Standar SNI 4594:2017 Detergen Serbuk
Standar SNI 4594:2017 Detergen Serbuk
ICS 71.100.99
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
© BSN 2017
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau
seluruh isi dokumen ini dengan cara dan dalam bentuk apapun serta dilarang mendistribusikan
dokumen ini baik secara elektronik maupun tercetak tanpa izin tertulis dari BSN
BSN
Email: dokinfo@[Link]
[Link]
Diterbitkan di Jakarta
SNI 4594:2017
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
Daftar isi
Daftar isi.....................................................................................................................................i
Prakata ..................................................................................................................................... ii
1 Ruang lingkup .................................................................................................................... 1
2 Acuan normatif................................................................................................................... 1
3 Istilah dan definisi .............................................................................................................. 1
4 Syarat mutu ....................................................................................................................... 2
5 Pengambilan contoh .......................................................................................................... 2
6 Cara uji .............................................................................................................................. 2
7 Syarat lulus uji ................................................................................................................. 13
8 Penandaan ...................................................................................................................... 13
9 Pengemasan.................................................................................................................... 13
Lampiran A (Informatif) Lembar data uji botol tertutup .......................................................... 14
Bibliografi ............................................................................................................................... 16
© BSN 2017 i
SNI 4594:2017
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
Prakata
Standar Nasional Indonesia (SNI) Detergen serbuk ini merupakan revisi dari SNI 01-4594-
2010, Detergen serbuk. Standar ini dirumuskan dengan tujuan sebagai berikut:
Menyesuaikan standar dengan perkembangan teknologi terutama dalam metode uji dan
persyaratan mutu;
Menyesuaikan standar dengan peraturan-peraturan yang berlaku;
Melindungi keamanan, kesehatan, keselamatan dan lingkungan;
Melindungi produsen dan konsumen
Perubahan pada standar ini dibandingkan SNI sebelumnya meliputi ruang lingkup, acuan
normatif, istilah dan definisi, syarat mutu, metode uji, dan penandaan.
Standar ini dirumuskan oleh Komite Teknis 71-03, Kimia Pembersih, yang telah dibahas
melalui rapat teknis, dan disepakati dalam rapat konsensus pada tanggal 18 Mei 2017 di
Bogor. Hadir dalam rapat tersebut wakil dari konsumen, produsen, lembaga pengujian, pakar
dan instansi terkait lainnya.
Standar ini telah melalui proses jajak pendapat pada tanggal 12 Juli 2017 sampai dengan
tanggal 11 September 2017 dengan hasil akhir tidak terdapat tanggapan negatif dan
disetujui menjadi SNI.
Perlu diperhatikan bahwa kemungkinan beberapa unsur dari dokumen standar ini dapat
berupa hak paten. Badan Standardisasi Nasional tidak bertanggung jawab untuk
pengidentifikasian salah satu atau seluruh hak paten yang ada.
© BSN 2017 ii
SNI 4594:2017
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
Detergen serbuk
1 Ruang lingkup
Standar ini menetapkan syarat mutu dan cara uji detergen serbuk yang digunakan untuk
mencuci bahan yang terbuat dari kain dengan menggunakan mesin cuci atau tangan.
Tidak berlaku untuk mencuci wol dan mesin cuci bukaan depan.
2 Acuan normatif
Dokumen acuan berikut sangat diperlukan untuk penerapan dokumen ini. Dokumen untuk
acuan bertanggal, hanya edisi yang disebutkan yang berlaku. Dokumen untuk acuan tidak
bertanggal, berlaku edisi terakhir dari dokumen acuan tersebut (termasuk seluruh
perubahan/amandemennya).
SNI 6989.2, Air dan air limbah – Bagian 2: Cara uji Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical
Oxygen Demand/COD) dengan refluks tertutup secara spektrofotometri
SNI 6989.14, Air dan air limbah – Bagian 14: Cara uji oksigen terlarut secara yodometri
(modifikasi azida)
Untuk tujuan penggunaan dalam dokumen ini, istilah dan definisi berikut ini digunakan.
3.1
detergen serbuk
detergen sintetik berbentuk bubuk atau granul, terdiri dari rantai karbon C7 – C18 dengan
gugus hidrofilik yang bukan karboksilat dengan tambahan zat lain, umumnya tersusun
dengan bahan dasar pembentuk, pengisi dan surfaktan, mudah untuk dilarutkan, tidak
berbahaya bagi kesehatan, mempunyai daya pelarut kotoran dengan hasil cucian tetap
bersih.
3.2
daya biodegradasi
tingkat kemudahan bahan terurai secara alamiah (dengan mikroorganisme)
3.3
surfaktan
suatu senyawa organik dan atau campuran yang digunakan dalam detergen, bahan aktif
permukaan yang terdiri atas gugus hidrofilik (larut dalam air) dan gugus hidrofobik (sedikit
larut dalam air atau tidak larut dalam air) yang bekerja menurunkan tegangan permukaan air.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
4 Syarat mutu
5 Pengambilan contoh
6 Cara uji
Contoh berupa serbuk, sebelum diambil untuk diuji harus diaduk terlebih dahulu sampai
tercampur homogen.
6.2 pH
6.2.1 Prinsip
6.2.2 Pereaksi
a. Air suling;
air suling yang dididihkan untuk menghilangkan CO2. pH air antara 6,2 – 7,2 pada 25 °C.
Jika dipanaskan pada 105 °C selama 1 jam, sisa penguapan tidak lebih dari 0,5 mg/l.
b. Larutan standar buffer pH 4;
c. Larutan standar buffer pH 7;
d. Larutan standar buffer pH 10.
6.2.3 Peralatan
a. pH meter;
b. Pengaduk magnetik;
c. Labu ukur 1.000 ml;
d. Gelas piala;
e. Neraca analitik dengan ketelitian 0,1 mg;
f. Termometer dengan ketelitian 0,1 °C.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
6.2.4 Persiapan larutan contoh uji
a. Timbang (1 ± 0,001) g contoh uji detergen dan pindahkan ke dalam labu ukur 1.000 ml;
b. Isi sebagian labu dengan air suling bebas CO2 dan aduk hingga contoh uji terlarut;
c. Tambahkan air suling bebas CO2 hingga tanda tera, tutup labu ukur dan homogenkan;
d. Tuang larutan ke dalam gelas piala;
e. Diamkan larutan untuk mencapai kesetimbangan pada suhu ruang (25 ± 2,0) °C.
6.2.5 Prosedur
6.3.1 Prinsip
Bahan tidak larut dalam air yang tertinggal pada penyaring, dikeringkan serta ditimbang
sampai bobot tetap.
6.3.2 Pereaksi
a. Fenolftalein;
b. Etanol netral (95%); yang baru dipanaskan kemudian netralkan dengan air
menggunakan indikator fenolftalein;
c. Etanol netral (absolut); yang baru dipanaskan kemudian netralkan dengan air
menggunakan indikator fenolftalein.
6.3.3 Peralatan
6.3.4 Prosedur
a. Timbang (2 ± 0,001) g contoh dan masukkan ke dalam gelas piala 250 ml;
b. Tambahkan 100 ml etanol netral 95%, tutup gelas piala kemudian panaskan di atas
penangas air sambil diaduk dan maserasi sampai larut sempurna, biarkan mengendap;
c. Saring larutan supernatant (larutan bagian atas) dengan menggunakan cawan Gooch
dengan glasswool pad yang telah diketahui bobot tetapnya (w1) ke dalam Erlenmeyer
300 ml yang dilengkapi dengan pompa vakum;
d. Ekstrak residu dan bahan yang masih menempel dengan 25 ml larutan etanol netral (95
%) dalam gelas piala dan saring dengan cawan Gooch yang dilengkapi pompa vakum;
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
e. Ulangi prosedur ini sampai tiga kali;
f. Terakhir uapkan etanol yang tertinggal, larutkan residu dengan ± 5 ml air panas;
g. Endapkan kembali bahan yang tidak larut dalam etanol dengan penambahan sedikit –
sedikit 50 ml etanol (absolut) sambil diaduk;
h. Panaskan larutan hingga mendidih di atas penangas air;
i. Saring dengan kertas saring;
j. Pindahkan residu dari kertas saring ke dalam cawan Gooch;
k. Bilas cawan Gooch dengan etanol netral (95%) beberapa kali;
l. Bilas bahan tak larut dalam etanol yang tertinggal di cawan Gooch dengan air panas
sampai larutan tidak alkali dengan indikator fenolftalein;
m. Keringkan cawan Gooch dan residu di dalam oven (105 ± 2) oC;
n. Dinginkan dalam desikator sampai bobot tetap (w2).
6.3.5 Perhitungan
w2 - w1
Bahan tidak larut dalam air = 100
w
Keterangan:
Bahan tidak larut dalam air, % fraksi massa;
W adalah bobot contoh uji, g;
W1 adalah bobot penyaring kosong, g;
W2 adalah bobot penyaring berisi endapan, g.
Total kadar surfaktan dalam detergen adalah bahan yang larut dalam etanol dikurangi
dengan bahan yang larut dalam petroleum eter. Bahan aktif penyusun detergen (surfaktan
anionik, nonionik, kationik dan amfoterik) maupun bahan selain bahan aktif penyusun
detergen (bahan organik yang tidak bereaksi, parfum, lemak alkanolamida, asam lemak
bebas dan wax) dapat terlarut dalam etanol. Bahan selain bahan aktif penyusun detergen
dapat terlarut juga dalam petroleum eter.
[Link] Prinsip
Contoh dilarutkan dalam etanol dan berat dari bahan yang larut dalam etanol akan diperoleh.
[Link] Pereaksi
a. Etanol 95%
b. Etanol 99,5%
[Link] Peralatan
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
[Link] Prosedur
a. Timbang 5 g contoh (S) dengan ketelitian 1 mg, masukkan ke dalam Erlenmeyer 300 ml;
b. Tambahkan 100 ml etanol (99,5%); hubungkan dengan pendingin tegak, kemudian
dipanaskan selama 30 menit di atas penangas air sambil sesekali diaduk;
c. Saring larutan hangat dengan menggunakan penyaring gelas;
d. Tambahkan lagi 50 ml etanol (95%) ke dalam Erlenmeyer untuk melarutkan bahan yang
menempel di Erlenmeyer lalu saring;
e. Dinginkan filtrat sampai suhu ruang;
f. Pindahkan filtrat ke dalam labu ukur 250 ml dan tambahkan etanol (95%) sampai tanda
tera;
g. Ambil dengan pipet volumetri 100 ml dan pindahkan ke gelas piala 200 ml yang telah
diketahui bobot kosongnya;
h. Panaskan di atas penangas air untuk menghilangkan etanolnya;
i. Keringkan di dalam oven (105 ± 2) °C selama 1 jam;
j. Dinginkan dalam desikator sampai bobot tetap lalu timbang;
k. Hitung kadar bahan yang larut dalam etanol menggunakan persamaan :
A 250 x A
Cet = 100 x 100 =
Sx S
250
Keterangan:
Cet adalah bahan yang larut dalam etanol, %;
A adalah sisa bahan setelah pengeringan, g;
S adalah bobot contoh, g;
100 volume filtrat yang dipipet, ml
adalah
250 volume akhir contoh, ml
[Link] Prinsip
Larutan contoh dengan campuran air-etanol diekstraksi dengan petroleum eter untuk
memperoleh bahan yang larut dalam petroleum eter.
[Link] Pereaksi
[Link] Peralatan
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
[Link] Prosedur
A
Cpe = x 100
S
Keterangan:
Cpe adalah bahan yang larut dalam petroleum eter, %;
A adalah jumlah yang terekstraksi dalam petroleum eter, g;
S adalah bobot contoh, g.
Keterangan
Total kadar surfaktan, %;
Cet adalah bahan yang larut dalam etanol, %;
Cpe adalah bahan yang larut dalam petroleum eter, %.
6.5.1 Prinsip
6.5.2 Pereaksi
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
d. Dinatrium hidrogen ortofosfat dehidrat,Na2HPO4.2H2O;
e. Amonium klorida, NH4Cl;
f. Kalsium klorida anhidrat, CaCl2 atau kalsium klorida dihidrat, CaCl2.2H2O;
g. Magnesium sulfat heptahidrat, MgSO4.7H2O;
h. Besi (III) klorida heksahidrat, FeCl3.6H2O;
i. Natrium asetat, CH3COONa atau natrium benzoat, C6H5COONa sebagai larutan
referensi.
6.5.3 Peralatan
a. Botol BOD dengan tutup asah 250 ml sampai 300 ml atau 100 ml sampai 125 ml
minimal 70 botol;
b. Penangas air atau inkubator, untuk menjaga botol pada suhu konstan (± 1 ᵒC);
c. Botol kaca 5 l sampai 10 l untuk persiapan media;
d. DO meter atau peralatan dan reagen untuk titrasi Winkler.
6.5.4 Prosedur
Persiapan larutan induk menggunakan bahan – bahan kimia pro analisa (p.a):
CATATAN 1 Untuk menghindari terjadinya kontaminasi terhadap larutan induk sebelum digunakan,
tambahkan 1 tetes HCl pekat atau 0,4 g ethylene-diaminetetra-acetic acid (EDTA) (garam disodium)
per-Liter larutan.
CATATAN 2 Jika larutan induk terbentuk endapan, ganti dengan larutan induk yang baru dibuat.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
[Link] Persiapan medium mineral
Keterangan:
VMM adalah volume medium mineral, ml
n botol adalah jumlah botol BOD yang digunakan
V botol adalah volume botol BOD yang digunakan,ml
Contoh perhitungan:
Jika jumlah botol BOD 100 ml yang digunakan adalah 70 buah maka volume total medium
mineral adalah:
a. Masukkan masing-masing 1 ml larutan induk (a), (b), (c) dan (d) pada [Link] ke dalam
Erlenmeyer 1 l;
b. Tambahkan 800 ml air bebas mineral/air suling jenuh oksigen dengan DO 9 mg/l pada
suhu 20 C, aduk hingga homogen lalu tepatkan sampai 1 l;
c. Buat medium mineral ini sejumlah [Link].B;
CATATAN Penjenuhan oksigen dapat dilakukan dengan mengalirkan oksigen ke medium mineral
dengan menggunakan aerator yang dilengkapi filter bebas organik. Apabila digunakan udara tekan,
udara tersebut tidak boleh mengandung zat-zat lain seperti minyak, air, dan gas.
Cara 1
a. Ambil supernatan dari efluen pengolahan limbah sekunder atau unit skala laboratorium
yang mengolah limbah domestik;
b. Biarkan mengendap selama 1 jam atau saring dengan kertas penyaring kasar;
c. Jaga filtrat tetap dalam kondisi aerobik sampai dengan pemakaian;
d. Masukkan satu tetes (0,05 ml) sampai 5 ml filtrat untuk setiap liter medium mineral untuk
mendapatkan jumlah mikroba sebanyak (104 - 106) sel/l. Uji coba diperlukan untuk
memperoleh volume optimum.
CATATAN Analisis perhitungan mikroba dilakukan menurut Standard Methods for the Examination
of Water and Wastewater 21st Edition, 2005: Pour Plate Method (9215 B).
Cara 2
Suspensi bibit mikroba dapat dibuat dari BOD seed yang tersedia secara komersial.
Buat larutan induk contoh uji dengan konsentrasi 1 g/l dengan cara menimbang 1 g contoh
dan larutkan dalam 1 l air suling.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
[Link] Penentuan volume larutan induk contoh uji dalam medium mineral
Konsentrasi contoh yang diuji antara 2 mg/l sampai 10 mg/l (OECD 301D). Konsentrasi
sangat tergantung pada karakteristik contoh uji. Uji coba diperlukan untuk memperoleh
konsentrasi optimum yang dapat menghasilkan penurunan oksigen terlarut maksimal 1,5
mg/l setelah inkubasi 28 hari dan konsentrasi oksigen terlarut pada botol uji BOD setiap saat
tidak boleh di bawah 0,5 mg/l.
Volume larutan induk contoh uji dalam medium mineral dapat ditentukan dengan perhitungan
sebagai berikut:
V2 × N2
Vc =
Nc
Keterangan:
Vc adalah volume larutan induk contoh uji dalam medium mineral, ml;
V2 adalah volume total medium mineral (lihat [Link].A), ml;
Nc adalah konsentrasi larutan induk contoh uji (lihat [Link]), mg/l;
N2 adalah konsentrasi contoh yang diuji, mg/l.
Vc = V2 x N2 = 10.000 ml x 2 mg/l = 20 ml
Nc 1.000 ml
Buat larutan induk untuk larutan referensi dengan konsentrasi 1 g/l dengan cara menimbang
1 g larutan referensi dan larutkan dalam 1 l air suling.
Konsentrasi larutan referensi sama dengan konsentrasi larutan induk contoh uji yang
digunakan.
Volume larutan referensi dalam medium mineral dapat ditentukan dengan perhitungan
sebagai berikut:
V2 × N2
Vr =
Nr
Keterangan:
Vr adalah volume larutan referensi dalam medium mineral, ml;
V2 adalah volume total medium mineral (lihat [Link].A), ml;
Nr adalah konsentrasi larutan induk untuk larutan referensi (lihat [Link]), mg/l;
N2 adalah konsentrasi larutan referensi, mg/l.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
Contoh perhitungan untuk konsentrasi referensi 2 mg/l:
Vr = V2 x N2 = 10.000 ml x 2 mg/l= 20 ml
Nr 1.000 ml
Siapkan botol BOD satu seri pengujian untuk 2 varian konsentrasi contoh uji dan pengujian
duplo dengan interval waktu pengujian 0, 7, 14, 21 dan 28 hari.
A. 20 (dua puluh) botol berisi contoh uji dan inokulum (larutan uji):
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
C. 20 (dua puluh) botol berisi larutan referensi dan inokulum (kontrol prosedur):
D. 20 (dua puluh) botol berisi contoh uji, larutan referensi dan inokulum (kontrol
toksisitas):
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
6.5.5 Perhitungan
6.6.1 Prinsip
6.6.2 Pereaksi
a. Larutan molibdovanadat:
Larutan A : Larutkan 1,12 g amonium vanadat dalam 200 ml sampai 300 ml akuades,
tambahkan asam nitrat 250 ml.
Larutan B : Larutkan 27 g amonium molibdat dalam 100 ml akuades. Campurkan
larutan A dan B ke dalam labu ukur berwarna, lalu impitkan hingga 1.000 ml dengan
akuades;
b. Larutan Standar Fosfat;
Timbang 19,174 g Potasium dihidrogenofosfat, simpan dalam desikator selama 24
jam, lalu larutkan dalam 1.000 ml akuades. Ambil 3 ml larutan tersebut, masukkan
dalam 100 ml labu ukur, tambahkan 2 ml asam nitrit, lalu impitkan hingga 100 ml
dengan akuades.
c. Asam nitrat;
d. Etanol.
6.6.3 Peralatan
6.6.4 Prosedur
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
c. Larutkan dalam labu ukur 200 ml dengan akuades sampai tanda batas.
a. Pipet 0 ml; 1 ml; 2 ml; 3 ml; 4 ml; dan 5 ml dari larutan fosfat standar (0,3 mg
P2O5/ml) ke dalam labu ukur 100 ml, tambahkan 50 ml air suling pada masing-
masing labu ukur.
b. Tambahkan 20 ml larutan molibdovanadat, lalu tepatkan dengan air suling sampai
tanda tera;
c. Pindahkan larutan ini ke dalam sel 10 mm. Ambil larutan uji blanko sebagai larutan
kontras, ukur absorbansi pada panjang gelombang 400 nm dan siapkan kurva kerja;
d. Masukan 2 ml contoh ([Link]) (mengandung 0,3 mg sampai 1,5 mg sebagai fosfat)
ke dalam labu ukur 100 ml, tambahkan 50 ml air suling, 20 ml larutan
molibdovanadat, lalu tepatkan dengan air suling sampai tanda tera;
e. Diamkan selama 30 menit. Ukur pada spektrofotometri dengan panjang gelombang
400 nm.
6.6.5 Perhitungan
200 200
Ax x A x 2000
B 2
C= x 100=
S x 100 SxB
Keterangan:
A adalah jumlah P2O5 dari hasil spektrofotometri, mg;
B adalah jumlah larutan yang tidak larut dalam etanol, ml;
C adalah jumlah Fosfat dalam P2O5 , %;
S adalah jumlah contoh, g.
Produk dinyatakan lulus uji jika sesuai dengan persyaratan mutu pada pasal 4.
8 Penandaan
9 Pengemasan
Detergen serbuk dikemas dalam kemasan tertutup, aman selama penyimpanan dan
pengangkutan.
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
Lampiran A
(Informatif)
Lembar data uji botol tertutup
3. Contoh uji:
Nama : ……………………………………………
COD : …………………………………… mg O2/mg contoh uji
4. Inokulum
Sumber : ……………………………………………
Perlakuan yang diberikan: ……………………………………………
Pra-persiapan, jika ada : ……………………………………………
Konsentrasi :……………………… ml/l
5. Penentuan DO
Metode : Winkler/ DO meter
B Inokulum BX(0)1 BX(0)2 BX(7)1 BX(7)2 BX(14)1 BX(14)2 BX(21)1 BX(21)2 BX(28)1 BX(28)2
C Referensi dan
inokulum
X (… mg/l) CX(0)1 CX(0)2 CX(7)1 CX(7)2 CX(14)1 CX(14)2 CX(21)1 CX(21)2 CX(28)1 CX(28)2
Y (… mg/l) CY(0)1 CY(0)2 CY(7)1 CY(7)2 CY(14)1 CY(14)2 CY(21)1 CY(21)2 CY(28)1 CY(28)2
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
6. Penurunan DO : % Degradasi (%D):
Penurunan setelah n hari (mg/l)
n1 n2 n3 nx
(mb – a1)(1)
(mb – a2)(1)
mb -a1 (1)
% Da1 =
contoh uji ( mg⁄l) x ThOD
mb -a2 (1)
% Da2 =
contoh uji ( mg⁄l) x ThOD
Da1 +Da2
% Dmean =
2
7. Grafik % degradasi contoh uji terhadap waktu dan % degradasi referensi terhadap
waktu
8. Penurunan DO Blanko
Konsumsi oksigen oleh blanko: (mb(0)- mb(28)) mg/l. Konsumsi oksigen oleh blanko ini
penting untuk validitas uji dan nilainya maksimum 1,5 mg/l
“Hak cipta Badan Standardisasi Nasional, copy standar ini dibuat untuk Komite Teknis 71-03 Kimia Pembersih, dan tidak untuk dikomersialkan”
Bibliografi
[1] ASTM D459-09. 2009. Standard Terminology Relating to Soaps and Other Detergents
[2] ASTM D820–93. 2016. Standard Test Methods for Chemical Analysis of Soaps
Containing Synthetic Detergents
[3] ASTM D1172-15. 2015. Standard Guide for pH of Aqueous Solutions of Soaps and
Detergents
[5] OECD Guidelines for the Testing of Chemicals, Section 3 Degradation and Accumulation
Test No. 301: Ready Biodegradability (1992)
[6] Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater 21st Edition, 2005: Pour
Plate method (9215 B).
Ketua : Sumarsono
Sekretaris : Risdianto
Anggota :
1. Irwansyah
2. Murboyudo Joyosuyono
3. Lanny Widjaja
4. Nur Hidayati
5. Warsiti
6. Anastasia Riany
7. Rini Panca Ariyani
8. Yusup Santoso
9. Sumiratinah
10. Kurnia Hanafiah
11. Natalya Kurniawati