0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan57 halaman

Analisis Lokasi Gedung Bioskop Kendari

Ringkasan dari dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas konsep pendekatan makro dan analisis tapak untuk perancangan gedung bioskop, termasuk kriteria lokasi, ukuran tapak, orientasi matahari, dan sistem sirkulasi. 2. Tapak yang dipilih memenuhi kriteria seperti sesuai dengan rencana kota, mudah diakses, dan memiliki luas yang memadai. 3. Analisis tapak meliputi tingkat kebisingan,

Diunggah oleh

Fajar Al qadry
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan57 halaman

Analisis Lokasi Gedung Bioskop Kendari

Ringkasan dari dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas konsep pendekatan makro dan analisis tapak untuk perancangan gedung bioskop, termasuk kriteria lokasi, ukuran tapak, orientasi matahari, dan sistem sirkulasi. 2. Tapak yang dipilih memenuhi kriteria seperti sesuai dengan rencana kota, mudah diakses, dan memiliki luas yang memadai. 3. Analisis tapak meliputi tingkat kebisingan,

Diunggah oleh

Fajar Al qadry
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV

ACUAN DASAR PERANCANGAN

A. Konsep Pendekatan Makro


1. Konsep Penentuan Lokasi
Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam pemilihan lokasi
dengan menentukan kriteria-kriteria yang di perlukan antara lain ;
a. Sesuai dengan Rencana Induk Kota (RIK)
b. Pencapaian, terjangkau oleh sarana dan prasana kota
c. Tersedia system fasilitas utilitas kota
d. Dekat dengan aktivitas kota yang mendukung keberadaan gedung
bioskop tetapi tidak mengganggu daerah emukiman penduduk
e. Luas areal cukup, mencakup luas areal yang di perlukan.
f. Sesuai arah perkembagan kota dan penyebaran penduduk

LOKASI TAPAK

Gambar 4.1. Lokasi Tapak


Sumber : Google Eart 2020

Berdasarkan Lokasi terpilih, site berada pada kecamatan Kendari, Provinsi


Sulawesi Tenggara tepat berada di samping Hotel Swiss Bell Kendari, Tapak
sangat di anggap sangat cocok untuk pembangunan Gedung Bioskop. Letak site
yang terpilih dapat dilihat pada gambar berikut :

28
60 M

100 M

Gambar 4.2. Ukuran Luas Lahan Site


Sumber : Google Eart 2020

2. Lokasi Eksisting Tapak


Site yang berada berada di Kecamatan Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara,
tepat berada di samping Hotel Swis Bell Kendari, Memenuhi Kriteria Site untuk
Perancangan Gedung Bioskop dengan kriteria Sebagai berikut :
a. Berdasarkan dengan rencana tata ruang kota
b. Pencapaian yang mudah oleh masyarakat dan dapat dilalui transportasi
umum.
c. Berada pada zona perdagangan dan jasa serta pemukiman penduduk.
d. Tersedianya prasarana kota meliputi jaringan telpon, listrik, air
bersih(PDAM).
e. Site memiliki luas yang memadai

29
Data-data mengenai tapak:
1. Fungsi : Gedung Bioskop
2. Luas Tapak : ± 6,000 m²
3. KDB : 60 : 40 = Terbangun : Tidak terbangun
4. GSB : 25 m dari as jalan
5. Kondisi Tapak : Datar, tidak berkontur.

Analisa Tapak
1. Data Teknis Lahan
Lokasi tapak merupakan lokasi yang strategis bagi rencana kawasan
hiburan dan wisata sesuai dengan fungsi dari kawasan itu sendiri yang
terletak di Kota Kendari
Lokasi tapak memiliki batasan sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Perumahan
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Hotel Swiss Bell Kendari
d. Sebelah Timur berbatasan dengaan lahan kosong
e. Akses (pencapaian dan sirkulasi sekitar tapak)
2. Orientasi Matahari dan Arah Angin
3. Kebisingan
3. Kebisingan
Pada proses pelayanan pada area dalam bangunan dibutuhkan suatu
ketenangan, agar dalam proses kegiatan didalam memberikan nuansa harmonis
sehingga proses pelayanan kegiatan efektif. Dengan kata lain, diperlukan
pereduksian kebisingan yang berasal dari jalur lalu lintas kendaran ataupun yang
lain-lain yang berada pada tiap sisi jalan yang diduga dapat mengakibatkan
kebisingan. Oleh karena itu perlunya mempergunakan berbagai aspek, diantaranya
barier berupa pagar dan pohon pada bagian penghalang dibagian eksterior.
Mengingat lokasi ini dilalui oleh kendaraan maka sumber bising yang terjadi
berasal dari kendaraan dimana frekuensi kendaraan paling tinggi adalah jalan

30
Ekonomi . Untuk meredakan kebisingan dari kendaraan digunakan pohon
pelindung.

SEBELAH UTARA
TINGKAT KEBISINGAN
SEDANG

SEBELAH TIMUR
TINGKAT KEBISINGAN
RENDAH

SEBELAH BARAT
TINGKAT KEBISINGAN
SEDANG

SEBELAH SELATAN
TINGKAT KEBISINGAN
TINGGI

Gambar 4.3. Analisa Kebisingan


Sumber : Google Eart 2020
4. view
View/Sudut pandang merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan
bagian yang menjadi titik perhatian dan perletakan entrance. Sudut pandang
terbaik berasal dari arah utara, dimana jalan tersebut merupakan jalan poros
kendaraan.

31
LAHAN KOSONG

LAHAN KOSONG

HOTEL SWIS BELL

LAHAN KOSONG

Gambar 4.4. Analisa View pada Tapak


Sumber : Google Earth 2020
5. Orientasi Matahari dan Arah Angin

ARAH ANGIN

MATAHARI TERBIT
MATAHARI TERBENAM

ARAH ANGIN

Gambar 4.5. Analisis Orientasi Matahari dan Arah Angin


Sumber : Google Earth 2020

32
Melihat kondisi tapak menghadap ke arah Utara, menyebabkan
masuknya sinar matahari pada pagi hari yaitu sebelah timur. Oleh karena
itu hal tersebut dapat diatasi dengan meminimaliskan bukaan. Untuk
bagian luar (eksterior), meminimalisir pencahayaan matahari dan angin
terhadap bangunan serta fasilitas
yang berada di luar, memanfaatkan tanaman peneduh sebagai pereduksi panas dan
angin misalnya kiara payung dapat dimanfaatkan keberadaannya. Pemenuhan
kebutuhan visual berupa cahaya untuk penglihatan dapat ditempuh secara alami
dengan bantuan sinar matahari ataupun secara buatan dengan bantuan lampu.
Namun untuk mencapai system pencahayaan alami yang baik, diperlukan suatu
rekayasa sehingga cahaya matahari yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal
tanpa menimbulkan efek yang kurang menguntungkan seperti panas dan silau.

6. Zoning
Penentuan zoning berdasarkan sifat dan karakter pada setiap kegiatan
yaitu :
a. Kegiatan yang bersifat publik
Terdiri atas pengunjung yang ingin mendapatkan pelayanan pada saat
di gedung Bioskop
b. Kegiatan yang bersifat semi publik
Terdiri atas pengunjung/pelaku kegiatan yang melakukan aktifitas
dalam maupun luar bangunan.
c. Kegiatan yang bersifat privat
Kegiatan yang bersifat privat terdiri atas pengelola serta pengunjung
(konsumen) yang melakukan kegiatan dalam area bangunan.
d. Kegiatan yang bersifat service
Penentuan zoning akan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
a) Interaksi antara setiap kegiatan
b) Pencapaian yang efektif.

7. Pola Sirkulasi dalam Tapak (Akses)

33
Sistem sirkulasi dalam tapak didasarkan atas pertimbangan :
Jenis kegiatan dan pelaku kegiatan dalam site :
1. Pola pergerakan pelaku kegiatan menuju kedalam bangunan
2. Perletakan main entrance (pintu masuk), side entrance (pintu keluar), dan
service entrance.
3. Kemudahan, kejelasan, keamanan, dan kenyamanan sirkulasi.
Pencapaian pada tapak memiliki bentuk radial, sirkulasi yang berkembang
atau berhenti pada sebuah titik pusat..Sistem ini juga dapat menjadikan
objek sebagai point interest(titik objek).

Gambar 4.6. Analisis Akses Tapak


Sumber : Google Earh 2020
8. Tata Lingkungan
Berdasarkan studi literatur, maka untuk mendapatkan penataan yang
sesuai dengan tata lingkungan dan analisis tapak, perlu memenuhi kriteria-
kriteria sebagai berikut :
a) Mudah dilihat sebagai bangunan sifatnya komersial
b) Adanya penataan ruang/landscape untuk membantu penyempurnaan
dari pada bangunan yang dimaksudkan guna.
c) Berada pada lingkungan daerah perekonomian.

34
Sistem sirkulasi dalam tapak didasarkan atas pertimbangan :
Jenis kegiatan dan pelaku kegiatan dalam site :
1) Pola pergerakan pelaku kegiatan menuju kedalam bangunan
2) Perletakan main entrance (pintu masuk), side entrance (pintu keluar),
3) Dan service entrance.
4) Kemudahan, kejelasan, keamanan, dan kenyamanan sirkulasi.
Pencapaian pada tapak memiliki bentuk radial, sirkulasi yang berkembang
atau berhenti pada sebuah titik pusat.. Sistem ini juga dapat menjadikan objek
sebagai point interest ( titik objek ).

Gambar 4.7. Sirkulasi Radial


Sumber : Ahmad, 2018: 42
Masih ada kaitanannya dengan sistem sirkulasi yakni sistem pencapaian
terhadap ruang masjid yaitu Pencapaian frontal, Sistem pencapaian ini langsung
mengarah dan langsung ke objek ruang yang dituju. Pandangan visual objek yang
dituju jelas terlihat dari jauh.

35
Gambar 4.8 : Sistem Pencapaian Frontal
Sumber : Hakim dan Utomo, 2002

1. Perancangan Tempat Parkir


Secara garis besar, dalam perancangan (desain) tempat parkir harus
memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
a. Waktu penggunaan dan pemanfaatan tempat parkir.
b. Banyaknya kebutuhan jumlah kendaraan untuk menentukan luas
tempat parkir.
c. Ukuran dari jenis kendaraan yang akan ditampung.
d. Mempunyai keamanan yang baik dan terlindungi dari panas pancaran
sinar matahari.
e. Cukup penerangan cahaya di malam hari.
f. Tersedianya sarana penunjang parkir, misal tempat tunggu sopir,
tempat sampah, dan lain-lain
g. Keleluasaan dalam memarkir kendaraan, serta keleluasaan pada saat
masuk dan keluar area parkir.
h. Kemudahan dalam pencapaian.
2. Bentuk Tempat Perkir
Tempat parkir kendaraan mempunyai beberapa bentuk, yaitu:
a) Parkir Tegak Lurus (perpendicular)

Gambar 4.9: Parkir tegak Lurus

36
Sumber : Hakim dan Utomo, 2003

b) Parker Paralel (Paralell)

Gambar 4.10 : Perkir Paralell


Sumber : Hakim dan Utomo, 2003

c) Parkir 45 º

Gambar 4.11 : Perkir 45 º


Sumber : Hakim dan Utomo, 2003

37
d) Parkir 60 º

Gambar 4.12 : Parkir 12 derajat


Sumber : Hakim dan Utomo, 2003

e) Parkir Penyandang Cacat

Gambar 4.13. : Perkir Penyandang cacat


Sumber : Hakim dan Utomo, 2003

Perletakan area parkir harus diperhatikan agar tidak mengganggu


dan pencapaian ke setiap area kegiatan tidak terlalu jauh. Berdasarkan sifat
pelayanannya, tempat parkir dapat dibedakan atas :
1) Parkir umum.
2) Parkir khusus.
1. Penataan Ruang Luar
Penataan ruang luar pada bangunan yaitu memberikan atau menciptkan
suasana lingkungan yang memberikan kesan menerima,formal, teratur dan

38
nyaman untuk mendapatkan tata ruang sesuai dengan karakter bangunan yang
diciptakan, maka hal uang perlu dipertimbangkan,yaitu :
a. Sesuai dengan pola dan kondisi site yang ada.
b. Mengikuti peraturan bangunan setempat

Adapun unsure Lansscape yang digunakan,yaitu :


a. Sebagai pelindung terhadap bangunan
b. Sebagai penyejuk
c. Sebagai pengarah pada sirkulasi.

Penataan ruang luar dilengkapi dengan elemen-elemen sebagai


pelengkap,yaitu :

a) Lampu taman yang merupakan elemen penghias utamanya pada


malam hari.
b) Pohon digunakan sebagai pelindung terhadap bangunan dari
penyinaran matahari secara langsung, selain pohon juga berfungsi
sebagaipengatur kecepatan angin yang bertiup.
9. Bentuk dan Penampilan Bangunan
a. Bentuk Dasar Bangunan
Dasar pertimbangan dalam penentuan bentuk dasar bangunan adalah sebagai
berikut:
1. Optimalisasi pemanfaatan luasan lantai pada bangunan.
2. Kemudahan dalam perawatan bangunan.
3. Fleksibilitas penataan elemen ruang dalam.
4. Sesuai dengan kondisi dan bentuk tapak.
5. Memiliki efesiensi yang tinggi terhadap lingkungan.
6. Unsur-unsur estetika.
7. Kesesuaian bentuk dengan fungsi bangunan serta kegiatan yang akan
diwadahi.

39
Beberapa cara yang dapat dipakai untuk menciptakan bentuk-bentuk yang
dinamis :
1. Bentuk dinamis
Dapat diciptakan dari susunan atau komposisi masa dari bentuk geometri yang
sama yang tidak monoton seperti diputar, digeser ataupun ditumpang tindih.
Persenyawaan bentuk-bentuk geometri, jika dua buah bentuk yang berbeda
geometri atau perbenturan orientasinya dan saling menembus batas masing-
masing, maka masing-masing bentuk akan bersaing untuk mendapatkan
supremasi dan dominasi visual. Pada situasi semacam ini dapat terjadi :
a) Kedua bentuk dapat saling menunjang identitas masing-masing dan
menyatu menciptakan bentuk terpusat baru.
b) Salah satu dari kedua bentuk tersebut dapat menerima bentuk yang
lain secara keseluruhan didalam ruangannya.
c) Kedua bentuk tersebut dapat dipertahankan identitas masing-masing
dan bersama-sama memiliki bagian volume yang saling berkaitan.
d) Kedua bentuk dapat saling dan dihubungkan oleh unsur ketiga yang
serupa geometrinya dengan salah satu dari bentuknya.
2. Komposisi Bentuk-bentuk tak Beraturan
Bentuk-bentuk tak beraturan adalah bentuk-bentuk yang bagian-bagian tidak
serupa dan hubungan antara bagian-bagiannya tidak konsisten, pada unmumnya
bentuk-bentuk ini tidak simetris dan lebih dinamis jika dibandingkan dengan
bentuk-bentuk beraturan.
3. Penampilan Bangunan
Penampilan bangunan merupakan faktor yang sangat menentukan
keberhasilan suatu perencanaan. Dalam hal ini, penampilan bangunan dari
luar maupun tata ruang dalam bangunan harus menunjukan ciri dan
karakter, serta aktivitas yang terjadi dalam bangunan.
Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam pendekatan penampilan
bangunan adalah sebagai berikut:
a. Tuntutan fungsi dari unit-unit kegiatan dalam bangunan.

40
b. Karakter filosofi bangunan yang menuntut penampilan bangunan dan
kenyamanan, di mana penataan massa bangunan sangat berpengaruh.
c. Keserasian serta proporsi bangunan terhadap lingkungan di sekitarnya.
d. Efektifitas dan efisiensi dalam penggunaan ruang.
10. Utilitas Bangunan
a. Sistem Pencahayaan
1. Pencahayaan alami
Pada siang hari pencahayaan alami di gunakan semaksimal mungkin,
terutama pada ruang luas seperti daerah public (hall) namun menghindari sinar
matahari langsung untuk mencegah panas dan kesilauan.
Bukaan juga di perlukan untuk pencahayaan, di perlukaan bukaan pada
ruang studio 1/5 dari luas lantai, sedangkan untuk ruang pengelola 1/6 dari luas
lantai. Selain bukaan desain kanopi pada bagian luar bangunan untuk menghindari
sinar matahari langsung.
Penggunaan material kaca juga di perhtikan, secara prinsip ruag
berdinding kaca akan lebih panas karena kaca meneruskan panas.
2. Pencahayaan buatan

Pencahayaan buatan di khususkan untuk malam hari, tetapi juga bias di


gunakan disiang hari apabila cuaca buruk, ingin menyorot suatu objek
vital ( misalnya file hydrant), atau pencahayaan untuk menambah nilai
estetika suatu objek.
Untuk mengurangi ketergantungan tenaga PLN maka di terapkan
system panel surya dengan memanfaatkan panas matahari yang cukup
melalui panel- panel surya dan menyimpannya dalam akumulator sebagai
energi cadangan. 1m2 panel surya dapat menghasilkan 170 watt/hari.
Alat pencahayaan buatan menggunakan lampu. General lighting
untuk penerangan menyeluruh untuk ruangan yang tidak memerlukan
penerangan khusus. Sedangkan pencahayaan khusus seperti spotlight,
broad light, dan soft light digunakan pada ruang yang memerlukan
tambahan suatu objek.
b. Sistem penghawaan

41
1. System penghawaan alami

Penghawaan alami di gunakan pada ruang penunjang yang tidak


terlalu menuntut pengkondisian udara secara teliti. Pada area tertentu perlu
adanya ventilasi mekanis seperti exthaust fan yang berfungsi untuk
menghisapudara dalam ruangan sehingga tekanan udara menurun, maka
udara dari luar dapat masuk dengan maksud pertukaran udara yang bersih.
2. System penghawaan buatan
System penghawaan buatan yang di gunakan adalah system
terpusat (AC sentral) di mana di tiap lantai ruang untuk mengatur
jalanannya penghawaan AC yaitu air handling unit (AHU) yang bisa di
nonaktifkan apabila semua ruangan tidak di gunakan.
Untuk ruang yang luas dan di gunakan secara berkala seperti ruang
exebition dan ruang seminar di gunakan system package unit yaitu system
pengkondisian udara yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan ruang
chiller sendiri. Raung itu lebih luas dari AHU.

Gambar 4.14 : AC
Sumber : [Link]
c. Instalasi Listrik
Kebutuhan listrik dibutuhkan sebagai sumber tenaga untuk pencahayaan
buatan dan peralatan elektronik lainnya. Untuk itu ada beberapa dasar
pertimbangan yang harus diperhatikan, antara lain :

42
1. Keteraturan jaringan listrik yang masuk ke dalam tapak
2. Daya listrik yang dibutuhkan sesuai dengan peralatan yang digunakan

d. System komunikasi
Pendekatan system komunikasi yang dapat digunakan berupa :
1. Intercom untuk hubungan antar ruang dalam bangunan

Gambar 4.15 : Interkom


Sumber :[Link]

2. Telepon system sambungan langsung atau PABX (Privat Automatic


Branch Exchange) untuk hubungan ke luar bangunan tanpa operator.

43
Gambar 4.16 : Telepon System
Sumber :[Link]

3. Facsimille, untuk menyampaikan data secara tertulis, dalam maupun luar


negeri.

Gambar 4.17 : Facsimille


Sumber :[Link]

4. LAN dan Wireless, dengan sistem komunikasi internet tanpa kabel.

44
Gambar 4.18 : Lan dan Wireless
Sumber :[Link]

e. Sistem Pencegahan Dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran


Dasar pertimbangan yang diambil, antara lain :
1. Keamanan dan kesalamatan pelaku kegiatan
2. Keamanan dan keselamatan perabotan
3. Ketahanan konstruksi bangunan, efisiensi dan efektifitas, pencegahan
dan penanggulangannya
4. Pendeteksian dini terhadap kemungkinan bahaya kebakaran yang akan
terjadi
5. Penyediaan peralatan pemadam kebakaran
Sistem pemadam kebakaran dibagi atas:
1. Penguraian, yaitu memisahkan atau menjauhkan benda-benda yang
terbakar.
2. Pendinginan, yaitu menyemprotkan air pada benda-benda yang
terbakar
3. Isollasi atau sistem lokalisasi, yaitu dengan cara menyemprotkan
bahan kimia CO2
4. Blesting Effect System, yaitu dengan cara memberikan tekanan yang
tinggi, misalkan dengan jalan meledakan bahan peledak.
Pendekatan pencegahan terhadap bahaya kebakaran adalah:

45
a. Pencegahan Pasif:
1. Tangga kebakaran
- Jarak tangga kebakaran disetiap ruang efektif tanpa ruang
sirkulasi maksimal 25 meter
- Lebar tangga minimum 1,2 meter
2. Pintu kebakaran
Lebar pintu minimal 90 cm, dengan indeks tahan api selama 2 jam
(buka keluar dan tutup secara otomatif.
3. Koridor
Lebar koridor minimal 120 meter.
4. Penerangan darurat
- Sumber daya baterai
- Lampu petunjuk dan penerangan pada pintu keluar, tangga
kebakaran dan koridor
- Sumber daya listrik darurat dapat berupa baterai dan genset yang
harus dapat bekerja setiap saat penerangan darurat, sprinkler,
alarm, hydrant, pengisap asap.
b. Pencegahan Aktif
a. Fire Alarm System
Alat untuk mendeteksi sedini mungkin adanya bahaya kebakaran
secara otomatis, yaitu terdiri dari head detector dan fire detector. Dapat
melayani area pelayanan seluas 90 m 2/lantai.

46
Gambar 4.19 : Fire Alarm System
Sumber :[Link]

b. Splinker
Alat ini dapat bekerja secara otomatis bila suhu ruangan mencapai
titik [Link] area yang dilayani 25 m 2. Jarak antara sprinkler 9 m.
Media pemadam dapat berupa air, gas, atau busa khusus.

Gambar 4.20. Sprinkler


Sumber :[Link]

c. Fire Hydrant System


Melayani areal 800 m 2 dengan jarak maksimal 30 [Link]
dalam bangunan mendapatkan air dari reservoir bawah dengan pompa
bertekanantinggi, sedang pilar hydrant di luar bangunan disambung
langsung dengan jaringan pam.

Gambar 4.21. : Kotak Hydrant


Sumber :[Link], 2011

47
d. Pemadam api dengan kabut dan bahan kimia
Untuk menghindari kerusakan barang-barang elektrolit, maka
perlu digunakan pemadam kebakaran dengan kabut dan kimia meliputi:
- Kabut dihasilkan dengan sistem penyemprotan berputar
- Bahan busa karbon
- Karbondioksida (CO2 meredam api dengan menggantikan Oksigen
(O2)
- Bahan kimia kering, dalam keadaan panas serbuk ini berubah
menjadi gas.
- Area pelayanan 200-250 m 2 dengan jarak antar alat 20-25 m dan
diletakkan pada tempat yang mudah dicapai.
e. Smoke detector
Untuk mencegah merambatnya asap dan api dengan cepat, maka
perlu diatasi dengan:
- Pendeteksian api dan asap sedini mungkin
- Mengeluarkan asap dari tempat kebakaran
f. Penanggulangan api dengan splinker, fire hydrant, dan bahan kimia
portable

f. Sistem Penangkal Petir


Pendekatan terhadap penangkal petir dengan pengajuan sistem:
a. Sistem Tongkat Franklin
Yakni tongkat yang diletakkan di atas bangunan dengan penghantar listrik
yang baik dan dihubungkan dengan kabel penghantar dalam suatu plat atau pipa
logam yang ditanam dalam tanah. Syarat-syarat penggunaannya adalah:
1. Tinggi antene diatas puncak 25-90 cm
2. Sudut perlindungan bangunan 45°
3. Jarak antene maksimum 60 cm

Antena

Daerah Perlindungan

Elektroda Pertahanan 48
Terminal tanah

Gambar 4.22: Sistem Penangkal Petir Tongkat Franklin


Sumber : M. Said, 2002

Yaitu sistem bangunan dikurung dalam suatu kurungan logam yang


kemudian akhir dari ujung logam ini ditanam dalam tanah sehingga
bangunan tidak lagi peka atau dapat dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh
listrik dari luar.
Syarat-syarat penggunaannya adalah:
1. Jarak maksimal dari tepi bangunan 9 cm
2. Jarak maksimal antara kedua konduktor parallel adalah 18 cm

Gambar 4.23 : Sistem Sangkar Faraday


Sumber : Tangoro, 2000

49
g. Sistem Pengaman Terhadap Pancurian
Perencanaan pengamanan terhadap pencurian antara lain:
a. Meletakkan lubang ventilasi yang sukar dijangkau.

Gambar 4.24 : CCTV


Sumber :[Link]

h. System Jaringan Air Bersih


Sistem pengadaan dan distribusi air bersih ada empat cara, yaitu : (Juwana,
2005 : 181).
1. Dengan penyambungan pipa saluran fasiltas PDAM setempat
2. Dengan membuat sumur air tanah yang melalui pengisapan pipa
3. Kombinasi dari PDAM dan sumur air tanah (artesis)
4. Penyediaan tempat penampungan air bersih (reservoir)
Sistem jaringan air bersih sendiri terdiri dari 4 jenis yakni (Bahan
Kuliah Utilitas Bangunan Arsitek Unhalu, 2006):
1. Sistem percabangan
Sistem percabangan yaitu air dari pipa induk atau pipa primer,
percabangan dibuat untuk melayani suatu wilayah tertentu dengan
beberapa cabang lagi untuk melayani bidang-bidang dalam kawasan
perkotaan. Keuntungan dari sistem ini antara lain:

50
a. Perhitungan mudah dan sederhana
b. Diameter pipa direncanakan untuk melayani jumlah penduduk dalam
daerah tertentu
c. Pemasangan pipa cukup sederhana
d. Jumlah katub yang digunakan bisa dibatasi
Kerugiannya antara lain:
a. Karena adanya pipa buntu, maka akan terjadi pengumpulan sediman
di ujung pipa
b. Kran akan membuang sedimen diperlukan pada setiap ujung cabang
c. Pada saat salah satu bagian diperbaiki, maka keseluruhan cabang
harus dihentikan.

d. Pada bagian ujung pipa yang jauh, kadang-kadang sulit mendapatkan


tekanan yang cukup.
e. Kapasitas air yang diperlukan pada saat terjadi kebakaran akan
sangatterbatas.

Gambar 4.25: Distribusi Air dengan Sistem Percabangan


Sumber: Materi Kuliah Utilitas, 2006

2. Sistem tertutup

51
Sistem tertutup adalah sistem dimana setiap percabangan pipa
dihubungkan satu dengan yang lain. Keuntungannya:
a. air bersirkulasi terus menerus
b. akibat pipa tersambung dengan yang lain, maka air akan tersedia pada
setiap ujung pipa dengan kehilangan enersi minimum
c. pada saat terjadi kebakaran, tidak akan kesulitan dalam jumlah air
yang dibutuhkan
d. pada waktu perbaikan hanya sebagian kecil saja daerah yang tidak
menerima pengaliran air.
Kerugiannya antara lain:
a. diperlukan banyak katub
b. diametar pipa lebih besar dan jumlah pipa yang diperlukan juga lebih
panjang
c. analisa kapasitas, tekanan dan kecepatan sangat rumit
d. biaya pemasangan pipa lebih mahal

Gambar 4.26: Distribusi Air dengan Sistem Tertutup


Sumber: Materi Kuliah Utilitas, 2006

3. Sistem melingkar

52
Sistem melingkar merupakan perpaduan antara sistem percabangan
dan sistem tertutup.

Gambar 4.27 :Distribusi Air dengan Sistem Melingkar


Sumber: Materi Kuliah Utilitas, 2006

4. Sistem radial
Sistem ini memanfaatkan beberapa reservoir pembagi air, untuk
melayni suatu wilayah tertentu.

53
Gambar 4.28: Distribusi Air dengan Sistem Radial
Sumber: Materi Kuliah Utilitas, 2006

Dalam perancangan suatu sistem jaringan distribusi air bersih maka


bebarapa langkah yang harus dilakukan antara lain:
a. tetapan jumlah pemakai
b. tetapan kebutuhan air bersih
c. waktu puncak pemakaian
d. perhitungan kebocoran pipa (kl. 20%)
e. perhitungkan air cadangan untuk kebutuhan mendesak misalnya
kebakaran dan sebagainya diperhitungkan 30%

i. Sistem Pengolahan Air Kotor


Menurut Frick (2002) berdasarkan bentuk fisika, limbah rumah tangga
dapat dibedakan dalam tiga jenis yakni limbah padat, limbah cair dan faces
atau tinja manusia. Masing masing limbah tersebut memiliki sistem
penanganan tersendiri.
1. Limbah padat
Limbah padat biasa juga disebut sampah. Berdasarkan jenis sampah
terbagi dalam dua jenis yakni sampah organik dan sampah anorganik.
Sampah organik adalah sampah yang dapat terurai sedangkan sampah
anorganik merupakan sampah yang tidak dapat terurai, oleh sebab itu
pengolahan sampah tersebut harus terpisah. Sampah organik dapat
dikompositkan sehingga terurai menjadi pupuk alam yang sangat berharga.
Sampah anorganik dapat diolah dalam industri kerajianan dan dapat
bernilai ekonomis dengan system pengelolaan 3Rs. Pada kawasan ini
dilakukan sistem manajemen pengolahan sampah dengan tujuan
menghindari terjadinya pencampuran sampah organik dan anorganik.
2. Limbah cair
Air limbah merupakan air buangan (air bekas pakai/air kotor) dari air
bersih yang sudah dipakai. Sebelum air limbah dibuang ke saluran umum
atau kedalam tanah, hendaknya diolah terlebih dahulu. Air sabun (grey

54
water) berasal dari kegiatan manusia (cuci piring, cuci pakaian, mengepel
lantai, kegiatan mandi, cuci kendaraan dan sebagainya). Air ini, jika bebas
dari bahan pelumas lain serta bahan larutan kimia, dapat dimanfaatkan
kembali untuk menyiram tanaman, dan sebagainya atau dioleh secara
biologis sebelum dirembeskan ke dalam tanah atau dikembalikan ke
sungai. Air sabun dapat disalurkan lewat saluran terbuka.

3. Pengolahan limbah cair dengan metode Water Waste Garden (WWG)


Dalam pengolahan limbah cair biasanya dikenal system pengolahan
limbah cair ramah lingkungan yang disebut Fitoremediasi
(Phytoremediation) yang merupakan suatu sistim dimana tanaman tertentu
yang bekerjasama dengan micro-organisme dalam media (tanah, koral dan
air) dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/pollutan) menjadi kurang
atau tidak berbahaya bahkan menjadi bahan yang berguna secara ekonomi.
Bentuk Fitoremediasi salah satunya adalah WaterWasteGarden.
Dalam situs [Link] dijelaskan Water Waste
Garden merupakan salah satu upaya pengolahan limbah cair dengan cara
mendesain semacam ekosistem lahan berpengairan buatan, suatu teknik
konservasi air yang disebut Constructed Waste Water Land. sistem
konservasi air ini untuk mengatasi masalah polusi air, dalam skala kecil.
Metodenya yaitu air limbah dikumpulkan dalam tangki lalu dialirkan
ke taman air buatan yang ditanami tanaman air sebagai penyaring dengan
kerikil dan tanah liat sebagai dasarnya. Tanaman air ini berfungsi sebagai
penyaring sekaligus taman yang menampilkan kehijauan dan bunga-bunga
warna-warni. Ternyata tidak hanya teratai dan lotus, banyak dari tanaman
yang tumbuh di darat, seperti helikonia, keladi, dan berbagai jenis pisang
bisa berfungsi sebagai tanaman penyaring. Dengan WWG, air limbah
terdaur ulang jadi air bersih oleh tanaman air yang sekaligus dapat
berfungsi sebagai taman yang hijau dan berbunga indah. Airnya dapat
dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan mencuci.
4. Pengolahantinja (Feases)

55
Tinja merupakan kotoran manusia berbentuk cair maupun padat
(1,5 liter/orang/hari) ditambah air siram. Karena tinja mengandung
kolibakteri dan kuman lain yang dapat menggangu kesehatan manusia
serta berbau tidak sedap, maka harus disalurkan dalam pipa tertutup.
Sebagai bahan organik, tinja mengalami proses fermentasi yang
membutuhkan lubang hawa pada titik tertinggi sehingga gas yang terjadi
dapat menguap.
5. Penanganan bau sampah
Timbunan sampah tentunya menimbulkan bau dan untuk penanganan
bau sampah ini salah satunya dapat dilakukan dengan menggunakan
teknologi dry anaerobic destigation seperti yang diterapkan pada TPA
Cipayung, Depok - Jawa Barat. Proses pengolahannya dimulai dari
sampah datang, sampah yang telah dipilah dimasukkan ke dalam modul
ruang kedap udara. Kelembababn udara dalam modul tersebut diatur
dengan sistem komputerisasi. Modul-modul tersebut terbuat dari beton
yang sangat kuat. Proses pengolahan dari awal sampai akhir semuanya
dilakukan dalam keadaan tertutup. Dengan demikian akan minim bau dan
kalau pun ada bau yang dihasilkan adalah bau organik.
Selain melalui metode di atas, penanganan bau sampah dapat pula
dilakukan dengan memanfaatkan elemen-elemen arsitektural seperti
vegetasi dan air. Tanaman yang dapat digunakan untuk menetralisir bau
adalahChlorophytum comosum. Tumbuhan Chlorophytum comosumatau
lebih dikenal dengan namaSpider Plant ini tidak hanya menebar pesona
karena keindahanya tapi juga memiliki daya tarik yang luar biasa karena
manfaatnya. Manfaat yang bisa didapat dari tanaman ini adalah
kemampuan Chlorophytum comosum dalam menyerap Toksik dan
polutan.

56
Gambar 4.29: Jenis-Jenis Tanaman Spider Plant( Chlorophytum comosum)
Sumber: [Link]
toksik-diserap/, 2018

Tanaman anti polusi (airfreshener) ini sangat cocok dipelihara di luar


maupun di dalam ruangan, karena mampu menyerap asap rokok dan
menghilangkan bau tak sedap.

11. Hubungan Ruang dan Pola Organisasi Ruang


1. Pengelompokan Ruang
Berdasarkan sifat kegiatannya, maka ruang dapat dikelompokan menjadi
beberapa zona, yaitu :
a) Zona Public
Zona public adalah kelompok ruang yang mempunyai aktifitas
umum dan terbuka serta dapat dilakukan oleh semua pengunjung.
Pembagiannya antara lain Hall, Loby dan lain-lain.
b) Zona Semi Public
Zona ini merupakan kelompok ruang untuk aktifitas yang agak
umum, artinya tidak semua pengunjung bisa masuk dizona ini.
Termasuk didalam ruang pengelola.
c) Zona Private

57
Zona ini merupakan ruang yang sangat privat/pribadi, tidak
semua orang masuk tidak terkecuali orang berkepentingan. Termasuk
didalam ruang pengelola pelayanan.
d) Zona Service
Merupakan kelompok ruang yang aktifitasnya bersifat
service/melayani termasuk kelompok ruang ini adalah gudang, toilet,
lavatory.
2. Pola Hubungan Kelompok Ruang secara Umum

Gambar. 4.30 : Pola Pembagian Pengelompokkan Ruang Secara Umum


Sumber : [Link]

Beberapa cara yang dapat dipakai untuk menciptakan bentuk-bentuk


yang dinamis:
1) Bentuk dinamis
2) Komposisi Bentuk-bentuk tak Beraturan
[Link]-Unsur Pelaku Kegiatan

a. Investor/Pengelola

58
Investor adalah orang atau badan usaha yang menanamkan modal untuk
membangun dan mengembangkan sebuah fasilitas tetapi tidak mengurusi masalah
manajemen, akan tetapi menyerahkan sepenuhnya kepada pihak pimpinan yang di
tunjuknya.
b. Pimpinan manajemen

Orang atau badan usaha yang menjalankan manajemen sebuah badan usaha
serta mengawasi kegiatan administrasi dan opersional dari sebuah usaha tersebut.
Pada pelayanan pasar sentral di pomalaa di sebut dengan nama pengelola atau
manager. Pengelola disini dibantu oleh wakilnya dan disebut wakil manager.
c. Staf dan bagian Umum dan Sarana

Staf tersebut bertujuan untuk merencanakan dan melaksanakan


kebutuhan sarana dan prasarana yang menunjang berlangsungnya
kegiatan. Selain itu juga dia mengatur, melaksnakan dan mengarahkan
seluruh kegiatan dengan menjalin koordinasi terhadap pengelola.
d. Karyawan

Karyawan merupakan orang yang dipilih oleh perusahaan dengan


beberapa syarat tertentu. Peran karyawan sangat diperlukan dalam proses
pelayanan dalam badan usaha. Adapun fungsinya sesuai dengan tugas
yang diberikan oleh pimpinan badan usaha tersebut.
e. Pengunjung

Pengunjung adalah masyarakat umum yang datang sebagai konsumen


atau pun para orderan dalam pemenuhan kebutuhan proses palayanan dari
fungsi badan usaha tersebut
B. Acuan Perancanga Mikro

a. Analisis Pelaku Kegiatan

Macam pelaku kegiatan pada bioskop ini dapat dibagi menjadi:

1) Pengunjung/penonton

Kegiatan utama dari pengunjung adalah untuk menonton film yang sedang diputar.

59
Selain itu, ada beberapa kegiatan yang lain. Diantaranya yaitu mengobrol,
bersantai di café sambil menunggu, dan lain sebagainya.
2) Pengelola

Pengelola dari bioskop ini dapat dibagi menjadi beberapa pelaku, yaitu:

- Direktur utama

- Sekretaris

- Keuangan

- Administrasi

- Divisi Film

3) Karyawan

Karyawan yang bekerja di bioskop ini ada beberapa bagian, yaitu:


- Petugas tiket
- Tekniksi (maintenance)
- Petugas keamanan
- Petugas kebersihan
- Penjaga parker
- Penjaga bar/coffe
b. Analisis Kegiatan

1) Pengunjung

- Menonton film

- Menunggu pertunjukan film

- Membeli soufenir

- Makan/minum

- Buang air kecil/besar

2) Pengelola

- Direktur utama

60
 Memimpin keseluruhan kegiatan

 Mengawasi karyawan

 Ibadah

 Istirahat

 Mengadakan Pertemuan

 Makan/minum

 Buang air kecil/besar

- Sekretaris

 Mengatur jadwal

 Mengukuti pertemuan

 Ibadah

 Istirahat

 Makan/minum

 Buang air kecil/besar

- Keuangan

 Mengurus manajemen keuangan

 Mengikuti pertemuan

 Ibadah

 Istrahat

 Makan/minum

 Buang air kecil/besar

- Administrasi

61
 Mencatat administrasi pembukuan

 Mengikuti pertemuan

 Ibadah

 Istirahat

 Makan/minum

 Buang air kecil/besar

- Divisi Film

 Mengatur dan mengelola fasilitas perfilman

 Penayangan film b

 Mengikuti Pertemuan

 Ibadah

 Istirahat

 Makan/minum

 Buang air kecil/besar

3) Karyawan

- Petugas tiket

 Melayani pengunjung membeli tiket umum dan VIP

 Ibadah

 Istirahat

 Makan/minum

 Buang air kecil/besar

- Teknisi (maintenance)

62
 Mengecek peralatan

 Ibadah

 Istirahat

 Makan/minum

 Buang air kecil/besar


- Petugas keamanan
 Memeriksa pengunjung

 Menjaga keamanan

 Ibadah

 Istirahat

 Makan/minum

 Buang air kecil/besar

- Petugas kebersihan

 Membersihkan gedung

 Ibadah

 Istirahat

 Makan/minum

 Buang air kecil/besar


- Petugas parkir
 Memeriksa kelengkapan surat-surat bermotor
 Mengarahkan parkir
 Membagikan dan mengambil karcis parkir
 Ibadah
 Istirahat
 Makan/minum
 Buang air kecil/besar

63
- Penjaga bar/café
 Menyediakan makanan/minuman
 Ibadah
 Istirahat
 Makan/minum
 Buang air kecil/besar

c. Analisis kapasitas pengunjung

Untuk mengukur jumlah kapasitas orang yang akan mengunjungi Gedung theater dan
bioskop Kota Kendari, di mulai dengan mengumpulkan data penduduk di Kota kendari
adalah Badan Pusat Statistik Kota Kendari, dari hasil yang telah di temukan.

Proyeksi Penduduk Kota Kendari (Perempuan + Laki-Laki) (Jiwa)

Um
2010 2011 2012 2013 2014 2015
ur
0-4 34 3 3 3 3 3
49 5 6 4 7 7
5 3 0 6 2 5
5 9 2 4 8
7 7 6 5 0
5-9 28 2 3 3 3 3
00 9 0 1 2 4
0 0 2 7 8 3
2 0 9 6 0
4 0 1 4 5
10- 26 2 2 2 2 3
14 04 6 7 8 9 0
6 8 6 7 1 0
4 1 9 3 8
9 0 5 1 6
15- 33 3 3 3 3 3
19 17 4 5 5 8 9
9 2 5 1 1 3
8 4 9 3 4
5 6 2 1 7
20- 40 4 4 4 4 4
24 41 1 2 2 4 5
8 4 4 6 5 8

64
1 4 2 9 1
1 3 7 8 2
25- 28 2 2 3 3 3
29 29 9 6 1 1 2
0 1 8 7 3 1
1 6 8 2 2
1 4 8 9 6
30- 24 2 2 2 2 2
34 34 5 5 5 7 8
4 1 9 7 6 4
1 7 3 8 6
8 3 1 4 6
35- 20 2 2 2 2 2
39 16 1 1 2 3 4
4 0 8 3 3 1
1 0 0 3 7
1 2 6 9 9
40- 17 1 1 1 2 2
44 39 8 9 8 1 2
5 4 4 7 4 3
0 2 2 1 4
1 9 9 7 3
45- 13 1 1 1 1 1
49 40 4 5 4 7 8
3 2 1 2 0 1
2 3 6 9 1
4 0 9 1 0
50- 96 1 1 1 1 1
54 09 0 0 0 2 2
2 8 6 1 9
3 5 9 6 2
1 0 5 5 8
55- 66 7 7 6 8 9
59 53 1 6 9 7 3
2 4 5 6 2
4 5 1 1 0
60- 40 4 4 4 5 5
64 03 2 5 4 1 4
4 0 4 2 8
1 2 1 0 7
65- 26 2 2 2 3 3
69 13 7 8 7 1 3
3 6 5 7 6

65
3 3 6 4 4
70- 16 1 1 1 1 2
74 01 6 7 6 9 0
8 7 9 6 5
7 8 6 3 7
75+ 14 1 1 1 1 1
76 5 6 7 8 9
6 6 3 7 8
9 9 0 7 6
Tot 29 3 313404 314404 3 3
al 16 0 3 4
89 2 5 7
3 8 4
7 8 9
6 9 6
Tabel 3.4. Proyeksi penduduk kota kendari
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Kendari

Menurut survei yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan


Pengabdian Masyarakat Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada
tahun 2015 terhadap 1.100 orang responden, diperole th bahwa mayoritas pengunjung
bioskop berada di kelompok usia 19-24 tahun, yaitu sebesar 48%. Penelitian lain yang
dilakukan oleh Annalect dan CivicScience pada tahun 2014 menyebutkan bahwa
kelompok umur yang paling sering berkunjung ke bioskop adalah mereka yang berusia
usia 20-35 tahun dengan persentase sekitar 38%. Berdasarkan penelitian-penelitian
tersebut, digunakan data pengunjung bioskop penduduk kota Kendari pada kelompok usia
20-39 tahun. kesimpulan bahwa usia pengunjung bioskop paling banyak berumur mulai
dari 20-39 tahun. Adapun persentase penduduk usia 20-39 tahun dalam jangka waktu
lima tahun dapat diperoleh dengan rumus:

Dimana r = Presentase penduduk usia 20-39 tahun


Pt = Jumlah penduduk usia 20-39 tahun, tahun terakhir (2015)
Po = Jumlah penduduk usia 20-39 tahun, tahun terakhir (2011)
t = Jangka waktu Pt dan Po

66
Jadi didapatkan:

Dengan demikian, prediksi jumlah penduduk usia 20-39 tahun


pada tahun 2020 yaitu :

Dimana
Pn = Prediksi jumlah penduduk usia 20-39 tahun (2020)
Pt = Jumlah penduduk usia 20-39 tahun (2015)
r = Presentase penduduk usia 20-39 tahun
n = Jumlah selisih tahun perencanaan
Jadi di dapatkan
𝑃𝑛 = 30583 (1+0,029)5
𝑃𝑛 = 130583 (1,029)5
𝑃𝑛 = 130583 ×1,153
𝑃𝑛 = 150.614 jiwa
Prediksi jumlah penduduk usia 20-39 di tahun 2020 adalah 150.614 jiwa.
Menurut survei penonton bioskop Indonesia yang dilakukan oleh
[Link], persentase jumlah responden yang mengunjungi bioskop per
minggu sebesar 29,38%. Sehingga dapat diperkirakan bahwa tiap minggunya,
29,38% dari total 150.624 jiwa jumlah penduduk di tahun 2020 mengunjungi
bioskop, yaitu sebanyak 44.250 orang. Dengan demikian, jumlah pengunjung
bioskop setiap harinya yaitu 44.250 orang/7 hari, atau sebanyak 6.321 orang.
Jumlah saat ini bioskop di kendari berjumlah 2 buah dan ditambah
dengan 1 perencanaan bioskop sehingga menjadi 3 buah. Dengan demikian
jumlah pengunjung setiap bioskop di Kendari per hari yaitu sebesar 6.321/3, atau
sebesar 2.107 orang. Waktu pemutaran film di bioskop yang direncanakan terbagi

67
menjadi 5 waktu sehingga 2.107 orang dibagi 5 dan di tambah 10% dari jumlah
pengunjung bioskop untuk mengantisipasi pelonjakan pengunjung. Jadi total
kapasitas perencanaan gedung bioskop untuk menampung 631 orang.
d. Pola Hubungan Ruang
Berdasarkan uraian di atas, maka pengelompokan ruang secara
makro coba di dekati dengan sifat kegiatan yang berhubungan dengan
antar kelompok ruang.
Factor pendukung hubungan raung :
1. Pengelompokan kegiatan berdasarkan sifat pelayanannya;
2. Sifat dari pelaku kegiatan;
3. Kemudahan dalam pengontrolan;
4. Berintegrasi dengan ruang-ruang luar;
Berikut pola matriks hubungan ruang :
1. Kelompok kegiatan umum/ public :
1. Hall/ Ruang Tunggu
2. Ruang informasi dan loket tiket
3. Lavatory
4. Locker
Keterangan :
= Erat

= Kurang erat

= Tidak erat

2. Kelompok kegiatan pementasan


1. Ruang Penonton / audience
2. Ruang pertunjukan
3. Lavatory
Keterangan ;

= Erat

= Kurang erat

= Tidak erat

68
3. Kelompok kegiatan pementasan
1. Ruang Proyektor
2. Ruang Audio System dan Lighning
3. Ruang Penye. Film
Keterangan :
= Erat

= Kurang erat

= Tidak erat

4. Kelompok kegiatan pelayanan administrasi / pengelola :


1. Hall / Ruang Tunggu
2. Rg. Pimpinan
3. Rg. Ketua Pelaksana
4. Rg. Wakil Pelaksana
5. Rg. Pelaksana
6. Rg. Bendahara
7. Rg. Komputer
8. Rg. Arsip
9. Gudang
10. Km / WC
11. Cleaning Cervis
Keterangan :
= Erat

= Kurang erat

= Tidak era

5. Kelompok kegiatan pelayanan khusus


1. Ruang Rapat
2. Ruang Pertemuan

69
Keterangan :
= Erat

= Kurang erat

= Tidak erat

6. Kelompok kegiatan pelayanan umum :


1. Perpustakaan Film
2. Galeri Film
3. Shoping Area dan Souvenir
4. Cafetaria
5. Snack Case
6. Musholla
7. Wartel
8. ATM Bank
Keterangan :
= Erat

= Kurang erat

= Tidak erat

7. Fasilitas teknis
1. Ruang M.E (mechanical electrical)
2. Ruang informasi
3. Ruang security control
4. Workshop / gudang
5. Rg. AHU
Keterangan :
= Erat

= Kurang erat

= Tidak erat

70
8. Kelompok kegiatan ruang luar :
1. Pos jaga
2. Taman
3. Area parker
4. Genset
Keterangan :
= Erat

= Kurang erat

= Tidak erat

e. Analisis Besaran Ruang


Untuk mengetahui besaran lahan atau site yang dibutuhkan pada Gedung
theater dan bioskop di Kota Kendari secara keseluruhan besaran ruang kegiatan
utama, kegiatan penunjang, kegiatan pengelola, maupun kegiatan servis Dasar
pertimbangan yang dipakai
Dasar pertimbangan yang di pakai
1) Perhitungan standar
- Neufert Architect Data (NAD)
- Time server standart for building type (TSS)
- Perhitungan asumsi (A)
- Studi banding atau survey (SB) 2) Perhitungan khusus
- Besaran kapasitas
- Peralatan pendukung
- Kenyamanan pemakai
- Flow
• 10% = standart minimum
• 20% = kebutuhan leluasan sirkulasi
• 30% = kebutuhan kenyamanan fisik
• 40% = kebutuhan kenyamanan psikologi
• 50% = tuntutan persyaratan spesifik kegiatan
• 60% = keterlibatan terhadap servis kegiatan
• 70-100% = keterkaitan dengan banyaknya kegiatan

71
2) Perhitungan besaran ruang
a) Ruang Pertunjukan Film
Ruang Kapasitas Standar Sumber Luas Total
20% Kapasitas
Hall / Lobby pengunjung = 1.8 m2 TSS 226 m2
126 orang
Loket / Karcis 6 1.5 m2 TSS 9 m2
Ruang Proyektor 5 21.45 m2 Neufert 107.25 m2
Rg. Penyimpanan
1 25 m2 Neufert 25 m2
Film
Total 367.25 m2
Flow 30% 110.17 m2
Jumlah Total 447.42 m2

b) Ruang Teater
Berdasarkan data dari analisis kapasitas pengunjung maka
didapatkan besaran ruang pada Gedung Bioskop sebagai berikut:
- Ruang pertunjukan 1 = 150 orang
- Ruang pertunjukan 2 = 150 orang
- Ruang pertunjukan 3 = 150 orang
- Ruang pertunjukan 4 = 150 0rang
- Ruang pertunjukan premier = 20 orang

Ruang pertunjukan 1,2,3, dan 4

Penentuan Panjang Ruang Teater

Perhitunga Besaran
Kapasitas Symbol Standar Sumber Rumus
n ruang
PK Panjang
Kursi = 0.6
m

72
Jarak
Sirkulasi
JAK Antara NAD
Kursi = 0.6
m (12 x 0.6) +
Lebar Gang (10 x 0.6) +
LG
=1m 1+5
Jarak Kursi
dengan
JKL Neufert (JB x PK)
Layar = 5
+ (JS x
m
150 orang JAK) + LG 19.2 m
Baris Kursi
JB A + JKL
= 12
Jumlah
Sirkulasi
JS
antara
Kursi = 10

Penentuan Lebar Ruang Teater

Lebar
LK Kursi =
0.6m
Lebar Gang NAD
LG1
1 = 1.8m
(LK x LK) + (16 x 06) +
Lebar Gang
LG2 (JG x LG2) (2 x 1) + 13.4 m
2= 1m
+ LG1 1.8
Jumlah
Kursi
JK dalam A
Baris =
16m
JG Jumlah
Gang 2 = 2

73
m
Panjang x 19.2 m x 257.28
Luas ruangan
Lebar 13.4 m m
4 x Luas 4 x 257.28 1029.12
Jumlah Ruangan
Ruang m2 m2

Ruang Pertunjukan Premier :


Penentuan Panjang Ruang Tester Premier
Kapasi Sumbe Perhitunga Besaran
Symbol Standar Rumus
tas r n ruang
Panjang
PK Kursi = 1.2
m
Jarak
Sirkulasi
JAK SB
Antara
(JB x
Kursi = 1 m
PK) + (4 x
150 Jarak Kursi
(JS x 1.2)+(4x1)= 13.8 m
orang JKL dengab
JAK) 5
Lyar
+JKL
Baris Kursi
JB
=4
Jumlah
Sirkulasi
JS A
Antara
Kursi = 4
Penentuan Lebar Ruang Teater Premier
Lebar Kursi SB
LK =0.8 x 2 =
1.6m
LG Lebar Gang (JK x LK) (3x1.6)+(4x 8.8m

74
=1m +(JG x ) 1)
Kursi dalam
JK
baris = 3
A
Jumlah
JG
gang = 4
Panjang x 13.8 x 8.8 121.44
Luas Ruangan
Lebar m m
1029.12m2 1150.56
Total Luas Ruang
+ 121.44 m2 m2

Menurut analisis perhitungan ruang, gedung pertunjukan yang terbagi


menjadi 4 gedung ditotalkan seluas 1,029.12 m 2, sedangkan untuk gedung
pertunjukan premier ditotalkan seluas 121.44 m2, jadi jumlah keseluruhan luas
bangunan ruang teater adalah 1,150.56 m2, semuanya sudah termasuk dengan
sirkulasi didalam ruang masing-masing.

c. Luas Layer

Penentuan Panjang Layer

Simbol Standar Sumber Dipakai Rumus Perhitungan Besaran


Sudut 34o 2 x (tan 2 x (tan 17ox 11.75 m
Θ 1
/2 θ
maksimal NAD 19.2m)
x PR)
(38o)
Panjang 19.2 m
PR A
ruang

Teater
Penentuan Lebar Layer
Cinemascope NAD 1:2.34 PL/2.34 11.75 5m
1:2.34 m/2.34
PL Panjang layar A 11.75 m
Luas layar Panjang 11.75 m 59m2

75
x lebar x5m

Menurut perhitungan analisis besaran layar bioskop diatas maka di


tentukan luas layaer bioskop sebesar 59 m2

d. Pengelola

Ruang Kapasitas Standar Sumber Luas total

R. Direktur 1 24m2/ruang SB 24 m2
utama
R. Sekretaris 1 9 m2/ruang SB 9 m2
R. Keuangan 1 9 m2/ruang SB 9 m2
R. 1 9 m2/ruang SB 9 m2
Administrasi
Karyawan 20 0.76 m2/org NAD 15.31 m2
R . Rapat 1 19 m2/ruang SB 19 m2
R . Tamu 1 12m2/ruang SB 12 m2
Toilet 2 4 m2/ruang SB 16 m2
karyawan
Total 113.31 m2
Flow 30% 33.99 m2
Jumlah Total 147.3 m2

e. Penunjang
Luas
Ruang Kapasitas Standar Sumber
Total
Musholah 5 Wudhu 0.75m2/org NAD 3.75 m
25 Sholat 0.96m2/org NAD 24m2
ATM Center 5 1 m2/mesin SB 5m2
Smoking room 1 16 m2/ruang SB 16m2
Toilet 10 WC dan urinoir=3.15m x NAD 26.77m2

76
Pria (0.85m/ WC)
Wanita 10 WC=3.05m x (0.85/WC) NAD 25.92m2
Total 101.44m2
Flow 30% 30.43 m2
Jumlah Total 131.83 m2

f. Café/lounge

Ruang Kapasitas Standar Sumber Luas Total

Café resto 64 3.69 m2/meja 4 org TSS 66.42 m2


Dapur 1 20% luas Café NAD 13.28 m2
Gudang 1 5m2/ruang Neufert 5. m2
Total 84.7 m2
Flow 30% 25.41 m2
Jumlah Total 110.11 m2

g. Service

Ruang Kapasitas Standar Sumber Luas Total

Loker 60 1.62 m2/6 org NAD 16.2m2


Ruang security 3 6 m2/ ruang Neufert 18 m2
Ruang genset 1 20 m2/ ruang Neufert 20 m2
Ruang pompa 6 m2/ ruang
1 Neufert 6 m2
air
Ruang tangki 12 m2/ruang
2 Neufert 24 m2
air
Control panel 12m2/ ruang
1 Neufert 12 m2
dan CCTV
Gudang 1 5m2/ ruang Neufert 5 m2
Total 30% 101.2 m2
Flow 30.36 m2
Jumlah Total 131.56

77
[Link]
- Perhitungan parker pengunjuang:
Perkiraan jumlah pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi

Kapasitas Standar Sumber perhitungan Hasil

60% kendaraan
631 org pribadi: 40% Neufert 60% x631 org 379 org
kendaraan umum
Parkiran jumlah penggunjung yang menggunakan kendaraan mobil dan
motor
30% pengguna
30% x 379 org 144 org
mobil
379 org Neufert
70% pengguna
70% x 379 org 265 org
motor
Perkiraan jumlah kendaraan mobil penggunjung
2 mobil untuk 5
144 org Neufert 144 x 2/5 46 mobil
penggunjung
Parkiran jumlah kendaraan motor penggunjung
3 motor untuk
265 org 5 Neufert 265 x 3/5 159 motor
penggunjung

Maka didapatkan jumlah kendaraan jenis mobil penggunjung sebanyak


406mobil dan jumlah kendaraan jenis penggunjung sebanyak 159 motor, maka
besaran lokasi untuk rencana parkirpenggunjung adalah:

Jenis Jumlah Standar Sumber Perhitungan Hasil

Mobil 46 12.5 NAD 46 x 12.5 579 m2

78
m2/mobil
2.4
Motor 259 2
NAD 159 x 2,4 318.6 m2
m /mobil
Total 956 m2
Flow 20% 191.31 m2
Jumlah Total 1,147.32
m2

- Parkiran pengelola
Parkiran jumlah pengloladan karyawan yang menggunkan
kendaraan mobil dan motor

Kapasitas Standar Sumber Perhitungan Hasil

20%
75 org menggunkan Neufer 20% x 75 org 15 org
mobil
80%
menggunkan Neufert 80%x 75 org 60 org
motor
Perkiraan jumlah kendaraan mobil pengelola karyawan
2 mobil untuk
15 org Neufert 12 x 2/3 10 mobil
3 org
60 org 3 motor 4 org Neufert 60 x 3/4 45 motor

Maka dapatkan jumlah kedaraan jenis mobil pengeola sebanyak 10 mobil


dan jumlah kendaraan jenis motro penggunjung sebanyak 40 motor,m maka
besaran lokasi untuk rencana parker prngunjung adalah:

Jenis Jumlah Standar Sumber Perhitungan Hasil

Mobil 10 12,5m2/mobil NAD 10 12.5 125m2

79
Motor 45 2.4 m2/mobil NAD 45 x 2.4 108m2
Tota 233 m2
Flow 20% 46.6m2
Jumlah Total 279.6 m2

Didapatkan Jumlah total luasan parkiran untuk pengunjung


sebesar 1,147.2 m2 dan jumlah total luasan parkiran untuk pengelola
sebesar 279.6 m2. Maka keseluruhan jumlah total luasan parkiran
adalah 1,426.8 m2.

i. Jumlah keseluruhan total bangunan


Nama ruang Luas ruang
Ruang Pertunjukan 447.42 m2
Ruang teater 1,150.56 m2
Pengelola 147.3 m2
Penunjang 131.87 m2
Café/lounge 110.11 m2
Service 131.56 m2
Parkir 1,426.8 m2

Jumlah Luas Total Gedung 3,545.62 m2

f) Pendekatan Bentuk dan Penampilan Bangunan


1) Bentuk Bangunan
Bentuk bangunan mempertimbangkan kemudahan sirkulasi, kelancaran
dan dapat diolah secara optimal tanpa melupakan aspek strukturnya pemilihan
bentuk dasar bangunan dipertimbangkan terhadap :
a) Mengutamakan bentuk bangunan yang memberikan kesan terhadap bentuk
dan memiliki daya Tarik terhadap pengunjung
b) Optimasi paada pemanfaatan luasan lantai, dengan demikian tiap area yang
ada dapat difungsikan dengan baik

80
c) Kemudahan dalam perawatan bangunan
d) Fleksibilitas penataan elemen ruang dalam
e) Mampu mencerminkan fungsinya sebagai wadah pusat bioskop
f) Sesuai dengan kondisi dan bentuk tapak
g) Memiliki efisiensi yang tinggi terhadap lingkungan

2) Penampilan Bangunan
Dari segi penampilan bangunan yang merupakan visualisasi
bangunan tiga dimensi, maka hal-ha yang harus diperhatikan dalam
penampilan sebuah gedung pertunjukan musik adalah:
a) Filosofi bangunan yang bersifat normal sehingga diharapan dapat
memberi kesan edukatif dan aktraktif
b) Suasana promotif dan dinamis sesuai dengan fungsi utamanya sebagai
sebuah wadah pertunjukan musik. Suasana ini ditampilkan lewat
perpaduan warnda dan pemberian elemen yang khusus
c) Berkesan statis, priat serta menyatu terhadap lingkungan sekitarnya
d) Mengambil sudut pandang / view yang terbaik dan potensial terhadap tapak
g) Analisis Struktur
1. Sub Struktur Bawah
Pada sistem struktur bawah, yang perlu dipertimbangkan:
a) Kondisi tanah setempat.
b) Kemungkinan kedalaman tanah keras pada tapak.
c) Mencapai kedalaman tanah yang keras pada tapak. Berikut alternatif pondasi
yang akan digunakan :
- Pondasi rakit
Keuntungan :
• Dapat mengurangi pengaruh gempa.
• Bagian bawah dapat digunakan sebagai basement.
• Sangat kuat.
- Pondasi tiang
Dari segi pelaksanaan, dibagi menjadi :

81
• Pondasi tiang pancang
Keuntungan :
 Beban bangunan disalurkan sampai ke tanah yang keras, maka
kemungkinan penurunan kecil.
 Pengerjaan cepat serta mudah dalam pelaksanaannya.
Kerugian :
 Pada saat pemasangan, bunyi mengganggu lingkungan di sekitar proyek
bahkan menimbulkan getaran.
 Tapak harus cukup luas untuk penimbunan tiang pancang.
 Pondasi tiang bore pile
Keuntungan :
 Tidak menimbulkan bunyi yang mengganggu.
 Tidak menimbulkan getaran.
 Tidak membutuhkan tempat penimbunan.
Kekurangan :

 Waktu pengerjaan lama.


 Dalam pelaksanaan kurang praktis.
 Memerlukan tenaga ahli.
 Pondasi sumuran
Pada prinsipnya sama dengan pondasi tiang pancang,
perbedaannya hanya pada proses pembuatannya. Jenis pondasi berupa
rakit, sumuran , tiang pancang, ataupun kombinasi ketiganya.
Kedalaman jarak untuk mencapai lapisan keras membatasi penggunaan
pondasi tiang pancang pada struktur bawah Gedung Bioskop ini.
Alternatif terpilih untuk struktur bawah adalah Tiang Pancang.
Pada masa utama bangunan yang meliputi pondasi jalur dan sloof
beton yang digabung dengan pondasi tiang pancang untuk daerah gaya
vertikal yang cukup besar,sedangkan pada titik-titik tertentu sebagai
penopang struktur atas (Upper Structure) dibuat penggandaan kolom
dari ukuran kolom lainnya (Kolom Deletasi) yang nantinya akan
menjadi landasan dari struktur atap.

82
Gambar 4.31. Pondasi Tiang Pancang
Sumber : [Link]
2. Super Struktur
Adapun pertimbangan-pertimbangan untuk super struktur/ struktur
dinding, adalah :
1). Fleksibilitas bentuk ruang/ fungsi ruang.
2). Ketahanan menerima beban.
3). Kemudahan pelaksanaan dan pemeliharaannya.
Berikut alternatif super struktur/ struktur dinding :
1). Sistem shear wall (dinding geser), sifatnya sebagai pemikul beban.
2). Sistem bearing wall, yaitu sistem struktur rangka.
3). System struktur vertical

- Struktur rangka
 Cukup aman dalam menahan gaya gempa, angin, dan berat sendiri.
 Bentuk dan pola ruang bervariasi.
- Struktur rangka dinding geser
 Elastis dalam menahan gempa.
 Pengerjaan cepat.
4) Sistem struktur horisontal.
- Sistem plat datar

83
 Praktis dalam pengerjaan.
 Plat cukup tebal (15 – 22,5 cm)
- Sistem balok anak dan induk
 Mudah dalam pelaksanaan.
 Ketebalan minimum (7,5 – 10 cm).

3. Struktur Atas
Fungsi dari struktur atas adalah sebagai penutup bangunan, sebagai
pelindung terhadap hujan dan radiasi matahari serta mendukung
penampilan bangunan secara keseluruhan.
Konstruksi ini sendiri terdiri dari plat beton dan rangka baja ringan
dengan penutup atap berbahan fyber glass. Struktur atap yang digunakan
pada perencanaan pembangunan Gedung bioskop adalah struktur dengan
sistem cremona dan space frame
Sistem cremona digunakan untuk mendapatkan bentuk atap yang
yang mempunyai karakter lengkung dan cocok untuk bentangan lebar,
serta menjadi struktur utama yang menopang space frame untuk
mendapatkan bentuk yang menyerupai cangkang.

84

Anda mungkin juga menyukai