0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan72 halaman

Resiliensi Pasien Gagal Ginjal Hemodialisa

Proposal ini membahas rencana penelitian tentang gambaran tingkat resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Penelitian ini akan menggunakan desain deskriptif dengan populasi pasien hemodialisa di RSUD Indramayu sebanyak 30 orang yang diambil secara purposive sampling. Data akan dikumpulkan menggunakan skala resiliensi CD-RISC dan diolah menggunakan uji validitas, reliabilitas, dan analisis deskript

Diunggah oleh

Amelia Sahdiatun
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan72 halaman

Resiliensi Pasien Gagal Ginjal Hemodialisa

Proposal ini membahas rencana penelitian tentang gambaran tingkat resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Penelitian ini akan menggunakan desain deskriptif dengan populasi pasien hemodialisa di RSUD Indramayu sebanyak 30 orang yang diambil secara purposive sampling. Data akan dikumpulkan menggunakan skala resiliensi CD-RISC dan diolah menggunakan uji validitas, reliabilitas, dan analisis deskript

Diunggah oleh

Amelia Sahdiatun
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL PENELITIAN

GAMBARAN TINGKAT RESILIENSI PADA PASIEN


GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI
HEMODIALISA DI RUANG HEMODIALISA
RSUD INDRAMAYU

Disusun sebagai syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Skripsi pada
Program Studi Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
(STIKes) Indramayu

Oleh:
DIAN RAMADHAN
NIM R.20.01.017

YAYASAN INDRA HUSADA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) INDRAMAYU
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
INDRAMAYU
2024
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

“Proposal ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber pustaka

yang menjadi rujukan dalam penyusunan proposal ini telah saya nyatakan benar.

Apabila dikemudian hari terbukti bahwa proposal ini merupakan plagiat/

pemalsuan/ penyuapan/ pertukangan maka saya siap menerima sanksi yang berlaku

di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Indramayu dengan segala risiko yang

harus saya tanggung.”

Nama : Dian Ramadhan

NIM : R.20.01.017

Tanggal : 14 Maret 2024

Tanda tangan Materai


Rp.10.000

i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Dian Ramadhan

Temat/ Tanggal Lahir : Indramayu, 08 Desember 2000

Agama : Islam

Alamat : Desa Sukasari, Blok Tara, RT/13

RW/03, Kecamatan Arahan,

Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat

Pendidikan :

STIKes Indramayu : 2020 – Sekarang

SMAN 1 Lohbener : Tahun lulus 2019

SMPN 1 Lohbener : Tahun lulus 2016

SDN 2 Sukasari : Tahun Lulus 2013

Pekerjaan : Mahasiswa

ii
LEMBAR PERSETUJUAN

Nama Mahasiswa : Dian Ramadhan

NIM : R.20.01.017

Judul : Gambaran Tingkat Resiliensi Pada Pasien Gagal Ginjal

Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di Ruang

hemodialisa RSUD Indramayu

Proposal ini telah disetujui dan siap untuk diseminarkan

Indramayu, 14 Maret 2024

Oleh:

Pembimbing I

Ridho Kunto Prabowo, [Link]., Ns., [Link]., [Link].M.B.


NIK. 043 213 157

Pembimbing II

Novi Dwi Irmawati, [Link]., Ns., [Link].


NIK. 043 213 158

iii
KATA PENGANTAR

Alhamduliillahirabbil’alamin, puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan

Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan

skripsi ini. Penulisan proposal penelitian ini dilakukan sebagai salah satu syarat

untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Proposal penelitian Sarjana

Keperawatan pada Program Studi Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan (STIKes) Indramayu. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan

bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan

proposa penelitian ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini.

Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada

1. Nur Rokhim Satria Nugraha, [Link] selaku Ketua Pengurus Yayasan

Indra Husada Indramayu, yang telah menjadi inspirator bagi kami.

2. Riyanto, [Link]., Ns., [Link]. selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan (STIKes) Indramayu yang telah memberikan motivasi kepada kami.

3. Novi Dwi Irmawati, [Link]., Ns., [Link]. Selaku Ketua Program Studi

Sarjana Keperawatan STIKes Indramayu dan sebagai pembimbing II yang telah

memberikan semangat kepada kami.

4. Ridho Kunto Prabowo, [Link]., Ns., [Link]. [Link].M.B. Selaku

pembimbing I yang senantiasa selalu mendidik serta mengarahkan, memberikan

motivasi, bimbingan, masukan, waktu, dan saran selama penyusunan skripsi

5. Eka Juwita Handayani, [Link].,Ns.,[Link]., dan Rd. Gita Mujahidah,

[Link]., Ns., [Link]. selaku Wali Kelas Program Studi Sarjana Keperawatan

iv
angkatan 2020 yang selalu sabar memberikan bimbingan, saran, serta motivasi

kepada anak-anaknya.

6. Seluruh dosen beserta staf karyawan Program Studi Sarjana

Keperawatan STIKes Indramayu.

7. Ayahanda dan Ibunda serta keluarga tercinta, yang tidak pernah berhenti

mendoakan dan memberikan dukungan sehingga saya bisa mencapai tahap ini.

8. Teman – teman seperjuangan di Program Studi Sarjana Keperawatan

STIKes Indramayu angkatan 2019, yang senantiasa memberikan dukungan dan

motivasi kepada peneliti.

9. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang selalu

memberikan dukungan dan motivasi dalam proses penyusunan skripsi ini. Semoga

Allah SWT senantiasa memberikan segala rahmat dan karunia-Nya. Atas segala

dukungan dan bantuan yang telah diberikan kepada peneliti.

Semoga skripsi ini diterima dan dapat dilanjutkan ke tahap penelitian.

Masukan dan saran yang membangun dari pembaca sangat diperlukan untuk

perbaikan skripsi ini.

Indramayu, 2024

Peneliti

v
DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................. i


DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................. ii
LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................ iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL .............................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... iix
DAFTAR SINGKATAN ....................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xi
BAB I PENDAHUAN ........................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 4
C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian .................................................................................. 5
E. Ruang Lingkup ....................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 8
A. Konsep Gagal Ginjal Kronik .................................................................. 8
B. Hemodialisa .......................................................................................... 13
C. Konsep Resiliensi ................................................................................. 18
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ............ 31
A. Kerangka Konsep ................................................................................. 31
B. Definisi Operasional ............................................................................. 31
BAB IV METODE PENELITIAN .................................................................... 35
A. Rencana Penelitian ............................................................................... 35
B. Populasi dan sampel ............................................................................. 35
C. Tempat Penelitian ................................................................................. 37
D. Waktu Penelitian .................................................................................. 37
E. Etika Penelitian ..................................................................................... 37

vi
F. Alat Pengumpulan Data Penelitian ....................................................... 39
G. Uji Validitas dan Reabilitas ................................................................. 40
H. Prosedur Pengumpulan Data ................................................................ 41
I. Penglahan Data ..................................................................................... 42
J. Analisa Data ......................................................................................... 43
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 46
LAMPIRAN

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Stadum Penyakit Gagal Ginjal Kronis ................................................10


Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian ............................................32

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Kerangka Konsep penelitian ...........................................................31

ix
DAFTAR SINGKATAN

BRS : Brief Resilience Scale

ESRD : End Stage Renal Disease

GFR : Glomerulus Filtration Rate

GGK : Gagal Ginjal Kronik

KEMENKES : Kementrian Kesehatan

LFG : Laju Filtarsi Glomerulus

PGK : Penyakit ginjal Kronik

QB : Quiff of Blood

RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah

WHO : Word Health Organization

x
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Permohonan Izin Studi Pendahuluan

Lampiran 2 Surat Balasan Izin Studi Pendahuluan

Lampiran 3 Surat Permohonan Berpartisipasi Sebagai Responden

Lampiran 4 Informed Consent

Lampiran 5 Kuesioner

Lampiran 6 Lembar Kisi-Kisi Kuesioner

Lampiran 7 Buku Bimbingan Skripsi

Lampiran 8 Dokumentasi

xi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan gangguan fungsi ginjal yang

progresif dan ireversibel dimana tubuh tidak mampu mempertahankan

keseimbangan metabolisme cairan, dan elektrolit yang menyebabkan tingginya

kadar ureum dalam darah (Brunner & Suddarth, 2015). Gagal ginjal kronik

merupakan kerusakan ginjal selama tiga bulan atau lebih yang mengakibatkan

ginjal tidak bisa mengekskresikan sisa metabolik dan mengatur keseimbangan

cairan dan elektrolit secara adekuat (LeMone, Burke & Bauldoff, 2016).

World Health Oganization (WHO) (2019) menyebutkan bahwa penyakit

ginjal kini menjadi penyebab kematian paling umum ke 10 di seluruh dunia, naik

dari peringkat sebelumnya yang berada di urutan ke 13. Angka kematian meningkat

dari 813.000 jiwa pada tahun 2000 menjadi 1,3 juta jiwa pada tahun 2019.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2018 bahwa

Indonesia menempati urutan ke-dua penyakit ginjal setelah penyakit jantung.

Sekitar 713.783 penduduk Indonesia menderita gagal ginjal. Menurut data dari

laporan provinsi Jawa Barat menjelaskan bahwa penderita gagal ginjal kronik di

Jawa Barat pada tahun 2018 mencapai 52.511 (Kemenkes RI, 2018).

Dalam skala dunia jumlah total dengan penyakit ginjal kronis (PGK), cidera

ginjal akut dan mereka yang menjalani terapi hemodialisa melebihi angka 850 juta

jiwa di seluruh dunia (Jager et al, 2019). Menurut Indonesia Renal Registry (IRR)

1
2

(2018) jumlah pasien aktif penyakit gagal ginjal kronik yang harus menjalani

hemodialisa sebanyak 132.142 dan pasien baru hemodialisa 66.433. Di Jawa Barat

pasien baru yang menjalani hemodialisa sebanyak 14.796 (Indonesia Renal

Registry, 2018).

Penanganan dan pengobatan pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) diperlukan

seumur hidup melalui Hemodialisa atau Dialisis. Hemodialisa merupakan treatmen

yang dibutuhkan untuk proses pembuangan limbah dalam darah. Pasien yang

menjalani terapi biasanya akan dijadwalkan 2-3 kali dalam seminggu dengan durasi

3-4 jam. Terapi ini dilakukan sampai pasien melakukan operasi pencakokan ginjal

baru (Maemunah & Hutahean, 2021).

Pasien hemodialisa juga dapat menyebabkan adanya gangguan serta

dampak pada keadaan fisik, ekonomi, sosial serta psikologis. Masalah tersebut akan

beresiko terhadap penurunan kualitas hidup pada pasien hemodialisa. Sehingga

pada pasien hemodialisa dibutuhkan kemampuan bertahan dalam menghadapi

situasi yang sulit ataupun resiliensi (Simanjuntak et al, 2023).

Resiliensi merupakan proses adaptasi dalam menghadapi kesulitan, trauma,

tragedi atau ancaman. Resiliensi sangat penting dalam membantu individu

mengatasi berbagai kesulitan yang terjadi. Artinya dengan meningkatkan resiliensi

maka individu mampu untuk mengatasi berbagai kesulitan. Resiliensi juga

mempengaruhi kesehatan fisik dan kesehatan psikologis (Suryadi, 2019).

Durasi hemodialisa merupakan salah satu faktor terkait yang berhubungan

dengan resiliensi. Semakin lama pasien menjalani hemodialisa, maka resiliensinya

akan semakin menurun. Hal ini mungkin berkaitan dengan semakin lama seseorang

STIKes Indramayu
3

mengalami gagal ginjal maka potensi komplikasi akibat penyakit dan perburukan

gejala juga semakin tinggi. (Antari, 2022).

Dampak dari kurangnya resiliensi ini dapat membawa pasien Gagal Ginjal

Kronik (GGK) kekeadaan dimana seorang individu akan mudah merasa patah

semangat dan kurang mampu beradaptasi dalam mengahadapi perubahan yang

diakibatkan dari penyakitnya. Mereka akan selalu menyalahkan diri sendiri, orang

lain atau bahkan menyalahkan tuhan-NYA karena penyakit yang di deritanya, ini

mungkin akan mempengaruhi kualitas hidupnya (Pane et al, 2020).

Tujuan resiliensi yaitu mendorong semangat pasien agar mampu bertahan

pada situasi sulit. Resiliensi menjadi hal utama untuk membangkitkan semangat

pada pasien yang menjalani hemodialisa (Simanjuntak et al, 2023). Menurut hasil

penelitian yang dilakukan oleh Rokayah (2022) di dapatkan sebanyak 64 pasien

(51,2%) beresiliensi rendah dengan sampel 125 responden tentang resiliensi pada

pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang menjalani Hemodialisa di RS AL-Ihsan

Kabupaten Bandung.

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 10 – 18

Januari 2024 di ruang hemodialisa RSUD Indramayu didapatkan data jumlah pasien

yang menjalani hemodialisa pada bulan Oktober – Desember 2023 sebanyak 168

pasien. Berdasarkan hasil wawancara dengan 12 orang pasien hemodialisa di ruang

hemodialisa RSUD Indramayu diperoleh sebanyak 6 (50%) orang memiliki

resiliensi rendah. Sebanyak 5 (42%) orang memiliki resiliensi normal. Dan

sebanyak 1 (8%) orang memiliki resiliensi tinggi.

STIKes Indramayu
4

Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “Gambaran Tingkat Resiliensi Pada Pasien Gagal Ginjal

Kronik yang menjalani Hemodialisa di RSUD Indramayu”

B. Rumusan Masalah

Gagal ginjal kronis merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan

ireversibel dimana tubuh tidak mampu mempertahankan keseimbangan

metabolisme cairan, dan elektrolit yang menyebabkan tingginya kadar ureum dalam

darah. Penanganan dan pengobatan pasien GGK diperlukan seumur hidup melalui

Hemodialisa atau dialisis. Kegiatan ini akan menimbulkan banyak permasalahan

dan komplikasi. Salah satu permasalahan mungkin terjadi pada seseorang yang

melakukan hemodialisa adalah ketahanan diri yang rendah. Durasi hemodialisa

merupakan salah satu faktor terkait yang berhubungan dengan resiliensi. Semakin

lama pasien menjalani hemodialisa, maka resiliensinya akan semakin menurun. Hal

ini mungkin berkaitan dengan semakin lama seseorang mengalami gagal ginjal

maka potensi komplikasi akibat penyakit dan perburukan gejala juga semakin

tinggi..

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah belum diketahuinya gambaran

tingkat resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di

RSUD Indramayu. Sehingga pertanyaan dalam penelitian ini adalah ”Bagaimana

gambaran kejadian tingkat resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani

hemodialisa di RSUD Indramayu”.

STIKes Indramayu
5

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran

tingkat resiliensi pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Indramayu.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :

a. Mengetahui gambaran tingkat resiliensi di ruang hemodialisa RSUD

Indramayu berdasarkan jenis kelamin

b. Mengetahui gambaran tingkat resiliensi di ruang hemodialisa RSUD

Indramayu berdasarkan usia

c. Mengetahui gambaran tingkat resiliensi di ruang hemodialisa RSUD

Indramayu berdasarkan pendidikan

d. Mengetahui gambaran tingkat resiliensi di ruang hemodialisa RSUD

Indramayu berdasarkan Pekerjaan

e. Mengetahui gambaran tingkat resiliensi di ruang hemodialisa RSUD

Indramayu berdasarkan lamanya menjalani hemodialisa.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Pelayanan Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada perawat

dan rumah sakit tentang data pasien hemodialisa yang mengalami resiliensi rendah

dan memberikan dukungan, motivasi dan pendampingan untuk meningkat kualitas

hidup pada pasien yang menjalani hemodialisa.

STIKes Indramayu
6

2. Bagi Insitusi Pendidikan Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan kepustakaan serta

pengetahuan mahasiswa mengenai gambaran tingkat resiliensi pada pasien

hemodialisa. hal ini diharapkan dapat memicu institusi pendidikan menciptakan

penelitian-penelitian lain yang dapat mendukung dan menguatkan hasil penelitian-

penelitian sebelumnya.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber dalam melakukan penelitian

lebih lanjut tentang tingkat resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani

hemodialisa.

4. Bagi Responden

Manfaat yang bisa didapat oleh responden adalah responden dapat

mengetahui terkait resiliensi dan bagaimana cara meningkatkan resiliensi, dimana

resiliensi sendiri dapat menjadi salah satu upaya rehabilitatif dalam pemulihan

kondisi psikologis pasien hemodialisa. Upaya ini selain mudah dilakukan juga tidak

memerlukan keahlian khusus dalam menjalankan atau melakukannya.

E. Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam penelitian ini meneliti tentang gambaran tingkat

resiliensi pada pasien hemodialisa di RSUD Indramayu, metode penelitian yang

digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah penderita

gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Indramayu dengan

jumlah populasi 168 pasien. Pengambilan sampel dalam penellitian ini yaitu

puposive sampling di ruang hemodialisa RSUD Indramayu, adapun rumus yang

STIKes Indramayu
7

digunakan dalam penelitian ini yaitu rumus slovin dengan jumlah sampel pada

penelitian ini sebesar 118 responden. Analisa data yang digunakan dalam penelitian

ini adalah analisa univariat.

STIKes Indramayu
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Gagal Ginjal Kronik

1. Definisi Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal kronik (GGK) diartikan sebagai gagalnya fungsi ginjal

terutama di unit nefron yang berlangsung perlahan-lahan karena penyebab yang

berlangsung lama, menetap dan mengakibatkan penumpukan sisa metabolik atau

toxic uremic, hal ini menyebabkan ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan seperti

biasanya sehingga menimbulkan gejala sakit (Black & Hawks, 2014).

Gagal ginjal kronik atau juga bisa disebut penyakit renal tahap akhir

merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan ireversibel, dimana

kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan

cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen

lain dalam darah) yaitu adanya urea atau produk buangan nitrogen lain dalam

jumlah berlebih yang ada dalam darah. Penurunan fungsi ginjal progresif mengarah

pada penyakit tahap akhir juga kematian (Smeltzer & Barre, 2015).

2. Etiologi Gagal Ginjal Kronik

Penyebab utama dan terbesar PGK adalah Nefropati Diabetik (52%),

hipertensi (24%), kelainan bawaan (6%), asam urat (1%), lupus (1%), dan penyakit-

penyakit lainnya. Secara global, penyebab terbesar PGK jatuh pada penyakit

turunan yaitu Diabetes Mellitus. Sedangkan di Indonesia sendiri, beberapa tahun

terakhir ini hipertensi adalah penyebab terbesar terjadinya PGK dimana

8
9

sebelumnya hingga akhir tahun 2000, penyebab terbanyak dari PGK adalah

Glomerulonefritis. PGK merupakan komplikasi dari beberapa penyakit baik dari

ginjal maupun penyakit umum diluar ginjal (Mailani, 2022).

3. Patofisiologi Gagal Ginjal Kronik

Patogenesis GGK melibatkan deteriorasi dan kerusakan nefron dengan

kehilangan bertahap fungsi ginjal. Oleh karena GFR total menurun dan klirens

menurun, maka kadar serum ureum nitrmogen dan kreatinin meningkat.

Menyisakan nefron hipertrofi yang berfungsi karena harus menyaring larutan yang

lebih besar. Konsekuensinya adalah ginjal kehilangan kemampuanya untuk

mengonsentrasikan urine dengan memadai. Untuk terus mengekskresikan larutan,

sejumlah besar urine encer dapat keluar, yang membuat klien rentan terhadap

deplesi cairan. Tubulus perlahan-lahan kehilangan kemampuanya untuk menyerap

kembali elektrolit. Kadang kala, akibatnya adalah pengeluaran garam, dimana urine

berisi sejumlah besar natrium, yang mengakibatkan poliuri berlebih.

Oleh karena gagal ginjal berkembang dan jumlah nefron yang berfungsi

menurun, GFR total menurun lebih jauh. Dengan demikian tubuh menjadi tidak

mampu membebaskan diri dari kelebihan air, garam, dan produksi sisa lainya

melalui ginjal. Ketika GFR kurang dari 10 sampai 20 ml/menit, efek toksin uremia

pada tubuh menjadi bukti. Jika penyakit tidak diobati dengan dialisis transplantasi,

hasil ESRD adalah uremia dan kematian (Lemone, Burke, & Bauldoff, 2016).

STIKes Indramayu
10

4. Klasifikasi Stadium Gagal Ginjal

Siregar (2020) mengatakan bahwa penyakit Gagal Ginjal Kronik (GGK)

diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel 2.1
Stadum Penyakit Gagal Ginjal Kronis

GFR Penjelasan
Stadium
(ml/mnt/1,73m2)
Stadium 1 ≥90 Rusaknya ginjal dengan GFR
normal
Stadium 2 60-89 Kerusakan ginjal dengan
penurunan GFR ringan
Stadium 3 30-59 Kerusakan ginjal dengan
penurunan GFR sedang
Stadium 4 15-29 Kerusakan ginjal dengan
penurunan GFR berat
Stadium 5 <15 Gagal ginjal

5. Manifestasi Gagal Ginjal Kronik

Manifestasi klinik yang dialami penderita gagal ginjal kronik pada stadium

paling awal, renal reverse atau kehilangan daya cadang ginjal mulai terjadi. Laju

Filtrasi Glomerulus (LFG) masih dalam keadaan normal dan meningkat. Secara

perlahan, penurunan fungsi nefron terjadi secara progresif ditandai dengan

peningkatan urea dan kreatinin serum. Saat LFG sebesar 60% masih belum

merasakan keluhan apapun, hanya peningkatan kadar urea dan kreatinin serum.

Berdasarkan laju filtrasi glomerulus sebesar 30% maka keluhan seperti

nokturia, badan terasa lemah, mual, pengurangan nafsu makan dan menurunya berat

badan mulai terasa. Ketika LFG mencapai <30% dapat terlihat tanda dan gejala

uremia nyata, seperti anemia, peningkatan tekanan darah, mual dan lainya, dan saat

STIKes Indramayu
11

LFG berada pada presentase 15% terjadi gejala dan komplikasi serius seperti

dialisis dan transplantasi ginjal (Mailani, 2022).

6. Komplikasi Gagal Ginjal Kronik

Berbagai komplikasi muncul dari gangguan fungsi ginjal, tergantung pada

tingkat kerusakan nefron. Menurut Isroin (2016) komplikasi potensial gagal ginjal

kronik yang memerlukan pendekatan kolaboratif dalam perawatan mencakup :

a. Hiperklamia, akibat penurunan ekresi, asidosis metabolik, katabolisme

dan masukan diit berlebih.

b. Perikarditis, efusi perikardial dan pamponade jantung akibat retensi

produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.

c. Hipertensi, akibat retensi cairan dan natrium serta mal fungsi sistem renin

angiotensin, aldosteron.

d. Anemia, akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah

merah, perdarahan gastrointestinal.

e. Penyakit tulang serta klasifikasi metastatik akibat retensi fosfat.

7. Pemeeriksaan Penunjang Gagal Ginjal kronik

Siregar (2020) menyatakan bahwa untuk menetapkan penurunan fungsi

ginjal diprlukan tes diagnostik dan laboratorium seperti berikut:

a. Pemeriksaan darah, ini dilakuan untuk mengukur kadar kreatinin atau

juga urea yang ada di dalam tubuh.

STIKes Indramayu
12

b. Pemeriksaaan urin, ini dilakukan untuk mengetahui kondisi ginjal.

Analisa kimia merupakan bagian dari proses pemeriksaan urin untuk mengetahui

protein, kreatinin, gula, dan keton. Untuk melihat struktur ginjal dan umtuk

mengetahui apakah ada penyumbatan pada saluran kemih.

c. Biopsi ginjal, untuk mengambil sampel kecil pada jaringan ginjal yang

bertujuan untuk mkendiagnosis radang ginjal.

d. Pielogram intravena, dilakukan untuk mengetahui kelainan pada sistem

perkemihan.

e. Angiografi dan venogravi pada ginjal, untuk memeriksa kondisi

pembuuh darah.

f. Foto polos abdomen, untuk mengetahui sistem abdomen seperti ginjal.

g. pemindaian ultrasound.

h. Biokimiawi, merupakan pemeriksaan primer dari pemeriksaan fungsi

ginjal yaitu ureum dan kreatinin plasma. Perlu juga pemeriksaan kadar elektrolit

untuk mengetahui status cairan dalam ginjal.

i. Urinalis, pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi atau

mendiagnosis penyakit serta untuk memantau kondisi kesehatan dan fungsi ginjal.

j. Ultrasonografi ginjal, gambaran dari ultrasonografi dapat memberikan

informasi yang bisa membantu dalam menegakan diagnosa gagal ginjal. Pada

inidividu yang mengalami gagal ginjal biasanya akan menunjukan adanya obstuksi

pada ginjal. Selain itu, ukuran dari ginjal pun akan terlihat.

STIKes Indramayu
13

8. Penatalaksanaan Gagal Ginjal Kronik

Menuru Hardianti (2021). Penatalaksanaan gagl ginjal kronik dapat dibagi

menjadi 2 tahap, yaitu: tindakan konservatif dan diaslisis atau transplantasi ginjal.

1. Tindakan konservatif

Tujuan dari pengobatan ini adalah untuk meredakan atau memperlambat

gangguan fungsi ginjal progresif. Seperti pengaturan diet protein, kalium natrium

dan cairan.

2. Dialisis dan transplatasi ginjal

Dialisis dapat digunakan untuk mempertahankan pasien dalam keadaan

klinis yang optimal sampai tersedia donor ginjal. Penyakit ginjal tahap akhir harus

menggunakan terapi mengganti ginjal sebagai pilihan untuk mempertahankan

fungsi tubuh. Terapi pengganti ginjal biasanya berupa transplantasi ginjal atau

dialisis yang terdiri dialisis peritoneal dan hemodialisa.

B. Hemodialisa

1. Definisi Hemodialisa

Hemodialisa merupakan tindakan yang dilakukan dengan cara mengalirkan

darah dari dalam tubuh untuk dialirkan kedalam mesin dialisis untuk dilakukan

proses penyaringan partikel sisa metabolisme menggunakan proses hemofiltrasi.

Cara kerja hemodialisa yaitu mengalirkan darah dari dalam tubuh kedalam mesin

dializer (tabung ginjal buatan) yang terdiri dari 2 kompartemen yang terpisah yaitu

STIKes Indramayu
14

kompartemen darah dan kompartemen dialisat yang dipisahkan membran semi

permeabel untuk membuang sisa-sisa metabolisme (siregar, 2020).

Hemodialisa adalah pengalihan darah pasien dari tubuhnya melalui dializer

yang terjadi secara difusi dan ultrafiltrasi, kemudian darah kembali lagi kedalam

tubuh pasien. Hemodialisa memerlukan akses ke sirkulasi darah pasien, suatu

mekanisme untuk membawa darah pasie ke dializen (tempat terjadi pertukaran

cairan, elektrolit ,dan zat sisa tubuh) serta dializer (Baradero, Dayrit, & Yakobus,

2009).

2. Indikasi Hemodialisa

Hemodialisa merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan

cairan dan produk limbah dari dalam tubuh, ketika ginjal tidak mampu

melaksanakan proses tersebut. Hemodialisa digunakan untuk mempertahankan

kehidupan dan kesejahteraan sampai fungsi ginjal pasien pulih kembali. Metode ini

mencangkup hemodialisa, hemofiltrasi, dan peritonial dialisis. Hemodialisa dapat

dilakukan pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan, untuk mencegah

kerusakan permanen atau menyebabkan kematian (Hardianti, 2021).

3. Prinsi-Prinsip Hemodialisa

Tujuan hemodialisa adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksin

dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan. Pada hemodialisa, aliran

darah yang penuh dengan toksin dan limbah nitrogen dialihkan dari tubuh pasien

ke dializer tempat darah tersebut dibersihkan dan kemudian di kembalikan lagi ke

tubuh pasien. Ada tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisa, yaitu: difusi,

osmosis dan ultrafiltrasi (Smeltzer & Bare, 2015).

STIKes Indramayu
15

4. Proses Hemodialisa

Tahap awal proses hemodialisis dimulai dengan mengalirkan darah dari

tubuh pasien kedalam mesin hemodialisis (dializer). Mesin hemodialisis digunakan

untuk menyiapkan dialisat, mengalirkan darah melalui dialisat dan membran semi

permeabel. Tekanan darah pasien dapat mengalirkan melalui pompa darah dengan

kecepatan aliran darah atau Quiff of blood (QB) dimana kecepatan darah yang

direkomendasikan sekitar 200 sampai 400 ml/menit.

Heparin dimasukan kedalam jalur arteri secara berkesinambungan melalui

infus lambat untuk mencegah pembekuan dara, mencegah masuknya udara pada

bekuan darah dan mencegah gumpalan memasuki kembali aliran darah pasien.

Mesin hemodialisis modern dilengkapi dengan monitor dan alarm dengan berbagai

parameter. Pada mesin hemodialisa terdapat alat dialiser untuk membersihkan dan

menyaring darah. Dialiser terdiri dari dua bagian yaitu untuk dialirkan darah dan

dialisat pada sisi berlawanan. Darah bergerak melaewati dialiser lalu berdifusi

dengan aliran dialisat secara tetap, sehingga dapat mempertahankan gradien

konsentrasi antara dua kompartemen dan memberikan efesiensi yang maksimal

dari pemindaian larutan.

Pemindahan larutan dipengaruhi oleh komposisi dialisat, karakteristik dan

ukuran membran pada mesin hemodialisis, dan kecepatan aliran darah dan larutan.

Selama hemodialisis keseimbangan darah dan partikel yang disaring dicapai dengan

cara difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi. Sistem dialisis mengiris kembali pembuluh

darah dengan 0,9 NaCl sebelum terhubung sistem sirkulasi darah pasien. Setelah

dilakukan hemodialisis darah pasien yang sudah dibersihkan dialirkan kembali

STIKes Indramayu
16

melalui akses vaskular lalu masuk kedalam tubuh dialisat dikeluarkan dengan

melalui drainase (Nuari & Widayati, 2017).

5. Waktu penatalaksanaan

Frekuensi tindakan hemodialisa berbeda-beda untuk setaip pasien

tergantung fungsi ginjal yang masih berfungsi. Pasien rata-rata melakukan terapi

hemodialisa sebanyak 2-3 kali dalam seminggu, dan waktu pelaksanaanya 3-4 jam

setiap terapi. Terapi hemodialisa dapat digunakan pada pasien dalam jangka pendek

atau jangka panjang tergantung kesehatanya. Terapi hemodialisa jangka pendek

dapat dilakukan mengatasi kondisi akut contohnya keracunan, penyakit jantung

over load, cairan tapi tidak disertai fungsi ginjal, terapi jangka pendek ini dapat

dilakukan dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Terapi hemodialisa jangka

panjang dilakukan pada pasien GGK pada stadium akhir atau End Stage Renal

Disease (ESRD) (Siregar, 2020).

6. Efek Samping Hemodialisa

Menurut Isroin (2016) ada efek samping dalam hemodialisa yaitu sebagai

berikut:

a. Penyakit kardiovaskuler, hipertensi merupakan salah satu faktor

penting dalam menimbulkan ateroklerosis, keadaan ini menyebabkan insiden

penyakit kardiovaskuler dan serebrovaskuler pada pasien yang menjalani

hemodialisa.

b. Kelainan fungsi seksual, penderita gagal ginjal kronik yang menjalani

hemodialisa akan mengalami penurunan fungsi seksual, baik pencapaian orgasme,

STIKes Indramayu
17

frekuensi, dan lamanya ereksi. Hal ini disebabkan oleh faktor psikologis dan toksin

uremia.

c. Kelainan tulang dan paratiroid, penyakit tulang disebabkan karena

aluminium yang ada di dalam dialisat dan karena gangguan metabolisme vitamin

D. Gangguan vitamin D menyebabkan meningkatnya hormon paratiroid yang

merupakan toksin uremia. Tanda kelainan tulang antara lain sakit pada tulang dan

fraktur patologis.

d. Kelainan neurologis, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan

sistem saraf pusat pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani

hemodialisa yaitu ensifalitis metabolik, dimensia dialisis, karena intoksikasi

aluminium, penurunan itelektual progresif, aterosklerosis menyebakan celebro

vaskuler asiden dan perdarahan otak.

e. Anemia, anemia pada penderita penyakit Gagal ginjal Kronik (GGK)

disebabkan oleh produksi eritropeitin yang tidak adekuat oleh ginjal.

f. Kelainan gastrointestinal, Penderita Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang

menjalani hemodialisa sering mengalami gangguan saluran cerna, termasuk

gastritis, perdarahan, ulkus, obstruksi saluran bagian bawah dan lain-lain.

g. Gangguan metabolis kalsium, akan menyebabkan osteodistrofi renal

yang menyebabkan nyeri tulang dan fraktur.

h. Infeksi, tromboisi fistula dan pembentukan aneurisma juga terjadi pada

fistula arteriovenosa.

STIKes Indramayu
18

7. Komplikasi Hemodialisa

Komplikasi yang terjadi Menurut Siregar, (2020) yaitu sebagai berikut:

a. Hipotensi, terjadi selama proses hemodialisa berlangsung, dimana pada

saat cairan dikeluarkakn dari dalam tubuh.

b. Emboli udara, emboli udara merupakan koplikasi yang jarang terjadi,

bisa akan terjadi ketika udara masuk pada sistem vaskuler pasien.

c. Nyeri dada, bisa timbul karena penurunan pCO2 dengan terjadinya

sirkulasi darah diluar tubuh.

d. Keseimbangan dialisis terganggu akibat perpindahan cairan serebral

dapat menyebabkan serangan kejang.

C. Konsep Resiliensi

1. Pengertian Resiliensi

Resiliensi merupuakan sifat tidak berwujud yang memungkinkan orang

untuk bangkit kembali dari kesulitan dan muncul lebih kuat dari sebelumnya. Hal

ini disebabkan oleh fakta bahwa seseorang akan membiarkan hambatan atau

kegagalan terjadi yang akhirnya nanti mencari cara untuk mengatasinya. (Suryadi,

2018).

Menurut Munawaroh dan Mashudi (2018), resiliensi merupakan kumpulan

reaksi kognitif, emosional, atau perilaku yang dapat beradaptasi terhadap adversitas

akut atau kronis yang sifatnya tidak biasa ataupun umum. Respon-respon tersebut

bisa dipelajari dalam jangkauan semua orang. Meskipun ada banyaknya faktor yang

dapat mempengaruhi perkembangan resiliensi, namun satu yang terpenting adalah

STIKes Indramayu
19

”sikap‟ atau “attitude‟ terhadap adversitas yang dialami atau dihadapi. Respon dari

individu akan lebih diperkuat oleh lingkungan yang mendukung untuk resiliensi,

kemampuan yang dibutuhkan untuk mengatasi hambatan setiap hari, dan kapasitas

untuk menghadapi kesulitan yang tidak diinginkan yang mungkin timbul di

kemudian hari depan.

2. Sumber-Sumber Pembentukan Resiliensi

Suryadi (2018) menjabarkan sumber pembentuk resiliensi memiliki tiga

sumber yaitu I have, I am, dan I can. Dengan demikian, kalo hanya memiliki satu

faktor tidak akan membantu anda menjadi seorang yang resilien, melainkan harus

ditopang oleh ketiga aspek tersebut.

a. Sumber I have (dukungan eksternal)

Faktor I have Merupakan suatu dukungan eksternal yang dimiliki oleh

individu. Hubungan saling percaya dalam keluarga, terutama dengan orang tua,

teman, atau kenalan dekat lainnya, dapat berfungsi sebagai sumber dukungan

eksternal. Ketika orang-orang, terutama orang tua, merasa nyaman dan

diperhatikan, hubungan saling percaya dapat berkembang. Orang dapat secara

terbuka mendiskusikan masalah mereka dengan orang yang dapat mereka percayai.

Jenis dukungan eksternal berikutnya adalah Ketersediaan seseorang dengan siapa

orang tersebut dapat mendiskusikan masalah dan didorong untuk

menyelesaikannya sendiri.

b. Sumber I am (pandangan, attitude, belief individu mengenai diri

sendiri)

STIKes Indramayu
20

Faktor I am merupakan pandangan, attitude, belief individu mengenai diri

sendiri, dan masalahnya. Individu yang resilien berpikir baik tentang dirinya.

Individu yang resilien juga dapat mempertahankan ketenangan mereka dalam

menghadapi kesulitan. Hal ini juga diantisipasi dari orang-orang yang resilien untuk

dapat tetap tenang dalam menghadapi kesulitan. Hal ini juga diharapkan dari orang-

orang yang resilien untuk berempati dan mampu membantu orang lain dalam

menyelesaikan masalah mereka. Selain itu, individu yang resilien percaya bahwa

orang lain menghormati mereka. Individu resilien memiliki pandangan positif

mengenai masalah yang terjadi dan selalu percaya bahwa di setiap masalah pasti

ada jalan keluarnya.

c. Sumber I can (untuk mengkomunikasikan seluruh pikiran dan perasaan

yang dialami)

Faktor I can merupakan kapasitas seseorang untuk mengekspresikan semua

ide dan emosi mereka dan untuk mendiskusikan strategi pemecahan masalah

dengan orang lain yang dapat diandalkan. Selain itu, sumber I can juga dapat

berasal dari kapasitas orang untuk memahami suatu masalah, melihatnya dari

semua sudut, mengidentifikasi akar penyebab masalah, dan berpikir sejenak

sebelum bertindak.

Suryadi (2018) juga menambahkan bahwa setiap orang dengan resiliensi

menerima empat keuntungan, yaitu sebagai berikut :

a. Overcoming (Mengatasi Kesengsaraan)

Individu kadang-kadang menghadapi kesulitan dan masalah dalam hidup

yang pasti menyebabkan stres. Individu membutuhkan resilien untuk melewati

STIKes Indramayu
21

tantangan mereka. Hal ini dapat dicapai dengan memeriksa dan mengubah sudut

pandang individu agar lebih positif dan dengan meningkatkan kemampuan untuk

diri kita sendiri. Oleh karena itu, bahkan dalam menghadapi berbagai tantangan

hidup, kita dapat tetap terinspirasi, terlibat, produktif, dan gembira.

b. Streeng Through (Menghadapi Masalah)

Setiap individu membutuhkan resiliensi untuk menghadapi msalah,

tekanan, dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupannya. Orang yang resilien

akan menggunakan hal-hal dalam dirinya sendiri untuk mengatasi masalah yang

ada tanpa harus merasa terbebani dan bersikap negatif terhadap kejadian tersebut.

Orang yang resilien dapat mengendalikan dirinya dalam menghadapi masalah

selama hidupnya.

c. Bounching Back (Menimbulkan tingkat stres tinggi atau kejadian

traumatik)

Hal-hal yang menimbulkan tingkat stres tinggi atau kejadian bersifat

traumatik memerlukan tingkat resiliensi yang lebih tinggi dalam mengendalikan

diri. Kehilangan pekerjaan, perceraian, atau kematian yang disayangi dapat

memberikan kondisi buruk pada individu. Cara mereka beresiliensi dengan

melakukan tindakan yang bertujuan mengatasi keterpurukan tersebut. Mereka

memiliki keyakinan yang kuat bahwa dapat mengendalikan hasil dari kehidupan

mereka dan mampu kembali ke kehidupan normal melalui kualitas hubungan

individu tersebut dengan orang lain.

d. Reaching Out (mengatasi pengalaman-pengalaman negatif)

STIKes Indramayu
22

Selain berguna untuk mengatasi pengalaman-pengalaman negatif atau stres

yang dialami biasanya resiliensi juga berguna untuk mendapatkan pengalaman

hidup lebih bermakna dan berkomitmen dalam memperoleh pembelajaran sekaligus

pengalaman baru. Individu yang melakukan hal ini dapat dengan tepat

memperkirakan resiko yang terjadi, mengetahui diri sendiri dengan baik, dan

menemukan tujuan sekaligus makna hidupnya.

3. Aspek-Aspek Resiliensi

Munawaroh dan Mashudi (2018) menyebutkan bahwa ada tujuh aspek yang

bisa membentuk resiliensi, yaitu:

a. Pengaturan emosi (emotion regulation)

Pengaturan emosi merupakan kemampuan untuk tetap tenang dan mampu

mengelola emosi dalam kondisi yang penuh tekanan yang terjadi dalam diri

individu. Ekspresi emosi berupa emosi negative ataupun positif yang dilakukan

merupakan tindakan yang sehat dan konstruktif. Kemampuan regulasi yang baik

dalam diri individu dapat mempermudah individu memecahkan berbagai masalah

karena individu akan dapat mengendalikan perasaan negative dalam dirinya, selain

itu regulasi penting untuk menjalin hubungan interpersonal. Individu yang resilien

menggunakan serangkaian keterampilan yang telah dikembangkan untuk

membantu mengontrol emosi, atensi, dan perilakunya.

b. Pengendalian gerak (Implused control)

Pengendalian gerak merupakan kemampuan mengendalikan keinginan,

tekanan, dorongan yang muncul dari dalam diri. Individu yang memiliki

keterampilan mengendalikan impuls yang rendah biasanya cenderung cepat

STIKes Indramayu
23

mengalami perubahan emosi yang berdampak pada pengendalian pikiran dan

perilakunya sehingga menampilkan perilaku mudah marah, kehilangan kesabaran

dan perilaku agresif. Akibat perilaku tersebut menimbulkan orang-orang di

sekitarnya merasa kurang nyaman sehingga berdampak pada intreraksi soaisl

individu tersebut.

c. Optimis (Realistic optimism)

Individu yang memiliki harapan di masa depan yang akan datang dan

memiliki kepercayaan untuk mewujudkan individu yang memiliki sikap resilien

adalah individu yang optimis. Individu meyakini bahwa segala sesuatu dapat

berubah menjadi lebih baik. Individu memiliki keinginan dan harapan terhadap

masa depan dan percaya bahwa bisa menentukan arah kehidupannya dibandingkan

orang yang pesimis.

d. Empati (Empathy)

Kemampuan individu dalam membaca dan memahami kondisi emosiaonal

dan psikologis orang lain, individu yang resilien akan mampu memahami perasaan

maupun pikiran orang lain. Individu tersebut biasanya menyatakan kepeduliannya

terhadap orang lain berupa tindakan dan ucapan atau kata-kata. Selain itu, seorang

individu juga dapat merasakan ketidaknyamanan dan menderita karena orang lain,

dengan adanya hal tersebut membuat individu ingin melakukan sesuatu untuk

mengakhiri penderitaan atau berbagai penderitaan yang dirasakan dengan orang-

orang disekitarnya.

e. Analisis penyebab masalah (causal analysis)

STIKes Indramayu
24

Causal Analysis merujuk pada kemampuan individu untuk mengidentifikasi

secara akurat dari permasalahn yang sedang dihadapi. Salah satu keterampilan

tersebut adalah apabila seseorang memiliki kemampuan untuk menilai suatu

permasalahan, menganalisis penyebab munculnya masalah, serta mengetahui cara

pemecahannya. Individu yang resilien diharapkan mampu mengetahui penyebab

masalah yang terjadi pada dirinya secara akurat. Individu yang tidak mampu

mengidentifikasi penyebab dari permasalahan yang sedang dihadapi akan terus-

menerus berbuat suatu kesalahan yang sama.

f. Efikasi diri (Self-efficacy)

Keyakinan individu akan kemampuan yang dimilikinya dalam menghadapi

dan memecahkan masalah secara efektif. Self efficacy adalah hasil dari pemecahan

masalah yang berhasil. Karakteristik individu resilien berupa kemampuan

mengetahui bahwa dirinya merupakan orang yang penting dan merasa bangga

terhadap dirinya atas apa yang sudah dilakukan dan dicapai. Ketika seseorang

individu mempunyai suatu masalah dalam hidupnya, individu tersebut akan

bertahan dan mengatasi masalah tersebut dengan keprcayaan diri dan harga diri

yang dimiliki.

g. Pencapaian (Reaching out)

Kemampuan individu dalam mengambil hikmah dari setiap masalah yang

terjadi pada dirinya. Individu yang memiliki sikap resilien dapat melakukan tiga hal

dengan baik, yaitu dapat menganalisis risiko dari suatu masalah, memahami dirinya

dengan baik dan dapat menemukan makna serta tujuan hidup.

STIKes Indramayu
25

4. Individu Resilien

Munawaroh dan Mashudi (2018) mengatakan bahwa individu yang

memiliki kemampuan resilien yang baik dalam diri individu sebagai sifat,

menurutnya sifat ini merupakan kapasitas tersembunyi yang muncul untuk

melawan kehancuran individu dan melindungi individu dari segala rintangan

kehidupan. Individu yang mempunyai intelegasi yang baik, mudah beradaptasi,

sosial temperamen, dan berkepribadian yang menarik pada akhirnya memberikan

kontribusi secara konsisten pada penghargaan diri sendiri, kompetensi, perasaan

bahwa ia beruntung. Individu tersebut adalah yang resilien.

5. Manfaat Resiliensi

Resiliensi sangat penting dalam membantu individu untuk mengatasi segala

kesulitan yang muncul setiap hari. Individu yang dapat meningkatkan resiliensi,

maka individu tersebut mampu untuk mengatasi kesulitan apapun yang muncul di

dalam kehidupannya, selain itu juga dapat meningkatkan pengendalian diri,

kepedulian terhadap orang lain dan mampu membuat keputusan yang baik.

Resiliensi dapat mempengarhui kesehatan fisik dan mental, serta kualitas hubungan

interpersonal yang baik (Pradana, 2013).

Pradana (2013) menjelaskan bahwa individu yang memiliki resiliensi tinggi

mampu mengatasi kesulitan dan trauma yang dihadapi. Individu mampu melihat

kegagalan sebagai suatu kesempatan untuk menjadi lebih maju dan mengambil

hikmah dari kegagalan yang dialami. Manfaat lain dari resiliensi yaitu individu

dapat menunjukan sifat-sifat positif, memiliki kemampuan untuk membangun dan

STIKes Indramayu
26

memelihara hubungan positif, kemampuan pemecahan masalah yang baik, serta

kemampuan untuk dapat berpartisipasi dalam aktivitas kelompok.

6. Faktor-Faktor Pembentuk Resiliensi

Suryadi (2018) Mengatakan bahwa untuk menjadi resiliensi, seseorang

harus belajar memahami pola pemikirannya, dapat menganalisis kesulitan mereka,

dan dapat menilai efek dari masalah tersebut terhadap kehidupan mereka. Ada tujuh

faktor-faktor keterampilan untuk memgetahui resilieni seseorang, learning your

ABC, avoiding thunking traps detecting, icebergs, challengin beliefs, putting in

perspective, calming and focuscing, dan rra-time resilience.

a. Mempelajari ABC Kesulitas (A-Adversity), Kepercayaan (B-Belief),

Konsekuensi (C-Consequence).

ABC melengkapi seseorang dengan kemampuan untuk menemukan

pemikirannya ketika mereka berada di tengah-tengah masalah dan memahami

pengaruh emosional yang kuat pada perasaan-perasaan tersebut. Bukan sebuah

masalah yang terjadi (A-Adversity) pada seseorang yang menyebabkan perasaan

atau perilaku pada dirinya. (B-Belief) tentang masalah tersebut mengendalikan

bagaimana mereka merasakan dan apa yang mereka lakukan (C-Consequences).

Kenyataannya, kita tidak hanya menjelankan A-C melainkan A-B-C.

b. Mengindari perangkap berpikir (Avoiding think traps)

Ketika seseorang berhadapan dengan masalah-masalah dalam hidupnya

biasanya mereka akan melakukan kesalahan, seperti terlalu cepat membuat

kesimpulan atau membesar-besarkan suatu hal/terlalu meremehkan sehingga

mengurangi resiliensi. Avoiding thinking traps mengajarkan cara seseorang

STIKes Indramayu
27

mengidentifikasi kebiasaan-kebiasaan yang menjadi kesalahan dan bagaimana cara

memperbaikinya.

c. Mendekati gunung es (Detecting Icebergs)

Biasanya kemampuan ini menuntun seseorang untuk berperilaku sesuai

dengan nilai-nilai yang dianutnya. Namun demikian, terkadang kondisi ini juga

menggangu kemampuan seseorang untuk menjalani hidup sesuai yang diinginkan.

Oleh karena itu, keterampilan dasar ini akan membantu seseorang untuk mengenal

keercayaan-kepercayaan dan menentukan kapan kepercayaan tersebut

mendukung/bertentangan.

d. Menantang keyakinan (Challenging Beliefs)

Keterampilan ini merupakan keterampilan paling utama dari resiliensi untuk

pemecahan masalah. Gaya berpikir keliru biasanya membuat seseorang salah

menafsirkan penyebab masalah dan kemudian mengakibatkannya mengikuti solusi

yang salah. Challenging beliefs merupakan tes akurasi dari kepercayaan seseorang

tentang masalah-masalah dan bagaimana menemukan solusi-solusi yang tepat.

e. Menempatkan dalam pesrpektif (putting in perspective)

Banyak orang yang terjebak dalam pemikiran what-if (bagaimana kalau…)

yang biasanya membuat setiap masalah menjadi sebuah bencana. Pada poin ini

diajarkan mempersiapkan diri lebih baik untuk menghadapi masalah yang sedang

terjadi.

STIKes Indramayu
28

f. Menenangkan dan fokus (Calming and focusing)

Keterampilan ini mengajarkan bagaimana tetap tenang dan focus ketika

seseorang diluapi emosi/ tekanan sehingga dapat berkonsentrasi pada tugas-tugas

yang sedang dihadapi.

g. Ketahanan waktu perspektif (Real-time Resilience)

Kemampuan ini adalah kemampuan untuk mengubah belief atau keyakinan

yang membuat tidak produktif.

7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Resiliensi

Menurut Sumirta dkk, (2016) faktor-faktor yang mempengaruhui resilensi

adalah :

a. Jenis kelamin

Laki-laki dapat berpikir lebih rasional dan lebih tangguh dalam menghadapi

masalah, sehingga saat dihadapkan dengan sebuah masalah dapat berpikir secara

luas dan tidak terpuruk dalam waktu yang lama.

b. Usia

Usia mempengaruhi resiliensi seseorang. Seseorang yang usianya dewasa

lebih bisa untuk berpikir secara terbuka dan lebih realistik Dalam pembentukan

resiliensi, semakin dewasa usia seseorang maka orang tersebut akan melewati

banyak pengalaman yang membuat semakin dewasa dan lebih menerima

keadaannya.

c. pendidikan

Faktor pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap penyakit yang

dideritanya sangat penting dalam menjaga kesehatannya serta kondisi

STIKes Indramayu
29

psikologisnya, karena orang yang berpendidikan lebih tinggi mampu mengatur

kondisi yang dihadapinya dan memecahkan masalahnya menggunakan acuan ilmu

pengetahuan yang dimilikinya, sehingga semakin tinggi pendidikan seseorang,

semakin tinggi pula tingkat resiliensi dari orang tersebut. tingkat pendidikan

mempengaruhi resiliensi individu dalam menghadapi tekanan hidup.

d. Pekerjaan

Pekerjaan juga mempengaruhi resiliensi seseorang dimana dalam pekerjaan

tersebut seseorang dapat merasakan kesejahteraan secara ekonomi, dengan

penghasilan yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan resiliensi seseorang.

Semakin tinggi penghasilan, semakin tinggi pula resiliensi yang dimiliki oleh

seseorang.

e. Lama menderita

Lama menderita berpengharuh terhadap resiliensi seseorang. Semakin lama

menderita penyakit, akan menimbulkan resiliensi yang semakin tinggi. Hal ini

tergantung kepada sampai seberapa jauh kemampuan individu yang bersangkutan

menyesuaikan diri terhadap situasi yang mengancam kehidupannya. Ada tiga fase

reaksi emosional Pasien ketika diberitahu bahwa penyakit yang dideritanya adalah

GGK yang sudah stadium akhir dan harus dilakukan hemodialisa. Fase pertama,

Pasien akan merasakan syok mental, kemudian diliputi oleh rasa takut, dan depresi.

Muncul reaksi penolakan dan kemurungan, terkadang pasien menjadi panik,

melakukan hal-hal yang tidak berarti dan sia-sia. Setelah fase ini berlalu, akhirnya

pasien akan sadar dan menerima kenyataan bahwa jalan hidupnya telah berubah.

STIKes Indramayu
30

Jadi semakin lama menderita, masa penerimaan kenyataan bahwa jalan hidupnya

telah berubah dan resiliensi akan menjadi tinggi setelah semua fase dilewati.

8. Pengukuran Resiliensi

Resiliensi dapat dinilai menggunakan instrument Brief Resilience Scale

(BRS) (2008). Penilaian resiliensi dibagi menjadi 3 yaitu, resiliensi tinggi jika skor

BRS 4,31-5,00, resiliensi normal jika skor BRS 3,00-4,30 resiliensi rendah jika skor

BRS 1,00-2,99. Untuk mendapatkan skor BRS menggunakan rumus.

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟
Skor BRS = 6

STIKes Indramayu
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep

Kerangka konseop merupakan suatu uraian dan visualisasi hubungan atau

kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya, atau antara variabele yang satu

dengan variable yang lain dari masalah yang diteliti (Notoatmodjo, 2018).

Kerangka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran

resiliensi pada pasien Gagal Ginjal Kronik yang menjalani Hemodialisa di RSUD

Indramayu Tahun 2023. Adapun kerangka konsep penelitian ini tergambar pada

gambar sebagai berikut :

Gambar 3.1
Kerangka Konsep penelitian
Input Proses Output
\ Pasien 1. Tinggi
Resiliensi
Hemodialisa 2. Normal
3. Rendah

B. Definisi Operasional

Definisi operasinonal bertujuan untuk memberi batasan ruang lingkup dan

pengertian variabel yang akan diteliti. Definisi operasional bermanfaat untuk

mengarahkan pengamat terhadap variabel yang bersangkutan, pengambilaan

instrumen atau alat ukur (Notoadmojo, 2018).

31
32

Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel/ Definisi Alat


Subvariabel Operasional Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Variabel

Resiliensi Suatu proses Kuesioner Melihat hasil 1. Tinggi (jika Ordinal


pada pasien adaptasi yang jawaban nilai 4,31-
Hemodialisa positif dari dalam responden 5,00)
diri pasien untuk favorable: 2. Normal (jika
mengatasi situasi Sangat Setuju nilai 3,00-
yang buruk atau “5” 4,30)
trauma yang Setuju “4” 3. Rendah (jika
menyebabkan Netral “3” nilai 1,00-
stress psikologis Tidak Setuju “2” 2,99)
yang secara Sangat Tidak
signifikan Setuju “1”
mempengaruhi Unfavorable:
pasien. Sangat setuju “1”
Setuju “2”
Netral “3”
Tidak Setuju “4”
Sangat Tidak
Setuju “5”
Subvariable

Karakteristik Usia yaitu sejak Kuesioner Melihat hasil 1. Dewasa awal Ordinal
Usia orang dilahirkan jawaban 19-40 Tahun
sampai penelitian responden 2. Dewasa tengah
ini dilaksanakan. 40-60 Tahun
3. Lansia ≥ 60
Tahun
Berdasarkan Perbedaan biologis Kuesioner Melihat hasil 1. Laki-Laki Nominal
jenis kelamin antara laki-laki dan jawaban 2. Perempuan
perempuan. responden
Berdasarkan Suatu kegiatan Kuesioner Melihat hasil 1. Tidak Sekolah Ordinal
tingkat yang dilakukan jawaban 2. SD
pendidikan pasien Hemodialisa 3. SMP
dalam 4. SMA
mengembangkan 5. Perguruan
kemampuan, sikap, Tinggi
dan bentuk tingkah
lakunya, baik untuk

STIKes Indramayu
33

Variabel/ Definisi Alat


Subvariabel Operasional Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
hidup di masa yang
akan datang.
Berdasarkan Suatu kegiatan Kuesioner Melihat hasil 1. Bekerja Nominal
pekerjaan utama yang jawaban 2. Tidak Bekerja
dilakukan pasien
hemodialisa setiap
hari untuk
memenuhui
kebutuhan hidup.
Berdasarkan Lama menderita Kuesioner Melihat hasil 1. Lama jika ≥ 1 Ordinal
lama Gagal Ginjal jawaban 24 Bulan
menderita Kronik merupakan 2. Baru jika < 24
saat sebelum Bulan
penelitian samapai (Median)
dengan saat
penelitian.

STIKes Indramayu
34

STIKes Indramayu
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rencana Penelitian

Rancangan penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam penelitian,

yakni memungkinkan pengontrolan yang maksimal dan berapa faktor yang dapat

mempengaruhi suatu hasil. Peneletian ini menggunakan metode deskriptif

kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Yakni suatu jenis penelitian yang

waktu observasi atau pengumpulan data pada variabel hanya dalam satu waktu atau

sekaligus (Nursalam, 2017).

Dalam penelitian ini memiliki satu variabel yaitu tingkat resiliensi. Tujuan

dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa tingkat resiliensi pada pasien

gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Indramayu.

B. Populasi dan sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari subjek atau objek yang diteliti tersebut

(Notoatmodjo, 2012). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien gagal

ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Indramayu dengan jumlah

populasi sebanyak 168 orang.

35
36

2. Sampel

Sampel adalah objek yang mewakili seluruh populasi yang diteliti. Teknik

pengambilannya pada penelitian ini adalah menggunakan teknik Purposive

Sampling yaitu teknik yang biasanya dilakukan menggunakan penentuan sampel

dengan pertimbangan berdasarkan tujuan tertentu (Sugiyono, 2015).

Adapun pengambilan sampel mrnggunakan rumus Slovin menurut

Sugiyono (2015) sebagai berikut :

n = 1+𝑁𝑁𝑒2

168
n = 1+168 . 0,052

168
n = 1,42 = 118

Berdasarkan hasil perhitungan dari rumus slovin di atas dengan tingkat

kesalahan 5% didapatkan hasil 118 responden. Agar karakteristik sampel tidak

menyimpang dari populasinya. Maka dalam pengambilan sampel perlu ditentukan

kriteria inklusi maupum kritetria eksklusi. Yang terpilih berdasarkan kritera inklusi

yan ditetapkan. Kriteria inklusi dan ekslusi pada penelitian ini meliputi :

a. Kriterian inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dan subjek penelitian dalam

suatu populasi target yang terjangkau dan akan ditaliti (Nursalam, 2017). Adapun

kriteria dan inklusi dalam penelitian ini adalah :

1) Pasien yang bersedia menjadi responden

2) Pasien dapat berkomunikasi dengan baik

STIKes Indramayu
37

b. Kriteria eksklusi

Kriteria ekslusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek penelitian

yang memenuhi kriteria inklusi karena berbagai sebab (Nursalam, 2017). Adapun

kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah :

1) Pasien dengan TTV tidak stabil

2) Pasien < 1 bulan atau pasien baru

C. Tempat Penelitian

Tempat penelitian ini dilaksanakan di ruang hemodialisa RSUD Indramayu.

D. Waktu Penelitian

Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – April

2024.

E. Etika Penelitian

Etika penelitian terdiri dari 4 prinsip yaitu prinsip dan manfaat, prinsip

menghargai hak asasi manusia dan prinsip keadilan. Dalam penelitian ini peneliti

tidak lupa menggunakan prinsip etik penelitian.

1. Right to self determination (hak untuk menentukan diri)

Informed consent adalah suatu bentuk persetujuan peneliti dengan cara

memberikan lembar persetujuan kepada responden. Berdasarkan penelelitian ini

responden yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian maka peneliti memberikan

lembar informed consent kepada responden sebagai bentuk kesediaan responden

STIKes Indramayu
38

dalam penelitian. Dari 168 populasi yang yang menjadi sampel penelitian yaitu 118

responden sesuai dengan rumus yang digunakan.

2. Right to privacy on dignity (hak untuk mendapatkan privasi)

Peneliti menjaga informasi terkait dengan menjaga kerahasiaan responden,

peneliti tidak dibenarkan untuk menyampaikan kepada orang lain tentang apapun

yang diketahui peneliti tentang responden diluar kepentingan penelitian. Dalam

penelitian ini identitas respoden dirahasiakan dengan menggunakan inisial (Ny. A

ataupun Tn. B) dan kode responden. Hal ini untuk kerahasiaan identitas pasien tetap

terjaga selama kegiatan penelitian berlangsung.

3. Right to anatomity and confidentially (hak untuk mendaptkan

kerahasiaan )

Right to anomymity and confidentiality merupakan suatu hak untuk

mendapatkan kerahasiaan. Pada lembar kuesioner diberikan kode tertentu yang

sudah di tentukan peneliti berupa angka dan huruf depan nama responden.

4. Right to fair treatmen (hak untuk mendapat perlakuan adil)

Dalam melakukan penelitian, peneliti tidak membeda-bedakan antara

responden satu dengan lainya. Yaitu menghargai keputusan responden dan tidak

membeda-bedakan perlakuan terhadap jenis kelamin, usia, pendidikan, dan

pekerjaan.

STIKes Indramayu
39

5. Right to to protection from discomfort and harm (Hak untuk

mendapatkan perlindungan dari ketidaknyamanan)

Righty to protection from discomfort and harm merupakan suatu etika

penelitian dimana responden berhak mendapatkan haknya atas perlindungan dari

ketidaknyamanan, dan tidak menimbulkan kerugian kepada mereka. Setelah

responden mengerti tentang maksud dan tujuan peneliti kemudian langsung

memberikan kuesioner peneliti.

F. Alat Pengumpulan Data Penelitian

Pengumpulan data merupakan suatu proses pendekatan kepada pasien

subjek dan proses pengumpulan karateristik subjek yang diperlukan dalam

penelitian (Nursalam, 2017). Alat pengumpulan data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah lembar kuesioner.

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara

memberi beberapa pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk

dijawab (Sugiyono, 2015). Berikut kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini

terdiri dari beberapa bagian yaitu:

1. Karakteristik Responden

Berisi karakteristik responden yang terdiri dari usia, jenis kelamin,

pendidikan, pekerjaan dan lamanya menjalani hemodialisa.

2. Kuesioner Brief Resilience Scale (BRS)

Kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat resiliensi pada pasien

hemodialisa menggunakan kuesioner tertutup yang disusun oleh Smith, Dalen,

STIKes Indramayu
40

Wiggins, Tooley, Chriestoper dan Bernard (2008) yaitu The Brief Resilience Scale

dengan pernyataan positif (favorable) teridiri dari pernyataan nomor 1,3,5 dengan

nilai, Sangat tidak setuju “1”, Tidak setuju “2”, Netral “3”, Setuju “4”, Sangat setuju

“5”, dan pernyataan negatif (unfavorable) terdiri dari nomor 2,4,6 dengan nilai skor

Sangat tidak setuju “5”, Tidak setuju = “4”, Netral “3” setuju “2”, Sangat setuju

“1”. Berisi dengan total 6 pertanyaan , dengan penilaian skor tinggi (4,31-5,00)

skor normal (3,00-4,30) skor rendah (1,00-2,99). Untuk memendapatkan skor BRS

menggunakan rumus :

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟
Skor BRS = 6

G. Uji Validitas dan Reabilitas

1. Uji Validitas

Validitas adalah tingkat kemampuan instrumen untuk memberikan suatu

objek yang menjadi sasaran pokok pengukuran penelitian apa yang akan diukur

(Notoatmodjo, 2018). Instrumen utama dalam penelitian ini adalah kuesioner, maka

kuesioner yang disusun harus dapat mengukur apa yang akan kita ukur

(Notoatmodjo, 2018). Penelitian ini menggunakan kuesioner Brief Resilience Scale

(BRS) diambil dari Arif Gustyawan (2019) yang telah dilakukan uji validitas Smith

dkk (2008) denan koefisien korelasi rentang 0,30 hingga 0,69. Artinya kuesioner

tersebut memiliki tingkat kevalidan yang kuat.

STIKes Indramayu
41

2. Uji Reabilitas

Uji reabilitas merupakan indeks yang menujukan suatu alat ukur dapat

dipercaya atau daapat diandalkan, yang berarti hasil menujukan pengukuran dua

kali atau lebih berhubungan dengan penggunaan alat ukur yang sama

(Notoatmodjo, 2018). Kuesioner Brief Resilience Scale (BRS) diambil dari Arif

Gustyawan (2019) dengan menggunakan metode Cornbach Alpha. Selain itu

kuesiner juga telah dilakukan uji reabilitas Smith dkk (2008) dengan nilai

konsistensi rentang antara 0,80 hingga 0,91. Artinya kuesioner tersebut realibel atau

andal.

H. Prosedur Pengumpulan Data

1. Tahap Perizinan Penelitian

Perizinan penelitian ditujukkan pada lembaga – lembaga terkait dengan

proses penelitian yaitu :

a. Peneliti mengajukan surat permohonan izin studi pendahuluan dari

institusi STIKes Indramayu ke Unit Diklat RSUD Kabupaten Indramayu.

b. Setelah mendapatkan surat balasan izin studi pendahuluan dari Unit

Diklat RSUD Kabupaten Indramayu, peneliti mendatangi Ruangan Hemodialisa

untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan penelitian dengan memberikan

surat pengantar studi pendahuluan dari Unit Diklat RSUD Kabupaten Indramayu

kepada Kepala Ruangan Hemodialisa kemudian peneliti meminta izin untuk

melakukan studi pendahuluan.

STIKes Indramayu
42

c. Peneliti mengajukan surat izin penelitian dari institusi STIKes Indramayu

ke Unit Diklat RSUD Kabupaten Indramayu.

d. Setelah mendapatkan surat balasan izin studi penelitian dari Unit Diklat

RSUD Kabupaten Indramayu, selanjutnya peneliti mendatangi Ruangan

Hemodialisa untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan penelitian dengan

memberikan surat pengantar studi penelitian dari Unit Diklat RSUD Kabupaten

Indramayu kepada Kepala Ruangan Hemodialisa kemudian peneliti meminta izin

untuk melakukan studi penelitian.

I. Penglahan Data

Pengolahan data merupakan suatu langkah yang diperlukan untuk

mempermudah penyajian data sebagai hasil yang berarti dan kesimpulan yang baik

dari data mentah penelitian (Notoatmodjo, 2012). Adapun data yang dikumpulkan

kemudian diolah dengan tahap-tahap berikut.

1. Editing

Secara umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan

isi formular atau kuesioner yang telah di isi. Dalam penelitian ini yang dilakukan

oleh peneliti adalah memeriksa kembali data responden yang diperoleh atau

dikumpulkan. Editing dilakukan setelah kuesioner sudah selesai diisi oleh

responden. Pada saat peneliti menemukan jawaban kuesioner yang tidak lengkap,

peneliti meminta responden untuk melengkapi jawaban yang belum diisi.

STIKes Indramayu
43

2. Coding

Pengkodean data adalah proses mengubah data yang terbentuk kalimat

menjadi angka atau bilangan. Peneliti memberikan kode untuk setiap item pada

lembar kuesioner. Untuk lembar kuesioner karakteristik responden, jenis kelamin

diberikan kode 1 = laki – laki, 2 = perempuan. Usia diberikan kode 1 = 19-40 tahun,

2 = 40 – 60 tahun, 3 = ≥ 60 tahun. Tingkat pendidikan responden diberi kode 1 =

Rendah (Tidak sekolah, SD), 2 Sedang (SMP, SMA), 3 = Tinggi (Diploma, S1),

pekerjaan diberi kode 1 = Bekerja, 2 = Tidak Bekerja dan lama menjalani

hemodialisa dimasukkan menggunakan jumlah bulan sesuai lama hemodialisa.

3. Data Entry

Peneliti memasukan data jawaban dari masing-masing responden yang

sudah dikode ke dalam komputer untuk melakukan analisis data dengan

menggunakan microsoft excel

4. Tabulating

Peneliti mengelompokan sesuai dengan variabel dan kategorinya guna

memudahkan dalam menganalisis. Peneliti memasukan data yang sudah diolah oleh

program komputer statistik kemudian dimasukan dalam tabel yang disajikan.

J. Analisa Data

Analisis data ialah kegiatan yang sangat penting dalam suatu penelitian,

karena dengan analisa suatu data, maka data dapat memiliki arti atau makna yang

berguna untuk memecahkan masalah penelitian (Hastono, 2020). Setelah data

terkumpul, selanjutnya peneliti melakukan analisa data. Dalam penelitian ini

menggunakan analisa data univariat (analisa deskriptip) yang bertujuan

STIKes Indramayu
44

menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian . Analia

univariat adalah suatu tabel yang menggambarkan analisa data dalam bentuk

distribusi frekuensi untuk satu variabel (Notoatmodjo, 2012). Analisi univariat

pada penelitian ini adalah menganalisa gambaran karakteristik pasien gagal ginjal

kronik yang menjalani hemodialisa menggunakan lembar kuesioner. Lembar

kuesioner tersebut terdiri atas pertanyaan-pertanyaan mengenai nama responden,

umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan dan lama menderita.

Pada umumnya analisa univariat dalam penelitian ini hanya menghasilkan

distribusi frekuensi dan presentasi dari tiap variabel. Pada tahap ini peneliti

melakukan pengukuran tingkat resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik di ruang

Hemodialisa di RSUD Indramayu dengan cara menjumlah seluruh jawaban

responden mengenai pertanyaan tingkat resiliensi, setelah mengetahui hasil

jawaban selanjutnya peneliti mengkategorikan jumlah pertanyaan tersebut.

Hasil ukur variabel dikatakan resiliensi tinggi jika nilainya 4.31-5.00,

resiliesni normal jika nilainya 3.00-4.30, dan resiliensi rendah jika nilainya 1.00-

2.99. ) dengan pernyataan positif (favorable) teridiri dari pernyataan nomor 1,3,5

dengan nilai Sangat tidak setuju “1”, Tidak setuju “2”, Netral “3”, Setuju “4”,

Sangat setuju “5”, dan pernyataan negatif (unfavorable) terdiri dari nomor 2,4,6

dengan nilai skor Sangat tidak setuju “5”, Tidak setuju “4”, Netral “3” setuju “2”,

Sangat setuju “1”.

Jumlah kuesioner pada penelitian ini sebanyak 6 pernyataan terkait tingkat

resiliesni pada pasien hemodialisa dengan cara menjumlahkan hasil jawaban dari

masing-masing pernyataan, dimana 3 pernyataan favorable dan 3 pernyataan

STIKes Indramayu
45

unfavorable. Setelah data terkumpul semua lalu diolah melalui sistem

komputerisasi menggunakan SPSS.

STIKes Indramayu
DAFTAR PUSTAKA

Antari, G. A. A., (2022). Resiliensi Pada Pasien Hemodialisis. Community of


Publishing in Nursing (COPING), 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 10 (6).
Baradero Mary, Dayrit Mary Wilfrid, Siswadi Yakobus. (2009). Seri Asuhan
Keperawatan Klien Gangguan Ginjal. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Keperawatan Medikal Bedah. Indonesia:
Elsevier.
Brunner., & Suddarth. (2015). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Edisi 12
v). Jakarta: EGC.

Hardianti, D. (2021). Hidup Dengan Hemodialisa (Pengalaman Hemodialisa Pada


Pasien Gagal Ginjal Kronik). Surabaya: Pustaka Aksara.
Hastono, S. P. (2020). Analisa Data Pada Bidang Kesehatan. Depok: Rajawali
Pers.
Indonesia Renal Registry (IRR). (2018). Program Indonesia renal registry.
[Link] [Link]
Isroin, L. (2016). Manajemen Cairan Pada Pasien Hemodialisis Untuk
Meningkatkan Kualitas Hidup. Ponorogo: Unmuh Ponorogo Press.
Jager, K. J.,Kovesedy, C., Langham, R., Rosenberg, M., Jha ., & Zoccali, c.(2019).
A single number for advocacy and communication-worldwide more tha 850
million individuals have kidney diseases. Kidney International,96(5), 1048-
1050. [Link]
Kemenkes RI. (2018). Laporan Provinsi Jawa Barat Riskesdas.
[Link]
Lemone, P., Burke, K, M., & Bauldoff, G. (2016). Buku ajar keperawatan medikal
bedah (edisi 5). Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Mailani Fitri. (2022). Pengetahuan Sel-Management dan Sel-Efficacy Pasien
Penyakit Gagal Ginjal Kronik (1st ed.). Indramayu: CV Adanu Abimata.
Maimunah, H. S. (2021). Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Ruang
Hemodialisa. Jakarta.
Munawaroh, E., & Mashudi, A, E. (2018). Kemampuan bertahan dalam tekanan
dan bangkit dari keterpurukan. CV: Pilar Nusantara.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta


Nuari, N. A., & Widayati, . (2017). Gangguan Pada Sistem Perkemihan &
Penatalaksanaan Keperawatan. Yogyakarta: Deepublish.
Nursalam. (2017). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Pane, J., & Saragih, I. S. (2020). THE RELATIONSHIP OF RESILIENCE AND
QUALITY OF LIFE PATIENT WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE WHO
UNDERGOING HAEMODIALYSIS IN RASYDA KIDNEY HOSPITAL
MEDAN. Journal of Nursing Science Update (JNSU), 8(1), 10–14.
[Link]
Pradana, D. (2013). Pengaruh Efikasi Diri Dan Resiliensi Diri Terhadap Sikap
Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Di SMK Muda Patria Kalasan.
Universitas Negri Yogyakarta: Fakultas Teknik
Rokayah, C., Novita, D., Muliani, R., & Sumbara, S. (2022). Deskripsi Ketahanan
Pasien Menjalani Hemodialisis. Jurnal Riset Kesehatan Global Indonesia, 4
(3), 581-586. [Link]
Simanjuntak, M., Sigalingging, V., Saragih, H. (2023). Gambaran Tingkat
Resiliensi Pada Paasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa
Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Journal Of Social Science
Research, 3 (5), 2807-4246
Siregar, C. (2020). Buku ajar manajemen komplikasi pasien hemodialisa.
Yogyakarta: CV Budi Utama.
Smeltzer., & Barre. (2015). Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner &
Suddarth (Edisi 8). Jakarta: EGC.
Smith, B. W., Dalen, J., Wiggins, K., Tooley, E., Chriestopher, P., & Bernard, J.
(2008). The brief resilience scale: assessing the ability to bounce back.
International journal of behavioral medicine, 15(3), 194-200.
Sugiyono. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alphabet
Sumirta, I. N., Candra, I. W., & Widana, I. P. Y. (2016). Resiliensi Pasien Gagal
Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa. Jurnal Gema Keperawatan,
9(2), 224–234.
Suryadi, D. (2018). Melenting menjadi resilien. Yogyakarta: ANDI
World Health Organization (WHO). (2019). The World Health Organization dari
[Link]
death.
LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3

SURAT PERMOHONAN
UNTUK BERPARTISIPASI SEBAGAI RESPONDEN PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Dian Ramadhan


NIM : R. 20. 01. 017
Alamat : Desa Suakasari Blok Tara,Rt 013 /
Rw 003, Kec. arahan, Kab. Indramayu, Prov. Jawa Barat

Dengan ini mengajukan dengan hormat kepada Bapak/Ibu/Saudara untuk


menjadi responden yang akan saya lakukan, dengan judul “Gambaran Tingkat
Resiliensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD
Kab Indramayu”

Penelitian tersebut untuk mengetahui “Gambaran Tingkat Resiliensi Pada


Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Indramayu”

Pada penelitian ini, Bapak/Ibu akan memberikan penilaian terhadap


pertanyaan tentang Gambaran Tingkat Resiliensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik
dalam bentuk kuesioner dalam penelitian ini bersifat suka rela dan tanpa paksaan.
Identitas dan data atau informasi yang Bapak/Ibu berikan akan dijaga
kerahasiannya. Hal yang belum dapat dipahami, dapat dikomunikasikan langung
pada peneliti.

Demikian permohonan ini, atas kesediaan dan kerjasamanya, kami


mengucapkan terimakasih.

Peneliti

Dian Ramadhana
Lampiran 4

PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN


(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama :
Jenis Kelamin :
Umur :
Pendidikan :
Alamat :
Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya telah memberikan
PERSETUJUAN
Untuk menjadi responden dan menjawab pertanyaan dan mendapat penjelasan serta
memahami sepenuhnya tentang studi pendahuluan.
Judul Penelitian : Gambaran Tingkat Resiliensi Pada Pasien Hemodialisa
Nama Peneliti : Dian Ramadhan
Dengan demikian pernyataan persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan
tanpa paksaan.

Indramayu, April 2024


Yang memberikan penjelasan, Yang membuat pernyataan

(Dian Ramadhan) ( )
Lampiran 5

KUESIONER PENELITIAN

GAMBARAN TINGKAT RESILIENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL


KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA DI RSUD INDRAMAYU

DATA DEMOGRAFI
Petunjuk pengisisan

Kuesioner ini terdiri dari berbagai pernyataan yang sesuai dengan kondisi

Bapak/Ibu/Saudara saat ini. Selanjutnya, dengan memberi tanda cheklist (√)

Bapak/Ibu/Saudara diminta untuk menjawab pada salah satu kolom yang paling

sesuai dengan kondidi saat ini. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, karena itu

isilah sesuai dengan keadaan diri Bapak/Ibu/Saudara yang sesungguhnya.

A. Biodata Responden

1. Umur : Tahun

2. Jenis Kelamin : Laki-Laki Permpuan

3. Pendidikan Terakhir : Tidak Sekolah SMP

SD SMA

Perguruan Tinggi

4. Pekerjaan : Tidak Bekerja Bekerja

5. Lama Menderita : Tahun


B. Pertanyaan Mengenai Resiliensi

Petunjuk pengisian

1. Bacalah pertanyaan dengan baik

2. Berikan tanda ceklis (√) sesuai jawaban responden pada kolom yang

disediakan

3. Berilah jawaban pada semua pernyataan yang berjumlah 6 soal

No Sangat Tidak Sangat


Pernyataan Netral Setuju
Tidak setuju Setuju Setuju

1. Saya cenderung bangkit kembali


dengan cepat setelah masa yang
sulit
2. Saya merasa sulit melewati masa
yang penuh tekanan
3. Tidak perlu waktu lama bagi saya
untuk pulih dari peristiwa yang
penuh tekanan
4. Saya merasa sulit untuk merasa
tenang kembali setelah sesuatu
yang buruk terjadi
5. Saya biasanya dapat melewati
masa sulit dengan mudah
6. Saya cenderung memerlukan
waktu yang lama untuk
mengatasi kemunduran dalam
hidup saya
Lampiran 6

KISI-KISI KUESIONER

GAMBARAN TINGKAT RESILIENSI PADA PASIEN GAGAL


GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA

Resiliensi Favourrable Unfavourable Jumlah soal

Suatu proses 1,3,5 2,4,6 6

adaptasi yang

positif dari dalam

diri individu

untuk mengatasi

situasi yang buruk

atau trauma yang

menyebabkan

stress psikologis

yang signifikan

mempengaruhi

individu.
Lampiran 7

BUKU BIMBINGAN SKRIPSI


Lampiran 8
Dokumentasi

Anda mungkin juga menyukai