PROPOSAL PENELITIAN
GAMBARAN TINGKAT RESILIENSI PADA PASIEN
GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI
HEMODIALISA DI RUANG HEMODIALISA
RSUD INDRAMAYU
Disusun sebagai syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Skripsi pada
Program Studi Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
(STIKes) Indramayu
Oleh:
DIAN RAMADHAN
NIM R.20.01.017
YAYASAN INDRA HUSADA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) INDRAMAYU
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
INDRAMAYU
2024
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
“Proposal ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber pustaka
yang menjadi rujukan dalam penyusunan proposal ini telah saya nyatakan benar.
Apabila dikemudian hari terbukti bahwa proposal ini merupakan plagiat/
pemalsuan/ penyuapan/ pertukangan maka saya siap menerima sanksi yang berlaku
di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Indramayu dengan segala risiko yang
harus saya tanggung.”
Nama : Dian Ramadhan
NIM : R.20.01.017
Tanggal : 14 Maret 2024
Tanda tangan Materai
Rp.10.000
i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Dian Ramadhan
Temat/ Tanggal Lahir : Indramayu, 08 Desember 2000
Agama : Islam
Alamat : Desa Sukasari, Blok Tara, RT/13
RW/03, Kecamatan Arahan,
Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat
Pendidikan :
STIKes Indramayu : 2020 – Sekarang
SMAN 1 Lohbener : Tahun lulus 2019
SMPN 1 Lohbener : Tahun lulus 2016
SDN 2 Sukasari : Tahun Lulus 2013
Pekerjaan : Mahasiswa
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Nama Mahasiswa : Dian Ramadhan
NIM : R.20.01.017
Judul : Gambaran Tingkat Resiliensi Pada Pasien Gagal Ginjal
Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di Ruang
hemodialisa RSUD Indramayu
Proposal ini telah disetujui dan siap untuk diseminarkan
Indramayu, 14 Maret 2024
Oleh:
Pembimbing I
Ridho Kunto Prabowo, [Link]., Ns., [Link]., [Link].M.B.
NIK. 043 213 157
Pembimbing II
Novi Dwi Irmawati, [Link]., Ns., [Link].
NIK. 043 213 158
iii
KATA PENGANTAR
Alhamduliillahirabbil’alamin, puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan
Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan
skripsi ini. Penulisan proposal penelitian ini dilakukan sebagai salah satu syarat
untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Proposal penelitian Sarjana
Keperawatan pada Program Studi Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan (STIKes) Indramayu. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan
proposa penelitian ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini.
Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada
1. Nur Rokhim Satria Nugraha, [Link] selaku Ketua Pengurus Yayasan
Indra Husada Indramayu, yang telah menjadi inspirator bagi kami.
2. Riyanto, [Link]., Ns., [Link]. selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan (STIKes) Indramayu yang telah memberikan motivasi kepada kami.
3. Novi Dwi Irmawati, [Link]., Ns., [Link]. Selaku Ketua Program Studi
Sarjana Keperawatan STIKes Indramayu dan sebagai pembimbing II yang telah
memberikan semangat kepada kami.
4. Ridho Kunto Prabowo, [Link]., Ns., [Link]. [Link].M.B. Selaku
pembimbing I yang senantiasa selalu mendidik serta mengarahkan, memberikan
motivasi, bimbingan, masukan, waktu, dan saran selama penyusunan skripsi
5. Eka Juwita Handayani, [Link].,Ns.,[Link]., dan Rd. Gita Mujahidah,
[Link]., Ns., [Link]. selaku Wali Kelas Program Studi Sarjana Keperawatan
iv
angkatan 2020 yang selalu sabar memberikan bimbingan, saran, serta motivasi
kepada anak-anaknya.
6. Seluruh dosen beserta staf karyawan Program Studi Sarjana
Keperawatan STIKes Indramayu.
7. Ayahanda dan Ibunda serta keluarga tercinta, yang tidak pernah berhenti
mendoakan dan memberikan dukungan sehingga saya bisa mencapai tahap ini.
8. Teman – teman seperjuangan di Program Studi Sarjana Keperawatan
STIKes Indramayu angkatan 2019, yang senantiasa memberikan dukungan dan
motivasi kepada peneliti.
9. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang selalu
memberikan dukungan dan motivasi dalam proses penyusunan skripsi ini. Semoga
Allah SWT senantiasa memberikan segala rahmat dan karunia-Nya. Atas segala
dukungan dan bantuan yang telah diberikan kepada peneliti.
Semoga skripsi ini diterima dan dapat dilanjutkan ke tahap penelitian.
Masukan dan saran yang membangun dari pembaca sangat diperlukan untuk
perbaikan skripsi ini.
Indramayu, 2024
Peneliti
v
DAFTAR ISI
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ................................................. i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................................. ii
LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................ iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL .............................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... iix
DAFTAR SINGKATAN ....................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xi
BAB I PENDAHUAN ........................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 4
C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian .................................................................................. 5
E. Ruang Lingkup ....................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 8
A. Konsep Gagal Ginjal Kronik .................................................................. 8
B. Hemodialisa .......................................................................................... 13
C. Konsep Resiliensi ................................................................................. 18
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ............ 31
A. Kerangka Konsep ................................................................................. 31
B. Definisi Operasional ............................................................................. 31
BAB IV METODE PENELITIAN .................................................................... 35
A. Rencana Penelitian ............................................................................... 35
B. Populasi dan sampel ............................................................................. 35
C. Tempat Penelitian ................................................................................. 37
D. Waktu Penelitian .................................................................................. 37
E. Etika Penelitian ..................................................................................... 37
vi
F. Alat Pengumpulan Data Penelitian ....................................................... 39
G. Uji Validitas dan Reabilitas ................................................................. 40
H. Prosedur Pengumpulan Data ................................................................ 41
I. Penglahan Data ..................................................................................... 42
J. Analisa Data ......................................................................................... 43
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 46
LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Stadum Penyakit Gagal Ginjal Kronis ................................................10
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian ............................................32
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Kerangka Konsep penelitian ...........................................................31
ix
DAFTAR SINGKATAN
BRS : Brief Resilience Scale
ESRD : End Stage Renal Disease
GFR : Glomerulus Filtration Rate
GGK : Gagal Ginjal Kronik
KEMENKES : Kementrian Kesehatan
LFG : Laju Filtarsi Glomerulus
PGK : Penyakit ginjal Kronik
QB : Quiff of Blood
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
WHO : Word Health Organization
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Permohonan Izin Studi Pendahuluan
Lampiran 2 Surat Balasan Izin Studi Pendahuluan
Lampiran 3 Surat Permohonan Berpartisipasi Sebagai Responden
Lampiran 4 Informed Consent
Lampiran 5 Kuesioner
Lampiran 6 Lembar Kisi-Kisi Kuesioner
Lampiran 7 Buku Bimbingan Skripsi
Lampiran 8 Dokumentasi
xi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan gangguan fungsi ginjal yang
progresif dan ireversibel dimana tubuh tidak mampu mempertahankan
keseimbangan metabolisme cairan, dan elektrolit yang menyebabkan tingginya
kadar ureum dalam darah (Brunner & Suddarth, 2015). Gagal ginjal kronik
merupakan kerusakan ginjal selama tiga bulan atau lebih yang mengakibatkan
ginjal tidak bisa mengekskresikan sisa metabolik dan mengatur keseimbangan
cairan dan elektrolit secara adekuat (LeMone, Burke & Bauldoff, 2016).
World Health Oganization (WHO) (2019) menyebutkan bahwa penyakit
ginjal kini menjadi penyebab kematian paling umum ke 10 di seluruh dunia, naik
dari peringkat sebelumnya yang berada di urutan ke 13. Angka kematian meningkat
dari 813.000 jiwa pada tahun 2000 menjadi 1,3 juta jiwa pada tahun 2019.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2018 bahwa
Indonesia menempati urutan ke-dua penyakit ginjal setelah penyakit jantung.
Sekitar 713.783 penduduk Indonesia menderita gagal ginjal. Menurut data dari
laporan provinsi Jawa Barat menjelaskan bahwa penderita gagal ginjal kronik di
Jawa Barat pada tahun 2018 mencapai 52.511 (Kemenkes RI, 2018).
Dalam skala dunia jumlah total dengan penyakit ginjal kronis (PGK), cidera
ginjal akut dan mereka yang menjalani terapi hemodialisa melebihi angka 850 juta
jiwa di seluruh dunia (Jager et al, 2019). Menurut Indonesia Renal Registry (IRR)
1
2
(2018) jumlah pasien aktif penyakit gagal ginjal kronik yang harus menjalani
hemodialisa sebanyak 132.142 dan pasien baru hemodialisa 66.433. Di Jawa Barat
pasien baru yang menjalani hemodialisa sebanyak 14.796 (Indonesia Renal
Registry, 2018).
Penanganan dan pengobatan pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) diperlukan
seumur hidup melalui Hemodialisa atau Dialisis. Hemodialisa merupakan treatmen
yang dibutuhkan untuk proses pembuangan limbah dalam darah. Pasien yang
menjalani terapi biasanya akan dijadwalkan 2-3 kali dalam seminggu dengan durasi
3-4 jam. Terapi ini dilakukan sampai pasien melakukan operasi pencakokan ginjal
baru (Maemunah & Hutahean, 2021).
Pasien hemodialisa juga dapat menyebabkan adanya gangguan serta
dampak pada keadaan fisik, ekonomi, sosial serta psikologis. Masalah tersebut akan
beresiko terhadap penurunan kualitas hidup pada pasien hemodialisa. Sehingga
pada pasien hemodialisa dibutuhkan kemampuan bertahan dalam menghadapi
situasi yang sulit ataupun resiliensi (Simanjuntak et al, 2023).
Resiliensi merupakan proses adaptasi dalam menghadapi kesulitan, trauma,
tragedi atau ancaman. Resiliensi sangat penting dalam membantu individu
mengatasi berbagai kesulitan yang terjadi. Artinya dengan meningkatkan resiliensi
maka individu mampu untuk mengatasi berbagai kesulitan. Resiliensi juga
mempengaruhi kesehatan fisik dan kesehatan psikologis (Suryadi, 2019).
Durasi hemodialisa merupakan salah satu faktor terkait yang berhubungan
dengan resiliensi. Semakin lama pasien menjalani hemodialisa, maka resiliensinya
akan semakin menurun. Hal ini mungkin berkaitan dengan semakin lama seseorang
STIKes Indramayu
3
mengalami gagal ginjal maka potensi komplikasi akibat penyakit dan perburukan
gejala juga semakin tinggi. (Antari, 2022).
Dampak dari kurangnya resiliensi ini dapat membawa pasien Gagal Ginjal
Kronik (GGK) kekeadaan dimana seorang individu akan mudah merasa patah
semangat dan kurang mampu beradaptasi dalam mengahadapi perubahan yang
diakibatkan dari penyakitnya. Mereka akan selalu menyalahkan diri sendiri, orang
lain atau bahkan menyalahkan tuhan-NYA karena penyakit yang di deritanya, ini
mungkin akan mempengaruhi kualitas hidupnya (Pane et al, 2020).
Tujuan resiliensi yaitu mendorong semangat pasien agar mampu bertahan
pada situasi sulit. Resiliensi menjadi hal utama untuk membangkitkan semangat
pada pasien yang menjalani hemodialisa (Simanjuntak et al, 2023). Menurut hasil
penelitian yang dilakukan oleh Rokayah (2022) di dapatkan sebanyak 64 pasien
(51,2%) beresiliensi rendah dengan sampel 125 responden tentang resiliensi pada
pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang menjalani Hemodialisa di RS AL-Ihsan
Kabupaten Bandung.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 10 – 18
Januari 2024 di ruang hemodialisa RSUD Indramayu didapatkan data jumlah pasien
yang menjalani hemodialisa pada bulan Oktober – Desember 2023 sebanyak 168
pasien. Berdasarkan hasil wawancara dengan 12 orang pasien hemodialisa di ruang
hemodialisa RSUD Indramayu diperoleh sebanyak 6 (50%) orang memiliki
resiliensi rendah. Sebanyak 5 (42%) orang memiliki resiliensi normal. Dan
sebanyak 1 (8%) orang memiliki resiliensi tinggi.
STIKes Indramayu
4
Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Gambaran Tingkat Resiliensi Pada Pasien Gagal Ginjal
Kronik yang menjalani Hemodialisa di RSUD Indramayu”
B. Rumusan Masalah
Gagal ginjal kronis merupakan gangguan fungsi ginjal yang progresif dan
ireversibel dimana tubuh tidak mampu mempertahankan keseimbangan
metabolisme cairan, dan elektrolit yang menyebabkan tingginya kadar ureum dalam
darah. Penanganan dan pengobatan pasien GGK diperlukan seumur hidup melalui
Hemodialisa atau dialisis. Kegiatan ini akan menimbulkan banyak permasalahan
dan komplikasi. Salah satu permasalahan mungkin terjadi pada seseorang yang
melakukan hemodialisa adalah ketahanan diri yang rendah. Durasi hemodialisa
merupakan salah satu faktor terkait yang berhubungan dengan resiliensi. Semakin
lama pasien menjalani hemodialisa, maka resiliensinya akan semakin menurun. Hal
ini mungkin berkaitan dengan semakin lama seseorang mengalami gagal ginjal
maka potensi komplikasi akibat penyakit dan perburukan gejala juga semakin
tinggi..
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah belum diketahuinya gambaran
tingkat resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di
RSUD Indramayu. Sehingga pertanyaan dalam penelitian ini adalah ”Bagaimana
gambaran kejadian tingkat resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani
hemodialisa di RSUD Indramayu”.
STIKes Indramayu
5
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran
tingkat resiliensi pada pasien yang menjalani hemodialisa di RSUD Indramayu.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah :
a. Mengetahui gambaran tingkat resiliensi di ruang hemodialisa RSUD
Indramayu berdasarkan jenis kelamin
b. Mengetahui gambaran tingkat resiliensi di ruang hemodialisa RSUD
Indramayu berdasarkan usia
c. Mengetahui gambaran tingkat resiliensi di ruang hemodialisa RSUD
Indramayu berdasarkan pendidikan
d. Mengetahui gambaran tingkat resiliensi di ruang hemodialisa RSUD
Indramayu berdasarkan Pekerjaan
e. Mengetahui gambaran tingkat resiliensi di ruang hemodialisa RSUD
Indramayu berdasarkan lamanya menjalani hemodialisa.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada perawat
dan rumah sakit tentang data pasien hemodialisa yang mengalami resiliensi rendah
dan memberikan dukungan, motivasi dan pendampingan untuk meningkat kualitas
hidup pada pasien yang menjalani hemodialisa.
STIKes Indramayu
6
2. Bagi Insitusi Pendidikan Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah bahan kepustakaan serta
pengetahuan mahasiswa mengenai gambaran tingkat resiliensi pada pasien
hemodialisa. hal ini diharapkan dapat memicu institusi pendidikan menciptakan
penelitian-penelitian lain yang dapat mendukung dan menguatkan hasil penelitian-
penelitian sebelumnya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber dalam melakukan penelitian
lebih lanjut tentang tingkat resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani
hemodialisa.
4. Bagi Responden
Manfaat yang bisa didapat oleh responden adalah responden dapat
mengetahui terkait resiliensi dan bagaimana cara meningkatkan resiliensi, dimana
resiliensi sendiri dapat menjadi salah satu upaya rehabilitatif dalam pemulihan
kondisi psikologis pasien hemodialisa. Upaya ini selain mudah dilakukan juga tidak
memerlukan keahlian khusus dalam menjalankan atau melakukannya.
E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini meneliti tentang gambaran tingkat
resiliensi pada pasien hemodialisa di RSUD Indramayu, metode penelitian yang
digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah penderita
gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Indramayu dengan
jumlah populasi 168 pasien. Pengambilan sampel dalam penellitian ini yaitu
puposive sampling di ruang hemodialisa RSUD Indramayu, adapun rumus yang
STIKes Indramayu
7
digunakan dalam penelitian ini yaitu rumus slovin dengan jumlah sampel pada
penelitian ini sebesar 118 responden. Analisa data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah analisa univariat.
STIKes Indramayu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Gagal Ginjal Kronik
1. Definisi Gagal Ginjal Kronik
Gagal ginjal kronik (GGK) diartikan sebagai gagalnya fungsi ginjal
terutama di unit nefron yang berlangsung perlahan-lahan karena penyebab yang
berlangsung lama, menetap dan mengakibatkan penumpukan sisa metabolik atau
toxic uremic, hal ini menyebabkan ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan seperti
biasanya sehingga menimbulkan gejala sakit (Black & Hawks, 2014).
Gagal ginjal kronik atau juga bisa disebut penyakit renal tahap akhir
merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan ireversibel, dimana
kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan
cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen
lain dalam darah) yaitu adanya urea atau produk buangan nitrogen lain dalam
jumlah berlebih yang ada dalam darah. Penurunan fungsi ginjal progresif mengarah
pada penyakit tahap akhir juga kematian (Smeltzer & Barre, 2015).
2. Etiologi Gagal Ginjal Kronik
Penyebab utama dan terbesar PGK adalah Nefropati Diabetik (52%),
hipertensi (24%), kelainan bawaan (6%), asam urat (1%), lupus (1%), dan penyakit-
penyakit lainnya. Secara global, penyebab terbesar PGK jatuh pada penyakit
turunan yaitu Diabetes Mellitus. Sedangkan di Indonesia sendiri, beberapa tahun
terakhir ini hipertensi adalah penyebab terbesar terjadinya PGK dimana
8
9
sebelumnya hingga akhir tahun 2000, penyebab terbanyak dari PGK adalah
Glomerulonefritis. PGK merupakan komplikasi dari beberapa penyakit baik dari
ginjal maupun penyakit umum diluar ginjal (Mailani, 2022).
3. Patofisiologi Gagal Ginjal Kronik
Patogenesis GGK melibatkan deteriorasi dan kerusakan nefron dengan
kehilangan bertahap fungsi ginjal. Oleh karena GFR total menurun dan klirens
menurun, maka kadar serum ureum nitrmogen dan kreatinin meningkat.
Menyisakan nefron hipertrofi yang berfungsi karena harus menyaring larutan yang
lebih besar. Konsekuensinya adalah ginjal kehilangan kemampuanya untuk
mengonsentrasikan urine dengan memadai. Untuk terus mengekskresikan larutan,
sejumlah besar urine encer dapat keluar, yang membuat klien rentan terhadap
deplesi cairan. Tubulus perlahan-lahan kehilangan kemampuanya untuk menyerap
kembali elektrolit. Kadang kala, akibatnya adalah pengeluaran garam, dimana urine
berisi sejumlah besar natrium, yang mengakibatkan poliuri berlebih.
Oleh karena gagal ginjal berkembang dan jumlah nefron yang berfungsi
menurun, GFR total menurun lebih jauh. Dengan demikian tubuh menjadi tidak
mampu membebaskan diri dari kelebihan air, garam, dan produksi sisa lainya
melalui ginjal. Ketika GFR kurang dari 10 sampai 20 ml/menit, efek toksin uremia
pada tubuh menjadi bukti. Jika penyakit tidak diobati dengan dialisis transplantasi,
hasil ESRD adalah uremia dan kematian (Lemone, Burke, & Bauldoff, 2016).
STIKes Indramayu
10
4. Klasifikasi Stadium Gagal Ginjal
Siregar (2020) mengatakan bahwa penyakit Gagal Ginjal Kronik (GGK)
diklasifikasikan sebagai berikut:
Tabel 2.1
Stadum Penyakit Gagal Ginjal Kronis
GFR Penjelasan
Stadium
(ml/mnt/1,73m2)
Stadium 1 ≥90 Rusaknya ginjal dengan GFR
normal
Stadium 2 60-89 Kerusakan ginjal dengan
penurunan GFR ringan
Stadium 3 30-59 Kerusakan ginjal dengan
penurunan GFR sedang
Stadium 4 15-29 Kerusakan ginjal dengan
penurunan GFR berat
Stadium 5 <15 Gagal ginjal
5. Manifestasi Gagal Ginjal Kronik
Manifestasi klinik yang dialami penderita gagal ginjal kronik pada stadium
paling awal, renal reverse atau kehilangan daya cadang ginjal mulai terjadi. Laju
Filtrasi Glomerulus (LFG) masih dalam keadaan normal dan meningkat. Secara
perlahan, penurunan fungsi nefron terjadi secara progresif ditandai dengan
peningkatan urea dan kreatinin serum. Saat LFG sebesar 60% masih belum
merasakan keluhan apapun, hanya peningkatan kadar urea dan kreatinin serum.
Berdasarkan laju filtrasi glomerulus sebesar 30% maka keluhan seperti
nokturia, badan terasa lemah, mual, pengurangan nafsu makan dan menurunya berat
badan mulai terasa. Ketika LFG mencapai <30% dapat terlihat tanda dan gejala
uremia nyata, seperti anemia, peningkatan tekanan darah, mual dan lainya, dan saat
STIKes Indramayu
11
LFG berada pada presentase 15% terjadi gejala dan komplikasi serius seperti
dialisis dan transplantasi ginjal (Mailani, 2022).
6. Komplikasi Gagal Ginjal Kronik
Berbagai komplikasi muncul dari gangguan fungsi ginjal, tergantung pada
tingkat kerusakan nefron. Menurut Isroin (2016) komplikasi potensial gagal ginjal
kronik yang memerlukan pendekatan kolaboratif dalam perawatan mencakup :
a. Hiperklamia, akibat penurunan ekresi, asidosis metabolik, katabolisme
dan masukan diit berlebih.
b. Perikarditis, efusi perikardial dan pamponade jantung akibat retensi
produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
c. Hipertensi, akibat retensi cairan dan natrium serta mal fungsi sistem renin
angiotensin, aldosteron.
d. Anemia, akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah
merah, perdarahan gastrointestinal.
e. Penyakit tulang serta klasifikasi metastatik akibat retensi fosfat.
7. Pemeeriksaan Penunjang Gagal Ginjal kronik
Siregar (2020) menyatakan bahwa untuk menetapkan penurunan fungsi
ginjal diprlukan tes diagnostik dan laboratorium seperti berikut:
a. Pemeriksaan darah, ini dilakuan untuk mengukur kadar kreatinin atau
juga urea yang ada di dalam tubuh.
STIKes Indramayu
12
b. Pemeriksaaan urin, ini dilakukan untuk mengetahui kondisi ginjal.
Analisa kimia merupakan bagian dari proses pemeriksaan urin untuk mengetahui
protein, kreatinin, gula, dan keton. Untuk melihat struktur ginjal dan umtuk
mengetahui apakah ada penyumbatan pada saluran kemih.
c. Biopsi ginjal, untuk mengambil sampel kecil pada jaringan ginjal yang
bertujuan untuk mkendiagnosis radang ginjal.
d. Pielogram intravena, dilakukan untuk mengetahui kelainan pada sistem
perkemihan.
e. Angiografi dan venogravi pada ginjal, untuk memeriksa kondisi
pembuuh darah.
f. Foto polos abdomen, untuk mengetahui sistem abdomen seperti ginjal.
g. pemindaian ultrasound.
h. Biokimiawi, merupakan pemeriksaan primer dari pemeriksaan fungsi
ginjal yaitu ureum dan kreatinin plasma. Perlu juga pemeriksaan kadar elektrolit
untuk mengetahui status cairan dalam ginjal.
i. Urinalis, pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi atau
mendiagnosis penyakit serta untuk memantau kondisi kesehatan dan fungsi ginjal.
j. Ultrasonografi ginjal, gambaran dari ultrasonografi dapat memberikan
informasi yang bisa membantu dalam menegakan diagnosa gagal ginjal. Pada
inidividu yang mengalami gagal ginjal biasanya akan menunjukan adanya obstuksi
pada ginjal. Selain itu, ukuran dari ginjal pun akan terlihat.
STIKes Indramayu
13
8. Penatalaksanaan Gagal Ginjal Kronik
Menuru Hardianti (2021). Penatalaksanaan gagl ginjal kronik dapat dibagi
menjadi 2 tahap, yaitu: tindakan konservatif dan diaslisis atau transplantasi ginjal.
1. Tindakan konservatif
Tujuan dari pengobatan ini adalah untuk meredakan atau memperlambat
gangguan fungsi ginjal progresif. Seperti pengaturan diet protein, kalium natrium
dan cairan.
2. Dialisis dan transplatasi ginjal
Dialisis dapat digunakan untuk mempertahankan pasien dalam keadaan
klinis yang optimal sampai tersedia donor ginjal. Penyakit ginjal tahap akhir harus
menggunakan terapi mengganti ginjal sebagai pilihan untuk mempertahankan
fungsi tubuh. Terapi pengganti ginjal biasanya berupa transplantasi ginjal atau
dialisis yang terdiri dialisis peritoneal dan hemodialisa.
B. Hemodialisa
1. Definisi Hemodialisa
Hemodialisa merupakan tindakan yang dilakukan dengan cara mengalirkan
darah dari dalam tubuh untuk dialirkan kedalam mesin dialisis untuk dilakukan
proses penyaringan partikel sisa metabolisme menggunakan proses hemofiltrasi.
Cara kerja hemodialisa yaitu mengalirkan darah dari dalam tubuh kedalam mesin
dializer (tabung ginjal buatan) yang terdiri dari 2 kompartemen yang terpisah yaitu
STIKes Indramayu
14
kompartemen darah dan kompartemen dialisat yang dipisahkan membran semi
permeabel untuk membuang sisa-sisa metabolisme (siregar, 2020).
Hemodialisa adalah pengalihan darah pasien dari tubuhnya melalui dializer
yang terjadi secara difusi dan ultrafiltrasi, kemudian darah kembali lagi kedalam
tubuh pasien. Hemodialisa memerlukan akses ke sirkulasi darah pasien, suatu
mekanisme untuk membawa darah pasie ke dializen (tempat terjadi pertukaran
cairan, elektrolit ,dan zat sisa tubuh) serta dializer (Baradero, Dayrit, & Yakobus,
2009).
2. Indikasi Hemodialisa
Hemodialisa merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan
cairan dan produk limbah dari dalam tubuh, ketika ginjal tidak mampu
melaksanakan proses tersebut. Hemodialisa digunakan untuk mempertahankan
kehidupan dan kesejahteraan sampai fungsi ginjal pasien pulih kembali. Metode ini
mencangkup hemodialisa, hemofiltrasi, dan peritonial dialisis. Hemodialisa dapat
dilakukan pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan, untuk mencegah
kerusakan permanen atau menyebabkan kematian (Hardianti, 2021).
3. Prinsi-Prinsip Hemodialisa
Tujuan hemodialisa adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksin
dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan. Pada hemodialisa, aliran
darah yang penuh dengan toksin dan limbah nitrogen dialihkan dari tubuh pasien
ke dializer tempat darah tersebut dibersihkan dan kemudian di kembalikan lagi ke
tubuh pasien. Ada tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisa, yaitu: difusi,
osmosis dan ultrafiltrasi (Smeltzer & Bare, 2015).
STIKes Indramayu
15
4. Proses Hemodialisa
Tahap awal proses hemodialisis dimulai dengan mengalirkan darah dari
tubuh pasien kedalam mesin hemodialisis (dializer). Mesin hemodialisis digunakan
untuk menyiapkan dialisat, mengalirkan darah melalui dialisat dan membran semi
permeabel. Tekanan darah pasien dapat mengalirkan melalui pompa darah dengan
kecepatan aliran darah atau Quiff of blood (QB) dimana kecepatan darah yang
direkomendasikan sekitar 200 sampai 400 ml/menit.
Heparin dimasukan kedalam jalur arteri secara berkesinambungan melalui
infus lambat untuk mencegah pembekuan dara, mencegah masuknya udara pada
bekuan darah dan mencegah gumpalan memasuki kembali aliran darah pasien.
Mesin hemodialisis modern dilengkapi dengan monitor dan alarm dengan berbagai
parameter. Pada mesin hemodialisa terdapat alat dialiser untuk membersihkan dan
menyaring darah. Dialiser terdiri dari dua bagian yaitu untuk dialirkan darah dan
dialisat pada sisi berlawanan. Darah bergerak melaewati dialiser lalu berdifusi
dengan aliran dialisat secara tetap, sehingga dapat mempertahankan gradien
konsentrasi antara dua kompartemen dan memberikan efesiensi yang maksimal
dari pemindaian larutan.
Pemindahan larutan dipengaruhi oleh komposisi dialisat, karakteristik dan
ukuran membran pada mesin hemodialisis, dan kecepatan aliran darah dan larutan.
Selama hemodialisis keseimbangan darah dan partikel yang disaring dicapai dengan
cara difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi. Sistem dialisis mengiris kembali pembuluh
darah dengan 0,9 NaCl sebelum terhubung sistem sirkulasi darah pasien. Setelah
dilakukan hemodialisis darah pasien yang sudah dibersihkan dialirkan kembali
STIKes Indramayu
16
melalui akses vaskular lalu masuk kedalam tubuh dialisat dikeluarkan dengan
melalui drainase (Nuari & Widayati, 2017).
5. Waktu penatalaksanaan
Frekuensi tindakan hemodialisa berbeda-beda untuk setaip pasien
tergantung fungsi ginjal yang masih berfungsi. Pasien rata-rata melakukan terapi
hemodialisa sebanyak 2-3 kali dalam seminggu, dan waktu pelaksanaanya 3-4 jam
setiap terapi. Terapi hemodialisa dapat digunakan pada pasien dalam jangka pendek
atau jangka panjang tergantung kesehatanya. Terapi hemodialisa jangka pendek
dapat dilakukan mengatasi kondisi akut contohnya keracunan, penyakit jantung
over load, cairan tapi tidak disertai fungsi ginjal, terapi jangka pendek ini dapat
dilakukan dalam beberapa hari hingga beberapa minggu. Terapi hemodialisa jangka
panjang dilakukan pada pasien GGK pada stadium akhir atau End Stage Renal
Disease (ESRD) (Siregar, 2020).
6. Efek Samping Hemodialisa
Menurut Isroin (2016) ada efek samping dalam hemodialisa yaitu sebagai
berikut:
a. Penyakit kardiovaskuler, hipertensi merupakan salah satu faktor
penting dalam menimbulkan ateroklerosis, keadaan ini menyebabkan insiden
penyakit kardiovaskuler dan serebrovaskuler pada pasien yang menjalani
hemodialisa.
b. Kelainan fungsi seksual, penderita gagal ginjal kronik yang menjalani
hemodialisa akan mengalami penurunan fungsi seksual, baik pencapaian orgasme,
STIKes Indramayu
17
frekuensi, dan lamanya ereksi. Hal ini disebabkan oleh faktor psikologis dan toksin
uremia.
c. Kelainan tulang dan paratiroid, penyakit tulang disebabkan karena
aluminium yang ada di dalam dialisat dan karena gangguan metabolisme vitamin
D. Gangguan vitamin D menyebabkan meningkatnya hormon paratiroid yang
merupakan toksin uremia. Tanda kelainan tulang antara lain sakit pada tulang dan
fraktur patologis.
d. Kelainan neurologis, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan
sistem saraf pusat pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani
hemodialisa yaitu ensifalitis metabolik, dimensia dialisis, karena intoksikasi
aluminium, penurunan itelektual progresif, aterosklerosis menyebakan celebro
vaskuler asiden dan perdarahan otak.
e. Anemia, anemia pada penderita penyakit Gagal ginjal Kronik (GGK)
disebabkan oleh produksi eritropeitin yang tidak adekuat oleh ginjal.
f. Kelainan gastrointestinal, Penderita Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang
menjalani hemodialisa sering mengalami gangguan saluran cerna, termasuk
gastritis, perdarahan, ulkus, obstruksi saluran bagian bawah dan lain-lain.
g. Gangguan metabolis kalsium, akan menyebabkan osteodistrofi renal
yang menyebabkan nyeri tulang dan fraktur.
h. Infeksi, tromboisi fistula dan pembentukan aneurisma juga terjadi pada
fistula arteriovenosa.
STIKes Indramayu
18
7. Komplikasi Hemodialisa
Komplikasi yang terjadi Menurut Siregar, (2020) yaitu sebagai berikut:
a. Hipotensi, terjadi selama proses hemodialisa berlangsung, dimana pada
saat cairan dikeluarkakn dari dalam tubuh.
b. Emboli udara, emboli udara merupakan koplikasi yang jarang terjadi,
bisa akan terjadi ketika udara masuk pada sistem vaskuler pasien.
c. Nyeri dada, bisa timbul karena penurunan pCO2 dengan terjadinya
sirkulasi darah diluar tubuh.
d. Keseimbangan dialisis terganggu akibat perpindahan cairan serebral
dapat menyebabkan serangan kejang.
C. Konsep Resiliensi
1. Pengertian Resiliensi
Resiliensi merupuakan sifat tidak berwujud yang memungkinkan orang
untuk bangkit kembali dari kesulitan dan muncul lebih kuat dari sebelumnya. Hal
ini disebabkan oleh fakta bahwa seseorang akan membiarkan hambatan atau
kegagalan terjadi yang akhirnya nanti mencari cara untuk mengatasinya. (Suryadi,
2018).
Menurut Munawaroh dan Mashudi (2018), resiliensi merupakan kumpulan
reaksi kognitif, emosional, atau perilaku yang dapat beradaptasi terhadap adversitas
akut atau kronis yang sifatnya tidak biasa ataupun umum. Respon-respon tersebut
bisa dipelajari dalam jangkauan semua orang. Meskipun ada banyaknya faktor yang
dapat mempengaruhi perkembangan resiliensi, namun satu yang terpenting adalah
STIKes Indramayu
19
”sikap‟ atau “attitude‟ terhadap adversitas yang dialami atau dihadapi. Respon dari
individu akan lebih diperkuat oleh lingkungan yang mendukung untuk resiliensi,
kemampuan yang dibutuhkan untuk mengatasi hambatan setiap hari, dan kapasitas
untuk menghadapi kesulitan yang tidak diinginkan yang mungkin timbul di
kemudian hari depan.
2. Sumber-Sumber Pembentukan Resiliensi
Suryadi (2018) menjabarkan sumber pembentuk resiliensi memiliki tiga
sumber yaitu I have, I am, dan I can. Dengan demikian, kalo hanya memiliki satu
faktor tidak akan membantu anda menjadi seorang yang resilien, melainkan harus
ditopang oleh ketiga aspek tersebut.
a. Sumber I have (dukungan eksternal)
Faktor I have Merupakan suatu dukungan eksternal yang dimiliki oleh
individu. Hubungan saling percaya dalam keluarga, terutama dengan orang tua,
teman, atau kenalan dekat lainnya, dapat berfungsi sebagai sumber dukungan
eksternal. Ketika orang-orang, terutama orang tua, merasa nyaman dan
diperhatikan, hubungan saling percaya dapat berkembang. Orang dapat secara
terbuka mendiskusikan masalah mereka dengan orang yang dapat mereka percayai.
Jenis dukungan eksternal berikutnya adalah Ketersediaan seseorang dengan siapa
orang tersebut dapat mendiskusikan masalah dan didorong untuk
menyelesaikannya sendiri.
b. Sumber I am (pandangan, attitude, belief individu mengenai diri
sendiri)
STIKes Indramayu
20
Faktor I am merupakan pandangan, attitude, belief individu mengenai diri
sendiri, dan masalahnya. Individu yang resilien berpikir baik tentang dirinya.
Individu yang resilien juga dapat mempertahankan ketenangan mereka dalam
menghadapi kesulitan. Hal ini juga diantisipasi dari orang-orang yang resilien untuk
dapat tetap tenang dalam menghadapi kesulitan. Hal ini juga diharapkan dari orang-
orang yang resilien untuk berempati dan mampu membantu orang lain dalam
menyelesaikan masalah mereka. Selain itu, individu yang resilien percaya bahwa
orang lain menghormati mereka. Individu resilien memiliki pandangan positif
mengenai masalah yang terjadi dan selalu percaya bahwa di setiap masalah pasti
ada jalan keluarnya.
c. Sumber I can (untuk mengkomunikasikan seluruh pikiran dan perasaan
yang dialami)
Faktor I can merupakan kapasitas seseorang untuk mengekspresikan semua
ide dan emosi mereka dan untuk mendiskusikan strategi pemecahan masalah
dengan orang lain yang dapat diandalkan. Selain itu, sumber I can juga dapat
berasal dari kapasitas orang untuk memahami suatu masalah, melihatnya dari
semua sudut, mengidentifikasi akar penyebab masalah, dan berpikir sejenak
sebelum bertindak.
Suryadi (2018) juga menambahkan bahwa setiap orang dengan resiliensi
menerima empat keuntungan, yaitu sebagai berikut :
a. Overcoming (Mengatasi Kesengsaraan)
Individu kadang-kadang menghadapi kesulitan dan masalah dalam hidup
yang pasti menyebabkan stres. Individu membutuhkan resilien untuk melewati
STIKes Indramayu
21
tantangan mereka. Hal ini dapat dicapai dengan memeriksa dan mengubah sudut
pandang individu agar lebih positif dan dengan meningkatkan kemampuan untuk
diri kita sendiri. Oleh karena itu, bahkan dalam menghadapi berbagai tantangan
hidup, kita dapat tetap terinspirasi, terlibat, produktif, dan gembira.
b. Streeng Through (Menghadapi Masalah)
Setiap individu membutuhkan resiliensi untuk menghadapi msalah,
tekanan, dan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupannya. Orang yang resilien
akan menggunakan hal-hal dalam dirinya sendiri untuk mengatasi masalah yang
ada tanpa harus merasa terbebani dan bersikap negatif terhadap kejadian tersebut.
Orang yang resilien dapat mengendalikan dirinya dalam menghadapi masalah
selama hidupnya.
c. Bounching Back (Menimbulkan tingkat stres tinggi atau kejadian
traumatik)
Hal-hal yang menimbulkan tingkat stres tinggi atau kejadian bersifat
traumatik memerlukan tingkat resiliensi yang lebih tinggi dalam mengendalikan
diri. Kehilangan pekerjaan, perceraian, atau kematian yang disayangi dapat
memberikan kondisi buruk pada individu. Cara mereka beresiliensi dengan
melakukan tindakan yang bertujuan mengatasi keterpurukan tersebut. Mereka
memiliki keyakinan yang kuat bahwa dapat mengendalikan hasil dari kehidupan
mereka dan mampu kembali ke kehidupan normal melalui kualitas hubungan
individu tersebut dengan orang lain.
d. Reaching Out (mengatasi pengalaman-pengalaman negatif)
STIKes Indramayu
22
Selain berguna untuk mengatasi pengalaman-pengalaman negatif atau stres
yang dialami biasanya resiliensi juga berguna untuk mendapatkan pengalaman
hidup lebih bermakna dan berkomitmen dalam memperoleh pembelajaran sekaligus
pengalaman baru. Individu yang melakukan hal ini dapat dengan tepat
memperkirakan resiko yang terjadi, mengetahui diri sendiri dengan baik, dan
menemukan tujuan sekaligus makna hidupnya.
3. Aspek-Aspek Resiliensi
Munawaroh dan Mashudi (2018) menyebutkan bahwa ada tujuh aspek yang
bisa membentuk resiliensi, yaitu:
a. Pengaturan emosi (emotion regulation)
Pengaturan emosi merupakan kemampuan untuk tetap tenang dan mampu
mengelola emosi dalam kondisi yang penuh tekanan yang terjadi dalam diri
individu. Ekspresi emosi berupa emosi negative ataupun positif yang dilakukan
merupakan tindakan yang sehat dan konstruktif. Kemampuan regulasi yang baik
dalam diri individu dapat mempermudah individu memecahkan berbagai masalah
karena individu akan dapat mengendalikan perasaan negative dalam dirinya, selain
itu regulasi penting untuk menjalin hubungan interpersonal. Individu yang resilien
menggunakan serangkaian keterampilan yang telah dikembangkan untuk
membantu mengontrol emosi, atensi, dan perilakunya.
b. Pengendalian gerak (Implused control)
Pengendalian gerak merupakan kemampuan mengendalikan keinginan,
tekanan, dorongan yang muncul dari dalam diri. Individu yang memiliki
keterampilan mengendalikan impuls yang rendah biasanya cenderung cepat
STIKes Indramayu
23
mengalami perubahan emosi yang berdampak pada pengendalian pikiran dan
perilakunya sehingga menampilkan perilaku mudah marah, kehilangan kesabaran
dan perilaku agresif. Akibat perilaku tersebut menimbulkan orang-orang di
sekitarnya merasa kurang nyaman sehingga berdampak pada intreraksi soaisl
individu tersebut.
c. Optimis (Realistic optimism)
Individu yang memiliki harapan di masa depan yang akan datang dan
memiliki kepercayaan untuk mewujudkan individu yang memiliki sikap resilien
adalah individu yang optimis. Individu meyakini bahwa segala sesuatu dapat
berubah menjadi lebih baik. Individu memiliki keinginan dan harapan terhadap
masa depan dan percaya bahwa bisa menentukan arah kehidupannya dibandingkan
orang yang pesimis.
d. Empati (Empathy)
Kemampuan individu dalam membaca dan memahami kondisi emosiaonal
dan psikologis orang lain, individu yang resilien akan mampu memahami perasaan
maupun pikiran orang lain. Individu tersebut biasanya menyatakan kepeduliannya
terhadap orang lain berupa tindakan dan ucapan atau kata-kata. Selain itu, seorang
individu juga dapat merasakan ketidaknyamanan dan menderita karena orang lain,
dengan adanya hal tersebut membuat individu ingin melakukan sesuatu untuk
mengakhiri penderitaan atau berbagai penderitaan yang dirasakan dengan orang-
orang disekitarnya.
e. Analisis penyebab masalah (causal analysis)
STIKes Indramayu
24
Causal Analysis merujuk pada kemampuan individu untuk mengidentifikasi
secara akurat dari permasalahn yang sedang dihadapi. Salah satu keterampilan
tersebut adalah apabila seseorang memiliki kemampuan untuk menilai suatu
permasalahan, menganalisis penyebab munculnya masalah, serta mengetahui cara
pemecahannya. Individu yang resilien diharapkan mampu mengetahui penyebab
masalah yang terjadi pada dirinya secara akurat. Individu yang tidak mampu
mengidentifikasi penyebab dari permasalahan yang sedang dihadapi akan terus-
menerus berbuat suatu kesalahan yang sama.
f. Efikasi diri (Self-efficacy)
Keyakinan individu akan kemampuan yang dimilikinya dalam menghadapi
dan memecahkan masalah secara efektif. Self efficacy adalah hasil dari pemecahan
masalah yang berhasil. Karakteristik individu resilien berupa kemampuan
mengetahui bahwa dirinya merupakan orang yang penting dan merasa bangga
terhadap dirinya atas apa yang sudah dilakukan dan dicapai. Ketika seseorang
individu mempunyai suatu masalah dalam hidupnya, individu tersebut akan
bertahan dan mengatasi masalah tersebut dengan keprcayaan diri dan harga diri
yang dimiliki.
g. Pencapaian (Reaching out)
Kemampuan individu dalam mengambil hikmah dari setiap masalah yang
terjadi pada dirinya. Individu yang memiliki sikap resilien dapat melakukan tiga hal
dengan baik, yaitu dapat menganalisis risiko dari suatu masalah, memahami dirinya
dengan baik dan dapat menemukan makna serta tujuan hidup.
STIKes Indramayu
25
4. Individu Resilien
Munawaroh dan Mashudi (2018) mengatakan bahwa individu yang
memiliki kemampuan resilien yang baik dalam diri individu sebagai sifat,
menurutnya sifat ini merupakan kapasitas tersembunyi yang muncul untuk
melawan kehancuran individu dan melindungi individu dari segala rintangan
kehidupan. Individu yang mempunyai intelegasi yang baik, mudah beradaptasi,
sosial temperamen, dan berkepribadian yang menarik pada akhirnya memberikan
kontribusi secara konsisten pada penghargaan diri sendiri, kompetensi, perasaan
bahwa ia beruntung. Individu tersebut adalah yang resilien.
5. Manfaat Resiliensi
Resiliensi sangat penting dalam membantu individu untuk mengatasi segala
kesulitan yang muncul setiap hari. Individu yang dapat meningkatkan resiliensi,
maka individu tersebut mampu untuk mengatasi kesulitan apapun yang muncul di
dalam kehidupannya, selain itu juga dapat meningkatkan pengendalian diri,
kepedulian terhadap orang lain dan mampu membuat keputusan yang baik.
Resiliensi dapat mempengarhui kesehatan fisik dan mental, serta kualitas hubungan
interpersonal yang baik (Pradana, 2013).
Pradana (2013) menjelaskan bahwa individu yang memiliki resiliensi tinggi
mampu mengatasi kesulitan dan trauma yang dihadapi. Individu mampu melihat
kegagalan sebagai suatu kesempatan untuk menjadi lebih maju dan mengambil
hikmah dari kegagalan yang dialami. Manfaat lain dari resiliensi yaitu individu
dapat menunjukan sifat-sifat positif, memiliki kemampuan untuk membangun dan
STIKes Indramayu
26
memelihara hubungan positif, kemampuan pemecahan masalah yang baik, serta
kemampuan untuk dapat berpartisipasi dalam aktivitas kelompok.
6. Faktor-Faktor Pembentuk Resiliensi
Suryadi (2018) Mengatakan bahwa untuk menjadi resiliensi, seseorang
harus belajar memahami pola pemikirannya, dapat menganalisis kesulitan mereka,
dan dapat menilai efek dari masalah tersebut terhadap kehidupan mereka. Ada tujuh
faktor-faktor keterampilan untuk memgetahui resilieni seseorang, learning your
ABC, avoiding thunking traps detecting, icebergs, challengin beliefs, putting in
perspective, calming and focuscing, dan rra-time resilience.
a. Mempelajari ABC Kesulitas (A-Adversity), Kepercayaan (B-Belief),
Konsekuensi (C-Consequence).
ABC melengkapi seseorang dengan kemampuan untuk menemukan
pemikirannya ketika mereka berada di tengah-tengah masalah dan memahami
pengaruh emosional yang kuat pada perasaan-perasaan tersebut. Bukan sebuah
masalah yang terjadi (A-Adversity) pada seseorang yang menyebabkan perasaan
atau perilaku pada dirinya. (B-Belief) tentang masalah tersebut mengendalikan
bagaimana mereka merasakan dan apa yang mereka lakukan (C-Consequences).
Kenyataannya, kita tidak hanya menjelankan A-C melainkan A-B-C.
b. Mengindari perangkap berpikir (Avoiding think traps)
Ketika seseorang berhadapan dengan masalah-masalah dalam hidupnya
biasanya mereka akan melakukan kesalahan, seperti terlalu cepat membuat
kesimpulan atau membesar-besarkan suatu hal/terlalu meremehkan sehingga
mengurangi resiliensi. Avoiding thinking traps mengajarkan cara seseorang
STIKes Indramayu
27
mengidentifikasi kebiasaan-kebiasaan yang menjadi kesalahan dan bagaimana cara
memperbaikinya.
c. Mendekati gunung es (Detecting Icebergs)
Biasanya kemampuan ini menuntun seseorang untuk berperilaku sesuai
dengan nilai-nilai yang dianutnya. Namun demikian, terkadang kondisi ini juga
menggangu kemampuan seseorang untuk menjalani hidup sesuai yang diinginkan.
Oleh karena itu, keterampilan dasar ini akan membantu seseorang untuk mengenal
keercayaan-kepercayaan dan menentukan kapan kepercayaan tersebut
mendukung/bertentangan.
d. Menantang keyakinan (Challenging Beliefs)
Keterampilan ini merupakan keterampilan paling utama dari resiliensi untuk
pemecahan masalah. Gaya berpikir keliru biasanya membuat seseorang salah
menafsirkan penyebab masalah dan kemudian mengakibatkannya mengikuti solusi
yang salah. Challenging beliefs merupakan tes akurasi dari kepercayaan seseorang
tentang masalah-masalah dan bagaimana menemukan solusi-solusi yang tepat.
e. Menempatkan dalam pesrpektif (putting in perspective)
Banyak orang yang terjebak dalam pemikiran what-if (bagaimana kalau…)
yang biasanya membuat setiap masalah menjadi sebuah bencana. Pada poin ini
diajarkan mempersiapkan diri lebih baik untuk menghadapi masalah yang sedang
terjadi.
STIKes Indramayu
28
f. Menenangkan dan fokus (Calming and focusing)
Keterampilan ini mengajarkan bagaimana tetap tenang dan focus ketika
seseorang diluapi emosi/ tekanan sehingga dapat berkonsentrasi pada tugas-tugas
yang sedang dihadapi.
g. Ketahanan waktu perspektif (Real-time Resilience)
Kemampuan ini adalah kemampuan untuk mengubah belief atau keyakinan
yang membuat tidak produktif.
7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Resiliensi
Menurut Sumirta dkk, (2016) faktor-faktor yang mempengaruhui resilensi
adalah :
a. Jenis kelamin
Laki-laki dapat berpikir lebih rasional dan lebih tangguh dalam menghadapi
masalah, sehingga saat dihadapkan dengan sebuah masalah dapat berpikir secara
luas dan tidak terpuruk dalam waktu yang lama.
b. Usia
Usia mempengaruhi resiliensi seseorang. Seseorang yang usianya dewasa
lebih bisa untuk berpikir secara terbuka dan lebih realistik Dalam pembentukan
resiliensi, semakin dewasa usia seseorang maka orang tersebut akan melewati
banyak pengalaman yang membuat semakin dewasa dan lebih menerima
keadaannya.
c. pendidikan
Faktor pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap penyakit yang
dideritanya sangat penting dalam menjaga kesehatannya serta kondisi
STIKes Indramayu
29
psikologisnya, karena orang yang berpendidikan lebih tinggi mampu mengatur
kondisi yang dihadapinya dan memecahkan masalahnya menggunakan acuan ilmu
pengetahuan yang dimilikinya, sehingga semakin tinggi pendidikan seseorang,
semakin tinggi pula tingkat resiliensi dari orang tersebut. tingkat pendidikan
mempengaruhi resiliensi individu dalam menghadapi tekanan hidup.
d. Pekerjaan
Pekerjaan juga mempengaruhi resiliensi seseorang dimana dalam pekerjaan
tersebut seseorang dapat merasakan kesejahteraan secara ekonomi, dengan
penghasilan yang dimilikinya sehingga dapat meningkatkan resiliensi seseorang.
Semakin tinggi penghasilan, semakin tinggi pula resiliensi yang dimiliki oleh
seseorang.
e. Lama menderita
Lama menderita berpengharuh terhadap resiliensi seseorang. Semakin lama
menderita penyakit, akan menimbulkan resiliensi yang semakin tinggi. Hal ini
tergantung kepada sampai seberapa jauh kemampuan individu yang bersangkutan
menyesuaikan diri terhadap situasi yang mengancam kehidupannya. Ada tiga fase
reaksi emosional Pasien ketika diberitahu bahwa penyakit yang dideritanya adalah
GGK yang sudah stadium akhir dan harus dilakukan hemodialisa. Fase pertama,
Pasien akan merasakan syok mental, kemudian diliputi oleh rasa takut, dan depresi.
Muncul reaksi penolakan dan kemurungan, terkadang pasien menjadi panik,
melakukan hal-hal yang tidak berarti dan sia-sia. Setelah fase ini berlalu, akhirnya
pasien akan sadar dan menerima kenyataan bahwa jalan hidupnya telah berubah.
STIKes Indramayu
30
Jadi semakin lama menderita, masa penerimaan kenyataan bahwa jalan hidupnya
telah berubah dan resiliensi akan menjadi tinggi setelah semua fase dilewati.
8. Pengukuran Resiliensi
Resiliensi dapat dinilai menggunakan instrument Brief Resilience Scale
(BRS) (2008). Penilaian resiliensi dibagi menjadi 3 yaitu, resiliensi tinggi jika skor
BRS 4,31-5,00, resiliensi normal jika skor BRS 3,00-4,30 resiliensi rendah jika skor
BRS 1,00-2,99. Untuk mendapatkan skor BRS menggunakan rumus.
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟
Skor BRS = 6
STIKes Indramayu
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
Kerangka konseop merupakan suatu uraian dan visualisasi hubungan atau
kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya, atau antara variabele yang satu
dengan variable yang lain dari masalah yang diteliti (Notoatmodjo, 2018).
Kerangka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran
resiliensi pada pasien Gagal Ginjal Kronik yang menjalani Hemodialisa di RSUD
Indramayu Tahun 2023. Adapun kerangka konsep penelitian ini tergambar pada
gambar sebagai berikut :
Gambar 3.1
Kerangka Konsep penelitian
Input Proses Output
\ Pasien 1. Tinggi
Resiliensi
Hemodialisa 2. Normal
3. Rendah
B. Definisi Operasional
Definisi operasinonal bertujuan untuk memberi batasan ruang lingkup dan
pengertian variabel yang akan diteliti. Definisi operasional bermanfaat untuk
mengarahkan pengamat terhadap variabel yang bersangkutan, pengambilaan
instrumen atau alat ukur (Notoadmojo, 2018).
31
32
Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel Penelitian
Variabel/ Definisi Alat
Subvariabel Operasional Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Variabel
Resiliensi Suatu proses Kuesioner Melihat hasil 1. Tinggi (jika Ordinal
pada pasien adaptasi yang jawaban nilai 4,31-
Hemodialisa positif dari dalam responden 5,00)
diri pasien untuk favorable: 2. Normal (jika
mengatasi situasi Sangat Setuju nilai 3,00-
yang buruk atau “5” 4,30)
trauma yang Setuju “4” 3. Rendah (jika
menyebabkan Netral “3” nilai 1,00-
stress psikologis Tidak Setuju “2” 2,99)
yang secara Sangat Tidak
signifikan Setuju “1”
mempengaruhi Unfavorable:
pasien. Sangat setuju “1”
Setuju “2”
Netral “3”
Tidak Setuju “4”
Sangat Tidak
Setuju “5”
Subvariable
Karakteristik Usia yaitu sejak Kuesioner Melihat hasil 1. Dewasa awal Ordinal
Usia orang dilahirkan jawaban 19-40 Tahun
sampai penelitian responden 2. Dewasa tengah
ini dilaksanakan. 40-60 Tahun
3. Lansia ≥ 60
Tahun
Berdasarkan Perbedaan biologis Kuesioner Melihat hasil 1. Laki-Laki Nominal
jenis kelamin antara laki-laki dan jawaban 2. Perempuan
perempuan. responden
Berdasarkan Suatu kegiatan Kuesioner Melihat hasil 1. Tidak Sekolah Ordinal
tingkat yang dilakukan jawaban 2. SD
pendidikan pasien Hemodialisa 3. SMP
dalam 4. SMA
mengembangkan 5. Perguruan
kemampuan, sikap, Tinggi
dan bentuk tingkah
lakunya, baik untuk
STIKes Indramayu
33
Variabel/ Definisi Alat
Subvariabel Operasional Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
hidup di masa yang
akan datang.
Berdasarkan Suatu kegiatan Kuesioner Melihat hasil 1. Bekerja Nominal
pekerjaan utama yang jawaban 2. Tidak Bekerja
dilakukan pasien
hemodialisa setiap
hari untuk
memenuhui
kebutuhan hidup.
Berdasarkan Lama menderita Kuesioner Melihat hasil 1. Lama jika ≥ 1 Ordinal
lama Gagal Ginjal jawaban 24 Bulan
menderita Kronik merupakan 2. Baru jika < 24
saat sebelum Bulan
penelitian samapai (Median)
dengan saat
penelitian.
STIKes Indramayu
34
STIKes Indramayu
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Rencana Penelitian
Rancangan penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam penelitian,
yakni memungkinkan pengontrolan yang maksimal dan berapa faktor yang dapat
mempengaruhi suatu hasil. Peneletian ini menggunakan metode deskriptif
kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Yakni suatu jenis penelitian yang
waktu observasi atau pengumpulan data pada variabel hanya dalam satu waktu atau
sekaligus (Nursalam, 2017).
Dalam penelitian ini memiliki satu variabel yaitu tingkat resiliensi. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa tingkat resiliensi pada pasien
gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Indramayu.
B. Populasi dan sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari subjek atau objek yang diteliti tersebut
(Notoatmodjo, 2012). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien gagal
ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Indramayu dengan jumlah
populasi sebanyak 168 orang.
35
36
2. Sampel
Sampel adalah objek yang mewakili seluruh populasi yang diteliti. Teknik
pengambilannya pada penelitian ini adalah menggunakan teknik Purposive
Sampling yaitu teknik yang biasanya dilakukan menggunakan penentuan sampel
dengan pertimbangan berdasarkan tujuan tertentu (Sugiyono, 2015).
Adapun pengambilan sampel mrnggunakan rumus Slovin menurut
Sugiyono (2015) sebagai berikut :
n = 1+𝑁𝑁𝑒2
168
n = 1+168 . 0,052
168
n = 1,42 = 118
Berdasarkan hasil perhitungan dari rumus slovin di atas dengan tingkat
kesalahan 5% didapatkan hasil 118 responden. Agar karakteristik sampel tidak
menyimpang dari populasinya. Maka dalam pengambilan sampel perlu ditentukan
kriteria inklusi maupum kritetria eksklusi. Yang terpilih berdasarkan kritera inklusi
yan ditetapkan. Kriteria inklusi dan ekslusi pada penelitian ini meliputi :
a. Kriterian inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dan subjek penelitian dalam
suatu populasi target yang terjangkau dan akan ditaliti (Nursalam, 2017). Adapun
kriteria dan inklusi dalam penelitian ini adalah :
1) Pasien yang bersedia menjadi responden
2) Pasien dapat berkomunikasi dengan baik
STIKes Indramayu
37
b. Kriteria eksklusi
Kriteria ekslusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek penelitian
yang memenuhi kriteria inklusi karena berbagai sebab (Nursalam, 2017). Adapun
kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah :
1) Pasien dengan TTV tidak stabil
2) Pasien < 1 bulan atau pasien baru
C. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilaksanakan di ruang hemodialisa RSUD Indramayu.
D. Waktu Penelitian
Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – April
2024.
E. Etika Penelitian
Etika penelitian terdiri dari 4 prinsip yaitu prinsip dan manfaat, prinsip
menghargai hak asasi manusia dan prinsip keadilan. Dalam penelitian ini peneliti
tidak lupa menggunakan prinsip etik penelitian.
1. Right to self determination (hak untuk menentukan diri)
Informed consent adalah suatu bentuk persetujuan peneliti dengan cara
memberikan lembar persetujuan kepada responden. Berdasarkan penelelitian ini
responden yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian maka peneliti memberikan
lembar informed consent kepada responden sebagai bentuk kesediaan responden
STIKes Indramayu
38
dalam penelitian. Dari 168 populasi yang yang menjadi sampel penelitian yaitu 118
responden sesuai dengan rumus yang digunakan.
2. Right to privacy on dignity (hak untuk mendapatkan privasi)
Peneliti menjaga informasi terkait dengan menjaga kerahasiaan responden,
peneliti tidak dibenarkan untuk menyampaikan kepada orang lain tentang apapun
yang diketahui peneliti tentang responden diluar kepentingan penelitian. Dalam
penelitian ini identitas respoden dirahasiakan dengan menggunakan inisial (Ny. A
ataupun Tn. B) dan kode responden. Hal ini untuk kerahasiaan identitas pasien tetap
terjaga selama kegiatan penelitian berlangsung.
3. Right to anatomity and confidentially (hak untuk mendaptkan
kerahasiaan )
Right to anomymity and confidentiality merupakan suatu hak untuk
mendapatkan kerahasiaan. Pada lembar kuesioner diberikan kode tertentu yang
sudah di tentukan peneliti berupa angka dan huruf depan nama responden.
4. Right to fair treatmen (hak untuk mendapat perlakuan adil)
Dalam melakukan penelitian, peneliti tidak membeda-bedakan antara
responden satu dengan lainya. Yaitu menghargai keputusan responden dan tidak
membeda-bedakan perlakuan terhadap jenis kelamin, usia, pendidikan, dan
pekerjaan.
STIKes Indramayu
39
5. Right to to protection from discomfort and harm (Hak untuk
mendapatkan perlindungan dari ketidaknyamanan)
Righty to protection from discomfort and harm merupakan suatu etika
penelitian dimana responden berhak mendapatkan haknya atas perlindungan dari
ketidaknyamanan, dan tidak menimbulkan kerugian kepada mereka. Setelah
responden mengerti tentang maksud dan tujuan peneliti kemudian langsung
memberikan kuesioner peneliti.
F. Alat Pengumpulan Data Penelitian
Pengumpulan data merupakan suatu proses pendekatan kepada pasien
subjek dan proses pengumpulan karateristik subjek yang diperlukan dalam
penelitian (Nursalam, 2017). Alat pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah lembar kuesioner.
Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi beberapa pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk
dijawab (Sugiyono, 2015). Berikut kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini
terdiri dari beberapa bagian yaitu:
1. Karakteristik Responden
Berisi karakteristik responden yang terdiri dari usia, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan dan lamanya menjalani hemodialisa.
2. Kuesioner Brief Resilience Scale (BRS)
Kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat resiliensi pada pasien
hemodialisa menggunakan kuesioner tertutup yang disusun oleh Smith, Dalen,
STIKes Indramayu
40
Wiggins, Tooley, Chriestoper dan Bernard (2008) yaitu The Brief Resilience Scale
dengan pernyataan positif (favorable) teridiri dari pernyataan nomor 1,3,5 dengan
nilai, Sangat tidak setuju “1”, Tidak setuju “2”, Netral “3”, Setuju “4”, Sangat setuju
“5”, dan pernyataan negatif (unfavorable) terdiri dari nomor 2,4,6 dengan nilai skor
Sangat tidak setuju “5”, Tidak setuju = “4”, Netral “3” setuju “2”, Sangat setuju
“1”. Berisi dengan total 6 pertanyaan , dengan penilaian skor tinggi (4,31-5,00)
skor normal (3,00-4,30) skor rendah (1,00-2,99). Untuk memendapatkan skor BRS
menggunakan rumus :
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟
Skor BRS = 6
G. Uji Validitas dan Reabilitas
1. Uji Validitas
Validitas adalah tingkat kemampuan instrumen untuk memberikan suatu
objek yang menjadi sasaran pokok pengukuran penelitian apa yang akan diukur
(Notoatmodjo, 2018). Instrumen utama dalam penelitian ini adalah kuesioner, maka
kuesioner yang disusun harus dapat mengukur apa yang akan kita ukur
(Notoatmodjo, 2018). Penelitian ini menggunakan kuesioner Brief Resilience Scale
(BRS) diambil dari Arif Gustyawan (2019) yang telah dilakukan uji validitas Smith
dkk (2008) denan koefisien korelasi rentang 0,30 hingga 0,69. Artinya kuesioner
tersebut memiliki tingkat kevalidan yang kuat.
STIKes Indramayu
41
2. Uji Reabilitas
Uji reabilitas merupakan indeks yang menujukan suatu alat ukur dapat
dipercaya atau daapat diandalkan, yang berarti hasil menujukan pengukuran dua
kali atau lebih berhubungan dengan penggunaan alat ukur yang sama
(Notoatmodjo, 2018). Kuesioner Brief Resilience Scale (BRS) diambil dari Arif
Gustyawan (2019) dengan menggunakan metode Cornbach Alpha. Selain itu
kuesiner juga telah dilakukan uji reabilitas Smith dkk (2008) dengan nilai
konsistensi rentang antara 0,80 hingga 0,91. Artinya kuesioner tersebut realibel atau
andal.
H. Prosedur Pengumpulan Data
1. Tahap Perizinan Penelitian
Perizinan penelitian ditujukkan pada lembaga – lembaga terkait dengan
proses penelitian yaitu :
a. Peneliti mengajukan surat permohonan izin studi pendahuluan dari
institusi STIKes Indramayu ke Unit Diklat RSUD Kabupaten Indramayu.
b. Setelah mendapatkan surat balasan izin studi pendahuluan dari Unit
Diklat RSUD Kabupaten Indramayu, peneliti mendatangi Ruangan Hemodialisa
untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan penelitian dengan memberikan
surat pengantar studi pendahuluan dari Unit Diklat RSUD Kabupaten Indramayu
kepada Kepala Ruangan Hemodialisa kemudian peneliti meminta izin untuk
melakukan studi pendahuluan.
STIKes Indramayu
42
c. Peneliti mengajukan surat izin penelitian dari institusi STIKes Indramayu
ke Unit Diklat RSUD Kabupaten Indramayu.
d. Setelah mendapatkan surat balasan izin studi penelitian dari Unit Diklat
RSUD Kabupaten Indramayu, selanjutnya peneliti mendatangi Ruangan
Hemodialisa untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan penelitian dengan
memberikan surat pengantar studi penelitian dari Unit Diklat RSUD Kabupaten
Indramayu kepada Kepala Ruangan Hemodialisa kemudian peneliti meminta izin
untuk melakukan studi penelitian.
I. Penglahan Data
Pengolahan data merupakan suatu langkah yang diperlukan untuk
mempermudah penyajian data sebagai hasil yang berarti dan kesimpulan yang baik
dari data mentah penelitian (Notoatmodjo, 2012). Adapun data yang dikumpulkan
kemudian diolah dengan tahap-tahap berikut.
1. Editing
Secara umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan
isi formular atau kuesioner yang telah di isi. Dalam penelitian ini yang dilakukan
oleh peneliti adalah memeriksa kembali data responden yang diperoleh atau
dikumpulkan. Editing dilakukan setelah kuesioner sudah selesai diisi oleh
responden. Pada saat peneliti menemukan jawaban kuesioner yang tidak lengkap,
peneliti meminta responden untuk melengkapi jawaban yang belum diisi.
STIKes Indramayu
43
2. Coding
Pengkodean data adalah proses mengubah data yang terbentuk kalimat
menjadi angka atau bilangan. Peneliti memberikan kode untuk setiap item pada
lembar kuesioner. Untuk lembar kuesioner karakteristik responden, jenis kelamin
diberikan kode 1 = laki – laki, 2 = perempuan. Usia diberikan kode 1 = 19-40 tahun,
2 = 40 – 60 tahun, 3 = ≥ 60 tahun. Tingkat pendidikan responden diberi kode 1 =
Rendah (Tidak sekolah, SD), 2 Sedang (SMP, SMA), 3 = Tinggi (Diploma, S1),
pekerjaan diberi kode 1 = Bekerja, 2 = Tidak Bekerja dan lama menjalani
hemodialisa dimasukkan menggunakan jumlah bulan sesuai lama hemodialisa.
3. Data Entry
Peneliti memasukan data jawaban dari masing-masing responden yang
sudah dikode ke dalam komputer untuk melakukan analisis data dengan
menggunakan microsoft excel
4. Tabulating
Peneliti mengelompokan sesuai dengan variabel dan kategorinya guna
memudahkan dalam menganalisis. Peneliti memasukan data yang sudah diolah oleh
program komputer statistik kemudian dimasukan dalam tabel yang disajikan.
J. Analisa Data
Analisis data ialah kegiatan yang sangat penting dalam suatu penelitian,
karena dengan analisa suatu data, maka data dapat memiliki arti atau makna yang
berguna untuk memecahkan masalah penelitian (Hastono, 2020). Setelah data
terkumpul, selanjutnya peneliti melakukan analisa data. Dalam penelitian ini
menggunakan analisa data univariat (analisa deskriptip) yang bertujuan
STIKes Indramayu
44
menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian . Analia
univariat adalah suatu tabel yang menggambarkan analisa data dalam bentuk
distribusi frekuensi untuk satu variabel (Notoatmodjo, 2012). Analisi univariat
pada penelitian ini adalah menganalisa gambaran karakteristik pasien gagal ginjal
kronik yang menjalani hemodialisa menggunakan lembar kuesioner. Lembar
kuesioner tersebut terdiri atas pertanyaan-pertanyaan mengenai nama responden,
umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan dan lama menderita.
Pada umumnya analisa univariat dalam penelitian ini hanya menghasilkan
distribusi frekuensi dan presentasi dari tiap variabel. Pada tahap ini peneliti
melakukan pengukuran tingkat resiliensi pada pasien gagal ginjal kronik di ruang
Hemodialisa di RSUD Indramayu dengan cara menjumlah seluruh jawaban
responden mengenai pertanyaan tingkat resiliensi, setelah mengetahui hasil
jawaban selanjutnya peneliti mengkategorikan jumlah pertanyaan tersebut.
Hasil ukur variabel dikatakan resiliensi tinggi jika nilainya 4.31-5.00,
resiliesni normal jika nilainya 3.00-4.30, dan resiliensi rendah jika nilainya 1.00-
2.99. ) dengan pernyataan positif (favorable) teridiri dari pernyataan nomor 1,3,5
dengan nilai Sangat tidak setuju “1”, Tidak setuju “2”, Netral “3”, Setuju “4”,
Sangat setuju “5”, dan pernyataan negatif (unfavorable) terdiri dari nomor 2,4,6
dengan nilai skor Sangat tidak setuju “5”, Tidak setuju “4”, Netral “3” setuju “2”,
Sangat setuju “1”.
Jumlah kuesioner pada penelitian ini sebanyak 6 pernyataan terkait tingkat
resiliesni pada pasien hemodialisa dengan cara menjumlahkan hasil jawaban dari
masing-masing pernyataan, dimana 3 pernyataan favorable dan 3 pernyataan
STIKes Indramayu
45
unfavorable. Setelah data terkumpul semua lalu diolah melalui sistem
komputerisasi menggunakan SPSS.
STIKes Indramayu
DAFTAR PUSTAKA
Antari, G. A. A., (2022). Resiliensi Pada Pasien Hemodialisis. Community of
Publishing in Nursing (COPING), 2303-1298, e-ISSN 2715-1980 10 (6).
Baradero Mary, Dayrit Mary Wilfrid, Siswadi Yakobus. (2009). Seri Asuhan
Keperawatan Klien Gangguan Ginjal. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Keperawatan Medikal Bedah. Indonesia:
Elsevier.
Brunner., & Suddarth. (2015). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Edisi 12
v). Jakarta: EGC.
Hardianti, D. (2021). Hidup Dengan Hemodialisa (Pengalaman Hemodialisa Pada
Pasien Gagal Ginjal Kronik). Surabaya: Pustaka Aksara.
Hastono, S. P. (2020). Analisa Data Pada Bidang Kesehatan. Depok: Rajawali
Pers.
Indonesia Renal Registry (IRR). (2018). Program Indonesia renal registry.
[Link] [Link]
Isroin, L. (2016). Manajemen Cairan Pada Pasien Hemodialisis Untuk
Meningkatkan Kualitas Hidup. Ponorogo: Unmuh Ponorogo Press.
Jager, K. J.,Kovesedy, C., Langham, R., Rosenberg, M., Jha ., & Zoccali, c.(2019).
A single number for advocacy and communication-worldwide more tha 850
million individuals have kidney diseases. Kidney International,96(5), 1048-
1050. [Link]
Kemenkes RI. (2018). Laporan Provinsi Jawa Barat Riskesdas.
[Link]
Lemone, P., Burke, K, M., & Bauldoff, G. (2016). Buku ajar keperawatan medikal
bedah (edisi 5). Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Mailani Fitri. (2022). Pengetahuan Sel-Management dan Sel-Efficacy Pasien
Penyakit Gagal Ginjal Kronik (1st ed.). Indramayu: CV Adanu Abimata.
Maimunah, H. S. (2021). Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Ruang
Hemodialisa. Jakarta.
Munawaroh, E., & Mashudi, A, E. (2018). Kemampuan bertahan dalam tekanan
dan bangkit dari keterpurukan. CV: Pilar Nusantara.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Nuari, N. A., & Widayati, . (2017). Gangguan Pada Sistem Perkemihan &
Penatalaksanaan Keperawatan. Yogyakarta: Deepublish.
Nursalam. (2017). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Pane, J., & Saragih, I. S. (2020). THE RELATIONSHIP OF RESILIENCE AND
QUALITY OF LIFE PATIENT WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE WHO
UNDERGOING HAEMODIALYSIS IN RASYDA KIDNEY HOSPITAL
MEDAN. Journal of Nursing Science Update (JNSU), 8(1), 10–14.
[Link]
Pradana, D. (2013). Pengaruh Efikasi Diri Dan Resiliensi Diri Terhadap Sikap
Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Di SMK Muda Patria Kalasan.
Universitas Negri Yogyakarta: Fakultas Teknik
Rokayah, C., Novita, D., Muliani, R., & Sumbara, S. (2022). Deskripsi Ketahanan
Pasien Menjalani Hemodialisis. Jurnal Riset Kesehatan Global Indonesia, 4
(3), 581-586. [Link]
Simanjuntak, M., Sigalingging, V., Saragih, H. (2023). Gambaran Tingkat
Resiliensi Pada Paasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa
Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Journal Of Social Science
Research, 3 (5), 2807-4246
Siregar, C. (2020). Buku ajar manajemen komplikasi pasien hemodialisa.
Yogyakarta: CV Budi Utama.
Smeltzer., & Barre. (2015). Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner &
Suddarth (Edisi 8). Jakarta: EGC.
Smith, B. W., Dalen, J., Wiggins, K., Tooley, E., Chriestopher, P., & Bernard, J.
(2008). The brief resilience scale: assessing the ability to bounce back.
International journal of behavioral medicine, 15(3), 194-200.
Sugiyono. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alphabet
Sumirta, I. N., Candra, I. W., & Widana, I. P. Y. (2016). Resiliensi Pasien Gagal
Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa. Jurnal Gema Keperawatan,
9(2), 224–234.
Suryadi, D. (2018). Melenting menjadi resilien. Yogyakarta: ANDI
World Health Organization (WHO). (2019). The World Health Organization dari
[Link]
death.
LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
SURAT PERMOHONAN
UNTUK BERPARTISIPASI SEBAGAI RESPONDEN PENELITIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Dian Ramadhan
NIM : R. 20. 01. 017
Alamat : Desa Suakasari Blok Tara,Rt 013 /
Rw 003, Kec. arahan, Kab. Indramayu, Prov. Jawa Barat
Dengan ini mengajukan dengan hormat kepada Bapak/Ibu/Saudara untuk
menjadi responden yang akan saya lakukan, dengan judul “Gambaran Tingkat
Resiliensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD
Kab Indramayu”
Penelitian tersebut untuk mengetahui “Gambaran Tingkat Resiliensi Pada
Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD Indramayu”
Pada penelitian ini, Bapak/Ibu akan memberikan penilaian terhadap
pertanyaan tentang Gambaran Tingkat Resiliensi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik
dalam bentuk kuesioner dalam penelitian ini bersifat suka rela dan tanpa paksaan.
Identitas dan data atau informasi yang Bapak/Ibu berikan akan dijaga
kerahasiannya. Hal yang belum dapat dipahami, dapat dikomunikasikan langung
pada peneliti.
Demikian permohonan ini, atas kesediaan dan kerjasamanya, kami
mengucapkan terimakasih.
Peneliti
Dian Ramadhana
Lampiran 4
PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
(INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Jenis Kelamin :
Umur :
Pendidikan :
Alamat :
Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya telah memberikan
PERSETUJUAN
Untuk menjadi responden dan menjawab pertanyaan dan mendapat penjelasan serta
memahami sepenuhnya tentang studi pendahuluan.
Judul Penelitian : Gambaran Tingkat Resiliensi Pada Pasien Hemodialisa
Nama Peneliti : Dian Ramadhan
Dengan demikian pernyataan persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan
tanpa paksaan.
Indramayu, April 2024
Yang memberikan penjelasan, Yang membuat pernyataan
(Dian Ramadhan) ( )
Lampiran 5
KUESIONER PENELITIAN
GAMBARAN TINGKAT RESILIENSI PADA PASIEN GAGAL GINJAL
KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA DI RSUD INDRAMAYU
DATA DEMOGRAFI
Petunjuk pengisisan
Kuesioner ini terdiri dari berbagai pernyataan yang sesuai dengan kondisi
Bapak/Ibu/Saudara saat ini. Selanjutnya, dengan memberi tanda cheklist (√)
Bapak/Ibu/Saudara diminta untuk menjawab pada salah satu kolom yang paling
sesuai dengan kondidi saat ini. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, karena itu
isilah sesuai dengan keadaan diri Bapak/Ibu/Saudara yang sesungguhnya.
A. Biodata Responden
1. Umur : Tahun
2. Jenis Kelamin : Laki-Laki Permpuan
3. Pendidikan Terakhir : Tidak Sekolah SMP
SD SMA
Perguruan Tinggi
4. Pekerjaan : Tidak Bekerja Bekerja
5. Lama Menderita : Tahun
B. Pertanyaan Mengenai Resiliensi
Petunjuk pengisian
1. Bacalah pertanyaan dengan baik
2. Berikan tanda ceklis (√) sesuai jawaban responden pada kolom yang
disediakan
3. Berilah jawaban pada semua pernyataan yang berjumlah 6 soal
No Sangat Tidak Sangat
Pernyataan Netral Setuju
Tidak setuju Setuju Setuju
1. Saya cenderung bangkit kembali
dengan cepat setelah masa yang
sulit
2. Saya merasa sulit melewati masa
yang penuh tekanan
3. Tidak perlu waktu lama bagi saya
untuk pulih dari peristiwa yang
penuh tekanan
4. Saya merasa sulit untuk merasa
tenang kembali setelah sesuatu
yang buruk terjadi
5. Saya biasanya dapat melewati
masa sulit dengan mudah
6. Saya cenderung memerlukan
waktu yang lama untuk
mengatasi kemunduran dalam
hidup saya
Lampiran 6
KISI-KISI KUESIONER
GAMBARAN TINGKAT RESILIENSI PADA PASIEN GAGAL
GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA
Resiliensi Favourrable Unfavourable Jumlah soal
Suatu proses 1,3,5 2,4,6 6
adaptasi yang
positif dari dalam
diri individu
untuk mengatasi
situasi yang buruk
atau trauma yang
menyebabkan
stress psikologis
yang signifikan
mempengaruhi
individu.
Lampiran 7
BUKU BIMBINGAN SKRIPSI
Lampiran 8
Dokumentasi