah dalam

keluarga pernah terjadi kasus yang sama.

4) Riwayat imunisasi: kaji kekebalan imun dari klien, dengan

mengetahui tingkat imunitas resiko timbulnya komplikasi dapat

terjadi.

5) Riwayat gizi: kaji status gizi klien, apakah terjadi gangguan

pemenuhan kebutuhan nutrisi.

6) Riwayat pemakaian obat: tanyakan kepada keluarga klien,

apakah memiliki alergi terhadap obat tertentu.

7) Kondisi lingkungan: tanyakan kepada klien bagaimanakah

kondsi lingkungan di sekitar rumah klien, apakah terdapat

genangan air, atau terdapat tumpukan sampah.

d. Pemeriksaan fisik

1) Sitem pernafasan (B1)

Apakah ada ketidak efektifan pola nafas, apakah ada ronchi,

wheezing, da gangguan irama pernafasan.

2) Sistem kardiovaskuler (B2)

Apakah terjadi gangguan sirkulasi darah dan irama jantung, kaji

frequensi denyut nadi, dan tekanan darah.

3) Sistem persarafan (B3)

Kaji tingkat kesadaran (composmentis, somnolent, apatais, dsb),

apakh terjadi nyeri.

4) Sistem perkemihan (B4)


37

Hitung jumlah rin yang keluar dan asupan cairan tubuh pasien,

apakah sebanding (adekuat) atau tidak.

5) Sistem pencernaan (B5)

Kaji apakah terjadi mual untah, kaji apakah terdapat

hematemesis, melena, atau gusi berdarah.

6) Sistem muskuloskeletal dan integumen(B6)

Kaji apakah terjadi nyeri pada bagian ekstermitas dan otot,kaji

kekuatan otot klien pada saat tirah baring, apakah ekstermitas

terasa dingin, berkeringat dan kulit tampak kebiruan. Kaji

apakah timbul ptekie pada daerah integumen, tugor kulit,

muncul keringat dingin dan lembab.


38

DAFTAR PUSTAKA

Dani S, [Link] PENYAKIT [Link]: Gosyen Publishing

Dewi P, [Link] PENYAKIT PADA [Link] barat: PT Indeks

Nadesul, [Link] Mudah Mengalahkan Demam [Link]: PT

Kompas Media Nusantara

Nanda.2013. APLIKASI ASUHAN KEPERAWTANBERDASARKAN DIAGNOSA MEDIS &

NANDA [Link]:Med Action publishing

Nilus S&[Link] PERTAMA PADA ANAK

[Link]: KATAHATI

Nursalam, [Link] KEPERAWATAN BAYI dan [Link]: Salemba

Medika

Sujono&[Link] Keperawatan pada Anak [Link]: Gosyen

Publishing

Anda mungkin juga menyukai