BAB II
LANDASAN TEORI
A. Perilaku Berbagi Pengetahuan
1. Pengertian Perilaku Berbagi Pengetahuan
Berbagi pengetahuan merupakan proses penyampaian pesan antar
individu maupun organisasi melalui media yang beragam. Setiap individu
berhak menentukan media apa yang akan mereka pakai untuk melakukan
berbagi pengetahuan, yang terpenting adalah penerima pesan mampu
memahami apa yang telah disampaikan.1 Berbagi pengetahuan adalah
orang yang bersedia diajak bertukar informasi dan pengetahuan, baik
orang lain, kelompok maupun organisasi. Berbagi pengetahuan merupakan
aktivitas interaksi dan komunikasi antara dua orang atau lebih sebagai
proses untuk menambah pengetahuan serta upaya untuk meningkatkan
pengembangan diri.
Lumbantobing mengemukakan bahwa berbagi pengetahuan adalah
proses yang sistematis dalam mengirimkan, mendistribusikan, dan
mendiseminasikan pengetahuan dan konteks multidimensi dari seorang
atau organisasi kepada orang atau organisasi lain yang membutuhkan
melalui metode dan media yang variatif.2
1
Paul Lumbantobing, Manajemen Knowledge Sharing Berbasis Komunitas (Bandung: Knowledge
Manajement Society Indonesia, 2011), 24.
2
Ibid, 25.
Perilaku berbagi pengetahuan merupakan alat bagi komunitas
dalam rangka menghasilkan inovasi guna untuk membantu dalam
mentransfer ide-ide baru dan solusi-solusi. Selain itu berbagi pengetahuan
memungkinkan sebuah komunitas untuk mengidentifikasi,
mempromosikan, dan menyebarkan kebiasaan yang baik. Tidak
mengherankan apabila perilaku berbagi pengetahuan bisa menjadi alat
untuk menghasilkan komunitas yang berkualitas dan efisien. Jadi,
komunitas yang tidak memiliki praktik berbagi pengetahuan yang efektif
dan efisien akan gagal dalam memperoleh manfaat inovasi dan
pertumbuhan dari intelektual kapital anggotanya.3
Perilaku berbagi pengetahuan dapat didefinisikan sebagai aktivitas
mentransfer pengetahuan dari satu individu, kelompok, atau komunitas
pada pihak lain sebagai satu set perilaku yang melibatkan pertukaran
informasi. Kadang-kadang, prilaku berbagi pengetahuan juga disebut
sebagai knowledge transfer. Perilaku berbagi pengetahuan juga dapat
didefinisikan sebagai aktivitas bagaimana individu bekerja bersama, saling
menukar pengetahuan, melakukan pembelajaran, dan meningkatkan
kemampuan individu untuk mencapai tujuan-tujuan individu dan
kelompok. Dapat dinyatakan bahwa perilaku berbagi penghetahuan adalah
berbagi informasi, ide-ide, saransaran, dan pengalaman dari satu individu
ke individu lain4. Kesadaran berbagi pengetahuan tentunya harus tertanam
3
Sri Raharso & Sri Surjani Tjahjawati, “Perilaku Berbagi Pengetahuan (Knowledge Sharing)
Karyawan Minimarket”, Sigma-Mu, 2 (September, 2014), 47.
4
Ibid, 48.
dari diri sendiri, mengingat pentingnya hal tersebut untuk dilakukan.
Dalam ruang lingkup organisasi, berbagi pengetahuan sangat dibutuhkan
agar para anggota saling berhubungan, berkomunikasi dan bertukar
pengetahuan guna membangun kompetensi untuk mencapai tujuan.
Proses berbagi pengetahuan dapat dipahami sebagai proses dimana
suatu kelompok saling melakukan pertukaran pengetahuan dan bersama-
sama menciptakan pengetahuan baru. Menurut Van den Hoof dan Van
Weenen, berbagi pengetahuan adalah proses timbal balik dimana individu
saling bertukar pengetahuan dan secara bersama-sama menciptakan
pengetahuan (solusi) baru. Salah satu tujuan definisi ini terdiri dari
memberikan dan mengumpulkan pengetahuan, dimana memberikan
pengetahuan dengan cara menyebarkan pengetahuan kepada orang lain
dengan pengetahuan apa yang dimiliki seseorang, dan mengumpulkan
pengetahuan kemudian berdiskusi dengan teman atau orang lain untuk
membagi informasi yang mereka miliki.5
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berbagi
pengetahuan adalah proses dimana para individu secara timbal balik saling
bertukar pengetahuan atau informasi melalui interaksi sosial berdasarkan
pengalaman dan skill yang mereka miliki untuk membagi dan menerima
pengetahuan dalam keseluruhan organisasi untuk menciptakan
pengetahuan baru.
5
Khoirur Rozaq, “Anteseden Perilaku Berbagi Pengetahuan Dan Pengaruhnya Pada Kemampuan
Inovasi Perusahaan”, Jurnal Bisnis & Manajemen, 1 (2014), 79.
2. Dimensi Berbagi Pengetahuan
Menurut Hoof dan Ridder dimensi perilaku berbagi pengetahuan
terdiri dari dua hal, yaitu: memberikan pengetahuan dan mengumpulkan
pengetahuan.6
1. Memberikan pengetahuan, yaitu bagaimana seseorang
mengkomunikasikan model intelektual individu seseorang kepada
yang lainnya atau bisa diartikan sebagai kemampuan untuk
menyampaikan pengetahuan yang dimiliki.
2. Mengumpulkan pengetahuan, yaitu bagaimana seseorang berkonsultasi
kepada pihak lain untuk melakukan model intelektual individu yang
dimiliki atau bisa diartikan sebagai kemampuan untuk mengumpulkan
pengetahuan dari individu lain.
Tabel 1
Indikator berbagi pengetahuan
Variabel Dimensi Indikator
Berbagi Memberikan pengetahuan 1. Berbagi pengetahuan
pengetahuan baru
2. Mengumpulkan
pengetahuan baru
Mengumpulkan pengetahuan 1. Mengumpulkan
pengetahuan baru
2. Penggunaan
pengetahuan baru
6
Dwi Wahyu Pril Ratno, “Pengaruh Knowledge Sharing Terhadap Kemampuan Inovasi Usaha
Kecil Menengah (UKM) di Yogyakarta Dengan Absorptive Capacity Sebagai Variabel
Intervening”, Jurnal Siasat Bisnis, 2 (2015), 135.
3. Pengertian Perpustakaan Jalanan
Di dalam sebuah komunitas juga dapat dilakukannya perilaku
berbagi pengetahuan, salah satunya komunitas perpustakaan jalanan yang
mana membagikan pengetahuan melalui buku-buku untuk dapat dinikmati
oleh masyarakat. Perpustakaan jalanan merupakan perpustakaan yang
melayani keperluan bahan pustaka bagi kelompok, keluarga, atau individu
yang mendiami suatu wilayah, dengan cara menggelar koleksi yang akan
dipinjamkan kepada pemustaka, dan pada umumnya berada di tempat
keramaian. Perpustakaan jalanan banyak didirikan di tengah-tengah
masyarakat, sehingga perpustakaan mudah untuk diakses masyarakat
sekitar. Perpustakaan jalanan sama seperti halnya perpustakaan umumnya
juga memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai. Sesuai dengan fungsi
perpustakaan di masyarakat, yakni fungsi informasi, fungsi pendidikan,
dan fungsi kultural. Perpustakaan jalanan ini juga ingin mewujudkan
perpustakaan yang sesuai dengan fungsi tersebut, yang salah satunya
diwujudkan dengan terjun langsung ke masyarakat dan memberikan
dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat.
Perpustakaan jalanan juga memiliki tugas-tugas yang sama dengan
perpustakaan pada umumnya, diantaranya adalah:
Menurut Sutarno tugas pertama perpustakaan adalah berperan aktif
melaksanakan tugas dan fungsi penyelenggaraan perpustakaan tersebut
dengan cara:
a. Menghimpun, menyediakan, menyiapkan, mengolah, mengemas, dan
memelihara koleksi bahan pustaka siap pakai, serta sarana informasi
lainnya yang sesuai dengan keperluan perpustakaan dan masyarakat
pemakai.
b. Mendayagunakan koleksi, berupa penyediaan sistem layanan,
penyiapan tenaga manusia, penyediaan sarana dan prasarana, serta
menginformasikan / mempromosikan koleksi dan jasa kepada
masyarakat.
c. Melaksanakan layanan kepada masyarakat pemakai, termasuk
memberikan informasi tentang konsep perpustakaan, bimbingan
kepada pemakai yang menemui kesulitan mengakses sumber
informasi.7 Adapun perpustakaan jalanan juga memiliki peran seperti
perpustakaan pada umumnya, yaitu:
Menurut Sutarno, peranan yang dapat dijalankan oleh
perpustakaan antara lain adalah:
a. Perpustakaan merupakan sumber informasi
Sebagai penunjang pendidikan, penelitian, preservasi dan
pelestari khasanah budaya bangsa serta tempat rekreasi yang sehat,
murah, dan bermanfaat.
7
Sutarno, Perpustakaan dan Masyarakat, (Jakarta: CV. Sagung Seto, 2006), 91.
b. Perpustakaan merupakan media
Sebagai jembatan yang berfungsi menghubungkan antara
sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam
koleksi perpustakaan dengan para pemakainya.
c. Sarana komunikasi
Perpustakaan mempunyai peranan sebagai sarana untuk
menjalin dan mengembangkan komunikasi antara sesama
pemakai, dan antara penyelenggara perpustakaan dengan
masyarakat yang dilayani.
d. Sarana meningkatkan minat baca
Perpustakaan dapat pula berperan sebagai lembaga untuk
mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan
membaca, budaya baca, melalui penyediaan berbagai bahan
bacaan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.
Oleh karena itu apabila tidak ada perpustakaan, atau perpustakaan
yang ada kurang berperan dengan baik, mungkin anggota
masyarakat yang baru belajar membaca, atau sedang
membiasakan diri membaca, dan yang membutuhkan sumber
bacaan, dapat berkurang secara perlahan-lahan dan hilang
semangatnya.
e. Sebagai fasilitator
Perpustakaan juga sebagai mediator, serta motivator bagi
mereka yang ingin mencari, memanfaatkan, dan mengembangkan
ilmu pengetahuan dan pengalamannya.
f. Perpustakaan merupakan agen perubahan, agen pembangunan,
dan agen kebudayaan umat manusia.
Sebab berbagai penemuan, sejarah, pemikiran, dan ilmu
pengetahuan yang telah ditemukan pada masa lalu, yang direkam
dalam bentuk tulisan atau bentuk tertentu yang disimpan di
perpustakaan. Koleksi tersebut dapat dipelajari, diteliti, dikaji, dan
dikembangkan oleh generasi sekarang, dan kemudian
dipergunakan sebagai landasan penuntun untuk merencanakan
masa depan yang lebih baik.
g. Sebagai lembaga pendidikan nonformal
Masyarakat dan pengunjung perpustakaan mereka dapat
belajar secara mandiri, melakukan penelitian, menggali,
memanfaatkan dan mengembangkan sumber informasi dan ilmu
pengetahuan.
h. Sebagai pembimbing
Memberikan konsultasi kepada pemakai atau melakuan
pendidikan pemakai, dan pembinaan serta menanamkan
pemahaman tentang pentingnya perpustakaan bagi orang banyak.
i. Sebagai tempat menghimpun dan melestarikan buku
Agar koleksi bahan pustaka tetap dalam keadaan baik
semua hasil karya umat manusia yang tak ternilai harganya.
j. Sebagai ukuran kemajuan masyarakat
Tinggi rendahnya kualitas baca masyarakat dilihat dari
intensias kunjungan dan pemakaian perpustakaan. Sebab
masyarakat yang sudah majudapat ditandai dengan adanya
perpustakaan yang sudah maju pula, sebaliknya masyarakat yang
sedang berkembang biasanya belum memiliki perpustakaan yang
memadai dan representatif.8
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
perpustakaan jalanan merupakan sarana untuk berbgai informasi
oleh beberapa orang atau masyarakat dengan cara membaca buku-
buku yang disediakan oleh perpustakaan jalanan dimana
perpustakaan ini berada di tempat keramaian agar dengan mudah
dijangkau oleh masyarakat. Sama seperti perpustakaan umumnya,
perpustakaan jalanan ini juga memiliki tujuan, tugas, dan peran
sebagai perpustakaan agar masyarakat dapat dengan mudah
mengakses informasi apapun dan mendapatkan dampak positif.
4. Perilaku Berbagi Pengetahuan Ditinjau Dari Teori Menolong
Perilaku berbagi pengetahuan mempunyai maksud untuk
mensejahterakan orang lain dengan cara saling berbagi informasi, bertukar
8
Ibid., 68.
pikiran, melakukan pembelajaran dengan tanpa mengharapkan sesuatu
imbalan apa pun dan dilakukan secara sukarela tanpa adanya tekanan.
Menolong diartikan sebagai sosial positif, sehingga perilaku menolong
merupakan perilaku yang mempunyai akibat atau konsekuensi yang positif
bagi orang lain, sehingga ketika seseorang melakukan bantuan terhadap
orang lain, maka orang lain akan merasakan hal yang positif. Perilaku
berbagi pengetahuan merupakan perilaku yang memiliki konsekuensi
positif dan berperilaku normatif. Perilaku berbagi pengetahuan sebagai
tindakan yang ditujukan untuk memberi bantuan atau kebaikan pada orang
lain atau kelompok, dengan cara-cara yang cenderung mentaati norma
sosial demi meningkatkan kesejahteraan seseorang.
Salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang yaitu
dengan menolong atau dapat disebut juga helping behavior merupakan
sebuah tindakan yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan bagi
orang lain dengan didorong oleh motif egois maupun altruistic. Amato
membedakan bentuk perilaku menolong menjadi dua yaitu spontaneous
helping dan planned helping. Planned helping sendiri terbagi lagi menjadi
dua bentuk yaitu formal planned helping yang merupakan perilaku
menolong yang ditujukan untuk membantu seorang individu maupun
sekelompok individu melalui sebuah instansi atau organisasi dan informal
planned helping yaitu perilaku menolong yang ditujukan kepada individu-
individu yang sudah kita kenal dan memiliki kedekatan seperti teman atau
anggota keluarga. Kemudian, spontaneous helping merupakan perilaku
menolong yang ditujukan kepada orang-orang asing yang tidak kita kenal.
Perilaku ini terjadi secara tiba-tiba atau spontan dan tidak
direncanakan sebelumnya.9 Clarke mendefinisikan perilaku menolong
sebagai sebuah bagian dari perilaku prososial yang dipandang sebagai
segala tindakan yang ditujukan untuk memberikan keuntungan pada satu
atau banyak orang. Perilaku menolong sudah diajarkan kepada individu
sejak dini, dari hal-hal yang sangat sederhana sampai hal yang dapat
menarik empati seseorang.10
Selain itu ada juga faktor internal yang memengaruhi munculnya
perilaku menolong yaitu, karakteristik individu yang membutuhkan
pertolongan. Karakteristik yang paling berpengaruh adalah sifat
ketergantungan yang ada pada diri individu. Selain karena sifat
ketergantungan yang ada pada diri individu, kesamaan yang dimiliki antara
individu penolong dengan individu yang membutuhkan pertolongan
merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi perilaku
menolong. Persepsi kesamaan tersebut meningkatkan kecenderungan
individu penolong untuk memberikan pertolongan kepada individu yang
memiliki kesamaan dengannya.11
9
Masitha Hanum Utomo, Wenty Marina Minza, “Perilaku Menolong Relawan Sepontan Bencana
Alam”, Jurnal Psikologi, 1, (2016), 51.
10I Dewa Gede Udayana Putra dan I Made Rustika, “Hubungan Antara Perilaku Menolong
Dengan Konsep Diri Pada Remaja Akhir Yang Menjadi Anggota Tim Bantuan Medis Janar Duta
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana”, Jurnal Psikologi Udayana, 2, (2015), 200.
11Masitha Hanum Utomo, Wenty Marina Minza, “Perilaku Menolong Relawan Sepontan Bencana
Alam”, Jurnal Psikologi, 1, (2016), 53.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa tindakan menolong
adalah segala tindakan yang lebih menguntungkan dan meningkatkan
kesejahteraan orang lain yang membutuhkan daripada diri sendiri, bahkan
bisa saja menimbulkan resiko terhadap penolong.
B. Teori Menolong
1. Teori Norma Sosial
Staub mengatakan faktor yang mendasari seseorang untuk
bertindak menolong, salah satunya adalah adanya nilai-nilai dan norma
yang diinternalisasi oleh individu selama mengalami sosialisasi. Nilai dan
norma tersebut diperoleh individu melalui ajaran agama dan juga
lingkungan sosial.12
Dalam teori norma sosial kegitan menolong dipersepsikan sebagai
suatu yang diharuskan oleh norma-norma masyarakat. Norma adalah
perwujudan nilai, ukuran baik atau buruk yang dipakai sebagai pengarah,
pedoman, pendorong perbuatan manusia di dalam kehidupan bersama.
Wujud nilai, ukuran baik buruk itu mengatur bagaimana seharusnya
seseorang melakukan perbuatan.13
Perilaku menolong dipersepsikan sebagai sesuatu yang diharuskan
oleh norma-norma masyarakat, menurut Myers norma merupakan
harapan-harapan masyarakat berkaitan dengan tingkah laku yang
seharusnya dilakukan seseorang. Ada dua bentuk norma sosial yang
12
Muryadi dan Andik Matulessy, “Religiusitas, Kecerdasan Emosi Dan Perilaku Prososial Guru”,
Jurnal Psikologi, 2 (Agustus 2012), 545-546.
13
Parmono, “Nilai dan Norma”, Jurnal Filsafat, 23 (November 1995), 4.
membuat seseorang untuk melakukan tingkah laku menolong, yaitu norma
tanggung jawab sosial dan norma timbal balik.14
2. Norma Tanggung Jawab Sosial
Salah satu norma sosial yang berkaitan dengan perilaku menolong
adalah norma tanggung jawab sosial. Norma tersebut mengatakan bahwa
kita memiliki kewajiban untuk menolong individu-individu yang
membutuhkan pertolongan. Perpustakaan jalanan ini bertanggtung jawab
untuk peningkatan minat membaca pada masyarakat, oleh karena itu
kewajiban pepustakaan jalanan untuk membagi pengetahuan melalui buku-
buku.
3. Norma Timbal Balik
Kemudian, selain norma tanggung jawab sosial terdapat norma lain
yang lebih kuat dan mengikat yakni norma timbal balik, menurut Gouldner
bahwa salah satu norma yang bersifat universal adalah norma timbal balik,
yaitu seseorang akan menolong orang yang pernah menolongnya dapat
dijumpai dalam bentuk memberi, saling menerima dan saling membantu
yang dapat muncul dari interaksi sosial. Respon yang baik pada
masyarakat terhadap perpustakaan jalanan menunjukkan adanya proses
timbal balik menyebabkan seseorang melakukan tindakan berbagi karena
merasa dibutuhkan oleh masyarakat.15 Timbal balik yang diberikan oleh
masyarakat dapat menjadikan suatu titik ukur agar lebih maju.
14
Eko A. Meinarno dan Sarlito W. Sarwono, Psikologi Sosial, (Jakarta: Salemba Humanika,
2018), 161.
15
Masitha Hanum Utomo dan Wenty Mariana Minza, “Perilaku Menolong Relawan Spontan
Bencana Alam”, Jurnal Psikologi, 1, (2016), 53.
4. Empati
Faktor ini merupakan kemampuan seseorang untuk ikut merasakan
pengalaman yang sedang dirasakan orang lain. Faktor-faktor tersebut
merupakan faktor dasar dalam menunjang seseorang melakukan perilaku
berbagi. Dalam konteks perilaku berbagi pengetahuan, dapat dikatakan
empati merupakan faktor yang memiliki pengaruh penting dalam berbagi
pengetahuan tentang informasi-informasi atau ilmu pengetahuan. Empati
merupakan faktor yang paling efektif dalam mempengaruhi seseorang
dalam bersosialisasi dengan orang lain maupun lingkungannya.16
Dengan empati tersebut, seseorang dapat memiliki hubungan sosial
yang baik dengan masyarakat maupun lingkungan. Menurut Staub, empati
diartikan sebagai perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain,
khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung
merasakan penderitaan orang lain. Empati merupakan faktor yang terdapat
di dalam diri seseorang yang tidak dapat dibuat buat dan terbentuk
berdasarkan pengalaman. Dengan adanya pengalaman tersebut, seseorang
dapat tergerak ketika melihat situasi yang menyentuh nuraninya dan
membutuhkan bantuannya, dengan salah satu contoh berperilaku berbagi
pengetahuan dalam perpustakaan jalanan yang menyayangkan akan
rendahnya minat baca masyarakat.17
16
Rr. Sukma Dian Puspita & Gumgum Gumelar, “Pengaruh Empati Terhadap Perilaku Prososial
Dalam Berbagi Ulang Informasi Atau Retweet Kegiatan Sosial di Jejaring Sosial Twitter”, Jurnal
Penelitian dan Pengukuran Psikologi, 1, (April 2014), 3.
17
Ibid, 4.
5. Perilaku Berbagi Pengetahuan Ditinjau Dari Teori Motivasi
Motivasi adalah serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-
kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu dan
bila tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan
perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi dapat dirangsang oleh faktor dari
luar, tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang. Lingkungan
merupakan salah faktor dari luar yang dapat menumbuhkan motivasi
dalam diri seseorang. Menurut Woodwort motivasi adalah suatu set yang
dapat membuat individu melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk
mencapai tujuan. Dengan demikian motivasi adalah dorongan yang dapat
menimbulkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu
tujuan tertentu. Perilaku atau tindakan yang ditunjukkan seseorang dalam
upaya mencapai tujuan tertentu sangat tergantung dari motivasi yang
dimiliknya.18
Motivasi merupakan faktor penting dalam diri individu, motivasi
merupakan gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri
seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan tindakan dengan tujuan
tertentu sehingga motivasi merupakan motor penggerak atau dorongan
dalam perbuatan, sehingga individu yang memiliki motivasi akan tergerak
untuk berbagi pengetahuan. Penelitian ini mengacu pada teori motivasi
menurut McClelland teori ini memfokuskan pada tiga kebutuhan yaitu:
kebutuhan akan prestasi, kebutuhan kekuasaan, kebutuhan afiliasi atau
18
Amna Emda, “Kedudukan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran”, Jurnal Lantanida, 2,
(2017), 175.
bersahabat.19 Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa individu memiliki
dorongan yang kuat dan berhasil. Mereka lebih berjuang untuk
memperoleh pencapaian pribadi daripada memperoleh penghargaan.
Mereka memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik
atau lebih efisien. Kebutuhan tersebut adalah:
a. Kebutuhan akan prestasi
Merupakan dorongan untuk mengungguli, berprestasi
sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat untuk sukses.
b. Kebutuhan akan kekuasaan
Merupakan kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku
dalam suatu cara dimana orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan
berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain.
c. Kebutuhan akan afiliasi
Merupakan hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah
dan akrab. Individu merefleksikan keinginan untuk mempunyai
hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan
pihak lain.20
C. Kerangka Berpikir
Dari teori-teori yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat disusun
kerangka berfikir sebagai berikut: Perilaku berbagi merupakan perilaku
19
Suranto, “Pengaruh Motivasi, Suasana Lingkungan Dan Sarana Prasarana Belajar Terhadap
Prestasi Belajar Siswa (Studi kasus Pada SMA Khusus Putri SMA Islam Diponegoro Surakarta)”,
Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 2, (Desember 2015), 11-12.
20
Ibid, 12.
seseorang yang positif kepada orang lain, perilaku ini dapat berupa perbuatan
untuk menolong, kerjasama, menyumbang, kejujuran, kedermawanan pada
orang lain. Setiap individu memiliki cara atau alasan tersendiri untuk
melakukan sesuatu baik personal maupun berkelompok.
Tindakan yang dilakukan oleh individu dipengaruhi oleh faktor dari
dalam dan luar individu baik secara timbal balik, kesamaan individu,
karakteristik individu, empati, dan tanggung jawab sosial. Selain itu adanya
dorongan atau motivasi berafiliasi dimana menjalin hubungan bersama secara
hangat dalam sebuah kelompok membuat individu melakukan perilaku
berbagi pengetahuan.
Berbagi pengetahuan itu sendiri dilakukan guna untuk menumbuhkan
minat baca masyarakat, sebab masyarakat masih minim tentang kegiatan
membaca. Oleh karena itu adanya komunitas perpustakaan jalanan
dimaksudkan untuk mewadahi dan memfasilitasi bahan bacaan kepada
masyarakat, juga sebagai jalan alternatif untuk berkegiatan literasi yang dekat
dengan masyarakat.
Tabel 2
Kerangka Berpikir
Faktor Eksternal
Timbal Balik
Kesamaan Individu
Berbagi Perpustakaan
Individu Motivasi
Pengetahuan Jalanan Jombang
Faktor Internal
Karakteristik individu
Empati
Tanggung Jawab Sosial