0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan17 halaman

Pengaruh Pengetahuan Pajak Terhadap Kepatuhan

Ringkasan artikel ini adalah: 1. Artikel ini menguji pengaruh pengetahuan perpajakan, kualitas pelayanan, dan persepsi sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak dengan memoderasi preferensi risiko. 2. Hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan perpajakan dan persepsi sanksi berpengaruh positif pada kepatuhan, sedangkan kualitas pelayanan tidak. 3. Preferensi risiko memperle

Diunggah oleh

Mayra Dwi Andriyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan17 halaman

Pengaruh Pengetahuan Pajak Terhadap Kepatuhan

Ringkasan artikel ini adalah: 1. Artikel ini menguji pengaruh pengetahuan perpajakan, kualitas pelayanan, dan persepsi sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak dengan memoderasi preferensi risiko. 2. Hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan perpajakan dan persepsi sanksi berpengaruh positif pada kepatuhan, sedangkan kualitas pelayanan tidak. 3. Preferensi risiko memperle

Diunggah oleh

Mayra Dwi Andriyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kepatuhan Wajib Pajak Dari Sudut Pandang Pengetahuan Pajak, Kualitas Pelayanan,

Sanksi Pajak: Pemoderasi Preferensi Risiko

Magdalena Mei1
Amrie Firmansyah2
1Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Esa Unggul, Indonesia
2Politeknik Keuangan Negara STAN, Indonesia

*Correspondences : iramei864@[Link]

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris pengaruh
pengetahuan perpajakan, kualitas pelayanan dan persepsi sanksi
perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak. Selain itu, penelitian ini
menggunakan preferensi risiko sebagai variabel moderasi dalam menguji
hubungan antara variabel independen dan dependen. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dengan e-ISSN 2302-8556
menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model persamaan Vol. 32 No. 11
struktural. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pengetahuan dan Denpasar, 26 November 2022
persepsi perpajakan terhadap sanksi perpajakan berpengaruh positif Hal. 3272-3288
terhadap kepatuhan wajib pajak, sedangkan kualitas pelayanan tidak
berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Selanjutnya, preferensi DOI:
10.24843/EJA.2022.v32.i11.p06
risiko dapat memperlemah persepsi positif sanksi perpajakan terhadap
kepatuhan wajib pajak. Sementara itu, preferensi risiko tidak memoderasi PENGUTIPAN:
hubungan pengetahuan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak dan Mei, M., & Firmansyah, A.
hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepatuhan wajib pajak. (2022). Kepatuhan Wajib
Pajak Dari Sudut Pandang
Kata Kunci: Pengetahuan Pajak; Kualitas Pelayanan; Sanksi Pajak; Pengetahuan Pajak, Kualitas
Kepatuhan Pajak; Wajib Pajak Orang Pribadi; Preferensi Pelayanan, Sanksi Pajak:
Risiko. Pemoderasi Preferensi Risiko.
E-Jurnal Akuntansi, 32(11),
Taxpayer Compliance from the Perspective of Tax Knowledge, 3272-3288
Service Quality, Tax Sanctions: Risk Preference Moderation
RIWAYAT ARTIKEL:
Artikel Masuk:
ABSTRACT 27 Juli 2022
In developing countries such as Indonesia, related problems such as taxation are Artikel Diterima:
deficient taxpayer compliance and a high level of tax manipulation ([Link]). 24 September 2022
This study aimed to obtain empirical evidence of the effect of tax knowledge, service
quality and perceptions of tax sanctions on taxpayer compliance. In addition, this
study uses risk preference as a moderating variable in testing the relationship
between the independent and dependent variables. The data collection technique
was carried out using a survey method using a questionnaire that was distributed
directly to the respondents. Hypothesis testing is done by using structural equation
modelling. The study results conclude that tax knowledge and perceptions of tax
sanctions positively affect taxpayer compliance, while service quality has no effect
on taxpayer compliance. Furthermore, risk preference can weaken the positive
perception of tax sanctions on taxpayer compliance. Meanwhile, risk preference
does not moderate the relationship between tax knowledge and taxpayer compliance
and the relationship between service quality and taxpayer compliance.

Keywords: Tax Knowledge; Service quality; Tax Sanctions; Tax Compliance;


Individual Taxpayers; Risk Preference.

Artikel dapat diakses : [Link]

3272
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…

PENDAHULUAN
Sumber penerimaan negara didapatkan dari penerimaan pajak dan penerimaan
bukan pajak (Onlinepajak, 2018). Saat ini, pajak merupakan sumber penerimaan
negara terbesar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Realisasi penerimaan pajak tahun 2021 mencapai 103,9% dari target penerimaan
pajak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 (Pink, 2022).
Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak tahun 2020, maka
realisasi penerimaan pajak di tahun 2021 berhasil meningkat 19,2% (Pink, 2022).
Data tersebut menunjukkan bahwa penerimaan pajak dalam APBN memiliki
peran yang sangat penting dalam membiayai negara, sehingga Pemerintah
mendorong peningkatan pajak dari tahun ke tahun.
Semenjak diberlakukannya perubahan sistem perpajakan Indonesia dari
official assessment system menjadi self assessment system tahun 1983, pemerintah
berharap pendapatan negara dari sektor pajak akan semakin tinggi (Ariyati, 2019).
Perubahan sistem perpajakan di Indonesia dari official assessment menjadi self
assessment dapat melibatkan wajib pajak secara aktif untuk memaksimalkan
penerimaan pajak (Ariyati, 2019). Tujuan diberlakukannya self assessment system
diharapkan dapat memberikan perubahan sikap (kesadaran) bagi warga
masyarakat untuk semakin taat memenuhi kewajiban perpajakkanya (Damayanti
et al., 2020). Peran masyarakat dalam pembiayaan pembangunan dapat tercermin
pada kepatuhan membayar pajak (Radjijo, 2017).
Kepatuhan pajak di negara maju seperti di Amerika Serikat kepatuhan
pajaknya sudah sangat tinggi (Cahyono et al., 2019). Sementara itu, di negara
berkembang seperti di Indonesia masalah yang terkait dengan perpajakan salah
satunya adalah kepatuhan wajib pajak yang rendah (Sembiring, 2021). Berikut
data ringkasan mengenai realisasi kepatuhan wajib pajak dan target kepatuhan
pajak nasional di Indonesia selama kurun waktu 6 tahun yang disajikan dalam
Tabel 1.
Tabel 1. Tingkat Kepatuhan Pajak OP Nasional
Tahun Realisasi Kepatuhan Jumlah Wajib Pajak
2016 60,75% 12,2 Juta
2017 72,58% 12,4 juta
2018 71,10% 12,5 Juta
2019 73,06% 13,3 juta
2020 77,63% 12,6 Juta
2021 79% 14,7 Juta
Sumber: [Link]
Berdasarkan data Tabel 1, tingkat ketaatan wajib pajak enam tahun
terakhir mengalami peningkatan, namun peningkatan tersebut masih belum
optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak yang
masih belum sepenuhnya maksimal. Salah satu yang dapat mendorong
peningkatan pajak yang diperoleh pemerintah adalah dengan peningkatan
kepatuhan wajib pajak. Kepatuhan wajib pajak menunjukkan bahwa wajib pajak
bersedia untuk memenuhi kewajiban perpajakannya tanpa perlu dilakukan
pemeriksaan dan investigasi terperinci oleh otoritas pajak (Khulsum & Satyawan,
2014).

3273
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288

Kepatuhan pajak yang rendah berdampak pada rendahnya penerimaan


pajak oleh Pemerintah. Perilaku wajib pajak untuk menaati peraturan perpajakan
berdampak pada penerimaan Pemerintah dari sektor perpajakan. Perilaku wajib
pajak dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal berkaitan
dengan karakteristik masyarakat yang ada di suatu lokasi tertentu yang tercermin
dalam budaya, sosial dan ekonomi (Oktavia, 2019). Dukungan bagi wajib pajak
dalam memenuhi kewajiban perpajakannya dapat mendorong keinginan wajib
pajak khususnya wajib pajak orang pribadi untuk patuh atas regulasi terkait
dengan perpajakan di suatu negara (Ajzen, 2002). Oleh karena itu, pengujian
kepatuhan pajak penting untuk diinvestigasi lebih lanjut.
Kepatuhan pajak sangat diperlukan dalam meningkatkan penerimaan
negara dari pajak. Pengetahuan dibidang perpajakan diperlukan untuk
meningkatkan tingkat kepatuhan pajak wajib pajak orang pribadi. Pengetahuan
wajib pajak mendorong wajib pajak dalam menaati pajak dan partisipasi para
petugas pajak juga berperan penting terhadap kepatuhan wajib pajak dalam
menjalankan kewajiban perpajakannya (Suryanti & Sari, 2018). Petugas pajak
dituntut untuk memberikan pelayanan yang ramah, adil dan tegas setiap saat
kepada wajib pajak dalam mendorong kesadaran wajib pajak terkait dengan
tanggung jawabnya dalam membayar pajak (Lestari, 2020). Hal tersebut dapat
meminimalisir pengenaan sanksi pajak yang dapat dikenakan kepada wajib pajak
apabila wajib pajak tidak mematuhi kewajiban perpajakannya dalam suatu negara
(Firmansyah et al., 2022) dan (Marilyn et al., 2022).
Pentingnya pengetahuan pajak dalam membantu wajib pajak untuk
semakin taat pajak, memudahkan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban
perpajakannya (Ginting et al., 2017). Pengetahuan perpajakan adalah pengetahuan
tentang konsep peraturan-peraturan umum di bidang perpajakan, jenis-jenis pajak
yang berlaku di Indonesia oleh pengusaha kena pajak, objek pajak, tarif pajak,
menghitung pajak yang harus dibayar, mencatat pajak yang harus dibayar sampai
dengan menyelesaikan pengembalian pajak (Khasanah, 2014). Beberapa penelitian
sebelumnya menemukan bahwa pengetahuan pajak berpengaruh positif terhadap
kepatuhan wajib pajak (Anto et al., 2021, Jayanti et al., 2020, Kartika 2015, Lestari
2020, Oktavia 2019, Putra & Firmansyah 2018, Suryanti & Sari 2018, Yulia et al.,
2020). Sementara itu, Azmi, (2018) dan Marilyn et al. (2022) menyimpulkan bahwa
pengetahuan pajak tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Adanya
inkonsistensi dari penelitian sebelumnya mengakibatkan pengetahuan pajak
perlu dilakukan pengujian kembali terhadap kepatuhan wajib pajak.
Kualitas pelayanan adalah tingkat pelayanan yang diberikan oleh otoritas
pajak/fiskus pajak dalam memberikan yang baik dan berkualitas yang
diharapkan dapat meningkatkan kepuasan wajib pajak sebagai pelanggan
sehingga turut meningkatkan kepatuhan dalam bidang perpajakan (Aini et al.,
2018). Kualitas pelayanan sangat penting dalam membantu meningkatkan
kepatuhan wajib pajak seperti dengan memberikan pelayanan yang ramah dan
melakukan sosialisasi pajak (Aini et al., 2018). Pandangan wajib pajak terhadap
petugas pajak menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib
pajak dalam melaporkan dan membayar pajak mereka (As’ ari, 2018).
Hasil penelitian yang dilakukan Erlina et al., (2018), Fernando (2019),
Jayanti et al. (2020), Kartika (2015), Oktavia (2019), Pranata & Setiawan (2015),
3274
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…

Suryanti & Sari (2018), Tan et al. (2021) menunjukkan bahwa kualitas pelayanan
berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hasil
penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Hadi & Mahmudah (2018) dan
(Winerungan, 2013) yang menunjukkan bahwa kualitas pelayanan tidak
berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Adanya perbedaan hasil dalam
pengujian sebelumnya mengakibatkan kualitas pelayanan perlu dilakukan
pengujian kembali terhadap kepatuhan wajib pajak.
Persepsi sanksi pajak adalah konsekuensi yang dipersepsikan oleh wajib
pajak apabila wajib pajak tersebut tidak memiliki kesadaran akan pentingnya
pajak. Persepsi sanksi perpajakan bagi wajib pajak akan meningkatkan kepatuhan
wajib pajak terhadap konsekuensi hukum. Hal tersebut dapat mencegah wajib
pajak untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan di bidang perpajakan.
Pelaksanaan sanksi kepada wajib pajak mendapatkan sanksi administrasi yaitu
denda, bunga, atau pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi dan sanksi pidana
(Marilyn et al., 2022, Pujilestari et al., 2021). Penelitian (Anto et al., 2021, Erlina et
al., 2018, Jati & Yasa, 2017, Jayanti et al., 2020, Lestari, 2020, Marilyn et al., 2022,
Pranata & Setiawan, 2015, Pujilestari et al., 2021, Suryanti & Sari, 2018)
menyimpulkan bahwa persepsi sanksi pajak berpengaruh positif terhadap
kepatuhan wajib pajak. Sementara itu, penelitian dilakukan oleh (Afifah, 2020,
Azmi, 2018, Firmansyah et al., 2022, Oktavia, 2019, Winerungan, 2013)
menyimpulkan bahwa persepsi sanksi pajak tidak berpengaruh terhadap
kepatuhan wajib pajak. Adanya inkonsistensi dalam pengujian sebelumnya
mengakibatkan persepsi sanksi pajak perlu dilakukan pengujian kembali terhadap
kepatuhan wajib pajak.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh tingkat
pengetahuan pajak, kualitas pelayanan dan persepsi sanksi pajak berpengaruh
terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Penelitian ini memasukkan
preferensi risiko sebagai variabel moderasi yang masih jarang digunakan dalam
pengujian variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini terhadap
variabel dependen. Preferensi risiko merupakan kondisi dimana seseorang yang
akan mengambil sebuah keputusan dan mempertimbangkan risiko yang akan
dihadapinya yang kemudian risiko tersebut akan mempengaruhi keputusan yang
akan diambil (Asrianti, 2018). Terkait dengan hal tersebut, teori prospek
menjelaskan bagaimana seseorang membuat keputusan dalam kondisi yang tidak
pasti (Kahneman & Tversky, 1979). Inti dari teori prospek adalah proses
pengambilan keputusan pribadi yang dianggap kurang tepat dan tidak konsisten
dalam pengambilan keputusan (Kahneman & Tversky, 1979).
Preferensi risiko yang berhubungan dengan pengambilan keputusan bagi
individu dalam memenuhi kepatuhan pajak (Aryobimo & Cahyonowati, 2012).
Hal ini sejalan dengan konsep dari teori prospek. Apabila wajib pajak berisiko
tinggi, wajib pajak belum tentu berkeinginan untuk memenuhi kewajiban
perpajakannnya (Ablessy et al., 2020). Preferensi risiko berkaitan dengan situasi
dimana wajib pajak menghadapi risiko yang berhubungan dengan pembayaran
pajak. Risiko wajib pajak yang tinggi dalam menghadapi risiko dapat menurunkan
kepatuhan wajib pajak (Ablessy et al., 2020). Jika wajib pajak memiliki risiko
rendah maka wajib pajak mempunyai tingkat kepatuhan tinggi. Namun, jika wajib

3275
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288

pajak memiliki resiko yang tinggi maka wajib pajak memiliki tingakt kepatuhan
rendah terhadap pajak yang artinya wajib pajak tersebut menghindari kewajiban
perpajakannya. Fatah & Oktaviani (2021) menyimpulkan bahwa preferensi risiko
menurunkan kepatuhan wajib pajak. Alabede (2011) menyimpulkan bahwa
preferensi risiko menurunkan hubungan positif sikap wajib pajak individual dan
kepatuhan wajib pajak. Putra et al. (2020) menemukan bahwa preferensi risiko
dapat menurunkan hubungan positif pengetahuan pajak dan kepatuhan wajib
pajak. Wajib pajak cenderung patuh terhadap pembayaran pajak jika memiliki
preferensi risiko yang rendah, dan cenderung tidak patuh terhadap pembayaran
pajak jika memiliki preferensi risiko yang tinggi. Preferensi risiko memiliki peran
penting terhadap kepatuhan wajib pajak untuk mengetahui berbagai risiko yang
dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak. Dengan demikian,
preferensi risiko dapat digunakan sebagai variabel moderasi dalam hubungan
antara tingkat pengetahuan pajak, kualitas pelayanan perpajakan dan sanksi
perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak.
Kontribusi penelitian ini untuk literatur akuntansi dan perpajakan yaitu
diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi ilmu akuntansi keuangan dan
perpajakan, serta dapat dijadikan masukan bagi akademisi untuk membantu
mengembangkan model dari penelitian yang dilakukan. Kontribusi penelitian ini
untuk DJP diharapkan untuk bisa memberikan masukan bagi DJP dalam
memperbaharui, mengembangkan, dan meningkatkan sistem pelayanan pajak
kepada wajib pajak orang pribadi sehingga mampu meningkatkan kepercayaan
wajib pajak kepada DJP untuk memenuhi kewajiban pajaknya.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, adapun konsep penelitian
yang menunjukkan hubungan logis antar variabel penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Pengetahuan Pajak
(Eksogen)

Kualitas Pelayanan Kepatuhan wajib


(Eksogen) pajak (Endogen)

Persepsi sanksi Pajak


(Eksogen)
Preferensi Risiko
(Moderasi)

Gambar 1. Konsep Penelitian


Sumber: Data Penelitian, 2022

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantiatif. Jenis penelitian ini
menggunakan data primer. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada
penelitian ini adalah dengan cara mengumpulkan data primer dengan metode

3276
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…

survei melalui penyebaran kuesioner secara online kepada setiap wajib pajak
orang pribadi yang terdaftar di KKP DKI Jakarta. cici wajib pajak yang ada dalam
penelitia ini yaitu wp yang memiliki NPWP yang terdaftar di DKI Jakarta, pajak
penghasilan wajib pajak tersebut ditanggung oleh diri sendiri dan bukan
perusahaan, pekerjaan yang diutamakan adalah dokter, pengacara, konsultan,
dan UMKM. Kuesioner dalam penelitian ini disebarkan selama periode tanggal
01-09 Februari 2022 dan 4-13 April 2022. Jumlah data yang digunakan dalam
penelitian ini sebanyak 210 observasi berdasarkan jumlah kuisioner yang telah
diisi secara benar dan lengkap oleh responden.
Variabel endogen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepatuhan
wajib pajak. Sementara itu, variabel eksogen dalam penelitian ini adalah
pengetahuan pajak, kualitas pelayanan dan persepsi sanksi pajak. Selanjutnya,
variabel moderasi dalam penelitian ini adalah preferensi risiko. Adapun indikator
setiap variabel yang digunakan adalah sebagai berikut:
Menurut Wulandari (2020) indikator variabel pengetahuan pajak yaitu
Pengetahuan terkait ketentuan terkait kewajiban, Pengetahuan terkait ketentuan
terkait kewajiban perpajakan yang berlaku, peraturan mengenai batas waktu
pelaporan SPT, Pemahaman terkait dengan NPWP berfungsi sebagai identitas
wajib pajak, pajak berfungsi sebagai penerimaan negara terbesar, pajak yang
disetor dapat digunakan untuk pembiayaan oleh pemerintah sistem perpajakan
yang digunakan saat ini, Pemahaman atas pembayaran pajak sesuai ketentuan
pajak bersifat memaksa serta tidak mendapatkan imbalan secara langsung.
Menurut Alabede (2011) Kualitas pelayanan indikator variabel kualitas pelayanan
yaitu petugas pajak berpakaian sopan selalu ramah dan mendengarkan baik-baik
laporan wajib pajak, petugas pajak memiliki hubungan, komunikasi, perhatian,
dan pemahaman yang baik terhadap kebutuhan pelanggan, Petugas pajak
membantu pelanggan dan memberikan layanan respons cepat.
Menurut Yuslina et al. (2018) indikator variabel persepsi sanksi pajak yaitu
sanksi bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan wajib pajak, sanksi
berdasarkan ukuran pelanggaran pelaksanaan, sanksi harus berdasarkan dengan
ketentuan dan peraturan yang berlaku. Menurut Azmi (2018) indikator variabel
kepatuhan wajib pajak yaitu kepatuhan atas kepemilikan NPWP, kepatuhan
untuk menghitung jumlah pajak yang benar, kepatuhan dalam melaporkan SPT
dengan benar dan tepat waktu, dan petugas pajak memiliki sifat yang dapat
diandalkan. Menurut Aryobimo & Cahyonowati (2012) indikator variabel yaitu
Kondisi wajib pajak yang memiliki investasi, Kondisi wajib pajak yang memiliki
usaha lebih dari 1 bidang, kondisi wajib pajak yang memiliki gangguan kesehatan
dan berusia lanjut, dan hubungan antara wajib pajak dengan petugas pajak.
Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan persamaan model
structural equation modeling (SEM) yaitu suatu metode statistik untuk mengukur
dan memprediksi hubungan kausal dengan memanfaatkan gabungan data
statistic serta asumsi kausal kualitatif (Abdullah, 2015). SEM juga dikenal sebagai
metode statistik yang digunakan untuk menciptakan dan mengevaluasi model
statistik yang umumnya dalam wujud model-model sebab akibat. Melalui
penggunaan SEM dapat diketahui secara komprehensif mengenai hubungan
kausalitas antara variabel eksogen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel
endogen (variabel yang terpengaruh). Tidak terbatas padahal itu, bagian- bagian
3277
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288

yang berkontribusi kepada penyusunan model juga dapat ditetapkan besarannya


sehingga hubungan sebab1akibat antara variabel maupun konstruk yang sedang
diteliti menjadi lebih lengkap, akurat dan informative sesuai dengan konteks
penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Setelah memperoleh data dari responden untuk penelitian, selanjutnya dilakukan
uji validitas data. Uji validitas dapat terpenuhi apabila nilai korelasi variabel ke
variabel itu sendiri lebih besar jika dibandingkan dengan nilai korelasi seluruh
variabel lainya. Selain itu cara lain untuk memenuhi uji validitas diskriminan
dapat dilihat pada nilai cross loading, apabila nilai cross loading setiap item
pernyataan variabel ke variabel itu sendiri lebih besar dari nilai korelasi item
pernyataan ke variabel lainnya (Ghozali, 2015).
Tabel 2. Uji Validitas Data
KP1 0,770
KP2 0,830
KP3 0,810
KP4 0,888
KP5 0,783
P1 0,848
P2 0,884
P3 0,743
P4 0,745
P5 0,846
PP1 0,864
PP2 0,952
PP3 0,926
PP4 0,884
PP5 0,732
PR1 0,917
PR2 0,904
PR3 0,909
PR4 0,885
PR5 0,904
SP1 0,889
SP2 0,892
SP3 0,763
SP4 0,801
SP5 0,811
Sumber: Data Penelitian, 2022
Keterangan:
P : Kepatuhan Wajib Pajak
PP : Pengetahuan Pajak
KP : Kualitas Pelayanan
PSP : Persepsi Sanksi Pajak
PR : Preferensi Risiko.
Berdasarkan Tabel 2, keseluruhan hasil validitas adalah lebih dari 0,7 serta
nilai menunjukan lebih dari 0,5 (Ghozali, 2015), sehingga validitas konvergen telah
terpenuhi. Selanjutnya, uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi alat
ukur dalam mengukur suatu konsep atau mengukur konsistensi responden dalam
menjawab item pernyataan dalam kuesioner atau instrumen penelitian. Suatu

3278
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…

variabel dapat dikatakan reliabel ketika memiliki nilai composite reliability dan
cronbach’s alpha ≥ 0,7 atau average variance extracted (AVE) ≥ 0,5 (Hair et al., 2014).
Tabel 3 merupakan ringkasan atas uji reliabilitas setiap variabel.
Tabel 3. Hasil uji reliabilitas
Average
Cronbach's Composite
rho_A Variance
Alpha realibility
Extracted
Pengetahuan pajak 0,941 0,943 0,950 0,656
Kualitas pelayanan 0,953 0,959 0,959 0,701
Persepsi sanksi pajak 1,000 1,000 1,000 1,000
Kepatuhan WP OP 0,946 0,956 0,955 0,707
Preferensi risiko 1,000 1,000 1,000 1,000
Sumber: Data Penelitian, 2022
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai AVE ≥ 0,5, composite
reliability dan cronbach’s alpha ≥ 0,7, sehingga seluruh variabel yang pakai dalam
penelitian ini memenuhi validitas konvergen. Selanjutnya, statistik deskriptif dari
seluruh variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdapat pada Tabel 4.
Tabel 4. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Variabel Obs Mean Med. Std. Dev. Min Max
Kepatuhan Wajib Pajak 210 5,249 5 5,129 4 6
Pengetahuan Pajak 210 5,329 5 4,733 5 6
Kualitas Pelayanan 210 5,417 5 4,646 5 6
Persepsi Sanksi Pajak 210 5,313 5 4,607 4 6
Preferensi Risiko 210 5,364 5 5,590 4 6
Sumber: Data Penelitian, 2022
Selanjutnya, ringkasan hasil uji hipotesis penelitian ini adalah sebagai
berikut.
Tabel 5. Ringkasan Hasil Uji Hipotesis
Sampel Rata-Rata Standar T Statistik
P-Value
Asli (O) Sampel Deviasi (O/STDEV)
Pengetahuan 0,595 0,595 0,187 3,174 0,002
Pajak=>Kepatuhan WP
Kualitas -0.002 -0,008 0,081 0,024 0,981
Pelayanan=>Kepatuhan
WP
Persepsi Sanksi Pajak 0,450 0,463 0,173 2,600 0,009
=>Kepatuhan WP
Preferensi -0,142 -0,146 0,068 2,072 0,038
Risiko=>Kepatuhan WP
Pengetahuan -0,020 0,009 0,157 0,129 0,898
Pajak*Preferensi
Risiko=>Kepatuhan WP
Kualitas 0,106 0,089 0,118 0,903 0,367
Pelayanan*Preferensi
Risiko=>Kepatuhan WP
Persepsi Sanksi -0,226 -0,236 0,121 1,871 0,062
Pajak*Preferensi
Risiko=>Kepatuhan WP
Sumber: Data Penelitian, 2022

3279
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan perpajakan


berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak wajib pajak orang pribadi.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian dengan Anto et al. (2021), Jayanti et al.
(2020), Kartika (2015), Lestari (2020), Oktavia (2019), Putra & Firmansyah (2018),
Suryanti & Sari (2018), Yulia et al. (2020), namun tidak sejalan dengan Azmi, (2018)
dan Marilyn et al. (2022). Pengetahuan individu wajib pajak dalam konteks teori
atribusi merupakan faktor internal yang dapat mempengaruhi keputusan wajib
pajak dalam memenuhi kewajiba perpajakannya. Responden dalam penelitian ini
menganggap bahwa faktor internal merupakan faktor yang signifikan bagi wajib
pajak dalam memenuhi keputusannya terkait dengan kewajiban perpajakan
(Firmansyah et al., 2022). Wajib pajak berupaya memahami secara baik dan benar
terkait ketentuan dan peraturan-peraturan perpajakan dalam memenuhi
kewajiban perpajakannya. Akibatnya wajib pajak melakukan kewajiban
perpajakan dalam melapor dan memenuhi kewajiban perpajakannya.
Penelitian ini menunjukkan bahwa wajib pajak di Provinsi DKI Jakarta
lebih responsif terhadap ketentuan dan peraturan perpajakan dalam merespon
ketentuan yang diatur Pemerintah kepada wajib pajak sebagai warga negara.
Selain itu, wajib pajak di wilayah Propinsi DKI Jakarta secara rata-rata memiliki
pendidikan yang tinggi sehingga wajib pajak lebih paham pemahaman dan
konsekuensi terkait dengan kewajiban pajaknya. Pengetahuan pajak menjadi lebih
baik ketika wajib pajak mengerti tentang peraturan perpajakan dan memahami
bagamana cara memenuhi kewajiban pajaknya (Ablessy et al., 2020).
Karakteristik wajib pajaknya dalam penelitian ini yaitu wajib pajak yang
berprofesi sebagai bentuk usaha tetap (BUT), pengacara, arsitek ataupun sebagai
dokter yang mempunyai penghasilan tetap. Pengetahuan pajak dianggap penting
bagi wajib pajak yang memiliki profesi-profesi dimaksud karena wajib pajak
tersebut sudah memiliki penghasilan yang cukup sebagai syarat untuk memenuhi
kewajiban perpajakannya. Selain itu, pengetahuan pajak dianggap wajib dimiliki
dalam memperhitungkan sendiri kewajiban perpajakannya kepada pemerintah.
Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas
pelayanan tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil pengujian ini
sejalan dengan Hadi & Mahmudah (2018) dan Winerungan (2013), namun tidak
sejalan dengan Erlina et al. (2018), Fernando (2019), Jayanti et al. (2020), Kartika
(2015), Oktavia (2019), Pranata & Setiawan (2015), Suryanti & Sari (2018), dan Tan
et al. (2021). Walaupun kualitas pelayanan yang dilakukan aparat pajak di DKI
Jakarta sudah sangat optimal, namun wajib pajak menganggap bahwa kualitas
pelayanan tersebut merupakan standar yang harus dilakukan oleh aparat otoritas
pajak. Aparat otoritas pajak terus berupaya meningkatkan pelayanan melalui
perkembangan teknologi informasi seperti adanya fasilitas e-SPT dan e-filling
(Julianti & Zulaikha, 2014).
Tinggi atau rendahnya kualitas pelayanan tidak mempunyai pengaruh
terhadap kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
Terkait dengan teori atribusi pelayanan yang diberikan oleh otoritas pajak
merupakan faktor eksternal yang tidak direspon oleh wajib pajak dalam
pengambilan keputusan individu. Faktor eksternal ini tidak dijadikan sebagai
landasan bagi wajib pajak dalam merespon kepatuhan pajaknya. Sebagai faktor

3280
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…

ekternal dalam teori atribusi kualitas pelayanan yang baik seharusnya dapat
mendorong kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
Idealnya, indikator kualitas pelayanan dapat terpenuhi apabila pemangku
kepentingan dalam ini adalah wajib pajak puas dengan pelayanan yang diberikan
oleh petugas otoritas pajak. Namun, hasil pengujian dalam penelitian ini tidak
mengkonfirmasi konsep tersebut.
Berdasarkan hasil pengujian ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan
dari aparat otoritas pajak di Propinsi DKI Jakarta dianggap sudah baik oleh wajib
pajak. Wajib pajak di Provinsi DKI Jakarta itu lebih mudah untuk mengikuti alur
atau prosedur yang sudah ditentukan oleh otoritas pajak. Selain itu, otoritas pajak
saat ini sudah menyediakan layanan secara online untuk pelaporan pajaknya.
Kondisi tersebut dianggap oleh wajib pajak bahwa layanan yang diberikan oleh
otoritas pajak merupakan hal yang wajib tersedia dalam memudahkan wajib pajak
dalam memenuhi kewajiban pajaknya.
Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi sanksi
pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil pengujian ini
sejalan dengan penelitian Anto et al. (2021), Erlina et al. (2018), Jati & Yasa (2017),
Jayanti et al. (2020), Lestari (2020), Marilyn et al. (2022), Pranata & Setiawan (2015),
Pujilestari et al. (2021), dan Suryanti & Sari (2018), namun tidak sejalan dengan
Afifah (2020), Azmi (2018), Firmansyah et al. (2022), Oktavia (2019), dan
Winerungan (2013). Sanksi pajak merupakan faktor eksternal yang mendorong
keputusan wajib pajak dalam pengambilan keputusan individunya (Marilyn et al.,
2022). Sanksi pajak dapat berupa sanksi administrasi dan sanksi pidana yang
sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku. Wajib pajak di wilayah
Propinsi DKI Jakarta menganggap bahwa sanksi pajak merupakan hal yang perlu
dihindarkan karena dapat mengganggu aktivitas dari wajib pajak (Pujilestari et al.,
2021). Sanksi pajak yang dikenakan oleh otoritas pajak dianggap penting bagi
wajib pajak, sehingga wajib pajak cenderung untuk memenuhi kewajiban
perpajakannya.
Berdasarkan data indikator kuesioner terkait dengan persepsi sanksi
perpajakan dapat disimpulkan bahwa mayoritas wajib pajak di wilayah DKI
Jakarta semakin disiplin dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Selain itu,
kantor pelayanan pajak di wilayah DKI Jakarta terus meningkatkan upaya
kepatuhan wajib pajak melalui sanksi yang diberikan apabila wajib pajak tidak
memenuhi kewajiban perpajakannya. Upaya ini mengakibatkan kepatuhan wajib
pajak di wilayah Propinsi DKI Jakarta semakin meningkat. Selain itu, sanksi
perpajakan yang terlanjut dikenakan kepada wajib pajak segera diselesaikan oleh
wajib pajak untuk meminimalisir adanya masalah lebih lanjut.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa preferensi risiko tidak mampu
memperlemah hubungan positif antara pengetahuan pajak dan kepatuhan wajib
pajak. Hasil pengujian ini tidak mengkonfirmasi temuan dari Alabede (2011) dan
Putra et al. (2020). Berdasarkan teori prospek seseorang yang memiliki sifat risk
seeking cenderung untuk menghindari dari kewajibannya. Terlebih lagi jika
didukung oleh kenyamanan, kemudahan yang memadai. Dalam konteks
kepatuhan wajib pajak, wajib pajak merasa termotivasi untuk taat dan patuh
dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Preferensi risiko dan pemahaman

3281
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288

peraturan perpajakan merupakan faktor internal yang dapat mempengaruhi


keputusan individu dari wajib pajak.
Sikap patuh wajib pajak tergantung dari seberapa besar keyakinan yang
dimiliki wajib pajak terhadap manfaat yang akan diperoleh di masa yang akan
datang. Kontribusi yang diberikan wajib pajak akan berpengaruh terhadap apa
yang akan dinikmati dimasa mendatang. Preferensi risiko merupakan kondisi
yang normal dialami oleh setiap individu. Namun kondisi tersebut tidak
mengakibatkan tingkat kepatuhan wajib pajak di mana pengetahuan wajib pajak
memiliki peran dalam mempengaruhinya. Hasil pengujian ini menunjukkan
pengetahuan dan tingkat edukasi wajib pajak di wilayah Proponsi DKI Jakarta
yang tinggi mengakibatkan preferensi risiko yang tidak dapat mempengaruhi
keputusan individu dalam merespon kewajiban perpajakannya.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa preferensi risiko tidak mampu
memperlemah hubungan positif antara kualitas pelayanan terhadap kepatuhan
wajib pajak. Teori prospek menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan
yang dilakukan oleh individu ketika menemukan dua kondisi yang akan
menimbulkan risiko (Damayanti et al., 2020). Wajib pajak memikirkan untuk
menerima atau menolak risiko yang dihadapi (Aryobimo & Cahyonowati, 2012).
Respon wajib pajak didasarkan atas keyakinan wajib pajak dan pengamatan baik
dari pengalamannya sendiri maupun dari pengalaman orang lain (Yuslina et al.,
2018).
Wajib pajak akan memikirkan dalam menerima atau menolak risiko yang
akan dihadapi. Keputusan wajib pajak dapat dipengaruhi oleh perilaku tentang
risiko yang dihadapi wajib pajak. Keputusan penerapan peraturan perundang-
undangan perpajakan dibuat dari dalam dan berdasarkan keyakinan wajib pajak
itu sendiri. Kepuasan wajib pajak terhadap proses yang diterima dari fiskus akan
merangsang perilaku patuh wajib pajak (Alabede, 2011). Pelayanan yang
dilakukan oleh otoritas pajak dianggap wajib pajak sebagai prosedur standar yang
berlaku. Otoritas pajak perlu memberikan pelayanan standar dalam berbagai
bentuk kepada wajib pajak selaku warga negara. Di sisi lain, preferensi risiko yang
dimiliki setiap wajib pajak tidak mempengaruhi pandangan atas pelayanan yang
diberikan otoritas pajak kepada masyarakat. Kondisi ini tidak mempengaruhi
tingkat kepatuhan wajib pajak.
Hasil pengujian menunjukan preferensi risiko mampu memperlemah
hubungan positif persepsi sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil
pengujian ini tidak sejalan dengan Asrianti (2018). Teori prospek menjelaskan
bahwa proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh individu ketika
menemukan dua kondisi yang akan menimbulkan resiko (Yulia et al., 2020). Sanksi
pajak yang tinggi dapat merugikan wajib pajak dan membuat wajib pajak
memenuhi kewajiban perpajakannya tepat waktu agar terhindar dari sanksi,
namun kondisi lain yang diterima wajib pajak dapat mengubah kesadaran wajib
pajak akan kepatuhannya dalam memenuhi kewajiban perpajakannya (Asrianti,
2018). Wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakannya karena cenderung lebih
banyak mengalami kerugian akibat sanksi perpajakan yang berarti. Jika wajib
pajak memiliki risiko rendah, wajib pajak cenderung patuh terhadap pembayaran
pajak (Ardyanto & Utaminingsih, 2014).

3282
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…

Preferensi risiko mampu memperlemah hubungan antara persepsi sanksi


pajak wilayah DKI Jakarta atas perpajakan yang tinggi sehingga berd ampak
terhadap kepatuhan wajib pajak ketika mengetahui terkait perpajakan yang harus
dipenuhi. Apabila seorang wajib pajak cenderung untuk patuh akan kewajiban
perpajakannya maka, wajib pajak tersebut harus mempunyai tingkatan risiko
yang lebih rendah maka akan lebih meningkatkan kepatuhan pajak. Risiko yang
dipersepsikan oleh wajib pajak dapat mempengaruhi kepatuhan wajib pajak
walaupun kepatuhan wajib pajak tinggi pada saat wajib pajak menyadari sanksi
pajak dalam peraturan perpajakan. Wajib pajak yang memiliki risiko tinggi maka
kepatuhan wajib pajak tersebut akan semakin rendah dalam memenuhi kewajiban
pajaknya dalam kondisi wajib pajak memahami sanksi pajak dalam pelaksanaan
perpajakan di Indonesia. Sementara itu, jika wajib pajak tersebut memiliki risiko
rendah maka kepatuhan wajib pajak tersebut akan semakin tinggi.

SIMPULAN
Penelitian ini menemukan bahwa pengetahuan wajib pajak berpengaruh positif
terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Kualitas pelayanan tidak
berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Persepsi sanksi pajak
berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib orang pribadi. Preferensi risiko
tidak dapat memperlemah hubungan positif antara pengetahuan pajak terhadap
kepatuhan wajib pajak. Selain itu, preferensi risiko tidak memperlemah positif
antara kualitas pelayanan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
Sementar itu, preferensi risiko mampu memperlemah hubungan positif persepsi
sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, keterbatasan
waktu dalam pengumpulan data kuisioner. Kedua, penyeberan kuisioner hanya
menyebarkan kuisioner secara online melalui google form, sehingga penggalian
informasi tambahan tidak dapat dilakukan kepada responden. Kuisioner tidak
didesain dengan menggunakan screening question atau pernyataan penyaring
untuk menentukan apakah pernyataan-pernyataan selanjutnya perlu dijawab oleh
responden atau menentukan apakah seorang responden memenuhi syarat untuk
berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian selanjutnya sebaiknya
menggunakan screen question/kode dalam penelitian agar dapat diketahui wajib
pajak yang dapat mengisi kelanjutan kuesionernya atau pertanyaan pertanyaan
selanjutnya. Penelitian selanjutnya juga dapat menggunakan responden dengan
jumlah yang lebih besar atau responden di wilayah lainnya.
Penelitian ini menyarankan kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk
meningkatkan pengaturan dalam rangka penerimaan pajak dari wajib pajak orang
pribadi. Pengaturan yang di maksudnya seperti pelayanan petugas pajak baik
secara online melalui website DJP maupun dikantor pajak. Selain itu, hasil
penelitian ini juga dapat meningkatkan kebijakan sosialisasi perpajakan kepada
para wajib pajak orang pribadi.

3283
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288

REFERENSI
Ablessy, M., Sondakh, J. J., & Suwetja, I. G. (2020). Pengaruh pengetahuan pajak,
sanksi pajak, dan kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak
membayar pajak pajak bumi dan bangunan di kecamatan sonder Kabupaten
Minahasa. Going Concern : Jurnal Riset Akuntansi, 15(2), 175–18.
[Link]
Afifah, F. N. (2020). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Sanksi Perpajakan, Dan
Moderasi Administrasi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Pelaporan Wajib
Pajak (Studi Empiris Pada Wajib Pajak Orang Pribadi Di Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Magelang) [Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Muhammadiyah Magelang].
[Link]
[Link]
Aini, A. O., Budiman, J., & Wijayanti, P. (2018). Kepatuhan wajib pajak badan
perusahaan manufaktur di Semarang dalam perspektif tax professional.
InFestasi, 10(1), 22–35. [Link]
Ajzen, I. (2002). Perceived behavioral control, self‐efficacy, locus of control, and the
theory of planned behavior. Journal of Applied Social Psychology, 32(4), 665–683.
[Link]
Alabede, J. olabede. (2011). Tax service quality and compliance behaviour in
Nigeria: Do taxpayer’s financial condition and risk preference play any
moderating role? European Journal of Economics, Finance and Administrative
Sciences, 3(5), 91–104. [Link]
Anto, L. O., Husin, H., Hamid, W., & Bulan, N. L. (2021). Taxpayer awareness, tac
knowledge, tac sanctions, public service account ability and taxpayer
compliance. Accounting, 7(1), 49–58.
Ardyanto, A. A., & Utaminingsih, N. S. (2014). Pengaruh sanksi pajak dan
pelayanan aparat pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dengan preferensi
risiko sebagai variabel moderasi. Accounting Analysis Journal, 3(2), 220–229.
[Link]
Ariyati, N. K. W. (2019). Pengaruh Self Assessment System, Pemeriksaan Pajak,
Dan Penagihan Pajak Terhadap Penerimaan PPN.
[Link]
Self-Assessment-System-Pemeriksaan-Pajak-dan-Penagihan-Pajak-
Terhadap-Penerimaan-PPN
Aryobimo, P. T., & Cahyonowati, N. (2012). Pengaruh persepsi wajib pajak tentang
kualitas pelayanan fiskus terhadap kepatuhan wajib pajak dengan kondisi
keuangan wajib pajak dan preferensi risiko sebagai variabel moderating
(studi empiris terhadap wajib pajak orang pribadi di Kota Semarang).
Diponegoro Journal of Accounting, 1(2), 1–12.
[Link]
As’ ari, N. G. (2018). Pengaruh pemahaman peraturan perpajakan, kualitas
pelayanan, kesadaran wajib pajak dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib
pajak orang pribadi. Jurnal Ekobis Dewantara, 1(6), 64–76.
[Link]
Asrianti, A. (2018). Pengaruh Pemahaman Dan Sanksi Perpajakan Terhadap
Kepatuhan Wajib Pajak Dengan Preferensi Risiko Sebagai Variabel Moderasi
3284
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…

(Studi Pada KPP Pratama Makassar Selatan) [Universitas Islam Negeri


Alauddin Makassar]. [Link]
[Link]/13779/1/Pengaruhpemahaman Dan Sanksi
Perpajakanterhadapkepatuhan Wajib Pajak Dengan [Link]
Azmi, M. N. (2018). Pengaruh Pengetahuan Perpajakan, Tingkat Kesadaran, Dan
Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Pelaporan Wajib Pajak Orang Pribadi
Yang Melakukan Kegiatan Usaha Dan Pekerjaan Bebas (Studi Di Wilayah PP
Pratama Pontianak) [Universitas Islam Indonesia].
[Link] Nurul
Azmi_15312126.pdf?sequence=1&isAllowed=y
Cahyono, F., Nugroho, R., & Handoko, D. (2019). Pengaruh Pengetahuan,
Kesadaran Dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
(Studi Empiris Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Mojokerto)
[Universitas Islam Majapahit]. [Link]
Damayanti, M., Mahsuni, A. W., & Afifudin, A. (2020). Analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi kepatuhan wajib pajak orang pribadi untuk membayar pajak
dengan kondisi keuangan dan preferensi risiko wajib pajak sebagai variabel
moderasi (studi kasus pada wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama
Malang Utara). E_Jurnal Ilmiah Riset Akuntansi, 9(03), 140–155.
[Link]
Erlina, E., Ratnawati, V., & Andreas, A. (2018). Pengaruh kualitas pelayanan
fiskus, sanksi pajak, terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi non
karyawan dengan kondisi keuangan sebagai variabel moderasi (studi empiris
pada wajib pajak orang pribadi non karyawan di wilayah KPP Pratama
Bengkalis). Jurnal Akuntansi, 7(1), 42–57.
[Link]
Fatah, Y. M., & Oktaviani, R. M. (2021). Pengaruh kesadaran wajib pajak terhadap
preferensi risiko sebagai variabel moderasi. Jurnal Ilmiah Akuntansi Dan
Keuangan, 10(2), 124–132. [Link]
Fernando, M. R. (2019). Pengaruh persepsi wajib pajak tentang kualitas pelayanan fiskus
terhadap kepatuhan wajib pajak dengan kondisi keuangan wajib pajak sebagai
variabel moderasi [Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya].
[Link]
Firmansyah, A., Harryanto, H., & Trisnawati, E. (2022). Peran mediasi sistem
informasi dalam hubungan sosialisasi pajak, sanksi pajak, kesadaran pajak
dan kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Jurnal Pajak Indonesia, 6(1), 130–142.
[Link]
Ghozali, I. (2015). Konsep, teknik, aplikasi menggunakan Smart PLS 3.0 untuk penelitian
empiris. BP Undip.
Ginting, A. V. L., Sabijono, H., & Pontoh, W. (2017). Peran motivasi dan
pengetahuan perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak. Jurnal EMBA:
Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 5(2), 1998–2006.
[Link]
Hadi, N., & Mahmudah, U. (2018). Pengaruh kualitas pelayanan perpajakan
terhadap kepatuhan wajib pajak. AKTSAR: Jurnal Akuntansi Syariah, 1(2), 257.
[Link]
Hair, J. F., Black, W. C., Babin, B. J., Anderson, R. E., & Tatham, R. L. (2014).
3285
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288

Multivariate data analysis, Seventh Edition. Pearson Education Limited Harlow.


Hidayat, N. R., Suhadak, S., Darminto, D., Handayani, S. R., & Widjanarko, B. O.
(2014). Measurement model of service quality, regional tax regulations,
taxpayer satisfaction level, behavior and compliance using confirmatory
factor analysis. World Applied Sciences Journal, 29(1), 56–61.
[Link]
Jati, I. K., & Yasa, I. P. R. P. (2017). Kondisi keuangan wajib pajak pemoderasi
pengaruh sanksi pajak, kesehatan wajib pajak pada kepatuhan wajib pajak.
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 19(2), 2302–8556.
[Link]
Jayanti, L. G. P. S. E., Manuaba, I. B. P., & Sanjaya, I. K. P. W. (2020). The effect of
taxation knowledge, tax sanctions and quality of service on compliance
underground water tax. International Journal of Environmental, Sustainability,
and Social Science, 1(3), 35–38. [Link]
Julianti, M., & Zulaikha, Z. (2014). Analisis faktor–faktor yang mempengaruhi
kepatuhan wajib pajak orang pribadi untuk membayar pajak dengan kondisi
keuangan dan preferensi risiko wajib pajak sebagai variabel moderating
(studi kasus pada wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Candisari.
Diponegoro Journal of Accounting, 3(2), 2337–3806.
[Link]
Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). Prospect theory: an analysis of decision under
risk. Econometrica, 47(2), 263–291. [Link]
Kartika, A. (2015). Pengaruh pemahaman peraturan pajak dan pelayanan aparat
pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dengan preferensi risiko sebagai
variabel moderasi (studi kasus pada umkm yang terdaftar di KPP Pratama
Demak). Dinamika Akuntansi Keuangan Dan Perbankan, 4(1), 29–38.
[Link]
Khasanah, S. N. (2014). Pengaruh Pengetahuan Perpajakan, Modernisasi Sistem
Administrasi Perpajakan, Dan Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan
Wajib Pajak Pada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Daerah Istimewa
Yogyakarta Tahun 2013 [Universitas Negeri Yogyakarta].
[Link] [Link]
Khulsum, U. A., & Satyawan, M. D. (2014). Pengaruh karakteristik usaha wajib
pajak badan terhadap tingkat kepatuhan berdasarkan pengukuran reporting
compliance (studi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Sawahan).
AKRUAL: Jurnal Akuntansi, 6(1), 33–51.
[Link]
Lestari, S. P. (2020). Pengaruh Pemahaman Peraturan Pajak, Sanksi Perpajakan
Dan Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
[Universitas Muhammadiyah Gresik]. [Link]
Marilyn, M., Firmansyah, A., & Trisnawati, E. (2022). Peran moderasi teknologi
informasi dalam hubungan antara pengetahuan pajak, sanksi pajak dan
kepatuhan pajak. Jurnal Pajak Ind, 6(1), 143–151.
[Link]
Nisa, N. H., & Merliyana, M. (2020). Kesadaran, Administrasi Perpajakan Modern
Dan Sosialisasi Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi Kasus
Pada KPP Pratama Jakarta Pulogadung).
3286
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…

[Link]
Indonesia_2020..pdf
Oktavia, M. S. (2019). Pengaruh Pengetahuan Perpajakan, Kualitas Pelayanan
Fiskus, Sanksi Pajak, Dan Self Assessment System Terhadap Motivasi Wajib
Pajak Orang Pribadi Yang Membayar Pajak [STIE Multi Data Palembang].
[Link]
Onlinepajak. (2018). Sumber Pendapatan Negara: Pajak, Non Pajak Dan Hibah.
[Link]
Pink, B. (2022). Penerimaan pajak 2021 capai 103,9% dari target, ini kata Sri Mulyani.
[Link]
dari-target-ini-kata-sri-mulyani
Pradana, R. F., & Firmansyah, A. (2020). The role of prevention efforts in
association between interactional fairness and taxpayer compliances
intentions. International Journal of Scientific and Technology Research, 9(2), 3176–
3186. [Link]
Efforts-In-Association-Between-Interactional-Fairness-And-Taxpayer-
[Link]
Pranata, P. A., & Setiawan, P. E. (2015). Pengaruh sanksi per pajakan, kualitas
pelayanan dan kewajiban moral pada kepatuhan wajib pajak. E-Jurnal
Akuntansi, 10(2), 456–473.
[Link]
Pujilestari, H., Humairo, M., Amrie Firmansyah, & Estralita Trisnawati. (2021).
Peran kualitas pelayanan dalam kepatuhan wajib pajak orang pribadi:
sosialisasi pajak dan sanksi pajak. Jurnal Wahana Akuntansi, 16(1), 36–51.
[Link]
Putra, B. P., Agustin, H., & Setiawan, M. A. (2020). Pengaruh pemahaman
peraturan perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak dengan preferensi
risiko sebagai variabel moderasi. Jurnal Eksplorasi Akuntansi, 2(2), 2613–2619.
[Link]
Putra, I. P. F. D., & Firmansyah, A. (2018). The effect of tax knowledge reward and
enforcement strategies on SMEs tax compliance behavior. International Journal
of Business And Management Study, 5(2), 21–28. [Link]
1-63248-160-3-22
Radjijo, R. (2017). Pemungutan pajak penghasilan dengan sistem self assessment
bagi wajib pajak badan. Jurnal Ekonomi Dan Kewirausahaan, 1(7), 69–79.
[Link]
Savitri, E., & Musfialdy, M. (2016). The Effect Of Taxpayer Awareness, Tax
Socialization, Tax Penalties, Compliance Cost At Taxpayer Compliance With
Service Quality As Mediating Variable (Procedia - Social and Behavioral
Sciences, Vol. 219). [Link]
Sembiring, L. J. (2021). Sejak 2015, orang RI yang bayar pajak itu-itu aja.
[Link]
2015-orang-ri-yang-bayar-pajak-itu-itu-saja
Suryanti, H., & Sari, I. E. (2018). Pengaruh sanksi perpajakan, pelayanan fiskus dan
pengetahuan perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi
(studi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Pancoran). AKUNNAS:
Jurnal Ilmu Akuntansi, 15(2), 14–26.
3287
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288

[Link]
Tan, R., Hizkiel, Y. D., Firmansyah, A., & Trisnawati, E. (2021). Kepatuhan wajib
pajak di era pandemi Covid19: kesadaran wajib pajak, pelayanan perpajakan,
peraturan perpajakan. Educoretax, 1(3), 208–218.
[Link]
Wildan, M. (2022). Rasio kepatuhan wajib pajak capai 84% per akhir 2021.
[Link]
2021-35875
Winerungan, O. L. (2013). Sosialisasi perpajakan, pelayanan fiskus dan sanksi
perpajakan terhadap kepatuhan WPOP di KPP Manado dan KPP Bitung.
Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 1(3), 960–
970. [Link]
Wulandari, A. (2020). Pengaruh Pemahaman Peraturan Pajak, Sanksi Denda, Dan
Kesadaran Wajib Pajak, Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Di
KPP Pratama Wonocolo Surabaya Pada Tahun 2015 [Universitas
Bhayangkara]. [Link]
WULANDARI_13023066.pdf
Yulia, Y., Wijaya, R. A., Sari, D. P., & Adawi, M. (2020). Pengaruh pengetahuan
perpajakan, kesadaran wajib pajak, tingkat pendidikan dan sosialisasi
perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak pada UMKM Di Kota Padang.
Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi, 1(4), 305–310.
[Link]
Yuslina, P., Tanjung, A. R., & Silfi, A. (2018). Pengaruh pelayanan fiskus,
pengetahuan perpajakan dan kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan
wajib pajak dengan kondisi keuangan dan preferensi risiko wajib pajak
sebagai variabel moderating (studi empiris pada wajib pajak orang pribadi di
Kota Pekanbar. Akuntansi Dan Manajemen, 13(2), 40–57.
[Link]

3288

Anda mungkin juga menyukai