Pengaruh Pengetahuan Pajak Terhadap Kepatuhan
Pengaruh Pengetahuan Pajak Terhadap Kepatuhan
Magdalena Mei1
Amrie Firmansyah2
1Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Esa Unggul, Indonesia
2Politeknik Keuangan Negara STAN, Indonesia
*Correspondences : iramei864@[Link]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris pengaruh
pengetahuan perpajakan, kualitas pelayanan dan persepsi sanksi
perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak. Selain itu, penelitian ini
menggunakan preferensi risiko sebagai variabel moderasi dalam menguji
hubungan antara variabel independen dan dependen. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dengan e-ISSN 2302-8556
menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan model persamaan Vol. 32 No. 11
struktural. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pengetahuan dan Denpasar, 26 November 2022
persepsi perpajakan terhadap sanksi perpajakan berpengaruh positif Hal. 3272-3288
terhadap kepatuhan wajib pajak, sedangkan kualitas pelayanan tidak
berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Selanjutnya, preferensi DOI:
10.24843/EJA.2022.v32.i11.p06
risiko dapat memperlemah persepsi positif sanksi perpajakan terhadap
kepatuhan wajib pajak. Sementara itu, preferensi risiko tidak memoderasi PENGUTIPAN:
hubungan pengetahuan perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak dan Mei, M., & Firmansyah, A.
hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepatuhan wajib pajak. (2022). Kepatuhan Wajib
Pajak Dari Sudut Pandang
Kata Kunci: Pengetahuan Pajak; Kualitas Pelayanan; Sanksi Pajak; Pengetahuan Pajak, Kualitas
Kepatuhan Pajak; Wajib Pajak Orang Pribadi; Preferensi Pelayanan, Sanksi Pajak:
Risiko. Pemoderasi Preferensi Risiko.
E-Jurnal Akuntansi, 32(11),
Taxpayer Compliance from the Perspective of Tax Knowledge, 3272-3288
Service Quality, Tax Sanctions: Risk Preference Moderation
RIWAYAT ARTIKEL:
Artikel Masuk:
ABSTRACT 27 Juli 2022
In developing countries such as Indonesia, related problems such as taxation are Artikel Diterima:
deficient taxpayer compliance and a high level of tax manipulation ([Link]). 24 September 2022
This study aimed to obtain empirical evidence of the effect of tax knowledge, service
quality and perceptions of tax sanctions on taxpayer compliance. In addition, this
study uses risk preference as a moderating variable in testing the relationship
between the independent and dependent variables. The data collection technique
was carried out using a survey method using a questionnaire that was distributed
directly to the respondents. Hypothesis testing is done by using structural equation
modelling. The study results conclude that tax knowledge and perceptions of tax
sanctions positively affect taxpayer compliance, while service quality has no effect
on taxpayer compliance. Furthermore, risk preference can weaken the positive
perception of tax sanctions on taxpayer compliance. Meanwhile, risk preference
does not moderate the relationship between tax knowledge and taxpayer compliance
and the relationship between service quality and taxpayer compliance.
3272
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…
PENDAHULUAN
Sumber penerimaan negara didapatkan dari penerimaan pajak dan penerimaan
bukan pajak (Onlinepajak, 2018). Saat ini, pajak merupakan sumber penerimaan
negara terbesar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Realisasi penerimaan pajak tahun 2021 mencapai 103,9% dari target penerimaan
pajak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 (Pink, 2022).
Apabila dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak tahun 2020, maka
realisasi penerimaan pajak di tahun 2021 berhasil meningkat 19,2% (Pink, 2022).
Data tersebut menunjukkan bahwa penerimaan pajak dalam APBN memiliki
peran yang sangat penting dalam membiayai negara, sehingga Pemerintah
mendorong peningkatan pajak dari tahun ke tahun.
Semenjak diberlakukannya perubahan sistem perpajakan Indonesia dari
official assessment system menjadi self assessment system tahun 1983, pemerintah
berharap pendapatan negara dari sektor pajak akan semakin tinggi (Ariyati, 2019).
Perubahan sistem perpajakan di Indonesia dari official assessment menjadi self
assessment dapat melibatkan wajib pajak secara aktif untuk memaksimalkan
penerimaan pajak (Ariyati, 2019). Tujuan diberlakukannya self assessment system
diharapkan dapat memberikan perubahan sikap (kesadaran) bagi warga
masyarakat untuk semakin taat memenuhi kewajiban perpajakkanya (Damayanti
et al., 2020). Peran masyarakat dalam pembiayaan pembangunan dapat tercermin
pada kepatuhan membayar pajak (Radjijo, 2017).
Kepatuhan pajak di negara maju seperti di Amerika Serikat kepatuhan
pajaknya sudah sangat tinggi (Cahyono et al., 2019). Sementara itu, di negara
berkembang seperti di Indonesia masalah yang terkait dengan perpajakan salah
satunya adalah kepatuhan wajib pajak yang rendah (Sembiring, 2021). Berikut
data ringkasan mengenai realisasi kepatuhan wajib pajak dan target kepatuhan
pajak nasional di Indonesia selama kurun waktu 6 tahun yang disajikan dalam
Tabel 1.
Tabel 1. Tingkat Kepatuhan Pajak OP Nasional
Tahun Realisasi Kepatuhan Jumlah Wajib Pajak
2016 60,75% 12,2 Juta
2017 72,58% 12,4 juta
2018 71,10% 12,5 Juta
2019 73,06% 13,3 juta
2020 77,63% 12,6 Juta
2021 79% 14,7 Juta
Sumber: [Link]
Berdasarkan data Tabel 1, tingkat ketaatan wajib pajak enam tahun
terakhir mengalami peningkatan, namun peningkatan tersebut masih belum
optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak yang
masih belum sepenuhnya maksimal. Salah satu yang dapat mendorong
peningkatan pajak yang diperoleh pemerintah adalah dengan peningkatan
kepatuhan wajib pajak. Kepatuhan wajib pajak menunjukkan bahwa wajib pajak
bersedia untuk memenuhi kewajiban perpajakannya tanpa perlu dilakukan
pemeriksaan dan investigasi terperinci oleh otoritas pajak (Khulsum & Satyawan,
2014).
3273
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288
Suryanti & Sari (2018), Tan et al. (2021) menunjukkan bahwa kualitas pelayanan
berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Hasil
penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Hadi & Mahmudah (2018) dan
(Winerungan, 2013) yang menunjukkan bahwa kualitas pelayanan tidak
berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Adanya perbedaan hasil dalam
pengujian sebelumnya mengakibatkan kualitas pelayanan perlu dilakukan
pengujian kembali terhadap kepatuhan wajib pajak.
Persepsi sanksi pajak adalah konsekuensi yang dipersepsikan oleh wajib
pajak apabila wajib pajak tersebut tidak memiliki kesadaran akan pentingnya
pajak. Persepsi sanksi perpajakan bagi wajib pajak akan meningkatkan kepatuhan
wajib pajak terhadap konsekuensi hukum. Hal tersebut dapat mencegah wajib
pajak untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan di bidang perpajakan.
Pelaksanaan sanksi kepada wajib pajak mendapatkan sanksi administrasi yaitu
denda, bunga, atau pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi dan sanksi pidana
(Marilyn et al., 2022, Pujilestari et al., 2021). Penelitian (Anto et al., 2021, Erlina et
al., 2018, Jati & Yasa, 2017, Jayanti et al., 2020, Lestari, 2020, Marilyn et al., 2022,
Pranata & Setiawan, 2015, Pujilestari et al., 2021, Suryanti & Sari, 2018)
menyimpulkan bahwa persepsi sanksi pajak berpengaruh positif terhadap
kepatuhan wajib pajak. Sementara itu, penelitian dilakukan oleh (Afifah, 2020,
Azmi, 2018, Firmansyah et al., 2022, Oktavia, 2019, Winerungan, 2013)
menyimpulkan bahwa persepsi sanksi pajak tidak berpengaruh terhadap
kepatuhan wajib pajak. Adanya inkonsistensi dalam pengujian sebelumnya
mengakibatkan persepsi sanksi pajak perlu dilakukan pengujian kembali terhadap
kepatuhan wajib pajak.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh tingkat
pengetahuan pajak, kualitas pelayanan dan persepsi sanksi pajak berpengaruh
terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Penelitian ini memasukkan
preferensi risiko sebagai variabel moderasi yang masih jarang digunakan dalam
pengujian variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini terhadap
variabel dependen. Preferensi risiko merupakan kondisi dimana seseorang yang
akan mengambil sebuah keputusan dan mempertimbangkan risiko yang akan
dihadapinya yang kemudian risiko tersebut akan mempengaruhi keputusan yang
akan diambil (Asrianti, 2018). Terkait dengan hal tersebut, teori prospek
menjelaskan bagaimana seseorang membuat keputusan dalam kondisi yang tidak
pasti (Kahneman & Tversky, 1979). Inti dari teori prospek adalah proses
pengambilan keputusan pribadi yang dianggap kurang tepat dan tidak konsisten
dalam pengambilan keputusan (Kahneman & Tversky, 1979).
Preferensi risiko yang berhubungan dengan pengambilan keputusan bagi
individu dalam memenuhi kepatuhan pajak (Aryobimo & Cahyonowati, 2012).
Hal ini sejalan dengan konsep dari teori prospek. Apabila wajib pajak berisiko
tinggi, wajib pajak belum tentu berkeinginan untuk memenuhi kewajiban
perpajakannnya (Ablessy et al., 2020). Preferensi risiko berkaitan dengan situasi
dimana wajib pajak menghadapi risiko yang berhubungan dengan pembayaran
pajak. Risiko wajib pajak yang tinggi dalam menghadapi risiko dapat menurunkan
kepatuhan wajib pajak (Ablessy et al., 2020). Jika wajib pajak memiliki risiko
rendah maka wajib pajak mempunyai tingkat kepatuhan tinggi. Namun, jika wajib
3275
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288
pajak memiliki resiko yang tinggi maka wajib pajak memiliki tingakt kepatuhan
rendah terhadap pajak yang artinya wajib pajak tersebut menghindari kewajiban
perpajakannya. Fatah & Oktaviani (2021) menyimpulkan bahwa preferensi risiko
menurunkan kepatuhan wajib pajak. Alabede (2011) menyimpulkan bahwa
preferensi risiko menurunkan hubungan positif sikap wajib pajak individual dan
kepatuhan wajib pajak. Putra et al. (2020) menemukan bahwa preferensi risiko
dapat menurunkan hubungan positif pengetahuan pajak dan kepatuhan wajib
pajak. Wajib pajak cenderung patuh terhadap pembayaran pajak jika memiliki
preferensi risiko yang rendah, dan cenderung tidak patuh terhadap pembayaran
pajak jika memiliki preferensi risiko yang tinggi. Preferensi risiko memiliki peran
penting terhadap kepatuhan wajib pajak untuk mengetahui berbagai risiko yang
dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak. Dengan demikian,
preferensi risiko dapat digunakan sebagai variabel moderasi dalam hubungan
antara tingkat pengetahuan pajak, kualitas pelayanan perpajakan dan sanksi
perpajakan dengan kepatuhan wajib pajak.
Kontribusi penelitian ini untuk literatur akuntansi dan perpajakan yaitu
diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi ilmu akuntansi keuangan dan
perpajakan, serta dapat dijadikan masukan bagi akademisi untuk membantu
mengembangkan model dari penelitian yang dilakukan. Kontribusi penelitian ini
untuk DJP diharapkan untuk bisa memberikan masukan bagi DJP dalam
memperbaharui, mengembangkan, dan meningkatkan sistem pelayanan pajak
kepada wajib pajak orang pribadi sehingga mampu meningkatkan kepercayaan
wajib pajak kepada DJP untuk memenuhi kewajiban pajaknya.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, adapun konsep penelitian
yang menunjukkan hubungan logis antar variabel penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Pengetahuan Pajak
(Eksogen)
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantiatif. Jenis penelitian ini
menggunakan data primer. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada
penelitian ini adalah dengan cara mengumpulkan data primer dengan metode
3276
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…
survei melalui penyebaran kuesioner secara online kepada setiap wajib pajak
orang pribadi yang terdaftar di KKP DKI Jakarta. cici wajib pajak yang ada dalam
penelitia ini yaitu wp yang memiliki NPWP yang terdaftar di DKI Jakarta, pajak
penghasilan wajib pajak tersebut ditanggung oleh diri sendiri dan bukan
perusahaan, pekerjaan yang diutamakan adalah dokter, pengacara, konsultan,
dan UMKM. Kuesioner dalam penelitian ini disebarkan selama periode tanggal
01-09 Februari 2022 dan 4-13 April 2022. Jumlah data yang digunakan dalam
penelitian ini sebanyak 210 observasi berdasarkan jumlah kuisioner yang telah
diisi secara benar dan lengkap oleh responden.
Variabel endogen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepatuhan
wajib pajak. Sementara itu, variabel eksogen dalam penelitian ini adalah
pengetahuan pajak, kualitas pelayanan dan persepsi sanksi pajak. Selanjutnya,
variabel moderasi dalam penelitian ini adalah preferensi risiko. Adapun indikator
setiap variabel yang digunakan adalah sebagai berikut:
Menurut Wulandari (2020) indikator variabel pengetahuan pajak yaitu
Pengetahuan terkait ketentuan terkait kewajiban, Pengetahuan terkait ketentuan
terkait kewajiban perpajakan yang berlaku, peraturan mengenai batas waktu
pelaporan SPT, Pemahaman terkait dengan NPWP berfungsi sebagai identitas
wajib pajak, pajak berfungsi sebagai penerimaan negara terbesar, pajak yang
disetor dapat digunakan untuk pembiayaan oleh pemerintah sistem perpajakan
yang digunakan saat ini, Pemahaman atas pembayaran pajak sesuai ketentuan
pajak bersifat memaksa serta tidak mendapatkan imbalan secara langsung.
Menurut Alabede (2011) Kualitas pelayanan indikator variabel kualitas pelayanan
yaitu petugas pajak berpakaian sopan selalu ramah dan mendengarkan baik-baik
laporan wajib pajak, petugas pajak memiliki hubungan, komunikasi, perhatian,
dan pemahaman yang baik terhadap kebutuhan pelanggan, Petugas pajak
membantu pelanggan dan memberikan layanan respons cepat.
Menurut Yuslina et al. (2018) indikator variabel persepsi sanksi pajak yaitu
sanksi bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan wajib pajak, sanksi
berdasarkan ukuran pelanggaran pelaksanaan, sanksi harus berdasarkan dengan
ketentuan dan peraturan yang berlaku. Menurut Azmi (2018) indikator variabel
kepatuhan wajib pajak yaitu kepatuhan atas kepemilikan NPWP, kepatuhan
untuk menghitung jumlah pajak yang benar, kepatuhan dalam melaporkan SPT
dengan benar dan tepat waktu, dan petugas pajak memiliki sifat yang dapat
diandalkan. Menurut Aryobimo & Cahyonowati (2012) indikator variabel yaitu
Kondisi wajib pajak yang memiliki investasi, Kondisi wajib pajak yang memiliki
usaha lebih dari 1 bidang, kondisi wajib pajak yang memiliki gangguan kesehatan
dan berusia lanjut, dan hubungan antara wajib pajak dengan petugas pajak.
Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan persamaan model
structural equation modeling (SEM) yaitu suatu metode statistik untuk mengukur
dan memprediksi hubungan kausal dengan memanfaatkan gabungan data
statistic serta asumsi kausal kualitatif (Abdullah, 2015). SEM juga dikenal sebagai
metode statistik yang digunakan untuk menciptakan dan mengevaluasi model
statistik yang umumnya dalam wujud model-model sebab akibat. Melalui
penggunaan SEM dapat diketahui secara komprehensif mengenai hubungan
kausalitas antara variabel eksogen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel
endogen (variabel yang terpengaruh). Tidak terbatas padahal itu, bagian- bagian
3277
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288
3278
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…
variabel dapat dikatakan reliabel ketika memiliki nilai composite reliability dan
cronbach’s alpha ≥ 0,7 atau average variance extracted (AVE) ≥ 0,5 (Hair et al., 2014).
Tabel 3 merupakan ringkasan atas uji reliabilitas setiap variabel.
Tabel 3. Hasil uji reliabilitas
Average
Cronbach's Composite
rho_A Variance
Alpha realibility
Extracted
Pengetahuan pajak 0,941 0,943 0,950 0,656
Kualitas pelayanan 0,953 0,959 0,959 0,701
Persepsi sanksi pajak 1,000 1,000 1,000 1,000
Kepatuhan WP OP 0,946 0,956 0,955 0,707
Preferensi risiko 1,000 1,000 1,000 1,000
Sumber: Data Penelitian, 2022
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai AVE ≥ 0,5, composite
reliability dan cronbach’s alpha ≥ 0,7, sehingga seluruh variabel yang pakai dalam
penelitian ini memenuhi validitas konvergen. Selanjutnya, statistik deskriptif dari
seluruh variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdapat pada Tabel 4.
Tabel 4. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Variabel Obs Mean Med. Std. Dev. Min Max
Kepatuhan Wajib Pajak 210 5,249 5 5,129 4 6
Pengetahuan Pajak 210 5,329 5 4,733 5 6
Kualitas Pelayanan 210 5,417 5 4,646 5 6
Persepsi Sanksi Pajak 210 5,313 5 4,607 4 6
Preferensi Risiko 210 5,364 5 5,590 4 6
Sumber: Data Penelitian, 2022
Selanjutnya, ringkasan hasil uji hipotesis penelitian ini adalah sebagai
berikut.
Tabel 5. Ringkasan Hasil Uji Hipotesis
Sampel Rata-Rata Standar T Statistik
P-Value
Asli (O) Sampel Deviasi (O/STDEV)
Pengetahuan 0,595 0,595 0,187 3,174 0,002
Pajak=>Kepatuhan WP
Kualitas -0.002 -0,008 0,081 0,024 0,981
Pelayanan=>Kepatuhan
WP
Persepsi Sanksi Pajak 0,450 0,463 0,173 2,600 0,009
=>Kepatuhan WP
Preferensi -0,142 -0,146 0,068 2,072 0,038
Risiko=>Kepatuhan WP
Pengetahuan -0,020 0,009 0,157 0,129 0,898
Pajak*Preferensi
Risiko=>Kepatuhan WP
Kualitas 0,106 0,089 0,118 0,903 0,367
Pelayanan*Preferensi
Risiko=>Kepatuhan WP
Persepsi Sanksi -0,226 -0,236 0,121 1,871 0,062
Pajak*Preferensi
Risiko=>Kepatuhan WP
Sumber: Data Penelitian, 2022
3279
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288
3280
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…
ekternal dalam teori atribusi kualitas pelayanan yang baik seharusnya dapat
mendorong kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.
Idealnya, indikator kualitas pelayanan dapat terpenuhi apabila pemangku
kepentingan dalam ini adalah wajib pajak puas dengan pelayanan yang diberikan
oleh petugas otoritas pajak. Namun, hasil pengujian dalam penelitian ini tidak
mengkonfirmasi konsep tersebut.
Berdasarkan hasil pengujian ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan
dari aparat otoritas pajak di Propinsi DKI Jakarta dianggap sudah baik oleh wajib
pajak. Wajib pajak di Provinsi DKI Jakarta itu lebih mudah untuk mengikuti alur
atau prosedur yang sudah ditentukan oleh otoritas pajak. Selain itu, otoritas pajak
saat ini sudah menyediakan layanan secara online untuk pelaporan pajaknya.
Kondisi tersebut dianggap oleh wajib pajak bahwa layanan yang diberikan oleh
otoritas pajak merupakan hal yang wajib tersedia dalam memudahkan wajib pajak
dalam memenuhi kewajiban pajaknya.
Hasil pengujian dalam penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi sanksi
pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil pengujian ini
sejalan dengan penelitian Anto et al. (2021), Erlina et al. (2018), Jati & Yasa (2017),
Jayanti et al. (2020), Lestari (2020), Marilyn et al. (2022), Pranata & Setiawan (2015),
Pujilestari et al. (2021), dan Suryanti & Sari (2018), namun tidak sejalan dengan
Afifah (2020), Azmi (2018), Firmansyah et al. (2022), Oktavia (2019), dan
Winerungan (2013). Sanksi pajak merupakan faktor eksternal yang mendorong
keputusan wajib pajak dalam pengambilan keputusan individunya (Marilyn et al.,
2022). Sanksi pajak dapat berupa sanksi administrasi dan sanksi pidana yang
sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku. Wajib pajak di wilayah
Propinsi DKI Jakarta menganggap bahwa sanksi pajak merupakan hal yang perlu
dihindarkan karena dapat mengganggu aktivitas dari wajib pajak (Pujilestari et al.,
2021). Sanksi pajak yang dikenakan oleh otoritas pajak dianggap penting bagi
wajib pajak, sehingga wajib pajak cenderung untuk memenuhi kewajiban
perpajakannya.
Berdasarkan data indikator kuesioner terkait dengan persepsi sanksi
perpajakan dapat disimpulkan bahwa mayoritas wajib pajak di wilayah DKI
Jakarta semakin disiplin dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Selain itu,
kantor pelayanan pajak di wilayah DKI Jakarta terus meningkatkan upaya
kepatuhan wajib pajak melalui sanksi yang diberikan apabila wajib pajak tidak
memenuhi kewajiban perpajakannya. Upaya ini mengakibatkan kepatuhan wajib
pajak di wilayah Propinsi DKI Jakarta semakin meningkat. Selain itu, sanksi
perpajakan yang terlanjut dikenakan kepada wajib pajak segera diselesaikan oleh
wajib pajak untuk meminimalisir adanya masalah lebih lanjut.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa preferensi risiko tidak mampu
memperlemah hubungan positif antara pengetahuan pajak dan kepatuhan wajib
pajak. Hasil pengujian ini tidak mengkonfirmasi temuan dari Alabede (2011) dan
Putra et al. (2020). Berdasarkan teori prospek seseorang yang memiliki sifat risk
seeking cenderung untuk menghindari dari kewajibannya. Terlebih lagi jika
didukung oleh kenyamanan, kemudahan yang memadai. Dalam konteks
kepatuhan wajib pajak, wajib pajak merasa termotivasi untuk taat dan patuh
dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Preferensi risiko dan pemahaman
3281
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288
3282
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…
SIMPULAN
Penelitian ini menemukan bahwa pengetahuan wajib pajak berpengaruh positif
terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Kualitas pelayanan tidak
berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Persepsi sanksi pajak
berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib orang pribadi. Preferensi risiko
tidak dapat memperlemah hubungan positif antara pengetahuan pajak terhadap
kepatuhan wajib pajak. Selain itu, preferensi risiko tidak memperlemah positif
antara kualitas pelayanan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
Sementar itu, preferensi risiko mampu memperlemah hubungan positif persepsi
sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, keterbatasan
waktu dalam pengumpulan data kuisioner. Kedua, penyeberan kuisioner hanya
menyebarkan kuisioner secara online melalui google form, sehingga penggalian
informasi tambahan tidak dapat dilakukan kepada responden. Kuisioner tidak
didesain dengan menggunakan screening question atau pernyataan penyaring
untuk menentukan apakah pernyataan-pernyataan selanjutnya perlu dijawab oleh
responden atau menentukan apakah seorang responden memenuhi syarat untuk
berpartisipasi dalam penelitian ini. Penelitian selanjutnya sebaiknya
menggunakan screen question/kode dalam penelitian agar dapat diketahui wajib
pajak yang dapat mengisi kelanjutan kuesionernya atau pertanyaan pertanyaan
selanjutnya. Penelitian selanjutnya juga dapat menggunakan responden dengan
jumlah yang lebih besar atau responden di wilayah lainnya.
Penelitian ini menyarankan kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk
meningkatkan pengaturan dalam rangka penerimaan pajak dari wajib pajak orang
pribadi. Pengaturan yang di maksudnya seperti pelayanan petugas pajak baik
secara online melalui website DJP maupun dikantor pajak. Selain itu, hasil
penelitian ini juga dapat meningkatkan kebijakan sosialisasi perpajakan kepada
para wajib pajak orang pribadi.
3283
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288
REFERENSI
Ablessy, M., Sondakh, J. J., & Suwetja, I. G. (2020). Pengaruh pengetahuan pajak,
sanksi pajak, dan kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak
membayar pajak pajak bumi dan bangunan di kecamatan sonder Kabupaten
Minahasa. Going Concern : Jurnal Riset Akuntansi, 15(2), 175–18.
[Link]
Afifah, F. N. (2020). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Sanksi Perpajakan, Dan
Moderasi Administrasi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Pelaporan Wajib
Pajak (Studi Empiris Pada Wajib Pajak Orang Pribadi Di Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Magelang) [Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Muhammadiyah Magelang].
[Link]
[Link]
Aini, A. O., Budiman, J., & Wijayanti, P. (2018). Kepatuhan wajib pajak badan
perusahaan manufaktur di Semarang dalam perspektif tax professional.
InFestasi, 10(1), 22–35. [Link]
Ajzen, I. (2002). Perceived behavioral control, self‐efficacy, locus of control, and the
theory of planned behavior. Journal of Applied Social Psychology, 32(4), 665–683.
[Link]
Alabede, J. olabede. (2011). Tax service quality and compliance behaviour in
Nigeria: Do taxpayer’s financial condition and risk preference play any
moderating role? European Journal of Economics, Finance and Administrative
Sciences, 3(5), 91–104. [Link]
Anto, L. O., Husin, H., Hamid, W., & Bulan, N. L. (2021). Taxpayer awareness, tac
knowledge, tac sanctions, public service account ability and taxpayer
compliance. Accounting, 7(1), 49–58.
Ardyanto, A. A., & Utaminingsih, N. S. (2014). Pengaruh sanksi pajak dan
pelayanan aparat pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dengan preferensi
risiko sebagai variabel moderasi. Accounting Analysis Journal, 3(2), 220–229.
[Link]
Ariyati, N. K. W. (2019). Pengaruh Self Assessment System, Pemeriksaan Pajak,
Dan Penagihan Pajak Terhadap Penerimaan PPN.
[Link]
Self-Assessment-System-Pemeriksaan-Pajak-dan-Penagihan-Pajak-
Terhadap-Penerimaan-PPN
Aryobimo, P. T., & Cahyonowati, N. (2012). Pengaruh persepsi wajib pajak tentang
kualitas pelayanan fiskus terhadap kepatuhan wajib pajak dengan kondisi
keuangan wajib pajak dan preferensi risiko sebagai variabel moderating
(studi empiris terhadap wajib pajak orang pribadi di Kota Semarang).
Diponegoro Journal of Accounting, 1(2), 1–12.
[Link]
As’ ari, N. G. (2018). Pengaruh pemahaman peraturan perpajakan, kualitas
pelayanan, kesadaran wajib pajak dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib
pajak orang pribadi. Jurnal Ekobis Dewantara, 1(6), 64–76.
[Link]
Asrianti, A. (2018). Pengaruh Pemahaman Dan Sanksi Perpajakan Terhadap
Kepatuhan Wajib Pajak Dengan Preferensi Risiko Sebagai Variabel Moderasi
3284
MEI, M., & FIRMANSYAH, A.
KEPATUHAN WAJIB PAJAK…
[Link]
Indonesia_2020..pdf
Oktavia, M. S. (2019). Pengaruh Pengetahuan Perpajakan, Kualitas Pelayanan
Fiskus, Sanksi Pajak, Dan Self Assessment System Terhadap Motivasi Wajib
Pajak Orang Pribadi Yang Membayar Pajak [STIE Multi Data Palembang].
[Link]
Onlinepajak. (2018). Sumber Pendapatan Negara: Pajak, Non Pajak Dan Hibah.
[Link]
Pink, B. (2022). Penerimaan pajak 2021 capai 103,9% dari target, ini kata Sri Mulyani.
[Link]
dari-target-ini-kata-sri-mulyani
Pradana, R. F., & Firmansyah, A. (2020). The role of prevention efforts in
association between interactional fairness and taxpayer compliances
intentions. International Journal of Scientific and Technology Research, 9(2), 3176–
3186. [Link]
Efforts-In-Association-Between-Interactional-Fairness-And-Taxpayer-
[Link]
Pranata, P. A., & Setiawan, P. E. (2015). Pengaruh sanksi per pajakan, kualitas
pelayanan dan kewajiban moral pada kepatuhan wajib pajak. E-Jurnal
Akuntansi, 10(2), 456–473.
[Link]
Pujilestari, H., Humairo, M., Amrie Firmansyah, & Estralita Trisnawati. (2021).
Peran kualitas pelayanan dalam kepatuhan wajib pajak orang pribadi:
sosialisasi pajak dan sanksi pajak. Jurnal Wahana Akuntansi, 16(1), 36–51.
[Link]
Putra, B. P., Agustin, H., & Setiawan, M. A. (2020). Pengaruh pemahaman
peraturan perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak dengan preferensi
risiko sebagai variabel moderasi. Jurnal Eksplorasi Akuntansi, 2(2), 2613–2619.
[Link]
Putra, I. P. F. D., & Firmansyah, A. (2018). The effect of tax knowledge reward and
enforcement strategies on SMEs tax compliance behavior. International Journal
of Business And Management Study, 5(2), 21–28. [Link]
1-63248-160-3-22
Radjijo, R. (2017). Pemungutan pajak penghasilan dengan sistem self assessment
bagi wajib pajak badan. Jurnal Ekonomi Dan Kewirausahaan, 1(7), 69–79.
[Link]
Savitri, E., & Musfialdy, M. (2016). The Effect Of Taxpayer Awareness, Tax
Socialization, Tax Penalties, Compliance Cost At Taxpayer Compliance With
Service Quality As Mediating Variable (Procedia - Social and Behavioral
Sciences, Vol. 219). [Link]
Sembiring, L. J. (2021). Sejak 2015, orang RI yang bayar pajak itu-itu aja.
[Link]
2015-orang-ri-yang-bayar-pajak-itu-itu-saja
Suryanti, H., & Sari, I. E. (2018). Pengaruh sanksi perpajakan, pelayanan fiskus dan
pengetahuan perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi
(studi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Pancoran). AKUNNAS:
Jurnal Ilmu Akuntansi, 15(2), 14–26.
3287
E-JURNAL AKUNTANSI
VOL 32 NO 11 NOVEMBER 2022 HLMN. 3272 -3288
[Link]
Tan, R., Hizkiel, Y. D., Firmansyah, A., & Trisnawati, E. (2021). Kepatuhan wajib
pajak di era pandemi Covid19: kesadaran wajib pajak, pelayanan perpajakan,
peraturan perpajakan. Educoretax, 1(3), 208–218.
[Link]
Wildan, M. (2022). Rasio kepatuhan wajib pajak capai 84% per akhir 2021.
[Link]
2021-35875
Winerungan, O. L. (2013). Sosialisasi perpajakan, pelayanan fiskus dan sanksi
perpajakan terhadap kepatuhan WPOP di KPP Manado dan KPP Bitung.
Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 1(3), 960–
970. [Link]
Wulandari, A. (2020). Pengaruh Pemahaman Peraturan Pajak, Sanksi Denda, Dan
Kesadaran Wajib Pajak, Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Di
KPP Pratama Wonocolo Surabaya Pada Tahun 2015 [Universitas
Bhayangkara]. [Link]
WULANDARI_13023066.pdf
Yulia, Y., Wijaya, R. A., Sari, D. P., & Adawi, M. (2020). Pengaruh pengetahuan
perpajakan, kesadaran wajib pajak, tingkat pendidikan dan sosialisasi
perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak pada UMKM Di Kota Padang.
Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi, 1(4), 305–310.
[Link]
Yuslina, P., Tanjung, A. R., & Silfi, A. (2018). Pengaruh pelayanan fiskus,
pengetahuan perpajakan dan kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan
wajib pajak dengan kondisi keuangan dan preferensi risiko wajib pajak
sebagai variabel moderating (studi empiris pada wajib pajak orang pribadi di
Kota Pekanbar. Akuntansi Dan Manajemen, 13(2), 40–57.
[Link]
3288